Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto

Warning: Mengandung Gender Bender, Semi-Au, Time Travel, Miss Typoo, dll


!Author Notes!

Halo para pembaca yang saya hormati, senang rasanya saya melihat banyak yang menyukai chapter sebelumnya karena sejujurnya, saya sendiri kurang menyukainya karena... entah lah, munkin karena saya menulisnya jauh sekali dari draft yang saya sudah sediakan dan buat sebelumnya.

Untuk pemberitahuan juga, saya akan mulai ujian akhir minggu depan jadi kemunkinan besar saya tidak akan bisa up-date, saya mohon maaf sebesar-besarnya namun chapter berikutnya harus menunggu hingga ujian saya selesai.

Saya juga minta maaf atas kependekan chapter ini karena... saya sibuk persiapan ujian.

Dan untuk pairing, karakter yang memiliki ending masih Sasuke, Kakashi, Itachi, Gaara, dan Kurama.

Sekian apa yang ingin saya sampaikan, selamat menikmati chapter ini.


Naruto sebenarnya sudah tahu bagai mana ujian Chunin kali ini akan berakhir namun entah mengapa ia ada perasaan tidak enak di dalam hatinya, Kurama terlihat lebih pendiam dari sebelumnya hingga membuatnya semakin tidak nyaman.

Karena itulah semalaman ia tidak bisa tidur dan hanya menatap kosong dinding kamarnya, perasaan tidak enak di dalam hatinya terus menerus menghantuinya hingga ia tidak bisa sama sekali menutup matanya dan pergi ke dunia mimpi; membuatnya bangun sedikit lebih siang dari yang ia jadwalkan dengan kantung hitam menghiasi wajahnya.

Naruto sedikit berterimakasih kepada sang Sandaime karena telah memberikan dirinya sebuah make-up (walau rasa kesal tetap ada karena ia merasa di perlakukan seperti perempuan oleh Sandaime!) dan menggunakan conceler untuk menutupi kantung matanya.

Oh, dari mana Naruto belajar menggunakan make-up? Jawabannya simple, ia suka mencoret-coret muka orang-orang yang sedang tidur sebagai salah satu kesehariannya dalam mengerjai orang (bahkan di saat ia sudah berumur 15 tahun! Hanya saja ia jadi semakin jarang, namun bukan berarti ia berhenti sepenuhnya), termasuk memasangkan make-up milik perempuan kepada orang-orang yang ia kerjai.

Sekarang Naruto sedang duduk di depan sang Hokage ketiga yang biasa ia panggil kakek di ruangan yang sudah di beri segel agar tidak ada orang yang bisa mendengar atau merasakan keberadaan mereka dari luar.

"Jadi kek, untuk sekarang aku ingin kakek berhati-hati ya! Aku ada perasaan tidak enak..." Naruto menatap khawatir sang Sandaime di depannya, ia merasa perasaan yang mengganggunya sekarang ada hubungannya dengan sang Hokage ketiga.

Sandaime hanya tersenyum kecil, matanya menyiratkan perasaan campur aduk dengan perasaan sedih yang paling terlihat, wajahnya yang sudah di penuhi kerutan membuat dirinya terlihat seperti seorang kakek tua yang lemah dan tidak berdaya sehingga membuat Naruto semakin khawatir dengan kakek angkatnya "Naruto, aku tidak apa-apa"

"Perasaanku tidak enak..." Naruto tidak mempercayai apa yang Sandaime katakan karena ia bisa melihat dengan jelas bahwa kakeknya merahasiakan sesuatu yang tentu saja membuat dirinya semakin tidak bisa diam, ia jadi memiliki keinginan untuk terus berada di samping kakeknya, takut sang kakek pergi jauh entah ke mana dan tidak pernah kembali lagi.

Sandaime menghela nafas pelan, ia menepuk kepala Naruto dan mengacak-acak rambut kuning terang milik Naruto, ia merasa seperti melihat Kushina di saat dirinya ingin pergi melakukan misi di atas tingkat A dan itu membuat dirinya merasa sangat tua; lebih tua dari umurnya yang sebenarnya "Naruto, apakah kau tahu siapa guruku?"

Naruto terdiam, Ia merasa senang di manjakan oleh kakeknya namun ia hanya menjawab pertanyaan sang kakek dengan anggukan, ia tahu siapa guru kakeknya dan bahkan sudah bertemu secara langsung dengannya walau hanya melalui mimpi; mimpi yang menghantuinya setiap malam bila ia pergi ke alam mimpi.

