Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto

Warning: Mengandung Gender Bender, Semi-Au, Time Travel, Miss Typoo, dll


!Author Notes!

Halo pembaca sekalian, karena saya melihat saya memiliki cukup banyak waktu luang maka saya bisa menulis cerita dengan lebih leluasa, namun saya juga harus mulai mencari ide baru agar saya tidak terkena writer block...

Yah, untuk sementara pair yang akan mendapakan Ending adalah: Kurama, Itachi, Gaara, Sasuke, dan Kakashi,

Ada yang bisa menebak siapa ANBU dengan topeng rubah? Hintnya ada di kertas ujian tahap pertamanya Naruto.

Senang melihat banyak yang suka Omakenya, walaupun saya tidak tahu kalian menemukannya lucu; padalhal saya kurang mahir dalam menulis humor.

Akan ada Omake juga di akhir cerita.


Satu hal yang Naruto sadari di saat ia bertemu kembali dengan Sasuke dan Sakura adalah Sasuke yang sedang mengamuk lalu Sakura yang rambutnya kini sudah pendek, dan lalu ia merasakan bahwa tubuhnya sangat melemah; sepertinya Nagato mengambil chakra miliknya sedikit terlalu banyak walau ia tidak ada masalah dengan hal tersebut, malahan berkat Nagato ia jadi benar-benar terlihat seperti habis di culik.

Sasuke yang masih di selimuti dengan tanda terkutuk buatan Ororchimaru langsung berlari ke arahnya dan mencoba membantunya berjalan, Naruto bisa melihat ekspresi penuh kebencian dan perasaan ingin membunuh yang di keluarkan oleh Sasuke, sehingga hal pertama yang ia lakukan adalah berbicara dengan sahabatnya yang satu itu.

"Teme... aku tidak suka dengan aura yang kau keluarkan... aku jadi sesak nafas" Naruto berkata dengan pelan dan hati-hati, Sasuke terlihat sedikit kaget sebelum akhirnya ia mengatur amarahnya dan pelan-pelan tanda yang mirip tato di setengah wajahnya menghilang. Naruto tidak bisa menyalahkan Sasuke di saat ia memasang ekspresi kesal bercampur penyesalan yang Naruto yakin ada hubungannya dengan dirinya yang di culik dan Sasuke tidak bisa menyelamatkannya.

Naruto mengacak-acak rambut Sasuke, seperti Sandaime di saat ia sedang mencoba menghibur Naruto atau Kakashi di saat ia mencoba menenangkan dirinya, Sasuke tentu saja merasa tidak nyaman dan memindahkan tangan Naruto agar melingkarkannya di pundaknya jadi ia bisa membantu Naruto berjalan dengan benar.

Tidak lama kemudian, Sakura ikut membantu Sasuke dan Naruto berjalan dan membawa mereka ke sebuah gua, Sakura membantu Naruto untuk tiduran dengan menggunakan tas milik Sakura sebagai bantalnya sedangkan Sasuke duduk di samping Naruto dan menyenderkan tubuhnya di dinding gua, Sakura sedang sibuk mengeluarkan kota obat-obatan.

"Sakura-chan, ada obat herbal di dalam tasku, kau bisa gunakan itu; aku tidak apa-apa, coba cek Teme dulu" Sakura menatap sebentar Naruto sebelum mengangguk dan mengambil obat yang Naruto katakan namun Sakura malah langsung mengobati Naruto duluan dari pada Sasuke "Sudah aku bilang, aku tidak apa-apa"

"Sudahlah Dobe, kau butuh obatnya" Sasuke mengerang pelan, matanya kini sudah kembali menjadi normal dan tidak lagi mengaktifkan sharingan miliknya, namun Naruto kurang menyukai keputusan Sasuke karena ia baik-baik saja, ia punya kekuatan dari Kurama dan lagi pula Nagato melukainya tidak terlalu parah.

Namun entah mengapa ada rasa kantuk yang berlebihan sehingga membuat Naruto tidak bisa membantah apa yang Sasuke katakan dan pelan-pelan pandangannya menjadi semakin buram hingga hanya kegelapan saja yang bisa ia lihat; tanpa ia sadari, Naruto sudah tidak sadarkan diri.

Di saat ia bangun, masih kegelapan saja yang menyapanya, tidak ada tanda-tanda bahwa ia ada di gua dan kedua teman satu kelompoknya tidak terlihat di manapun, Naruto tahu bahwa ia tidak sedang bangun dan masih tidak sadarkan diri, ia tahu bahwa kini ia sedang ada di alam bawah sadarnya; namun mengapa Kurama tidak kelihatan di mana-mana?

"Kurama? Kau di mana?" Naruto bangun dari posisinya yang tadi tiduran dan mencoba mencari sang rubah berekor sembilan yang sudah menjadi sahabatnya dan keluarganya namun ia tidak bisa menemukannya di manapun, ada perasaan panik yang mulai muncul di saat ia tidak mendapat balasan dari sang rubah berekor sembilan namun ada juga perasaan nostalgia, apakah ia pernah berada di tempat ini sebelumnya?

"Kurama kau di ma—AAAAH!" Naruto yang membalik tubuhnya untuk mencari keberadaan sang rubah langsung berteriak dan terjungkal ke belakang, bagai mana tidak? Ada seseorang—lebih tepatnya laki-laki—yang tiba-tiba berada di belakangnya dan wajahnya begitu dekat dengannya! Terlebih lagi ia tidak merasakan keberadaan dari orang tersebut!

"Waah! Cantik sekali! Kak, aku betulkan? Ia lebih cantik di lihat lebih dekat!" kata laki-laki tersebut, tunggu dulu! Kenapa Naruto merasa ia mengenal laki-laki tersebut ya? Di mana ia pernah melihatnya? Dan kenapa ia merasa memiliki koneksi terhadap laki-laki di depannya?

