Chapter 15

Mingyu menggeram kesal saat ayahnya memutuskan sambungan telponnya. Tangannya mengepal dengan erat. Mingyu segera kembali memasuki ruangan Wonwoo.

"Cepatlah makan,jika tidak makanan ini akan segera dingin"ucap Jisoo yangmasih melahap jajangmyeon miliknya. Mingyu segera mengambil jajangmyeon miliknya,lalu melahapnya.

"Kau sudah bilang agar asistenmu menggantikanmu untuk hari ini?"Tanya Jisoo kepada Wonwoo. Namja manis itu mengangguk.

"Aku tidak mungkin melupakan hal sepenting itu"jawab Wonwoo dan membuat Jisoo terkekeh mendengarnya.

Mereka bertiga terus saja berbicara,sampai mereka tidak menyadari jika ayah Wonwoo datang kesitu. Wonwoo dan Jisoo sangat terkejut apalagi Mingyu,yang notabenenya adalah orang yang dibenci ayah Wonwoo. Jeon Jin Woo langsung menatap Mingyu dengan tajam,sementara pria tampan itu mencoba untuk tenang. Wonwoo kini tidak lagi berbaring,ia langsung terduduk ketika foxy eyes miliknya mendapati sang ayah sudah didalam ruangan tempatnya dirawat.

"Kau! Kau masih berani mendatangi anakku?"ujar Jeon Jin Woo sambil menunjuk wajah Mingyu.

"Appa!"teriak Wonwoo.

"Diam kau!"bentak Jin Woo kesal. Jisoo hanya terdiam meihat ini,ia tidak tau harus bagaimana. Jisoo tau kebencian yang tertanam dihati Jeon Jin Woo kepada keluarga Mingyu,dan juga ia mengetahui karakter Jeon Jin Woo yang keras kepala.

"Kau memang tidak mempunyai malu seperti ayahmu"ucap Jeon Jin Woo sambil menahan amarahnya.

"Jeon Wonwoo! Bukankah sudah kubilang untuk tidak menemuinya lagi? Kau akan segera bertunangan dengan Jisoo"ucap Jeon Jin Woo kepada Wonwoo yang sedang menatapnya dengan mata terbelalak. Wonwoo dan Jisoo saling bertatapan. Mingyu memang mengetahui jika Wonwoo dijodohkan oleh ayahnya,tapi ia tidak tau jika Wonwoo akan dijodohkan dengan Jisoo,sahabatnya dan sahabat Wonwoo. Mingyu menatap keduanya dengan tatapan yang sulit diartikan. Jisoo segera menghampiri Mingyu.

"Aku akan mengantarmu keluar"ucap Jisoo sambil menyeret Mingyu.

"Ya,orang yang dijodohkan dengan Wonwoo adalah aku"Jisoo langsung berbicara karena ia tau Mingyu pasti menanyakannya.

"Mengapa kau tidak bilang hyung?"Tanya Mingyu sambil menatap serius pria yang lebih tua dua tahun darinya. Jisoo membuang nafasnya sambil memejamkan matanya.

"Aku takut kau membenciku lagi"jawab Jisoo,sambil menatap lurus kearah manik Mingyu yang terlihat penasaran. Mingyu langsung tertawa mendengarnya.

"Bukankah sudah kubilang? Aku tidak akan cemburu lagi kepada kalian berdua,karena aku percaya kepada Wonwoo hyung dan juga kepada kau Jisoo hyung"ucap Mingyu masih dengan tawanya yang memperlihatkan tarik miliknya.

"Sukurlah kalau begitu"jawab Jisoo sambil membuang nafasnya lega.

"Kau hanya perlu membantuku lagi hyung"ucap Mingyu. Jisoo memegang pundak Mingyu.

"Aku pasti akan membantu kalian berdua,dan juga hubungan kalian,aku berjanji"ucap Jisoo sambil memperlihatkan senyum teduhnya.