Sang Nidaime Hokage, Tobirama Senju; adik dari Hokage pertama, Hashirama Senju yang secara tidak langsung menjadi penyebab dari terjadinya pembunuhan brantai klan Uchiha, secara tidak sengaja juga ia membuat salah seorang muridnya menjadi psikopat tidak berperasaan, membuat seorang kakak kehilangan adik kesayangannya yang akhirnya membuat dirinya menjadi psikopat juga, menciptakan jutsu yang di gunakan untuk membangkitkan orang-orang yang akan di gunakan untuk menghancurkan dunia, dan munkin masih banyak lagi.

Oh, dan jutsu tersebut juga yang membunuh salah satu muridnya yang ia bangga-banggakan, namun Naruto tidak mengingatnya sekarang, jadi Kuramalah yang mengerang pelan karena mengingatnya, sepertinya Hokage yang satu itu banyak dosanya ya.

"Guruku, Nidaime Hokage mengorbankan dirinya agar kami semua, pengawalnya, bisa hidup" Walaupun banyak dosanya namun setidaknya Naruto ingin berterimakasih kepadanya karena berkatnya juga kakeknya bisa hidup dan menjadi Hokage serta menciptakan jutsu yang akhirnya menjadi jutsu utama yang biasa ia gunakan dan juga setidaknya sang Sandaime sangat menyayangi dan membangga-banggakan gurunya, jadi Naruto diam saja "Bagi para shinobi, mati di medan perang adalah sebuah impian dan hal yang paling terhormat"

"Apa lagi mati demi melindungi seseorang yang kau kasihi, bukannya kau sendiri yang bilang? Orang yang mengabaikan misi adalah sampah namun orang yang mengabaikan temannya sendiri itu lebih rendah dari sampah?" Sandaime tertawa pelan melihat Naruto menggumamkan nama gurunya namun Naruto menatapnya dengan pandangan tidak suka dan sedih mendengar kata-kata 'mati' karena tidak lama ini baru saja ia melihat Zabuza dan Haku mati di depan matanya "Aku hidup sudah lama sekali, bahkan bisa di bilang aku satu-satunya Hokage yang tidak mati muda; bagiku itu sudah lebih dari cukup"

"Naruto, munkin ini akan terdengar aneh namun kau harus tahu bahwa aku tidak keberatan mati sekarang atau dalam jangka waktu dekat" Sebelum Naruto bisa membantah apa yang ia katakan, Sandaime sudah keburu melanjutkan omongannya "Tubuhku sudah melemah dan walau kau tidak tahu, aku memiliki penyakit yang cukup parah, selain itu aku juga sudah kangen dengan istriku Naruto, bahkan aku sudah kangen dengan teman-teman seperjuanganku dulu serta guruku"

"Aku tahu bahwa dirimu tidak akan rela melepasku namun kau harus kuat Naruto, aku memang memiliki banyak penyesalan dalam hidupku namun aku yakin bahwa desa—bahkan dunia ini—ada di tangan yang baik, bahkan bisa di bilang bila aku mati; aku tidak akan segan-segan memberikan titel Hokage kepada dirimu Naruto" Sandaime memeluk erat Naruto yang sudah mulai menangis, seperti ia merasakan apa yang kakeknya katakan akan menjadi kenyataan "Jangan menangis Naruto, karena kau adalah pemimpin yang di butuhkan desa ini di masa depan"

"Kakek... jangan pergi!" Naruto memeluk dengan erat kakeknya, ia tidak bisa menahan perasaannya yang ingin meledak bila membayangkan kakeknya akan pergi sebentar lagi, banyak sekali hal yang ingin ia lakukan dengan sang kakek, banyak sekali cerita yang ingin ia ceritakan kepada sang kakek, dan masih lebih banyak lagi kasih sayang yang ingin ia berikan kepada kakeknya.

"Hahaha, aku tidak akan pergi sekarang Naruto, namun aku hanya ingin kau tahu saja bahwa apapun yang terjadi kepadaku bukanlah salahmu dan aku akan dengan senang hati menerimanya, aku merasa sangat bangga mengetahui cucuku menjadi pemuda yang berani dan pantang menyerah, bagiku itu sudah lebih dari cukup Naruto... aku merasa segala penyesalan yang aku rasakan mengenai dirimu sudah hilang semua di gantikan dengan rasa bangga dan bahagia" Sandaime tersenyum sedih, ia melepas pelukannya dan menghapus air mata Naruto dengan jari-jarinya "Tapi aku ingin kau memaafkanku atas segala kesalahan yang telah aku perbuat secara tidak sengaja maupun sengaja kepadamu Naruto...apakah kau mau memaafkanku?"

