Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Warning: Mengandung Gender Bender, Semi-Au, Time Travel, Miss Typoo, dll
!Author Notes!
Usaha Author untuk up-date seminggu sekali... gagal total, hahahah, selain karena Author yang punya banyak tugas karena smester baru dan smester depan sudah harus magang, saya juga menyadari gaya penulisan saya yang mulai berkurang
Entah ya, saya membanding-bandingkan chapter yang sebelumnya dengan chapter yang baru dan saya kurang menyukai perubahan yang saya alami, namun sayangnya saya masil harus fokus ke kuliah untuk mencoba memperbaikinya.
Seperti biasa, karakter yang akan memiliki ending adalah: Kakashi, Sasuke, Itachi, Gaara, dan Kurama
Saya ingatkan sekali lagi karena banyak yang masih kurang mengerti, di atas tertulis AKAN maka tidak akan ada yang tidak mendapatkan ending dan juga cerita ini OPEN-BRANCHED ENDING dalam artian endingnya tidak hanya akan ada satu.
Sekian dan selamat menikmati chapter terbaru To The Past
Sarutobi Hiruzen, sang Hokage ketiga yang biasa di panggil Sandaime ini hanya bisa menatap penuh kasih sayang bercampur sedih ke arah gadis berambut kuning cerah yang ada di depannya, sang gadis yang ia perhatikan tidak mau beranjak dari tempatnya duduk dan menggenggam jubah yang ia kenakan.
Naruto Uzumaki adalah nama dari gadis berambut kuning tersebut, ia tiba-tiba saja datang ke rumahnya pagi-pagi dan duduk menunggu hingga ia mau berangkat ke tempat ujian tahap ketiga dan di saat ia membuka pintu rumahnya; ia langsung di sambut oleh sang gadis yang memeluknya dengan sangat erat dan tidak mau melepas pelukannya hingga dirinya menawarkan untuk berangkat bersama, barulah Naruto melepaskan pelukannya dan kali ini menggandengnya untuk berjalan bersama.
Di perjalanan, Naruto terus menerus menyerangnya dengan begitu banyak pertanyaan, dari menanyakan kesehatannya hingga hal-hal aneh seperti ia makan apa kemarin dan apakah ia minum-minum akhir-akhir ini. Sang Hokage yang terkenal dengan kepitarannya hingga ia di panggil dengan sebutan professor hanya tersenyum kecil dan menjawab pertanyaannya dengan sabar, ia tidak bisa menyalahkan sang gadis yang sebenarnya adalah laki-laki sebelumnya; walau sang rubah berekor sembilan mengatakan bahwa ingatannya di kunci; ia masih memiliki perasaan tidak enak dan menyadari kejanggalan dari dirinya, bisa di bilang insting seorang cucu? Karena ia merasakan Konohamaru juga akhir-akhir ini bersikap aneh di depannya.
Sandaime memberikan tatapan penuh perasaan bersalah kepada Naruto yang sedang bercerita mengenai latihannya dengan Jiraiya namun tangannya tetap menggenggam tangannya tanpa ada keinginan untuk melepasnya sama sekali, sesampainya mereka di tempat ujian tahap terakhir, Naruto masih tidak mau melepas genggaman tangannya hingga Sandaime mengajaknya ke ruang tunggu miliknya hingga ujian di mulai dan Naruto langsung duduk di depannya namun kali ini ia menggenggam jubahnya.
"Kek... perasaanku masih tidak enak..." Naruto tiba-tiba saja berhenti bercerita, ia meletakkan tangannya di dadanya dengan ekspresi seperti ia sedang kesakitan terlukis di wajahnya, ia merasa seperti jantungnya berdetak sedikit terlalu cepat namun pada waktu yang bersamaan juga seperti sedang di tusuk berkali-kali menggunakan pedang, rasa sakitnya bahkan membuat dirinya ingin menangis, apakah ini yang di namakan phantom pain? Naruto tidak tahu.
Sandaime menggeleng dan menepuk kepala Naruto, ia merasa kasihan melihat murid yang sudah ia anggap cucu sendiri ini kesakitan seperti itu namun apa yang ia bisa lakukan? Ia hanya bisa mencoba menenangkannya, mencoba memberikan semangat kepada sang pemuda berubah gadis calon Hokage di masa depan nanti "Naruto, ingat apa yang aku katakan kepadamu waktu itu?"
Naruto terdiam, ia mengigit bawah bibirnya dan menundukkan kepalanya agar wajahnya tertutupi oleh rambutnya, ia berterimakasih dengan poni rambutnya yang panjang sekarang karena berkat rambutnya; ia bisa menyembunyikan wajahnya sepenuhnya karena ia tidak mau kakeknya melihat dirinya hampir menangis "Iya... aku ingat..."
