Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Warning: Mengandung Gender Bender, Semi-Au, Time Travel, Miss Typoo, dll
!Author Notes!
Halo para pembaca sekalian, saya menyadari bahwa semakin lama saya tidak menulis maka semakin cepat saya akan kehilangan semangat untuk menulis, bisa di bilang ide-ide yang saya dapatkan bisa hilang dengan cepat berkat short term memory yang Author miliki.
Jadi saya akan berusaha sebisa munkin (selama liburan ini) mengupdate satu minggu satu kali. Semoga saja target yang Author inginkan bisa tercapai karena sejujurnya; Author gampang teralihkan perhatiannya bila sudah berhubungan dengan game.
Seperti biasa, karakter yang akan punya ending adalah: Kurama, Kakashi, Sasuke, Gaara, dan Itachi.
Selamat menikmati chapter To The Past yang terbaru.
Naruto melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menghela nafas pendek, wajahnya di hiasi oleh ekspresi serius yang jarang ia kenakan kecuali di saat yang penting, bagai mana tidak; ia sedang berkumpul dengan wadah Biiju lainnya dan sedang membicarakan mengenai rencana mereka ke depan nanti.
"Jadi? Bagai mana menurut kalian? Apakah aku boleh menggunakan kekuatan Kurama secara langsung atau kalian ingin aku tetap memanggil Bun—katak milikku?" Naruto bergatian menatap teman-teman seperjuangannya, walau hanya ada 4 orang karena belum semua Jinchuriki berhasil mereka temukan.
"Fuu lebih memilih Naruto menggunakan kekuatan Kurama-ssu!" Penghuni terbaru dari tempat pertemuan para wadah Biiju mengeluarkan pendapatnya, ia duduk di atas kepala Choumei dan tersenyum lebar "Fuu ingin lihat kekuatan Kurama!"
"Tidak bisa semudah itu gadis kecil" Roshi menghela nafas panjang dan menggeleng, ia merasa bahwa generasi sekarang terlalu santai tidak seperti dirinya dulu di mana perang masih ada di mana-mana, terlebih lagi Fuu adalah Jinchuriki; ia terlihat terlalu carefree dan hapy go lucky, walau ia ada perasaan bahwa Naruto sebenarnya mirip dengan Fuu.
"Fuu bukan gadis kecil!" Fuu menatap tidak suka Roshi sebelum ia membuang mukanya, ia paling tidak suka di panggil gadis kecil atau semacamnya karena ia sudah besar! Ia bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik.
"Oke kembali ke topik utama, menurutku memang lebih baik kita menggunakan kekuatan Kurama" Han yang tidak ingin Roshi melanjutkan keisengannya untuk menggoda dan membuat Fuu semakin marah (dasar kakek tua iseng) langsung mengebalikan alur pembicaraan ke topik utama "Kau bilang katak itu juga milik gurumu bukan? bisa-bisa katak itu menyadari keanehan dari dirimu dan bercerita kepada gurumu"
"Sebenarnya tidak masalah kita mau menggunakan cara apapun, namun yang paling terpenting adalah saksi mata; selama tidak ada saksi mata maka semua akan berjalan lancar" Kokuo mengangguk pelan, membuat Han hampir kehilangan keseimbangan namun sepertinya ia tidak terlalu perduli "Kita harus cari cara agar tidak ada saksi mata"
"Kau tahu, kita seperti sedang merencanakan pembunuhan berantai atau semacamnya; kita tidak ingin ada saksi mata, jadi? Apakah kita mau sekalian 'menghilangkan' saksi mata yang ada?" Roshi menyeringai melihat Naruto dan Fuu memberikan tatapan antara takut atau tidak nyaman, oh jangan salahkan dirinya, ia sudah hidup sangat lama dan terlebih lagi sebagai Jinchuriki, selain itu ia juga bekas prajurit perang; dark humor adalah salah satu cara untuk menjaga kewarasannya.
"Aku tidak keberatan" Kurama menyeringai, ia tidak menghiraukan tatapan tidak suka yang di berikan oleh Naruto.
Naruto hanya bisa menggeleng pelan sebelum ia melirik ke satu-satunya orang yang sedari tadi diam saja "Occhan sedari tadi diam terus, apakah kau punya ide?"
"Yo! Aku memang punya ide namun sedikit terlalu berbahaya baka yarou~!" Bee menyeringai lebar sebelum ia mengeluarkan sebuah buku notes kecil dan melemparnya ke arah Naruto "Tapi kalau memang mau, aku tidak keberatan kita melakukannya kono yarou~"
Naruto menerima buku notes yang Bee berikan dan menaikkan sebelah alisnya sebelum berbagi pandang dengan Han, Roshi, dan Fuu lalu membuka buku notesnya untuk membaca isinya dengan keras agar bisa di dengar oleh yang lainnya.
"Aku akan membuat kekacauan dan mengalihkan perhatian" Naruto terdiam setelah membaca isi dari buku tersebut sebelum ia membuka lembaran-lembaran lainnya, yang benar saja, Bee memberikannya sebuah buku notes yang isinya hanya satu kalimat itu saja? Naruto mencoba mencari tulisan lain yang ada di buku itu dan menemukan nihil "Sudah itu saja..."
Hening
Suara tangan menepuk jidat terdengar empat kali di 'ruangan' tersebut.
"Oke, walaupun terdengar sangat tidak jelas dan pendek namun aku pikir itu adalah ide yang cukup cemerlang, membuat pengalih perhatian terdengar cukup menjanjikan" Han menggeleng pelan, ia mulai terbiasa menjadi straight man di dalam perkumpulan para wadah Biiju ini dan ia tidak menyukainya, sifat Bee dan Naruto sangat menular dan ia tidak ingin menjadi seperti mereka berdua.
Tiba-tiba saja Naruto bangun dari posisi duduknya dan menyeringai "Kita buat kambing hitam!"
"Mau menyalahkan ular pedofil itu lagi? Boleh juga" Kurama menyeringai, ia tahu pikiran wadahnya dan ia menyetujuinya, lagi pula Naruto mendapat idenya juga dari dirinya.
"Bukan" Naruto menutup mulutnya untuk menyembunyikan seringaian iseng miliknya "Kali ini ayo kita salahkan Danzo!"
Han, Roshi, dan Fuu mulai menjaga jarak, begitu juga dengan monster berekor mereka karena dari cerita Bee dan Naruto sendiri, sang pemuda berubah gadis Uzumaki di depan mereka sangat terkenal dengan keisengannya, mereka mendengar betapa menakutkannya keisengan Naruto; oh ayolah! Ia berhasil mengecat pahatan wajah Hokage menggunakan pakaian berwarna orange terang tanpa di ketahui sebelum ia tertangkap basah karena ia berteriak atau mengecat markas ANBU tanpa di ketahui sampai mereka menemukan buktinya di apartemennya karena Naruto lupa membuangnya!
