Chap 12

Jisoo dengan senang hati mengobati luka Wonwoo akibat pukulan Mingyu yang cukup keras. Wonwoo kadang meringis ketika Jisoo terlalu menekan lukanya. Namja tampan itu tersenyum ketika ia selesai mengobati luka disudut bibir Wonwoo.

"Terimakasih"ucap Wonwoo sambil tersenyum manis membuat namja tampan dihadapannya mau tidak mau juga ikut tersenyum.

"Mengapa kau bisa datang saat itu?"Tanya Jisoo penasaran.

"Aku berlari ketika melihat Mingyu sudah mengepalkan tangannya untuk bersiap memukulmu"jawab Wonwoo datar.

"Kau tidak seharusnya berlari Wonwoo,aku ingin menjelaskan sesuatu kepada Mingyu"ungkap Jisoo. Wonwoo tersenyum mendengarnya.

"Tidak apa,lagipula,Mingyu membencimu karena aku Jisoo-ah,jadi aku yang akan merasa bersalah jika kau terkena pukulan itu"ucap Wonwoo.

"Bodoh,sekarang siapa yang merasa bersalah?"ucap Jisoo sambil menoyor kepala Wonwoo,sedangkan namja manis itu hanya menggaruk tengkuknya.

"Maafkan aku telah membuat Mingyu membencimu"ucap Wonwoo sambil menunduk,membuat Jisoo tersenyum mendengarnya.

"Untuk apa kau meminta maaf? Jika Mingyu membenciku,itu adalah hak dia untuk membenci orang yang membuatnya cemburu kan?"ujar Jisoo sambil tersenyum,tetapi Wonwoo malah menautkan alisnya.

"Maksudmu?"tanyanya polos.

"Ya,mungkin Mingyu membenciku karena kau pernah menyukaiku,itu wajar bukan karena dia mencintaimu"ucap Jisoo.

"Mencintaiku? Tidak mungkin dia mencintaiku"ujar Wonwoo sambil menatap kosong kedepan.

"Mengapa kau berbicara seperti itu? Tidakkah cukup semua pengorbanan Mingyu untukmu? Bahkan Mingyu dulu sangat sabar menunggumu"jawab Jisoo sambil tersenyum teduh. Wonwoo tertawa mengejek.

"Jika ia mencintaiku,dia tidak mungkin menuduh ayahku sebagai pembunuh"mata Wonwoo mulai berkaca-kaca. Ingatan saat ia dan Mingyu bertengkar hebat selalu terngiang dikepalanya,membuat kepala juga batinnya berdenyut sakit.

"Dia hanya belum mengetahui kebenarannya Wonwoo-ah"ucap Jisoo sambil tersenyum. Wonwoo hanya menghembuskan nafasnya.

"Aku pikir,rasa benciku kepada Mingyu lebih mendominasi sekarang"ucap Wonwoo sambil menatap kosong.

"Benarkah? Mungkin sebentar lagi dia akan meminta maaf padamu"ujar Jisoo membuat Wonwoo menolehkan kepalanya sambil mengernyitkan keningnya.

"Kau sudah tau ceritanya?"Tanya Wonwoo dengan mata berbinar.

"Begitulah"jawab Jisoo.

"Apa itu? Aku akan memberitau pada si brengsek Kim"ujar Wonwoo kesal.

"Tidak,biar aku saja" jawaban Jisoo itu membuat Wonwoo melunturkan semangatnya untuk memberitau sebuah 'fakta' kepada orang yang mulai ia benci.

"Kenapa? Aku tidak mau kau dilukai olehnya Jisoo"ujar Wonwoo dan Jisoo kembali mengembangkan senyum teduhnya.

"Aku akan baik-baik saja Jeon"ujar Jisoo.

"Aku bahkan tidak bisa menjamin Kim brengsek itu tidak akan melukaimu"ujar Wonwoo.

"Tidak,justru jika kau yang memberitaunya,malah akan terjadi pertengkaran yang lebih besar Wonwoo,aku tidak mau hal itu terjadi,dengan berakhirnya kau menangis dan membuat pundakku pegal"ujar Jisoo membuat Wonwoo mengerucutkan bibirnya kesal,sedangkan Jisoo gemas melihatnya.

"Tidak tidak,aku saja yang menjelaskan padanya,aku berjanji aku tidak akan terpengaruhi oleh emosi"ucap Wonwoo sambil meyakinkan Jisoo,tetapi namja bersurai coklat kemerahan itu hanya menggelengkan kepalanya.

"Aku hanya ingin memberitau padanya dengan mulutku sendiri Hong,aku ingin mempermalukannya"ucap Wonwoo mulai emosi.

"Bahkan,kau sudah emosi dari sekarang,bagaimana aku bisa menjamin kau tidak akan kembali bertengkar dengan Mingyu nanti?"ujar Jisoo dan membuat Wonwoo semakin kesal.

"Sebenarnya kau berada dipihakku atau- Aw.." Wonwoo tidak sengaja menggigit luka yang berada diujung bibirnya dan membuatnya meringis. Lukanya itu kembali mengeluarkan darah,dengan cepat Jisoo mengambil kembali kapas dan mengobati luka itu.

"Sudah kubilang kau diam saja"ucap Jisoo setelah selesai mengobatinya.

"Kau istirahat saja,biar aku yang urus masalahmu ini"tambah Jisoo lagi,ia mengelus rambut hitam milik Wonwoo dan itu selalu bisa membuat Wonwoo nyaman.

"Tapi berjanjilah kau tidak akan terluka Hong"ucap Wonwoo sambil memegang tangan Jisoo. Lelaki tampan itu tersenyum lalu mengangguk.

"Istirahatlah,aku masih ada pekerjaan"ucap Jisoo sambil membereskan barang-barang miliknya.

"Kau yakin tidak akan menemaniku?"ucap Wonwoo sambil mengerucutkan bibirnya membuat Jisoo gemas.

