Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Warning: Mengandung Gender Bender, Semi-Au, Time Travel, Miss Typoo, Mild Sakura Bashing, dll
!Author Note!
Ya tuhan, 2 tahun lamanya saya tidak menulis apapun semenjak lulus SMA dan masuk kuliah.
Maafkan lah hamba tuhan yang tidak becus dan banyak dosa ini! Begitu sibuknya dengan kuliah dan tugas-tugas lainnya membuat saya khilaf…
Namun saya telah kembali dan semoga saja masih bisa menulis cerita di waktu senggang…
Sekali lagi tolong maafkan Author yang sangat tidak becus ini!
Pertama-tama. Ada banyak hal yang ingin saya katakan mengenai Fanfic ini, yang pertama adalah cerita ini akan Discontinue.
Bukan artinya tidak akan di lanjutkan melainkan akan di revisi karena saya malu baca cerita saya sendiri… begitu banyak plot hole, karakter yang begitu OOC, jalan cerita yang tidak jelas, begitu juga penulisan saya yang masih berantakan.
Munkin para Reader sekalian menyadari bahwa chapter fanfic ini berkurang, karena saya menghapus semuanya.
Tenang saja, cerita To The Past akan tetap ada, namun hanya di refisi dan di tulis ulang.
Jadi, selamat datang di cerita terbaru To The Past!
Chapter 1 akan tetap ada karena chapter tersebut tidak ada kesalahan dan saya masih gunakan sebagai pembuka!
Selamat menikmati cerita terbaru To The Past!
Ingatan Naruto mengenai masalalunya di saat ia masih menjadi seorang murid di akademi ninja masih begitu melekat di kepalanya, ia ingat semuanya seperti ingatan tersebut baru saja terjadi kemarin.
Termasuk kejadian di mana ia meminum susu basi yang membuatnya sakit perut dan mempermalukan dirinya di depan teman satu timnya, Sasuke dan Sakura. Terkadang memiliki ingatan seperti itu bisa menyelamatkan dirinya dari kejadian yang tidak ingin ia alami lagi.
Dulu Naruto sempat berdoa dan berkhayal berkali-kali kalau saja ia memiliki kekuatan untuk membalik waktu dan menghentikan dirinya melakukan hal-hal bodoh yang membuat dirinya menjadi bahan cemo'ohan orang-orang, ia akan melakukan apapun untuk menghentikan dirinya dari masa lalu untuk mempermalukan dirinya sendiri. Namun sekarang ia memiliki kekuatan tersebut, tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan seperti ini untuk melakukannya.
Selain itu sekarang ia juga memiliki seseorang yang ia tidak mau perlihatkan sikapnya yang bodoh tersebut, ia ingin membuat orang tersebut bangga dengannya layaknya seorang anak yang di banga-banggakan oleh orang tuanya. Seseorang tersebut memiliki tubuh mirip rubah dan memiliki 9 buah ekor, seseorang yang selalu bersamanya semenjak kecil dulu—atau munkin seharusnya di panggil 'seekor'? Naruto tidak peduli, yang penting ia menganggapnya sebagai keluarganya.
Kurama mendengus melihat Naruto membuang kotak susu yang menjadi masalah utama dari kejadian memalukan Naruto dulu 'Dulu kau sakit perut karena aku tidak mau mengurusi hal bodoh seperti menggunakan kekuatan milikku untuk menghancurkan racun di dalam susu kadaluarsa tersebut yang membuatmu sakit perut'
Naruto mengerutkan keningnya, namun ia tidak bisa membalas apa yang Kurama katakan, lagipula itu memang setengah adalah kesalahan dirinya yang terlalu malas untuk belanja bahan makanan baru dan memeriksa serta membereskan apartemen yang ia tinggali, termasuk mengecek isi kulkasnya.
'Setidaknya aku tidak ingin hal seperti itu terjadi lagi, makannya aku membereskan apartemen ini selama seharian kemarin' Naruto berjalan ke arah meja makannya dan mengambil cup mie ramennya dan duduk di jendela apartemennya yang ia buka lebar 'Lagipula aku tidak boleh terlalu tergantung dengan kekuatanmu Kurama, bisa-bisa ketahuan nanti kalau aku telah membuka segelmu dan pastinya aku akan di interogasi; bagai mana bisa aku melepas segelmu dan bisa dengan sangat cepat menguasai teknik untuk mengontrol cakramu dengan sempurna'
Kurama hanya membuang mukanya dan memandang pemandangan desa Konoha dari penglihatan Naruto. Ia bisa melihat dengan jelas pahatan wajah hokage dari jendela apartemen Naruto dan mendesis ke arah pahatan wajah hokage ketiga.
Naruto hanya tersenyum kecil melihat Kurama, ia memakan cup mie ramennya sambil memandang pemandangan desa konoha di pagi hari, banyak orang mondar-mandir melakukan pekerjaannya, anak-anak berlari-lari sambil bermain bersama teman-temannya, para penjaga toko yang sedang bersiap-siap untuk membuka tokonya, dan lain-lain. Sebuah gambaran desa yang hidup sejahterah dan tentram, sesuatu yang Naruto rindukan di tengah-tengan peperangan.
