Chap 11
"Ya,aku ahli waris Yoomin Corp"ucapan Wonwoo itu sukses membuat Mingyu menjatuhkan rahangnya. Mata Mingyu terlihat marah,entah mengapa emosinya tiba-tiba naik sampai ke puncak ubun-ubunnya. Mingyu menggeram kesal,ia mengepalkan tangannya sampai jari kukuya memutih. Mata Mingyu mulai berkaca-kaca.
"Ja… Jadi,selama ini kau membohongiku?"Tanya Mingyu dengan amarahnya,Wonwoo hanya menunduk. Ia belum pernah melihat Mingyu semarah ini.
"Maafkan aku"Wonwoo masih menunduk. Mingyu memalingkan wajahnya kemudian ia berteriak. Ia tidak peduli dengan orang-orang yang menatapnya aneh.
"Aku tidak tau harus bagaimana"dada Mingyu terlihat naik turun pertanda ia sedang mencoba untuk meredam emosinya.
"Mengapa hyung? Mengapa kau tidak bilang dari dulu? Mengapa kau berbohong padaku? Wae?"amarah Mingyu sudah tidak tertahankan lagi,ia berteriak kepada Wonwoo. Akhirnya,setelah menunduk karena takut pada Mingyu,Wonwoo mengangkat kepalanya,menatap Mingyu dengan tajam.
"Lalu kau sendiri? Kau pikir aku tidak tau?"emosi Wonwoo mulai memuncak. Mungkin jika ia mempunyai sebuah kekuatan,tatapan dari foxy eyes itu bisa menusuk dada Mingyu,bahkan sampai jantungnya.
"Apa maksudmu?"Tanya Mingyu disela amarahnya. Wonwoo tertawa meremehkan,air mata terlihat sudah menggenang dipelupuk matanya. Ia menggigit bibir bawahnya.
"Kau pikir selama ini aku tidak tau jika kau juga membohongiku? Kau pikir aku bodoh? Kau pikir aku tidak tau jika selama ini kau selalu datang ke Gyuwon memakai kupluk hitammu itu? Memakai jaket atau sweater hitammu itu? Kau pikir selama ini aku tidak kau selalu datang menggunakan pakaian serba hitammu itu?"air mata Wonwoo mulai mengalir. Mingyu tercengang mendengar ucapan Wonwoo. Jadi selama ini Wonwoo mengetahuinya jika ia akhir-akhir ini datang untuk bertemu ayahnya di Gyuwon?
"Kau pikir aku tidak tau jika kau juga adalah ahli waris Gyuwon? Kau bilang aku membohongimu,lalu kau sendiri? Apakah kau tidak berbohong? Bahkan kebohonganmu sangat keterlaluan Kim Mingyu!" mendengar itu,Mingyu menatap Wonwoo dengan sangat tajam.
"Maksudmu? Kebohonganku keterlaluan?" Wonwoo agak kaget melihat mata Mingyu yang menatapnya begitu tajam,tetapi ia bisa menyembunyikan semua itu. Wonwoo kembali tertawa meremehkan.
"Kau bilang kedua orang tuamu sudah meninggal,tetapi apa? Nyatanya orang tuamu ada,dan bahkan mengurus perusahaan besar itu. Apakah itu tidak keterlaluan?" Mingyu kembali mengepalkan tangannya dengan sangat erat.
"Nae eomma! Dia benar-benar sudah meninggal-" kristal bening itu terjun bebas dari mata Mingyu,namja tinggi itu memejamkan matanya sejenak,ia benar-benar tidak ingin membicarakan kedua orang tuanya,terlebih ibunya. Wonwoo sedikit terkejut saat mendengar perkataan dan juga ekpresi Mingyu.
"Dan kau tau apa yang membuat eomma ku meninggal?"Mingyu kembali menggantung kata-katanya,ia menatap Wonwoo lebih tajam dari sebelumnya.
"Itu semua karena ayahmu Jeon! Ayahmu yang telah membunuh eomma ku!"air mata Mingyu terus mengalir. Mingyu berteriak kesal,sedangkan namja manis didepannya juga sama-sama mengeluarkan air mata. Wonwoo menatap Mingyu nyalang,walaupun ia membenci ayahnya,tetapi,ia tidak terima jika ada yang berbicara jika ayahnya seorang pembunuh. Wonwoo sempat ingin memukul wajah tampan Mingyu,tetapi ia menahannya.
"Kim Mingyu! Kau benar benar-"
"Wae? Kau tidak suka aku memanggil bajingan itu sebagai pembunuh? Tapi,itulah kenyataannya! Bajingan itu adalah pem-"
BUGH!
