Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Warning: Mengandung Gender Bender, Semi-Au, Time Travel, Miss Typoo, dll
!Author Notes!
Akhirnya ujian sudah selesai dan saya bisa kembali menulis dengan tenang, walau saya yakin nanti kalau hasilnya sudah keluar yang ada saya akan sedikit moody... hahahha, tolong maafkan Author yang satu ini.
Seperti biasa, karakter yang punya ending kali ini masih: Itachi, Kurama, Kakashi, Gaara, dan Sasuke
Oh, dan sepertinya saya selalu lupa memberi tahu namun untuk sekarang biar saya beri tahu deh: Author adalah orang yang rebel dan tidak suka di beri masukan atau ide (kecuali dari orang yang sudah pernah saya beri tahu), jadi saya sangat menghargai orang-orang yang menyimpan ide brilian mereka, lebih baik ide tersebut untuk para pembaca sendiri yang munkin saja bisa menjadi cerita.
Author selain suka menulis juga suka membaca fanfic loh.
Oh, dan di akhir cerita akan ada omake.
Sekian Author notes kali ini, terimkasih sudah mau menunggu dengan sabar untuk chapter baru
Naruto memainkan pensil yang ia pegang sambil menatap kosong lembaran yang harus ia kerjakan, ujian Chunin kini sudah di mulai dan tentu saja ujian pertama adalah ujian tertulis yang di pimpin oleh Morino Ibiki; laki-laki bertubuh besar dan sangat mengintimidasi yang berkerja di bagian Torture and Investigation Force. Dari nama tempat ia berkerja saja sudah menjadi bukti dan petunjuk bahwa laki-laki yang ada di depan mereka adalah orang yang sering bermain dengan emosi dan mental seseorang.
Ujian pertama sebenarnya bukanlah ujian tertulis melainkan ujian mental dan emosi, mereka semua di haruskan bertahan dalam tekanan apapun dan sekarang sedang di uji mentalnya, Naruto hanya tertawa dalam hati mengingat bahwa dulu ia adalah salah satu korban yang hampir saja gagal saat mentalnya sedang di uji, namun siapa yang bisa menyalahkannya? Masa lalunya yang kelam dan berantakan cukup membuat mentalnya rusak sehingga membuat dirinya menjadi anak yang nakal dan sangat mengiginkan perhatian.
Namun selain itu, ujian ini juga ujian yang mengharuskan pesertanya untuk mencoba menyontek, teman-temannya terlihat sedang menyontek dengan cara mereka sendiri; Sasuke dengan sharingan miliknya, Gaara dengan menggunakan matanya yang ia bisa lepas dengan kekuatan Shukaku (Agak seram melihatnya, terlebih lagi Naruto merasakan mata tersebut berberapa kali melirik ke arahnya, atau munkin hanya perasaannya saja ya?), dan masih banyak lagi cara-cara yang para peserta lain gunakan.
Naruto melirik ke arah seseorang yang seharusnya tidak berada di ruangan yang sama dan bahkan seharusnya tidak mengikuti ujian ini, orang tersebut terlihat tengah menulis apapun itu yang ia tahu pasti jawabannya, ia tertawa pelan melihat orang tersebut memberikan senyuman kecil kepada dirinya.
"Anu, Naruto-san..." Naruto melirik ke arah teman sebangkunya, Hinata Hyuuga; gadis pemalu yang selalu baik hati kepadanya terlihat menatap penuh khawatir dirinya dan lalu ke kertas ujian milik Naruto yang di penuhi dengan gambar-gambar tidak jelas "Kalau Naruto-san mau, Naruto-san bisa mencontek pekerjaan milikku..."
Aah, begitu baik hati dan menggemaskan, Hinata yang ia kenal tidak pernah berubah dan itu membuat dirinya menjadi di selubungi oleh perasaan bersalah, jadi untuk sementara; Naruto memberikan Hinata sebuah senyuman hangat yang membuat sang gadis Hyuuga sedikit memerah "Tidak apa-apa Hinata, aku baik-baik saja"
Hinata menatap bingung Naruto dan lalu kertas ujian milik Naruto, ia tidak mengerti bagai mana bisa Naruto begitu tenang di saat lembaran miliknya di isi dengan hal-hal yang tidak jelas seperti itu? Apakah Naruto sudah pasrah dan tidak yakin bahwa ia bisa lulus? Hinata tidak tahu dan itu semua membuat dirinya semakin cemas.
"Jangan melirik ke arahku terus Hinata-chan, nanti kamu di anggap mencontek, gunakan byakugan milikmu dan akan aku tuliskan alasannya" Hinata hanya mengangguk pelan dan berpura-pura kembali mengerjakan soal miliknya dengan mengaktifkan byakugan agar bisa melihat apa yang Naruto tulis.
(Jadi begini Hinata, tadi kau sudah dengar dari pengawas utama kita, Ibiki-san bahwa ia berkerja di bagian Torture and Investigation Force bukan?) Naruto mulai menulis di balik kertas ujiannya dan melirik Hinata yang mengangguk pelan (Kau tahu bahwa orang yang berkerja di sana biasanya di tugaskan untuk mengintrogasi orang bukan? Nah untuk mengintrogasi seseorang, mereka harus memiliki skill di mana mereka harus mahir untuk mempermainkan emosi dan mental seseorang.)
