Chap 14
Jisoo tidak habis fikir dengan ayahnya yang lebih mementingkan jabatannya dibandingkan dengan kebahagiaannya,kebahagiaan anaknya sendiri. Jisoo tidak bisa berkonsentrasi bekerja saat ini,untungnya asistennya bisa menggantikannya meeting,jadi Jisoo tidak akan melakukan kesalahan saat presentasi nanti.
Jisoo yang masih frustasi,segera menelpon Mingyu. Jisoo ingin hubungan Mingyu dan Wonwoo kembali terjalin,karena menurutnya,dengan kembalinya pasangan itu,akan membuat ayahnya mengurungkan niatnya untuk menjodohkan Jisoo dengan sahabatnya sendiri.
Mingyu tersenyum saat melihat Jisoo yang sedang menunggunya. Mingyu sedikit bingung melihat hyugnya yang selalu tersenyum itu,terlihat murung dan tidak bersemangat,bahkan Jisoo tidak menyadari jika pria tampan itu sudah berada dihadapannya.
"Hyung,ada apa?"Tanya Mingyu dan membuat Jisoo terlonjak kaget. Mingyu mengerutkan dahinya,tidak biasanya Jisoo sekaget itu,Mingyu yakin jika Jisoo sedang memikirkan suatu hal yang membuatnya stress.
"Kapan kau datang?"Tanya Jisoo kembali pada mode kalemnya.
"Baru saja. Kau melamunkan apa hyung?"Tanya Mingyu penasaran. Mendengar pertanyaan Mingyu,pria kalem itu langsung memperlihatkan senyumannya.
"Bagaimana kemarin?"Tanya Jisoo masih tersenyum,tetapi Mingyu lah yang terlihat sedih sekarang.
"Ia sepertinya tidak akan memaafkanku hyung. Aku tau Wonwoo hyung pasti masih kesal padaku,bukan masih,tapi mungkin selamanya akan tetap begitu"jawab Mingyu murung. Mendengarnya,Jisoo justru tersenyum semakin lebar.
"Sepertinya aku tidak sejalan dengan fikiran pendekmu itu"kekeh Jisoo dan membuat Mingyu mengangkat kedua alisnya.
"Hyung,kau barusan menghina fikiranku pendek?" Jisoo tertawa mendengar pertanyaan pria yang dua tahun lebih muda darinya itu.
"Mungkin,tapi asal kau tau saja jika Wonwoo berharap bisa kembali kepadamu"jawaban Jisoo itu membuat secercah cahaya dihati Mingyu yang selama ini ditutupi oleh awan kelabu.
"Benarkah hyung?"mata Mingyu berbinar-binar menatap Jisoo. Hatinya benar-benar bahagia mendengar pernyataan Jisoo tadi.
"Tidak,aku berbohong"ucap Jisoo datar,tetapi itu malah membuat Mingyu semakin senang.
"Hyung,kau membuat Bungan dihatiku kembali mekar,dan membuat ribuan kupu-kupu beterbangan diperutku,aku sangat senang" Jisoo menatap Mingyu yang bahagia itu dengan ngeri.
"Sejak kapan kau menjadi puitis seperti itu?"Jisoo masih menatap Mingyu yang masih memperlihatkan senyum bertaringnya.
"Entahlah,yang pasti Wonwoo hyung yang membuatku seperti ini"jawaban itu membuat Jisoo tertawa melihat kelakuan Mingyu yang seperti anak kecil.
"Segeralah bertemu lagi dengannya,minta maaf dengan sungguh-sungguh,dan jangan membuatnya kecewa lagi,Wonwoo bukan tipe orang yang akan mentolerir kesalahan orang lebih dari dua kali. Jika kau bersungguh-sungguh meminta maaf padanya,hati beku milik Wonwoo mungkin akan kembali menghangat. Percayalah padaku"nasihat Jisoo kepada Mingyu.
"Tentu saja aku percaya padamu hyung"balas Mingyu senang.
"Kau tidak marah lagi padaku?"canda Jisoo.
"Marah?"Mingyu mengerutkan keningnya.
"Tidak perlu berpura-pura. Kau tau darimana jika Wonwoo pernah menyukaiku?"Tanya Jisoo sambil meminum Americano miliknya.
"Aku yakin Wonwoo hyung sudah menceritakannya,tapi jika kau ingin mengetahui dariku,baiklah" Mingyu mengambil nafasnya sejenak.
"Seperti yang Wonwoo hyung katakan,aku mengetahuinya saat Wonwoo hyung mabuk,karena dia tidak kuat minum,ia mabuk dengan mudahnya,dan menceritakan semuanya kepadaku"jawab Mingyu. Jika sebelumnya,Mingyu membenci mengingat hal itu,sekarang Mingyu menceritakannya sambil tersenyum kepada Jisoo.
