Chap 6
WARNING!
Chap kemarin banyak SeungHan sama JiHan moment ya…
So,ff ini juga ada kapel lain gak Cuma ceritain Meanie,tapi tetap fokus di Meanie,ngerti kan?
Pairing bisa merubah kapan saja,dimana saja,dan dengan siapa saja.
Happy reading^^
Wonwoo berteriak ketika ia melihat seseorang di ruang makannya,dan membuat orang itu menoleh. Wonwoo menarik nafas lega sekaligus kesal,Wonwoo merasa hatinya terjatuh dari tempatnya ketika melihat seseorang yang tengah terduduk di kursi meja makannya. Ia sangat takut,tapi saat melihatnya ternyata orang itu adalah kekasih tampannya.
"Yak! Kau mau membuatku mati? Aishh… Jantungku hampir copot saat aku melihatmu."ujar Wonwoo masih memegang dadanya. Mingyu menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Aku tadi hanya ingin memberi kejutan."ujar Mingyu dan dibalas dengan tepukan dikepalanya. Mingyu meringis karena Wonwoo memukul kepalanya cukup keras.
"Kejutan apa? Kau hanya membuat jantungku terlepas dari tempat-" belum selesai Wonwoo mengomel,Mingyu telah meletakkan telunjuknya didatas bibir Wonwoo dan membuatnya terdiam sambil menatap Mingyu. Mingyu mendekatkan wajahnya ke wajah Wonwoo. Jarak mereka sangat dekat,dan hanya dibatasi oleh telunjuk Mingyu yang masih terletak diatas bibir Wonwoo. Mingyu tersenyum evil ketika melihat jakun Wonwoo bergerak kebawah untuk menelan ludahnya susah payah. Wajah Wonwoo sudah sangat merah. Mingyu melepaskan telunjuknya. Kini jarak mereka benar-benar deket,sedikit saja Mingyu memajukan kepalanya,bibirnya akan bersentuhan dengan bibir Wonwoo.
"Aku tau,bahkan jantungmu berdetak lebih cepat ketika kau melihatku sedekat ini dibandingkan dengan tadi kau kaget melihatku."ujar Mingyu sambil tersenyum evil. Wonwoo segera mundur lalu memalingkan wajahnya. Wajah Wonwoo sangat merah,Mingyu tau itu,namja tampan itu tertawa kecil melihat kelakuan kekasihnya.
"Mau apa kau kemari sepagi ini?"Tanya Wonwoo ketika dirasa wajahnya sudah normal kembali.
"Aku ingin sarapan bersama hyung sebelum hari pertama masuk kerja."jawab Mingyu yang langsung duduk dikursi yang tadi ia duduki. Wonwoo memutar kedua bola matanya malas.
"Seharusnya kau kesini sambil membawa makanan juga"ujar Wonwoo. Mingyu mengangkat sebuah tempat makan yang cukup besar.
"Aku sudah membawanya sayang"ucap Mingyu sambil tersenyum genit lalu menarik Wonwoo untuk duduk disebelahnya.
Mata Wonwoo terlihat berbinar ketika ia melihat kimbab,kimchi ,eomuk serta hotteok sebagai dessert. Wonwoo segera mengambil nasi yang masih hangat,ia juga membawa dua piring untuknya dan kekasih tampannya.
"Ini sangat enak."ujar Wonwoo dengan mulut yang penuh.
"Kau tau hyung aku pandai memasak."Mingyu membanggakan dirinya sambil mengunyah makanannya,Wonwoo mengangguk mengiyakan sambil terus mengunyah makanannya.
Mereka berdua terlihat benar-benar senang. Bagaimana tidak,satu minggu tidak bertemu,membuat mereka berdua benar-benar tersiksa. Apalagi Mingyu,dia terlihat sekali sangat merindukan kekasih manisnya itu. Mingyu tidak henti-hentinya menggoda Wonwoo,dan juga tidak jarang Mingyu mencium bibir Wonwoo sekilas,membuat Wonwoo tersipu.
"Apakah kau gugup?"Tanya Wonwoo kepada Mingyu yang sedang memakan hotteoknya. Mingyu terlihat berfikir sejenak.
"Sedikit."jawabnya singkat
"Mengapa bisa? Aku sangat gugup saat pertama kali aku masuk bekerja." Mingyu mengangkat bahunya. Wonwoo melirik jam tangannya.