"Kau punya sang rubah berekor sembilan bersama dengan dirimu sekarang Naruto" Sandaime membelai dengan lembut kepala Naruto, mungkin ia tidak tahu namun di dalam, Kurama tengah melingkari tubuh Naruto dengan satu tangan memeluk sang gadis Uzumaki yang hanya bisa duduk terdiam dan bersender di tubuhnya, ia dan Kurama secara bersamaan mencoba memberikan Naruto semangat dan menenangkannya "Kau juga adalah ninja yang berbakat dan calon Hokage"
"Angkat kepalamu dan hapuslah air matamu, kau adalah ninja dari desa Konoha, dan semua ninja dari Konoha memiliki semangat dan tekad sekuat baja yang selalu di dampingi oleh will of fire" Sandaime tersenyum melihat Naruto mengangkat kepalanya dan menghapus jejak ia hampir menangis dari matanya menggunakan lengan pakaiannya dan menepuk-nepuk pipinya sebelum ia menatap secara langsung dirinya "Nah seperti itu, jadilah ninja yang pantas aku banggakan"
"Kakek... berjanjilah kepadaku..." Naruto menatap lekat-lekat Sandaime, matanya yang berwarna biru cerah terlihat sangat tajam dan membuat Sandaime teringat dengan sang Yondaime Hokage di kala ia sedang sangat serius, lengkap dengan ekspresi serius ala sang Yondaime juga; membuat dirinya merasa sangat tua dan nostalgia "Kakek akan menjaga diri kakek dengan baik..."
'Maafkan aku Naruto...' Sandaime memaksakan sebuah senyum yang lebar dan tertawa pelan "Tentu saja"
Naruto langsung menyadari kejanggalan dari senyuman dan tawa yang di berikan oleh Sandaime namun ia hanya tersenyum lebar untuk menutupinya, ia mengangguk dan memperlihatkan ekspresi puas terhadap jawaban dari Sandaime "Kau berjanji ya kek"
"Kau belum sarapan bukan? Kau tidak mungkin bertarung dengan perut kosong, sayangnya aku tidak bisa menemanimu makan" Sandaime merasa sangat bersalah namun ia tidak punya pilihan lain, ia masih harus mengerjakan berberapa berkas-berkas untuk ujian tahap terakhir ini karena ia mendapatkan berita bahwa Hayate Gecko tidak bisa hadir menjadi wasit karena masuk rumah sakit dan ia harus mencari penggantinya sementara.
"Tidak apa-apa, aku bawa bekal sendiri kok!" Naruto mengeluarkan sebuah kotak yang Sandaime tahu pasti berisi bekal yang Naruto bilang sebelum ia menyimpannya kembali "Namun aku belum lapar, jadi aku akan memakannya nanti"
"Sandaime-sama, ada ANBU yang ingin melapor kepadamu" Tiba-tiba saja di dalam ruangan muncul seorang ANBU mengenakan topeng gagak yang memberikan hormat kepada sang Hokage, kepalanya tertunduk namun ia tahu Naruto berada di dalam ruangan tersebut dan secara tidak langsung menyuruh Naruto meninggalkan Sandaime.
"Kalau begitu aku pergi dulu kek, nanti aku akan datang lagi" Naruto menyeringai lebar sebelum berjalan keluar meninggalkan ruangan tersebut dengan sebelah tangan ia kantungkan di kantung pakaiannya dan sebelah lagi merogoh sesuatu di dalam tasnya, ia tersenyum kepada ANBU bertopeng rubah yang berdiri di luar sebelum menutup pintu di belakangnya.
Sandaime tersenyum kecil melihat Naruto kelihatannya sudah kembali tenang dan kini ekspresi serius menghiasi wajahnya di saat ia mengalihkan perhatiannya kepada sang ANBU bertopeng gagak "Suruh masuk ANBU tersebut"
Dalam waktu sekejap, seorang ANBU bertopeng kucing muncul dan memberi hormat kepadanya "Neko di sini untuk memberi informasi, Sandaime-sama"
"Silakan" Sandaime mengangguk, ia tahu siapa ANBU yang berdiri di depannya, ia adalah mantan anggota ANBU yang di pimpin oleh Kakashi dulu di saat ia menjadi kapten ANBU dan juga seseorang yang dekat dengan Gecko Hayate; ia sudah tahu informasi yang ia akan berikan pasti ada sangkut-pautnya dengan keadaan abnormal dari Hayate berberapa hari yang lalu.
