Warning: Abusive Hae!


"Are you insane like me?

Been in pain like me?

Are you deranged like me?

Are you strange like me?

I think there's a flaw in my code

These voices won't leave me alone"

Gasoline—Halsey


Donghae POV.

Kau dengar Donghae? Apa kau memahaminya? Kau tidak lebih dari mesin pencetak uang yang beroperasi untuknya, kau itu orang yang setengah sinting, dan tidak ada alasan lain untuknya tetap di sini. Dia penjilat yang cekatan, dan kau, kau harusnya mengerti lebih baik.

Oh, persetan, atau ya Tuhan, siapapun si brengsek kecil itu, menghilang dari kepalaku, jangan menghancurkan sel-sel yang telah berfungsi sempurna. Dan siapa yang peduli bila semua kecurigaan itu benar adanya, kalau dia, memang benar mengendalikanku, dan separuh dari diriku ternyata dikontrol oleh kekuatan magis tidak deskriptif. Dan aku bukan diriku sendiri, seperti kebanyakan orang—yang mengemis tentang kenyataan dan alam bawah sadar mereka, bahwa aku tidak berada di antaranya. Aku membiarkan diriku ditelan ke dalam imajinasi penuh kejahatan yang manipulatif, dan kata mereka, semua kedengkian yang menjadi belenggu kekal dalam hidupku ternyata bersumber dari Hyuk Jae sendiri.

Oh, mana mungkin. Dia memegang kendali atas hidupku, dia yang paling tahu apa yang kuhindari, menjadi tujuan utamaku, dia mungkin mengambil alih, tetapi bukan dia sumber utamanya. Dalam tetek bengek cinta yang penuh omong kosong keabadian, didinginnya permukaan kulitku yang menampilkan warna kebiruannya, bersama urat-urat yang muncul menonjol, mampukah—sialan—mampukah aku membanting stir kendali? Membuat semuanya berporos kepadaku seorang?

Suara itu semakin mendekat, berjarak sejengkal saja dari jakunku, rasanya seperti terjebak ke dalam lubang hitam di tengah semesta yang luas. Aku yang seorang diri di dalamnya hanya menghafal nama si bajingan itu, Hyuk Jae, dengan kuasa yang rendah, kuperintahkan segala sesuatunya (kebencian dan cinta) bawalah dia mendekat, sampai ujung jarinya yang lentik kembali menyentuh dada bidangku. Kekuatanku memiliki kelemahan, Hyuk Jae adalah kekurangan absolut yang mampu menghancurkanku.

"Kau tidak waras," bibirnya bergetar, kulit bibirnya mengering, pecah-pecah, sudah delapan belas jam lamanya dia tidak meminum apapun, dia bilang dia dehidrasi, tetapi mengertilah pembaca sekalian, aku sama sekali tidak peduli. Sikap apatis ini pun mengejutkanku pula. Aku yang pada dasarnya pemuda dengan kepercayaan diri rendah, dalam suatu ruangan tertutup kedap suara bersamanya, bisa menjadi raja dalam ketakutanku sendiri.

"Begitu? Tapi aku berkuasa."

"Brengsek! Seperti apa?" Dia berteriak, dorongan kemarahannya melingkupi kami, dan aku bisa merasakan napasnya tersendat-sendat dan panas. Dia nyaris saja meludahi hidungku, untungnya aku lebih cekatan untuk menghindari luapan kebringasannya. Aku membawa jari-jariku menuju wajahnya, kuku-kukuku menancap tajam di kulit pipinya, lebih menyakitkan dari yang ingin kulakukan.

"Seperti membawamu ke sini tanpa pencegatan yang berarti. Kau mempermainkan orang yang salah, membuatku jatuh cinta padamu lebih gegabah. Apa kau gila sepertiku Hyuk Jae, pernah merasakan sakit yang sama? Karena yang ingin kulakukan padamu adalah menelanmu hidup-hidup, mendengar rintihanmu yang meronta, menyembah padaku."

