Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto

Warning: Mengandung Gender Bender, Semi-Au, Time Travel, Miss Typoo, dll


!Author Notes!

Halo para pembaca yang terhormat...

Oke saya tidak punya alasan yang baik mengenai mengapa saya tidak Up-date dengan cepat maupun Up-date kali ini lama sekali karena... jujur saya keasyikan main game... no regret.

Oh, dan saya sedikit terkena Writer Block...

Untuk Pairing yang akan mendapatkan ending masih: Kakashi, Gaara, Itachi, Kurama, dan Sasuke.

Oh, ada yang sudah menonton episode baru dari Naruto? Di mana Kakashi (akhirnya) memperlihatkan wajahnya seutuhnya? Saya teriak keras banget melihatnya... tuhan... tampannya sang guru satu itu... hahahahaha.

Sekian Author Notes (yang isinya makin tidak jelas) kali ini, selamat menikmati chapter baru dari To The Past.


"Kau tahu kalau aku bisa berteriak dan membuat para wanita yang sedang mandi itu menyadari keberadaanmu bukan?" Naruto melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menatap setengah kesal setengah dengan penuh kasih sayang Jiraiya; ia senang bisa berlatih dengan gurunya lagi namun dalam waktu yang bersamaan ia kurang senang untuk menunggu sang petapa katak selesai mengintip tempat mandi wanita, ia jadi mengingat dirinya sendiri dulu; ia memang pernah mencoba mengintip Sakura dan Temari mandi di pemandian air panas namun sekarang ia sudah berubah menjadi perempuan dan entah mengapa ia mulai mempertanyakan dirinya sendiri di masa lalu; mengapa ia suka mengintip perempuan sedang mandi?

'Bahaya, bahaya! Aku mulai tidak tertarik dengan perempuan' Naruto memijat keningnya, ia mulai menyadari kejanggalan di dalam dirinya dan yang paling parah adalah ia mulai menyadari bahwa ia mulai tidak tertarik dengan perempuan dan itu membuatnya pusing, ia tidak bisa mengelak dari kenyataan bahwa dirinya mulai berubah 'Perubahan hormon sialan...'

Kurama hanya mendengus, ia memang menganggap apa yang tengah Naruto rasakan adalah hal yang lucu namun ia tidak akan menertawakannya secara terang-terangan karena ialah penyebab mengapa Naruto menjadi seperti itu, ia tidak mau di nasehati Naruto panjang lebar lagi dan lagi pula ia yakin Naruto pelan-pelan akan beradaptasi.

"Hei hei! Aku sedang melakukan pengamatan untuk bukuku!" Jiraiya mendesis dengan pelan dan memberikan gestur agar Naruto tidak berbicara dengan keras, membuat Naruto mendecih dan membuang mukanya.

Naruto sebenarnya bisa saja membujuk sang guru dengan menggunakan Orioke no Jutsunya namun...

Naruto melirik ke sampingnya dan merinding di saat ia melihat Indra memberikannya tatapan tajam menggunakan sharingan miliknya—eh bukan, mangekyo sharingan!

Sang anak tertua dari Hagoromo yang satu itu sangat tidak suka melihat Naruto menggunakan jutsu miliknya yang sering ia gunakan untuk membujuk Jiraiya agar ia mau mengajarinya atau memenuhi keinginannya, ia memarahi habis-habisan Naruto di saat ia menggunakannya sebelumnya dan sekarang ia akan memberikan tatapan tajam menggunakan sharingan setiap kali ia mendeteksi Naruto ingin menggunakan jutsu tersebut.

Naruto tidak ada pilihan lain selain menahan diri terlebih dahulu dan membujuk Jiraiya dengan cara lain hingga Indra pergi entah ke mana, Naruto lebih memilih berduaan saja dengan Ashura ketimbang Indra, bukannya apa-apa hanya saja Indra terlalu... apa ya... bisa di bilang terlalu overprotektif terhadap dirinya entah mengapa; Naruto memiliki spekulasi bahwa Indra menganggap dirinya sebagai adik keduanya.

'Apakah ini rasanya memiliki kakak seorang Uchiha? Seram juga... kalau di ingat-ingat Itachi juga terlalu overprotektif dengan Sasuke...' Naruto menghela nafas panjang sebelum ia memutuskan bahwa sudah cukup Jiraiya mengintipnya, jadi Naruto langsung menggenggam kerah pakaian Jiraiya dan menyeretnya menjauh dari tempat mengintipnya "Oke! Cukup! Aku sudah bosan, kita latihan sekarang"

"Hei hei hei! Aku sedang di bagian yang seru!" Jiraiya memberontak dan mencoba meraih tempat ia mengintip sebelum ia menyadari bahwa Naruto yang notabe adalah seorang gadis berumur dua belas tahun dan tubuhnya 3 kali lebih kecil darinya menyeret dirinya hanya menggunakan satu tangan dan tanpa merasa kesulitan sama sekali, tidak menghitung barang-barang yang Jiraiya bawa, berat badan Jiraiya sendiri sudah termasuk berat dan Naruto dengan mudahnya menyeretnya.

"Oke! Lepaskan aku! Kita latihan sekarang!" Jiraiya bangun dari posisinya yang tadi di seret oleh Naruto, ia jadi di ingatkan kembali dengan perubahan tidak wajar milik Naruto dan membuat dirinya serius kembali, untuk sementara ia akan melatih Naruto sambil mencari tahu mengenai rahasia yang menyelimuti murid barunya, lagi pula kalau ia butuh ide ia bisa membuat Naruto menjadi modelnya dengan jurusnya yang ia perlihatkan sebelumnya.

"Sekarang untuk hari ini, bagai mana kalau kau latihan berjalan di atas air? Kau sudah bisa berjalan memanjat pohon bukan? berjalan di atas air lebih sulit, terlebih lagi di atas air yang mengalir" Jiraiya mempraktekkan apa yang baru saja ia katakan; ia berjalan lalu berdiri di atas aliran sungai panas di dekat pemandian air panas dan melipat kedua tangannya di depan dadanya "Ayo coba"

Naruto harus menahan senyum nostalgia yang mencoba terlukis di bibirnya, ia mengingat masa lalunya di saat ia pertama kali latihan berjalan di atas air bersama Ebisu lalu dengan Jiraiya, ia menahan tangannya agar tidak bergerak untuk menyentuh perutnya, karena ia tahu bahwa penyebab ia tidak bisa berjalan di atas air—maupun menggunakan jutsu dengan baik adalah karena segel yang di buat oleh ayahnya dan Kurama.