Naruto tidak bisa menjawab, tenggorokannya seperti tersumbat sesuatu makannya ia hanya bisa mengangguk dengan kencang dan cepat sebelum kembali memeluk sang Sadaime dan membenamkan wajahnya di dada kakeknya.

Sandaime tersenyum hangat, air mata pelan-pelan keluar dari matanya dan ia kembali memeluk Naruto dan berbisik pelan "Terimakasih banyak, Naruto"


Naruto diam saja di perjalanannya pergi ke tempat mereka akan memulai ujian Chunin, ia melihat Sasuke dan Sakura sudah terlebih dahulu sampai dan ia langsung memasang wajah bahagia dan tersenyum lebar.

Mereka bertiga sempat berbincang-bincang terlebuh dahulu sebelum memasuki gedung di belakang mereka mengenai betapa senangnya mereka akan mengikuti ujian untuk menjadi seorang Chunin (Naruto), gugup karena tidak tahu apakan mereka bisa lulus atau tidak (Sakura), dan komentar-komentar pedas bercampur gurauan untuk Naruto (Sasuke).

Sasuke merasa senang melihat Naruto kini sudah kembali seperti biasa (menurut pandangannya) dan kini tidak sering melamun lagi namun ia bisa melihat sebuah keanehan dari Sakura yang sedari tadi terlihat tidak nyaman dan terlalu diam sebelum menyadari bahwa Sakura sering memberikan Naruto tatapan iri.

Namun tatapan iri tersebut terlihat berbeda dari yang biasanya ia berikan ketika dirinya memberikan perhatian lebih kepada Naruto, tatapan iri itu di berikan kepada Naruto karena alasan yang lain, ia mengerti di saat mereka sedang di berikan tes mengenai genjutsu, di mana dua orang pengawas sedang 'membully' para peserta lain dengan tidak memperbolehkan mereka memasuki ruang ujian.

Naruto diam saja dan seperti menunggu Sakura mengatakan atau melakukan sesuatu, sepertinya Naruto juga menyadari keanehan dari Sakura dan mencoba menenangkannya dan memberikan peran penting kepada Sakura.

Sasuke dan Naruto tersenyum puas melihat Sakura memberi tahukan bahwa mereka sedang di uji dan mereka semua sedang dalam pengaruh genjutsu dengan bangga, mereka bertiga pergi meninggalkan tempat tersebut dan pergi ke ruangan yang sebenarnya.

Sakura mendapat hadiah berupa kata-kata penyemangat dari Sasuke dan senyum lebar dari Naruto sehingga membuat Sakura tersenyum lebar, perasaan bahwa ia tidak akan munkin lulus dan tidak berguna pelan-pelan menghilang di gantikan dengan perasaan bangga dan tekad sekuat baja.

Sebenarnya Sakura sedari tadi merasa tidak pantas bisa mengikuti ujian ini karena sejujurnya ia akhir-akhir ini sering berfikir bahwa dirinya tidak akan bisa menyusul Sasuke, jangankan bisa satu level dengan Sasuke, menjadi setingkat dengan Naruto saja ia tidak bisa (walau ia ada perasaan aneh bahwa Naruto jauh lebih kuat dari Sasuke), namun sekarang ia merasa baikan berkat dukungan dari Sasuke dan Naruto, ia akan berjuang sekuat tenaga agar bisa mengerja dua orang rekan satu kelompoknya.

Namun perjalanan mereka berdua terhenti di karenakan ada seseorang yang tiba-tiba saja menantang Sasuke untuk bertarung, membuat dirinya dan Naruto harus menunggu Sasuke selesai bertarung dengan anak laki-laki yang sepertinya lebih tua dari mereka yang bernama Rock Lee.

"Hehehe! Selamat berjuang Teme!" Naruto terkekeh dan mendorong Sasuke ke arah Lee lalu mundur sambil melompat-lompat dengan antusias, ia ingin melihat buah hasil latihan Sasuke dengan dirinya, apakah munkin Sasuke akan menang kali ini? Lagi pula ia harus mengalihkan pikirannya dari apa yang ia bicarakan dengan Sandaime tadi pagi, ia sudah berjanji bahwa ia harus tetap terlihat ceria dan senang.