"Indah sekali ya…" Gumam Naruto sembari menghabiskan cup mie ramennya dan tersenyum lebar. Kurama hanya mendengus dan menutup matanya, membuat Naruto tersenyum semakin lebar.
Setelah menghabiskan cup mie ramennya, Naruto membuang cup yang telah kosong dengan melemparnya masuk ke dalam kotak sampah dan langsung bersiap-siap untuk pergi ke akademi ninja, bertemu teman-temannya. Naruto tersenyum mengingat begitu banyak ingatan manis mengenai teman-temannya di masa lalu, memang sih ia tidak memiliki banyak teman dan selalu sendirian dulu, namun ia tidak akan dan tidak pernah mengeluh, karena ia tahu ada seseorang yang lebih kesepian di banding dirinya, ia bersyukur terhadap apa yang ia miliki sekarang dan berjanji untuk membantu Gaara lagi agar ia tidak kesepian lagi.
Naruto berjalan keluar dari apartemennya setelah memastikan ia memiliki semua benda yang ia butuhkan nanti di akademi dan membawa semua senjata yang ia akan gunakan nanti. Ia menghela memasang ikat kepala berlogo Konohanya seperti kalung; seperti Hinata dan tersenyum lebar, siap untuk memulai harinya.
Di perjalanannya ke akademi, Naruto tidak bisa menghentikan dirinya untuk memperhatikan sekelilingnya, mengingat-ingat struktur kota, jalan, dan toko-toko yang ia lewati. Begitu banyak hal yang akan berubah di masa depan, terlebih lagi di saat perang. Naruto tidak bisa berhenti tersenyum, membuat berberapa warga desa yang melihatnya kebingungan dan berberapa malah menatap tajam dirinya, banyak orang menatapnya dengan tatapan tidak percaya dan lebih banyak orang berbisik-bisik mengenai apa yang terjadi oleh dirinya.
Samar-samar ia bisa mendengar bisikan para warga, hampir semuanya membicarakan apa yang terjadi dengan dirinya dan bagaimana caranya ia bisa tiba-tiba berubah menjadi perempuan, banyak orang yang mengira bahwa ia sedang mengerjai mereka dengan jutsu namun ia juga mendengar berberapa warga yang menjelaskan kepada temannya mengenai apa yang terjadi kepadanya.
Naruto tidak terlalu memperdulikan apa yang mereka katakan tentang dirinya, ia terlalu sibuk merasa bahagia dan menikmati perjalanannya ke akademi untuk merasa marah ataupun menghiraukan bisikan-bisikan mereka.
Suasana kelas yang tadinya ribut di karenakan belum datangnya guru yang akan menjadi pembimbing mereka, Iruka, mendadak sudah seperti kuburan—tidak juga sih, hampir semua murid-murid hanya berbisik-bisik dan menatap tidak percaya seseorang yang ada di ruangan tersebut.
Orang tersebut adalah Uzumaki Naruto yang sekarang telah berubah kelamin menjadi perempuan yang sedang duduk di samping Sasuke dan Sakura sambil membaca buku yang tadi ia keluarkan dari dalam tasnya, kedua orang yang duduk di sampingnya sepertinya juga melakukan hal yang sama dengan kebanyakan orang di dalam kelas tersebut.
Tidak ada yang berani bertanya kepada orang yang bersangkutan tentang apa yang terjadi terhadap dirinya atau melanjutkan apa yang mereka lakukan sebelum Naruto masuk ke kelas tersebut, hingga akhirnya seseorang yang sudah tidak bisa menahan rasa ingin tahunya berani bertanya secara langsung kepada orang yang bersangkutan.
"Penampilanmu—" Sebelum Sasuke bisa menyelesaikan apa yang ia ingin katakana, ia sudah keburu terpotong dengan Naruto yang langsung tersenyum lebar memutar kepalanya dengan cepat agar bisa menatap secara langsung Sasuke, membuat orang yang di tatap tersentak kaget dan berhenti berbicara.
"Kemarin aku di culik oleh ninja dari desa lain, aku tidak tahu siapa dan dari mana namun yang aku tahu ia melemparku ke sungai dan saat aku di temukan oleh anggota ANBU yang di kirim oleh kakek aku sudah berubah menjadi seperti ini" senyuman Naruto berubah menjadi sebuah seringaian "Aku tidak sedang mengerjaimu kok, atau siapapun di sini"
'Bodoh, mana ada yang mempercayaimu di saat kau memasang ekspresi seperti itu' Kurama memutar bola matanya, menurutnya Naruto malah terlihat seperti seorang psikopat karena tidak bisa berhenti tersenyum, atau munkin orang gila biasa? Tidak, Psikopat di karenakan Naruto mengingatkan dirinya terhadap teman satu tim Naruto di masa depan, Sai.
Senyuman Naruto dengan cepat menghilang dan ia menghela nafas panjang, membuat Sasuke dan Sakura menatap bingung Naruto "Terdengar seperti sebuah gurauan, tapi aku berkata jujur kok, aku juga tidak suka menjadi seperti ini"
Dalam pikirannya, Naruto cemberut ke arah Kurama yang hanya memutar bola matanya dan menggerutu mengenai bahwa apa yang ia lakukan adalah demi kebaikan Naruto dan seharusnya Naruto berterimakasih kepada dirinya.