"Hmm..." Naruto berjalan dengan perlahan-perlahan ke sungai berisi air panas di depannya dan dengan hati-hati melangkah ke sungai tersebut, ia berpura-pura sempoyongan dan hampir jatuh, seperti mencoba membuktikan bahwa ia masih baru dan amatiran "Agak sulit..."

Naruto terus berjalan hingga ia berada di depan Jiraiya, ia berpegangan dengan Jiraiya seperti takut jatuh sebelum ia berpura-pura hampir jatuh dan melompat keluar dari sungai "Panas!"

"Hmm..." Jiraiya diam sebentar dan menatap lekat-lekat Naruto, ia sedikit terkejut melihat Naruto setidaknya bisa berdiri di atas air sungai walau sempoyongan dan butuh bantuan, namun pada waktu yang bersamaan ia berfikir bahwa Naruto memiliki potensial yang sangat tinggi bila mengenai soal jutsu, dengan kapasitas chakra miliknya yang sangat besar tanpa menghitung chakra milik sang rubah berekor sembilan, Naruto bisa dengan mudah menguasai banyak jutsu dengan tingkat atas dan bahkan menggunakannya secara terus-menerus tanpa merasa kelelahan.

'Jutsu tingkat atas ya... hmm... oh, munkin sudah saatnya aku mengenalkan dirinya dengan Bunta' Jiraiya berjalan keluar dari sungai tersebut sebelum menyeret Naruto pergi dari tempat pemandian air panas untuk pergi ke tempat mereka akan berlatih; mana munkin mereka akan latihan di sini karena ia yakin malah akan membuat keributan "Kita akan latihan di sungai di dekat hutan Konoha, aku akan mengajarkan sebuah jutsu yg lebih sulit, kau bisa latihan jalan di air juga setelahnya"

Jiraiya berfikir untuk menguras chakra milik Naruto lalu melihat apakah di saat Naruto memiliki lebih sedikit chakra maka ia akan bisa berjalan di atas sungai dengan lebih baik, pengaturan chakra sangatlah penting dan ia akan mencoba mengajarkan Naruto bagai mana cara mengendalikannya dengan baik agar nanti kelak Naruto bisa mengendalikan chakra milik sang rubah berekor sembilan dengan lebih cepat.

Sesampainya di tempat mereka akan berlatih, Jiraiya memiliki ide lain untuk latihan; bagai mana kalau Naruto menguras chakra miliknya dan langsung mencoba menggunakan chakra milik sang rubah berekor sembilan? Bisa menjadi latihan yang baik dan lagi pula chakra yang akan ia gunakan tidak terlalu banyak sehingga sang rubah berekor sembilan tidak bisa mengambil kesadaran Naruto dan kalau memang ia berhasil; ia ada di sampingnya untuk menghentikan Naruto.

"Baiklah, aku akan mengajarimu tentang Kuchiyose hari ini" Jiraiya menaikkan sebelah alisnya melihat ekspresi bahagia bercampur antusias Naruto "Oh? Kau sudah pernah melihatnya?"

"Ya! Kakashi-sensei pernah memanggil ninken miliknya di saat pertarungan dengan Zabuza! Apakah aku akan mendapatkan juga?" Naruto mengangguk dengan sangat cepat, ia sebenarnya hanya tidak sabar untuk bertemu kembali dengan katak yang akan menjadi partnernya, Gamakichi. Sekarang Gamakichi tentu saja akan kembali mengecil, di mana ia masih bisa membawa sang katak ke mana-mana dengan hanya di gendong atau bersembunyi di balik jaketnya, kalau dulu Gamakichi sudah sebesar Gamabunta.

"Hmm... untuk menggunakan Kuchiyose, kau harus menggunakan chakra merah yang kau ceritakan di perjalanan tadi, karena itu aku ingin kau menggunakan chakramu yang asli hingga habis" Jiraiya melipat kedua tangannya dan menatap lekat-lekat Naruto, ia ada perasaan bahwa chakra normal milik Naruto lebih besar dari yang bisa ia lihat sekarang namun bukannya itu mustahil? Naruto masih berumur dua belas tahun.

Naruto diam sebentar, ia sedang berfikir bagai mana cara ia menguras chakra utamanya karena sejujurnya, kapasitas chakra miliknya setiap hari selalu bertambah berkat chakra milik Kurama; ia tidak akan kelelahan hanya karena menggunakan Taju Kagebunshin seperti dulu, kapasitas chakra miliknya sudah terlalu besar dan sudah hampir setingkat dengan Jounin sekarang, hanya saja ia menyembunyikannya dengan cara memberikan chakranya kepada Kurama setiap hari. Naruto harus mencari jalan lain untuk menguras chakranya dengan cukup drastis namun tidak secara tiba-tiba karena Jiraiya akan mencurigainya.

'Mengapa kau tidak menyuruh Ashura mengambil chakramu namun perlahan-lahan sambil kau menggunakan Kagebunshin?' Kurama yang menyadari wadahnya kebingungan mencoba memberikan ide namun ia teringat sesuatu sehingga ia menghela nafas panjang 'Ia belum kembali? Lama sekali...'

'Aku tidak bisa mengirim Indra, kau tahu bukan Indra sifatnya seperti apa?' Naruto menepuk kaki Kurama, ada alasan mengapa ia mengirim Ashura untuk menjalankan 'misi' darinya, karena ia tahu sifat Indra dari mimpinya dimana Hagoromo bercerita mengapa ia memilih Ashura sebagai penerusnya dan bukan Indra 'Untuk sementara waktu kita tidak ada pilihan lain untuk mencoba mengelak...'

"Mengapa aku harus menggunakan chakra merah itu? Aku tidak mau... terakhir kali aku menggunakannya; aku hampir membunuh seseorang" Naruto mengerutkan keningnya dan menggeleng, seperti memberi tahu Jiraiya bahwa ia tidak menyukai ide dari Jiraiya "Bukankah aku juga cerita bahwa kapasitas chakraku sangat banyak? Kenapa aku harus membuang-buangnya..."

