Chap 5

Mingyu dan Wonwoo memutuskan untuk pergi ke kafe milik Jeonghan hyung. Itu semua karena permintaan Wonwoo yang sangat merindukan namja cantik bersurai panjang itu. Mingyu hanya mengikuti semua keinginan Wonwoo,dia sangat merindukan semuanya tentang Wonwoo.

.

.

Saat sampai disana,Mingyu dan Wonwoo melihat seseorang yang tidak asing. Mereka berdua memicingkan matanya. Saat namja yang sedang mereka perhatikan terlihat wajahnya,Wonwoo langsung melambaikan tangannya,dan memanggil namja tampan yang sedang berjalan itu.

"Jisoo-ya!"teriak Wonwoo sambil melambaikan tangannya. Wonwoo dan Mingyu segera menghampiri namja tampan dengan penuuh senyuman itu.

"Kau sedang apa disini?"Tanya Wonwoo.

"Untuk bertemu seseorang."jawab namja tampan itu masih dengan senyumnya.

"Kau sudah tidak merindukannya lagi?"ejek Jisoo kepada namja tinggi disebelah Wonwoo.

"Besok aku akan merindukannya lagi hyung."jawab Mingyu sambil menunjukkan ekspresi sedih yang dibuatnya. Jisoo hanya tersenyum begitu juga dengan Wonwoo. Merreka bertiga segera masuk kedalam kafe itu. Wonwoo langsung memeluk Jeonghan hyung nya itu.

"Aku sangat merindukanmu hyung."Wonwoo tersenyum ketika melihat wajah cantik Jeonghan sedang tersenyum,ia juga tersenyum saat melihat Mingyu,tetapi tidak saat melihat namja yang berada dibelakang Mingyu,justru dia terlihat sangat kaget. Jeonghan menelan ludahnya yang terasa sangat berat.

"Ji-Jisoo?" Jeonghan benar-benar kaget saat melihat namja tampan yang kini sedang tersenyum kepadanya. Wonwoo dan Mingyu saling bertatapan sambil mengerutkan alisnya,tidak mengerti dengan semua kejadian yang sedang berlangsung saat ini dihadapan keduanya.

"Disini ada dua orang remaja polos yang tidak mengerti dengan kejadian ini,bisa berikan penjelasan?"interupsi Mingyu,Wonwoo tertawa mendengar ucapan dari Mingyu.

Hey,Mingyu berkata bahwa mereka berdua polos,seharusnya kata itu diralat,karena menurutnya yang polos itu hanya dirinya sendiri,Jeon Wonwoo yang polos,tapi itu hanya menurutnya saja.

Jeonghan dan Jisoo segera duduk dibangku yang sudah ditempati oleh Wonwoo dan Mingyu. Namja cantik dan namja tampan itu masih terlihat canggung satu sama lain,berbeda dengan namja manis dan namja seksi berkulit agak gelap,mereka berdua sibuk dengan menu yang berada ditangan namja manis.

Setelah Mingyu dan Wonwoo memesan minuman,mereka berdua kembali kepada dua orang yang masih berdiam diri satu sama lain.

"Sebenarnya ada apan dengan kalian? Kalian saling mengenal?"Tanya Wonwoo akhirnya. Jisoo menolehkan kepalanya kepada Wonwoo,lalu kembali tersenyum.

"Berhentilah tersenyum Hong Jisoo,aku memerlukan jawabanmu,bukan senyumanmu."dengus Wonwoo membuat Jisoo dan Jeonghan tertawa pelan.

Saat mereka berempat masih dalam mode silent,seorang namja tampan dengan bersurai hitam memasuki kafe itu dengan senyuman ceria karena melihat sang kekasih cantik,dan kedua dongsaeng-nya,tapi ia bingung dengan seorang namja yang berada disebelah Jeonghan yang duduk membelakanginya. Namja tampan yang diketahui bernama Seungcheol itu menghampiri keempat orang itu.