"Maaf,aku banyak pekerjaan Jeon,aku akan mampir kesini jika semua pekerjaanku telah selesai"ucap Jisoo.

"Janji?" Jisoo menganggukkan kepalanya.

"Baiklah aku pergi" sesaat sebelum Jisoo pergi,lelaki tampan itu membalikkan badannya membuat Wonwoo bingung. Jisoo menghampiri Wonwoo lagi,dan…

CHU!

"Semoga lukamu cepat sembuh Jeon"ucap Jisoo sambil tersenyum setelah mencium luka diujung bibir Wonwoo,dan membuat lelaki yang dicium kaget.

"Yak Hong!"teriak Wonwoo,tetapi Jisoo tetap melanjutkan pergerakkan kakinya.

.

.

.

Mingyu kembali ke kantornya dengan wajah yang kusut. Ia mengabaikan semua tatapan dari pada pegawai kantornya. Mingyu hanya memikirkan keadaan Wonwoo sekarang,ia tidak henti-hentinya merutuki dirinya sendiri. Mingyu menyesal –tidak sengaja- telah memukul Wonwoo sampai ujung bibirnya berdarah. Ya,Mingyu masih terlalu menyayangi namja manis yang telah membuatnya jatuh pada pandangan pertamanya.

Mingyu segera duduk dikursinya,ia sangat kesal dan juga marah,entah pada siapa. Mingyu ingin sekali mendatangi Wonwoo ke apartementnya,tetapi ia tidak bisa. Mingyu sangat yakin jika Wonwoo akan menolaknya,dan juga akan menyuruhnya pergi.

"Lagipula untuk apa aku mendatangi apartement milik anak si pembunuh itu?"monolog Mingyu. Ia mengacak rambutnya frustasi.

"Baiklah,aku tidak perlu memikirkannya,dia kan anak seorang pembunuh,untuk apa?"Mingyu kembali bermonolog.

Setelah merenung cukup lama tentang keadaan Wonwoo,kini namja tampan itu kembali merenungkan kata Jisoo,kata yang membuatnya cukup frustasi hanya untuk memikirkannya. Mingyu memejamkan matanya agar otaknya menjadi sedikit lebih releks. Ketika ia sedang sibuk untuk menyegarkan kembali otaknya,tiba-tiba saja seorang pria paruh baya memasuki ruangan itu.

"Bagaimana? Apakah susah untuk mengurus perusahaan ini?"Tanya pria paruh baya itu kepada Mingyu. Mingyu tersenyum tipis melihat ayahnya yangtiba-tiba masuk kedalam ruangannya itu.

"Cukup sulit"jawabnya singkat, Tuan Kim terlihat tersenyum.

"Kau akan terbiasa Mingyu-ah"ujarnya.

"Ohya,appa…"ujar Mingyu,Tuan Kim segera melirik kearah Mingyu.

"Ada hubungan apa kau dengan CEO pemilik Yoomin? Aku ingin tau"mendengar ucapan itu,Tuan Kim langsung menatap anak tampannya itu dengan tajam.

"Sudah kubilang,tidak usah bertanya itu lagi. Bukankah sudah jelas apa yang appa bicarakan? Jika Jeon brengsek itu telah membunuh wanita yang paling kusayangi"Tuan Kim terlihat marah,ia mengepalkan tangannya,tetapi itu tidak membuat Mingyu takut sama sekali.

"Benarkah dia membunuh eomma?"Tanya Mingyu.

"Iya! Dan kau tidak perlu mengungkitnya lagi"Tuan Kim semakin marah karena menganggap jika Mingyu tidak mempercayai omongannya.

"Bagaimana ia membunuhnya? Aku ingin tau"ucap Mingyu lagi. Sejujurnya,ia tidak ingin mengingat semua kejadian itu,tetapi ia harus mengetahui semua kebenarannya.

"Aku tidak ingin membahasnya lagi! Kau tidak pernah merasakannya"ucap Tuan Kim lalu pergi dan diakhiri dengan suara debaman pintu yang sangat keras.

Mingyu mengacak rambutnya frustasi sambil mengusap wajahnya dengan kasar. Pikiran Mingyu sangat kacau saat ini. Mingyu ingin sekali menanyakan langsung pada Wonwoo,tapi rasa gengsinya itu terlalu besar untuk dikalahkan rasa penasarannya. Kemudian Mingyu terlihat kembali berfikir,ia langsung berlari,mengingat Wonwoo pernah bekerja di perusahaannya,dan Wonwoo mempunyai teman dekat bernama Jihoon. Mingyu segera mencari ruangan itu.

"Apakah Wonwoo pernah menceritakan sesuatu tentang ayahnya?"Tanya Mingyu. Disinilah mereka sekarang,disebuah kafe dekat dengan perusahaan Gyuwon.

"Wonwoo hanya pernah berkata,jika ia dan ayahnya itu tidak dekat,dia tidak pernah menceritakan apapun lagi tentang keluarganya."jawab Jihoon dan terlihat hembusan nafas kecewa dari Mingyu.

"Aku juga sangat kaget ketika mengetahui jika Wonwoo adalah ahli waris dari Yoomin"tambah Jihoon.

"Kau tidak mengetahuinya?" Jihoon hanya menggeleng untuk menjawab pertanyaan Mingyu.

"Dia pernah bilang,dia akan membicarakan sesuatu yang tidak akan pernah aku duga,ternyata ini maksudnya"ucap Jihoon.

"Memangnya ada apa dengan kalian berdua? Kalian baik-baik saja kan?"Tanya Jihoon lagi. Mingyu sedikit ragu untuk memberitau namja mungil dihadapannya ini,tetapi pada akhirnya ia menceritakannya juga.

"Kau lebih tua dariku kan?"Tanya Mingyu dan dibalas anggukan oleh Jihoon.

"Sebenarnya,aku dan Wonwoo hyung sudah berakhir,semenjak kita berdua saling mengakuinya…" Mingyu menggantung kalimatnya.

