Because Of You (Sequel)

Hai readernim…

Karena banyak yang minta author buat bikin sequelnya ff Because of You, ini author bikin ya.

Maaf loh bikin nunggu lama, soalnya baru beres ujian hehe.

Oiya, di chap sebelumnya kan ada scene dimana Mingyu mau ajak Wonwoo ke pulau yang dibelinya, karena author lupa nama pulaunya apa, jadi author ganti pake pulau yang lain ya.

Dan satu lagi, author gak tau mau lanjut ff yang Love is Fight atau nggak, tapi kalo dilanjut, jangan lupa baca ya hehe…

Oke, happy reading^^

"Kau tidak lelah? Kau seperti zombie." Ledek Wonwoo kepada Jisoo yang sudah menjadi CEO dari Pledis.

"Ini menyenangkan dan ini kehidupanku." Jawab Jisoo yang masih terpaku pada laptopnya. Wonwoo menghela nafasnya.

"Lebih baik kita makan siang dulu, aku dan Mingyu akan pergi ke kafe Jeonghan hyung." Ajak Wonwoo. Jisoo melirik kea rah Wonwoo.

"Baiklah. Kajja." Jisoo segera mengangkat pantatnya dari kursi, lalu menenteng jasnya.

"Kau mau ikut denganku dan Mingyu?" Tawar Wonwoo. Jisoo menggeleng.

"Aku tidak ingin mengganggu pasangan yang baru tiga bulan menikah." Ejek Jisoo. Wonwoo hanya memberikan death glare kepada Jisoo.

Sesampainya di depan kantor, Wonwoo sudah melihat 'suaminya' berdiri sambil memainkan ponselnya.

"Kajja." Ajak Wonwoo. Mingyu menggenggam tangan Wonwoo.

.

.

.

Sesampainya di kafe Jeonghan, Wonwoo segera berlari memeluk lelaki bersurai panjang itu. Sedangkan Mingyu dan Jisoo hanya bersalaman dengan Seungcheol.

"Mengapa kalian sibuk sekali?" Tanya Jeonghan dengan nada kecewa yang dibuat-buat.

"Semenjak Yoomin dan Gyuwon bekerja sama, semakin banyak perusahaan asing dan juga perusahaan dalam negeri yang meminta bekerja sama." Jawab Mingyu. Wonwoo hanya mengangguk sambil menyeruput smoothie miliknya.

"Gara-gara perusahaan kalian, Seungcheol pun jadi sangat sibuk." Ucap Jeonghan.

"Aku sibuk untukmu juga." Timpal Seungcheol dengan nama yang menjijikkan untuk orang-orang yang mendengarnya.

"Hyung,kau sangat menggelikan. Aku tidak sanggup mendengarnya lagi." Ucap Mingyu sambil menutup telinganya.

"Wonwoo-ya, bagaimana kau bisa tahan dengan lelaki seperti dia? Bulan depan pasti kau akan meminta cerai kepadanya." Ucap Seungcheol yang hanya dibalas tawa oleh Wonwoo.

"Jeonghan hyung, kau jangan menikah dengan lelaki kasar seperti dia." Balas Mingyu sambil menunjuk Seungcheol.

"Sayangnya tidak bisa." Jawaban Jeonghan membuat Mingyu, Wonwoo dan Jisoo menjatuhkan rahangnya. Seungcheol dan Jeonghan saling tatap.

"Kau belum memberi tahu mereka?" Tanya Jeonghan.

"Belum. Aku kira kau sudah memberi tahu mereka." Jawab Seungcheol.

"Aku juga belum memberi tahu mereka." Ucap Jeonghan.

"Baiklah. Aku dan Jeonghan akan segera menikah." Ucap Seungcheol.

"Hyung! Cukkae!" Wonwoo segera berdiri dari duduknya dan memeluk Jeonghan.

"Aku malu karena terdahului olehmu." Jawab Jeonghan.

"Yang penting kau bersamanya." Ujar Wonwoo.

"Selamat untuk kalian berdua. Kapan undangannya akan disebar?" Tanya Jisoo dengan senyum teduhnya.

"Kau tidak apa-apa?" Tanya Seungcheol merasa tidak enak. Jisoo tersenyum semakin lebar.

"Tentu saja, sahabatku akan menikah, aku pasti senang." Jawab Jisoo sambil tersenyum.

"Seungcheol, bolehkah aku memeluk Jisoo?" Tanya Jeonghan.

"Kau meminta izin padaku disaat kau tahu apa jawabanku?" Ucap Seungcheol.

"Apapun jawabanmu, aku akan memeluknya." Jeonghan segera menghampiri Jisoo dan memeluknya. Jisoo memeluk balik Jeonghan sambil mengelus rambutnya.

"Maaf disini ada yang terluka." Ucap Seungcheol sambil berdehem.

"Sepertinya calon suamimu itu posesif." Ucap Jisoo sambil melepaskan pelukannya.

"Begitulah." Jawab Jeonghan.

"Kalian berdua terlihat lebih serasi." Celetuk Mingyu sambil mengacungkan kedua jempolnya.

"Haruskah kita menikah?" Tanya Jisoo.

"Sepertinya begitu." Jawab Jeonghan.

"Yak! Kalian ini benar-benar… Aish…" Seungcheol berdengus sebal yang disambut tawa oleh mereka.

"Seungcheol-ah… Bagaimanapun juga, terimakasih karena telah menjaga Jeonghan untukku. Ternyata kau menepati janjimu." Ucap Jisoo dengan senyuman diwajahnya.

"Dan terimakasih karena kau telah menitipkan Jeonghan kepadaku, sahabatku." Jawab Seungcheol sambil membalas senyuman Jisoo.

"Aku merasa seperti barang." Dengus Jeonghan.

"Kau terlalu banyak mengomel." Ucap Seungcheol.

"Kita tidak usah jadi menikah saja." Balas Jeonghan sambil melipat kedua tangannya.

"Kalian pasangan paling berisik. Bagaimana kalian akan membangun rumah tangga jika kalian seperti ini terus? Contohlah aku dan Wonwoo yang selalu mengasihi." Ucap Mingyu sambil merangkul Wonwoo. Lelaki manis itu segera menepis lengan Mingyu.

"Kau bahkan lebih sibuk dengan urusan kantormu." Jawab Wonwoo datar.

"Lalu kau sendiri? Kau juga selalu berkutat dengan kertas-kertas yang harus kau tanda tangani itu." Cibir Mingyu

"Dan kau? Kau juga lebih sering bersama laptopmu kan?" Balas Wonwoo.

"Sepertinya kau harus mengambil cermin, rumah tanggamu lebih berisik." Ucap Seungcheol. Mingyu dan Wonwoo segera memberikan death glare setelah mendengarnya.

"Jeoseonghamnida." Ucap Seungcheol sambil membungkuk.

"Jisoo-ya, mengapa kau tidak mencari pasangan juga?" Tanya Jeonghan. Seperti biasa, Jisoo hanya tersenyum.

"Jangan bilang, kau tidak akan menikah." Ucap Mingyu.

"Tentu saja aku akan menikah, tapi belum saatnya aku fikir." Jawab Jisoo santai.

"Mau aku aturkan kencan buta?" Tawar Wonwoo dengan polosnya. Jisoo tertawa mendengar ucapan Wonwoo.

"Apakah aku terlihat begitu membutuhkan seorang kekasih?" Tanya Jisoo.

"Aku akan menikah dengan seseorang nanti. Tapi entah kapan." Ucap Jisoo lagi.

"Kau tampan, pasti banyak yang mau denganmu." Ucap Jeonghan.

"Aku setuju." Tambah Wonwoo sambil mengangguk.

"Apakah kita kalah tampan oleh Hong Jisoo?" Tanya Seungcheol.

"Kau saja, aku jauh lebih tampan dari Jisoo hyung,apalagi darimu." Jawab Mingyu dengan pedenya.

"Tolong jangan bertengkar lagi." Ucap Wonwoo datar.

.

.

.

"Wonwoo-ya." Ucap Mingyu lembut.

"Hmm…" Jawab Wonwoo.

"Kau tahukan jika aku menyewa sebuah pulau?" Tanya Mingyu lagi.

"Ada apa?" Tanya Wonwoo.

"Aku rasa kau benar. Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku." Ucap Mingyu. Wonwoo menatap Mingyu.

"Maafkan aku karena akupun begitu." Jawab Wonwoo. Mingyu tersenyum sambil menatap dalam manik hitam Wonwoo. Tangannya terangkat lalu membelai wajah mulus Wonwoo.

"Bagaimana jika kita pergi kesana? Biarkan appa kita yang mengurus perusahaan sementara waktu." Tawar Mingyu. Wonwoo tampak berfikir sejenak. Mingyu tersenyum gemas melihat Wonwoo yang sedang berfikir. Mingyu mengecup bibir tipis Wonwoo.

"Bagaimana?" Tanya Mingyu lagi. Wonwoo tersenyum manis.

"Baiklah." Ucap Wonwoo menyetujuinya.