"An…nyeong…"Seungcheol sangat kaget ketika melihat namja yang disebelah Jeonghan itu menolehkan kepalanya. Sama seperti ekpresi Jeonghan tadi,Seungcheol membulatkan matanya ketika melihat namja tampan yang kini sedang tersenyum kepadanya. Namja tampan bersurai merah kecoklatan itu segera berdiri.

"Apa kabar Choi Seungcheol?"sapa namja penuh senyum itu. Seungcheol membalas senyumannya,kemudian segera memeluk namja itu dengan erat. Terlihat gurat kebahagiaan pada kedua namja tampan yang sedang berpelukkan itu. Namja bersurai panjang pun ikut tersenyum,hanya dua orang dengan tampang idiot yang tidak mengerti semua kejadian ini.

"Seharusnya kita tidak berada disini."bisik Mingyu amun masih bisa terdengar oleh ketiga orang yang terlihat sangat senang itu.

"Yak Hong Jisoo! Mengapa kau tidak bilang bahwa kau sudah berada di Korea? Bahkan kau tidak pernah menghubungiku"ujar Seungcheol saat melepas pelukannya. Jisoo hanya tersenyum kikuk ketika Seungcheol berbicara. Seungcheol segera mengambil kursi dan duduk disebelah Jisoo.

"Hampir 5 tahun,kita berpisah,kau merindukanku?"Tanya Seungcheol yang masih terlihat kaget,namun tidak sekaget awal mereka bertemu.

"Tentu saja aku merindukanmu Seungcheol-ah."jawabnya sambil tersenyum.

"Kau tidak merindukanku?"Tanya Jeonghan sambil mengerucutkan bibirnya,membuat Jisoo tertawa kecil.

"Aku juga sangat merindukanmu Jeonghan-ah"jawabnya dan membuat Jeonghan tersenyum.

"Bagaimana dengan kami? Kau tidak merindukan kami berdua?"Tanya Wonwoo datar. Jisoo,Jeonghan dan Seungcheol tertawa,mereka bertiga melupakan dua namja yang sedari tadi sudah duduk disitu.

"Bukankah aku sudah mengatakannya saat pertama kali kita bertemu?"ucap Jisoo masih tertawa. Wonwoo dan Mingyu menatapnya datar,dan 1 detik kemudian mereka berdua segera mengubah ekpresinya menjadi ekspresi penasaran.

"Sebenarnya ada apa? Kalian sudah saling mengenal sebelumnya?"Tanya Mingyu penasaran. Orang-orang yang ditanya hanya tersenyum,mereka bertiga terlihat agak gugup ketika Mingyu bertanya seperti itu. Mingyu membuang nafasnya jengah,begitupun dengan kekasihnya,tidak ada satupun diantara mereka yang menjawab.

"Baiklah,aku akan menjelaskan semuanya."ucap Jisoo akhirnya dan membuat Mingyu dan Wonwoo tersenyum. Mereka berdua memasang telinganya dengan seksama.

.

.

.

Namja berambut merah kecoklatan itu masih tetap menenangkan namja bersurai panjang yang masih saja menangis karena ia akan segera pergi keluar negeri untuk melanjutkan studinya di Amerika. Namja berambut merah kecoklatan yaitu Jisoo kembali memeluk sanga kekasih yang tidak henti-hentinya menangis. Sebenarnya,Jisoo juga tidak tega untuk meninggalkan kekasih cantiknya itu,tetapi ia tidak bisa membantah kedua orang tuanya. Jisoo memang anak yang sangat patuh kepada perintah orang tuanya,dia tidak akan menolak semua perintah orang tuanya,termasuk yang satu ini. Lagipula,dia memang ingin pergi ke tempat kelahirannya itu,tetapi disisi lain,ia juga tidak ingin meninggalkan kekasihnya yang selalu menemaninya. Ia benar-benar tidak tega melihat kekasihnya itu menangis tersedu-sedu karena dirinya. Jisoo sudah menenangkannya berkali-kali,tetapi air mata itu tidak kunjung berhenti.

"Kumohon berhentilah menangis Jeonghan-ah, kau tidak boleh seperti ini." Jisoo memegang bahu Jeonghan yang masih menangis sambil menatap matanya dalam.

