Chapter 17

Jisoo dan Jae Hyun melongo mendengar ucapan yang baru saja keluar dari bibir tipis Wonwoo. Jisoo memandang Wonwoo tidak percaya. Wonwoo hanya tersenyum melihat kedua anak dan ayah itu melihatnya dengan mata membulat seperti itu. Pemuda manis itu menghampiri keduanya.

"Aku memegang tiga puluh lima persen saham di Yoomin , ya menurutku itu cukup untuk membeli Pledis,mungkin masih ada sisana"ucap Wonwoo santai.

"Tidak,kau dan keluargamu sudah cukup membantu keluargaku Jeon. Biar aku dan ayahku yang mengurus ini semua dengan kekuatan kita,kau tidak perlu membantu kita lagi"ucap Jisoo.

"Kau mau menikahiku? Kau mau menikah dengan orang yang tidak kau cintai?"Tanya Wonwoo sambil menyipitkan mata sipitnya.

"Itu… Biar aku yang mencari solusinya sendiri"jawab Jisoo sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Solusi? Kau tau ayahku adalah orang yang keras kepala. Benarkan ahjussi?"ucap Wonwoo lalu meminta ucapannya dibenarkan kepada ayah Jisoo. Ayah Jisoo hanya mematung. Ia tidak tau harus bagaimana.

"Tidak apa-apa aku membantu kalian lagi. Lagipula,ini juga menyangkut diriku,aku tidak bisa diam saja Hong. Aku perlu perlawanan dan senjata. Dan sahamku adalah senjataku. Aku akan mengambil sahamku,dan membeli Pledis. Dan ahjussi,kau tidak perlu khawatir masalah pekerjaanmu ataupun Jisoo,karena mungkin Pledis akan kubeli"ujar Wonwoo sambil tersenyum tulus.

Jae Hyun merasa tidak enak kepada Wonwoo yang sangat baik kepadanya dan juga Jisoo. Ia menyesal telah membuat Wonwoo menderita karena erbuatan ayahnya dan juga dirinya. Jae Hyun juga sangat berterimakasih kepada Wonwoo,karenanya ia tidak perlu memikirkan masa depan anaknya yang dulu tidak jelas karena keberadaan Jeon Jin Woo,tapi berkat Wonwoo,ia tidak mengkhawatirkannya.

"Mengapa ahjussi daritadi hanya diam saja?"Tanya Wonwoo sambil menatap pria paruh baya didekatnya. Jae Hyun menatap Wonwoo yang sedang menatapnya dan tersenyum dengan tulus. Jae Hyun segera memeluk Wonwoo.

"Maafkan aku karena telah memaksakan kehendak. AKu sadar jika aku sangat egois,aku hanya takut Jisoo memiliki masa depan yang suram. Maafkan aku"ujar Jae Hyun. Wonwoo hanya tersenyum sambil menepuk pundak teman ayahnya itu yang sudah ia anggap sebagai paman sendiri.

"Aku bisa mengerti ahjussi,karena aku juga tau jika appa melakukan hal yang sama dengan ahjussi karena appa mengkhawatirkan masa depanku juga"jawab Wonwoo tulus.

"Aku benar-benar tidak tau harus bagaimana lagi,tapi yang pasti aku sangat berterima kasih kepadamu"ucap Jisoo.

"Kau lupa? Motto persahabatan kita itu adalah 'saling membantu dan memegang erat persahabatan' sepertinya kau melupakan motto itu"ucap Wonwoo dengan ekspresi murung yang ia buat. Jisoo dan Jae Hyun tertawa melihat ekspresi Wonwoo yang menggemaskan itu.

"Tentu saja tidak,aku fikir kau yang lupa"ucap Jisoo sambil tertawa.

"Jika aku melupakannya,aku sudah meninggalkanmu Hong"ucap Wonwoo dan kembali membuat sepasang ayah dan anak itu tertawa.

"Pokoknya,ahjussi tidak perlu khawatir tentang masa depan Jisoo,aku menjaminnya"ujar Wonwoo sambil tersenyum membuat mata sipitnya itu tinggal segaris.

"Ahjussi benar-benar tidak tau bagaimana harus membalas kebaikanmu,yang pasti ahjussi sangat berterimakasih"ucap Jae Hyun lagi. Wonwoo tersenyum mendengarnya.

"Cukup ahjussi merawat anak ini dengan baik sampai dia menikah nanti,dan juga carikan dia jodoh"ucap Wonwoo dan diakhiri dengan sebuah bisikan diakhir kalimat yag masih bisa didengar oleh Jisoo.

"Yak! Kau fikir aku tidak laku?"protes Jisoo dan membuat Wonwoo tertawa.

"Persahabatan kalian sangat baik ternyata"ucap Jae Hyun.

"Tentu saja ahjussi,tapi kadang anakmu itu menyebalkan"ucap Wonwoo dan dihadiahi oleh jitakan dikepalanya.

"Aku sudah menata rambutku dengan baik,dank au merusaknya,dan ahjussi inilah hal yang menyebalkan"gerutu Wonwoo. Jae Hyun tertawa melihat kedua pemuda itu.

"Apakah Mingyu juga bersahabat baik dengan kalian?"Tanya Jae Hyun lagi.

"Tentu saja,tapi mereka berdua sangat sering bertengkar,dan kadang aku menjadi perantara mereka ketika bertengkar"keluh Jisoo.

"Aku tidak memintanya"kilah Wonwoo.

"Kau tidak menyadarinya"balas Jisoo dan mendapat sebuah delikan tajam dari pemuda berwajah manis itu.