(Sekarang kita sedang di hadapkan dengan sebuah soal yang jelas-jelas di atas kapasitas milik kita, di awasi dan secara tidak langsung di intimidasi, lalu penguji kita adalah Ibiki sendiri, apakah kau mengerti?) Naruto tersenyum kecil melihat Hinata yang terlihat kaget di saat ia menyadari apa maksud Naruto, Hinata memang gadis yang pintar; tentu saja hanya di butuhkan sedikit informasi dan ia sudah berhasil menemukan jawaban dari ujian tahap pertama ini (Sekarang menurut logika, tidak munkin ujian kali ini hanya akan mengenai siapa yang berhasil menjawab semua soal dan mendapatkan nilai yang bagus)
Hinata terdiam sebelum matanya menyiratkan sesuatu seperti baru saja ada sebuah lampu yang menyala dan ia menyadari sebuah hal yang penting, sebelum ia melirik takjub Naruto yang memberikan dirinya seringaian khas miliknya (Jangan khawatir dan rileks lah Hinata; tenang saja, aku yakin kita semua akan lulus)
Hinata mengangguk pelan dan mematikan byakugan miliknya sebelum ia menghela nafas panjang untuk menenangkan dirinya dan pipinya sedikit kemerah-merahan karena tersipu malu, Naruto yakin bahwa ia dan yang lainnya pasti akan lulus, tentu saja ia sangat senang.
Naruto menyenderkan tubuhnya di bagian belakang kursinya namun pada kenyataannya ia sedang menyenderkan tubuhnya di tubuh Kurama dan menyeringai melihat Kurama yang tertidur dengan pulas, Kurama memutuskan untuk pergi tidur siang karena ia yakin ia bisa-bisa mati bosan melihat Naruto tidak melakukan apa-apa di saat ujian dan lagi pula sudah ada orang yang menjaga dan mengawasi Naruto dari jauh.
Tentu saja apa yang Naruto lakukan bisa di lihat oleh para guru yang sedang mengawasi ruangan tersebut menggunakan kamera tersembunyi yang memperlihatkan semua orang yang sedang berusaha menyelesaikan ujian tahap pertama ini, para guru pembimbing yang berada di ruangan yang berbeda dari tempat di lakukannya ujian kini tengah mendiskusikan anak murid mereka masing-masing.
"Aku tahu bahwa Naruto memang berubah dari Hokage namun... aku tidak mengerti mengapa ia bersikap seperti itu..." Asuma melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menatap bingung layar yang memperlihatkan Naruto sedang bermain-main dengan pensilnya dan duduk dengan tenang seperti ia tidak sedang terbebani dan bahkan terlihat tidak perduli "Apakah ia sudah pasrah?"
"Sejujurnya... aku sendiri tidak tahu" Kakashi menatap lekat-lekat layar yang ada di depannya, ia tidak mengerti muridnya yang satu itu sekarang, ia terlalu misterius dan berubah terlalu banyak sehingga anak kecil yang ia kenal dulu seperti sudah menghilang seutuhnya, membuat dirinya merasa bersalah dan sedih.
"Hmm... kita tunggu sebentar lagi, Ibiki akan menguji mereka semua" Kurenai menatap layar di depannya dengan tenang namun ia sedikit cemas terhadap murid-muridnya, ia yakin Shino terlalu tenang dan jarang tertekan sedangkan Kiba sangat keras kepala namun ia menghawatirkan Hinata, gadis Hyuuga yang satu itu terkadang terlalu emosional dan ia takut nanti Hinata tidak kuat dengan ujian dari Ibiki.
Mereka bertiga menahan nafas di saat Ibiki memberikan pertanyaan kesepuluh dan berberapa menit kemudian Naruto bangun dari tempat duduknya dan mulai berbicara dengan Ibiki setelah berberapa orang mengundurkan diri, hingga akhirnya mereka yang ada di dalam ruangan tersebut menjadi termotifasi dan memilih untuk tetap berada di dalam ruangan.
Mereka semua yang ada di dalam ruangan di nyatakan lulus dan akan melanjutkan ke ujian tahap kedua.
"Oh... demi kami-sama... anak itu memang benar-benar tidak bisa di duga..." Kurenai menatap tidak percaya Naruto yang sedang menyeringai dan berbicara dengan teman-teman satu kelompoknya, ia tidak percaya bahwa Naruto berani untuk berbicara secara langsung kepada Ibiki seperti itu dan terlebih lagi memotifasi banyak orang.
Tidak lama kemudia, ruangan tempat ujian tahap pertama sudah kosong karena yang sudah lulus kini di bawa oleh Anko, pengawas ujian tahap kedua, ke tempat mereka akan melanjutkan ujian tahap kedua dan kini kamera tersebut sudah di matikan.
"Aku tak percaya ini... anak itu benar-benar berubah..." Genma yang merupakan salah satu pengawas di saat ujian tahap pertama tadi masuk ke dalam ruangan dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ada apa?" Kini semua mata tertuju ke arah Genma yang mengeluarkan senbon yang biasa ia letakkan di mulutnya, ia seperti sedang di landa stress berat bercampur apapun itu.
"Kau tidak akan percaya ini, Naruto terlihat seperti ia tidak sedang ujian dan malah berleha-leha seperti ia sedang liburan" Genma menggeleng pelan dan menyenderkan tubuhnya di dinding di belakangnya "Aku bahkan tidak melihat dirinya mencoba menyontek sama sekali"
Ruangan hening seketika.
