Chap 19
Wonwoo dan Mingyu keluar dari apartement Wonwoo setelah mereka menghabiskan malam yang panjang. Saat mereka sampai didepan apartement,mereka bertemu dengan Jisoo. Mingyu langsung memanggil Jisoo.
"Kau menginap di apartement Wonwoo?" Tanya Jisoo sambil mengerutkan dahinya. Mingyu hanya tersenyum,sedangkan Wonwoo,wajahnya sudah merah. Jisoo berdecak melihat ekspresi keduanya.
"Aku dapat membaca dari ekspresi kalian berdua" ucap Jisoo. Wajah Wonwoo bertambah merah,dan lelaki tinggi disampingnya masih terus tersenyum penuh arti.
"Hong,kau sudah tahu beritanya?" Tanya Wonwoo untuk mengalihkan pembicaraan sekaligus untuk memastikan jika Jisoo sudah tau jika Pledis sudah menjadi milik Wonwoo.
"Tentu saja,mengapa kau tidak memberi tahu padaku?" ujar Jisoo datar.
"Surprise" jawab Wonwoo senang. Lelaki manis itu masih dalam euforia.
"Baiklah. Tetapi,selamat kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan" ujar Jisoo,lalu memeluk Wonwoo. Pria berkulit tan yang berada dihadapan mereka langsung memalingkan wajah,sambil berdeham cukup kencang. Jisoo langsung melepas pelukan pada sahabatnya itu.
"Syukurlah kau mengerti" ucap Mingyu sambil menggosok-gosok hidungnya yang tidak gatal.
"Kau bilang tidak akan cemburu" cibir Wonwoo.
"Apakah aku sedang cemburu?" Tanya Mingyu sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Wonwoo,tetapi kekasih manisnya hanya menatapnya datar,lalu mendorong kepala Mingyu menjauh.
"Biarkan saja,dia kan masih anak kecil" ejek Jisoo. Mingyu langsung membelo kepada Jisoo.
"Yak! Aku sudah besar,bahkan aku lebih tinggi dari kalian" sombong Mingyu.
"Kau tadi berteriak? Itu tidak sopan" ucap Jisoo sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Mingyu hanya memutar kedua bola matanya malas.
"Oh ya,apakah kau tidak bekerja Mingyu?" Tanya Jisoo sambil melihat jam diponselnya.
"Aku bekerja,tapi karena tidak ada meeting atau hal penting lainnya,jadi aku bisa terlambat"jawab Mingyu.
"Ahli waris" celetuk Jisoo, dan Mingyu hanya tertawa.
Wonwoo dan Jisoo sampai didepan gedung berlantai Sembilan belas yang terletak dipusat kota Seoul. Keduanya segera memasuki gedung tersebut. Belum ada yang mengetahui jika Wonwoo sekarang adalah CEO dari Pledis,para karyawan yang lain hanya tau jika Wonwoo adalah anak dari sang CEO. Saat baru saja sampai di lobby, Wonwoo dan Jisoo bertemu dengan Jae Hyun. Lelaki paruh baya itu sedang memegang beberapa berkas,saat ia melihat Wonwoo,ia langsung membungkukkan badannya sedikit. Wonwoo langsung mencegahnya,lalu ia menggeleng untuk mengisyaratkan, jika Jae Hyun tidak perlu melakukannya.
"Aigoo… Ada sajangnim disini" ucap Jae Hyun cukup keras,dan membuat beberapa karyawan yang mendengarnya hanya menatap Wonwoo dengan kaget,lalu segera terseyum ketika beradu tatap dengan Wonwoo.
"Ahjussi" bisik Wonwoo sambil menaruh telunjuk didepan bibir tipisnya.
"Wae? Bukankah harusnya ada pesta untuk penggantian CEO?" Tanya Jae Hyun lagi,kali ini dengan suara yang kecil. Wonwoo langsung menggeleng,ia menolak ide itu secara mentah-mentah.
"Ani,ani.. Jika ada pesta,nanti appa akan tau"ujar Wonwoo pelan.
"Jika kau seperti itu,kapan kau akan memberi tahu appamu? Semua ini pasti akan terbongkar Wonwoo-ya" ucap Jae Hyun lagi.
"Aku tahu,tapi tidak sekarang,aku harus membangun sebuah perusahaan baru lagi,karena aku berjanji akan membangun sebuah perusahaan dengan uangku sendiri" jawab Wonwoo. Jae Hyun mengangguk,lalu tersenyum.