"Persahabatan kalian sangat menyenangkan sepertinya,sama seperti persahabatanku,ayahmu dan ayah Mingyu dulu"kenang Jae Hyun sambil tersenyum.

"Benarkah? Apakah tidak ada yang menyebalkan diantara appa atau ayah Mingyu? Karena Mingyu sangat menyebalkan,mungkin itu keturunan dari ayahnya"celetuk Wonwoo.

"Jika tidak ada yang menyebalkan,tidak akan menyenangkan"jawab Jae Hyun masih dengan senyumnya.

"Sayangnya,sekarang sudah tidak seperti dulu lagi"lanjut Jae Hyun dengan wajah murungnya.

"Tenang saja,aku akan membuat persahabatan kalian kembali,lihat saja"ucap Wonwoo dengan wajah cerah.

"Sepertinya sulit dan kecil kemungkinan"timpal Jisoo.

"Benar juga,tapi tidak ada yang bisa mengubah takdir,siapa tau takdir appa,ahjussi dan Min Woo ahjussi adalah sahabat sejati kan"ucap Wonwoo.

"Sudahlah,kau tidak bekerja Wonwoo?"Tanya Jae Hyun sambil mengalihkan topik.

"Pekerjaanku semua sudah selesai,dan aku sengaja kesini untuk mengajak Jisoo makan siang,apakah ahjussi akan ikut juga?"tawar Wonwoo.

"Tidak,terimakasih. Ahjussi harus mengambil seluruh dokumen penting dirumah,karena nanti sre ahjussi harus pergi ke kantor Kedutaan Besar Indonesia"jawab Jae Hyun.

"Apakah Pledis tahun ini menjadi investor untuk Indonesia?"Tanya Jisoo.

"Seperti itulah. Karena Korea Selatan sudah lama menjadi investor di Indonesia dan bisa menjadi rekan kerja yang baik juga,jadi tidak ada salahnya menanamkan modal di daerah Indonesia"jawab Jae Hyun dn dibalas dengan anggukkan.

"Semoga berhasil ahjussi"ujar Wonwoo sambil tersenyum.

"Baiklah,sampai jumpa"ucap Jae Hyun lalu pergi dari ruangan itu.

"Ayo kita makan,aku sudah sangat lapar"ajak Wonwoo sambil memegang perutnya.

Wonwoo sengaja menaiki mobil Jisoo karena ia malas untuk menyetir. Jisoo mengiyakan Wonwoo untuk naik mobilnya. Hening. Tidak biasanya kedua sahabat itu saling berdiam diri. Biasanya ada saja topic untuk menjadi bahan obrolan mereka. Bosan dengan suasana seperti ini,Wonwoo segera membuka pembicaraan.

"Hong,kau tidak berniat mencari pengganti Jeonghan hyung?"Tanya Wonwoo memecah keheningan. Jisoo tertawa kecil mendengarnya.

"Semudah itukah aku berpaling dari orang yang paling aku sayangi"Wonwoo bingung,sebenarnya itu sebuah pertanyaan atau pernyataan.

"Itu sebuah pernyataan atau pertanyaan?"Tanya Wonwoo. Jisoo tampak berfikir sejenak.

"Aku fikir keduanya"kekeh Jisoo.

"Aku heran mengapa kau harus melepaskan jika kau masih sanggup menggenggamnya"ucap Wonwoo. Jisoo kembali terkekeh mendengar perumpaman Wonwoo.

"Ya,aku memang bodoh,tapi aku lebih bodoh jika aku masih terus menggenggam sesuatu yang seharusnya tidak menjadi milikku"balas Jisoo.

"Aku tidak mengerti denganmu Hong,kau terlalu sabar"ujar Wonwoo gemas. Jisoo kembali terkekeh. Terkadang Wonwoo bingung karena Jisoo sering sekali tersenyum. Tetapi,itu adalah ciri seorang Jisoo. Jika ia tidak pernah tersenyum,dia bukan Hong Jisoo yang ramah. Lagipula,melihat senyum Jisoo dapat membuat hati menjadi teduh. Bahkan es di kutub pun bisa meleleh jika melihat hangatnya senyuman seorang Hong Jisoo.

"Karena Jeonghan pantas mendapatkan yang lebih baik,dan aku akan mencari yang terbaik untukku,walaupun itu akan lama"ujarnya lagi.

"Ya terserah kau. Yang pasti,jika kau dekat dengan seseorang,aku harus menjadi orang pertama yang kau beritau"tuntut Wonwoo. Lagi. Jisoo kembali terkekeh dan mengiyakan tuntutan Wonwoo itu.

Jisoo memarkirkan disalah satu café di daerah Seoul. Mereka berdua memasuki café tersebut. Seorang pelayan menghampiri mereka membawa buku menu. Wonwoo membuka-buka buku menu tersebut dan memesan makanan dan minuman,begitu pula dengan Jisoo. Setelah pelayan itu pergi,keadaan kembali hening. Entah apa hal yang membebani fikiran mereka sampai mereka berdua tidak mempunyai topic untuk dibicarakan.

"Jeon"panggil Jisoo. Wonwoo yang semula menatap keluar jendela,menolehkan kepalanya kepada lelaki tampan dihadapannya sambil mengangkat kedua alisnya.

"Kau yakin membeli Pledis? Kau tidak perlu sejauh itu Jeon"ucap Jisoo. Matanya yang biasa menyorotkan ketuduhan,sekarang menyiratkan keseriusan didalamnya. Wonwoo tersenyum mendengarnya.

