Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Warning: Mengandung Gender Bender, Semi-Au, Time Travel, Miss Typoo, Mild Sakura Bashing, dll
!Author Notes!
Terimakasih atas dukungan dan kesabaran para pembaca! Saya merasa termotivasi untuk tetap menulis karena kalian semua! Saya sangat menghargai segala macam dukungan dari para pemaca sekalin!
Berberapa Review yang saya terima menanyakan saya mengenai apakah cerita yang lama akan di lanjutkan atau tidak. Sejujurnya saya merasa tidak nyaman untuk melanjutkannya karena membacanya lagi saja saya sudah takut dan malu, karena begitu banyak kesalahan di cerita yang sebelumnya.
Namun bila saja para pembaca memang lebih menginginkan cerita yang lama di lanjutkan maka saya akan mencoba membuatnya menjadi fanfic baru, dalam artian ceritanya akan terpisah dari cerita yang ini. Namun saya tidak bisa menjanjikan up-date dalam waktu yang agak lama karena saya sedang menulis cerita yang ini bersama dengan cerita berbahasa inggris dari fandom Katekyo Hitman Reborn.
Selanjutnya adalah Review mengenai sifat Naruto, saya tidak mengubah sifat Naruto sama sekali dari cerita yang sebelumnya kok, bahkan malah saya buat lebih pintar, ada yang bilang ke-ibuan… saya kurang mengerti dari mana sifat keibuannya? Bisakah tolong di beri tahu ke saya? Karena mau saya betulkan agar sifat Naruto tidak kelewat OOC.
Karena cerita ini hanya di tulis ulang dan di tambah, apa yang Naruto lakukan sama dengan di cerita sebelumnya (membuat Sasuke menyadari kesalahannya dan mengingatkan Konohamaru tentang dirinya yang asli).
Baiklah dari pada saya makin banyak omong, silakan menikmati cerita To The Past yang baru!
Naruto tidak tahu harus senang atau malah kesal di saat ia menemukan bahwa Sandaime telah mengganti semua furnitur miliknya dan bahkan menambah berberapa seperti meja rias dan kaca besar. Sepertinya Sandaime memutuskan karena Naruto berubah menjadi perempuan maka ia harus hidup layaknya perempuan normal.
Ia hampir saja berteriak dan melempar benda yang ia temukan di lemari pakaiannya yang baru, begitu banyak pakaian dalam wanita yang ia tidak ketahui cara menggunakannya dan pakaian sehari-harinya di kala ia masih menjadi laki-laki kini menghilang.
Naruto hanya bisa menatap kesal Kurama yang tertawa terbahak-bahak melihat dirinya panik dan kesulitan, sangat tidak membantu.
Hingga akhirnya Kurama mengajarkan Naruto bagai mana cara menggunakan peralatan yang biasa wanita gunakan dan pakaian dalam yang di berikan untuknya, ada untungnya bahwa kedua Jinchuriki sebelum Naruto adalah perempuan sehingga Kurama bisa mengajari apa yang ia lihat dari Mito dan Kushina.
Tapi tetap saja Naruto lebih memilih untuk tidak menggunakan pakaian dalam dan menggunakan pakaian tidur lamanya yang untungnya masih ada untuk tidur, Naruto mengingatkan dirinya untuk berbicara dengan Sandaime mengenai apa yang akan ia lakukan ke depannya. Tentu saja topik pertama yang akan ia bicarakan bahwa ia masih tetap lelaki sejati dan tidak membutuhkan peralatan untuk perempuan.
Di pagi harinya Naruto bangun dan langsung membereskan kamarnya, ia hanya bisa menatap kesal pakaian yang ada di laci bajunya, ia lebih menyukai pakaian lamanya daripada pakaian yang sangat feminim yang di berikan oleh Sandaime, kebanyakan pakaiannya memang tidak terlalu terbuka namun jelas sekali kalau itu adalah pakaian perempuan.
Naruto tentu saja menjauhi pakian yang menurutnya terlalu terbuka dan rok ataupun dress, ia memilih kaus berwarna orange dan cardigan berwarna orange tua bersama celana pendek berwarna hitam serta sepatu yang sama dengan sepatu yg di gunakan Ino. Kurama mendengus melihat warna pilihan Naruto dan Naruto tidak menghiraukannya, orange adalah warna kesukaannya dan ia tidak ada keinginan untuk menggantinya.
Seusai mandi dan mengenakan pakaian barunya yang ukurannya sangat cocok dengannya (Naruto curiga dari mana Sandaime bisa mengetahui ukuran pas untuknya dan akan menjadi salah satu hal yang akan ia bicarakan dengannya nanti), Naruto mempersiapkan senjata dan berberapa buku yang akan ia baca sambil menunggu gurunya yang pasti akan terlambat nanti.
Ia membuka kulkasnya dan menemukan bahwa kini kulkasnya sudah di isi oleh berbagai macam bahan makanan, tadinya ia mengira bahwa Sandaime juga lah yang telah mengisinya namun ia melihat sebuah benda yang membuatnya tersenyum lebar.
Ia mengambil benda tersebut dan mulai membuat nasi kepal dengan benda tersebut sebagai isi utama salah satu nasi kepalnya. Naruto bisa memasak, bukan hanya ramen instan atau air, ia bisa memasak masakan yang mudah saja seperti nasi kepal dan sup. Ia belajar memasak dari Ero-sanin di saat mereka sedang berlatih bersama dan dari berberapa temannya seperti Hinata dan Bee, karena di tengah-tengah misi mereka bisa saja harus beristirahat di luar dan tentu saja mereka harus memasak makanan sendiri, terlebih lagi bila misinya memakan waktu yang cukup lama.
Kurama mengejek dirinya dengan sebutan 'calon istri yang baik' dan membuat Naruto lagi-lagi memarahinya habis-habisan dan menasehatinya bahwa ia masih memiliki jiwa laki-laki dan ia masih normal.
Seusai memasak bekal dan sarapannya, Naruto makan dengan tenang dan langsung berangkat begitu selesai dan membereskan bekas makanannya.
'Setahuku sang copy ninja itu selalu terlambat, untuk apa kau datang pagi-pagi sekali?' Kurama menatap bingung Naruto dan menguap, sebenarnya ia masih mengantuk dan ingin tidur lagi namun karena Naruto terbangun ia jadi tidak ada keinginan untuk kembali tidur.
'Aku ingin pergi beli sereal dan susu baru lalu berberapa perlengkapan ninja, aku juga membutuhkan obat-obatan untuk di simpan di rumah' Naruto merenggangkan tubuhnya dan berjalan keluar apartemen setelah menguncinya 'Dan aku butuh kunci baru agar tidak ada yang bisa masuk ke dalam kamarku tanpa seizinku'
Di perjalanannya ke akademi ia bertemu dengan salah satu temannya, Kiba dan akhirnya memutuskan untuk berjalan bersama ke akademi.
