Chap 13

Jae Hyun mengacak rambutnya frustasi. Ia tidak mau menjodohkan anaknya dengan seseorang yang tidak anaknya cintai,ia hanya ingin membahagiakan anak tunggalnya itu,tetapi disisi lain,jika ia kehilangan pekerjaannya,anak tampannya itu bisa lebih menderita lagi,apalagi Jin Woo mengancam,jika ia tidak bisa bekerja di perusahaan manapun. Jae Hyun tidak bisa berfikir jernih saat ini.

.

.

Mingyu menekan passwordnya,tetapi pintu itu tidak bisa terbuka. Mingyu mencoba mengingat-ngingat lagi password apartement itu,tetapi ia yakin passwordnya tadi sudah ia tekan dengan benar. Sepertinya hanya satu jawabannya,pemilik apartement ini sudah mengganti password apartementnya. Mingyu menghembuskan nafasnya pasrah,lalu ia memutar badannya.

"Mau apa kau disini?"tanya orang yang tiba-tiba sudah ada dihadapannya.

"A… Aku.. Aku…" Mingyu terlihat sangat gugup sekarang,dan membuat orang itu tersenyum.

"Kau ingin meminta maaf?"tanya orang itu masih dengan senyumnya. Mingyu menatap orang itu dengan gugup.

"Ya,aku ingin meminta maaf,apakah dia ada didalam?"tanya Mingyu lagi.

"Tidak,Wonwoo sedang tidak di apartementnya,ia sedang di Myeongdeong,untuk mengurus cabang kantornya disana"jawab orang tadi.

"Bisakah kau menyampaikan permintaan maafku padanya Jisoo hyung?"tanya Mingyu ragu. Jisoo kembali tersenyum hangat,senyum yang sudah lama tidak pernah Mingyu lihat.

"Kau bisa menunggunya sampai dia kembali,aku masuk dulu"ucap Jisoo,tetapi sebelum masuk,Jisoo kembali memutarkan badannya kearah Mingyu.

"Ohya,password apartement Wonwoo diganti,aku juga tidak diberi tau. Pulanglah,ini sudah mulai larut,kau harus bekerja 'calon ahli waris' " Ujar Jisoo sambil terkekeh,membuat Mingyu juga tertawa mendengarnya.

"Kau juga hyung"ucap Mingyu.

"Baiklah,aku masuk dulu"ujar Jisoo lalu masuk kedalam apartementnya.

Mingyu menatap sebentar kearah apartement Wonwoo,lalu segera pergi dari sana. Mingyu tidak sabar ingin bertemu Wonwoo,ia ingin segera menyampaikan maafnya kepada Wonwoo. Menurut Mingyu, Wonwoo tidak akan mungkin semudah itu memaafkannya, bahkan jika mulut Wonwoo berbicara untuk memaafkannya, tetapi mungkin hati Wonwoo tidak bisa memaafkan Mingyu seutuhnya,dan mungkin perasaan Wonwoo juga tidak akan pernah kembali lagi padanya,Mingyu mungkin bisa menerima itu,tetapi entahlah dengan hatinya.

Mingyu pulang kerumahnya saat jam makan malam. Mingyu memang tidak tinggal di apartementnya lagi,ia lebih memilih untuk kembali kerumahnya. Mingyu disambut hangat oleh ayahnya yang sudah menunggunya.

"Kau sudah pulang ternyata,ayo kita makan malam"ajak ayahnya. Mingyu tidak menolaknya,ia segera duduk dihadapan ayahnya itu.

"Bagaimana perkejaanmu? Kau sudah mulai terbiasa kan?" tanya ayahnya dengan santai.

"Begitulah"jawab Mingyu singkat.

"Kau pasti sangat lelah karena pekerjaanmu sangat banyak"Kim Min Woo terseyum hangat kepada anaknya itu,tetapi Mingyu malah menatapnya datar.