"Baiklah,jika itu adalah rencanamu"
"Terimakasih ahjussi, sudah mendukungku" ujar Wonwoo sambil tersenyum.
"Baiklah,aku harus pergi dulu,ada client yang menunggu,kau ingin ikut 'sajangnim'?" ucap Jae Hyun dengan bisikan diakhir kalimat.
"Eii ahjussi,panggil aku seperti biasa saja,aku tidak suka dipanggil seperti itu,aku seperti sudah tua" jawab Wonwoo.
"Baiklah,jadi kau mau ikut Jeon Wonwoo?" Tanya Jae Hyun lagi.
"Tidak,aku ada urusan lain" jawab Wonwoo.
"Apakah kalian menganggapku?" Tanya Jisoo yang sedari tadi tidak diajak bicara. Wonwoo dan Jae Hyun tertawa geli mendengarnya.
"Aku pergi dulu" pamit Jae Hyun,lalu pergi degan membawa Sonata YF 2.4 putihnya.
Wonwoo dan Jisoo pergi ke ruangan milik Wonwoo. Pria manis itu ingin meminta pendapat tentang rencana pembuatan perusahaan barunya. Meskipun Wonwoo sudah memakai sahamnya untuk membeli Pledis,tetap saja ia harus menepati janjinya kepada ayahnya jika ia akan membangun perusahaan barunya, lagipula, saham miliknya masih bisa dipakai untuk membuat sebuah perusahaan baru yang cukup besar.
"Jisoo-ya, aku harus segera membuat perusahaan baruku" ucap Wonwoo. Jisoo mengerutkan keningya.
"Untuk apa? Kau kan sudah memiliki Pledis" timpal Jisoo.
"Bukankah aku sudah jika dari awal aku sudah berjanji aku akan membuat perusahaan baru yang harus aku mulai dari nol,aku sudah berjanji kepada ayahku" jawab Wonwoo.
"Anak yang baik" ejek Jisoo sambil menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu.
"Tenang saja,aku pasti akan membantumu,aku juga akan meminta bantuan pada ayahku" Wonwoo tersenyum kepada Jisoo. Jisoo memang sahabat terbaiknya.
"Kapan aku harus memberi tahu ayahku,jika aku sudah membeli Pledis?" ucap Wonwoo bingung.
"Saat kau siap untuk memberi tahunya" jawab Jisoo.
"Karena sepertinya kau belum siap mengatakannya untuk saat ini,jadi kau jangan dulu memberi tahu ayahmu" tambah Jisoo. Wonwoo menganggukkan kepalanya.
"Baiklah,aku akan segera menghubungi asistenku untuk memanggil orang agar bisa membangun secepat mungkin" ujar Wonwoo.
"Tentu saja seorang CEO harus memiliki asisten" kekeh Jisoo.
"Tenang saja,aku memiliki beberapa kenalan,mungkin itu bisa membantumu untuk segera menyelesaikan pembangunan perusahaan barumu" ucap Kim Ahjussi yang tiba-tiba sudah ada didepan pintu.
"Ahjussi? Sejak kapan kau berdiri disitu?" ujar Wonwoo yang masih terlihat kaget.
"Belum lama" jawab pria itu sambil tersenyum. Wonwoo segera mempersilakan pria paruh baya itu untuk duduk di sofa yang berada di ruangan itu.
"Apakah kau sudah memberi tahu ayahmu?" Tanya Kim Ahjussi kepada Wonwoo.
"Aku sedang mencari waktu yang tepat" jawab Wonwoo.
"Baiklah. Aku tadi mendengar pembicaraanmu dengan Jisoo soal pembangunan perusahaanmu yang baru. Aku mempunyai beberapa kenalan jika kau mau, mungkin bos mereka akan memberikanmu diskon, karena kau adalah anak seorang Jeon Jin Woo" saran Kim Ahjussi.
"Benarkah? Mengapa mereka akan memberiku diskon? Apakah mereka teman ayah?" Tanya Wonwoo.
"Ya,mereka adalah orang-orang kepercayaan ayahmu. Ayahmu bekerja sama dengan mereka saat pertama kali membangun Yoomin, dan saat membangun Pledis juga,ayahmu tetap menggunakan mereka, intinya, semua perusahaan ayahmu yang ada di Seoul itu bekerja sama dengan teman ayahmu itu,jadi mereka pasti akan memberimu diskon" jelas Kim Ahjussi. Foxy eyes milik Wonwoo terlihat berbinar-binar.