Hingga akhirnya Ibiki masuk ke dalam ruangan membawa selembar kertas, lipatan terbentuk di keningnya dan ia menatap penuh curiga ke arah Kakashi "Mau jelaskan mengapa muridmu bisa jadi seperti ini?"
Di kertas yang Ibiki tunjukkan ke Kakashi yang bisa di lihat oleh semua penghuni ruangan tersebut terlihat sebuah gambar rubah yang sedang tertidur di bawah pohon dan di sampingnya ada orang-orangan sawah.
Hening.
"Dan ini" Ibiki membalik kertas tersebut yang memperlihatkan tulisan Naruto yang menjelaskan kepada seseorang mengenai ujian mereka.
Hening lagi.
"Sebenarnya apa yang terjadi kepada anak tersebut" Tanya Ibiki yang ia tidak mendapat jawabannya dari siapapun.
Bee melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menatap bingung seseorang yang sedang berdiri tidak jauh dari Naruto dan berada di kerumunan orang-orang yang akan melanjutkan ujian tahap kedua.
'Apa yang ia lakukan di situ...' Bee menatap bingung orang tersebut, Gyuki juga terlihat kebingungan, apakah ia sudah gila? Tiba-tiba saja muncul dan memperlihatkan diri kepada banyak orang walau saja ia sedang bersembunyi dan menggunakan penyamaran namun teteap saja, bukannya itu sangat berbahaya sekali?
Bee mendengus melihat laki-laki berambut hitam dan bermata biru cerah yang sedang berbicara dengan temannya, umurnya tidak jauh dari Naruto dan bahkan bisa di bilang mereka seumuran dengan Naruto namun Bee tahu bahwa itu hanyalah sebuah penyamaran dan Bee yakin bahwa Naruto juga menyadari penyamaran tersebut.
Bee memutuskan untuk diam-diam bertemu dengan laki-laki tersebut dan menyeretnya ke tempat yang ia tahu tidak akan bisa terdeteksi dan tidak akan ada yang bisa mendengar pembicaraan mereka, di saat ia sudah memastikan bahwa tidak ada yang menyadari keberadaan mereka berdua dan tidak akan ada yang bisa menguping barulah ia bebricara "Mau jelaskan mengapa kau ada di sini, baka yarou?"
"Seharusnya kau sudah tahu, Bee" laki-laki tersebut menggeleng pelan dan melipat kedua tangannya di depan dadanya, matanya yang berwarna biru cerah terlihat sedikit janggal di saat ia mulai berbicara, ia melirik ke arah pintu masuk hutan tempat mereka akan melakukan ujian tahap kedua "Apakah ada masalah dengan aku mengikuti ujian ini? Tenang saja, aku hanya akan sebentar kok; tidak sampai ke tahap ketiga"
Bee diam sebentar, ia terlihat sedang berfikir namun laki-laki di depannya tahu bahwa kini ia sedang berbicara dengan partnernya dan ia tidak ada masalah dengan hal tersebut, matanya kini menatap langit yang berwarna biru cerah dan sebuah senyuman kecil terlukis di wajahnya.
"Kau ingin bertemu Naruto ya..." Bee akhirnya berbicara dan laki-laki tersebut mengangguk pelan sebagai jawaban dari pertanyaan Bee, namun matanya tetap memandang langit dan senyuman kecil tidak hilang dari wajahnya.
"Salahkah?" Laki-laki tersebut kini menatap secara langsung Bee "Aku hanya seperti dirimu, sedikit menghawatirkan Naruto dan ingin melihat dirinya"
"Namun bukan berarti kau harus secara blak-blakan seperti itu, kau tahu bahwa emosi Naruto bisa tidak stabil bila bertemu orang-orang seperti kita" Bee membuka mulutnya untuk berbicara namun suara yang keluar jelas sekali bukan miliknya, namun laki-laki itu sudah tahu bahwa yang berbicara adalah partnernya, sang kerbau berekor delapan.
"Aku sangat berhati-hati kok, buktinya tidak ada yang mencurigai keberadaanku kan? Aku memang sengaja saja membuat Naruto menyadari keberadaanku agar kami bisa janjian bertemu nanti" Laki-laki tersebut akhirnya membetulkan posisinya dan berjalan meninggalkan Bee sambil melambai sebagai tanda perpisahan "Aku sudah harus kembali, kalau aku menghilang terlalu lama nanti yang ada aku akan di curigai"
Bee mendengus pelan—bukan deh, yang mendengus adalah Gyuki yang sedang mengendalikan tubuh Bee, ia menggeleng pelan sebelum menghilang dari tempat ia berdiri sebelumnya.
Seperti biasa, Naruto sudah mengetahui apa yang akan terjadi di ujian tahap kedua dan reaksinya? Tidak terlalu banyak, ia memutuskan untuk tidak merubah banyak hal dalam ujian tahap kedua kali ini, alasan? Yang menggerakan tubuh Naruto adalah Kurama.
Naruto kini sedang berada di alam bawah sadarnya, ia sedang berbicara dengan penghuni baru dari alam bawah sadar tersebut, seorang laki-laki tua berpakaian serba merah yang bahkan rambutnya juga merah dan Biijunya, Son Goku; sang monyet berekor lima.
