"Someone like you, and how you know, and how you speak,
Off in the night, while you live it up, I'm off to sleep,
You know that I could use somebody,
Someone like you,"
Use Somebody – Kings of Leon.
Hyuk Jae POV
Sekian dari setiap pengabdianku kepada kasihku tercinta, Donghae. Aku terjebak dalam suasana daku yang padu, yang terdapat kesuka citaanku bersamamu walau senyum yang kuulas adalah pedih pada masa tetirahku. Donghae kau adalah seorang pendosa. Aku berada di halusinasi jagat raya mengenai mencintaimu selamanya, meski kita berdua tahu itu bohong adanya. Walau sesungguhnya manusia memanglah mencintai kebohongan. Dan begitulah aku, begitulah kami. Begitulah Donghae yang lima tahun belakangan membuatku meriang, mabuk kepayang, aku berbunga-bunga kepada pengetahuan dan tutur katanya yang kalem. Selagi menggandeng mobil bercatkan merah, muncul dari ujung dunia yang nyaris punah, Donghae memantra-mantraiku, mempersatukan galaksi dua dimensi yang dulunya karam sebab kejinya maha kuasa memporak-porondakan kepiatuanku menjadi nasib hidup yang nyeleneh.
Donghae selalu menjadi kekasih hati yang apa adanya, pengertian dan banyak membantu. Tetapi akankah segenap keelokan matrial itu menjadi destinasi yang mempertahanku di sisimu, seuntuhnya? Katanya, dalam keping ingatan yang aneh "sayang dalam duka yang berlarut-larut ini, dan cita yang bersahaja, hiduplah bersamaku dan jadilah rumah buatku berteduh," sambil memejamkan mata.
Aku berpura-pura terkejut, dan bahagia, padahal kenyataannya aku tenggelam dalam perasaan kelabu yang dengki. "Jangan bercanda, tentu saja!" jawabku. Nyaris larut dalam badai isak tangis, aku berpaling dari pelukannya, mencari sumber cahaya dan pengampunan. Perasaan tidak bisa dibohongi, apalagi tentang kekuatan cinta yang lemah adanya. Cinta itu komersial, bisa dipertaruhkan dengan suatu tarif, mengapa aku harus percaya kepada ketangguhan cinta di dunia yang minim kasih dengan umat-umat Tuhan yang suka menghakimi? Katakan, berikan aku dalih dari sekadar alasan dan alibi.
Aku berdansa dengannya, kami berjubah biru yang sepasang, secangkir kenikmatan dengan lilin temaram yang redup seperti halnya kekosongan sukmaku. Bukan maksud hati untuk mencelanya, Donghae yang terdahulu adalah pria mapan yang ganteng. Teman dari temanku pernah naksir dengannya, mereka tidak hanya membicarakan visualisasi mendasar dari pesona seorang pria tajir, tetapi juga kesempurnaannya yang lain. Baiklah, Donghae itu baik hati. Dia suka menyapa, padahal dia pemalu. Dan itu mengingatkanku kepada kilasan balik yang norak dengannya, kami bertemu di lorong kampus. Dia tergesa-gesa dan panik karena kehilangan kunci mobilnya. Aku menemukannya di kamar mandi pria, oh begitulah bagaimana kisah asmara ini dimulai. Pria yang tidak terlampau tinggi semacam diriku, menemukan cinta sesama jenis pertamanya, kaya pula. Tetapi itu semua telah membawaku menuju relung teka-teki, aku lelah mencintainya. Dan aku tahu aku tidak perlu melakukannya. Ya, semua orang menyadarinya. Donghae apalagi.
Aku mencintai Donghae yang dulu. Yang sekarang? Rasa-rasanya tidak lagi. Aku melemahkan indera yang dulunya adalah kuasa Donghae, dan malah menajamkan kejenuhanku kepadanya.
Donghae menangkap lenganku, kami bercinta di bawah luasnya padang pasir yang terik karena sinar bulan, bibirnya merah terang, menciumi garis mulutku dan memasuki ketelanjangannya ke dalam setiap jejak tubuhku. Sekarang logikanya, kami bercinta dengan tubuh. Tidak lagi hati yang menuntut belaian, melainkan sentuhan. Mata yang menyorot, melainkan orgasme yang mengilhami. Sinar bintang gemintang, melainkan bulan purnama. Kami diharuskan puas dengan satu sama lainnya, tidak lagi mengisi kekurangan satu sama lainnya.
Dalam suatu negeri antah-berantah dan semesta yang luasnya mengalahkan dirgantara khayalan dari seorang pengemis jalanan, terdapat sepasang kekasih yang tidak bahagia. Yang tidak lagi dimaksudkan buat bersama, tetapi begitulah cinta, sekian dari banyak kemungkinan, dan remah-remah ingatan yang hilang tentang kehangatan dan kekuatan cinta, pada dasarnya Donghae milikku. Begitu pula Hyuk Jae adalah milik Donghae. Cinta tidak bisa membuat semua orang bahagia, tidak mencintai juga bukan berarti tidak bahagia.
Begini, setiap orang memiliki prinsip hukum yang sah buat percaya atau tidak kepada Sang Pencipta, tetapi di penghujung hari, eksistensi Tuhan kekal adanya. Percaya atau tidak, seluruh umat manusia meyakini kuasanya. Kehadirannya, dan kasihnya. Seperti halnya Donghae, ya, sayang, dirimu yang adalah sebuah petualangan hidup yang bersifat tragedi.
Donghae, kau esensial. Aku terbangun dari mimpi buruk dan haus akan pelukanmu, sehingga aku terlelap dikertajagaanmu, sewaktu gelap gulita berperang dalam kepalamu, aku menemukan setitik cahaya itu. Aku tidak mencintai Donghae, oh bohong, dulunya aku, dan aku merasakan kehilangan akan pencarian yang sesungguhnya. Akan indahnya hidup ini, bahwa tidak mencintaimu pula adalah dalih untuk tidak merasa bahagia. Padahal aku punya yang terbaik, pasangan hidup yang tidak akan selingkuh dariku, kaya, mapan, tidak jorok, tetapi masih ada yang kurang. Dan aku pantasnya bersyukur, bukan malah mengeluh!
"Hyuk Jae, kau mimpi buruk lagi?" Donghae bangun dari tidurnya, menyentuh bulir keringat yang berkilau. Aku mencari-cari rangsangan non-erotis dari ujung jari yang bergetar, sehingga Donghae membelai lebih banyak permukaan kulitku. Sentuhannya adalah satu-satunya hal yang masih kucintai, dan akan selalu begitu. Donghae memadamkan lampu, menjauh dari kontak fisik, aku berada dalam dilema yang kalut.
"Donghae ada yang ingin kukatakan padamu."
Donghae menawanku seperti ada yang tidak beres denganku. "Kau perlu air?"
"Tidak." Ya Tuhan, sayang, tidakkah kau mendapat petunjuk dari keanehanku? "Tidak, pastinya bukan itu. Ya ampun!"
Donghae ikutan panik, "Hyuk Jae tenang," lagi dan lagi, aku terlena selagi merangkul bahunya yang bidang. Menciumi satu-satunya penghidupan, jiwa yang senapas denganku. Dan tambatan hati yang sejati. "Katakan sayang, tapi jangan tergesa-gesa," selagi mengecup keningku.
"Aku mencintaimu, sungguh."
Dunia ini penuh kebohongan. Begitu pula diriku.
.
.
.
END
.
.
.