"Tidak bisakah kau tidak pergi? Kau berjanji tidak akan meninggalkanku! Kau bahkan berjanji akan menikahiku! Tapi apa? Kau malah pergi dan memutuskan hubungan kita! Hong Jisoo! Kau mencintaiku? Kau benar-benar menyayangiku?" Jeonghan berbicara setengah berteriak,dia benar-benar mencintai namja tampan dihadapannya,bukan karena Jisoo seorang ahli waris dari perusahaan Pledis Corp,tetapi dia memang benar benar mencintai namja ramah dan murah senyum itu dari dulu,disaat mereka pertama kali bertemu di sekolah menengah pertama. Bahkan Jeonghan masih sangat ingat ketika Jisoo menyatakan perasaanya,saat itu dia benar-benar merasa seperti orang yang paling beruntung di dunia. Dan saat hari itu juga,Jisoo berkata bahwa dia tidak akan meninggalkan Jeonghan sampai kapanpun. Jeonghan sangat senang,bahkan dia sempat menitikan air mata saking senangnya. Saat itu pula Jeonghan mendapatkan first kiss nya. First kiss yang sangat lembut yang didapatnya dari orang yang paling ia cintai,dia benar-benar senang dan tidak bisa melupakan kejadian saat itu.

Tetapi sekarang,Jisoo bilang dia harus pergi untuk belajar bisnis di luar negeri. Mana janjinya saat itu? Mana janji Jisoo yang berkata bahwa dia tidak akan meninggalkannya? Jeonghan menagih janji Jisoo yang pernah Jisoo janjikan untuknya. Tapi semua janji manis Jisoo itu,seolah ditiup angin dan hilang entah kemana,dan dilupakan begitu saja.

"Aku bisa mengerti jika kau harus pergi keluar negeri. Tapi mengapa kau harus memutuskan hubungan kita? Mengapa? Jawab aku Hong Jisoo!" Jeonghan memukul-mukul dada Jisoo,namja tampan itu hanya bisa menundukkan kepalanya. Sejujurnya Jisoo juga sangat ingin menangis saat ini,ia tidak pernah sanggup untuk meninggalkan Jeonghan,sebenarnya jika bukan karena sahabatya,Seungcheol yang sangat mencitai kekasihnya saat ini,Jisoo tidak akan pergi keluar negeri. Ia akan tetap bersama Jeonghan seumur hidupnya. Tetapi,ia tidak egois,dia memikirkan bagaimana perasaan sahabatnya. Jisoo berfikir,dia sudah sangat senang saat ia bisa memiliki Jeonghan,tetapi menurutnya cinta Seungcheol untuk Jeonghan lebih besar disbanding miliknya. Semuanya terbukti dengan Seungcheol yang selama 3 tahun dengan setianya bertahan dan menunggu Jeonghan. Memang dia tidak ingin menyakiti Jeonghan yang sangat menyayanginya,tetapi salahkan perasaan Jisoo yang mempunyai rasa setia kawan yang tinggi. Jisoo benar-benar peduli kepada Seungcheol,ia sangat menyayangi Seungcheol,Jisoo sudah menganggap Seungcheol sebagai hyung-nya sendiri. Seungcheol-lah yang selalu ada untuknya sebelum Jeonghan hadir mengisi masa remajanya. Tetapi,ia berfikir,ia sudah cukup telah memiliki Jeonghan. Jisoo sekarang lebih memilih untuk memberikannya kepada Seungcheol,sahabatnya. Bukan,bukan karena Jisoo tidak menyayanginya,apalagi mempermainkannya,Jisoo sangat sangat menyayanginya dan tidak ada sama sekali niatan untuk mempermainkannya,bahkan ia tidak memikirkan hal itu,sedikitpun,ia sangat tulus mencintai namja cantik yang sudah memikatnya itu,tetapi Jisoo berfikir lagi jika Seungcheol lebih baik dibandingnya,ia merasa jika Jeonghan akan bahagia dengan Seungcheol suatu saat nanti.