Sebelum Sasuke maupun Sakura mengutarakan apa yang ingin mereka katakan kepada Naruto, kemunkinan besar sebuah pertanyaan atau omelan, pintu masuk kelas terbuka lebar dan menampilkan sosok guru mereka, Iruka.
Murid-murid yang tadinya terlalu sibuk memperhatikan Naruto atau membicara soal apa yang terjadi kepada Naruto langsung buru-buru menempati tempat duduk mereka, berberapa anak tersandung dan Naruto bisa mendengar suara Kiba yang menggerutu karena ia hamper saja tersandung oleh murid lain, suara Ino yang memaki Sakura karena mendapatkan tempat duduk di sebelah Sasuke, suara Chouji yang sedang membangunkan Shikamaru dari tidur siangnya, dan berberapa suara lain yang ia tidak bisa dengarkan lagi karena kini perhatiannya ia tujukan kepada guru kesayangannya.
Naruto menahan keinginannya untuk melempar dirinya sendiri ke arah guru yang sudah ia anggap sebagai keluarga sendiri dan memeluknya dengan sangat erat, di saat perang ia terlalu sibuk berlatih dan bertarung untuk bisa bertemu dengan gurunya yang satu ini, rasa rindu dan kebahagiaan langsung menyelimuti Naruto. Ia tersenyum lebar di saat gurunya mengalihkan perhatiannya ke arahnya.
Iruka rasanya ingin bunuh diri sekarang juga, anak muridnya yang ia sayangi di culik dua hari yang lalu dan ia sampai tidak bisa tidur sama sekali karenanya, ia tidak henti-hentinya berdoa kepada siapapun yang ada di atas sana dan siapapun yang bisa mengabulkan permintaaan agar Naruto bisa kembali ke desa dengan selamat dan tidak kekurangan apapun.
Doanya terkabul walau hanya saja Naruto kekurangan sesuatu. Sesuatu tersebut adalah jati diri Naruto sebagai laki-lak. Tadinya ia mengira bahwa Sandaime hanya sedang mengerjainya dan bercanda di saat ia mengatakan bahwa Naruto telah menjadi perempuan, namun buktinya kini ada di depan matanya ia tidak bisa mengelak sama sekali. Duduk di kursi yang biasa Naruto duduki, seorang gadis berambut kuning terang yang di ikat menjadi dua, bermata biru cerah, menggunakan pakaian yang sama dengan Naruto, dan wajahnya yang di hiasi sebuah tanda seperti kumis di pipinya sedang tersenyum lebar ke arahnya.
Iruka membuat-buat suara seperti ia sedang batuk, ia harus menenangkan dirinya dan harus bersikap professional karena ia punya murid yang harus ia ajar dan berikan informasi mengenai hasil ujian Chunin. Ia akan menghawatirkan Naruto nanti, walaupun ia harus menjelaskan apa yang terjadi oleh Naruto kepada seisi kelas agar mereka tahu bahwa Naruto sedang tidak bercanda dan memastikan tidak ada yang mengganggu Naruto karenanya.
Ia tidak tahu mau berkata apa dan hanya tersenyum namun dengan ragu-ragu sebagai balasan dari senyuman lebar penuh kebahagiaan yang di berikan oleh Naruto kepadanya. Ia terus-menerus mengingatkan dirinya bahwa ia akan tetap menyayangi Naruto apa adanya, walaupun ia sudah berubah menjadi perempuan, karena baginya; Naruto sudah seperti adik laki-laki yang tidak pernah ia bisa miliki—namun sekarang sepertinya sudah harus di rubah menjadi adik perempuan.
Iruka terdiam, sejak kapan ia menjadi sangat protektif terhadap Naruto? Munkinkah ini karena Naruto kini sudah menjadi perempuan? Entah mengapa ia merasa ada perasaan aneh di dalam hatinya, seperti perasaan ingin melindungi. Apakah ini rasanya seorang kakak yang menyayangi adiknya? Seorang kakak yang tidak ingin adiknya tersakiti?
Iruka langsung menggeleng dengan kuat dan memijat keningnya, ia harus berhenti memikirkan sesuatu terlalu dalam karena nanti yang ada malah akan menjadi masalah besar dan ia akan terkena sakit kepala. Murid-muridnya hanya bisa menatap iba dirinya, seperti mengetahui apa yang membuat Iruka menjadi seperti itu karena mereka juga sedang merasakannya, dengan pengecualian kepada orang yang menjadi inti masalah yang hanya bisa cemberut.
'Jahat' Pikir Naruto sambil menatap kesal Kurama yang lagi-lagi tidak menghiraukan dirinya dan berpura-pura sedang tidur.
Namun sepertinya penderitaan Iruka tidak berhenti di situ saja, ia terperanjat di saat ia sudah berhasil menenangkan dirinya dan berisiap membacakan siapa yang mendapat nilai tertinggi dalam ujian. Ia mengira ia akan menemukan nama yang sama seperti biasa di bagian paling teratas dan terbawah dari ujian dan ia akan mendapatkan reaksi yang sama dari dua orang penyandang nama tersebut, namun sepertinya tuhan memiliki ide lain.