"Maafkan aku,karena aku kira Wonwoo mencintaimu saat pertama kali kalian bertemu"ucap Jisoo dan dibalas senyuman oleh Mingyu.
"Hyung,aku memberitau soal hubunganku dengan Wonwoo,aku bilang jika aku dan Wonwoo berpacaran pada ayahku"Jisoo tetap mendengarkan Mingyu dengan baik.
"Tapi,ayahku menolak hubungan itu,dan aku akan dihodohkan dengan orang lain" Jisoo membulatkan matanya.
"K… Kau dijodohkan?" pertanyaannya dibalas oleh anggukan dari Mingyu.
"Kau menerimanya?"Tanya Jisoo penasaran.
"Tentu saja tidak. Yang benar saja,aku masih mencintai Wonwoo hyung,dan selamanya akan begitu hyung"pernyataannya itu membuat Jisoo geli mendengarnya.
"Lalu bagaimana dengan perintah ayahmu? Apakah ayahmu marah karena aku menolak perjodohan itu?"Tanya Jisoo lagi.
"Ya,dia marah,itu sudah pasti. Dia tidak ingin aku berurusan dengan orang yang dia anggap sebagai pembunuh eomma. Aku tidak habis fikir kepada appa,mengapa dia masih berfikiran seperti itu"ujar Mingyu sambil menopang dagunya memakai tangan kanan.
"Pasti hubungan kalian akan sangat ditentang,karena Wonwoo juga sudah dijodohkan"ungkap Jisoo dan sukses membuat Mingyu melepaskan topangan dagunya dan menatap Jisoo dengan wajah serius sekaligus kaget.
"Dengan siapa? Siapa orang itu? Apakah dia lebih baik dariku?"Tanya Mingyu penasaran tetapi Jisoo hanya tersenyum.
"Siapapun orangnya,kau dan Wonwoo harus bisa mempertahankan hubungan kalian,itu yang paling penting"nasihat Jisoo.
"Tentu saja,tapi Wonwoo hyung belum memaafkanku,bagaimana?"ucap Mingyu murung.
"Minta maaflah sekarang,aku pergi dulu"ucap Jisoo lalu pergi dengan senyum yang mengembang diwajahnya ketika seseorang datang.
Mingyu membola melihat orang yang datang,dan orang yang baru datang itu juga mematungmelihat Mingyu,lalu berusaha membuat Jisoo tidak pergi. Mingyu merapikan penampilannya agar terlihat lebih baik lagi. Orang itu berhasil membujuk Jisoo agar tidak pergi meninggalkan mereka berdua saja.
"Mengapa kau menyuruhku datang kesini jika kau sendiri pergi saat aku datang" ujar orang itu datar.
"Aku kan ingin mempertemukan kalian berdua,jadi aku pergi"jawab Jisoo tak kalah datar. Mingyu hanya terdiam melihat kedua orangdihadapannya.
"Ah… Mingyu-ssi,apa kabar?"Tanya orang itu canggung.
"A… Aku baik,bagaimana kau sendiri Wonwoo hyung?"Tanya Mingyu samba menggaruk tengkuknya.
"Eiii tidak usah cangguung seperti itu,biasanya juga kalian bertengkar kan"ucap Jisoo sambil menyedot blue lagoon miliknya,dan endapatkan death glare dari kedua orang itu.
"Sudahlah aku harus pergi"ucap Jisoo lgi dan ditahan oleh Wonwoo dan Mingyu.
"A… Aniyo,aku juga akan pergi jika kau pergi"ucap Wonwoo sambil menahan tangan Jisoo.
"Baiklah,baiklah. Mingy-ah,cepat katakana apa yang ingin kau katakana"ucap Jisoo.
"Mwo? Aku ingin mengucapkan apa?"Tanya Mingyu bingung.
"Yang tadi kau ucapkan padaku"jawab Jisoo.
"Apa yang kuucapkan padamu?" Mingyu benar-benar dibuat bingung oleh Jisoo.
"Aih,terjadi discomunication"ucap Jisoo dengan bahasa inggrisnya.
"Kau bilang ingin Wonwoo memaafkanmu kan? Kau tidak ingin melakukannya sekarang?"ucap Jisoo dan membuat Mingyu gugup,sedangkan Wonwoo menatap kearah Mingyu datar.
"Hyung" panggilan Mingyu itu membuat Jisoo dan Wonwoo membalikkan kepalanya.
"Kau memanggil siapa?"tany Wonwoo.
"Tentu saja kau"jawab Mingyu.
"Aku tidak dibutuhkan"ujar Jisoo dan mendapat tatapan datar dari Mingyu.
"Wonwoo hyung,aku ingin meminta maaf,aku benar-benar menyesal telah menuduhmu dan ayahmu. Seharusnya,aku mendengarkanmu dulu,aku tidak seharusnya egois seperti ini. Aku benar-benar minta maaf,tolong maafkan aku,aku benar-benar merasa akan gila setiap memikirkan hal ini"ungkap Mingyu sambil memegang tangan Wonwoo,sedangkan Jisoo,ia pergi ke toilet,karena ia tidak ingin menjadi obat nyamuk diantara mereka.