"Ini sudah pukul 6 kurang,aku harus segera berangkat,kau tau kan bahwa saham Gyuwon itu baru naik 1% saja,itu berarti aku harus bekerja,minimal sampai sahamnya naik lagi sebesar 2%."jawab Wonwoo dengan ekspresi malasnya. Mingyu mengecek jam di ponselnya,kemudian meminum airnya.
"Baiklah hyung. Kau jangan terlalu lelah hyung,kau jangan sampai sakit." Mingyu menatap Wonwoo sambil menangkup kedua pipi mulus Wonwoo,sedangkan Wonwoo hanya tersenyum manis sambil menganggukkan kepalanya,dan membuat Mingyu tersenyum lalu mencium kening Wonwoo sedikit lama.
"Aku akan merindukanmu hyung."ujar Mingyu yang dibalas Wonwoo dengan sebuah senyuman.
Mingyu dan Wonwoo berjalan bersama sambil menautkan tangan mereka,berjalan keluar dari apartement Wonwoo yang sederhana. Mingyu tidak henti-hentinya melirik kearah Wonwoo sambil tersenyum. Merasa ada yang memperhatikan, Wonwoo melirik kearah Mingyu yang sedang tersenyum kepadanya.
"Ada apa?"Tanya Wonwoo dengan polosnya.
"Tidak apa-apa."jawab Mingyu tetap mempertahankan senyumannya.
"Kau aneh."
"Kau yang membuatku menjadi aneh hyung." Ujar Mingyu masih dengan sneyum bodohnya,Wonwoo hanya memutar bola matanya malas.
.
.
"Annyeong hyung"Mingyu melambaikan tangannya ketika ia berpisah dengan Wonwoo di halte. Mingyu berjalan menuju tempat kerja barunya dengan wajah ditekuk. Mingyu tidak mau Wonwoo kembali sibuk dengan pekerjaannya,ia pasti akan merindukan kekasih kurusnya itu. Saat ia sampai didepan sebuah gedung besar dengan sebuah plang yang bertuliskan "YOOMIN CORP" . Mingyu semakin menekuk wajahnya,ia benar-benar malas bekerja,padahal ini baru hari pertamanya. Mingyu kemudian memasukin gedung itu dengan malas,apalagi ketika mendengar bisikan-bisikan yang ia tau pasti orang-orang itu membicarakan ketampanannya itu. Mingyu bukan over pede,tapi itulah kenyataannya,itu adalah hal yang biasa untuknya,seakan kata-kata 'tampan sekali' , 'dia sangat sempurna' , dan kata-kata pujian lainnya sudah menjadi makanan sehari-hari untuknya. Salahkan dirinya yang memiliki wajah tampan dengan senyum yang memperlihatkan taringnya yang membuatnya menjadi semakin seksi dan kulit tan yang ia miliki seakan menambah nilai plus untuknya,dan jangan lupakan tubuh tinggi bak model dengan kaki jenjangnya. Mingyu memang sempurna dimata siapapun orang yang melihatya.
Saat Mingyu sampai didepan ruangan yang terdapat tag 'CEO ROOM' dipintu itu,Mingyu membungkukkan badanya kepada resepsionis yang telah mengantarnya. Beruntunglah resepsionis itu bisa berjalan bersama Mingyu walaupun hanya beberapa menit,dan itupun naik lift,tetapi wajah resepsionis itu terlihat sangat senang,apalagi saat Mingyu melempar senyum,wajah sang resepsionis itu menjadi merah padam.
.
.
Mingyu menarik nafasnya panjang sembari memejamkan kedua matanya. Mingyu mencoba untuk tetap tenang. Setelah ia benar-benar sudah merasa tenang,ia segera mengetuk pintu itu,dan segera memasuki ruangannya saat mendengar kata 'silakan masuk' dari dalam ruangan.
Mingyu disambut dengan senyuman hangat oleh sang CEO,tetapi Mingyu membalasnya dengan senyuman dinginnya. Emosinya sedikit naik ketika melihat wajah sang CEO.
"Kau Kim Mingyu kan?"Tanya CEO itu masih dengan senyuman hangatnya. Mingyu tidak langsung menjawab. Ia menatap pria dihadapannya itu dengan tatapan dingin,setelah 5 detik ia menatap dingin kearah CEO itu,ia segera tersenyum tetapi tidak sampai kematanya. Mingyu menatap tangan sang CEO yang sedang menepuk pundaknya.
"Ya,aku Kim Mingyu"Mingyu baru menjawab pertanyaan pria paruh baya itu dengan dinginnya.