"Maafkan aku. Aku sangat sangat mencintaimu,aku sangat menyayangimu,mungkin aku tidak akan melupankanmu Yoon Jeonghan." Ungkap Jisoo sambil menatap mata Jeonghan dalam.

"Lalu,mengapa kau meninggalkanku?"Tanya Jeonghan dengan suara paraunya,dia masih menangis sampai saat ini.

"Aku harus belajar."jawab Jisoo masih menatap mata sembab itu.

"Aku tau,tapi mengapa kau harus memutuskan hubungan kita?"Tanya Jeonghan sambil terisak. Jisoo membuang nafasnya sambil menelan ludahnya dengan susah payah. Jisoo kembali memeluk Jeonghan yang masih menangis. Jeonghan menyembunyikan wajahnya dibalik pundak Jisoo. Jisoo mengusap rambut Jeonghan sayang. Ia melihat kearah orang yang sedari tadi berada dibelakang mereka. Jisoo tersenyum hangat kepada Seungcheol yang tengah memandangnya sedih lalu melepaskan pelukannya dari Jeonghan. Jisoo memegang tangan Jeonghan,meremasnya dengan lembut seakan tangan itu bisa hancur hanya dengan satu sentuhan saja. Jisoo menatap Jeonghan tepat dimata sembab Jeonghan,begitu juga dengan Jeonghan. Jisoo tersenyum,senyuman teduh yang selalu ia perlihatkan kepada Jeonghan dan orang lain untuk setiap harinya. Jeonghan menatapnya sambil terisak,ia benar-benar tidak bisa mengendalikan emosinya untuk saat ini.

"Kau tau? Aku sangat mencintaimu lebih dari siapapun. Tetapi,aku fikir itu salah,ada orang yang lebih mencintaimu disbanding aku,bahkan aku yakin orang itu adalah orang yang paling mencintaimu di dunia ini. Dia rela untuk menunggumu,dia sangat sabar untuk menantikanmu datang untuknya. Tapi aku? Aku hanya bisa membuatmu menangis seperti ini,aku juga harus meninggalkanmu,tapi,percayalah orang itu tidak akan pernah membuatmu menangis,ia akan selalu membuatmu tertawa dan tersenyum setiap hari,dia juga tidak akan meninggalkanmu,jika dia meninggalkanmu,kau bisa menyuruhku kembali,tapi hal itu tidak akan terjadi,bahkan ia sangat sabar menunggumu,walaupun kau tidak pernah sama sekali meliriknya dan dia tau itu,dia tau bahwa kau tidak menyukainya sama sekali,tapi dia tetap bertahan untukmu. Aku yakin,dialah orang yang paling tepat untukmu." Jelas Jisoo masih dengan senyum teduhnya yang membuat Jeonghan sedikit tenang.

"Tidak ada orang yang bisa menggantikanmu Jisoo. Lagipula,siapa orang itu? Mengapa kau mengatakan itu?"ujar Jeonghan sedikit tenang,Jisoo memperat pegangannya ditangan Jeonghan dan semakin memperlebar senyumannya,membuatnya semakin tampan.

"Suatu saat nanti,orang itu akan menggantikan posisiku,aku sangat yakin itu,dan untuk orangnya,kau akan segera mengetahuinya Jeonghan-ah."ucap Jisoo hangat. Jeonghan menggigit bibir bawahnya,ia kembali menangis,dan Jisoo tidak bosannya untuk menenangkannya serta memeluk tubuh yang sedang rapuh itu. Jisoo kembali tersenyum kepada Seugcheol yang ia yakin bahwa namja bersurai hitam itu mendengar semua ucapannya tadi. Seungcheol masih dalam mode shock-nya.

