Chap 8

To: Mingyu

From: Wonwoo

"Aku tunggu di kafe Jeonghan hyung pukul 9"

Mingyu hanya melihat pesannya. Sebenarnya dia berniat untuk membalasnya,hanya saja,sekarang jam diniding sudah menunjukkan pukul 8 lewat. Mingyu segera bersiap-siap,ia mengenakan sweater rajut berwarna abu-abu dan memakai outer dengan warna senada. Mingyu menyisir rambut abu-abunya,dan membuat ia semakin tampan.

Mingyu memasuki kafe Jeonghan yang terlihat cukup ramai,ia melihat namja manis yang sudah menunggunya. Wonwoo menatap Mingyu dengan dingin,begitupun sebaliknya. Jeonghan yang melihat mereka berdua,terlihat heran,kemudian ia menghampiri kedua sejoli itu.

"Hyung,bisa kau tinggalkan kami berdua? Kami ingin membicarakan sesuatu."ujar Wonwoo sambil tersenyum tipis,Jeonghan hanya menganggukkan kepalanya,lalu ia segera pergi dengan terheran-heran.

Tidak ada yang memulai pembicaraan diantara mereka. Hanya saling berdiam diri,sambil memalingkan wajah. Sibuk berkutat dengan pikiran masing-masing. Sesekali Mingyu ataupun Wonwoo saling melirik,dan sampai akhirnya,Wonwoo membuka pembicaraan.

"Kau kemana?"Tanya Wonwoo dingin. Mingyu menolehkan kepalanya.

"Maksudmu?"Tanya Mingyu tak kalah dingin.

"Kau kemana saja,sampai kau tidak menghubungiku sama sekali?"Wonwoo bertanya dengan tatapan datarnya,sedangkan Mingyu menautkan kedua alisnya.

"Kau sendiri kemana hyung,tak pernah membalas satupun pesanku?" Mingyu bertanya sarkatis.

"Kau tau bahwa aku sibuk" Mingyu tertawa mendengarnya.

"Aku tau itu,tapi,sesibuk itukah sampai kau sama sekali tidak bisa membalas pesanku?" Mingyu menatap tajam,Wonwoo pun melakukan hal yang sama.

"Mengapa kau jadi menyalahkanku? Aku memang sibuk,dan mengapa kau tidak bisa mengerti?" tatapannWonwoo itu membuat mata sipitnya terlihat lebih tajam.

"Aku bisa mengerti hyung,tapi aku hanya sudah bosan saja menunggumu untuk membalas semua pesanku." Wonwoo tertawa meremehkan sambil membuang wajahnya.

"Bahkan kau bilang,kau akan selalu mengirimiku pesan sesibuk apapun itu dan tidak peduli aku akan membalasnya atau tidak." Ujar Wonwoo. Giliran Mingyu yang tertawa meremehkan.

"Lalu kau sendiri? Bukankah kau juga berjanji kau akan selalu membalas pesanku,tidak peduli sesibuk apapun kau,walaupun hanya satu pesan saja yang kau balas? Kau juga mempunyai janji padaku hyung"

"Bagaimana aku mau membalas pesan,jika kau tidak mengirimnya?" Wonwoo mulai naik darah

"Mengapa aku harus mengirim pesan jika kau tidak membalasnya? Lagipula,jika aku tidak mengirimu pesan,mengapa kau tidak menghubungiku duluan saja?"Mingyu sedikit menaikkan suaranya.

Seungcheol yang baru saja akan menyapa Wonwoo dan Mingyu,langsung diberikan sebuah isyarat oleh Jeonghan agar tidak menghampiri pasangan yang sedang bertikai itu. Akhirnya Seungcheol menghampiri Jeonghan.

"Wae?" bisik Seungcheol masih melirik Wonwoo dan Mingyu. Jeonghan hanya menggelengkan kepalanya.

"Mereka bertengkar?"Tanya Seungcheol

"Sepertinya begitu" jawab Jeonghan sambl terus memperhatikan Wonwoo dan Mingyu yang masih terlihat saling menatap tajam.

"Karena apa?"Seungcheol kembali bertanya,dan hanya mendapatkan sebuha gelengan dari Jeonghan.

.

"Jika kau bosan,mengapa kau tidak mengakhiri hubungan ini saja?"Tanya Wonwoo final. Mingyu terlihat kaget mendengar ucapan Wonwoo.

"Jika itu maumu,aku akan menurutinya." Ujar Mingyu lebih merendahkan suaranya dari yang tadi. Wonwoo memalingkan wajahnya sambil menggigit bibir bawahnya.

"Aku pergi dulu." Wonwoo segera bangkit dari duduknya,dan saat dipintu kafe,Wonwoo berpapasan dengan Jisoo,tapi Wonwoo tidak mempedulikannya. Jisoo melihat kearah Wonwoo yang sudah berjalan keluar,lalu menatap Mingyu yang terlihat sedang sangat frustasi,dan menatap kearah Jeonghan dan Seungcheol yang hanya dibalas dengan sebuah gelengan. Jisoo menghampiri Mingyu,diikuti oleh Jeonghan dan Seungcheol dibelakangnya.

"Kalian bertengkar?"Tanya Jisoo hati-hati,Mingyu mengusap wajahnya dengan kasar.

"Karena pekerjaan lagi?"Jeonghan ikut bertanya,dan dibalas oleh anggukan oleh Mingyu.

"Aku bingung siapa yang sebenarnya salah."ujar Mingyu sambil menghembuskan nafasnya lelah.

"Minggu kemarin kalian tidak bertengkar,mengapa sekarang bertengkar?"Tanya Seungcheol

"Sebenarnya,minggu kemarin,aku dan Wonwoo hyung sempat bertengkar,tapi hanya sebentar"ungkap Mingyu.