Bee menyeringai, ia tidak ada masalah dengan sifat iseng Naruto, karena ia sendiri juga menikmati keisengan Naruto dan ia adalah satu-satunya orang yang Naruto tidak bisa kerjai, begitu juga dengan Gyuki yang sudah terbiasa melihat sifat iseng Naruto.
Jiraiya menatap geli Naruto yang kelihatannya sedang kesulitan menjaga keseimbangan berjalan menaiki air terjun sambil membawa Gamakichi, latihan kali ini adalah berjalan di atas air yang mengalir setelah Naruto berhasil berjalan di atas air yang tenang, namun sebagai tambahan ia harus berjalan sambil membawa Gamakichi di atas kepalanya dan seekor katak menjatuhkan bebatuan dari atas air terjun.
"Waah! Jangan lempar batu yang terlalu besar!" Naruto berteriak dan melompat menjauh dari batu yang di jatuhkan oleh sang katak sambil menahan Gamakichi yang ada di atas kepalanya "Kau ingin membunuhku apa!"
"Berjuanglah Naruto! Sedikit lagi" Gamakichi mencoba memberi semangat kepada Naruto karena memang benar, sedikit lagi dan mereka akan sampai ke puncak.
Naruto tersenyum kecil mendengar kalimat penyemangat Gamakichi, ia menyeringai sebelum terus melanjutkan perjalanannya ke puncak air terjun; hari ini ia sedang senang karena selain ia tidak kehilangan waktu latihan (karena kalau dulu ia kelelahan dan tidur selama 3 hari), ia juga hari ini di janjikan oleh Iruka-sensei akan di traktir ramen sebagai ucapan selamat berhasil lulus ujian tahap pertama dan kedua.
"Huft! Sampai!" Naruto melompat ke atas katak yang menjatuhkan bebatuan sedari tadi dan tersenyum lebar ke arah Jiraiya "Aku berhasil!"
Jiraiya menyeringai, semakin lama ia semakin melihat kemiripan dari Naruto dengan Minato, ia berfikir bahwa Naruto membutuhkan waktu yang cukup lama untuk berhasil memanjat air terjun tersebut namun ia bisa melihat Naruto berhasil menyelesaikannya dalam waktu setengah hari "Oke, sekarang turun ke sini"
Naruto melompat dengan mudah turun dari atas katak milik Jiraiya dan mendarat tepat di depan gurunya dengan seringaian terlukis di wajahnya "Bisakah kita selesai sekarang? Aku ada janji!"
"Oh? Mau pergi kencan?" Jiraiya dengan mudah menghindari pukulan Naruto sebelum ia tertawa melihat ekspresi tidak suka dari Naruto.
"Aku mau pergi makan ramen dengan Iruka-sensei!" Naruto mendesis dengan keras namun di dalam ia cemberut melihat Kurama tertawa karena menganggap apa yang Jiraiya katakan dan ekspresi Naruto lucu; semakin lama sang rubah ini semakin senang dan semakin sering tertawa bila melihat dirinya di perlakukan seperti sekarang.
"Hubungan antara murid dan guru yang terlarang, boleh—" sebelum Jiraiya bisa menyelesaikan omongannya, ia sudah keburu di beri hadiah bogem mentah oleh Naruto yang pikirannya tidak mau di kotori dengan apa yang akan Jiraiya katakan sebelum ia pergi bersama Gamakichi untuk pergi makan dengan Iruka.
"Haha, pada akhirnya kau tidak akan kuat juga" Gamakichi yang masih ada di atas kepala Naruto tertawa, ia merasa latihannya dengan Naruto sangatlah menyenangkan; selain ia mendapat hiburan seperti tadi, ia juga sering mendapat makanan dari Naruto seperti sekarang, ia tidak di suruh pulang dan di ajak makan bersama, biasanya juga Naruto membelikan makanan untuk adiknya juga walau Gamakichi sendiri tidak tahu dari mana Naruto bisa tahu bahwa ia punya adik, perasaan ia tidak pernah cerita.
Selain itu, setelah menghabiskan waktu bersama Naruto cukup lama, Gamakichi menyadari sedikit kejanggalan dan kebiasaan yang Naruto lakukan, seperti Naruto sering melamun namun pandangannya kosong seperti ia sedang tidak berada di dunia ini dan tidak sadar akan sekelilingnya, Naruto juga sering berbisik dengan dirinya sendiri—atau munkin kepada orang lain? Entah lah namun Naruto sering melakukannya kalau ia merasa sedang tidak di perhatikan, selain itu Naruto juga seperti sering melihat ke tempat yang tidak ada apa-apanya dan lalu tersenyum atau kadang terlihat kesal; seperti ia melihat sesuatu yang lucu atau menyebalkan namun Gamakichi atau orang lain tidak bisa melihatnya.
Gamakichi memang masih kecil namun ia jauh lebih dewasa dan lebih peka dari katak seumurannya ataupun adiknya, munkin katak lain akan mengatakan bahwa dirinya hanya terlalu banyak pikiran atau berhalusinasi namun ia bisa menyadarinya, bahkan ia tahu bahwa Jiraiya menyadarinya juga—walau ia tidak tahu sadarnya Jiraiya itu lebih atau kurang dari apa yang ia sadari—namun semakin lama ia menghabiskan waktu dengan Naruto dan semakin baiknya kerja sama mereka sebagai partner, ia jadi semakin menyadari hal-hal yang janggal dari Naruto sendiri.
Kemunkinan besar adalah karena ia dan Naruto mulai mengerti satu sama lain, semakin dekat dan semakin 'terhubung' dengan satu sama lain, namun untuk sekarang Gamakichi lebih memilih untuk diam dan menyimpan penemuannya untuk sementara, ia lebih memilih menikmati hari-harinya berlatih dengan Naruto dari pada berfikir yang tidak-tidak.
"Ini bagian untukmu Gamakichi dan adikmu, sampaikan salamku kepadanya ya" Naruto memberikan sebuah kantung plastik berisi camilan yang ia beli di perjalanannya pergi ke Ichiraku Ramen yang di terima dengan senang hati oleh Gamakichi.
"Sampai jumpa besok lagi Naru!" Gamakichi menghilang setelah melambai sebagai tanda perpisahan kepada Naruto.
Naruto tersenyum kecil sebelum ia mulai memeriksa sekelilingnya, ia akhir-akhir ini jarang melihat kedua kakak beradik Ootsuki yang biasanya selalu berada di sampingnya dan jarang sekali meninggalkannya.