Tunggu sebentar, barusan laki-laki tersebut mengatakan bahwa dirinya cantik! Wajah Naruto langsung menyamai kepiting rebus; ia langsung bangun dari posisinya dan menunjuk sang laki-laki dan berkata dengan suara lantang "Jangan panggil aku cantik!"

"Loh? Kenapa? Bukannya itu sebuah pujian ya?" Sang laki-laki memiringkan kepalanya dan menatap Naruto dengan ekspresi bingung bercampur polos, entah mengapa Naruto seperti mengingat dirinya sendiri di saat ia melihat laki-laki di depannya tersebut.

"Kau seharusnya tahu bahwa ia dulu adalah laki-laki" Tiba-tiba saja muncul seorang laki-laki lain di samping laki-laki yang memuji Naruto cantik, Naruto merasa juga pernah bertemu dengan laki-laki tersebut dan entah mengapa laki-laki tersebut mengingatkan Naruto terhadap Sasuke dan entah mengapa... Madara.

"Tapi tetap saja kak, bukannya ia terlihat cantik? Syukuri segala hal yang kau miliki! Beruntung ia berubah menjadi wanita cantik" Laki-laki yang di panggil oleh sebagai 'kakak' hanya menggeleng pelan mendengar apa yang adiknya katakan.

"Tunggu dulu—!" Naruto membulatkan matanya dan menunjuk kedua laki-laki tersebut, mulutnya menganga lebar, ia mengenal kedua laki-laki tersebut! Ia pernah melihat mereka berdua walau secara tidak langsung atau bisa di bilang melalui mimpi! "—Ashura dan Indra!"

"Wah, kau mengenal kami berdua! Ternyata benar ya, kau memang berasal dari tempat lain!" Laki-laki yang tadi memuji Naruto cantik yang ternyata adalah Ashura tersenyum lebar dan berjalan mendekat ke arah Naruto sebelum memperhatikan dengan baik wajah Naruto "Pantas saja kami berdua bisa bertemu denganmu seperti ini..."

"Memang benar, karena keberadaannya, keseimbangan dunia ini jadi sedikit berantakan; jadi kami berdua bisa bertemu denganmu" kata laki-laki yang ternyata adalah Indra, ia juga mengikuti adiknya mendekat ke arah Naruto tapi tidak seperti adiknya, ia tidak menginvasi zona nyaman milik Naruto.

"Tu-tunggu sebentar!" Naruto mendorong Ashura sedikit menjauh sebelum memberikan pandangan aneh bercampur bingung bukan main kepada Indra dan Ashura secara bergantian "Kalian berdua seharusnya saling benci! Kalian bahkan bertarung hingga mati! Kenapa kalian berdua malah kelihatan sangat santai sekarang!"

Naruto melihat Ashura dan Indra saling berbagi pandang, Naruto bisa melihat pandangan penuh penyesalan yang mereka berdua saling bagi dan mereka kelihatan tidak nyaman. Oke, Naruto tahu alasannya; mereka berdua sepertinya menyesal terhadap apa yang terjadi.

"Kau tahu bukan penyebab mengapa kami berdua bisa menjadi seperti itu?" Naruto terdiam sebentar, ia jadi merasa sedikit bersalah di karenakan kini Indra memberikan tatapan penuh penyesalan kepada dirinya; sedikit seram sih karena... yah aura yang di keluarkan oleh Indra terasa dingin dan melihatnya seperti itu juga membuat Naruto memiliki perasaan tidak enak sehingga Naruto hanya mengangguk dengan pelan sebagai jawabannya.

"Kalau saja mahluk keparat itu tidak mengadu domba kami berdua; aku yakin kejadian kurang menyenangkan seperti ini tidak akan terjadi" Ashura menghela nafas lelah sebelum melipat kedua tangannya di depan dadanya "Selama kami berdua mati dalam jangka waktu yang lama; baru lah kami menyadari kesalahan yang telah kami perbuat namun sayangnya reinkarnasi dari kami berdua malah terjebak dalam jebakan yang sama"

Naruto hanya diam saja, matanya terus menerus menatap Ashura lalu Indra secara bergantian, dari mimpi yang ia dapat memang ada yang menceritakan mengenai masa lalu milik Ashura dan Indra; mereka berdua dulu adalah kakak beradik yang saling menyayangi, main bersama, tumbuh bersama, dan latihan bersama.

Naruto sempat di buat iri karenanya, ia tidak pernah memiliki kakak atau adik di masa lalunya, Sasuke punya Itachi, Ashura punya Indra, Bee punya A, sedangkan dirinya tidak punya siapa-siapa. Naruto pernah berharap dan berkhayal bagai mana rasanya memiliki kakak namun tiba-tiba saja ia jadi teringat apa yang terjadi dengan hubungan dua dari tiga orang yang ia jadikan contoh, jadi ia mengurungkan niatnya; munkin lebih baik ia menjadi anak satu-satunya.

Naruto melipat kedua tangannya di depan dadanya sambil mencoba berfikir lebih jernih, ia tidak memiliki Kurama entah mengapa sekarang untuk mencoba mendiskusikan apa yang mereka harus lakukan sekarang "Jadi... kalian berdua mau apa?"

"Hanya ingin mengawasi saja, kami tidak bisa melakukan banyak hal dan satu-satunya yang bisa melihat kami adalah kau" Indra melirik ke arah kegelapan yang menyelimuti mereka lalu kembali ke arah Naruto "Bisa di bilang kami terikat dengan dirimu"

Naruto diam sebentar, ia sedang memproses apa yang Indra katakan sebelum sebuah pertanyaan muncul di benaknya "Jadi kalian adalah hantu?"