Iruka berfikir, apakah tuhan membencinya? Apakah tuhan memutuskan untuk memberinya begitu banyak cobaan sebagai pembalasan terhadap apa yang telah ia lakukan dulu? Apakah tuhan masih menyayanginya? Iruka hanya bisa pasrah.
Namun sepertinya ia tidak sendirian karena murid-muridnya juga terkejut bukan main di saat ia membacakan nama tersebut dengan nada tidak percaya, lagi-lagi pengecualian untuk orang yang namanya di sebut karena Naruto hanya menghela nafas lelah.
'Oh ayolah, bisakah aku mendapat reaksi yang lebih baik?' Naruto tahu kalau dulu ia bukanlah murid yang rajin ataupun pintar, tapi setidaknya bisakah ia mendapatkan sedikit pujian? Pujian yang di terima oleh Sasuke dulu.
Namun rasa sedih tersebut langsung menghilang di saat ia merasakan sebuah tangan raksasa berbulu lembut menepuk kepalanya dengan pelan, seperti memberikan pujian dan gesture 'aku bangga kepadamu' kepadanya. Naruto langsung tersenyum lebar, kini ia tidak peduli dengan reaksi teman-temannya karena orang yang sangat ingin ia buat bangga sudah memujinya.
Kedua orang yang di pasangkan dengan Naruto sebagai rekan satu timnya hanya bisa berfikir hal yang sama namun memperlihatkannya dengan cara yang berbeda, Sasuke memijat keningnya dan Sakura menghela nafas panjang.
'Ini akan menjadi hari yang panjang' Pikir Sasuke dan Sakura bersamaan.
Keadaan kelas kini sudah sepi dan hanya menyisakan anggota tim tujuh yang masih menunggu guru pembimbing mereka yang masih belum dating juga. Murid-murid lainnya sudah duluan pergi untuk melanjutkan aktifitas mereka atau jalan-jalan bersama teman-temannya.
Naruto masih sibuk membaca buku yang baru ia beli sambil sesekali mengobrol dengan Kurama mengenai isi buku tersebut. Sedangkan Sasuke yang duduk di sebelahnya terlihat tidak nyaman dan sesekali melirik ke arah Naruto, ia masih tidak habis piker bagai mana bisa Naruto bisa mengalahkannya dalam ujian.
Merasa tidak bisa tenang dan akhirnya tidak bisa menahan dirinya, Sasuke langsung mengeluarkan rasa keingintahuannya "Oi Dobe"
"Hm?" Naruto menengok ke arah Sasuke dan menutup bukunya, walaupun ia sering sekali berbicara dengan Kurama dan terlihat sedang tidak focus, sebenarnya ia masih bisa mendengar apa yang terjadi di kenyataan dan masih away terhadap sekitarnya, sesuatu yang ia pelajari dari Killer B "Ada apa Teme?"
"Apa yang membuatmu berubah menjadi seperti ini?" Sasuke memicingkan matanya dan menatap curiga ke arah Naruto, ia tidak mengingat ada Jutsu yang bisa mengubah jenis kelamin seseorang secara permanen dan membuat seseorang menjadi pintar dalam sekejap.
"Hmm…." Naruto memasang ekspresi seperti ia sedang berfikir dan memiringkan sedikit kepalanya "Aku tidak terlalu ingat, namun yang aku tahu ia melemparku ke sungai, kejam sekali"
Naruto menggerutu dalam hati dan berjanji akan memarahi orang yang melemparnya ke sungai nanti kalau ia bertemu dengannya.
Jauh di desa lain, seorang laki-laki bersin di depan kakaknya dan membuat sang kak mengomeli habis-habisan dirinya mengenai sopan santun dan cara bersikap yang baik dan benar di depan orang yang lebih tua dank age dari desa mereka.
"Di lempar ke sungai begitu saja? Sedih sekali" Kata Sakura yang duduk di sebelah Sasuke, namun dalam hati Sakura merasa sedikit senang.
Bukannya Sakura membenci Naruto, hanya saja ia merasa iri dengan perubahan Naruto yang terlalu drastis. Munkin tidak banyak yang bisa menyadarinya, namun Sakura bisa melihat bahwa yang berubah dari Naruto tidak hanya penampilan dan kepintarannya, Sakura bisa merasakan dengan jelas aura kedewasaan yang di pancarkan oleh Naruto dan jelas-jelas ia bisa melihat Naruto sikapnya berubah secara drastis.
Naruto yang ia tahu tidak pernah bisa diam di satu tempat lebih dari satu menit, bukan yang bisa duduk dan membaca buku dengan tenang. Naruto yang ia tahu akan marah besar dan bersikap kekanak-kanakan bila Sasuke mendapat pujian, bukan yang tersenyum dengan lebar dan duduk dengan tenang di saat mendengar namanya di panggil sebagai pemilik nilai terbesar. Naruto yang ia tahu akan menggerutu dan mengeluh di saat melihat dirinya tidak memberinya perhatian, bukan mengacuhkannya dan menganggap dirinya tidak ada.
