Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto

Warning: Mengandung Gender Bender, Semi-Au, Time Travel, Miss Typoo, dll


!Author Notes!

Halo para pembaca yang sudah dengan sabar menunggu chapter baru, saya senang melihat banyak yang menyukai konsep cerita saya yang ini, saya ingin berterimakasih kepada semua pembaca yang selalu memberi saya dukungan.

Saya masih ingin mengingatkan bahwa blog yang saya janjikan kini sudah di buat, silakan cek profile saya bila tertarik, saya kemunkinan besar akan mengup-date banyak hal mengenai cerita-cerita yang saya buat dan berserta gambar buatan saya sendiri.

Untuk sekarang karakter yang memiliki ending adalah: Kurama, Itachi, Gaara, Kakashi, dan Sasuke

Selamat menikmati chapter baru dari To The Past


Sasuke Uchiha, laki-laki berumur dua belas tahun ini adalah anak murid yang paling di segani dan pintar, nilai akademisnya selalu di atas rata-rata yang membuat dirinya sering di panggil-panggil sebagai anak yang jenius, namun baginya itu tidak cukup karena di rumahnya dulu; ia selalu di banding-bandingkan dengan kakaknya yang membuat dirinya memiliki sifat tidak ingin kalah dan memiliki ambisi untuk mengalahkan kakaknya.

Namun kini Sasuke mulai mengerti bahwa dirinya memiliki banyak kekurangan, kekurangan yang merupakan titik paling lemah darinya yang membuat dirinya sadar betapa berbedanya dirinya dengan kakaknya; pantas saja sang kakak selalu di lihat lebih tinggi darinya, Sasuke juga mulai mengingat masa lalunya—lebih tepatnya ingatan mengenai sang kakak—yang hampir saja ia lupakan hanya karena di butakan dengan perasaan benci.

Dulu di saat Itachi melatih Sasuke, ia selalu tahu kelemahan dari Sasuke; seperti di saat mereka sedang berlatih dengan melawan satu sama lain, Itachi selalu tahu bagian tubuh mana milik Sasuke yang sedang sakit karena terluka habis latihan sendiri, Itachi selalu tahu kapan Sasuke mulai kelelahan, Itachi selalu tahu bila Sasuke mulai bertingkah laku aneh dan dalam waktu singkat langsung bisa seperti membaca pikiran Sasuke bila Sasuke sedang merasa kesulitan.

Ya, sebuah ingatan manis yang menunjukkan betapa sayangnya Itachi kepada dirinya, sang adik yang tidak tahu terimakasih dan hampir di butakan dengan kebencian yang sangat tidak masuk akal. Namun selain itu ingatan tersebut juga menunjukkan hal lain; yaitu betapa berbedanya tingkatan Itachi dengan Sasuke.

Itachi lebih di atas Sasuke di karenakan dirinya yang selalu bisa berfikir dengan tenang pada waktu kapanpun, tidak pernah membiarkan egonya mengalahkan pikiran rasionalnya, dan yang paling terpenting adalah: Itachi selalu memperhatikan sekelilingnya dan mengamati seseorang dengan pikiran netral, tidak membiarkan egonya menilai orang hanya dari sampulnya, ia tidak membiarkan omongan orang lain mengotori pandangannya terhadap seseorang, maka dari itu Itachi bisa mendapatkan seorang sahabat yang begitu dekat dengannya: Shisui Uchiha.

Sasuke merutuki dirinya sendiri, betapa bodohnya dirinya untuk tidak menyadari bahwa sang kakak yang begitu menyayanginya bisa selalu selangkah—berpuluh-puluh langkah di depannya hanya karena hal yang bernama pengamatan dan ego? Sesuatu yang Sasuke sangat tidak mengerti padalhal itu adalah hal yang simpel!

Itachi tidak pernah merasa sombong dan membangga-banggakan kepintarannya, ia selalu menjadi orang yang begitu baik hati dan rendah diri di depan orang lain, ia tidak pernah menyombongkan segala kesuksesannya kepada siapapun, dan yang paling terpenting: Itachi tidak pernah memandang rendah seseorang yang ada di bawahnya, mau itu anak buahnya ataupun teman-temannya, Itachi sangat mahir dalam mengendalikan egonya.

Dan kini Sasuke mengutuk dirinya sendiri yang tidak menyadari hal tersebut, ia mengutuk dirinya yang tidak mengerti betapa baiknya kakaknya, dan yang paling penting, Sasuke mengutuk dirinya untuk tidak menyadari bahwa hal yang tidak ia miliki sedangkan Itachi miliki membuat dirinya tidak menyadari penderitaan dari sahabatnya.

Sasuke jadi teringat masa kecilnya di mana Naruto masih menjadi laki-laki dan menganggap dirinya adalah musuh dan saingannya, mengapa? Mengapa ia tidak menyadari penderitaan Naruto? Sasuke sudah tahu jawabannya: karena ia menganggap rendah Naruto! Andai kata ia adalah Itachi maka ia yakin bahwa dirinya tidak akan bersikap begitu kejam terhadap Naruto!

Kini Sasuke menyadari kejanggalan yang terjadi terhadap Naruto dulu.

Di saat ia sekelas dengan Naruto, mengapa Naruto terlihat sangat kesulitan untuk belajar? mengapa ia selalu kabur dari kelas dan bolos? Dulu ia menganggap bahwa Naruto hanyalah anak yang pemalas namun sekarang ia menyadari, Naruto bukannya pemalas hanya saja ia tidak bisa mengikuti pelajaran; jangankan mengikuti pelajaran, membaca saja ia kesulitan! Dulu di saat para murid di suruh membaca buku mereka di depan kelas, Naruto selalu membuat gurunya marah atau memanipulasi gurunya sehingga membuat gurunya (Iruka) menyuruh murid lain yang membaca.

Pada waktu istirahat, Naruto selalu terlihat sendirian dan bahkan berkali-kali Sasuke melihat Naruto memegangi perutnya entah mengapa, dulu ia menganggap Naruto tidak mempunyai teman karena ia sering menjahili teman-temannya, jadi bukannya itu harga yang sepadan untuk Naruto bayar atas keusilannya? Namun Sasuke menyadari bahwa dulu ia melihat dengan jelas orang-orang dewasa yang merupakan orang tua dari murid-murid lain menjauhkan anaknya dari Naruto dan bahkan ia pernah mendengar mereka berbicara buruk mengenai Naruto dan lalu Naruto selalu memegangi perutnya karena ia kelaparan namun tidak memiliki bekal.

Oh, jangankan hal-hal yang munkin tidak banyak orang bisa sadari, Sasuke pernah melihat dengan jelas Naruto di lempar keluar dari sebuah toko dan bahkan ia melihat banyak orang langsung menutup toko mereka di saat mereka melihat Naruto ingin mendatangi toko mereka. Pikiran Sasuke? Mereka semua hanya kesal karena selalu di kerjai oleh Naruto.

Sasuke harus menahan keinginan untuk membenturkan kepalanya ke dinding hingga pecah, mengapa? Mengapa ia sangat bodoh dulu? Ia di juluki oleh anak yang jenius! Mengapa ia tidak menyadari hal-hal seperti itu?