"Tidak,sebenarnya hanya Wonwoo hyung yang mengakui semuanya karena ia telah lebih dulu mengetahui jika aku adalah ahli waris dari Gyuwon"ungkap Mingyu.

"Darimana dia tau?"Tanya Jihoon penasaran. Tidak biasanya namja mungil itu peduli dengan kisah orang lain.

"Dia bilang dia pernah melihatku diperusahaan. Sejujurnya,saat itu aku memang mempunyai sebuah urusan dengan ayahku,karena aku tau Wonwoo hyung bekerja disini,jadi aku memakai kupluk hitam serta jaket hitam,pokoknya aku memakai pakaian serba hitam,dan aku tidak tau jika Wonwoo hyung mengetahuinya."jelas Mingyu. Jihoon terlihat berfikir sejenak.

"Eoh! Sepertinya gara-gara itu Wonwoo saat itu jadi sering melamun"ucap Jihoon.

"Benarkah?"Tanya Mingyu.

"Ya,tetapi ia tidak mau menceritakannya padaku. Aku kira dia memikirkan sesuatu mengenai hubungan kalian,atau kalian bertengkar lagi,padahal karena dia melihatmu disini"jelas Jihoon,sedangkan Mingyu hanya terdiam mendengarnya.

Disaat keduanya sedang serius berbincang,tiba-tiba ada sebuah suara yang memanggil nama Jihoon,membuat Mingyu dan juga Jihoon menoleh kearah sumber suara. Ternyata ada 2 orang namja dibelakang mereka,tetapi yang memaggil nama Jihoon adalah namja sipit yang terlihat kaget menemukan kekasihnya bersama orang lain. Sedangkan namja tampan yang disebelahnya telah beradu pandang dengan Mingyu sesaat setelah mereka sampai di kafe itu.

"Bisakah kau tidak terlalu berlebihan dengan ekspresimu itu?"ucap Jihoon malas.

"Bagaimana bisa kau disini dengannya Jihoonnie?"ucap namja sipit itu.

"Dia adalah Kim Mingyu,ahli waris dari perusahaan tempatku bekerja,dan dia mengajakku untuk berbicara karena ada yang ingin ia tanyakan tentang Wonwoo. Kau puas Kwon Soonyoung?"ujar Jihoon malas.

"Ohh kau kekasih Wonwoo,hai aku Kwon Soonyoung kekasih Jihoon"ucap Soonyoung sambil tersenyum membuat mata sipitnya itu tinggal segaris. Mingyu tersenyum tipis ketika mendengar perkenalan Soonyoung. Mingyu memang tidak fokus,karena orang disamping Soonyoung terus saja menatapnya sambil tersenyum.

"Perlukah aku mengenalkan diriku juga?"ucap namja tampan itu. Mingyu hanya menatapnya datar.

"Duduklah,aku yang bayar,aku harus segera pergi"ucap Mingyu sambil tersenyum.

"Kau mau kemana? Jika kau akan pergi,aku juga harus pergi"ucap Jihoon karena Mingyu adalah calon CEO dari Gyuwon.

"Tidak apa-apa,kau bisa libur hari ini"ujar Mingyu dengan senyum tipisnya. Mingyu segera pergi dari kafe itu,tetapi sebelum ia benar-benar pergi,Mingyu sempat melirik kearah Jisoo dengan tatapan sinisnya.

"Sepertinya aku mengganggu kencan kalian"ujar Jisoo sambil terkekeh membuat Jihoon langsung menggelengkan kepalanya.

"Tidak,bahkan aku senang bertemu denganmu"ucap Jihoon sambil tersenyum manis.

"Singkirkan senyum bodohmu itu,hanya aku yang boleh melihatnya"ucap Soonyoung dan mendapat tatapan tajam dari Jihoon membuat Jisoo terkekeh.

"Aku akan pergi dulu"ucap Jisoo sambil membereskan barangnya.

"Eii kau tersinggung Jisoo? Aku hanya becanda"ucap Soonyoung merasa bersalah. Namja dengan kantung mata itu tersenyum.

"Tidak,aku memiliki urusan sebentar,kau temani saja kekasihmu. Sampai jumpa"ujar Jisoo lalu meninggalkan Soonyoung dan Jihoon.

"Hati-hati"teriak Soonyoung.

.

.

"Bisakah kau berhenti mengikutiku?"suara berat itu terdengar sangat dingin.

"Aku kira kau tidak mengetahuinya"jawabnya. Namja jangkung itu membalikkan badannya dan mendapat orang dihadapannya sedang tersenyum.

"Mau apa kau mengikutiku Hong?"Tanya Mingyu dengan suara dinginnya.

"Aku yakin kau tau jawabannya"jawabnya kalem. Mingyu menatapnya dengan datar.

"Dan aku yakin,kau juga sudah menanyakannya kepada ayahmu kan?"Jisoo bertanya kembali dengan senyum yang terpatri diwajahnya. Senyum milik Jisoo kali ini bukanlah senyuman teduh yang selalu ia perlihatkan,tetapi sebuah senyum kemenangan yang lebih terlihat sebuh smirk dimata Mingyu.

"Aku tidak mempercayai omong kosongmu"ucap Mingyu dingin.

"Dan kau percaya dengan omong kosong ayahmu?"Tanya Jisoo dan membuat Mingyu mengepalkan tangannya. Jisoo kembali tersenyum melihat gelagat Mingyu yang sedang menahan amarahya.

"Aku yakin kau sudah bertanya,tetapi kau tidak ingin mempercayai omongnku kan?"tebak Jisoo dan sukses membuat Mingyu bertambah kesal.

"Aku tau kau bukan tipe orang yang suka menuduh Kim,aku sangat tau itu"ujar Jisoo. Mingyu segera membalikkan badannya,dan melangkahkan kakinya meninggalkan Jisoo. Kali ini,namja berambut coklat kemerahan itu tidak mengejarnya,Jisoo tau jika sebenarnya Mingyu mencoba untuk tidak mempercayai omongan Jisoo dan menegaskan hatinya jika ayah Wonwoo adalah pembunuh ibunya.