"Jadi kamu akan menjadi perempuan selamanya?" Naruto cemberut mendengar apa yang Kiba katakan, ia rasanya ingin sekali menjawab 'tidak' namun sepertinya kenyataan tidak ada di sisinya.
"Kemunkinan besar ya…" Naruto menatap kesal Kurama dan hingga sekarang, setiap kali Naruto mengeluh mengenai perubahan kelaminnya, Kurama akan selalu tidak menghiraukannya dan pura-pura sibuk dengan hal lain.
Akamaru menggong-gong seperti mengatakan sesuatu dan membuat Kiba mengingat sesuatu "Ngomong-ngomong walau kau dilempar ke sungai aku masih bisa mencium bau gurita di tubuhmu di saat aku pertama kali bertemu denganmu tiga hari yang lalu"
Memang benar orang pertama yang menyapanya dan mengetahui perubahan Naruto di kalangan teman-temannya adalah Kiba, karena di saat Naruto kembali bersama dua orang ANBU yang menemukannya tanpa sengaja ia berpapasan dengan Kiba di depan pintu masuk Konoha yang sedang membawa Akamaru jalan-jalan.
"Setahuku di sungai dekat konoha tidak ada gurita dan seingatku juga gurita hanya ada di laut… apakah penculikmu membawa gurita atau semacamnya?" Akamaru menggong-gong setuju dengan apa yang pemiliknya katakan.
Naruto hanya bisa nyengir dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal "Hahaha… aku tidak tahu ya"
Di desa agak jauh dari Konoha, seorang laki-laki bersin dan kali ini kakaknya tidak ada di dekatnya untuk terkena bersinannya atau memarahinya, namun orang yang berada tidak jauh darinya menatap bingung dirinya.
Naruto dan Kiba berpisah jalan di saat Naruto memutuskan untuk pergi ke ruang guru untuk menemui Iruka terlebih dahulu sedangkan Kiba berjalan bersama Shino terlebih dahulu ke kelas yang di ikuti oleh Hinata yang ternyata sedang menunggu mereka berdua. Naruto tersenyum lebar dan melambaikan tangannya ke arah Hinata, membuat sang kunoichi memerah dan dengan malu-malu membalas lambaian tangannya.
"Iruka-sensei!" Naruto berlari menghampiri gurunya yang sedang berjalan di lorong akademi, mendengar namanya di panggil Iruka langsung terdiam dan dengan perlahan memutar tubuhnya untuk melihat Naruto berlari ke arahnya.
"Selamat pagi Naruto….chan" Iruka mencoba sebisanya untuk tersenyum seperti biasa tapi sepertinya gagal total karena senyumannya terlihat aneh dan ia kelihatan jelas ia gugup.
"Jangan panggil aku Naruto-chan! Aku masih berjiwa laki-laki!" Naruto cemberut mendengar panggilannya dari Iruka dan melipat kedua tangannya di depan dadanya, ia masih tidak sudi di panggil dengan sebutan untuk perempuan.
Iruka hanya menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum canggung "Hahaha maaf Naruto, aku hanya sedikit kaget melihat dirimu tiba-tiba berubah"
Naruto menghela nafas dan menatap kesal Iruka, namun akhirnya ekspresinya menghangat dan ia tersenyum "Sudah lah, tapi Sensei tahukan sekarang aku sudah resmi menjadi ninja!"
Iruka tersenyum dan menepuk kepala Naruto "Iya iya, tapi kamu masih ada ujian dari guru pembimbingmu nanti, kalau tidak salah nama gurumu adalah Kakashi, ia adalah Jounin yang cukup terkenal"
Naruto mengangguk dan menyeringai "Tenang saja! Aku pasti akan lulus"
Iruka langsung di penuhi oleh rasa lega, karena Naruto yang ia tahu tidak berubah dan sepertinya ia terlihat sehat dan penuh energi seperti biasa, senyumannya melebar dan Iruka meletakkan kedua tangannya di punggung Naruto dan mendorongnya ke arah kelasnya "Yasudah, sudah waktunya kamu kembali ke kelasmu, semoga ujianmu lancar ya"
Naruto tersenyum lebar "Tentu saja!"
Seperti yang di katakan oleh kurama, Kakashi terlambat dan kelas kini sudah kosong dan hanya menyisakan tim tujuh yang masih belum datang guru pembimbingnya.
Naruto sedang asyik membaca buku yang di berikan oleh kakek (menurutnya) sambil mengobrol dengan Kurama mengenai isi buku itu seperti biasa tanpa menyadari bahwa yang memberi buku tersebut sebenarnya adalah Sasuke.
Sasuke sendiri sedang sibuk membaca buku yang Naruto pinjamkan kepadanya sambil sesekali melirik Naruto secara diam-diam, ia sebenarnya sedikit kebingungan bagai mana cara memulai percakapan dengan Naruto mengingat ia hampir marah besar dengan Naruto kemarin.
Sakura sedang duduk tidak jauh dari tempat Naruto duduk dan dekat dengan Sasuke, ia mengayunkan kakinya sambil menatap penuh harap pintu masuk kelas lalu ke arah Sasuke, ia sangat ingin memulai percakapan dengan Sasuke namun ia tidak tahu bagai mana cara memulainya dan ia mulai lelah menunggu.
Sakura menggerutu mengenai gurunya yang telat dan sesekali menatap tidak senang Naruto yang kelihatannya terlalu sibuk membaca buku lalu ke arah Sasuke yang kelihatannya terlalu serius membaca buku walau pada kenyataannya pikirannya sudah ke mana-mana.
Tidak terlalu lama kemudian, seorang laki-laki berambut putih yang merupakan guru pembimbing mereka masuk ke dalam kelas sambil melambai ke arah mereka "Maaf aku terlambat"
Sakura langsung bangun dari tempat duduknya dan memarahi gurunya karena telat sedangkan Sasuke akhirnya terbangun dari lamunannya dan menyimpan bukunya.
'Jounin macam apa dia' Sasuke menatap curiga guru pembimbingnya, ia kelihatan terlalu tenang dan tidak peduli apapun, tidak seperti guru-guru yang lainnya, walaupun ada yang kelihatan aneh namun mereka semua tidak bersifat terlalu santai seperti guru pembimbingnya yang satu ini dan mereka juga tidak telat 1 jam full.
Sasuke melirik Naruto yang masih kelihatan sibuk membaca buku dan menyenggolnya "Dobe, gurunya sudah datang"
Naruto mengangguk dan menyimpan buku yang tadi ia sedang baca, sebenarnya ia sudah tahu Kakashi sudah datang hanya saja ia sedang berdiskusi sedikit dengan Kurama mengenai bagaimana cara mengelabui Kakashi karena ia tahu, Sandaime pasti menyuruhnya memperhatikan dirinya dengan seksama dan melaporkan segala kejadian aneh yang terjadi terhadapnya.