"Lalu?"Tanya Jisoo

"Sebenarnya,terakhir kali aku menghubungi Wonwoo hyung itu hari Senin kemarin,saat kau mengantarkan makan ke apartementnya,dan saat itu aku mengiriminya pesan,dan dia tidak membalas,karena aku lelah,jadi aku tidak pernah mengirimnya lagi pesan,aku pikir,aku telah mengganggu pekerjaan Wonwoo hyung"jelas Mingyu dengan nada pasrah. Ketiga orang didepannya hanya mengangguk mengerti.

"Sepertinya ada kesalah pahaman disini,kau bilang apa saja tadi?"Tanya Jisoo

"Aku hanya bilang,bahwa aku bosan menunggu jawaban dari Wonwoo hyung" jawab Mingyu dengan wajah polosnya.

"Bingo! Itulah yangn menjadi sumbeh salah paham disini"ujar Jisoo.

"Ya,kau juga salah berbicara Mingyu-ah"Seungcheol menyutujui ungkapan Jisoo.

"Tapi,sebenarnya ini bukan kesalahan Mingyu sepenuhnya"ujar Jeonghan,membuat Jisoo dan Seungcheol mengangguk.

"Ya,sebenarnya disini yang salah adalah Wonwoo karena dia terlalu sibuk,dan Mingyu hanya salah berbicara dan membuat Wonwoo salah paham"simpul Jisoo.

"Lalu sekarang bagaimana? Wonwoo hyung meminta untuk memutuskan hubungan kita." Ucapan Mingyu membuat ketiga orang dihadapannya itu membulatkan matanya kaget.

"Jinjja? Apakah Wonwoo sekesal itu karena kau salah bebricara?"Seungcheol masih dalam mode shocknya.

"Sepertinya begitu"jawab Mingyu lemas.

"Hyung,bagaimana ini? Aku tidak ingin semua ini berakhir,terlalu saynag untuk diakhiri. Hyung bantu aku,Wonwoo hyung adalah hidupku" mohon Mingyu. Mingyu benar-benar tidak tau harus bagaimana sekarang,saat tadi mendengar Wonwoo mengucapkannya saja,sudah cukup membuat hatinya merasa mencelos. Ia benar-benar tidak percaya bahwa kekasihnya itu akan mengucupkan kata yang paling Mingyu takutkan.

"Untuk apa kita membantumu?"Jisoo melipatkan kedua tangannya didepan dada.

"Seungcheol hyung kau mau membantuku?"Mingyu menatap Seungcheol dengan penuh harap.

"Kau harus menyelesaikannya sendiri Mingyu-ah"

"Jeonghan hyung? Kau adalah malaikatku hyung,tolong bantu aku" Jeonghan hanya menggelengkan kepalanya.

"Mengapa kalian tidak mau membantuku? Aku ingin mati saja jika hubunganku benar-benar berakhir"Mingyu benar-benar pasrah,ia bahkan hampir menangis.

"Aigoo… Kau pikir aku sekejam itu?"ucap Jisoo sambil tertawa melihat Mingyu,sontak Mingyu membalikkan kepalanya kepada Jisoo,ia menatap Jisoo dengan mata berbinar.

"Benarkan hyung?" mata Mingyu benar-benar berbinar,apalagi ketika Jisoo menganggukkan kepalanya,Mingyu segera memeluk namja tampan berambut merah kecoklatan itu.

"Hyung… Aku sungguh berterimakasih,aku benar-benar senang,aku akan mentraktirmu nanti"ungkap Mingyu tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.

"Sudahlah,orang-orang akan aneh melihatmu memelukku seperti ini"ujar Jisoo,dan membuat Mingyu melepaskan pelukannya.

"Semoga hubungan kalian membaik Mingyu-ah"ungkap Jeonghan.

.

.

.

.

Wonwoo terus saja mengacak rambutnya frustasi. Ia menggigit bibir pinknya itu. Ia takut Mingyu benar-benar menganggap omongannya tadi benar-benar Mingyu anggap serius. Wonwoo takut Mingyu benar-benar memutuskan hubungan mereka. Wonwoo tidak tau harus apa jika itu semua benar-benar terjadi. Saat di kafe tadi,Wonwoo benar-benar emosi,padahal sebenarnya,dirinyalah yang salah,ia tadi benar-benar tersulut oleh emosi,sehingga tidak bisa mengontrolnya. Ketika Wonwoo sedang bingung,Wonwoo segera pergi ke balkonnya,ketika ia mendengar Jisoo memanggilnya.

"Tanyakan semua yang ingin kau tanyakan"ucap Wonwoo sudah mengerti alasan Jisoo memanggilnya.

"Kau taukan,itu semua bukan mutlak kesalahan Mingyu?" Tanya Jisoo tenang. Wonwoo membalikkan badannya.

"Kau sudah tau semuanya?"Tanya Wonwoo dan mendapat anggukan dari Jisoo. Wonwoo membuang nafasnya lelah,kemudia ia kembali menatap lurus kedepan.

"Ya,aku tau bahwa ini bukan seluruhnya kesalahan Mingyu,bahkan Mingyu tidak salah sama sekali,akulah yang terlalu sibuk"ungkap Wonwoo.

"Lalu mengapa kau ingin putus dari Mingyu?"Tanya Jisoo,kali ini ia menatap Wonwoo.

"Jisoo-ah,kau tau itu bukan yang sebenarnya ingin aku katakan,aku tadi benar-benar tersulut oleh emosi,aku benar-benar kesal karena Mingyu tidak pernah menghubungiku. Aku juga tadi sempat bingung mengapa aku mengatakan bahwa aku ingin putus dengan Mingyu,aku merasa aku benar-benar tidak bisa mengontrol emosiku tadi."Wonwoo terlihat sangat pasrah ketika menjelaskannya,Jisoo hanya tersenyum melihatnya.

"Lalu,kau akan bagaimana sekarang?"Tanya Jisoo

"Aku juga tidak tau" jawab Wonwoo lemas.

"Kau harus minta maaf bodoh"ujar Jisoo dan membuat Wonwoo menatapnya.