"Aku sangat yakin Hong. Aku tidak mau kita berdua hidup tanpa ada cinta didalamnya. Kita ini tidak bisa hidup bersama,jika aku tidak melakukannya,kita berhak bahagia Hong"ujar Wonwoo sambil tersenyum tulus.

"Tapi,kau tidak seharusnya melakukan ini"ujar Jisoo.

"Tidak,ini adalah jalan satu-satunya jalan yang bisa kita tempuh. Tenang saja,sahamku benar-benar cukup untuk membeli Pledis"ucapan mantap dari Wonwoo itu membuat Jisoo menghela nafas. Jika Wonwoo sudah seambisius itu,tidak akan ada yang bisa meruntuhkan jalannya,kecuali jika ia sudah menyerah,tetapi sayangnya,Jeon Wonwoo bukanlah hal yang mudah menyerah jika hanya sebuah kerikil yang menghalangi jalannya. Bahkan sebuah batu yang besar saja,ia akan tetap berusaha untuk menghancurkan batu tersebut untuk mendapatkan jalannya.

"Bagaimana kau bisa mengambil sahammu tanpa dicurigai ayahmu?"Tanya Jisoo.

"Akan selalu ada cara jika kita berusaha"jawab Wonwoo. Jisoo kembali tersenyum,lalu menggenggam tangan sahabat manisnya itu.

"Aku benar-benar berterimakasih kepadamu Jeon. Aku tidak tau bagaimana cara membalasmu. Aku sangat beruntung mempunyai sahabat sepertmu"ucap Jisoo masih menggenggam tangan Wonwoo. Wonwoo tersenyum manis. Jika Mingyu ng melihatnya,mungkin lelaki bertaring itu akan gemas,dan segera menciumnya,bahkan mungkin akan membuat Wonwoo 'habis' ditangannya. Wonwoo tersenyum sangat tulus yang membuatnya terlihat semakin manis dimata siapapun. Wonwoo meletakkan tangannya diatas tangan Jisoo yang sedang menggenggam tangan yang satunya lagi.

"Kita akan terus saling menggenggam seperti ini Hong,dan kita tidak akan pernah untuk melepaskan genggaman ini,kita harus terus seperti ini,karena kita saling membutuhkan. Dan kau harus berjanji akan terus menggeganggamku seperti ini"ucap Wonwoo dan membuat Jisoo kembali tersenyum. Senyum yang sangat teduh.

"Terimakasih karena kau telah mau menggenggamku Jeon Wonwoo"ujar Jisoo dengan senyumnya.

Pesanan mereka datang,kemudian mereka melahapnya sambil terus memakan makanannya. Kali ini suasananya sudah tidak canggung seperti tadi. Mereka berdua sekarang kembali saling mengejek satu sama lain dan berakhir dengan tawa mereka.

"Oh ya,bagaimana hubunganmu dengan Mingyu?"Tanya Jisoo pelan,karena takut ada mata-mata.

"Tadi pagi dia menghubungiku"jawab Wonwoo sambil meminum strawberry smoothies miliknya.

"Apakah sudah tidak ada mata-mata?"Tanya Jisoo penasaran.

"Entahlah,Mingyu juga tidak tau,tapi yang pasti dia masih berhati-hati,dan juga saat menelpon tadi,sepertinya dia melakukannya secara sembunyi-sembunyi"jawabnya lagi.

"Aku tidak habis fikir jika ayahmu dan Min Woo ahjussi masih melanjutkan perang ini,padahal persahabatan mereka juga sangat baik sebelumnya" Wonwoo mengangguk mendenganya.

"Seandainya kau tidak mendapatkan juga restu dari ayahmu baik dari Min Woo ahjussi bagaimana?"pertanyaan Jisoo sukses membuat Wonwoo tersedak choco lava yang sedang dilahap oleh Wonwoo. Jisoo segera memberikan minuman milik Wonwoo dan memberinya tisu.

"Kau tidak apa-apa?"Tanya Jisoo.

"Ya,aku baik-baik saja,aku tidak sampai mati karena tersedak itu berarti aku baik"jawaban Wonwoo itu membuat Jisoo terkekeh mendengarnya.

"Aku dan Mingyu mungkin akan tetap meneruskan hubungan ini,tapi entahlah semua itu tidak pasti. Aku hanya berharap mereka menetujui hubungan kami"jawab Wonwoo.

"Aku juga berharap seperti itu"ucap Jisoo dan dibalas senyuman oleh Wonwoo.

.

.

.

.

Pemuda imut itu kini sedang menatap layar data dihadapannya sampai sang 'calon' CEO memanggilnya. Pria pendek dan imut itu segera berjalan menuju ruangan CEO. Dia takut jika ia melakukan sebuah kesalahan. Walaupun makhluk mungil itu adalah seseorang yang berhati-hati dalam pekerjaannya,tetapi seorang perfeksionis juga pasti melakukan sebuah kesalahan,tidak semua pekerjaan bisa dilakukannya sampai perfect. Pria mungil tersebut menarik nafasnya sebelum memasuki ruangan tersebut,lalu mengetuk pintu serta memasuki ruangan tersebut ketika sebuah suara bass didalam sana mempersilakannya masuk.

"Lee Jihoon,boleh aku meminta bantuanmu?"Tanya Mingyu to the point ketika Jihoon memasuki ruangannya. Namja imut itu mengerjap lucu,lalu segera tersenyum.

