Chap 9
Mingyu mengajak Wonwoo pergi makan malam disebuah restoran. Mingyu menggenggam tangan Wonwoo dengan lembut. Mingyu tak hentinya tersenyum,ia sangat terlihat bahagia bisa mengajak Wonwoo berjalan-jalan. Sepertinya Mingyu tidak terlalu memperhatikan kekasih manisnya yang sedari tadi hanya melamun,mungkin efek karena dia terlalu merindukan kekasihnya itu,jadi ia hanya mementingkan rasa rindunya.
"Mingyu-ah,sebenarnya kita akan kemana?"Tanya Wonwoo akhirnya
"Makan malam"jawab Mingyu,ia sama sekali tidak melunturkan senyumannya. Wonwoo yang mendengar jawaban Mingyu hanya tersenyum tipis,ia kembali melamun.
Sampai mereka tiba di restoran,kedua sejoli itu segera duduk dikursi yang dekat dengan jendela agar bisa melihat pemandangan diluar. Setelah memesan menu,Mingyu baru menyadari bahwa kekasih manisnya itu,daritadi hanya terdiam sambil melamun.
"Hyung?" ujar Mingyu,Wonwoo masih tetap terdiam.
"Hyung?" Mingyu sedikit mengeraskan suaranya,membuat Wonwoo kaget.
"A… Ada apa?"Tanya Wonwoo masih dalam mode shock-nya.
"Aku rasa,daritadi kau melamun,sebenarnya ada apa?"Tanya Mingyu penasaran,Wonwoo hanya tersenyum tipis.
"Aku tau kau menyembunyikan sesuatu dariku" Mingyu memicingkan matanya. Wonwoo tersenyum dengan sangat manis dan lembut,membuat Mingyu terpesona melihatnya.
"Aku tidak menyembunyikan sesuatu darimu Mingyu,aku hanya sedikit lelah saja" Wonwoo masih tersenyum sambil memegang tangan Mingyu dengan lembut. Mingyu ikut tersenyum,lalu menatap tangannya yang dipegang oleh Wonwoo,ia juga ikut menggenggam tanagn Wonwoo.
"Kau benar tidak apa-apa hyung?"Tanya Mingyu sekali lagi,Wonwoo mengangguk sambil tersenyum manis.
"Kim Mingyu,aku sudah bilang bahwa aku hanya sedikit lelah,aku tidak apa-apa,tenang saja"ujar Wonwoo.
"Baiklah" Mingyu makin mengeratkan genggamannya ditangan Wonwoo.
.
.
"Aku akan mengantarmu hyung"ucap Mingyu dan langsung dibalas dengan gelengan oleh Wonwoo.
"Tidak apa-apa,aku bisa pulang sendiri"ucap Wonwoo sambil tersenyum.
"Eyy… Tadi kau sempat melamun,dan sekarang kau tak henti-hentinya tersenyum. Kau sangat aneh"ujar Mingyu dan mendapat tatapan tajam dari kekasih manisnya dan membuat Mingyu tertawa.
"Baiklah hyung,kau benar tidak apa-apa pulang sendiri?"Tanya Mingyu lagi
"Kau pikir aku anak kecil?"ujar Wonwoo datar. Mingyu kembali tertawa melihat ekspresi kekasihnya itu.
"Kau sangat manis hyung"ujar Mingyu sambil mengacak rambut Wonwoo. Wonwoo segera menepis tangan Mingyu,tetapi Mingyu hanya tertawa.
"Pulanglah,ini sudah malam,tidak baik pulang terlalu larut"ucap Wonwoo
"Aku akan menunggumu"Mingyu tersenyum genit membuat Wonwoo bergidik ngeri.
"Baiklah,aku pulang. Annyeong" belum juga satu langkah,tangan Wonwoo sudah ditarik oleh Mingyu,dan Wonwoo memejamkan matanya,ia mengira Mingyu akan menciumnya,tetapi ternyata bibirnya itu tidak menyentuh apapun. Wonwoo membuka matanya,dan segera menelan ludahnya dengan susah payah ketika ia merasakan nafas Mingyu. Jarak wajah mereka hanya beberapa centi saja. Mingyu menatap foxy eyes milik Wonwoo,begitupun dengan Wonwoo. Mingyu masih menahan tengkuk Wonwoo,kemudian ia segera berucap dengan suara yang pelan.
