Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto

Warning: Mengandung Gender Bender, Semi-Au, Time Travel, Miss Typoo, Mild Sakura Bashing, dll


!Author Notes!

Saya ucapkan terimakasih kepada pembaca yang sudah mau menunggu dengan sabar untuk chapter selanjutnya.

Untuk Author notes kali ini, saya tidak akan bicara panjang lebar, saya hanya ingin memberi tahu bahwa ada pairing lain yang akan mendapatkan ending, yaitu: Uchiha Itachi dan Kurama.

Untuk sementara, kandidat yang memiliki ending sekarang adalah: Sasuke, Gaara, Kakashi, Kurama dan Itachi.

Sekian Author Notes kali ini, selamat menikmati chapter baru To The Past.


Kurama tahu bahwa hasilnya akan seperti ini, karena Kurama tahu betul sifat Naruto yang terlalu sensitife dan suka menyalahkan dirinya sendiri atas sesuatu yang seharusnya bukan salahnya. Ini semua karena Naruto yang saat masih kecil tidak ada yang mengajari bagaimana cara yang baik dan benar bersikap, karena itulah ia tumbuh menjadi anak yang hiperaktif, tidak bisa membaca situasi dan sangat menginginkan perhatian.

Seperti sekarang, Naruto tengah menyalahkan dirinya sendiri atas kematian Haku dan Zabuza padalhal jelas sekali bahwa itu bukan salahnya mereka berdua mati, padalhal Kurama pernah mengatakan bahwa ini bukan salahnya dan memang mereka sudah di takdirkan untuk mati namun tetap saja Naruto sangat keras kepala dan tidak mau mendengarkan apa yang ia katakan.

Sekarang Naruto tengah berada di kamar milik Tazuna, setelah memenangkan pertarungan melawan Zabuza dan Haku serta matinya Gato; Naruto dan teman-temannya berserta Tazuna langsung di bawa ke rumah Tazuna untuk di obati dan beristirahat. Sasuke sudah bangun di akhir pertarungan dan hanya bisa merutuki kebodohannya dan kegagalannya dalam menjaga dan melindungi Naruto di saat ia mendengar dari Kakashi bahwa Naruto terluka cukup parah dan sekarang terkena efek samping dari kekuatan Haku, yaitu sakit kepala yang berlebihan dan tubuhnya yang melemah.

Kurama hanya bisa memutar bola matanya mendengar penjelasan Kakashi, padalhal sebenarnya penyebab Naruto seperti itu adalah karena efek samping dari segel yang di pasangkan ke tubuh Naruto oleh Itachi namun tentu saja Kakashi tidak tahu itu. Naruto kini terbaring di atas futon, di luar memang terlihat Naruto tengah tertidur dengan pulas namun di bawah kesadarannya; Naruto tengah menangis sejadi-jadinya sambil memeluk Kurama.

Kurama hanya diam saja dan menunggu hingga Naruto puas menangis, hingga ia melihat bahwa Naruto sudah lelah dan berhenti menangis barulah ia berbicara 'Kit, berhenti menyalahkan dirimu atas apa yang terjadi kepada mereka berdua'

Sebelum Naruto bisa membalas omongan Kurama, ia keburu di potong oleh Kurama yang sudah bosan berkali-kali mendengar Naruto menyalahkan dirinya sendiri 'Mereka adalah missing nin, kematian adalah adalah hal yang paling mereka tunggu-tunggu. Mereka adalah buronan, apakah menurutmu bila mereka tidak mati sekarang, mereka akan hidup bahagia?'

'Apakah kau tahu? Zabuza itu seperti Kisame, ia di kejar-kejar oleh ninja dari desanya sendiri dan kau tahu siapa pemimpin dari ninja yang mengejar mereka? Yagura, apakah kau ingat siapa dia?' Naruto langsung mengangkat kepalanya dan menatap bingung Kurama sebentar sebelum matanya membulat karena ia mengenal nama tersebut 'Benar, ia adalah Jinchuriki dari Isobu dan Mizukage ke empat. Kau mengiranya mati muda dan masih bocah namun kenyataannya? Ia adalah Mizukage yang terkenal dengan kesadisannya dan kekejamannya dalam mengejar dan memberi hukuman kepada ninja yang menghianatinya'

'Jangan menilai buku dari sampulnya, itu yang kau ajarkan kepadaku bukan? Sekarang terapkan pelajaran tersebut kepada dirimu juga sebelum kau mengajari seseorang! Apakah kau pikir ia akan lebih baik hidup sekarang dan nanti mati secara kejam di tangan orang lain? Sekarang ia mati terhormat dan bahkan bisa mengucapkan selamat tinggal kepada Haku namun kalau ia terbunuh oleh Yagura? Jangan harap ia bisa seperti itu dan orang-orang akan mengingatnya sebagai ninja yang tidak berperasaan dan kejam!' Kurama mengangkat tubuh Naruto dan meletakkannya di atas kepalanya, ia membetulkan posisi duduknya agar ia bisa merasa nyaman dan merenggangkan tangannya yang sedikit pegal karena sedari tadi menahan Naruto yang ingin memeluknya 'Di sini ia mati terhormat dan di hormati oleh warga desa di sini dan semua itu karena dirimu, aku yakin Zabuza dan Haku berterimakasih kepada dirimu karena sekarang mereka mati lebih terhormat dari sebelumnya, bahkan aku dengar orang-orang akan membuatkan sebuah monumen untuknya'

Naruto terdiam dan membenamkan wajahnya di kepala Kurama, ia sudah berhenti menangis dan sudah menjadi sedikit lebih tenang, ia berfikir bahwa apa yang Kurama katakan ada benarnya, Zabuza tidak seperti Kisame yang memiliki kekuatan lebih dan memiliki partner yang mau menjaganya dan melindunginya bila di butuhkan, sekalinya engkau menjadi missing nin maka selamanya orang-orang akan mengingat dirimu sebagai missing nin walaupun kau telah menjadi baik ataupun memiliki niat yang baik, Sasuke di masa depannya adalah bukti nyata.