"Setelah di telusuri lebih lanjut dan mencari saksi mata, kami menemukan senjata yang kemungkinan besar adalah alat yang di gunakan untuk membuat Hayate-san koma dan setelah di telusuri lebih lanjut... senjata tersebut memiliki motif yang cukup unik" Sang ANBU bertopeng kucing mangangguk dan langsung memberikan informasi yang ia miliki kepada Sandaime, suaranya sedikit tertahan di saat ia menyebut nama Hayate sehingga membuat Sandaime menyadari bahwa sang korban kemungkinan besar cukup dekat dengan sang ANBU "Motif yang ada di pedang itu adalah... motif ular"
Sandaime berkedip-kedip berberapa kali mendengar informasi yang di berikan oleh sang ANBU sebelum sebuah sekenario terbentuk di kepalanya, sekali lagi di ingatkan bahwa dirinya di juluki professor bukan hanya sebagai guyonan, ia menyadari kejanggalan dari cerita sang ANBU dan kini otaknya yang encer berkerja dengan sangat cepat memikirkan segala macam kemungkinan dari sekenario yang terbentuk di kepalanya sebelum wajah seorang gadis berambut kuning muncul di benaknya.
'Ayo kita buat kambing hitam!' bahkan suara sang gadis tiba-tiba saja muncul di kepalanya dan ia harus menahan senyum yang terlukis di wajahnya walau ia sedikit merasa aneh dengan apa yang Naruto lakukan, mengapa ia sampai-sampai membuat Hayate koma? Bukannya itu sedikit keterlaluan?
Tidak, Sandaime tahu sifat Naruto dan ia tidak mungkin menyakiti seseorang hanya karena ingin membuat kambing hitam, kalau sang rubah berekor sembilan tentu saja tidak akan berfikir dua kali untuk melakukannya namun Sandaime yakin bahwa Naruto pasti akan menetralisir pikiran sang rubah tersebut, karena Sandaime sendiri melihat dengan mata kepalanya sendiri betapa sayangnya sang rubah terhadap Naruto, jadi pasti ada penjelasan lain tentang komanya Hayate.
'Kau akan mati di tangan muridmu sendiri, Konohagakure akan di serang oleh Otogakure yang berkerja sama dengan Sunagakure' ingatannya mengenai sang rubah yang bercerita mengenai kronologi kematiannya langsung muncul di pikirannya dan kini ia mengerti, Naruto tidak membuat kambing hitam; ia hanya memberikan bukti yang cukup untuk menaruh kecurigaan terhadap sang pelaku sebenarnya.
Sandaime mengenal muridnya, ia tahu bahwa muridnya yang paling pintar tersebut tidak akan segan-segan menggunakan seseorang asalkan keinginannya terpenuhi, ia akan melakukan apapun termasuk mengorbankan seseorang untuk memenuhi rencananya, tidak perduli apa yang orang lain katakan, muridnya yang satu itu memang egois dan kejam dan Sandaime tahu itu.
"Perketat pertahanan desa, terlebih lagi di pintu masuk dan keluar desa" Untuk sementara Sandaime akan melanjutkan (semoga saja benar) rencana Naruto, kalau memang Naruto menginginkan muridnya tertangkap maka ia tidak akan mengeluh atau mencoba menghentikannya, ia sudah punya banyak penyesalan dan salah satunya adalah membiarkan muridnya kabur dulu di saat ia seharusnya bisa menangkapnya dan ia tidak ingin mengulanginya lagi "Juga kita harus menunggu Hayate bangun dari koma untuk mendapatkan informasi darinya"
"Kalian berdua, pergilah melanjutkan tugas masing-masing" kedua ANBU yang di maksud oleh Sandaime langsung menghilang untuk menjalankan tugas mereka, meninggalkan Sandaime sendirian di ruangan peristirahatannya sebelum ujian tahap ketiga di mulai, ia menghela nafas panjang sebelum bangun dari tempat duduknya untuk pergi menemui Kazekage.
'Berjuanglah Naruto... dan... selamat tinggal...'
Naruto menutup pintu di belakangnya dan dengan diam-diam memasang segel agar tidak ada yang bisa mendengar pembicaraan Sandaime di dalam sebelum ia menangkap sesosok yang ia kenali dan ia tersenyum lebar.
"Kitsune!" Naruto langsung berjalan menghampiri sang ANBU yang hanya mengangguk sebagai salam, Naruto mengeluarkan buku kecil yang tadi sempat ia coba cari dalam tasnya sebelum ia membukanya dan memperlihatkan isi buku tersebut kepada sang ANBU "Lihat! Kemarin aku ikut tes psikologi dan hasilnya sangat memuaskan!"