Agar Naruto tidak terlihat sering bengong dan bisa-bisa di serang secara tiba-tiba, maka untuk sementara waktu ia menyerahkan tubuhnya kepada Kurama agar bisa di kendalikan untuk sedangkan dirinya berbicara dengan Jinchuriki dari Son yang katanya ingin membicarakan hal penting kepadanya.
"Aku sudah mendengar semuanya dari Han, namun apakah memang benar kita bisa melakukan hal seperti itu? Bukannya aku tidak percaya hanya saja aku penasaran bagai mana bisa hal seperti itu bisa kita semua lakukan..." Roshi, sang Jinchuriki dari Son menatap bingung Naruto yang sudah duduk di atas kepala Kokuo karena Kurama sedang mengendalikan tubuhnya.
"Tentu saja kita bisa, kita semua tidak mengetahuinya saja sebelumnya" Naruto duduk dengan tenang di atas kepala Kokuo sambil mengelus-elus sang kuda berkepala lumba-lumba, ia tersenyum merasakan begitu berbeda rasanya duduk di atas kepala Kurama yang lembut dan penuh bulu dengan duduk di atas kepala sang kuda yang bulunya tipis namun karena kekuatannya ia mengeluarkan hawa hangat "Untuk sekarang kita harus mengumpulkan yang lain dulu, apakah kakek bisa?"
Roshi diam sebentar, ia menutup matanya dan terlihat tengah berfikir keras, Son yang ada di bawahnya, karena ia duduk di atas kepala sang monyet, tertawa pelan; seperti menganggap apa yang Naruto katakan adalah sebuah lelucon; tentu saja ia menganggapnya lucu karena ia tahu bahwa Jinchurikinya tidak terlalu sering membuat teman baru dan kurang handal dalam masalah mengajak atau membujuk seseorang.
"Ck, jangan tertawa Son, aku bisa melakukannya! Lihat saja!" Roshi mendecak kesal karena ia bisa merasakan bahwa Son sedang mencoba menahan tawa sebelum kini pandangannya kembali ke arah Naruto yang sedang mengelus-elus kepala Kokuo, ia mengerti sekarang kenapa Naruto bisa mencairkan hati Han dan bahkan bisa berteman dengan sang rubah berekor sembilan "Bagai mana denganmu? Aku dengar Jinchuriki dari Shukaku ada bersamamu, kemana dia?"
Naruto tersenyum sedih di saat ia mendengar pertanyaan Roshi, ia yakin sekarang Gaara masih merasa kesakitan dan Shukaku pasti sedang memanipulasi dirinya, ia jadi ingin cepat-cepat menyelamatkan Gaara "Belum, ia belum mendapatkan bantuan dari Shukaku dan aku belum dekat dengannya"
"Dari nada bicaramu... itu kekasihmu kah?" Roshi menyeringai melihat Naruto yang wajahnya memerah karena marah dan mulai memarahinya mengenai Gaara yang merupakan temannya dan ia adalah laki-laki yang di ubah menjadi perempuan, tentu saja Roshi sudah tahu karena Han sudah menceritakan semuanya, namun itu malah membuat dirinya tidak bisa menahan keinginan untuk mengganggu sang Jinchuriki dari rubah berekor sembilan tersebut.
"Aku dengar dari Bee juga bahwa sang Jinchuriki dari Shukaku adalah yang paling tidak stabil, aku yakin kau bisa menenagkan dirinya' Han akhirnya angkat bicara, Jinchuriki dari Kokuo ini sudah tahu sifat mentornya yang kalau di profokasi maka ia akan semakin menjadi-jadi sehingga ia mencoba mengalihkan pembicaraan "Aku dengar juga; Shukaku juga sangat keras kepala"
"Hah, ia memang yang paling bermasalah namun setengahnya adalah salah Kurama yang membuatnya menjadi seperti itu; karena Kurama juga sebenarnya kita jadi sedikit terisah seperti ini" Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dan memberikan senyum minta maaf kepada Son, memang sih apa yang Son katakan memang sebuah kebenaran sehingga ia setidaknya akan meminta maaf karena ia yakin Kurama harga dirinya terlalu tinggi untuk meminta maaf.
"Ooh, jadi ia tipe laki-laki yang membangkang ya? Pilihan yang bagus, tipe bad boys yang posesif terlihat cocok untukmu, pilihan yang bagus" Roshi menyeringai melihat Naruto lagi-lagi memerah dan mengomeli dirinya, membuat dirinya tertawa lagi dan ia tidak menghiraukan pandangan kesal dari Han.
"Sudah! Aku harus kembali, nanti Kurama bisa-bisa melakukan hal yang aneh-aneh" Naruto cemberut dan pelan-pelan menghilang dari hadapan Roshi dan Han, ia tidak memperdulikan tawa Roshi dan Han hanya menggeleng pelan melihat kelakuan mentornya dulu.
Tiba-tiba saja di saat Naruto sudah kembali ke alam nyata dan kini sudah berada di tubuhnya lagi, ia melihat bahwa dirinya kini sedang duduk di atas sebuah pohon besar dengan kedua temannya tidak terlihat di manapun, membuat dirinya panik.