Ia mulai menyadari seringnya kedua penjaganya menghilang setelah ia memberikan sebuah tugas kepada Ashura, kedua kakak beradik Ootsuki tersebut jadi sering menghilang atau salah satu dari mereka suka hilang dan hanya satu saja yang menemaninya. Seperti tadi pagi di saat ia bangun, ia hanya di sapa oleh Ashura dan indra pergi entah ke mana, lalu di saat ia latihan dengan Jiraiya, hanya ada Indra yang menonton dan mengamatinya; lalu sekarang keduanya menghilang.
Naruto memutuskan untuk membiarkannya saja sementara, lagi pula ia mendapat sedikit kebebasan dengan tidak adanya kedua kakak beradik yang sering menginvasi zona nyamannya tersebut.
Ia menikmati harinya dengan makan bersama guru yang paling ia sukai, ia bercerita kepada Iruka mengenai latihan yang ia jalani bersama Jiraiya dan juga bercerita mengenai partner barunya dengan penuh semangat, sesekali Ayame dan Teuchi ikut berbicara bersama dirinya dan Iruka.
Sedangkan kedua kakak beradik Ootsuki yang tadi di cari-cari oleh Naruto sedang ada di rumahnya, sibuk sendiri.
"Duh, di mana sih ia menyembunyikannya" Ashura menghela nafas panjang, lipatan terbentuk di keningnya dan ia mendecak kesal, kesabarannya mulai menipis.
"Aku tidak bisa menggunakan sharingan milikku juga" Indra mendesis dengan pelan, ia menatap nanar tumpukan barang yang Naruto miliki sebelum menengok ke arah jam yang ada di sebelah tempat tidur Naruto "Kita punya waktu 5 menit sebelum Naruto selesai makan bersama gurunya"
Ashura hanya bisa menggeleng pelan, ia mulai pasrah dan kehilangan semangat, ia sangat ingin cepat-cepat menyelesaikan tugasnya dan lalu istirahat, Naruto berjanji akan membawanya ke pemandian air panas yang kemarin mereka datangi dan ia sudah tidak sabar untuk bersantai dan mandi di sana.
Indra tidak jauh berbeda, ia juga mulai frustasi dan kesal.
"Ck, kita tak ada piihan lain selain menunggu kesempatan di mana kita bisa menemukannya dengan mudah" Ashura bangun dari posisinya yang tadinya sedang duduk dan berjalan mendekat ke kakaknya, ia melirik ke arah tumpukan barang yang ada di depan kakaknya sebelum menggeleng pelan "Pencarian kita tak membuahkan hasil kalau kita buru-buru"
Indra tidak bisa tidak setuju dengan adiknya dan hanya bisa mengangguk sebelum ia membalik tubuhnya dan pelan-pelan menghilang "Lebih baik sekarang kita kembali ke sisi Naruto sebelum ia mulai curiga dengan ketidak hadiran kita"
Ashura mengangguk dan juga pelan-pelan menghilang.
Kedua kakak beradik Ootsuki yang baru sampai ke tempat Naruto berada menaikkan sebelah alis mereka dan mulai memeriksa sekeliling mereka.
Naruto sedang berada di sebuah toko yang menjual bunga, mereka berdua memang pernah melewati toko tersebut namun mereka tidak pernah berfikir bahwa Naruto akan mengunjunginya, untuk apa Naruto membeli bunga? Memang benar Naruto senang berkebun namun semua tanaman yang ia miliki adalah tanaman liar.
"Apa yang kau lakukan di sini Naruto?" Indra berjalan mendekati Naruto dan menatap bunga yang terpajang di depan mereka, melihat begitu banyak jenis dan warna bunga yang terpajang membuat matanya sedikit sakit.
"Aah, akhirnya kalian berdua kembali juga" Naruto berbisik sambil melirik Indra lalu Ashura sebelum ia kembali menatap satu per satu bunga yang ada di depannya "Aku mau membeli bunga untuk Lee, aku ingin menjenguknya"
"Ooh, anak laki-laki yang kau selamatkan dari Jinchuriki Shukaku" Ashura berjalan mendekat dan mengambil sebatang bunga lily putih "Memberikan bunga kepada orang yang sedang di rawat di rumah sakit memang sudah menjadi tradisi ya"
"Bagai mana kalau bunga ini? Artinya adalah pertemanan, kesetiaan, dan kerendahan hati" Ashura memberikan bunga yang ia pegang kepada Naruto.
"Dari mana kau bisa tahu hal seperti itu?" Indra memberikan tatapan bingung bercampur aneh kepada adiknya, bagai mana bisa adiknya tahu mengenai bahasa bunga? Jangankan mau ia membaca buku, belajar saja ia jarang jadi kemunkinan besar Ashura tidak mengetahuinya dengan membaca buku, karena sejujurnya ia saja yang sering baca buku dan belajar tidak pernah menyentuh buku dengan topik yang menurutnya tidak penting seperti bahasa bunga.
"Aku di ajarkan oleh para gadis di desa setempat" Sekarang Indra ingat bahwa adiknya tidak seperti dirinya, ia sangat suka bercengkraman dengan orang lain dan bersosialisasi dengan warga setempat, tidak seperti dirinya yang lebih memilih diam dan anti sosial, ia juga jadi ingat bahwa adiknya ini cukup populer di kalangan banyak orang, apa lagi di kalangan kaum hawa.
"Kau terkenal ya" Naruto berbisik dengan pelan namun nada bicaranya sedikit terdengar ada tanda bahwa ia iri dengan Ashura, karena tidak seperti dirinya; walaupun ia adalah reinkarnasi dari Ashura, Naruto tidak populer di kalangan warga setempat hingga akhirnya ia menjadi 'pahlawan' setelah menyelamatkan desa Konoha dari serangan Nagato (Pain), itupun ia ada perasaan tidak enak dan terbentuklah Dark Naruto.
Indra menepuk kepala Naruto dan mengacak-acak rambutnya sedangkan Ashura menepuk punggungnya sebelum merangkulnya, membuat Naruto jadi tidak nyaman sendiri karena mereka berdua tiba-tiba saja menginvasi zona nyamannya; memang benar ia senang di puji namun kedua kakak beradik Ootsuki ini berada terlalu dekat dengannya dan juga apa yang mereka lakukan terasa terlalu... personal.
Naruto memutuskan bahwa perasaan malu dan tidak nyaman yang ia rasakan adalah akibat dari hormon perempuan yang menyerangnya tanpa ampun dan ia hanya bisa pasrah, jangan salahkan dirinya! Kedua kakak beradik Ootsuki yang menjadi pengawalnya ini memiliki wajah yang cukup tampan! Bahkan Indra juga sebenarnya termasuk dalam kategori pria tampan kalau saja ia tidak mengeluarkan aura gelap nan menakutkannya; ia bisa di bilang setampan Sasuke.