'Benarkah? Mereka berdua senang karena mati sekarang? Mereka akan memaafkanku di saat mereka tahu bahwa aku memiliki ingatan dari masa depan dan tidak melakukan apapun untuk menyelamatkan mereka?' Bisik Naruto dengan suara yang sangat pelan namun Kurama bisa mendengarnya dengan sangat jelas karena pendengarannya yang sangat tajam dan lagi pula Naruto berbisik di dekat telinganya.

'Kit, Zabuza memiliki harga diri dan aku yakin harga dirinya akan tersakiti bila kau mencoba menyelamatkannya dan aku aku yakin ia malah akan berterimakasih kepadamu karena berkatmu ia bisa mati terhormat dan mendapatkan respek yang tidak pernah ia dapatkan sebelumnya. Mati terhormat adalah mimpi semua ninja Kit' Naruto terdiam sebentar mendengar jawaban Kurama sebelum sebuah senyuman kecil terlukis di wajahnya dan setetes air mata keluar dari matanya.

'Terimakasih… Kurama' Naruto pelan-pelan menghilang dari atas kepala Kurama dan meninggalkan Kurama sendirian di alam bawah sadar Naruto untuk tidur siang, namun Naruto tidak sempat melihat senyuman terlukis di mulut Kurama.

Naruto pelan-pelan membuka matanya dan di hadiahi oleh pemandangan atap kamar Tazuna, ia samar-samar mendengar suara seseorang tengah berbicara di ruangan sebelahnya, ia mencoba bangun dari posisinya namun ia malah sedikit sempoyongan dan terjatuh ke posisi duduk dan tidak bisa berdiri.

Suaranya terjatuh sepertinya terdengar hingga ke ruangan sebelah karena hal terakhir yang ia tahu sebelum terdorong hingga kembali ke posisi tiduran lagi adalah Inari yang berlari masuk ke dalam kamar dan menerkamnya dengan pelukan yang sangat kencang "Kak Naruto!"

"I-Inari…!" Naruto terlonjak kaget dan berusaha sebisanya untuk menahan rasa sakit yang di sebabkan oleh pelukan yang sangat kuat dari Inari, ia menepuk kepala Inari untuk menenangkannya karena ia bisa merasakan bahwa Inari tengah menangis. Naruto tanpa ia sadari tengah merasakan apa yang Iruka rasakan di saat dirinya menerkamnya dan memberikan pelukan super kencang kepada Iruka "Kenapa kau menangis? Bukannya kau sudah berjanji untuk tidak menangis lagi?"

Inari langsung melepaskan pelukannya dan mengelap air mata yang keluar dari matanya, seperti mau menyembunyikan bahwa dirinya memang menangis "A-aku tidak menangis! Tadi hanya kelilipan debu!"

Naruto tertawa mendengar alasan Inari karena dulu ia juga pernah memberikan alasan yang sama kepada teman-temannya di saat ia menangis, Naruto mengacak-acak rambut Inari dengan seringaian menghiasi wajahnya "Hahahah! Iya, iya!"

Tidak lama kemudian Kakashi dan Tazuna masuk ke dalam ruangan dan menanyakan keadaan Naruto, setelah berhasil meyakinkan Tazuna bahwa ia baik-baik saja dan sudah baikan, Tazuna dan Inari pergi meninggalkan ruangan untuk berbicara kepada warga desa lainnya yang juga menghawatirkan keadaan pahlawan mereka dan meninggalkan Kakashi dan Naruto berdua saja.

"Naruto… di saat pertarungan tadi, apakah kau merasakan sesuatu yang aneh?" Kakashi langsung bertanya di saat ia sudah merasakan bahwa Tazuna dan Inari sudah tidak bisa mendengar mereka berdua bila mereka sedang berbicara.

Naruto tahu yang di maksud oleh Kakashi adalah di saat ia menggunakan chakra milik Kurama, ia diam sebentar dan membuat pose seakan-akan ia tengah berfikir dengan keras sebelum menjawab pertanyaan Kakashi "Hmm aku tidak merasakan apapun tapi di saat aku melihat Sasuke tidak sadarkan diri… aku kira ia mati dan aku merasa sangat kesal dan marah lalu aku merasa seperti aku mendapat kekuatan lebih jadi aku langsung menyerang Haku, namun aku kaget sekali di saat aku melihat Haku ternyata adalah laki-laki cantik yang pernah aku temui secara tidak sengaja di saat aku sedang istirahat setelah latihan"

'Hmm, jadi ia secara tidak sengaja mengambil chakra milik Kyuubi, jadi penyebabnya karena amarah ya…' Kakashi pasti akan melaporkan ini kepada Sandaime, memang benar Naruto mengambil chakra milik Kyuubi namun sepertinya Naruto tidak menyadarinya dan untungnya ia hanya mengambil sedikit jadinya kesadarannya masih ada.

"Oh! Dan aku merasa seperti ada seseorang berbisik kepadaku… aku tidak tahu siapa namun suaranya seperti suara laki-laki yang aku tidak kenal… ia mengatakan namanya namun aku tidak terlalu bisa mendengarnya karena terlalu sibuk bertarung… yang aku dengar hanyalah 'Namikaze', siapa itu Namikaze?"Kakashi terperanjat mendengar nama yang di sebut oleh Naruto, karena ia tahu hanya ada satu orang yang memiliki nama 'Namikaze' sebagai nama belakangnya "Aku tidak tahu mengapa namun… aku merasa sangat senang dan mendengar suaranya… suara itu yang membangunkan aku dari kemarahanku…"

Kakashi diam seribu bahasa, ia menatap Naruto yang tersenyum lembut dan sebelah tangannya ia letakan di dadanya, seperti sedang merasakan sesuatu yang menghangatkan dadanya, matanya yang berwarna biru cerah menyinarkan kebahagian dan kehangatan.