"Terimakasih hyung,kau memang benar-benar hyung yang bisa diandalkan"ucap Mingyu dan membuat Jisoo terkekeh.

"Baiklah,aku akan pergi dulu hyung,tolong jaga kekasih manisku"ucap Mingyu dan kembali membuat Jisoo tertawa mendengarnya.

"Hati-hati,dan aku pasti akan menjaga kekasihmu"ucap Jisoo.

Pemuda berparas tampan dengan senyum yang meneduhkan itu,kembali masuk kedalam ruangan Wonwoo. Disana terdapat sepasang ayah dan anak yang saling beradu tatapan tajam. Saat Jisoo memasuki ruangan itu,Wonwoo langsung menariknya kembali keluar.

"Ada apa?"Tanya Jisoo bingung.

"Antarkan aku ke kantor"jawab Wonwoo dingin.

"Kau serius?"taya Jisoo lagi.

"Sudahlah,aku harus bekerja"jawab Wonwoo lagi masih dengan nada rendahnya.

"Baiklah"Jisoo tidak berbicara lagi,mereka berdua segera memasuki mobil Jisoo,karena mobil Wonwoo harus diservice.

Tidak ada pembicaraan lagi setelahnya. Wonwoo hanya terdiam jika ia mengingat perkataan ayahnya tadi. Jisoo yang merasa canggung,segera menyetel sebuah lagu ballad agar suasana bisa menghangat,tidak kaku seperti ini.

Sesampainya didepan sebuah gedung kokoh bertuliskan "Yoomin Corp" itu,keduanya segera turun dari mobil Jisoo,dan memasuki gedung yang aslinya sebuah kantor itu bersama. Semua karyawan menunduk saat Wonwoo dan Jisoo lewat. Seperti biasa,Jisoo melemparkan senyuman teduh yang biasa ia perlihatkan kebanyak orang,sedangkan Wonwoo yang mempunyai wajah datar,terlihat semakin dingin,tetapi ada saja yang menganggap ekspresinya itu sangat seksi.

Wonwoo segera mendudukkan dirinya dikursi yang terdapat meja dengan tumpukan dokume. Wonwoo segera memanggil sekertaris untuk mengerjakan semuanya. Otak Wonwoo serasa beruap. Wonwoo memejamkan matanya sambil memijat pelipisnya. Foxy eyes itu terbuka,ketika seseorang memasuki ruangan Wonwoo sambil membawa dua cup ice Americano ditangannya.

"Aku ingin mati Hong"ujar Wonwoo lalu menyeruput kopinya. Jisoo hanya tertawa saat mendengarnya,lalu ia juga meminum kopinya.

"Bukankah sudah kubilang,jika kau jangan dulu masuk bekerja?"ucap Jisoo kalem.

"Kau tidak mengatakannya"jawab Wonwoo datar.

"Eii… Bukankah tadi aku menanyakannya?"protes Jisoo.

"Kau hanya bertanya 'kau serius akan masuk kerja?' kau hanya bertanya seperti itu"ujar Wonwoo lalu kembali meminum ice Americano miliknya.

"Mengapa kau tidak peka? Ada arti lain dari pertanyaanku itu"ucap Jisoo sambil melirik Wonwoo.

"Aku hanya tidak peka,dan aku tidak tau maksud lain dari kata itu"jawabnya sambil mengangkat bahunya.

"Anggap saja kau tau"ucap Jisoo sambil memutar kedua bola matanya,dan membuat keduanya tertawa bersama.

"Ssshh… Aku pikir,selama 20 tahun bekerja bersama ayahmu,ayahku juga tertular penyakitnya"ucap Jisoo santai. Wonwoo mengerutkan keningnya.

"Maksudmu? Penyakit?"Tanya Wonwoo penasaran. Jisoo mendudukkan dirinya dimeja milik Wonwoo. Jisoo berbalik kepada Wonwoo sambil mengangguk.