"Karena kerja kerasmu,aku akan memberikanmu hadiah"Mingyu sedikit tertarik mendengar kata 'hadiah'.

"Apa itu?"tanyanya.

"Aku sudah memiliki jodoh untukmu"ungkap ayahnya dan membuat Mingyu menyimpan garpu dan pisaunya.

"Bisakah ayah tidak megurus hidupku? Tidak cukupkah aku bekerja untuk ayah?"ucap Mingyu dingin.

"Bagaimana aku tidak bisa tidak mengurus hidupmu? Kau anakku Mingyu"jawab ayahnya.

"Anak? Kau sadar? Kau baru memperhatikanku sekarang,saat aku sudah bisa menghasilkan uang untukmu. Aku pikir kau lupa jika kau mempunyai seorang anak"ucap Mingyu sarkatis.

"Jaga ucapanmu Kim"ujar Min Woo mencoba untuk tenang.

"Apakah kau pernah menjaga ucapanmu kepadaku?"Mingyu tertawa meremehkan.

"Sudah kubilang,kau tidak usah bergaul dengan anak pembunuh itu,kau-"

"Siapa pembunuh? Siapa? Jeon Jin Woo?"Mingyu menatap ayahnya dengan tajam.

"Dengar appa,aku akan menjalankan semua perintahmu,kecuali satu,aku tidak akan pernah menerima perjodohan itu,meskipun kau akan memecatku sebagai calon CEO perusahaan tersayangmu itu"tambah Mingyu lalu segera bergegas menuju kamarnya. Kim Min Woo,mengepalkan tangannya,lalu segera menelpon seseorang.

.

.

Jari Jisoo terus membuka lembaran kertas yang sedang ia pegang saat ini. Jisoo terlihat sangat tampan dengan kacamata berbingkai hitam yang bertengger dibatang hidungnya itu. Jisoo tersenyum puas ketika melihat sebuah tanda tangan dimaterai proposal yang sedang ia pegang. Jisoo sangat senang ketika permintaannya untuk bekerja sama dengan sebuah perusahaan terkenal di Cheongdamdong itu diterima. Jisoo kembali menyimpan berkas-berkasnya saat seorang pria paruh baya memasuki ruangan itu. Jisoo melepas kacamatanya,lalu tersenyum kepada pria tersebut.

"Ada apa appa?"tanya Jisoo. Lelaki dihadapannya itu tersenyum. Sepertinya senyum menawan milik Jisoo itu turun dari ayahnya,yang juga saat ini sedang tersenyum dan membuat wajahnya itu terlihat sangat tampan,meski sudah memasuki kepala lima.

"Apakah pekerjaanmu sudah selesai?"tanya ayahnya.

"Memangnya kenapa appa?"Jisoo balik bertanya.

"Appa ingin makan siang bersamamu,bisakah?"tawar ayahnya,membuat namja tampan yang notabene nya adalah anaknya itu tersenyum.

"Tentu saja appa,aku pasti mau melakukan apapun untukmu"ucap Jisoo lalu segera merangkul ayahnya itu.

Kedua anak dan ayah itu duduk disebuah ruangan VIP,yang juga restoran itu adalah milik Pledis.

"Appa,sepertinya kita akan mendapatkan keuntungan yang besar"ujar Jisoo sambil memotong steak nya.

"Benarkah? Memangnya kenapa?"tanya ayahnya bingung.

"Kau tau kan jika perusahaan kita kemarin mengajukan permintaan bekerja sama dengan sebuah perusahaan di daerah Cheongdamdong?"ucap Jisoo lagi,dan ayahnya itu hanya mengangguk.

"Mereka,setuju dengan kontrak kerja kita appa,aku sangat senang,aku harus segera memberitau kepada Jeon ahjussi"ucap Jisoo lalu mengeluarkan ponselnya,tetapi ayahnya langsung mengambil ponselnya dengan lembut,membuat Jisoo menautkan kedua alisnya.

"Ada apa? Bukannya kita harus segera memberitaunya?"tanya Jisoo.