"Aku sudah memaafkanmu"jawab Wonwoo singkat,Mingyu terlihat sangat senang dengan ucapan Wonwoo tadi.
"Benarkah hyung?"Tanya Mingyu lagi,kemudian Wonwoo menghela nafasnya.
"Seharusnya kau dulu mencari tau dulu faktanya bukan menuduh orang seperti itu,sampai kita bertengkar hebat dan dilihat oleh orang banyak. Kau tau kan jika aku benar-benar stress saat aku mendengar jika appaku membunuh orang lain,aku serasa dunia ini terhenti. Aku juga selalu mencoba untuk tidak memikirkan hal itu,tapi aku tidak bisa,karena itu menyangkut appaku,aku tidak bisa tidak memikirkannya,itu sungguh membuatku gila hanya untuk memikirkannya saja"ungkap Wonwoo. Namja manis itu terlihat berkaca-kaca jika mengingat semua kejadian itu semua. Perasaan bersalah kembali menjalar dihati Mingyu. Pria bertaring itu menatap Wonwoo yang juga menatapnya dengan sendu. Mingyu memindahkan dirinya disebelah Wonwoo,ia memeluk tubuh kurus yang selama ini ia rindukan. Pria yang lebih kurus darinyna menangis didalam pelukannya. Mengeluarkan seluruh perasaan yang ia pendam selama ini. Mingyu mencium pucuk kepala Wonwoo berkali-kali sambil mengelus punggung Wonwoo dengan lembut.
"Kau bilang jika kau merindukanku hingga kau ingin mati rasanya. Kau fikir aku tidak? Aku juga merindukanmu. Setiap hari,saat ada jam kosong ataupun tidak,aku memakainya hanya untuk memikirkanmu,aku juga merasa sangat sesak ketika aku merindukanmu. Aku merasa berada didalam ruangan penuh manusia tanpa oksigen didalamnya. Aku lelah menahannya,aku sangat lelah Kim"ungkap Wonwoo dalam pelukan Mingyu. Jantung Mingyu,serasa bisa kembali berdetak ketika Wonwoo mengatakan jika ia juga merindukannya. Mingyu merasa cahaya yang selama ini bersembunyi,kini telah menampakkan dirinya kembali,dan membuat hatinya cerah dan kembali menghangat. Mingyu melepas pelukannya dan menatap pria manis dihadapannya yang masih berlinang air mata.
"Nado bogoshipda"ucap Mingyu sambil tersenyum dan membuat pria dihadapannya juga ikut tersenyum.
"Berjanjilah agar kita selalu bersama hyung,sebesar apapun masalah yang kita hadapi,berjanjilah jika kita akan selalu saling mencintai"ucap Mingyu sambil menggenggam tangan Wonwoo. Pria manis itu tersenyum lalu mengangguk.
"Kau juga berjanjilah,kau akan selalu mendengarkan penjelasanku terlebihdahulu,sebelum kau menuduhku yang macam-macam"ejek Wonwoo dan membuat keduanya tertawa.
"Kalian sudah kembali? Baguslah"ujar Jisoo yang baru kembali dari toilet.
"Kau kemana saja?"Tanya Wonwoo.
"Pergi,tentu saja. Apakah aku harus disini sambil menonton kalian bermesraan? Aku harus mencari kekasih sepertinya"ucap Jisoo dan membuat kedua orang yang baru saja berbaikan itu tertawa.
"Mau kubantu hyung?"ucap Mingyu.
"Tidak,terimakasih"jawabnya dan membuat Mingyu dan dan juga Wonwoo kembali tertawa.
"Terimakasih untuk hari ini,pulanglah segera,jika tidak,appamu bisa marah"ucap Wonwoo ketika sampai didepan apartementnya.
"Aku sangat senang hari ini"ujar Mingyu sambil tersenyum.
"Kau fikir hanya kau saja"Wonwoo menyenggol perut Mingyu menggunakan sikunya.
"Baiklah,aku pulang dulu. Jangan lupa memimpikanku"Wonwoo hanya tertawa mendengarnya. Baru beberapa langkah,Mingyu kembali membalikkan badannya.
"Ada yang ingin kau sampaikan lagi?"Tanya Wonwoo bingung.
CHU!
"Itu yang ingin kusampaikan"ucap Mingyu setelah mencium pipi Wonwoo. Pria yang lebih pendek darinya itu bersemu merah,dan terlihat lebih manis lagi. Padahal,Mingyu sering melakukannya,bahkan sampai mencium bibir dan juga lehernya,tetapi,entah mengapa,Wonwoo tetap saja bersemu ketika Mingyu melakukannya,mungkin karena Wonwoo sangat merindukan kekasihnya itu.