"Sekarang?"Tanya Wonwoo

"Terserah kau,jika kau ingin masalahnya cepat selesai. Kau bisa meminta maaf kapan saja kau mau,tapi kau harus ingat bahwa Mingyu adalah manusia,ia mempunyai batas kesabaran"jawab Jisoo

"Baiklah,aku akan meneleponnya"

"Kau harus meminta maaf langsung"ucap Jisoo.

"Tapi ini sudah malam"Wonwoo melirik jam di ponselnya. Jisoo mengedikan bahunya.

"Aku akan pergi kesitu,bukakan pintu untukku." Suruh Jisoo,ia segera pergi dari balkonnya.

"Hong Jisoo! Kau menyuruhku? Yak!" dengus Wonwoo tapi ia tetap membukakan pintu untuk Jisoo.

Saat Wonwoo baru saja membukakan pintu untuk sahabat tampannya itu, Jisoo segera menariknya,dan menutup pintu apartementnya. Untungnya pintu apartementnya itu,akan langsung terkunci jika ada seseorang yang menutup pintu.

"Kita akan kemana Jisoo-ah?tanya Wonwoo masih penasaran,tetapi Jisoo tidak menjawabnya,ia terus menyeret Wonwoo sampai dimobilnya.

"Masuklah"ucap Jisoo sambil membukakan pintu mobil untuk Wonwoo.

"Tapi kita ak…" Jisoo sudah memasuki kursi setirnya ketika Wonwoo belum selesai berbicara. Jisoo tersenyum manis ketika ia mendapati Wonwoo sedang menatapnya dengan tajam.

Jisoo dan Wonwoo sampai disebuah apartement sederhana milik Mingyu. Wonwoo menelan ludahnya susah payah saat ia dipaksa masuk oleh Jisoo. Sahabat tampannya itu terus saja menyeretnya sampai mereka berdua sampai didepan pintu apartement Mingyu.

"Aku akan menunggu di mobil"ucap Jisoo sambil pergi berlari ke mobilnya,ia mengabaikan sahabat manisnya itu,karena dia pikir,dia tidak perlu ikut campur dengan masalah mereka berdua.

Wonwoo membuang nafasnya beberapa kali. Ia sangat gugup,dia juga sudah menelan ludahnya beberapa kali. Entah mengapa,Wonwoo sangat takut untuk bertemu dengan Mingyu,ia takut saat ia belum meminta maaf,tetapi Mingyu sudah memutuskan hubungan mereka. Wonwoo segera menggelengkan kepalanya,tidak mau hal yang ia pikirkan terjadi. Wonwoo dengan ragu memencet bel apartement Mingyu,ia menggigit bibir bawahnya.

Karena tidak ada tanda-tanda seseorang akan membuka pintu itu,Wonwoo segera memencet belnya lagi. Wonwoo terus memencet belnya. Merasa jari-jarinya pegal,ia melirik kearah Jisoo yang ada didalam mobilnya,yang terpakir 10 meter disana. Wonwoo mengisyaratkan bahwa tidak ada yang membuka pintunya. Ia menggelengkan kepalanya sambil menyilangkan kedua tangannya. Jisoo yang melihatnya mengerutkan dahinya,ia kemudian menelepon Mingyu.

Jisoo keluar dari mobilnya,dan menghampiri Wonwoo yang terlihat sangat sedih. Wonwoo terlihat sangat pasrah dan tidak tau harus berbuat apa,foxy eyes miliknyanya menyiratkan kesedihan,membuat Jisoo merasa bersalah.

"Mian,Mingyu sedang tidak disini."Jisoo tersenyum tidak enak sambil menggaruk tengkuknya. Wonwoo menghembuskan nafasnya berat.

"Ia dimana?"Tanya Wonwoo lemas,tetapi Jisoo hanya menggeleng.

"Dia tidak memberitahuku"jawab Jisoo. Wonwoo memejamkan matanya sejenak.

"Kajja,kita pulang saja,percuma jika kita disini,Mingyu juga tidak ada"Wonwoo mencoba menenangkan dirinya sendiri membuat Jisoo semakin merasa tidak enak,karena bagaimanapun juga ia yang memaksa Wonwoo agar tetap datang ke apartement Mingyu.

"Wonwoo-ah,mianhae" Wonwoo hanya tersenyum lalu memeluk Jisoo,membuat namja yang dipeluk itu kaget.

"Tidak apa-apa Jisoo-ah. Terimakasih karena kau sudah bisa membantu hubunganku dengan Mingyu,aku sangat senang mempunyai sahabat seperti kau"ucap Wonwoo masih memeluk Jisoo. Namja tampan itu tersenyum ketika mendengar sahabatnya berbicara.

"Ayo pulang,ini sudah malam,kau besok harus bekerja."ucap Jisoo lalu menarik lengan Wonwoo.

"Harusnya aku bekerja saja di Pledis"ucap Wonwoo malas,membuat Jisoo tertawa.

"Mengapa kau mau bekerja di perusahaan appa-ku?"ujar Jisoo sambil menyetir mobilnya.

"Aku ingin memulai semuanya dari nol,kau tau itu Hong Jisoo"ujar Wonwoo yang hanya dibalas sebuah senyuman oleh pria bermarga Hong itu.

.

.

.

.

.

Mingyu berangkat bekerja dengan wajah yang kusut,membuat namja China yang sudah ia anggap sebagai hyung-nya itu bertanya-tanya melihat keadaan Mingyu.

"Ada masalah?"Tanya Junhui sambil memberikan secangkir Green Tea dihadapan Mingyu. Mingyu segera menyesap green tea miliknya,lalu membuang nafasnya berat.

"Aku bertengkar lagi dengan Wonwoo hyung"jawab Mingyu

"Dengan alasan yang sama?" Ya,Junhui sudah mengetahui semua cerita tentang Mingyu,termasuk kisah percintaannya itu. Mingyu mengangguk sebagai balasan.

"Aishh… Bahkan dia menyuruhku untuk mengakhiri semua hubungan kita" Mingyu terlihat sangat frustasi,sedangkan namja China dihadapannya membulatkan matanya kaget.