Seharusnya Naruto di ajari bagai mana cara membaca dulu, orang tua seharusnya tidak berlebihan seperti itu hanya karena Naruto anak yang sedikit nakal dan mereka seharusnya tidak mencaci maki Naruto seperti itu, para penjaga toko juga tidak seharusnya memperlakukan Naruto seperti itu, hanya karena ia sedikit jahil bukannya mereka harus membencinya hingga menutup toko bahkan di saat Naruto hanya lewat di depan toko mereka!

Kini Sasuke juga jadi teringat dengan kakaknya, di saat Sasuke bercerita mengenai kebodohan dan betapa menyebalkannya Naruto, reaksi Itachi? Ia menatap sedih dirinya dan membelai kepala Sasuke, ingatannya pada waktu itu sedikit kabur namun kini ia mengingat dengan jelas apa yang Itachi katakan.

"Janganlah kau nilai seseorang dari sampulnya saja Sasuke, munkin ia sedang kesulitan... berteman dengan baiklah dengan dirinya..."

Apakah itachi tahu sesuatu mengenai mengapa Naruto di perlakukan tidak adil seperti itu?

Sasuke kini semakin menyadari kejanggalan yang menyelimuti sahabatnya yang kini sudah berubah menjadi perempuan karena kini ia berniat untuk mencari tahu apa yang sebenarnya di sembunyikan oleh warga desa dan munkin juga Naruto.

Dan memang benar, Sasuke melihat ketidak adilan dari para penjual yang tokonya di datangi oleh Naruto, mereka yang terikat dengan peraturan untuk tidak boleh menolak menjual dagangan kepada seorang ninja dari desa terlihat sangat tidak senang bila Naruto mendatangi toko mereka dan-demi kami-sama! Apakah matanya kini sudah buram atau Sasuke melihat dengan jelas para penjual langsung menaikkan harga mereka untuk Naruto? Dan apa itu? Apakah melempar kembalian kepada pelanggan di anggap sopan?

Tidak hanya itu saja, Sasuke kini melihat Naruto yang sedang menghindar dari hal-hal yang katanya tidak sengaja terjadi, seperti menghindar dari siraman air bekas cucian, sampah yang di buang dari lantai dua, dan—mana ada ketidak sengajaan! Sebuah telur busuk jelas-jelas mengarah ke Naruto, kalau saja Naruto bukan seorang ninja maka ia pasti akan terkena semua hal-hal menjijikkan tersebut!

Sasuke mengatupkan mulutnya, ia bisa merasakan matanya menjadi panas di saat ia melihat banyak orang-orang yang berbicara buruk mengenai Naruto—kupingnya tidak salah dengar! Ia jelas-jelas mendengar ada orang yang mengatakan bahwa Naruto menjual tubuhnya dan sekarang berubah menjadi perempuan untuk menggoda mereka semua.

"Untuk mengetahui mengapa temanmu di perlakukan seperti itu, kau harus menjadi kuat"

Sasuke memejamkan matanya dan mengusir suara desisan ular tersebut walau apa yang suara itu katakan ada benarnya, namun Sasuke tidak bisa menghapus pikiran kesal bercampur benci di saat ia berhadap-hadapan dengan gurunya.

"Jadi kau akan aku latih secara personal" Kakashi membetulkan ikat kepalanya dan kini ia bisa melihat mata gurunya yang biasanya ia sembunyikan, mata yang memiliki sharingan seperti miliknya.

'Lalu bagai mana dengan Dobe...' Tuh! Bahkan guru yang seharusnya tidak pilih kasih memperlakukan tidak adil Naruto!

Sasuke menggigit bawah bibirnya dan mencoba mengontrol emosinya.

"Konohagakure tidak sebaik yang kau pikirkan"

Sasuke tidak bisa tidak setuju dengan apa yang suara di kepalanya bisikkan.

Ada sesuatu yang di sembunyikan oleh Konohagakure mengenai Naruto... dan kemunkinan besar juga kakaknya.

Sasuke akan mencari tahu segalanya.


Naruto duduk di kursi di depan meja kerja milik Sandaime, ia bersenandung kecil dan kakinya terus-terus ia gerakkan, ia tidak bisa diam dan ia mulai merasa bosan jadi ia memutuskan untuk bermain-main di kursinya sambil sesekali mengobrol dengan Kurama.

"Hmm... jadi intinya kau melakukan barter ya? Chakramu untuk keselamatan Rock Lee?" Sandaime yang baru selesai membaca laporan dari Naruto akhirnya berbicara, laporan yang di berikan oleh Naruto berisi mengenai penjelasan pendek mengenai alasan mengapa ia tiba-tiba bisa kehilangan setengah chakra miliknya hanya dalam jangka waktu satu detik "Walau aku tidak terlalu mengerti bagai mana kau bisa melakukan hal seperti itu..."

"Maaf kek, aku belum bisa menjelaskan secara detail..." Naruto menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal dan tersenyum canggung, karena ia memang belum bisa membicarakan dengan kakeknya mengenai kedua hantu dari mendiam anak Hagoromo Ootsuki yang membantu dirinya, mereka bilang waktunya belum tepat dan lagi pula Naruto juga belum bercerita kepada para pembawa ingatan dari masa depan mengenai hal ini, mereka belum tentu setuju Naruto menceritakannya kepada Sandaime.

"Tidak apa-apa, namun aku harus membuat alasan agar Kakashi dan Kitsune tidak kelabakan, mereka berdua sangat menghawatirkan dirimu" Naruto tersenyum dan wajahnya sedikit menghangat, senang mendengar mantan penjaganya begitu menyayangi dirinya namun apa yang Sandaime katakan ada benarnya, mereka harus membuat alasan agar Sandaime tidak akan di curigai.

"Ayo kita salahkan pedofil yang satu itu" Mata Naruto berkilat berbahaya dan senyumnya kini sudah mirip dengan senyuman milik Kurama, bahkan di ujung bibirnya bisa terlihat sebuah garis hitam seperti milik Kurama "Kita bisa membuatnya sebagai alasan dan menyalahkan segalanya kepada ular pedofil yang satu itu!"

Bulir keringat muncul di kening Sandaime, sepertinya Naruto sangat benci dengan mantan muridnya yang satu itu walau ia tidak menyalahkan Naruto, selain itu ide yang Naruto katakan cukup masuk akal dan bagus, mengapa tidak membuat kambing hitam saja?

"Ide yang... cukup cemerlang" Sadaime tidak bisa menahan perasaan seperti ia sedang berbicara dengan sang rubah dan bukanlah Naruto, atau memang benar yang di depannya ini adalah sang rubah ekor sembilan? Entah lah, munkin ia sedang berbicara dengan Naruto dan sang rubah berekor sembilan.

"Hehe, Kurama memang pintar membuat rencana seperti itu" Naruto tersenyum lebar, sebuah senyuman usil yang biasa ia kenakan bila ia baru saja selesai menjahili orang.

"Lalu... kau menolak ajakan gurumu untuk berlatih dengan Sasuke... mengapa?" Sandaime kini bertanya mengenai laporan dari Kakashi yang menyatakan bahwa Naruto menolak untuk ia latih dan katanya Naruto juga akan berlatih dan mencari guru sendiri, Sandaime jadi merasa iba dengan sang Hatake di saat ia melihat ekspresi yang di kenakan Kakashi di saat ia bercerita bahwa Naruto menolak tawarannya untuk berlatih bersama.

