Chapter 18
"Untuk apa perusahaan itu jika kau masih bisa mengelola perusahaan ini?"selidik ayahnya. Wonwoo mencoba untuk tenang.
"Aku kan sudah bilang,aku ingin mencoba membangun sebuah perusahaan dari nol,tanpa bantuan appa"jawab Wonwoo.
"Tidak"jawab ayahnya,dan membuat Wonwoo tersentak. Ia mengerutkan keningnya.
"Appa aku mohon,biarkan aku berusaha sendiri"mohon Wonwoo.
"Appa bilang tidak"jawab ayahnya tegas. Wonwoo menghela nafasnya.
"Memangnya kenapa appa? Bukankah kau ingin aku menjadi mandiri?"lirih Wonwoo.
"Appa hanya takut client appa berpindah kepadamu,kau kan lebih pintr dari appa"ujar ayahnya,dan membuat Wonwoo membulatkan matanya. Sedetik kemudian,lelaki manis itu tertawa dan ayahnya tersenyum.
"Aku berjanji,jika perusahaanku itu menjadi besar,aku akan bekerja sama dengan perusahaan ini"ujar Wonwoo dan membuat senyuman ayahnya semakin lebar.
"Baiklah,lagipula appa percaya padamu Jeon,aku tau kau bisa menandingi appa,otakmu itu sangat cerdas,jadi appa membiarkanmu untuk membangun sebuah perusahaanmu sendiri"ucap ayahnya dn membuat Wonwoo memeluk pria dipertengahan umur limapuluhan itu.
.
.
Wonwoo menerima sebuah kertas yang sangat berharga untuknya. Kertas yang selama ini ia inginkan. Kertas yang terdapat sebuah nominal yang jumlahnya cukup untuk membeli sepuluh buah apartement bertingkat 3 dengan fasilitas layaknya hotel. Bahkan mungkin,masih tersisa. Ini bukan melebihkan,tetapi memang asset yang dimiliki Wonwoo sangat banyak,walaupun hanya tigapuluh lima persen dari Yoomin,tetapi nominal yang tertera didalam kertas itu sudah cukup untuk Wonwoo,bahkan leih dari cukup. Ia akan membeli Pledis,yang mungkin harganya tigapuluh persen dari sahamnya itu. Wonwoo belum memikirkan sisa dari sahamnya itu dipakai untuk apa,yang jelas,ia akan membeli Pledis terlebih dahulu untuk melunasi janjinya kepada keluarga Jisoo.
Sejujurnya,Wonwoo tidak menyangka jika ayahnya itu akan mempercayainya begitu saja. Ia merasa jika kejadian tadi hanya sebuah ilusi yang sedang mencoba untuk membodohinya. Tetapi Wonwoo segera mensyukurinya,karena ini bukanlah sebuah ilusi. Mungkin ini adalah hadiah yang Tuhan berikan,atas cobaan yang selama ini mengusik kehidupannya. Wonwoo segera menelpon Jisoo untuk bertemu di café milik Jeonghan hyung nya yang sudah lama tidak bertemu.
.
.
.
Wonwoo tersenyum lebar ketika melihat ketiga orang yang satu tahun lebih tua darinya itu sedang berbincang-bincang. Seungcheol juga ada disana karena ia malas pergi ke kantor. Ya,Seungcheol juga adalah seorang CEO dari Choi Corp. Meski tidak sebesar perusahaan milik Mingyu dan Wonwoo,tetapi perusahaan milik Seungcheol itu sudah bisa untuk mencukupi anak-anaknya nanti. Bahkan perusahaan milik Seungcheol mulai menunjukan eksistensinya didunia 'perbisnisan' yang kejam itu. Dan juga pria yang tadi Wonwoo minta untuk pergi ke café Jeonghan,sebenarnya sudah lama berada disana.
"Aku sangat merindukanmu"ucap Jeonghan sambil memeluk Wonwoo erat. Wonwoo membalas pelukan hyung nya itu.
"Aku juga hyung,maaf akhir-akhir ini tidak bisa bertemu,aku sangat sibuk"ucap Wonwoo sambil melepas pelukannya.
"Aku tau calon CEO pasti sangat sibuk"kekeh Jeonghan. Wonwoo hanya mengerucutkan bibirnya.