"Kau berbicara apa?"Tanya Junhui

"Aku hanya berbicara bahwa aku bosan menunggu jawaban dari Wonwoo hyung"jawab Mingyu masih dalam mode frustasi. Junhui menyentil kening Mingyu,dan membuat Mingyu melayangkan death glare.

"Kau salah berbicara bodoh" ucap Junhui,dan membuat Mingyu mengkerutkan keningnya.

"Kau jangan berbicara bahwa kau bosan,tentu saja itu membuatnya salah paham"ujar Junhui

"Ya,ya,ya aku tau itu,memang ada kesalah pahaman antara aku dan Wonwoo hyung,sebenarnya aku hanya takut menganggunya saja,mungkin dia snagat sibuk,jadi aku tidak mengiriminya pesan lagi.

"Keduanya memang salah"ujar Junhui

"MWO? Aku hanya salah berbicara saja"ucap Mingyu tak terima

"Tetap saja kau salah berbicara" Junhui kembali menyesap latte miliknya.

"Apakah hubunganku aka berakhir hyung?"Tanya Mingyu

"Jika kalian berdua mempertahankannya tidak akan,bahkan walaupun sebanyak apapun masalah itu,jika kalian tetap mempertahankannya ,hubungan kalian tidak akan berakhir"jawab Junhui bijak. Mingyu menganggukkan kepalanya mengerti.

"Tentu saja aku aka mempertahankan Wonwoo hyung-ku" Ucap Mingyu.

"Baguslah kalau begitu"

"Hyung,bagaimana kencanmu kemarin?" Junhui langsung tersenyum cerah saat Mingyu menanyakan tentang kencannya.

"Bahkan Minghao terlihat lebih imut lagi setelah kita tidak bertemu selama beberapa tahun"Junhui masih tersenyum sambil membayangkan wajah kekasih imutnya.

"Aku yakin pacarmu tidak lebih imut dari Wonwoo hyung-ku" sekali lagi,kening Mingyu mendapat sentilan dari Junhui.

"Mengapa kau selalu memukulku?"

"Hanya dua kali aku rasa"jawab Junhui polos,membuat Mingyu mencibirnya.

"Ayo kita kembali bekerja,ini sudah masuk jam"Junhui segera berjalan menuju ruangan mereka,Mingyu mengikutinya dari belakang dengan malas-malasan.

.

.

Mingyu ingat tadi malam,Jisoo hyung meneleponnya dan menanyakan keberadaannya,tetapi tadi malam Mingyu sedang berada dirumahnya,jadi ia tidak pulang ke apartement. Mingyu segera mendial nomor Jisoo.

"Hyung,tadi malam ada apa? Kau datang ke apartementku?"Tanya Mingyu

"Ya,tadi malam,aku dan Wonwoo datang ke apartementmu"jawab Jisoo membuat Mingyu mengerutkan dahinya sekaligus merasa senang.

"Wonwoo hyung? Ada apa kalian datang kesana?"

"Molla,hanya sajaWonwoo bilang,ada yang ingin ia bicarakn denganmu,mungkin ia ingin meminta maaf padamu"ujar Jisoo membuat hati Mingyu semakin berbunga bunga

"Kalau begitu,aku akan meminta maaf padanya,aku akan menunggunya di apartementmu,sampai jam berapapun"ucap Mingyu semangat,ia tidak hentinya tersenyum,namun senyumanitu luntur ketika Jisoo mengatakan 'tidak usah'.

"Mengapa tidak usah hyung? Aku harus meminta maaf padanya agar hubungan kami tidak berakhir"

"Aishh… Kau jangan meminta maaf pada Wonwoo,karena bagaimanapun dia yang salah"jawab Jisoo,Mingyu tampak berfikir sejenak.

"Tapi aku juga salah hyung,aku salah bebricara dan membuat Wonwoo hyung salah paham"ungkap Mingyu. Terdengar hembusan nafas dari seberang sana.

"Maksudku,biarkan Wonwoo yang meminta maaf duluan,jika ia sudah benar-benar menyesalinya,kau baru meminta maaf,kau mengerti?"ujar Jisoo,senyum Mingyu kembali terkembang.

"Kau benar-benar jenius hyung. Saranghae hyung,aku benar-benar menyukaimu hyung" ucap Mingyu tidak bisa menyembunyikan perasaannya.

"Kau tau? Aku merinding mendengarmu mengatakan hal itu"ucap Jisoo dan membuat Mingyu tertawa.

"Baiklah,aku akan menghubungimu nanti,aku sedang sibuk sekarang"ucap Jisoo

"Aku tau 'Calon Ahli Waris' pasti sangat sibuk"ujar Mingyu sambil menekankan kata 'Calon Ahli Waris' , ia mendengar Jisoo tertawa diseberang sana.

"Baiklah hyung,sampai nanti,kabari aku" ucap Mingyu,lalu Jisoo memutuskan sambungannya duluan.

Mingyu kembali bekerja dengan senyumnya yang terus berkembang. Ia sangat senang memiliki sahabat hyung seperti Jisoo. Ya,siapapun orang yang mengenal Jisoo,atau memiliki sahabat seperti Jisoompasti orang itu adalah orang yang beruntung,dan tidak akan menyesal sampai kapanpun,karena itu sudah sangat terbukti,dan banyak yang mengakuinya. Wonwoo,Mingyu bahkan Seungcheol pun sangat bersyukur memiliki sahabat seperti Jisoo,termasuk Jeonghan.

.

.

.

Wonwoo menatap ponselnya gusar. Mingyu benar-benar tidak menghubunginya lagi.

"Apakah Mingyu benar-benar akan memutuskan hubungan kita? Aishh.." gerutu Wonwoo. Jihoon melirik Wonwoo yang sedang menatap ponselnya gusar.

"Dia pasti akan menghubungimu jika dia masih mengharapkanmu"ujar Jihoon tanpa menatap Wonwoo,dia masih fokus dengan pekerjaannya.