"Secara tidak langsung... ya, namun pada saat yang bersamaan kami juga bukan" Ashura menggaruk pipinya dengan jarinya sebelum melirik Indra yang hanya memberikan dirinya tatapan kosong, oke; Naruto harus jujur bahwa ia ada perasaan curiga terhadap keduanya, seperti mereka menyembunyikan sesuatu kepadanya "Kami bisa di bilang... pengawalmu"

Naruto tidak mengerti apa yang Ashura maksud dengan pengawal, karena ia yakin arti kata 'pengawal' yang Ashura katakan bisa bermakna banyak, lagi pula sedari tadi Ashura dan Indra saling bertukar pandangan! Apa itu yang ia lihat? Hanya perasaannya saja atau Ashura terlihat terlalu bersemangat dan Indra terlihat tidak sabaran?

Naruto menatap penuh curiga mereka berdua dan mulai menjaga jarak juga, ia ada perasaan tidak enak, terlebih lagi pandangan yang Ashura berikan kepadanya sekarang sudah layaknya anak kecil berumur 5 tahun yang serba ingin tahu.

"Kau tidak perlu takut, kami berdua hanya tidak ingin masa lalu terulang lagi" Indra akhirnya angkat bicara, ia menyadari sikap Naruto yang mulai tidak nyaman berada bersama mereka berdua dan ia tidak bisa membiarkannya begitu saja; kalau Naruto tidak nyaman dengan mereka berdua, bagai mana kedepannya di saat mereka berdua jelas-jelas akan bersama Naruto dalam jangka waktu yang cukup lama?

"Yaah, aku sedang berusaha melakukannya..." Naruto cemberut, ia sedang berusaha kok, ia sedang berusaha membangunkan Sasuke dari mimpi buruknya dan agar ia tidak pergi ke tempat Orochimaru dan mencoba membunuh kakaknya.

"Kami tahu, kami sudah memperhatikan dirimu berberapa minggu ini, dan aku senang sekali! Reinkarnasiku kali ini baik hati sekali!" Naruto tiba-tiba saja di peluk oleh Ashura dengan erat sehingga membuat yang di peluk hanya bisa pasrah, mengapa sih adik dari Indra yang satu ini senang sekali menginvasi zona nyaman miliknya?!

"Lebih baik pertemuanmu dengan kami berdua di rahasiakan terlebih dahulu, nanti kalau waktunya baru tepat barulah kau boleh menceritakannya kepada teman-teman seperjuanganmu" Adalah apa yang Indra katakan sebelum Naruto pelan-pelan kehilangan kesadarannya, dan hal yang terakhir ia lihat adalah Ashura yang tersenyum dan melambai kepadanya


Naruto sedari tadi diam saja, ia hanya menatap kosong Kabuto yang tiba-tiba saja muncul dan mengatakan bahwa ia terpisah dari kelompoknya dan sekarang sedang membicarakan hal-hal yang Naruto tahu adalah sebuah kebohongan.

Naruto tahu bahwa Kabuto sedang mencoba mendapatkan informasi mengenai Sasuke dan dirinya, tentu saja Naruto tidak akan membiarkannya begitu saja, maka di saat ia di serang oleh kelompok ninja dari Amegakure; Naruto memperlihatkan bahwa ia sedang tidak mood untuk di ganggu sekarang.

Bunshin yang ternyata hanya sebuah genjutsu langsung habis oleh Naruto dalam jangka waktu tidak lebih dari lima belas menit namun Naruto memberikan Sasuke semua kesempatan untuk muncul sebagai pemenangnya atau yang menghabiskan mereka bertiga secara langsung.

Oh dan tentu saja untuk Kabuto, Naruto memberikan pandangan minta maaf bercampur polos kepada dirinya karena sudah membuat dirinya berkali-kali hampir terkena serangan dari Naruto yang menyebabkan dirinya jadi tidak bisa memperhatikan cara bertarung Naruto dan Sasuke dengan baik "Maaf Kabuto-san! Aku tidak sengaja"

Naruto harus menahan tawa di saat ia bisa merasakan bahwa Kabuto sedang menahan keinginannya untuk mencekik dirinya dan hanya bisa tersenyum canggung, tanpa ia ketahui; dirinya sedang di tertawakan juga oleh sang rubah berekor sembilan "Tidak apa-apa, bukan salahmu kok'

Akhirnya ujian tahap kedua selesai, kelompok tujuh berhasil sampai ke tempat di mana mereka di haruskan membuka gulungan yang mereka dapat dan di sambut dengan ceria oleh Iruka yang menyatakan mereka bertiga lulus.

Naruto tersenyum lebar dan langsung melompat untuk memeluk guru yang paling ia sayangi, Sasuke hanya menghela nafas lega namun entah mengapa tatapan yang ia berikan kepada Iruka sedikit aneh, seperti ia sedang mencurigai sesuatu sedangkan Sakura tersenyum lebar dan merasa senang kini ujian tahap kedua telah berakhir.

"Oh? Kau tidak tahu ya kalau temanmu yang satu itu memiliki rahasia besar?"

"Hmm sepertinya bahkan bocah berambut kuning itu sendiri tidak mengetahuinya"

"Konohagakure tidak sebaik yang kau pikirkan"

Sasuke menutup matanya dan mencoba menghapus segala ingatannya mengenai apa yang Orochimaru katakan kepadanya, seperti suara ular yang mendesis, bisikan-bisikan tersebut sering muncul dan tidak mau meninggalkan dirinya.

"Kau membutuhkan kekuatan untuk mengejar kakakmu"

Tidak! Sasuke tidak membutuhkan kekuatan bodoh yang Orochimaru katakan! Ia akan mencoba mencari tahu kebenaran bukan membutakan diri kedalam kebencian dan nantinya ia malah membunuh kakaknya sendiri dengan alasan yang tidak masuk akal dan kemunkinan besar bukan salah sang kakak!