"Apa yang kau katakan ada benarnya namun aku tak yakin kalau kau akan bisa menggunakannya dengan chakra aslimu..." Jiraiya mendeteksi bahwa Naruto memang tidak suka dengan kejadian di mana ia hampir membunuh seseorang, ia sudah mendengar ceritanya dari Sandaime mengenai misi Naruto yang seharusnya tingkat C berubah menjadi tingkat B; di laporan yang di buat oleh sang guru pembimbing, Kakashi Hatake, memang tertulis bahwa Naruto menggunakan chakra milik sang rubah berekor sembilan dan hampir membunuh seseorang.

"Tapi kalau kau bersi keras, silakan saja coba" Jiraiya memanggil seekor katak yang sebenarnya adalah gulungan untuk memasang kontrak agar bisa memanggil katak dari gunung Myoboku, namun ia menaikkan sebelah alisnya di saat ia melihat sang katak menatap lekat-lekat Naruto.

"Oh! Keren!" Naruto tersenyum lebar dan berjalan mendekati sang katak dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan sang katak "Namaku Naruto Uzumaki! Senang berkenalan denganmu-ttebayo!"

Jiraiya menatap Naruto dengan geli, seperti ia menganggap lucu apa yang Naruto lakukan, biasanya orang malah kebingungan bila mereka di bilang akan memasang kontrak dengan seekor katak karena sejujurnya, mana ada orang yang takut dengan katak? Anjing dan ular terdengar lebih keren namun Naruto terlihat senang akan mendapatkan katak sebagai partnernya.

"Aku suka katak!" Seperti mendeteksi reaksi Jiraiya, Naruto tersenyum lebar dan menjabat tangan sang katak, ia tidak bohong, ia sangat suka katak; dulu di saat ia kesepian dan tidak punya teman, ia selalu bermain dengan katak yang biasa ia temui, ia punya banyak teman—hanya saja semuanya katak dulu.

"Kalau begitu kau pasti senang, kau akan menandatangani kontrak untuk memanggil katak" Jiraiya menyeringai melihat Naruto menatapnya dengan mata berbinar-binar dan senyuman yang sangat lebar "Sekarang tulis namamu dengan menggunakan darahmu"

Berberapa menit setelah Naruto selesai menandatangani kontrak yang di berikan kepadanya, kini waktunya mencoba memanggil salah satu katak yang akan menjadi partnernya, Jiraiya berharap Naruto bisa memanggil Gamabunta namun Naruto punya keinginann sendiri.

"Kuchiyose no Jutsu" Naruto menggigit jempolnya lagi karena lukanya yang sebelumnya sudah sembuh lagi berkat kekuatan Kurama dan meletakkan tangannya di tanah hingga segel pemanggil muncul di tanah dan asap putih mengelilinginya.

Di saat asap yang menutupi tangan Naruto menghilang, terlihatlah seekor katak kecil berwarna orange terang sedang duduk dan menatap Naruto dan mengangkat tangannya "Yo!"

Naruto tersenyum dan mengangkat sang katak sebelum memperlihatkannya kepada Jiraiya "Lihat! Aku berhasil!"

Jiraiya menepuk keningnya dan menggeleng "Berhasil dari mananya! Kau malah memanggil anak katak!"

Naruto memiringkan kepalanya dan menatap bingung Jiraiya, seperti ia tidak mengerti mengapa Jiraiya malah terlihat kecewa kepadanya "Lalu? Bukannya benar ya? Aku dengar dari Kakashi-sensei kalau ia membesarkan ninkennya dari mereka masih anak anjing; jadi benarkan aku memanggilnya? Ia masih kecil dan aku akan membesarkannya"

"Kita akan menjadi partner! Kenalkan, namaku Naruto Uzumaki!" Naruto membalik sang katak agar ia bisa berhadap-hadapan dengan sang katak, ia tersenyum lebar.

"Hm... kedengarannya menarik; namaku Gamakichi! Memiliki partner kelihatannya seru; aku bisa menjadi seperti ayah nantinya" Sang katak yang tentu saja adalah Gamakichi menyeringai dan melompat dari pegangan Naruto untuk duduk di atas kepala Naruto "Yo! Jiraiya! Bukannya ini sebuah kebetulan? Muridmu akan menjadi partner anak partnermu!"

"Hmm..." Jiraiya diam sebentar, ia sedang berfikir; apakah ini sebuah kebetulan? Naruto memang tidak berhasil—atau munkin memang Naruto sengaja—memanggil Gamabunta namun entah mengapa ia berhasil memanggil anak dari Gamabunta? Apakah ini sebuah takdir di mana dirinya dan ayahnya adalah partner dari Gamabunta sedangkan Naruto kini memilih Gamakichi, anak dari Gamabunta, sebagai partnernya?

"Aku berhasil memanggil katak! Sekarang kita latihan apa lagi?" Naruto menunggu Jiraiya memberikan dirinya latihan lain dengan tidak sabar, kalau dulu ia tidak bisa memanggil bahkan katak sama sekali dalam jangka waktu yang sangat lama dan hanya berhasil memanggil kecebong sebelum akhirnya Jiraiya melemparnya ke sebuah tebing hingga Kurama akhirnya mau membantunya; sekarang ia sudah bisa memanggil katak yang akan menjadi partnernya dengan cepat maka ia akan latihan apa lagi?

'Kit, kalau kau bisa; coba dapatkan sebanyak-banyaknya ajaran dari gurumu yang satu itu, selain untuk memanggil katak dan Rasengan, dulu kau memakan waktu terlalu lama untuk menguasai kedua teknik tersebut jadi sekarang kau percepat sedikit latihanmu agar kau mendapat ajaran baru seperti sekarang' Kurama duduk dengan tenang dan menatap Jiraiya sebentar sebelum melirik Naruto, sebuah ide yang cukup cemerlang agar Naruto bisa mempelajari banyak hal dari Jiraiya, terutama mengenai bagai mana caranya menjadi spy master seperti Jiraiya sendiri karena Kurama tahu bahwa skill Naruto dalam mencari dan mendapatkan informasi sangatlah rendah dan butuh di asah.

Naruto tersenyum dalam hati dan mengangguk, ia setuju dengan apa yang Kurama katakan dan sejujurnya memang ia merasa bahwa latihannya memakan waktu sedikit terlalu lama.