Tunggu dulu, barusan ia menganggap Sasuke tampan? Naruto langsung menggeleng dengan cepat, sepertinya ia sedikit terlalu serius latihan dengan Jiraiya dan sekarang pikirannya sedang kacau balau; ia memutuskan untuk mandi di pemandian air panas nanti untuk menyegarkan pikirannya, akhir-akhir ini ia sedang banyak pikiran yang membuatnya suka berfikir yang aneh-aneh, ia butuh istirahat sebelum ujian tahap ketiga.
Namun untuk sementara ia harus memfokuskan diri untuk membeli bunga untuk sahabatnya.
Naruto tidak menyadari Kurama yang memberikan tatapan tidak suka kepadanya di saat ia mendengar Naruto berfikir bahwa Sasuke masuk ke dalam kategori pria tampan, walau sejujurnya tatapannya tidak benar-benar seperti ia tidak suka... apakah itu tatapan kesal? Atau cemburu? Entah lah, Naruto tidak menyadarinya juga.
Naruto tersenyum kecil melihat bunga yang ia pegang; bunga yang sangat cocok untuk Lee, karena di masa lalunya; Lee adalah sahabatnya yang begitu baik hati, ia juga sangat rendah hati; selalu setia kepadanya di saat sulit maupun senang, ia selalu siap membantunya bila ia sedang kesulitan; Lee adalah salah satu sahabat karibnya setelah Sasuke pergi, ia akan dengan senang hati membantunya lagi sekarang.
Naruto jadi teringat bahwa ia belum pernah mendatangi kuburan ayah maupun ibunya, munkin ia harus membeli bunga juga untuk mereka berdua dan melayat ke kuburan mereka namun Naruto mengurungkan niatnya karena ia tahu kuburan para Hokage terpisah dan tidak sembarang orang boleh mendatanginya; namun bukan berarti ia akan menyerah begitu saja, ia akan diam-diam mendatangi kuburan kedua orang tuanya, hanya tidak sekarang.
"Oh, Naruto? Aku tidak pernah melihatmu membeli bunga sebelumnya" Naruto hampir saja lupa bahwa pemilik toko bunga ini adalah Ino, teman sekelasnya, ia hanya bisa nyengir dan menggaruk belakang kepalanya; memang benar ia tidak pernah membeli bunga atau masuk ke dalam toko milik Ino karena ia merasa ia tidak akan pernah butuh bunga; ia memang punya tanaman di rumahnya namun semuanya adalah tanaman liar yang ia ambil dan urus sendiri.
"Bunga Lily putih... untuk siapa? Dan apa kabar Sasuke-kun, di mana ia sekarang? Oh dan katakan kepadaku, kau pakai shampo apa? Rambutmu terlihat sangat lembut dan oh! Walau kau berubah menjadi perempuan, bukan berarti kau langsung menyukai laki-laki bukan? jadi kau tidak akan mencoba menggoda Sasuke-kun bukan? untuk informasimu, Sasuke-kun milikku!" Ino mulai berbicara panjang lebar, ia tidak menyadari ekspresi kesal bercampur tidak nyaman Naruto.
"Untuk Lee, aku mau menjenguknya di rumah sakit, Teme sedang latihan; aku belum bertemu dengannya sama sekali semenjak ujian tahap dua selesai, aku pakai shampo apapun yang aku miliki, dan ya! Aku masih laki-laki sejati di dalam hati..." Naruto hanya bisa menghela nafas panjang, ia sudah mulai lelah mencoba mengingatkan teman-temannya mengenai jenis kelaminnya, serius! Apakah mereka tidak punya logika? Mana munkin ia bisa begitu saja menerima kenyataan bahwa dirinya akan menjadi perempuan selama-lamanya, ia akan berusaha namun itu butuh waktu, mereka tidak perlu memaksanya.
"Yaah, aku hanya ingin memastikan saja, sudah cukup Sakura saja yang menjadi sainganku, tidak perlu kau juga" Ino selesai membungkus bunga lily pilihan Naruto dan memberikannya kepada sang gadis Uzumaki.
Naruto hanya diam saja dan menerima bunga pemberian Ino setelah membayarnya, ia hanya mengucapkan terimakasih dan pergi keluar dari toko bersama Ashura dan Indra, ia merasa sedikit bingung mengapa Sakura dan Ino mengira ia akan mencoba mendekati Sasuke hanya karena ia berubah menjadi perempuan, seharusnya mereka berdua tahu bahwa hubungannya dengan Sasuke dulu tidak lah bagus dan seharusnya mereka tahu bahwa ia dulu sangat iri dengan Sasuke; bagai mana bisa mereka membuat kesimpulan bahwa ia akan mencoba mendekati Sasuke di saat ia berubah menjadi perempuan? Bukannya malah seharusnya jadi kebalikannya ya? Mereka terlalu paranoid.
Sesampainya di rumah sakit, Naruto bertemu dengan Shikamaru yang ternyata menjenguk Chouji yang katanya sakit perut karena terlalu banyak makan, tadinya ia membawa buah-buahan untuk Chouji namun mendengar Chouji sedang tidak di perbolehkan memakan apapun karena baru selesai makan obat; Shikamaru memutuskan untuk memberikannya kepada Lee bersamaan dengan bunga dari Naruto.
Shikamaru diam saja di perjalanan namun Chouji tahu bahwa temannya yang satu itu sedang memperhatikan sesuatu, lebih tepatnya ia sedang memperhatikan Naruto dan Chouji tahu, temannya memperhatikan Naruto bukan karena ia suka dengan Naruto atau semacamnya, ia tahu bahwa Shikamaru sedang menganalisah Naruto; ia sedang memperhatikan gerak-gerik Naruto dengan sangat cermat.
Chouji tahu mengapa Shikamaru bersikap seperti itu, jawabannya adalah perubahan Naruto yang tidak wajar yang tentu saja bisa dengan mudah sang Nara deteksi, Chouji sendiri menyadarinya dengan cukup mudah. Kenapa? Karena ia dan Shikamaru adalah salah sedikit dari teman sekelas Naruto yang bisa di bilang cukup dekat dengan Naruto, mungkin Sasuke dan Sakura tidak akan menyadarinya namun Chouji dan terlebih lagi Shikamaru tentu saja langsung menyadarinya karena interaksi yang mereka lakukan kepada Naruto biasa lebih positif dari pada Sasuke dan Sakura kepada Naruto dulu.
