"I'm tired of feeling like I'm fucking crazy,

I'm tired of driving till I see stars in my eyes,

It's all I got to keep myself sane baby,

So I just ride, I just ride,"

Lana Del Rey—Ride


Author POV

Youngwoon kehilangan arahnya, Heechul dikelilingi kerlap-kerlip lampu ketenaran, Kyuhyun adalah Kyuhyun, Henry tidak pernah terlihat dan di sinilah Hyuk Jae bersamanya. Di lembabnya September karena musim gugur telah memperlihatkan kuasanya, di tengah jalan tak berujung, yang dikotori aspal yang rusak, suara burung terdengar samar-samar, seorang pria paruh baya hendak kembali dari kolam pemancingan, kemudian Donghae memacu mobilnya lebih cepat, bersama kemampuan otodidaknya mengenai pelarian diri dan menghilang, dan kesakitan itu tampaknya menginfeksi Hyuk Jae lebih banyak ketimbang dirinya yang tengah kehilangan setengah nyawanya.

Mereka memutuskan kembali ke Las Vegas, Super Junior kehilangan loyalitas dan kepercayaan mereka, memenangkan kompetisi, sekelompok pemuda yang menemukan jati diri mereka di usia dua puluh tahunan—kebingungan—pertikaian yang kekal abadi—ketakutan terhadap waktu dan keabadian, dan sewaktu Donghae mendekati pengujung cerita, dia menemukan dirinya setengah mati bersama Hyuk Jae.

Pria itu tidak kehilangan cahaya, dia masihlah Eunhyuk yang menakjubkan dan implusif dan segala sesuatu yang Donghae dapat harapkan di dunia yang nelangsa, pria itu tidak berbalik arah dan meninggalkannya, tidak seperti Jungsu yang menyerah, Sungmin yang memulai segalanya dan Shindong yang menghentikan ikatan mereka. Dia telah bersama Hyuk Jae dalam eksitensi yang esensial dan kecantikan orisinil yang cuma dimilikinya seorang. Hyuk Jae menyanyikan Guns and Roses, Donghae terfokus kepada rute yang dikelilingi lampu jalanan, mereka telah menghindari perang, tidak memenangkannya, bersama sekelompok pemuda lain yang kehilangan setengah dari dedikasi dan kecanduan, kegelapan membuat Donghae kecanduan.

Pahit manis ini tidaklah selamanya, tetapi Donghae tidak menyenangi ide mengenai selamanya kalau Hyuk Jae tidak di sini bersamanya, bersama kepulan asap rokok dan pria itu berusaha keras untuk tidak terlelap dalam tidurnya yang nyenyak, selamanya mengkhianati Donghae, seperti Super Junior yang mengkhianati ambisi dan tujuan hidupnya. Jadi dia memutuskan untuk tetap mengendarai mobilnya, mencium permukaan kening Hyuk Jae yang pucat, turun menuju bibirnya yang membiru. Mereka telah melalui masa keemasan, paparazi dan remah-remah cahaya, ketenaran kontemporer yang menusukmu lebih baik dari seorang musuh dalam selimut, dan Donghae benci diingatkan kalau sekali dalam seumur hidupnya, mereka telah berada dalam ujung tanduk kesuksesan dan jatuh dengan cara yang tidak rupawan. Dia kehilangan setengah jiwanya, dan Hyuk Jae berperan untuk mengisi setengah dirinya yang kosong kalau pria itu tidak menginginkan kematian dari overdosis terhadap kesakitan dan peraduan.

Ini bukanlah masa tetirah, Donghae telah meninggalkan gagasan itu sejak lama, mereka tidak lagi bermimpi mengenai panggung konser yang dipenuhi penonton dan teriakan para penggemar, tidak lagi lampu terang yang mampu menyakiti matanya, tidak juga kekokohan dari impian yang terkabul, Donghae menuju kekosongan yang signifikan dalam hidupnya, dan dia benci untuk mengatakan selamat tinggal, mabuk karena nostalgia, mereka tertulis dalam catatan sejarah sebagai legenda, Donghae benci nama itu disematkan kepadanya. Dia hanya Donghae yang telah gila, kehilangan arah, seperti Jonghoon yang memalukan, dan Siwon, dan Zhoumi yang Donghae tidak dapat lagi reka bentuk wajahnya bahkan sejak perpisahan belum diutarakan.

Hyuk Jae mengalami kekecewaan yang serupa, mereka terbiasa menjadi sorotan dunia dan sumber dari kebahagiaan para gadis, peran Rock N Roll yang memuaskan dan musuh Si pangeran berkuda putih, bersama gejolak yang meledak-ledak dan tiada matinya, jiwa yang penuh warna dan sengatan elektrik. Dunia tidak pernah terasa sekosong ini, dilengkapi Hyuk Jae yang tidak sadarkan diri di dada bidangnya, sejumlah kata yang hangus bersama pandangan memohon pria itu, dan sekaleng bir di tangan kirinya, mereka berdiri di atas angkasa yang kuasa, dan Donghae telah dikonsumsi kesintingan, perasaan cintanya.

"Jangan tinggalkan aku Hyuk Jae, seperti Hankyung dan Kibum, dan Ryeowook, dan rasanya seperti melayang-layang, karena aku telah menemukan kematianku. Aku ingin tetap hidup bersamamu, dan aku selalu membenci selamanya, tetapi aku menemukan selamanya sewaktu aku memandang jauh menuju sepasang mata yang melebar, yang membawaku lebih dekat menuju dirimu, Hyuk Jae." Donghae menangis dan terisak, dia tidak peduli apakah Hyuk Jae dapat mendengarnya, dapat merasakan kepahitan yang sama. Dia menelisik lebih dalam, menuju kehangatan yang disisakan Hyuk Jae untuknya, merengkuh pria itu.

"Aku pikir aku akan melupakan mereka, karena Jungsu tidak mau menerima panggilan telepon kita lagi, pria itu bilang nostalgia tidak tercipta karena aku ingin mengulangnya, dia bilang untuk menemukan dirimu Donghae, tetapi aku menemukan diriku ketika aku berada di sana, di sini aku kehilangan segalanya. Sudah sepuluh tahun lamanya, aku akan mati sebentar lagi, aku tidak ingin itu Hyuk Jae." Donghae menggiring telapak tangan Hyuk Jae ke pipinya, merasakan sengatan gairah yang menjalar menuju selangkangannya, sepuluh tahun lamanya dan Hyuk Jae masih memiliki efek yang sama, antusiasme Donghae untuknya tidak akan pernah mati. Hubungan mereka memiliki makna yang lebih dalam dari sekadar cinta yang dipenuhi oleh janji dan omong kosong, serta ikatan monogamis yang menyesakkan. Secara serdehana mereka adalah Hyuk Jae dan Donghae, yang telah rapuh termakan usia dengan jiwa yang sama mudanya seperti anak pertama Jungsu. Donghae tidak menemukan kosa kata yang tepat, tetapi dia mencintai Hyuk Jae lebih dari cinta itu sendiri. Dia memiliki obsesi yang runyam, afeksi yang hangat, dan ketakutan yang dapat dirasakan Hyuk Jae sewaktu pria itu kembali mencuri sentuhan di sela-sela bibirnya.

"Kau bisa jadi selamanya untukku Donghae, jalanan ini luas dan menyesakkan, dan aku hanya menginginkanmu."

Untuk pertama kalinya Donghae tidak menakuti kematian, tidak menghindari takdir buruk, dan selamanya.

.

.

.

Author Note:

Our first canon ever!