Chap 22

Wonwoo mengerjapkan matanya. Membuka matanya perlahan, setelah dua jam matanya tertutup. Mingyu yang kaget melihat kekasihnya mambuka mata, langsung memanggil para medis untuk mengecek keadaan Wonwoo. Wonwoo memegang kepalanya yang terasa masih sakit akibat benturan dengan besi.

Mingyu menciumi punggung tangan Wonwoo karena ia terlalu bahagia. Jisoo yang juga ada disitu langsung tersenyum lega melihat sahabatnya itu sudah pulih.

"Tadi apa yang menghantam kepalaku?" Tanya Wonwoo masih sambil memegang kepalanya.

"Sebuah besi." Jawab Jisoo. Wonwoo memijat-mijat keningnya.

"Mengapa mereka ceroboh sekali. Bisa-bisanya mereka membuat kesalahan sefatal tadi." Kesal Mingyu.

"Pria hitam ini daritadi terus mencemaskanmu, sampai dia membentakku." Dengus Jisoo. Wonwoo menatap Mingyu datar.

"Berlebihan." Timpal Wonwoo datar.

"Jika kepalamu tidak terbentur, aku akan menjitakmu." Ucap Mingyu. Wonwoo hanya menatapnya, lalu melirik kearah Jisoo.

"Lalu, bagaimana dengan kantor? Tidak terjadi kerusakan kan'?" Tanya Wonwoo.

"Otakmu yang rusak." Celetuk Mingyu, dan membuat Wonwoo menjitak kepalanya.

"Aku benar jika otakmu rusak. Seharusnya kau mengkhawatirkan dirimu. Kau itu kurus, dan lagi kau tadi tertimpa barang yang mungkin lebih besar darimu, dank au malah mengkhawatirkan kantormu. Sarafmu sepertinya terjepit." Celetuk Mingyu lagi dan membuat Wonwoo melakukan jitakan kedua kalinya.

"Badanku tidak sekurus itu idiot." Dengus Wonwoo.

"Aku pergi saja." Ujar Jisoo yang merasa diabaikan.

"Yak! Jawab dulu pertanyaanku, apakah di kantor baik-baik saja?" Tanya Wonwoo lagi.

"Ya, tetapi semua pekerja bangunan sudah ku pecat." Ujar Jisoo dan refleks membuat Wonwoo membulatkan mata kecilnya.

"Waeyo? Kau gila?" Ujar Wonwoo.

"Mereka sangat ceroboh, bagaimana jika mereka melakukan kesalahan yang lebih fatal lagi?" Ucap Jisoo kesal.

"Aku akan menyuruh seorang arsitektur untuk menyelesaikan kantormu." Ujar Mingyu. Wonwoo menatap Mingyu dengan tatapan penuh Tanya.

"Aku akan menyuruh Zaha Hadid untuk mengurus kantormu itu." Ungkapan Mingyu itu membuat Wonwoo dan Jisoo membelalakkan matanya.

"Kau serius?" Tanya Wonwoo masih dalam mode shock.

"Untuk apa aku bohong. Lagipula dia adalah teman dari ayah temanku." Jawab Mingyu santai.

"Benarkah? Siapa?" Tanya Jisoo penasaran.

"Kau tahu Hansol kan? Temanku saat aku di New York? Ayah Hansol adalah teman Zaha Hadid." Jelas Mingyu dan membuat Jisoo mengangguk-anggukan kepalanya.

.

.

.

Akhir-akhir ini, Wonwoo sering memergoki Mingyu yang selalu melamun. Seperti saat ini, Mingyu terdiam sambil melipat kedua tangannya didepan dada. Mingyu terlihat memikirkan sesuatu. Sesekali Mingyu menghela nafasnya. Wonwoo tidak ingin bertanya. Wonwoo ingin Mingyu yang menceritakannya terlebih dahulu.

"Ada apa dengan Mingyu?" Bisik Jeonghan. Wonwoo melirik kea rah Jeonghan, dan menggelengkan kepalanya. Seungcheol sepertinya mendengar apa yang Jeonghan bisikkan, karena ia berada tepat di sebelah Jeonghan. Seungcheol melirik kearah Mingyu. Ia lalu memukul mejanya pelan dan membuat Mingyu mengalihkan pandangannya.

"Kim Mingyu, tidak biasanya kau diam seperti ini." Ujar Seungcheol sambil menyeruput frappuchino miliknya.

"Aku hanya sedikit pusing karena saham perusahaanku." Ucap Mingyu sambil tersenyum. Wonwoo mengernyitkan dahinya. Ia tahu jika kekasihnya itu berbohong.

"Eiii… Bukankah sahammu sudah kembali?" Pertanyaan dan pernyataan dari Seungcheol.

"Aku harus memikirkan strategi untuk mengalahkan perusahaan ayah Wonwoo." Ejek Mingyu.

"Ucapkanlah yang sebenarnya." Wonwoo menatap Mingyu datar tetapi dalam. Seungcheol dan Jeonghan menatap kearah Wonwoo, sedangkan Mingyu mengernyitkan dahinya.

"Aku tahu kau berbohong. Kau tidak sedang memikirkan sahammu kan'?" Tanya Wonwoo datar. Seungcheol dan Jeonghan kemudian menatap Mingyu. Pria berkulit tan itu menghela nafasnya.

"Baiklah." Ucap Mingyu. Ketiga orang disekitarnya langsung menyimak apa yang akan Mingyu bicarakan.

"Sebenarnya aku yang menyuruh Jisoo hyung untuk memecat pekerja bangunan itu." Jujur Mingyu.

"Aku tahu." Jawab Wonwoo. Mingyu menatap Wonwoo bingung.

"Jisoo hyung menceritakannya?" Tanya Mingyu.