'Aku lebih sedih lagi di saat melihat dirimu menghianatiku Sakura-chan…' Pikir Naruto sambil mengelus moncong Kurama yang sedang mengerang dengan keras dan terlihat marah besar. Naruto hanya tersenyum sedih ke arah Kurama yang sepertinya sangat ingin membunuh seseorang, seseorang yang di maksud adalah wanita berambut pink yang merupakan teman satu timnya.
"Yang penting aku selamat dan tidak kekurang apa-apa—kecuali diriku kini sudah berubah menjadi perempuan" Naruto tertawa walaupun lagi-lagi ia cemberut kea rah Kurama yang masih tidak menghiraukannya, kali ini ia pura-pura sibuk merapikan bulu ekornya.
"Bagai mana ya reaksi orang tuamu bila ia mengetahui anak laki-lakinya kini sudah berubah menjadi perempuan" Gumam Sakura sambil melipat kedua tangannya di depan dadanya, satu hal lain yang membuat Sakura iri adalah tubuh Naruto yang entah mengapa terlihat lebih terbentuk dari dirinya, mengingatkan dirinya dengan Hinata.
"Mereka pasti akan menerimaku apa adanya" Naruto tersenyum manis, ingatannya mengenai ayah dan ibunya memenuhi pikirannya, walau hanya sedikit, ingatan tersebut adalah ingatan yang paling berharga baginya.
Sasuke mengerutkan dahinya, ingatan mengenai keluarganya kembali muncul, terutama ingatan mengenai seseorang yang ia benci, kakak kandungnya sendiri. Apa yang di katakana Naruto membuatnya menjadi iri, kini ia tidak memiliki siapapun dalam hidupnya yang bisa membuatnya bahagia, semua keluarganya kini sudah habis di tangan kakaknya sendiri.
"Aku yakin kalau hal yang sama terjadi kepadamu, keluargamu pasti akan menerimamu apa adanya" Naruto tersenyum ke arah Sasuke sambil memperhatikan ekspreis Sasuke, mencoba melihat reaksi apa yang akan di keluarkan dari temannya yang satu ini.
"Hei! Kau tahu Sasuke tidak memiliki orang tua juga! Kenapa kamu tidak bisa peka sedikit!" Sakura menatap tajam Naruto, ia merasa bodoh karena berfikir Naruto sudah berubah namun nyatanya ia masih saja mengganggu Sasuke, namun kalau soal yang ini ia sudah kelewatan, menurut Sakura.
"Bukannya Sasuke masih punya kakak kandung? Kakak laki-laki" Jawab Naruto dengan senyumman yang sama masih terlukis di wajahnya.
"Kau tidak tahu apa-apa Teme, jadi diam" Sasuke mengerang pelan, metanya tertutup oleh bayangan rambutnya dan tanggannya menggenggam dengan kuat, seperti ia sedang menahan amarah yang sangat besar.
"Ada apa? Yang aku tahu kamu memang punya kakak laki-laki, dulu aku pernah melihat kau bersama kakakmu" Naruto tidak berhenti, sebuah rencana pelan-pelan terbuat di kepala Naruto dengan bantuan Kurama ia merangkai kata-katanya; ia akan menarik sebuah kalimat yang akan di ucapkan oleh Sasuke.
"Sudah aku bilang, kau tidak tahu apa-apa jadi diam!" Kali ini nada suara Sasuke naik satu oktav dan Naruto bisa merasakan aliran cakra milik Sasuke yang mulai tidak stabil, ia juga tahu bahwa Sasuke secara tidak sadar mau mengaktifkan sharingan.
"Ada apa? Dulu aku bahkan sempat iri denganmu loh, kau kelihatan dekat sekali dengan kakakmu, siapa namanya?" Naruto mengeluarkan cakranya dan tanpa Sasuke ketahui pelan-pelan merasuki dirinya, seperti mencoba mempengaruhi cakra miliknya dengan pelan-pelan mengganggu jalur cakra miliknya.
"Naruto…" Sasuke menggretakkan giginya dan melirik dengan tajam Naruto, pelan-pelan kesabarannya mulai menipis dan amaran mulai menguasai pikirannya.
Sakura tidak tahu mau berbicara apa, ia terlalu takut untuk bergerak atau memarahi Naruto. Ia merasakan bahwa tempratur di kelas tersebut sudah hampir sedingin kutub utara dan membuatnya menggigil.
"Apakah aku tidak boleh merasa seperti itu? Di saat kamu memiliki keluarga dan di puji-puji karena kepintaranmu, aku hanya seorang diri dan kesepian" Mata Naruto yang berwarna biru tidak pernah lepas memandang mata Sasuke yang berwarna hitam, ia tidak merasa ketakutan sama sekali mendengar nada suara Sasuke yang di bumbui dengan ancaman.
"Ia membunuh kedua orang tuaku dan semua anggota klan kami dengan alas an—" Nada suara Sasuke sudah di penuhi dengan kembencian dan semua emosi yang ia simpan dalam-dalam tiba-tiba saja keluar, namun sepertinya ia tidak bisa menlanjutkan omongannya karena sudah keburu di potong oleh Naruto.