"Baiklah, karena kalian berdua memutuskan untuk menjadi partner maka aku akan memberikan latihan yang akan mengetes seberapa cocoknya kalian menjadi partner" Jiraiya memanggil seekor katak menggunakan Kuchiyose dan menyuruhnya untuk pergi bersembunyi "Kalian berdua aku tugaskan untuk menangkap katak tadi"

"Menangkap katak?" Naruto menaikkan sebelah alisnya dan menantap bingung Jiraiya walaupun dalam hati ia merasa senang karena ia akan belajar mengenai sesuatu yang baru dari gurunya yang satu ini "Mengapa aku harus menangkap katak?"

"Ah aku kenal dia! Gamaniyo; katak yang terkenal dengan kepintarannya dalam bersembunyi dan kecepatannya dalam berlari" Gamakichi yang mengenali katak berwarna coklat tua yang tadi di panggil oleh Jiraiya melompat dari atas kepala Naruto ke pundak Naruto "Jangan remehkan dia, ia terkenal bukan karena sebuah kebohongan"

"Tugas kalian berdua adalah mengejar dan menangkap katak tersebut" Jiraiya menyeringai dan melipat kedua tangannya di depan dadanya "Ini adalah latihan pertama dan pemanasan untuk melihat seberapa cocok kalian menjadi partner"

Naruto menyeringai, ia jadi ingat bahwa memang dulu ia dan Gamakichi tidak memiliki Jutsu yang bisa mereka kombinasikan, malahan yang memiliki kombinasi Jutsu dengannya adalah Gamatatsu, adik dari Gamkichi, Naruto berharap ia akan bisa memiliki Jutsu yang bisa ia campurkan dengan Jutsu milik Gamakichi seperti Gamabunta dan Jiraiya dengan minyak dan apinya.

"Di mulai dari... sekarang!" dalam waktu sekejap, Naruto dan Gamakichi sudah menghilang untuk menjalankan latihan pertama mereka, Jiraiya menghela nafas pendek dan menatap langit dengan pandangan nostalgia, ia teringat dengan waktu pertama kali ia mengajarkan Minato tentang hal yang sama.

Namun ia tiba-tiba saja terdiam dan melirik sampingnya, sejujurnya ia merasa seperti ia sedang di perhatikan dan seperti merasakan keberadaan seseorang semenjak pertama kali ia bertemu dengan Naruto, ia tadinya berfikir bahwa ia hanya paranoid karena di saat ia mengecek sekelilingnya; ia tidak mendeteksi atau menemukan siapapun, namun pada waktu yang bersamaan ada perasaan nostalgia entah bagai mana.

Ia merasa seperti ia sedang berada di gunung Myoboku dan sedang berbicara dengan sang tetuah katak, Gamatatsu, namun pada saat yang bersamaan ada perasaan lain juga yang membuatnya sedikit lebih waspada; ia serasa seperti sedang di perhatikan dengan begitu intens, ia merasa deja vu namun ia tidak bisa mengingat di mana dan kapan ia pernah merasakan perasaan tidak enak seperti itu; munkinkah di saat ia sedang bertemu dengan seseorang? Namun siapa orang tersebut? Ia tidak begitu ingat.

Jiraiya memutuskan untuk mengirim seekor katak lain yang akan mengikuti Naruto dan Gamakichi untuk mengawasi latihan mereka sementara dirinya memilih untuk melanjutkan 'pengamatan' miliknya untuk buku baru yang akan ia publikasikan bulan depan.

Tanpa menyadari—atau munkin memang tidak bisa melihat—seorang laki-laki tidak kasat mata yang sedang memperhatikan dirinya sebentar sebelum ia menghilang perlahan-lahan.


Sasuke mencoba mengatur nafasnya dan mencoba menenangkan detak jantungnya yang berdegup dengan sangat kencang, peluh dan keringat membasahi wajahnya sembari ia menatap tajam gurunya yang berdiri di depannya dengan sharingan yang masih menyala.

"Kita istirahat sebentar sebelum melanjutkan latihannya" Kakashi berjalan menjauh darinya dan duduk di bawah pohon dengan buku bersampul orange kini sudah di pegangnya, Sasuke hanya mendecih pelan dan membuang mukanya melihat kelakuan yang kurang ia sukai dari gurunya.

Ia duduk dengan tenang setelah berhasil menenangkan degup jantungnya dan mengelap keringat yang membasahi tubuhnya dengan handuk kecil pemberian Sakura, ia melirik berberapa peralatan lain yang juga di berikan oleh Sakura kepadanya; ada perban, obat merah, handuk kecil, hingga bekal yang kemunkinan besar buatan sendiri namun Sasuke tidak berani mencoba menyentuhnya karena ia mencium ada bau yang kurang sedap dari kotak tersebut; sepertinya Sakura masih harus belajar banyak dalam hal memasak.

Sakura memang sempat berkunjung untuk melihat latihannya dengan Kakashi sambil membawa peralatan tambahan kepadanya, itu mengingatkan Sasuke bahwa Sakura bercerita bahwa ia juga membawa peralatan untuk Naruto namun tidak bisa menemukannya di manapun, ia jadi penasaran; ke mana perginya rekan satu kelompoknya yang berambut kuning tersebut? Di mana ia sekarang? Dan dengan siapa ia berlatih?

Sasuke menghela nafas panjang dan melirik gurunya yang masih sibuk sendiri membaca buku sebelum menatap langit yang cerah, ia memang merasa senang bisa berlatih dengan baik dan mempelajari Jutsu baru namun pada waktu yang bersamaan ia ada perasaan bersalah kepada Naruto karena sudah mengambil porsi latihan miliknya juga walau dalam hati ia menyalahkan Kakashi mengenai hal tersebut.

"Hei! Melamun terus! Nanti kesambet petir loh!" Tiba-tiba ia langsung berhadap-hadapan dengan Naruto yang berdiri terbalik di atas dahan pohon, membuat Sasuke terlonjak kaget, ini sudah kedua kalinya Naruto berhasil menangkap basah dirinya dalam keadaan tidak siaga dan membuatnya terlonjak kaget dan hampir berteriak; pertama kali adalah di saat Naruto berhasil memasuki penjara kaca buatan Haku.

"Do-dobe!" sepertinya suara Sasuke menarik perhatian Kakashi karena kini Kakashi menengok ke arahnya dan menyimpan bukunya lalu berjalan menghampiri mereka berdua.