Mingyu kembali menarik Wonwoo kedalam lumatannya. Kali ini Mingyu mencoba untuk mencium candunya itu lebih dalam lagi. Wonwoo membalas lumatan Mingyu,dan mereka berdua bermain dengan sangat lembut. Mingyu menghisap bibir Wonwoo dan Wonwoo hanya menikmatinya saja. Mingyu juga sesekali menjilat bibir bawah Wonwoo lalu kembali berperang lidah didalam sana. Wonwoo sudah mengalungan tangannya dileher Mingyu,dan pria yang lebih tinggi itu mendekap Wonwoo dengan salh satu tangannya,dan tangan yang satunya dipakai untuk menekan ciuman mereka agar lebih dalam lagi. Mingyu kembali menghisap bibir bawah Wonwoo dengan lembut,Wonwoo pun melakukan hal yang sama,ia menghisap bibir atas Mingyu. Mereka berdua benar-benar sedang dimabuk oleh cinta. Mereka berdua menyalurkan kerinduan mereka yang selama ini hanya bisa mereka pendam tanpa berani untuk memberi tau. Wonwoo melepaskan ciuman mereka. Dia menghirup oksigen sebanyak yang ia bisa. Wonwoo benar-benar merasa sesak,kali ini dadanya sesak karena kekurangan oksigen dan juga sesak karena ia terlalu bahagia untuk hari ini. Mingyu tersenyum melihat Wonwoo yang kelelahan. Ia segera memeluknya dengan erat,lalu kembali menciumnya. Kali ini,hanya ciuman singkat dan juga ciuman selamat malam,setelah itu,pria tinggi itu pergi dari apartement Wonwoo.
PLAK!
Suara tamparan menggema di mansion besar milik keluarga Kim. Tuan Kim yang sedang murka,menampar anaknya yang baru saja datang ke rumahnya. Mingyu yang disambut dengan tamparan itu hanya terdiam,sambil menatap ayahnya dengan tatapan dingin.
"Jelaskan ini semua Kim Mingyu!"teriak Tuan Kim sambil melemparkan beberapa foto saat Mingyu tadi bertemu Wonwoo dikafe,dan ketika tadi ia berciuman dengan kekasihnya itu. Mingyu membulatkan matanya ketika melihat hasil jepretan itu. Mingyu tidak tau jika ayahnya ini sampai rela membayar orang hanya untuk memata-matai hubungannya dengan Wonwoo.
"Mengapa kau diam? Jawab aku anak brengsek"ucap ayahnya. Mingyu menatap ayahnya datar,lalu tertawa.
"Anak brengsek? Kau pasti tau pepatah yang mengatakan bahwa buah hatuh tidak akan jauh dari pohonnya kan?"Tanya Mingyu sarkastik, dan membuat rahang Kim Min Woo mengeras.
"Kau sekarang bahkan berani melawanku"
"Bukankah dari dulu aku selalu melawanmu?"Mingyu berucap dengan datar,dan membuat Tuan Kim semakin marah,tetapi Mingyu malah pergi berlalu begitu saja memasuki kamarnya.
Wonwoo bersiap untuk pergi ke kantornya. Moodnya sedang sangat bagus hari ini,terbukti dengan senyumnya yang selalu terpatri diwajah manisnya. Hari ini juga,ada pertemuan dengan klien nya,jadi ia harus tampil serapi mungkin. Wonwoo mengecek berkasnya sebelum ia pergi,takut jika ada berkas yang tertinggal. Dirasa,semuanya sudah siap,dan tidak ada berkas yang tertinggal,Wonwoo segera pergi ke kantornya menggunakan Audi R8 Spyder berwarna silver,yang ia bawa ke apartementnya.
Saat memasuki kantornya itu,semua orang yang ada membungkukkan badannya. Wonwoo benar-benar seorang calon CEO muda. Ia segera memasuki ruangannya,dan mengecek pekerjaannya yang baru saja ia terima. Wonwoo segera bersiap-siap ketika asistennya memanggil karena meeting akan segera dimulai.
Wonwoo berjabat tangan sambil tersenyum setelah selesai berpresentasi. Kliennya tampak puas dengan presentasi yang Wonwoo berikan,dan membuat mereka memantapkan untuk bekerja sama dengan Yoomin Corp. Beruntung Wonwoo memiliki otak yang cerdas,sehingga dengan mudahnya dapat menarik klien dengan kata-kata yang keluar dari mulutnya itu. Wonwoo melirik jam tangannya,dan menelpon Mingyu untuk bertemu.
Wonwoo menunggu Mingyu di kafe milik Jeonghan,karena ia sudah lama tidak bertemu dengan pria cantik itu. Saat ia kesana,kebetulan Seungcheol dan juga Jisoo sedang berada disana juga. Ketiga pria itu tersenyum saat melihat Wonwoo datang dengan jasnya.