"Tidak." Jawab Wonwoo singkat.

"Lalu kau mengetahui dari siapa?" Tanya Mingyu.

"Intuisi." Jawab Wonwoo.

"Lanjutkan ceritamu." Ucap Wonwoo lagi.

"Ya, mengapa aku menyuruh Jisoo hyung untuk memecat mereka? Aku merasa ada hal yang janggal." Ujar Mingyu.

"Maksudmu?" Tanya Wonwoo bingung.

"Apakah sebelumnya para pekerja itu pernah melakukan kesalahan fatal seperti kemarin?" Tanya Mingyu. Wonwoo menggelengkan kepalanya.

"Itu dia. Mereka belum pernah melakukan kesalahan sefatal itu."

"Bukankah itu hal yang biasa? Bukankah itu bisa saja terjadi?" Timpal Seungcheol.

"Ya, memang itu bisa saja terjadi, tetapi kau tahu jika bos mereka itu dekat dengan ayahmu. Aku hanya berfikir jika ayahmu menyuruh mereka untuk melakukan kesalahan seperti kemarin. Karena Jin Woo ahjussi kan tidak menyukai hubunganku dengan Wonwoo hyung, dan dia juga sangat marah ketika Wonwoo hyung membeli Pledis kan? Bahkan ia menculik Jihoon dan yang lainnya. Dan juga ayahmu tahukan jika kau sedang melakukan perluasan di Pledis? Jika ia tidak tahu juga, pasti bos mereka memberi tahu ayahmu, dan menyuruh ayahmu untuk mencelakaimu." Jelas Mingyu.

"Sejahat itukah appaku?" Ujar Wonwoo sedikit tidak terima.

"Aku tidak tahu, tapi aku hanya menduga jika ayahmu mensabotase pekerjaan mereka kemarin. Mungkin bisa saja aku salah, tapi dugaanku juga tidak menutup kemungkinan." Tambah Mingyu.

"Aku rasa dugaan Mingyu bisa saja benar." Ucap Seungcheol.

"Ayahmu bisa saja melakukan apapun agar kau tidak bersama Mingyu, dan perusahaan miliknya kembali." Tambah Seungcheol lagi. Jeonghan ikut mengangguk, menyetujui perkataan Seungcheol dan Mingyu. Wonwoo terdiam sejenak.

"Sejujurnya, aku juga berfikiran hal yang sama dengan Mingyu, tapi aku mencoba menepis semuanya. Aku tidak ingin berfikir jika ayahku sejahat itu. Tapi ternyata, semua orang menyadarinya." Wonwoo tertawa getir ketika firasat buruk yang ia rasakan, dirasakan jug oleh orang lain.

"Aku akan menanyakannya langsung kepada ayahku." Ujar Wonwoo sambil bersiap-siap untuk pergi. Mingyu segera mencegahnya. Ia mencekal tangan Wonwoo agar tidak dulu pergi.

"Tidak, kau tidak boleh membicarakannya sekarang." Cekal Mingyu.

"Mengapa?" Tanya Wonwoo datar.

"Jika kau pergi membicarakannya sekarang, kau tidak mempunyai alasan untuk besok. Besok kau ingatkan jika kita berdua akan mempertemukan kedua ayah kita? Jika ayahmu nanti bertanya untuk apa pergi ke restoran besok, kau akan menjawab apa? Aku rasa ia tidak akan datang tanpa alasan yang jelas, maka dari itu, kau bisa membuat ini menjadi alasan agar ayahmu datang ke restoran besok." Ujar Mingyu. Wonwoo kembali duduk di kursinya. Ia menghela nafas panjang.

"Ayah kalian akan bertemu?" Tanya Seungcheol.

"Ya, tapi mungkin Wonwoo hyung tidak akan mempunyai alasan untuk mengajak bertemu dengan ayahnya, maka dari itu, aku menyarankan jika hal ini kau jadikan alasan untuk bertemu dengan ayahmu. Jika aku, hubunganku dengan ayahku masih baik, aku bisa beralasan untuk mengajaknya makan siang karena aku sudah tidak pernah makan siang bersama ayahku, atau alasan lain." Jawab Mingyu. Seungcheol menganggukkan kepalanya.

"Kau idiot yang cerdas." Ujar Seungcheol sambil mengacungkan jempolnya.

"Kau sudah idiot, bodoh." Balas Mingyu.

"Yak! Tidak sopan berbicara seperti itu kepada yang lebih tua. Lagipula aku tidak bodoh, jika aku bodoh aku tidak mungkin mempunyai sebuah perusahaan." Tampik Seungcheol.

"Dasar orang tua." Cibir Mingyu.

"Kalian sangat berisik." Ucap Jeonghan.

"Kau sudah bilang pada ayahmu?" Tanya Wonwoo pada Mingyu.

"Aku akan bilang nanti, karena nanti aku akan pergi ke kantor." Ujar Mingyu.

"Dimana tempatnya?" Tanya Jeonghan.

"Di Restoran Unamjeong." Jawab Wonwoo.

"Oh ya, aku sudah booking restoran tersebut, agar tidak ada yang datang kesana besok. Aku juga menyuruh semua staff restoran untuk keluar setelah menyajikan makanan." Ujar Mingyu.

"Kau memang bertindak sangat cepat." Ucap Jeonghan kagum.

"Otakku memang berjalan dengan cepat, tidak seperti kekasihmu." Ejek Mingyu dan mendapat bonus jitakan dari Seungcheol.

"Mengapa kalian selalu saja bertengkar? Kalian membuatku pusing." Ucap Jeonghan sambil meminum latte miliknya.

"Baiklah, jadi aku tinggal menelfon appa, dan memintanya untuk datang ke restoran Unamjeong." Simpul Wonwoo.