Wajah sang ANBU memang tertutup oleh topeng namun Naruto tahu bahwa ia sedang tersenyum senang, bagai mana tidak, dulu ia dan rekannya di kejutkan oleh hasil tes psikologi Naruto yang notabe masih berumur 7 tahun di katakan mengidap ADHD dan Autisme, walau mereka berdua tahu bahwa orang yang memberikan tes psikologi Naruto pasti berbuat curang.
"Selamat..." Kitsune menepuk kepala Naruto yang sudah tersenyum dengan sangat lebar, jelas-jelas menikmati pujian yang ia dapat dari penjaganya dulu.
Naruto merasa ia harus berterimakasih kepada Jiraiya yang mengajaknya untuk mengambil tes psikologi demi mendapatkan data yang sebenarnya dan bukan data bohongan yang Naruto miliki dulu, ia bahkan juga ingin membawa Naruto melakukan tes kesehatan dan tes ulang untuk membetulkan data mengenai dirinya yang ada di berkas milik Hokage karena ia yakin bahwa dulu di akademi juga guru Naruto sebelum Iruka pasti berbuat curang dan menulis banyak kebohongan di dalam data miliknya.
"Ah, aku ada satu permintaan kepadamu!" Naruto menyimpan hasil tes psikologinya kembali di dalam tasnya sebelum ia memberikan Kitsune tatapan serius bercampur memohon, ia mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan omongannya "Tolong... jaga Sandaime-jiji"
Kitsune menaikkan sebelah alisnya di balik topengnya, ia mempertanyakan alasan mengapa Naruto menyuruhnya menjaga sang Sandaime padalhal sudah jelas bahwa tugasnya sebagai ANBU adalah menjaga sang Hokage, terlebih lagi ia adalah ANBU yang berkerja secara langsung dengan sang Sandaime sejak lama sekali dan juga ia mendeteksi perasaan sedih bercampur harap-harap cemas dari nada suara Naruto, seperti ia sangat takut sang Sandaime akan benar-benar celaka.
"Sudah menjadi tugasku—" Kitsune terdiam sebentar, ia tidak menyelesaikan omongannya di saat ia melihat ekspresi serius Naruto, ia tahu Naruto semenjak lama sekali, ia tahu sifat asli dari sang Jinchuriki dari rubah berekor sembilan di depannya; Naruto sedang menutupi segala kecemasannya dan ketakutannya dengan berlagak serius, seperti dulu ia menyembunyikan dan menutupi segala kesedihan dan kesepiannya dengan senyuman lebar "—Tentu saja"
Naruto tersenyum lebar dan memberikan sang ANBU pelukan sebentar sebelum ia berlari untuk pergi ke tempat ia akan menunggu gilirannya untuk mengikuti ujian tahap terakhir "Terimakasih Taichou!"
Kitsune hanya diam membantu karena sejujurnya, ia tidak pernah di peluk dan terlebih lagi yang memeluknya adalah anak (kecil) perempuan, karena dulu yang biasa mendapatkan pelukan adalah Inu, bukan dirinya, bahkan di saat Naruto masih laki-laki dan masih kecil, ia memang sangat terbuka dengan ekspresinya dan bila ia senang maka ia akan memeluk seseorang tanpa berfikir dua kali dan biasanya yang mendapat pelukan adalah Inu, bukan dirinya.
Ia membatu sebentar hingga ia akhirnya sadar dan berhasil mengendalikan dirinya kembali dan pada saat yang bersamaan ia menyadari sesuatu yang ia anggap cukup aneh.
"Tadi Naruto memanggilku... kapten?" Entah mengapa ia senang mendengar Naruto memanggilnya seperti itu.
Sedangkan sang pemuda berubah gadis yang tadi memeluk Kitsune sudah berada di tempat menonton khusus para peserta ujian tahap ketiga dan duduk dengan tenang di bangku yang sudah di sediakan sambil memakan bekalnya, ia memperhatikan sekelilingnya dengan tatapan nostalgia, semuanya masih sama seperti di ingatannya dan ia menyukainya karena dulu di saat perang; tempat ini hancur karena Biiju dama milik Juubi.
"Jadi, setelah ujian ini selesai maka pemenangnya akan menjadi... tingkatan yang lebih atas?" Ashura yang berdiri di samping Naruto dan menyenderkan badannya ke dinding di belakangnya menaikkan sebelah alisnya, ia masih kurang paham dengan tingkatan yang di berlakukan di masa ini karena dulu, tidak ada yang namanya tingkatan ninja.