Pukulan itu sukses mendarat diwajah tampan Mingyu. Pukulan Wonwoo tadi benar-benar keras,sampai ujung bibir Mingyu berdarah. Mingyu tersenyum meremehkan.
"Apa ini? Kau juga ingin mengikuti jejaknya? Kau juga ingin menjadi seorang pembunuh?" tatapan Mingyu bahkan lebih dingin dari sebuah es balok,begitu juga dengan suaranya. Suara berat itu terdengar lebih berat lagi saat ia berbicara tadi.
"Aku memang membenci ayahku! Tapi,setidaknya aku juga adalah anaknya! Aku adalah darah dagingnya! Aku tau ayahku tidak begitu Kim brengsek!"teriak Wonwoo sambil mencengkram kerah mantel Mingyu. Namja berkulit tan itu memalingkan wajahnya,air matanya kembali mengalir,ia mendorong tubuh Wonwoo dengan keras.
"Tetapi eommaku! Eommaku adalah buktinya! Karena ayahmu itu,eommaku meninggal,dan aku… Aku harus tinggal bersama ayahku! Dan aku tidak suka itu! Ayahku lebih mementingkan bisnisnya dibanding aku! Aku ini… Aku tidak bisa merasakan kasih sayang eommaku! Aku juga merasa tidak mempunyai orang tua karena ayahku sangat sibuk!" air mata Mingyu mengalir dengan deras,bahkan ia sampai berlutut karena sudah tidak kuat untuk menahan semuanya. Namja kurus dihadapannya juga menangis dengan deras. Ia menangis karena memikirkan ayahnya,ia yakin ayahnya itu bukan pembunuh,dan juga ia menangis karena melihat Mingyu serapuh itu. Wonwoo tidak pernah melihat namja itu rapuh,bahkan ia selalu melihat senyumnya,tetapi sekarang,Mingyu terlihat sangat rapuh,dan memerlukan sebuah sandaran. Wonwoo terus menangis.
"Apakah kau puas? Kau puas sudah melihat aku begini? Dan juga,mengapa kau bekerja diperusahaanku?" Mingyu menghentikan tangisannya,ia kembali menatap Wonwoo dengan dingin. Saat itu,rasa iba yang Wonwoo miliki untuk Mingyu luntur seketika.
"Aku hanya ingin menghancurkan perusahaanmu itu"jawab Wonwoo dingin. Mata hitam milik Wonwoo menatap Mingyu dengan sangat dingin. Mingyu tertawa meremehkan.
"Apakah keluarga kalian sangat suka menghancurkan kehidupan orang lain? Ternyata dalam kehidupan nyata ada kisah seperti ini"ujar Mingyu sambil tersenyum tetapi tidak sampai kematanya.
"Kau sendiri? Mengapa kau bekerja diperusahaanku?"Wonwoo masih menatap Mingyu dengan dingin.
"Tenang saja,aku tidak ingin menghancurkan perusahaan besarmu itu,aku hanya ingin menghancurkan ayahmu saja"jawab Mingyu tak kalah dingin.
"Jaga omonganmu brengsek!" ucap Wonwoo datar,tetapi lebih terdengar seperti ancaman.
"Apakah Hong Jisoo itu mengetahui semuanya?"Tanya Mingyu dingin.
"Mengapa ia harus tidak mengetahuinya? Lagipula,perusahaan Jisoo adalah partner kerja dengan perusahaanku"jawab Wonwoo dingin. Mingyu kembali tertawa meremehkan.
"Apakah karena alasan itu kau memberitau Jisoo?"Tanya Mingyu sarkatis.
"Maksudmu?" Wonwoo tetap pada ekpresi dinginnya.
"Bukankah kau memberitu dia karena Jisoo adalah orang yang pernah kau sukai,ani maksudku orang yang pernah kau cintai?"wajah Mingyu memang tersenyum,tapi senyum itu terlihat sangat mengerikan, layaknya seorang psikopat yang menemukan mangsanya. Ekspresi dingin Wonwoo langsung tergantikan oleh ekpresi terkejutnya. Bagaimana Mingyu tau? Mingyu kembali tertawa.
"Jadi semua itu benar,jadi selama ini aku mencintai orang yang salah"ucap Mingyu dengan nada kecewa yang ia buat.
"Berhentilah dari kantorku,bukankah kau akan segera menjadi ahli waris?"ucap Mingyu.
"Sebelum kau menyuruhnya,aku akan segera keluar"jawab Wonwoo dingin. Wonwoo segera berjalan meninggalkan Mingyu,tetapi baru beberapa langkah Wonwoo kembali membalikkan badannya.