"Jangan pernah berbohong padaku hyung"ujar Mingyu dan namja berkulit tan itu langsung menempelkan bibirnya di bibir pink milik kekasih manisnya. Mingyu hanya mengecupnya sebentar.
"Pulanglah,ini sudah malam,besok kau harus bekerja hyung,aku juga harus bekerja" ucap Mingyu,tetapi Wonwoo hanya terdiam,ia masih dalam mode shock-nya dan membuat namja tinggi dihadapannya tertawa.
"Hyung,kau tidak akan pulang? Atau aku harus menginap di apartementmu lagi?"Tanya Mingyu lalu dibalas dengan sentilan di dahi.
"Yang ada,aku tidak akan bisa berjalan paginya"Mingyu kembali tertawa mendengarnya.
"Kita sepasang kekasih hyung,tidak ada salahnya mencobakan?" Mingyu bertanya dengan nada genit dan membuat wajah Wonwoo merah mendengarnya. Namja manis itu segera pergi menjauh dari kekasih tampannya yang masih saja tertawa.
"Hati-hati hyung"teriak Mingyu sambil melambaikan tangannya.
.
.
.
Wonwoo segera membersihkan dirinya yang terasa lengket. Ia melihat ponselnya yang tadi bebrunyi tanda pesan masuk. Namja manis itu tersenyum melhat nama kekasihnya tertera dilayar itu. Wonwoo segera membalas pesan dari kekasihnya,lalu ia segera membaringkan badannya dikasur samil menunggu balasan dari Mingyu.
Tiba-tiba,Wonwoo teringat dengan kejadian siang tadi,saat ia mendengarkan sedikit percakapan antara CEO perusahaannya dengan seseorang yang ia bilang anak. Wonwoo berfikir,sepertinya hubungan antara pemilik perusahaan dan anaknya itu kurang baik. Tapi ada hal lain yang membuatnya melamun bahkan sampai memikirkannya sampai ia merasa stress.
"Tidak mungkin! Aku sangat yakin itu bukan dirinya"monolog Wonwoo,tetapi ia segera mengusap wajahnya dengan kasar.
"Jika benar dia? Entahlah. Tidak,tidak,itu bukan dia"Wonwoo kembali bermonolog,ia merasa pusing sendiri sampai ia berguling-guling dikasur kecilnya.
"Tidak,itu bukan dia. Sudahlah,lebih baik aku tidur,untuk apa aku memikirkan hal yang tidak pasti?" Wonwoo menyimpan ponselnya dinakas sebelah kasurnya. Namja manis itu mencoba untuk memejamkan matanya,tetapi ia tidak bisa. Wonwoo segera mendudukkan dirinya. Ia segera tersadar ketika mendengar ponselnya berbunyi. Wonwoo hampir lupa bahwa ia tadi sedang menunggu pesan Mingyu. Wonwoo segera membalas pesannya,kemudian segera memejamkan matanya.
.
.
"Bagaimana dengan hubunganmu sekarang? Membaikah?"Tanya Junhui pada namja tampan disampingnya.
"Tentu saja hyung"jawab Mingyu senang.
"Baguslah,jadi aku tidak usah mendengarkan gerutuanmu itu"ucap Junhui.
"Ohya hyung,jika kekasihmu yang biasanya ceria,tiba-tiba berubah menjadi pendiam,menurutmu mengapa?"Tanya Mingyu sambil memakan kimbab-nya.
"Mungkin karena dia lelah,mengapa? Apakah kekasihmu begitu?"Tanya Junhui lagi. Mingyu sedikit bernafas lega mendnegar jawaban hyung china-nya itu.
"Ya,kemarin Wonwoo hyung seperti itu,padahal biasanya dia ceria,tapi,tiba-tiba ia menjadi sangat diam,jadi dia merasa lelah"ucap Mingyu.
"Aku yakin kau sudah salah paham pada kekasihmu"ujar Junhui
"Aku sempat berfikir bahwa ia berbohong padaku"ucap Mingyu sambil tersenyum dan memperlihatkan taringnya.
"Tetapi itu juga bisa saja terjadi"jawaban Junhui membuat Mingyu melunturkan senyumannya. Ia yakin diamnya kekasih manisnya itu menyembunyikan sesuatu padanya bukan karena ia lelah.