.

.

Wonwoo segera berjalan memasuki gedung mewah dihadapannya. Wonwoo hanya ingin bertemu dengan seseorang yang ingin dia banjiri dengan semua pertanyaan yang ada diotaknya. Ayahnya! Wonwoo hanya ingin bertemu dengan ayahnya untuk menanyakan semua hal yang telah sukses membuatnya gelisah setiap hari untuk memikirkan jawabannya.

Wonwoo segera memasuki ruangan ayahnya tanpa mengetuk pintu sebelumnya. Wonwoo terlanjur penasaran dengan apa yang telah ayahnya lakukan sehingga Mingyu bias berbicara jika ayahnya adalah seorang pembunuh ibunya.

"Wonwoo? Ada apa?"Tanya pria paruh baya itu ketika anak satu-satunya memasuki ruangannya.

"Appa,aku ingin menanyakan suatu hal,ah tidak,banyak hal kepadamu"ucap Wonwoo dingin.

"Tanyakan saja semuanya"ujar Tuan Jeon sambil tersenyum.

"Apa hubunganmu dengan CEO Gyuwon?"pertanyaan itu sukses membuat sang CEO melunturkan senyumannya.

"Mengapa kau bertanya soal itu?"Tuan Jeon berusaha untuk tenang.

"Jawab saja,apa hubunganmu dengan mereka?"paksa Wonwoo.

"Aku tidak mempunyai hubungan apapun dengan mereka"ucap Tuan Jeon lalu memutakan kursinya membelakangi Wonwoo.

"Lalu…" Wonwoo menelan ludahnya dengan sulit.

"Kau membunuhnya? Kau membunuh istri dari CEO Gyuwon?"Tanya Wonwoo dan membuat kesabaran Tuan Jeon habis. Pria paruh baya itu menghampiri Wonwoo dan menamparnya. Wonwoo tersenyum pahit sambil memegang pipi mulusnya.

"Jadi benar apa yang Mingyu katakan? Kau benar-benar membunuhnya?"Tanya Wonwoo sarkatis.

"Kau menuduhku sebagai pembunuh? Lalu siapa itu Mingyu?"Tuan Jeon terlihat sedang menahan emosinya.

"Jika kau bukan pembunuhnya,bisa kau katakan apa yang sesungguhnya terjadi?" ucap Wonwoo setengah berteriak.

"Aku tidak membunuhnya! Kau puas?"Tuan Jeon menatap tajam kepada anaknya.

"Lalu mengapa? Mengapa dia mengatakan bahwa kau pembunuhnya? Wae? Katakan padaku appa!"teriak Wonwoo,air matanya sudah mengalir dipipi putihnya. Melihat sang anak menangis,membuat Tuan Jeon merasa iba dan menyesal telah menamparnya.

"Siapa dia?"Tanya Tuan Jeon lebih lembut dari sebelumnya.

"Mingyu! Kim Mingyu,anak dari CEO Gyuwon. Aku yakin kau mengetahuinya appa"Wonwoo berucap ditengah tangisannya.

"Ada hubungan apa kau dengannya?" Wonwoo terdiam sambil melanjutkan tangisannya.

"Kalian berdua memiliki sebuah hubungan?"Tanya Tuan Jeon lagi. Wonwoo hanya menangis tidak menjawab pertanyaan ayahnya itu.

"Jawab Jeon!"Tuan Jeon mengguncangkan badan kurus Wonwoo.

"Tidak,aku tidak mempunyai hubungan apapun dengannya! Aku tidak mengenalnya"teriak Wonwoo dan membuat emosi Tuan Jeon kembali mereda.

"Sukurlah. Oh ya,aku akan segera menjodohkanmu,jadi persiapkan dirimu" Wonwoo menatap ayahnya tidak percaya.

"Apa? Tidak,aku tidak mau"ucapnya dingin.

"Ini untuk kebaikanmu Wonwoo"ucap Tuan Jeon lagi dan membuat Wonwoo tersenyum meremehkan,sebelum akhirnya ia pergi dari ruangan dan gedung mewah itu.

.

.

Suara dentuman musik menggema dalam ruangan penuh manusia malam itu. Ditengah keramaian itu,Mingyu terduduk dikursi sambil meminum segelas whiskey yang ia pesan untuk menemaninya. Sudah banyak wanita seksi dan cantik yang menggodanya,tetapi tidak membuat pria tampan itu terusik. Pria tampan itu sibuk dengan masalahnya,tenggelam dalam pikiran yang membuat otaknya harus berfikir dengan ekstra. Namja tampan itu hanya melamun sambil memutar-mutar gelasnya,sesekali ia meneguk minuman beralkohol itu. Mingyu kembali memutar otaknya pada kejadian beberapa jam yang lalu,ketika ia bertemu dengan Jisoo tadi.

"Aku bukan tipe penuduh? Apa maksudnya? Siapa yang aku tuduh? Pria pembunuh wanita itu?"monolog Mingyu.

"Siapa 'pria pembunuh wanita' itu?"tiba-tiba seorang namja tampan duduk disampingnya sambil meminum segelas whiskey miliknya.

"Aku sedang tidak ingin bertengkar Hong Jisoo"bukannya menjawab,Mingyu malah berucap dengan nada dinginnya.

"Bagus jika seperti itu,aku hanya ingin menjelaskan sesuatu padamu"ucapnya santai. Mingyu menolehkan kepalanya kepada Jisoo.

"Sudah kubilang bukan, aku tidak akan mempercayai omong kosongmu. Berhentilah untuk membujukku mendengarkan cerita karanganmu dengan anak pembunuh itu,aku tau itu hanya sebuah setting"ucapnya dingin.

"Terserah kau,aku hanya ingin meluruskan semuanya,dan membuatmu menyesal"ungkap Jisoo dan mengundang tawa remeh dari Mingyu.

"Menyesal? Untuk apa aku menyesal jika aku memang benar"ucapnya sarkatis.