"Itachi menyimpan rahasia besar, kau harus mengejarnya dan membalaskan dendammu"

Sasuke tahu itu dan maka dari itu ia akan mencoba mengetahuinya! Namun tidak dengan cara brutal dan tidak masuk akal seperti itu! Pelan-pelan Sasuke bisa merasakan suara terkutuk tersebut mulai menghilang dan semakin lama pikirannya semakin jernih.

Namun tiba-tiba ia merasa seperti ia tengah di tusuk oleh beratus-ratus jarum dan tubuhnya menegang.

"Temanmu yang satu itu sedang di manfaatkan oleh desa yang kau anggap sebagai rumahmu"

Sasuke melirik Naruto yang sedang berbicara dengan Iruka, ia tersenyum dengan lebar dan kini tengah menceritakan apa yang terjadi di ujian tahap pertama dan kedua dengan bangga.

Tidak.

"Kau harus menjadi kuat untuk mengetahuinya, karena itu adalah rahasia tingkat tinggi"

Sasuke merasa seperti matanya memanas, pandangannya mulai gelap. Apa maksudnya itu? Naruto di manfaatkan? Rahasia? Apa? Apa maksud dari semua itu?

"Datanglah kepadaku dan akan aku berikan kau kekuatan dan kebenaran mengenai—"

"—Me, Teme! Jangan melamun!" Sasuke tersentak kaget di saat kini ia melihat Naruto yang meletakkan tangannya di pinggangnya dan menatap kesal dirinya "Akhirnya! Aku sedari tadi memanggilmu! Ayo, kita sudah harus berkumpul; katanya ada pengumuman dari kakek—eh Hokage!"

Sasuke berkedip-kedip sebentar dan tidak bergerak sama sekali hingga akhirnya Naruto memberikan tatapan khawatir kepadanya barulah ia bergerak dan membetulkan posisinya "Sabar Dobe, aku hanya sedang memproses kenyataan bahwa kau yang tidak berguna ini bisa lulus"

Perempatan muncul di kening Naruto dan ia mulai memarahi Sasuke, sementara yang di marahi hanya menyeringai namun dalam hati ia sedang memikirkan hal lain 'Aku tidak boleh membuat Dobe curiga, aku harus tetap tenang... aku akan mencoba mencari tahu nanti..."

Namun sepertinya Sasuke sedang beruntung sekarang (atau munkin tidak beruntung?) karena Naruto sedang di sibukkan dengan hal lain sehingga ia tidak terlalu mempermasalahkan keanehan yang terjadi kepada Sasuke.

Yang membuatnya sibuk? Tentu saja dua orang laki-laki kasat mata yang hanya bisa ia lihat yang kini tengah mengobrol dengan satu sama lain mengenai struktur bangunan serta orang-orang yang berada di dalam ruangan tersebut.

Ya, 'hantu' dari Indra dan Ashura sedang memperlihatkan wujud mereka dan sekarang tengah membicarakan mengenai perubahan yang banyak dari struktur bangunan hingga jutsu yang ada dari masa mereka, tidak memperdulikan Naruto yang kepalanya sudah sakit karena lelah mengurusi mereka berdua.

"Sampai kapan kalian berdua akan ada di sampingku?" Naruto mendesis dengan pelan dan berusaha agar suaranya hanya bisa di dengar oleh Ashura dan Indra, hal terakhir yang ia mau adalah ia di kira gila dan berhalusinasi!

"Hanya sebentar kok! Kami hanya ingin melihat perubahan dunia" Ashura tersenyum lebar, matanya berbinar-binar melihat pahatan tangan yang ada di depan dan sekitarnya. Indra terlihat diam saja sedari tadi namun Naruto bisa mendeteksi bahwa ia juga sama takjubnya dengan adiknya; buah memang jatuh tak jauh dari pohonnya, setidaknya mereka berdua memiliki kesamaan.

Naruto menghela nafas panjang, ia yakin hari-harinya akan semakin merepotkan dengan keberadaan mereka berdua, untungnya di saat kualifikasi pertama di mulai; mereka berdua berpamitan dan menghilang sehingga akhirnya Naruto bisa bernafas dengan lega.

"Kau kenapa Naruto?" Sakura yang menyadari keanehan dari Naruto akhirnya tidak bisa menahan diri untuk bertanya, ia berkali-kali melihat Naruto menghela nafas entah mengapa dan ia berkali-kali kelihatan ingin menjedutkan kepalanya ke dinding.

"Aku tidak apa-apa Sakura-chan" Naruto tersenyum canggung dan menggeleng dengan pelan, namun jelas sekali senyuman yang di pasang oleh Naruto terlihat sedikit janggal dan jelas-jelas di paksakan "Hanya merasa lelah..."

Sakura mengangkat sebelah alsinya namun akhirnya memilih untuk diam, karena ia tahu bahwa hubungannya dengan Naruto tidak sedekat Naruto dengan Sasuke, jadi untuk sementara ia hanya bisa mengangguk dengan jawaban Naruto.

Naruto hanya bisa memijat kepalanya yang rasanya ingin pecah, begitu banyak hal yang harus ia pikirkan dan begitu banyak masalah yang harus ia selesaikan, jadi Naruto memberikan pandangan penuh harap kepada kakeknya yang sedang berbicara di depan; tentu saja Sandaime menyadari pandangan yang di berikan kepadanya oleh Naruto dan hanya memberi kode sebagai jawabannya.

Jadi Naruto langsung secara diam-diam bertukar tempat dengan bunshin yang ia buat di saat di mulainya ujian eleminasi agar ia bisa bertemu dengan Sandaime secara langsung.

"Kakek! Aku lelah!" Naruto langsung melempar dirinya ke kakeknya yang merupakan Hokage ketiga, ia tidak menyadari bahwa sang Hokage tengah merasa sedikit kesakitan karena di peluk terlalu erat oleh Naruto.