'Ku-kurama! Kenapa kita ada di sini? Di mana Teme dan Sakura?' Naruto menatap Kurama yang hanya membuang mukanya dan ia menjadi semakin panik, ia langsung menggunakan kekuatannya untuk mendeteksi emosi dan chakra untuk mencari keberadaan Sasuke dan Sakura, ia membulatkan matanya di saat ia merasakan bahwa Sasuke sedang bertarung dengan Orochimaru yang sedang menyamar menjadi ninja dari desa lain.
"OROCHIMARU!" Naruto mengerang keras dan sudah bersiap untuk berlari dan membantu Sasuke (dan kalau bisa menghajar hingga babak belur Orochimaru), namun sebuah tangan menahan lengannya dan membuat Naruto nyaris terjatuh karena kehilangan keseimbangan.
Naruto mengeluarkan kunainya dan mencoba menyerang orang tersebut sebelum tiba-tiba saja tubuhnya membeku dan tidak bisa bergerak sama sekali, ia melirik secara perlahan orang yang menahannya dan membulatkan matanya.
"Nagato..." Naruto menatap tidak percaya laki-laki berambut hitam dan bermata biru yang sedang menahan tangannya, tiba-tiba saja tubuhnya melemas dan ia langsung di tarik ke arah sang laki-laki yang ia panggil sebagai Nagato.
"Shush Naruto, tenang, mereka akan baik-baik saja" Nagato kini melepaskan genggaman tangannya dari tangan Naruto dan menepuk kepalanya dengan pelan "Aku tahu bahwa kau akan tidak menyukai apa yang akan aku katakan namun tolonglah mengerti..."
Naruto diam sebentar sebelum menunjuk ke arah tempat di mana Sasuke dan Orochimaru yang sedang bertarung, ia tidak tahu mengapa dan bagai mana bisa Nagato kini membawanya menjauh dari kedua teman satu kelompoknya karena seingatnya; seharusnya ia pingsan dan kini tengah bersama dengan Sakura dan Sasuke, tapi untuk sekarang itu tidak penting karena ia memiliki sesuatu yang lebih penting untuk di bicarakan "Aku harus menyelamatkan Teme dari ular pedo itu!"
Nagato menggeleng, tubuhnya pelan-pelan berubah; rambutnya yang berwarna hitam kini berubah menjadi merah terang dan matanya yang berwarna biru cerah kini berubah menjadi rinegan "Tidak Naruto, Sasuke membutuhkan tanda itu"
Naruto menatap Nagato seperti ia adalah alien dari planet lain dan sudah kehilangan otaknya, membutuhkan? Yang benar saja, Naruto tidak mengerti apa yang Nagato maksud dari membutuhkan, apa gunananya Sasuke mendapatkan tanda terkutuk tersebut dari Orochimaru? "Yang benar saja! apa maksudmu!"
"Naruto... aku tahu kau selalu mendapat mimpi..." Naruto terdiam mendengar apa yang Nagato katakan, ingatan mengenai apa yang ia mimpikan kemarin malam dan berberapa hari sebelumnya tiba-tiba saja muncul dan membuat dirinya menegak ludah dengan susah payah.
"Apakah kau tahu maksud dari mimpi tersebut?" Naruto terdiam dan mengangguk, membuat Nagato tersenyum kecil dan menepuk kepalanya dengan pelan "Aku juga mendapat mimpi yang sama walau sepertinya penglihatanku dengan penglihatanmu berbeda, aku melihat sesuatu yang... sedikit mengejutkan"
"Kau sendiri yang bilang bukan? Bahwa kita berdua adalah anak dari ramalan yang akan mengubah dunia, jadi aku yakin mimpi yang aku dapatkan juga hal yang penting" Nagato mengangkat tangannya dari atas kepala Naruto dan tersenyum kecil melihat Naruto memasang ekspresi seperti ia kesal dan tidak nyaman, ia juga terus-menerus melirik ke arah tempat Sasuke sedang bertarung melawan Orochimaru "Sasuke membutuhkan tanda tersebut'
"Tapiii—!" Sebelum Naruto bisa menyelesaikan omongannya, Nagato sudah keburu menutup mulut Naruto dengan sebuah bakpau yang entah ia dapat dari mana sambil tersenyum kecil, ia memperhatikan Naruto yang mengunyah bakpau tersebut secara perlahan.
"Kau seharusnya menyadari bahwa Sasuke sudah berubah, kau tinggal mendidiknya saja dengan benar, biarkan ia mendapatkan tanda itu dan kau hanya tinggal membuatnya tidak pergi bersama Orochimaru, jadikan kutukan tersebut menjadi sebuah anugrah" Nagato menatap lekat-lekat mata Naruto yang berwarna biru cerah, mereka berdua saling menatap dan membiarkan keheningan menyelimuti mereka berdua sebelum Naruto menghabiskan bakpau pemberian Nagato dan menghela nafas panjang,
"Oke... jadi yang harus aku lakukan adalah menenangkan Teme..." Naruto membisik pelan dan melirik nanar tempat Sasuke dan Orochimaru sedang bertarung, ia bisa merasakan bahwa pertarungan kini sudah selesai dan Orochimaru sedang kabur dan di kejar oleh Anko "Kau datang ke sini untuk memberi tahuku soal ini ya..."
Nagato mengangguk sebagai jawabannya, ia meletakkan sebelah tangannya di pinggangnya sebelum melirik ke arah tempat yang Naruto sedang lirik "Ya, namun selain itu aku juga ingin bertemu lagi dengan sepupuku, aku pernah bilang bukan bahwa aku berharap bisa bertemu denganmu di saat yang lebih baik dan bukan sebagai musuh..."