"Semoga kedua ayah kalian bisa bersahabat kembali seperti dulu." Ujar Jeonghan sambil tersenyum tulus. Wonwoo membalas senyuman Jeonghan.

"Oh ya, apakah Jaehyun ahjussi sudah diingatkan lagi?" Tanya Mingyu.

"Aku hampir lupa. Aku akan menelfon Jisoo dulu." Wonwoo mengeluarkan ponselnya, dan segera menghubungi Jisoo.

.

.

.

Wonwoo kembali ke apartementnya. Ia segera merebahkan dirinya di sofa. Wonwoo memejamkan matanya. Menarik nafas secara perlahan, dan ia mengeluarkannya sambil membuka matanya. Wonwoo kembali bangun dari posisinya. Wonwoo mengeluarkan ponselnya, dan segera mencari kontak. Tanpa fikir panjang, Wonwoo segera memencet layar ponselnya yang terdapat nama 'Appa' disana. Wonwoo menghembuskan nafasnya berkali-kali. Wonwoo takut ayahnya akan mencurigai rencananya dengan Mingyu. Setelah diangkat, terdengar suara pria paruh baya di sebrang sana.

"Aku dengar kau mengalami kecelakaan." Ujar ayahnya ketika mengangkat telepon.

"Kau tidak menanyakan keadaanku?" Tanya Wonwoo dengan suara dinginnya. Ayahnya tertawa mendengar pertanyaan Wonwoo.

"Kau yang menyuruh orangmu untuk mencelakaiku kan?" Tambah Wonwoo lagi. Tawa ayahnya seketika terhenti.

"Apa?" Tanya ayahnya dengan nada penasaran.

"Kau tidak perlu berpura-pura, aku tahu kau yang menyuruh orangmu untuk mencelakaiku, agar perusahaanmu bisa kembali." Ucap Wonwoo masih dengan nada yang sama. Ayahnya kembali tertawa. Wonwoo hanya mendengarnya sambil menghembuskan nafasnya.

"Ternyata kau lebih cerdas. Intuisimu juga sangat kuat." Ujar ayahnya sambil tertawa. Jadi, benar apa yang Mingyu dan Seunghceol katakana, jika ayahnya yang membuatnya terluka. Hati Wonwoo sedikit mencelos mendengar jawaban ayahnya, dan hatinya lebih sakit karena ayahnya tidak menanyakan keadaannya dan malah menertawakannya.

"Ya, memang aku yang menyuruh mereka untuk mencelakaimu. Aku tidak akan berhenti mengganggu hidupmu, kecuali jika kau akan berpisah dengan anak brengsek itu." Nada suara ayahnya langsung berbeda. Nadanya menjadi dingin.

"Apakah ayah tidak lelah menghabiskan hidup hanya untuk menggangguku?"

"Tidak." Jawab ayahnya singkat.

"Lagipula, siapa kau?"

Bagaikan tertusuk ribuan jarum, hati Wonwoo merasa sangat perih. Hati Wonwoo kembali mencelos. Wonwoo terdiam sejenak. Ia memejamkan kedua matanya, dan air matanya lolos membasahi pipi mulusnya. Wonwoo menghembuskan nafasnya perlahan.

"Appa, aku ingin bertemu dengamu besok di restoran Unamjeong pukul satu siang." Wonwoo berkata masih dengan mata yang tertutup. Kembali terdengar suara tawa dari ayahnya. Rahang Wonwoo mengeras. Ia ingin memaki, tetapi ia tidak sanggup. Rasa sakit di hatinya lebih mendominasi daripada rasa kesalnya.

"Kau ingin berbicara apa?" Tanya ayahnya.

"Aku akan membicarakannya besok." Jawab Wonwoo.

"Aku tidak akan datang tanpa alasan yang jelas." Wonwoo tertawa kecil. Ternyata benar ucapan Mingyu, jika ayahnya tidak akan datang tanpa alasan yang jelas.

"Apakah aku harus memberitahumu alasannya?" Tanya Wonwoo dingin.

"Jika kau ingin aku datang." Jawab Jin Woo sama dinginnya.

"Baiklah." Wonwoo menghela nafasnya.

"Apakah kau akan tetap tidak datang jika aku pergi ke kantor polisi, dan menyerahkan semua bukti jika kau adalah orang yang mencelakaiku?" Tanya Wonwoo masih dengan nada dinginnya, sedangkan suara ayahnya berubah menjadi panik.

"Aku tidak percaya, kau pasti berbohong jika kau memiliki bukti." Ucap ayahnya. Kali ini, Wonwoo yang tertawa.

"Sedari tadi aku merekam pembicaraan kita, mau aku kirimkan?" Tanya Wonwoo kembali dengan nada dinginnya.

"Kirimkan!" Geram Jin Woo.

Kurang dari satu menit, terdapat notifikasi dari email milik Jin Woo. Email itu berisi sebuah voice note, dan itu adalah benar-benar rekaman percakapan dirinya dengan anaknya. Jin Woo menggeram. Wonwoo hanya tersenyum setelah mengirim email tersebut. Ia memikirkan jika besok ayahnya akan benar-benar bertemu dengan mantan sahabatnya, Kim Min Woo. Saat sedang memikirkan hari esok, ponsel Wonwoo berbunyi. Wonwoo tertawa melihat nama ayahnya tertera di layar ponselnya. Ia sudah memastikan jika ayahnya akan berteriak, dan menyetujui pertemuannya besok.

"Kau akan datang besok?" Tanya Wonwoo dengan tawa kemenangannya. Terdengar suara geraman dari seberang sana.