'Jadi selama ini Jisoo tau?' batinnya. Seungcheol benar-benar merasa bersalah. Ia yakin Jisoo tidak akan meninggalkan Korea jika bukan karenanya. Seungcheol sangat tau jika Jisoo benar-benar menyayanginya,walaupun Jisoo tidak pernah menceritakan kisahnya dengan Jeonghan. Seungcheol menatap Jisoo dengan tatapan memelas. Ia ingin Jisoo tetapi di Korea,bagaimanapun juga,Jisoo adalah sahabat terbaiknya,walaupun memang Jisoo pacar dari orang yang ia sukai,tapi ia tidak pernah membencinya,bahkan untuk memikirkannya saja tidak.

Jisoo kembali melepaskan pelukannya. Menatap wajah cantik itu untuk terakhir kalinya dengan jarak yang dekat,kemudian menghapus jarak diantara mereka. Jisoo tidak peduli dengan orang-orang yang berlalu lalang. Ia hanya berfikir,saat itu adalah waktu terakhir untuk memiliki Jeonghan seutuhnya,setelah itu,ia yakin bahwa Jeonghan akan jatuh untuk sahabatnya.

Jisoo tersenyum saat melepaskan tautan diantara keduanya. Jeonghan menunduk ketika Jisoo menatapnya. Jeonghan benar-benar merasa bahwa hatinya terpukul. Ia merasa hatinya tertohok,tertusuk ribuan duri beracun yang siap membunuhnya kapan saja.

"Seungcheol-ah"panggil Jisoo dan membuat namja yang sedari tadi hanya menjadi penonton itu mendekat kearah Jisoo. Seungcheol memeluk Jisoo dengan erat. Seungcheol juga menangis. Seungcheol merasa sangat bersalah,karena dia,sahabatnya itu rela mengorbankan hatinya,mengorbankan cinta sejatinya.

"Tolong jaga Jeonghan. Bukan untukku,tapi jagalah Jeonghan untukmu,untuk dirimu. Terimakasih karena kau sudah mau menjadi sahabatku,terimakasih karena kau selalu mendengarkanku,dan maaf karena aku bersalah,dan aku yakin kau mengerti apa maksudku. Tolong jaga Jeonghan karena aku sangat menyayanginya,dan juga kau harus menjaga dirimu untuk Jeonghan. Terimakasih untuk kalian berdua pernah hadir dalam hidupku." Ucap Jisoo sambil tersenyum hangat. Seungcheol menatapnya dengan tatapan tidak percaya,sahabatnya itu rela memberikan orang tercintanya untuk dirinya. Jeonghan yang masih menangis,seolah tidak mendengar ucapan Jisoo,ia tidak mempedulikannya. Jeonghan hanya memikirkan dirinya yang akan berpisah dengan orang yang paling ia sayangi.

Pesawatpun datang,Jisoo segera menarik kopernya. Sebelum ia menaiki pesawat,ia sempat berbalik ke belakang lalu tersenyum dan melambaikan tangannya. Disana,Jisoo bisa melihat bahwa Jeonghan masih menangis,bahkan Jeonghan sampai berlutut saat menangis membuat Jisoo juga menitikan air matanya. Tapi,sedetik kemudian,ia tersenyum melihat Seungcheol yang memeluk Jeonghan untuk menenagkannya. Jisoo memejamkan matanya dan mencoba untuk melupakan semuanya.

Mingyu dan Wonwoo membulatkan matanya. Mereka baru mengerti semuanya. Mereka hanya berfikir,mengapa bisa Jisoo,Seungcheol dan Jeonghan yang sekarang sangat akrab,padahal mereka pernah mengalami kejadian yang bisa saja membuat salah satu diantaranya saling membenci. Bahkan Jisoo tersenyum saat menceritakannya,begitupun dengan Seungcheol dan Jeonghan. Mereka bertiga terlihat sama sekali tidak ada guratan kebencian.

"Jadi kau dan Jisoo adalah sahabat?"Tanya Wonwoo sambil menatap Seungcheol dan Jisoo secara bergantian.

"Dia sahabat terbaikku." Ucap Seungcheol sambil merangkul Jisoo. Jisoo tersenyum lebar ketika mendengarnya.