"Hubungan ini berakhir Kim"ucap Wonwoo berat. Mingyu sempat terkejut,tetapi ia segera menyembunyikannya,dan Wonwoo segera berjalan meninggalkan Mingyu yang masih terdiam ditempatnya. Mingyu merasa kakinya sangat lemas,ia kembali terduduk dijalanan,dan kembali menangis tersedu-sedu. Ia tidak habis pikir,jika kejadian ini akan terjadi. Ia ingin memutar waktu agar ia tidak pernah bertemu namja Jeon itu. Ia ingin semuanya kembali ketika ia belum mengenal Wonwoo. Mingyu menyesal saat itu ia malah mengejar Wonwoo. Ia menyesal telah bertemu dengannya. Mingyu sangat menyesal. Tetapi,ia lebih menyesal karena Wonwoo adalah anak dari seseorang yang ia anggap sebagai pembunuh eommanya. Mingyu menyesal mengenal Wonwoo,dan ia menyesal,karena ia bertemu dengan Wonwoo,dan akhirnya Wonwoo juga yang menyakitinya,Wonwoo juga yang membuat luka yang sangat dalam dan akan membekas dihatinya.
Wonwoo terus menangis. Ia tidak peduli dengan tatapan orang yang menganggapnya aneh. Ia hanya ingin membuat hatinya lega,yang entah kapan perasaan lega itu akan datang. Semua ucapan Mingyu masih terngiang-ngiang dikepalanya. Ia masih mengingat semua perkataan Mingyu tadi. Ia terus saja menangis setelah pertengkaran hebat antara dirinya dan Mingyu,bahkan sampai ia kembali diapartementnya. Wonwoo ingin sekali mengulang semuanya. Wonwoo masih ingin bersama Mingyu,ia masih mencintai namja Kim itu. Wonwoo menekuk lututnya,dan menangis diantara kedua lututnya itu. Matanya sudah membengkak,dan hidungnya merah,pipi mulusnya terdapat jejak air mata yang sudah mengering. Disaat seperti itu,bel apartementnya berbunyi,ia segera membukanya dan memeluk orang yang sedang berdiri dihadapannya. Jisoo mengelus punggung Wonwoo. Ia bisa mengerti semua masalah yang dihadapi Wonwoo tanpa perlu dijelaskan,karena Jisoo sudah mengetahui semuanya dari awal.
Dengan setia Jisoo menjadikan pundaknya sebagai sandaran untuk Wonwoo. Ini sudah setengah jam setelah ia datang ke rumah Wonwoo,dan namja kurus itu belum juga menghentikan tangisannya. Jisoo merasa sangat sedih melihat sahabatnya menangis. Ia juga bisa merasakan perasaan Wonwoo walaupun ia tidak bisa merasakan sepenuhnya. Setelah lelah,Wonwoo segera mengangkat kepalanya,ia menatap Jisoo yang sedang tersenyum teduh kearahnya.
"Pundakku sangat pegal"ujar Jisoo dan bisa membuat Wonwoo tertawa.
"Sukurlah kau tertawa Jeon"ujar Jisoo. Wonwoo kembali terdiam.
"Aku pikir,kau tidak akan mengakuinya,tetapi lebih cepat dari yang aku duga"ucap Jisoo. Wonwoo tersenyum tipis mendengarnya.
"Cepat atau lambat,semuanya akan terungkap Hong"lirih Wonwoo. Jisoo kembali menatap Wonwoo.
"Apa yang Mingyu bicarakan hingga membuat kau seperti ini?"Tanya Jisoo. Wonwoo menundukkan kepalanya,kemudian mengangkatnya lagi. Foxy eyes itu terpejam beberapa detik,hingga akhirnya Wonwoo membuka matanya lalu berbicara.
"Apakah kau tau sebenarnya ada apa dengan ayahku?"Tanya Wonwoo. Tatapannya itu membuat Jisoo ingin sekali memeluknya dengan erat. Mata tajam milik Wonwoo menyiratkan kesedihan yang sangat berarti.
"Maksudmu?"Tanya Jisoo tidak mengerti.
"Mingyu bilang,jika ayahku adalah pembunuh yang telah membunuh eommanya"air mata Wonwoo kembali mengalir untuk yang kesekian kalinya.
"Aku tidak tau Wonwoo-ah,nanti aku akan menanyakannya kepada ayahku"ucap Jisoo. Wonwoo tersenyum tipis,tetapi air matanya masih mengalir.