Naruto tahu kalau ia berubah terlalu cepat dan sandaime curiga dengannya, maka dari itu ia harus lebih berhati-hati dalam bersikap sekarang untuk tidak menarik terlalu banyak perhatian dari teman-temannya. Naruto berharap Kiba tidak bercerita mengenai bau yang ia temukan menempel di tubuhnya, karena informasi sekecil apapun bisa saja membawanya dalam masalah besar.
Naruto berpura-pura tidak menyadari bahwa Kakashi tengah memeriksa keadaannya dan memperhatikannya, ia menyimpan bukunya dan mualai merenggangkan tubuhnya, ia juga berpura-pura kesal karena keterlambatannya dan menghela nafas panjang sebelum cemberut dan menatap guru barunya.
'Memang benar apa yang di katakan oleh Sandaime, perubahannya terlalu cepat. Aku bisa dengan jelas merasakan aura kedewasaan yang ia miliki dan tertulis jelas di data yang ada bahwa Naruto tidak suka membaca buku' Kakashi melirik buku yang kini telah di simpan oleh Naruto di tasnya namun ia berhasil melihat judul dari buku tersebut sebelum Naruto simpan 'Buku mengenai genjutsu? Sepertinya aku harus memeriksa lebih lanjut mengenai hal ini'
Kakashi memasang wajah datar sebelum tersenyum ke arah Naruto, ia memasang ekspresi tenang dan bahasa tubuhnya memperlihatkan bahwa ia tidak akan mencoba melukainya dan menggambarkan bahwa ia hanya seorang guru yang terlalu santai.
Tentu saja Naruto tahu betul sikap gurunya yang satu ini dan naruto tahu bahwa Kakashi sedang mencoba membuatnya terbuka kepadanya, Naruto bisa mendengar Kurama mendengus dan ia hanya membalas senyuman Kakashi dengan wajah kesal seperti ia tidak senang di buat menunggu 1 jam untuk menunggunya.
Kakashi memutuskan untuk membawa anggota timnya ke atap sekolahan dan memulai hari mereka dengan memperkenalkan diri agar bisa lebih dekat dan mengenal satu sama lain terlebih dahulu.
"Bagai mana kalau kita mulai dari pengenalan terlebih dahulu? Apa yang kalian suka, apa yang kalian tidak suka, impian untuk masa depan, dan lain-lain?" Kakashi duduk di atas pagar yang menjadi pembatas ujung atap dan bersender sambil menatap satu persatu muridnya.
"Bagai mana kalau kau saja yang duluan Sensei? Kamu terlihat sedikit mencurigakan" Sakura memicingkan matanya dan menatap curiga ke arah Kakashi, ia tidak habis pikir bagai mana bisa orang yang kelihatan sangat pemalas dan bisa sangat terlambat sepertinya bisa menjadi seorang Jounin, apakah ini sebuah lelucon dan mereka sedang di kerjai?
Kakashi menahan tawa melihat reaksi Sakura dan memutuskan untuk mengikuti kemauannya "Namaku Hatake kakasi, aku sedang tidak mood untuk member tahu apa yang aku sukai dan aku tidak sukai, impian untuk masa depan juga aku tidak mood untuk memberi tahu kalian tapi aku punya banyak hobi"
"Jadi pada akhirnya iahanya member tahu kita namanya saja" Sakura berbisik ke arah Sasuke dan Naruto. Sasuke hanya menggeleng pelan dan menatap tajam Kakashi sedangkan naruto hanya mengangkat bahunya.
'Kenapa tidak bilang saja kalau kau tidak mau orang-orang bisa mendekatimu hah? Bilang saja kamu tidak pintar dalam berkomunikasi dan kamu tidak mua orang-orang mengetahui jati dirimu' Naruto menggeleng pelan dan menepuk kaki Kurama.
'Sudah lah Kurama, bukan salahnya untuk bersikap seperti itu' Naruto sebenarnya tahu mengapa Kurama bersikap seperti tidak suka terhadap Kakashi, alasannya adalah tentang apa yang mereka bicarakan kemarin: Kakashi yang lebih memilih Sasuke dan meninggalkan Naruto dengan guru yang tidak jelas. Kurama memiliki ego dan harga diri yang besar sehingga ia merasa Kakashi meninggalkan Naruto karena dirinya.
"Sekarang gantian kalian yang mengenalkan diri, di mulai dari kiri" Kakashi tersenyum dan menengok ke arah Naruto yang duduk di sebelah Sakura.
Naruto menghela nafas panjang dan tersenyum "Namaku Uzumaki Naruto, aku sebenarnya laki-laki walau tubuhku sekarang sudah menjadi perempuan, yang aku suka adalah berlatih dan makan mie ramen, yang aku tidak sukai adalah bila saja ada orang yang menyakiti teman-temanku atau temanku tersakiti dan impianku…"
Naruto diam sebentar, ia berfikir sebentar sebelum akhirnya melanjutkan apa yang ia ingin katakan dengan senyuman terlebar dan matanya menyinarkan kebahagiaan dan tekadnya yang sekuat baja "Membuat masa depan yang indah dan menjadi ninja yang bisa melindungi semua orang yang aku sayangi"
Kakashi terdiam dan menatap Naruto dengan pandangan terkejut, tiba-tiba ingatannya mengenai rekan satu timnya dan gurunya yang sudah gugur muncul, ingatan tersebut membuat dadanya menjadi sakit dan ia jadi agak kesulitan benafas. Apa yang Naruto katakan mengingatkan dirinya di saat ia masih kecil, di perburuk dengan wajah Naruto yang merupakan campuran dari wajah Minato dan Kushina.
Naruto menyadari bahwa Kakashi sedang terdiam dan kaget dengan apa yang ia katakan, ia menatap secara langsung mata Kakashi yang tidak tertutupi pengikat kepalanya dan tersenym lebar, sebuah senyuman yang biasa ia berikan kepada Kakashi di masa depannya, namun sepertinya efek yang di terima oleh Kakashi sedikit berbeda dengan yg diterima oleh dirinya di masa depan milik Naruto.
Kakashi langsung terbangun dari lamunannya dan langsung membetulkan posturnya, sepertinya Sasuke dan Sakura tidak menyadarinya dan sekarang Naruto sedang tersenyum ke arahnya, ia hanya membalas senyuman Naruto dan mengangguk "Impian yang bagus"
'Perubahan yang di alaminya memang sangat drastis, namun aku tidak melihat perubahan yang buruk, hanya saja pikirannya sudah lebih dewasa dan tidak lagi berfikir layaknya anak-anak di bawah umurnya' Kakashi bisa merasakan dadanya kini tidak sakit lagi dan ia bisa bernaafas dengan teratur, dan sebuah senyuman kecil yang tidak kelihatan karena topengnya terlukis di wajahnya 'Mirip sekali dengan ayahnya'
Naruto tersenyum puas dengan reaksi dari Kakashi dan menepuk kaki Kurama yang menyeringai, semuanya berjalan dengan lancar dan hanya tinggal di lanjutkan saja, Naruto berharap ia akan mendapat reaksi positif dari Kakashi dan dalam waktu dekat ia tidak akan di curigai lagi karena ia memiliki rencana besar yang harus ia jalani nanti dan tentu saja ia tidak mau di ikuti ataupun di perhaatikan segala gerak-geriknya yang akan berakibat rencananya gagal total.