Kakashi merasakan sebuah senyuman terlukis di wajahnya dan matanya menyiratkan kesedihan bercampur kebahagiaan, secara tidak langsung Naruto mengenali ayahnya dan merasakan bahwa Minato menyayanginya "Oh…"

Naruto menatap Kakashi dan senyumannya pelan-pelan melebar, tentu saja yang ia katakan bukanlah kebenaran namun ia tengah menjalankan rencananya, rencana yang akan membantunya dan membuat dirinya tidak di perhatikan secara berlebihan lagi.


Sasuke merasa seperti dirinya adalah mahluk yang paling tidak berguna di seluruh dunia, pertama ia menyalahkan dan membenci Itachi terhadap hal yang belum tentu benar ia lakukan, lalu ia tidak berhasil mengalahkan Naruto dalam hal apapun termasuk latihan, dan sekarang? Ia gagal melindungi Naruto dan malah dirinya yang menjadi penyebab Naruto terluka!

Di saat ia telah siuman dari pingsannya, hal pertama yang ia lihat adalah Naruto yang menangis dan terlihat sangat kelelahan, pakaiannya terlihat sangat kotor dan banyak sobek karena terkena serangan Haku, darah dan keringat membasahi pakaian Naruto. Sasuke terperanjat dan langsung berlari ke arah Naruto yang di gendong oleh Kakashi dan di bawa kembali ke rumah Tazuna, ia tidak memperdulikan kepalanya yang terasa sakit dan tubuhnya yang protes karena di gerakan terlalu cepat.

Sekarang ia tengah menyendiri di kamar yang di sediakan oleh Tazuna karena ia di tugaskan untuk menjaga rumah oleh Kakashi dan Sakura sedangkan mereka berdua menemani Tazuna menyelesaikan jembatan yang sudah mau selesai, ia terus-terusan berfikir untuk menemui Naruto di kamar sebelah namun ia merasa ia tidak pantas bebricara kepada Naruto lagi.

Ia merasakan tubuhnya di lilit oleh sebuah bayangan hitam yang bernama penyesalan, dadanya terasa begitu sakit seperti tertusuk beratus-ratus jarum, dan matanya terasa perih seperti tengah terbakar. Ia mengerang terus menerus dan kepalanya di penuhi dengan rasa benci dan kesal entah ke siapa, ia merasa dirinya terlalu lemah dan ia ingin jadi kuat, bagai manapun caranya.

Melindungi Naruto saja ia sudah gagal, bagai mana ia mau menemukan Itachi? Dan kali ini Sasuke di ingatkan betapa berbedanya dirinya dengan Itachi, ia sangatlah lemah dan hingga sampai sekarang tidak bisa menjadi lebih baik dari kakaknya. Sasuke merasakan hal yang sama dengan apa yang ia rasakan di saat dulu ia mengetahui bahwa Itachi telah membunuh semua klannya dan termasuk keluarganya, perasaan benci dan dengki muncul kembali.

Namun sebelum Sasuke bisa berfikir yang tidak-tidak, ia di kejutkan dengan suara pintu masuk kamarnya di buka dan langkah kaki seseorang yang berjalan mendekat ke arahnya. Secara spontan dan karena kebiasaan, Sasuke langsung meraih senjata yang ada di dekatnya dan langsung memasang posisi siap bertarung sebelum ia membulatkan matanya dan menjatuhkan senjatanya di saat ia melihat siapa pemilik suara langkah kaki tersebut.

"Oi, Teme! Aku ke sini untuk mengobrol! Bukan untuk bertarung, masak kau tidak mengenali chakra milikku sih? Jahat sekali" Naruto melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menatap sedikit kesal Sasuke.

Melihat Sasuke hanya terdiam dan tidak membalas omongannya membuat Naruto menaikan sebelah alisnya dan menatap bingung Sasuke, akhirnya Naruto memutuskan untuk duduk tidak jauh dari Sasuke dan memulai pembicaraan baru "Aku bosan sendirian di kamarku dan aku sudah baikan…"

Sasuke akhirnya terbangun dari kagetnya dan membetulkan posisi duduknya, ia hanya membuang mukanya dan tidak berani melihat Naruto secara langsung karena setiap ia melihat Naruto, ia di ingatkan dengan kegagalannya dalam melindungi Naruto tadi "Jangan macam-maca Dobe, kau terluka cukup parah"

Sasuke mendengar Naruto menghela nafas panjang dan ia yakin Naruto sedang cemberut, ia tahu bahwa walaupun Naruto berubah menjadi lebih dewasa tetap saja sifatnya yang hiperaktif dan tidak bisa diam masih saja ada dan itu sedikit membuat Sasuke… lega.

"Oh ayolah! Aku tidak apa-apa!" Naruto akhirnya menoleh ke arah Sasuke dan merasa kesal dengan apa yang Sasuke katakan namun ekspresinya berubah menjadi kebingungan dan sedikit kesal karena melihat Sasuke tidak melihatnya di saat berbicara dengannya "Oi Teme! Kenapa kau malah membuang mukamu! Sudah aku bilang aku baik-baik saja!"

Sasuke hanya diam saja dan tidak membalas omongan Naruto sehingga membuat Naruto menjadi kesal namun tiba-tiba saja Kurama mengatakan sesuatu yang membuat Naruto terdiam, tentu saja Sasuke tidak tahu alasan mengapa Naruto tiba-tiba terdiam jadi ia hanya diam saja dan tetap berpura-pura tidak menghiraukan naruto.

"Teme… aku tidak akan pernah memaafkanmu bila kau menyalahkan dirimu atas apa yang terjaid kepadaku" Sasuke hanya bisa terdiam walau ia tahu jantungnya berdetak dengan sangat kencang di saat ia mendengar apa yang Naruto katakan, ia mengatupkan mulutnya dan menggeretakkan giginya untuk menahan emosinya.

"Bukan salahmu aku bisa terluka—" Sebelum Naruto bisa menyelesaikan omongannya, Sasuke sudah keburu mengalihkan pandangannya ke arah Naruto dan memotong omongannya.

"Apanya yang bukan salahku hah? Jelas-jelas karena aku; kau terluka Dobe!" Sasuke mengerang dengan kencang dan menatap tajam, ia merasakan ego dan emosinya meluap-luap dan tidak bisa di tahan lagi.