"Annyeong sajangnim" ejek Seungcheol sambil membungkukkan badannya,dan dibalas tawa oleh Wonwoo,Jisoo dan Jeonghan.
"Sudah lama kita tidak bertemu,sesibuk itukah sajangnim ini?" Jeonghan ikut mengejek Wonwoo.
"Aku tidak suka dengan panggilan itu"ucap Wonwoo datar,dan terdengar tawa dari tiga orang dihadapannya.
"Baiklah,tapi traktir kita makan"ucap Jeonghan.
"Kau kan yang punya kafe ini hyung,mengapa aku harus membayarkanmu?"protes Wonwoo.
"Bukan disini,tentu saja"jawab Jeonghan sambil tersenyum. Wonwoo mendengus sambil memutar bola matanya malas.
"Baiklah,tapi Jisoo juga akan menjadi seorang CEO,mengapa hanya aku? Mingyu juga"ucap Wonwoo. Lupa dengan masalah traktiran,Jeonghan dan Seungcheol justru sekarang lebih tertarik dengan nama yang terakhir Wonwoo sebutkan.
"Bagaimana hubunganmu dengan Mingyu? Kalian sudah baikan?"Tanya Jeonghan hati-hati. Sebelum Wonwoo menjawab,orang yang sedang dibicarakan juga telah datang dengan jasnya juga yang membuat pria bertaring itu terlihat semakin tampan.
"Wooahh… Sepertinya sedang ramai sekali,bolehkah aku bergabung?"Tanya Mingyu masih dengan senyumnya.
"Tentu saja sajangnim,apa yang tidak untuk sajangnim"Seungcheol kembali mengejek korban barunya. Mingyu menatap Seungcheol dengan datar. Mingyu kemudian mengambil kursi disebelah Wonwoo,dan ia segera tersenyum kepada pria manis itu,begitupun dengan pria manisnya,yang membalas senyuman miliknya.
"Sepertinya pertanyaanku tadi sudah terjawab"ucap Jeonghan. Wonwoo tersenyum manis kepada Jeonghan,sedangkan Mingyu menatapnya dengan bingung.
"Pertanyaan apa?"Tanya Mingyu.
"Aku menanyakan tentang hubungan kalian,dan itu semua sudah terjawab dengan sikap kalian tadi"ujar Jeonghan.
"Aku benar-benar harus mencari pasangan sepertinya,aku tidak bisa terus menerus diantar orang-orang yang berpacaran"keluh Jisoo dan membuat dua pasangan itu tertawa.
"Mau kubantu?"ujar Jeonghan.
"Tidak,tidak"Seungcheol langsung bebricara sebelum Jisoo menjawabnya.
"Seungcheol sepertinya sangat takut Jeonghan kembali dalam pesonaku"ucap Jisoo dengan percaya dirinya.
"Aku mempunyai seorang teman,dia baik dan juga menyenangkan"tawar Jeonghan.
"Aku nanti cari sendiri saja,banyak yang bisa jatuh kepadaku hanya dengan lirikan saja"Jisoo kembali menyombongkan dirinya. Ya,memang dapat diakui jika Jisoo memang tampan dengan double eye-lid yang ia miliki,serta senyuman rupawan yang selalu terpatri diwajahnya itu bisa membuat nilai tambah untuk Jisoo.
"Bagaimana kalian bisa berbaikan dengan cepat?"kini Jeonghan kembali kepada Mingyu dan Wonwoo.
"Mingyu meminta maaf padaku sampai ia berlutut dihadapanku"ujar Wonwoo sambil tertawa. Mingyu langsung menatap Wonwoo sambil berucap 'heol' .
"Mwo,mwo,mwo? Bukankah itu benar?"ucap Wonwoo lagi.
"Eiii… Aku tidak sampai berlutut padamu,bahkan kau yang menangis dalam pelukanku karena kau merindukanku sampai kau mau mati,benarkan?" Wonwoo merasa Mingyu sedang menyerangnya sekarang,ia tidak mau kalah.
"Lalu kau sendiri? Saat dibandara,kau juga memaksaku bahkan menyeretku kedalam mobil,dank au menangis agar aku memaafkanmu,dan juga kau menangis karena kau juga bilang jika kau merindukanku sampa dadamu itu sesak dan kau serasa akan mati karena kehabisan oksigen"balas Wonwoo. Ketiga orang yang ada mendengarnya itu memutar bola matanya malas,bisa-bisa mereka kembali bertengkar lagi.
"Jadi intinya,Mingyu meminta maaf padamu,dank au memaafkannya,lalu kalian berdua kembali bersama,aku mengerti" Seungcheol menarik kesimpulannya sendiri.
"Sukurlah jika kalian berdua bersama kembali,aku juga sangat senang mendengarnya"memang Jeonghan pantas dengan julukan 'angel' yang ia miliki.
