Chap 16
Mingyu menggeram kesal melihat Wonwoo yang dipukul oleh bodyguard ayahnya. Mingyu masih mencengkram kerah baju Kim Min Woo yang masih tersenyum miring memperhatikan keduanya.
"Brengsek kau Kim Min Woo!" Mingyu mengepalkan tangannya dengan sangat erat. Terdengar bunyi gemelatuk dari gigi Mingyu. Rahangnya sudah mengeras sedari tadi,nafasnya memburu saat ia sudah melihat keadaan kekasihnya. Wajahnya merah padam,menahan amarahnya,karena sedikit saja ia bertindak,maka kekasihnya akan kena tindakan yang kasar.
"Aku… Baik-baik saja"seulas senyum terpatri diwajah penuh memar milik Wonwoo. Mingyu segera menghampiri Wonwoo yang terkulai lemas. Wonwoo masih setia dengan senyum lemahnya. Lagi. Perasaan bersalah kembali menjalar dihati Mingyu. Sudah berapa banyak luka yang Mingyu torehkan dihati Wonwoo? Dan sekarang,bukan hanya dihati,tetapi fisiknya pun tersakiti.
"Kalian sedang membuat drama?"Tanya Kim Min Woo sambil melipat tangannya didepan dada,dengan senyum angkuhnya. Mingyu melirik ayahnya tajam. Emosinya benar-benar memuncak. Jika ia tidak ingat akan Wonwoo,mungkin rahang ayahnya sudah bergeser. Mingyu kembali menghampiri ayahnya. Kim Min Woo menatap anaknya itu dengan seulas senyum miring.
"Tolong lepaskan dia"ujar Mingyu akhirnya.
"Kau sedang memohon?"Tanya Kim Min Woo masih dengan angkuhnya. Mingyu hanya terdiam sambil menundukkan kepalanya. Ayahnya melonggarkan dasi yang masih melilit lehernya.
"Bukankah sudah kubilang? Jauhi anak pembunuh itu"ucap ayahnya. Wonwoo yang mendengarnya,langsung menatap tajam kepada Kim Min Woo. Ia menatap tajam pada sosok yang seumuran dengan ayahnya itu.
"Ayahku bukan pembunuh! Ia tidak membunuh siapapun!"teriak Wonwoo histeris,dan membuat ia kembali mendapatkan pukulan dipipi mulusnya,dan tendangan diperutnya. Mingyu yang melihatnya,benar-benar tidak tega. Darahnya terasa mendidih saat ini. Emosinya sudah di puncak ubun-ubun. Saat Mingyu akan menolong Wonwoo,badannya langsung didorong oleh salah satu bodyguard disana.
"Brengsek kau! Lepaskan dia Kim Min Woo!"teriak Mingyu sambil mencoba memberontak. Ayahnya segera berdiri dihadapannya.
"Aku bilang jauhi dia,dan nyawanya akan selamat. Aku hanya menyuruhmu dalam hal kebaikan anakku,apa susahnya? Lingkungan akan mempengaruhi dirimu,jka kau bergaul dengan orang baik,aku juga akan ikut menjadi baik,dank au tau apa yang akan terjadi jika kau bergaul dengan anak pembunuh"
"Ayahku bukan pembunuh! Brengsek!" teriak Wonwoo dan…
BUGH!
Satu pukulan mendarat dipipi yang sudah dihias dengan luka memar itu. Mingyu speechless melihat kejadian tadi,sedetik kemudian,ia menatap ayahnya dengan tajam.
"Brengsek kau!"
BUGH!
BUGH!
Suara pukulan yang pertama untuk Kim Min Woo,dan yang kedua untuk Wonwoo. Mingyu mengacak rambutnya frustasi. Ia ingin menghajar ayahnya,tetapi,Wonwoo juga akan terkena akibatnya.
"Dengar kau Kim! Ayahku tidak membunuh siapapun! Ayahku bukan pemunuh! Kau brengsek! Berhentilah memanggil ayahku pembunuh!" Kim Min Woo tertawa sinis mendengar itu.