"Chunin, sekarang Naruto sedang menjadi Genin dan setelah ujian ini maka ia akan menjadi Chunin, lalu setelah itu barulah ia bisa menjadi Jounin" Indra yang otaknya lebih encer dan juga lebih rajin membaca dari pada Ashura menjelaskan, ia melipat kedua tangannya dan menatap arena pertarungan sebentar sebelum melirik Naruto "Walau pada kenyataannya, kau tidak pantas berada di ujian ini"
"Yah mau bagai mana lagi" Naruto hanya nyengir, apa yang di katakan Indra sama dengan apa yang di katakan oleh Sandaime, ia memang tidak pantas berada di ujian ini karena sejujurnya; ia sudah satu level dengan Kage, selain karena ia adalah Jinchuriki yang bisa mengendalikan Biijunya, ia juga memiliki kapasitas chakra yang sangat besar dan bisa di bilang tidak normal, bahkan tanpa menghitung chakra milik Kurama, semua itu berkat dirinya yang merupakan reinkarnasi dari Ashura.
'Kau sudah tahu apa saja yang akan kau lakukan untuk ujian ini bukan? aku yakin gurita sialan itu sudah menunggu aba-aba' Naruto memutar bola matanya mendengar panggilan Bee dan Gyuki dari Kurama, ia jadi semakin bingung mencari cara untuk membuat Kurama menurunkan sedikit egonya yang sudah sekarang lebih tinggi dari langit mentang-mentang ia punya ingatan dari masa depan 'Ck, jangan memberikan aku pandangan seperti itu, fokus saja ke misi utamamu!'
"Adakah di antara kalian berdua yang tahu bagai mana cara menurunkan ego seekor rubah berekor sembilang yang lebih tinggi dari langit?" Naruto cemberut, ia memang memiliki misi tersendiri namun ia masih ingin Kurama bisa berbaikan dengan Shukaku, ayolah! Mereka seharusnya bersifat seperti kakak beradik! Walau bagai manapun juga; Sasuke dan Itachi dulu hubungannya sangat baik, sama seperti Ashura dan Indra.
'Hei hei hei! Apa-apaan kau tiba-tiba mengatakan hal bodoh seperti itu' Kurama mendesis dengan keras dan menatap tajam Naruto, ia tidak menganggap lucu apa yang baru saja Naruto katakan dan—oh, apakah ini balas dendam Naruto yang sudah lelah di tertawakan terus olehnya? Sial sekali.
"Rubah ekor sembilan? Kyuubi maksudmu?" Ashura menaikkan sebelah alisnya dan melirik perut Naruto sebelum mengangkat bahunya sebagai tanpa bahwa ia tidak tahu "Ayah tidak pernah bercerita mengenai para Biiju"
"Bukan berarti ayah tidak pernah menulis di bukunya" Indra mendengus melihat reaksi adiknya, benar dugaanya bahwa sanga adik tidak akan tahu mengenai para Biiju karena jarang membaca buku namun tidak seperti Ashura, Indra suka memperkaya pengetahuannya dan ia adalah tipe orang yang sekalinya penasaran maka ia akan mencari tahu sampai rasa penasarannya terpenuhi; memang benar Hagoromo tidak pernah bercerita mengenai Biiju namun ia pernah sekali menyinggung ciptaannya tersebut dan Indra tentu saja penasaran dengan mereka "Sang rubah berekor sembilan adalah yang paling 'tua' dan yang paling kuat dari yang lainnya"
"Hoo pantas saja egonya tinggi, seperti kakak" Ashura langsung di hadiahi tatapan maut oleh sang kakak yang membuatnya mengangkat kedua tangannya dan menggeleng pelan "Ups! Maaf"
"Kalian berdua jangan berantem" Naruto yang mendeteksi mood Indra dan jalan pembicaraan langsung menghentikannya sebelum pertengkaran bisa terjadi, walau dalam hati paling terdalam; ia menyetujui apa yang Ashura katakan "Pertengkaranlah yang menyebabkan terjadi perang, tugas kalian adalah mencegah peperangan tersebut maka jangan berantem!"
"Siapa yang bilang tugas kami mencegah peperangan?" Ashura menatap bingung Naruto, seingatnya ia tidak pernah bilang kalau ia dan kakaknya di utus untuk menghentikan peperangan.
"Tugas kami adalah menjadi 'pengawal'mu, bukan menghentikan perang—kalaupun ada tetap saja, prioritas kami adalah dirimu" Indra berkata dengan nada seperti apa yang baru saja ia katakan adalah hal mutlak dan kebenaran, ekspresinya juga serius dan Naruto berani bersumpah ia melihat kilatan berbahaya di mata Indra.