'Oi! Kau di perhatikan oleh bocah berpakaian hijau norak itu' Kurama juga membantu Naruto dengan mengalihkan segala pikiran sedihnya dengan mencoba mengajaknya berbicara dan mengganggunya.

Naruto memoleh ke arah Lee yang terpelongon menatapnya; mulutnya terbuka lebar dan matanya yang sudah bulat terlihat semakin bulat menatapnya sehingga membuat Naruto tertawa melihatnya "Hahahah! Kenapa kau menatapku seperti itu!"

Lee jadi salah tingkah dan langsung menggeleng dengan cepat dan seperti mendumal sendiri, namun Naruto tentu yang memiliki pendengaran tajam bisa mendengarnya; Lee seperti mengingatkan dirinya sendiri bahwa ia sudah memiliki malaikan sendiri dan ia tidak akan berpaling dari malaikatnya, membuat Naruto berhenti tertawa dan menaikkan sebelah alisnya "Ha? Ada apa?"

"Si-siapa kau?" Lee bertanya dengan susah payah dan suara terbata-bata, ia seperti mencoba mengalihkan perhatiannya ke arah Sakura namun matanya terus-menerus berkali-kali melirik Naruto.

"Uzumaki Naruto! Kau harusnya sudah tahu siapa aku!" Naruto melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menaikkan sebelah alisnya, bukannya Lee seharusnya sudah tahu siapa dirinya ya? Memang ia tidak menyerang Lee seperti dulu karena merasa iri dengan Sasuke namun tetap saja itu tidak mengganti kenyataan bahwa Lee seharusnya tahu siapa dirinya.

"Tapi seharusnya Uzumaki Naruto laki-laki—ah sudahlah! Tidak penting! Aku sudah punya cinta sejatiku! Aku tidak boleh tegoda dengan bidadari lain!" Naruto terperanjat dan melompat menjauh dari Lee mendengar apa yang Lee katakan sedangkan Sasuke menatap nanar Lee.

"Bi-bidadari?!" Naruto menatap horor Lee sedangkan Kurama tertawa dengan sangat kencang, bahkan ia sampai memukul-mukul tanah dan semua ekornya ia hentak-hentakan.

'HAHAHAHAHAHHAHAHAH! BIDADARI! DEMI APA? BIDADARI! HAHHAHAHAHA" Kurama tertawa dengan sangat kencang sambil memegang perutnya yang terasa sangat sakit karena terlalu banyak tertawa.

"Hei! Walau tubuhku perempuan, jiwaku laki-laki tulen!" Wajah Naruto langsung berubah menjadi seperti makanan kesukaan Sasuke karena marah, ia menunjuk dan menatap penuh amarah Lee "Jangan panggil aku bidadari! Aku adalah matahari bodoh!"

"Apa pula… matahari?" Sakura menaikkan sebelah alisnya mendengar apa yang Naruto katakan, apakah munkin karena rambutnya yang berwarna kuning cerah maka ia mengatakan bahwa dirinya adalah matahari? Sedangkan Sasuke tersenyum tipis mendengarnya.

Naruto menghentak-hentakkan kakinya dengan kesal melihat Lee yang masih menatap tidak percaya dirinya sebelum membalik badannya dan berjalan terlebih dahulu ke ruangan tempat mereka akan menjalankan ujian pertama "Aku duluan! Teme, selesaikan urusanmu secepat munkin!"

Naruto berjalan dengan cepat, ia tidak menghiraukan tawa Kurama yang menggelegar di pikirannya dan perasaan malu bercampur apa lah itu yang tiba-tiba ia rasakan, ia tidak memperdulikan pandangan bingung dari Sasuke dan Sakura serta pandangan aneh dari Lee di perjalanannya.

'Haha, kau tidak perlu menjadi semarah itu Kit' Kurama menahan tawanya dan menutup mulutnya dengan tangannya untuk menahan agar tidak tertawa lagi, namun gagal di saat ia melihat Naruto yang wajahnya sudah sewarna dengan makanan kesukaan Sasuke.

'Aaagh! Aku tidak mau tahu! Aku kesal! Aku laki-laki tulen!' Naruto menarik-narik rambutnya dengan sebal, ia merasa kesal dengan dirinya sendiri yang merasakan… merasakan… malu di saat di puji kalau ia seperti bidadari! Tidak! Ia masih laki-laki tulen! Ia tidak merasa senang di puji seperti itu!

