"And you can't fight the tears that ain't coming
Or the moment of truth in your lies
When everything feels like the movies
Yeah, you bleed just to know you're alive"
Iris—Goo Goo Dolls
Author POV
Remah-remah ingatan mengenai Donghae-nya, tidakkah cerita itu dapat membangkitkan cinta sebatang kara Donghae kepada pemiliknya, yakni; Hyuk Jae. Cinta memang gampang pudar, tetapi ingatkah dia tentang kenyataan itu, kenyataan yang membangkitkan kasih sayang dan kasihan? Sementara Hyuk Jae berada dalam suka citanya mengenai kebebasan dan proses perceraian, di sinilah Donghae berada, dengan segenap patah hatinya yang beragam. Sementara di sanalah dia berada.
Hyuk Jae adalah gadis yang paling ranum, setangkai mawar di tangannya setiap minggu, selagi menggandeng Donghae dan merekam masa muda ke dalam hati yang tidak berpenghuni, yang kemudian dilanda konflik kanak-kanak, pula bahagia yang kanak-kanak, tetapi kilasan balik hidup untuk dilupakan, sekarang Donghae mengitari sakit hatinya, berdansa bersama airmatanya. Dengan sejumlah kategori sakit hati, yang paling kronis hingga yang sekedar nyeri.
Donghae mengabdi untuknya, remaja belia yang ayu, yang suka bermain ski dan jago menunggang kuda. Yang belia dan suka bermanja-manja, serta sepasang mata yang memancarkan kejujuran, keteguhan, yang membuat Donghae berbunga-bunga. Dikenalnya sewaktu memetik buah anggur di belakang kampungnya, dia merona karena dirayu Donghae, karena sebelumnya tidak ada pria yang membuatnya merasa seperti seorang wanita. Mereka membelah cakrawala sebelum Donghae akhirnya melamarnya, bersumpah sehidup semati dengannya. Hyuk Jae mencumbu Donghae di atas langit sore yang merah muda keemasan, penantian Donghae dibarengi dengan munculnya bintang gemintang di ujung dunia. Donghae jarang menggauli gadisnya, kecuali kalau Hyuk Jae memohon-mohon dan tidak sedang dalam masa-subur, tidak sedang menstruasi, tidak pula dilanda ledakan emosional.
Awalnya Donghae kira usia bukan masalah, dia meminang Hyuk Jae tepat setelah pubertasnya selesai, Donghae kala itu berumur tiga puluh tahun. Hyuk Jae dilanda meriang karena ulah Donghae, serta karena sentuhannya juga. Pada hari itu Hyuk Jae masih lugu, Donghae mengulang ingatan mengenai bisikannya sehabis melamun memandangi kota yang bukan tempatnya, bukan dimana seharusnya Hyuk Jae berada. Tetapi Donghae tidak mau tahu, dan tidak ingin tahu. "Kasih Tuhan sifatnya sabar, selama-lamanya. Berbanding terbalik dengan bualan manusia, yang bisa sirna karena ditelan waktu. Tetapi bukan cinta masalahnya, Donghae sayang bosankah kau denganku?"
Besoknya Donghae diterpa demam, raut muka Hyuk Jae tidak kasihan melainkan kesal. Membuatkan bubur untuknya di subuh yang gulita, kemudian Hyuk Jae melempari senyuman yang tidak kalah bohongnya dengan ciumannya. Bagaimana mungkin Donghae dapat menebak suasana hatinya? Karena Donghae telah menajamkan segala indera, telinga; yang mendengarnya menangis, mata; yang memantau perubahan sifatnya, mulut; yang merasakan segenap ciuman, kulit; yang meraba dan membelai Hyuk Jae. Donghae tahu segalanya, bahkan yang belum diketahui Hyuk Jae. Donghae mengerti setiap hal, bahkan yang tidak bisa dimengertinya.
