Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto

Warning: Mengandung Gender Bender, Semi-Au, Time Travel, Miss Typoo, Mild Sakura Bashing, dll


!Author Notes!

Halo! Bertemu lagi dengan saya! Senang saya bisa menemukan waktu luang dan kembali menulis. Mengingat ini masih minggu pertama kuliah di mulai kembali setelah ujian, tugas masih belum menumpuk dan sepertinya kebanyakan tugas adalah tugas kelompok.

Hmmm entah mengapa review di chapter 6 tidak bisa saya lihat di situs FFN namun saya mendapat email bahwa saya mendapat review, munkin kesalahan dari situsnya.

Untuk yang mau membaca fanfic To The Past yang dulu mohon bersabar karena saya sedang membongkar data-data saya untuk menemukan semua chapternya dan nanti akan saya post di blog saya, mohon kesabarannya, terimakasih!

Untuk sementara silakan menikmati cerita To The Past yang terbaru ini!


Perjalanan ke desa Tazuna terasa sangat cepat. Setelah Tazuna berbicara dengan Kakashi dan mendapatkan izin dan persetujuan dari Kakashi untuk melanjutkan misi, mereka melanjutkan perjalanan menggunakan sebuah perahu kecil untuk menyebrangi sungai, tentu saja Kakashi tidak menerimanya begitu saja. Kakashi mencoba menolak permintaan Tazuna namun Naruto memaksanya untuk melanjutkan misi dan sangat keras kepala, ia sampai mengatakan bahwa kalau Kakashi tidak mau maka ia akan menjaga Tazuna sendirian.

Ia tidak mau Naruto pergi sendiri dan lebih parahnya lagi ketahuan bahwa ia adalah seorang Jinchuriki, karena jelas sekali ninja bayaran yang di suruh untuk membunuh Tazuna adalah ninja dari desa lain yang kemunkinan besar adalah musuh Konoha. Kakashi tidak mau mengulang kesalahannya lagi yang akan mengakibatkan dirinya kehilangan seseorang yang ia anggap dekat, ia tidak mau Naruto berakhir seperti Rin.

Namun apa daya, Kakashi tidak bisa melakukan apapun karena Naruto yang sangat keras kepala dan akhirnya mengalah, lebih baik di ambil sisi positifnya saja: Ia bisa memperhatikan gerak-gerik Naruto dan melihat apa saja yang berubah dari Naruto, terutama kekuatannya.

"Kabutnya tebal sekali… aku sampai tidak bisa melihat apapun" Naruto yang duduk di bagian depan perahu memeriksa sekitarnya, walau ia tidak bisa melihat apapun; ia bisa merasakan keberadaan orang-orang di sekitarnya dan ia masih bisa dengan sangat jelas merasakan chakra milik Bee yang masih mengikutinya.

Perahu yang mereka tumpangi berjalan dengan sangat lambat karena di dayung oleh sang pemilik perahu itu sendiri, Sakura tadi sempat menannyakan kenapa ia tidak menggunakan mesin yang terpasang di belakang perahu agar sampai lebih cepat namun sang pendayung hanya bisa menggelelngkan kepalanya dan mengatakan bahwa mereka harus masuk secara diam-diam dan bila mereka menggunakan mesin tersebut maka mereka akan ketahuan karena suaranya yang terlalu berisik.

"Kita bisa melihat jembatannya sebentar lagi, desanya ada di dekat jembatan itu" Kata sang pendayung sambil mendayung perahunya dengan perlahan agar tidak membuat suara sama sekali, ia mendayung dengan sangat hati-hati dan kelihatan sekali bahwa ia ketakutan.

Naruto merasa iba dan berjanji kepada dirinya bahwa ia akan membantu mereka lagi, ia tidak akan pernah mengingkari janjinya karena itulah jalan ninja yang ia ambil.

Naruto harus menahan tawa di saat mereka melewati jembatan yang sang pendayung tadi katakan, ia bisa merasakan bahwa Bee sekarang tengah berenang tidak jauh dari tempat mereka berada, ia bisa merasakan Bee mengeluarkan tentakel Gyuki untuk berenang lebih cepat seperti seekor gurita dan melesat dengan cepat melewati perahunya, ia tahu bahwa Bee mau mengatakan bahwa ia akan duluan pergi ke tempat perjanjian mereka.

Naruto melirik Kakashi yang kelihatannya sedikit menyadari bahwa ada sesuatu yang melewati perahu mereka dengan cepat, jadi Naruto menunjuk secara asal air yang ada di bawahnya "Wah, aku lihat ikan besar!"

Sasuke yang penasaran melihat tempat yang di tunjuk Naruto dan menaikkan sebelah alisnya, ia tidak melihat ada ikan sama sekali namun berberapa saat kemudian ada berberapa ikan yang lewat "Hanya ikan biasa"

"Sensei, ada ikan!" Naruto menatap Kakashi sambil tersenyum lebar, ia tetap menunjuk tempat yang sama. Kakashi yang melihatnya hanya tersenyum kecil dan mengangguk, ia merasa sedikit tenang dan senang mengetahui bahwa Naruto masih memiliki sifat kekanak-kanakannya, ia senang melihat mata berwarna biru cerah Naruto menyiratkan sinar kebahagiaan dan kepolosan. Namun yang Kakashi tidak tahu bahwa mata Naruto bersinar seperti itu karena ia tidak sabar untuk bertemu dengan Bee dan senang bisa melihat Bee setelah sekian lama tidak bertemu.

"Kita akan sampai sebentar lagi, tempatnya tersembunyi jadi kedatangan kalian tidak akan di ketahui oleh siapapun" Setelah melewati jembatan dengan sangat hati-hati akhirnya mereka bisa melihat pemandangan sekitar karena kabut yang mulai menipis hingga Naruto dan rekannya bisa melihat pelabuhan yang berada tidak jauh dari jembatan yang tadi mereka lewati. Perahu yang mereka tumpangi akhirnya merapat ke sebuah rumah kecil yang terletak tidak jauh dari jembatan yang ternyata adalah jembatan yang sedang Tazuna buat.

Naruto dan rekannya turun dari perahu tersebut, setelah Tazuna berterimakasih kepada sang pemilik perahu mereka kembali melakukan perjalanan dengan jalan kaki. Tazuna mengatakan bahwa mereka akan pergi ke rumahnya terlebih dahulu "Baiklah, sekarang kita akan pulang ke rumah dengan aman!"

"Ya, ya" Kakashi menghela nafas panjang, ia merasa lelah dan ia tahu bahwa apa yang Tazuna katakan bisa saja salah dan mereka akan di serang oleh ninja bayaran yang mau membunuh Tazuna 'Kalau saja kita di serang lagi maka misi ini telah berubah menjadi level Jounin'

Naruto yang menyadari nada bicara Kakashi hanya bisa tertawa dalam hati, ia tahu bahwa Kakashi sudah merasa lelah duluan dan khawatir dengan apa yang akan terjadi nanti. Kurama yang bisa merasakan kegelisahan Kakashi hanya menyeringai, ia masih ingat dengan apa yang akan terjadi selanjutnya dan pastinya apa yang akan terjadi dengan Kakashi 'Haha, dugaanmu memang benar Hatake'

Naruto hanya bisa menggeleng pelan, ia tahu bahwa Kurama masih tidak menyukai Kakashi namun setidaknya ia akan tetap membantu Kakashi nanti jadi luka dan cidera yang Kakashi dapatkan tidak akan separah sebelumnya, walaupun Kurama sedikit protes.