"Sepertinya kepala ayahmu yang sekeras batu itu,tertular kepada ayahku"jawab Jisoo,dan Wonwoo menopang dagunya dengan tangan kirinya dengan pose berfikirnya.

"Aku rasa begitu,atau mugkin ayahmu saja yang daya pertahanannya kurang"ucap Wonwoo sambil mengangguk-angguk.

"Sepertinya keduanya benar"jawab Jisoo lagi,kemudian kembali menyuruput minumannya.

"Apa kata Mingyu tadi?"Tanya Wonwoo.

"Dia bilang,dia akan memutuskanmu karena kau tidak menceritakannya"ujar Jisoo sambil menatap Wonwoo. Pria manis itu membulatkan matanya.

"Kau jangan becanda Hong!"ucap Wonwoo masih dalam mode kagetnya.

"Yap,benar sekali,aku memang becanda"ucap Jisoo dan membuat Wonwoo melayangkan tinjuannya diperut lelaki yang dipukul hanya tertawa saja.

"Mengapa kau tidak bilang padanya? Mingyu bilang tidak apa-apa,dia bisa mengerti,dan dia percaya padamu,tetapi kau juga lebih baik menceritakan semua masalahmu kepadanya"jawab Jisoo dan diakhiri dengan sebuah saran. Wonwoo mengangguk sambil bernafas lega karena tidak ada kesalahpahaman lagi.

"Aku hanya takut Mingyu kembali membencimu Hong"jawab Wonwoo.

"Dia bilang,dia sudah mengerti,dan dia tidak akan cemburu lagi kepadaku"ujar Jisoo. Pria tampan itu berjalan kearah jendela yangmemperlihatkan bangunan-bangunan yang berlomba-lomba untuk mencapai langit,jalanan Seoul yang padat,dan berbagai iklan disiarkan. Manusia terlihat seperti gerombolan semut dari atas lantai 13 itu. Wonwoo mengikuti Jisoo menuju jendela. Menatap awan yang cerah dengan sedikit matahari,dan salju yang mulai mencair.

"Ayahku bilang untuk menyegerakan pertunangan kita"ucap Wonwoo masih menatap kearah langit. Jisoo hanya terdiam,menatap jalanan Seoul yang masih dipenuhi oleh segerombolan makhluk berakal yang sedang mencari uang.

"Kau mempunyai sebuah rencana?"Tanya Jisoo setelah keheningan menghinggapi ruangan itu.

"Aku akan memperjuangkan hubunganku dengan Mingyu,hanya itu rencanaku untuk sekarang,aku belum memikirkan untuk kedepannya,karena warna biru dikeningku ini membuatku pusing"ucap Wonwoo dan membuat Jisoo tertawa.

"Aku juga hanya akan mengurus perusahaan dengan baik,dan mencari seseorang yang pantas"ucapan Jisoo itu membuat Wonwoo menolehkan kepalanya.

"Kau sudah menemukan seseorang itu?"Tanya Wonwoo.

"Aku bilang,mencari,apakah kurang jelas Wonwoo-ssi?"ujar Jisoo. Wonwoo hanya tersenyum,lalu kembali menatap lurus keluar jendela.

"Apa yang akan kau lakukan jika hubunganmu tidak direstui juga?"Tanya Jisoo tiba-tiba. Wonwoo tampak berfikir sejenak.

"Aku dan Mingyu akan menikah siri"ucapnya sambil tertawa,lalu melanjutkan perkataannya.

"Aku akan tetap mempertahankannya,jika Mingyu juka masih memegang erat hubungan ini"jawabnya.

"Lalu?"Tanya Jisoo lagi.

"Lalu,aku akan menjadi seorang CEO,dan begitu pula dengan Mingyu"jawab Wonwoo sambil menatap Jisoo.

"Bagaimana jika nama kalian dicoreng dalam keluarga?" sepertinya mereka berdua sedang bermain 'Q&A' .