"Naruto, aku tahu seharusnya kau sudah tidak pantas masuk ujian ini, kekuatanmu sudah di atas rata-rata jadi pastinya ini tidak ada hubungannya dengan ujianmu ya?" Naruto mengangguk dengan cepat sebagai jawabannya tanpa melepas pelukannya dari Sandaime membuat Sandaime hanya bisa bersabar dan menguatkan tubuhnya yang di peluk terlalu erat oleh Naruto, kadang laki-laki yang sekarang sudah berubah menjadi gadis ini tidak menyadari kekuatannya sendiri "Ada apa Naruto?"

"Hmm..." Naruto bergumam pelan sebelum menyadari bahwa Sandaime tidak akan bisa mendengar apa yang ia katakan bila ia membenamkan wajahnya di pakaian milik sang Hokage, jadi ia melepaskan pelukannya (membuat Sandaime menghela nafas lega secara diam-diam) sebelum cemberut dan berbicara kembali "Kakak sepupuku bilang aku tidak boleh menyelamatkan sahabatku dari pedofil, lalu aku hanya bisa menghabiskan waktu bersamanya sebentar sekali, lalu aku baru mengetahui bahwa ada hantu yang menguntitku!"

Hening.

Sandaime berfikir bahwa kupingnya sudah mulai bermasalah karena umurnya yang sudah tua, namun ekspresi yang di kenakan oleh Naruto berkata sebaliknya; sepertinya semua yang ia katakan adalah kebenaran.

"Pertama-tama, boleh aku tahu siapa kakak sepupumu?" Ya, prioritas, ia bisa memikirkan soal kupingnya nanti, yang penting ia harus menenangkan Naruto terlebih dahulu dan mendapatkan informasi yang benar dari sang gadis.

"Ia berasal dari klan Uzumaki juga, maaf; aku tidak bisa menyebut namanya namun karena berasal dari klan yang sama maka otomatis ia adalah saudara jauhku" Sandaime mengangguk, ada perasaan senang mendengar bahwa klan Uzumaki masih ada dan kini Naruto memiliki keluarga yang kemunkinan besar adalah saudara jauhnya.

"Bisa deskripsikan apa yang kau maksud sebagai pedofil?" Sandaime melihat wajah Naruto berubah menjadi ekspresi jijik bercampur mual, sudah ketahuan bahwa apapun itu yang Naruto maksud sebagai pedofil pasti bukan hal yang baik, walaupun pada dasarnya kata-kata pedofil adalah hal yang buruk.

"Ular keparat" Aah, Sandaime kini mengerti, ekspresinya juga berubah menjadi sedih bercampur bersalah. Ia merasa bersalah terhadap apa yang terjadi dengan muridnya yang satu itu dan ia yakin Jiraiya akan marah besar bila mengetahui bahwa anak dari muridnya menjadi korban (secara tidak langsung) dari temannya, ngomong-ngomong, muridnya yang satu itu juga belum di beri tahu tentang perubahan Naruto.

"...Bagai mana dengan hantu? Aku pikir kau tidak percaya dengan hal seperti itu..." Sandaime kini bertanya dengan lebih hati-hati karena ia tahu bahwa apa yang Naruto maksud dengan hantu bisa saja sesuatu hal yang berbahaya; karena Sandaime tahu bahwa Naruto sebenarnya takut dengan hantu.

"Mereka bilang mereka adalah pengawalku..." Naruto mendumal dengan pelan, dari nada bicaranya jelas sekali bahwa Naruto sendiri kurang mengerti dengan apa yang ia bicarakan, kalau ia sendiri tidak mengerti bagai mana dengan Sandaime? namun ia hanya bisa mengangguk pelan, prioritas utama adalah menangkan Naruto bukan membuatnya jadi semakin bingung.

"Dari mana kau tahu bahwa mereka adalah hantu" ternyata tidak hanya satu hantu yang Naruto temui, membuat Sandaime menjadi semakin khawatir, apakah cucunya ini mentalnya mulai bermasalah? Ia tahu bahwa semua orang yang pernah ikut perang pasti mentalnya rusak, sekuat apapun mereka; tidak mengecualikan Naruto sendiri.

"Aku tahu karena mereka berdua... mereka berdua seharusnya sudah mati..." kalau Naruto mengetahui bahwa mereka sudah mati maka kemunkinan besar Naruto mengenal atau munkin hanya pernah mendengar mereka, bila mendengar nada bicara Naruto kemunkinan besar adalah opsi yang pertama.

Sandaime diam sebentar, membiarkan segala informasi yang baru ia dapat sekarang meresap ke dalam otaknya dan di proses secara perlahan, namun entah mengapa ada keinginan yang sangat besar untuk minum-minum sekarang untuk menenangkan otaknya.

"Ada yang bisa aku bantu?" Untuk sementara Sandaime akan menyimpan informasi dari Naruto dan memikirkannya nanti, untuk sekarang ia harus mencoba mengetahui apakah Naruto membutuhkan bantuannya.

"Aku... ingin di pasangkan dengan ninja dari Otogakure di dalam pertarungan nanti; siapa saja yang penting ninja dari Otogakure" Naruto berbicara dengan nada yang sedikit berbahaya dan entah mengapa Sandaime bisa melihat mata Naruto berkilap dan berberapa kali hampir berubah warna menjadi warna merah, sepertinya setengah dari keinginan Naruto adalah keinginan dari sang rubah berekor sembilan.

"Tentu saja, bagai mana kalau kau kembali ke tempat ujian sedang di adakan? Agar tidak menarik rasa curiga" Sandaime tentu saja akan mengabulkan permintaan Naruto, sekalipun itu membuatnya harus berbuat curang karena apapun yang di minta oleh Naruto pasti memiliki alasan yang penting.

Sandaime dengan sangat handalnya berpura-pura tidak tahu bahwa Naruto hanya ingin mengeluarkan segala stressnya ke orang yang akan ia lawan nanti, selama cucunya senang semua baik-baik saja, bukankah itu harga yang pantas untuk di bayar? Mereka dengan seenaknya menginvasi Konoha dan membuat cucunya stress, sedikit balas dendam tidak ada salahnya bukan?