"Aku mau latihan dengan Ero-sennin!" Naruto tersenyum semakin lebar dan Sandaime bisa melihat matanya mulai berbinar-binar di saat ia memanggil salah satu muridnya dulu, sepertinya hubungan antara Naruto dengan muridnya yang satu itu sangat dekat, ngomong-ngomong ia memang mendengar kabar bahwa Jiraiya kini sudah kembali ke desa.

"Kau... dekat dengan Jiraiya?" Sandaime tidak bisa menahan nada suaranya yang terdengar terkejut bercampur senang, bagai mana tidak, bayangan mengenai Naruto yang dekat dengan guru dari ayahnya dan secara tidak langsung ayah angkatnya, walinya, membuat Sandaime rasanya ingin menangis bahagia.

"Uhn! Aku sayang Ero-sennin! Ia ayah angkatku!" Sandaime harus menahan tangis terharu, di saat Jiraiya yang sekarang saking menyesalnya tidak bisa melihat Naruto secara langsung dan bahkan tidak sanggup mengangkat Naruto sebagai anaknya karena rasa bersalah tidak bisa menyelamatkan ayahnya sehingga hanya memilih untuk membesarkan Naruto secara diam-diam.

Sandaime melirik dompet berbentuk katak milik Naruto yang isinya penuh, dompet tersebut adalah salah-satu hadiah dari Jiraiya dan bahkan uang yang Naruto terima juga setengahnya adalah pemberian Jiraiya "Aku... senang mendengarnya"

Naruto tersenyum hangat dan mengangguk, ia memang sangat menyayangi ayah angkatnya karena berkatnya ia pernah merasakan rasa kasih sayang dari seseorang yang bisa ia panggil ayah, berkatnya ia jadi bisa mempelajari jutsu buatan ayahnya, dan masih banyak lagi jadi tentu saja Naruto sangat menyayangi Jiraiya.

"Jadi untuk sekarang aku harus berpura-pura bertemu dengannya! Kakek bisa mengurusi sisanyakan?" Naruto melompat bangun dari tempat duduknya, merasa sangat senang dan tidak sabar untuk bertemu lagi dengan ayah angkat sekaligus gurunya, ia tersenyum lebar melihat Sandaime tersenyum dan mengangguk, kakeknya memang sangat bisa di andalkan! Naruto berharap suatu saat nanti ia bisa menjadi Hokage sebaik kakeknya "Kalau begitu aku pergi dulu!"

Naruto melompat keluar dari ruangan Hokage melalu jendela di belakang Sandaime setelah melepaskan segel yang mengunci ruangan tersebut agar tidak ada yang bisa menguping pembicaraannya dengan Sandaime, namun Naruto yang terlalu bersemangat sehingga tidak mendengar apa yang Sandaime katakan sebelum ia menghilang dari tempat ia tadi berdiri.

"Jiraya belum tahu kau berubah" Adalah apa yang Sandaime katakan namun Naruto tidak dengar.

Naruto melompat dari satu bangunan ke bangunan lain dengan cepat, ia sudah tahu tempat tujuannya; ia masih ingat betul pertama kali ia bertemu dengan ayah angkatnya dan lagi pula ia tahu betul sifat ayah angkatnya, pasti ia sedang melakukan 'pengamatan' untuk bukunya, dasar orang mesum.

"Ooh, jadi kau akan mulai latihan dengan petapa katak ya?" Naruto melirik sesosok kasat mata yang ada di sampingnya, berlari bersama dengan dirinya berdampingan, sosok tersebut adalah Ashura, anak termuda dari sang Sage of The Six Path.

"Katak... dari gunung Myoboku... ayah pernah bercerita mengenai tempat tersebut' Indra yang juga ada di sampingnya ikut berbicara, sang kakak dari Ashura yang terkenal dengan kekuatannya dan kepintarannya terlihat sedang berfikir dengan cukup keras "Bukan sebuah kebetulan kau yang mendapat hadiah begitu besar dari ayah dan kami-sama berlatih di tempat yang sama dengan ayah..."

"Hahah tentu saja" Naruto tertawa pelan, sebuah seringaian terlukis di wajahnya dan ia kelihatan sangat bangga akan sesuatu "Aku adalah salah satu anak dari ramalan"

Ashura dan Indra terlihat sedikit terkejut sebelum mereka saling berbagi pandangan sebelum mengangguk, mereka berdua terlihat seperti baru saja menemukan jawaban dari entah apa itu pertanyaan mereka, pertanyaannya? Mengapa mereka berdua bisa tiba-tiba di turunkan untuk menjadi pengawal Naruto, selain dari apa yang sang ayah katakan mengenai Naruto yang katanya sudah berkorban banyak untuk perdamaian dunia.

Tadinya Indra dan Ashura tidak mengerti namun mendengar bahwa tugas mereka ini adalah bayaran yang harus mereka bayar untuk mendapatkan pengampunan atas segala kesalahan yang mereka telah perbuat sebelumnya, mereka berdua tidak akan pernah bisa menolaknya, sudah terlalu banyak penyesalan yang mereka dapatkan selama mereka di alam baka sana.

Namun sekarang mereka mengerti mengapa sang ayah memilih Naruto sebagai orang yang mendapat proteksi dari mereka berdua, yang jelas-jelas adalah anaknya sendiri, darah dagingnya sendiri, sebuah hadiah yang menurut mereka... terlalu besar bila di berikan kepada seseorang, kalau saja salah orang yang menerima kekuatan seperti ini, maka dunia akan benar-benar bisa hancur; namun kini mereka berdua tahu, kekuatan mereka akan di gunakan untuk hal baik.

"Yak sampai" Mereka berdua akhirnya terbangun dari lamunan dan pikiran masing-masing dan berhenti di samping Naruto, mereka berdua langsung memeriksa sekeliling mereka dengan pandangan takjub bercampur penasaran.

"Air panas? Hmm, apakah kita akan mandi di pemandian air panas? Aku tidak keberatan, malah aku senang namun bukannya kita harus mencari sang petapa katak?" Ashura berjalan mendekat ke arah pintu masuk tempat pemandian air panas, matanya berbinar-binar dan penuh kebahagiaan "Andai kata ada tempat seperti ini dulu..."

Indra sedari tadi diam saja namun ia juga terlihat senang dan setuju dengan apa yang Ashura katakan sebelum matanya menangkan sesosok yang sedang berdiri di dekat pagar kayu yang Indra yakin adalah pembatas untuk masuk ke dalam tempat pemandian air panas dan ia berani bersumpah bahwa seseorang tersebut sedang mengintip.

"Orang mesum" Indra mendecak kesal dan mengalihkan perhatiannya ke arah Naruto untuk meminta Naruto menghentikan orang tersebut namun yang ia temukan adalah Naruto yang sedang mengelap air mata yang terus-terusan mengalir dari matanya dan sedang menahan dirinya agar tidak menangis tersedu-sedu.