"Ahjussi aku sangat berterima kasih kepadamu" ucap Wonwoo senang. Kim Ahjussi hanya tersenyum melihatnya begitupun dengan Jisoo.
"Oh ya, ahjussi ada keperluan apa?" Tanya Wonwoo lagi.
"Aku lupa, ayahmu menyuruhku untuk memberi tahu jika kau harus membangun perusahaan barumu di daerah Apgujeong, dia bilang jika disana terdapat tanah yang kosong dan cukup luas untuk sebuah perusahaan" Wonwoo mengangguk mendengar pesan yang disampaikan oleh Kim Ahjussi.
"Dan juga, ayahmu bilang jika ia sudah mengirimkan alamatnya melalu e-mail" tambah pria beruban tersebut.
"Woaah… Aku merasa bersalah sekaligus berterima kasih kepada ayahku" ungkap Wonwoo.
"Kau harus meminta pengampunan Jeon" ejek Jisoo sambil membuat tampang prihatin.
"Baiklah ahjussi, aku akan mengeceknya di e-mail ku, lalu aku akan memanggil orang yang ahjussi sarankan tadi. Sekali lagi, aku sangat berterima kasih" ucap Wonwoo sambil membungkukkan badannya.
"Oh ya, masalah orang-orang itu, kapan kau akan membangunnya? Biar aku yang menghubungi mereka"
"Secepatnya" jawab Wonwoo mantap.
"Baiklah, aku akan menghubungi bos mereka, dan menyuruh mereka mulai bekerja lusa"
Wonwoo dan Jisoo menjatuhkan rahangnya.
"Bukankah itu terlalu cepat?" Tanya Jisoo.
"Sajangnim ingin membangun secepatnya" ejek Kim Ahjussi sambil terkekeh melihat ekspresi datar Wonwoo.
"Oh ya benar,jika tidak segera dilaksanakan, aku tidak mempunyai pekerjaan" timal Jisoo dan mendapat death glare dari Wonwoo.
"Baiklah, nanti aku akan menghubungi bos mereka, dan akan aku pastikan jika lusa mereka sudah mulai membangun"
"Terimakasih ahjussi" untuk kesekian kalinya, Wonwoo mengucapkan terimakasih sambil membungkukkan badannya.
.
.
.
.
Wonwoo langsung menghampiri Mingyu yang sudah menunggunya sambil memakan kimbab. Karena mulutnya penuh oleh kimbab, jadi Mingyu hanya melambaikan tangannya. Wonwoo segera duduk dihadapan kekasih tampannya itu, lalu mengambil kimbab menggunakan tangannya dan melahap kimbab itu.
"Eiii jorok sekali" dengus Mingyu, tetapi Wonwoo tidak mempedulikannya, lelaki manis itu segera mengambilnya lagi menggunakan tangannya. Ketika, Wonwoo akan mengambilnya lagi, Mingyu dengan cepatnya menyumpal mulut Wonwoo dengan kimbab yang ada disumpitnya.
"Mengapa kau lama sekali?" Tanya Mingyu sambil meminum frappuchino. Wonwoo masih mengunyah makannanya, setelah ia menelannya, Wonwoo segera mengambil minuman Mingyu.
"Aku tadi membicarakan dulu tentang pembangunan perusahaan baruku dengan Kim Ahjussi dan Jisoo" jawab Wonwoo.
"Jadi kapan perusahaanmu itu akan dibangun?" Tanya Mingyu penasaran.
"Lusa"
Jawaban singkat Wonwoo itu berhasil membuat Mingyu tersedak oleh salivanya sendiri. Ia segera meminum air mineral yang sudah ia pesan sebelumnya.
"Lusa? Bukankah itu sangat mendadak?" Tanya Mingyu.
"Ya, tapi Kim Ahjussi bilang, jika orang-orang yang akan membangun perusahaanku itu adalah orang-orang yang sudah bekerja sama dengan ayahku sejak lama, jadi itu tidak menjadi masalah" jawab Wonwoo dengan santainya.
"Kau benar-benar tidak mau aku membantumu?" Tanya Mingyu lagi. Wonwoo segera menggeleng.
"Aku bilang pada ayahku, jika aku akan memulai dari nol tanpa bantuan siapapun. Jika kau mau, kau bisa membuat Gyuwon menjadi investor untuk perusahaanku nanti" celetuk Wonwoo.