Hal pertama yang Shikamaru perhatikan adalah postur tubuh Naruto, dulu Naruto berjalan dengan sedikit melompat-lompat kecil dan tangannya biasa ia letakkan di belakang kepalanya ataupun bergerak-gerak karena ia tidak bisa diam, sekarang Naruto berdiri dengan tegap dan berjalan dengan tenang sedangkan sebelah tangannya memeluk bunga yang ia bawa dan sebelah lagi ia kantungkan di kantung celananya.
Hal kedua yang Shikamaru perhatikan adalah ekspresi Naruto, dulu Naruto sangat mudah di tebak dan ekspresinya sudah seperti buku yang terbuka dan bisa di baca oleh siapapun, sekarang yang ia lihat adalah ekspresi orang dewasa—ekspresi yang terlihat tidak cocok terlukis di wajah seorang anak berumur dua belas tahun yang biasanya tersenyum sangat lebar dan bertingkah seperti orang bodoh.
Sebenarnya kalau mau di jelaskan apa saja yang Shikamaru perhatikan dan dapatkan maka akan sangatlah panjang namun intinya; Shikamaru melihat begitu banyak kejanggalan di teman lamanya, ia jadi teringat bahwa Naruto pernah menghilang selama 2 hari dan setelah itu ia kembali dalam keadaan menjadi perempuan.
"Whoops! Aku lupa mau membeli obat herbal, aku beli obatnya sebentar ya, kalian duluanlah ke kamar Lee oke?" Naruto melambai ke arah Shikamaru, membangunkannya dari lamunannya, sebelum ia pergi meninggalkan Shikamaru dan Chouji di lorong rumah sakit tanpa menunggu balasan kedua temannya.
"Jadi..." Chouji berjalan mendekat ke arah Shikamaru dan menepuk punggungnya "Bagai mana menurutmu?"
Shikamaru diam sebentar sebelum menghela nafas pendek, ia melanjutkan perjalanannya ke ruangan Lee bersama dengan Chouji "Terlalu banyak keanehan dan sangat menyusahkan"
Gaara tidak tahu mau berbicara apa, di depannya berdiri gadis berambut kuning yang kemarin ia coba kabur dari, karena sejujurnya sampai sekarang ia tidak tahu harus apa bila berhadapan dengan gadis tersebut, terlebih lagi setiap kali ia berhadapan dengan sang gadis, Shukaku jadi tidak bisa diam dan ia jadi sakit kepala karenanya.
Namun keberuntungannya sedang buruk sekarang, ia hanya berniat untuk membunuh musuhnya di ujian tahap kedua karena ia punya harga diri untuk di pertahankan; ia terkenal dengan tidak pernah memberikan ampun dan selalu membunuh musuhnya dan ia ingin mempertahankan predikat tersebut.
Dewi keberuntungan namun tidak ada di sisinya, ia tertangkap basah di saat ingin menyelinap ke ruangan milik musuhnya sebelumnya dan kini sang gadis berambut kuning yang ia ingat bernama Naruto berhadap-hadapan dengannya dan Shukaku jadi tidak bisa diam lagi, great.
"Boleh aku tahu mengapa kau ada di rumah sakit ini?" Naruto memasang ekspresi datar dan melipat kedua tangannya di depan dadanya, ia menatap lekat-lekat sahabatnya (dulu), ia bisa melihat dengan jelas di mata Gaara bahwa ia sedang di kendalikan oleh hawa nafsu membunuh Shukaku dan ia harus menahan diri untuk tidak memberikan tatapan iba dan penuh pengertian kepada sang Jinchuriki.
"...Bukan urusanmu" Gaara membuang mukanya dan menggretakkan giginya, Shukaku jadi semakin agresif dan ia memiliki perasaan ingin secepatnya membunuh musuhnya atau setidaknya melihat darah yang bertumpahan di mana-mana, ia merasa kewarasannya mulai berkurang dengan sangat cepat.
"Hmm" Naruto hanya menatap tajam Gaara, jelas tidak mempercayai apa yang Gaara katakan, ia tidak merasa takut ataupun mundur di saat ia melihat gumpalan pasir mulai keluar dari penahan pasir yang Gaara bawa dan seperti menyelimuti sang Jinchuriki dari Shukaku "Sepertinya apa yang ingin kau lakukan ada urusannya denganku"
Gaara mendesis dengan keras, urat nadi mulai terlihat di keningnya dan ia melirik tajam Naruto, matanya sudah tidak fokus lagi dan tubuhnya sedikit bergetar "Jangan ikut campur"
"Kau mau aku menetralisirnya lagi?" Indra yang ada di samping Naruto dan sedari tadi diam saja dan menonton bersama Ashura akhirnya angkat bicara, matanya yang berwarna hitam kelam menatap kosong sang Jinchuriki dari Shukaku dengan bosan; baginya mengendalikan sang Jinchuriki semudah membalik telapak tangan.
Naruto hanya menggeleng pelan dan kini sebuah senyuman kecil terlukis di wajahnya "Sepertinya tidak bisa karena orang yang ingin kau temui adalah sahabatku"
Naruto dengan sangat mudah menangkis serangan pasir yang mencoba membunuhnya dari Gaara menggunakan tangannya yang di aliri chakra milik Kurama, ia membuat tangannya di selimuti chakra berwarna merah dan berbentuk seperti cakar sehingga membuat Gaara tersentak kaget dan terdiam.
'KYUUUBIIII! TERKUTUK KAU!' Gaara langsung memegang kepalanya, suara sukaku berdengung dengan sangat kencang di kepalanya dan mengakibatkan dirinya mendapatkan sakit kepala berlebihan.
"Hei, tenanglah" Naruto langsung berjalan mendekati Gaara dan mencoba meraih sahabat lamanya, namun lagi-lagi ia harus melompat menjauh dari pasir yang tiba-tiba saja mencoba melukainya lagi "Shukaku...!"
"Uggh..." Gaara menarik rambutnya untuk menahan rasa sakit seperti kepalanya di tusuk beratus-ratus jarum.
'Ck, dasar rakun keras kepala!' Kurama mendesis dengan keras, ia menggretakkan giginya sebelum pelan-pelan mengalirkan chakra miliknya ke tubuh Naruto untuk membuat pertahanan dari pasir serangan Shukaku 'Kit, rakun sialan itu memberontak karena merasakan keberadaanku, kau harus menetralisirnya secepatnya karena aku menyadari guru dari bocah berambut mangkuk itu ada di rumah sakit ini juga'
Naruto menggigit bawah bibirnya, ia merasa sedikit kesal dengan dirinya sendiri karena malah membuat sahabatnya kesakitan, ia hanya ingin menghentikan Gaara dan menyelamatkan temannya, namun hasilnya malah berantakan seperti ini; andai saja Shukaku tidak sekeras kepala ini dan andai saja Shukaku tidak bisa memanipulasi Gaara separah ini, setidaknya ia yakin ia bisa bernegosiasi dengan Gaara.