"Oh? Benarkah? Dan kau mempercayai semua itu? Kalau aku jadi kau aku tidak akan menerimanya begitu sjaa" Senyuman Naruto kini berubah menjadi senyuman kecil dan matanya menyiratkan kehangatan "Coba pikir baik-baik, orang yang begitu menyayangi kita dan terlihat baik hati tiba-tiba saja melakukan hal kejam seperti itu? Jelas-jelas kita merasakan secara langsung betapa sayangnya orang tersebut terhadap kita dan tiba-tiba saja ia berubah hanya dalam waktu sekejap?"
Naruto menutup kedua matanya, apa yang di rasakan Sasuke sama dengan apa yang di rasakan oleh Gaara dulu, di saat orang yang menyayanginya tiba-tiba saja berbalik terhadapnya dan mencoba membunuhnya "Dan aku kira kamu adalah orang yang pintar mana munkin mempercayai seseorang yang baru saja membunuh keluarganya secara mentah-mentah tanpa mencari kebenaran dan alasan orang tersebut membunuh keluargaku"
Hening.
Sasuke tidak tahu mau berbicara apa, ia tidak bisa menyanggah apa yang Naruto katakan dan ia tidak tahu mau berbicara apa. Sedangkan Naruto sudah membuka matanya dan kini tersenyum lembut ke arah Sasuke.
Sakura tidak tahu mau bicara apa, ia hanya bisa menelan ludah dan menghela nafasnya yang ia tidak tahu ternyata ia tahan, di saat ia mendengar bahwa kakak Sasuke membunuh semua klannya termasuk kedua orang tua Sasuke hamper membuatnya pingsan di tempat. Dulu Sakura memang pernah mendengar kalau klan milik Sasuke sudah habis dan hanya menyisakan Sasuke, namun saat ia masih kecil ia tidak tahu bahwa yang di maksud 'habis' adalah di bunuh semua dan pembunuhnya adalah kakak Sasuke sendiri.
"Aku yakin kamu memiliki ingatan manis mengenai kakakmu, karena berberapa kali aku melihat betapa sayangnya kakakmu terhadap dirimu" Naruto tidak berbohong, ia memang pernah melihat betapa sayangnya Itachi terhadap Sasuke dan memang membuatya iri, begitu juga di masa depan, salah satu alasan yang membuat Naruto selalu mengganggu Sasuke adalah karena rasa iri terhadap Sasuke yang memiliki kedua orang tua yang masih hidup dan seorang kakak yang begitu menyayanginya.
Naruto bersender di tubuh Kurama dan membenamkan wajahnya di bulu-bulu halus yang menghangatkan tubuhnya, ia menutup matanya dan tersenyum bahagia, sekarang ia tidak kesepian dan iri lagi; ia sudah punya Kurama sebagai keluarganya dan Bee sebagai kakaknya.
Suasana kelas pelan-pelan menghangat, tempratur kelas kini menjadi normal dan Sakura kini sudah tidak menggigil namun masih terdiam di tempat, namun tidak lama kemudian rasa takutnya hilang dan pelan-pelan ia mulai berani berbicara.
"NARUTO! Kau sudah keterlaluan! Apakah kau tidak tahu bahwa itu adalah topik yang sangat sensitif untuk Sasuke! Kau dengan tidak tahu diri! Dasar—"
"Diam Sakura" Sasuke langsung memotong omongan Sakura dan membuat Sakura terkenjut, ia mentap tidak percaya Sasuke dan menatap tajam Naruto.
"Teme…kenapa kau bisa mengatakan hal seperti itu" Sasuke mengangkat kepalanya dan kali ini menatap secara langsung Naruto, mencoba mencari kebenaran dari apa yang baru saja Naruto katakan.
Naruto bisa dengan jelas melihat rasa ingin mempercayai apa yang Naruto katakan dari pandangan yang Sasuke berikan kepadanya, Naruto tersenyum puas, ia merasa ia telah berhasil menjalankan tugasnya.
"Hmm ada kemunkinan karena aku pernah melihat kakakmu melakukan hal seperti ini" Naruto meletakkan kedua jarinya ke keningnya dan tersenyum "Aku bisa menjadi pintar seperti ini secara tiba-tiba setelah penculikku melakukan hal ini"
Sasuke tersentak kaget dan menatap tidak percaya Naruto, di saat ia mau memarahi Naruto karena menganggap apa yang Naruto katakan hanyalah sebuah gurauan, Naruto buru-buru menyelesaikan omongannya.
"Aku membacanya dari buku ini, coba kau baca dan munkin kau akan mengerti" naruto memberikan sebuah buku yang tadi ia sedang baca dan bangun dari posisinya, ia menepuk celananya untuk membersihkan debu yang tidak terlihat dan merenggangkan tubuhnya "Aku duluan ya, kakek bilang aku harus pergi ke ruangan hokage untuk di periksa lebih lanjut"
"Sampai jumpa besok" Naruto tersenyum dan melmbai ke arah Sasuke dan Sakura di perjalanannya keluar dari kelas sebelum menutup kembali pintu kelas, meninggalkan Sasuke dan Sakura berdua di kelas.