"Bagaimana jika dia tidak menghubungiku lagi?" Tanya Wonwoo pasrah

"Berarti dia sudah tidak mengharapkanmu"jawaban Jihoon membuat Wonwoo menenggelamkan kepalanya dibalik tangannya yang ia lipat.

'Aku harus menemuinya'batin Wonwoo.

.

.

"Soonyoung? Mengapa kau kesini? Ini sudah sangat malam" ujar Jihoon kaget ketika melihat kekasih sipitnya itu sudah ada didepan kantor tempatnya bekerja. Pasalnya,ini sudah pukul 2 dini hari. Soonyoung hanya menyunggingkan senyumnya.

"Untuk menjemputmu,tentu saja"jawab namja sipit itu.

"Tapi kau tidak perlu menjemputku,kau pasti lelah"ucap Jihoon sambil menghampiri Soonyoung.

"Semuanya akan kulakukan untukmu Jihoonie"ucap Soonyoung genit,sedangkan pria pendek yang sedang ia rangkul hanya memutarkan kedua bola matanya.

"Annyeong"sapa Wonwoo yang sedari tadi hanya menonton adegan dihadapannya.

"Annyeong… Nuguseo?" Soonyoung menyapanya kembali

"Wonwoo imnida" jawab Wonwoo sambil menyinggungkan senyum dibibir tipisnya.

"Aku rasa aku tau"ucap Soonyoung sambil mengingat-ngingat.

"Mungkin kau mengetahuiku dari Jisoo"Wowoo membantu Soonyoung untuk berfikir.

"Ahh benar,ya,aku tau kau dari Jisoo. Ohya,aku Kwon Soonyoung,kekasih Lee Jihoon"ujar Soonyoung bangga

"Kau sangat memalukan Soonyoung-ah"dengus Jihoon

"Aku kan hanya ingin memamerkan saja bahwa kau kekasihku"Soonyoung tersenyum manis kepada Jihoon dan hanya dibalas dengan cibiran. Namja manis dihadapan mereka hanya tertawa kecil melihat kedua pasangan didepannya.

"Baiklah,aku akan pulang duluan. Annyeong Jihoon-ah,annyeong Soonyoung-ssi" ujar Wonwoo lalu melangkahkan kakinya untuk kembali ke apartementnya.

.

.

.

.

Keesokan harinya,Wonwoo pergi bekerja lebih siang dari biasanya,karena memang ia mendapatkan toleransi,karena pekerjaannya kemarin-kemarin. Wonwoo melirik ponselnya,berharap ada sebuah pesan atau sebuah panggilan masuk dari Mingyu,tapi nihil,Mingyu sama sekali tidak menghubunginya. Ia membuang nafas berat.

"Mengapa saat itu aku berbicara seperti itu? Jika Mingyu benar-benar memutuskanku,itu berarti karena aku sangat menyesal,aku ingin sekali mengulang waktu"monolog Wonwoo. Ia membaringkan badannya diatas ranjangnya. Menatap langit-langit kamarnya,kemudian melirik jam dinding.

"Jisoo benar,aku harus segera meminta maaf" Wonwoo kembali bermonolog,kemudian ia segera keluar dari apartementnya untuk berangkat bekerja.

Saat ia baru saja sampai,dia sudah bertemu dengan sahabat mungilnya yang sudah berkutat dengan pekerjaannya. Sebenarnya saham mereka sebentar lagi akan kembali normal,hanya saja mungkin para karyawan di Gyuwon memang terlalu rajin.

"Mengapa kau sangat rajin?"Tanya Wonwoo pada Jihoon,namja mungil itu menghentikan aktvitasnya.

"Karena aku membutuhkan uang"jawabnya polos

"Sebutuh itukah sampai kau rela tidak beristirahat?"Tanya Wonwoo lagi

"Apakah kau tidak membutuhkan uang?" Jihoon kembali bertanya. Wonwoo terdiam sejenak.

"Ya aku membutuhkannya,tetapi entahlah"Wonwoo mengedikan bahunya.

"Mau pergi keluar?"Tanya Jihoon pada Wonwoo

"Kau kan sedang bekerja"ucap Wonwoo heran

"Pekerjaanku sudah selesai,lihat saja"ucap Jihoon sambil menunjuk komputernya menggunakan dagu.

"Kajja"ucap Wonwoo lalu segera berjalan bersama Jihoon.

Mereka berdua pergi ke kafe dekat kantor mereka. Sebenarnya Wonwoo ingin mengajak Jihoon pergi ke kafe Jeonghan hyung,hanya saja,waktunya tidak tepat,dan juga ini masih jam kerja,jadi ia mengurungkan niatnya.

Wonwoo meminum latte miliknya begitupun dengan Jihoon. Wonwoo terus saja melamun,membuat Jihoon menjadi kesal karena dia merasa sangat bosan.

"Yak! Jeon Wonwoo! Kau masih memikirkan kekasihmu itu?"Tanya Jihoon kesal. Wonwoo melirik kearah Jihoon,lalu membuang nafasnya lelah,kemudian Wonwoo menganggukkan kepalanya.

"Mengapa kau tidak meminta maaf saja huh? Lagipula,semua itu kau yang salah,bahkan kekasihmu tidak salah apapun"ucap Jihoon

"Mengapa kau membelanya?"Tanya Wonwoo sambil mengerucutkan bibirnya,membuat Jihoon gemas.

"Aishh… Kau masih tidak menyadari kesalahanmu juga? "ujar Jihoon

"Tapi apakah Mingyu tidak bisa mengeti sama sekali jika kau sangat sibuk?"gerutu Wonwoo,membuat Jihoon menepuk kepalanya pelan.

"Yak! Aku saja masih bisa menghubungi Soonyoung,padahal pekerjaanku lebih banyak daripada kau,mengapa kau tidak bisa menghubunginya?"Jihoon benar-benar dibuat gemas oleh pertanyaan Wonwoo tadi.