Namun nasi sudah menjadi bubur, ia tidak boleh menarik perhatian dari siapapun, apa lagi dengan seorang guru seperti Gai, karena Naruto tahu bahwa Gai akan bercerita kepada Kakashi dan pasti nanti akan terdengar oleh kedua teman sekelompoknya lalu akan jadi masalah besar yang bisa-bisa menyeret juga Sandaime dan Naruto tidak mau hal itu terjadi.
"Indra..." Naruto berbisik pelan, ia tidak ada pilihan lain "Pasang genjutsu dan pastikan ia kembali dengan selamat"
Indra tidak perlu di beri tahu dua kali dan Ashura langsung mengambil seperempat chakra Naruto yang langsung Indra gunakan untuk memasang genjutsu kepada Gaara.
"Maafkan aku Gaara..." Naruto berbisik dengan pelan, ia hanya bisa menatap iba Gaara yang sedang di bawah pengaruh genjutsu milik Indra karena ia tidak bisa melakukan apapun untuk membantu Gaara untuk sementara.
Sebenarnya ia bisa saja membetulkan segel milik Gaara dan membuat Shukaku terkunci seperti Kurama dulu namun ia dan wadah Biiju lainnya memiliki rencana tersendiri dan ia tidak ada pilihan lain selain membiarkan Gaara di kendalikan oleh Shukaku untuk sementara, namun Naruto berjanji bahwa ia akan meminta maaf sebesar-besarnya dan melakukan apapun untuk membantu Gaara nanti setelah rencana mereka berhasil di jalankan.
Ashura menepuk pundak Naruto dan memberikannya senyuman kecil "Tenang lah, jangan terlalu down begitu"
'Jangan memasang wajah seperti itu kit' Kurama menepuk kepala Naruto, ia tahu bahwa wadahnya yang satu ini mulai lagi mengeluarkan hawa tidak enak dan merasa seperti semua yang terjadi adalah salahnya; lagi-lagi menyalahkan dirinya sendiri terhadap sesuatu yang jelas-jelas bukan salahnya.
Naruto hanya menghela nafas pendek dan menonton Gaara yang di kendalikan oleh Indra pergi meninggalkan dirinya.
"Jangan terlalu banyak pikiran Naruto, besok ujian tahap terakhir akan di mulai dan aku yakin kau memiliki rencana dam tugas yang harus kau kerjakan" Indra menggeleng pelan, ia tidak suka melihat Naruto memasang ekspresi layaknya semua ini adalah salahnya, ia berjanji nanti akan melatih Naruto untuk mengendalikan emosinya dan juga mengajarkan kepada Naruto cara menjadi lebih kuat; bukan kuat secara fisik namun secara mental.
Naruto mengangguk dan berjalan meninggalkan atap rumah sakit untuk kembali ke ruangan di mana Lee sedang di rawat, ia belum sempat memberikan bunga yang ia beli untuk Lee dan menjenguknya, Shikamaru dan Chouji juga pasti sedang menunggunya.
Ya, besok adalah hari di mana ujian tahap terakhir akan di selenggarakan, namun dalam lubuk hati yang terdalam; Naruto punya perasaan yang kurang enak, ia tidak tahu mengapa tapi ia jadi sangat ingin menemui Sandaime seusai menjenguk Lee.
"Shinigami-sama, boleh aku tahu mengapa kau memperbolehkan aku mengirim kedua anakku berada di sisi Naruto di saat kau akan memberi hutang yang harus di lunaskan kepada siapapun yang membuat kesepakatan kepadamu?" Sage of The Six Path duduk dengan tenang di depan sang dewa kematian, ia menatap lekat-lekat sang dewa yang membelakangi dirinya.
Sang dewa kematian diam saja, ia hanya menatap sebuah cermin yang memperlihatkan seorang gadis berambut kuning yang sedang bersama kedua anak dari sang pertapa yang bertanya kepadanya.
"Semua memang ada bayarannya" Setelah diam cukup lama, akhirnya sang dewa kematian angkat bicara walau ia tidak membalik tubuhnya agar bisa berhadap-hadapan dengan orang yang ia ajak berbicara "Namun keseimbangan dunia tetap harus di jaga"
Sang Sage of The Six Path terdiam, ia menutup matanya dan mencoba mencari makna yang paling terdalam dari apa yang baru saja sang dewa kematian katakan.
"Bukankah dengan adanya kedua anakku di dunia itu, keseimbangan dunia malah akan retak?" Sang pertapa berkata dengan pelan, ia menghawatirkan kedua anaknya.
"Kebalikannya, dengan adanya kedua anakmu maka dunia ini akan menjadi seimbang" Sang dewa kematian akhirnya membalik tubuhnya dan berhadap-hadapan dengan sang pertapa "Nanti kau akan mengerti maksudku"
Sang pertapa diam saja dan mengangguk, kalau itu yang sang dewa kematian inginkan maka ia tidak mencoba menghentikannya, bila memang kedua anaknya di butuhkan olehnya maka ia akan patuh dan membiarkan anaknya berkerja.
To Be Continue
Omake
Naruto's Misadventures, Date (?) With Ashura and Indra
Naruto entah mengapa sedikit menyesali keputusannya untuk menjanjikan Ashura dan Indra bahwa ia akan mengajak mereka ke tempat pemandian air panas di mana mereka pertama kali bertemu dengan Jiraiya. Selain kalimat di atas yang sedikit terdengar ganjil apa lagi mengingat bahwa dirinya kini sudah menjadi perempuan, ia juga menghawatirkan para penghuni tempat pemandian air panas tersebut.
Mengapa? Kembali lagi ke kenyataan bahwa dirinya kini sudah menjadi perempuan; ia mau tidak mau harus mandi di tempat pemandian untuk wanita, tadinya ia berfikir masalah akan selesai bila ia menggunakan henge atau semacamnya untuk mengubah dirinya menjadi laki-laki namun ia teringat kembali dengan peraturan tempat pemandian air panas tersebut: di larang menggunakan jutsu untuk mengubah kelamin walau hanya sementara.
Terdengar bodoh namun peraturan itu masuk akal, terlebih lagi bila pengunjung tempat pemandian tersebut adalah seorang ninja yang ada kemunkinan memiliki pikiran yang kurang bersih; contoh paling mudah juga sudah ada di depan mata dan peraturan tersebut tidak menghentikan dirinya untuk mengintip tempat pemandian air panas khusus perempuan.