"Jika ayahku mengizinkan" ucap Mingyu malas.
"Oh ya, kau kaan akan memberi tahu ayahmu?"
"Semua orang bertanya seperti itu kepadaku" ujar Wonwoo malas.
"Entahlah, aku belum siap untuk memberi tahu ayahku" tambah Wonwoo.
"Ya sudah, tidak usah difikirkan, itu urusan mentalmu" kekeh Mingyu.
"Kau tidak berniat untuk membangun perusahaanmu sendiri?" Tanya Wonwoo.
"Nanti aku akan membangunnya untuk hadiah pernikahan untukmu" jawaban Wonwoo itu sukses membuat Wonwoo tersedak kimbab dengan wajah yang merah. Entah wajah Wonwoo merah karena ucapan Mingyu tadi, entah karena dia tersedak. Tetapi sepertinya, pernyataan pertama lebih mendominasi.
"Kau serius dengan perkataanmu?" Tanya Wonwoo, raut wajahnya mulai serius.
"Jika kau benar-benar menginginkan aku membangun perusahaan baru, aku akan membangunnya" jawab Mingyu enteng.
"Bukan yang itu" ucap Wonwoo dan membuat Mingyu mengerutkan keningnya.
"Tentang kau a… akan me..menikahiku?" Tanya Wonwoo tergagap. MIngyu tersenyum manis, senyum yang bisa membuat siapapun yang melihatnya akan langsung terpikat. Mingyu meremas lembut tangan kekasihnya itu.
"Karena kau tidak mempunyai calon mempelai yang lain, jadi aku memilihmu saja" canda Mingyu dan membuat Wonwoo melepaskan tangan Mingyu dengan kasar. Mingyu tertawa melihat ekspresi kesal Wonwoo.
"Aku akan menikah dengan Jisoo saja" kesal Wonwoo. Mingyu masih tertawa melihat ekspresi Wonwoo yang menurutnya terlihat sangat manis.
"Ya ya yaa… Aku, Kim Mingyu, lelaki tertampan di dunia ini, berjanji akan menikahi Jeon Wonwoo yang jelek dan kurus" Mingyu memang sangat senang mengejek Wonwoo dan membuat Wonwoo kesal, tetapi Mingyu serius jika ia akan menikahi pria manis yang sudah memikat hatinya dari awal pertemuan mereka.
.
.
.
Wonwoo menuruni Hyundai Genesis berwarna maroon metallic. Ia ingin melihat proses pebangunan perusahaan barunya yang sebenarnya tinggal proses final saja. Wonwoo memasuki bangunan yang nanti akan menjadi kantor barunya itu. Saat ia memasuki ruangannya, terlihat beberapa orang yang sedang memasang wallpaper berwarna abu-abu soft yang dipadukan dengan warna kuning muda. Wonwoo sengaja memilih warna kuning muda agar ruangannya terlihat fresh. Saat sedang asik melihat-lihat, seseorang menepuk pundaknya.
"Appa?" ujar Wonwoo kaget. Min Woo hanya tersenyum, lalu kembali melihat-lihat pekerjaan yang dilakukan oleh para pekerja.
"Bagaimana? Kau puas?" Tanya Jin Woo kepada anak semata wayangnya. Wonwoo terlihat berfikir.
"Aku akan puas jika perusahaan ini akan mengungguli Yoomin" kekeh Wonwoo.
"Jika hal itu terjadi, maka perusahaan ini harus menjadi investor" pasangan anak dan ayah itu kembali tertawa.
"Kau sudah memikirkan nama perusahaanmu?" Tanya Jin Woo lagi. Wonwoo menggeleng.
"Itu urusan terakhir,yang penting perusahaan ini maju" ujar Jin Woo. Wonwoo kembali tersenyum mendengar ucapan ayahnya itu.
"Appa, kau sudah makan? Jika sudah, temani aku makan" paksa Wonwoo, dan ayahnya itu hanya tersenyum lalu pergi ke sebuah restoran terdekat.
Wonwoo dengan lahap memakan semua makanan yang ia pesan tadi. Wonwoo terlihat sangat lapar. Jika Wonwoo makan dengan lahap, itu berarti, Wonwoo sedang merasa bahagia, menurut Jisoo dan Mingyu. Ya, Wonwoo pasti sedang bahagia, karena ia sebentar lagi akan mempunyai perusahaan baru yang ia hasilkan dari jerih payahnya sendiri.
