Chapter 4
"Mungkin Wonwoo hyung sudah tidur."pikir Mingyu. Namja tampan itu menyesap kopinya. Ia sengaja meminum kopi,karena ia daritadi sedang menunggu kekasih manisnya untuk membalas pesannya. Dia tau bahwa sudah selarut ini,mana mungkin namja manis itu belum pulang. Walaupun ia sangat merindukan kekasih kurusnya itu,tapi dia bisa mengerti bahwa kekasihnya itu pasti sangat lelah karena harus bekerja selama belasan jam.
Karena efek kafein dari kopi itu,Mingyu jadi sulit untuk memejamkan matanya,jadi ia segera membuka google untuk mencari berita terhangat. Ia terus men-scroll tampilan dilayarnya,ia menghembuskan nafasnya malas,tapi tiba-tiba mata Mingyu membulat melihat sebuah berita yang menarik perhatiannya. Ia membuka sebuah berita dengan judul 'GYUWON CORP KALAH SAING OLEH YOOMIN SEBESAR 3%' . Mingyu segera mengklik judul yang membuatnya tertarik itu. Ia terlihat sangat shock,kemudian ia memejamkan matanya sambil menghembuskan nafas lelah.
"Wonwoo hyung pasti akan full bekerja. Mengapa sahamnya harus turun? Wonwoo hyung pasti akan sangat sibuk." Mingyu melemparkan ponselnya ke sofa yang didudukinya. Ia mengusap wajahnya dengan kasar.
.
.
Pagi harinya,Mingyu segera meraih ponselnya yang berada dimeja nakas dipinggir kasurnya. Tidak ada balasan. Mingyu membuang nafasnya dari mulut. Ia segera mengirimkan pesan untuk hyung tercintanya. Mingyu segera turun dari kamarnya sambil membawa ponselnya,dan mengeceknya beberapa menit sekali. Mingyu hanya pasrah ketika ia sudah menunggu 20 menit,tetapi belum juga ada balasan,kemudian ia melihat kearah jam yang sudah menunjukkan pukul 7 lewat,ia mendengus kesal,sudah pasti Wonwoo hyung sudah berangkat kerja,mengingat saham Gyuwon yang turun,sudah pasti hyung tersayangnya itu sudah berangkat pagi sekali dan pulang larut malam,dan sudah pasti Wonwoo pasti akan sangat lelah,serta tidak mungkin ia bisa membalas pesan atau menjawab telponnya,bahkan mungkin untuk memeriksa ponselnya saja mungkin tidak bisa.
.
.
.
Pukul 10 tepat,Mingyu keluar dari apartementnya menggunakan celana jeans diatas mata kaki yang memperlihatkan kaki jenjangnya dan sebuah kaos yang dipadukan dengan cardigan selutut berwarna hitam,memuatnya semakin tampan dengan rambut abu-abunya.
Mingyu turun dari bus,dan hanya perlu berjalan sebentar untuk sampai di kafe milik namja cantik bernama Jeonghan. Ia segera memasuki kafe itu dan disambut dengan si pemilik kafe yang sedang bersama kekasihnya.
Jeonghan tersenyum melihat Mingyu yang berjalan kearah mereka.
"Merasa kesepian?"ejek Seungcheol sambil tertawa,Mingyu mendelikkan matanya tajam.
"Aku mendengar bahwa saham Gyuwon turun,kau tau?"Tanya Jeonghan,dan membuat Mingyu mengangguk.
"Bukankah Wonwoo akan sibuk sampai sahamnya kembali?"Tanya Seungcheol dan Mingyu mengangguk kembali.
"Kau harus terbiasa,Mingyu-ah. Kau juga sebentar lagi akan bekerja,kesempatan kalian untuk bertemu sangat kecil,jadi kau harus bisa menahan rindumu." Nasihat Jeonghan.