"Kau tidak lelah seharian menangis?"Tanya Jisoo sambil menatap Wonwoo. Namja manis itu menatap balik sahabat tampannya.
"Biarkan aku seperti ini dulu Hong. Kau bilang,aku boleh menangis jika menangis bisa membuatku lega,dan aku hanya ingin menangis untuk saat ini"ujar Wonwoo. Jisoo tersenyum lalu memegang kedua sisi pipi Wonwoo. Jisoo menatap Wonwoo yang masih menangis.
"Pejamkan matamu"suruh Jisoo.
"Ada apa?"Tanya Wonwoo disela isakannya. Jisoo hanya tersenyum,dan Wonwoo segera memejamkan matanya. Kemudian Jisoo mencium kedua mata Wonwoo yang sudah membengkak akibat Wonwoo menangis seharian. Jisoo tersenyum ketika Wonwoo membuka matanya,sedangkan namja yang dicium terlihat kaget.
"Aku hanya ingin membuatmu merasa lega,karena aku juga kasihan jika melihatmu terus menangis"ucap Jisoo dan membuat Wonwoo tersenyum.
"Terimakasih karena kau selalu ada untukku Hong,aku mencintaimu"ucap Wonwoo,tapi Jisoo malah mengkerutkan dahinya.
"Maksudku sebagai sahabat,bukankah aku sudah bilang jika perasaanku padamu telah hilang sejak lama?"ucap Wonwoo,ia tidak ingin membuat Jisoo salah paham. Jisoo hanya tersenyum mendengarnya.
"Ohya,bagaimana Mingyu bisa tau jika aku dulu pernah menyukaimu?"Tanya Wonwoo. Jisoo menautkan kedua alisnya.
"Dia mengetahuinya? Aku juga tidak tau"jawab Jisoo. Wonwoo menghembuskan nafasnya.
"Tadi dia bilang padaku karena aku hanya memberitaumu rahasiaku,karena kau adalah orang yang pernah aku cintai"ujar Wonwoo.
"Kau yakin saat kau mengungkapkan semua itu,Mingyu tidak ada disana?"Tanya Jisoo,dan dibalas gelengan oleh Wonwoo.
"Bagaimana dia bisa tau?" Wonwoo tampak berfikir sejenak.
.
.
.
.
"Jisoo-ah,sebenarnya…"Wonwoo terlihat sangat gugup,ia menggigit bibir bawahnya,sedangkan namja tampan didepannya hanya menunggu ucapan dari sahabat manisnya.
"Ada apa Wonwoo-ah? Tidak biasanya kau seperti ini"ucap Jisoo dengan senyumnya.
"Ehhmm… Aku… Aku menyukaimu,ani,aku mencintaimu. Aku… Aku tidak tau mengapa perasaan itu bisa muncul,tapi,aku benar-benar mencintaimu"Wonwoo tidak berani menatap mata Jisoo. Ya,selama ini sebenarnya hanya Jisoo yang mengaggap Wonwoo sebagai sahabat dekatnya,karena Wonwoo tidak menganggapnya sebagai sahabat,Wonwoo memiliki perasaan lebih kepada Jisoo,yang selama ini ia pendam.
"Mian,tapi-"
"Tidak apa-apa Jisoo,aku hanya ingin mengungkapkannya,aku mohon,jangan sampai persahabatan kita pecah karena ini"potong Wonwoo. Jisoo menatap mata Wonwoo,kemudian tersenyum.
"Aku pasti akan tetap menganggapmu sebagai sahabatku Jeon,dan maafkan aku,karena aku masih mencintai mantan kekasihku. Maafkan aku"ujar Jisoo sambil menundukkan kepalanya. Wonwoo mengangkat kepala Jisoo,kemudian ia tersenyum manis.
"Aku bilang tidak apa-apa Hong,aku hanya bosan saja harus memendamnya,jadi aku mengungkapkannya. Justru aku yang harus meminta maaf karena aku telah mencintaimu,padahal kita adalah sahabat"ucap Wonwoo sambil tersenyum tipis.
"Lagipula,bukankah kau menyukai Mingyu?"Tanya Jisoo dan membuat Wonwoo tersenyum.
"Aku hanya menyukainya,dia sangat baik padaku,dan juga Mingyu itu seperti adikku sendiri"jawab Wonwoo sambil tersenyum manis.
"Aku kira kau menyukainya" Wonwoo menggeleng.
"Aku menyukaimu dari dulu Hong"ucap Wonwoo membuat Jisoo merasa bersalah pada sahabatnya.