"Baiklah,kau boleh keluar,dan semoga kau bisa bekerja dengan baik"ucap CEO itu dengan senyum yang terpatri diwajah yang terlihat sudah agak berkeriput. Mingyu membungkukkan sedikit badannya,kemudian keluar dari ruangan itu.
"Aku akan bekerja dengan sangat baik."ucap Mingyu pada dirinya sendiri. Entah sejak kapan Mingyu mengepalkan tangannya.
Mingyu segera memasuki ruangan kerjanya yang sangat sunyi,padahal ada puluhan orang diruangan itu. Mingyu mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan,kemudian segera berjalan kearah meja yang kosong dekat seorang namja tampan yang sedang fokus pada pekerjaannya.
"Apakah ini mejaku?"Tanya Mingyu kepada namja yang sedang bekerja itu. Namja yang ditanya segera melihat kearah namja yang sedang menunggu jawaban.
"Ohh kau karyawan baru itu? Iya,ini mejamu"jawab namja tadi sambil tersenyum.
"Iya,aku karyawan baru"ucap Mingyu membalas senyuman pria tampan itu.
"Aku Wen Junhui. Kau bisa memanggilku Junhui."namja tampan tadi memperkenalkan dirinya.
"Aku Kim Mingyu. Kau bisa memanggilku Mingyu." Mingyu sedikit membungkukkan badannya (lagi).
"Kau baru pertama kali bekerja? Atau kau sudah pernah bekerja sebelumnya?"Tanya Junhui,ia menghentikan sebentar pekerjaannya,karena ada orang baru.
"Aku baru pertama kali kerja seperti ini,tapi sebelumnya aku hanya seorang penjaga kasir disebuah kafe."jawab Mingyu,Junhui menganggukkan kepalanya.
"Apakah itu pekerjaan sampingan?"Tanya Junhui lagi,ia merasa 'menginterogasi' orang baru dihadapannya sekarang ini lebih asik dibandingkan harus berkutat dengan layar yang membuatnya pusing.
"Ya,itu pekerjaan sampinganku karena aku harus membayar biaya kuliahku."jawab Mingyu,namja dihadapannya terlihat sedikit kaget.
"Kau membiayai sekolahmu sendiri?"Junhui berada dalam mode shock. Mingyu mengangguk sebagai jawaban.
"Kemana orang tuamu?"Junhui sangat penasaran dengan orang baru yang berada dihadapannya itu. Mingyu terdiam sejenak,kemudian mulai menjawab pertanyaan yang sebenarnya ia tidak mau dengar.
"Kedua orang tuaku sudah meninggal."jawab Mingyu dengan senyum yang terlihat dipaksakan. Junhui semakin kaget mendengarnya,ia segera meminta maaf karena dirinya sudah terlalu banyak bertanya padahal dia dan Mingyu baru bertemu.
"Mian,aku tidak tau"Junhui membungkukkan badannya berkali-kali,membuat Mingyu tertawa kecil melihatnya.
"Tidak apa-apa,santai saja."ujar Mingyu dengan senyumnya.
"Aku benar-benar minta maaf."ucap Junhui lagi,dan membuat Mingyu hanya tersenyum.
"Ohiya,kau baru keluar kuliah?"Junhui kembali bertanya,Mingyu kembali menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Berarti kau lebih muda dariku."ujar Junhui
"Benarkah? Kalau begitu,aku akan memanggilmu hyung."Junhui tersenyum ketika Mingyu memanggilnya 'hyung'.
"Kau sudah mempunyai pacar?"bisik Junhui membuat wajah Mingyu sedikit merona karena dia langsung mengingat kekasih manisnya yang bisa ia pastikan bahwa kekasih manisnya itu sedang sibuk. Junhui menyikut lengan Mingyu yang masih tersenyum.
"Aku bahkan sudah tau jawabannya." Ejek Junhui. Tentu saja ia mengetahui jawabannya dengan cepat hanya dengan melihat ekpresi Mingyu.
"Bagaimana denganmu hyung?"Tanya Mingyu lagi. Junhui tertawa kecil ketika ia mendengar pertanyannya.
"Pacarku berada di China. Tetapi,dia akan pindah ke Korea."jawab Junhui. Mingyu membulatkan matanya.
"China? Bagaimana bisa?"Tanya Mingyu masih kaget.
"Aku memang berasal dari China,hanya saja aku bekerja di Korea,karena aku mendapat panggilan dari perusahaan ini."