"Tapi…" Mingyu menggantungkan kalimatnya.
"Ada apa?"Tanya Wonwoo,Mingyu membalasnya dengan senyuman.
"Tidak ada"jawab Mingyu,dan membuat keempat orang itu memicingkan matanya. Pasti ada yang ingin Mingyu bicarakan.
"Baiklah,aku akan bercerita,jadi singkirkan tatapan kalian itu,aku serasa tertangkap basah sedang bercinta dengan Wonwoo hyung"ucapnya dan membuat Wonwoo melayangkan pukulannya.
Mingyu mulai menceritakan bagaimana dirinya dan Wonwoo bisa kembali bersama. Sesekali,Mingyu juga menambahkan kalimatnya,dan membuat Wonwoo memukul kepalanya. Mungkin karena Mingyu terlalu senang dan bersemangat,ia sampai menceritakan bagaimana ia dan Wonwoo berciuman didepan apartement Wonwoo,dan membuat pria manis itu bersemu merah,sampai pada telinganya.
"Kalian berdua sudah beradu bibir berapa kali?"Tanya Jeonghan ppenasaran.
"Yak! Yak! Apa maksudmu beradu bibir?"Tanya Seungcheol.
"Eii.. Kisseu,sudah berapa kali?"Tanya Jeonghan lagi penasaran. Wonwoo semakin memerah,ia sangat malu jika ditanya hal seperti itu.
"Kau tidak pernah melakukannya dengan Seungcheol hyung?"bukannya menjawab,Mingyu malah balik bertanya. Dan sekarang,giliran sang pria cantik yang bersemu merah.
"Ada apa dengan wajahmu?"goda Mingyu.
"Bahkan kita sudah diranjang"jawab Seungcheol asal,dan mendapat pukulan dikepalanya.
"Yak!"meskipun begitu,wajah cantik Jeonghan masih tetap bersemu.
"Kau bahkan tidak mau kuajak dulu"tambah Jisoo asal. Dan sekarang,Jisoo yang mendapatkan pukulan dikepala.
"Sepertinya aku masih kecil untuk membicarakan konten explicit ini"ucap Mingyu dengan wajah sok polosnya.
"Umurmu memang muda,tapi tidak dengan otakmu"jawab Wonwoo dan membuat semuanya tertawa kecuali Mingyu.
"Tapi,aku ingin menceritakan suatu hal"ucap Mingyu mendadak serius. Semua orang yang ada dimeja itu,kembali penasaran melihat ekspresi Mingyu yang tiba-tiba berubah.
"Wonwoo hyung,aku ingin meminta maaf"ucap Mingyu dengan suara pelan,tetapi masih dapat didengar oleh keempat pria disitu.
"A… Ada apa?"Tanya Wonwoo gugup. Mingyu mengambil nafasnya,dan membuangnya perlahan.
"Aku dijodohkan oleh appaku"ucap Mingyu sambil menunduk. Jeonghan dan Seungcheol terlihat sangat kaget,mata mereka membulat. Jisoo yang sudah mengetahuinya,hanya terdiam menatap ekpresi Wonwoo. Ya,pria manis itu adalah orang yang paling shock mendengarnya. Wonwoo bahkan sampai menelan salivanya dengan sulit. Ia merasa hatinya mencelos begitu perkataan itu keluar dari bibir Mingyu. Wonwoo terasa nafasnya tercekat. Hatinya memanas,sampai dengan matanya,ia ingin menangis mendengar itu,tapi ia bisa menahannya.
"Tapi,aku tidak akan menuruti perintah ayahku,karena hanya kau yang aku cintai"ucap Mingyu sambil menatap manik Wonwoo dalam,menyeruakkan perasaan hangat disekujur tubuh Wonwoo.
"Aku akan berjuang untuk cinta kita,aku tidak peduli ayahku melarangnya,aku akan berusaha membuat ayahku menyetujui hubungan kita,aku berjanji"ujar Mingyu tulus. Senyuman Mingyu bisa memperlihatkan begitu ia tulus mencintai Wonwoo.
"Aku akan mendukung hubungan kalian,tenang saja,jika kalian membutuhkan wali untuk menikah,aku akan menjadi wali kalian"ucap Seungcheol dan membuat keempat orang yang mendengarnya tertawa.
"Aku yakin,jika kalian sama-sama berjuang,pada akhirnya perjuangan kalian tidak akan sia-sia,dan aku yakin orang tua Mingyu akan luluh"ucap Jeonghan sambil tersenyum.
"Kekasihku memang sangat baik"ucap Seungcheol sambil merangkul Jeonghan,dan hanya dibalas decihan oleh Jeonghan.
"Aku juga berharap seperti itu"ucap Wonwoo.