"Yo! Teme! Kakashi-sensei!" Naruto melompat turun dari atas pohon dan mendarat dengan mulus di depan Sasuke, sebuah seringaian usil terlukis di bibirnya "Kau harus memperkuat pertahananmu Teme, masak kau sampai tidak menyadari keberadaanku"

Sasuke mendecih pelan sebelum seringaian meremehkan terlukis di wajahnya dan ia bangun dari posisinya yang tadi sedang duduk "Aku tak butuh hal seperti itu bila orangnya adalah dirimu Dobe, aku bisa mengalahkanmu dengan sangat mudah bahkan dengan pertahanan yang terbuka lebar"

Naruto menjulurkan lidahnya sebagai bukti betapa dewasanya dirinya "Dalam mimpimu Teme!"

"Naruto, apa yang kau lakukan di sini? Bukannya kau seharusnya pergi latihan?" Kakashi kini sudah berada di samping Naruto dan tengah menepuk kepala muridnya yang berambut kuning; ia ada perasaan sedikit senang di saat berfikir bahwa Naruto mengubah pikirannya dan akan berlatih bersama dengannya dan Sasuke.

"Ini aku sedang latihan kok" Naruto meletakkan kedua tangannya di pinggangnya sebelum menyeringai "Aku sedang latihan dengan partner baruku"

"Partner... baru?" Kakashi menaikkan alisnya yang tidak tertutup ikat kepalanya, entah mengapa mendengar kalimat 'partner' keluar dari mulut Naruto terasa janggal karena seingatnya Naruto tidak memiliki seseorang yang biasa ia panggil 'partner' karena lihat saja, Sasuke yang jelas-jelas adalah rekan satu timnya masih ia panggil 'teme' begitu juga dengan Sakura serta penambahan kalimat 'baru' membuatnya semakin bingung; apakah Naruto latihan dengan murid lain?

"...Siapa" Naruto menaikkan sebelah alisnya mendengar nada suara Sasuke yang naik satu oktaf dan seperti sengaja di tekankan, ada apa dengan sahabatnya yang satu ini?

"Naruto, aku menemukan jejak keberadaannya!" Tiba-tiba saja seekor katak berwarna orange melompat ke atas kepala Naruto sebelum ia menyadari kedua orang lain yang sedang bersama Naruto "Oh, kau sedang bersama temanmu"

"Ah tepat waktu" Naruto mengangkat Gamakichi dan meletakkan di punggungnya sebelum tersenyum dengan sangat lebar "Perkenalkan, partnerku: Gamakichi!"

Hening.

"Ya ya aku tahu kalian merasa aneh, tapi lihat saja nanti! Aku dan Gamakichi akan menjadi partner terhebat! Aku yakin Gamakichi juga nanti akan mengalahkan ninken milikmu Sensei!" Naruto membusungkan dadanya bersamaan dengan Gamakichi, seperti mereka berdua sangat bangga dengan apa yang baru saja Naruto katakan.

Sasuke dan Kakashi terdiam karena hal yang berbeda.

Kakashi terdiam karena ia kaget melihat Naruto membawa seekor katak yang katanya akan menjadi partnernya dan mengatakan bahwa ia sedang latihan bersama dengan sang katak, karena hanya ada satu penjelasan mengenai apa yang Naruto sedang lakukan sekarang yaitu Naruto di latih oleh sang petapa katak dari gunung Myoboku yang juga merupakan wali serta ayah angkat Naruto. Kakashi kaget melihat Naruto berhasil membujuk dan menemukan sang petapa katak yang katanya sedang keluar desa, apakah munkin kini ia sudah kembali? Terlebih lagi ada perasaan nostalgia melihat Naruto yang di latih oleh guru dari ayahnya, ia jadi merasa sedikit iri karena dirinya yang seharusnya di tugaskan menjadi kakak Naruto tidak bisa melatih sendiri sang adik namun ia merasa lega karena Naruto menemukan guru dalam bentuk ayah angkatnya.

Terlebih lagi melihat Naruto memilih katak sebagai partnernya—kataknya bahkan mirip dengan katak milik Jiraiya dan Minato; keturunannya kah?—seperti ayahnya, benar-benar membuatnya nostalgia.

Sedangkan Sasuke terdiam karena ia merasa Naruto sudah gila dan bingung dari mana bisa Naruto menemukan seekor katak yang bisa berbicara, ia juga merasa bodoh karena tiba-tiba saja marah tadi di saat ia mendengar Naruto punya partner baru; ia merasa seperti Naruto menghianati dirinya dan Sakura yang seharusnya rekan satu kelompoknya, tadinya Sasuke mengira Naruto memutuskan untuk keluar dari kelompok tujuh, bukan karena hal lain, serius!

"Yasudah, aku masih harus melanjutkan latihanku sekarang, kalian juga harus lanjut latihan" Naruto merenggangkan tubuhnya sebentar sebelum melambai sebagai tanda perpisahan dan menghilang dari tempatnya berdiri sebelumnya untuk melanjutkan latihannya; meninggalkan Kakashi dan Sasuke dalam keheningan.

"Jadi jejak terakhirnya ada di mana?" Naruto melompat dari atap rumah ke atap rumah lainnya sambil menggunakan kekuatannya untuk mendeteksi chakra untuk menemukan sang katak namun ia tidak bisa menemukannya sama sekali; sepertinya benar kata Jiraiya bahwa dirinya dan Gamakichi harus berkerja sama karena ia tidak bisa mendeteksi keberadaan sang katak dan ia hanya bisa bergantung dengan Gamakichi yang bisa mendeteksi keberadaan sang katak.

"Di gedung itu" Gamakichi menunjuk sebuah gedung berwarna putih yang Naruto ingat adalah rumah sakit, Naruto berhenti tepat di depan pintu masuk rumah sakit dan memeriksa sekelilingnya, ia jadi ingat kalau ia belum sempat menjenguk Lee yang masuk rumah sakit dan harus istirahat satu bulan full sebelum kakinya pulih seratus persen, namun tiba-tiba saja matanya menangkap warna merah di jalanan yang lumayan sepi di sebelah rumah sakit.

"Gaara?" Naruto menaikkan sebelah alisnya melihat sahabat lamanya dan teman seperjuangannya sebagai Jinchuriki sedang berjalan-jalan sendirian, ada perasaan sedih melihat Gaara sendirian dan kelihatan kesepian; membuat Naruto ingin sekali mendekatinya dan mengajaknya mengobrol namun ia sedang latihan dan ia tidak dekat dengan Gaara seperti dulu; kini di mata Gaara, ia hanyalah orang yang tidak Gaara kenal.