" Ya, 'jika' kau memang benar,nyatanya kau salah"ucap Jisoo penuh penekanan pada setiap katanya.

"Apa maksudmu?"Tanya Mingyu kembali pada nada dinginnya.

"Sudah kubilang jika kau bukan tipe orang yang suka menuduh bukan?"Jisoo balik bertanya.

"Jeon ahjussi,dia tidak membunuh ibumu"tambah Jisoo,dan membuat Mingyu mengkerutkan keningnya.

"Sepertinya kita lebih baik jangan berbicara disini,disini sangat berisik"ucap Jisoo lagi,lalu membayar whiskey miliknya dan milik Mingyu. Jisoo segera menyeret Mingyu keluar.

"Kita akan kemana?"Tanya Mingyu ketus.

"Kita disini saja"ucap Jisoo.

"Yang benar saja. Kita pergi kesana saja,aku harus membayar hutangku padamu"ucapnya dingin lalu berjalan mendahului Jisoo menuju kafe diseberang club malam yang tadi mereka kunjungi . Namja tampan itu terseyum,lalu mengikuti pria yang lebih muda darinya itu.

Mingyu dan Jisoo duduk berhadapan. Setelah selesai memesan makanan,Jisoo kembali melanjutkan ceritanya. Walaupun terlihat tidak peduli,tetapi sebenarnya Mingyu sangat penasaran dengan cerita Jisoo.

"Sebenarnya,ayahmu,ayahku dan ayah Wonwoo adalah teman,tetapi semuanya hancur saat kejadian itu,saat kejadian dimana ibumu meninggal,dan ayahmu menyalahkan ayah Wonwoo."ucap Jisoo. Mingyu hanya diam menunggu Mingyu melanjutkan kata-katanya.

.

.

Dimalam yang dingin,dipertengahan musim salju,seorang wanita yang terlihat memasuki umur tigapuluhan tetapi masih terlihat sangat cantik,wanita itu memasuki sebuah kafe dengan tangisannya. Entah apa yang terjadi kepada wanita itu,tetapi dengan air matanya yang mengalir,bisa membuat orang tau,jika ia sedang bersedih. Wanita cantik itu memesan sebuah coklat panas untuk menyegarkan pikirannya. Wanita itu melamun sambil sesekali menyesap coklat panasnya.

"Hye Ra-ah" panggil seseorang ke wanita tadi. Wanita bernama Hye Ra itu menolehkan kepalanya dan tersenyum melihat seseorang yang tadi memanggilnya. Pria yang sepertinya seumuran dengannya itu terlihat kaget ketika melihat mata Hye Ra sembab dan terdapat jejak air mata dipipinya.

"Kau kenapa?"Tanya pria itu.

"Min Woo,dia menuduh jika kita kembali lagi karena kemarin kau dan aku terlihat bersama"ungkap wanita itu lalu kembali mengalirkan air matanya. Pria dihadapannya mengkerutkan keningnya.

"Apa? Kemarinkan kita hanya kebetulan bertemu,dan mengobrol sebentar,mengapa Min Woo menuduhku dan kau?"Tanya Pria itu.

Hye Ra,Kim Hye Ra. Wanita yang memasuki pertengahan umur tigapuluhan itu adalah seorang istri dari Kim Min Woo,lelaki yang ia nikahi 5 tahun yang lalu. Mereka saling mencintai,dan keluarga mereka sangat bahagia,dengan seorang anak laki-laki yang sangat tampan bernama Kim Mingyu. Tetapi,kemarin Min Woo melihat Hye Ra bersama dengan mantan kekasihnya sebelum mereka menikah,Jeon Jin Woo. Sebenarnya Jin Woo sebelumnya berpacaran dengan Hye Ra,hanya saja wanita itu sudah dijodohkan dengan sahabat baiknya,Kim Min Woo. Jin Woo merelakan cintanya kepada sahabat terbaiknya,dan ia juga mendapatkan istri yang sangat cantik dan membuahkan anak yang sangat manis bernama Jeon Wonwoo.

Persahabatan Jin Woo,Min Woo dan Jae Hyun sangat erat,meskipun Hye Ra telah menikah dengan Min Woo,itu tidak membuat mereka pecah. Jin Woo lebih menyayangi sahabatnya itu. Tetapi,karena Min Woo yang salah paham,mereka jadi terpecah.

"Aku sudah mencoba menjelaskannya,tetapi ia tidak mau mendengarkanku,aku kesal Jin Woo,aku ingin mati saja"ucap Hye Ra,air matanya semakin deras mengalir.

"Tidak,aku akan menjelaskannya juga. Kau tidak boleh putus asa seperti itu"ucap Jin Woo mencoba menenangkan.

"Dia tidak akan mendengarkanmu,dia sangat keras kepala"ujar Hye Ra lagi.

"Kau hanya perlu bersabar"

"Bersabar? Kesabranku sudah habis,aku sudah tidak bias menahannya lagi,dan dia malah semakin membentakku,apakah aku masih harus bersabar?"Hye Ra mulai emosi.

"Tidak,dengar aku dulu"ucap Jin Woo.

"Sudahlah,aku ingin pulang saja"ucap wanita itu,lalu pergi melangkahkan kakinya keluar. Jin Woo mencoba untuk mengejar wanita yang menjadi istri sahabatnya itu.

Jin Woo tercengang melihat kejadian itu. Semua orang mengerubuni wanita yang tertabrak itu. Orang-orang yang sedang berbincang-bincang didalam kafe pun ikut keluar untuk melihat kejadian yang baru saja terjadi. Suara sirine ambulance menggema ditengah jalan. 3 orang keluar dari mobil itu,lalu mengangkut wanita itu.

"Tidak ada kerabatnya? Atau mungkin suaminya?"Tanya seorang perawat itu.

"Aku teman dia"ujar Jin Woo. Ia ikut memasuki ambulance itu.