"Bahkan Wonwoo hyung tidak membalas pesanku tadi malam dan tadi pagi,padahal aku sudah sangat merindukannya."Mingyu menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia duduki,wajahnya terlihat sangat murung. Jeonghan dan Seungcheol tersenyum,maklum saja,Mingyu tidak bisa lepas dari Wonwoo,bahkan untuk sebentar saja,apalagi nanti saat mereka berdua sudah bekerja,mungkin mereka akan sangat jarang bertemu.
"Lebih baik kau memesan sesuatu dulu untuk menyegarkan otakmu itu"ujar Seungcheol. Mingyu segera melihat menu yang ada,dan memesan segelas Ice Green Tea Float .
"Apakah aku setiap hari harus menginap di apartement Jisoo hyung? Huh…" Mingyu kembali membuang nafasnya kesal,dia tidak menyadari dua orang didepannya sedang mengerutkan keningnya sambil saling bertatapan.
"Siapa yang kau bilang? Jisoo?"selidik Seungcheol,Mingyu segera menganggukkan kepalanya sambil meminum minuman yang dipesannya.
"Ya,dia sahabat Wonwoo hyung. Kau mengenalnya hyung?"Tanya Mingyu dengan tampang polosnya. Seungcheol dan Jeonghan saling bertatapan.
.
.
.
Wonwoo menguap (lagi),entah untuk yang keberapa kalinya. Bagaimanapun juga,kemarin ia pulang larut malam,dan tadi dia harus berangkat sangat pagi,dan harus bekerja lagi sampai dini hari,setidaknya begitu sampai saham perusahaan yang ia jadikan sebagai tempat kerja itu sahamnya kembali naik dan stabil. Bahkan ia sama sekali tidak melirik ponselnya,ia benar-benar fokus berkutat dengan benda datar dihadapannya,sampai ia tidak menyadari bahwa waktu istirahat sudah tiba. Namja mungil yang sudah menjadi sahabatnya itu telah berdiri dibelakangnya,dan mengajaknya untuk pergi ke kantin kantor.
"Kajja… Aku juga sudah lapar dan haus,setidaknya aku membutuhkan sesuatu untuk membuat otakku kembali segar. Aku sudah sangat pusing harus berhadapan dengan layar didepanku." Celoteh Wonwoo sambil meregangkan otot-ototnya. Jihoon hanya mendengarkan ocehan dari teman manisnya. Ia bisa maklum,karena temannya ini baru saja bekerja dan mengalami hal seperti ini.
Wonwoo langsung menidurkan kepalanya diatas meja kantin,ia memejamkan matanya sejenak,ketika sesuatu yang panas menyentuh pipi mulusnya. Wonwoo tersenyum ketika melihat Jihoon sudah berada dihadapannya dengan membawa caramel macchiato pesanannya.
"Mengapa banyak sekali yang bekerja disini,padahal kerjanya sangat melelahkan seperti ini,saham tidak turun saja kita harus bekerja selama 12 jam,dan saat saham turun kita harus bekerja selama 20 jam. Apakah mereka tidak lelah?"Wonwoo mengajukan pernyataan sekaligus pertanyaan. Jihoon menggeleng sambil meminum espresso miliknya.
"Awalnya aku berfikir seperti itu,tapi setelah lama bekerja disini,aku merasa bosan saat berdiam diri dirumah. Lagipula semuanya juga pasti betah bekerja disini,gaji di perusahaan ini kan sangat besar,siapa yang tidak mau? Aku rasa semuanya seimbang,antara gaji dan pekerjaan" Jihoon menjelaskan.
"Sepertinya aku tidak akan betah sampai kapanpun"ucap Wonwoo malas.
"Lihat saja nanti"ujar Jihoon.
Ponsel Wonwoo bergetar ketika dirinya dan Jihoon sedang berbincang-bincang. Ia melihat Mingyu menelponnya. Wonwoo tersenyum melihat nama itu tertera dilayar ponselnya. Ketika ia akan mengangkatnya,tiba-tiba saja Jihoon berucap bahwa mereka harus segera kembali bekerja,karena sudah 15 menit istirahat. Wonwoo berdecak kesal,kemudian mereject panggilan dari Mingyu.