"Baklah! Asal kau harus menghapus voice note tadi!" Geram Jin Woo. Wonwoo kembali tertawa, menertawakan ayahnya sendiri. Wonwoo hanya terlalu senang mengingat ayahnya dan ayah Mingyu akan segera bertemu. Walaupun belum tentu pertemanan mereka akan kembali.

"Baiklah. Jangan lupa di restoran Unamjeong pukul sembilan pagi. Jangan sampai terlambat… Appa." Ucap Wonwoo sambil menekankan katanya di akhir. Nafas Jin Woo yang tadinya menderu dengan cepat, kini perlahan terasa sesak. Wonwoo sudah tidak mendengar lagi suara geraman ayahnya, karena itu, ia langsung menutup telponnya.

Wonwoo kembali memejamkan matanya. Air matanya mengalir. Ia menangis dalam diam, tetapi lama-kelamaan tangisannya terdengar memilukan. Dadanya terasa sesak saat ia benar-benar mendengar langsung pengakuan ayahnya jika memang ia yang mencelakainya. Bahu Wonwoo bergetar hebat. Wonwoo terisak dengan keras. Sebenci itukah ayahnya sampai ia harus mencelakai anaknya sendiri? Pertanyaan itu muncul dalam benaknya, membuat hatinya berdenyut sakit. Tangisan Wonwoo semakin kencang. Hati Wonwoo benar-benar sakit. Ia membanting ponselnya ke lantai. Wonwoo terus menangis hingga ia lelah dan jatuh tertidur di sofa.

Pagi harinya, Wonwoo bangun dalam keadaan yang sangat kacau. Matanya masih terlihat sembab. Jejak air matanya masih membekas di pipi mulusnya. Wonwoo melirik jam dinding. Ia segera pergi untuk membersihkan dirinya karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah delapan pagi.

.

.

.

"Appa, kau tidak lupa janji kita kan?" ujar Mingyu kepada ayahnya. Min Woo tersenyum.

"Tentu saja appa tidak lupa. Kapan kita akan berangkat?" Tanya Min Woo kepada Mingyu. Mingyu mengangkat alisnya. Ia berfikir apakah Wonwoo dan ayahnya sudah berangkat atau belum.

"Jika kita berangkat sekarang, apakah kita akan sampai pukul sembilan?" Tanya Mingyu. Min Woo melirik arlojinya.

"Mungkin pukul sembilan lewat." Jawab ayahnya itu. Mingyu mengangguk.

"Baiklah, ayo kita berangkat sekarang. Aku sudah lapar." Ujar Mingyu sambil tersenyum kepada ayahnya.

"Baiklah, ayo kita berangkat." Min Woo segera berjalan.

"Appa, aku ke toilet sebentar. Aku ingin buang air kecil." Ujar Mingyu sambil tersenyum lebar. Ayahnya hanya tertawa, dan menunjukkan gestur 'pergilah' . Mingyu segera pergi ke toilet.

Saat ia sudah berada di toilet, Mingyu segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Wonwoo. Mingyu menunggu teleponnya diangkat.

"Kau sudah berangkat?" Tanya Mingyu.

"Ya, aku sedang dijalan. Kau sendiri sudah berangkat?" Tanya Wonwoo balik.

"Aku akan segera berangkat. Oh ya, bagaimana dengan Jaehyun ahjussi?" Mingyu kembali bertanya.

"Tidak, Jisoo bilang jika Jaehyun ahjussi akan menyusul, ia memiliki suatu hal yang harus diurus terlebih dahulu." Jawab Wonwoo.

"Baiklah. Kau hati-hati dijalan. Sampai bertemu nanti." Ujar Mingyu, dan sambungannya diputuskan.

Mingyu segera bergegas untuk pergi. Ia tersenyum ketika melihat ayahnya yang sedang menunggu di dekat mobil. Mingyu segera memasuki mobilnya tersebut di bangku supir. Mingyu menghidupkan mesinnya dan segera melaju.

"Sudah lama sekali kita tidak makan bersama." Ujar Mingyu sambil menyetir. Ayahnya tertawa.

"Maafkan ayah karena terlalu sibuk. Banyak hal yang perlu diurus." Jawab Ayahnya.

"Sepenting itukah hinggan anakmu yang tampan ini tidak diurus?" Canda Mingyu dengan kepercayaan diri yang tinggi. Ayahnya kembali tertawa.

"Aku baru menyadari jika kau itu tampan." Pungkas Min Woo.

"Eiii… Appa benar-benar tidak pernah memperhatikanku ternyata. Sejak lahir aku sudah setampan ini, bahkan aku semakin tampan." Ayahnya kembali tertawa mendengar kepercayaan diri anaknya itu.

.

.

.

Wonwoo sudah sampai di restoran Unamjeong. Ia segera memesan makanan, dan memberi tahu kembali jika mereka harus pergi ketika Wonwoo memberinya aba-aba melalui pesan. Wonwoo duduk di meja nomor tiga belas. Ia menunggu ayahnya untuk datang. Saat ia sedang menunggu, ponselnya berdering. Tertera nama Mingyu di layarnya.

"Aku sudah sampai, apakah ayahmu sudah sampai?" Bisik Mingyu. Ayahnya sudah turun duluan. Wonwoo melirik sebentar keluar, dan ia melihat mobil ayahnya sudah ada.

"Ayahku baru saja datang. Suruh saja ayahmu masuk, aku juga akan menyuruh ayahku masuk." Wonwoopun berbisik.

"Baiklah, jangan lupa suruh semua staff keluar." Ucap Mingyu.

"Aku akan segera mengirim pesan." Ujar Wonwoo, dan sambungan telepon diputus. Wonwoo segera memberi aba-aba kepada para staff restoran untuk keluar.

"Appa ayo masuk." Ajak Mingyu.

"Sepertinya kau memang benar-benar lapar." Ejek ayahnya sambil tertawa.