"Tahan Kim Mingyu,dan habisi anak pembunuh itu!"perintah Kim Min Woo. Sedetik kemudian,4 bodyguard Kim Min Woo menahan Mingyu yang meronta-ronta,dan 3 bodyguard sedang mencoba untuk memukuli Wonwoo. Saat para bodyguard itu siap untuk memukuli Wonwoo,pintu ruangan itu terbuka,dan menampakkan sosok seorang lelaki muda yang tampan.
"Berhenti memukulinya! Aku dan Wonwoo akan segera bertunangan!"teriak Jisoo dengan sedikit kalem. Kim Min Woo menyuruh anak buahnya untuk tidak memukuli Wonwoo. Lelaki paruh baya itu menghampiri Jisoo yang sedang menatapnya dengan tenang.
"Kau… Little Hong kan?"ucap Kim Min Woo sambil tersenyum. Jisoo membalas senyuman itu dengan senyuman yang hangat.
"Apa kabar ayahmu?"Tanya Kim Min Woo masih dengan senyumnya.
"Appa baik saja,bagaimana dengan ahjussi?"Tanya Jisoo dengan senyum meneduhkan.
"Seperti yang kau lihat"jawabnya. Jisoo hanya tersenyum mendengarnya,tetapi sebenarnya,hatinya sangat bergemuruh,ia ingin menghabisi orang yang telah melukai sahabatnya itu.
"Kau sama seperti ayahmu,sangat suka tersenyum,dan kau sangat tenang"ujar Kim Min Woo lagi. Jisoo hanya mengangguk mendengarnya. Senyumannya tidak lepas dari wajah tampannya.
"Kau akan bertunangan dengan anak itu?"Tanya Kim Min Woo sambil menunjuk Wonwoo memakai dagunya. Jisoo semakin melebarkan senyumnya,lalu mengangguk.
"Begitulah ahjussi"jawab Jisoo masih tersenyum.
Mingyu tersenyum lega ketika melihat Jisoo datang dan berbicara seperti itu. Mingyu melirik kearah Wonwoo yang juga sedang meliriknya. Mereka berdua saling tersenyum karena ucapan Jisoo tadi. Dalam hati,kedua orang itu sangat berterima kasih kepada Jisoo. Mingyu merasa sangat senang saat Jisoo datang tadi. Walaupun Jisoo mengatakan jika ia akan bertunangan dengan Wonwoo,ia tau jika itu hanya tipuan Jisoo untuk menyelamatkan Wonwoo.
"Kau juga bodoh seperti ayahmu ternyata" mendengar hal itu,rahang Jisoo mulai mengeras,tetapi ia masih mencoba untuk tersenyum. Jisoo tau,jika ia melawan Kim Min Woo yang keras kepala itu,ia tidak akan memenangkannya dengan fisik. Jisoo masih berusaha untuk tenang dan kalem.
"Maksud ahjussi?"Tanya Jisoo tenang.
"Kau sama-sama bodoh,karena kau mau saja bertunangan dengan anak pembunuh itu"ucap Kim Min Woo. Senyuman Wonwoo tadi luntur,berganti dengan tatapan yang amat sangat tajam. Wonwoo mengepalkan tangannya dan berusaha untuk memberontak,tetapi percuma saja,ia malah terkena pukulan telak diperutnya.
Jisoo yang melihatnya hanya membulatkan matanya,dan menelan salivanya dengan sulit. Ia tau jika rasanya sangat sakit dan ngilu,karena Jisoo saja yang melihatnya sudah sangat ngilu,apalagi Wonwoo yang merasakannya. Jisoo lalu melirik kearah Mingyu yang terlihat murka. Jisoo tau Mingyu merasakan sakit walau ia tidak dipukul.
"Aku tidak bodoh,aku hanya menuruti perintah ayahku"ucap Jisoo.
"Kau anak yang berbakti. Aku sangat iri kepada Hong Jae Hyun yang memiliki anak yang sangat berbakti kepadanya,tidak seperti anakku yang pemalas itu"jawabnya.
"Mingyu sangat rajin,mungkin dia tidak ingin menuruti perintah bodohmu saja ahjussi"jawab Jisoo. Senyuman Jisoo mengembang diakhir kalimat,tetapi membuat darah Kim Min Woo mulai naik.