.

.

.

Keesokan harinya, Mingyu, Wonwoo dan Jisoo makan siang bersama ayah mereka. Wonwoo merasa sangat senang. Ia tidak menyangka jika kejadian yang ia anggap mustahil selama ini, benar-benar terjadi. Wonwoo tersenyum melihat Ayahnya dan Ayah Mingyu berserta Ayah Jisoo makan bersama sambil berbagi masa lalu mereka.

"Appa." Ucap Mingyu.

"Ada apa?" Tanya Min Woo.

"Aku dan Wonwoo akan pergi ke sebuah pulau untuk sementara waktu." Ucap Mingyu.

"Lalu?" Tanya Min Woo lagi.

"Eiii… Kau membolehkannya atau tidak?" Dengus Mingyu.

"Kalian berdua. Walaupun kita melarang kalian, kalian pasti akan tetap pergi." Timpal Jin Woo.

"Tidak. Sekarang kita tidak begitu." Jawab Wonwoo dengan cepat.

"Jadi walaupun kita tidak mengizinkan, kalian tidak akan pergi?" Tanya Jin Woo. Mingyu dan Wonwoo terdiam. Jisoo hanya tertawa melihatnya.

"Sudahlah ahjussi, biarkan saja mereka." Ucap Jisoo dengan senyumnya.

"Aku setuju dengan Jisoo hyung." Ucap Mingyu dengan cepat.

"Aku juga setuju." Tambah Min Woo. Bola mata Mingyu dan Wonwoo mulai berbinar.

"Jika Min Woo setuju, aku juga ikut menyutujuinya." Tambah Jin Woo.

"Appa, Ahjussi! Gomawo." Teriak Mingyu.

"Jadi siapa yang akan mengurus perusahaan sementara kalian tidak ada?" Tanya Jisoo. Mereka semua melirik kepada Jaehyun dengan senyum yang penuh harapan.

"Aku sibuk mengurus Pledis." Ucap Jaehyun cepat.

"Appa, kalian berdua kan bisa mengurus perusahaan dengan baik." Ucap Mingyu kepada Min Woo dan Jin Woo.

"Kau menyuruh kita?" Tanya Min Woo.

"Bukan begitu. Tapi itukan masih tanggung jawab appa." Ucap Mingyu sambil tersenyum lebar.

"Cepat kalian pergilah." Ucap Min Woo.

"Jisoo hyung, kau ingin ikut? Kita juga akan mengajak Jeonghan hyung dan Seungcheol hyung." Tawar Mingyu.

"Aku terlihat sangat menyedihkan jika aku ikut." Ucap Jisoo.

"Kau bisa mencarinya disana." Ucap Jaehyun.

"Tidak. Aku akan mengurus Pledis saja. Pledis sudah cukup untuk membuatku pusing." Ucap Jisoo.

"Kau tidak asik." Ucap Wonwoo.

"Pergilah kalian, dan bawakan aku oleh-oleh." Ujar Jisoo.

"Oh ya, kalian akan pergi kemana?" Tanya Jin Woo.

"Pattaya." Jawab Mingyu.

"Thailand?" Tanya Jin Woo memastikan. Mingyu mengangguk.

"Aku sudah menyewanya." Ucap Mingyu.

"Kau membuang-buang uang." Celetuk Min Woo.

"Aku tidak setiap hari melakukannya." Timpal Mingyu.

"Ya sudah, kapan kalian pergi?" Tanya Jin Woo.

"Lusa." Jawab Mingyu.

"Jisoo, kau benar-benar tidak ikut? Ikutlah, biar ayahmu yang mengerjakan semua urusan kantor." Ucap Min Woo.

"Kau secara tidak langsung menyuruhku untuk bekerja." Timpal Jae Hyun.

"Kau ini. Anakmu butuh refreshing." Ucap Min Woo.

"Aku juga butuh." Balas Jae Hyun.

"Sudahlah. Kita sudah tua. Biarkan saja mereka liburan." Tambah Jin Woo. Mendengar perdebatan itu, Jisoo hanya tertawa mendengarnya.

"Tidak apa-apa. Aku disini saja mengurus kantor." Ucap Jisoo dengan senyumnya.

"Eiii hyung,ayolah kita bersenang-senang. Kita ini sudah setiap hari berdiam diri di depan laptop dan tumpukkan kertas, kita harus liburan." Rengek Mingyu.

"Ikutlah Jisoo." Ajak Wonwoo juga.

"Tapi…"

"Sudah kau ikut saja, mereka benar, kalian butuh hiburan. Aku kasian kepada kalian, karena masa muda kalian mengharuskan kalian untuk berkutat di depan laptop dan tumpukkan kertas. Pergilah, biar aku yang mengurus kantor." Titah Jae Hyun.

"Baiklah, aku ikut." Ucap Jisoo akhirnya. Mingyu dan Wonwoo tersenyum senang mendengar keputusan Jisoo.

.

.

.

"Tidak ada yang tertinggal kan?" Tanya Wonwoo.

"Sepertinya tidak." Jawab Mingyu tidak yakin.

"Kau sudah mengeceknya bukan?" Ucap Wonwoo kesal.

"Sudah."

"Lalu, semua barangnya sudah siap? Jangan sampai ada yang tertinggal." Dengus Wonwoo.

"Kau ini cerewet sekali. Jika ada yang tertinggal, kita membeli saja disana. Kau ini repot sekali." Balas Mingyu.

"Kau ini…"

CHU~

Belum selesai Wonwoo berbicara, Mingyu langsung mengunci bibir Wonwoo. Lelaki manis itu terdiam ketika suaminya melakukan hal tadi. Mingyu tersenyum melihat wajah merona Wonwoo. Istrinya itu terlihat lebih manis.

Mingyu melanjutkan aktivitasnya lagi. Lelaki berkulit tan itu menarik tengkuk istrinya, lalu melumat bibir istrinya dengan lembut. Wonwoo memejamkan matanya merasakan lumatan lembut dari bibir Mingyu. Wonwoo meremas bahu kekar Mingyu sambil terus mengikuti permainan Mingyu. Lelaki tinggi itu terus melumat bibir Wonwoo dengan lembut. Sesekali, Mingyu menghisap bibir Wonwoo. Sedangkan Wonwoo, dia sesekali menjilat bibir Mingyu.

Cukup lama mereka bercumbu dengan mesra. Mingyu mulai membaringkan Wonwoo di sofa yang mereka duduki. Seketika, suhu ruangan terasa panas untuk Mingyu. Mingyu kembali melumat bibir Wonwoo. Jika tadi Mingyu melumat dengan lembut, sekarang Mingyu melumatnya dengan penuh nafsu. Bibir Wonwoo merupakan kelemahan Mingyu. Kedua sejoli itu mulai melilitkan lidahnya satu sama lain. Wonwoo meremas bahu Mingyu semakin kencang. Mingyu benar-benar terbuai dengan permainannya itu.

Saat Mingyu mencoba untuk membuka bajunya, Wonwoo segera melepaskan ciuman mereka dan membuat Mingyu menatapnya kecewa. Wonwoo tersenyum melihat wajah kecewa Mingyu. Kemudian lelaki manis itu mengelus wajah suaminya itu dengan lembut.

"Kita lanjutkan di Thailand." Ucap Wonwoo sambil tertawa geli melihat ekspresi cemberut Mingyu.

"Mengapa tidak sekarang saja? Dan kita akan lakukan lagi di Thailand." Rengek Mingyu.

"Aku ingin berjalan-jalan di Thailand, tanpa merasakan sakit." Ujar Wonwoo. Mingyu mendengus sebal.

"Kau tidak kasihan padaku? Adikku sudah terbangun karena kau." Dengus Mingyu.

"Suruh siapa kau memulainya? Kau tanggung jawab saja pada perbuatanmu sendiri, aku ingin tidur." Wonwoo segera mendorong tubuh Mingyu, lalu berjalan ke kamar.

"Kau harus menunggunya adikku, maafkan aku." Ucap Mingyu sambil mengelus 'adiknya'.

.

.

.

Tepat pukul sembilan pagi, Seungcheol dan Jeonghan beserta Jisoo, sampai di rumah Mingyu dan Wonwoo. Mereka akan menaiki pesawat pribadi milik kedua sejoli itu. Mingyu dan Wonwoo memang sudah berencana dari dulu untuk memiliki pesawat pribadi.

"Ayok kita berangkat." Ucap Mingyu semangat.

Mereka semua segera menaiki pesawat pribadi milik Mingyu dan Wonwoo. Mereka berdua juga memiliki pilot pribadi, yang akan mengantar mereka ke Thailand. Mereka semua terlihat bahagia. Senyuman tidak hilang dari wajah mereka.

"Kapan kalia akan menikah?" Tanya Wonwoo.

"Bulan depan." Jawab Seungcheol dengan senyum sumringahnya.

"Aku akan menyewakan gedung untuk kalian." Ucap Mingyu.

"Tidak usah, kalian sudah banyak membantu hubungan kita." Ucap Seungcheol sambil tersenyum tulus.