"Aku tau,tapi- "

"Kau harus meminta maaf Wonwoo-ah"potong Jihoon

"Baiklah,aku akan meminta maaf pada Mingyu nanti"Wonwoo kembali menyesap latte miliknya.

"Sekarang!"perintah Jihoon

"Ne? Bahkan sekarang masih jam kerja"ucap Wonwoo sambil membulatkan mata tajamnya.

"Aku akan bilang pada sekertaris Yoon nanti"jawab Jihoon

"Tapi- "

"Palli!" tegas Jihoon

"Kau harus member tau sekertaris Yoon,jika tidak-"

"Arraseo arraseo,cepatlah pergi" Jihoon mendorong tbuh Wonwoo keluar dari kafe tadi.

.

.

.

.

Wonwoo sudah menghubungi Mingyu,ia sudah mengiirmkan pesan pada Mingyu,bahkan sudah dari 15 menit yang lalu,tetapi sosok jangkung itu belum datang juga membuat Wonwoo menjadi sangat gugup. Wonwoo menggigit bibir bawahnya,sampai akhirnya ia bisa bernafas lega ketika melihat sosok yang ia tunggu datang walaupun dengan wajah dinginnya.

Canggung! Ya itulah suasana saat ini. Wonwoo hanya terdiam sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal,sedangkan Mingyu,ia hanya menunggu untuk Wonwoo berbicara.

"Mingyu-ah" ucap Wonwoo gugup,Mingyu hanya menolehkan kepalanya tanpa menjawab.

"Mi… mianhae" ucap Wonwoo akhirnya.

"Untuk?" Tanya Mingyu masih dengan tatapan dinginnya.

"Maaf,karena aku tidak pernah menghubungimu kembali"ucap Wonwoo,ia tidak berani menatap mata Mingyu.

"Hanya itu saja?" dingin,ya suara Mingyu terdengar dingin,begitupun dengan tatapannya, Wonwoo menatap Mingyu takut.

"Maaf,aku ingin meminta maaf atas semua kesalahanku. Aku tau aku salah,karena aku tidak pernah menghubungimu kembali,dan maaf juga karena aku telah mengingkari janjiku,karena jika aku membalas semua pesan atau panggilanmu,mungkin kau juga akan terus menghubungiku,mianhae" Wonwoo menundukkan kepalanya. Mingyu masih setia untuk mendengarkannya,karena dia tau,pasti masih ada hal yang masih ingin Wonwoo katakana padanya.

"Dan juga…" Wonwoo menghentikan ucapannya ketika foxy eyes miliknya bertemu dengan manik mata Mingyu yang masih menatapnya dengan dingin. Wonwoo menelan ludahnya dengan berat,lalu ia segera melanjutkan ucapannya.

"Maaf karena aku kemarin menyuruhmu untuk memutuskan hubungan ini,tapi,aku rasa aku harus tau diri jika kau memang akan memutuskan hubungan ini,karena bagaimanapun juga,ini semua adalah kesalahanku" Wonwoo kembali menunduk,ia menggigit bibir bawahnya,ia benar-benar tidak berani untuk menatap mata Mingyu. Sejujurnya,Wonwoo sangat takut,ia ingin sekali menangis saat ini,ia takut kesabaran Mingyu sudah habis karenanya.

Grep!

Wonwoo sangat terkejut ketika tubuh jangkung Mingyu memeluk tubuh kurusnya. Mingyu memeluknya dengan sangat erat. Wonwoo juga membalas pelukan Mingyu. Wonwoo benar-benar ingin menangis sekarang,bukan karena ia merasa takut kehilangan lagi,tapi karena ia menyesal telah membuat namja yang benar-benar mencintainya itu marah padanya,ia sangat menyesal telah membuat Mingyu menunggunya. Wonwoo ingin sekali membunuh dirinya sekarang juga karena Mingyu telah mencium bibirnya. Wonwoo merasakan kehangatan yang menjalar ditubuhnya. Mingyu memagut bibirnya dengan sangat lembut,membuatnya memejamkan matanya.

"Maafkan aku juga hyung,karena telah embuatmu salah paham"ucap Mingyu sambil menatap foxy eyes milik Wonwoo.

"Sebenarnya saat itu aku tidak bermaksud untuk bebricara seperti itu,aku sebenarnya bukan merasa bosan untuk menunggu semua jawabanmu,tapi aku hanya takut aku sangat menganggu pekerjaanmu,sehingga kau tidak bisa membalas pesanku,jadi aku tidak pernah menghubungimu lagi"jelas Mingyu.

"Kau tidak salah sama sekali Mingyu-ah,aku yang salah disini,seharusnya aku bisa membagi waktuku,bahkan temanku saja yang pekerjaannya lebih banyak dariku,masih bisa membalas semua pesan kekasihnya. Mianhae karena telah membuatmu menunggu" Wonwoo kembali mengatakan kata maafnya.

"Tidak apa-apa hyung,maaf juga karena aku telah membuatmu harus seperti ini" ucap Mingyu yang hanya dibalas senyuman lembut oleh Wonwoo.

"Ohya,mengapa kau bisa kesini hyung? Bukankah seharusnya kau sedang bekerja? Kau akan dimarahi atasanmu nanti" Tanya Mingyu

"Jihoon tadi sudah bilang,bahwa ia akan member tau atasanku,tapi aku juga tidak boleh terlalu lama"jawab Wonwoo.

"Baiklah,kau harus kembali bekerja,mau kuantar?"tawar Mingyu

"Tidak apa-apa,aku bisa kembali sendiri. Kau bekerjalah dengan baik. Annyeong" Wonwoo segera melangkahkan kakinya,ia berbalik sebentar untuk melihat Mingyu yang masih setia ditempatnya smabil melambaikan tangannya.

.

.

.

"Apakah perutmu masih sakit?" Tanya Sekertaris Yoon ketika Wonwoo kembali. Ia melihat Jihoon yang sedang mengedipkan matanya.