"Naru? Kau tidak apa-apa?" Ashura langsung mendekat ke arah Naruto dan membelai kepalanya, seperti sedang mencoba menenangkan Naruto, di lihat dari ekspresinya, Ashura sama bingungnya dengan Indra; mereka tidak tahu apa penyebab Naruto menangis seperti itu.

"U-Uhm!" Naruto menghapus semua jejak bekas ia menangis sambil dan mengangguk sebelum pandangannya kini kembali ke arah sesosok yang sedang mengintip yang tadi sedang di lihat oleh Indra "Aku tidak bisa menahan diri... sudah lama sekali aku tidak bertemu dengan ayah angkat sekaligus guruku"

Indra dan Ashura berbagi pandang sebelum mengalihkan perhatiannya ke arah orang yang sedang Naruto tatap sebelum indra mengutarakan apa yang sedang ia pikirkan "Tukang intip itu sang petapa katak?"

Naruto tertawa pelan melihat ekspresi yang Indra dan Ashura kenakan di saat mereka menyadari bahwa orang yang sedang mereka tatap adalah orang yang akan mengajari Naruto dan orang yang belajar di gunung Myoboku seperti ayah mereka, Ashura menggeleng dengan cepat dan mulai mendumal mengenai ayahnya yang tidak ada mirip-miripnya dengan Jiraiya sedangkan Indra mengerutkan keningnya dan menatap jijik Jiraiya.

"Dia memang mesum namun aku menyayanginya... aku sudah lama sekali tidak bertemu dengannya karena ia... ia... ia..." Naruto terdiam, tiba-tiba saja matanya terasa kabur dan pikirannya menjadi kosong, seperti ada sesuatu yang hilang sehingga membuat Naruto memegang kepalanya "Ia... kenapa?"

Naruto tidak melihat Indra mengerutkan keningnya di saat ia melihat reaksi Naruto, lagi-lagi ia saling berbagi pandang dengan Ashura sebelum ia memutuskan untuk mengganti topik pembicaraan "Jadi bagaimana? Kau mau menghampirinya atau tidak? Nanti ia keburu kabur loh"

"Oh? Ah... iya!" Naruto langsung menggeleng dengan cepat untuk mencoba membangunkan dirinya dari lamunan, ia merasakan Kurama menepuk-nepuk kepalanya dengan lembut sehingga membuat Naruto tersenyum hangat, ia tidak tahu mengapa Kurama jadi terlihat lebih penyayang dari biasanya namun ia tidak keberatan, jarang-jarang Kurama memperlihatkan perasaan sebenarnya secara blak-blakan, jadi kesempatan seperti ini tidak munkin Naruto sia-siakan maka dari itu ia akan menikmatinya selama yang ia bisa.

Naruto berjalan secara perlahan-lahan ke arah Jiraiya yang masih sibuk mengintip tempat pemandian air panas bagian wanita, ia berhenti di saat ia merasa ia sudah cukup dekat dengan Jiraiya, ia melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menyeringai "Apa yang sedang kau lakukan tuan? Mengintip?"

Jiraiya menegang dan buru-buru menyimpan segala peralatan untuk mengintip miliknya sebelum membalik tubuhnya, ia tersenyum canggung dan menggaruk belakang kepalanya "Aah, maaf nona, sepertinya anda—"

Jiraiya terdiam melihat orang yang ada di depannya, matanya melotot dan seperti hampir lepas dari tempatnya, membuat Naruto menaikkan sebelah alisnya dan menatap bingung sang petapa katak sebelum saling lirik dengan Indra dan Ashura.

Sebenarnya reaksi dari Jiraiya adalah hal yang wajar, bagai mana tidak? Di depannya ia seperti melihat seorang gadis kecil berambut merah panjang yang dulu muridnya sukai, dan oh tuhan—mata dan warna rambutnya sama persis dengan muridnya yang merupakan mediam hokage keempat. Gadis kecil yang ada di depannya sudah seperti pencampuran antara muridnya dengan wanita yang ia sukai dan hanya ada satu alasan mengapa bisa gadis di depannya ini mirip kedua orang yang ia kenal dulu.

"Siapa namamu nak..." Jiraiya menegak ludahnya dengan susah payah, ia berdoa kepada Kami-sama, meminta bahwa dugaannya salah dan hal seabsurd ini tidak akan munkin terjadi, karena terakhir kali ia mengecek; anak dari mendiam muridnya adalah laki-laki, bukan perempuan!

"Uzumaki Naruto—ttebayo!" Sang gadis tersenyum lebar, mengingatkan Jiraiya dengan senyum yang di gunakan oleh muridnya dulu di campur dengan kalimat terakhirnnya...

Ttebayo...

Ttebane...

Tidak.

Tidak munkin!

"Nak, tidak baik mengambil nama orang lain..." Ia di hadiahi dengan sang gadis menaikkan sebelah alisnya dan menatap layaknya ia sudah gila "Naruto Uzumaki itu nama laki-laki"

Sang gadis diam sebentar seperti sedang memproses apa yang Jiraiya katakan, ia sedikit bingung mengapa gurunya tiba-tiba bertanya hal aneh seperti itu, ini bukannya reaksi yang ia bayangkan! Seharusnya Jiraiya malah memarahinya karena mengganggu dirinya sedang melakukan pengamatan untuk bukunya, bukan mempertanyakan namanya.

"Yang ia maksud adalah, mengapa kau yang seharusnya laki-laki tiba-tiba saja menjadi perempuan" Indra akhirnya mengutarakan pendapatnya setelah melihat Naruto memakan waktu terlalu lama untuk berfikir, ia tidak habis pikir melihat betapa miripnya Naruto dengan adiknya bila soal kepekaan; mereka berdua sama-sama kurang peka "Sepertinya kabar mengenai perubahan kelaminmu belum sampai ke telinganya"

Naruto berbisik 'oh' dengan pelan, ia mengepalkan tangannya dan menepukkannya di sebelah tangannya, ia baru ingat bahwa ia sekarang adalah perempuan, maka dari itu Jiraiya jadi kebingungan dan mempertanyakan namanya; karena setahu Jiraiya, Naruto Uzumaki, anak dari Minato Namikaze dan Kushina Uzumaki adalah laki-laki, bukan perempuan.

Indra menggeleng dengan pelan dan tangannya kini bertemu jidatnya di saat ia melihat Ashura juga baru mengerti, dasar, tidak hanya satu jiwa, mereka berdua juga satu sifat.

"Oh? Kau belum di beritakan ya? Aku memang laki-laki namun ada kejadian... yang di rahasiakan tentu saja oleh kake—Sandaime, tapi karena kau terlihat seperti ninja maka kau boleh tahu sedikit, namun sisanya rahasia" Naruto tidak berbohong kok, Sandaime sendiri yang bilang bahwa berita dirinya di culik adalah rahasia, mana munkin berita mengenai seorang Jinchuriki yang berhasil di culik dari desanya boleh di ketahui oleh banyak orang! Bisa-bisa mereka menganggap pertahanan Konoha sudah melemah dan akan menyerang, lebih parahnya lagi mereka akan memiliki keinginan untuk menculik sang Jinchuriki lagi.