'Untuk sekarang kita harus berpura-pura tidak tahu bahwa Zabuza tidak akan menyerang kita nanti. Namun sayang sekali Occhan sudah pergi duluan, padalhal aku mau Occhan melihatku bertarung… dan mendapat pujian nanti…' Naruto sedikit sedih dan kecewa karena Bee pergi duluan, ia ingin memperlihatkan kepada Bee bahwa ia sudah bisa mengendalikan chakranya dan mengendalikan kekuatannya lalu ia akan mendapat pujian, rasanya ingin sekali ia mendapat pujian dari kakak angkatnya yang satu itu.

Sedangkan Bee yang sudah berenang menjauh dan kini tengah mengeringkan dirinya di ujung sungai serta sedang duduk di atas pohon yang cukup tinggi, ia tahu bahwa ada seseorang yang mengikutinya dan ia tahu bahwa seseorang tersebut adalah seorang ninja bayaran yang salah mengira bahwa dirinya adalah musuhnya. Secara tidak langsung memang benar ia bukan teman dari ninja tersebut namun mengikuti seseorang tanpa mengetahu siapa sebenarnya orang tersebut bisa berakibat fatal, seperti apa yang terjadi oleh dua orang ninja yang mencoba menghadang Tazuna yang sedang di jaga oleh Naruto dan rekannya.

Bee berpura-pura tidak mengetahui keberadaannya dan benar saja, ninja tersebut langsung menyerang dirinya dengan pedang. Ninja tersebut dengan cepat dan mudah memotong kepala Bee yang ternyata hanya sebuah kagebunshin. Sebelum sang ninja bisa bereaksi melihat bahwa yang ia bunuh hanyalah bunshin, tubuhnya sudah terpental dengan sangat jauh hingga menabrak pohon.

Sang ninja langsung tewas seketika dengan luka yang menganga lebar di dadanya, tulang rusuknya pecah dan remuk, mengekspos jantungnya yang tidak berdetak lagi "Sebuah kesalahan besar bila kamu ingin menyerangku seperti itu baka yarou~ kono yarou~!"

Bee langsung pergi dari tempat tersebut dan melanjutkan perjalanannya, namun tidak lama kemudia seorang penghuni desa yang sedang mencari kayu bakar menemukan mayat ninja yang baru saja di bunuh oleh Bee, sang penghuni desa tersebut langsung muntah di tempat dan pingsan.

Seorang laki-laki yang mengenakan jubah berwarna hitam dengan motif awan berwarna merah muncul dari balik pohon tempat mayat Ninja yang di bunuh oleh Bee bersandar, sebuah seringaian terlukis di bibirnya, memperlihatkan gigi taringnya yang berderet dengan rapi.

"Ceroboh sekali dia" Laki-laki tersebut mengambil pedang yang ukurannya hampir sama dengannya dari punggungnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi sebelum mengayunkannya ke arah mayat yang ada di depannya "Lain kali bersihkan jejakmu kalau tidak mau ketahuan"

Suara daging yang di potong terdengar dari tempat lelaki tersebut muncul yang di ikuti dengan cipratan darah dan ayunan pedang, seekor gagak yang bertengger di pohon menjadi saksi semua hal yang terjadi di situ.


Kakashi tahu bahwa akhirnya akan menjadi seperti ini namun bukan berarti ia tidak mencoba untuk menghentikan atau menghindari agar hal tersebut tidak terjadi. Kini ia terjebak di dalam penjara air milik salah satu ninja bayaran yang di bayar untuk membunuh Tazuna: Zabuza Momochi.

Ia tidak bisa membebaskan dirinya dan sekarang Zabuza mengeluarkan bunshin yang sudah siap menyerang orang yang berada paling dekat dengannya, Naruto.

"Naruto! Lari!" Kakashi berteriak sambil terus mencoba membebaskan dirinya namun apa daya, kekuatannya terkuras dan ia masih tidak bisa menghancurkan penjara air yang Zabuza buat. Namun ia di kejutkan dengan mengeluarkan kunai dari kantung senjatanya dan melompat dengan sangat tinggi, Zabuza mendongak ke atas untuk melihat Naruto namun dari bawahnya muncul bunshin Naruto yang menendangnya ke atas; ke arah dirinya yang tadi melompat dan sudah memasang posisi kaki di angkat ke atas dan menendang Zabuza hingga terpental ke arah di mana Sasuke tengah berdiri.

"Teme!" Naruto memanggil Sasuke dan menyeringai, ia seperti memberikan kode kepada Sasuke untuk melakukan sesuatu. Sasuke yang menyadarinya langsung menyeringai dan membuat hand seal, sudah tahu apa yang Naruto ingin ia lakukan.

"Katon: Gokakyu no Jutsu!" Sasuke menyemburkan sebuah bola api besar yang langsung mengenai bunshin milik Zabuza yang di tendang Naruto ke arahnya, sebuah bunyi 'pof' menandakan bahwa bunshin milik Zabuza kini sudah menghilang dan terkalahkan.

"Heh, bocah sialan, jangan kira aku akan mengalah begitu saja" Desis Zabuza yang masih menahan penjara air milik Kakashi, kini ia sudah siap melakukan serangan berikutnya dan membuat Kakashi menjadi panik.

"Apa yang kalian lakukan?! Kabur! Pertarungan ini sudah berakhir di saat aku telah tertangkap! Misi kalian adalah melindungi Tazuna! Sekarang pergi dari situ dan bawa Tazuna ke tempat yang aman!" Bukannya ingin meremehkan namun Kakashi tahu bahwa muridnya tidak akan bisa menang melawan Zabuza. Walau ia sedikit terkejut melihat Naruto yang bisa dengan mudah mengalahkan bunshin milik Zabuza dan berkerja sama dengan Sasuke tanpa kordinasi terlebih dahulu dalam waktu bersamaan, ia akan mencatat apa yang ia lihat dan melaporkannya ke Sandaime… kalau ia berhasil keluar dari penjara air ini dan menyelesaikan misi ini dalam keadaan utuh.

Naruto cemberut mendengar apa yang Kakashi katakan lalu mengalihkan pandangannya ke arah Tazuna yang berdiri di belakang Sakura, matanya menjadi sedikit membersar dan berkaca-kaca "Kakek…"

Tazuna yang melihatnya hanya tersenyum kecil sambil menepuk kepala Sakura yang juga memberikan tatapan yang sama, ia tahu bagai mana cara menyelamatkan dirinya dari tatapan maut tersebut karena Tsunami pernah melakukan hal yang sama berkali-kali terhadapnya "Maaf Sensei tapi aku ingin melihat seberapa kuat anak-anak ini. Maka dari itu: bertarunglah sepuas kalian"

Sasuke menyeringai mendengar jawaban Tazuna dan memberi tatapan puas kepada Kakashi yang hanya bisa diam seribu bahasa dan menatap tidak percaya Tazuna "Kau dengar itu?"

Naruto menyeringai dan melompat ke arah Sakura dan Sasuke, ia mendarat dengan mulus di antara Sasuke dan Sakura lalu merangkul mereka berdua untuk membuat mereka dekat dengannya "Yosh! Aku ada rencana!"

Tazuna tersenyum melihat Naruto, Sasuke, dan Sakura. Senyuman yang terlukis di wajahnya melebar dan menghangat melihat Naruto memberikan intruksi kepada Sasuke dan Sakura walau berberapa kali Sasuke menyanggah dan menambah berberapa ide yang ia miliki juga.