"Ah.. Ehmm.. Nde,aku sudah baik-baik saja sekarang" jawab Wonwoo gugup.

"Jika kau sakit lagi,kau boleh pulang,lagipula pekerjaanmu sudah tidak banyak"ujar Sekertaris Yoon lalu pergi meninggalkan Wonwoo. Wonwoo segera membungkukkan badannya,ketika Sekertaris Yoon pergi begitu saja. Ia segera menghampiri Jihoon yang kembali berkutat dengan semua pekerjaannya.

"Gomawo"ujar Wonwoo sambil tersenyum.

"Ehmm…" Jihoon hanya membalasnya dengan deheman.

.

.

"Kalian sudah baikan?"Tanya Jihoon

"Tentu saja" jawab Wonwoo senang

"Kau harus mentraktirku" ucap Jihoon sambil meminum matcha miliknya.

"Aku sudah membelikanmu matcha" ucap Wonwoo datar.

"Sukurlah jika kalian sudah baikan,jadi aku tidak perlu mendengarmu menggerutu lagi"ujar Jihoon,dan membuat Wonwoo tersenyum.

.

.

.

Hari berikutnya,tidak ada lagi pertengkaran antara Mingyu dan Wonwoo. Bahkan,Mingyu hampir 'memakan' Wonwoo,jika saja saat malam itu Jisoo tidak datang ke apartement Wonwoo. Ya,walaupun begitu,sudah tidak ada lagi pertengkaran abtara mereka.

Hari minggu yang cerah,mendukung acara kencan pasangan yang baru saja berbaikan. Mingyu sudah menunggu Wonwoo didepan apartementnya selama 10 menit. Mingyu tersenyum lebar ketika melihat sang pujaan hati keluar dari apartementnya.

"Mengapa kau tidak bilang,jika kau sudah disini? Kau pasti sudah menunggu lama"ucap Wonwoo. Mingyu melihat ponselnya.

"Aku baru menunggu selama 10 menit,tidak terlalu lama"Mingyu segera menggandeng lengan Wonwoo. Wajah mereka berdua terlihat sangat bahagia.

"Kau tau? Aku tidak perlu bekerja terlalu keras lagi" ucap Wonwoo sambil tersenyum,Mingyu hanya mengerutkan alisnya tidak mengerti.

"Kau ini mengapa bodoh sekali? Sekarang saham Gyuwon sudah naik,jadi aku bisa pulang seperti dulu lagi. Sukurlah,ini sangat melegakan"tutur Wonwoo,wajahnya terlihat sangat bahagia mengingat bahwa semua kelelahannya yang berarti selama ini akan segera berakhir.

"Syukurlah,tapi sepertinya,sekarang aku yang harus bekerja dengan keras,jika saham Gyuwon sudah naik,kedua perusahaan itu akan kembali bersaing seperti dulu"ucap Mingyu dan hanya dibalas anggukan oleh Wonwoo.

"Aku ingin bertemu dengan Jeonghan hyung"ujar Wonwoo

"Aku juga ingin bertemu dengan Seungcheol hyung,sudah lama aku tidak bertemu dengan mereka"ucap Mingyu.

Mingyu dan Wonwoo disambut oleh senyuman hangat oleh kedua sejoli yang sedang berbicara bersama sahabat keduanya yang juga sebenarnya sahabat Wonwoo dan Mingyu. Mereka berdua menghampiri ketiga namja yang masih tersenyum menyambut kedatangan mereka.

"Sudah baikan?"Tanya namja tampan bermarga Hong itu. Wonwoo dan Mingyu hanya tersenyum kikuk ketika Jisoo menanyakan soal itu.

"Duduklah,kalian ingin pesan apa?" sang namja cantik sekaligus pemilik kafe itu bertanya pada kedua sejoli yang baru saja datang.

"Sepertinya ice Americano sangat cocok"ujar Mingyu,dan sang namja cantik segera memesankannya.

"Wonwoo-ah,aku dengar saham Gyuwon sudah kembali stabil"ucap Jisoo

"Ya,dan aku sangat senang karena tidak aka nada lagi kerja sampai dini hari"ungkapan Wonwoo membuat empat orang dihadapannya tertawa.

"Baguslah,jadi kalian lebih sering bertemu,dan yang terpenting,tidak akan bertengkar lagi"ucap Seungcheol dan dibalas oleh tatapan tajam dari Mingyu dan Wonwoo.

"Aku juga sangat lelah mendengarnya. Kau tau? Mingyu hampir menangis ketika kau berbicara untuk memutuskan hubungan kalian,dan itu membuat kita bertiga merinding"tambah Seungcheol dan dibalas dengan pukulan dilengan oleh namja tinggi.

"Dan Kim Mingyu! Kau tau? Kekasih manismu ini terus saja merengek agar aku membantu hubungan kalian berdua tetap seperti sebelumnya,dia terus mengucapkan kata 'menyesal' dan itu membuat telingaku bengkak"ungkap Jisoo dan dibalas dengan death galare oleh Wonwoo.

"Jadi,jangan ada pertengkaran lagi antara kalian,karena membuat banyak orang merugi"kekeh Jeonghan,diikuti oleh Jisoo dan Seungcheol.

Asik berbincang-bincang,Mingyu dan Wonwoo bersiap untuk pulang. Kedua pasangan itu kini pamit kepada tiga orang yang lebih tua dari mereka berdua.

"Kami pulang dulu,besok kita kembali bekerja"ucap Mingyu

"Baiklah,hati-hati"ucap Jeonghan sambil melambaikan tangannya.

"Jisoo,kau tidak pulang?"Tanya Wonwoo

"Aku akan pergi kerumah eomma,kalian duluan saja"ucap Jisoo dengan senyumnya. Wonwoo hanya mengangguk,kemudian kedua sejoli itu segera pergi dari kafe itu.

.

.

.