Sakura hanya bisa cemberut dan menatap kesal Naruto yang sudah keluar dari kelas, namun langsung menyadari bahwa ia hanya berdua dengan Sasuke, ia mencoba memulai pembicaraan dengan Sasuke mengenai betapa tidak sopannya Naruto dan tidak menghiraukan apa yang Naruto katakan namun ia hanya bisa menangis dalam hari dan menggerutu dalam pikirannya di saat Sasuke sudah ikut keluar dari kelas sambil membawa buku pemberian Naruto.
Naruto berjalan ke arah sungai di dekat pemandian air panah, tempat pertama kali ia bertemu dengan guru kesayangannya dan figure ayahnya, Jiraya.
Ia menghela nafas panjang dan duduk di bangku yang terletak tidak jauh dari aliran sungai yang hangat dan bersender di bangunan yang terletak di belakang bangku. Naruto menutup matanya dna ingatan mengenai dirinya dengan Jiraya memenuhi pikirannya, senyuman pelan-pelan terlukis di wajahnya. Ia sudah selesia berbicara dengan Sandaime dan di suruh beristirahat.
'Aku jadi ingat, sebelum kau di ajar oleh Sanin yang mesum itu kau di ajar oleh seorang sensei yang tidak jelas itukan?' Naruto membuka matanya dan menatap Kurama 'Aku masih ingat bahwa kau di serahkan kepada guru yang tidak jelas itu karena gurumu waktu itu, sang copy ninja lebih memilih mengajari Sasuke ketimbang dirimu'
Naruto mengerutkan dahinya, apa yang Kurama katakan benar dan ia memang merasa sedih dan kesal di saat ia tahu bahwa Kakashi-sensei lebih memetingkan Sasuke dan tidak memperdulikannya. Ia memang menyayangi dan menghormati Kakashi namun ia juga memiliki luka yang cukup dalam mengenai rasa kepercayaan. Dulu ia di kata-katai dan di benci di karenakan ia adalah seorang jinchuriki, monster yang dulu pernah menghancurkan desa dan merebut orang-orang terkasih warga yang mencoba menyelamatkan diri atau menyelamatkan teman-teman atau keluarga mereka, sama seperti Bee dulu.
'Aku rasa apa yang Kakashi-sensei lakukan memang salah namun aku yang dulu memang terlihat seperti anak nakal dan tidak tahu apa-apa. Lagi pula bila aku di ajari oleh Kakashi-sensei aku tidak akan bertemu dengan Ero-senin dan mempelajari jutsu ayahku' Naruto tersenyum kecil, untuk apa berfikir negatif dan lagi pula lebih baik melihat sisi positifnya; ia sangat menyayangi Ero-senin dan lebih memilih di ajari olehnya dari pada Kakashi. Bukan karena apa, hanya saja ia lebih dekat dengan Ero-sanin dari pada Kakashi dan lagi Ero-sanin lebih tahu ayahnya dari pada Kakashi.
Suara langkah kaki membuat Naruto memutar kepalanya kea rah suara itu berasal dan tersenyum, ia tahu ia sedang di ikuti dan siapa yang mengikutinya, ia hanya menunggu orang itu menunjukkan dirinya sendiri.
"Ada apa Konohamaru-kun?" Naruto tersenyum manis ke arah anak berambut coklat yang bernama Konohamaru yang terlihat malu-malu dan takut mendekatinya.
Naruto yang melihat reaksi Konohamaru langsung bangun dari tempat duduknya dan menyeringai "Apakah kau datang ke sini untuk mengajakku latihan lagi? Ayo! Sini! Kenapa malu-malu?"
"Ah!" Konohamaru tersentak kaget dan mundur ke belakang, melihat ekspresi bingung Naruto, Konohamaru mengalihkan perhatiannya ke manapun selain ke Naruto sambil bermain dengan syalnya "Kak Naruto berubah jadi perempuan… bagai mana kita menjadi rival… kau tahu perempuan itu bagaimana.."
Senyuman Naruto berubah menjadi seringaian sebelum tertawa dengan kencang "Oh ya ampun Konohamaru! Tubuhku saja yang berubah jadi perempuan! Jiwaku masih seorang laki-laki sejati! Aku masih menjadi rivalmu!"
Wajah Konohamaru memerah karena malu dan ia melempar batu yang ia pungut dari tanah "Naruto-niichan bodoh! Jangan tertawa! Aku takut kakak tiba-tiba saja berubah dan tidak mau bermain—maksudku berlatih denganku lagi!"
Naruto dengan mudah menghindarinya dan mencoba menghentikan tawanya sebelum berjalan mendekati Konohamaru dan menepuk kepalanya "Oh ya ampun! Mana munkin aku berubah menjadi seperti itu! Tenang saja, aku masih rivalmu dan kita masih bisa bermain dan latihan bersama"
Wajah Konohamaru semakin memerah dan ia mengalihkan pandangannya ke arah lain lagi, mencoba menyembunyikan rasa malunya "Uuuuh"
Naruto menyeringai dan mengangkat tangannya dari kepala Konohamaru, ia mengingatkan dirinya sendiri bahwa Konohamaru akan tumbuh menjadi anak yang cerdas dan juga teman baiknya nanti.