"Terima saja hyung, kau biasanya semangat jika menerima sesuatu yang gratis." Ucapan Mingyu itu membuat senyuman di wajah Seungcheol luntur. Wonwoo hanya tersenyum.

"Mingyu benar, kita akan menyewakan gedung untuk kalian. Anggap saja ini hadiah dari kita." Ucap Wonwoo sambil tersenyum manis.

"Dan aku yang akan membuatkan undangan untuk kalian." Tambah Jisoo.

"Kalian mengapa baik sekali? Aku sangat berterima kasih kepada kalian semua." Ucap Jeonghan.

"Kita ini sudah seperti keluarga, sudah seharusnya kita saling menolong." Ujar Mingyu.

"Maknae kita sudah besar." Ucap Seungcheol sambil memukul pelan pundak Mingyu.

"Tentu saja." Balas Mingyu dengan bangganya.

"Oh ya, kita akan menginap dimana?" Tanya Jeonghan.

"Mingyu memiliki banyak hotel disana, tenang saja." Ucap Jisoo sambil tertawa.

"Ya benar, hyung tenang saja, kita tinggal memilih dimana hotelnya. Lagipula, tidak akan ada tourist disana selain kita." Ucap Wonwoo. Jeonghan dan Seungcheol membulatkan mata mereka.

"Kau memang pelupa hyung. Aku kan sudah pernah bilang jika aku menyewa sebuah pulau." Tambah Mingyu.

"Ah pulau itu yang kau maksud." Seungcheol akhirnya mengingatnya.

.

.

.

Sesampainya di Pattaya, suasananya begitu sepi namun damai. Angin dari laut membuat hati lebih tentram. Mingyu dan Seungcheol sudah berlarian ke pantai layaknya anak kecil. Jeonghan dan Wonwoo hanya berjalan-jalan santai sambil mengobrol, sedangkan Jisoo, dia terdiam di tepi pantai sambil memainkan laptopnya.

Mereka sudah sampai beberapa jam yang lalu. Sepertinya tidak ada kata lelah untuk mereka semua. Mereka sangat menikmati liburan mereka. Walaupun Jisoo masih mengerjakan tugas kantornya, tetapi ia bisa lebih santai mengerjakannya.

Saat langit sudah mulai gelap, mereka semua diam di tepi pantai untuk menunggu matahari terbenam. Mingyu tidak henti-hentinya menatap Wonwoo yang tersenyum bahagia. Sesekali, Mingyu mencium pipi Wonwoo tanpa diketahui para hyungnya. Saat matahari sudah benar-benar terbenam, mereka segera mengabadikannya dengan kamera.

"Ayok kita makan, aku sangat lapar." Ajak Mingyu.

"Aku juga." Ujar Seungcheol sambil menarik tangan Jeonghan yang masih terduduk di pasir.

"Kalian harus ganti baju dulu." Ucap Jeonghan dan disetujui oleh Wonwoo.

"Tapi aku sangat lapar." Ucap Mingyu manja. Wonwoo hanya menggelengkan kepalanya, lalu Mingyu segera melangkah pergi ke kamarnya untuk mengganti baju, begitupun dengan Seungcheol.

Setelah semua orang telah berkumpul di meja makan, beberapa menit kemudian, datanglah beberapa orang pelayan yang menyajikan makanan untuk mereka berlima. Menu makanan mereka sudah sangat kumplit. Di atas meja sudah ada appetizer, main course, dan juga dessert. Seketika meja makan itu penuh dengan makanan. Karena sudah sangat lapar, Mingyu segera mengambil makanan pembuka, dan segera memakannya.

"Pelan-pelan, kau bisa tersedak jika makan seperti itu." Ucap Wonwoo yang melihat Mingyu makan dengan lahap. Mingyu hanya tersenyum, lalu melanjutkan makannya.

"Aku ingin berbelanja." Ucap Jeonghan. Wonwoo langsung mengangguk menyetujuinya.

"Besok hyung, kita belanja bersama." Ucap Wonwoo antusias. Jeonghan tersenyum senang ketika Wonwoo menyetujui ajakannya.

"Aku ikut, aku ingin berkeliling Pattaya." Timpal Jisoo.

"Ya sudah, aku juga akan ikut." Tambah Seungcheol sambil mengunyah makanannya.

"Tidak mungkin aku sendiri di hotel." Ujar Mingyu dengan mulut penuh. Wonwoo dan Jeonghan tersenyum puas, karena besok mereka semua akan pergi berbelanja.

.

.

.

Mingyu menutup teleponnya. Ia mendapatkan telepon dari klien. Tetapi Mingyu segera menyuruhnya untuk menelpon ke telepon kantor, karena dirinya sedang cuti. Mingyu segera menghampiri Wonwoo yang sedang berbaring di kasur. Mingyu tersenyum penuh arti kepada Wonwoo.

"Tidak sekarang. Besok kita akan berbelanja." Ucap Wonwoo yang mengerti arti senyuman Mingyu. Senyuman di wajah tampan Mingyu segera lenyap begitu mendengar penolakan dari Wonwoo.

"Aishh hyung… Aku harus menunggu sampai kapan?" Dengus Mingyu. Wonwoo hanya mengangkat bahunya, lalu mengubah posisi tidurnya menjadi membelakangi Mingyu.

"Aishh… Hyung setidaknya kau memberikanku…"

CHU~

Wonwoo mengkecup bibir Mingyu sekilas. Mingyu hanya tersenyum senang setelah Wonwoo melakukan keinginannya.

"Aku ingin tidur. Aku lelah." Ucap Wonwoo sambil memejamkan matanya.

"Baiklah hyung, aku akan menunggu hari 'itu'." Ucap Mingyu sambil melingkarkan tangannya pada tubuh kurus Wonwoo.

.

.

Pagi harinya, Wonwoo sudah bangun terlebih dahulu. Ia sudah segar dengan handuk baju yang menutupi tubuh mulusnya. Wonwoo segera pergi menuju kasur untuk membangunkan Mingyu yang masih tertidur pulas.

"Yak! Kim Mingyu! Mau sampai kapan lagi kau tertidur? Ini sudah siang! Bangunlah!" Ucap Wonwoo sambil mengguncang badan besar Mingyu. Mingyu hanya menggeliat, lalu ia mengganti posisi tidurnya.

"Kau akan ku tinggal." Baru saja Wonwoo akan berdiri, Mingyu sudah menarik tangan kurusnya.

"Tunggu sebentar hyung." Ucap Mingyu. Posisi Wonwoo sudah berada diatas tubuh Mingyu. Lelaki tampan itu tersenyum melihat Wonwoo yang tersipu malu. Kemudian, Wonwoo segera mengecup singkat bibir Mingyu, dan mencoba untuk bangun dari posisinya. Tetapi kekuatan Mingyu lebih besar, Mingyu tetap menahan lengan istrinya itu. Tanpa aba-aba, Mingyu segera melumat bibir Wonwoo. Lelaki manis itu terlihat kaget, namun mengikuti permainan Mingyu.

Mingyu menarik tengkuk Wonwoo agar bisa menikmati bibir itu lebih dalam lagi. Mingyu merasakan pundaknya diremas oleh Wonwoo. Kemudian, Mingyu segera mengubah posisinya. Mingyu membuat Wonwoo berada di bawahnya. Mingyu kembali mencumbu candunya itu dengan penuh nafsu. Lelaki tan itu menghisap bibir Wonwoo dengan cukup kuat, dan membuat satu lenguhan keluar dari bibir tipis Wonwoo. Mendengar lenguhan Wonwoo, Mingyu semakin semangat untuk menikmati bibir istrinya itu.

"Cukup Kim Mingyu! Belum waktunya." Wonwoo melepskan tautan bibir mereka secara paksa, dan lagi-lagi membuat Mingyu kecewa.

"Kau sangat ahli menyakitiku hyung." Ucap Mingyu sambil memegang dadanya.

"Tunggu dulu!" Ucap Wonwoo teringat sesuatu.

"Ada apa?"

"Kau belum sikat gigi!" Teriak Wonwoo. Untung saja, kamar di hotel itu kedap suara, jadi tidak akan ada yang mendengarnya.

"Eiii… Aku bangun lebih pagi darimu. Aku sudah sikat gigi pukul tujuh tadi." Ucap Mingyu sambil berdiri. Wonwoo mengerutkan dahinya.

"Kau sudah bangun dari tadi?" Tanya Wonwoo.

"Tentu saja." Ucap Mingyu sambil mengambil handuk dan berjalan menuju kamar mandi. Saat Mingyu akan menutup pintu kamar mandi, kepalanya menyembul kembali keluar.

"Ada apa?" Tanya Wonwoo datar.

"Sekalipun aku belum sikat gigi, kau sangat menimatinyakan?" Ujar Mingyu sambil mengeluarkan smirknya. Wonwoo melotot kea rah Mingyu, tetapi wajah merona.

"Wajahmu merah hyung." Ucap Mingyu sambil tertawa, lalu ia segera pergi untuk mandi.