"Baiklah ahjussi,aku akan membawa tunanganku pergi"ujar Jisoo dan melangkah menuju Wonwoo.
"Jangan berikan anak itu kepadanya" Jisoo segera membalikkan kepalanya .
"Ada apa ahjussi?"Tanya Jisoo bingung.
"Aku tau kalian semua sekongkol untuk membodohiku,kau fikir aku ini bodoh,sampai aku akan percaya jika kau adalah tunangan anak itu?"ujar Kim Min Woo datar.
"Tapi aku dan Wonwoo akan segera bertunangan"ucap Jisoo tenang.
"Aku tidak percaya"Kim Min Woo memang keras kepala.
"AKu akan menelpon ayahku"ucap Jisoo sambil mengeluarkan ponselnya.
"Tidak perlu,karena pasti ayahmu juga akan berbohong"ucapnya lagi. Jisoo menghela nafasnya lelah.
"Baiklah,aku akan membuktikannya jika dia adalah tunanganku"ucap Jisoo. Pemuda tampan itu menghampiri Wonwoo. Ia berbisik kepada Wonwoo.
"Mian"bisiknya. Sedetik kemudian,Jisoo segera menarik tengkuk Wonwoo,dan menempelkan kedua belah bibir mereka. Wonwoo membulatkan matanya kaget,begitupun dengan Mingyu. Tapi,beberapa detik kemudian,Wonwoo memejamkan matanya,agar ia terlihatseperti yang sedang menikmati. Mingyu memalingkan wajahnya kearah lain. Untuk yang ini,jujur saja,Mingyu cemburu,dadanya juga agak sesak. Tapi,Mingyu tidak marah kepada siapapun. Mingyu tau,ini semua drama untuk membuat ayahnya yakin,dan melepaskan Wonwoo darisini.
Jisoo menjauhkan kepalanya setelah dirasa,ia cukup untuk mengakhiri drama yang ia buat. Jisoo menatap mata Wonwoo. Dari mata itu,tersirat kata 'maaf' . Wonwoo hanya tersenyum melihat Jisoo. Kemudian,Wonwoo menatap Mingyu,yang juga juga sedang tersenyum hangat kepadanya. Wonwoo tau jika Mingyu sebenarnya cemburu.
"Bolehkah aku membawa tunanganku pulang?"Tanya Jisoo sambil tersenyum hangat. Kim Min Woo menatap Jisoo dengan jijik.
"Lepaskan anak itu"titah Kim Min Woo. Para bodyguard itu melepaskan Wonwoo. Lelaki manis itu menatap Kim Min Woo dengan tajam.
Jisoo kembali menggandeng tangan Wonwoo. Wonwoomenatap lengannya yang digandeng oleh Jisoo,lalu ia tersenyum kepadanya. Sebelum keluar,Wonwoo sempat melirik kearah Mingyu yang sedang tersenyum tipis kearahnya.
.
.
.
"Maafkan aku"ucap Jisoo setelah sampai di mobil.
"Bagaimana jika Mingyu cemburu?"Wonwoo bertanya datar,tapi sebenarnya ia sedang becanda.
"Maaf,aku benar-benar minta maaf. Aku berjanji,aku akan membuat kalian terus bersama"ucap Jisoo sungguh-sungguh. Melihat sahabatnya begitu menyesal,Wonwoo segera tertawa.
"Sudah,tidak apa-apa,lagipula tadi Mingyu tersenyum. Bukankah Mingyu sudah bilang,jika ia tidak akan cemburu lagi kepada kita? Sudahlah,aku yakin Mingyu isa mengerti"jelas Wonwoo. Jisoo membuang nafas lega.
"Baiklah"baru saja Jisoo akan menjalankan mobilnya. Ponselnya segera bergetar,tanda pesan masuk. Ia melihat satu pesan masuk dari Mingyu.
"Mingyu mengirimku pesan"ucap Jisoo. Wonwoo segera mendekat kearah Jisoo untuk melihat pesannya.