Merasa di perhatikan, Gaara menengok untuk melihat siapa yang memperhatikan dirinya dan sudah siap membunuh orang tersebut bila saja orang tersebut adalah pembunuh bayaran atau semacamnya, namun yang ia lihat adalah sang gadis berambut kuning yang waktu ujian eleminasi memperhatikannya dan benar saja; mata gadis itu berwarna biru jadi mengapa tiba-tiba saja berubah menjadi warna merah waktu itu? Dan mengapa Shukaku jadi tidak bisa diam mendadak?

Naruto tersenyum lebar dan melambai ke arah Gaara membuat sang Jinchuruki dari sang rakun berekor satu menatap bingung dirinya namun Naruto menatap sedih Gaara di saat ia melihat Gaara tidak memperdulikannya dan hanya melanjutkan berjalan tanpa membalas lambaian tangannya, ia hanya bisa menghela nafas pasrah.

Gaara yang bingung dan tidak tahu harus membalas lambaian Naruto dengan apa hanya bisa pergi tanpa menghiraukan Naruto, lagi pula ia ada perasaan tidak enak kalau ada di dekat gadis berambut kuning tersebut, kemunkinan besar karena Shukaku jadi tidak bisa diam dan menjadi lebih agresif dari biasanya.

"Oi Naruto, fokus" Gamakichi menampar dengan pelan pipi Naruto dengan gemas karena sedari tadi Naruto diam saja dan kelihatannya sedang melamun.

"Aah iya" Naruto menggeleng dengan cepat, ia akan membantu Gaara nanti karena sekarang ia sedang latihan dan harus menemukan sang katak kiriman gurunya.

'Aku jadi teringat kalau di tengah-tengah pertarunganmu dengan Shukaku, kau membutuhkan bantuanku bukan? Kau mengubah katak raksasa milikmu menjadi diriku untuk menahan Shukaku' Kurama yang baru bangun tidur siang tiba-tiba saja berbicara 'Jadi? Apakah kau akan memanggil katak itu juga atau mau langsung menggunakan kekuatanku?'

'Aku belum tahu juga, kita harus melihat situasi; kalau kita tidak di ikuti dan tidak akan ada yang menyadari pertarungan kita maka aku akan menggunakan kekuatanmu namun bila akan ada yang menyadarinya... aku lebih memilih memanggil Oyabun' Naruto kini sedang mengelilingi rumah sakit untuk mencari keberadaan sang katak dengan bimbingan Gamakichi 'Kalau mau jujur aku lebih senang bisa menggunakan kekuatanmu dan memanggilmu secara langsung karena... aku mau kau minta maaf dengan Shukaku'

Naruto tertawa pelan melihat Kurama mengerang dengan keras dan terlihat tidak suka dengan apa yang Naruto katakan, semua karena ia sangatlah egois dan harga dirinya setinggi langit, Naruto hanya bisa menatap geli sang rubah berekor sembilan namun ia serius dengan apa yang ia katakan; ia ingin semua Biiju berbaikan dan kini bisa hidup bersama dengan harmonis.

Untuk sementara ia akan memfokuskan diri dengan tugasnya sekarang, ia akan memikirkan strategi untuk ujian tahap ketiga nanti bersama Jinchuriki dan Biiju lainya, ia ingin berbicara mengenai 'penjaga barunya' karena akhir-akhir ini ia tidak bisa bertemu dengan Bee maupun Han atau Roshi karena mereka sedang sibuk dengan tugas masing-masing.

Ngomong-ngomong ia tidak melihat indra sedari tadi dan Ashura belum kembali hingga sekarang, ia penasaran; kemana mereka berdua?


Ashura duduk dengan tenang sambil menatap lekat-lekat Naruto yang sedang mengelilingi rumah sakit seperti sedang mencari sesuatu sebelum ia melirik kakaknya yang duduk di sampingnya "Sepertinya efek sampingnya sudah mulai muncul kak..."

Indra diam saja, ia melipat kedua tangannya di depan dadanya sebelum menghela nafas pelan "Semua ada harganya"

"Hmm..." Ashura menggeleng dengan pelan dan menatap sedih Naruto yang kini sedang mengobrol dengan seorang gadis berambut indigo pendek yang kelihatannya salah tingkah "Namun menurutku bayarannya tidak sepadan bila kita melihat sifat Naruto..."

"Setengahnya salahmu, mengapa kau memilih orang yang terlalu baik" Indra mendengus dan menggeleng pelan melihat sang adik memberikan tatapan tidak suka kepada dirinya "Jangan menatapku seperti itu, terlalu baik bukan sifat yang bagus juga"

"Terlalu jahat juga bukan sifat yang bagus" Ashura memutar bola matanya sebelum ia kembali memperhatikan Naruto lagi "Untung ayah mengirim kita, setidaknya kita bisa menetralisir efek samping itu"

Indra diam saja namun ia mengangguk, seperti setuju dengan apa yang Ashura katakan.

"Lagi pula aku juga tidak mau bagi-bagi, sudah cukup denganmu saja kak, tidak usah di tambah yang lain" Indra diam dan melirik adiknya, ia mendeteksi makna yang dalam dari apa yang baru saja Ashura katakan dan ia juga melihat kilatan yang cukup berbahaya di mata Ashura, ia hanya diam saja namun sebuah seringaian kecil terlukis di bibirnya, mau bagai manapun mereka berdua adalah kakak beradik, tentu saja mereka setidaknya memiliki ke samaan dalam sesuatu.

"Lebih baik kita kembali sekarang sebelum Naruto kebingungan mencari kita" Sang kakak beradik Ootsuki kini menghilang dari tempat mereka duduk sebelumnya untuk menemui sang pemuda berubah gadis Uzumaki yang sepertinya berhasil menemukan apa yang sedang ia cari.


To Be Continue


Omake

Lets find out, Naruto's Ideal Boyfriend! (Jiraiya Style!)

Jiraiya menatap lekat-lekat Naruto yang kini sedang merenggangkan tubuhnya seusai latihan taijutsu dengan seekor katak yang ia panggil, ia menaikkan sebelah alisnya di saat ia melihat Naruto duduk di samping sang katak dan kini sedang mengobrol dengan santai dengan sang katak sambil duduk di sampingnya.