"Apakah ini tentang Wonwoo?"tebaknya tepat sasaran. Mingyu hanya tersenyum memperlihatkan taringnya sambil menggaruk tengkuknya. Tingkah yang Mingyu lakukan itu sekilas membuat Jihoon tidak percaya jika sosok dihadapannya ini adalah calon CEO perusahaan yang ia gunakan sebagai sumber kehidupannya. Bagaimana bisa seseorang yang bahkan lebih muda darinya,yang baru saja memperlihatkan sisi kekanakannya menjadi calon pemimpin. Ya,Mingyu memang terkadang lebih childish jika itu semua menyangkut Wonwoo. Tapi dia juga bisa menjadi sosok yang dewasa untuk melindungi namja manis yang sudah mengambil hatinya tersebut.

"Apa itu? Aku akan membantumu jika aku bisa"ujar pria imut itu. Mata Mingyu berbinar-binar mendengarnya,dan sekarang ia terlihat seperti anak kecil yang dijanjikan sebuah mainan.

"Kau boleh duduk dulu"ujar Mingyu sambil berjalan kearah sofa merah marun yang ada diruangannya.

"Kalian ada apa? Bertengkar?"Tanya Jihoon dan membuat Mingyu terkekeh.

"Sebenarnya,kita baik-baik saja,tetapi orang tua kita yang tidak baik kepada kita"jawab Mingyu. Pemuda berkulit tan itu tersenyum pahit saat membicarakannya.

"Aku lupa jika perusahaan kalian saling bersaing"ucap Jihoon.

"Aku akan mempersingkatnya,dan singkatnya disekitar aku dan Wonwoo ada banyak mata-mata ayahku,agar aku tidak menemui Wonwoo,dan sekarang aku hanya berhubungan melalui telpon atau saling mengirim pesan,itupun kita harus sangat hati-hati. Jadi,kita tidak isa bertemu entah sampai kapan,mugkin sebulan"jelas Mingyu. Jihoon hanya terdiam,menunggu Mingyu mengatakan kelanjutannya.

"Aku… Ehmm… Bisakah kau menemui Wonwoo untukku? Untuk memastikan jika ia selalu baik-baik saja?"Mingyu berucap sambil menggaruk kepalanya. Bagaimanapun juga,Jihoon lebih tua satu tahun darinya,dan itu yang membuat Mingyu tidak enak,karena harus meminta bantuan kepada seseorang yang lebih tua darinya.

"Tragis sekali"kekeh Jihoon dan Mingyu hanya menganggukkan kepalanya.

"Baik aku akan membantu,dengan satu syarat"ujar Jihoon dan membuat mata Mingyu kembali berbinar.

"Apapun itu"ucap Mingyu semangat.

"Kau semangat sekali"kekeh Jihoon,lalu melanjutkan omongannya.

"Gajiku naik"ucap Jihoon sambil tetawa.

"Hanya itu?"Mingyu terlihat speechless. Tidak,bukan Mingyu sombong karena ia mempunyai harta yang banyak. Tetapi,Mingyu mengira jika Jihoon akan meminta lebih,karena Mingyu akan menggunakan jasanya untuk beberapa minggu atau mungkin bulan.

"Kau sedang sombong kepadaku?"ucap Jihoon sambil menatapnya tajam. Bohong,tentu saja. Jihoon hanya sedang becanda saat ini.

"Tidak,tidak. Bukan seperti itu,maksudku,aku kita kau akan meminta sesuatu yang lebih"jawabnya polos. Jihoon terkekeh,pemuda dihadapannya ini ternyata memang masih polos.

"Tenang,aku akan membantumu,masalah gaji tadi,aku tidak serius. Aku tulus melakukannya,karena kita semua adalah teman"ucap Jihoon sambil tersenyum.

"Aku benar-benar berterimakasih kepadamu. Sebagai balasannya,aku berjanji akan memberikanmu gaji yang leih banyak"ucap Mingyu dan membuat Jihoon kembali terkekeh.

.

.

.

Disinilah Jeon Wonwoo. Disebuah café sambil menyesap lemonade miliknya,sambil menunggu seseorag datang. Pemuda itu sibuk dengan ponselnya untuk membalas pesan dari sang kekasih yang terus mengiriminya pesan. Sesekali namja dengan foxy eyes itu tersenyum geli membaca balasan dari kekasihnya ang menurutnya cheesy itu,tetapi jauh dilubuk hatinya,itulah yang membuat ia sangat merindukan kekasih tampannya. Sudah 2 minggu ia tidak bertemu dengan Mingyu,membuat ia merindukan segalanya tentang Mingyu. Dan selama 2 minggu ini juga,pemuda it uterus saja bertemu dengan pemuda mungil yang baru saja datang dan duduk dihadapannya. Wonwoo tersenyum ketika Jihoon datang. Mereka berdua menjadi lebih akrab lagi. Ya sebenarnya mereka memang sudah akrab saat Wonwoo keluar dari Gyuwon,tetapi mereka jarang berteu karena sama-sama sibuk,apalagi sekarang Wonwoo ayng notabene nya dalah calon CEO.

"Aku bingung kepada kekasihmu,mengapa ia menyuruhku,jika kalian masih bisa saling berkomunikasi"dengus Jihoon. Wonwoo terkekeh mendengarnya. Ia tau jika sahabatnya itu sedang becanda.

"Memintalah sebuah apartement kepadanya jika ia terus memaksamu"kekeh Wonwoo.

"Aku memikirkan lebih dari itu"ujar Jihoon dan kembali membuat Wonwoo terkekeh.