Min Woo datang ke rumah sakit dengan cemas. Ia sangat gelisah saat dijalan. Sesampainya disana,Min Woo segera pergi ke lantai tiga,tempat Hye Ra dirawat. Min Woo menemukan Jin Woo sedang menunggu disana.

"Mengapa bisa seperti ini?"Tanya Min Woo menahan amarahnya.

"Dia tertabrak truk Min Woo,ia tertabrak saat ia keluar dari kafe" jelas Jin Woo.

3 jam mereka menunggu,sampai pintu operasi terbuka,menampakkan seorang dokter. Jin Woo,Min Woo dan Jae Hyun yang baru saja datang,segera menghampiri dokter itu.

"Maaf,kami tidak bias menolongnya,dia mengalami benturan yang sangat kuat dibagian belakang kepalanya" ucap dokter itu. Ketiga pria itu membulatkan matanya tidak percaya. Min Woo sebagai suaminya langsung menghambur masuk kedalam ruangan dimana istriya berbaring tidak berdaya. Min Woo menangis sejadinya saat itu. Min Woo merasakan bahunya dielus dengan lembut.

"Sabarlah,aku tau ini sangat berat untukmu"ucap Jin Woo,air mata Jin Woo pun ikut mengalir.

Min Woo segera berdiri dan mencengkam kerah baju Jin Woo dengan kuat,membuat Jae Hyun segera menghampiri mereka untuk melerainya. Min Woo menatap Jin Woo dengan sangat tajam.

"Jika ia tidak bertemu kau,tidak mugkin ia mati seperti ini"ucapnya marah. Matanya memerah menyiratkan kemarahan yang amat sangat,sedangkan Jin Woo mengerutkan keningnya.

"Tidak,kau salah paham,ak-"

"Sudah tidak perlu beralasan lagi,semua ini salahmu"ujar Min Woo semakin emosi.

"Sudahlah,ini rumah sakit"lerai Jae Hyun.

"Kau adalah pembunuh Jin Woo! Kau membunuh wanita yang paling aku sayangi! Pembunuh!"teriak Min Woo marah. Jin Woo sudah tidak bias menahan emosinya,ia melepaskan cengkraman tangan Min Woo pada kerah bajunya.

"Kau sadar siapa yang membunuhnya? Kau sendiri yang membunuhnya Kim! "

'BUGH'

Min Woo memukul wajah Jin Woo dengan kencang,membuat Jin Woo tersungkur kebelakang beberapa langkah. Jae Hyun yang melihatnya segera menolong Jin Woo bangun,tetapi Min Woo segera mendorong Jae Hyun menjauh,dan kembali mencengkram kerah Jin Woo.

"Dengar kau brengsek! Jangan pernah lagi menampakkan batang hidungmu dihadapanku,karena kau sangat menjijikkan"ucap Min Woo dengan nafas yang tersengal-sengal.

"Kau lebih menjijikkan karena tidak bisa menjaganya Kim!"ucap Jin Woo sambal mendorong Min Woo sampai pria yang lebih besar drainya itu terjatuh. Jin Woo segera pergi dari sana,sedangkan Jae Hyun membantu Min Woo untu berdiri.

"Ck,kalian ini mengapa seperti ini huh?"keluh Jae Hyun.

"Kau pergilah dengannya,dan pastikan ia tidak pernah menampakkan dirinya lagi dihadapanku,aku sudah muak dengannya"ucap Min Woo. Jae Hyun menggelengkan kepalanya.

"Dia tidak salah Min Woo"ucap Jae Hyun membuat Min Woo meliriknya tajam.

"Jika kau ingin membelanya,lebih baik kau juga pergi Hong!"teriak Min Woo.

"Baik,aku akan pergi,hanya saja,kau harus tau jika Jin Woo tidak bersalah,dan itu murni kecelakaan"ungkap Jae Hyun dingin.

"Pergi kau brengsek"usir Min Woo,dan Jae Hyun benar-benar pergi.

Sejak meninggalnya Hye Ra,Min Woo hanya hidup berdua dengan anaknya yang masih berumur 4 tahun itu. Mingyu juga mengetahui dan dia sudah mengerti jika ia tidak ia bertemu dengan ibunya,bahkan ia menangis dengan keras saat ibunya tu dimakamkan. Hingga ia beranjak dewasa,Mingyu tidak pernah merasakan lagi adanya kehangatan dalam keluarganya,ayahnya terlalu sibuk,dan ia merasa sendirian,ia benci itu.

Persahabatan antara Min Woo,Jin Woo dan Jae Hyun,sudah benar-benar pecah. Tetapi Jin Woo dan Jae Hyun masih berhubungan dengan sangat baik,bahkan ketika Jin Woo memiliki perusahaan yang besar,yaitu Yoomin Corp,ia membuat sebuah sub perusahaannya itu,bernama Pledis Corp,dan Jin Woo menjadikan Jae Hyun sebagai dirut dari sub perusahaannya itu. Entah karena kebetulan,ternyata perusahaan Jin Woo itu bersaing ketat dengan Gyuwon Corp,perusahaan milik Min Woo. Perusahaan itu semakin bersaing mengingat kedua CEO dari perusahaan itu adalah benar-benar rival,dan itu yang membuat Yoomin dan Gyuwon Corp,terus bersaing sampai saat ini. Sebenarnya,bisa saja mereka bekerja sama,justru itu akan mengutungkan kedua perusahaan,tetapi karena masalah dimasa lalu yang kelam,membuat keduanya gengsi untuk menjadi partner.

.

.

Mingyu tercengang mendengarnya,air matanya sudah mengalir sedari tadi,karena ia mengingat mendiang ibunya. Mingyu mengusap air matanya dengan kasar. Ia ingin tidak mempercayai ucapan Mingyu,tetapi hatinya berkata jika Jisoo benar.

"Itu cerita sesungguhnya Mingyu,aku tidak mengada-ngada"ucap Jisoo,ia merasa iba melihat Mingyu menangis seperti itu.

"Tidak,aku tidak percaya,aku yakin kau hanya mengada-ngada"ujar Mingyu.