Namun Naruto teringat sesuatu; dulu ibunya pernah di culik oleh ninja dari desa Kumogakure dan berhasil di selamatkan oleh ayahnya dan sekarang Naruto pernah di culik (secara tidak langsung) oleh kakak angkatnya, Bee, yang berasal dari Kumogakure, ironis ya? Sayangnya yang menyelamatkan Naruto bukanlah pasangannya seperti apa yang terjadi oleh ibunya dan lagi pula Naruto masih belum menerima seratus persen bahwa ia akan menjadi perempuan selama-lamanya.

Jiraiya mengernyit, ia menatap tajam Naruto sebentar seperti sedang mempertimbangkan apa yang Naruto katakan, kelihatannya ia curiga dan tidak mempercayai apa yang Naruto katakan namun Naruto tetap diam saja dan memasang ekspresi tenang miliknya, ia tidak berbohong, Jiraiya akan mengerti itu.

Tiba-tiba saja Naruto sudah di gendong layaknya ia adalah karung kentang dan di bawa pergi oleh Jiraiya entah ke mana, membuat Naruto memberontak dan memukul-mukul Jiraiya karena kaget bercampur kesal karena ia di gendong layaknya ia adalah karung beras "Hei! Apa-apaan kau! Lepaskan aku!"

"Naruto!" Ashura langsung melompat mengikuti Jiraiya yang langsung di ikuti oleh Indra yang ekspresinya sudah seperti ingin membunuh seseorang, untungnya ia kasat mata dan hanya bisa di lihat oleh Naruto, karena ia sudah mengeluarkan hawa membunuh yang bisa saja membuat orang mati di tempat bila melihat dan merasakannya.

Naruto memberontak namun Jiraiya tidak mempermasalahkannya sebelum Naruto menyadari ke mana Jiraiya akan membawanya; ku gedung Hokage.

Jiraiya langsung masuk ke dalam ruangan milik Hokage melalui jendela di mana Naruto keluar sebelumnya, ia langsung memasang segel agar tidak ada yang bisa mendengar pembicaraan mereka maupun menyadari keberadaan mereka.

"Oke, jelaskan kepadaku sekarang mengenai ini!" Jiraiya menurunkan Naruto lalu menggenggam kepalanya, membuat Naruto cemberut dan melipat kedua tangannya di depan dadanya, ia kesal tentu saja, sudah tiba-tiba di gendong seperti ia adalah karung beras, lalu sekarang ia di perlakukan seperti benda aneh; Naruto memang menyayangi ayah angkatnya namun ia tidak masalah menghajarnya nanti atas segala perlakuannya sekarang ini, lihat saja nanti.

"Tidak ada miripnya dengan ayah!" Naruto setuju dengan apa yang Ashura katakan, Indra juga setuju seratus persen dengan apa yang Ashura katakan, Hagoromo tidak munkin memperlakukan wanita seperti itu dan ia jelas memiliki karisma!

"Sudah aku duga jadinya akan seperti ini" Sandaime menghela nafas panjang dan meletakkan pena yang tadi ia genggam, ia menggeleng dengan pelan dan memutuskan untuk pergi minum setelah pekerjaannya selesai, ia butuh istirahat dari pekerjaan yang semakin menggunung dan tidak akan ada habisnya, ia bahkan ada keinginan secepatnya menyerahkan tahta Hokage kepada Naruto karena jujur, Naruto sudah memenuhi semua kategori untuk menjadi Hokage.

"Dasar tidak sopan! Kau dengan seenaknya menggendongku! Terlebih lagi seakan-akan aku adalah karung berisi kentang!" Naruto menghentak-hentakkan kaki dan mendesis keras, ia memberikan tatapan tajam kepada Jiraiya "Aku hanya memergokinya sedang mengintip kok!"

"Diam dulu bocah! Ini masalah penting!" Jiraiya menatap tajam gurunya dulu dan melipat kedua tangannya di depan dadanya seperti Naruto "Dan aku tidak mengintip! Aku sedang melakukan pengamatan untuk buku baruku!"

"Bah! Pasti buku porno!" Naruto mendecih dan membuang mukanya, ada ingatan yang kurang enak di mana ia dulu di paksa menjadi editor dari buku terkutuk yang selalu menjadi bahan bacaan gurunya yang sekarang, Naruto sampai sekarang masih tidak mengerti di mana letak bagusnya buku tersebut.

"Oh... jangan-jangan dia yang menulis buku yang kau buang kemarin? Beruntung aku tidak jadi membacanya" Indra mendecak kesal, ia memang merasa beruntung tidak membaca buku aneh itu dan sangat berterimakasih dengan Naruto yang telah menghentikannya membaca buku yang baru ia tahu adalah buku porno.

Ashura menganggap apa yang Indra katakan sebelumnya adalah sebuah lelucon dan sedang menutup mulutnya untuk menahan tawa dan menerima hadiah berupa jitakan dari kakaknya.

"Oke jangan berkelahi di sini, Jiraiya, aku yakin kau ingin mendengar cerita mengapa Naruto bisa berubah menjadi perempuan bukan?" Sandaime memijat keningnya, sepertinya memang benar Naruto sangat dekat dengan Jiraiya, sifat mereka mirip.


Jiraiya menatap penuh arti gadis yang ada di depannya, sang gadis yang sedang ia perhatikan kini sedang memakan buah semangka yang ia temukan entah di mana tanpa menghiraukan pandangan yang ia berikan.

"Naruto di culik oleh seorang ninja yang sampai sekarang masih tidak di ketahui asal-usulnya, termasuk identitasnya"

Adalah apa yang di katakan oleh sang Sandaime kepada dirinya, yang benar saja! ada seorang ninja yang sampai sekarang tidak di ketahui identitasnya berhasil memasuki Konoha tanpa terdeteksi dan bahkan berhasil menculik sang Jinchuriki dari apartemennya yang seharusnya di jaga oleh sekelompok ANBU dan baru di temukan tiga hari kemudian dalam keadaan telah berubah kelamin?

Jiraiya harus menahan dirinya sendiri untuk tidak menghajar para ANBU yang tidak mengerjakan tugasnya tersebut, namun dari ekspresi yang Sandaime kenakan di saat ia menanyakan tentang ANBU yang seharusnya mengerjakan tugasnya tersebut membuat darahnya mendidih, sepertinya ini bukan pertama kalinya para ANBU yang di tugaskan untuk menjaga Naruto tidak mengerjakan tugasnya dengan benar.

"Setelah penculikan tersebut Naruto berubah... tidak hanya kelaminnya. Kau harus lihat dan nilai sendiri..."

Jiraiya tahu bahwa korban yang pernah di culik tentu saja akan berubah namun perubahan yang biasa terjadi berbentuk trauma bukan berubah sifat menjadi dewasa, lebih kuat, dan hal-hal baik lainnya! Gadis yang ada di depannya kini sudah berubah seratus delapan puluh derajat dari laporan yang ia dapatkan!

Naruto seharusnya berisik, tidak bisa membaca situasi, tidak bisa diam, berantakan, dan keras kepala! Bukan gadis yang tenang, dengar omongan bila di beri perintah atau semacamnya, berpakaian rapih dan lengkap dengan segala peralatan ninja yang ia miliki, bisa berpikir dengan tenang, dan bisa berfikir rasional!