"Kau dari China? Woahh… Aku sangat senang bisa mendapatkan teman yang berasal dari luar Korea." Junhui tertawa mendengar jawaban Mingyu .
"Sudahlah,kita harus bekerja dulu."ucap Junhui dan langsung membuat Mingyu memutar bola matanya malas.
"Bukankah perusahaan ini sudah unggul dari perusahaan Gyuwon? Kita tidak perlu bekerja terlalu keras bukan?" dengus Mingyu kesal. Junhui tersenyum maklum.
"Justru karena Gyuwon sedang turun,peluang perusahaan ini untuk maju semakin besar,dan jika kita bersantai-santai,bisa saja Gyuwon akan menyusul perusahaan ini,bahkan Gyuwon sudah menaikkan 1% sahamnya hanya dalam waktu seminggu karena system kerjanya itu."ucap Junhui memperjelas.
"Gara-gara itu juga,aku jarang bertemu kekasihku."Mingyu berucap sedih yang dibuatnya.
"Kekasihmu bekerja di Gyuwon? Kalian rival."Junhui tertawa ketika Mingyu menatapnya tajam.
"Tetap saja kita saling mencintai." Mingyu menopang kepalanya menggunakan kedua tangannya membuat Junhui bergidik ngeri melihatnya.
"Baiklah-baiklah,ayo kita mulai bekerja." Dan Junhui segera kembali berkutat dengan layar dihadapannya,sedangkan Mingyu menatap hyung barunya itu,lalu menatap layar datar dihadapnnya dengan tatapan malas,tetapi ia segera mengerjakan tugasnya.
.
.
.
.
Jisoo kembali ke kafe Jeonghan pada pukul 8 malam. Namja cantik itu melambaikan tangannya ketika melihat Jisoo memasuki kafenya. Jisoo tersenyum ketika melihat Jeonghan sedang tersenyum kearahnya. Namja tampan dengan senyuman teduh itu menghampiri namja cantik bersurai panjang. Jisoo duduk dihadapan Jeonghan.
"Seungcheol tidak kesini?"Tanya Jisoo,karena ia tau bahwa Seungcheol biasanya akan selalu datang ke kafe Jeonghan.
"Aku tidak tau,aku juga sudah menunggunya untuk datang,tapi dia tidak datang juga. Huh… Aku sangat kesal menunggunya." Jeonghan mengerucutkan bibirnya membuat namja tampan dihadapannya tertawa.
"Mungkin dia sibuk,bersabarlah Jeonghan-ie." Panggilan Jisoo kepadanya,membuat Jeonghan menatap Jisoo ,sedangkan Jisoo hanya menatapnya dengan tatapan heran.
"Ada apa?"Tanya Jisoo bingung. Jeonghan segera menggelengkan kepalanya.
"Karena panggilanku tadi?"tebak Jisoo,membuat Jeonghan merona merah.
"Maaf,tadi aku lupa."Jisoo tersenyum kikuk sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Dan setelah itu terjadilah awkward moment diantara mereka berdua selama beberapa menit,sampai akhirnya Jisoo memecahkan keadaannya.
"Jeonghan-ah,maukah kau menemaniku untuk berjalan-jalan sebentar?"Tanya Jisoo . Jeonghan menatap Jisoo dengan tatapan ragu. Ia takut jika perasaannya akan kembali,tetapi setelah ia meyakinkan perasaannya bahwa dia sekarang hanya mencintai Seungcheol,ia segera menganggukkan kepalanya.
Jisoo dan Jeonghan berjalan kaki sambil menyusuri jalanan Seoul yang masih terlihat ramai. Tidak ada percakapan diantar mereka berdua. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing. Sesekali Jeonghan melirik kearah Jisoo yang masih terlihat tampan menurutnya.
Jisoo kemudian mengajak Jeonghan duduk dibangku taman yang kebetulan mereka lewati. Jisoo membawakan Jeonghan sebuah kopi hangat yang dibelinya. Kemudian segera memberikannya dan duduk disebelah namja cantik itu. Jeonghan tersenyum lalu menyesap kopinya.
"Gomawo" ucap Jeonghan yang hanya dibalas senyuman oleh Jisoo. Keheningan terjadi lagi setelah itu,sampai akhirnya,Jeonghan membuka suara.
"Jisoo-ah"ucap Jeonghan. Jisoo menatapnya sambil tersenyum yangbisa membuat Jeonghan tenang melihatnya.