"Aku sangat merindukan Mingyu."ujar Wonwoo saat berjalan menuju ruangan kerjanya.
"Aku juga merindukan Soonyoung." Wonwoo menolehkan kepalanya kepada sahabat mungilnya itu.
"Kau sudah mempunyai pacar?"Tanya Wonwoo penasaran. Jihoon mengangguk lucu.
"Bukankah kemarin aku bilang?" Wonwoo hanya menggelengkan kepalanya sambil mengerutkan dahinya .
"Aku rasa sudah,tapi jika kau ingin tau,tidak apa-apa. Aku memang sudah mempunyai kekasih,dia bekerja di Pledis Corp." jawab Jihoon.
"Pledis Corp?"Tanya Wonwoo meyakinkan dirinya. Jihoon mengangguk lagi untuk meyakinkan Wonwoo.
"Perusahaan itu milik temanku."ucap Wonwoo bangga.
"Benarkah? CEO disana temanmu?"Tanya Jihoon kaget.
"CEO-nya adalah ayahnya,anaknya adalah sahabat kecilku,namanya Hong Jisoo. Kau pasti tidak asing kan dengan nama itu?"ucap Wonwoo membanggakan sahabatnya.
"Daebak! Mengapa kau tidak bekerja disana? Dan juga,bagaimana kau bisa bersahabat dengannya?"Tanya Jihoon sangat penasaran.
"Nanti saja,kita harus segera bekerja."bisik Wonwoo ketika ruangan itu tidak terdengar suara apapun kecuali suara jari-jari yang beradu dengan keyboard. Jihoon melihat sekitar,dan benar saja semuanya sudah kembali fokus terhadap benda datar dihadapannya.
"Kau berhutang penjelasan."bisik Jihoon dan Wonwoo hanya tersenyum,lalu mereka berdua kembali fokus kepada layar dihadapannya.
.
.
.
Mingyu benar-benar merindukan kekasih manisnya yang sedang sibuk bekerja itu. Dia sudah mengiriminya pesan dan beberapa kali, menelponnya,tetapi NIHIL! Semua usahanya sia-sia. Tidak ada satupun pesan yang dibalas oleh Wonwoo,begitu juga dengan panggilannya,tidak ada satupun yang diangkat. Mingyu benar-benar kesal,ia sangat ingin untuk bertemu dengan kekasih manisnya itu
"Mengapa seperti ini? Wonwoo hyung,apakah kau benar-benar sibuk? Kau tidak tau? Ini sangat menyiksaku."monolog Mingyu sambil mengusap wajahnya frustasi.
"Haruskan aku pergi lagi ke apartement Jisoo hyung? Tapi,tidak mungkin jika sekarang,Jisoo hyug pasti masih bekerja."ucap Mingyu pada dirinya sendiri,ia merasa stress karena harus tersiksa merindukan kekasih manisnya.
Mingyu terus melihat jam dindingnya. Ia menunggu dimana waktu menunjukkan pukul 8 malam,karena biasanya Jisoo akan pulang pukul segitu.
Saat jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 kurang,Mingyu menelpon Jisoo. Dia benar-benar tidak sabar untuk pergi ke apartement namja tampan itu.
"Hyung kau sudah pulang?" Mingyu segera bertanya ketika Jisoo mengangkat telponnya.
"Aku tidak akan pulang ke apartementku,ada apa?" jawaban Jisoo membuat Mingyu sangat kecewa. Ia benar-benar merindukan kekasih manisnya itu.
"Tadinya aku akan pergi kesana untuk menunggu Wonwoo hyung,jika tidak ya sudah."ucap Mingyu dengan nada kecewanya membuat Jisoo yang berada diujung sana merasa tidak enak.
"Dia belum menghubungimu kembali?"Tanya Jisoo
"Belum. Aku benar-benar merindukan Wonwoo hyung,aku ingin sekali bertemu dengannya,walaupun hanya beberapa menit saja." Suara Mingyu terdengar sangat kecewa.