"Ada apa kau menyuruhku datang? Ada hal penting?"Tanya Jisoo akhirnya. Seketika,senyum Wonwoo mengembang. Jisoo baru menyadari,jika selama sebulan ini,senyum yang Wonwoo tunjukkan sekarang,adalah senyum yang menyiratkan akan kebahagiaan. Sebelumnya Wonwoo hanya berkamuflase dengan senyumnya itu,tetapi senyumnya saat ini seperti memberi tau kepada Jisoo,jika seluruh beban yang Wonwoo tanggung,sudah terbayar. Wonwoo benar-benar terlihat sangat bahagia dengan senyumnya yang lebar,dengan matanya yang menyipit itu.
"Kau pasti tidak akan percaya"ujar Wonwoo masih dengan senyum manisnya. Siapapun yang melihatnya,orang sehat sekalipun,mungkin akan langsung terkena diabetes saat melihat senyum Wonwoo saat ini.
"Apa?"Tanya Jisoo dengan alis yang bertautan. Wonwoo tersenyum misterius. Ia benar-benar tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Jeonghan dan Seungcheol juga memasang wajah penasaran,membuat Wonwoo ingin tertawa.
"Mengapa wajah kalian sangat penasaran?"kekeh Wonwoo.
"Cepatlah"ujar Jisoo tidak sabar.
"Baiklah. Ehem.." Wonwoo berdehem sebentar,lalu melanjutkan omongannya.
"Sebentar lagi…"Wonwoo kembali memberi jeda,membuat ketiga orang pendengarnya semakin penasaran.
"Apa? Cepatlah"titah Jisoo.
"Aku sudah mengambil sahamku"pekik Wonwoo bahagia. Ketiga orang pedengarnya itu segera membulatkan matanya. Sedangkan Wonwoo tersenyum bahagia.
"Benarkah? Berapa banyak?"Tanya Seungcheol penasaran.
"Yang pasti cukup untuk membeli Pledis"jawab Wonwoo. Ia sama sekali tidak melepas senyumnya itu.
"Waahh… Bagaimana kau memintanya pada ayahmu?"Tanya Jisoo.
"Aku hanya bilang,aku akan mengambil sahamku untuk membuat perusahaan baru,dan jika sukses nanti,aku akan bekerja sama dengan perusahaan ayahku"ucapnya riang.
"Aku benar-benar penasaran dengan jumlahnya"ujar Jeonghan. Wonwoo hanya tersenyum.
"Aku sore ini akan pergi ke Pledis"ujar Wonwoo.
"Kau akan membelinya sore ini juga?"Tanya Seungcheol. Wonwoo mengangguk mantap.
"Aku hanya ingin semua bebanku hilang,dan tidak ada lagi yang mengusik hidupku"ujar Wonwoo.
"Apakah Mingyu tau?"Tanya Jisoo.
"Aku belum memberi taunya"jawab Wonwoo.
"Maaf merepotkanmu"ujar Jisoo tidak enak. Wonwoo tersenyum tulus.
"Tidak apa-apa Hong,tidak ada yang salah disini,jadi kau tidak perlu meminta maaf"ujar Wonwoo.
"Kau terlalu baik Jeon"ujar Seungcheol sambil terkekeh.
"Kau baru menyadarinya hyung?"ucap Wonwoo percaya diri.
"Aku menyesal mengucapkannya"ucap Seungcheol datar.
Setelah cukup lama berbincang dan bergurau,Wonwoo memustuskan untuk segera pergi,karena ia benar-benar memiliki urusan yang sangat penting. Wonwoo sengaja pergi sendiri,ia ingin menyelesaikannya segera,karena mungkin Jisoo akan melarangnya,dengan alas an,Wonwoo sudah membantu terlalu banyak.
Sesampainya di gedung besar tersebut,Wonwoo segera pergi ke ruangan diujung lantai tujuh belas. Wonwoo mengetuk pintu tersebut,dan segera memasuki ruangan itu setelah mendengar suara dari dalam yang menyuruhnya masuk.
Kim Ahjussi. Pria dipertangahan umur limapuluh tahun itu tersenyum ketika meihat pemuda itu memasuki ruangannya. Pria dengan rambut yang sudah banyak ditumbuhi oleh uban itu mempersilakan tamunya untuk duduk disofa berwarna coklat muda yang ada diruangan besar itu. Kim Ahjussi memerintahkan seorang office boy untuk membawakan segelas jus jeruk,dan satu cangkir espresso. Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk menunggu minuman tersebut,hanya menunggu 10 menit,dan minuman itu sudah ada diatas meja berbahan dasar Kristal dengan pinggiran marmer tersebut. Siapapun yang mendengarnya mungkin tidak percaya jika bahan dasar untuk meja itu adalah Kristal,tapi jika melihat langsung,semuanya akan percaya melihat gemilau dari meja tersebut.