Mata Naruto langsung berbinar-binar dan ia menyeringai dengan lebar sebelum memeluk Nagato yang notabe tubuhnya jauh lebih tinggi darinya sehingga ia harus melompat dan melingkarkan tangannya di leher kakak sepupunya, ia senang sekali bisa bertemu dengan anggota keluarganya, terlebih lagi Nagato adalah saudara jauhnya dan mereka kemunkinan masih memiliki hubungan sedarah sehingga membuat Naruto semakin senang.
"Heheheh! Senang kita bisa reunian di waktu yang lebih baik!" Naruto terkekeh pelan, ia tidak memperdulikan pandangan aneh dari Kurama yang mengejeknya karena terlalu lebay, rubah yang satu itu memang terkadang bisa tidak peka.
Nagato tersenyum dan membelai kepala Naruto lalu memeluknya kembali, ia merasa senang sekali bisa mendapat kesempatan kedua dan bahkan bisa bercengkraman kembali dengan sepupunya, walau hanya sebentar karena ia sudah harus berkerja kembali dan agar tidak menarik perasaan curiga dari Obito yang sedang menyamar menjadi Tobi "Aku sudah harus kembali, kita akan bertemu lagi nanti"
Naruto melepaskan pelukannya dan cemberut, ia merasa masih ingin bersama dengan saudaranya lebih lama namun ia sendiri juga sudah harus kembali kepada teman-temannya sebelum mereka curiga dan kahawatir dengan keadaannya, Naruto menatap Nagato yang pelan-pelan sudah kembali memasang penyamarannya sebelum ia mengeluarkan sebuah kunai.
"Kau tidak bisa kembali begitu saja bukan, harus ada alasan; bagai mana kalau kau di culik? Karena itu maaf, aku harus melikauimu dan membuatmu seakan-akan baru saja di serang" Nagato memberikan tatapan dan senyum minta maaf sebelum ia menggunakan kunainya untuk menyobek berberapa bagian pakaian Naruto lalu menggores kulitnya secara random.
Naruto hanya mengangguk dan membiarkan Nagato membuat luka sabetan yang tidak terlalu dalam namun cukup untuk membuatnya berdarah dan sedikit merusak pakaiannya, tidak lama kemudian ia bisa merasakan Nagato menggunakan kekuatannya untuk mengangkat bebatuan dan dan menghancurkannya di dekat Naruto sehingga dirinya menjadi kotor karena debu dan tanah.
"Maaf..." Naruto hanya tersenyum dan tidak keberatan juga di saat Nagato mencuri chakra miliknya hingga ia merasa sedikit lelah "Oke, kau bisa kembali sekarang, ingat; berpura-puralah kalau kau kelelahan"
Naruto mengangguk sebelum memberi pelukan terakhir kepada Nagato lalu melambai dan meninggalkan Nagato sendirian.
Sakura tidak tahu mau merasa seperti apa, namun sekarang pemandangan di depannya terlalu menyakitkan dan ia merasa sangat... sedih...
Sasuke yang tadi menyelamatkan dirinya dari serangan ninja dari Otogakure kini terlihat seperti... monster, ia tidak tahu mau berbuat apa, tubuhnya membeku di tempat dan ia menatap tidak percaya Sasuke yang matanya berubah menjadi merah dan ada sesuatu yang seperti sebuah tato yang menghiasi setengah wajahnya.
Sasuke terus menerus menggumamkan nama Naruto, hal tersebut membuat Sakura menjadi semakin... sakit namun pada saat yang bersamaan ia juga menghawatirkan Naruto yang menghilang sedari tadi, yang ia ingat adalah Naruto terpisah dari mereka berdua karena di culik, Sasuke mencoba mengejar orang tersebut namun malah di serang oleh ninja lain lalu terpisah darinya dan di saat ia menemukannya; Sasuke dalam keadaan terluka berat.
Ia di bantu oleh kelompok 8 dan kelompok milik Lee namun sekarang mereka tidak tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap Sasuke yang terlihat sedang di ambang kegilaan, matanya yang berwarna merah terang mencoba mencari-cari sesuatu yang tentu saja sesuatu tersebut adalah teman satu kelompok berambut kuning mereka.
Hingga teman yang di cari oleh Sasuke muncul dalam keadaan yang tidak jauh dari dirinya, pakaiannya yang sobek di sana-sini, wajahnya yang penuh kotoran, tubuhnya yang di penuhi bekas sabetan, dan ia berjalan tertatih-tatih namun senyuman cerahnya masih terlukis di wajahnya.
Sasuke seperti terbangun dari apapun itu yang membuatnya menjadi gila seperti itu, ia langsung berlari ke arah Naruto dan membantu Naruto berjalan, namun tetap saja tato yang menghiasi setengah wajahnya masih terlihat dengan jelas.
Naruto seperti mengatakan sesuatu kepada Sasuke dan mengacak-acak rambut Sasuke, karena jarak mereka yang agak jauh; Sakura tidak bisa mendengar apa yang Naruto katakan dan ia tidak bisa membaca bibir untuk mengetahui apa yang Naruto katakan namun hal tersebut membuat Sasuke menenang dan pelan-pelan tato yang menghiasi wajahnya menghilang dan di gantikan dengan ekspresi kesal bercampur penyesalan.