Kemudian Mingyu dan ayahnya masuk ke restoran tersebut. Mingyu menggigit bibir bawahnya. Hatinya berdetak dengan cepat. Setelah ia melihat Wonwoo sedang berbicara dengan ayahnya, Mingyu segera melancarkan rencananya.

"Ahh… Appa, aku lupa ponselku tertinggal di mobil. Aku akan mengambilnya dulu, appa cari saja tempat duduk yang sudah tersedia makanan di atas mejanya, itu adalah tempat kita." Ucap Mingyu sambil tersenyum.

"Kau melakukan Sesutu dengan cepat." Puji ayahnya, Mingyu hanya tersenyum, lalu segera pergi keluar.

Wonwoo menatap ayahnya dengan tatapan dinginnya. Sejujurnya, Wonwoo ingin sekali menangis melihat ayahnya, tetapi ia tidak ingin terlihat lemah. Wonwoo menarik nafasnya dalam-dalam dan memulai aksinya.

"Kau benar-benar datang ternyata." Ejek Wonwoo sambil tersenyum miring.

"Cepat hapus file itu." Geram ayahnya. Wonwoo tertawa mengejek.

"Setakut itukah kau?" ucap Wonwoo.

"Cepat hapus!" Ayahnya kembali menggeram.

"Baiklah. Aku akan mengambil laptop ku dulu di mobil." Ujar Wonwoo.

"Bukankah file tersebut ada di ponselmu?" Tanya ayahnya penasaran. Wonwoo kembali tersenyum dingin.

"Dalam laptop ku terdapat salinannya, tidak apa-apa?" Tanya Wonwoo. Senyuman miringnya tidak lepas dari wajahnya. Ayahnya menatap dengan tajam, lalu Wonwoo segera pergi keluar, tetapi Wonwoo segera membalikkan badannya.

"Cari tempat duduk yang terdapat makanan di mejanya, itu adalah mejaku dan… Appa." Lagi-lagi Wonwoo menekankan kata terakhirnya. Tatapan Jin Woo menjadi tatapan iba melihat anaknya itu. Tetapi ia segera menampiknya, kemudian segera mencari tempat duduk yang dimaksud Wonwoo.

Saat Wonwoo keluar, tepat saat itu juga Wonwoo melihat Jaehyun dan Jisoo beserta Mingyu. Wonwoo berlari menghampiri mereka. Wonwoo menyuruh Jaehyun masuk ketika dirasa keadaan sudah sangat panas.

"Kau sudah menyuruh para staff untuk mengunci semuanya?" Tanya Mingyu. Wonwoo mengangguk.

"Untung saja restoran ini tidak memiliki jendela, dan hanya ada ventilasi." Ujar Jisoo. Mingyu mengangguk.

"Jadi Min Woo dan Jin Woo sudah didalam?" Tanya Jaehyun.

"Iya, mereka sudah didalam." Jawab Mingyu.

"Hanya berdua?" tanyanya lagi. Wonwoo mengangguk.

"Semoga pertemanan kita bisa kembali seperti dulu." Harap Jaehyun.

"Semoga saja begitu." Ucap Wonwoo.

Ketika mereka berempat sedang cemas, tiba-tiba ponsel Mingyu berdering, begitupun dengan ponsel Wonwoo. Mereka berdua saling berpandangan. Keduanya terlihat cemas, begitupun dengan Jisoo dan Jaehyun.

"Sepertinya mereka sudah bertemu satu sama lain." Ujar Mingyu, dan dengan serempak ketiga orang disana mengangguk. Wonwoo dan Mingyu menarik nafas dalam-dalam dan segera mengangkat telepon.

"Yak! Kim Mingyu! Inikah maksudmu mengajakku untuk makan bersama?" Min Woo terdengar sangat marah. Mingyu memejamkan matanya sejenak. Ia sudah menduga jika ayahnya akan berbicara seperti itu.

"Aku hanya ingin hubungan pertemanan appa dan Jin Woo ahjussi kembali seperti dulu." Jawab Mingyu pelan.

"Tidak akan! Kau gila?! Kau kehilangan eomma karena orang itu!" Teriak ayahnya dari telepon.

"Appa! Mengapa kau benar-benar tidak percaya? Bukan Jin Woo ahjussi yang membuat eomma meninggal!" Mingyu tidak tahan, ia membalas bentakan ayahnya.

"Kau melawan padaku? Itulah pengaruh dari orang-orang yang buruk." Ujar Ayahnya.

"Appa hanya harus duduk, dan berbicara dengan Jaehyun ahjussi. Dengarkan penjelasannya, dan jangan memotongnya. Kau akan tahu kebenarannya." Ujar Mingyu dengan sabar.

"Kebenaran jika ia sudah membunuh eommamu?" Jin Woo tertawa sinis dari telepon. Mingyu mengacak rambutnya frustasi. Mingyu langsung memutuskan sambungan teleponnya, lalu mematikan ponselnya.

Telepon Wonwoo pun tidak jauh dari Mingyu. Ayahnya sama-sama marah karena harus bertemu dengan mantan sahabatnya yang sudah menuduhnya. Wonwoo menyuruh ayahnya untuk tetap berada disana dan membicarakan semuanya baik-baik.

Jin Woo dan Min Woo saling bertatapan. Tatapan mereka tidak bersahabat. Kilatan mata mereka seolah berbicara jika mereka saling membenci. Kepalan tangan mereka sama-sama ingin melayangkan tinjunya. Tidak ada sepatah katapun. Wonwoo dan Mingyu sudah bilang sebelumnya, tidak boleh ada alat tajam di dalam restoran. Dan staff disana benar-benar mentaati suruhan Wonwoo dan Mingyu.

