"Oh, stop being an asshole, and counting my eye rolls
Keeping a tab on my health, man you're putting me up on a shelf
And then she pointed out at the bag of her dreams
In a well posh magazine
I said "I'm done babe. I'm out of the scene."
She said I've been romanticizing heroin
And how I'd love to go to Paris again."
Paris - The 1975
Author POV
Paris, biarkan Hyuk Jae mengutip rangkaian ungkapan picisan yang Guru seninya sering gunakan setiap kali pria tua beruban itu mengungkapkan kecantikan orasinil dan artistik Perancis, tempat yang disesaki para petualang, dimana mereka akan menemukan cinta sebagai gudang untuk berteduh, orang-orang diteriaki dengan nama-nama yang unik, para pemimpin intelek dan lahirnya humanisme. Sebagian populasi mengenakan pakaian yang rupawan, dan cita rasa dari baguette menarik Hyuk Jae lebih baik menuju keindahan Perancis yang bermakna. Kecantikannya kekal abadi, setiap orang memiliki standar yang berbeda mengenai kebahagiaan yang terpendam di dalamnya, arti tersirat itu Hyuk Jae dapatkan ketika seorang pemusik jalanan yang memainkan harmonika dengan mahir melemparkan senyuman manis yang dilanjutkan oleh kalimat yang seharusnya membuat Hyuk Jae jatuh cinta padanya, "Qu'est-ce que vous aves de beaux yeux," yang malah membuat kesukaan Hyuk Jae berkurang padanya karena dia tidak mengerti bahasa Perancis, pujian penuh kekaguman itu juga bersifat negosiatif, maksudnya, impresi adalah hal terbaik yang dapat dilakukan pengamen untuk menggugah hatimu yang keruh. Jadi Hyuk Jae hanya menikmati permainan harmonikanya saja, dia membuang beberapa keping koin tepat ke dalam topi hitam yang berdebu.
Sampai sini, Hyuk Jae mampu melihat dengan jelas bahwa animo yang dimiliki massa yang berkumpul layaknya sebuah gelombang air laut tidak dapat menarik perhatiannya. Tujuannya datang ke sini penuh kebimbangan, dan diukur dari sifat apatisnya mengenai kerumunan, Hyuk Jae setuju bahwa datang ke Negara Tropis seperti Afrika Selatan mungkin adalah gagasan yang seharusnya dia pertimbangkan. Dia tidak memiliki apapun selain keributan yang menjadi batu kerikilnya untuk berjalan, dan dia hanya dikuasai setengah hati untuk mengunjungi menara Eiffel yang dipadati wisatawan asing dan domestik. Nostalgia buruk membuatnya membenci lampu-lampu terang yang menghiasi Eiffel, dan pengutit jalanan berhasil mencuri dua puluh euro dari balik celana jinsnya. Para pria kesetanan karena efek overdosis yang disuguhkan Paris, para wanita menyukai harga diri yang dipersembahkan Paris bagi setiap individu, Hyuk Jae sendiri tidak bisa menilai apakah dia benar-benar beruntung ada di sini.
Meski Donghae sedikit mencorat-coret harinya yang putih dan kelabu, dan perasaan cemas karena Hyuk Jae tidak memperlihatkan sedikitpun ketertarikan padanya, Hyuk Jae menghargai sebercik kesan yang coba ditampilkan Donghae untuk menarik perhatiannya. Pria itu bukan kisah cinta klise seperti Paris—dan jatuh cinta masih terdengar riskan bagi pria berumur dua puluh delapan tahun sepertinya, tidak seperti New York yang kekal abadi dan anggun. Hyuk Jae menyukai kilatan sederhana dari mata Donghae yang memancarkan kerinduan dan gairahnya untuk serius bersama Hyuk Jae. Pria itu mempermainkannya dengan watak yang menyebalkan, berpakaian lebih buruk dari angsa kampungan seperti Hyuk Jae, dan seseorang yang vokal mengenai visi dan misinya terhadap dunia, kedengkiannya terhadap para kaum kapitalis tidak terhindarkan, dan Hyuk Jae penasaran apa yang dapat Donghae distribusikan kepada dunia yang luluh lantah dan rusak ini, dan hanya membutuhkan seorang pria untuk menggenjot semangat pria lainnya, oke, itu metafora yang brengsek.