Yang dipandang bukan lagi kasihnya yang suka merajuk, melainkan wanita yang sepenuhnya dewasa, memahami betapa kejamnya dunia, wanita yang berpaling darinya karena pernah saling mencintai, wanita yang tidak lagi terbuai ke dalam kisah asmaranya yang genit. Dan Hyuk Jae menyesali itu semua. Donghae melawan airmata yang nyaris bergulir, hangat dan perih yang menekan hatinya, Donghae nyaris gila. Gila karena dibuat tergila-gila. Hyuk Jae tidak tampak bahagia, tidak juga berada dalam kesanangan. Wanita yang selalu menjadi gadisnya, dan sekarang telah berjuang melawan siksaan batin. Hyuk Jae mengidap kerinduan, bukan karena kehilangan Donghae, melainkan kerinduan yang muncul sehabis mencintai Donghae, Dan Hyuk Jae akan memulihkan sakit hatinya. Dengan cara apapun itu.
"Aku mencintaimu, sampai kapanpun."
Giliran Donghae yang merasa dikhianati Tuhan. "Aku tahu," jawab Donghae. Menghapus lukanya yang basah, tetapi malah menimbulkan trauma kronis.
"Aku tidak bisa mencegah nasib buruk, tetapi Tuhan bisa."
Donghae bangkit dari tempat duduknya, menggapai pundak Hyuk Jae yang bergetar menahan tangis. Sementara hatinya bertahan dari siksaan yang dahsyat, Donghae kehilangan setengah sukmanya. "Berhenti menipu dirimu, Tuhan tidak menghentikan apapun, persetan dengan nasib buruk. Kau telah membohongi kenyataan, membohongiku juga!" Donghae mengambil napas sebanyak-banyaknya, mencegah perih yang menyebar.
Donghae lelah berdarah-darah demi mengetahui bahwa gadisnya masih hidup. Tetapi Hyuk Jae terhanyut oleh mitos hatinya, kebohongan yang dibuatnya, bahwa meninggalkan Donghae akan membawanya menuju bahagia yang tiada tara!
"Aku tidak ingin hidup denganmu, dan kau bukan orang yang menghendaki nasibku!"
Donghae lemas karena rasa tidak percayanya. "Aku mencintaimu setengah mati, bukan untuk dibunuh oleh kebencianmu terhadapku!"
"Setitikpun aku tidak pernah membencimu," Hyuk Jae berkaca-kaca, ikut-ikutan merasa gila. Perih di hidungnya menyumbat akal pikirnya, sehinga dia pula nyaris kehilangan kewarasannya. "Aku mencintaimu, sebesar kau mencintaiku—"
"Katakan kalau aku sedang bermimpi," Donghae menggenggam jemari Hyuk Jae. Mengunci hati Hyuk Jae menuju sanubarinya yang telah kosong. "Katakan kalau ada cara untuk menghentikan kegilaan ini."
"Donghae kau membunuhku."
Donghae membuka mata sebesar kilat yang menyambarnya, bahwa eksistensi Donghae tidak lebihnya nasib buruk. Bahwa Donghae telah menyiksanya. "Omong kosong!" Donghae membelai dagu Hyuk Jae, membawa arus ingatan seketika, cara yang sama sewaktu Donghae membelainya tujuh tahun yang lalu. Sehingga Hyuk Jae terbuai.
"Perpisahanlah yang membunuh kita berdua," kata Donghae, merobek surat perceraian, membawa Hyuk Jae ke dalam pelukan yang didambanya, kemudian mereka dilanda badai isak tangis yang tak kalah hebatnya.
Dan akhirnya Donghae tahu permainan asmara mereka belum sepenuhnya berakhir. "Cinta mempertahankan kita dari luapan emosional, kau tidak bisa menyangkal bahwa aku adalah bagian yang menyembuhkanmu dari kegagalan."
Hyuk Jae yang akhirnya kehilangan kata-katanya, menembus dunia yang tidak pernah ada. Dunia tanpa Donghae, dan itu semua tidak berarti apa-apa, selain kemaksiatan, siksa, pedih dan kerinduan. "Aku tidak bisa mempertahankan omong kosong ini," katanya, berusaha meyakinkan dirinya. Dan Donghae untuknya masih setengah gila, dimana Hyuk Jae malah setengah waras.
"Dengan demikian, mari buat cerita yang baru."
Mendadak, airmata Hyuk Jae tidak lagi turun.
.
.
.
END
.
.
.