Keduanya kini sibuk berincang-bincang. Mereka berdua akan membicarakan hal-hal secara random,dan berakhir pada pekerjaan mereka,atau kekasih mereka. Wonwoo sering sekali terkekeh atau tertawa geli ketika Jihoon menceritakan tentang kekasihnya yang menurutnya asik tetapi tidak menurut Jihoon. Menurut Jihoon,kekasihnya itu,Kwon Soon Young,adalah orang paling idiot didunia ini. Jihoon sering kali mendengus saat ia menceritakan kekasihnya itu. Tetapi entah bagaimana seorang Kwon Soon Young yang idiot itu bisa mengambil hati seorang Lee Jihoon ang benar-benar sekeras batu dan sedingin es dikutub.

"Jadi,kapan kau akan membeli Pledis?"Tanya Jihoon samba menyeruput matcha latte didepannya. Wonwoo tampak berfikir sejenak.

"Entahlah,aku masih memikirkan bagaimana caraku untuk mengambil sahamku"jawab Wonwoo. Jihoon terdiam,ia juga tapak sednag berfikir.

"Mengapa kau tidak mengambilnya secara diam-diam?"Tanya Jihoon.

"Tidak bisa,karena pasti Kim Ahjussi akan membicarakannya kepada ayahku terlebih dahulu,karena Yoomin masih milik ayahku bukan milikku sebelum au diangkat menjadi CEO yang baru"jelas Wonwoo.

"Orang-orang berharta memang kejam"ujar Jihoon dan membuat Wonwoo tertawa.

"Apakah aku kejam kepadamu?"canda Wonwoo.

"Oke,aku ralat. Sebagian orang-orang yang berharta memang kejam"Wonwoo kembali tertawa mendengarnya.

"Aku akan menunggu waktu yang tepat,karena jika aku melakukan dalam waktu singkat,atau waktu dekat ini,mungkin ayahku akan curiga,dan tidak akan memberikannya kepadaku"jawab Wonwoo.

"Aku tidak mengerti masalah kalian,yang pasti aku selalu mendukung kalian"ujar Jihoon dengan wajah datarnya. Wonwoo tersenyum kepada Jihoon.

"Ini sudah malam,dan mendung,lebih baik kita pulang"ajak Wonwoo setelah melihat arlojinya.

"Kau yang bayar,karena aku tidak akan kesini jika kekasihmu tidak memintanya"ucap Jihoon sambil bersiap-siap untuk pulang.

"Bukankah memang selalu aku yang membayarnya"ucap Wonwoo datar dan membuat Jihoon tertawa.

Mereka berdua berpisah didepan café tadi. Tadinya Wonwoo berniat untuk mengantarkan Jihoon,tetapi kekasih idiotnya itu datang untuk menjemputnya. Wonwoo segera menaiki Maybach S600 hitam miliknya. Pemuda itu menyetel musik ballad agar sesuai dengan cuaca mendung malam ini.

Wonwoo terkadang iri melihat hubungan Soon Young dan Jihoon yang tidak serumit hubungannya dengan Mingyu. Wonwoo iri melihat Soon Young yang selalu ada untuk Jihoon sesibuk apapun ia dan pekerjaannya. Bukan salah Mingyu jika ia tidak pernah ada untuk Wonwoo,karena Wonwoo juga terkadang tidak ada untuk Mingyu,karena keduanya terlalu sibuk. Terkadang,disaat Mingyu sedang santai,Wonwoo yang sedang sibuk,atau sebaliknya.

Terkadang Wonwoo lelah dengan hubungannya yang ia yakin tidak akan pernah direstui. Tapi sisi lain hatinya berkata jika ia harus tetap mempertahankan Mingyu disisinya. Walaupun keduanya sibuk,dan jarang bertemu,bukan berarti Wonwoo harus menyerah kepada waktu. Ia hanya perlu menunggu waktu yang tepat sampai semuanya baik. Dan pertanyaan yang selalu berjalan-jalan didala fikiran Wonwoo adalah,kapan semuanya akan baik? Bahkan sudah 7 bulan hubungan mereka,tidak ada tanda-tanda jika kedua ayahnya akan berdamai,atau mungkin tidak akan pernah? Wonwoo sebisa mungkin memperjuangkan hubungannya itu dengan Mingyu.

.

.

.

Mingyu benar-benar sibuk. Ia sama sekali tidak bisa membuka ponselnya,atau bahkan hanya sekedar meliriknya,dikarenakan saham yang turun sekitar 0,6 persen,karena Pledis yang baru saja bekerja sama dengan perusahaan besar di Indonesia. Dan tentu saja hal itu membuat saham Pledis naik sebesar 2,5 persen,dan yang berarti saham Yoomin pun akan naik.

Sudah 6 jam Mingyu berkutat dengan komputernya. Belum lagi,ia harus membuang nafas kesal karena ada beberapa client yang memutuskan kontraknya. Mingyu melirik kearah Sekertaris Yoon yang baru saja datang sambil membawa beberapa berkas. Setidaknya Mingyu masih bisa bernafas lega,karena ada beberapa perusahaan yang masih mau menjadi mitra kerjanya. Tapi Mingyu harus mengejar 0,6 persen itu. Mingyu ingin mengejar 0,6 persen itu karena takut kaah saing dengan Yoomin,tetapi karena ia merasa jika itu sudah tanggung jawabnya sebagai seorang calon CEO.

Mingyu segera menyuruh Sekertaris Yoon untuk mengadakan rapat dengan para karyawan,untuk membahas masalah penurunan saham ini. Memang banyak yang berfikir jika 0,6 persen adalah sedikit,tapi bagaimana jika perusahaan besar seperti Gyuwon yang mengalaminya? Karena harta mereka yang banyak,makan 0,6 persen juga adalah angka yang bisa dibilang cukup berpengaruh untuk perusahaan besar seperti Gyuwon,karena dengan turunnya saham di Gyuwon,maka hampir seluruh sub perusahaannya juga akan mendapat hal yang sama.