Naurto mengerutkan keningnya dan balas menatap dengan tajam Sasuke "Apanya yang jelas-jelas Teme! Ini bukan salahmu!"

"Lalu jelaskan kenapa kau bisa terluka hingga sangat berat hah?" Sasuke tidak mau kalah, ia menatap lekat-lekat mata Naruto yang berwarna biru terang dengan matanya yang berwarna hitam kelam.

"Itu karena aku temanmu Teme! Aku terluka karena aku melindungi orang yang aku sayangi! Luka yang aku dapatkan adalah bukti bahwa aku menyayangi temanku dan akan melakukan apapun demi temanku" Naruto balas mendesis dengan keras, ia bangun dari posisinya dan menghampiri Sasuke.

"Kau terluka karena melindungiku! Karena aku tidak bisa melindungi diriku sendiri jadinya kau terluka! Jadi semua itu salahku!" Sasuke bangun dari posisinya juga dan mendekat juga ke arah Naruto, kini jarak di antara mereka sangat dekat dan mereka masih bertarung dengan tatapan mata tajam masing-masing, keduanya tidak ada yang mau mengalah dan keduanya tidak ada yang mau kalah.

"Apa salahnya itu? Kau juga terluka karena mencoba melindungiku! Kepalamu terbentur hingga kau pingsan! Aku kira kau sudah mati Teme!"

"Itu tidak ada apa-apanya! Kau terluka lebih parah—"

"Dari mana kau tahu Teme! Aku hanya tergores saja! Hanya sebuah luka sabetan! Sedangkan kepalamu terbentur! Apakah kau tahu bahwa kepala adalah bagian fital yang paling berbahaya bila terluka? Bayangkan apa yang bisa terjadi bila kau terkena—"

"Apanya yang bagian vital! Ia bisa saja menggores tanganmu tepat di pembulu nadimu! Atau ia bisa saja menusukmu tepat di mana jantungmu berada—"

"Demi Kami-sama! Haku hanya menggunakan senbon! Aku tidak apa-apa—"

"Walau hanya senbon tetap saja berbahaya bodoh! Apakah kau tidak tahu bahwa bisa saja jarum tersebut mengenai titik yang bisa membuat—"

Sasuke dan Naruto terus menerus saling memarahi satu sama lain, saling memberikan penjelsan bahwa yang salah adalah diri mereka sendiri dengan suara yang lantang dan keras hingga membuat Tsunami yang berniat menenagkan mereka mengurungkan niatnya dan Inari hanya bisa bersembunyi sambil sesekali mengintip pertengkaran mereka berdua.

Mereka terus bertengkar dalam jangka waktu yang cukup lama hingga Inari merasa bosan dan meninggalkan mereka berdua untuk membuatkan Naruto hadiah dan Tsunami kembali melanjutkan pekerjaannya, hingga akhirnya pertengkaran mereka selesai di saat mereka berdua sudah kehabisan nafas dan kelelahan.

Wajah Naruto terlihat sangat merah karena amarah dan nafasnya tersengal-sengal, ia berusaha mengatur nafasnya yang sudah tidak beraturan dan tenggorokannya yang kering karena terlalu banyak bebricara dan berteriak. Sasuke juga terlihat kelelahan, wajahnya juga memerah namun tidak semerah Naruto dan nafasnya juga tidak beraturan.

Mereka berdua terdiam, masing-masing terlalu sibuk mengatur nafas mereka dan membetulkan postur tubuh mereka namun tiba-tiba saja Naruto tertawa dan membuat Sasuke terlonjak kaget.

"Hahahahahah! Kita berantem hanya karena kita menyalahkan diri kita sendiri!" Naruto tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perutnya mulai sakit karena tertawa terlalu keras dan berlebihan, Kurama yang melihatnya hanya memutar bola matanya dan mengaggap Naruto sudah gila.

Suara tawa Naruto yang memenuhi ruangan seharusnya membuat Sasuke kesal karena Naruto tiba-tiba saja tertawa di saat mereka sedang membicarakan hal yang penting (baginya) namun entah mengapa perasaan kesal bercampur marah yang di rasakan oleh Sasuke pelan-pelan menghilang, sudut bibirnya sedikit tertarik ke atas di karenakan menurutnya tawa Naruto itu seperti penyakit yang menular; ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tersenyum.

Sasuke hanya terkekeh pelan, pelan-pelan ia merasa baikan mendengar Naruto terlihat ceria kembali, seperti Naruto kembali lagi ke dirinya yang dulu, namun dulu mendengar suara Naruto membuatnya menjadi kesal tetapi sekarang mendengar suara Naruto… menenangkan dirinya.

Setelah berberapa menit, akhirnya Naruto bisa mengatur nafasnya dan berhenti tertawa, ia mengelap air mata yang keluar dengan jarinya karena terlalu banyak tertawa dan sebuah cengiran menghiasi wajahnya "Kau tahu, apa yang kita lakukan tadi benar-benar… aneh"

Sasuke tidak menjawab dan hanya mengangguk pelan, ia kembali ke posisi sebelumnya dan duduk di lantai, entah mengapa ia merasa semua perasaan yang ia simpan sudah keluar semua dan ia merasa bebas sekarang.

"Sebenarnya apa yang ingin aku katakan adalah: jangan menganggap dirimu lemah hanya karena kau menerima bantuan dari temanmu… menerima bantuan dari temanmu adalah tanda bahwa kau kuat… kau telah membuktikan bahwa kau adalah orang yang sangat penting dan layak di lindungi, kau adalah asset terbesar dan orang terkuat" Naruto mengikuti apa yang Sasuke lakukan dan duduk di tempatnya sebelum berantem dengan Sasuke, sebuah senyuman kecil terlukis di wajahnya dan ia menatap penuh arti Sasuke "Kau itu kuat dan juga sahabatku, Teme, maka dari itu aku ingin melindungimu dan melihatmu tumbuh menjadi lebih kuat…"

"Bukan kah Kakashi-sensei pernah bilang? Orang yang mengabaikan misi adalah sampah namun orang yang mengabaikan temannya sendiri itu lebih rendah dari sampah" senyum di wajah Naruto melebar namun nada bicaranya kini berubah menjadi lebih santai dan terdengar sedang bergurau "Dan aku bukanlah sampah kau tahu? Menjadi sampah saja aku tidak mau, bagai mana menjadi sesuatu yang lebih rendah dari sampah?"