"Hobiku adalah mengerjai orang dan bermain dengan Konohamaru" Naruto memasang pose peace dan nyengir lebar, kalau soal yang itu sepertinya tidak akan berubah karena ia masih suka bersenang-senang dan melepas stress. Apa yang lebih menyenangkan selain mengeerjai orang? Dan di tambah lagi bila mengerjainya bersama Konohamaru dan teman-temannya.
'Sudah aku bilang, aku tidak keberaatan namun kamu bisa saja di panggil pedofil loh' Wajah Naruto langsung memerah menahan marah dan menatap tajam Kurama yang membuang mukanya sambil tertawa.
'Kalau soal yang ini… sesuatu sepertinya tidak bisa berubah dengan cepat' Kakashi menggeleng pelan mendengarnya, namun tiba-tiba sebuah ingatan masa lalunya muncul, namun kali ini ingatan tersebut malah membuatnya tersenyum kecil 'Kushina-neechan dulu juga suka mengerjai orang…'
Senyum Naruto sedikit berkurang dan mulai tergantikan dengan ekspresi bingung, ia memiringkan sedikit kepalanya; ia tidak memperhitungkan dan tidak menyangka apa yang ia katakan akan membuat Kakashi tersenyum, ia membayangkan Kakashi akan menggeleng dan ia akan di anggap masih tidak dewasa, bukan sebuah senyuman kecil dan pandangan nostalgia. Apakah apa yang Naruto katakan membuat Kakashi teringat akan sesuatu?
'Aku yakin ia mengingat Kushina, karena dulu ibumu suka mengerjai orang' Kurama mengerang pelan dan membuang mukanya lagi, ia jadi ikut-ikutan teringat dengan penahannya yang satu itu dan ia tidak suka. Karena untuknya, hanya Naruto lah yang benar-benar menyayanginya dan hanya bersama Naruto lah ia memiliki ingatan manis dan bahagia. Namun tentu saja ia tidak akan mengutarakannya secara langsung di depan Naruto, ia masih punya harga dirinya, terimakasih.
Senyuman Naruto kini kembali dan berubah menjadi cengiran, ia memeluk kaki Kurama dan membenamkan wajahnya ke bulu-bulu lembut Kurama, wajahnya memerah karena malu bercampur bahagia. Ia di bilang mirip ibunya yang paling ia sayangi, hatinya sudah seperti menari-nari dan egonya penuh dengan rasa bangga, walaupun apa yang sama dengan ibunya sesuatu hal yang kurang baik, Naruto tidak peduli, yang penting ia mirip ibunya!
"Orang yang paling aku sukai adalah Iruka-sensei dan… umm… seseorang!" Naruto nyengir dan menahan dirinya untuk tidak menyebut nama kakak angkatnya yang ia sayangi dan sudah anggap keluarga sendiri.
'Sedangkan kalau yang paling di sayangi adalah ayah, ibu, dan Kurama!' Kali ini Naruto melompat ke atas kepala Kurama dan memeluk moncongnya dengan senyuman menghiasi wajahnya, yang di peluk salah tingkah.
'Ngomong di pikir dulu, jangan asal begitu' Kurama berterimakasih dengan wujudnya yang berbentuk rubah karena bila saja ia adalah manusia pasti ia sudah ketahuan kalau ia sedang malu dan wajahnya memerah seperti tomat. Sedangkan Naruto tidak ada keinginan untuk melepas pelukannya dan tetap pada posisi yang sama sambil tertawa 'Ini aku berfikir kok bukannya ngomong secara langsung'
'Iruka ya…' Kakashi mengangguk dan sebuah ide muncul di kepalanya, ia mengingatkan dirinya untuk pergi menemui Iruka dan menanyakan mengenai perubahan Naruto yang terlalu cepat dan secara drastis, ia juga mengingatkan bahwa perasaan aneh yang menyelimuti dirinya sekarang adalah rasa ingin melindungi, sebagai murid dari ayahnya Naruto dan teman baik Kushina, ia berjanji akan melindungi Naruto dari segala macam bahaya, ia tidak mau kehilangan seseorang yang ia kasihi dan ia tidak akan bisa menghadap gurunya lagi bila saja Naruto terluka sangat berat. Namun ia masih tidak tahu, siapakah 'seseorang' yang Naruto maksud? Sandaime kah? Ia akan mencari tahu nanti.
Sedangkan Sasuke hanya menaikkan sebelah alisnya dan menahan tangannya untuk tidak bergerak dari posisinya, entah mengapa ia ada keinginan untuk menyentuh dadanya yang mendadak terasa sakit, ia tidak tahu perasaan apa ini namun ia merasa dulu ia pernah merasakan hal yang sama di saat bersama Itachi, tapi apa? Ingatannya mengenai Itachi sedikit hilang karena ia di butakan oleh rasa dendam, namun ia berjanji kepada dirinya (dan Naruto secara tidak langsung) bahwa ia akan mencari kebenaran dari kakaknya, dan hal pertama yang harus ia lakukan ada mengingat apa saja yang kakaknya lakukan kepadanya dulu.
Kakashi membuat suara seakan-akan ia sedang batuk dan mengalihkan perhatiannya ke arah murid yang duduk di sebelah Naruto, Sakura. Ia masih sedang berkerja sekarang dan ia harus bersikap profesional, ia akan menghawatirkan dirinya dan Naruto—eh salah, maksudnya ia akan memikirkan mengenai hubungan Naruto dengan orang tuanya dan tugas yang ia buat sendiri (menjaga Naruto) nanti, karena masih ada dua orang murid lain yang harus ia ajarkan juga.
"Baiklah selanjutnya" Kakashi menatap Sakura sambil tersenyum, namun di pikirannya ia sedang menganalisah penampilan dan bahasa tubuh Sakura. Dari ekspresi dan bahasa tubuh Sakura di saat ia mendengar Naruto mengenalkan dirinya, Kakashi bisa melihat bahwa Sakura tidak terlalu menyukai Naruto dan kemunkinan besar ada hubungannya dengan perubahan Naruto sekarang. Di dalam data yang di berikan kepadanya; Naruto punya perasaan kepada Sakura sedangkan Sakura tidak menyukai Naruto. Namun sekarang Naruto sudah berubah menjadi perempuan dan sifatnya sudah berubah menjadi lebih tenang, kenapa Sakura masih tidak menyukai Naruto?