"Ya,kau benar juga"ayahnya segera memberikan kembali ponselnya.

Jisoo yang aneh,hanya tersenyum,lalu menelpon ayah dari sahabatnya,Jeon Jin Woo. Jisoo memang sudah mengenal dengan sangat baik ayah Wonwoo,karena persahabatan mereka dan juga kedua orang tuanya dari kecil.

"Oh ya appa,kau tau? Setelah aku meneritakan semuanya kepada Mingyu,ia langsung mencari Wonwoo untuk meminta maaf. Coba saja Min Woo ahjussi,seperti Mingyu juga,pasti tidak akan serumit ini masalahnya"ungkap Jisoo.

"Min Woo memang keras kepala,begitu juga dengan Jin Woo"ucap Jae Hyun.

"Kau tidak berusaha untuk membuat mereka kembali berteman? Padahal kalian bertiga dulu sangat dekat"tanya Jisoo. Hong Jae Hyun hanya membuang nafasnya pasrah.

"Aku sudah menanyakannya berkali-kali kepada Jin Woo,tetapi ia selalu menolaknya,dan mengalihkannya pada topik yang lain"jawab ayahnya itu.

"Lalu,kau tidak mencoba untuk menemui Min Woo ahjussi?"Jisoo kembali bertanya.

"Bahkan ia tidak mau melihatku saat kita tidak sengaja bertemu"Jae Hyun kembali menarik nafasnya dan membuangnya secara kasar.

"Aku yakin mereka akan kembali berteman,karena sepertinya Mingyu dan Wonwoo akan kembali bersama"ucap Jisoo sambil tersenyum.

"Bagaimana dengan hubungan mereka setelah keduanya mengetahui rahasia terbesar masing-masing?"tanya Jae Hyun pada anaknya itu.

"Mereka bertengkar hebat,karena Mingyu menuduh Jin Woo ahjussi sebagai pembunuh ibunya,tetapi setelah aku menceritakan semuanya kepada Mingyu kemarin,ia mencoba untuk menemui Wonwoo untuk meminta maaf. Mereka benar-benar pasangan yang cocok"ucapan Jisoo itu membuat ayahnya terdiam. Jae Hyun kembali mengingat kata-kata sahabatnya itu.

"Appa,ada apa?"tanya Jisoo setelah menelan potongan terakhir steak nya. Ayahnya menolehkan kepalanya,lalu tersenyum.

"Tidak apa-apa. Biar ini semua appa yang bayar,karena kau telah sukses membuat perusahaan itu bekerja sama dengan kita"ucap ayahnya dan dibalas oleh tawa dari bibir Jisoo.

.

.

Wonwoo meregangkan badannya ketika ia sudah sampai di Seoul. Wonwoo sudah menelpon Jisoo untuk menjemputnya,karena supir pribadinya,tidak bisa datang. Wonwoo duduk sebentar dikursi sambil meminum minuman kalengnya. Wonwoo tersenyum ketika seseorang mebawakan kopernya. Tetapi ia merasa aneh kepada Jisoo yang terus membelakanginya.

"Hong!" Ucap Wonwoo. Sedetik kemudian,ia merebut kembali koper yang tadi dibawa oleh orang itu.

"Mengapa kau disini?"tanya Wonwoo dingin.

"Aku… Jisoo hyung menyuruhku untuk menjemputmu,karena ia ada meeting tiba-tiba dengan klien barunya di Cheongdamdong"jawab orang itu gugup.

"Aku bisa pulang sendiri"ucap Wonwoo lalu menarik kopernya,tetapi orang itu malah mencekal lengan Wonwoo.

"Aku sedang tidak ingin bertengkar Kim,ini tempat umum"ujar Wonwoo menahan emosinya,tetapi Mingyu sama sekali tidak melepas cengkramannya,dan malah menarik Wonwoo untuk masuk kedalam mobilnya.

"Kau ini! Apa maumu?"teriak Wonwoo ketika sudah didalam mobil Mingyu.