"Ada perlu apa?"Tanya Kim Ahjussi membuka obrolan. Wonwoo terlihat menarik nafas sejenak.
"Ahjussi,apakah aku bisa meminta tolong bantuanmu?"Pinta Wonwoo. Pria paruh baya itu tersenyum.
"Apa itu?"
"Aku tau kau sangat loyal kepada appa,tapi,bisakah kau rahasiakan hal ini saja?"pinta Wonwoo lagi. Pria beruban itu mengerutkan dahinya.
"Aku… Aku.. Aku ingin membeli Pledis"ujar Wonwoo terbata. Lelaki paruh baya dihadapannya terdiam sejenak,lalu mengulum senyumnya.
"Mengapa kau ingin membelinya?"Tanya Kim Ahjussi.
"Ahjussi,kau pasti tau kan jika appa,ingin sekali aku dan Jisoo menikah,tapi kami berdua sama sekali tidak saling mencintai,kami cukup sebagai sahabat. Dan,appa mengancam,jika Jae Hyun ahjussi tidak menjodohkan Jisoo denganku,appa akan memutus seluruh koneksi yang ia punya agar Jae Hyun ahjussi ataupun Jisoo tidak dapat bekerja dimanapun. Aku tidak mau itu terjadi. Cukup sudah appa mengekangku,aku lelah dengan semua perintah appa,aku juga tidak ingin Jisoo dan keluarganya sengsara. Aku mohon bantu aku"mohon Wonwoo.
"Kau tau jika aku loyal kepada ayahmu"ucapan itu membuat nyawa Wonwoo serasa dicabut secara paksa,dan entah melayang kemana.
"Tetapi,aku rasa ayahmu memang terlalu keterlaluan dalam memaksakan kehendaknya"Wonwoo membulatkan matanya. Nyawa telah kembali pada tubuhnya. Pria yang sudah ia anggap sebagai pamannya sendiri itu kembali mengulum senyumnya,membuat Wonwoo ikut tersenyum.
"Aku akan membantumu Wonwoo-ah,tenang saja. Aku juga sebenarnya sudah tau dari awal apa ang membuatmu kesini"tambah Kim Ahjussi.
"Kapan kau akan segera membelinya?"
"Sekarang juga"jawab Wonwoo semangat.
"Tapi… Apakah ini akan cukup?"Tanya Wonwoo sambil memperlihatkan kertas saham miliknya. Kim Ahjussi membulatkan matanya.
"Kau tau jika ini nominal yang sangat banyak? Tentu saja ini cukup,bahkan kau bisa menyewa sebuah pulau atau bahkan mungkin kau bisa membeli pesawat pribadi"jawab pria dihadapannya.
"Benarkah?"Tanya Wonwoo dengan mata berbinar.
"Tentu saja"jawab Kim Ahjussi mantap. Wonwoo segera tersenyum dan berterima kasih kepada Kim Ahjussi.
"Tapi sebelumnya,kita harus pergi bersama Jaehyun,bagaimanapun juga,jika kau ingin membelinya,kau harus pergi bersama orang yang memiliki jabatan di perusahaan ini"ujar Kim Ahjussi. Wonwoo mengangguk,lalu segera mengeluarkan benda kotak panjang tipis berwarna hitam,dan segera menghubungi Jae hyun.
Sesampainya Jae Hyun disana,mereka bertiga segera pergi untuk menukarkan saham menjadi sebuah perusahaan. Wonwoo terlihat sangat senang. Bahkan cahaya rembulan yang begitu terang,tidak bisa menandingi wajah Wonwoo yang sedang berseri-seri malam itu,karena malam itu juga Wonwoo resmi menjadi seorang CEO. CEO Pledis Corp.
.
.
.
Wonwoo meregangan badannya ketika sampai di apartementnya. Ia membaringkan tubuhnya di sofa empuk yang berada diruang tv. Lelaki itu terlihat sangat lelah,namun hatinya masih cerah,secerah wajahnya yang masih mengulum senyum. Wonwoo memejamkan matanya. Ia mencoba untuk tertidur,namun,ia segera membuka matanya ketika ia mencium aroma masakan yang menguar dari dapurnya. Wonwoo menghampiri sumber aroma itu,dan menemukan lelaki tinggi menggunakan hoodie hitamnya sedang memasak pasta. Lelaki tinggi itu terkesiap ketika melihat Wonwoo sudah ada disampingnya sambil tersenyum dan menyuruhnya untuk segera menyelesaikan masakannya.