Sasuke hanya diam saja namun sebuah senyuman kecil terlukis di bibirnya, dadanya di penuhi oleh perasaan hangat mendengar apa yang Naruto katakan dan perasaan bahagia menyelimuti dirinya, sebuah perasaan yang ia kira tidak akan pernah ia rasakan lagi hingga ia berhasil membunuh Itachi dulu, namun sekarang semua telah berubah.

Sasuke menatap Naruto dengan pandangan yang Naruto tidak tahu apa maksudnya, Sasuke tahu mengapa dirinya menjadi seperti ini, mengapa Naruto bisa membuat dirinya merasa seperti ini. Sasuke kini tahu bahwa Naruto adalah cahaya, seperti matahari, yang menyinari dirinya dengan sinar yang hangat dan membimbingnya ke jalan yang benar.

Banyak orang yang tidak tahu bahwa walaupun klan Uchiha di katakan sebagai klan terkuat, mereka memiliki sebuah kutukan yang membuat mereka bisa dengan mudah di butakan dengan kebencian dan amarah yang tak terkendali, sebuah kutukan sebagai bayaran dari kekuatan yang mereka miliki. Namun lebih banyak lagi orang yang tidak tahu bahwa kutukan tersebut memiliki obat, obat yang dapat membuat mereka menjadi lebih tenang dan mengendalikan emosi mereka.

Obat tersebut bisa di sebut dengan cahaya pembimbing, cahaya pembimbing itu bisa berbentuk apa saja: bisa saja berbentuk dalam wujud saudara kandung yang mereka miliki seperti Sasuke kepada Itachi, bisa saja berbentuk dalam wujud sahabat seperti Itachi kepada Shisui, atau munkin dalam bentuk kepercayaan dan loyality terhadap apa yang ia ingin lindungi seperti Kagami dengan desanya, Konohagakure.

Dan kini Sasuke menemukan cahaya pembimbingnya dalam bentuk temannya, Uzumaki Naruto, ia akan melakukan apapun untuk melindungi cahaya miliknya dan semuanya di mulai dengan berlatih dan membuat dirinya menjadi lebih kuat, bahkan lebih kuat dari kakaknya.

Sasuke terkekeh pelan dan membuat Naruto menatapnya dengan bingung, ia tidak tahu apa yang membuat Sasuke menjadi lebih tenang dan senang namun ia merasa lega "Apa yang lucu Teme?"

Sasuke tidak langsung menjawab, ia hanya menatap Naruto dengan pandangan sedikit meremehkan dan di campur dengan pandangan seperti sedang mengejek "Wajahmu yang kekanak-kanakan dan sifatmu yang sangat tidak dewasa membuatmu tidak pantas mengatakan hal se-bijaksana itu"

Wajah Naruto langsung memerah dan mulutnya terkatup, perasaan kesal dan marah langsung memenuhinya dan membuatnya bangun dari posisinya dan pergi keluar kamar "Teme menyebalkan!"

Tanpa Naruto sadari, ia telah mengubah Sasuke dan sekarang dirinyalah yang menjadi cahaya yang mengobati kutukan turun-temurun klan Sasuke tanpa ia sadari. Naruto lupa menanyakan Itachi bagai mana cara ia bisa melepaskan dirinya dari kutukannya karena terlalu buru-buru ingin melawan Haku dan Zabuza.

Tanpa Naruto sadari juga, kini ia sudah seperti Izuna yang menjadi cahaya untuk Madara, terlebih lagi ironisnya Izuna mirip sekali dengan Sasuke, ada yang bilang itu adalah hal yang buruk…. Namun Naruto dan Sasuke tidak mengetahuinya, jadi sepertinya mereka berdua tidak akan apa-apa dan akan baik-baik saja. Karena ada pepatah yang bilang: Ignorance is a bliss.


Bee melompat dari satu pohon ke pohon lain dengan kecepatan super, dengan bantuan Gyuki ia bisa dengan cepat sampai ke Iwagakure dan sekarang ia tengah berada di sebuah hutan yang di kelilingi oleh pegunungan.

"Hmm, bagai mana cara aku bisa menemukannya? Tidak munkin aku bertanya langsung dengan warga desa…" Bee mendarat di tanah dengan mulus dan berhenti, ia mengecek sekelilingnya, ia berada tidak terlalu jauh dari Iwagakure "Dan bagai mana cara aku masuk ke desanya yo~? Bisa-bisa mereka mati di tempat melihat diriku yang sangat keren ini baka yarou~"

'Aku jijik mendengarnya…' Bee cemberut mendengar apa yang Gyuki katakan, namun sepertinya Gyuki tidak peduli dan sedang sibuk sendiri 'Diam sebentar, aku sedang mencoba mencari keberadaannya'

Bee hanya diam saja dan menyenderkan tubuhnya di bebatuan di belakangnya, ia mengeluarkan bukunya dan mulai menulis lirik lagu barunya yang nanti ia nyanyikan di konser tunggalnya kalau urusannya sudah selesai dan ia bisa kembali ke Kumogakure.

Bee menikmati suasana hutan di sekitarnya, walau tidak serindang dan setenang milik Konoha, juga seharusnya tempat ini tidak bisa di bilang sebagai hutan di karenakan pepohonannya sangatlah sedikit dan lebih banyak bebatuan dan pegunungan namun tetap saja ini adalah tempat yang paling banyak tumbuh pohonnya, Bee tidak keberatan karena menurutnya ini adalah sedikit hiburan baginya karena tempat ini seperti Konohagakure yang di campur dengan Kumogakure.