Sebelum rapat dimulai,Mingyu sempat berbincang sebentar dengan Jihoon. Ia berpesan,jika Mingyu sama sekali tidak bisa untuk menghubunginya untuk akhir-akhir ini,karena ia harus mendapatkan saham yang turun. Jihoon hanya mengangguk mengerti. Terkadang pemuda mungil itu iba kepada kedua sahabatnya itu. Diumur mereka yang masih bisa dibilang muda,mereka tidak seharusnya dibebankan dengan perusahaan yang harus memiliki tanggung jawa yang besar. Seharusnya Mingyu dan Wonwoo masih bisa menikmati masa-masa mereka dengan santai,walaupun bukan dalam arti santai yang sebenarnya,tetapi tidak sampai sesibuk ini. Sebenarnya,Mingyu sudah mengirimi Wonwoo sebuah pesan,tetapi tetap saja ia ingin Wonwoo tau yang lebih jelasnya lagi,walaupun tidak langsung dari bibir Mingyu.

.

Cukup mudah bagi Mingyu untuk mendapatkan 0,6 persen. Mungkin karena otak jeniusnya yang bisa membuat seluruh karyawan bisa mengerti setiap perintahya,dan bersyukur juga karena otak jeniusnya itu dapat dengan mudah menarik banyak perusahaan asing. Walaupun Gyuwon masih dibawah Yoomin,tetapi tidak membuat perusahaan itu kehilangan sahamnya lagi,justru saham Gyuwon sekarang semakin meningkat. Sekali lagi,bersyukurlah Mingyu diberkati otak yang pintar,karena dirinya,ia dapat menarik para perusahaan asing untuk berinvestasi dengan perusahaannya,begitupun sebaliknya. Gyuwon berhasil menjadi investor untuk perusahaan besar dan ternama di daerah Washington DC,dan membuat Mingyu harus pergi ke ibukota negeri Paman Sam itu. Seharusnya ayahnya yang pergi,karena status jabatan masih ada ditangan ayahnya,tetapi Min Woo mempercayai Mingyu sebagai calon seorang CEO.

Dipagi hari yang cukup cerah,dengan sinar matahari sebagai penghangat alami. Jalanan mulai dipenuhi oleh orang-orang berjas dan berdasi serta para pelajar. Mobil-mobilpun sudah terlihat mulai banyak. Dipagi secerah ini,Mingyu yang seharusnya libur,karena tidak ada pekerjaan,tetapi dengan terpaksa harus beranjak untuk mandi,karena ia harus segera pergi ke bandara,dan terbang ke Amerika Serikat untuk masalah kontrak kerjanya.

Ia sudah berbicara dan pamit kepada kekasihna,dan sebenarnya ia ingin sekali memeluk kekasihnya,sebelum ia berangkat ke Amerika. Karena,Hell… Siapa ang tidak tahan bertemu dengan kekasih selama satu bulan,dan sekarang ia harus pergi ke Negara lain,tanpa ada kekasihnya yang mengantar. Setidaknya,Mingyu ingin seperti dicerita-cerita novel fiksi atau seperti scenario dalam sebuah drama,ketika sang lelaki utama harus pergi,sang kekasih ada disana,mengantarnya dibandara,dan terus berkata jika ia akan merindukannya. Dan sebelum pergi,Mingyu ingin memeluk tubuh kurus kekasihnya. Ia ingin mengecup dahi sempit kekasihnya. Dan ia ingin sedikit melumat candu berwarna pink alami milik kekasihnya. Tetapi,itu hanyalah mimpi bagi Mingyu. Setidaknya hanya untuk saat ini,tidak untuk masa depannya. Karena ia dapat menjamin jika masa depannya akan sangat cerah bersama Wonwoo,kekasihnya.

Mingyu terlihat tampan dengan setelan jas dan celana hitamnya. Didalamnya ia memakai kemeja berwarna putih yang jika dijasnya itu dibuka,akan tampak dada bidang Mingyu karena kemejanya yang sedikit kecil. Sebenarnya,bukan kemejanya yang kecil,hanya saja dada Mingyu yang bidang,karena kalian tau badan Mingyu sangat bagus,dan menjadi impian bagi setiap pria. Tak lupa,Mingyu memakai dasi berwarna abu-abu tua. Karena cuaca yang dingin,Mingyu memakai coat abu-abunya,lalu pergi menuju bandara menggunakan Audi R8 merahnya.

.

.

.

Wonwoo menghela nafasnya ketika ia tau jika Mingyu pergi Amerika. Ia sangat merindukan pria yang satu tahun lebih muda darinya itu. Wonwoo kembali pada fikirannya,saat seseorang membuka pintu ruangannya,menampilkan sesosok pria tampan dengan senyuman yang menyejukkan.

"Ada apa kau kesini?"Tanya Wonwoo.

"Apakah tidak boleh?"bukannya menjawa,Jisoo malah balik bertanya,dan membuat Wonwoo mendengus.

"Aku hanya ingin memberikan dokumen ini"lanjut Jisoo sambil memberikan sebuah dokumen. Wonwoo mengambilnya,lalu membuka dokumen itu. Setelah melihatnya,Wonwoo terlihat terkejut,dan Jisoo hanya tersenyum.

"Indonesia meminta Pledis dan Yoomin untuk mengirimkan mobil Hyundai terbaru"ucap Jisoo. Ya,ayah Wonwoo memiliki perusahaan mobil juga,tepatnya Hyundai. Kalian tidak usah membayangkan berapa aset yang dimiliki oleh keluarga Wonwoo,karena itu akan sangat banyak. Wonwoo tersenyum senang mendengar ucapan Jisoo tadi.