Hal selanjutnya yang membuatnya menghawatirkan penghuni tempat pemandian air panas tersebut adalah Ashura dan Indra—salah deh hanya Ashura, ia tidak mau lepas dari dirinya dan mengatakan bahwa lebih menyenangkan agar mereka mandi bersama—
BLETAK.
Oh tidak jadi deh, Ashura sudah di berikan bogem mentah oleh sang kakak yang sepertinya sudah tidak sabaran lagi dan lelah melihat sifat adiknya yang terlalu nempel dengan Naruto, terlebih lagi ini bukan pertama kalinya ia mencoba mengajak Naruto mandi bersama dan sekali lagi Ia ingatkan: dua laki-laki mandi bersama juga bukan hal yang normal! Bayangkan berapa puluh kaum hawa yang akan mati karena kehabisan darah memikirkannya!
Naruto sendiri sebenarnya tidak keberatan—
BLETAK.
Dan ia langsung mendapat bogem mentah juga dari Indra.
Dalam hati Indra berjanji, ia akan mengajari Naruto tatakrama menjadi wanita yang baik dan benar, sekeras apapun Naruto menolaknya; ia adalah wanita sekarang dan Indra tidak mau ia terlihat seperti wanita yang tidak tahu apa-apa dan nanti bisa saja ada orang yang mencoba mencari kesempatan dalam kesempitan.
Jadi di sinilah Naruto, berdiri di depan pintu masuk ruang ganti dan pemandian untuk wanita sambil memeluk dengan erat baskom berisi peralatan mandi dan handuk miliknya dengan Indra dan Ashura sudah masuk ke dalam tempat ganti dan pemandian untuk laki-laki.
'Apa yang kau ragukan hah? Bukannya kau harusnya senang? Dulu kau suka sekali mencoba mengintip pemandian ini... dasar mesum' Kurama terkekeh pelan dan menutup mulutnya dengan tangannya agar ia tidak tertawa dengan sangat keras karena serius; ia menganggap apa yang sedang terjadi sekarang adalah sangat lucu!
'Be-berisik! Aku bukannya malu dan... entah kenapa aku tidak bisa jadi senang! Sial! Dan aku juga takut... kau tahu...' Kurama tidak bisa menahan dirinya lagi, ia tertawa sangat keras mendengar apa yang Naruto katakan dan Naruto hanya bisa berdiri di depan Kurama membatu dan wajah serta tubuhnya sudah semerah makanan kesukaan Sasuke.
'HAHAHAHAHAHAHAHAH! KAU KEBINGUNGAN KARENA KAU BUKAN 'JANTAN' LAGI DAN SEKARANG 'BETINA' TAPI 'JIWA'MU MASIH LAKI-LAKI!' Kurama sampai memukul-mukul tanah saking menganggap apa yang terjadi sangat lucu.
Naruto langsung masuk ke dalam tempat ganti baju perempuan dengan mata tertutup, namun di saat ia merasakan bahwa penghuni tempat ganti dan pemandian air panas untuk wanita hanya lah dirinya; ia langsung membuka matanya dan melompat-lompat kegirangan 'YEESSS! AKU SENDIRIAAAN! AMAN!'
'Huh, tidak seru' Kurama membuang mukanya dan demi apapun Naruto seperti melihat ia sedang cemberut, dasar; sepertinya sifat isengnya menurun juga ke Kurama.
Naruto memutuskan untuk tidak menghiraukan Kurama dan langsung membuka pakaiannya dan kini ia hanya di balut handuk dan langsung masuk ke tempat pemandian air panas, ia tersenyum melihat pemandian milik perempuan ternyata sama saja dengan pemandian untuk laki-laki.
"Naruuu? Kau sudah masuk—aduh! Kenapa aku di pukul lagi kak?" Suara Ashura bisa terdengar dari sebrang tempat mandinya karena yang memisahkan tempat pemandian perempuan dan laki-laki hanyalah sebuah dinding yang terbuat dari bambu.
Bulir keringat keluar di sisi kepala Naruto dan ia menatap kasihan dinding yang memisahkan dirinya dari kedua penjaganya, ia kasihan dengan Ashura yang terus menerus di pukul oleh kakaknya bila salah berbicara sedikit saja di depannya walau sejujurnya ia masih bingung mengapa Indra marah bila Ashura ingin bersama dengan dirinya.
Kurama hanya memutar bola matanya dengan bosan melihat wadahnya yang sangat tidak peka.
"Jangan di jawab Naruto, di sana munkin memang hanya ada dirimu namun di sini ada orang lain" Kini suara Indra yang terdengar dan Naruto hanya bisa mengangguk walau ia tahu Indra tidak bisa melihat dirinya.
Naruto langsung membersihkan tubuhnya terlebih dahulu sebelum masih ke tempat pemandian air panas dan menghela nafas panjang lalu tersenyum kecil, sudah lama sekali ia tidak berendam di tempat pemandian air panas dan sekarang ia seperti sedang ada di surga.
Sebelum berberapa menit kemudian ia merasakan keberadaan seseorang dan ia membuka matanya yang tadinya tertutup karena menikimati air hangat yang menyelubungi dirinya.
Pemandangan yang ia dapatkan adalah Indra yang mengeluarkan Susan'o miliknya.
"E-eh?" Naruto terlonjak kaget dan menatap tidak percaya Indra yang kini berdiri di depan dinding pembatas dengan hanya handuk yang tergantung di pinggangnya.
"Naruto, lempar baskom di sampingmu ke arah sini" Susan'o milik Indra bergerak mengikuti penggunanya dan Naruto hanya bisa cengo melihat indra sebelum ia dengan ragu-ragu melakukan apa yang Indra suruh.
BLETAK
"ADUH! GAWAT, KITA KETAHUAN!" Ternyata ada yang mencoba mengintip dirinya yang sedang mandi.
Naruto hanya menggeleng dengan pelan sebelum ia bangun dari posisinya yang duduk untuk merenggangkan tubuhnya, namun matanya tidak sengaja melihat ke arah Indra yang sedang menghentikan Susan'onya dan sepertinya ingin kembali ke tempat pemandian untuk laki-laki—lebih tepatnya ia melihat perut Indra.
Sebelah matanya berkedut dan ia mengigit kukunya dengan tidak senang "Ini tidak adil!"
Indra berhenti dan menaikkan sebelah alisnya, ia menatap bingung Naruto—dan tentu saja matanya hanya fokus ke wajah Naruto tanpa mencoba melirik atau melihat ke bawah sama sekali.
Naruto menghentakkan kakinya dan menunjuk perut Indra "Tidak adil! Dulu badanku tidak sebagus itu walau aku latihan seberat apapun! Dan apa itu! Sudah seperti roti sobek!"