'Aku menemukannya, ia tidak ada di desa, malahan ia sedang berada tidak jauh dari sini' Bee menyimpan bukunya dan menyeringai mendengar apa yang Gyuki katakan.

'Beruntung sekali kita, yeah! Jadi ada di mana dia?' Bee mengok ke arah tempat yang di tunjuk oleh Gyuki dan berjaladengan santai sambil menikmati pemandangan di sekitarnya, namun ia jadi sedikit bingung, kenapa dia bisa ada di luar desa? Bukannya biasanya mereka tidak di perbolehkan keluar desa?

'Tidak semuanya bisa seberuntung dirimu atau Naruto, Bee…' Bee hanya diam saja dan mengangguk, ia tahu bahwa tidak semua orang memiliki sifat dan keberuntungan seperti dirinya dan Naruto namun apakah memang seburuk itu untuknya? Sampai-sampai ia berada di luar desa seperti ini.

Bee hanya bisa menghela nafas panjang di saat ia berhenti di depan sebuah gua yang pengap dan gelap, sepertinya lebih buruk dari apa yang ia bayangkan 'Apakah orang-orang tidak bisa melihat seberapa hebatnya kami, baka yarou! Atau munkin mereka sangat tidak peka, kono yarou'

Gyuki tidak menjawab dan Bee tahu mengapa, sepertinya Gyuki juga merasa kesal dan marah namun Bee memutuskan untuk tidak mengganggu Gyuki dan masuk ke dalam gua itu dengan hati-hati, ia menurunkan chakra miliknya dan mengeluarkan aura tenang.

Ia terus berjalan ke dalam namun lama kelamaan gua tersebut semakin membesar dan entah bagaimana tempratur di dalamnya naik dengan sangat cepat, semakin ia masuk ke dalam gua tersebut ia menyadari bahwa tempratur di gua tersebut semakin naik hingga ia harus menggunakan chakranya dan untuk melindungi tubuhnya dari panas.

Hingga akhirnya Bee sampai ke tempat paling terdalam dari gua, gua tersebut ternyata tidak sekecil yang ia kira dan ternyata di selimuti oleh semacam kabut panas yang muncul dari satu tempat yang di duduki oleh seseorang.

Bee menyeringai melihat orang yang duduk di atas batu di depannya "Yo! Tenangkan dirimu! Aku bisa saja jadi gurita rebus yo! Di sini panas sekali!"

"Apa maumu datang ke sini…" Orang yang ada di depannya tidak bergerak namun Bee bisa dengan jelas melihat bahwa orang tersebut menatapnya dengan sangat tajam di balik topi jerami yang ia kenakan, Bee terlihat tidak perduli dan tidak terintimidasi sama sekali.

"Hei hei tenang dulu baka yarou! Aku di sini ingin berniat baik kono yarou! Bagai mana kalau kita fist bump dulu sebagai perkenalan?" Bee mengepalkan tangannya dan membuat gerakan seperti meninju ke arah orang yang ada di depannya namun sepertinya orang yang ia ajak untuk fist bump hanya diam saja dan tetap menatap tajam ke arahnya.

"Aah, munkin karena terlalu jauh ya? Aku tidak bisa mendekat kepadamu karena aku akan benar-benar menjadi gurita kukus, kalau begitu kita salaman dari jauh saja" Orang yang di depannya terlihat terlonjak kaget dan langsung bangun dari posisinya yang tadinya duduk dengan tenang, ia menatap tidak percaya tentakel gurita yang muncul dari belakang Bee dan bergerak ke arahnya secara perlahan.

Apa yang di katakan oleh Bee selanjutnya juga hampir saja membuat dirinya terjatuh karena kehilangan keseimbangan dan kaget "Yo! Namaku Killer bee! Jinchuriki dari Hachibi yo! Senang bertemu denganmu!"

Untuk pertama kali dalam seumur hidupnya dan semenjak di segel di dalam tubuhnya, monster yang sangat pendiam dan penyendiri di dalam tubuhnya berbicara dan apa yang di katakannya hampir membuat dirinya terkena sakit kepala 'Hachibi… kakak'

"Oh, dan ada titipan salam juga dari Jinchuriki dari Kyuubi dan pesan dari Kyuubi untuk yang ada di dalammu: dengar omongan kakakmu"

Yak, sepertinya orang itu benar-benar di serang oleh perasaan mual bercampur sakit kepala di karenakan informasi yang baru saja ia dengar dan emosi yang muncul secara bertubi-tubi tanpa ampun.

'Hei, kau membuatnya jadi stress…'

'He? Apa ada yang salah? Aku hanya memberi tahu kebenaran saja, kono yarou!'


Naruto menatap lekat-lekat sebuah kalung yang terlihat jelas adalah buatan tangan dari Inari, ia harus menahan perasaan ingin menangis dan memeluk dengan kuat Inari atas hadiah yang ia berikan, namun ia tidak mau di bilang gila atau cengeng jadinya Naruto hanya bisa tersenyum manis sambil menerima hadiah dari Inari "Terimakasih banyak!"

Naruto harus menahan keinginannya untuk melakukan hal bodoh (menangis) karena melihat wajah Inari yang sedang menahan tangis dan mencoba tersenyum, walaupun ia tahu bahwa akhirnya akan seperti ini, tetap saja Naruto tidak bisa menahan perasaan ingin menangis dan membuat Kurama tertawa terbahak-bahak melihatnya, rubah yang satu itu memang tidak bisa bersimpati dengannya.

"Jaga dirimu baik-baik ya! Aku yakin kita akan bertemu lagi nanti! Jadi jangan menangis" Senyum Naruto melebar dan ia menepuk kepala Inari lalu mengacak-acak rambut hitamnya, membuat Inari cemberut dan langsung menghapus air matanya.

"Aku tidak menangis! Aku sudah berjanji tidak akan menangis lagi!" Namun sepertinya apa yang Inari katakan bertolak belakang dengan kenyataan karena jelas sekali air matanya tidak mau berhenti mengalir walau sudah ia bersihkan air mata tersebut dengan tangannya, membuat Kurama tertawa lebih kencang dan membuat Naruto jadi sebal sendiri.