"Aku… Aku ingin meminta maaf padamu hyung,aku sudah tau semuanya,dan aku sangat menyesal telah menuduh ayahmu"nada yang Mingyu keluarkan,penuh dengan kata-kata penyesalan,tetapi Wonwoo tidak merasakan penyesalan itu dari perkataan Mingyu. Wonwoo hanya tersenyum meremehkan.

"Kau menyesal? Kau bilang kau menyesal,setelah membuat hati dan hidupku hancur? Yak! Kau tau bagaimana stresnya aku memikirkan,bagaimana jika ayahku benar-benar seorang pembunuh? Kau tau itu? Bahkan aku ingin sekali mati saat mendengar hal menjijikkan itu"Wonwoo masih bisa menahan emosinya.

"Aku tau,maka dari itu,aku meminta maaf padamu hyung,aku benar-benar menyesal"ucap Mingyu. Wonwoo kembali tertawa meremehkan.

"Kau fikir semudah itu memaafkan orang yang telah menuduh ayahku seorang pembunuh?"ucap Wonwoo dingin.

"Aku tidak peduli jika kau membenciku dan kau tidak mau memaafkanku,aku hanya ingin meminta maaf kepadamu,walaupun aku tau,hatimu tidak akan kembali seperti dulu" Wonwoo menatap tajam kepada mata Mingyu yang juga sedang menatap matanya. Wonwoo bisa merasakan ketulusan dari tatapan Mingyu itu.

'Siapa bilang hatiku tidak akan kembali? Bahkan aku sangat ingin kembali padamu bodoh'batin Wonwoo.

"Hyung,terserah kau mau memaafkanku atau tidak,aku ingin meminta maaf padamu,aku mengakui jika aku memang bersalah,dan juga aku meminta maaf atas nama ayahku juga"mendengar kata 'ayah' yang dimaksud oleh Mingyu,hati Wonwoo kembali memanas

"Aku tidak akan memaafkanmu Kim! Aku membencimu!" saat Wonwoo akan keluar dari mobil itu,Mingyu segera menarik Wonwoo kedalam pelukannya.

"Maafkan aku hyung"isak Mingyu. Wonwoo terkejut ketika mendengar isakan dari bibir Mingyu.

"Kau menangis?"tanya Wonwoo.

"Aku tau,kau pasti membenciku,dan aku sudah memikirkan hal itu,tetapi hyung,aku merasa dadaku sangat sesak ketika aku memikirkan jika kau akan membenciku,dan sekarang kau benar-benar membenciku,aku merasa aku akan mati kehilangan nafasku"ucap Mingyu membuat Wonwoo iba. Wonwoo hanya terdiam,ia tidak membalas pelukan Mingyu. Sejujurnya,namja kurus itu,ingin sekali membalas pelukan hangat yang selama ini rindukan,hanya saja,perasaan bencinya itu terlalu mendominasi saat ini,dan ia hanya membiarkan Mingyu yang memeluknya.

Wonwoo menutup pintu mobil itu,dan ia segera masuk kedalam apatementnya tanpa mengucapkan terimakasih. Mingyu segera mengejar Wonwoo,dan kembali memeluknya dari belakang.

"Sudahlah,ini tempat umum"Wonwoo segera melepaskan pelukan Mingyu dengan kasar.

"Aku minta maaf hyung"ucap Mingyu,tetapi Wonwoo tidak menghiraukannya,dan segera masuk kedalam apartementnya. Mingyu masih terdiam ditempatnya sambil melihat Wonwoo masuk kedalam. Mingyu segera kembali ke kantornya untuk bekerja.

.

.

"Kau sudah memberi tau kepada Jisoo tentang perjodohannya dengan Wonwoo?"tanya Jin Woo sambil memakan gogigui miliknya.

"Aku yakin Jisoo akan menolak"jawab Jae Hyun.