"Mengapa kau melamun?"Junhui menyenggol perut Mingyu menggunakan sikunya,sedangkan Mingyu hanya menggeleng.
"Kekasihmu berbohong padamu?"tebak Junhui. Dalam hati ia merutuki hyung china-nya itu yang selalu saja bisa menebak keadaannya.
"Tentu saja tidak"ucap Mingyu sambil tertawa.
"Aku tidak yakin"ujar Junhui sambil meminum jus jeruknya.
"Terserah"Mingyu hanya memutarkan kedua bola matanya malas.
Jujur saja,Mingyu memang memikirkan Wonwoo yang kemarin tidak seceria biasanya. Ia sangat yakin,jika Wonwoo menyembunyikan sesuatu darinya yang mungkin ia tidak boleh mengetahuinya. Mingyu hanya berpikiran positif,ia tidak mau ada kesalah pahaman lagi diantara mereka. Ia hanya ingin mempercayai kekasih manisnya itu agar ia juga bisa menjaga hubungan mereka.
.
.
.
Wonwoo sengaja memanggil Jisoo. Sahabat tampannya itu segera keluar dan berdiri dibalkon apartementnya. Ya,seperti biasa,kedua sahabat itu selalu berbicara dibalkon. Waktu sudah menunjukkan pukul 23.23 KST,tetapi keduanya masih belum memperlihatkan tanda-tanda jika mereka ingin memejamkan mata mereka.
"Ada apa? Jangan bilang kau bertengkar lagi dengan Mingyu"ucap sahabat tampannya itu dan membuat Wonwoo memutarkan kedua bola matanya.
"Kau pikir aku dan Mingyu adalah kucing dan anjing? Kita bahkan baru saja makan malam kemarin,mana mungkin kita sudah bertengkar lagi"jawaban Wonwoo membuat Jisoo terkekeh.
"Baiklah,ada apa?"Tanya Jisoo lagi kembali dengan senyumannya.
"Hanya ingin bertemu"jawab Wonwoo
"Tidak mungkin"Jisoo masih dengan senyuman teduhnya.
"Lalu menurutmu kenapa aku menemuimu? Baiklah,aku memang merindukanmu Hong"ucap Wonwoo dan membuat sahabatnya itu tertawa.
"Pasti ada alasan lain,jika kau merindukanku,itu sudah biasa"jawab Jisoo dengan percaya dirinya.
"Tidak ada apa-apa,aku hanya merindukanmu saja Hong Jisoo!"ucap Wonwoo sambil menekankan nama sahabatnya itu.
"Baiklah Jeon,aku akan menemanimu sampai rindumu itu sudah terobati"ujar Jisoo. Namja bermarga Hong itu yakin,jika Wonwoo pasti akan menceritakan semua padanya,karena tidak mungkin jika Wonwoo bertemu dengannya hanya karena merindukannya,walaupun mungkin itu salah satunya.
"Jisoo-ah" Jisoo tersenyum mendengar Wonwoo memanggilnya,ia pasti akan segera bercerita.
"Hmm?"Jisoo hanya membalas dengan sebuah deheman.
"Jika aku mengaku,bagaimana?" Jisoo segera membalikkan badannya kearah Wonwoo yang sedang menatapnya dengan serius.
"Kau serius?"Tanya Jisoo ragu. Ia menatap Wonwoo untuk menemukan sebuah keraguan dari matanya,tetapi nihil,ia tidak menemukan keraguan apapun dari mata rubah itu.
"Entahlah,aku merasa ini semua sudah cukup"ucap Wonwoo,nadanya terdengar sangat pasrah. Jisoo tersenyum mendengarnya.
"Itu semua terserah padamu Wonwoo-ah,jika menurutmu itu yang terbaik,lakukan saja"sarannya,pemuda bermarga Hong itu masih tersenyum. Wonwoo menghembuskan nafasnya lalu menutup matanya sebentar.
"Jika aku siap,aku akan melakukannya"ucap Wonwoo
"Mengapa kau ingin mengaku?"Tanya Jisoo heran.
Wonwoo menceritakan semua yang terjadi padanya kemarin siang,entah siapa ataupun mengapa Wonwoo bilang ia ingin mengaku,dan juga mengaku. Mengaku apa? Ia sepertinya melakukan sebuah kesalahan,sehingga ia terlihat sangat stress. Jisoo melongo mendengar cerita Wonwoo.