"Iya, aku tahu kok" Naruto mengangguk lalu membalik badannya, ia berjalan ke arah anggota kelompoknya bersama dengan Kakashi yang sudah berjalan terlebih dahulu "Aku pulang dulu ya!"

Inari tersentak kaget dan terlihat ingin mencoba meraih Naruto namun ia mengurungkan niatnya dan berdiri dengan tegap, ia hanya bisa menatap sedih punggung Naruto sambil menahan tangis yang hingga sekarang tidak mau berhenti.

Di saat mereka semua sudah berjalan agak jauh dan rumah Tazuna sudah tidak kelihatan lagi, Sasuke terkekeh pelan sambil melirik Naruto yang sedang menghapus air mata yang berhasil keluar dari matanya "Kau cengeng sekali Dobe"

"Diam Teme!" Naruto mendesis dengan keras dan menatap tajam Sasuke, namun matanya yang sembab dan bekas air mata menghiasi pipinya malah membuat dirinya terlihat aneh dan membuat Sasuke menyeringai melihatnya.

Kakashi tersenyum melihat kelakuan Naruto dan Sasuke secara diam-diam, namun pikirannya penuh dengan informasi yang akan ia berikan kepada Sandaime nanti di saat mereka sampai ke desa.

Perjalanan kembali ke desa Konoha terasa sangat cepat, sesampainya di Konoha, Kakashi menyuruh anak muridnya untuk beristirahat sedangkan dirinya juga ingin beristirahat namun Naruto tahu bahwa Kakashi akan melapor kepada Sandaime mengenai dirinya.

Naruto menyeringai, setelah berpisah dengan Sasuke dan Sakura dengan beralasan ia sangat kelelahan dan butuh istirahat, Naruto langsung pergi ke gedung milik Hokage dan bersembunyi di atap ruangan Hokage tanpa di ketahui siapapun.

Naruto tertawa dalam hati mendengar apa yang Kakashi katakan kepada kakeknya dan menunggu hingga Kakashi selesai berbicara dengan Sandaime dan pergi barulah Naruto masuk ke dalam ruangan Sandaime secara tiba-tiba, ia hampir saja membuat Sandaime terkena serangan jantung "Kakek!"

Sandaime tersentak kaget dan menatap tidak percaya ke arah Naruto, sejak kapan Naruto ada di ruangannya? Apakah ia mendengar apa yang ia katakan kepada Kakashi? Bagai mana bisa ANBU yang bertugas menjaga ruangannya tidak menyadari keberadaan Naruto? Dan sejak kapan Naruto bisa menggunakan shunshin?

"Untuk menjawab pertanyaan Kakek, aku ada di sini sebelum Kakashi-sensei datang, aku mendengar apa yang Kakashi-sensei katakan, aku menyembunyikan keberadaanku dan memasang segel di dalam ruangan ini agar tidak ada yang bisa mendengar apa yang akan aku katakan sebentar lagi, dan aku belajar shunshin dari ayah" Naruto tersenyum kecil melihat reaksi Sandaime yang menatap tidak percaya dirinya namun senyum itu kini berubah menjadi ekspresi serius "Ada yang ingin aku bicarakan kepadamu… kakek…"

Sandaime terdiam, ia menatap mata Naruto secara langsung dan melihat keseriusan dan tekad sekuat baja di dalamnya, ia terdiam sebentar sebelum menghisap pipanya dan mengangguk.

Naruto langsung memposisikannya dalam keadaan duduk dengan satu kaki di lipat sempurna dan satu lagi agak ke depan, seperti seorang ANBU yang sedang memberi hormat kepada Hokage miliik mereka "Naruto Namikaze-Uzumaki, jinchuriki dari Kyuubi ingin melapor"

Sandaime membuka mulutnya dan terdiam, pipanya terjatuh dari mulutnya dan matanya membulat mendengar apa yang Naruto katakan sebelum ia menutup kembali mulutnya dan membalik badannya, ia menatap pahatan wajah hokage keempat dari kaca jendelanya "Lanjutkan"

Selama Naruto berbicara, Sandaime hanya diam saja, pikirannya tidak pernah melayang ke mana-mana namun ia tidak pernah membalik tubuhnya untuk melihat secara langsung Naruto, ia tidak mau memperlihatkan wajahnya yang terlalu sering berubah-ubah karena emosi yang menyerangnya secara bertubi-tubi mendengar apa yang Naruto katakan.

Sarutobi Hiruzen adalah orang yang sangat emosional, tidak banyak orang yang tahu namun ia tahu bahwa hal tersebut juga yang membuat dirinya terpilih menjadi Hokage ketiga, karena desa Konoha membutuhkan pemimpin yang baik hati dan bisa merasakan apa yang rakyatnya rasakan sehingga ia bisa bersimpatik dan menjadi pemimpin yang baik untuk warganya.

Namun karena sifatnya itulah Hiruzen memiliki kekurangan dan kesalahan, karena di muka bumi ini tidak ada yang namanya manusia yang sempura, sepintar dan sebaik apapun seseorang; bahkan sang Rikudo sennin saja punya kesalahan dan kebanyakan kesalahan yang Hiruzen lakukan adalah berkaitan dengan Naruto. Namun sekarang ia mendengar cerita Naruto mengenai kehidupannya dan ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menangis mendengarnya.

Perasaan bangga bercampur sedih memenuhi hatinya, perasaan bersalah bercampur bahagia menyelimuti dirinya dan masih banyak lagi emosi yang muncul hingga ia tidak tahu emosi mana yang mau ia tunjukkan kepada Naruto.

Namun di saat naruto berhenti bercerita, Hiruzen yang biasa di panggil Sandaime terdiam, ia membiarkan keheningan menemani mereka berdua di ruangan yang dulu adalah milik ayah Naruto sendiri.