"Mengapa kau disini?" Setelah saling bertatapan cukup lama, akhirnya Jin Woo membuka suaranya.

"Aku yang seharusnya bertanya seperti itu. Mau apa kau disini?" Balas Min Woo dingin. Jin Woo hanya tersenyum miring.

"Aku kira kau sudah tidak ingin tahu urusanku." Ejek Jin Woo.

"Aku harus tahu, mungkin saja kau akan membunuh orang lagi." Tutur Min Woo dan membuat Jin Woo marah.

"Kau masih tidak percaya? Harus berapa kali aku mengatakan padamu jika bukan aku yang membunuhnya?" Teriak Jin Woo sambil meremas kerah kemeja Min Woo.

"Hanya kau yang berada didekatnya saat itu brengsek! Itu semua pasti ulahmu! Kau tidak terimakan jika aku merebutnya darimu?!" Teriak Min Woo, dan…

BUGH…

Satu pukulan lolos. Jin Woo menjatuhkan tinjunya di pipi Min Woo. Ia sudah sangat kesal dengan tuduhan Min Woo. Ia sudah beberapa kali bilang, jika ia bukan yang membunuh Young Mi, istri Min Woo.

"Dengar aku brengsek! Saat itu aku benar-benar sudah rela jika Young Mi menikah denganmu! Aku tidak menganggapmu merebutnya dariku!" Teriak Jin Woo. Tangannya masih meremas kerah kemeja Min Woo.

"Tidak mungkin! Aku tidak percaya! Mengapa kau harus membunuh Young Mi? Mengapa kau tidak membunuhku saja? Wae? Wae? Mengapa kau tidak membunuhku brengsek?" teriak Min Woo sambil melotot.

BUGH…

Pukulan kembali mendarat di wajah Min Woo.

"Sudah kubilang, aku sudah sangat rela! Dan aku tidak membunuh Young Mi! Harus berapa kali aku mengatakannya?" Jin Woo membalas teriakan Min Woo.

"Kau tahu? Aku sangat mencintainya. Aku sangat senang saat aku mendapatkannya. Tetapi kau membunuhnya? Kau membenciku? Sekarang aku hany bisa melihat nisannya dan foto-fotonya. Mingyu.. Mingyu tidak mempunyai ibu disaat umurnya masih dibawah umur." Min Woo tertawa. Ia menertawai nasibnya sendiri. Tidak terasa, air matany menetes.

"Kau puas menghancurkan hidupku? Kau puas? Tidak cukupkah kau memilikinya dulu sampai kau harus merebutnya kembali? Mengapa kau tidak merelakannya saja sehingga Young Mi masih ada di dunia ini? Wae?!" Teriak Min Woo, dan …

BUGH…

Kali ini Min Woo mendaratkan tinjunya di wajah Jin Woo. Min Woo kesal dengan takdirnya. Ia tidak bisa menerima jika Young Mi memang ditakdirkan untuk meninggalkannya terlebih dahulu. Min Woo sangat mencintainya.

Keduanya terus beradu mulut. Hingga mereka harus beradu fisik. Keduanya tidak mau saling mengalah. Keduanya ingin menang. Tidak ada yang ingin disalahkan. Pertengkaran mereka sampai terdengar keluar, membuat keempat orang yang ada diluar ikut cemas.

"Sepertinya ini saatku untuk masuk." Ujar Jaehyun.

"Ahjussi, keadaan di dalam sedang kacau, sepertinya kau jangan dulu masuk." Ujar Wonwoo.

"Mereka berdua sahabatku. Aku tidak bisa membiarkan mereka bertengkar. Mereka dan aku adalah sahabat. Tidak sepantasnya jika sahabat saling bertengkar. Aku akan masuk. Tenang saja, pertemanan kita akan kembali. Aku janjji." Ucap Jaehyun lalu masuk ke dalam restoran bersama Mingyu. Karena memang dari awal, restoran tersebut dikunci oleh Mingyu.

"Bisakah kalian berhenti?" Ucap Jaehyun. Keduanya menghentikan pertengkaran mereka.

"Kau? Pengkhianat! Mau apa kau kesini?" teriak Jin Woo.

"Sudah saatnya pertemanan kita kembali." Ucapan Jaehyun itu membuat Jin Woo dan Min Woo tertawa mengejek.

"Kau becanda? Aku berteman dengan seorang pembunuh?" Geram Min Woo.

"Aku bukan pembunuh brengsek!" Teriak Jin Woo.

"Kubilang hentikan!" teriak Jaehyun.

"Min Woo- ya… Bukan Jin Woo pembunuhnya. Kau hanya emosi saat itu dan emosimu itu terbawa hingga saat ini, hingga kau terus menganyangka jika Jin Woo adalah pembunuh Young Mi. Buka hatimu Min Woo-ya. Aku tahu jika kau percaya jika Jin Woo bukan pembunuh Young Mi. Dirimu sendiri tahu jika Young Mi kecelakaan." Jelas Jaehyun panjang lebar. Jaehyun mencoba untuk meluruskan ego Min Woo terlebih dahulu, baru ia akan menunjukkan buktinya. Ya, sesuatu yang harus diurus Jaehyun tai pagi adalah bukti rekaman CCTV tepat saat Young Mi kecelakaan dua puluh tahun lalu.

"Aku tahu kau selalu berfikir jika Jin Woo bukan pembunuhnya, tapi kau mencoba menyangkalnya karena ego. Kau sudah terlanjur membenci dan menuduh Jin Woo sebagai pemunuhnya, dank au terus mempertahankan itu. Padahalkan kau tahu sendiri jika Young Mi stress setelah ia bertengkar denganmu dan pergi dari rumah sehingga ia mengalami kecelakaan. Kau pasti memikirkan hal itu kan?" Ujar Jaehyun.