Setelah berberapa detik, mereka bertiga tersenyum dan mengangguk lalu melompat ke arah yang berbeda dan menghilang dengan cepat, Zabuza yang melihatnya hanya menatap tajam tempat mereka bertiga berdiri tadi dan menyiapkan tiga buah bunshin untuk menyerang mereka bertiga.

Sebuah kunai meluncur dengan kekuatan super dari arah samping Zabuza yang sangat cepat bisa Zabuza tangkis dan mengakibatkan kunai tersebut terjatuh ke bawahnya dan di susul dengan fuma shuriken yang di lempat dari arah depannya.

Bunshin milik Zabuza langsung melompat ke depan Zabuza dan bersiap menangkis shuriken tersebut namun tiba-tiba saja shuriken tersebut berubah menjadi Naruto. Naruto menyeringai dan menendang kepala bunshin Zabuza hingga terpental ke samping dan menabrak pohon.

Zabuza yang melihatnya tidak bisa mempercayai apa yang ia rasakan, ingatan dari bunshin miliknya yang telah menghilang memberi tahu kepada dirinya bahwa bunshin miliknya tidak bisa bergerak sama sekali dan tidak dapat melindungi dirinya di saat Naruto menyerangnya.

Bunshin miliknya tidak bisa menggerakan seluruh tubuhnya, ia merasa seperti seekor tikus yang sedang berhadapan dengan ular raksasa… atau munkin rubah? Ia seperti melihat seekor rubah raksasa di belakang Naruto yang menatap tajam dirinya dan memperlihatkan gigi taringnya yang ia yakin bisa mencabik-cabik siapapun hanya dalam waktu hitungan detik.

'Tidak munkin! Chakra sebesar dan sekuat itu bisa di keluarkan oleh bocah ingusan ini! pasti ini sebuah genjutsu!' Zabuza bersiap untuk membangunkan dirinya dari genjutsu yang ia pikir di gunakan oleh salah satu dari tiga orang yang menyerangnya dengan kai namun sebelum ia bisa melakukannya, sebuah semburan bola api keburu melayang ke arahnya.

"Cih!" Zabuza mendecak dengan kesal dan mengeluarkan jutsu airnya untuk memadamkan api tersebut dengan bunshinnya, namun ia melakukan sebuah kesalahan fatal dengan tidak memperhatikan Naruto yang masih ada di depannya.

"Sakura-chan!" Naruto berteriak dan melempar berberapa buah kunai yang sudah di tempelkan kertas peledak ke arah Zabuza, Sakura yang di berikan aba-aba oleh Naruto langsung mengaktifkan kertas tersebut yang sudah siap meledak tepat di depan Zabuza.

Zabuza yang tidak bisa melakukan apa-apa terpaksa melompat menjauh dari ledakan tersebut yang mengakibatkan dirinya harus melepas penjara air yang menahan Kakashi, membebaskan Kakashi yang langsung di bantu bangun oleh Naruto.

Kakashi menatap takjub Naruto, Sasuke dan Sakura, ia merasa sedikit malu karena ia meremehkan muridnya sendiri namun ia juga senang melihat muridnya bisa berkerja sama dengan baik. Kakashi juga mengingatkan dirinya untuk mencatat bahwa Naruto menjadi sangat pintar dan kini pintar untuk mengatur strategi. Entah mengapa semakin ia lihat perkembangan Naruto, ia semakin melihat Naruto berubah menjadi mirip gurunya yang juga ayah kandung dari Naruto sendiri; Minato.

"Bocah-bocah sialan!" Zabuza mengerang dengan kencang dan melepaskan pedang andalannya dari penahan di punggungnya, ia sudah siap menyerang lagi dan ia sedang marah besar, tidak munkin ia di kalahkan oleh bocah ingusan seperti mereka!

"Baiklah anak-anak, sisanya serahkan kepadaku, akan aku tunjukkan kekuatan Jounin yang sebenarnya" Kakash mengangguk sebagai tanda terimakasih kepada Naruto dan bangun dari posisinya, ia sudah bersiap mengeluarkan serangan miliknya juga untuk bertarung dengan Zabuza.

Naruto menyeringai dan melompat ke arah depan Tazuna dan mendarat dengan mulus yang di ikuti oleh Sasuke dan Sakura. Mereka bertiga tersenyum dan saling bertukan tos, sebuah senyuman puas dan bahagian terlukis di wajah mereka. Tazuna yang melihat mereka bertiga tersenyum dan menepuk kepala mereka bertiga secara bergantian "Kerja bagus kalian!"

Naruto yang sangat menyukai pujian tersenyum lebih lebar dan wajahnya sedikit memerah, ia terlihat menikmati apa yang Tazuna lakukan kepadanya. Sakura tersenyum puas dan mengangguk, ia merasa senang bisa menjalankan tugasnya dengan benar walau ia harus mengakui bahwa ini semua berkat ide Naruto. Sedangkan Sasuke hanya membuang mukanya dan menjauh dari tangan Tazuna, ia tidak terlalu senang di puji-puji namun ia melirik Naruto secara diam-diam dan senyuman simpul terlukis di wajahnya.

Naruto sedikit terlonjak kaget secara tiba-tiba dan langsung menyembunyikan reaksinya, ia merasakan sebuah chakra seseorang, seseorang yang tidak seharusnya berada di sini sekarang dan sekarang sedang bersembunyi 'Chakra ini... tidak munkin!'

Kurama mengerang pelan, ia juga merasakan keberadaan orang tersebut namun ia juga merasakan ada chakra lain di samping orang tersebut dan itu membuat dirinya sedikit rileks, pelan-pelan ia menyambungkan indentitas dari orang tersebut dan siapa pemilik chakra yang satu lagi 'Partner Uchiha Itachi, Kisame Hoshigaki… aku tidak tahu mengapa ia bisa berada di sini namun sepertinya ada hubungannya dengan Itachi, aku bisa merasakan keberadaannya dalam bentuk gagak'

Sebuah lipatan terbentuk di kening Naruto, ia berfikir dengan keras mengapa partner Itachi yang terkenal dengan kesadisan dan kekuatannya bisa ada di sini? Seingatnya ia tidak memiliki ingatan dari masa depan namun Itachi sepertinya mengawasinya, apa yang sebenarnya Itachi lakukan?

"Ada apa Dobe? Kau kelihatan… takut?" Sasuke yang menyadari bahwa Naruto tiba-tiba terlihat kesulitan menatap bingung Naruto, bukannya tadi ia sedang senang di puji? Ia tidak tahu alasan yang membuat teman satu kelompoknya yang satu ini terlihat sedang berfikir dengan sangat keras dan seperti sangat gelisah.

"Ah? Tidak ada apa-apa Teme, aku hanya sedang serius melihat Kakashi-sensei berterung" Naruto menutupi emosi aslinya dengan menyeringai dengan lebar ke arah Sasuke, ia tidak boleh membuat teman-temannya cemas dan panik, terutama Sasuke. Pasti akan terjadi masalah dan kekacauan yang sangat besar bila mereka mengetahui bahwa ada anggota Akatsuki yang sangat kuat dan berbahaya yang juga merupakan partner dari Uchiha Itachi sedang memperhatikan mereka.

Setidaknya Naruto tahu bahwa Itachi tidak akan bertindak gegabah dan sembarang, pasti ia memiliki sebuah rencana dan alasan mengapa partnernya bisa ada di sini.