Ingatkah kau Donghae, kalau kau menghabiskan ribuan dolar cuma untuk sebercik kemenangannya? Dan ada lebih banyak usaha yang telah dihabiskan, percuma jika terbuang sia-sia. Lihat, dia telah bertekuk lutut. Buktikan kepadanya kalau kau bukan parasit, bahwa dialah barang rongsok itu.

Seperti halnya separuh populasi yang pernah bertatap muka denganku, seperempat dari mereka mengabdikan loyalitas mereka secara cuma-cuma, kepada Ayahku, yang awam mereka ucapkan sebagai politisi penuh otoritas bertangan baja, aku bukan bagian darinya. Aku enggan terlibat, dan memiliki kondisi emosional yang setara kapal karam, sehingga—biar kukutip pernyataan media cetak terkenal—imbasnya membajiri citra seorang Ayah yang toleran, aku Si tukang pengaduk nama baik keluarga, mempunyai penyakit mental yang sifatnya sekretif, anak bungsu yang kecendrungan seksualnya menyimpang, halaman kedua menyebutkan kalau aku terjebak ke dalam pergaulan sosial yang tidak dikehendaki, bersama seorang kekasih jalang yang rupawan serta rupanya menjunjung kestabilan kondisi materialnya—hilang dari hiruk pikuk megapolitan. Tuan Lee bertanggung jawab untuk membasmi diriku, lewat sana dia bermain-main dengan Hyuk Jae, aku tidak mengerti kesepakatannya, tetapi mereka sepenuhnya melibatkanku.

"Aku dapat menyajikan segalanya, tetapi rupanya kau lebih memilih menghadapi watakku yang lain, yang bisa saja menghancurkanmu sekarang juga."

Dia dibanjiri keringat dingin, sebesar biji jagung yang turun dari dahi menuju lehernya. Dia telah lama muak denganku, aku sudah lama menyerah pada dunia yang selalu mengkhiantiku. "Tidak sayang, kau seharusnya tidak takut, salah satu konsekuensinya adalah berhadapan dengan sayangmu, si Donghae yang gila—begitu kau bilang?"

Dia menuntut pengampunan lewat pandangan matanya yang berhenti memusuhiku, melakukan aksi yang percuma untuk mundur, gerakannya diblokade oleh dinding-dinding yang dingin. Aku lebih mudah menjangkaunya. "Donghae—sayangku—kita sudah bersama selama lima tahun lamanya, aku tahu kau memerlukan pertolongan itu." Dia meraung-raung, mencoba terlepas dari peradilan yang melibatkan mataku, dan sebuah tangan kasar yang berambisi untuk menghancurkannya.

Hancurkan sumpah serapah itu Donghae! Dia pula ingin melenyapkanmu! Tidak ada seorang pun yang mengharapkanmu, kau adalah eksitensi yang terbuang.

"Hyuk Jae, kau pikir kau berkemampuan untuk memperbaikiku?" Aku melangkah melewati simpati yang menyerangku, membungkuk dan membaca gerak tubuhnya.

Dia terbata-bata, tetapi dia tampak yakin dengan jawabannya. "Tentu saja sayang, kau hanya butuh untuk bertemu Psikiatri yang telah direncanakan seperti jadwalnya, ada rehabilitasi yang menenangkan. Ki-kita tetaplah kita yang penuh manisnya asmara, Ayahmu akan berhenti mengusikmu."

Jesus, yang benar saja! "Tapi Hyuk Jae!" berteriak ke wajahnya, layaknya singa yang mengaung, menakuti mangsa terlezatnya. "Aku tidak berpikir ada yang salah dengan diriku." Tangan kiriku yang membeku meraih balok kayu yang kasar, menghujam wajahnya, kakiku menekan lehernya, mencekik lebih jauh, menahan tubuhnya, berulang kali.

Lampiaskan kekecewaanmu lebih baik Donghae.

Aku menghancurkannya seperti kesetanan, meninjunya, menghujamnya, menendangnya, melakukan apapun yang kubisa untuknya mengerti bahwa aku mencintainya.

"Aku sangat mengasihimu, Hyuk Jae."

.

.

.

END

.

.

.