"Tidak,aku benar-benar tidak berbohong"

"Kau hanya merekayasa semua ini karena kau sahabat Wonwoo kan? Dan karena Wonwoo pernah-"

"Menyukaiku? Ayolah Mingyu,tidak mungkin aku mengada-ngada,jika ayah Wonwoo memang tidak bersalah"ucapnya berusaha meyakinkan Mingyu. Namja tinggi itu segera mengusap air matanya dengan kasar lalu pergi berlalu meninggalkan Jisoo.

Mingyu kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan ayahnya. Mingyu ingin menanyakan semuanya kepada ayahnya,ia ingin memastikan jika ayah Wonwoo memang tidak bersalah. Sejujurnya,ada sedikit perasaan senang menyeruak dihatinya,karena ia bisa kembali kepada Wonwoo. Mingyu mengebrak pintu itu. Ia melihat ayahnya segera menutup teleponnya.

"Ada apa kau ini Kim Mingyu?"ucap Tuan Kim marah.

"Katakan sesungguhnya! Katakan yang sebenarnya! Katakan padaku!"teriak Mingyu sambil mencengkram kerah ayahnya itu.

"Katakan apa? Aku tidak mengerti! Dan lepaskan ini,aku ayahmu Kim!"bentak Tuan Kim kepada Mingyu,tetapi anaknya itu tidak menggubris ucapannya,justru Mingyu semakin mencengkram kerah kemejanya.

"Jeon Jin Woo! Dia! Dia bukan pembunuh eomma kan? Iyakan? Jawab aku!"teriak Mingyu,metanya memerah karena marah. Mendengar nama yang tidak ia ingin dengar,membuat Kim Min Woo,menatap arahnya tajam.

"Kau tau dia dari siapa?"Tuan Kim tidak kalah marahnya dengan Mingyu.

"Kau tidak perlu tau aku mengetahuinya dari siapa,yang jelas,jawab aku dulu!"Mingyu benar-benar terlihat sangat emosi sekarang,dadanya terlihat mengembangd an mengempis dengan tidak karuan,nafasnya memburu,dan cengkramannya sangat kuat.

"Tidak,dia adalah pembunuhnya"jawab ayahnya dingin dan membuat Mingyu semakin marah.

"Jangan berbohong brengsek,aku tau semuanya"ujar Mingyu,ia merasa amarahnya sudah sampai diubun-ubun,sampai ia merasa kepalanya ingin meledak.

"Apa? Kau berbicara apa pada ayahmu ini?"

"Brengsek! Ada apa? Kau tersindir? Bukankah itu kenyataan?"ujarnya dingin.

"Kim Min Gyu!" bentak ayahnya sambal mengangkat tangannya.

"Apa? Kau mau memukulku? Pukul saja,lalu ceritakan hal yang sebenarnya padaku"tantang Mingyu. Ia sudah merasa muak dengan ayahnya.

"Mengapa diam saja appa?"ucap Mingyu lagi,ayahnya itu hanya menatapnya tajam.

"Baiklah,jika kau tidak mau memukulku"Mingyu kembali berucap.

"Ada apa kau ini? Kau ini sebenarnya ingin apa?"tanya ayahnya,emosinya mulai mereda.

"Aku ingin apa? Aku ingin kau menceritakan hal yang sebenarnya,aku ingin kau berbicara hal yang sesungguhnya,bukan kebohongan"jawabnya datar,tetapi matanya itu terlihat sangat menusuk.

"Mengapa kau bertanya hal itu?"

"Karena aku ingin tau kebenarannya"jawabnya lagi.

"Kebenarannya adalah Jeon brengsek itu yang membunuhnya,kau puas?" Mingyu mengepalkan tangannya,lalu mengacak rambutnya frustasi.

"Mengapa kau berbohong pada anakmu sendiri? Mengapa kau tidak bilang saja jika itu adalah kecelakaan! Mengapa?"teriak Mingyu lagi.

"Jika itu kecelakaan,mengapa Jin Woo tidak menolongnya? Mengapa? Jika ia menolongnya,ibumu tidak akan pergi,mungkin Jeon brengsek itu yang akan pergi"jawab ayahnya mengundang emosi Mingyu.

"Apa? Dan eomma tidak akan meninggal jika appa tidak menuduhnya berselingkuh!"Mingyu kembali berteriak dengan nada yang lebih tinggi lagi.

"Sebenarnya apa urusanmu dengan masalah ini? Apa hubunganmu?"ayahnya mengalihkan topik pembicaraan ini.

"Karena anak Jeon Jin Woo adalah kekasihku,kau puas?"jawab Mingyu membuat ayahnya itu tercengang.

"Kau berpcaran dengan anak pembunuh itu? Aku tidak akan menyetujuinya,tidak akan pernah,meskipun kau berlutut dihadapanku"ucap ayahnya itu. Mendengarnya,Mingyu hanya tertawa meremehkan.

"Sejak kapan kau peduli dengan hidupku? Bahkan sekarang kau mempedulikan hubungan asmaraku,apakah kau salah meminum obatmu?"ujar Mingyu dingin.

'PLAK'

Tuan Kim benar-benar menampar Mingyu dengan keras,membuat jejak telapak tangannya itu membekas dipipi Mingyu. Pria tampan itu memegang pipinya yang terasa panas,Mingyu kembali tertawa meremehkan.

"Dan aku tidak akan melepaskannya"ucap Mingyu lalu pergi meninggalkan ayahnya yang sedang kesal.

.

.

"Appa,aku sudah tau alasan perusahaan ini dan Gyuwon bersaing dari dulu hingga sekarang"ucap namja manis itu kepada seseorang yang ia panggil ayah. Pria paruh baya itu menatap anaknya tidak percaya.

"Mengapa kau tidak membantahnya? Mengapa kau membiarkan dia menuduhmu? Mengapa kau tidak menjelaskan yang sesungguhnya saja? Mengapa?"tanya Wonwoo dengan ekpresi dinginnya.