Kalau Konohamaru yang memujinya (berberapa kali tanpa Konohamaru sendiri sadari atau tidak sengaja di saat mereka bermain bersama), munkin ia hanya akan menganggapnya sebagai candaan, namun bila tiba-tiba seperti Lee atau munkin laki-laki seumuran atau lebih tua darinya… akhir-akhir ini Naruto sering salah tingkah sendiri entah mengapa, membuat anak satu-satunya dari mendiam Hokage keempat ini frustasi.

Naruto tidak memperdulikan pandangan aneh dari orang-orang yang ada di dalam kelas dan duduk di sebelah Hinata untuk menunggu temannya yang lain, ia melirik tajam Kabuto yang ia tahu sedang mengecek dirinya dan memperhatikan segala gerak-geriknya.

Naruto memutar kedua bola matanya di saat ia melihat Orochimaru yang sedang menyamar menjadi perempuan, ia berjanji kepada dirinya sendiri untuk menghajar ular yang satu itu hingga babak belur nanti kalau ia bisa.

Naruto berbincang-bincang dengan Hinata dan kelompoknya sebentar hingga ia melihat Sasuke dan Sakura memasuki ruangan, dari ekspresi Sasuke sudah cukup menjadi bukti bahwa Sasuke kalah melawan Lee namun Naruto tahu bahwa Sasuke sudah menjadi lebih kuat karena ia bisa melihat Lee yang sedikit terluka, sebuah senyuman puas terlukis di wajah Naruto sebelum ia melambai ke arah temannya.

Naruto melirik tajam Kabuto yang mencoba mendekat ke arah mereka, otomatis Naruto langsung menarik Sasuke agar mendekat ke arahnya, tanpa sadar membuat yang di tarik wajahnya memerah dan menatap bingung Naruto namun karena terlalu malu jadi ia diam saja.

Naruto terus-menerus memberikan tatapan kesal bercampur benci ke arah Kabuto di saat ia memperlihatkan apapun itu yang ia punya dan menceritakan kebohongan mengenai dirinya, membuat Sasuke dan Sakura yang menyadari tingkah anehnya menatap bingung Naruto.

Munkin tidak ada yang tahu kecuali Naruto, namun Kurama juga mengerang dengan sangat kencang, bulu-bulunya naik semua dan ia juga menatap Kabuto lalu melirik ke arah Orochimaro dengan pandangan yang bisa membuat orang-orang mati di tempat kalau pandangan bisa membunuh.

"Uhm… nona… kenapa kau menatapku seperti itu?" Kabuto mencoba berlagak seperti ia merasa grogi dan takut, namun Naruto tahu bahwa ia sedang kebingungan mengapa Naruto menatapnya begitu tajam.

"Tidak, aku hanya tidak suka hawa yang kau keluarkan" Naruto membuang mukanya dan menarik Sasuke dan Sakura menjauh dari Kabuto, ia tidak perduli teman-temannya memberikan pandangan bingung kepadanya sebelum matanya menangkap siloet seseorang tidak jauh dari tempatnya sedang duduk.

'Tunggu… bukannya itu…' Naruto memicingkan matanya dan mencoba melihat lebih jelas orang yang sedang bersandar di dinding agak jauh darinya, ia menatap lekat-lekat orang tersebut dan mencoba mengingat-ingat mengapa orang itu terlihat sangat familiar.

'Tunggu… kenapa orang itu…' Naruto terlalu serius mencoba mengindentifikasi orang yang sedang melipat kedua tangannya di depan dadanya dan mengobrol dengan temannya, oh ia menyeringai ke arahnya!

Naruto membulatkan matanya, oh tuhan, ia kenal siapa orang tersebut!

Sasuke manatap bingung Naruto yang tiba-tiba terdiam dan mencoba melihat siapa yang sedang Naruto pandang sekarang.

Tanpa Naruto sadari karena terlalu serius untuk mengindentifikasi siapa orang tersebut, ia sedang di perhatikan seseorang, seseorang tersebut memiliki rambut berwarna merah terang dengan tulisan kanji 'love' di keningnya.


Kisame menatap kosong laki-laki di depannya, laki-laki tersebut mengenakan topeng dengan satu bolongan, ia seperti sebuah lollipop berukuran jumbo yang bisa bergerak dan hidup.