Naruto langsung merasa tidak nyaman, kini ia teringat dengan kenyataan bahwa dirinya masih belum mengerti apa yang Ashura dan Indra maksud dengan 'pengawal' sampai sekarang dan semakin lama, kedua kakak beradik Ootsuki ini bertingkah cukup... aneh, kini bukan hanya Indra saja yang terlalu protektif dengannya, Ashura sekarang juga sudah ikut-ikutan dan yang paling terpenting adalah mereka berdua kini jarang meninggalkan dirinya sendirian, kini mereka hampir tidak pernah menghilang secara bersamaan, pasti salah satu dari mereka akan ada di sisinya dan Naruto tidak tahu mengapa.
'Kurama... aku...' Naruto tidak tau mau berbicara apa jadi ia hanya bisa berkonsultasi dengan sang rubah berekor sembilan, ia mendekatkan tubuhnya dengan Kurama, ia merasa seperti pertahanannya sangat menurun; oh ayolah! Yang ada di sampingnya adalah darah daging dari Hagoromo Ootsuki, tentu saja ia tidak mungkin bisa mengalahkan mereka berdua dan jelas sekali dengan keadaan tubuhnya yang mengecil, kekuatannya jauh di bawah mereka berdua 'Aku jadi ada perasaan tidak enak dengan Ashura dan Indra... aku sudah cerita kepadamu bukan? mereka berdua akhir-akhir ini... jadi aneh...'
Kurama diam saja, ia memang tidak bisa berinteraksi secara langsung dengan kedua anak dari Hagoromo tersebut namun melihat reaksi Naruto sudah cukup untuk menyadari betapa berbahaya kedua kakak beradik Ootsuki yang bersama dengan Naruto sekarang, mereka berdua memang mengatakan bahwa mereka adalah 'pengawal' Naruto, namun arti sebenarnya dari 'pengawal' yang mereka maksud bisa saja berarti banyak dan terlebih lagi, mereka berdua sudah seperti pedang bermata dua.
'Coba jaga jarakmu dengan mereka sementara' Kurama tidak bisa membantu banyak, mau bagai manapun juga yang sedang mereka bicarakan adalah kedua anak dari Hagoromo, walaupun memang benar sang petapa tidak mungkin mengirim anaknya untuk berbuat jahat namun itu tidak menjamin mereka berdua akan melanggar sang petapa... atau malah ini yang sang petapa inginkan?
"Haloo~ Naruto? Bangun dari lamunanmu, ujian sudah mau di mulai" Naruto tidak melamun dan ia masih awas terhadap sekelilingnya, namun suara Ashura sedikit membuatnya terlonjak kaget sehingga membuat anak bungsu dari Hagoromo tersebut menaikkan sebelah alisnya "Apa ada sesuatu yang aneh?"
"Ah tidak, hanya saja sedari tadi pagi perasaanku tidak enak dan aku jadi paranoid" Bisik Naruto karena kali ini ia tidak sendirian. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum membuangnya, mungkin memang hanya perasaanya saja Ashura dan Indra bertingkah aneh karena sejujurnya akhir-akhir ini perasaannya tidak enak, mungkin juga itulah alasan mengapa ia tiba-tiba menjadi paranoid.
"Pertarungan pertama: Neiji Hyuuga melawan Uzumaki Naruto" Suara Genma terdengar dengan lantang, menandakan ujian tahap terakhir kini sudah mulai.
"Selamat berjuang Naru—ah salah, jangan terlalu keras dengan lawanmu, ingat kekuatanmu! Kasihan nanti musuhmu" Ashura tersenyum lebar dan menepuk pundak Naruto lalu mendorongnya agar memasuki arena pertarungan, dalam hati ia merasa kasihan dengan lawan Naruto, namun di saat ia melihat siapa lawan Naruto, ia terdiam sebelum ia melirik sang kakak.
Indra dan Ashura menunggu hingga Naruto masuk ke dalam arena bertarung sebelum mereka berdua berbicara.
"Ini hanya perasaanku atau... mata itu dan kekuatan itu... gadis yang sebelumnya juga..." Ashura menatap lekat-lekat Neiji yang sudah duluan masuk ke arena bertarung, ia merasa nostalgia di saat ia melihat Neiji dan juga Hinata waktu itu, mereka berdua mengeluarkan aura yang membuat Ashura dan Indra nostalgia.
"Paman Hamura, adik ayah..." Indra melipat juga menatap Neiji, ia ingat dengan cerita ayahnya mengenai adiknya yang seharusnya ada di bulan "Pertanyaannya adalah: apa yang klan milik paman Hamura lakukan di sini..."
"Hoo! Naru akan mulai bertarung-ssu!" Fuu meletakkan tangannya di atas keningnya untuk menghalangi sinar matahari dari wajahnya untuk bisa melihat dengan jelas pertarungan antara Naruto dengan lawannya walau ia sedang menggunakan topeng ANBU.