"Kapan Indonesia ingin aku mengirimnya?"Tanya Wonwoo semangat.

"Lusa"jawab Jisoo,dan diberi anggukan semangat oleh Wonwoo.

"Apakah lusa,kau bisa datang ke Indonesia juga?"Tanya Jisoo lagi. Wonwoo berfikir sejenak,mengingat apakah ada jadwal penting selain itu.

"Tidak ada"jawabnya.

"Baiklah,kau dan aku akan pergi ke Indonesia lusa"ujar Jisoo,dan Wonwoo hanya mengangguk sambil tersenyum.

.

.

.

Saat pulang dari Indonesia,Jisoo dan Wonwoo kembali ke apartement mereka bersama. Selama di Indonesia,mereka berdua kelelahan,dan tentu saja mereka merasa Indonesia sangat panas. Walaupun begitu,tidak membuat semangat mereka berdua turun. Hey,tumpukan menunggu mereka,siapapun pasti akan mengejar setumpuk uang itu.

"Kau partner yang baik"ujar Wonwoo sambil tersenyum.

"Tentu saja"jawab Jisoo mantap.

"Baiklah,aku akan istirahat,aku ingin tidur"ucap Wonwoo didepan apartementnya.

"Selamat beristirahat"ucap Jisoo sambil tersenyum.

Wonwoo memasuki apartementnya. Ia berbaring sebentar disofa empuk miliknya. Wonwoo memejamkan matanya sebentar,lalu membukanya ketika ia mengingat sesuatu. Wonwoo segera terbangun,dan mengambil ponselnya disaku coat miliknya. Ia melihat ada banyak panggilan masuk dari kekasihnya. Wonwoo segera mendial nomor Mingyu,dan langsung diijawab saat sambungan ketiga.

"Ada apa?"Tanya Wonwoo.

"Apanya yang ada apa?"Mingyu bertanya balik.

"Kau,mengapa kemarin kau terus menelponku?"ujar Wonwoo

"Aku merindukanmu,tentu saja"jawaban Mingyu itu membuat Wonwoo ingin bertemu kekasihnya itu untuk menjitak kepalanya.

"Cheesy" ucap Wonwoo,dan terdengar suara kekehan dari seberang sana.

"Kemarin kau kemana saja?"Tanya Mingyu.

"Kemarin aku pergi ke Indonesia,aku mendapat client baru disana"jawab Wonwoo. Ia kembali tersenyum mengingatnya,karena ia mengingat sahamnya akan naik.

"Kau menyombongkannya kepadaku?"ucap Mingyu.

"Tidak"jawab Wonwoo,wajahnya sangat datar.

"Tadi kau kan bertanya"lanjut Wonwoo.

"Benar juga"jawab Mingyu.

"Kau sudah pulang?"Tanya Wonwoo.

"Sudah,kemarin"jawab Mingyu.

"Aku tidak bertanya kapan kau pulang"ujar Wonwoo,dan kembali terdengar suara kekehan.

"Karena aku tau kau akan bertanya" kekeh Mingyu.

"Sial,kau bisa menebaknya"umpat Wonwoo. Lagi-lagi Mingyu hanya terkekeh mendengarnya. Kekasih manisnya itu bisa menjadi sangat manis dan bisa menjadi sangat cuek,tetapi tetap manis bagi Mingyu.

"Aku merindukanmu,kapan kita bisa bertemu?"pernyataan dan pertanyaan yang dilontarkan oleh Mingyu. Terdengar suara helaan nafas dari seberang sana.

"Aku juga merindukanmu,dan aku hanya bisa berharap,aku bisa bertemu denganmu secepatnya"jawab Wonwoo.

"Baiklah,kalau begitu,buka pintu apartementmu,aku akan mati kedinginan jika kau membiarkanku diluar"ucap Mingyu dan membuat mata Wonwoo memulat sempurna. Wonwoo segera berdiri dari sofanya,dan pergi menuju pintu apartementnya,untuk membuka pintu.

Wonwoo terlihat sangat kaget,saat ia melihat sosok tinggi yang ia rindukan itu sudah berdiri dengan membawa makanan yang sangat banyak. Oh,jangan lupakan senyum dengan taringnya yang membuat Wonwoo selalu tersipu.

"Aku tau aku tampan,tapi bisakah aku masuk kedalam? Disini sangat dingin"ujar Mingyu,dn mereka berdua memasuki apartement Wonwoo.

"Kau gila?"itu kata pertama yang keluar dari bibir Wonwoo. Mingyu hanya mengerutkan dahinya tidak mengerti.

"Apa maksudmu?"Tanya Mingyu.

"Maksudku,bodyguard ayahmu. Apakah mereka sudah tidak mengikutiu lagi? Atau kau sengaja agar para pria bertubuh besar itu kembali menghabisiku? Maaf saja,aku tidak ingin mati muda"cerocos Wonwoo. Mingyu hanya tertawa mendengarnya,sambil menyuapkan pizza kemulutnya.

"Sejahat itu kah aku?"tawa Mingyu.

"Mereka sudah tidak lagi ada disekitar kita Jeon,ayahku percaya jika kita sudah tidak berhubungan lagi"lanjut Mingyu,dan membuat Wonwoo terlonjak kaget.

"Benarkah?"pekik Wonwoo. Tidak bisa dipungkiri,jika pria manis itu sangat senang mendengarnya,karena itu berarti,ia bisa bertemu dengan kekasihnya kapan saja. Mingyu hanya mengangguk sambil memakan pizza yang ada ditangannya.