Setelah selesai sarapan, kelima pria tersebut segera bersiap-siap untuk pergi keluar. Wajah mereka semua terlihat sangat bersemangat. Mingyu sudah menyiapkan mobil untuk mereka kendarai. Mingyu segera mengambil tempat supir, karena dia yang paling jago menyetir.

"Semuanya sudah siap?" Tanya Mingyu antusias.

"Siap!" Semua orang menjawab dengan suara yang tak kalah antusiasnya.

"Let's go!" Mingyu segera menyalakan mesin dan berangkat menuju pusat perbelanjaan.

Mingyu mengendarai dengan kecepatan sedang. Mereka semua menikmati jalanan. Bahkan Wonwoo sudah membuka jendela mobil sekedar untuk menghirup udara Thailand. Karena mereka berlima pergi keluar dari daerah Pattaya, mereka semua bertemu banyak orang.

"Ramai sekali." Ucap Jisoo.

"Tentu saja, inikan pusat perbelanjaan." Ujar Mingyu.

"Aku kira kau juga akan menyewa tempat ini." Celetuk Jisoo.

"Sekalian saja aku menyewa seluruh Thailand." Balas Mingyu dan diikuti tawa oleh Jisoo.

Ketika sudah sampai, mereka segera turun dari mobil, dan memasuki area mall. Wonwoo dan Jeonghan berjalan lebih dulu. Mereka berdua segera memasuki toko baju untuk melihat-lihat. Sedangkan Mingyu,Seungcheol dan Jisoo pergi untuk melihat-lihat sepatu.

"Hyung, bukankah ini bagus?" Tanya Wonwoo sambil memperlihat sebuah sweater berwarna biru muda.

"Kau akan terlihat lebih manis jika menggunakan itu." Puji Jeonghan.

"Baiklah, aku akan membeli ini." Ucap Wonwoo sambil memasukkannya kedalam trolley.

Jeonghan dan Wonwoo berburu baju dengan semangat. Mereka bahkan mendatangi satu persatu toko didalam mall tersebut. Sedangkan ketiga lelaki lainnya pun sibuk memilih-milih sepatu dan jas untuk bekerja. Mingyu tidak sadar jika ia sudah mengambil tiga pasang sepatu untuk dirinya sendiri dan empat pasang jas serta beberapa dasi.

"Kau akan membeli semuanya?" Tanya Seungcheol.

"Selagi kita disini hyung." Jawab Mingyu sambil melihat-lihat kemeja.

"Belikanlah untuk ayahmu." Ujar Jisoo. Mingyu melirik kearah Jisoo.

"Benar juga." Balas Mingyu. Kemudian lelaki tinggi itu segera mencari jas yang cocok untuk ayahnya dan kedua sahabat ayahnya.

"Hyung, mengapa kau tidak sekalian mencari disini saja jas untuk pernikahanmu?" Usul Mingyu. Seungcheol tampak berfikir.

"Aku takut ada yang lebih bagus setelah aku membeli disini." Jawab Seungcheol.

"Benar juga." Balas Mingyu.

"Kalau begitu, kau minta tolong saja kepada Jisoo hyung, saat aku menikah, dialah yang membantuku mencari jas." Tambah Mingyu.

"Aku akan meminta Tom Ford untuk membuatkan tuxedo untukmu." Ujar Jisoo.

"Tom Ford?" Seungcheol dan Mingyu membulatkan matanya. Jisoo mengangguk.

"Jadi saat itu, bajuku dan Wonwoo hyung dirancang oleh Tom Ford?" Tanya Mingyu masih dalam mode shock.

"Kau saat itu terlalu sibuk dengan pernikahanmu, sampai kau tidak mendengarkanku berbicara." Jawab Jisoo.

"Kau memang yang terbaik." Puji Mingyu sambil mengacungkan jempolnya.

"Tenang saja, aku dengannya. Aku sudah beberapa kali meminta dia merancangkan baju untukku, jadi kali ini, dia juga pasti tidak akan keberatan. Aku akan segera menghubunginya." Ujar Jisoo.

"Kalian memang yang terbaik." Ucap Seungcheol pada Jisoo dan Mingyu.

"Tetapi, dimana Jeonghan dan Wonwoo?" Tanya Jisoo sambil melihat ke seluruh sudut.

"Benar juga. Kita dari awal sudah berpisah dengan mereka." Ucap Seungcheol.

"Aku akan menghubungi Wonwoo hyung." Ujar Mingyu sambil menelpon Wonwoo.

Setelah beberapa menit, akihrnya ketiga lelaki tersebut menemukan Wonwoo dan Jeonghan yang sedang melihat-lihat aksesoris. Wonwoo sudah mengambil beberapa kacamata. Jeonghan pun sudah mengambil beberapa baseball cap.

"Kalian sudah selesai?" Tanya Mingyu.

"Kita baru saja selesai." Jawab Wonwoo.

"Ayok kita makan, aku lapar." Ajak Jisoo.

"Aku juga." Ucap Jeonghan.

Mereka semua segera pergi untuk mencari restoran khas Thailand. Mingyu ingin makan di restoran yang mahal. Dia bilang, mereka tidak setiap hari kesini, jadi lebih baik mereka memuaskan diri mereka sendiri dengan cara menghabiskan uang mereka.

Setelah sampai di restoran, mereka segera mengambil tempat duduk dan memesan makanan. Mingyu memesan banyak makanan begitupun dengan Seungcheol. Memang diantara mereka semua, Mingyu dan Seungcheol lah yang memliki porsi makan yang banyak.

"Kau yakin akan memakan semua ini?" Tanya Wonwoo setelah makanan mereka dating.

"Tentu saja. Sesekali aku harus makan sebanyak ini." Jawab Mingyu sambil menyuapkan makanannya.

"Aku rasa porsi makanmu setiap hari juga seperti ini." Ujar Wonwoo.

"Tidak sebanyak ini, aku juga harus menjaga badanku." Balas Mingyu sambil mengunyah makanannya. Wonwoo hanya memutar kedua bolanya lalu memakan makanannya.

.

.

.

"Kapan kita akan pulang?" Tanya Jisoo. Bagi yang lainnya, pertanyaan itu seperti pertanyaan malaikat maut.

"Mengapa kau harus menanyakan hal itu?" Dengus Wonwoo.

"Itu seperti pertanyaan malaikat maut." Timpal Mingyu.

"Aku tidak mau pulang." Ucap Seungcheol.

"Aku juga terlalu pusing mengurus kafe ku." Tambah Jeonghan.

"Aku juga pusing harus bertatapan berjam-jam dengan laptop." Keluh Mingyu.

"Padahal aku bertanya baik-baik." Ucap Jisoo.

"Tapi aku juga tidak bisa mendiamkan pekerjaanku." Ucap Seungcheol.

"Aku juga. Perusahaanku akan bangkrut." Tambah Wonwoo.

"Ternyata kita masih memiliki realita yang menyusahkan." Ucap Mingyu.

"Kalian jangan mengeluh. Itu membuat kalian lebih stress." Ucap Jisoo kalem.

"Ya memang benar. Aku juga sudah memikirkan kapan kita pulang. Mungkin lusa." Ujar Mingyu lagi. Mendengar itu, semua orang terdengar menghembuskan nafas berat.

"Semangat untuk kita semua." Ujar Seungcheol tapi tanpa semangat.

.

.

.

Malam terakhir di Pattaya, Wonwoo dan Mingyu pergi ke pantai. Hanya mereka berdua. Ditemani dengan semilir angin malam, suara jangkrik yang bersahutan, dan suara ombak yang menenangkan. Mingyu merangkul istrinya itu. Wonwoo hanya terdiam, menikmati suasana Pattaya di malam hari.

"Rasanya aku tidak ingin kembali pada realita hidupku sebagai seorang CEO." Ujar Wonwoo sambil tersenyum pahit. Mingyu terdengar membuang nafasnya berat.

"Akupun." Jawab Mingyu singkat.

"Tapi kita tidak bisa, karena ini kenyataan hidup kita." Timpal Wonwoo. Mingyu menganggukkan kepalanya.

"Kita jangan terlalu banyak berekspektasi pada kehidupan, karena kita tidak tahu realita apa yang bisa saja menghancurkan hidup kita." Ucap Mingyu.

"Kita seperti pasangan motivator." Ujar Wonwoo sambil tertawa. Mingyu ikut tertawa mendengar perkataan Wonwoo barusan.

"Aku akan baik-baik saja menghadapi realita hidupku, selama kau di sisiku." Ucap Mingyu kembali bijak. Wonwoo hanya tertawa sambil mengecup bibir Mingyu.

"Kau menginginkan malam yang panas hyung?" Tanya Mingyu dengan smirknya. Wonwoo hanya menatapnya dengan tatapan menantang.

"Kau sekarang menjadi liar." Ujar Mingyu sambil menarik tangan Wonwoo. Jarak mereka hanya beberapa senti lagi. Mingyu tersenyum lembut sambil menatap foxy eyes milik Wonwoo.