"Dan Jisoo hyung dan Jeonghan hyung adalah-" Mingyu tidak melanjutkan pertanyaannya,ia hanya menggerakkan telunjuknya kepada Jisoo dan Jeonghan,yang ditunjuk hanya mengangguk sambil tersenyum.

"Kalian tidak bertengkar?"Tanya Wonwoo lagi

"Untuk apa kita bertengkar?" Jisoo bertanya balik

"Ya siapa tau sajakan"ucap Wonwoo sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Jisoo,Seungcheol dan Jeonghan hanya tersenyum mendengarnya.

.

.

.

Setelah 3 jam mereka berbincang-bincang dan ber-flash back ria,Mingyu dan Wonwoo pamit untuk pulang dengan alasan,jika Wonwoo besok harus bekerja. Mingyu dan Wonwoo meninggalkan tiga orang yang masih melepaskan rindu.

"Kau akan memberikanku jika ada seseorang yang lebih mencintaiku?"Tanya Wonwoo penasaran.

"Menurutmu?"Tanya Mingyu sambil menolehkan kepaanya kepada kekasih manisnya. Wonwoo hanya mengedikan bahunya,membuat Mingyu tersneyum.

"Tidak ada orang yang lebih mencintaimu selain aku,karena akulah orang yang paling mencintaimu Jeon." Ucap Mingyu sambil menautkan jarinya membuat Wonwoo tersipu mendengarnya. Mingyu kembali tersenyum saat melihat Wonwoo yang sedang tersipu.

"Bukankah aku sudah bilang bahwa aku akan selalu menghubungimu walaupun kau sibuk dan tidak akan membalasnya."Mingyu mengucapkan kembali kata-katanya,membuat Wonwoo merasa bersalah karena selama ini ia mengabaikan kekasihnya.

Ketika sampai didepan apartement,Wonwoo mencium pipi Mingyu sekilas,kemudian tersenyum melihat Mingyu yang terlihat kaget.

"Terimakasih sudah menungguku,dan terimakasih telah menjadi orang yang sangat mencintaiku."ujar Wonwoo,Mingyu segera tersenyum dan mencium kening Wonwoo cukup lama,kemudian menangkup kedua pipi Wonwoo.

"Aku akan selalu begitu dan selamanya tetap begitu."ucap Mingyu membuat Wonwoo kembali tersipu malu mendengar kata-kata yang terucap dari bibir manisnya itu.

"Terimakasih"Wonwoo menutup matanya ketika Mingyu menempelkan bibirnya diatas bibir tipisnya. Mingyu melumatnya dengan lembut dan hangat,tidak ingin menykiti bibir yang sudah menjadi candu untuknya itu. Wonwoo melepas tautan bibirnya lalu tersenyum melihat Mingyu yang juga tersenyum padanya.

"Masuklah,aku tidak mau kau besok telat."ucap Mingyu

"Kau juga pulanglah,bukankah besok hari pertamamu bekerja,kau harus beristirahat."ujar Wonwoo.

Setelah keduanya mengucapkan selamat malam,Mingyu segera pergi dari apartement Wonwoo,dan Wonwoo segera masuk kedalam apartementnya.

Wonwoo segera mengecek ponselnya. Ia melupakan ponselnya ketika bersama Mingyu tadi. Wonwoo melihat nama Jihoon tertera disana. Saat membukanya,Wonwoo hanya memutar bola matanya malas,ternyata Jihoon hanya mengingatkan bahwa besok dia harus kembali bekerja. Wonwoo melihat jam di ponselnya,masih pukul 8,Wonwoo pergi keluar menuju balkonnya untuk memandangi kota Seoul yang lebih indah pada saat malam hari. Wonwoo melamun,ia tampak memikirkan sesuatu.

'Sampai kapan aku akan seperti ini? Ini menyiksaku,bahkan aku tidak bisa bertemu Mingyu. Benar kata appa,seharusnya aku tidak bekerja disana.' Wonwoo menghembuskan nafasnya lelah.

"Kau sedang apa?"Tanya Jisoo yang berada diseberang balkonnya. Wonwoo menolehkan kepalanya.