"Maaf aku tidak bisa membantu,aku juga sedang sangat sibuk. Mianhae." Terdengar nada penyesalan dari suara Jisoo.
"Tidak apa-apa hyung,aku bisa mengerti."jawab Mingyu,kemudian setelah mengucapkan selamat malam,Mingyu segera memutuskan sambungannya.
Mungkin Mingyu akan sangat tersiksa untuk hari ini dan seterusnya,karena pekerjaan Wonwoo yang membuatnya sangat sibuk,dan juga sebentar lagi Mingyu pun akan segera bekerja,itu berarti,mereka berdua akan sangat jarang bertemu. Mingyu benar-benar merasa sesak jika sehari tanpa Wonwoo,dia selalu bersama Wonwoo kapanpun dan kemanapun. Mingyu merasa dia akan segera gila karena Wonwoo sama sekali tidak menghiraukan semua pesan dan panggilannya.
Sama seperti sebelumnya,Wonwoo tidak membalas pesan ataupun menjawab telpon dari kekasih tampannya. Wonwoo benar-benar disibukkan oleh pekerjaan yang menuntutnya untuk membuat saham perusahaannya itu kembali naik bahkan jika bisa mengungguli perusahaan manapun di Korea Selatan. Bahkan Wonwoo mengabaikan ponselnya yang terus saja bordering akibat ratusan telpon dan pesan yang masuk. Wonwoo sebenarnya sangat ingin untuk membalas dan menjawab semua yang masuk ke ponselnya,karena ia tau kekasih tampannya lah yang melakukan semua hal itu. Tetapi,untuk melirik ponselpun,Wonwoo terlalu sibuk.
Setelah selesai dengan pekerjaannya,Wonwoo menyandarkan badannya pada kursi yang ia duduki,ia membuang nafas lelah,kemudian ia mengambil ponselnya yang berada di laci meja,ia sengaja meletakkannya disitu,agar ia tidak terganggu. Namja bersurai hitam itu terkejut ketika melihat sekitar 400 lebih pesan dan 100 lebih panggilan yang masuk,98% dari Mingyu dan 2% nya dari orang lain termasuk sahabatnya. Saat Wonwoo akan menghubungi Mingyu,ponselnya tiba-tiba mati. Wonwoo berdecak kesal,karena hatinya sangat tersiksa belum bertemu Mingyu selama beberapa hari ini. Wonwoo pun kembali melanjutkan pekerjaannya.
.
.
.
Setelah 1 minggu Wonwoo bekerja,dia benar-benar merasakan kelelahan. Ia banyak tidur ketika malam minggu tiba. Disaat hari minggu pagi tiba,Wonwoo benar-benar terpaksa harus terbangun,jika saja ponselnya tidak bordering. Wonwoo membelalakkan matanya ketika nama 'Kim Mingyu' tertera dilayar ponselnya.
Entah mengapa,Wonwoo sangat gugup,bahkan ia sudah menelan ludahnya berat. Setelah membuang nafasnya dengan berat,Wonwoo segera mengangkat panggilan itu.
"H-halo?" ujar Wonwoo gugup. Mingyu tidak langsung berbicara.
"Mingyu? Kau disana?"Wonwoo kembali menyuarakan suaranya. Terdengar hembusan nafas dari ujung sana.
"Hyung kau sibuk?"akhirnya suara berat Mingyu terdengar,walaupun sedikit dingin.
"A-ani,ada apa?"Wonwoo menggigit bibir bawahnya,dia benar-benar gugup,karena bisa-bisanya dia melupakan Mingyu yang selalu menunggunya.
"Aku akan menunggu di depan rumahmu pukul 9,aku ingin berbicara denganmu sambil berjalan-jalan."ucap Mingyu,masih terdengar dingin,namun tidak sedingin awal. Wonwoo menelan ludahnya dengan susah payah,ia takut jika Mingyu marah dan memutuskan hubungan mereka. Bagaimanapun juga,Wonwoo benar-benar menyayangi namja yang satu tahun lebih muda darinya itu. Wonwoo segera menggeleng,dia yakin Mingyu juga menyayanginya.