"Jeon Wonwoo… Saranghae." Bisik Mingyu. Kemudian lelaki tinggi itu menarik tengkuk Wonwoo dan melumat bibir tipis itu dengan lembut. Wonwoo tersenyum disela-sela ciuman mereka. Wonwoo mengalungkan tangannya di bahu Mingyu, dan menikmati setiap kecupan yang Mingyu buat.

"Berhenti." Dan untuk kesekian kalinya, Wonwoo mengecewakan suami tampannya itu. Mingyu menatapnya kesal.

"Sekarang apalagi?" Dengus Mingyu.

"Kita tidak bisa melakukannya disini." Ujar Wonwoo. Mingyu segera menggendong Wonwoo ala bridal style dan membawanya ke kamar hotel mereka.

Mingyu segera mengunci kamar mereka dan membuka jaket yang tadi ia pakai. Mingyu kembali menarik tengkuk Wonwoo dan menciumnya. Kali ini, ciuman mereka lebih bergairah. Tidak ada lagi kecupan lembut seperti sebelumnya. Lidah mereka saling bertautan satu sama lain. Mingyu mengabsen semua gigi Wonwoo. Mingyu sudah benar-benar terbuai dengan kecupan Wonwoo. Lelaki tinggi itu menghisap bibir Wonwoo dengan penuh nafsu. Mingyu menarik tengkuk Wonwoo agar bisa menciumnya lebih dalam lagi.

Suara lenguhan terdengar dari bibir Wonwoo, dan membuat birahi Mingyu semakin naik. Mingyu tersenyum evil disela-sela tautan bibir mereka. Lelaki berkulit tan itu segera membaringkan istrinya di kasur. Mingyu melepaskan tautan bibir mereka, dan berpindah ke leher mulus milik Wonwoo.

"Tonight will be the hottest night." Ucap Mingyu dengan smirknya.

Mingyu kembali melanjutkan aktivitasnya. Ia kembali menciumi leher Wonwoo. Mingyu merobek kaos yang dipakai Wonwoo, dan membuat kiss mark di dada putih Wonwoo. Lelaki manis itu hanya bisa melenguh keenakan karena perlakuan suaminya. Wonwoo memejamkan matanya merasakan lidah Mingyu yang bermain-main di nipplenya.

Mingyu sudah membuat banyak tanda di area leher dan dada Wonwoo, ia ingin membuat tanda di sekujur tubuh istrinya itu. Mingyu menciumi perut rata milik Wonwoo, dan kembali lagi pada bibir merah muda yang sudah menjadi candunya itu. Mingyu mengubah posisinya, menjadi Wonwoo yang berada diatasnya. Wonwoo menjilat bibir Mingyu dengan penuh nafsu, kemudian ia juga membuat tanda di leher seksi milik Mingyu. Mingyu memejamkan matanya sambil mengangkat kepalanya. Mingyu benar-benar terlihat seksi.

Wonwoo pun melepaskan baju Mingyu. Ia bermain-main sebentar dengan tubuh seksi dihadapannya. Wonwoo menduduki tubuh Mingyu sambil tersenyum evil. Wonwoo meraba-raba abs milik Mingyu dan juga ia menggesekkan pantatnya dengan junior milik Mingyu yang masih tertutup dengan celana.

"Kau benar-benar mempermainkanku Jeon Wonwoo." Ujar Mingyu. Wonwoo kembali tersenyum evil, kemudian ia segera menciumin dada Mingyu.

Akhirnya, Mingyu yang tidak kuat, segera mengubah lagi posisinya. Mingyu membuka celananya, dan menampakkan juniornya yang sudah menegang. Wonwoo mengeluarkan smirknya. Mingyu yang sudah berada di titik puncak nafsunya, segera memasukkan junior ke dalam lubang milik Wonwoo. Mingyu menggenjotnya perlahan karena Wonwoo yang memintanya.

"Pelan-pelan, aku masih belum terbiasa dengan adikmu yang besar itu." Ucap Wonwoo.

Mingyu masih menggenjotnya dengan tempo yang pelan, menunggu sampai Wonwoo tidak merasakan sakit dan menikmati genjotan yang ia hentakkan. Lama-kelamaan, Wonwoo sudah mulai terbiasa, dan ia pun mengeluarkan suara desahan yang sangat seksi, dan membuat suaminya itu mempercepat tempo genjotannya.

Kedua sejoli itu benar-benar dimabuk oleh cinta. Mingyu menghentakkan juniornya di lubang Wonwoo dengan semangat. Ruangan mereka sudah dipenuhi dengan suara-suara desahan mereka. Melihat Mingyu yang berkeringat adalah hal yang terseksi untuk Wonwoo. Mingyu sudah meracau tidak karuan. Ia benar-benar menikmati lubang sempit milik istrinya itu.

"Ahh.. Ngghh… Kau sangath… Nikmath… Ughh…" Racau Mingyu sambil menggenjot lubang Wonwoo dengan cepat.

"Mingyuh… Fasterhh.. Ahh…" Wonwoo memejamkan matanya, menikmati junior Mingyu yang sempurna berada di dalam lubangnya.

Mendengar desahan Wonwoo, Mingyu menambah lagi tempo kecepatannya. Ia menggenjot Wonwoo dengan lebih cepat lagi, sampai Wonwoo merasa ia kehilangan akal sehatnya karena terlalu nikmat. Mingyu melihat Wonwoo yang mendesah keenakan sambil tersenyum evil. Dan dengan sekali hentakan, Mingyu berhasil membuat Wonwoo berteriak nikmat, sambil mengeluarkan cairan putih lengket. Wonwoo terlihat lemas, tetapi Mingyu masih menggenjotnya.

"Gyuh… Berhenti duluh…" Mendengar ucapan Wonwoo, Mingyu segera menghentikannya.

"Kau menikmatinya sayangh?" Bisik Mingyu tepat di sebelah telinga Wonwoo. Lelaki manis itu tidak menjawabnya, dia kehabisan nafas. Mingyu melepaskan juniornya dari lubang Wonwoo, kemudian Wonwoo menatapnya.

"Kau akan mengakhirinya?" Tanya Wonwoo. Mingyu mengeluarkan senyuman miringnya.

"Kau kecewa?" Tanya Mingyu masih dengan ekspresi yang sama.

"Ya aku kecewa. Ini semua terlalu nikmat untuk diakhiri." Ujar Wonwoo. Lalu, lelaki manis itu segera menaiki tubuh suaminya. Wonwoo duduk tepat diatas abs Mingyu. Wonwoo kembali menggesekkan pantatnya dengan junior milik Mingyu yang masih terbangun.

"Adikmu sangat besar dan kuat." Ucap Wonwoo sambil menggesekkan pantatnya dengan junior Mingyu. Lelaki tampan itu tidak menjawabnya. Gesekkan yang Wonwoo lakukan, membuatnya mendesah keenakan. Wonwoo tersenyum miring, lalu segera memasukkan junior Mingyu kedalam lubang miliknya.

"I'll ride you baby." Bisik Wonwoo.

Sekarang, giliran Wonwoo yang menggenjot junior milik Mingyu. Wonwoo menggenjotnya dengan pelan. Ia benar-benar suka mempermainkan Mingyu yang sedang dikuasai oleh birahinya. Wonwoo terus menatap Mingyu yang sedang memejamkan matanya dengan peluh yang membasahi sekujur tubuhnya. Kulit tan Mingyu menjadi nilai plus untuk menyempurnkan keseksian lelaki itu.

"Bisakah kau lebih cepath?" Ujar Mingyu.

"Baiklah."

Kemudian, Wonwoo menggenjot Mingyu dengan cepat, membuat keduanya mendesah keenakan. Wonwoo benar-benar menyukai semua bagian tubuh Mingyu. Wonwoo kembali menyentuh chocolate abs milik Mingyu sambil terus menggenjot junior Mingyu. Lalu ia segera menundukkan badannya sambil kembali mecumbu bibir Mingyu.

Ciuman mereka semakin ganas dari sebelumnya. Mingyu bahkan menggigit bibir Wonwoo. Keduanya sudah bertukar saliva dan saling menjilat bibir satu sama lain. Wonwoo melepaskan tautan bibir mereka, dan beralih ke leher Mingyu. Mingyu menekan kepala Wonwoo agar menciumnya lebih dalam. Setelah puas membuat tanda di dada Mingyu, Wonwoo melepaskannya, dan kembali menggenjot junior Mingyu. Kali ini, Wonwoo menggenjotnya dengan sangat kuat, sampai ia merasa lemas. Wonwoo berhasil membuat Mingyu orgasme. Kemudian lelaki manis itu terkulai lemas diatas tubuh Mingyu. Karena masih belum puas, Mingyu kembali menukar posisinya, dan ia kembali menggenjot lubang milik Wonwoo.