"Kisame-senpai! Kisame-senpai! Kenapa Itachi-senpai tidak mau bermain dengan Tobi?" Tanya laki-laki yang mengenakan topeng lollipop bernama Tobi tersebut sambil menggerak-gerakkan tangannya seperti anak kecil yang sedang merengek dengan orang tuanya untuk di belikan mainan baru.

"Ia sedang istirahat, biarkan saja dulu, kau ajak main dirinya nanti saja" Kisame menggeleng pelan dan membalik badannya untuk pergi ke kamar milik Itachi, ia tidak menghiraukan Tobi yang mengeluh karena ia ingin bermain dengan Itachi sebelum memutuskan untuk bermain dengan Zetsu.

Kisame berhenti di depan kamar Itachi dan mengetuk pintu yang ada di depannya, ia melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menunggu Itachi memperbolehkan dirinya masuk.

"Masuk" terdengar dengan samar-samar suara milik Itachi dari dalam kamarnya yang memperbolehkan dirinya untuk masuk.

Kisame langsung masuk ke kamar Itachi dan langsung menutup pintu masuk kamar Itachi serta memasang segel agar tidak ada yang bisa mendengar pembicaraan mereka berdua, tidak akan di curigai bila mereka memasang segel karena sudah menjadi hal biasa anggota lainnya memasang segel karena tidak mau di ganggu atau untuk menjaga barang-barang serta kamar mereka.

Kisame menyenderkan tubuhnya ke pintu masuk yang ada di belakangnya dan menatap tajam sebuah botol yang ada di meja di samping tempat tidur Itachi "Mau menjelaskan kepadaku mengapa kau mengkonsumsi obat tidur sedikit berlebihan akhir-akhir ini? Kau tahu bahwa bila kau terus-menerus mengkonsumsinya yang ada kau akan mati karena overdosis dan tidak bagus mengkonsumsinya secara bersamaan dengan obat biasamu"

Itachi diam saja dan membuang mukanya, ia duduk di tempat tidurnya dan tidak mau melihat secara langsung KIsame yang memberikan pandangan aneh kepadanya.

"Munkin kau tidak akan mati karena penyakitmu namun kau bisa saja mati karena overdosis kali ini" Kisame menyeringai melihat Itachi yang mengerutkan keningnya namun tidak mau menatap dirinya secara langsung.

Itachi masih tidak mau menjawab dan Kisame tidak ada masalah dengannya, ia bisa saja berdiri di situ seharian dan menunggu temannya yang satu ini berbicara mengenai mengapa dirinya jadi sering mengkonsumsi obat tidur setiap mau pergi tidur.

"Mimpi buruk" Setelah berberapa menit di temani dengan keheningan, akhirnya Itachi mengalah dan mulai berbicara dengan Kisame, ia tahu temannya yang satu ini bisa saja menjadi keras kepala kalau ia mau "Setiap kali aku pergi tidur, aku selalu mendapatkan mimpi buruk dan aku memilih untuk tidak memimpikannya lagi…"

Kisame diam sebentar, ia menutup matanya seperti sedang berfikir sejenak; mencoba mengerti apa yang Itachi katakan sebelum ia membuka matanya dan menatap Itachi dengan pandangan seperti seorang ayah yang sedang menasihati anaknya "Bukan berarti kau boleh mengkonsumsi obat seperti itu secara terus-menerus Itachi-san…"

"Tidak ada pilihan lain" Itachi menghela nafas pendek melihat kelakuan Kisame, ia merasa seperti sedang di marahi oleh ayahnya—sudah, ia tidak mau mengingat-ingat dosanya yang itu dulu, ia harus fokus dengan masalahnya sekarang.

"Siapa yang bilang, kenapa kau tidak cerita kepadaku dari awal, kalau kau bercerita kepadaku terlebih dahulu maka aku bisa menawarkanmu sebuah ramuan herbal dari Kirigakure untuk tidur, ramuan itu tidak ada bahan kimianya dan seratus persen herbal jadi tidak akan mengganggu kesehatanmu" Kisame membalik tubuhnya dan melepaskan segel yang tadi ia pasang "Aku akan mengambilkannya untukmu, namun sebagai bayarannya kau harus mau bertarung melawanku dengan kekuatan penuh"