"Baiklah,aku akan menunggu."jawab Wonwoo dan sambungan langsung terputus.
Tepat pukul 9,Wonwoo keluar dari apartementnya dan melihat ada pria tampan yang tengah menunggunya. Wonwoo menarik nafasnya dalam-dalam,mencoba untuk membuang rasa gugupnya. Kemudian Wonwoo segera berjalan kearah namja tinggi itu.
"Kajja" ujar Mingyu sambil berjalan mendahului Wonwoo. Wonwoo menggigit bibir bawahnya,dia tau bahwa Mingyu sedang marah padanya,karena dia akan selalu seperti ini ketika sedang marah.
Tidak ada percakapan diantara keduanya. Pasangan itu tampak sibuk dengan pikiran mereka masing-masing,sampai saat ditempat tujuan mereka,yaitu di taman dekat sungai Han,Mingyu mendudukkan dirinya dijursi taman yang langsug berhadapan dengan sungai Han.
5 menit…
10 menit…
"Hyung…" sampai akhirnya Mingyu membuka pembicaraan. Wonwoo menoleh saat Mingyu memanggilnya.
"Kau benar-benar sibuk?" Mingyu tetap memandang lurus kedepan,memandang indahnya sungai Han di pagi hari. Wonwoo terdiam sesaat mendengar pertanyaan Mingyu,dia akui bahwa dia memang bersalah.
"Maaf…" Mingyu membalikkan kepalanya kepada kekasih manisnya yang tengah tertunduk.
"Maafkan aku,maaf karena aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku sampai aku tidak bisa membalasa semua pesanmu dan panggilanmu,tapi percayalah,aku sangat merindukanmu." Wonwoo menatap Mingyu tepat dimatanya. Mata hitam dan tajam itu terlihat mengguratkan kesedihan dan penyesalan. Mingyu mulai menatap Wonwoo dengan lembut,ia kemudian tersenyum tipis dan menggenggam tangan Wonwoo lembut.
"Kau tidak tau? Bahkan aku lebih merindukanmu hyung." Wonwoo masih menatap Mingyu,tetapi dengan tatapan yang lebih dalam lagi.
"Bahkan kau tau? Aku merasa,aku benar-benar tidak bisa bernafas,hatiku sangat sesak ketika aku tidak bersamamu." Ucap Mingyu dan membuat Wonwoo tertawa kecil mendengarnya. Menurutnya,kata-kata itu terlalu berlebihan.
"Kau berlebihan Kim Mingyu." Ucap Wonwoo masih tertawa,dan mebuat Mingyu tersenyum melihatnya.
"Kau tau hyung? Aku sangat sekarang bisa bertemu denganmu lagi,dan melihat senyummu,aku benar-benar merindukanmu hyung. Aku akan tetap menghubungimu,walaupun kau tidak akan membalasnya,aku akan selalu menunggumu,aku tidak peduli jika kau mengabaikanku,aku hanya ingin kau tau,bahwa aku benar-benar merindukanmu hyung." Ucap Mingyu sambil meremas tangan Wonwoo lembut,dan hal itu membuat Wonwoo tersenyum lembut,membuatnya terlihat sangat manis dimata Mingyu,bahkan dimata semua orang ynag melihatnya.
"Maaf telah membuatmu menunggu,maaf telah membuatmu merasa tersiksa. Aku berjanji,aku tidak akan mengabaikanmu sesibuk apapun itu."jawab Wonwoo sambil tersenyum. Mingyu mencium kening Wonwoo dengan lembut,membuat namja bermata tajam itu menutup matanya.
TBC yaaa….
Maaf kalo kelamaan di update,disibukkan dengan tugas.
Chap ini agak panjang , sebagai permintaan maaf author karena terlalu lama,tapi maaf kalo kepanjangan:'
RnR selalu yaaaa….
Makasih buat yang udah RnR,luv you semuaaaa