'Anakmu mirip sekali ya dengan dirimu Minato... aku bangga" Sandaime tersenyum kecil, ya, sang Yondaime saja boleh melakukan balas dendam dulu lalu kenapa Naruto tidak? Buah jatuh tak jauh dari pohonnya; lagi pula karena dirinya yang ingin membalaskan dendamnya terhadap apa yang mereka lakukan terhadap anak muridnya, sang Yondaime di takuti oleh salah satu desa yang besar dan jadi terkenal.


"Pertarungan selanjutnya, Dosu Kinuta melawan Naruto Uzumaki" Hayate Gekko yang menjadi wasit dalam ujian eleminasi kali itu membacakan nama yang tertulis di papan nama di belakangnya yang memperlihatkan nama orang yang akan bertarung selanjutnya.

Sakura dan Sasuke tahu ada yang aneh dengan Naruto, postur tubuhnya lebih tegap dari biasanya matanya juga sedikit lebih tajam dari biasanya dan mereka berdua sampai tidak terlalu berani mendekati teman satu timnya.

Sasuke yang masih sedikit berani bertanya kepada Naruto mengenai tingkahnya yang begitu agresif, jawabannya? Naruto bilang bahwa ia mengingat bahwa yang menculiknya adalah ninja dari Otogakure dan Sasuke langsung memberikan tatapan dan aura yang sama kepada ninja dari Otogakure yang berada di sebrang mereka.

Meninggalkan Sakura yang belum mengerti kenapa kedua teman satu kelompoknya mengeluarkan hawa membunuh yang cukup berlebihan namun ia terlalu lelah setelah bertarung melawan Ino dan kini lebih memilih untuk membiarkan mereka berdua terlebih dahulu, hal yang ia pelajari setelah menjadi anggota satu kelompok mereka dalam jangka waktu yang cukup lama; biarkan mereka mendinginkan kepala mereka sendiri, jangan ganggu mereka bila ada yang sedang bad mood atau mulai bertingkah aneh.

"Lawanku gadis kecil lemah ya... hah" Dosu jelas sekali meremehkan Naruto namun Naruto sedari tadi diam saja, membiarkan Dosu mengejeknya sepuas yang ia mau sebelum ia menjadi samsak tinju untuk Naruto mengeluarkan stressnya.

"Di mulai!" Tanda di mulainya pertarungan kini sudah di sebutkan oleh Hayate dan detik berikutnya, Naruto sudah menghilang dari tempatnya berdiri.

Dosu tiba-tiba saja terpental ke atas sebelum akhirnya di tendang kembali ke bawah hingga terdengar bunyi seperti kayu yang patah dan lantai tempat ia terbentur retak.

Naruto langsung menggenggam tangan Dosu dan melemparnya ke atas hingga menabrak dinding dan menonton tubuh Dosu yang jatuh dengan ekspresi bosan hingga tubuhnya kini kembali membentur lantai yang sama sebelum menginjak dengan sangat keras perut Dosu.

"Jangan macam-macam denganku" Naruto mendesis dengan keras namun Dosu sudah tidak sadarkan diri.

Hening.

"Brutal" Sakura akhirnya berbicara.

"Savage" Sasuke bersiul kecil dan menyeringai.

"Rekt" Kata Asura yang ternyata sedang menonton reinkarnasi dari dirinya bertarung bersama dengan kakaknya, Indra hanya diam saja namun ia mengangguk pelan.

'Ke mana anak muridku yang begitu lucu dan polos... kami-sama...' Kakashi hanya bisa menatap sedih Naruto dan bulir keringat keluar dari sisi kepalanya, ia kangen dengan Naruto yang polos, baik hati, pemaaf, dan tidak pernah menjadi sangat kejam; apa yang terjadi di ujian chunin kedua yang mengakibatkan Naruto terlihat marah besar?

"Pemenangnya... Uzumaki Naruto..." Hayate mulai berbicara walau ia sendiri kurang percaya dengan apa yang ia katakan, namun untuk menghentikan Naruto agar tidak membunuh lawannya; ia harus menyelesaikan pertarungan ini sekarang juga karena ia bisa melihat bahwa Naruto masih ingin menghajar lebih lama lawannya.

Hayate hanya bisa berdoa dalam hati dan bahkan ia hampir meminta maaf kepada kekasihnya kalau saja ia tiba-tiba harus meninggalkannya selamanya, karena ia bisa melihat mata Naruto berubah menjadi berwarna merah dengan pupil mata seperti monster walau hanya sekejap sebelum kembali menjadi warna biru cerah.

Kami-sama, tolong selamatkan desa Konoha dari amukan sang rubah ekor sembilan yang sekarang sedang terkunci di dalam tubuh Naruto.


To Be Continue


(Omake)

Naruto's Misadventures, Teaching Ashura and Indra!

Naruto memijat kepalanya yang mendadak terasa seperti mau pecah dan penyebabnya adalah dua orang laki-laki yang sedang bersama dirinya, mereka berdua adalah anak dari mendiam Hagoromo Ootsuki yang datang mengunjungi dirinya dalam bentuk hantu.

Sang adik, Ashura Ootsuki sedang bermain-main dengan boneka anjing yang mirip dengan Pakkun sedangkan sang kakak, Indra Ootsuki sedang membaca buku dari rak buku yang Naruto miliki; buku yang ia baca adalah buku pemberian Sasuke.

"Kalian berdua kenapa masih ada di sini" Naruto menghela nafas pasrah, ia sudah tidak mau tahu lagi bagai mana kedua kakak beradik itu tiba-tiba bisa muncul di hadapannya dan sekarang malah mengganggu kehidupannya.