Mingyu dan Wonwoo duduk berhadapan di ruang makan. Wonwoo tidak bisa tidak tersenyum barang sedikitpun. Hal itu membuat Mingyu bertanya-tanya,karena tidak biasanya kekasih manisnya itu tersenyum. Bukan,bukan maksudnya lelaki manis itu tidak pernah tersenyum,hanya saja,Wonwoo tidak akan tersenyum jika sedang seperti ini,biasanya ia hanya akan menunjukkan ekspresi datarnya. Mingyu yakin ada sesuatu hal yang membuat kekasih manisnya itu tersenyum.
"Apa ada hal yang menyenangkan?"Tanya Mingyu. Wonwoo menolehkan kepalanya. Mata yang biasanya tajam dan dingin itu kini terlihat sangat lembut dan hangat. Wonwoo masih setia melengkungkan bibirnya keatas.
"Kau tau?"ujar Wonwoo sambil menunjukkan sumpitnya kedepan wajah Mingyu. Matanya menyipit,menyuruh Mingyu untuk menebaknya. Mingyu hanya menggelengkan kepalanya.
"Aku sudah membeli Pledis"ucap Wonwoo. Senyumannya semakin lebar. Mingyu membulatkan matanya. Ia kaget dan senang diwaktu yang bersamaan.
"Benarkah? Cukkae uri chagiya"ucap Mingyu cheesy. Wonwoo biasanya akan menjitak kepada Mingyu,atau memukul dahi Mingyu menggunaka sendok,tetapi kali ini,ia hanya tersenyum lalu melanjutkan memakan pasta buatan kekasihnya.
"Aku juga telah memutus kontraknya dengan Yoomin"ucap Wonwoo,kali ini ia mengucapkannya agak pelan.
"Mengapa?"Tanya Mingyu sambil mengerutkan keningnya.
"Kau bodoh? Pledis itu kan sebenarnya masih sub dari Yoomin,jika aku tidak memutuskan kontraknya,itu sama saja dengan Pledis yang masih milik ayahku"jelas Wonwoo. Mingyu menganggukkan kepalanya.
"Yang pasti selamat untukmu. Kau sudah memberi tau Jisoo hyung?"Tanya Mingyu. Wonwoo menggelengkan kepalanya.
"Mungkin Jaehyun ahjussi yang akan memberi taunya"ujar Wonwoo.
"Kau juga harus memberi taunya"ucap Mingyu sambil melahap pastanya.
"Biarkan saja,agar ini menjadi surprise saat Jaehyun ahjussi memberi taunya"ujar Wonwoo.
Setelah selesai makan malam bersama. Kedua sejoli itu hanya berbincang-bincang di ruang tv. Wonwoo menceritakan semua kejadian yang ia alami hari ini. Senyumnya tidak pernah lepas dari wajahnya. Mingyu ikut tersenyum melihat kekasihnya.
"Aku senang,sekarang aku sudah bisa bernafas lega"ujar Wonwoo sambil tersenyum. Mingyu menatap wajah Wonwoo lamat-lamat.
"Syukurlah jika kau sudah bisa bernafas lega,aku akan ikut lega"ucap Mingyu sambil membelai wajah Wonwoo. Wonwoo memiringkan badannya,mensejajarkan posisi wajahnya dengan wajah Mingyu. Ia menatap Mingyu tepat dimaniknya. Wonwoo tersenyum,dan membuat kekasihnya ikut tersenyum.