Sakura langsung terbangun dari lamunannya, ia langsung berlari ke sebelah Naruto dan ikut membantu Naruto dan Sasuke berjalan, ia tidak bisa melamun sekarang, teman-temannya membutuhkan bantuannya!
Namun dalam lubuk hati yang terdalam Sakura tahu, bahwa ada suara yang terus-menerus berbisik kepada dirinya.
'Sasuke sudah tidak akan melirik ke arahmu lagi...'
Sakura membuang jauh-jauh pikiran tersebut, tidak ada waktu lagi untuk berfikir hal tidak penting seperti itu sekarang! Yang penting adalah nyawa kedua temannya!
To Be Continue
(Omake)
Lets fid out, Naruto's Ideal Boyfriend! (Konohamaru and Co Style!)
"Ahem! Selamat pagi! Konohamaru di sini, kali ini saya akan memberikan sebuah informasi mengenai—" Konohamaru melompat ke belakang dan berpose yang di ikuti oleh kedua temannya.
"Laki-laki idaman kak Naruto!" Ketiganya berbicara bersamaan dan berpose layaknya mereka adalah seorang superhero, lengkap dengan efek ledakan di belakang mereka.
"HAAAA?" Naruto menatap tidak percaya Konohamaru dan melompat kaget, kedua teman satu timnya menaikkan sebelah alisnya dan menatap bingung Konohamaru.
"Ahem! Menurut pengamatan kami—"
"Tunggu dulu!" Naruto langsung memotong omongan Konohamaru, wajahnya memerah padam menahan amarah bercampur malu "Kau menguntitku waktu itu untuk melakukan hal bodoh seperti itu? Aku kira kalian sedang latihan makannya aku membiarkan kalian!"
"Kami sedang latihan mengumpulkan informasi" Jawab Konohamaru dengan wajah polos tanpa dosanya yang di ikuti oleh Moegi dan Udon, membuat Naruto menjambak rambutnya dengan frustasi, Sasuke yang bibirnya tertarik ke atas sambil menahan keinginan untuk tertawa, dan Sakura yang tertawa pelan.
"Kenapa mengumpulkan informasi yang tidak penting!" Naruto mengerang kencang dan ia menatap kesal Konohamaru dan teman-temannya, ia tidak menghiraukan tawa yang menggelegar di kepalanya karena Kurama yang menganggap apa yang Konohamaru katakan adalah sebuah lelucon yang sangat lucu.
"Ahem kita langsung saja!" Konohamaru mengeluarkan sebuah buku dan mulai membaca isinya dengan lantang agar Sasuke dan Sakura bisa mendengarnya, tidak menghiraukan Naruto yang memintanya berhenti "Menurut penilaian kami, kak Naruto menyukai laki-laki yang dewasa!"
"Berberapa kali kami melihat kak Naruto terlihat senang bila sedang berbicara dengan seseorang yang lebih tua darinya seperti Kakashi-sensei, Sandaime-sama, dan seorang anggota ANBU yang mengenakan topeng rubah!" Moegi menjelaskan lebih lanjut dengan membaca catatan miliknya sendiri, ia tersenyum lebar dengan mata yang bebinar-binar "Kak Naruto paling senang bila di puji oleh mereka!"
Naruto keringat dingin, apakah benar ia terlihat seperti itu?
Sasuke mengantungkan sebelah tangannya dan menatap serius Konohamaru, ia berusaha sebisanya untuk tidak terlihat terganggu dengan apa yang baru saja Konohamaru dan Moegi katakan namun matanya berkedut berkali-kali dan ia mendecih pelan.
"Selain itu, kak Naruto menyukai seseorang yang pintar dan tenang" Kali ini gantian Udon yang berbicara, ia membetulkan kacamatanya dan menatap serius Naruto yang mulai mundur ke belakang untuk menjauh "Seseorang yang tenang dan bisa berfikir jernih kapanpun, karena berberapa kali kak Naruto menatap penuh respek Sandaime-sama yang selalu dengan tenang berbicara dengan orang lain, oh! Atau munkin waktu itu di saat kak Naruto menonton dari jauh ANBU yang mengenakan topeng rubah sedang latihan!"
Naruto menegak ludahnya dengan susah payah, apakah benar apa yang mereka bicarakan? Bukannya kalau memang benar apa yang mereka katakan, secara tidak langsung sekarang Naruto tertarik dengan laki-laki yang mirip dengan ayahnya?
"Karena itu, laki-laki yang cocok untuk kak Naruto adalah—" tiba-tiba saja Konohamaru dan ketiganya menunjuk pahatan muka Hokage yang bisa terlihat di belakang mereka dan berkata secara bersamaan "Nidaime-sama dan Yondaime-sama!"
Hening.
Naruto menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
Sasuke menatap kesal pahatan hokage kedua dan keempat.
Sakura melipat kedua tangannya di depan dadanya d an mengangguk setuju.
Kurama tertawa semakin keras.