"Namaku Sakura Haruno, hal yang aku sukai adalah…" Sakura tidak menyelesaikan omongannya dan melirik Sasuke dengan wajah sedikit memerah lalu menutup wajahnya dengan kedua tangannya dan melirik Sasuke kembali dari sela-sela jarinya "Orang yang aku suka adalah…haha…"
Kakashi menaikkan sebelah alisnya dan menggeleng pelan, sepertinya ia sudah menemukan jawaban dari pertanyaannya; rasa tidak suka tersebut berubah menjadi rasa cemburu. Kakashi melirik ke arah orang yang menjadi target utama dari rasa suka Sakura dan mendapati Sasuke tidak peduli sama sekali dan sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Kakashi memperhatikan dengan lebih seksama bahasa tubuh dan gerak-gerik Sasuke dan menemukan sesuatu yang baginya sedikit mengejutkan.
Ia melihat Sasuke berberapa kali melirik secara diam-diam Naruto dan dari pandangannya tersirat sesuatu yang membuat Kakashi nostalgia, sesuatu yang pernah ia lihat di mata teman satu rekannya di saat ia sedang melakukan hal yang sama dengan Sasuke kepada rekan satu timnya yang lain. Dan lagi-lagi ia di serang rasa nostalgia di saat ia melihat Naruto bersikap acuh tidak acuh dan terlihat tidak menyadari kalau ia sedang di perhatikan oleh sang uchiha.
"Apa yang aku tidak suka adalah…" Sakura melirik kesal Naruto dan dengan nada satu oktaf lebih tinggi dari biasanya melanjutkan omongannya "Naruto"
'Oh? Mau tahu seberapa bencinya diriku kepadamu huh? Monyet tanpa bulu yang lemah dan tidak bisa apa-apa' Naruto menepuk-nepuk moncong Kurama sambil membisikkan kata-kata penenang kepada Kurama, ia mengelus-elus lipatan di moncongnya yang terbuat karena ia membuka mulutnya untuk memperlihatkan giginya yang tajam dan menyengitkan keningnya, Naruto terus saja melakukan hal tersebut hingga ia merasa Kurama lebih tenang dan sudah bisa mengendalikan dirinya.
Karena sibuk menenangkan Kurama, Naruto kelihatan di mata yang lain tidak peduli dengan apa yang Sakura katakan namun sepertinya ada orang lain yang menjadi pengganti dirinya dalam memperlihatkan reaksinya, orang tersebut adalah Sasuke yang kelihatan tidak nyaman dan tidak senang dengan apa yang Sakura katakan, namun ia berusaha sebisa munkin tidak memperlihatkan secara terang-terangan.
Namun sepertinya usaha Sasuke sedikit tidak berhasil karena Kakashi menyadari reaksinya dan kini ia sedang di landa dilemma besar. Kelompoknya saat ini sangat mirip dengan kelompok lamanya dan saking miripnya membuat Kakashi jadi tidak nyaman. Ia seperti melihat dirinya sendiri di posisi Naruto, Obito di posisi Sakura, dan Rin di posisi Sasuke, sedikit terputar tapi tetap saja mirip.
'Aku sudah tidak tahu mau jadi apa kelompok ini… Minato-sensei yang sudah beristirahat selamanya, tolonglah bantu aku dan berkati aku dengan bimbinganmu' Kakashi memijat keningnya sendiri, ia merasa bahwa pekerjaannya yang satu ini akan memakan begitu banyak waktu dan jiwa raganya.
'Tapi satu hal yang pasti, aku tidak akan membiarkan mereka memiliki nasib yang sama denganku. Aku berjanji kepada mu guru, Obito, Rin, dan Kushina-neechan' Kakashi menatap muridnya satu persatu dan pelan-pelan tekadnya menjadi semakin bulat dan sekuat baja.
Naruto yang sudah berhasil menenangkan Kurama menghela nafas panjang dan mengalihkan perhatiannya kea rah Sakura "Hobimu apa?"
Sakura mangerutkan keningnya dan membuang mukanya dengan tidak acuh "Hobiku bukan urusanmu, lebih baik kamu belajar untuk tidak menjadi kekanak-kanakan dan menghenti hobimu yang tidak baik itu"
Naruto tertawa dan melambaikan tangannya di depan wajahnya, seperti menganggap apa yang Sakura katakan hanyalah sebuah lelucon "Oh, kalau yang itu tidak bisa, lagi pula mengerjai orang juga adalah bentuk pelepas stress bagiku!"
Sakura menatap tajam Naruto dan bergumam mengenai sikap yang tidak baik dan kejelekan dari Naruto yang tentu saja tidak bisa di dengan oleh Sasuke karena ia tidak ingin ketahuan bahwa ia suka menggunakan kata-kata yang sedikit terlalu kasar bila membicarakan Naruto di depan Sasuke. Namun Naruto dan Kakashi bisa mendengarnya dengan jelas, Naruto karena kekuatan dari Kurama dan ia sudah terlatih untuk menguatkan indra pendengarannya dan Kakashi yang bisa membaca gerakan mulut.
'Penakut, kalau berani sini bicara langsung di depan!' Naruto kembali memeluk moncong Kurama dan mengelus kepala Kurama untuk menenangkannya, hal terakhir yang Naruto ingin terjadi adalah Kurama yang marah besar tanpa sengaja memasukkan cakra miliknya dan membuat Kakashi menjadi curiga karena bisa mendeteksinya.
Untuk mendinginkan suasana, Kakashi memutuskan untuk mengalihkan perhatiannya kepada muridnya yang paling terakhir dan tersenyum "Baiklah, selanjutnya dan yang terakhir"
"Namaku Uchiha Sasuke, ada banyak hal yang aku tidak sukai; salah satunya adalah seseorang yang tidak bisa diam dan menyebalkan" Sasuke melirik Sakura secara diam-diam dan mengerang pelan di saat ia melihat Sakura yang sepertinya tidak menyadari bahwa orang yang ia maksud adalah dirinya dan mengira bahwa Naruto lah orang yang ia maksud.
Kakashi menggeleng pelan, ia merasa seperti menonton sebuah kisah cinta yang bertepuk sebelah tangan, lagi-lagi ingatan nostalgia kembali menyerangnya, tapi perbedaannya kalau yang ini sedikit—atau munkin lebih menyedihkan dari pada ingatan tentang rekan satu kelompoknya dulu.
"Tidak banyak hal yang aku sukai" Sasuke menghela nafas panjang dan memutuskan untuk tidak melanjutkan omongannya sebelum ia mulai membicarakan hal yang tidak jelas dan bahkan ia tidak mengerti. Ia melirik Naruto yang hanya menatapnya dengan senyuman—atau munkin cengiran yang biasa terlukis di wajahnya waktu ia masih menjadi laki-laki, namun entah mengapa terlihat sedikit berbeda di matanya sekarang, munkin karena kini Naruto sudah berubah menjadi perempuan? Atau munkin karena aura yang di pancarkan oleh Naruto sudah berubah? Ia tidak tahu dan untuk sekarang ia tidak ingin tahu.