"Kau tidak memaksanya?" Jin Woo terlihat begitu tenang,namun Jae Hyun tau jika sebenarnya sahabatnya ini sedang menahan emosinya.

"Aku benar-benar tidak bias Jin Woo-ah,lagipula mereka tidak saling mencintai,kau tidak kasian kepada anakmu?"ucap Jae Hyun.

"Justru aku kasian kepada anakmu,karena sebentar lagi ayahnya tidak bisa bekerja dimanapun dan akan menjadi pengangguran selamanya,begitu pula dengan anaknya,bukankah kau lebih menyedihkan?" Jin Woo bertanya dengan nada datar tetapi wajahnya masih tetap tersenyum. Jae Hyun benar-benar dibuat frustasi oleh sahabatnya. Ia sangat menyayangi sahabatnya itu,tetapi ia tidak mau membuat anaknya sengsara karena perjodohan ini.

"Masih ada waktu untuk kau dan Jisoo,aku akan selalu menunggu"Jin Woo kembali tersenyum,membuat Jae Hyun mengambil nafasnya dan membuangnya dengan kasar.

"Akan aku pikirkan nanti"Jae Hyun segera pergi dari kafe itu,meninggalkan sahabatnya yang sedang tersenyum licik.

"Uang memang tidak bisa ditentang"monolog Jin Woo dengan senyum liciknya.

Wonwoo ingin sekali memaki Jisoo,karena ia tau jika Jisoo berbohong untuk pergi ke Cheongdamdong. Tetapi,ia salah. Jisoo benar-benar pergi ke Cheongdamdong untuk membicarakan proyek baru perusahaannya. Wonwoo melamun sambil merasakan udara Seoul dimalam hari. Membiarkan rambut hitamnya itu jatuh sampai menutupi sebagian matanya. Wonwoo kembali mengingat ribuan ungkapan 'maaf' yang tadi Mingyu ucapkan dengan sebuah isakan dari bibirnya. Wonwoo memang sangat ingin kembali kepada namja tinggi itu,tetapi hatinya masih terasa nyeri,ketika ia mengingat ucapan Mingyu tentang ayahnya. Sejujurnya,Wonwoo sekarang merasa dilema. Disisi lain,ia menyayangi Mingyu,tetapi sisi lain dirinya mengatakan,jika ia membenci Mingyu,dan entah perasaan mana yang lebih mendominasi. Tidak,tidak seperti minggu lalu,ketika perasaan benci Wonwoo lebih mendominasi mendengar ungkapan maaf yang sangat tulus dari Mingyu,perasaan benci dan sayang itu terbagi menjadi dua dalam hatinya. Ia bisa merasakan jika Mingyu meminta maaf dengan sangat tulus ketika ia menatap onyx Mingyu,ketika pria tampan itu mengeluarkan sebah isakan yang tidak pernah ia dengar sebelumnya. Wonwoo meminum teh yang ada ditangannya.

"Aku merindukanmu Kim" entah mengapa,Kristal bening itu jatuh dari pelupuk mata Wonwoo. Namja kurus itu benar-benar merindukan sosok yang selama ini ia cintai,tetapi karena penghinaan yang Mingyu berikan kepada ayahnya,membuatnya mengurungkan kata itu keluar dari bibir pink miliknya.

Wonwoo terlonjak kaget ketika melihat namja dengan coat berwarna light brown itu sudah berdiri didepan apartementnya. Wonwoo menatap orang dihadapannya dengan tatapan datarnya. Ia sama sekali tidak berniat untuk menyapanya.

"Kau akan berangkat kerja hyung?"Tanya pria itu sambil tersenyum canggung,tetapi Wonwoo hanya menatapnya datar.

"Baiklah,aku tau kau masih marah,tapi setidaknya,jangan membenciku,itu membuat dadaku sesak"ucapan itu mendapat tawa meremehkan dari Wonwoo.