"Aku belum memikirkannya sampai sana"jawab Wonwoo datar. Jisoo hanya tertawa melihat ekspresi sahabatnya itu.

.

.

.

.

Mingyu melonggarkan ikatan dasi yang serasa mencekiknya sedari tadi. Mingyu yang sedang berang,segera mendatangi ruangan Kim Min Woo dengan tangannya yang terkepal erat. Mingyu kesal bukan main,ia benar-benar muak dengan sikap ayahnya.

Mingyu membuka pintu itu dengan kasar,sehingga terdengar suara bantingan pintu. Nafas Mingyu tersengal-sengal. Ia menatap ayahnya dengan tajam,sementara yang ditatap hanya memperhatikannya dengan ekspresi datar.

"Mengapa kau mealukan itu?"Mingyu masih dapat menahan emosinya.

"Bukankah sudah kubilang? Aku akan membuat kalian berpisah"jawab Kim Min Woo dingin.

"Kita tidak akan berpisah"jawab Mingyu. Dadanya terlihat kembang-kempis,tanda ia sedang mengontrol emosinya.

"Aku akan tetap memisahkan kalian,aku tidak peduli jika aku harus menjadi seorang pembunuh disini"

BRAAK!

Mingyu menggebrak meja Kim Min Woo dengan keras.

"Aku tidak akan kau membunuh orang yang aku sayangi untuk kedua kalinya"ucap Mingyu sambil mencengkram kerah kemeja ayahnya.

"SIapa yang pertama?"Tanya Kim Min Woo dingin. Mingyu tertawa meremehkan.

"Kau tidak menyadarinya? Eomma! Kau yang membunuh ibuku"teriak Mingyu tepat dihadapan wajah ayahnya. Kim Min Woo yang mendengar ucapan anaknya yang dianggapnya kurang ajar itu,segera mendorong Mingyu hingga cengkraman tangan Mingyu terlepas.

"Kau sudah dihasut ternyata oleh anak pembunuh itu"ucap Kim Min Woo.

"Aku akan tetap bersama Wonwoo sampai kapanpun. Aku tidak akan membiarkanmu menyentuhnya secenti pun"ucap Mingyu.

"Baiklah,karena aku jijik untuk menyentuhnya"jawab Min Woo dingin.

"Jika kau jijik,mengapa kau menganggunya?"Tanya Mingyu tak kalah dingin.

"Karena aku menganggunya bukan memakai tanganku sendiri,karena aku tidak ikut turun tangan. Aku tidak sudi hanya untuk menyentuhnya saja"

"Aku tidak akan membiarkanmu mengganggunya lagi" ujar Mingyu lalu pergi dari rumahnya dan diakhiri dengan debaman pintu yang keras.

.

.

.

.

Mingyu turun dari mobilnya,berjalan memasuki kafe yang ia janjikan kepada Wonwoo. Mingyu duduk dimeja bernomer 13. Sambil menunggu kekasih manisnya,ia memesan virgin mojito karena cuaca terlihat cerah dengan terik matahari yang menyilaukan mata.

Mingyu tersenyum ketika Wonwoo datang masih mengenakan jasnya dengan lengkap,sedangkan dirinya sudah melepas jasnya,dan hanya memakai kemeja berwarna putih yang sedikit ketat,memperlihatkan dada bidang miliknya. Mingyu benar-benar terlihat sangat seksi dengan kemejanya itu. Wonwoo langsung mendudukkan dirinya dihadapan Mingyu yang masih tersenyum melihatnya.

"Singkirkan senyuman bodohmu itu"ucap Wonwoo datar.

"Aku tidak mau"ujar Mingyu,dan menopang dagunya menggunakan kedua tangannya sambil memperhatikan Wonwoo dengan senyum bodohnya. Wonwoo menatap Mingyu dengan datar.