Kakashi harus menahan tawa di saat ia mendengar apa yang Sasuke katakan karena jawabannya mirip dengannya, hanya saja Kakashi tahu bahwa Sasuke menghentikan dirinya untuk melanjutkan omongannya, entah apa itu tapi Kakashi yakin ada hubungannya dengan Naruto.
"Ambisi—tidak, impianku adalah menghidupkan kembali klan Uchiha dan—" Sasuke memberi jeda sembentar dan menghela nafas panjang sebelum melirik Naruto sebentar dan melanjutkan omongannya "Menemukan kebenaran di balik masa laluku dan menemukan 'seseorang' untuk mendapatkan jawabannya"
Kakashi lagi-lagi di kagetkan dan kali ini dengan jawaban Sasuke, pertama Naruto yang berubah dan sekarang Sasuke? Ada apa ini? Kenapa ia tidak di beritahukan oleh siapapun mengenai perubahan dari Sasuke juga? Apakah hari ini adalah hari perubahan? Atau munkin ini ada hubungannya dengan perubahan Naruto?
Kakashi melihat reaksi Naruto dan benar saja, Naruto tersenyum puas dan menepuk punggung Sasuke seperti sedang memujunya, Sasuke tentu saja langsung merasa risih dan mendorong Naruto menjauh, tapi Kakashi bisa melihat dengan jelas semburat merah yang pelan-pelan menghiasi pipi Sasuke.
Kakashi adalah orang yang pintar dan tidak butuh seorang genius untuk mengetahui apa yang terjadi di antara mereka berdua dan bagai mana bisa Sasuke ikut-ikutan terpengaruh, tatapan iri bercampur cemburu yang di berikan oleh Sakura kepada Naruto juga menjadi pendukung dari apa yang di lakukan oleh Naruto terhadap Sasuke. Kakashi tidak tahu bagai mana caranya namun ia tahu Naruto telah melakukan sesuatu yang membuat Sasuke merubah ambisinya dan ada kemunkinan besar bersangkutan dengan buku yang tadi Naruto baca di kelas, ini mengingatkannya kepada Sasuke yang juga membaca buku yang membahas tentang perpindahan kekuatan dan cakra di kelas tadi.
"Bagai mana dengan hobimu Teme?" Naruto yang mendeteksi reaksi dan mood Kakashi dan mencoba mengalihkan pembicaraan serta menghangatkan suasana walaupun ia terang-terangan tidak menghiraukan tatapan tidak suka dari Sakura agar tidak membuat Kurama marah lagi.
"Menanam tomat?" Naruto nyengir, ia tahu bahwa tomat adalah makanan kesukaan Sasuke karena dulu ia sering melihat tomat sebagai bahan utama di dalam makanan yang biasa di makan Sasuke, mau itu di saat makan di luar atau ia membawanya dari rumah, termasuk di saat mereka makan ramen bersama. Jadi sebagai seorang prankster sejati tentu saja ia akan menggangu dan mengerjai Sasuke menggunakan informasi yang ia dapat itu.
Sasuke mati-matian membuat wajahnya tetap normal dan menahan rasa hangat di wajahnya, ia tahu wajahnya akan memerah karena malu dan ia punya harga diri untuk di jaga, ia tidak akan memperlihatkan sisi lemahnya kepada siapapun, apalagi Naruto "Jangan ngomong hal bodoh Dobe, hobiku adalah latihan"
Kakashi tersenyum kecil, setidaknya mereka berdua berteman dengan cukup baik dan ada kemunkinan besar bisa berkembang menjadi—tidak, tidak munkin dan Kakashi tidak mau berfikir yang tidak-tidak. Lagi pula ia punya perasaan tidak enak ke depannya kalau ia terus-terusan berfikir yang tidak-tidak mengenai mereka berdua, apa lagi mengenai Naruto.
"Oke! Hari ini cukup pengenalan saja, besok kita akan latihan dan aku akan menguji kalian" Kakashi mengangguk dan bangun dari posisinya, ia berjalan mendekat ke arah murid-muridnya dan melipat kedua tangannya di depan dadanya "Ujiannya hanya akan di lakukan oleh kita berempat, namanya Survival Training"
Naruto terdiam, ia mencoba memasang ekspresi senormal dan sekaget munkin saat ia mendengar apa yang Kakashi katakan namun ia merasa sedikit kesulitan karena ia harus menahan senyuman. Ingatannya mengenai ujian bersama rekan satu timnya langsung memenuhi pikirannya, ia masih mengingat semua kejadian dan semua detail apa yang terjadi di ujian tersebut.
"Survival Training?" Sakura menaikkan sebelah alisnya, kenapa tiba-tiba mereka di suruh latihan? Murid yang lain sepertinya langsung pergi bersama guru pembimbing mereka untuk melakukan misi "Kenapa tugas pertama kami adalah latihan? Kami sudah belajar banyak di akademi"
Kakashi tersenyum melihat ekspresi dan reaksi dari muridnya, ia melirik Naruto sebentar untuk melihat reaksinya. Tentu saja Naruto tidak mau menarik kecurigaan dengan memasang wajah kalau dia sudah tahu apa yang akan ia katakan dan apa yang harus mereka lakukan, jadi Naruto memasang ekspresi kebingungan dan memiringkan kepalanya sedikit "Ini bukan latihan biasa"
"Aku akan menjadi musuh kalian" Kakashi yang merasa puas dengan reaksi semua muridnya tersenyum, ia tidak sabar untuk menguji sebaik apa kelompok tujuh ini berkerja sama. Kakashi melirik Naruto dan lalu Sasuke, ia memiliki harapan bahwa mereka berdua akan berkerja sama dengan baik, sekarang tinggal Sakura saja yang butuh di bimbing.
"Aku masih tidak mengerti" Sakura mengerutkan keningnya dan menatap kesal Kakashi, ia masih tidak mengerti apa yang gurunya katakan dan ia masih tidak bisa mengerti sebenarnya maunya apa gurunya yang satu, yang ia tahu hanyalah namanya dan Kakashi kelihatan sangat mencurigakan, terlebih lagi ia masih belum bisa percaya bahwa orang sepertinya adalah seorang Jounin. Untuk pertama kalinya Sakura iri dengan Ino yang mendapatkan guru pembimbing yang kelihatan lebih baik darinya.
"Hehehe" Kakashi tertawa pelan dan membuat Sakura dan Sasuke semakin tidak nyaman berada di dekatnya, mereka berdua mulai mempertanyakan kewarasan guru mereka dan hanya Naruto saja yang kelihatan tidak terganggu dengan apa yang Kakashi lakukan.
"Kakashi-sensei, kau terdengar seperti psikopat kalau tertawa seperti itu" Kakashi berhenti tertawa dan mengalihkan perhatiannya ke arah Naruto yang mengangkat kedua tangannya dengan ekspresi takut yang di buat-buat "Kami baru saja lulus dari akademi, jangan bunuh kami"
Kurama tertawa terbahak-bahak mendengarnya 'Aku yakin dia tidak pernah membayangkan kalau kau akan mengatakan hal seperti itu kit!'