'Topengnya mengganggu! Aku susah melihat' Choumei yang melihat dari pandangan Fuu protes, ia juga ingin melihat pertarungan antara Naruto dengan musuhnya! Ia mau melihat wadah kakaknya yang keras kepala bertarung, namun jarak mereka yang cukup jauh dan topeng yang di kenakan oleh Fuu menjadi penghalang yang cukup menyebalkan.
"Iya-ssu! Topengnya aku lepas ya!" Fuu menatap penuh harap Bee yang berdiri di sampingnya yang juga mengenakan topeng, walau pada kenyataannya Bee tidak munkin bisa melihat ekspresi yang Fuu kenakan karena wajahnya tertutup topeng ANBU yang ia kenakan.
"Jangan, kita ke sini sebenarnya bukan untuk menonton" Jelas sekali yang berbicara bukan Bee melainkan Gyuki karena tubuh Bee kini sedang ia gerakan, alasannya? Karena ia yakin Bee juga akan mengeluh dan melepas topengnya untuk menonton adik kecilnya bertarung, jadi untuk sementara waktu ia yang akan mengendalikan tubuh Bee sampai misi mereka selesai.
"Tidak seru-ssu" Fuu cemberut dan Choumei setuju dengan apa yang wadahnya katakan, padalhal mereka berdua sangat ingin melihat Naruto bertarung—dan kalau bisa ikut juga! Karena bertarung bersama terdengar menyenangkan dan ia juga ingin memperlihatkan kekuatannya kepada kedua teman barunya.
Fuu akhirnya memutuskan untuk menonton kembali pertarungan Naruto dengan Neiji walau topeng yang ia kenakan mengganggu pengelihatannya.
Naruto kini tengah menghindari segala serangan Taijutsu yang Neiji berikan dengan gerakan yang sangat lincah berkat latihannya dengan Jiraiya, ia melompat, menunduk, berputar, hingga salto ke belakang untuk menghindari serangan yang di tujukan kepada titik pengaliran chakra oleh Neiji.
Fuu tidak bisa membaca gerakan bibir, namun ia tahu Naruto sedang berbicara dengan Neiji sambil bertarung dan dari ekspresi yang di kenakan oleh lawannya, Neiji, ia tidak menyukainya.
"Ne, apakah kita harus berdiri di sini sampai Naruto memberikan kita aba-aba? Fuu mulai bosan dan kepanasan" Fuu cemberut, ia mulai tidak bisa diam dan merasa bosan karena tidak bisa menonton dengan nyaman pertarungan antara Naruto dengan lawannya, selain itu ia mulai tidak sabar untuk bisa terbang dengan bebas dan menjalankan pekerjaannya.
"Bersabarlah sedikit lagi" Gyuki setengah tidak menghiraukan Fuu, ia sedang serius membaca sebuah gulungan hasil pemberian Itachi yang di kirim menggunakan ikan hiu berberapa waktu yang lalu, gulungan tersebut berisi data-data mengenai ROOT yang berhasil Itachi kumpulkan.
Mereka meminta bantuan Itachi untuk mengetahui berberapa rahasia dari ROOT demi menjalankan misi mereka, informasi tersebut berisi data anggota dari ROOT, tempat persembunyian, mata-mata yang mereka miliki, dan sedikit profil milik Danzo.
Gyuki menyeringai membaca sebuah informasi yang mengatakan bahwa Danzo memiliki mata-mata di Kumogakure yang di tugaskan untuk mencari tahu keberadaan dan informasi mengenai dirinya, lengkap dengan foto mata-mata tersebut, ia jadi ada ide untuk menangkap mata-mata tersebut dan lalu memberikannya kepada A sebagai tanda perminta maafan dirinya yang kabur; itu pasti akan sedikit mengurangi kemarahan sang kakak terhadap dirinya yang kabur tanpa permisi dan tanpa perlindungan.
Sedangkan orang yang memberikan informasi kepadanya, Uchiha Itachi, sedang ada di kamar miliknya bersama partnernya yang sedang duduk tidak terlalu jauh dari dirinya, sibuk membersihkan senjata kesayangannya yang ukurannya sudah sedikit mengecil semenjak sang pedang di beri makan chakra milik Kyuubi.
"Kisame" Itachi yang duduk di ujung tempat tidurnya memanggil rekannya, namun pandangan matanya tertuju ke pintu keluar kamarnya "Sudah hampir waktunya kita mengunjungi Konohagakure'
Partnernya terdiam sebentar, seringaian pelan-pelan terbentuk di bibirnya, menunjukkan deretan giginya yang runcing seperti ikan hiu "Oh? Aku tak keberatan namun; apakah kita tidak akan di curigai nanti"
Itachi menggeleng, ia menghela nafas pendek sebelum membuka dua buah kancing jubah Akatsuki miliknya dan menggantungkan tangannya di jubahnya yang sedikit terbuka "Misi dari ketua"
"Menangkap wadah dari Kyuubi no Kitsune"
Ruangan tersebut hening sebentar sebelum tawa dari manusia setengah ikan hiu yang ada di ruangan tersebut menggelegar memenuhi ruangan tersebut.