"Singkirkan tatapan dan senyuman bodohmu itu Kim"titah Wonwoo masih dengan ekspresi datarnya,tetapi Mingyu hanya menggeleng tanpa melepaskan tatapan dan senyumannya. Wonwoo yang kesal,segera memukul kedua tangan Mingyu,dan membuat dagu Mingyu hampir menyentuh meja.

"Yak!"ucap Mingyu sambil mencebikkan mulutnya.

"Ada apa?"Tanya Wonwoo datar.

"Mengapa kau sangat manis? Aku jadi tidak bisa marah padamu"jawaban Mingyu itu membuat Wonwoo memutar kedua bola matanya.

Seorang pelayan tiba sambil menyajikan minuman yang tadi dipesan Mingyu. Wonwoo segera mengambil minum itu,dan menyedotnya. Wonwoo bagaikan seseorang yang hidup di gurun dan menemukan oasis ditengah jalannya. Mingyu menelan ludahnya ketika melihat Wonwoo meminum minumannya,pasalnya Mingyu juga sangat haus. Terpaksa,Mingyu memesan kembali minumannya.

"Aku memesan virgin majito satu lagi"ucap Mingyu pada pelayan tadi yang masih diam ditempatnya.

"Aku juga"ucap Wonwoo setelah menghabiskan virgin majito milik Mingyu.

"Kau baru saja menghabiskannya"ucap Mingyu,tapi hanya dibalas dengan tatapan datar dari Wonwoo.

"Aku juga memesan satu red velvet dengan ice cream vanilla diatasnya,dan satu cheesecake"pesan Wonwoo,dan pelayan tersebut menuliskan pesanannya. Mingyu melongo melihat Wonwoo. Tidak biasanya,kekasihnya itu memesan makanan sebanyak itu. Walaupun Wonwoo hanya memesan dua buah jenis cake,tetapi biasanya itu terlalu banyak untuk seseorang bernama Jeon Wonwoo.

"Kau tidak memesan makanan?"Tanya Wonwoo kepada Mingyu yang masih melongo.

"Ehm… Aku memesan coffee bingsoo"ujar Mingyu.

"Satu lagi,aku juga ingin nokcha bingsoo"ujar Wonwoo dengan mata berbinar dan membuat Mingyu kembali dibuat speechless.

"Baiklah,aku akan mengulang pesanan kalian. Dua virgin mojito,satu red velvet cake dengan ice cream vanilla diatasnya,satu cheesecake,satu coffee bingsoo,dan satu nokcha bingsoo"ulang pelayan tadi. Wonwoo mengangguk sebagai jawaban. Pelayan tadi pergi untuk menyampaikan pesanan mereka.

"Apakah kecelakaan tadi membuatmu sangat lapar?"Tanya Mingyu.

"Sepertinya begitu"jawab Wonwoo.

"Baguslah jika kau banyak makan,aku juga yang nanti akan menikmatinya"ucap Mingyu santai.

"Apa maksudmu 'menikmatinya'?"Tanya Wonwoo sambil memicingkan matanya. Tetapi Mingyu hanya memperlihatkan smirk bertaring miliknya,dan menunjukkan winknya.

"Byeontae"cibir Wonwoo,dan lelaki tampan dihadapannya hanya tertawa.

"Maafkan aku"ucap Wonwoo tiba-tiba. Mingyu mengerutkan keningnya.

"Untuk?"tanyanya.

"Karena kau mengetahuinya dari ayahku"jawab Wonwoo. Mingyu segera menganggukkan kepalanya.

"Seharusnya aku segera memberitaumu jika aku dan Jisoo dijodohkan,aku hanya takut…"

"Aku yakin Jisoo hyung sudah memberitau jawabanku atas masalah itu. Aku tidak akan marah,dan aku tidak akan cemburu kepada kalian berdua,karena aku sudah mempercayaimu"potong Mingyu. Senyuman hangat dari bibir Mingyu membuat Wonwoo dapat bernafas lega.