Kakashi membuat suara seakan-akan ia sedang batuk dan mengalihkan perhatiannya ke arah Sasuke dan Sakura yang sepertinya menahan tawa. Ternyata Naruto sedang mengerjainya, ia mengingatkan dirinya untuk berbicara sedikit lebih berhati-hati di depan Naruto, karena sekarang ia sudah lebih pintar "Tenang aku tidak akan membunuh kalian, hanya menakuti kalian sedikit"
Sasuke dan Sakura langsung berhenti tertawa dan menatap penuh curiga ke arah Kakashi, mereka seperti menyiapkan mental (dan senjata untuk jaga-jaga), sedangkan Naruto kali ini memasang ekspresi kaget dan seperti mengantisipasi apa yang akan Kakashi katakan.
'Aku tidak tahu kau bisa akting' Kurama membetulkan posisinya menjadi duduk sepenuhnya di lantai dan menjatuhkan kepanya di atas kedua tangannya, ia menutup matanya dan bersiap untuk tidur siang. Naruto menyenderkan tubuhnya di tubuh Kurama dan tertawa.
"Dari 27 orang, yang lulus menjadi Genin hanya 9 orang , sedangkan yang lain kembali lagi ke akademi. Latihan ini sangat sulit dan rata-rata kegagalan ada di atas 66 persen" Kakashi memasang ekspresi serius dan nadanya naik satu oktav, seperti menekankan kata-katanya. Ia memang sengaja membuat seakan-akan apa yang mereka lakukan besok adalah hal yang paling sulit yang akan mereka alami di hidup mereka.
Kakashi mengecek reaksi murid-muridnya, Sakura menatap horor dirinya dan sepertinya yang paling ketakutan, Sasuke tersentak kaget dan ia bisa melihat matanya sedikit membesar, sedangkan Naruto juga tersentak kaget dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Kakashi tersenyum, ia mendapatkan reaksi yang ia inginkan walaupun tanpa ia sadari; Naruto hanya sedang berpura-pura "Sudah aku katakan, kalian akan ketakutan"
Kakashi mengeluarkan tiga lembar kertas dari saku bajunya dan menyeringai "Aku akan menunggu kalian di tempat latihan, sebaiknya kalian juga tidak makan siang karena di takutkan kalian akan muntah nanti"
Kakasih memberikan kepada muridnya masing-masing satu lembar kertas dan seringaiannya menjadi senyuman, ia tidak sabar menunggu besok, semoga saja mereka semua memenuhi ekspetasinya dan bisa lulus ujian darinya ini, terutama Naruto "Detailnya ada di kertas ini, jangan terlambat oke?"
'Kau bicara dengan siapa hah? Dasar tidak sadar diri' Naruto tertawa lagi dan menepuk kaki Kurama, karena ia tahu; yang nanti paling terlambat adalah Kakashi sendiri dan ia akan bersikap seperti tidak ada masalah sama sekali besok.
"AKAN MUNTAH? APAKAH TUGASNYA AKAN SESULIT ITU?" Sakura mengigil ketakutan, ia baru saja lulus dari akademi dengan nilai yang cukup memuaskan dan ia satu kelompok dengan Sasuke, lalu tuhan secara tiba-tiba menghancurkan kebahagiannya dengan memberikan dirinya seorang guru yang tidak jelas dan sekarang di tambah dengan dirinya akan di uji dengan ujian yang bisa membuatnya muntah? Apakah tuhan sedang membencinya hari ini?
'Bila aku gagal maka aku akan terpisah dari Sasuke-kun dan Naruto bisa saja mencoba mendekati Sasuke-kun! Ini adalah ujian untuk cinta!' Sakura mengepalkan tangannya dan menatap langit dengan pandangan penuh semangat dan tekad baja, ia tidak akan sudi bila Naruto mendekati Sasuke dan akan melakukan apapun untuk memisahkan mereka berdua, karena baginya Naruto tidak pantas mendapat seorang laki-laki sesempurna Sasuke.
Sasuke hanya meremukkan kertasnya tanpa berkata apa-apa, baginya ujian ini akan menjadi sebuah latihan untuk memenuhi ambisi dan keinginannya untuk menemukan kakaknya, bila ia tidak lulus maka ia yakin ia tidak akan bisa menemukan kakaknya ataupun kebenaran dari masa lalunya, ia akan melakukan apapun demi bisa lulus dari ujian ini. Sasuke melirik Naruto, dalam lubuk hati yang terdalam ia juga tidak mau berpisah dari Naruto karena masih banyak sekali pertanyaan yang ingin ia tanyakan kepada Naruto mengenai Jutsu yang Itachi gunakan, karena Naruto juga di berikan kepintaran melalui Jutsu yang sama, kemunkinan besar Naruto tahu efek samping dari Jutsu tersebut; karena ia mencurigai Itachi mengunci ingatannya dan menyimpan sebuah rahasia darinya. Yah ia mencoba membuat dirinya berfikir bahwa ia tidak ingin terpisah dari Naruto karena hal tersebut, karena kalau bukan itu, lalu apa? Ia tidak mau tahu untuk sekarang.
Naruto membaca isi lembaran tersebut dan melipatnya lalu menyimpannya di saku celananya, ia berniat menyimpan kertas tersebut di sebuah album di mana ia akan mengumpulkan benda-benda yang menjadi ingatan manisnya di masa lalu, maka di masa depan ia bisa membaca album tersebut dan tersenyum sambil mengingat-ingat masa lalu yang sudah ia perbaiki. Kurama hanya melirik sebentar Naruto lalu kembali menutup matanya.
"Baiklah, aku akan latihan sekarang" Sakura bangun dari posisinya dan membersihkan pakaiannya dari debu yang tidak terlihat lalu berlari ke pintu keluar dari atap setelah melambai ke arah Sasuke dan Naruto (walau ia melambai ke arah Naruto dengan ekspresi sedikit kesal) sebagai tanda perpisahan.
"Baiklah, aku pergi duluan ya, aku ada sedikit urusan" Kakashi melambai ke arah Naruto dan Sasuke lalu dalam waktu sekejap sebuah asap putih menutupi seluruh tubuhnya bersamaan munculnya bunyi 'poof' dari tempatnya berdiri, di saat asap putih tersebut sudah hilang Kakashi juga sudah hilang dari tempatnya berdiri tadi.
Naruto merenggangkan tubuhnya dan mengeluarkan bekal makanannya, ia memutuskan memakan bekalnya sekarang karena selain ia sudah nyaman duduk di posisinya dan bersender di badan Kurama (di realiti, ia bersenderan di dinding dekat tangga), ia juga tidak mau membangunkan kurama, ia terlihat nyaman bermandikan sinar matahari dan tertidur pulas.