"Aku setuju, laki-laki yang dewasa dan berkarisma adalah pasangan yang cocok untuk Naruto, karena mereka bisa dengan tenang dan sabar dan menghadapi sifatmu yang terkadang sangatlah random" Sakura mengangguk-angguk seperti sangat setuju dengan apa yang baru saja ia katakan "Selain itu mereka juga bisa memberikan kasih sayang yang munkin hanya dirimu saja bisa rasakan karena tipe laki-laki yang seperti itu biasanya selalu bersikap profesional di luar sedangkan bila dengan pasangannya maka mereka akan bersikap sangat lembut"
"Benarkan? Di kelas kami di beri tahu bahwa Yondaime-sama sangat pintar dan serius, mirip dengan Nidaime-sama! Kakek juga berkata seperti itu!" Konohamaru tersenyum penuh kemenangan, ia membusungkan dadanya dengan sombong.
Sakura tidak menyadari tatapan yang agak sulit di mengerti yang di berikan oleh Sasuke kepada dirinya.
"Sakura-chan..." Naruto menunduk sehingga wajahnya tertutup oleh poni rambutnya.
BLETAK BLETAK BLETAK
Masing-masing dari Konohamaru dan temannya mendapatkan sebuah benjolan di atas kepala mereka, hadiah dari Naruto yang wajahnya sudah semerah tomat.
"AKU MASIH BERJIWA LAKI-LAKI" Naruto menatap kesal Sakura dan mengepalkan tangannya, perempatan mucul di keningnya 'Dan aku tidak Incest! Tidak perduli bila lelaki itu mirip ayah, aku laki-laki! Aku tidak akan menyukai laki-laki lain! Tidak tidak TIDAK!'
'Kalau tidak mau laki-laki maka ada gurita sialan itu, bukannya pas? Sifatnya dewasa' Naruto membulatkan matanya dan menatap tidak percaya Kurama, membuat Kurama menyeringai 'Atau munkin kau mau diriku? Aku tidak keberatan'
Wajah Naruto kini mirip kepiting rebus 'KURAMAAAAAAAA!'
Tawa Kurama kini memenuhi kepalanya lagi.
Sasuke kini menatap nanar pahatan wajah Hokage kedua dan keempat.
Sakura sedang membayangkan seperti apa sang Yondaime dan Nidaime bila seumuran mereka dan darah mulai mengalir dari hidungnya.
Konohamaru, Moegi, dan Udon diam-diam kabur sebelum menerima hukuman lebih berat dari Naruto
Dua orang yang sedang menguping memiliki ekspresi yang berbeda, yang satu menyeringai dan mengatakan kepada yang satunya lagi bahwa kriteria yang Konohamaru katakan mirip dengan ayah mereka, sedangkan yang satu lagi terlihat tidak perduli namun tatapan matanya tetap mengarah ke Naruto.
Gyuki bersin sehingga membuat Bee menatap tidak percaya dirinya dan mulai panik, mengira partnernya akan mati sembentar lagi karena untuk pertama kalinya ia melihat partnernya bersin, membuat partnernya menyentil dirinya.
!Review Reply!
rheafica: Kalau di kasih tahu bukan fanfic dong namanya...
AlphaKiller – Leon: Karena pada dasarnya Naruto memang laki-laki kok, hanya saja di ubah secara mendadak menjadi perempuan—yang secara tidak langsung membuatnya transgender sih, hahaha. Terimakasih atas pengertiannya.
asyfaaulia31: Terimakasih atas dukungannya dan doanya.
AySNfc3: Munkin? Bisa jadi Gaara, bisa jadi Sasuke, bisa jadi siapapun...
Uzumaki Ruby: Namanya juga anak muda, Naruto memang suka pujian namun ini baru pertama kalinya ia di puji sebagai perempuan, jangan salahkan Naruto yang jadi tersipu malu tapi lagi denial kalau ia sebenarnya senang.
kaila wu: Ini bukan spoiler sih makanya saya bisa beri tahu, munkin anda bisa mengecek wiki dan menonton kembali pertarungan Sasuke melawan Itachi dan anda bisa menadaptakn jawabannya, Itachi sakit itu Canon kok. Yang di liat Naruto bisa jadi siapap saja, namun setelah baca chapter ini munkin anda bisa tahu.
Silent Reader-san: Saya mendeteksi sarkasme di sini, hahahah namanya juga yang anda tanya malah Spoiler mau di jawab bagai mana lagi? Namanya juga anak muda yg lg denial, hormon itu menakutkan ya. Kesatuan biju arms... lucu juga namanya. Selamat menunggu, kemunkinan besar setelah membaca Author notes di atas anda akan mengerti. Terimakasih atas doa dan penyemangatnya.
ajidarkangel: Saya malah lebih senang ada yang mereview, review bukan isinya hanya kritik dan mendengar tidak usah di review... saya jadi punya perasaan tidak enak, hahahah.
abcd: Ciri? Ciri apa?
Sora Mizuhito: Setelah membaca Author Notes di atas munkin anda akan mengerti...
Sabrina454: Aah, itu salah Author, terimakasih atas pengingatnya. Terimakasih atas pujiannya, dan saya gak ada problem dengan anda yang pacaran sama Prusia, semoga langgeng, saya kurang tertarik dengan hal seperti itu, masih tampanan Nevermore dari DOTA 2 (?) *Lalu Author di lempar ke ujung kulon*
nina: Fic ini Open ending, masing-masing ada chapter sendiri kalau mau yang pure GaaNaru ada fanfic tersendiri saya (mau promosi... tapi gak jadi...)
Sekian dan terimakasih.
Best Regards, Nekomii-chan (Author)
Review Please