Wonwoo terus mendesah meskipun ia sudah merasa lemas. Rasa lemas itu hilang oleh rasa nikmat yang tiada tara. Kemudian Wonwoo menyuruh Mingyu melepaskan juniornya. Lelaki manis itu segera menungging di depan Mingyu. Lelaki berkulit tan itu, semakin semangat untuk melanjutkannya. Mingyu kembali memasukan juniornya kedalam lubang Wonwoo. Ia tidak lupa untuk memberi kiss mark di punggung Wonwoo. Sedangkan Wonwoo, ia hanya terus mendesah keenakan. Tangannya mencengkram sprei kasur dengan kuat. Mingyu tidak lelah-lelahnya menggenjot tubuh Wonwoo. Mingyu sangat menikmati permainan mereka ini.

Sampai saat dimana Mingyu benar-benar menghentakkan juniornya dengan kuat, dan membuat keduanya berteriak keenakan. Mereka berdua orgasme bersama, dan keduanya terkulai lemas di atas kasur. Mingyu dan Wonwoo bernafas dengan menggunakan mulut mereka. Keduanya seakan-akan berlomba untuk meraup oksigen sebanyak mungkin.

Mingyu menatap Wonwoo yang terpejam dengan mulutnya yang masih terbuka. Mingyu tersenyum miring, lalu ia kembali mencium bibir tipis Wonwoo. Lelaki manis itu tidak membalasnya, ia sudah lelah. Wonwoo membiarkan Mingyu menciuminya. Wonwoo merasakan bibir bawahnya yang sedang dihisap oleh Mingyu. Tanpa sadar, Wonwoo kembali melenguh. Mingyu tersenyum, lalu segera melepaskan ciumannya.

"Kau masih sama seperti dulu. Kau masih nikmat hyung." Bisik Mingyu.

"Dan kau masih kuat seperti dulu." Balas Wonwoo.

"Aku mencintaimu." Ucap Mingyu.

"Aku mencintai adikmu." Jawab Wonwoo.

"Kau masih menginginkannya?" Tanya Mingyu. Wonwoo mengangguk lemas.

"Bahkan aku tidak tega melihatmu yang sudah lemas seperti ini." Ujar Mingyu.

"Aku ingin tidur." Ujar Wonwoo.

"Tidurlah, besok kita lanjutkan." Ujar Mingyu sambil tertawa.

Wonwoo sudah memejamkan matanya, tapi ia belum tidur. Ia merasakan tangan Mingyu memeluknya. Junior Mingyu masih tertaut di lubang Wonwoo. Saat Wonwoo mencoba untuk mengubah posisi, keduanya sama-sama mendesah.

"Hyung, kau bilang ingin tdiur, mengapa kau menganggu adikku lagi?" Ujar Mingyu.

"Aku tidak sengaja. Tapi jangan lepaskan ini." Ucap Wonwoo lalu memeluk Mingyu.

"Aku memang hebat melakukan ini." Ucap Mingyu sambil menggerakkan badannya. Lagi-lagi, mereka berdua mendesah.

"Cukup, aku benar-benar lelah." Ucap Wonwoo. Mingyu tidak menjawabnya. Lelaki tampan itu mengecup kening istrinya lalu memeluknya dengan erat sambil memejamkan matanya.

Saat jam menunjukkan pukul delapan pagi, keduanya masih belum juga terbangun. Mereka berdua benar-benar lelah akibat aktivitas panas mereka tadi malam. Ketika Wonwoo akan merubah posisinya, keduanya kembali mendesah.

"Ini masih pagi." Ucap Mingyu masih dengan mata terpejam.

"Lepaskanlah ini." Ucap Wonwoo, dia pun masih memejamkan matanya.

"Tidak." Jawab Mingyu, lalu memeluk Wonwoo semakin erat.

"Adikku sakit bodoh." Timpal Wonwoo. Mingyu membuka matanya perlahan, kemudian melonggarkan pelukannya.

"Aku masih menginginkannya." Ujar Mingyu.

"Kita harus pulang." Jawab Wonwoo.

"Tapi aku menginginkan kau." Ucap Mingyu.

"Gyu… Nghh…" Wonwoo kembali mendesah ketika Mingyu memainkan putingnya dan mencubitnya.

"Kau jangan mendesah, itu mengundang kembali nafsuku." Ujar Mingyu.

"Jika kau ingin aku berhenti, lepaskanh… Nghh Gyuh…" Mingyu sengaja menggerakkan juniornya.

"Satu ronde saja hyung." Pinta Mingyu.

" Kau tidak lelah? Ahh… Ahh…" Mingyu sudah kembali berada diatas Wonwoo sambil menggenjot lubang Wonwoo pelan.

"Ini nikmath…" Racau Mingyu. Wonwoo tidak bisa menghentikannya, ia kembali mengikuti permainan, toh dia juga merasa nikmat.

Mingyu menggendong Wonwoo sambil terus menngenjotnya. Kaki Wonwoo dikaitkan di pinggang Mingyu. Mereka berdua melakukannya sambil berdiri. Wonwoo mengalungkan tangannya di pundak Mingyu sambil menciumnya ganas. Wonwoo terus menjilati bibir Mingyu. Lelaki berkuli tan itu mengikuti permainan istrinya sambil bertukar saliva dan bermain dengan lidahnya.

"Saranghae." Bisik Mingyu.

.

.

.

"Ahh kaki sakit sekali." Ujar Wonwoo yang terjalan dengan pincang.

"Kau semakin liar hyung, aku menyukainya." Ucap Mingyu yang sedang memakai celana.

"Lain kali, aku yang akan memasukimu." Ujar Wonwoo.

"Kau tidak akan bisa, kau cukup diam sambil mendesah, biarkan aku yang menggenjotmu." Ucap Mingyu.

"Ya memang sudah seharusnya seperti itu. Lagipula aku menikmatinya saat kau memasukkan adikmu." Ujar Wonwoo sambil mengelus abs Mingyu.

"Kau jangan menngodaku lagi, kita harus pulang." Ucap Mingyu sambil menatap mata Wonwoo.

"Aku tahu." Balas Wonwoo.

"Aku terlalu mencintaimu." Ujar Mingyu lalu kembali melumat bibir Wonwoo. Keduanya saling melumat dengan lembut. Mereka saling menjilat bibir satu sama lain tanpa nafsu seperti tadi malam.

"Ayok kita keluar, kita harus segera pulang." Ucap Wonwoo. Mingyu hanya tersenyum. Lelaki itu terelalu senang setelah 'kegiatan' mereka tadi malam.

.

.

.

"Ahh kakiku sakit sekali." Keluh Jeonghan. Wonwoo menatap lelaki cantik itu dengan penuh selidik.

"Ada apa?" Tanya Jeonghan.

"Kau habis melakukan apa?" Tanya Wonwoo.

"Melakukan hal yang sama denganmu." Jawaban Jeonghan membuat Wonwoo membelalakkan matanya.

"MWO? Bagaimana kau tahu hyung?" Tanya Wonwoo kaget. Jeonghan tertawa melihat ekspresi Wonwoo.

"Caramu berjalan itu sudah menjadi jawabannya." Jawab Jeonghan. Wajah Wonwoo menjadi merah. Seharusnya ia berakting jika kakinya baik-baik saja.

"Sudahlah, kau tidak perlu malu." Ujar Jeonghan

"Apakah semuanya sudah siap?" Tanya Mingyu dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya.

"Sudah." Jawab Jisoo.

"Ya sudah, ayok kita pulang." Ucap Mingyu semangat.

"Mengapa kau sangat semangat?" Tanya Seungcheol. Mingyu hanya tersenyum lebar menganggapinya.

"Kau juga terlihat lebih cerah." Ucap Jisoo pada Seungcheol. Dan begitupun dengan Seungcheol, ia hanya tersenyum.

"Memang aku sangat menyedihkan. Disaat kalian sibuk bersetubuh, aku hanya bisa menyentuh keyboard laptopku dengan lembut." Ucapan Jisoo membuat keempat orang disana salah tingkah.

"Kau dan Jeonghan pernah melakukannya?" Tanya Seungcheol penasaran.

"Setiap hari." Jawab Jisoo dan membuat Seungcheol serta Wonwoo dan Mingyu kaget. Jeonghan hanya tertawa melihat ekspresi ketiganya. Seungcheol menatap Jeonghan dan Jisoo bergantian.

"Ada apa?" Tanya Jisoo kalem.

"Kalian benar-benar melakukannya setiap hari?" Tanya Seungcheol dengan wajah yang serius.

"Ya, kami juag menikmatinya." Jawab Jeonghan.

"Kalau begitu, aku akan membuatmu tidak bisa berjalan sama sekali." Ucap Seungcheol.

"Jisoo sudah pernah membuatku seperti itu." Ujar Jeonghan.

"Yak Hong! Mengapa kau tidak pernah menceritakannya?" Tanya Wonwoo. Jisoo hanya mengangkat bahunya.

Hening.

"HAHAHA…" Jisoo dan Jeonghan tertawa bersama melihat ketiga orang itu yang masih terlihat kaget.

"Mengapa kalian tertawa?" Tanya Seungcheol. Wajahnya terlihat kesal.