"Dengar Kim Mingyu-ssi yang terhomat,apa peduliku dengan perasaanmu itu? Maaf,aku harus pergi bekerja"ucap Wonwoo dengan bahasa formal. Wonwoo segera berjalan melewati Mingyu yang sedang menghembuskan nafasnya pasrah.

Bukan Mingyu,jika ia menyerah begitu saja. Namja berambut silver itu mengikuti namja manis yang selama ini masih singgah dihatinya. Meskipun,ia akan mendapat penolakan lagi,dan mendapat ribuan kata yang dapat menusuk jantugnya,ia tidak peduli,karena ia hanya ingin namja manis itu berhenti membencinya,dan kembali padanya. Egois memang mengingat Mingyu pernah menuduh ayah Wonwoo sebagai pembunuh,tetapi kenyataannya memang seperti itu. Namja tinggi itu benar-benar menginginkan Wonwoo kembali dalam dekapannya,meskipun sangat kecil kemungkinannya,tetapi masih ada kesempatan untuknya,walaupun kesempatan itu bisa diumpamakan satu berbanding dengan seratus. Tetapi,Mingyu berfikir terlalu jauh. Jika ia mengetahui yang sebenarnya,mungkin kemungkinan ia kembali kepada namja manis itu bisa mencapai limapuluh berbanding dengan seratus. Meskipun,hanya setengahnya,tetapi angka limapuluh itu tidak terlalu buru jika dibandingkan dengan angka satu.

"Berhenti mengikutiku,Kim-ssi. Kau juga harus segera pergi berkantor,untuk perusahaanmu itu,agar persaingannya lebih seru"ujar Wonwoo sambil tersenyum. Meskipun mingyu tau jika senyum itu hanyalah sebuah senyum yang dibuat-buat,tetapi hati Mingyu sangat senang bisa melihatnya,ia merasa ribuan kupu-kupu beterbangan di perutnya. Mingyu ikut tersenyum,tetapi berbeda dengan Wonwoo,senyum Mingyu adalah senyum yang sangat tulus.

"Ternyata kau masih memperhatikanku"ucapnya dan membuat Wonwoo mengernyitkan dahinya.

"Baiklah,aku akan bekerja,dan segera membeli rumah untuk aku dan kau nanti,tunggu saja"ucap Mingyu sambil tersenyum lalu segera pergi meninggalkan Wonwoo yang diam-diam tersipu mendengarnya.

.

.

"Maafkan aku,karena kemarin ada meeting mendadak"Jisoo segera meminta maaf ketika ia tau tujuan Wonwoo mengajaknya bertemu disebuah kafe. Wonwoo hanya memutarkan kedua bola mataya malas.

"Sudahlah lupakan"ucap Wonwoo lalu meminum green tea latte pesanannya.

"Bagaimana? Apakah Mingyu mengucapkan sesuatu?" Jisoo justru mengabaikan Wonwoo yang menatapnya dengan datar.

"Kau ini sengaja atau tidak membuat Mingyu menjemputku?"tanyanya datar.

"Aku tidak berbohong Jeon Wonwoo,aku benar-benar memiliki meeting dadakan"jawab Jisoo.

"Dia meminta maaf padaku"jawab Wonwoo lalu kembali menyeruput minumannya.

"Tidak ada lagi yang lain?"tanyanya lagi. Wonwoo berdecak kesal menanggapi pertanyaan sahabatnya ini.

"Tidak,kau fikir dia akan membicarakan apalagi?"Wonwoo menatap sahabat tampannya datar.

"Siapa tau,Mingyu mengajakmu kembali"

'Uhuk' Wonwoo terbatuk saat mendengar ucapan Jisoo,sementara namja tampan dihadapannya itu tertawa geli melihat sahabatnya tersedak.

"Kau senang melihatku seperti ini? Bagaimana jika aku mati karena tersedak?"ujar Wonwoo ketus .

"Jujurlah,jika kau juga menginginkan hal itu"goda Jisoo dan mendapat jitakan dikepalanya.