Kisame yang sedang menyembunyikan dirinya namun sambil menonton pertarungan Kakashi dengan Zabuza menyeringai, ia menikmati apa yang sedang ia lihat namun ia juga ada perasaan ingin ikut dan bertarung melawan mereka berdua, namun ia mengurungkan niatnya karena ia tahu Itachi akan marah dan tidak senang melihatnya.

"Sepertinya aku melakukan hal yang benar, untung aku mengikuti instingku." Kisame berasandar di pohon tempat ia bersembunyi dan melirik burung gagak yang bertengger tidak terlalu jauh darinya "Aku tidak tahu dari mana dan bagai mana bisa kau mengetahui bahwa Zabuza berada di sini"

Burung gagak yang di ajak bicara oleh Kisame tidak menjawab pertanyaan Kisame. Kisame terlihat tidak keberatan dan hanya melanjutkan menonton pertarungan antara Zabuza dan Kakashi, seringaiannya melebar melihat Kakashi menggunakan sharingan miliknya untuk mengcopy jutsu milik Zabuza "Semua yang kau ceritakan benar-benar terjadi, walau dengan sedikit perbedaan… seperti yang kau katakan"

"Aku hanya mengatakan kebenaran Kisame" Akhirnya sang burung gagak yang di kendalikan oleh Itachi berbicara dan mengalihkan pandangannya ke arah Naruto "Karena hanya kebenaran yang kita butuhkan di dunia ini"

Kisame mengangguk, seringaian yang terlukis di wajahnya tidak pernah menghilang dan ia melipat kedua tangannya di depan dadanya. Namun seringaiannya menghilang melihat ada seseorang yang mengganggu pertarungan tersebut di saat klimaks; ia menatap tidak suka ke arah seorang ANBU dari Kirigakure yang muncul secara tiba-tiba dan 'membunuh' Zabuza "Bah, walau aku tahu kau sudah bilang akhirnya akan seperti ini tetap saja aku kesal melihatnya"

Kisame menatap tidak suka ANBU yang membawa kabur Zabuza, ia sudah tahu siapa sebenarnya ANBU tersebut dan ia akhirnya mengalihkan perhatiannya ke arah Naruto, tiba-tiba sebuah ide muncul di kepalanya "Kau tidak keberatan bila aku mengunjungi kouhaiku yang memalukan satu itukan? Hanya ingin memberikan salam saja"

Sang gagak menatap Kisame sebentar sebelum memberikan jawabannya "Asal kau tidak berbuat yang aneh-aneh"

Kisame menyeringai dan berpindah dari tempat persembunyiannya, ia mengikuti ANBU yang membawa kabur Zabuza, ia menyadari bahwa Naruto mengetahui keberadaannya dan bisa melihatnya karena Naruto memberikan tatapan tajam ke arahnya. Kisame hanya membalas tatapan Naruto dengan seringaian terlebar miliknya yang memperlihatkan gigi-gigi tajamnya yang berderet rapi, ia tertawa dalam hati melihat Naruto yang merinding karenanya.

Untungnya tidak ada yang menyadari bahwa Naruto merinding karena melihat Kisame memberikannya senyuman mirip ikan hiu (?), Ia menggeleng dengan sangat cepat, ia bukannya takut hanya saja tidak nyaman melihatnya 'Aaakh! Aku tidak tahu bagai mana bisa Itachi bisa berkerja sama dengan baik dengannya! Senyumannya… tidak—ekspresinya membuatku tidak nyaman!'

'Hah, orang aneh biasanya berkumpul dengan orang aneh lainnya, tidak aneh melihat dirinya bisa berteman baik dengannya. Bukankah kau sendiri yang mengajariku? Jangan menilai buku dari sampulnya' Kurama sebenarnya sedikit menikmati ekspresi yang Naruto buat, ia senang melihat Naruto mengeluarkan berbagai macam ekspresi karena baginya itu adalah hiburan yang paling ia sukai.

'Bukan! Bukan maksudku seperti itu! Hanya saja aku merinding melihatnya! Yang aku maksud adalah wujudnya, Itachi kelihatan laki-laki yang paling tampan yang pernah ada di muka bumi ini bila di bandingkan dengannya… aku jadi kasihan dengannya, pasti ia suka di banding-bandingkan oleh orang-orang dengan Itachi'

'Dari nada bicaramu sepertinya ada sedikit perasaan kesal di situ dan sepertinya berdasarkan dari pengalaman sendiri. Kau bersimpatik dengannya karena dulu kau selalu di banding-bandingkan dengan Sasuke ya'

Naruto cemberut mendengar apa yang Kurama katakan dan memutuskan untuk tidak mejawabnya, ia memilih untuk membantu Kakashi yang sedang kelelahan dan cideran dengan melingkarkan satu tangan Kakashi ke pundaknya dan membantu Kakashi menyeimbangkan dirinya sambil mencoba tidak menghiraukan Kurama yang tertawa dengan keras "Sensei jangan memaksakan diri"

"Haha, aku tidak apa-apa Naruto, kamu pasti kelelahan juga setelah melindungi Tazuna dan bertarung dengan Zabuza tadi, kau juga butuh istirahat" Jawab Kakashi sambil mencoba sebisanya tidak membebani Naruto, walau ia tahu sebelah kakinya terluka sangat berat dan kemunkinan tidak akan bisa di gunakan selama satu minggu atau sampai lukanya sudah sembuh, di saat seperti ini Kakashi sangat merindukan timnya yang memiliki kunoichi yang bisa menggunakan jutsu penyembuh.

Naruto menggeleng pelan, ia tidak lelah sama sekali malah sebaliknya ia sangat bersemangat dan penuh energi berkat kekuatan tambahan dari Kurama, lagi pula ia bahkan hanya menggunakan kurang dari lima persen dari kekuatan sepenuhnya; kalau ia mau bisa saja ia menyelesaikan pertarungan tersebut hanya dalam waktu lima menit namun tentu saja ia harus menutupi kekuatan sebenarnya yang ia miliki.

"Dobe, gantian sini" Sasuke langsung menarik tangan Kakashi yang sebelahnya dan menjauhkan Kakashi dari Naruto, ia tidak senang melihat Naruto terlalu dekat dengan Kakashi entah mengapa, ia dengan sangat handal menghindari pikiran bahwa dirinya tidak suka Naruto membantu Kakashi karena ia cemburu.

"Aku tidak apa-apa Teme! Huh!" Naruto bertolak pinggang dan menggembungkan pipinya, ia befikir Sasuke tidak mau dirinya membantu Kakashi karena ia mau membuktikan bahwa ia masih lebih kuat darinya.

Tazuna hanya menepuk kepala Naruto dan tertawa, sepertinya hari-harinya bersama penjaganya akan sangat berwarna dan ia merasa beruntung bisa mendapatkan kelompok tujuh sebagai penjaganya, ia berjanji kepada dirinya bahwa ia akan membantu Konoha nanti bila ia sudah berhasil menyelesaikan jembatan yang sedang ia buat dan menyelamatkan desanya.


Di sebuah rumah di atas pohon yang terletak jauh dari desa di mana rumah Tazuna berada, seorang laki-laki yang sedang menggunakan topeng ANBU membaringkan tubuh Zabuza di atas tempat tidur yang ada di dalam rumah tersebut.

"Aku tinggal mencabut jarumnya—" laki-laki tersebut bersiap melepaskan jarum yang menusuk leher Zabuza namun tangan Zabuza tiba-tiba bergerak dan menangkap tangannya, menahan dirinya yang ingin mencabut jarum tersebut.