"Mingyu bilang,untuk beberapa saat ini,lebih baik kalian berdua tidak dulu kencan,karena ayahnya masih memata-matai kita bertiga" Jisoo membaca isi pesan yang dikirim oleh Mingyu. Wonwoo hanya mengangguk mengerti. Mungkin lelaki manis itu akan sangat merindukan kekasih tampannya itu. Tapi,ia juga tau Mingyu melakukannya,untuk membuat mereka bertiga selamat.
"Mana mobilmu?"Tanya Jisoo. Wonwoo hanya menunjuk sebuah Maybach 62s berwarna putih,menggunakan dagunya.
"Aku akan pulang dengan mobilku"ucap Wonwoo.
"Kau duluan"ucap Jisoo.
"Mengapa?"Tanya Wonwoo bingung.
"Bagaimana jika aku beralan duluan,dan tiba-tiba,Kim Min Woo menangkapmu lagi?"ucap Jisoo.
"Tuan Hong ini sangat perhatian ternyata"kekeh Wonwoo. Jisoo hanya mendecih mendengarnya.
"Baiklah,aku duluan. Annyeong"ucap Wonwoo lalu keluar dari mobil Jisoo.
Jisoo melihat mobil Wonwoo sudah berjalan duluan,lalu ia segera menyalakan mesinnya,dan segera berjalan dibelakang mobil Wonwoo.
.
.
Mingyu sangat ingin menghubungi kekasihnya. Disaat waktu luang seperti ini,ia ingin kencan bersama kekasihnya. Mingyu mengacak rambutnya frustasi. Ia tau,jika sebenarnya ayahnya masih belum percaya seratus persen pada drama yang dibuat oleh Wonwoo dan Jisoo kemarin. Sehingga Mingyu mengorbankan waktuya untuk tidak bertemu kekasih manisnya dulu selama beberapa waktu,karena masih ada mata-mata yang berkeliaran diantara mereka.
Mingyu mengambil ponselnya,ia segera mengirimkan sebuah pesan untuk Wonwoo. Mingyu mencoba untuk bersikap biasa saja,saat Wonwoo membalas pesannya. Mingyu masih berkutat dengan pekerjaannya saat ini,tapi ia juga sedang sangat merindukan kekasih manisnya. Mingyu pergi dari ruangannya menuju toilet. Ia memasuki bilik toilet,dan duduk diatas toilet. Kemudian,Mingyu segera mendial nomor kekasihya.
"Yeobseyo? Apakah baik-baik saja?"Tanya Wonwoo ketika Mingyu menelponnya.
Mingyu tersenyum puas ketika ia mendengar suara Wonwoo. Biarkan ia tidak bertemu dengan Wonwoo untuk keselamatan mereka,asalkan Mingyu masih bisa menghubungi dan mendengar suara rendah Wonwoo,itu sudah membuatnya bahagia.
Mingyu menutup telponnya,ketika rasa rindunya itu sudah sedikit terobati. Mingyu keluar dari bilik toilet,dan bercermin sebentar,lalu kembali ke ruangannya.
.
.
.
"Appa?"Jisoo segera tersenyum ketika melihat pria paruh baya yang begitu mirip dengannya.
"Bagaimana pekerjaanmu?"Tanya ayahnya dengan senyum yang hampir sama dengan Jisoo.
"Akhir-akhir ini aku sedikit sibuk,banyak sekali pekerjaan"Jisoo menjawab pertanyaan ayahnya dengan santai.
"Tapi kau harus menikmatinya,karena hanya ini pekerjaan kita"ujar ayahnya sambil menepuk bahu Jisoo,sedangkan Jisoo mengerutkan keningnya,lalu tersenyum.
"Apakah appa akan segera pension?"Tanya Jisoo lagi.
"Begitulah,dan semua pekerjaanku akan diambil alih olehmu,begitu juga dengan perusahaan ini"jawab ayahnya.
"Perusahaan ini? Apakah Jin Woo ahjussi memberikan Pledis Corp untuk kita?"Tanya Jisoo penasaran.
"Tentu saja,karena kau dan Wonwoo akan segera bertunangan,jadi perusahaan ini resmi milik keluarga kita"jawaban ayahnya itu sukses membuat Jisoo terdiam.