"Bukan urusanmu"jawab ayahnya singkat,tidak ingin membahas yang sudah terjadi 20 tahun yang lalu.

"Apakah kau selemah itu?"pertanyaan Wonwoo sukses mengundang emosi ayahnya.

"Aku sudah mencoba menjelaskannya,tetapi ia tidak mau mendengarkanku dan menyuruhku agar tidak bertemu lagi dengannya"jawab ayahnya tak kalah dingin.

"Dan kau menyetujuinya?"Wonwoo tertawa meremehkan.

"Aku sudah terlanjur muak kepadanya,aku sudah cukup bersabar ketika ia merebut Hye Ra dariku,dan apalagi itu? Dia menuduhku membunuhnya,apakah aku segila itu hanya untuk memisahkan mereka berdua? Ya Tuhan,aku bahkan sangat mencintai eommamu yang sekarang"jelas ayahnya. Wonwoo terlihat terdiam mendengar ucapan ayahnya.

"Ada apa? Mengapa akhir-akhir ini kau senang sekali menanyakan hal itu?"tanya ayahnya lagi.

"Kau tau Kim Mingyu bukan?"bukannya menjawab,Wonwoo malah kembali bertanya.

"Anak si Kim sialan itu? Ada apa dengannya?"

"Dia adalah kekasihku,sebenarnya saat itu aku berbohong berbicara tidak memiliki hubungan apapun dengannya."jawaban Wonwoo dapat membuat ayahnya itu seperti tersengat aliran listrik. Jeon Jin Woo sangat terkejut mendengar nama kekasih anaknya yang notabenenya adalah anak dari musuhnya.

"Aku tidak akan menyetujuinya,dan lagipula aku sudah mendapatkan jodoh untukmu"jawab ayahnya dan membuat Wonwoo melayangkan protesnya.

"Apa? Kau benar-benar menjodohkanku? Tidak,aku tidak mau,bagaimana jika kau tidak menyukainya? Sudahlah,aku ini sudah dewasa,dan aku bisa memilih sendiri,dan aku hanya mencintai Mingyu!"protes Wonwoo.

"Kau tidak akan menyesal,dan lagipula,kau sudah mengenalnya dengan sangat baik"jawaban ayahnya membuat Wonwoo mengerutkan dahinya.

"Siapa?"tanyanya singkat.

"Jisoo. Dia adalah orang yang akan aku jodohan denganmu"jawab ayahnya. Wonwoo membulatkan matanya.

"Kau gila? Bahkan aku dan Jisoo tidak saling menyukai,kita ini hanya sahabat,tidak lebih. Aku tidak mau appa!"tolak Wonwoo mentah-mentah.

"Lama kelamaan,perasaan itu akan muncul"ucap ayahnya.

"Sejak kapan kau peduli dengan hidupku? Kau tidak perlu repot mengurusnya"jawab Wonwoo.

"Aku akan tetap menjodohkan kalian berdua"paksanya.

"Dan aku tetap tidak mau"balas Wonwoo dengan penuh penekanan,kemudian ia berjalan keluar meninggalkan ayahnya.

.

.

Kedua pria paruh baya itu sedang berbincang-bincang. Kedua sahabat yang selalu bersama. Pria yang satu tampak melihat sahabatnya dengan tatapan bertanya,karena dialah yang mengajaknya bertemu.

"Ada Jeon? Aku tau kau ingin membicarakan sesuatu"ucap Jae Hyun sambal menyesap kopinya. Pria paruh baya yang masih terlihat tampan bernama Jin Woo itu menyunggingkan senyumannya.

"Kau selalu tau semuanya Hong"ucapnya masihdengan senyuman yang terpatri diwajahnya.

"Ada apa? Cepatlah,tidak biasanya kau bertele-tele"ucapnya.

"Aku ingin menjodohkan Jisoo dengan Wonwoo" Jae Hyun terbatuk,karena terlalu kaget mendengarnya.

"Bukankah Wonwoo sudah memiliki kekasih?"tanya Jae Hyun setelah ia merasa sudah baik.

"Ya,tetapi mereka akan segera putus"

"Karena anakmu berpacaran dengan Mingyu?"tanya Jae Hyun tepat sasaran.

"Seperti itulah"jawabnya.

"Ayolah,kalian akan seperti ini sampai kapan?"tanya Jae Hyun.

"Sudahlah,Jisoo tidak memiliki kekasihkan? Jika ia mempunyai seseorang,suruhlah dia putus,dan jodohkan dia dengan Wonwoo,dan aku akan memberikan Pledis untukmu"jawab Jin Woo tenang.

"Jin Woo-ah,kau tau? Cinta itu tidak bisa dipaksakan,itu hanya kana membuat anak-anak kita menderita"ucap Jae Hyun.

"Kau menolak tawaranku?"tanya Jin Woo.

"Tentu saja,karena mereka tidak saling mencintai" jawaban itu membuat Jin Woo meminum kopinya lalu kembali berbicara.

"Jika kau tidak mau,silakan cari pekerjaan lain,kau tidak usah menjadi dirut lagi,aku akan mencari ayng lebih pantas"jawab Jin Woo dan membuat Jae Hyun mengerutkan keningnya.

"Aku akan memberi kesempatan kau berfikir. Jika kau menerima perjodohan itu,aku akan memberikan Pledis kepadamu,tetapi jika tidak,aku akan memecatmu,dan memastikan kau tidak bisa bekerja dimanapun. Kau hanya tinggal memilih"ucapnya dingin. Jae Hyun menatapnya tidak percaya.

"Ini semua biar aku yang bayar" Jin Woo segera pergi setelah membayar bill-nya.

TBC

Maafkan lama update nya,lagi banyak tugas soalnya.

Makasih makasih buat yang udah baca ff author,dan terus review ya,buat yang baca,tapi gak ninggalin jejak,kasih review dong,jangan jadi sider,hehe…

RnR menetukkan jalannya ini ff…

Seperti biasa typo(s)

RnR yooo