"Kau tau? Perlu waktu limabelas menit untuk membuat rambutku seperti ini"ujar Jisoo sambil merapikan rambut coklat kemerahannya itu. Wonwoo tertawa ketika mendengar ucapan Jisoo.

"Lukamu sudah sembuh?"setelah selesai merapikan rambutnya,Jisoo kembali bertanya ketika melihat luka diujung bibir Wonwoo sudah menghilang.

"Seperti yang kau lihat"jawabnya.

"Ternyata bibirku ini mempunyai fungsi penyembuh yang sangat baik"kekeh Jisoo,dan membuat Wonwoo kembali melayangkan jitakannya.

"Semenjak kau putus dengan Mingyu,kau lebih garang lagi. Sepertinya aku harus membuat kalian berdua kembali"ucap Jisoo dan membuat Wonwoo mendelik kearahnya.

"Kalian sedang berkencan?"Tanya seseorang yang baru saja dating dengan senyumnya.

"Appa?"ucap Jisoo dan Wonwoo bersamaan karena disana ada Jae Hyun dan juga Jin Woo.

"Sedang apa kalian disini?"Tanya Jisoo sambil menarik bangku untuk ayahnya begitu juga dengan Wonwoo.

"Aku dan Jae Hyun bertemu untuk membicarakan bisnis kita"jawab ayah Wonwoo sambil tersenyum.

"Kalian berdua sedang apa disini?" Tanya ayah Jisoo.

"Kalian berkencan?"belum Jisoo dan Wonwoo menjawab,tetapi Jin Woo sudah langsung bertanya lagi. Wonwoo yang sudah mengetahui rencana perjodohannya itu segera menatap ayahnya tajam,sedangkan Jae Hyun menatapnya datar. Berbeda dengan Jisoo yang tidak mengetahui apapun,ia hanya tersenyum mendengarnya.

"Seperti yang ahjussi lihat"jawab Jisoo yang memang tidak mengetahui apapun.

"Jadi ayahmu sudah memberitau perjodohan kalian berdua?"pertanyaan Jin Woo itu terlalu tiba-tiba untuk Jisoo,dan membuat Jisoo mengerutkan keningnya.

"Maaf,maksud ahjussi?"Tanya Jisoo kembali.

"Iya,aku dan ayahmu mempunyai rencana untuk menjodohkan kalian berdua"jawab Jin Woo santai,tanpa mempedulikan tatapan tajam dari anak dan sahabatnya.

"Appa tidak memberitau apapun padaku"ucap Jisoo yang masih bingung.

"Baiklah,aku akan menjelaskannya. Karena kau dan Wonwoo sangat dekat,dan aku juga dekat dengan ayahmu,jadi aku dan ayahmu mempunyai inisiatif untuk menjodohkan kalian berdua,kau tidak keberatankan?"tawar Jin Woo setelah menjelskan semuanya. Jisoo tertawa,menganggap ucapan sahabat ayahnya itu hanya guyonan saja.

"Ahjussi becanda? Tetapi,itu cukup lucu ahjussi"ucap Jisoo sambil tertawa.

"Tidak,aku tidak becanda Jisoo"ujar ayah Wonwoo dan membuat Jisoo menghentikan tawanya,lalu menatap ayah Wonwoo.

"Ja.. Jadi,kalia berdua benar-benar akan menjodohkan kita berdua?"Tanya Jisoo dan dibalas anggukan oleh Jin Woo.

"Ah… Ahjussi… Aku dan Wonwoo hanya sahabat,tidak lebih"ucap Jisoo.

"Tetapi sepertinya da sesuatu yang lebih diantara persahabatan kalian"ucap Jin Woo. Wonwoo yang sedari tadi diam,kini mulai memberontak.

"Appa! Sudahlah,aku dan Jisoo hanya sahabat! Tidak lebih! Mengapa kau ini sangat bersikeras untuk menjodohkan kami? Itu semua percuma appa! Kita berdua saling menyayangi sebagai sahabat,tidak ada perasaan khusus diantara kita!"geram Wonwoo,tetapi ayahnya itu hanya tersenyum.