"Kau sudah kembali?"ujar Wonwoo dan seperti biasa Jisoo hanya tersenyum.

"Aku ingin menanyakan sesuatu kepadamu."Wonwoo membalikkan badannya kepada Jisoo yang berada diseberangnya.

"Aku tau itu"jawab Jisoo sambil memandangi gedung-gedung pencakar langit yang berada didepan sana.

"Kau masih menyukai Jeonghan hyung?"Tanya Wonwoo penasaran. Jisoo tidak langsung menjawab,ia tersenyum sambil menunduk. Jisoo menarik nafasnya dan membuangnya dengan panjang.

"Menurutmu?"Jisoo balik bertanya.

"Mana aku tau"Wonwoo terlihat gemas kepada sahabatnya itu.

"Menurutmu mengapa selama ini aku tidak mempunyai pacar saat di Amerika maupun saat dulu?"Jisoo menyampaikan sebuah pernyataan sekaligus pertanyaan. Wonwoo menatap sahabatnya yang sedang tersenyum itu,namun ia yakin bahwa Jisoo menyimpan kesedihan yang terlihat dari wajahnya.

"Selama ini aku mencoba untuk melupakannya,tapi aku tidak bisa,Jeonghan terlalu sayang untuk dilupakan."jawab Jisoo sambil tersenyum hambar.

"Lalu mengapa kau meninggalkannya bodoh." Ujar Wonwoo heran

"Aku sudah bilang bahwa Seungcheol adalah yang terbaik untuknya,bukan aku."jawab Jisoo sambil menatap Wonwoo.

"Kau kira itu membantu?"Wonwoo bertanya sekaligus mengejek sahabatnya yang menurutnya sangat bodoh.

"Hanya sesaat"jawabnya singkat. Entahlah walaupun Wonwoo tidak mengalaminya,tapi Wonwoo benar-benar merasa kesal karena jawaban Jisoo. Ia bisa mengerti perasaan Jisoo walaupun tidak sepenuhnya. Tapi,Wonwoo saja yang tidak merasakan apa yang Jisoo rasakan sudah sangat kesal,bagaimana dengan Jisoo yang benar-benar merasakannya? Bahkan namja tampan itu terlihat baik-baik saja dengan senyum yang selalu terpampang diwajahnya. Wonwoo benar-benar tidak habis pikir,mengapa Jisoo bisa bertindak seperti itu,ia tau bahwa Jisoo adalah orang yang ramah,baik dan sabar,tapi sebaik itukah dia? Sesabar itukah? Sampai ia rela memberikan orang tercintanya.

"Mengapa kau tidak pernah menceritakannya?"Tanya Wonwoo

"Aku tidak ingin mengingatnya." Jawab Jisoo.

"Lalu apakah itu juga alasan mengapa kau mengganti nomormu secara tiba-tiba? Karena hal itu juga?"Tanya Wonwoo. Jisoo kembali tersenyum hambar,ia menatap kosong kedepan.

"Begitulah. Jeonghan tidak hentinya menghubungiku,karena itu aku menggantinya."jawaban konyol Jisoo membuat Wonwoo benar-benar berfikir bahwa sahabatnya itu bodoh.

"Sudahalah,itu sudah berlalu. Masuklah,kau harus bekerja besok."ucap Jisoo sambil tersenyum manis.

"Huh… Baiklah,sampai nanti"ucap Wonwoo lalu segera berlalu kedalam apartementnya.

Dini hari,tepatnya pada pukul 5,Wonwoo sudah terbangun bahkan dia sudah sangat rapi dan wangi,serta tidak lupa kadar ketampanannya yang selalu bertambah ketika dia selesai mandi. Wonwoo berteriak ketika ia melihat seseorang di ruang makannya,dan membuat orang itu menoleh.

TBC...

Mumpung free,jadi author lanjut deng...

Maafin kalo semakin gaje,ataupun typo(s) bertebaran...

keep RnR yaa^^

Makasih buat yang selalu rnr,dan yang udah follow juga favoritin ini ff.

FF ku adalah ridhomu(?)