"Oh ya,ini undangan kalian,apakah kau suka?"Tanya ayahnya sambil mengeluarkan sebuah kertas undangan. Jisoo menatap kertas undangan itu,lalu menatap ayahnya.
"Ada apa? Kau tidak menyukainya? Kalau begitu kau ang pesan"ujar ayahnya dan membuat Jisoo menghela nafasnya.
"Appa,berhentilah untuk menjodohkanku dengan Wonwoo"mohon Jisoo.
"Pertunanganmu dan Wonwoo akan segera dilaksanakan secepatnya"ucap ayahnya tidak mempedulikan ucapan Jisoo.
"Appa,aku tidak mencinta…"
"Sudahalh,ikuti saja apa yang appa inginkan. Kau mau kan hidup bahagia?"potong ayahnya.
"Aku sudah bahagia hidup seperti ini appa"ucap Jisoo.
"Tidak,kau tidak tau bagaimana kerasnya kehidupan ini Hong Jisoo"ucap ayahnya sambil menekankan nama anaknya diakhir kalimat.
"Aku sudah tau appa,lagipula kita tidak perlu khawatir bukan? Jin Woo ahjussi sudah sangat baik kepada kita,jadi ini semua sudah cukup"ucap Jisoo lagi.
"Justru karena Jin Woo meminta appa untuk menjodohkan kalian berdua,dan menyegerakan pertunangan kalian,bukankah itu yang namanya balas budi?"ujar ayahnya.
"Karena Jin Woo ahjussi? Bukan karena perusahaan ini?"Tanya Jisoo sarkatis. Ayahnya hanya terdiam ketika mendengar perkataan Jisoo.
"Pokoknya kalian berdua harus bertunangan"ternyata Hong Jin Woo masih bersikeras untuk menjodohkan anaknya itu.
"Appa"Jisoo tidak percaya jika pria paruh baya yang ada didepannya ini adalah ayahnya sendiri. Ayahnya itu biasanya lembut,mengapa sekarang ayahnya sangat keras kepala? Jisoo tidah habis fikir jika perusahaan ini lebih penting daripada kesenangan anaknya.
"Ini demi masa depanmu juga"ucap ayahnya melunak.
"Demi masa depanku? Appa menjodohkanku dengan orang yang tidak aku cintai,apakah appa fikir aku akan bahagia?" ucap Jisoo.
"Dengar Hong Jisoo! Jika appa tidak menjodohkan kalian,appa tidak memunyai pekerjaan,dan itu juga akan berakibat buruk padamu"ucap ayahnya sambil memegang bahu Jisoo.
"Appa bisa bekerja diperusahaan lain"bantah Jisoo.
"Jika appa bisa,appa akan bekerja diperusahaan lain,tetapi kekuasaan kita tidak sebanding dengan kekuasaan Jin Woo"ujar ayahnya lagi.
"Maksud appa?"Tanya Jisoo tidak mengerti. Ayahnya menghela nafasnya.
"Jika kalian tidak menikah,maka appa dan juga kau tidak bisa bekerja lagi disini bahkan diseluruh perusahaan di Korea,karena koneksi Jin Woo yang sangat luas,dan ia tidak mau jika Wonwoo menikah dengan Mingyu,makanya aku sangat ingin kalian menikah. Aku takut kau tidak bisa bekerja Hong. Appa ingin melihat kau bahagia,appa hanya ingin kau bahagia"jelas ayahnya. Jisoo terdiam. Ia juga bingung jika ia ada diposisi ayahnya.
"Tapi appa…"
"Kau turuti saja,appa minta maaf karena appa tidak bisa melakukan apapun"ucap ayahnya dengan penuh penyesalan.
"Tapi…"
"Aku yang akan membeli Pledis"Wonwoo yang baru saja datang segera memotong ucapan Jisoo. Jisoo dan ayahnya melongo melihat Wonwoo. Mereka yakin jika Wonwoo mendengar seluruh percakapan mereka berdua.
"Sahamku cukup untuk membeli Pledis"ucapnya lagi sambil tersenyum.
TBC…
Maaf ya lamaaa…
Keep RnR^^
Typo(s)