Hari-hari Wonwoo menjadi lebih baik dari sebelumnya,begitupun dengan kekasihnyna,karena tidak ada lagi pertengkarang diantara keduanya. Wonwoo terus saja tersenyum,mengingat kemarin Mingyu datang ke apartementnya,dan tentu saja menghabiskan malam bersama. Sebenarnya,Wonwoo sedikit terpincang karena ia merasa nyeri disekitar 'sana',tapi ia berjalan senormal mugkin,agar tidak menimbulkan kecurigaan.

"Berhentilah tersenyum Jeon"ujar Jihoon,Wonwoo hanya menolehkan kepalanya masih dengan senyumannya.

"Ada apa dengan kau?"Tanya Jihoon penasaran

"Tidak ada apa-apa"jawabnya,tetapi ia masih tersenyum aneh menurut Jihoon.

"Ohya,kau tadi dipanggil oleh sajangnim"ujar Jihoon membuat Wonwoo melunturkan senyumnya dan berganti dengan tatapan pensaram. Jihoon yang mengerti,hanya mengedikkan bahunya. Wonwoo segera pergi dari kursinya dan segera pergi keruangan sang CEO.

Sesampainya didepan ruangan itu,Wonwoo terdiam sebentar,ia mendengar sang sajangnim sedang berbicara dengan seseorang,dan membuat Wonwoo terdiam sebentar didepan pintu itu. Wonwoo sedikit mendengar perbincangan antara sang CEO dengan seseorang yang sepertinya adalah anaknya. Wonwoo menggelengkan kepalanya,lalu segera pergi daridepan ruangan sana. Wonwoo memilih untuk menunggu di loby perusahaan itu. Wonwoo termenung,entah apa yang ia pikirkan,tetapi ia segera menggelengkan kepalanya ketika ia masih melamun. Lamunan Wonwoo langsung buyar ketika seseorang dengan jaket hitam melewatinya. Wonwoo sempat berjengit kaget,tapi ia segera menggelengkan kepalanya,dan segera berjalan menuju ruangan sang CEO.

Wonwoo segera masuk,ketika sajangnim nya mempersilakannya untuk masuk. Sang CEO tersenyum kepada Wonwoo saat ia memasuki ruangannya.

"Tadi saya sudah datang kesini,tetapi sepertinya sajangnim sedang berbicara dengan seseorang,jadi aku menunggu dulu di lobby"ucap Wonwoo formal

"Justru aku yang harus meminta maaf,karena kau harus menunggu lagi. Tadi aku sedang berbicara dengan anakku" Wonwoo terdiam sebentar,dan lamunannya buyar ketika sang sajangnim segera melanjtkan pembicaraannya.

"Ohya Wonwoo,kau kemarin bekerja dengan sangat baik,padahal kau adalah karyawan baru. Aku sangat berterimakasih padamu Wonwoo-ah,aku akan memberikanmu bonus untuk gaji pertamamu,karena aku telah menyita waktumu"ujar sang CEO sambil tersenyum dan membuat Wonwoo tidak bisa tidak senang. Wonwoo bahkan masih membulatkan mata sipitnya.

"Benarkah sajangnim? Gomwo,aku akan bekerja lebih keras lagi" Wonwoo masih dalam mode shocknya,lalu ia segera membungkuk Sembilan puluh derajat didepan CEO nya yang masih tersenyum.

"Tidak perlu berterima kasih,karena kau pantas mendapatnya,aku seharusnya yang berterima kasih karena kau telah bekerja sangat keras" Wonwoo masih tetap tersenyum bahagia. Setelah cukup dengan perbincangan mereka,Wonwoo segera keluar dari ruangan itu dengan sumringah. Jihoon yang melihatnya jadi bergidik ngeri.

"Kau kenapa? Kau semakin aneh"ujar Jihoon sambil memandang Wonwoo ngeri

"Kau tau? Aku mendapatkan bonus"ucap Wonwoo masih dengan senyumannya.

"Aku juga mendapatkannya saat aku pertama kali bekerja. Kau harus benar benar berterima kasih,karena sajangnim itu,tidak aka nasal memilih orang yang mendapatkan gaji tambahan darinya,hanya orang yang bersungguh-sungguhlah yang bisa mendapatkannya"jelas Jihoon dan Wonwoo hanya membulatkan mulutnya. Tetapi senyuman Wonwoo luntur kembali ketika ia mengingat sesuatu yang tadi ia alami. Wonwoo segera menggelengkan kepalanya ketika ia melamun,dan membuat Jihoon lebih aneh lagi,karena baru saja sahabatnya itu tersenyum,tapi sekarang sudah melamun lagi.

"Yak! Mengapa kau melamun?" Jihoon menepuk bahu Wonwoo,membuat Wonwoo sedikit terkejut.

"Tidak apa-apa"jawabnya sambil tersenyum.

.

.

.

Wonwoo terkejut ketika melihat Mingyu berada didekat kantornya. Ia segera menghampiri Namja tinggi itu. Mingyu tersenyum melihat kekasih manisnya sudah berada dihadapannya. Mingyu segera menarik lengan Wonwoo,menggenggamnya dengan erat karena cuaca yang cukup dingin. Wonwoo hanya terdiam dengan perlakuan Mingyu,ia sudah terbiasa dengan sikap Mingyu.

"Hyung,mengapa kau diam?"Tanya Mingyu yang mendapati kekasihnya terus terdiam

"Tidak apa-apa"jawab Wonwoo sambil tersenyum tipis. Mingyu menatapnya dengan heran,tidak biasanya kekasih manisnya itu,bersikap seperti itu.

"Kau bisa menceritakannya hyung"Mingyu masih bersikeras agar Wonwoo menceritakan sesuatu yang ia tidak ketahui.

"Aku benar-benar tidak apa-apa,hanya sedikit lelah"jawab Wonwoo dengan senyumnya dan Mingyu hanya mengangguk pasrah.

'Tidak mungkin' batin Wonwoo.

TBC

Lama ya update nya,maafkan,karena lagi sibuk dengan tugas-tugas yang numpuk.

RnR ya jangan lupaa.

Thanks buat yang selalu RnR