"Hyung" panggil Mingyu. Wonwoo hanya berdeham tanpa menoleh,ia sibuk memakan fried fries keju yang dibeli oleh Mingyu.

"Jika kita pergi keluar negeri bagaimana?"

UHUK!

Wonwoo tersedak mendengar pertanyaan Mingyu tadi. Ia segera mengambil cola yang berada didepannya. Setelah dirasa,ia bisa kembali bernafas,ia segera menoleh kearah Mingyu sambil menautkan kedua alisnya bingung. Terdengar suara helaan nafas dari Mingyu.

"Maksudku,kau tau kan,jika kedua orang tua kita mungkin tidak akan merestui hubungan kita berdua,dan aku tidak bisa menuruti keinginan egois mereka,aku terlalu mencintaimu dan tak bisa meninggalkanmu hyung" itu hal yang cheesy menurut Wonwoo jika Mingyu sedang becanda,tetapi pemuda tampan itu terlihat sangat serius,dan itu cukup membuat guratan merah terpatri diwajah putih Wonwoo.

"Apakah tidak ada jalan lain?"Tanya Wonwoo setelah kembali dari keterpesonaannya kepada kekasihnya sendiri. Mingyu hanya mengangkat bahunya.

"Jika aku harus pergi denganmu keluar negeri,aku tidak apa-apa,hanya saja,aku harus bisa mengambil sahamku dulu,dan membeli Pledis"ujar Wonwoo. Mingyu kembali mengerutkan dahinya.

"Begini,jika aku tidak bertunangan atau menikah dengan Jisoo,maka masa depan keluarga Jisoo akan terancam,tidak,bukan akan lagi,tetapi masa depan keluarga Jisoo benar-benar akan hancur,karena ayahku akan memutus seluruh koneksi untuk Jisoo dan keluarganya."jelas Wonwoo. Mingyu mengangguk mengerti.

"Cukup menyeramkan"timpal Mingyu.

"Begitulah"jawab Wonwoo.

"Aku akan membantumu,tenang saja"ucap Mingyu sambil tersenyum hangat.

.

.

.

.

.

Sudah seminggu ini Wonwoo dan Mingyu kembali tidak bisa bertemu,dikarenakan pekerjaan. Apalagi Mingyu yang sangat sibuk karena ternyata Gyuwon baru saja menandatangani kontrak untuk bekerja sama dengan sebuah perusahaan yang memproduksi kapal feri ,dan tentu saja itu merupakan suatu pencapaian yang sangat luar biasa,mengingat saham mereka melonjak naik sebanyak 7% .

Sedangkan Wonwoo,ia memang sedang tidak ada pekerjaan,tidak,ralat. Wonwoo sedang bekerja,mungkin bukan fisiknya,tetapi otaknya. Ia masih memikirkan cara untuk meminta saham miliknya kepada ayahnya. Disaat pria manis itu sibuk berkutat dengan fikirannya,tia-tiba saja pintu ruangannya diketuk. Wonwoo memutarkan kedua bola matanya malas.

"Masuk saja Hong,biasanya kau tidak pernah mengetu…" Wonwoo terkejut melihat bukan Jisoo yang masuk ke ruangannya,tetapi seorang pria paruh baya yang persis dengannya. Ya,ayahnya. Jeon Jin Woo sedang tersenyum sambil memasuki ruangannya.

"Ap… Appa? Maaf,aku kira tadi Jisoo"ucap Wonwoo gagap. Ayahnya hanya tersenyum penuh arti.

"Jadi,Jisoo sering datang kemari untuk menemuimu?"Tanya ayahnya masih dengan senyum yang terpatri diwajah tegasnya. Wonwoo hanya mengangguk canggung.

"Jadi hubungan kalian sudah sejauh mana?"Tanya ayahnya,tetapi Wonwoo malah mengerutkan keningnya,sedetik kemudian,ia tersenyum ketika suatu ide terbesit dalam otaknya.

"Kami baik-baik saja"jawab Wonwoo sambil tersenyum manis. Terlihat sekali jika Jin Woo sangat senang mendengarnya.

"Oh ya,appa,bolehkah aku mendirikan sebuah perusahaan?"Tanya Wonwoo hati-hati. Ayahnya mengerutkan keningnya. Wonwoo menahan nafasnya sejenak,memikirkan alas an yang tepat,namun tidak terdengar mengada-ngada.

"Kau tau kan,jika sahamku sudah cukup untuk membangun sebuah perusahaan?"ujar Wonwoo. Maniknya berusaha untuk meyakinkan ayahnya,tetapi ayahnya,masih tetap mengerutkan keningnya. Wonwoo menelan ludahnya secara perlahan.

"Eyyy appa,kau tidak perlu khawatir,aku bisa menjaganya. Lagipula,aku ingin mencoba untuk membangun sebuah perusahaan dimulai dari nol,tanpa bantuan appa"ujar Wonwoo lancar. Dalam hatinya ia bersyukur karena memiliki hati dan otak yang sinkron saat sedang genting seperti ini. Jeon Jin Woo masih terlihat ragu. Terlihat dari ekspresi diwajahnya,jika ada sesuatu yang janggal.

TBC…

Maaf ya kelamaan update,lagi sibuk akhir-akhir ini,mau ukk soalnya.

Oiya,aku bakal terus berterimakasih banget buat kalian para readers aku.

Dan aku juga minta maaf,karena bikin kalian nunggu.

Keep RnR yaaa^^