Setelah cukup lama berbincang,Mingyu dan Wonwoo meninggalkan kafe milik Jeonghan,dan segera pergi berjalan-jalan untuk menghabiskan waktu bersama. Mereka masih saling merindukan meski sudah beberapa hari yang lalu kembali.
Karena keduanya membawa mobil,mereka memutuskan untuk menitipkan mobil mereka kepada Jeonghan,dan pergi berjalan kaki bersama untuk menghabiskan waktu.
Mingyu tidak melepas genggamannya ditangan Wonwoo,dan membuat hawa hangat menjalar ditubuh Wonwoo. Wonwoo sangat mencintai Mingyu,mencintai segala hal yang ada pada Mingyu,terutama karena sikapnya yang hangat,dan perhatian. Wonwoo ingin bersama namja bertaring itu selamanya,ia ingin selalu bersama namja tampan itu dalam suka maupun duka. Wonwoo ingin mereka saling mencintai sampai akhir hidup mereka,ia ingin tetap seperti itu,dan selamanya seperti itu.
Matahari membenamkan dirinya dari langit yang biru itu. Kini langit terlihat berwarna oranye. Lembayung senja terlihat sangat indah,membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona. Wonwoo dan Mingyu menikmati pemandangan senja itu dengan wajah yang berseri. Melupakan semua masalah yang menganggu pikiran mereka. Merefresh kembali otak mereka yang berasap akibat problematika yang mereka hadapi. Jemari mereka masih saling bertautan,bahkan Mingyu mempererat tautan itu,seakan Wonwoo bisa hilang kapan saja,jika ia melepas tautan tangan mereka.
"Kau lapar?"Tanya Mingyu pada Wonwoo. Karena matahri sudah tergantikan oleh bulan yang ditemani oleh bintang-bintang.
"Ya,ayo kita pulang,ini sudah malam"ajak Wonwoo.
"Baiklah,kita makan dulu di kafe Jeonghan hyung saja"saran Mingyu dan dibalas oleh anggukan oleh Wonwoo.
Mereka memutar arah mereka,dan kembali berjalan tanpa melepaskan tautan tangan mereka. Berjalan dengan perlahan sambil menikmati indahnya pemandangan Seoul dimalam hari. Langit yang berhiaskan bulan sabit dengan bintang yang bertaburan sebagai pelengkapnya. Ditambah juga dengan jalanan Seoul yang masih terlihat ramai dengan kuda besi beroda empat,dan lampu-lampu yang masih bersinar di pencakar langit yang berdiri dengan kokoh. Berjalan dengan santai,sampai mereka tidak sadar jika mereka sudah kembali ke kafe Jeonghan.
"Kalian sudah kembali?"Tanya Jeonghan yang masih berbincang-bincang dengan Seungcheol,sedangkan Jisoo sudah kembali beberapa jam yang lalu.
"Kami merasa lapar,dan memutuskan untuk kembali kemari dan makan malam"ucap Mingyu.
"Double date?"ucap Seungcheol sambil menunjukkan gummy smile miliknya.
"Seperti itu bukan ide yang buruk"timpal Mingyu,lalu duduk dimeja yang sama dengan Seungcheol dan Jeonghan.
Jeonghan menyuruh bawahannya untuk menghampirnya sambil membawa menu makanan. Mereka tampak sedang melihat menu untuk memutuskan makanan yang akan mereka makan. Karena cuaca yang terasa dingin,mereka memutuskan untuk memesan samgyetang,samgyeopsal dan jeongol,ditambah dengan hotteok untuk penutup,dan hot chocolate.
Mereka berempat tampak menikmati makanan yang disajikan. Walaupun tempat ini adalah kafe,tetapi Jeonghan sengaja memasukkan menu makanan khas Korea juga disini. Dan kafe Jeonghan bisa dibilang kafe yang sangat ramai dan juga terkenal di Seoul,karena tempatnya yang strategis,dan jangan lupakan masakan dari chef yang Jeonghan pilih agar kafe nya itu bisa laris.
Setelah selesai menyantap makanannya,Mingyu dn Wonwoo segera pamit untuk pulang. Mereka berdua keluar dari kafe Jeonghan,dan berpisah karena mereka berdua membawa mobil masing-masing. Sebelum berpisah,Mingyu masih sempat untuk mencium bibir Wonwoo sekilas,dan setelah itu mereka berdua benar-benar berpisah.
"Kau darimana saja?"suara dingin Kim Min Woo menusuk masuk kedalam indra pendengaran Mingyu.
"Haruskah kau mengetahuinya?"jawab Mingyu sekaligus bertanya dengan dingin.
"Kau habis berjalan bersama anak pembunuh itu?" Mingyu melirik ayahnya saat pertanyaan itu keluar dari mulut ayahnya.
"Jika kau mengetahuinya,mengapa kau harus menanyakannya?"ujar Mingyu sambil menatap ayahnya dengan dingin. Kim Min Woo segera bangkit dari kursinya,ia kembali menampar wajah tampan anaknya itu,dan membuat jejak telapak tangan dipipi Mingyu.