"Tidak. Aku tidak pernah berfikir seperti itu. Kau tidak usah merasa jika kau mengetahui semuanya Hong Jaehyun! Kau justru tidak tahu apa-apa." Geram Min Woo.

"Aku sudah menduga jika kau akan menyangkalnya, yang itu berarti kau memang selalu memikirkannya. Sudahlah, kau hanya perlu merelakan Young Mi, dan berhenti jika Jin Woo adalah pelakunya. Kau jangan mendahulukan ego mu. Persahabatan kita yang penting sekarang."

"Kita tidak pernah menjadi sahabat." Ucap Min Woo dingin. Jaehyun menarik nafansya.

"Young Min melihat kita dari atas. Kau tahu itu, kita semua tahu. Mungkin saatnya aku memperlihatkan buktinya." Ucap Jaehyun.

"Bukti apa?" Jin Woo yang sedari tadi terdiam, langsung menolehkan kepalanya kepada Jaehyun. Jaehyun hanya terdiam, dan mengeluarkan flashdisk dan laptop. Jaehyun segera membuka rekaman CCTV dua puluh tahun yang lalu itu. Rekaman itu memang memperlihatkan jika Young Mi sudah menangis saat datang menemui Jin Woo, sampai saat Young Mi memutuskan untuk ingin mempunyai waktu sendiri. Saat ia berlari keluar, Young Mi tidak memperhatikan sekitarnya. Young Mi sudah berada di tengah jalan, dan saat itu juga tubuh Young Mi tertabrak sebuah mobil truk.

"Tidak! Young Mi!" Min Woo menangis melihat rekaman tersebut. Ia kembali mengingat Young Mi.

"Young Mi!" isaknya.

"Kau benar Jaehyun-ah. Jika saat itu aku tidak menuduhnya, ia masih ada disini. Jika saat itu aku percaya padanya, ia masih ada di dunia ini. Jika saja saat itu aku hanya diam dan memaafkannya, ia pasti masih ada disisiku. Aku sangat bodoh. Mengapa aku dengan mudahnya cemburu kepada Jin Woo? Maafkan aku Young Mi-ya. Mianhae… " Suara Min Woo terdengar sangat parau. Tangisannya sangat memilukan. Min Woo terlihat sangat rapuh. Ia terisak dengan kencang. Ia terus meneriakkan nama Young Mi sambil meminta maaf. Jaehyun dan Jin Woo melihatnya dengan iba.

"Young Mi melihatmu sekarang, dan kau malah menangis? Dia akan tertawa disana karena kau cengeng. Relakan dia, maka dia akan senang. Dia akan mengganggapmu gentle. Ia pasti memaafkanmu." Tanpa sadar, Jin Woo mengucapkannya sambil mengusap punggung Min Woo. Min Woo masih terisak. Ia memegang tangan Jin Woo yang masih mengusap punggungnya.

"Maafkan aku. Jaehyun benar, aku terlalu egois. Aku… Aku tahu kau tidak membunuhnya. Maafkan aku." Ujar Min Woo.

"Tidak mungkin. Tidak mungkin aku tidak memaafkanmu, kau sahabatku." Ucap Jin Woo sambil memeluk Min Woo.

"Maafkan semua ego ku. Aku tidak ingin mengakui jika Young mi telah pergi. Maafkan aku karena selalu menuduhmu. Mianhae…" Ujar Min Woo. Jin Woo melepaskan pelukannya.

"Sejak kapan kau cengeng seperti ini? Dulu kau sok kuat." Ucapan Jin Woo itu membuat Min Woo dan Jaehyun tertawa.

Mereka bertiga kembali seperti dulu, terbukti dengan mereka yang sedang berkumpul sambil mengucapkan maaf, dan entah sejak kapan Mingyu,Wonwoo dan Jisoo menonton adegan ayah mereka masing-masing.

"Kita juga meminta maaf." Ucap Mingyu dan membuat ketiga sahabat yang baru saja kembali itu menoleh. Min Woo dan Jin Woo berdiri, mereka menghampiri anak-anaknya.

"Maafkan appa. Selama ini appa membuatmu celaka. Appa benar-benar minta maaf. Maafkan appa telah membuatmu terluka." Jin Woo berlutut dihadapan Wonwoo. Sontak, Wonwoo menunduk, menyuruh Jin Woo bangun. Wonwoo menangis. Menangis bahagia, karena ayahnya telah kembali.

"Aku juga minta maaf karena selalu membantah kata-katamu. Aku minta maaf selalu membangkangmu. Aku minta maaf." Ujar Wonwoo sambil memeluk ayahnya.

"Aku minta maaf karena membohongimu appa." Ujar Mingyu sambil menunduk.

"Dan aku berterima kasih kepadamu." Ucapan Min Woo membuat Mingyu segera menatapnya dengan tatapan bingung.

"Aku berterima kasih karena rencanamu telah membuatku sadar dan membuat sahabatku kembali. AKu bererima kasih padamu." Min Woo memeluk Mingyu.

Setelah itu, Min Woo memeluk Wonwoo yang sedang tersenyum ke arahnya. Min Woo menepuk-nepuk bahu Wonwoo sambil tersenyum pula.

"Jadilah menantuku." Ucapan Min Woo itu membuat semua orang disana kaget terutama Wonwoo. Foxy eyes milik Wonwoo membulat dengan sempurna. Wonwoo benar-benar kaget.

"Appa…" Ucap Mingyu kaget.

"Aku serius, jadilah menantuku. Aku ingin kau menikah dengan anakku." Ujar Min Woo. Wonwoo yang sudah bisa menormalkan fikirannya segera melirik ke ayahnya. Jin Woo tersenyum, lalu mengangguk menyutujuinya.