Lagian, Hyuk Jae tidak tertarik secara romatis untuk terikat ke dalam hubungan yang bukan hanya melibatkan gerakan tubuh saja, melainkan ikatan batin yang kuat bersama Donghae, oh, tidak, dia bahkan tidak berpikir untuk pernah kembali ke Paris lagi. Di sini dia hanya menemukan idiom dan romansa fiktif, dia tidak menemukan apa yang diinginkannya.
Donghae telah menetap di Paris sejak dia masih orok, dan berencana untuk setia kepada negaranya sampai dia mati nanti, nasionalisme yang kuat dan berbudi luhur, dan dia tidak mencintai seni seperti Hyuk Jae mencoba mencari serpihan yang hilang di hatinya, namun dengan mulut yang terbuka dan kebosanan yang tidak mampu ditutupi, dia mengunjungi 59 Rivoli bersama Hyuk Jae, dan kalau kencan mereka lancar, serta Hyuk Jae memperlihatkan progres yang berarti dari kopi darat yang didorong oleh otoritas Jungsu, maka mereka bisa menikmati makan malam yang glamour di restaurant bintang lima yang telah direservasi Donghae di antara cahaya gemilang di Rue de Rivoli. Dia pula seorang birokrat yang kompeten, dia taat akan dikte dan hukum formal, dia berkesempatan untuk menguasai Perancis dengan jiwa yang membara, percakapan mereka melulu tentang loyalitas Donghae dan kehendaknya, dan Hyuk Jae tidak bisa menghentikan dirinya untuk tidak memutar matanya.
Perbedaan signifikan yang tidak memenuhi Donghae sebagai pria idealnya; Donghae ingin menaklukan dunia dengan ambisinya, Hyuk Jae hanya berupaya untuk menikmati segala sesuatunya sebelum dia memutuskan untuk berumah tangga. Singkatnya, dia bertindak diluar rencana, Donghae menyukai segala sesuatunya dengan terorganisir dan sesuai tabel yang dirancangnya. Pria yang membosankan, cetaklah dengan tebal, Hyuk Jae tidak peduli bagaimana hinaan kecil itu dapatkan membangkitkan api amarah dalam diri Donghae yang kaku.
"Tidak semua orang bangga akan kultur foie gras yang disematkan oleh media barat Hyuk Jae. Aku sendiri tergabung ke dalam organisasi yang mengembangkan kesadaran penduduk Perancis akan kejamnya perlakuan itu, dan aku seorang vegetarian yang termahsyur, aku melakukannya karena secara sederhana aku peduli, bukan mengikuti tren."
Menarik napas, Hyuk Jae memotong daging steaknya menjadi empat bagian, Donghae menawannya dengan mata yang merendahkan tradisi personalnya, hei, dia tidak menyantap steaknya dengan mengikuti protokol demi menyenangkan Donghae, dia menyukai ketika dagingnya dipotong jadi empat bagian, dan dia suka kentang yang dipisahkan dari kacang polong. Dia tidak peduli apabila Donghae adalah vegetarian yang berbudi luhur, atau bila dia memiliki masalah dengan kebiasaan makannya, Donghae bisa menghilang kalau dia mau.
"Kau tidak bilang, voulez-vous couche avec moi ce soir kepada pria lainnya Hyuk Jae, tatanan katanya menakjubkan, tapi maknanya tidak beretika, apalagi ada aku di sisimu, dan bila kau tidak mengharapkan hantaman sebagai jawabannya, itu berlebihan." Panjang lebar, Hyuk Jae hanya menyerap sedikit maknanya, bila ada seseorang yang tidak peduli mengenai tatanan beretika penganut bahasa Prancis yang taat, maka Hyuk Jaelah orangnya.