Jiraiya adalah master spy, ia bisa dengan mudah menemukan informasi serta sifat seseorang hanya dengan membaca bahasa tubuh dan kelakuannya sehari-hari, dan selama berberapa jam ia bersama dengan sang gadis yang sebenarnya adalah Naruto Uzumaki, ia menemukan begitu banyak informasi yang bertentangan sekali dengan informasi yang ia dapatkan dulu mengenai sang bocah yang telah berubah menjadi gadis sekarang.

Di saat ia mau berbicara berdua dengan Sandaime saja, Naruto hanya mengangguk dan dengan patuh mengikuti apa yang di minta oleh Sandaime tanpa membantah, ia menunggu dengan sabar di luar ruangan tanpa melakukan hal-hal aneh seperti mengerjai orang atau apalah itu; ia hanya duduk bersender di pintu masuk ke ruangan Hokage, seperti menjaga ruangan tersebut.

Setelah selesai berbicara dengan Sandaime, ia di kejutkan dengan permintaan langsung dari sang Hokage untuk melatih Naruto dengan alasan untuk mencari tahu perubahan apa saja yang terjadi kepada Naruto dan Sandaime juga mengatakan bahwa ada tanda-tanda Orochimaru mencoba mendekati Naruto dengan adanya laporan bahwa setengah chakra milik Naruto hilang secara tiba-tiba, siapa lagi yang bisa melakukan hal seperti itu selain Orochimaru?

Jadi hal pertama yang ia lakukan adalah mencoba menghabiskan waktu sebentar dengan Naruto, ia mencoba mencari informasi dari Naruto sebanyak-banyaknya mengenai waktu chakranya hilang secara tiba-tiba dan di saat ia di culik namun jawaban yang ia dapatkan tidak terlalu berbeda dengan apa yang Sandaime sudah ceritakan walau ia bisa melihat bahwa Naruto menyembunyikan sesuatu dan sangat berhati-hati, tidak seperti dirinya yang dulu yang sangat mudah di baca pikirannya, Naruto yang sekarang terlihat... sangat tertutup dan sulit di baca.

Merasa sedikit frustasi dan merasa harga dirinya sebagai spy master sedikit terlukai, Jiraiya menantang Naruto untuk mengejarnya dan menemukan dirinya di saat ia bersembunyi, hasilnya? Naruto dengan sangat mudah dan cepat menemukannya, seperti ia sudah tahu semua tempat persembunyiannya dan trik-triknya.

Setelah main kejar-kejaran (sang bocah satu itu menyebutnya sebagai kejar-kejaran! Tentu saja Jiraiya langsung menghadiahinya dengan jitakan manis di atas kepala sang gadis), Jiraiya memberikan tantangan kedua untuk mencari buah kembar yang besar (ya ya ya, terdengar mesum dan memang benda mesum yang ia mau) dan jawaban Naruto? Membawakan dirinya dua buah semangka yang bentuknya sama persis dan besar, sang gadis bahkan tersenyum usil! Jiraiya yakin sebenarnya Naruto mengetahui apa maksud keinginannya namun memutuskan untuk mengerjainya!

Gadis yang licik!

"Jadi... kita akan latihan apa?" Sang gadis yang sudah menghabiskan satu buah semangka sendirian tersenyum lebar dan menatap penuh harap dirinya, kakinya bergerak maju mundur terus menerus karena tidak bisa diam. Ini hanya perasaanya atau buah semangka yang mereka berdua makan berkurang dengan lebih cepat? Serasa yang memakannya bukan hanya mereka berdua tapi yasudah lah, bukan hal penting sekarang.

"Ck, yang aku minta bukan buah semangka bocah! Yang aku minta adalah wanita! Wanita yang seksi dan bohay!" Jiraiya menggeretakkan giginya melihat sang gadis kecil tertawa, tuhkan benar, Naruto tahu sebenarnya apa yang ia inginkan namun memutuskan untuk mengerjai dirinya!

"Dasar mesum" Naruto tertawa sebelum ia bangun dari posisinya dan merenggangkan tubuhnya "Jadi? Mau wanita yang seperti itu? Hah, terlalu mudah!"

Naruto membentuk hand seal dan tiba-tiba saja muncul suara 'pof' bersamaan dengan dirinya yang kini di tutupi oleh asap tebal, menutupi wujudnya dari pandangan Jiraiya, Ashura, dan Indra.

"Oh? Aku belum pernah melihat hand seal seperti itu! Jutsu apa itu?" Ashura terlihat sangat tertarik dengan apa yang Naruto lakukan dan tidak sabar menunggu asap yang menutupi Naruto menghilang, sedangkan Indra mengernyit, ia ada perasaan tidak enak entah mengapa.

Asap yang menutupi Naruto menghilang dan menggantikan Naruto, seorang gadis dewasa berambut kuning panjang yang di ikat dua tanpa busana berdiri di tempat Naruto berdiri sebelumnya sambil berpose "Kakak tampan~ main sama aku yuk!"

Ashura langsung menutupi wajahnya yang sudah mirip kepiting rebus dengan kedua tangannya dan membalik tubuhnya.

Indra melayangkan tangannya ke wajahnya dan menggeleng, benarkan ia punya perasaan tidak enak.

Jiraiya langsung berbinar-binar, tangannya seperti mencoba meraih sesosok wanita yang ada di depannya.

"Kau LULUS!" Jiraiya langsung mengeluarkan dua buah papan yang bertuliskan angka sepuluh.

Ashura kabur dan kini sudah menghilang dari tempatnya berdiri sebelumnya.

Perempatan muncul di kening Indra, tangannya sudah mengepal ingin memukul sesuatu dan matanya kini sudah berubah menjadi sharingan.

Naruto tertawa terbahak-bahak.

Kurama hanya menonton kejadian di depannya dengan seringaian terlukis di wajahnya.


To Be Continue


Omake

Naruto Learning To Be A Good Wife (Teacher: Jiraiya)

"Jadi, hal pertama yang harus kau lakukan adalah mulailah berpakaian lebih—"

"SUDAH BERAPA KALI AKU KATAKAN HAH?! JIWAKU MASIH LAKI-LAKI!" Naruto menghentak-hentakkan kakinya, ia sudah geram dan kesal berkali-kali begitu banyak temannya yang melupakan bahwa ia dulunya adalah seorang laki-laki sehat dan masih dalam masa puber yang di ubah tanpa persetujuannya menjadi perempuan! Dan sekarang ayah angkatnyapun memperlakukannya seperti teman-temannya juga.

Jiraiya menghela nafas pendek sebelum menepuk pundak Naruto lalu menggeleng dengan pelan "Aku tidak menyuruhmu untuk menjadi wanita sungguhan! Maksudku gunakan kesempatan yang kau miliki!"

Naruto mengerutkan keningnya dan menatap tajam Jiraiya, ia tahu bahwa gurunya yang satu ini sangat mesum jadi ia ada perasaan campur aduk di saat sang guru mengatakan 'kesempatan' karena pastinya itu akan berakhir menjadi hal-hal yang berbau mesum!

"Kau... tidak menyuruhku menjual—"

"Oh ya ampun! Tentu saja tidak!" Jiraiya menjitak kepala Naruto, ia tahu bahwa dirinya adalah orang mesum namun ia tahu batasan! Gadis yang ada di depannya adalah anak dari mendiam muridnya dan dia adalah walinya, mana munkin ia menyuruh Naruto melakukan hal-hal serendah itu "Yang aku maksud adalah kau harus mulai memikirkan penampilanmu!"