"Kalian… Kalian membolehkan kita menikah?" Tanya Mingyu senang.

"Segeralah menikah, sebelum kita berubah fikiran." Canda Min Woo.

"Tidak. Aku tidak akan berubah fikiran." Ucap Jin Woo.

Mingyu dan Wonwoo saling bertatapan. Mata mereka mengilatkan kebahagiaan yang amat sangat. Mereka senang rencana mereka berhasil. Mingyu segera memeluk Wonwoo.

"Lusa, aku akan segera menyebarkan undangannya." Ujar Jin Woo.

"MWO?" Teriak Wonwoo dan Mingyu bersamaan.

"Ya benar. Tenang saja, kalian tidak perlu menyiapkan apapun, karena minggu ini kalian akan segera menikah."

"Secepat itu?" Tanya Mingyu.

"Kau tidak mau? Kalau begitu aku akan memberikan Wonwoo kepada Jisoo." Canda Jin Woo.

"Aku sangat siap." Ujar Mingyu spontan.

.

.

.

Satu hari sebelum dilaksanakannya pernikahan, Wonwoo, Mingyu, Jin Woo serta istrinya dan Min Woo pergi ke makam Young Mi, untuk meminta restu kepadanya. Wonwoo dan Mingyu berlutut dihadapan gundukan tanah tersebut. Min Woo tersenyum melihat anaknya dan calon menantunya.

Mereka semua segera pergi setelah Mingyu dan Wonwoo selesai meminta restu kepada mendiang Young Mi. Mereka meminta agar semuanya lancar.

.

.

Keesokannya, Mingyu terlihat sangat tampan dengan balutan tuxedo berwarna putih. Ia berkali-kali menarik nafasnya dalam-dalam. Mingyu sangat gugup, ia tidak bisa menyembunyikannya. Mingyu mengucapkan apa yang harus ia ucapkan nanti di hadapan semua orang yang menyaksikan pernikahannya. Mingyu terus saja berjalan-jalan di dalam ruangan tersebut.

Sampai tiba waktunya, Mingyu harus segera ke altar, dan mengucapkan sebuah janji suci. Mingyu terlihat sangat gugup. Ia melirik ke ayahnya yang duduk di sebelah ayah Wonwoo. Jin Woo da Min Woo menyemangatinya. Mingyu tersenyum, dan segera mengucapkan janji sucinya. Setelah selesai, Wonwoo masuk. Wonwoo sama-sama mengenakan tuxedo putih. Hanya saja, kesannya yang berbeda. Jika Mingyu terlihat tampan dan maskulin, lain halnya dengan Wonwoo yang terlihat manis dan menawan. Mingyu tersenyum melihat kekasihnya itu.

Kini mereka berdua tidak perlu lagi bersembunyi dari ayah-ayah mereka. Mereka bisa hidup sesuai keinginan mereka. Mereka sekarang bisa menjalankan kehidupannya maisng-masing tanpa harus cemas akan ayah mereka. Kehidupan mereka sekarang sudah berbeda. Mereka sudah bahagia, dengan ayah mereka yang sudah kembali bersahabat dan tidak ada yang menentang hubungan mereka.

.

.

.

Wonwoo dan Mingyu harus segera pergi untuk meeting di Amerika bersama client barunya. Perusahaan mereka merupakan perusahaan yang paling berpengaruh di Korea Selatan, disusul dengan Pledis,Yoomin dan Gyuwon. Keluarga mereka adalah keluarga paling berpengaruh di Korea Selatan. Bahkan perusahaan besar yang sudah mendunia, seperti Disneyland sudah ada di genggaman mereka. Mereka bahkan memperluasnya di bidang industri. Hampir di setiap negara terdapat mall milik keluarga mereka. Tidak tanggung-tanggung, keluarga mereka membangun hotel. Bukan hanya di Asia, tetapi juga Eropa dan Amerika. Perusahaan mereka sudah dapat citra positif dimata publik.

Wonwoo dan Mingyu bekerja sama pula dengan perusahaan Seungcheol serta perusahaan baru Jisoo. Keempat pengusaha muda itu selalu mendapat sorotan publik ketika melakukan sebuah proyek. Café Jeonghan pun sudah memiliki banyak cabang di Korea Selatan, dan berencana untuk membuka cabangnya diluar Asia Timur.

Kehidupan mereka sudah dapat dibilang sempurna. Keluarga mereka sudah berada di puncak kejayaan. Mereka bahkan tidak perlu repot datang ke kantor, kecuali jika ada meeting dengan client. Tidak jarang Wonwoo dan Mingyu serta sahabatnya dan keluarganya berlibur ke pulau pribadi milik Wonwoo dan Mingyu. Kehidupan mereka sudah sangat baik. Mereka hanya berharap selamanya akan selalu seperti ini.

The End…

Wkwkwk udah tamat yaaaa….

Maaf loh update nya kelamaan. Banyak tugas dan ulangan numpuk, biasalah udah kelas 12 #curcol

Maaf yaa kalo akhirnya gajetot. Author suka bingung bikin ending ff, jadi ya gaje, mungkin isinya juga gaje.

Author sebenernya udah punya banyak ff baru di otak, tapi gatau bakal di publish atau nggak, soalnya takut ga seru hehe…

Ya nanti deh tunggu aja wkwk… Cek terus aja tiap hari hoho…

Pokoknya aku minta maaf banget kalau update nya kelamaan dan endingnya gaje sangatt…

Jangan lupa RnR yaaa… That's the important thing hehee…

Aku butuh banget review kalian buat jadi pegangan aku..

Makasih loh buat kalian semua readers yang udah mau baca ff gaje ini..

Tunggu ff aku selanjutnya ya….

Aku cinta kalian dan meanie:*