"Maafkan aku Wonwoo-ah,maafkan aku selama ini aku tidak mengetahuinya,seharusnya aku bisa peka terhadapmu. Maafkan aku" ungkapan kata maaf dari Jisoo itu malah membuat air mata Wonwoo mengalir dan membuat Jisoo semakin menyesal karena ia tidak pernah sekalipun melirik Wonwoo yang selalu ada disampingnya.
"Maafkan aku menangis didepanmu"Wonwoo segera menghapus air matanya,lalu tersenyum manis kepada Jisoo.
"Menangislah jika itu bisa membuatmu lega"ucap Jisoo lalu memeluk sahabatnya itu. Wonwoo kembali menangis dalam pelukan Jisoo. Ia sangat menyukai saat Jisoo memeluknya seperti Jisoo dengan setia menunggu sahabatnya sampai selesai menangis,tetapi,sahabatnya itu tidak berhenti menangis,membuat Jisoo merasa sangat bersalah. Jisoo melepaskan pelukannya,lalu menatap Wonwoo yang menunduk sambil terisak. Jisoo mengangkat kepala Wonwoo. Wonwoo terlihat sangat kacau karena jejak air matanya yang membekas dipipi mulusnya. Jisoo tersenyum kepada Wonwoo.
"Maafkan aku membuatmu seperti ini"ucap Jisoo dan Wonwoo hanya tersenyum disela tangisannya.
"Tidak apa-ap…" Wonwoo membulatkan matanya ketika Jisoo mempertemukan kedua bibir mereka. Jisoo hanya menempelkannya saja,ia sama sekali tidak berniat untuk melakukan lebih,karena bagaimanapun juga,Wonwoo adalah sahabatnya,ia hanya menganggap ciuman itu adalah ciuman persahabatan dan permintaan maaf darinya.
Wonwoo memejamkan matanya. Biarkanlah Wonwoo merasakan hal ini untuk yang pertama dan terakhir kalinya. Meskipun Jisoo hanya menempelkan bibirnya saja,tetapi Wonwoo bisa merasakan kelembutan yang selama ini selalu Jisoo berikan untuknya. Wonwoo ingin seperti ini sebentar saja,dengan seperti ini,Wonwoo merasa jika Jisoo juga menyayanginya walaupun hanya sebagai sahabat.
Jisoo melepaskan ciumannya,lalu mengusap sisa air mata Wonwoo dengan ibu jarinya. Jisoo menatap Wonwoo yang sedang tersenyum kepadanya. Jisoo tau,Wonwoo pasti merasa sangat sedih.
"Sekali lagi maafkan aku Wonwoo-ah"ucap Jisoo,matanya menyiratkan penyesalan yang amat sangat.
"Aku bisa mengerti,aku juga tidak mau dicinti karena paksaan atau karena kau merasa kasihan padaku"ujar Wonwoo berusaha tegar.
"Kau tidak perlu menyesalinya Jisoo,aku juga akan segera melupakanmu,karena ada Mingyu juga disisiku"ucap Wonwoo.
"Aku yakin Mingyu lebih baik dariku Jeon,aku sangat yakin jika Mingyu mencintaimu lebih dari siapapun"ujar Jisoo sambil tersenyum.
.
.
Malamnya,Wonwoo pergi ke sebuah bar. Efek dari penolakan Jisoo begitu besar padanya,padahal ia sudah berjanji akan segera melupakannya. Tapi Wonwoo benar-benar ingin menyegarkan pikirannya. Entah sudah berapa botol wine yang ia minum,padahal ia tidak kuat minum,dan akhirnya Wonwoo mabuk berat. Untungnya saat itu ada Mingyu datang,dan Mingyu segera mengantar Wonwoo pulang.
"Kau ini kenapa hyung?"Tanya Mingyu sambil menggendong Wonwoo yang masih mabuk.
"Kau tau rasanya ditolak oleh orang yang sangat kau cintai? Bukankah itu menyakitkan? Bahkan rasa sakit itu sangat mendalam,dan aku rasa tidak bisa sembuh."racau Wonwoo tidak begitu jelas. Mingyu hanya mendengarkan semua perkataan Wonwoo.
"Aku ingin mati saja jika seperti ini. Hatiku… hatiku sangat sakit"Mingyu mendudukkan Wonwoo saat mereka berdua tiba disebuah taman yang terdapa bangku panjang disana.
"Sebenarnya siapa yang membuatmu seperti ini hyung? Siapa yang menyakitimu?"Tanya Mingyu sambil menatap Wonwoo khawatir. Jujur saja,hati Mingyu terasa ditusuk ratusan duri beracun yang siap membunuhnya kapan saja. Tadi Wonwoo bilang jika ia ditolak,berarti ada seseorang yang Wonwoo sukai,dan ia menyatakannya,tetapi orang itu menolak. Hati Mingyu benar-benar sakit,belum pernah ia merasa seperti ini.