"Tenanglah, aku dan Jeonghan tidak pernah melakukannya." Ucap Jisoo akhirnya.

"Yak! Aku sudah sangat kaget mendengar perkataan kalian barusan." Teriak Seungcheol kesal.

"Tidak. Kita tidak pernah melakukannya. Jisoo sangat menjagaku." Ucap Jeonghan.

"Kau sama sekali tidak pernah melakukannya?" Tanya Mingyu dan dibalas anggukan oleh Jisoo.

"Kau tidak asik." Ucap Mingyu sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Benar." Timpal Wonwoo.

"Aku curiga kalian melakukannya setiap hari." Ucap Jeonghan.

"Bahkan ketika kita bertemu, hanya saat malam, dan kita langsung tertidur setelahnya." Ungkap Mingyu sedih.

"Tetapi kau sudah puaskan tadi malam?" Tanya Jisoo dan membuat Mingyu dan Wonwoo malu.

"Seharusnya aku benar-benar tidak ikut." Ucap Jisoo.

"Makanya, sudah aku bilang, kau harus pergi mencari jodohmu." Ucap Wonwoo kesal.

"Aku akan mencarinya. Nanti." Jawab Jisoo.

.

.

.

Sesampainya di Korea, mereka kembali ke rumah masing-masing dan menjalankan aktivitas seperti biasa.

Mingyu yang sibuk bertemu dengan klien.

Wonwoo yang sibuk menandatangani berkas.

Jisoo yang sibuk berkutat dengan laptop.

Seungcheol dan Jeonghan yang sibuk mengurus pernikahan mereka.

Saat jam makan siang, Mingyu dan Wonwoo pergi untuk menemui Jeonghan dan Seungcheol. Mereka ingin membantu persiapan pernikahan mereka. Seungcheol tampak sangat lelah, begitupun dengan Jeonghan, tetapi mereka masih tetap tersenyum.

"Hyung bagaimana persiapan kalian?" Tanya Mingyu sambil duduk di hadapan mereka.

"Undangannya sudah selesai, dan juga aku sudah menyebarkannya sebagian. Oh ya, ini untuk kalian dan keluarga kalian." Ujar Seungcheol sambil memberikan sebuah kertas berwarna biru muda.

"Bukankah Jisoo bilang akan mengurusnya?" Tanya Wonwoo.

"Jika Jisoo mengurus undangan juga, kita tidak melakukan apapun." Jawab jeonghan. Wonwoo hanya mengangguk.

"Oh ya, aku sudah menyewakan gedung untuk kalian. Aku kemarin sudah mengkonfirmasinya." Ujar Mingyu.

"Terimakasih kalian sudah membantu kami." Ucap Jeonghan dengan senyum tulusnya.

"Kalian juga banyak membantu hubungan kita hyung. Santai saja." Balas Mingyu.

"Kalian ada disini juga?" Tanya Jisoo yang baru saja datang.

"Jisoo-ah, ini untukmu." Ujar Jeonghan sambil memberikan undangannya.

"Bukankah aku sudah bilang biar aku yang mengurusnya?" Tanya Jisoo. Seungcheol menggeleng.

"Kau sudah banyak membantu kita." Ujar Seungcheol.

"Baiklah. Oh ya, tadi aku menghubungi Tom Ford, dan dia akan segera ke Korea." Ucap Jisoo.

"Tom Ford?" Tanya Jeonghan kaget.

"Ahh… Kau belum mengetahuinya. Aku sudah bilang kepada Seungcheol sebelumnya agar baju kalian nanti dibuat oleh dia." Jawab Jisoo.

"Jisoo-ah gomawo." Ujar Jeonghan sambil memeluk Jisoo. Seungcheol hanya menatapnya dengan iba sambil membuang nafas berat.

"Terimakasih Hong." Ucap Seungcheol sambil tersenyum.

.

.

.

"Aku tidak melakukannya, tetapi mengapa jantungku berdebar?" Tanya Wonwoo saat melihat Seungcheol yang sedang mengucapkan janji suci.

"Kau tidak tahu betapa gugupnya aku saat kita menikah? Jantungku serasa akan lepas." Balas Mingyu. Wonwoo hanya tersenyum. Senyum yang mampu membuat Mingyu jatuh untuk kesekian kalinya pada sosok manis itu.

"Jeonghan hyung sangat cantik." Puji Wonwoo saat Jeonghan memasuki altar. Jeonghan menggunakan tuxedo putih. Jeonghan terlihat lebih cantik ketika rambutnya yang digerai itu berwarna coklat.

"Mereka sangat cocok." Puji Jisoo.

"Ya benar." Tambah Mingyu.

Setelah selesai, mereka semua beserta orang tua mereka mangambil foto bersama. Kebahagiaan tersirat dari wajah mereka semua. Senyuman tak henti-hentinya terlepas dari wajah mereka. Seungcheol mencium pipi Jeonghan sangat lama sambil mereka berfoto.

"Cukkae hyung. Semoga kalian akan selalu bahagia." Ucap Wonwoo sambil memeluk Jeonghan.

"Terimakasih Wonwoo. Semoga kau juga bahagia bersama Mingyu." Jawab Jeonghan.

"Yak! Hong! Kapan kau menyusul?" Tanya Seungcheol. Jisoo hanya tertawa mendengarnya.

"Aku malas menikah." Jawab Jisoo dengan tawanya.

"Kau jangan begitu!" Ujar Jeonghan.

"Pernikahan itu terlalu rumit." Timpal Jisoo.

"Kau akan menjadi perjaka tua yang kesepian?" Cibir Wonwoo.

"Aku tidak kesepian. Ada laptopku." Jawabnya masih dengan tawanya.

"Kau akan menikahi laptopmu?" Ujar Wonwoo jengkel.

"Sudahlah. Aku berharap kita semua bahagia." Ucap Jisoo sambil tersenyum.

.

.

.

"Kau sakit hyung?" Tanya Mingyu melihat istrinya yang terlihat pucat.

"Entahlah, aku sedikit pusing." Jawab Wonwoo sambil memijat kepalanya.

"Kau dari kemarin tidak mak makan, dan hanya focus dengan pekerjaanmu, tentu saja kau pusing seperti ini." Dengus Mingyu kesal.

"Berhentilah memarahiku." Ucap Wonwoo.

"Sudahlah, kau libur saja dulu, aku akan mengurus perusahaan kita." Ujar Mingyu.

"Baiklah."

"Kau harus makan." Ujar Mingyu dan segera bergegas untuk mengambil makan, tetapi Wonwoo menahannya.

"Aku tidak nafsu makan." Ucap Wonwoo.

"Aku tidur saja." Tambah Wonwoo.

"Kau harus makan dulu." Paksa Mingyu, lalu ia pergi mengambil makanan. Wonwoo hanya menunggu sambil terus memijat kepalanya.

"Ayo hyung, biar aku menyuapimu." Ucap Mingyu sambil menyuapkan sesendok nasi. Wonwoo hanya memakannya dalam diam.

"Aku tidak bisa memakannya lagi." Ucap Wonwoo setelah suapan kedua.

"Sepertinya kita harus ke dokter untuk meminta obat agar kau menjadi nafsu makan. Kau ini kurus hyung." Ucap Mingyu.

"Aku ingin tidur." Ujar Wonwoo setelah meminum air putih. Kemudian lelaki manis itu segera tertidur membelakangi Mingyu. Mingyu menatap istrinya khawatir, karena terlalu isbuk dan tidak memperhatikan pola makannya. Setelah itu, Mingyu tidur disebelah Wonwoo sambil memeluknya.

"Mingyu, kenapa ini sangat menyakitkan?" Ucap Wonwoo yang tiba-tiba saja bangun. Mingyu segera membuka matanya dan melihat Wonwoo yang kesakitan smabil memegang kepalanya.

"Kepalamu semakin sakit?" Tanya Mingyu. Wonwoo hanya mengangguk. Mingyu segera memakai mantelnya, dan juga memakaikan Wonwoo jaket, kemudian pergi ke rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Mingyu segera mencari dokter pribadi keluarga mereka yang sudah bekerja selama sepuluh tahun. Mingyu segera memasuki ruangan dokter pribadi mereka dengan Wonwoo yang sudah sangat pucat.

"Ahjussi, tolong periksa Wonwoo hyung, dia mengalami skait kepala sejak tadi pagi. Sepertinya sakit kepalanya bukan sakit yang biasa." Mingyu menjelaskan dengan panik.

"Kau sudah minum obat?" Tanya dokter itu.

"Sudah, tapi sakit ini tidak berhenti. Obatnya hanya meredakan sesaat saja." Jawab Wonwoo.

"Aku akan memeriksamu." Ujar dokter itu. Wonwoo segera mengikuti dokter itu untuk diperiksa. Sementara Wonwoo diperiksa, Mingyu menunggunya dengan cemas. Ia takut terjadi sesuatu dengan Wonwoo.

Setelah sekian menit menunggu, akhirnya Wonwoo selesai diperiksa. Mingyu segera berdiri dari kursinya, dan menatap Wonwoo yang ekspresinya tidak dapat ditebak.