"Terimakasih karena sudah mempercayaiku"ucap Wonwoo sambil tersenyum manis.

"Eiii… Mengapa suasananya menjadi mellow seperti ini? Dicuaca yang cerah,seharusnya kita bersenang-senang"ujar Mingyu dan dibalas anggukkan dari Wonwoo.

Mingyu dan Wonwoo berpisah,karena keduanya membawa mobil. Sebelum mereka benar-benar berpisah,Mingyu memasuki mobil Wonwoo,dan membuat pria manis itu bingung. Mingyu hanya tersenyum melihat ekspresi bingung sang kekasih yang terlihat manis dimatanya. Mingyu mencium bibir Wonwoo sekilas,lalu segera berbicara dengan jarak beberapa centi dari wajah Wonwoo.

"Jangan sakit,aku sangat mengkhawatirkanmu"ucap Mingyu.

"Tidak akan"jawab Wonwoo. Lalu Mingyu segera mencium lagi bibir Wonwoo sekilas.

"Tunggu sebentar lagi,dan kita bisa hidup bahagia bersama"ucap Mingyu lagi. Wonwoo tersenyum melihat wajah Mingyu dari sedekat ini,dan dia sangat merasa jika Mingyu sangat seksi dengan raut seriusnya.

"Aku akan menunggu waktu untuk itu. Aku pasti akan menunggunya"ucap Wonwoo dan membuat Mingyu kembali tersenyum. Pria berkulit tan itu segera mencium bibir Wonwoo yang sudah menjadi candunya itu. Kali ini bukan hanya sekilas,tetapi lidah Mingyu juga sudah bisa menjelajahi dan mengabsen seluruh mulut Wonwoo. Mingyu sesekali menjilat tepi bibir Wonwoo. Kedua pasangan itu benar-benar sedang dimabuk oleh cinta. Wonwoo meremas bahu Mingyu,karena ia benar-benar menikmati ciuman mereka itu. Wonwoo mengeluarkan lenguhan kecil,ketika Mingyu menggigit bibirnya. Mingyu menghisap bibir bawah Wonwoo dengan lembut,dan Wonwoo semakin tergila-gila kepada sosok yang sudah membuatnya jatuh dan tidak akan terbangun lagi untuk siapapun,selain pria yang sedang mencumbunya ini.

Ruang di mobil yang memang terasa sesak,kini bertambah sesak dan panas. Mingyu membuka kancing kemejanya tanpa menghentikan ciuman mereka. Dada bidang dan seksi milik Mingyu terekspos dihadapan Wonwoo. Pria manis itu meraba dada milik Mingyu. Mereka berdua benar-benar terhanyut dalam dunia mereka. Wonwoo sedikit menarik rambut Mingyu,ketika pria tampan itu menggelitik perut Wonwoo dengan tangannya. Mingyu membuka kancing kemeja Wonwoo dan segera melepaskan ciuman mereka. Mingyu menciumi bahu putih milik Wonwoo,dan membuat Wonwoo bergelinjang geli. Mingyu tersenyum melihat Wonwoo yang seperti menikmati permainan mereka ini. Mingyu kembali menciumi bahu milik Wonwoo. Ketika Mingyu akan membuka seluruh baju Wonwoo,pria manis itu segera menahan Mingyu.

"Kita sedang dimobil,dan jangan lakukan disini dan saat ini"ucap Wonwoo dan membuat Mingyu kecewa.

"Baiklah,kita lakukan besok,di hotel,bagaimana?"Tanya Mingyu sambil menaik turunkan alisnya. Wonwoo memutarkan kedua bola matanya.

"Byeontae"ucapnya dan membuat Mingyu tertawa. Mingyu kembali mencium bibir Wonwoo sekilas.

"Sampai jumpa besok di hotel"ucap Mingyu lalu turun dari mobil Wonwoo. Wonwoo hanya tertawa memperhatikan Mingyu yang terlihat sangat senang.