"Woaahh… Enaknya" Wonwoo segera meminum air mineralnya.
"Wonwoo-ya… Sebentar lagi, kau akan menjadi seorang CEO, aku ingin kau segera menikah, karena kau juga kan sudah cukup dewasa" ucap Jin Woo. Wonwoo membelalakkan matanya.
"Tetapi jika kau belum siap, aku tidak akan memaksamu"ucap ayahnya lagi. Wonwoo mengambil nafas dalam-dalam. Ia menggigit bibir bawahnya.
'Mungkin ini waktu yang tepat' batin Wonwoo.
"Aku akan bilang kepada Mingyu kapan kita akan menikah" ucap Wonwoo mantap dan membuat ayahnya itu membelo. Jin Woo mengeraskan rahangnya.
"Aku tidak akan menyetujuinya" ujar Jin Woo tegas.
"Maaf appa, tapi aku tidak akan menikah jika itu bukan Mingyu" Wonwoo menatap ayahnya dengan tajam. Ayahnya membuang nafas kasar. Jin Woo melonggarkan dasi yang ia pakai.
"Kau tahu apa yang akan terjadi jika kau menikahi anak sialan itu" ancam Jin Woo. Wonwoo hanya terdiam.
"Kau tidak kasihan kepada Jisoo dan keluarganya?" Jin Woo membuat sebuah smirk, tetapi itu tidak membuat Wonwoo takut.
"Aku tidak peduli" ucap Wonwoo dingin.
"Baiklah, aku akan segera memecat Jae Hyun dan Jisoo, kau harus mendengarnya" ancam Jin Woo, tetapi Wonwoo masih terus menatapnya dengan dingin.
"Telepon saja, dan pecat saja jika kau bisa" tantang Wonwoo.
"Yak! Kau fikir aku main-main? Baiklah, aku akan segera meneleponnya" Jin Woo segera mencari kontak Jae Hyun, setelah menemukannya, ia segera mendial nomor tersebut.
"Yeobseyo?" terdengar suara Jae Hyun diseberang sana, Jin Woo segera memencet tombol loud speaker.
"Jae Hyun-ah ,mulai saat ini, kau tidak usah bekerja di Pledis, kau sudah ku pecat" ujar Jin Woo tanpa basa-basi.
"Kau memecatku?" Tanya Jae Hyun terdengar kaget.
"Ya, karena Wonwoo tidak ingin menikah dengan Jisoo, dan ia tidak peduli pada keluarga kalian" ucap Jin Woo sambil menatap Wonwoo tajam.
"Syukurlah kalau Wonwoo sudah mengatakannya" ucapan Jae Hyun itu membuat Jin Woo mengerutkan keningnya.
"Ahjussi, aku belum mengatakannya, tolong kau kasih tahu kepada appa" ujar Wonwoo sambil menatap ayahnya dingin. Ayahnya menatap Wonwoo dengan beringas, tetapi itu tidak menyurutkan tatapan tajam dari Wonwoo.
"Baiklah sajangnim" ucap Jae Hyun dengan sengaja. Jin Woo mengerutkan dahinya, Wonwoo hanya mengangkat bahunya, lalu menyenderkan badannya dikursi.
"Apa maksudmu Hong Jae Hyun?" Jin Woo mulai geram dengan semua perkataan basa-basi dari Jae Hyun.
"Kau pasti sangat pintar untuk mengerti ucapanku tadi" balas Jae Hyun dari seberang sana.
"Cepat katakan padaku!" bentak Jin Woo. Beruntung mereka berada diruangan VIP, jadi mereka tidak perlu mengkhawatirkan tatapan orang-orang.
"Ahjussi tidak usah bertela-tele, beri tahu saja langsung ayahku yang sedang penasaran ini" ucap Wonwoo dingin.
"Baiklah karena sajangnim yang menyuruh" ucap Jae Hyun.
"Ya, seperti yang aku bilang, kau pasti mengerti apa maksud dari kata 'sajangnim' , hanya saja, jika kau ingin mengetahuinya dariku, aku akan memberi tahu segera jika Wonwoo sekarang adalah CEO dari Pledis, jadi kau tidak berhak untuk memecatku, semua keputusan ada ditangan Wonwoo sekarang" jelas Jae Hyun yang membuat darah Jin Woo naik sampai ke ubun-ubun. Jin Woo langsung membanting benda persegi panjang berwarna hitam miliknya, ia sudah menatap anak yang berada dihadapannya dengan sangat marah, tetapi justru anaknya itu tetap pada ekspresi dinginnya.