"Kau baik-baik saja?" Tanya Mingyu.

"Mingyu-ah…" Wonwoo tidak menjawab pertanyaan Mingyu dan membuat Mingyu semakin panik. Dokter yang memeriksa Wonwoo pun terlihat sangat kaget setelah memeriksa keadaan Wonwoo.

"Ahjussi ada apa? Mengapa ekspresi kalian seperti itu?" Tanya Mingyu kesal karena tidak ada yang menjawabnya.

"Aku… Aku… Gyu, aku…" Mingyu menunggu Wonwoo untuk melanjutkan ucapannya.

"Aku… Hamil…"

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

"MWO?" Teriak Mingyu kaget.

"Aku juga sangat kaget mendengarnya." Ujar Wonwoo

"Bagaimana bisa?" Tanya Mingyu bingung.

"Aku juga tidak tahu. Bagaimana ini?" Ucap Wonwoo.

"Tentu saja aku senang. Aku memang bermimpi memiliki anak darimu, walaupun itu tidak mungkin. Tapi, kau membuktikannya, aku sangat senang." Ucap Mingyu sambil memeluk Wonwoo.

"Sangat jarang sekali ada lelaki yang bisa hamil. Aku juga sangat terkejut saat memeriksanya. Hanya satu berbanding sekian juta lelaki yang bisa mengandung. Walaupun memang menurut penelitian, lelaki bisa mengandung." Jelas sang dokter.

"Kita harus segera memberitahu ini kepada ayah kita." Ujar Mingyu bahagia.

"Mengapa jantugku sangat berdebar? Aku terlalu senang sepertinya." Ucap Wonwoo.

.

.

.

"Abeoji." Panggil Mingyu kepada Min Woo dan Jin Woo yang sedang makan siang.

"Ada apa anakku?" Tanya Jin Woo.

"Ada yang ingin kita bicarakan dengan kalian." Jawab Mingyu serius.

"Sepertinya ada sesuatu yang serius." Timpal Min Woo.

"Ada apa? Asal kalian jangan bilang kalian ingin berpisah, kami tidak akan menyetujuinya." Ujar Jin Woo.

"Tentu saja kita tidak akan berpisah." Ucap Mingyu lagi. Wonwoo hanya terdiam menyimak pembicaraan mereka.

"Cepatlah katakana. Jangan membuat kita mati penasaran." Ujar Min Woo.

"Wonwoo hyung. Dia… Ehmm… Kalian akan mempunyai cucu."

Sama seperti Mingyu sebelumnya, baik Jin Woo maupun Min Woo tidak merespon apapun. Mereka masih perlu mencerna baik-baik ucapan Mingyu.

"Aku hamil." Akhirnya Wonwoo membuka suaranya.

"MWO?" Jin Woo dan Min Woo berteriak bersamaan.

"Kau… Ha… Hamil?" Tanya Jin Woo tidak percaya. Wonwoo hanya mengangguk.

"Aigoo… Kita akan mempunyai cucu. Apa jenis kelaminnya?" Tanya Min Woo antusias.

"Mengapa appa tidak aneh mendengarnya?" Tanya Mingyu.

"Tentu saja itu terdengar aneh, tapi kita bahagia." Jawab Min Woo.

"Apa jenis kelaminnya? Aku akan mempersiapkan semuanya." Ujar Jin Woo. Wonwoo dan Mingyu tersenyum mendengarnya.

"Kita masih belum mengetahuinya. Ahn ahjussi hanya bilang jika kandunganku masih berusia tiga minggu." Jawab Wonwoo.

"Jika kalian sudah mengetahuinya, beritahu kami." Ucap Min Woo. Wonwoo dan Mingyu mengangguk bersamaan.

.

.

.

Saat Wonwoo dan Mingyu memberitahunya juga kepada Jisoo, Jeonghan dan Seungcheol, merekapun terlihat sangat kaget dengan berita yang kedua sejoli itu sampaikan. Karena lelaki hamil itu memang masih jarang, bahkan mungkin belum ada.

"Ahh aku iri sekali. Aku juga ingin memiliki anak." Ujar Jeonghan iri sambil mengelus perutnya.

"Semoga saja kau bisa sepertiku." Ujar Wonwoo sambil tersenyum.

"Semoga saja." Timpal Seungcheol.

.

.

.

9 bulan kemudian.

"Lihat, dia tampan sepertiku hyung." Ujar Mingyu sambil menggendong anak lelakinya.

"Aku rasa, anakmu lebih tampan." Balas Seungcheol.

"Karena ketampanannya turun dariku." Ujar Mingyu.

"Manis sekali dia, seperti kau." Puji Jeonghan sambil menggendong anak perempuan Wonwoo.

Ya, Wonwoo melahirkan anak kembar. Yang pertama laki-laki, yang kedua perempuan. Anak laki-laki mereka sangat tampan seperti Mingyu, dan wajah manis anak perempuan mereka turun dari Wonwoo.

"Mana cucuku?" Ujar Jin Woo yang baru saja datang.

"Ahjussi, cucu perempuanmu sangat manis." Ujar Jeonghan sambil memberikan bayi mungil itu kepada Jin Woo.

"Kau benar. Dia sangat manis." Puji Jin Woo.

"Aku ingin menggendong cucuku juga." Mingyu memberikan anak lelakinya kepada Min Woo.

"Aigoo… Lihatlah betapa tampannya cucuku." Ujar Min Woo gemas.

"Karena dia anakku." Ucap Mingyu percaya diri.

"Kau tidak akan tampan seperti itu jika bukan karenaku." Balas Min Woo.

"Tapi aku lebih tampan." Timpal Mingyu.

"Terserahlah. Kalian sudah memberinya nama?" Tanya Min Woo.

"Untuk anak tampanku, namanya Kim Gyu Won, karena aku akan mewariskan GyuWon kepadanya." Jawab Mingyu.

"Lalu cucuku yang manis ini?" Tanya Jin Woo.

"Kim Woo Rin." Jawab Wonwoo yang masih terhubung dengan berbagai selang di tubuhnya.

"Kalian pintar memilih nama." Puji Seungcheol.

"Kau juga persiapkan nama untuk anakmu dari sekarang." Ujar Mingyu pada Seungcheol. Jeonghan sedang mengandung anaknya yang pertama. Usia kandungannya baru dua bulan.

"Maafkan aku terlambat." Ujar Jisoo yang baru saja datang dari Jeju bersama seseorang.

"Aigoo… Siapa lelaki lucu ini?" Tanya Seungcheol kepada seseorang yang dibawa oleh Jisoo.

"Ahh… Boo Seungkwan imnida." Jawab lelaki yang bernama Seungkwan itu.

"Akhirnya kau memiliki pasangan." Ujar Min Woo. Jisoo hanya tersenyum.

"Bagaimana anak kalian?" Tanya Jisoo.

"Anak kita baik-baik saja. Bukankah mereka tampan dan cantik?" Ujar Mingyu.

"Ya mereka tampan dan cantik. Siapa namanya?" Tanya Jisoo.

"Kim Gyu Won dan Kim Woo Rin." Jawab Mingyu.

"Nama yang bagus." Puji Jisoo.

"Jaehyun dimana?" Tanya Jin Woo.

"Appa sedang dijalan, ia baru saja sampai bandara tadi." Jawab Jisoo.

"Sejak kapan kalian berkencan?" Tanya Jeonghan.

"Tiga hari yang lalu." Jawab Seungkwan.

"Kau disana bekerja atau mencari jodoh?" Tanya Wonwoo.

"Aku sekarang sudah memiliki kekasih, kau protes, saat aku tidak memilikinya, kau juga protes." Dengus Jisoo.

"Kau jadi pemarah." Balas Wonwoo.

"Semoga hubungan kalian bisa seperti kita." Ucap Jeonghan.

"Semoga saja." Jawab Seungkwan sambil tersenyum.

THE END.

Okay, udah jelas kan ya akhirnya kayak gimana. Wonwoo dan Mingyu punya anak, Jeonghan dan Seungcheol yang udah nikah dan punya anak juga, dan Jisoo yang akhirnya menemukan pasangannya.

Curcol dikit, awalnya author gaakan bikin Jisoo punya pasangan, soalnya author itu shippernya JiHan sebenernya. Dan dulu pernah ada yang minta buat pasangin JisooxDK, tapi maaf author gabisa bikin mereka bersatu disini hehe, soalnya author itu beranggapan kalo Jisoo itu seme dan DK juga seme hehe.

Akhirnya selesai juga ini sequel. Author kerjainnya sampe lima hari, soalnya sibuk wkwk. Sibuk fangilingin dedek gemez di P101 hehe…

Pokoknya makasih banyak buat kalian yang udah baca ini ff dan maaf kalo selama ini ff nya banyak typo dan kesalahan lainnya, dan ini sequel panjang banget sampe 7000 words, huh…

Sekali lagi makasih buat para readernim, dan jangan lupa baca ff Love Is Fight yaa byeee^^