"Aku bisa sendiri" Zabuza yang bangun dari mati surinya mendorong tangan ANBU tersebut dan mencopot jarum tersebut dengan sendirinya, ia mencoba bangun dari posisinya dan duduk dengan bersender di bagian belakang tempat tidur "aku tidak apa-apa Haku"

ANBU yang di panggil oleh Zabuza sebagai Haku mengangguk dan mengeluarkan peralatan yang akan ia gunakan untuk mengobati Zabuza.

"Lihat dirimu, menyedihkan sekali" Haku terlonjak kaget dan langsung mengeluarkan senjatanya, sedangkan Zabuza merasa seperti ia terkena serangan jantung, tubuhnya membeku dan ia tidak bisa bergerak sama sekali.

"Kau…!" Zabuza mengenali suara dan siloet bayangan yang muncul dari pintu keluar ruangan tersebut "Tidak munkin!"

Kisame pelan-pelan keluar dari balik bayangan pepohonan, seringaian terlukis di wajahnya yang persis ikan hiu, Samehada yang ada di punggungnya sedikit bergerak seperti minta di gunakan "Heh, aku di sini tidak ingin berbuat onar"

Haku langsung maju dan menutupi Zabuza dari pandangan Kisame, ia sudah siap dengan jutsunya dan berberapa buah senbon sudah ia pegang, siap untuk di gunakan untuk melawan Kisame.

"Mundur Haku! Kau tidak akan bisa mengalahkannya!" Zabuza mengerang dan meraih pedangnya di saat ia sudah bisa mengendalikan diri dari rasa kaget dan takut, ia tahu dengan kondisinya sekarang; Kisame bisa dengan sangat mudah menghabisi dan membunuhnya.

"Sudah aku bilang aku ke sini bukan untuk berbuat onar ataupun melawanmu" Seringaian di wajah Kisame semakin melebar, ia menepuk samehada yang tergantung di punggungnya "Tapi kalau kau mau bertarung denganku, aku tidak akan menolaknya"

Zabuza mengerang kencang dan ia semakin marah melihat Haku yang kelihatan pelan-pelan kehilangan kekuatannya "Haku! Mundur sekarang juga! Pedang miliknya memakan chakramu!"

Haku yang mendengarnya langsung mundur namun masih dalam posisi siap bertarung dan melindungi Zabuza.

"Hahaha, pilihan bagus nona, Samehada sedang sedikit kelaparan jadi aku anjurkan untuk tidak mencoba macam-macam sekarang" Kisame melipat kedua tangannya di depan dadanya dan bersender ke dinding "Seperti yang aku bilang, aku ke sini bukan ingin berbuat onar atau mengajakmu bertarung, hanya saja aku kebetulan ada di sekitar sini dan merasakan keberadaanmu, sebagai sesama Seven Ninja Swordsmen of the Mist aku memutuskan untuk menyapamu dan mengecek keberadaanmu, kau tahu bukan bahwa pemilik pedang itu sebelum dirimu adalah partner dari partnerku yang sekarang bukan? Aku hanya ingin melihat apakah kau pantas menggunakan pedang itu"

Zabuza menatap tajam Kisame, ia tahu bahwa yang Kisame maksud adalah Juzo dan Itachi, ia sudah pernah dengar bahwa dulu pedang miliknya di gunakan oleh Juzo Biwa dan Juzo ikut dalam organisasi bernama Akatsuki lalu di pasangkan oleh Itachi sebagai partnernya.

"Aku akui bahwa kau memang cukup pantas menerima pedang tersebut" Kisame tetap menyeringai di saat ia mendapatkan tatapan tidak suka dari Zabuza karena ia mengatakan bahwa ia 'cukup pantas' dan bukan 'pantas' menandakan bahwa Kisame mengatakan bahwa ia lebih lemah dari Juzo "Namun apakah kau mau memiliki akhir yang sama dengan Juzo? Kau mengagumi Juzo dan ingin menjadi sepertinya kah?"

"Aku tidak akan membiarkan hal tersebut terjadi!" Haku yang dari tadi diam akhirnya angkat bicara, ia tidak senang dengan apa yang Kisame katakan karena Kisame mengimplikasi bahwa Zabuza akan mati sebentar lagi dan ia tidak suka itu.

"Hah, selamat berjuang nak" Kisame memberikan pandangan meremehkan kepada Haku dan lalu berjalan ke arah jendela yang berada tidak jauh darinya "Yasudah, aku ada urusan lain, selamat berjuang"

Kisame memberikan sebuah seringaian khas hiu milikya sebelum melompat keluar dari ruangan tersebut, meninggalkan Haku dan Zabuza dengan kesunyian.

Haku tiba-tiba terjatuh dan duduk di lantai, ia memegang dadanya dan nafasnya tidak teratur, ia mencoba mengatur nafasnya dan menenangkan dirinya. Ia tidak menyadari bahwa sedari tadi ia menahan nafasnya dan ia juga sedari tadi berusaha sekuat munkin menahan tubuhnya yang hampir terjatuh karena tidak kuat menahan chakra milik Kisame dan pada waktu yang bersamaan di makan chakranya oleh Samehada "Zabuza-sama…"

Zabuza juga menghela nafas lega dan membetulkan posisi duduknya "Itu Hoshigaki Kisame, ia memang sangat kuat, bisa di bilang yang paling terkuat di antara yang lainnya walau aku tidak mau mengakuinya namun kenyataan ada di depan mata: ia bahkan lebih kuat dariku. Ia tidak di panggil monster berekor tanpa ekor tanpa bukti"

"Tapi apa yang ia lakukan di sini…" Zabuza mendesis, kalau dari apa yang Kisame katakan sepertinya urusannya di sini berbeda dengannya dan kemunkinan besar ia tidak akan mengganggu rencannya ataupun ada hubungannya dengan Gato namun tetap saja, keberadaan Kisame di sini berarti akan selalu berakhir dengan kekacauan dan pertumpahan darah di mana-mana, ia harus sembuh secepat munkin dan menyelesaikan permintaan dari Gato lalu pergi dari desa ini sebelum Kisame bisa berbuat onar.


Kakashi tersentak kaget dang langsung bangun dari posisinya, ia baru saja mendapatkan sebuah mimpi buruk dan ia memiliki perasaan bahwa mimpi buruk tersebut adalah sebuah kenyataan. Hal pertama yang Kakashi sadari adalah dirinya yang ada di ruangan yang ia tidak kenal dan tubuhnya terasa sedikit sakit, ia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi sebelumnya dan di saat pikirannya sudah mulai jernih, Kakashi menyadari sebuah hal penting.

Tubuhnya bisa di gerakan, kepalanya tidak terasa begitu sakit, dan banyak luka yang seharusnya masih segar sudah menghilang. Kakashi mengangkat tangannya dan menatap tidak percaya tubuhnya sendiri yang terasa lebih segar, setahunya ia menggunakan sharingan pada saat bertarung dengan Zabuza tadi, terlebih lagi ia menggunakan sharingannya dalam jangka waktu yang cukup lama; kenapa tubuhnya masih bisa di gerakkan? Zabuza berhasil melukai Kakashi dengan cukup parah terutama di bagian kakinya, namun kenapa ia masih bisa menggerakkan kakinya dan tubuhnya tidak terasa sakit sekali?