"Hong Jisoo! Dia orang yang membuatku seperti ini! Yak! Hong Jisoo! Mengapa kau menolakku? Mengapa? Mengapa kau tidak menyadari jika selama ini aku adalah orang yang selalu ada didekatmu,aku adalah orang sangat menyayangimu lebih dari siapapun! Aku adalah orang yang mencintaimu Hong! Itu aku!" Wonwoo kembali menangis disela ketidak sadarannya. Wonwoo menangis sesenggukan sampai akhirnya Mingyu memeluknya dengan sangat erat. Namja tinggi itu ikut menangis,bukan karena Wonwoo juga menangis,tapi karena Mingyu merasa dadanya sangat sesak. Ia merasa cintanya selama ini sia-sia saja. Padahal Jisoo sendiri yang bilang jika Wonwoo juga menyukainya. Tapi,Mingyu tidak bisa marah pada Jisoo ataupun Wonwoo.
Mingyu langsung melepaskan pelukannya dari Wonwoo,ketika dirasa Wonwoo berhenti menangis,dan Wonwoo sepertinya tidak sadarkan diri karena ia terlalu banyak meminum alkohol. Mingyu menatap wajah namja yang sangat ia sayangi,kemudian ia mengecup bibir Wonwoo cukup lama.
.
.
.
.
.
"Jadi saat itu kau mabuk dank au menceritakan semuanya kepada Mingyu?"Tanya Jisoo ketika Wonwo selesai bercerita. Wonwoo mengangguk sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Mingyu pasti merasa sangat sakit ketika melihatmu dan aku selalu bersama"ucap Jisoo.
"Tapi aku juga benar-benar mencintai Mingyu,jika tidak,mana mungkin aku menangis seperti ini"ucap Wonwoo.
"Baiklah,aku tau itu"ucap Jisoo.
"Tapi aku rasa,aku sudah tidak mencintainya lagi"ucap Wonwoo datar.
"Mengapa?"Tanya Jisoo heran
"Bagimana mungkin aku bisa mencintai orang yang telah menuduh ayahku seorang pembunuh"ucap Wonwoo dingin. Jisoo hanya terdiam.
.
.
Mingyu datang ke kafe Jeonghan dan ia terlihat sangat kacau. Padahal kejadian itu terjadi kemarin,tapi Mingyu masih terlihat sangat frustasi. Terdapat kantung mata diwajah tampannya,dan juga matanya terlihat sedikit bengkak. Jeonghan dan Seungcheol yang ada disitu segera mendekati Mingyu.
"Kau terlihat sangat kecau"ucap Seungcheol. Mingyu hanya terdiam,tatapannya kosong.
"Mingyu,kau baik-baik saja?"Tanya Jeonghan hati-hati. Mingyu mengalihkan pandangannya menjadi kearah Jeonghan dan Seungcheol.
"Aku tidak tau hyung"jawab Mingyu. Seungcheol dan Jeonghan merasa sangat kasihan kepada Mingyu. Belum pernah namja tinggi itu terlihat semenyedihkan ini. Mingyu terlihat seperti orang gila.
"Jadi selama ini Wonwoo adalah orang kaya?"celetuk Seungcheol.
"Apakah Jisoo mengetahuinya?"Tanya Jeonghan,Mingyu langsung menatap Jeonghan.
"Dia mengetahuinya"jawab Mingyu lemah.
"Aku benar-benar terkejut mendengar ini semua"ujar Seungcheol.
"Mengapa orang-orang suka sekali berbohong?"tambah Seungcheol lagi.
"Maafkan aku"ucap Mingyu tiba-tiba,dan Seungcheol juga Jeonghan langsung menatap Mingyu tidak mengerti.
"Untuk?"Tanya Jeonghan dan Seungcheol serempak.
"Maafkan aku,karena aku juga telah membohongi kalian"ujar Mingyu. Seungcheol dan Jeonghan saling berpandangan penuh Tanya.
"Kau berbohong soal apa?"Tanya Jeonghan..
"Sebenarnya… Aku.. Aku juga adalah ahli waris dari Gyuwon" Jeonghan dan Seungcheol menurunkan rahangnya. Mereka juga tidak mengetahui jika Mingyu adalah ahli waris dari Gyuwon Corp.
"MWO? Kau bercanda?"Tanya Seungcheol tidak percaya. Mingyu menggeleng,ia menunduk,padahal tidak biasanya ia seperti ini.