Itachi terdiam sebentar sebelum sebuah senyuman tipis terlukis di wajahnya, ia merasa senang bisa memiliki kawan yang begitu perhatian kepadanya, ia merasa senang mengetahui dirinya masih di sayangi oleh seseorang walau begitu banyak dosa yang sudah ia lakukan demi melindungi adiknya "Ya… terimakasih Kisame"

Kisame menyeringai dan berjalan keluar dari kamar, namun sebelum ia menutup dengan sempurna pintu masuk kamar Itachi; ia berkata sesuatu "Jangan sentuh botol itu lagi Itachi-san, untuk sementara tidak apa-apa kau memimpikan apapun itu sampai aku kembali, aku tidak akan lama"

Itachi mengangguk, walau ia merasa sedikit tidak enak untuk melakukan apa yang Kisame katakan, kalau mau jujur ia tidak mau pergi tidur sekarang dan memimpikan mimpi terkutuk itu, mimpi di mana ia melihat Sasuke hampir terbunuh oleh Madara yang entah mengapa terlihat muda kembali.

Namun obat yang ia minum sebelumnya memiliki efek samping kantuk dan ia memang harus beristirahat cukup untuk memulihkan tubuhnya, penyakitnya sudah terlalu lama ia diamkan dan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk dirinya sembuh total, tentu saja ia juga harus menjaga tubuhnya dan mendapatkan istirahat yang cukup.

Mau tidak mau, Itachi membaringkan tubuhnya dan menutup matanya untuk pergi ke alam mimpi.

Namun sepertinya kami-sama mencoba memberikannya sedikit hadiah atas semua kebaikan yang pernah ia lakukan dan pengorbanannya (walau ia tidak tahu mengapa baru sekarang), ia sedikit bingung namun merasa senang karena kali ini mimpinya memperlihatkan dirinya berbicara dengan Naruto Uzumaki yang entah mengapa warnanya kuning semua, seperti warna matahari yang menyinarkan kehangatan kepadanya.

Yang penting ia tidak melihat Sasuke nyaris terbunuh, melihat Naruto juga membawa sedikit ketenangan dan kebahagiaan untuknya, itu mengingatkan dirinya juga untuk berterimakasih kepada sang Uzumaki atas segala kebaikan yang telah ia berikan kepada Sasuke di saat ia sedang tidak ada, Itachi mengingatkan dirinya untuk membalas segala kebaikan yang Naruto berikan kepadanya nanti kalau masalah besar yang mereka harus hadapi sudah selesai.


To Be Continue


!Review Reply!

AkarisaRuru: Pertanyaan yang bagus, bagai mana kalau anda tanyakan kepada Bee secara langsung? Atau munkin Gyuki? Namun satu hal yang pasti, saya tidak munkin bisa menjawabnya karena alasan yang seharusnya sudah di ketahui, kalau belum… yah jawabannya cukup simple: spoiler.

asyifaaulia31: Tentu, agar anda tidak menanyakan pertanyaan yang sama lagi, hahaha makannya saya jawab saja.

nuruko03: Entah lah, munkin ya munkin tidak…

Zumaki Ruby: Open ending-Branched Ending, masing-masing ada chapter di mana salah satu karakter akan dipasangkan dengan Naruto, untuk sementara yang punya ending bisa di cek di author notes di atas. Memang sih secara tidak langsung incest… haha

nurshamia2020: Saya mohon jangan menjelek-jelekkan diri anda sendiri, ingat omongan itu adalah doa, saya tidak marah kok namun saya senang mendengar anda menyukai cerita ini dan terimakasih banyak atas dukungannya.

Silent Reader-san: Munkin? Coba tanyakan kepada Naruto dan Bee…

Haruka Ritsu: Senang mendengar pujian dari anda dan terimakasih atas dukungannya. Obat apa ya… munkin apa yang anda katakan ada benarnya tapi Itachi tidak tua-tua sekali kok, lebih tua Kakashi dan Yamato kok.

kaila wu: kemunkinan besar, menurut anda kalau orang batuk-batuk samai muntah darah itu kenapa ya…

Saya ingin minta maaf karena chapter kali ini terlihat sangatlah pendek, namun minggu depan saya sudah harus ujian akhir dan tidak bisa menyisihkan waktu untuk menulis dan minggu ini juga sibuk untuk persiapan ujian.

Maka dari itu selama dua minggu (munkin) tidak aka nada up-date, saya mohon maaf sebesar-besarnya, sekian dan terimakasih!

Best regards, Nekomii-chan (Author)

Review please