"Kenapa?"Tanya Jisoo
"Aku ingin menanyakan sesuatu padamu"ujar Jeonghan sedikit ragu,Jisoo tersenyum.
"Tanyalah sesukamu." Jeonghan tersenyum ketika melihat Jisoo tersenyum.
"Kau sudah memiliki kekasih?"Tanya Jeonghan gugup. Jisoo segera tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Kau berbohong"ucap Jeonghan sambil memicingkan matanya.
"Untuk apa aku berbohong? Aku benar-benar tidak mempunyai satupun."jawab Jisoo meyakinkan Jeonghan.
"Jinjja? Kenapa?" Jeonghan menatap Jisoo yang hanya tersenyum.
"Menurutmu?"Jisoo bertaya balik. Jeonghan menggelengkan kepalanya.
"Aku masih menyayangi mantan kekasihku yang pernahkutinggalkan."Jisoo tidak menatap Jeonghan. Ia menatap lurus kedepan. Jeonghan menatapnya tidak percaya,ia agak merona mendengarnya.
"Lalu mengapa saat itu kau meninggalkannya?"Tanya Jeonghan,Jisoo membalikkan kepalanya masih dengan senyuman teduhnya.
"Karena aku tau bahwa ada orang yang lebih baik dariku,dan ucapanku itu adalah nyata."Jisoo semakin memperlebar senyumannya,berbalik dengan Jeonghan yang memalingkan wajahnya.
"Kau meninggalkanku karena Seungcheol? Karena dia mencintaiku? Karena dia sudah rela menungguku?"Tanya Jeonghan sambil menatap Jisoo. Jisoo menatap kembali Jeonghan tepat dimanik matanya dan kembali tersenyum hangat.
"Menurutmu aku pergi hanya untuk merelakan kau kepada Seungcheol? Bahkan aku tidak bisa merelakannya."Jisoo tertawa saat mengucapkannya,sedangkan Jeonghan masih menatapnya penasaran.
"Aku memutuskan hubungan kita saat itu,karena aku pasti akan tersiksa karena pasti aku akan sangat sangat merindukanmu,dan juga jika aku tidak memutuskanmu saat itu,aku juga tau bahwa kau akan berakhir dengan Seungcheol." Jelas Jisoo tidak melepas senyumannya barang seditikpun.
"Maafkan aku."Jisoo menundukkan kepalanya,senyuman itu hilang begitu saja. Jeonghan menggigit bibir bawahnya.
"Lalu mengapa kau mengganti number ponselmu?"Tanya Jeonghan.
"Itu karena ponselku hilang yang dulu hilang,dan aku membeli yang baru. Tetapi aku tidak ingat semua nomor kontak yang berada di ponsel lamaku,bahkan aku tidak ingat nomor ponsel Wonwoo."ujar Jisoo.
"Aku kira karena aku yang terus menghubungimu."ucap Jeonghan,ia sedikit bersyukur karena Jisoo mengganti nomor ponselnya bukan karena dia.
'Maafkan aku membohongimu.'batin Jisoo.
"Ini sudah malam,ayo kita pulang."ucap Jisoo lalu menarik Jeonghan.
.
.
Sesampainya di kafe milik Jeonghan,mereka berdua melihat Seungcheol yang sudah berada disana. Jeonghan terlihat gugup,ia takut Seungcheol menyangkanya hal yang tidak-tidak.
"Tenanglah,dia tidak akan marah."ucap Jisoo menangkan.
Mereka berdua menghampiri Seungcheol yang tersenyum kepada mereka.
"Kalian darimana? Aku hampir tertidur jika tidak ada temanku ini." Ucap Seungcheol sambil menunjuk Americano yang sudah setengahnya itu.
"Maaf,aku meminjam Jeonghan-mu sebentar tadi untuk menemaniku berjalan-jalan sebentar,aku sudah lama tidak melihat-lihat Seoul."Jisoo menjelaskan.
"Santai saja,kau boleh meminjam Jeonghan-ku,tetapi tidak boleh terlalu lama,jika terlalu lama,aku akan membunuhmu." Ucapan Seungcheol itu membuat Jisoo tertawa,sedangkan Jeonghan memutar kedua bola matanya.
"Aku ke dapur sebentar."ucap Jeonghan meninggalkan dua namja tampan yang bersahabat sejak dulu itu.
"Jisoo-ah"Seungcheol terlihat serius. Jisoo menatapnya.