"Kau serius?"Tanya Jisoo masih dengan wajah kagetnya.
"Sebenarnya aku juga tidak ingin mempercayainya,tetapi aku sudah berulang kali mencoba untuk menyangkal,tapi aku tidak bisa,bayangannya selalu muncul,dan sepertinya aku yakin,itu memang benar-benar dirinya"ucap Wonwoo,ia terlihat sedikit berkaca-kaca.
"Uljima"ucap Jisoo dengan senyum teduhnya,dan Wonwoo ikut tersenyum,walaupun Jisoo tau itu adalah senyum palsunya. Wonwoo terlihat sangat rapuh sekarang,bibir pink itu tersenyum tipis,tetapi foxy eyes itu tidak bisa berbohong,mata tajam itu mulai mengeluarkan air mata dan semakin deras.
"Haruskah aku pergi kesitu hanya untuk memelukmu?"Tanya Jisoo dan membuat tangisan Wonwoo berhenti,dan justru Wonwoo malah tertawa mendengarnya.
"Akhirnya kau berhenti menangis"ucap Jisoo,senyuman teduhnya itu sama sekali tidak luntur,Wonwoo ikut tersenyum melihat sahabatnya tersenyum.
"Terimakasih Jisoo-ah,terimakasih sudah mau mendengarkanku dan sudah mau menghiburku"Jisoo semakin memperlebar senyumnya,membuatnya semakin tampan. Wonwoo kembali menghembuskan nafasnya.
"Tidurlah,ini sudah malam"titah Jisoo.
"Kau juga tidurlah Hong"ujar Wonwoo. Jisoo dan Wonwoo segera masuk kedalam apartementnya masing-masing,ketika keduanya sudah mengucapkan 'selamat malam'.
Wonwoo melihat pesan diponselnya,dan dugaannya benar,sebenarnya sudah pasti siapa yang mengiriminya pesan. Ya,kekasih tinggi nan tampannya itu. Wonwoo tersenyum tipis saat membaca pesan dari kekasihnya itu,dan segera membalasnya. Wonwoo segera membaringkan tubuhnya diranjang miliknya,ia menatap langit-langit kamarnya,ia kembai melamun.
"Akankah aku siap?"monolog Wonwoo,entah mengapa setelah kejadian beberapa hari yang lalu itu,membuat Wonwoo semakin aneh,ia selalu saja bermonolog ria.
"Aku harus siap,karena suatu saat juga pasti akan terungkap. Ya,aku harus siap untuk mendengarnya juga"Wonwoo menghembuskan nafasnya melalui mulutnya. Ia segera menutup kedua matanya,dan dalam hitungan menit,ia sudah terlelap.
.
.
.
Namja tinggi bermarga Kim itu terlihat sangat kusut,padahal ia sedang tidak bertengkar dengan kekasih manisnya,tapi entah apa yang membuat wajah tampannya itu ditekuk. Ia mengacak rambut abu-abunya frustasi. Sesekali ia berdecak kesal sambil menggerutu tidak jelas. Namja China yang berada didekatnya merasa terganggu dan segera bertanya.
"Sebenarnya kau kenapa? Kau bertengkar lagi?"Tanya Junhui kesal,tetapi pria yang ditanya tidak menjawab,tetap pada kegiatannya yang sedang menggerutu.
"Kim Mingyu! Kau tidak mendengarku?"ucap Junhui menaikkan nadanya. Telinganya sudah lelah mendengar gerutuan Mingyu itu.
"Aku sedang tidak ingin ditanya hyung"ucap Mingyu sambil menatap ponselnya. Junhui melirik ponselnya Mingyu.
"Hyung! Kau mengintip ponselku?"Tanya Mingyu sambil menarik ponselnya.
"Bahkan aku tidak sempat melihatnya"jawab Junhui malas,dan pria tinggi itu hanya tersenyum lebar sambil memperlihatkan taringnya itu.
"Lagipula ada apa? Kau sangat berisik,kau tau?"ujar Junhui,senyuman Mingyu luntur lagi.
"Kau tidak akan mengerti masalahku,lagipula,kau tidak boleh tau masalahku"ucap Mingyu dan membuat Junhui menatapnya sebal.