Dia tidak memiliki ambisi untuk fasih dalam berbahasa asing, tidak juga memiliki minat yang terang-terangan kepada kelanjutan hubungan ini. Tentu saja, selama Donghae masih bersikap arogan. Karena tidak bisa dipungkiri, kualitas fisik pria ini menakjubkan, mata bulat yang menawan, kulit kecokelatan dan badan yang kekar, Donghae menampilkan aura gagah yang menyeruak setiap kali sol sepatunya bergemeletuk melawan lantai yang menandakan kedatangannya, tetapi Hyuk Jae telah belajar banyak, pria ini memiliki kebanggan yang besar terhadap pencampaiannya, dan Hyuk Jae menolak menjadi gundik yang mengkonsumsi kesuksesan terbesar pasangannya. Dia cukup menjadi seorang ahli botani saja, dan melancong ke penjuru dunia. Itu adalah anugerah yang fantastis.
"Aku tahu kau tidak tertarik padaku," Donghae menyimak reaksi alamiah Hyuk Jae yang berubah-ubah, airmukanya keruh dan tidak konsisten, suatu waktu dia kelihatan canggung, kemudian bersyukur—helaan napasnya secara langsung membuat Donghae tersinggung—dan merasa bersalah.
"Aku hanya merasa bahwa kita punya sifat yang bertolak belakang." Ini alasan yang basi, tapi Donghae ingin mempertimbangkannya. Hyuk Jae membersihkan pinggiran bibirnya dari sisa saus, selanjutnya dia mencoba memanipulasi Donghae dengan batuknya. "Aku minta maaf, mestinya aku bilang ini sejak kencan kedua, karena aku akan menyakitimu lebih dalam."
"Kau tidak berencana menyuarakan ketidaktertarikanmu padaku, tidak sebelum aku yang melakukannya duluan."
"Maaf?" Hyuk Jae merasa bahwa dirinya tengah berada dalam ambang becana, dan kegagalan dari kopi darat ini akan mempermalukan Jungsu yang berada di posisi teramat sulit, inilah mengapa Hyuk Jae menolak campur tangannya mengenai kisah asmara Hyuk Jae yang urung kunjung ke permukaan. Dia benar-benar mencoba untuk menghargai Donghae lebih baik, tetapi pria itu enggan untuk membuatnya terkesan.
"Maksudku Hyuk Jae, sepasang kekasih tidak tercipta dari sebuah kecocokan, atau ramalan bintang, itu sifatnya tradisional. Hubungan yang sehat ada karena kau ada aku mau sama-sama berjuang, aku bahkan tidak peduli kewarganegaraanmu, atau jarak yang menghalangi kita sewaktu kau kembali ke Seoul nanti."
Donghae mungkin punya intensi yang bagus di belakangnya—tetapi dia seakan-akan tengah menggurui Hyuk Jae mengenai cara berhubungan yang bagus, dan dalam kasus yang sama, bersama seorang pria yang hobi merendahkan teman kencannya, mengenai keberpihakan Hyuk Jae kepada sisi buruk Donghae, itu tercipta karena imej yang dibangun Donghae sendiri terhadap kualitas individunya yang esensial untuk Hyuk Jae. Jadi kalaupun hubungan mereka tidak membuahkan hasil yang signifikan, bukan Hyuk Jaelah peran yang harusnya menangis darah mengenai keretakan hati dan brengseknya calon pacar.
"Aku tidak bisa menentukan kalau aku akan jadi pasangan yang bijak sesaat setelah kau mengetahui lebih banyak tentang aku Donghae. Aku tidak peduli mengenai pandangan politik, oke, mungkin ini keren, partisipasi diberbagai komunitas lokal, peduli sekali kaum muda, rupamu juga menawan. Aku hanya merasa bahwa kau menginginkan lebih banyak dari apa yang bisa kuberikan padamu."