"Oh ayolah Naru-chan! Kami hanya penasaran dengan keadaan dunia masa kini; banyak sekali hal-hal menarik yang tidak pernah kami lihat dulu!" Ashura tersenyum lebar dan berjalan mendekat ke arah Naruto yang kini sedang memanaskan air dengan alat pemanas air otomatis "Oh! Benda apa itu?"

"Ini untuk menghangatkan air, aku mau masak ramen instan" Naruto mengambil sebuah cup ramen instan yang terletak tidak jauh darinya dan mulai memasaknya, yah kalau hanya memasukkan bumbu-bumbu yang ada dan menambahkan air panas ke dalamnya bisa di bilang sebagai memasak "Dan jangan panggil aku Naru-chan!"

"Wah! Praktis sekali! Buatkan untukku juga dong!" Ashura mengambil salah satu cup ramen lainnya dan menyodorkannya kepada Naruto untuk meminta di buatkan.

"Tunggu dulu memangnya hantu makan—ah yasudah lah" Naruto tidak jadi mengutarakan pertanyaan karena ia yakin, jawaban dari kedua kakak beradik tersebut tidak akan bisa masuk akal di dalam pikirannya dan ia memutuskan untuk memenuhi permintaan Ashura.

"Kau mau juga tidak Indr—JANGAN SENTUH BUKU ITU!" Naruto langsung berlari meninggalkan cup ramen yang sedang ia sedu yang membuat Ashura langsung menangkapnya agar tidak jatuh, ia menerjang Indra dan mengambil buku bersampul orange yang sedang Indra pegang hingga ia menabrak dinding "Jangan pernah kau baca buku terkutuk ini!"

Indra hanya memberikan dirinya pandangan layaknya ia adalah orang gila yang kesetanan dan harus di sirami air suci secepatnya "Aku bahkan belum sempat membaca judulnya"

"JANGAN PERNAH BACA BUKU INI ATAU IQMU AKAN BERKURANG DRASTIS BERSAMAAN DENGAN HARGA DIRI DAN NILAIMU DI MATA PUBLIK" Naruto mendesis keras dan melempar buku bersampul orange tersebut keluar jendelanya.

"Buku apa itu?" Ashura menatap bingung buku yang melayang di sampingnya dan lalu keluar apartemen Naruto "Dan kalau memang buku itu tidak baik, mengapa kau memilikinya?"

"Itu bukan milikku, itu buku milik guruku yang aku curi sebagai hukuman karena selalu terlambat" Naruto mendecak kesal dan bangun dari posisinya, ia kembali melanjutkan membuat ramen instan dan kali ini tidak menanyakan kepada Indra dan hanya membuatkannya saja, lagi pula kalau Indra tidak mau maka ia bisa memakannya.

"Ini, sudah jadi" Naruto menyuguhkan cup ramen kepada Indra dan Ashura, yang di terima dengan senang hati oleh Ashura dan Indra yang hanya mengangguk dan menerimanya.

Naruto tertawa pelan, mereka berdua memang kakak beradik namun sifat mereka berbeda seperti matahari dan bulan; pas sekali ya?

Naruto menghabiskan ramennya dengan cepat yang di susul oleh Ashura, Indra seperti sedang mencoba menikmati makanannya sehingga ia memakannya perlahan-lahan, Naruto tidak bisa menyembunyikan perasaan kaget melihat betapa elegannya sang kakak; berbeda sekali dengan adiknya namun entah mengapa ia lebih senang melihat Asura makan karena ia terlihat sangat senang.

Naruto mengambil pakaian baru di dalam laci bajunya lalu berjalan ke arah pintu masuk ke dalam kamar mandi, namun sepertinya Ashura sudah keburuan masuk ke dalam dan sekarang sedang menatap pipa air yang tertempel di dinding.

"Banyak benda-benda baru dan aneh ya! Kalau ini buat apa?" Naruto tertawa pelan, ia seperti melihat Ashura bagaikan anak umur 5 tahun yang penasaran terhadap segala hal.

"Pipa air, untuk mengalirkan air" Naruto menggeleng pelan, ia berasakan seorang ibu yang memiliki anak umur 5 tahun, ia bisa melihat juga bahwa Indra melirik ke arahnya dan kini sedang memperhatikan pipa air yang sama.

"Sudah, aku mau mandi, keluar" Naruto meletakkan pakaian barunya di atas wastafel dan menunggu Ashura keluar dari kamar mandi tersebut.

"Eh, aku mau lihat bagai mana pipa ini berkerja! Jadi tak apa-apakan kalau kita mandi bersama?" Apa yang Ashura katakan terdengar sedikit janggal—oke sangat amat terlalu janggal! Bahkan Indra menggeleng pelan!

"Hm? Yasudah, memangnya kau punya baju ganti?" Jawab Naruto dengan wajah polos.

BLETAK BLETAK

Naruto dan Ashura menerima benjolan di kepala masing-masing, hadiah dari Indra yang mengepalkan tangannya dengan perempatan terlihat jelas di keningnya sebelum menyeret Ashura keluar dan menutup pintu kamar mandi, membiarkan Naruto mandi.

"Eh... aku salah apa? Bukannya mandi bersama itu tidak apa-apa ya? Kitakan satu jiwa..." Indra hanya bisa menggeleng pelan dan bergumam 'dasar bodoh' dengan pelan, ia tahu bahwa adiknya yang satu ini tidak peka dan tidak bisa membaca situasi. Namun ia juga terkejut dengan kebodohan dari reinkarnasi dari Ashura juga; buah jatuh tak jauh dari pohonnya.

"Tapikan Naruto bilang ia dulunya laki-laki jadi tidak ada salahnyakan kalau kita mandi bersama?"

"Laki-laki mandi bersama juga bukan hal yang normal, bodoh"

"Kitakan dulu sering mandi bersama kak..."

"Itu di saat kita masih berumur 5 tahun"

"Bedanya dengan sekarang?"