"Kalau begitu aku akan latihan Orioke lagi! Lihat saja! Aku akan buat Orioke yang lebih cantik dari kak Naruto sekarang!" Konohamaru menyeringai dan berlari meninggalkan Naruto.
Naruto terdiam dan menatap tidak percaya ke arah Konohamaru "Baru saja dia…"
'Selamat Kit, kau baru saja di puji cantik oleh seseorang, aku tidak ada masalah namun orang-orang nanti akan memanggilmu pedofil' Wajah Naruto memerah dan menatap kesal kea rah Kurama sebelum memarahi habis-habisan dan menceramahi Kurama mengenai dirinya yang masih berjiwa laki-laki sejati.
Di apartemen milik Naruto, Sandaime dan berberapa shinobi sedang sibuk membenahi dan mengganti berberapa furnitur kamar Naruto, berberapa kunoichi terlihat sedang membersihkan dan mengganti pakaian serta peralatan mandi milik Naruto.
Di sebelah Sandaime, seorang laki-laki berambut perak yang setengah wajahnya di tutupi oleh penutup muka dan sebelah matanya di tutupi oleh ikat kepala berinisial Konoha miliknya tengah memeriksa sekelilingnya, ia menatap bingung Sandaime.
"Naruto Uzumaki, dua hari yang lalu ia di culik dan saat di temukan ia telah berubah menjadi perempuan, maka dari itu harus mengganti barang-barang miliknya" Sandaime menghela nafas dan memandang sebuah foto yang entah dari mana Naruto dapatkan, dalam foto tersebut terlihat dirinya dengan tato berwarna putih dan merah di wajahnya dan ia berpose dengan menghadap ke samping dan tangannya terlihat dengan jelas di kamera; namun di foto tersebut Naruto masih menjadi laki-laki.
"Oh Yondaime… maafkan kelalaianku, karenaku anakmu… aku akan menjaganya dengan lebih baik" Gumam Sandaime dengan suara pelan agar tidak terdengar siapa-siapa lalu menghela nafa panjang.
"Ia… sepertinya tidak terlihat seperti apa yang datanya katakan" Kakashi memeriksa apartemen milik Naruto lebih seksama, ia dengar Naruto adalah anak yang pemalas dan nakal namun apartemennya tidak seperti bayangannya, di saat pertama kali ia masuk ia melihat apartemen yang bersih mengkilap dan rapi, ia bahkan bisa mencium bau bunga dari pengharum ruangan yang di gunakan oleh Naruto.
"Kalau itu aku masih kurang tahu, tidak hanya jenis kelaminnya saja namun sifatnya juga berubah drastis, aku tidak tahu apa yang penculiknya lakukan dan apa motif dari sang penculik menculik Naruto" Sandaime menggeleng pelan dan menatap secara langsung Kakashi "Aku ingin kau mengawasi dan menjaganya"
"Hahaha, kalau begitu aku jadi pensaran, aku akan mencoba mendidiknya" Kakashi mengikuti para shinobi dan kunoichi yang telah menyelesaikan pekerjaan mereka keluar dari apartemen melalui jendela yang ikuti oleh Sandaime.
Tidak lama kemudian, apartemen milik Naruto kini di masuki oleh tamu tak di undang lagi, namun kali ini orang yang menyusup adalah rekan satu timnya sendiri.
Sasuke menghela nafas panjang, ia tahu apa yang ia lakukan adalah hal yang tidak baik dan tidak patut di tiru, ia terlihat seperti seorang pencuri yang diam-diam memasuki rumah temannya sendiri.
Ia menggeleng pelan dang mengingatkan dirinya bahwa ia ke sini hanya untuk memberikan Naruto sedikit hadiah sebagai tanda terimakasih karena sudah menyadarkan dirinya dari mimpi buruknya, ia hampir saja melakukan kesalahan besar dan hal bodoh.
Sasuke meletakkan belanjaan berupa bahan makanan ke dalam kulkas milik Naruto dan meletakkan sebuah buku baru di atas meja makan Naruto sambil bergumam pelan sebelum pergi meninggalkan apartemen.
"Terimakasih… Dobe"
To Be Continue
!Author Notes!
Yeee selesai 1 chapter!
Sejujurnya saya malu sendiri membaca cerita buatan saya yang sebelumnya…
Saya malu melihat begitu banyak kesalahan, OOC, kalimat tidak baku, jalan cerita yang tidak jelas dan masih banyak lagi…
Saya malu sudah menghancurkan manga masterpiece buatan Masashi Kishimoto ini… maafkan fans mu yang satu ini…
Yosh chapter berikutnya kemunkinan besar akan jadi besok! Di tunggu ya!
Review Please!
Tolong beri masukan terhadap cerita yang baru ini
Yang masih mau baca chapter yang aslinya atau yang sebelumnya untuk di baca dan di bandingkan silakan bilang, nanti saya kirimkan