"Jika kau tidak ingin bercerita,dan aku tidak boleh mengetahuinya,bisakah kau diam Tuan Kim? Telingaku terus berdengung mendengar gerutuanmu itu"ucap Junhui dan hanya dibalas oleh tatapan tajam oleh Mingyu.
"Baiklah aku akan diam"ucap Mingyu,dan membuat Junhui tertawa,apakah pria yang sudah dianggapnya sebagai adiknya itu sedang merajuk? Mingyu terlihat seperti anak kecil. Junhui lalu melanjutkan pekerjaannya,tetapi ia masih memikirkan hal yang ia lihat diponsel Mingyu tadi. Sebenarnya,Junhui sempat melihat sesuatu yang ada diponsel Mingyu,sebelum Mingyu menarik ponselnya itu.
.
.
.
Mingyu dan Wonwoo kembali berkencan saat hari minggu. Mereka pergi kebanyak tempat,dan itu cukup melelahkan bagi Wonwoo,tetapi tidak bagi Mingyu,malah lelaki tinggi itu terlihat sangat senang dan bersemangat. Wonwoo duduk ketika ia melihat kursi panjang disebuah taman.
"Aku lelah Mingyu-ssi"ujar Wonwoo sambil mendudukkan pantatnya disebuah bangku panjang,namja tinggi itu tersenyum melihat kekasihnya yang kelelahan.
"Haruskah ku gendong kau?"ucap Mingyu dan dibalas dengan pukulan kecil dikepalanya,tetapi itu membuatnya tertawa.
"Hyung,kau ingin es krim?"tawar Mingyu,Wonwoo langsung menatapnya dengan mata berbinar dan segera mengangguk membuat Mingyu gemas sendiri.
"Tunggu sebentar"ujar Mingyu lalu meninggalkan kekasih manisnya itu.
Mingyu kembali bersama dua buah es krim vanilla untuknya dan untuk namja bermata tajam yang sedang menunggunya. Wonwoo terlihat sangat senang ketika ia melihat kekasihnya kembali bersama dua buah es krim ditangannya.
"Ini hyung untukmu"Mingyu memberikan satu buah es krimnya pada Wonwoo yang tersneyum melihat es krimnya.
"Apakah es krim itu lebih menarik dariku?"Tanya Mingyu ketika Wonwoo hanya terfokus sambil menjilati es krim ditangannya. Wonwoo hanya menolehkan kepalanya sambil menatapnya dengan polos,dan membuat Mingyu gemas.
"Eyyy… Hyung,kau mencoba menggodaku?"ucap Mingyu,dan membuat Wonwoo menautkan kedua alisnya bingung. Mingyu tersenyum lalu menghapus noda es krim yang berada diujung bibir Wonwoo menggunakan jempolnya. Wonwoo tersipu malu ketika Mingyu melakukannya.
"Jika kau ingin menggodaku,jangan disini hyung,lagipula ini masih sore hyung"Wonwoo menepuk kepala Mingyu pelan,dan yang dipukul hanya meringis walaupun sebenarnya tidak sakit.
"Dasar mesum" cibir Wonwoo lalu ia melanjutkan menjilati es krimnya.
Diam-diam,Wonwoo menatap Mingyu ditengah kegiatannya menjilati es krim. Ia memang sangat mengagumi seluruh lekuk wajah bahkan tubuh milik kekasihnya itu. Kim Mingyu sangat sempurna dimatanya,bahkan dimata semua orang. Wonwoo segera memalingkan wajahnya sambil tersenyum tipis. Entah mengapa,Wonwoo ingin kembali menangis ketika dekat dengan Mingyu,karena disaat ia lemah dan rapuh,Mingyu selalu memeluknya,dan membuatnya kembali ceria,tetapi untuk sekarang,Wonwoo tidak mungkin menceritakannya,karena mereka sedang dalam moment bahagia,jika ia menangis,Mingyu akan bingung nantinya. Biarkanlah Wonwoo menyimpannya,lagipula,ia sudah menceritakannya kepada Jisoo,itu juga sudah cukup,karena sahabatnya itu juga bisa membuatnya sangat tenang.
TBC yaaa…
Ohya,chap kemarin banyak typo banget yaa..
Mungkin chap sekarang ga terlalu banyak /MUNGKIN/
RnR jangan lupa yaaa,itu sangat membantu author