"Oh… Sensei, ternyata anda sudah bangun" Seorang wanita paruh baya masuk ke dalam ruangan tempat ia beristirahat sasmbil membawa sebuah baskom berisi air hangat dan handuk, ia tersenyum kecil dan terlihat sekali di wajahnya bahwa ia merasa lega "Saya mohon jangan terlalu banyak bergerak"

"Aku sudah merasa sedikit baikan" Kakashi mengalihkan perhatiannya ke arah Tsunami dan mengangguk pelan, namun ia tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya "Apakah kau memberiku sebuah obat? Atau munkin sejenisnya?"

"Hanya memberikan salep dan obat merah, apakah Sensei ada alergi obat?" Tsunami meletakkan baskom yang ia bawa di sebelah Kakashi, sebuah senyuman kecil terlukis di wajahnya dan pandangan matanya kali ini berpindah ke samping Kakashi "Saya bilang tolong jangan banyak bergerak tadi karena nanti Sensei bisa membangunkan Naruto"

Kakashi menatap bingung Tsunami namun tiba-tiba saja tubuhnya menegang dan membatu di saat ia merasakan sebuah pergerakan di sampingnya, matanya dengan perlahan bergerak untuk melirik ke sampingnya dan benar saja apa yang di katakan Tsunami; Naruto tengah tertidur dengan pulas di sampingnya, kepalanya bersender di futon milik Kakashi namun tubuhnya di luar futon dengan kedua tangannya di jadikan bantalan.

"Narutolah yang mengobatimu, ia tidak pernah meninggalkanmu terlalu lama dan menjagamu terus-terusan" Tsunami membelai kepala Naruto yang masih tertidur pulas, senyuman manis tidak pernah menghilang dari wajahnya "Muridmu sepertinya sangat menyayangimu, Sensei"

Kakashi terdiam, pikirannya di penuhi dengan pertanyaan dari bagai mana bisa Naruto memiliki pengetahuan cara mengobati orang hingga bagai mana bisa Naruto mendapatkan obat-obatan yang lengkap, Ia bisa merasakan bahwa yang di gunakan untuk mengobatinya bukan hanya obat merah dan salep karena ia bisa mencium bau herbal. Kakashi melirik sebuah tas yang tergeletak tidak terlalu jauh dari tempat Naruto tertidur dan melihat berbagai macam botol obat-obatan herbal dan ia bahkan bisa melihat sebuah kotak P3K di dalamnya.

Ia tahu bahwa pemilik tas tersebut adalah Naruto karena warna orange terang yang menghiasi tas tersebut. Kakashi tahu bahwa Sandaime memang benar memberikan begitu banyak barang-barang baru kepada Naruto dan itu juga termasuk obat-obatan, namun yang ia bingungkan adalah: kenapa Naruto membawanya?

Sekali lagi Kakashi di kejutkan dengan perubahan sikap Naruto, karena dari informasi yang ia dapatkan, Naruto tidak pernah mencoba membeli atau menggunakan obat apapun, yang bisa di mengerti di karenakan kekuatan dari Kyuubi yang ada di dalamnya, memang Naruto (seharusnya) tidak mengetahui keberadaan Kyuubi yang di segel di dalamnya namun secara tidak sadar Naruto merasa tubuhnya imun terhadap banyak hal, termasuk penyakin dan racun tertentu.

Namun pandangan Kakashi melembut di saat ia melihat Naruto tertidur dengan pulas namun terlihat kelelahan, tanpa ia sadari tangannya bergerak dan membelai kepala Naruto, perasaan hangat menyelimutinya. Kakashi merasa sangat senang melihat muridnya begitu peduli dengannya, sebuah ingatan mengenai rekan lamanya memenuhi pikiran Kakashi dan sekarang ia mengerti perasaan Minato di kala Rin begitu menghawatirkannya.

Namun ada satu hal yang Kakashi tidak sadari, kemunkinan besar di karenakan tubuhnya yang masih sedikit lemah dan terlalu menurunkan pertahanannya; Kakashi tidak tahu bahwa yang sedang ia belai sekarang adalah bunshin milik Naruto.

Naruto yang sebenanrya sedang berada di atap rumah Tazuna, memandang langit dengan pandangan kosong. Ia sedang memikirkan apa yang akan ia lakukan selanjutnya dan mengenai keberadaan partner Itachi yang pastinya masih ada di sekitar desa 'Apa yang di pikirkan oleh Itachi… Kenapa ia begitu mempercayai partnernya?'

'Aku tahu Uchiha Itachi tidak akan bertindak gegabah ataupun melakukan hal bodoh, pasti ada alasan mengapa partner miliknya yang satu itu berada di sini. Namun tetap saja kita tidak bisa menurunkan pertahanan kita' Kurama ikut memandang langit bersama Naruto, ia mengerang pelan di saat ia mengingat sebuah hal penting yang membuatnya menjadi kesal dan lebih waspada 'Terlebih lagi kita tahu bahwa yang merekruitnya adalah Madara Uchiha itu sendiri'

Naruto mengangguk, ia sudah tahu semua cerita mengenai partner Itachi yang bernama Kisame Hoshigaki dari Bee dan Yamato, mereka menceritakan apa yang mereka temukan di saat mereka mencoba mendapatkan informasi mengenai Akatsuki dengan membaca ingatan Kisame dan kematian yang sangat terhormat dari Kisame. Naruto sendiri tidak bisa menolak kenyataan bahwa Kisame adalah tipe orang yang sangat memegang teguh jalan hidupnya dan memang mati secara terhormat, namun hal tersebut jugalah yang membuat Naruto menjadi semakin tidak bisa tenang.

Kalau memang benar Kisame adalah tipe orang yang seperti yang ia bayangkan, bukannya itu berarti ia akan sangat loyal dengan Akatsuki—atau munkin lebih tepatnya, kepada Madara? Atau munkin dugaannya salah dan ada suatu hal yang ia tidak ketahui namun Itachi ketahui sehingga ia bisa mempercayainya seperti itu? Naruto akan mencari tahu jawabannya dari Itachi sendiri nanti di saat mereka bertemu dengannya lagi

'Aku akan mengecek dirinya nanti, kita tidak bisa meninggalkan dirinya begitu saja; nanti aku akan minta Occhan mengecek keberadaannya. Aku tidak akan membiarkan dirinya melukai siapapun di desa ini!' Naruto bangun dari posisi duduknya dan melompat turun dari genteng ke pintu belakang, ia bertukar tempat dengan bunshin miliknya secara diam-diam dengan alasan ingin ke kamar mandi. Di saat Naruto kembali masuk, Kakashi sudah selesai memberi tahu yang lain mengenai kenyataan bahwa Zabuza masih hidup dan mereka akan melakukan sebuah latihan special.

Naruto duduk di sebelah Sasuke dan memasang ekspresi senang dan antusias di saat ia mendengar kata-kata 'latihan special' namun pada waktu yang bersamaan, seorang anak kecil tiba-tiba saja angkat bicara dan membuat Naruto terdiam "Hal seperti itu hanya akan membuang-buang waktu"

Tazuna yang duduk tidak jauh dari Kakashi dan melihat kedatangan anak tersebut tersenyum lebar dan merentangkan kedua tangannya "Ooh! Inari! Kemana saja kamu? Kakek sudah pulang!"

"Selamat datang kembali Kakek" Anak kecil yang di panggil Inari tersebut berjalan mendekati Tazuna dan memeluknya, ia memang terlihat senang dengan kedatangan Kakeknya namun ada sesuatu yang membuat senyuman yang terlukis di wajahnya sedikit terlihat di paksakan.