"Mengapa kalian tidak mencoba dulu? Lagipula,kalian sangat cocok"ujar Jin Woo tenang.

"Jin Woo-ah,bisa kau berhenti memaksakan kehendak Wonwoo dan Jisoo? Kau tega melihat anak kita sengsara karena mereka tidak saling mencintai?"Jae Hyun juga mulai membantah ucapan sahabatnya. Tetapi Jin Woo hanya menatapnya sambil tersenyum. Jae Hyun tau arti dari senyuman itu. Senyum yang mengancam jabatan dan pekerjaannya.

"Ahjussi,Wonwoo dan appaku benar,aku dan Wonwoo tidak saling mencintai,perasaanku dan Wonwoo hanya untuk seorang sahabat"Jisoo ayng sedari tadi diam,kini mulai angkat bicara. Jin Woo hanya menganggukkan kepalanya.

"Terserah saja,aku hanya ingin melihat kalian 'bahagia' " ucap Jin Woo sambil menekankan dikata terakhir.

"Aku bahagia bersahabat dengan Wonwoo ahjussi" Jisoo tidak mengerti dengan apa yang dimaksud dengan kata 'bahagia' yang dimaksudkan oleh seorang Jeon Jin Woo begitu pula dengan Wonwoo. Setelah itu,Jin Woo segera meninggalkan mereka bertiga,dan Wonwoo menyusul ayahnya.

Kini hanya Jisoo dan ayahnya yang tersisa disana. Mereka berdua saling berdiam diri setelah kepergian dari Jin Woo dan Wonwoo. Jisoo merasa bingung dengan keadaan ini. Apa maksud dari Jin Woo ahjussi untuk menjodohkannya dengan Wonwoo.

"Aku yakin,appa kemarin bertemu denganku untuk membicarakan hal ini"ujar Jisoo akhirnya.

"Maafkan appa Jisoo"lirih ayahnya.

"Tidak apa-apa,aku bisa mengerti appa"ujar Jisoo sambil tersenyum.

"Menikahlah dengan Wonwoo" senyuman Jisoo luntur seketika.

"Ma… Maksud appa?"Tanya Jisoo.

"Menikahlah dengannya,apakah kurang jelas?"ujar ayahnya lagi.

"Tidak appa,kau sendiri tau jika kau dan Wonwoo hanya sahabat,bahkan kau tadi membelaku"tolak Jisoo.

"Baiklah,aku akan kembali kepada Jin Woo,dan menarik ucapanku,jika aku menyetujui perjodohan kalian"ucap appanya ,dan membuat Jisoo kaget dengan perubahan sikap ayahnya yang tiba-tiba.

"Appa,ada apa dengan kau?"Tanya Jisoo.

"Ada apa denganku?"ayahnya kembali bertanya.

"Tidak,aku tidak akan menikah dengannya sampai kapanpun. Lagipula,kita tidak akan bahagia,karena kita tidak saling mencintai"ucap Jisoo.

"Aku tidak peduli dengan perasaan kalian,yang penting kalian harus menikah" Jisoo menjatuhkan rahangnya. Apakah ini ayahnya? Jisoo merasa tidak mengenali ayahnya. Kemana sikap ayahnya yanghangat dan selalu tersenyum itu? Kemana ayahnya yang selalu memperhatikannya? Jisoo benar-benar tidak habis pikir dengan ayahnya yang kini berubah pikiran dengan sangat cepat.

"Appa-"

"Ini semua demi jabatanku,jadi menikahlah" belum sempat Jisoo berucap,ayahnya sudah memotongnya,lalu segera pergi mennggalkan Jisoo yang frustasi.

TBC…

Maaf ya chap ini gak terlalu greget,soalnya author disibukkan dengan tugas yang melimpah. Maaf juga kurang banyak meanie momentnya.

Keep RnR^^

Don't be silent reader…