Ia sedang kehabisan ide sebenarnya dan melihat Naruto mengobrol dan duduk di sebelah sang katak membuatnya mendapatkan ide yang cukup cemerlang.

"Oi, bocah" Naruto menoleh dan menaikkan sebelah alisnya membuat Jiraiya menyeringai, ide yang cemerlang untuk membuat Naruto sebagai model untuk bukunya yang selanjutnya "Apakah kau pernah menyukai seseorang?"

Naruto terdiam, ia mengerutkan keningnya dan seperti sedang berfikir sebentar "Ya namun tentu saja ia perempuan"

"Oh? Menarik, ceritakan kepadaku" Jiraiya menyeringai, yuri bisa menjadi pemanis yang bagus untuk buku barunya; ia yakin para pembaca akan menyukai sentuhan manis dari yuri di buku selanjutnya.

"Bertepuk sebelah tangan dan aku tidak menyukainya lagi" Naruto tersenyum masam dan menatap kosong langit biru, di dalam ia memeluk dengan erat Kurama yang mengerang dengan pelan.

"Oh, kalau itu aku juga sudah pernah" Jiraiya menepuk dengan pelan kepala Naruto ia tahu perasaan Naruto karena ia juga pernah merasakan hal yang sama dulu "Ada yang lain?"

"Aah..." Naruto diam sebentar sebelum sebuah senyuman kecil terlukis di bibirnya "Aku tidak tahu namun munkin aku memang menyukainya... seseorang"

"Ia begitu baik hati dan menyayangiku semenjak dulu, ia berkata bahwa aku menginspirasinya untuk menjadi kuat, ia juga sangat perhatian denganku; berkali-kali ia mengikutiku dan membantuku secara diam-diam namun tidak secara langsung karena ia tahu aku kuat"

"Hoo, kalau begitu kau akan menyukai laki-laki seperti ayahmu" Jiraiya menyeringai, menarik sekali; perubahan kelamin Naruto malah membuat Naruto menjadi mirip dengan ibunya dan kini tertarik dengan seseorang yang mirip dengan ayahnya.

Tiba-tiba saja wajah Naruto sudah semirip kepiting rebus dan ia langsung menatap tidak suka Jiraiya "OH YA TUHAN! TIDAK LAGI!"

Jiraiya menaikkan sebelah alisnya melihat reaksi Naruto "Lagi?"

"SUDAH CUKUP! JANGAN KAU JUGA IKUT-IKUTAN!" Naruto bangun dari posisi duduknya dan menghentak-hentakan kakinya ke tanah dengan gemas sebelum mondar-mandir "Aku tiddak mau mendengar hal seperti itu lagi! Sudah cukup dari Sakura dan Konohamaru!"

"Aku masih berjiwa laki-laki! Aku suka di puji karena dulu aku jarang di puji! Aku memiliki respek yang sangat tinggi dengan orang yang tenang dan bisa berfikir secara jernih kapanpun karena aku tidak bisa melakukan hal seperti itu!" Naruto menarik-narik rambutnya dengan gemas "Aku suka dekat dengan orang yang terlihat baik dan senang berbicara karena aku suka bersosialisasi! Itu saja! namun mengapa kalian malah berfikir yang tidak-tidak!"

"Tidak! Aku tidak mau pacaran dengan Nidaime ataupun Yondaime! Aku tidak mau juga pacaran dengan Shishui Uchiha! Aku lebih memilih perempuan!" Naruto langsung berguling-guling di tanah karena sudah terlalu frustasi sedangkan Kurama hanya tertawa dan menonton Naruto, menganggap apa yang Naruto lakukan adalah sebuah pertunjukkan yang sangat menarik dan pantas di tertawakan.

Jiraiya diam saja namun ia sedang menulis informasi yang Naruto berikan, ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak tertawa kecil mendengar bahwa tebakannya benar, bahkan ada yang menyarankan Naruto berpacaran dengan ayahnya sendiri, Incest terdengar sangat berbahaya namun cukup menarik; munkin ia akan buat nanti di buku lain.

"Kalau mau pasangan aku sarankan cari yang kuat! Kau adalah betina yang kuat maka pasanganmu harus lebih kuat! Jual mahal!" Sang katak yang tidak bisa membaca situasi malah memberi semangat kepada Naruto dan menambah penderitaan sang gadis Uzumaki.

"Aku laki-laki!" Naruto mendesis dengan keras ke arah sang katak, oh tidak! Ia tidak mau di beri semangat oleh seekor katak mengenai hal bodoh seperti ini, ia tidak butuh! Terimakasih banyak!

"Tidak lagi" Jiraiya seperti menyiram air garam ke luka Naruto dan membuat Naruto langsung depresi mendadak, sedangkan Kurama buang muka; takut ia akan di salahkan lagi.

"Namun aku setuju denganmu Gamakiyo, Naruto membutuhkan pasangan yang kuat; seseorang yang sederajat dengan Hokage munkin" Jiraiya menatap pahatan para Hokage sebelum ia mengelus dagunya dan berfikir sebentar "Sekuat Shodaime munkin?"

Naruto sudah habis tenaga dan lelah menghadapi hal bodoh seperti ini lagi, ia akan benar-benar mandi kembang tujuh rupa nanti sepulang latihan.

"Hei, aku tak keberatan kalau kau menjadi lesbian, bisa menjadi inspirasi untuk buku baruku, aku berfikir untuk membuat buku lain selain Icha Icha" Naruto mengerang dengan keras dan melempar Jiraiya dengan batu yang ada di sampingnya mendengar apa yang Jiraiya katakan.

Naruto hanya bisa meratapi nasibnya yang sepertinya kurang beruntung, mengapa begitu banyak orang salah pahan dengan segala hal yang ia lakukan sekarang? Dulu di saat ia masih laki-laki sepertinya hal-hal ajaib nan menyebalkan seperti ini tidak pernah terjadi deh!

Dan kemana perginya dua kakak beradik Ootsuki yang seharusnya menjadi pengawalnya? Mereka berdua biasanya selalu ada di sampingnya dan menemaninya ke manapun Naruto pergi, tidak ada masalah sih hanya saja ada perasaan aneh seperti ia kesepian karena keduanya tidak ada untuk mengganggunya.