Naruto cemberut, ia sudah di nasehati mengenai hal yang sama oleh Sandaime dan sekarang Jiraiya mau ikut-ikutan?

"Coba lihat dirimu!" Jiraiya meraih kaus yang Naruto kenakan dan menggosoknya di antara jarinya sebelum ia mengerutkan keningnya "Lihat kaus yang kau kenakan! Bila saja basah pasti langsung transparan!"

Selanjutnya Jiraiya menarik jaket yang Naruto kenakan hingga lepas dari tubuh Naruto "Dan lihat jaket ini! Bahannya sangat tipis!"

Naruto cemberut, ia tidak suka pakaiannya di main-mainkan oleh seseorang terlebih lagi di lepas secara paksa "Hei! Pakaian itu bagus-bagus saja ya! Aku jadi mudah bergerak karenanya!"

Jiraiya menggeleng dan mencubit pipi Naruto "Oh? Kau mau melihat konsekuensi dari pakaian yang kau kenakan ini? Biar aku buktikan!"

Jiraiya langsung menyeret Naruto dari kerah pakaiannya setelah memaksa Naruto kembali mengenakan jaketnya, ia tidak memperdulikan suara protes dari Naruto yang memberontak dan mencoba kabur darinya hingga ia sampai di tempat tujuannya, sungai Naka.

Jiraiya langsung melempar Naruto masuk ke dalam sungai tersebut sebelum menatap geli Naruto yang muncul dari sungai tersebut dan menatap benci bercampur keinginan untuk membunuh dirinya.

"APA YANG KAU LAKUKAN!" Naruto berenang ke tepian dan langsung menendang pinggang Jiraiya yang tentu saja Jiraiya berhasil blokir, ia hanya menyeringai dan terus-menerus menatap calon murid barunya "AKU JADI BASAH KUYUP!"

Jiraiya hanya tertawa sebelum kembali menyeret Naruto untuk pergi entah ke mana, lagi-lagi ia tidak menghiraukan protes dari Naruto atau Naruto yang membrontak, minta di lepaskan. Selain itu juga ia tidak merasakan aura membunuh yang di keluarkan oleh salah satu 'pengawal' milik Naruto.

"Dobe?"

"Naruto?"

Naruto akhirnya berhenti memberontak di saat ia mendengar suara kedua rekan satu timnya, ia langsung menoleh ke arah asal suara dan mendapatkan kedua rekan satu kelompoknya tengah berjalan bersama, Sakura terlihat membawa dua buah bekal yang kemunkinan besar adalah buatannya sendiri.

"Teme, Sakura" Naruto melambai ke arah keduanya, kalau di lihat dari pakaian yang di kenakan oleh Sasuke, ia terlihat baru saja selesai latihan bersama Kakashi karena pakaiannya kini sudah kotor dan bahkan sobek-sobek, namun Naruto tidak melihat sang guru di manapun dan malah Sakura yang ada bersama Sasuke.

"Oh? Teman satu kelompokmu? Bagus, jadi menurut kalian bagai Naruto sekarang!" Jiraiya melepaskan Naruto namun kini ia memposisikan Naruto di depannya dan kini menepuk pundak Naruto dengan kedua tangannya.

"Apa-apaan sih Ero-sennin!" Naruto melirik tajam Jiraiya dan mencoba memberontak, namun alih-alih bisa lepas dari sang calon gurunya, jaketnya malah hampir terlepas lagi, ia tidak menyadari ekspresi kedua teman satu kelompoknya.

Sasuke pelan-pelan wajahnya sudah mau menyamai makanan kesukaanya, matanya melotot dan mulutnya sedikit terbuka.

Sakura menatap horor Naruto dan menjatuhkan bekal yang tadi ia bawa, untung saja bekalnya tidak tumpah karena satu bentonya masih belum di sentuh sama sekali dan masih penuh berisi makanan karena belum sempat ia berikan kepada seseorang.

Seseorang yang akan menerima bekal buatannya adalah sang gadis yang ada di depannya, sang gadis yang rambutnya basah dan menjadi lepek hingga poninya dan rambutnya yang ada di sekitar wajahnya menempel di pipi dan keningnya, pakaiannya yang basah melekat di tubuhnya yang sudah mulai terbentuk dan menjadi transparan, terlebih lagi kini jaketnya yang hampir lepas memperlihatkan lengannya dan bagian yang seharusnya di tutupi.

Hening.

POF.

Sasuke hilang dari tempatnya tadi berdiri, hanya meninggalkan berberapa tetes bercak darah di tanah, entah dari lukanya di saat ia latihan dengan Kakasih atau apa.

"Wah! Teme bisa shunshin akhirnya!" Naruto menepuk tangannya dan menatap takjub sahabatnya yang sudah kabur, tidak menyadari mengapa sahabatnya itu mendadak bisa menggunakan jutsu yang di ajarkan oleh Kakashi tiba-tiba ataupun mengapa ia kabur.

Jiraiya menyeringai melihat reaksi sang bocah Uchiha, ia sudah mengeluarkan buku notesnya dan mulai menulis ide cerita yang baru saja ia dapatkan.

"LAKI-LAKI MESUM! APA YANG KAU LAKUKAN TERHADAP TEMAN SATU KELOMPOKKU!" Jiraiya langsung mendapat bogem mentah dari Sakura yang setelah puas menghajar sang petapa katak yang mesum langsung menyeret Naruto pergi.

"Kau! Pakaianmu basah! Ayo ganti baju!" Sakura langsung menyeret Naruto dengan paksa, tidak memperdulikan Naruto yang menatap bingung dirinya dan tidak mengerti mengapa Jiraiya tiba-tiba saja mendapatkan hadiah bogem mentah dari Sakura.

"Aduh... tinjunya mirip Tsunade..." Jiraiya mengelus-elus dagunya yang baru saja di hajar oleh Sakura, gadis berambut pink itu mengingatkan dirinya dengan teman satu kelompoknya, seorang gadis yang telah menyita hatinya dulu namun cintanya tidak terbalaskan.

"Akukan hanya ingin memperlihatkan bahwa pakaian yang ia gunakan terlalu tipis dan harus di ganti kalau tidak mau ada kejadian seperti ini atau ada penonton liar" Jiraiya menggeleng pelan dan berjalan mengikuti sang gadis berambut pink yang sedang menarik tangan Naruto untuk mengganti bajunya setelah mengambil kotak bento yang di tinggalkan oleh sang gadis berambut pink.

Jiraiya melirik ke belakangnya dan menyeringai, sepertinya muridnya yang satu ini sudah menarik perhatian berberapa laki-laki seumurannya bahkan tanpa sang gadis sendiri sadari, ia hanya berpura-pura tidak tahu dan kembali mengeluarkan buku notes dan pensilnya.

Cinta segitiga, bukankah ide cemerlang untuk buku terbarunya?

Lagi-lagi Jiraiya tidak menyadari bahwa di belakangnya, ada seorang hantu Uchiha yang sudah mengeluarkan susan'o untuk membunuhnya dan kini sedang di hentikan oleh adiknya.