"Kau berani melawanku?"
"Mengapa tidak?"
"Menjauhlah dari anak pembunuh itu" Mingyu kembali menatap ayahnya dengan dingin.
"Mustahil menyuruhku untuk menjauhinya"ucap Mingyu,lalu segera pergi dari hadapan ayahnya.
"Baiklah,jika maumu seperti itu,aku yang akan menjauhkannya darimu"amarah Kim Min Woo benar-benar meledak kali ini,tetapi Mingyu tidak mempedulikannya,karena ia berjanji pada dirinya sendiri,jika ia akan selalu berada disisinya.
Wonwoo mengendarai mobilnya dengan cepat. Ia sudah terlambat beberapa menit. Sesekali ia melirik jam tangannya. Wonwoo benar-benar membelah jalanan Seoul dengan kecepatan yang sangat tinggi. Saat sedang terburu-buru seperti itu,ada sebuah mobil yang menyalip mobilnya,dan membuat Wonwoo kesal. Mobil itu berjalan dengan sangat lambat,sedangkan saat Wonwoo ingin menyalipnya kembali,mobil itu mempercepat lajunya. Wonwoo benar-benar dibuat kesal. Saat itu,mobil yang tadi menyalipnya berjalan dengan sangat cepat,dan Wonwoo bisa bernafas lega,ia segera menginjak gasnya,dan melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. Dan saat Wonwoo akan menyusul mobil yang tadi,tiba-tiba mobil itu melambatkan lajunya,dan membuat Wonwoo berhenti mendadak. Karena tadi Wonwoo melajukan mobilnya dengan cepat,mungkin kepala Wonwoo terbentur cukup keras dengan setir mobilnya,untungnya saat itu ada seseorang yang melihat kejadian itu,dan segera menelpon ambulance,sedangkan pemilik mobil tadi pergi begitu saja.
Wonwoo mengalami benturan yang cukup keras dikepalanya,tetapi tidak sampai menyebabkan terluka parah apalagi amnesia. Wonwoo sudah terbangun dari pingsannya saat Jisoo datang. Tak lama setelah itu,Mingyu datang dengan wajah cemasnya. Mingyu segera memeluk Wonwoo ketika sampai disana.
"Kau tidak apa-apakan?"Tanya Mingyu khawatir. Ia memperhatikan setiap inchi wajah dan tubuh Wonwoo.
"Tidak,hanya saja aku mengalami benturan yang cukup keras"jawab Wonwoo sambil tersenyum lemah.
"Mengapa kau bisa seperti ini?"Mingyu kembali bertanya.
"Nanti akan ku jelaskan,aku sangat pusing"jawab Wonwoo sambil memegang kepalanya.
"Aku akan membelikanmu makan"ucap Mingyu.
"Tidak,biar aku saja,kau tunggu saja Wonwoo"ucap Jisoo sambil mencegah Mingyu.
"Tidak apa-apa hyung?"Tanya Mingyu,dan Jisoo hanya tersenyum,lalu pergi dari ruangan Wonwoo.
"Mengapa kau teledor sekali?"ucap Mingyu sambil menggenggam tangan Wonwoo,dan Wonwoo hanya tersenyum.
"Mian"jawabnya.
"Jangan ulangi hal seperti ini,aku sangat sesak ketika aku mendapatkan berita ini dari Jisoo hyung" ucapan Mingyu itu membuat Wonwoo tertawa. Mereka berdua kembali berbincang-bincang. Saat itu,Jisoo muncul sambil membawa makanan untuk mereka. Baru saja Mingyu akan menyuapkan makanannya,ponselnya bordering.
"Kalian duluan saja,aku akan mengangkat telponku dulu"ucap Mingyu lalu pergi keluar untuk mengangkat telponnya.
"Bagaimana keadaan anak pembunuh itu?"Tanya seseorang diseberang sana. Mingyu menggeram kesal. Terdengar gemelatuk giginya. Tangan Mingyu mengepal hingga kukunya memutih.
"Jadi appa yang membuatnya seperti ini?"Tanya Mingyu marah.
"Bukankah sudah appa bilang,jika kau tidak mau menjauhinya,aku akan yang akan menjauhkannya darimu"jawaban itu adalah jawaban terakhir ayahya,karena ayahnya langsung mematikan sambungannya.
TBC
Maaf lama yaaa… Author lagi disibukkan dengan tugas yang numpuk.
Makasih buat yang udah nunggu ini ff. Ada yang nyampe dari tanggal 8 juga? Maaf ya bikin kalian nunggu.
Ini chap udah author panjangin kok.
Sekali lagi makasih buat yang udah mau baca ini ff,dan maaf juga buat yang dibikin nunggu.
Keep RnR gaiss^^