Mingyu tersenyum ketika ia melihat Wonwoo melambaikan tangannya dari mobil miliknya. Kemudian keduanya pergi dari situ. Mingyu pulang dengan senyuman yang terpatri di wajah tampannya. Mingyu terlihat lebih seksi lagi,dengan kemeja yang tidak terkancing atasnya,serta rambut yang sedikit berantakan karena ulah kekasih manisnya tadi. Mingyu teringat sesuatu. Senyuman tadi,kini memudar dari wajahnya,dan menjadi wajah panik. Mingyu memutar balik arah mobilnya,dan memastikan jika kekasihnya baik-baik saja saat ini. Mingyu mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh,membelah jalanan Seoul yang untung saja sedang sepi,karena masih jam kerja. Mingyu segera menekan kontak Wonwoo,dan menelponnya. Ponsel Wonwoo tidak aktif,dan membuat Mingyu semakin panik. Mingyu segera menelpon Jisoo,tetapi Jisoo pun menjawab,jika Wonwoo belum sampai di kantor. Mingyu meminta tolong kepada Jisoo,agar Jisoo bisa memeriksa Wonwoo dirumahnya. Mingyu benar-benar takut saat ini. Mengapa ia tidak ingat,jika mata-mata ada disekeliling mereka berdua.

Mingyu membuang nafasnya kasar. Ia bingung harus mencari kemana lagi. Mingyu kembali menelpon Wonwoo,tetapi hasilnya nihil,Wonwoo sama sekali tidak menjawab ponselnya. Mingyu sangat tau,jika Wonwoo tidak akan membiarkan ponselnya mati.

Saat dihadapkan dengan situasi terdesak seperti ini,Mingyu sangat ingin membunuh ayahnya yang egois dan keras kepala itu. Tapi,ia tidak ingin menjadi seorang pembunuh,apalagi menjadi pembunuh ayahnya sendiri. Tiba-tiba,ponsel Mingyu berdering,dan Mingyu segera mengangkatnya ketika nama Jisoo tertera dilayar ponselnya. Mingyu membuang nafas pasrah,ia benar-benar ingin menangis saat ini. Ia tidak bisa menemukan keberadaan kekasih manisnya. Sampai saat ini,matahari hendak terbenam,tetapi Mingyu dengan setianya mencari Wonwoo diseluruh tempat yang selalu Wonwoo kunjungi,tetapi Wonwoo tidak ada dimanapun.

Mingyu yang mulai marah,kini langsung menancapkan gas,dan pulang kerumahnya untuk mencari Kim Min Woo,yang sudah pasti dia dalang dibalik hilangnya Wonwoo.

Sesampainya dirumah,Mingyu segera memasuki ruangan ayahnya. Betapa kagetnya Mingyu,ketika ia melihat Wonwoo disana. Wonwoo sedang disandera oleh ayahnya sendiri. Kedua tangannya diborgol,dan wajahnya sudah penuh dengan luka dan memar. Melihat keadaan Wonwoo,nafas Mingyu memburu,ia mengepalkan tangannya dengan sangat erat.

"Seharusnya kalian mengunci ruangan ini"ucap Kim Min Woo dengan santainya. Mingyu segera menatap tajam kearah ayahnya itu.

"Brengsek sialan kau!" Mingyu segera menghampiri ayahnya sambil mencengkram kerahnya. Mingyu memukul ayahnya sendiri,tetapi malah teriakan dari kekasihnya yang terdengar. Mingyu segera melihat kearah kekasihnya yang sedang menahan kesakitan karena perutnya baru saja ditendang.

"Silakan kau pukul aku sepuasmu,makan kekasihmu akan mendapat hal yang serupa,bahkan lebih"ucap Kim Min Woo sambil tersenyum.

TBC

Agak rated ya chap yang ini hehe…

Maaf lama…

Keep RnR yaaaaa….

Typo(s)