Sebelum akhirnya Sandaime membalik badannya dan menatap penuh kasih sayang Naruto, sebuah senyum kecil menghiasi wajahnya dan dengan suara pelan hampir berbisik ia berbicara "Ke sini Naruto, kau tidak perlu menahan emosimu"

Naruto langsung bangun dari posisinya dan memeluk dengan sangat erat Sadaime, matanya mengeluarkan air yang tidak kunjung berhenti dan suaranya seperti tersedak, tubuhnya bergetar hebat sambil memanggil-manggil Sandaime.

Di saat Naruto kembali lagi ke masa lalu dan bertemu Sandaime, begitu banyak emosi yang ingin ia keluarkan di saat melihat kakeknya kini telah hidup kembali dan sehat-sehat saja namun ia harus menutupinya dengan topeng kebahagiaan dan kepolosan demi menjaga rahasia yang ia bawa dari masa depan dan tidak mengundang kecurigaan dari orang-orang di sekitarnya, namun sekarang ia mengeluarkan semuanya.

Sadaime hanya balas memeluk Naruto sambil menepuk dengan pelan punggung Naruto, ia tidak perduli pakaiannya basah karena air mata Naruto dan ia tidak perduli pinggangnya yang sedikit sakit karena di peluk dengan sangat erat oleh Naruto, ia membiarkan murid yang sudah ia anggap seperti cucu sendiri menangis sepuasnya dan mengeluarkan segala emosi yang ia tampung.

Sandaime adalah orang yang pintar, ia tidak di juluki sebagai professor hanya karena omong kosong, ia tahu alasan mengapa Naruto tiba-tiba menceritakan masa lalunya (masa depan? Entah lah) kepada dirinya dan ia tahu apa yang harus ia lakukan selanjutnya setelah mengetahui rencana Naruto.

Ia juga tidak kaget di saat tiba-tiba saja ia bertemu dengan sang Kyuubi itu sendiri di dalam pikiran Naruto tanpa sepengetahuan sang pemilik pikiran yang tidak tersegel sama sekali dan ia hanya mengangguk di saat sang monster berwujud rubah tersebut memberi tahukan dirinya mengenai kematiannya dan segel yang menyegel ingatan Naruto mengenai hal tersebut.

Sudah di katakan bahwa ia adalah seorang genius yang di panggil professor, ia tahu bahwa ia sudah mati di saat Naruto bercerita mengenai masa depan (peperangan ke empat di dunia shinobi) dan ia tidak mendengar namanya di panggil sama sekali, kemunkinan terbesar adalah ia sudah mati sebelum peperangan terjadi. Namun ia tidak menyangka bahwa ia akan mati lebih cepat namun ia tidak menyesalinya, ia sudah hidup cukup lama, sudah saatnya ia bertemu kembali dengan istrinya dan gurunya yang sudah duluan pergi, ia bahkan merasa sudah sangat beruntung karena ia tidak mati muda seperti hokage-hokage sebelumnya.

Jadi Sandaime hanya tersenyum kecil mendengar apa yang Kyuubi katakan, ia tidak terlalu mempermasalahkan dirinya yang akan mati sebentar lagi namun yang ia pikirkan sekarang adalah Naruto.

Ia sudah pernah kehilangan dirinya satu kali lalu ia akan kehilangan dirinya lagi untuk kedua kalinya, Sandaime tahu bahwa Kyuubi memberi tahunya karena ia meminta bantuan dirinya untuk menenangkan Naruto.

Sandaime hanya bisa tersenyum sedih, ia tetap memeluk Naruto yang sedang mencoba menghentikan tangisnya dan mengelap air matanya, ia membiarkan Naruto mengeluarkan segala macam rasa sedih yang terpendam di dalam dirinya karena apa yang di lewati oleh Naruto tidak seharusnya terjadi kepada bocah umur enam belas tahun yang sudah pernah kehilangan kedua orang tuanya sejak kecil dan di perlakukan secara tidak adil oleh orang-orang di sekitarnya.

Untuk sekarang, hal yang Sandaime bisa lakukan adalah membuat cucunya yang satu ini menjadi bahagia, ia mencoba membalas dosa yang pernah ia lakukan di masa lalunya dan itu di mulai dengan mengabulkan permintaan Naruto sekarang.

Karena Naruto akan menjadi Hokage di masa depan dan Sandaime percaya itu.


"Jadi? Bagai mana? Kau mau tidak berkerja sama? Kami tidak memaksa baka yarou!"

"Tapi ingat, kami melakukan hal ini untuk kebaikanmu sendiri"

"…"

"Dengan satu syarat"

"Dan syaratnya?"

"Jangan meminta yang aneh-aneh"

"…"

"Aku tidak ingin hidup di tempat yang ramai, aku mau menetap dengan tenang di hutan tanpa di usik sama sekali"

"…"

"…"

"Bukannya itu yang kita lakukan sekarang? Bahkan sebelum mereka berdua datang juga"

"…. Jadi kapan kita bisa mulai?"

"Haha! Semangat yang bagus baka yarou! Killer bee yang hebat ini akan mengajarimu kono yarou!"

"Pilihan yang bagus adik kecil, sudah aku bilang ini demi kebaikanmu"

"Adik kecil…?"

"Berhenti memanggilku dengan panggilan menjijikkan itu, Gyuki!"


To Be Continue


!Author Notes!

Yak! Tazuna Arc selesai sudah! Kini semua chapter To The Past yang lama sudah selesai di revisi semua! Alasan mengapa terlihat chapter yang sebelumnya lebih banyak walau hanya untuk menyelesaikan Tazuna Arc adalah karena gaya menulis saya yang bertele-tele dan maksimal hanya 2K jadinya terlihat sangat banyak chapternya.

Seperti yang saya bilang sebelumnya, karena saya sudah selesai merevisi cerita ini dan sekarang hanya tinggal melanjutkannya, saya memutuskan untuk mengeluarkan cerita baru! Bila ada yang tertarik silakan cek profile saya! Kemunkinan besar ceritanya akan di publish dalam jangka waktu dekat!

Terimakasih banyak sudah membaca chapter ini sampai akhir! Sampai jumpa di chapter depan!

Review Please!