"Siapa lagi yang membohongiku?"Tanya Seungcheol datar,ia melirik kearah Jeonghan.
"Wae? Kau menuduhku?"ucap Jeonghan tajam,Seungcheol hanya tersenyum kikuk.
"Tentu saja tidak Jeonghannie"ujar Seungcheol genit.
"Jadi mengapa kau bekerja di Yoomin,jika kau sendiri juga adalah ahli waris dari Gyuwon,mengapa tidak bekerja di perusahaanmu saja?"Tanya Seungcheol penasaran membuat Mingyu menghembuskan nafasnya.
"Aku membenci ayah Wonwoo hyung,dan aku bekerja disitu untuk membalaskan dendam serta menghancurkan ayah Wonwoo hyung"ucap Mingyu dingin,tetapi kedua orang dihadapannya malah saling bertatapan tidak mengerti.
"Memangnya ada apa denganmu dan ayah Wonwoo?"Tanya Jeonghan
"Entahlah,aku tidak ingin membahasnya"ucap Mingyu sambil menutup wajah tampannya menggunakan kedua telapak tangan.
"Aku memerlukan penjelasan semua tersangka"ujar Jeonghan. Mingyu terlihat kembali merenung. Ia membenci ayah Wonwoo,tapi ia tidak bisa membenci Wonwoo,ia terlalu mencintainya,bahkan sangat mencintainya. Padahal dulu ia berjanji pada dirinya sendiri,jika ia akan menghancurkan semua orang yang berkaitan dengan ayah Wonwoo,termasuk keluarga dan anaknya. Tetapi,ia mengurungkan niatnya,ia tidak jadi untuk menghancurkan keluarga itu,ia hanya ingin menghancurkan orang yang telah membunuh ibunya saja.
.
.
.
Sudah satu minggu Wonwoo belajar menjadi seorang Direktur untuk Yoomin,dan ia bisa menjalankannya dengan sangat baik. Sebenarnya Wonwoo ingin sekali bertanya pada ayahnya,tapi ia selalu mengurungkan niatnya,entah kenapa. Wonwoo masih sering memikirkan Mingyu. Namja tan itu sudah tidak pernha menghubunginya lagi. Pernah sekali Wonwoo menangis karena ia benar-benar merindukan sosok jangkung yang selalu ada untuknya itu,tapi apa daya,Wonwoo tidak bisa melakukan apapun,ia mencintai Mingyu,tapi disisi lain,ia juga membenci Mingyu. Wonwoo masih tidak terima jika ayahnya dituduh sebagai seorang pembunuh. Wonwoo juga selalu bertanya kepada Jisoo,dan jawabannya nihil,Jisoo pun belum dapat informasi apapun dari ayahnya. Wonwoo sangat ingin menanyakan hal itu pada ayahnya langsung,tapi ayahnya terlalu sibuk,dan membuatnya jarang bertemu dengan Wonwoo. Wonwoo yang merasa sumpek terus berada dalam ruangan,akhirnya memilih untuk pergi keluar,dan mempercayakan urusan kantornya kepada sang asisten. Wonwoo berjalan keluar dari gedung mewah miliknya itu. Ia terus berjalan,tanpa tau tujuannya,ia hanya ingin menghirup udara segar diluar gedung.
.
.
Mingyu sang ahli waris Gyuwon merasa bosan,dan memilih utuk pergi berjalan keluar sebentar untuk mencari makanan. Lagipula,Mingyu sudah tidak mempunyai pekerjaan,semuanya sudah selesai,karena dia hanya perlu mengecek dokumen,dan menandatanganinya saja. Mingyu berjalan sambil meminum caramel macchiato yang baru ia beli. Mingyu hampir saja menyemburkan minumannya itu ketika ia melihat seseorang yang tidak asing berada dihadapannya.
"Hyung?" ujar Mingyu,ia sedikit kaget karena sudah lama tidak bertemu dengan namja yang sekarang berada dihadapannya ini.
"Mingyu? Sudah lama sekali kita bertemu"ucap namja itu,dan Mingyu hanya menatapnya datar.
"Kebetulan sekali aku bertemu denganmu,ada yang ingin aku bicarakan tentang Wonwoo" mendengar nama 'Wonwoo' , namja jangkung itu merubah ekspresinya dengan ekspresi yang sangat dingin.
"Aku tidak ingin mendengar apapun tentangnya hyung" ucap Mingyu dingin,namja dihadapannya itu mengeluarkan senyuman teduh khasnya.
"Sebegitukah kau membenci Wonwoo?"Tanya Jisoo masih dengan senyumnya. Mingyu menatapnya dengan tajam.