Donghae mengapit kedua alisnya, Hyuk Jae pikir Donghae nyaris meludahinya, dan Hyuk Jae tidak bisa melakukan apapun selain mengenggam erat garpu yang terjebak di tangan kanannya. Donghae bersikap seperti diktator hati yang mumpuni, yang melemahkan sistem sarafnya, dan di kepalanya terdapat jauh lebih banyak hal dari apa yang dia mampu perlihatkan ke pada Hyuk Jae. Pria ini memiliki intelejensi yang tidak dikuasi banyak orang, wawasannya luas dan dia orang yang kekeh, dan bersama pria semacam itu berarti Hyuk Jae harus menghadapi sejumlah penghakiman yang dia belum kuasi jawabannya.
"Aku tidak menginginkan apapun, baiklah, itu kebohongan besar, tetapi harapanku adalah mimpi sederhana yang mungkin terwujud, kau yang jatuh cinta padaku tidak terdengar mustahil, jadi kenapa tidak melawan ego dan berbalik arah padaku?"
"A—aku tidak tahu, mungkin, biarkan aku memikirkannya se—"
"Kau sebegitu bencinya padaku?" Oh, tidak, tidak, sialan. Tentu saja tidak, Hyuk Jae tidak pernah membenci teman kencannya, tidak sewaktu dia punya wajah sebagus Donghae, dan dia belum menentukan perasaan yang tepat untuk Donghae. Dia memiliki ketertarikan yang sifatnya temporer, seperti matahari yang timbul dalam waktu-waktu tertentu, kesukaannya kepada Donghae dipengaruhi oleh tindakan pria itu juga. Hyuk Jae tidak bisa membeberkan alasan yang pasti dan koheren, dia separuh menyukai Donghae, tetapi separuh jengkel padanya, dan perasaan paradoks ini membawanya kembali menuju masa-masa SMA yang ceria dan dungu. Dan Hyuk Jae tidak berkewajiban untuk mengetahui perasaannya, mungkin Donghae bisa membimbingnya mengenal lebih jauh.
"Tidak Donghae, demi Tuhan, aku tidak seratus persen tidak menyukaimu, tidak seratus persen juga yakin mengenai ketertarikanku, kupikir aku ingin berada di dalam garis terbaik dimana aku tidak harus berpikir mengenai kesukaanku dan kejengkelanku padamu, oleh karena itu—"
Donghae menarik Hyuk Jae mendekati dada bidangnya, napasnya yang hangat-hangat itu mengudara menuju kening pucat Hyuk Jae, dalam jarak sedekat ini Hyuk Jae dapat merasakan kuatnya detak jantung Donghae yang ditujukkan untuknya seorang. "Cium aku." Donghae mengarahkan Hyuk Jae menuju wajahnya, menggiring Hyuk Jae mendekat menuju bibir tipisnya yang lembut.
"Apa?" Hyuk Jae masih berada dalam efek hipnotis, telinganya lengket di atas permukaan mantel bulu sintetis yang dikenakan Donghae, ketika dia mendongakkan matanya dan Donghae memiliki kesempatan yang besar buat menciumnya, Hyuk Jae dapat merasakan lembutnya kulit bibir pria itu di antara bi.
birnya yang terbuka. Ciuman mereka terasa seperti separuh dunia bersama konflik yang tercampur aduk, di sana Hyuk Jae dapat merasakan keraguan Donghae, kepercayaan dirinya, dan seberapa berartinya Hyuk Jae untuknya. Hyuk Jae jadi ingin membuat catatan sejarah, yang dimuat dalam koran-koran pagi, bahwa Donghae yang kaku ini punya teknik ciuman yang handal, dan tidak seorangpun pria mampu menggerakkan Hyuk Jae hanya dengan sekadar sebuah ciuman.
"Bagaimana?" Donghae kelihatan antusias, keningnya mendekat menuju kening Hyuk Jae yang basah karena keringat. Dia kembali membawa Hyuk Jae ke pelukannya, membiarkan Hyuk Jae menata perasaannya.
"Kupikir tidak masalah, tidak masalah, kau, ya tentu saja, menjalani hubungan yang dewasa kan?" Hyuk Jae menarik Donghae kembali menuju ciuman yang dipenuhi ribuan cahaya.
Oh, bagaimana dia berpikir untuk kembali ke Paris lagi.
.
.
.
Author note:
Excuse us for the lack knowledge of French, google helps us a lot!