"Kau berjanji tidak akan meninggalkanku?"Tanya Wonwoo. Mingyu hanya mengangguk tapi pasti. Mingyu mendekatkan wajahnya ke wajah manis Wonwoo. Mengecup bibir tipis milik Wonwoo. Wonwoo membalasnya. Ciuman itu menghantarkan kehangatan untuk keduanya. Ciuman yang lembut itu kini disertai dengan lumatan-lumatan,dan lama-kelamaan ciuman itu menjadi menuntut. Keduanya sama melumat dengan ganas. Mingyu sesekali menjilat bibir bawah Wonwoo,dan menggigit bibir tipis itu,membuat sang empunya mengeluarkan lenguhan kecil. Mingyu mengabsen seluruh gigi Wonwoo,dan mulai beradu lidah. Saliva yang mengalir disudut bibir Wonwoo tidak luput dari jangkauan Mingyu,ia segera menjilatnya,dan menciumnya kembali. Ruangan itu kini mulai dipenuhi dengan suara-suara lenguhan dan desahan kecil yang Wonwoo keluarkan. Mingyu mulai turun menuju leher putih milik Wonwoo. Ia membuat tanda kepemilikan disekitar lehernya. Wonwoo hanya bisa mengangkat kepalanya,menikmati setiap kegiatan yang dilakukan oleh bibir dan lidah Mingyu dilehernya. Sesekali Mingyu menggigit kecil leher putih itu. Mingyu mulai meraba-raba perut rata milik Wonwoo. Menggelitik perutnya,dan memainkan jari-jarinya didalam kaos putih yang Wonwoo kenakan. Tangan Mingyu mulai memainkan nipple milik Wonwoo. Merabanya dan mulai mencubitinya. Kegiata yang dilakukan oleh Mingyu dibalik kaosnya seakan sebuah sengatan bagi Wonwoo. Wonwoo mulai mengeluarkan desahan yang lebih keras lagi,membuat Mingyu menyeringai melihat ekspresi kekasihnya yang terlihat sangat menikmati permainannya. Mingyu kembali melumat bibir Wonwoo. Wonwoo menekan tengkuk Mingyu agar ciuman mereka semakin dalam. Entah Mingyu yang memang kuat,entah karena baju Wonwoo yang tipis. Mingyu berhasil merobek kaos Wonwoo dengan satu kali tarikan. Terpampang dada mulus milik Wonwoo,dan membuat Mingyu kembali membuat tanda kepemilikan disana. Mingyu mulai menjilati nipple merah muda milik Wonwoo sedangkan nipple yang satunya tidak dibiarkannya untuk menganggur. Mingyu memainkan tangan kanannya di nipple kanan Wonwoo. . Atau bahkan sekedar bermain-main dengan meraba-rabanya. Wonwoo yang sudah tidak kuat dengan rangsangan yang diberikan oleh Mingyu,memuka celana Mingyu ditengah lenguhan-lenguhan yang ia keluarkan. Mingyu segera turun,menuju perut Wonwoo dan kembali menciuminya. Setelah dirasa miliknya sudah sangat tegang,Mingyu segera membuka celana Wonwoo dan membuangnya kesembarang arah. Mingyu segera memasukan kejantanannya ditubuh Wonwoo. Membuat kekasihnya itu mendesah tidak karuan. Mingyu terus menggenjot badan kurus milik Wonwoo. Apartement itu kini dipenuhi oleh suara-suara desahan yang keluar dari bibir keduanya. Bibir Wonwoo tidak henti-hentinya mendesah merasakan sengatan yang disalurkan oleh Mingyu kepada tubuhnya.
Malam itu,menjadi malam yang panjang untuk keduanya. Mereka berdua terus bermain,sampai mereka mencapai batasnya. Mingyu yang sudah sangat lelah,kini berbring disebelh kekasihnya yang mash mengatur nafas. Keduanya berkeringat. Mereka berdua juga sama-sama mengatur nafas mereka. Mulut mereka berdua terbuka meraup oksigen sebanyak yang mereka bisa. Mingyu memperhtikan wajah Wonwoo yang sedang terpejam dengan bibir yang terbuka. Mingyu tersenyum memperlihatkan taringnya yang menawan. Mingyu segera memeluk tubuh kurus kekasihnya dan berbisik.
"Kau sangat seksi,dan aku mencintaimu kemarin,sekarang,besok,dan begitu seterusnya. Saranghae"bisik Mingyu. Mata Wonwoo terbuka. Ia menatap Mingyu yang berada begitu dekat disampingnya. Iaa tersenyum.
"Aku membencimu,tetapi kau tau aku sedang berbohong,dan kau tau aku sedang mengatakan hal yang sebaliknya. Nado saranghae"balas Wonwoo.
Wonwoo membalas pelukan Mingyu. Keduanya sama-sama memejamkan matanya. Terlelap dalam keadaan tanpa sehelai benangpun. Terlelap dalam badan yang lengket karena keringat dan bercampur dengan cairan lengket yang Wonwoo keluarkan tadi. Wonwoo terlelap sambil mengulum senyumnya. Ia sangat bahagia malam ini,dan mungkin untuk sekarang dan seterusnya akan selalu begitu,karena ia sudah menyelasikan janjinya kepada keluarga Hong,dan ia akan terus bahagia,selama Mingyu selalu mendekapnya seperti saat ini.
Tbc…
Maaf yaaa kalo nunggu lama. Oiya,buat yang kemarin penasaran sama nc nya Meanie,aku kasih,tapi maaf ya kalo kurang,maklum lah amatiran dibidang 'peryadongan'.
Oiya,mungkin ff ini sebentar lagi tamat,dan aku bakal terusin ff ini setelah aku udah selesai ukk.
Thanks yaa buat semuanyaaa…
Keep RnR yaaa^^
Typo(s)