Suara tawa Kurama langsung menggelegar di kepala Naruto.
Kalau saja ia tidak bisa mengendalikan diri, ia sudah terjungkal ke belakang dengan efek suara 'GUBRAK' menemaninya namun ia adalah seorang Uchiha dan Uchiha tidak pernah melakukan hal bodoh seperti itu walau, jujur, ia sangat ingin melakukannya.
"Lama sekali kak! Jangan-jangan kakak ingin mandi juga dengan Naruto? Tidak adil! Tadi kakak yang bilang aku tidak boleh!' Kini Ashura juga muncul dengan menembus dinding yang memisahkan tempat pemandian laki-laki dengan perempuan.
Naruto terperanjat, ia jadi semakin frustasi melihat Ashura yang juga hanya berbalut handuk yang tergantung di pinggangnya, ia hanya bisa menarik-narik rambutnya karena frustasi "Tidak adiiiill!"
"Apa yang tidak a...dil..." Ashura menengok ke arah Naruto dan wajahnya pelan-pelan memerah sebelum ia langsung menghilang entah ke mana.
'Oh? Akhirnya ia sadar juga, dasar bodoh' Indra memutar bola matanya dengan bosan, akhirnya adiknya akan berhenti mengira bahwa ia dan Naruto mandi bersama adalah hal normal dan juga ia sedikit menahan tawa karena, serius, ia baru tahu seberapa polosnya sang adik, lihat perempuan—terlebih lagi yang ia lihat sebenarnya masih kecil—yang berpakaian minim saja sudah malu begitu, saat Naruto pakai Oiroke juga, bikin ia ingin tertawa saja.
Namun indra masih tidak tahu mengapa Naruto terlihat frustasi dan marah-marah sendiri sekarang, tadi ia juga sempat bilang 'tidak adil' entah mengapa, kenapa ya sang pemuda berubah menjadi gadis—
Eh, tunggu dulu
Pemuda berubah gadis...
Pemuda...
Indra melirik tubuhnya sebentar sebelum lagi-lagi ia harus menahan tawa dan keinginan untuk terjungkal ke belakang.
Naruto iri dengan tubuhnya yang terbentuk.
Naruto bahkan mengatakan perutnya sudah seperti roti sobek.
Ia ingin tertawa dengan sangat keras hingga guling-guling di lantai namun ia adalah Uchiha dan Uchiha tidak melakukan hal-hal seperti itu.
Ia tidak mau OOC.
Jadi ia hanya memasang ekspresi datar dan berjalan meninggalkan Naruto yang stress sendiri untuk kembali ke tempat pemandian air panas untuk laki-laki.
Ia menemukan adiknya kini sudah kembali duduk di tempatnya sebelumnya dengan kedua tangan menutupi wajahnya yang sudah semerah tomat sambil berbisik 'tak akan ku ulangi lagi' berkali-kali seperti mantra.
Di atas sana, Hagoromo Ootsuki hanya bisa mempertemukan tangannya dengan jidatnya melihat kelakuan kedua anaknya.
Sedangkan Minato sedang menangis tersedu-sedu melihat putra yang kini sudah menjadi putri semata wayangnya stress sendiri karena dulu (di saat ia masih menjadi laki-laki) tubuhnya tidak sebagus Indra, sedangkan sang istri sedang berbicara sendiri mengenai tubuh suaminya yang tidak kalah bagus dan membuat Minato menjadi mirip kepiting rebus.
Keesokan harinya Indra dan Ashura di beri silent treatment oleh Naruto yang masih iri kepada mereka.
Dan Kurama masih tertawa hingga sekarang.
!Review Reply!
rheafica: Hahaha, tenang; sebentar lagi juga di kasih tahu kok siapa sebenarnya Kitsune itu bersamaan dengan munculnya Inu, hahaha dan iya saya sibuk... main game, hahahahha.
Ayuni Yuukinojo: Chapter ini ada hintnya bertebaran loh, semoga saja anda suka, hahahaha pair yang lumayan bagus ya.
uzumaki megami: Munkin? Dua 'pengawal' Naruto itu memang punya banyak rahasia dan agenda tersendiri.
uchiha hasan: Banyak kok yang suka dengan Naruto dan Gaara... sulit di mengerti, masa lalunya mirip (kalau tidak lebih buruk) dari Naruto jadi emosinya tidak stabil.
kimykimy: Sang rubah berukuran jumbo itu memang sudah mulai melunak dan jadi teman baik Naruto; jadi cukup menyenangkan juga menulis interaksi mereka berdua.
Guest: Andaikata ada mesin yang menulis apapun yang kita pikirkan... menulis jadi semakin mudah.. hahahha, mari kita bermimpi.
Silent Reader-san: Selamat berjuang dan saya yakin novel anda pasti bagus. Saya juga jadi suka melototin buku kamus bahasa indonesia. Bagian tengah ya, hahahah, namanya juga barus selesai keluar dari Writer Block. Terimakasih atas doanya.
ajidarkangle: Bisa di bilang mirip tapi tak sama.
kaya: Tamat saja belum, sudah minta sequel... hahahha
Samuel903: Ashura sama Indra masih punya banyak rahasia jadi bersabar lah. Yang sabar ya... kita baper bersama. Penderitaan Naruto kalau soal itu memang menyenangkan di tulis, saya saja sampai ketagihan (?) *author di rasengan*. Munkin ya munkin tidak.
Dewi15: Hintnya bertaburan loh di chapter ini, hahahhaa.
nina: Kalau anda mau juga boleh, hahaha.
Azarya senju: Semua pair akan mendapat ending, tidak akan ada yang tidak di pakai.
Sora Mizuhito: Sayangnya tidak bisa memberi link atau semacamnya di sini dan saya juga menontonnya dari Facebook jadi... maaf tapi anda bisa membaca chapternya di situs manga manapun! Kalau yg versi animenya... saya kurang tahu.
Yak selesai! Bisa di bilang chapter ini adalah Chapter filler, atau kalau biasa ada di anime adalah episode yang tidak ada di manga.
Chapter ini saya buat sebenarnya untuk memperlihatkan sedikit mengenai Naruto dan perubahannya dari pandangan orang lain, karena secara tidak langsung perubahan Naruto menyebabkan butterfly dan domino effect.
Oh, dan juga chapter ini sedikit menjelaskan (atau malah bikin bingung?) mengenai Indra dan Ashura.
Saya juga ingin memberi tahu bahwa ada postingan baru di Blog saya berisi Fan Art dari salah satu cerita saya: Screw the rule! Marry me! (Warning: CRACK PAIRING)
Sekian dan terimakasih! saya harap pembaca menyukai chapter ini!
Review please