"Bisakah kau pergi hyung? Aku sedang dalam tidak mood untuk menghajar orang"ucap Mingyu lebih dingin lagi,tetapi Jisoo masih bertahan dengan senyumannya.
"Kau boleh menghajarku,asalkan setelah itu,kau mau mendengarkanku"ujar Jisoo dan membuat Mingyu semakin kesal.
"Aku tidak ingin mendengar apapun darimu dan juga aku tidak ingin mendengar apapun tentang anak si 'Pembunuh' itu"ujar Mingyu sambil menekankan pada kata 'Pembunuh' . Mendengar hal itu,Jisoo mengubah ekspresinya. Tidak biasanya namja tampan itu menunjukkan ekspresi dinginnya seperti saat ini,bahkan Mingyu cukup terkejut dengan ekspresi Jisoo yang biasanya kalem dan penuh dengan senyum itu.
"Kau berbicara seperti itu,apakah kau sudah tau kebenarannya?"Tanya Jisoo dingin. Mingyu menatapnya dengan tajam.
"Tentu saja,aku tidak akan marah jika ayahnya tidak membunuh eommaku"jawab Mingyu tak kalah dingin.
"Kau sudah menanyakannya pada ayahmu?"Tanya Jisoo lagi.
"Aku sudah tau semuanya,jadi untuk apa aku bertanya"jawab Mingyu.
"Kau yakin dengan apa yang ayahmu bicarakan?"Jisoo bertanya lagi dan membat Mingyu kesal.
"Kau pikir ayahku pembohong? Sudahlah hyung,aku bilang kau pergi saja,kau hanya membuat moodku jelek"Mingyu menatap hyung nya itu dengan sangat tajam.
"Aku mengetahui semuanya Mingyu,aku tau semua ceritanya"ucapan Jisoo itu membuat Mingyu memejamkan matanya untuk menahan emosinya.
"Pergi atau kau akan kuhajar hyung"Mingyu mengepalkan tangannya dengan erat,Jisoo yang melihatnya kembali tersenyum.
"Sudah kubilang,kau boleh menghajarku asalkan setelah itu kau mau mendengar-"
BUGH!
Satu pukulan yang sangat keras,bisa membuat orang yang dipukul tersungkur ketanah. Namja jangkung itu membulatkan matanya saat melihat orang yang ia pukul,memegang ujung bibirnya yang mengeluarkan darah segar. Mingyu sangat terkejut,begitupun dengan Jisoo.
Setelah kembali sadar dari keterkejutannya,Jisoo segera membantu Wonwoo bangun. Wonwoo masih memegang ujung bibirnya yang tadi dipukul oleh Mingyu,atau leih tepatnya tidak sengaja terkena Wonwoo. Foxy eyes milik Wonwoo menatap tajam kepada Mingyu yang masih dalam ekspresi terkejutnya.
"W… Wonwoo hyung?" dengan reflex,Mingyu memegang tangan Wonwoo yang masih memegang sudut bibirnya itu,tetapi Wonwoo segera menepis lengan Mingyu dengan kasar.
"Jika kau membenciku,cukup kau benci aku,kau tidak perlu membenci Jisoo,dia tidak salah"mendengar Wonwoo membela Jisoo,Mingyu hanya tersenyum remeh.
"Ohya maaf,aku hampir melukai orang yang kau cintai"ucap Mingyu sambil tersenyum,tetapi senyuman itu terlihat mengerikan,karena senyuman itu tidak sampai kematanya.
"Terserah,Jisoo-ah,kajja" Wonwoo menarik Jisoo yang masih mengkhawatirkannya.
Mingyu tertawa meremehkan sambil melihat punggung Jisoo dan Wonwoo yang semakin menjauh. Tetapi didalam hatinya,ia menangis karena ia telah menyakiti orang yang ia sayangi. Pikirannya kembali tertuju kepada Jisoo yang menolehkan kepalanya kepada Mingyu. Namja jangkung itu langsung teringat dengan kata-kata Jisoo.
'Kau yakin dengan apa yang ayahmu bicarakan?' Mingyu mengernyitkan dahinya ketika ia mengingat pertanyaan Jisoo itu.
"Apakah ayahku berbohong? Aku tidak mengerti ucapannya"batin Mingyu.
TBC…
RnR yaaaa…
Ini author melakukan sistem kebut,karena takut keburu hiatus,kalo keburu hiatus,nanti author ga tenang soalnya ini ff belum kelar.
Thanks buat yang udah RnR^^
Keep RnR yaa,biar author juga semangat
Love ya gaisss….