Ia memakan satu buah nasi kepal dan menawarkan bekalnya kepada Sasuke yang masih belum beranjak dari posisinya; membuat Sasuke sedikit tersentak kaget namun mengambil satu buah nasi kepal, ia menggit nasi kepal yang ia ambil dan langsung membulatkan matanya di saat ia menyadari apa isi dari nasi tersebut; tomat.
"Terimakasih atas bahan makanannya Teme, tapi lain kali kalau mau masuk ke kamarku tolong jangan secara diam-diam" Naruto menyeringai di saat ia melihat ekspresi Sasuke dan tertawa, ia mendapat hadiah berupa tonjokan di lengannya dari sahabatnya yang sedang berusaha menahan rasa hangat yang muncul di wajahnya dan mencoba sebisanya untuk menyembunyikan wajahnya yang sedikit memerah.
Kakashi bukannya berniat ingin menjadi stalker atau penguntit, hanya saja ia memang di tugaskan untuk mengawasi gerak-gerik Naruto, maka dari itu ia harus secara diam-diam mengikuti Naruto dan memperhatikan dengan seksama bahasa tubuh Naruto.
Seusai memakan bekalnya bersama Sasuke (Kakashi sedikit menyesal untuk tidak makan bersama mereka agar ia bisa dengan lebih baik memperhatikan mereka berdua dan ia jadi sedikit iri karenanya), Naruto berpisah dengan Sasuke di saat keluar dari akademi, Sasuke pergi pulang ke rumahnya dan ingin berlatih sedangkan Naruto pergi ke arah gedung milik Hokage.
Sesampainya di gedung Hokage Naruto langsung mendatangi Sandaime dan langsung menasehatinya mengenai memasuki apartemen miliknya tanpa seizinnya dan mengganti furniturnya, Naruto juga protes mengenai Sandaime yang mengganti pakaiannya dan memperlakukannya seakan-akan ia adalah perempuan tulen, Naruto mengingatkan bahwa walau tubuhnya sudah berubah menjadi perempuan, jiwanya adalah laki-laki sejati.
Sandaime tentu saja mencoba bernegosiasi dengan Naruto agar ia tetap menggunakan pakaian dan barang-barang yang ia berikan kepadanya, tentu saja Naruto dan Sandaime berakhir adu argument dengan (sedikit mengejutkan) Naruto sebagai pemenangnya. Naruto membuat Sandaime berjanji untuk tidak mencoba membuat dirinya menggunakan peralatan wanita lebih dari yang ia sudah berikan kepadanya dan tidak akan lagi mencoba memasuki apartemennya dan memberika barang-barang aneh lagi kepadanya.
Namun Sandaime berhasil menyuruh Naruto untuk menggunakan pakaian yang ia berikan dan memberi alasan bahwa pakaian lamanya kini sudah usang dan tidak akan muat lagi untuknya. Namun sepertinya Naruto malah menjadi curiga dan menanyakan dari mana Sandaime bisa tahu ukuran pakaiannya dan dari mana ia bisa mendapatkan pakaian dalam wanita.
Kakashi hanya bisa menonton dari jauh dan merasa iba dengan Sandaime yang terus-terusan di serang oleh begitu banyak pertanyaan secara bertubi-tubi oleh Naruto. Hingga akhirnya Naruto puas dan meninggalkan ruangan Hokage, meninggalkan Sandaime yang lelah batin. Kakashi hanya bisa berdoa dari jauh agar umur Sandaime tidak di perpendek karena di nasehati terlalu banyak oleh Naruto lalu kembali mengikuti Naruto.
Kali ini Naruto berjalan-jalan di pasar di tengah desa Konoha, Kakashi bisa melihat berberapa warga memberikan pandangan tidak suka terhadap Naruto dan banyak yang berbisik-bisik mengenai dirinya, kebanyakan mengenai hal-hal buruk yang kebanyakan mengenai Naruto sebagai monster penghancur Konoha. Kakashi hanya bisa menghela nafas panjang dan mencoba menenangkan dirinya, ia tidak senang mendengarkan apa yang orang-orang katakan mengenai Naruto, namun sepertinya Naruto sendiri tidak menghiraukan apa yang mereka katakan.
Setelah puas jalan-jalan Naruto pergi ke tempat pemandian air panas dan mandi di sana, membuat Kakashi berhenti dan memutuskan untuk meninggalkan Naruto sendirian dan memberikan ruangan prifasi kepadanya, lagi pula ia tidak mau di anggap sebagai orang mesum. Yah walaupun ia membaca novel porno buatan Jiraya di depan umum, bukan berarti ia tukang intip juga.
Namun yang tidak di ketahui oleh Kakashi adalah ia sedang mengikuti bunshin milik Naruto dan Naruto tahu kalau Kakashi sedang mengikutinya, tentu saja Naruto memutuskan untuk mengelabui Kakashi mengikuti bunshinnya yang di masukkan cakra yang cukup banyak sehingga terlihat seperti orang betulan.
Naruto yang asli tengah berada di hutan di bagian luar Konoha dan sedang dalam perjalanan ingin menemui seseorang, dan seseorang itu tengah menunggunya di sebuah hamparan rumput yang terletak cukup jauh dari desa Konoha. Mereka berdua berjanjian untuk bertemu di sana.
Dengan kecepatan super menggunakan bantuan cakra dari Kurama, Naruto melompat dari satu pohon ke pohon lain, di saat ia sudah melihat tempat mereka berjanji untuk bertemu, ia melihat sebuah siloet hitam seorang laki-laki yang tengah menunggu kehadirannya di sana. Laki-laki tersebut tengah duduk di atas batu yang cukup besar di tengah-tengah padang rumput, ia menggunakan jubbah panjang dan topi jerami yang menyembunyikan identitas aslinya.
Naruto tersenyum lebar, ia melompat dengan sangat tinggi dan mendarat dengan mulus di depan orang tersebut, senyumannya berubah menjadi seringaian di saat ia bertatap mata dengan lelaki tersebut.
"Senang bisa bertemu denganmu lagi, Itachi-san"
To Be Continue
!Author Notes!
Another chapter down~ 10 more to go!
Setelah berjuang menyelesaikan fanfic ini dan menahan keinginan untuk menghabiskan waktu tidur-tiduran dan main DOTA 2, akhirnya chapter ini kelar juga!
Di karenakan besok saya harus masuk kuliah (padalhal baru selesai ujian, hiks) jadi kemunkinan besar up-date akan sedikit telat, kemunkinan lusa baru ada chapter baru.
Untuk yang menanyakan soal pairing, jawaban saya masih sama dengan dulu: masih menunggu, jadi belum pasti SasuNaru!
Sekian dan terimakasih, sampai jumpa lagi di chapter depan!
Review please
Tolong beri masukan terhadap cerita yang baru ini
Yang masih mau baca chapter yang aslinya atau yang sebelumnya untuk di baca dan di bandingkan silakan bilang, nanti saya kirimkan