'Ngomong-ngomong soal kekuatan aku jadi teringat dengan Indra, ia kuat sekali ya; sharingan miliknya bisa mengendalikan Gaara yang jelas-jelas adalah Jinchuriki tanpa menggunakan mengekyou, keren ya' Naruto berbaring di atas kepala Kurama yang akhirnya berhenti tertawa dan sekarang diam saja 'Entah mengapa aku melihat dirinya berbeda dengan melihat Teme, ia terlihat lebih... apa ya... di saat aku menatap matanya dengan lekat-lekat aku seperti menatap secara langsung... kematian'

'Dan kau masih bertanya mengapa teman-temanmu salah paham dengan segala hal yang kamu lakukan?' Kurama memutar bola matanya dengan bosan, ia sudah terlalu terbiasa melihat seberapa tidak pekanya wadahnya yang satu ini; ia memang di juluki monster namun ia mengerti perasaan manusia, terimakasih dengan wadahnya sebelum Naruto yang merupakan wanita yang sudah menikah.

'Oh ya ampun! Jangan bilang kalau kau salah paham juga!' Kurama sampai bosan memutar bola matanya lagi, ia tahu seberapa tidak pekanya wadahnya jadi ia memutuskan untuk diam saja, untuk apa ia membetulkan sifat tidak peka wadahnya yang satu itu; toh tidak ada untung untuknya, jadi ia memutuskan untuk diam saja; lagi pula sudah menjadi hiburan baginya melihat penderitaan seseorang dengan ketidak pekaan wadahnya dan sekarang ia mendapat hiburan tambahan dengan mendapat tontonan wadahnya (sedikit) menderita.

Naruto mendecih kesal sebelum ia memutuskan untuk pergi menjauh dari gurunya karena sekarang Jiraiya sedang sibuk berdiskusi dengan sang katak mengenai pasangan yang cocok untuknya dan sekarang sedang berdebat apakah ia lebih cocok dengan Nidaime atau seseorang yang Jiraiya kenal dulu.

Serius, Naruto lebih memilih di ganggu oleh Ashura dan Indra dari pada harus berhadapan dengan masalah bodoh seperti ini.

"Oh! Sedang membicarakan pasangan lagi ya? Kalau dari deskripsi yang gurumu katakan bukannya cocok dengan kakak ya?" Ashura yang tiba-tiba saja muncul dan kini sudah ada di samping Naruto tersenyum lebar.

"Hm? Kau menginginkan aku sebagai pasanganmu?" Indra menaikkan sebelah alisnya dan menunjuk dirinya sendiri.

Persetan! Ia tidak mau di ganggu oleh Ashura dan Indra juga!


!Review Reply!

Silent Reader-san: Teruslah berjuang, mari sama-sama berjuang; saya juga masih belajar, nge-flame bukan hal yang baik sih dan saya anjurkan untuk tidak pernah melakukannya... kritik dan saran adalah hal yang paling baik di lakukan; dengan bahasa yang baik dan benar tentunya.

rheafica: Hint sudah bertebaran di mana-mana kok...

Akemi. Tourou: Entahlah, saya sudah memberikan hint. Linknya sudah ada di profile saya.

Fumetsu Vara: Mirip bukan hanya bisa berarti wujud dan saya tidak pernah menulis bahwa dia mirip Minato kok.

naginagi: Menurutku tidak apa-apa ah, toh dosa Orochimaru sudah banyak; bertambah sedikit lg juga tidak masalahkan? Saingan Sasu banyak kok sebenarnya, hahahha.

Namikaze Otorie: Pada dasarnya (bahkan di canon) dia enggak peka kok, coba aja nonton the movienya, di ajak nikah aja dia gak nyadar, yang lebih lagi: Hinata aja yg jelas-jelas suka sama dia aja dianya enggak nyadar dan saya tidak pernah bilang Kurama atau 2 kakak beradik itu ngasih kode.

uzumaki megami: Sepertinya tidak bisa, karena tidak peka sudah menjadi ciri khas dari karakter Naruto dan menurut saya itu sangatlah masuk akal. Bayangkan Naruto yang jelas-jelas tidak punya orang tua dan jangankan ada yang mau mengajari dia bersikap, menurut saya memang benar dengan kehidupan Naruto yang seperti itu maka ia akan tumbuh menjadi orang yang tidak peka, its all make sense.

Madara's Queen: Munkin? Gaara hidupnya hampir mirip dengan Naruto sih jadi sifatnya masih sulit di tebak.

Elzana: Namanya juga Omake dan itu bukan menistakan kok, itu lagi mengajari dengan caranya tersendiri, lagi pula memang di Canon Jiraiya suka menistakan Naruto.

Snowflower's: Omake akan tetap menjadi Omake dalam artian memang di buat seperti itu untuk menjadi candaan. Tidak semudah itu nak, saya suka menggunakan logika dan tidak akan masuk akal kalau Naruto bisa dengan cepat menerima jati dirinya sebagai perempuan karena serius; kalau Naruto langsung menerimanya maka saya yakin Naruto akan menjadi perempuan penggoda yang tidak tahu malu; kenapa saya bisa bilang begitu? Lihat saja Orioke miliknya, jadi proses perubahannya akan pelan-pelan karena Naruto harus mengerti bahwa menjadi perempuan bukan hanya menggoda lelaki menggunakan tubuhnya yang telanjang bulat. Lagi pula kalau anda berubah kelamin secara tiba-tiba mana munkin anda akan menerimanya secara langsung kalau anda masih normal, jadi saya mohon anda bersabar oke? Nanti akan ada waktunya Naruto menerima jati dirinya.

nina: Tentu saja akan happy end kok, saya kurang handal menulis sad atau tragedy end.

Sondankh641: Hahahaha, karena sifat tersebut juga yang membuat Naruto cukup menarik untuk di jadikan perempuan.

Fujoshi Desu XD: silakan cek Warning dari chapter ke chapter dan anda akan menemukan jawabannya. Bedakan manga dengan fanfic ini; manga sudah tamat sedangkan fanfic ini bahkan belum sampai setengahnya manga, seperempat saja belum. One word: Destroyed. 12 tahun dan saya tidak mau menyentuh topik tersebut karena di takutkan terlalu sensitif namun kalau hanya soal puber munkin bisa.

Samuel903: Terimakasih banyak atas pujiannya. Sakura tidak akan melakukan hal yang sama, dia akan mendapatkan perubahan, bisa di bilang character development.

Sekian dan terimakasih, maaf chapter kali ini membutuhkan waktu yang cukup lama.

Review Please