"...terserah apa katamu lah, Ashura"

Ashura diam sebentar dan melipat kedua tangannya di depan dadanya, ia duduk bersila dan menunggu Naruto selesai mandi, tidak menyenangkan rasanya bila ia melakukan sesuatu tanpa sang gadis berambut kuning tersebut di sampingnya.

"Kau tahu bahwa perasaan yang kau rasakan kepada Naruto itu terlarang bukan? ia adalah reinkarnasi dari dirimu, Ashura" Indra angkat bicara dan melirik adiknya, kini ia sudah mengambil sebuah buku baru dari rak buku milik Naruto, buku itu seperti sebuah buku cerita mengenai seorang ninja bernama Naruto, lucu ya; namanya sama dengan sang pemilik buku tersebut.

"Ha? Apa maksudmu kak?" Indra hampir lupa bahwa adiknya yang satu ini sama tidak pekanya dengan reinkarnasi dari Ashura sendiri, ia jadi sedikit kasihan dengan reinkarnasi dari dirinya yang sepertinya memiliki perasaan dengan reinkarnasi dari Ashura.

"lupakan aku mengatakan sesuatu" Indra memilih untuk tidak memikirkan lebih jauh lagi, lagi pula ia tidak perduli bila adiknya terjebak dalam cinta terlarang; toh tidak ada urusan dengan dirinya.

Sepertinya Indra terlalu banyak membaca novel romance milik Naruto hasil pemberian gurunya.


!Review Reply!

Silent Reader-san: Sejujurnya, saya baru tahu ada episode seperti itu karena saya sebenarnya tidak menonton animenya, hanya mengikuti manganya saja dan saya juga di buat terkejut karena inspirasi saya untuk membuat hal tersebut sebenarnya salah satu cover dari chapter di manganya yang ternyata muncul di episode tersebut. Humor ya, saya tidak mahir membuat humor dan sebenarnya juga saya ragu akan ada yang menganggapnya lucu, senang mengetahui keinginan saya terpenuhi. Terimakasih banyak atas dukungan dan doanya.

Jasmine DaisynoYuki: Senang anda menemukan Omakenya lucu. Dan soal Sakura munkin anda harus mengecek Warning dari setiap chapter dan lihat apakah ada perubahan atau tidak.

Dewi15: Jawabannya gampang, karena sejujurnya Naruto sudah mati juga, the irony is rich huh? (Abaikan guyonan Author yang kadang sulit di mengerti)

Leonardo391: Sebenarnya sikap Naruto itu (seharusnya) masuk akal, bayangkan bila anda di rubah kelaminnya secara tiba-tiba tanpa anda inginkan sendiri, semua ada proses, tidak munkin laki-laki normal yang masih dalam masa puber mau menerima begitu saja di saat ia di ubah menjadi perempuan.

Uzumaki Ruby dan asyfiaaulia31: Entahlah, kalau pairing di basiskan dalam apa? Nafsu? Benci? Atau cinta?

retvianputri12: Menurutmu? Sebaik apapun Naruto; pasti ada rasa kesal bercampur sedih bila ia hampir berkali-kali terbunuh dan di perlakukan tidak baik oleh seseorang (maka dari itu ada Dark!Naruto). lagi pula Naruto patuh terhadap kedua orang tuanya, dulu Minato pernah bilang untuk mencari pasangan yang mirip ibunya, sekarang Naruto sudah jadi perempuan jadi tinggal di balik saja, cari pasangan mirip ayahnya. Silakan baca Author notes di atas juga kalau mau mencari pairing.

uchiha hasan: kalau di ambil dari sifat Naruto, butuh waktu yang sedikit lama untuk menerima kenyataan bahwa ia akan menjadi perempuan selamanya.

Fujoshi desu: Simpanlah ide cemerlangmu untuk dirimu, saya lebih senang seperti itu. Sayangnya saya bukan lagi fujoshi dan lebih memilih gender bender jadi keinginan anda tidak bisa saya penuhi.

Fujoshi desu: Walaupun saya senang mendapat review namun kenapa anda mereview dua kali? Seperti yang sebelumnya, anda bisa menyimpan ide cemerlang anda untuk diri anda sendiri dan mengenai hal tersebut saya sudah punya pikiran sendiri, lagi pula saya tidak bisa menulis terlalu banyak karakter, ini saja sudah ada Indra dan Ashura, menurut saya sudah lebih dari cukup.

rita: Saya juga sebenarnya baper kok nulis bagian itu... saya yakin saya akan baper. Simpanlah ide cemerlang anda untuk diri anda sendiri dan baca Author notes di chapter sebelumnya, terimakasih banyak.

Shirayuki Yukari: Terimakasih banyak, karena saya punya OTP juga maka saya bisa merasakan perasaan banyak orang bila pairing mereka tidak menjadi kenyataan, mutual understanding perhaps? Selama dia minum obat dengan teratur dan dengar omongan papa Kisame (?) semua akan baik-baik saja. Hinata sepertinya hatinya tidak pernah tersakiti tuh, kemunkinan besar terobati munkin? Terimakasih atas pujiannya yang bertubi-tubi. Saya juga sebenarnya tidak membenci Sakura (OTP saya malah SasoSaku) namun kalau Sakura sifatnya lagi kurang baik yah... begitu lah. Cerita yang pure GaaNaru sudah ada kok, bisa di cek... maaf bukannya mau promosi sih... hahaha.

Fumetsu Vara: Belum muncul secara langsung, hanya di bicarakan di Omake namun hintnya ada di Author notes.

Banyak yang minta Omake lagi maka saya jadi membuat draft untuk omake jadinya, munkin di setiap chapter akan ada omake.

Dan saya Up-date kilat kali ini karena saya mau Hiatus sebentar, sudah mau lebaran dan saya akan sibuk nantinya, terimakasih banyak.

Review Please