"Wae?"Tanya Jisoo penasaran
"Aku sudah memikirkan ini sejak aku bertemu denganmu saat kau pulang dari Amerika. Sepertinya,aku akan mengembalikan Jeonghan kepadamu,aku sudah cukup menjaganya,karena kau sudah kembali ke Korea,jadi aku akan menyerahkan kembali Jeonghan kepadamu,kepada pemilik asalnya,aku juga sudah sangat senang sudah bisa memilikinya." Ucap Seungcheol sambil tersenyum.
Namja tampan berambut merah kecoklatan itu tersenyum hangat ,bahkan sangat hangat. Jisoo menepuk pundak Seungcheol pelan.
"Kau tidak perlu mengembalikannya,dia sudah bahagia bersamamu,aku tidak akan memintanya kembali,karena dia sudah melupakanku sekarang,dan hanya ada kau sekarang dihatinya Seungcheol-ah." Jisoo berucap sangat tulus,terlihat dari ekpresi wajahnya. Jisoo memang benar0benar tulus mengatakannya,walaupun memang ia masih belum bisa melupakan Jeonghan,tetapi ia benar-benar rela mantan kekasihnya itu bersama sahabat paling dekatnya itu,selama Jeonghan bahagia dan tidak tersakiti,ia tidak peduli jika hatinya tersakiti. Seungcheol agak berkaca-kaca,dan membuat senyuman Jisoo luntur.
"Kau kenapa? Ada yang salah dari ucapanku barusan?"Tanya Jisoo panik. Seungcheol menggeleng,ia segera menyeka air matanya yang akan segera terjun bebas.
"Maafkan aku Jisoo-ah,dan terimakasih."ucap Seungcheol dan membuat Jisoo kembali mengembangkan senyumnya.
"Kau tidak perlu meminta maaf,ataupun berterimakasih,karena itu memang sudah seharusnya menjadi milikmu."Jisoo benar-benar memiliki hati yang bersih menurut Seungcheol.
"Kalian membicarakan apa?"Tanya Jeonghan yang baru saja duduk disebelah Seungcheol. Kedua namja tampan itu hanya menggeleng sambil tersenyum.
.
.
.
.
.
Wonwoo meregangkan badannya,kemudian menguap. Ia segera membereskan meja kerjanya,lalu bergegas untuk pulang. Ia mengecek ponselnya. Ada satu pesan dari Mingyu. Ia segera membulatkan matanya. Ia tidak ingat bahwa ponselnya berada dalam mode silent. Ia segera membalas pesan Mingyu walaupun pesan itu dikirim saat pukul 8 malam tadi,dan sekarang sudah pukul 2 dini hari.
Wonwoo segera mengetikkan sesuatu diponselnya dengan cepat. Wonwoo merutuki dirinya sendiri karena ia kembali lupa dengan Mingyu. Wonwoo menghembuskan nafasnya berat. Apakah Mingyu akan marah lagi? Wonwoo menyesal karena dia terlalu sibuk bekerja.
"Ada apa denganmu?"Tanya namja mungil yang sudah berada disamping Wonwoo. Wonwoo tidak menjawabnya,dia masih memikirkan bagaimana jika Mingyu marah lagi kepadanya.
"Yak! Ada apa?" Jihoon memukul lengan Wonwoo dan membuatnya meringis.
"Aku lupa membalas pesan kekasihku."jawab Wonwoo. Jihoon hanya ber'oh' ria mendengarnya membuat Wonwoo kesal.
.
Saat Wonwoo sampai diapartementnya,ia segera membersihkan badannya,dan kembali mengecek ponselnya. Tidak ada balasan dari Mingyu. Ia berfikir bahwa Mingyu sudah tidur.
"Mingyu pasti tidur,ya dia pasti sudah tidur,karena ini sudah pukul setengah 3" monolog Wonwoo. Ia meyakinkan dirinya bahwa Mingyu sudah tidur,dan Mingyu tidak membalasnya bukan karena Mingyu marah tetapi karena sudah tidur. Wonwoo segera membaringkan tubuhnya dikasurnya,dan menyimpan ponselnya dimeja nakas yang berada dipinggir kasurnya. Dalam hitungan beberapa menit,Wonwoo sudah bisa memejamkan matanya.
TBC…
Kebanyakan Jihan sama Seunghan ya?
Chap selanjutnya dibanyakin meanie kok…
Jangan lupa RnR^^
Typo(s)