Tsunami yang baru saja keluar dari dapur membawa minuman yang akan ia sajikan kepada tamu-tamunya tersenyum melihat Inari, ia menepuk kepala Inari lalu mendorongnya ke arah Naruto dan teman-temannya "Ayo beri salam kepada tamu kita, mereka yang melindungi kakek sampai ke sini loh"

'Aah… nostalgia sekali ya' Naruto tersenyum ramah kepada Inari sedangkan Kurama hanya memutar bola matanya, ia menanyakan kewarasan Naruto karena secara tidak langsung Naruto mengatakan bahwa ingatannya di saat ia di marahi oleh Inari adalah ingatan manis. Naruto hanya tertawa dalam hati mendengar apa yang Kurama katakan.

"Kakek, mereka semua akan mati" kata Inari secara tiba-tiba sambil menatap Naruto dan teman-temannya, wajahnya tanpa emosi namun Naruto bisa dengan jelas mendeteksi perasaan sedih, kesal, bercampur marah yang menyelimutinya, begitu juga tubuhnya yang kaku dan terlihat menahan sesuatu memperlihatkan bahwa Inari sedang menahan amarah.

"Kalau kalian tidak ingin mati sebaiknya kalian pergi dari sini sekarang juga" Inari langsung berjalan meninggalkan ruangan setelah memberikan tatapan tajam ke semua anggota kelompok tujuh dan termasuk Kakashi.

"Ka-kamu mau ke mana Inari?" Tazuna terlihat sangat cemas namun terlihat sekali ia bingung antara ingin menenangkan cucunya terlebih dahulu atau meminta maaf kepada anggota tim tujuh.

"Aku ingin melihat laut dari kamarku" Inari tidak membalik badannya atau menatap Tazuna di saat ia berbicara dan hanya berjalan keluar ruangan dan menutup pintu yang ia lewati dengan sedikit kasar. Naruto hanya tersenyum penuh arti, ia tahu apa yang akan ia lakukan selanjutnya, ia memarahi Kurama yang mengatai Inari anak cengeng sedangkan yang di marahi hanya membuang mukanya saja.

Setelah selesai membicarakan apa yang akan mereka lakukan nanti, Naruto bangun dari tempat duduknya dan berjalan ke arah tempat Inari keluar tadi, sebelum ia pergi ia mengalihkan pandangannya ke arah Tazuna "Kek, aku mau mengobrol terdahulu dengan Inari ya"

"Na-Naruto—" Sebelum Tazuna bisa mencoba menghentikan Naruto, Kakashi sudah terlebih dahulu menghentikannya dengan menepuk pundaknya, Naruto juga sudah keburu keluar dan menutup pintu di belakangnya.

"Serahkan saja kepada Naruto" Kakashi tersenyum, ia tahu bahwa Naruto tidak akan berbuat hal yang bodoh, kalau dulu ia yakin Naruto akan marah-marah dan bersikap tidak dewasa namun sekarang ia telah berubah. Setelah melihat Tazuna tenang, Kakashi menyuruh Sasuke dan Sakura mempersiapkan barang-barang bawaan mereka dan beristirahat, merasa Sasuke dan Sakura sudah masuk ke kamarnya masing-masing; Kakashi secara diam-diam mengikuti Naruto.

Ia ingin melihat perubahan dari Naruto, ia tahu bahwa Naruto melakukan sesuatu sehingga Sasuke bisa berubah seperti itu, Kakashi merasa Naruto akan melakukan hal yang sama terhadap Inari. Kakashi bersembunyi dan menyembunyikan chakra miliknya di saat ia sudah berada di dekat pintu masuk kamar Inari dan bisa mendengar apa yang Naruto dan Inari bicarakan.

"—Aku tahu apa yang kau rasakan, aku bahkan di tinggal kedua orang tuaku lebih muda dari dirimu" Kakashi mendengar Naruto berbicara dengan Inari dan ia juga bisa mendengar bahwa Inari sedang menahan tangis, namun sepertinya ia sedikit terlambat karena Naruto sudah berbicara sedari tadi dan ia hanya mendengar sedikit "Mereka adalah pahlawan. Aku tidak perduli apa yang orang lain katakan karena bagiku mereka adalah pahlawanku"

Kakashi tidak tahu siapa yang Naruto sebut sebagai pahlawan, munkinkah yang Naruto maksud adalah Sandaime? Naruto pernah juga mengatakan bahwa ia menyukai seseorang dan dari nada suaranya; Naruto menyukai orang tersebut bukan berdasarkan perasaan cinta namun perasaan mengagumi dan menyayangi seperti Iruka. Kakashi menjadi sedikit sedih karena ia tahu bahwa Naruto tidak pernah di beri tahu siapa orang tua aslinya, alangkah baiknya bila yang Naruto maksud adalah kedua orang tuanya, ia tahu Minato pasti akan sangat bahagia mendengarnya dan Kushina akan sangat bangga, namun hal itu tidak munkin karena Naruto (seharusnya) tidak tahu siapa orang tuanya.

Namun kenyataannya memang yang Naruto maksud adalah Kushina dan Minato.

Senyuman lembut terlukis di wajah Kakashi di saat ia mendengar suara isak tangis Inari yang memenuhi ruangan tersebut, sebelum Kakashi pergi dari situ dan berhenti menguping ia mendengar apa yang Naruto katakan kepada Inari dan membuat senyumannya menjadi sedikit lebih lebar, hal terakhir yang ia dengar adalah suara Naruto yang dengan lembut dan penuh kasih sayang berbicara kepada Inari "Menangislah… keluarkan semua hal yang kau tahan, aku ada di sini untuk menemanimu"

Naruto memeluk Inari sambil membiarkan Inari menangis di pundaknya, ia tidak perduli Inari membasahi pakaiannya dan ia tidak perduli dengan tubuhnya yang di jadikan bantalan oleh Inari mulai terasa pegal, ia tetap diam dan membiarkan Inari menangis hingga puas.

Inari berhenti menangis dan akhirnya tertidur karena lelah setelah menangis cukup lama, Naruto menggendongnya dan membaringkannya di tempat tidur sebelum pergi keluar kamar. Ia di beri tahukan oleh Tsunami bahwa ia akan sekamar dengan Sakura setelah Tsunami memeluknya dan mengucapkan terimakasih.

Sesampainya di kamar, Naruto dan Sakura tidak berbicara sama sekali. Naruto terlalu sibuk menenangkan Kurama yang protes karena harus tidur satu kamar dengan Sakura, ia bahkan mengatakan bahwa Sakura bisa saja membunuh Naruto lagi secara diam-diam, Naruto hanya bisa menggeleng dan mengelus-elus Kurama untuk menenangkannya.

"Kau dekat sekali dengan Sasuke-kun, Naruto" Sakura tiba-tiba berbicara di tengah-tengah menggelar futon, bibirnya tertarik ke bawah dan jelas sekali dari nada bicaranya bahwa Sakura sedang di serang rasa cemburu.

"Bukannya kami selalu seperti itu dari kecil? Aku hanya berhenti merasa iri dengannya secara berlebihan, itu saja perbedaannya, sisanya kami tetap sama" Naruto menjawab dengan nada monoton, ia juga secara hati-hati berbicara karena ia tidak mau Sakura salah mengerti dan marah dengannya, tentu saja bila Sakura marah dengannya maka Kurama akan turun tangan dan lebih marah lagi.

"Tidak, sekarang berbeda" Sakura menghela nafas panjangan dan melirik Naruto yang masih sibuk merapikan futon miliknya, Sakura tahu bahwa hubungan Naruto dan Sasuke kini sudah bukan hanya saingan, hubungan mereka menjadi lebih dekat.