"Kau! Apa maksudmu Jeon Wonwoo? Apa kau sengaja mengambil saham hanya untuk membeli Pledis?" teriak Jin Woo.
"Kau merelakan sahammu hanya untuk membeli perusahaan kecil itu! Aku bisa memberimu perusahaan yang lebih besar! Aku bisa memberimu Yoomin! Apa susahnya?" ujar Jin Woo. Wonwoo mulai bergerak, ia sekarang menatap ayahnya dengan datar.
"Tentu saja susah, kau memaksaku untuk menikah dengan orang yang aku cintai, apakah itu tidak sulit untukmu? Aku tidak perlu perusahaan besarmu itu, aku hanya perlu cintaku dan sahabatku" ujar Wonwoo dingin.
"Tentu saja itu mudah, buktinya aku bisa merelakan orang yang aku cintai untuk sahabatku, dan aku bisa menikah dengan ibumu. Sadarlah Jeon Wonwoo, kau hanya perlu menikah dengan Jisoo, cinta akan tumbuh dengan seiringnya waktu, kau hanya tinggal bersama Jisoo, dan lama-kelamaan cinta itu tumbuh, itu sangat mudah" ucap Jin Woo sedikit merayu.
"Itu sulit untukku" ujar Wonwoo singkat.
"Jeon Wonwoo! Kau hanya perlu menikah dengannya dan aku akan memberikan semua sahamku! Apakah kau bodoh? Kau sangat naïf Jeon Wonwoo!" teriak ayahnya lagi.
"Kau hanya bisa memberiku harta, kau tidak bisa memberiku kasih sayangmu" ucap Wonwoo dengan suara yang tegas dan menusuk.
"Kau fikir aku tidak menyayangimu? Tidak mungkin aku membesarkanmu jika aku tidak menyayangimu"
"Mana kasih sayangmu? Kau hanya dapat memberiku harta. Kau hanya memberiku materi. Kau tidak bisa memberikan apa yang aku inginkan!" suara Wonwoo mulai bergetar, tetapi ia bisa menutupinya.
"Apa yang kau inginkan? Jika kau memintaku untuk merestui hubunganmu dengan anak itu,aku tidak akan sudi. " teriak Jin Woo lagi. Tangannya sudah mengepal dengan erat, rahangnya mulai mengeras.
"Aku hanya perlu appa yang selalu mendukungku, kau tidak bisakan menjadi seperti itu? Kau hanya bisa menjadi appa yang memaksakan kehendaknya kepadaku! Kau hanya menempatkan beban dipundakku! Kau hanya memikirkan keinginanmu, tanpa memikirkan perasaanku! Apakah itu yang kau maksud dengan kasih sayang?" Wonwoo melakukan hal yang sama dengan ayahny, ia mengepalkan tangannya dengan erat. Wonwoo menatap ayahnya dengan tatapan dinginnya. Jika dilihat dari luar, Wonwoo terlihat kokoh dengan segala pendiriannya, tetapi jika menyusuki nuraninya, ia sangat rapuh, batinnya menangis, hatinya terasa tertohok saat ia mengungkapkannya. Jika ia seorang aktor, ia bisa memerankan peran dengan sangat baik.
"Aku hanya ingin kau menikah dengan Jisoo, dan aku tidak akan membebankan apapun kepadamu" ucap ayahnya melunak. Wonwoo tertawa nanar.
"Aku dan Mingyu akan segera menikah, tidak peduli dengan segala gertakanmu dan ancamanmu serta tindakanmu, aku hanya peduli dengan hidupku dengan kasih sayang didalamnya" ujar Wonwoo final, dan lelaki manis itu segera meninggalkan ayahnya yang masih kesal.
Haaaaiiiiiiiiiiiiiiiiii….
Maaf ya author hiatus gak bilang-bilang…..
Kemarin lagi ada gangguan hehe…
Ini udah dilanjut, maaf kalau author bikin kalian nunggu dan mungkin ada yang mikir kalau ff ini gak akan diterusin, author gak setega itu kok hehe…
Oiya maaf juga kalo chap ini gak sesuai dengan keinginan kalian, dan terlalu pendek
Okeyy keep RnR yaaaa^^
Thanks buat semua readers…
Aku sayang kalian dan meanie:*