Kakashi yang menonton dari jauh kejadian di atas menepuk keningnya dan menggeleng dengan cepat 'Akhirnya Sasuke bisa menggunakan shunshin hanya saja karena hal seperti ini... anak muridku berbakat untuk hal-hal yang tidak benar...'

Jauh di sebuah gua yang pengap dan gelap, seorang wanita cantik berambut biru dengan hiasan rambut origami bunga mawar bertanya kepada lelaki yang ada di sebelahnya "Ada apa Nagato?"

"...Aku... entah mengapa ingin menghajar Jiraiya-sensei..." Adalah jawaban sahabatnya, membuat dirinya berfikir untuk secepatnya membawa sahabatnya yang satu ini ke dokter jiwa kalau bisa.

Berberapa menit kemudian, di sebuah hotel tidak terlalu jauh dari tempat kejadian di mana Sasuke kabur dari Naruto, seorang gadis tengah masuk ke dalam salah satu ruangan hotel tersebut.

"Gaara pergi ke mana?" Seorang gadis berambut pirang pucat yang sedang membawa kipas berukuran jumbo bertanya kepada temannya yang sedang mengeluarkan sebuah boneka berukuran sama dengannya.

"Tadi ia pergi keluar sebentar untuk menjernihkan pikirannya lalu kembali lagi, sekarang ia mengunci diri di kamarnya, entah apa yang terjadi di saat ia sedang jalan-jalan namun aku berani bersumpah, walau wajahnya datar seperti biasa wajahnya sudah menyamai warna rambutnya" Sang laki-laki yang berambut coklat terlihat tidak terlalu perduli dengan apa yang terjadi dengan rekan satu kelompoknya dan lebih memilih menyibukkan dirinya dengan membetulkan bonekanya.

"Perasaanmu saja kali" sang gadis mengangkat bahunya dengan cuek dan meninggalkan sang laki-laki sendirian di kamarnya.

Pelajaran yang di berikan: Berpakaianlah yang baik, agar kelak hanya pasanganmu yang bisa melihat keindahan dari tubuhmu (by. Jiraiya)

Status: GAGAL TOTAL
(Sang gadis tidak peka)


!Review Reply!

reygatcgplayer: Iya, karena pada dasarnya chakra itu seperti tenaga kita jadi tentu saja bisa beregenerasi, hanya saja Naruto memiliki stok chakra yang sangat besar (seperti yang pernah Kakashi katakan di saat ia sedang melatih Naruto bersama dengan Yamato) jadi setengah chakra Naruto bisa saja sama dengan satu chakra full milik Kakashi ataupun Yamato, namun dengan bantuan Kurama, regenerasi chakra milik Naruto lebih cepat dari orang biasa. Bisa di bilang salah satu keuntungan menjadi Jinchuriki.

Silent Reader-san: Anda memiliki keinginan untuk menulis cerita, bagai mana kalau anda membuat cerita sendiri? Namun anda harus mulai mempelajari bagai mana caranya membuat sebuah karakter tidak OOC (Out Of Character) dan belajar untuk menulis dengan benar, seperti penempatan tanda petik dan koma, termasuk deskripsi (yang sampai sekarang sayapun masih mencoba belajar dari banyak cerita lain ataupun kamus bahasa indonesia).

Madara's Queen: Tapi Shisuinya sudah mati jadi kayaknya Sasuke tidak bisa ngapa-ngapain. Dua kakak beradik itu sepertinya masih mau nempel dengan Naruto jadi sepertinya mereka masih betah mengganggu kehidupan Naruto. Silakan cek profile saya, saya sudah meletakkan linknya.

uzumaki megami: Mau bagai mana lagi, Naruto secara tidak langsung tertarik dengan laki-laki yang mirip dengan ayahnya. Hmm, entahlah, mengiklaskan sesuatu tidak semudah yang di kira, munkin ya munkin tidak.

naginagi: Memang sudah kodratnya Naruto hidupnya tidak akan pernah bisa tenang. Entahlah berterimakasih atau tidak, ia terlalu sibuk cemburu untuk memperhatikan hal-hal seperti itu.

rheafica: sebenarnya saya tidak pernah mengatakn secara langsung bahwa ia mirip dengan Hokage ke empat, hanya saja ada sesuatu yang membuat teman-teman Naruto mengatakan bahwa ia mengingatkan mereka dengan sang Hokage ke empat, hint sudah bertebaran di mana-mana mengenai siapa sebenarnya sang ANBU yang dekat dengan Naruto.

Jasmine DaisynoYuki: Iya, sharingan punya Indra jauh lebih kuat dari pada punya Madara maupun Obito ataupun keduanya di gabung jadi satu, jadi gampang-gampang saja menggunakan genjutsu sekalipun orang itu Jinchuriki. Namanya juga the first Uchiha dan darah daging dari sang Sage of the Six Path.

Elzana: Kemunkinan besar opsi yang kedua, ia terlalu sibuk mempermasalahkan ia di kalahkan oleh sahabat kakaknya, sudah kalah sama kakaknya sekarang kalah sama sahabat kakaknya, hahahah.

Snowflower's: Karena saya kurang mahir membuat sad atau bad ending jadi kemunkinan besar good ending.

Fumetsu Vara: Dari hint yang saya berikan munkin kah? Harapan anda saya kabulkan! Silakan menunggu hint-hintnya~! Tapi pertama dulu... anda tahu siapa ANBU tersebut? Dan tidak akan menyesal setelah mengetahui siapa ANBU tersebut nanti?

nina: Tidak perlu memiliki blog untuk melihat blog milik saya kok, saya hanya ingin anda semua bisa membaca chapter To The Past yang lama yang waktu dulu para pembaca tunggu-tunggu dan munkin gambar untuk cerita milik saya. Silakan cek Author Notes di atas, yang dapat ending bukan hanya Sasuke kok, semua yang di tulis di atas dapat ending tersendiri semua.

kyunauzunami: Terimakasih banyak atas pujiannya, saya tersanjung membacanya. Open ending kok, pairing yang akan mendapat ending bisa di lihat di Author Notes di atas. Munkin? Menurut anda dari hint yang saya berikan?

primara: Siapa ya? Kalau di lihat dari hint yang saya berikan bagaimana? sebenarnya walau sudah lama tidak menonton animenya juga tidak apa-apa kok, sebenarnya harusnya mudah di ketahui karena semua ANBU memiliki topeng yang berbeda...

Terimakasih sudah mau membaca hingga selesai, ujian tahap ketiga kini sudah selesai tinggal yang tahap terakhir namun sebelumnya waktunya Naruto latihan dengan Jiraiya! Saya cukup senang dan tidak sabar untuk bisa menulis bagian tersebut dan sepertinya peran Kurama sedikit berkurang di chapter ini dan sebelumnya... namun sepertinya perannya akan kembali banyak lagi di chapter selanjutnya.

Untuk chapter selanjutnya sepertinya akan memakan waktu sedikit lama mengingat saya lagi banyak proyek untuk cerita yang lainnya dan juga proyek cerita baru... hmm... sedikit menyulitkan namun saya harap para pembaca sekalian bisa bersabar.

Review Please