"Apa yang berbeda?" Naruto memberikan tatapan bingung kepada Sakura, ia menyadari bahwa Kurama terlihat tidak suka dan ia tahu bahwa Kurama bukan sedang marah dengan Sakura namun dengan apa yang Sakura katakan "Sakura… jangan-jangan kau menyangka…"

Sakura tidak memberikan jawabannya namun Naruto tahu bahwa ia telah menemukan jawabannya. Sakura yang tadinya terlihat kesal berubah menjadi bingung di saat ia melihat wajah Naruto yang memucat dan merinding.

"Oh ya ampun! Sakura! Yang benar saja! Aku tidak munkin menjadi seperti itu! Yang berubah hanyalah jenis kelaminku!" Naruto terlihat panik, ia mengacak-acak rambutnya dan menggeleng dengan cepat. Naruto sekarang mengerti bahwa apa yang Sakura rasakan terhadapnya sekarang sudah berubah dan tidak seperti dulu, kalau dulu Sakura tidak menyukainya karena ia menyebalkan dan selalu mengganggunya sekarang sakura tidak menyukainya karena menganggapnya sebagai saingan untuk menadapatkan Sasuke "Jangan berfikir hal bodoh seperti itu Sakura! Aku baru saja berubah menjadi perempuan belum lama ini! aku telah hidup menjadi laki-laki lebih lama! Sudah berkali-kali aku katakan bahwa jiwaku masih laki-laki!"

"Aku masih laki-laki sejati! Laki-laki normal yang terjebak di tubuh perempuan! Aku masih menganggap bahwa bila aku menyukai laki-laki maka sama saja aku adalah seorang gay!" Naruto terlihat frustasi, sudah berkali-kali ia mengatkan hal yang sama namun semuanya tetap saja tidak mau mendengar omongannya, dari Sandaime, Iruka, dan sekarang Kakashi "Aku yakin bila kau sekarang ada di posisiku maka kau akan melakukan hal yang sama! Kau masih tetap menyukai Teme dan menyukai barang-barang milik wanita!'

"Munkin memang sifatku berubah menjadi tidak kekanak-kanakan dan menjadi sedikit lebih pintar namun bukan berarti aku bisa dengan cepat berubah menjadi perempuan!" Naruto melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menatap tajam Sakura, seperti perasaan kesal yang sedang ia pendam kini ingin ia keluarkan semua "Jangan membenciku hanya karena hal bodoh seperti itu! Aku melakukan semua ini bukan untuk diriku dan bukan untuk dirimu!"

"Memang benar aku tidak menyukai kenyataan bahwa aku kini menjadi perempuan dan memang aku selalu mengatakan bahwa aku tetap lelaki tulen tapi aku juga menyadari bahwa nanti pelan-pelan aku akan benar-benar berubah menjadi perempuan" Naruto berjalan ke arah jendela yang tidak terlalu jauh dari tempat ia berdiri dan membukanya "Namun itu masih membutuhkan waktu yang lama, lagi pula aku masih punya banyak urusan lain dari pada memikirkan hal bodoh seperti itu"

Naruto melompat keluar dari jendela, meninggalkan Sakura sendirian di kamar dengan keheningan.

Naruto duduk di atas atap rumah dan berbaring memandang langit yang di penuhi bintang-bintang, ia menghela nafas panjang, munkin dari luar ia seperti tiduran di atas genteng yang keras dan tidak nyaman namun sebenarnya ia sedang berbaring di atas ekor Kurama yang lembut dan hangat.

'Aku tidak menyalahkan atau membencimu karena kamu merubahku menjadi perempuan, kalau memang keinginanmu aku menjadi perempuan maka aku akan memenuhinya. Yaah walau sulit sih' Naruto tertawa dan memluk ekor Kurama sambil membenamkan wajahnya ke bulu-bulu halus Kurama 'Kau sudah memberikanku kesempatan kedua! Itu sudah lebih dari cukup, aku tidak akan bisa membalas kebaikanmu. Bila menjadi perempuan bayarannya maka aku tidak perduli!'

Naruto bangun dari posisinya dan mendekat ke arah Kurama, ia memeluk moncong Kurama dan membenamkan wajahnya di bulu-bulu pendek di sekitar moncong Kurama 'Aku bersyukur memilikimu Kurama! Aku menyayangimu!'

Kurama diam saja, ia hanya menatap Naruto dengan pandangan yang sedikit sulit di mengerti sebelum ia mendengus dan memutar bola matanya 'Kau terlalu sentimental Naruto'

Naruto tersenyum dan sedikit tertawa, karena apa yang Kurama katakan bertolak belakang dengan apa yang ia lakukan sekarang, ia bisa merasakan tangan Kurama bergerak ke belakangnya seperti mencoba memeluknya dan semua ekornya kini melingkar di sekitar tubuhnya, tubuh Kurama juga terlihat rileks 'Biarin! Aku tetap menyayangimu!'


To Be Continue


!Author Notes!

Terimakasih sudah membaca cerita ini hingga selesai!

Akhirnya kelar juga! Oh iya saya ada pemberitahuan penting di Author notes chapter selanjutnya! Di mohon baca ya! Pemberitahuannya penting sekali loh! Saya dan teman saya mendapat ide cemerlang! Saya harap para pembaca menyukainya!

Oh iya, bagi yang menanyakan kenapa Naruto kelihatan gak peka-peka jawabannya sudah jawab tuh! Kalau yang kurang mengerti biar saya jelaskan sedikit lebih terang-terangan:

Naruto di sini bukan lah Naruko, alias ia adalah cowok tulen yang berubah menjadi perempuan secara tiba-tiba! Mana munkin lah ia tiba-tiba berubah langsung suka dengan cowok dan memakai pakaian perempuan hanya dalam waktu sekejap! Naruto sudah hidup 16 tahun menjadi laki-laki! Mana munkin dia langsung berubah sikapnya jadi cewek hanya dalam jangka waktu terlalu cepat.

Makannya Naruto kelihatan enggak peka, karena Naruto menganggap bahwa ia masih lelaki tulen dan hal-hal yang di lakukan oleh lawan jenisnya (sebelumnya sesama jenis) adalah bentuk persahabatan!

Berikan Naruto waktu, kalau secara logika juga tidak masuk akal bila Naruto sifatnya mendadak feminim hanya karena berubah kelamin dalam waktu sangat cepat. Kalau soal sifat dan cara pikirkan sudah saya bilang di chapter sebelumnya.

Lagi pula bukannya Naruto memang pada dasarnya gak peka ya bahkan di saat menjadi laki-laki, di setiap OVA pasti ada saja cewek yang suka sama dia tapinya dia gak sadar, bahkan Hinata yang jelas-jelas kelihatan bahwa dia suka sama Naruto saja Narutonya enggak nyadar sampai Hinata harus mengutarakannya secara blak-blakan, gimana sekarang dia udah jadi perempuan dan di kejar sama laki-laki.

Makannya saya bilang, terlalu cepat untuk memilih pairing, berikan Naruto waktu untuk berubah dan beradaptasi dengan kehidupannya sebagai perempuan! Nanti ada waktunya Naruto mulai menerima dan bersikap sebagai perempuan, namun soal ketidak pekaan tetap saja sama dengan Naruto yang asli.

Sekian apa yang ingin saya katakan! Sampai bertemu di chapter depan!

Review please