Itachi memutar kedua bola matanya melihat rekannya yang tertawa, mau bagai mana juga, partnernya ini akan tetap sadis, karena sekali lagi ia ingatkan, Kisame adalah ikan hiu, bukan ikan lumba-lumba.
"Hidan, kenapa kau jadi semakin tidak bisa diam akhir-akhir ini..." Kakuzu menatap tajam dan tidak suka partnernya yang akhir-akhir ini menjadi semakin tidak bisa diam dan menyebalkan, kesabarannya semakin lama semakin menipis dan ia jadi semakin sering memotong kepala partnernya saking ia sudah tidak tahan dengan kelakuan partnernya.
Bagai mana tidak, setiap hari ia selalu mengoceh dan protes kepadanya mengenai entah apalah itu ia tidak ingat karena baginya sangat tidak penting, bagai mana tidak, semua hal yang keluar dari mulut partnernya adalah umpatan dan kalimat-kalimat penuh dosa serta hal-hal berbau tidak masuk akal, membuat dirinya naik pitam dengan sangat cepat.
"BAGAI MANA TIDAK? SETIAP MALAM AKU SELALU MENDAPATKAN MIMPI! MIMPI DI MANA BEGITU BANYAK PERTUMPAHAN DARAH! ADANYA SEBUAH PEPERANGAN DI MANA BEGITU BANYAK ORANG MATI! ITU ADALAH PEMANDANGAN YANG PALING JASHIN-SAMA SUKAI DAN AKU TIDAK ADA DI PERANG TERSEBUT! BAYANGKAN KAKUZU BAYANG—" Hidan langsung berbicara dengan suara sangat lantang dan marah-marah sendiri, membuat partnernya sakit kepala dan kini tengah memijat keningnya sendiri.
Sebuah kesalahan ia bertanya secara langsung kepada partnernya.
"DAN KAU TAHU APA? PEMIMPINNYA ADALAH SEORANG UC—BANGSAT! KAKUZU! SAMBUNGKAN KEMBALI KEPALAKU!"
Kakuzu sangat ingin menjahit mulut partnernya agar ia tidak bisa berbicara lagi namun sayangnya Hidan bisa memotong jahitannya dan ia tidak di perbolehkan memotong-motong Hidan karena nanti bila ada misi mendadak maka ia yang akan kerepotan sendiri menjahit ulang partnernya yang menyebalkan ini.
"KAKUZUUUUUUUU"
Untuk sementara ia hanya akan memotong kepalanya saja dan meninggalkan partnernya di kamarnya sendirian.
"HEI! MAU KE MANA KAU? JAHIT ULANG DIRIKU SEBELUM KAU PERGI!"
Ya, ide yang bagus, setidaknya nanti kalau ada tugas mendadak ia hanya perlu menjahit ulang kepalanya saja dan ia bisa mendapatkan waktu yang tenang sendirian tanpa di ganggu rekannya.
"KAKEK BANGSAAAT!"
To Be Continue
Omake
(Special Naruto's Birthday)
Cheer Up Naruto!
"Ahem! Halo para pemirsa sekalian! Perkenalkan, namaku Naruto Uzumaki dan aku akan menjadi pembawa acara kali ini bersama dengan asisten saya—" Naruto tersenyum dengan lebar dan memberikan gestur kepada orang—rubah yang duduk di sampingnya untuk berbicara, namun sang rubah malah membelakangi pemirsa dan sedang asik tertidur dengan pulas.
"Kuramaaaa!" Naruto langsung cemberut, ia menggoyang-goyangkan tubuh sang rubah yang masih enggan untuk beranjak dari posisinya dan bersikap acuh tak acuh dengan sang gadis yang merupakan rekan kerjanya sebagai 'pembawa acara', ia tidak menghiraukan panggilan rekannya dan malah mencoba menjauhkan tubuhnya dari jangkauan sang gadis Uzumaki.
"Huh! Tidak bisa di ajak berkerja sama!" Naruto melipat kedua tangannya di depan dadanya, ia tahu sang rubah tidak akan bisa di ajak negosiasi dan tidak akan menggeser pantatnya dan mulai berkerja, inilah tidak enaknya berkerja dengan sang rubah yang pemalas.
"Sudahlah" Naruto menghela nafas pendek sebelum akhirnya kembali memasang senyum dan melambai ke arah para pemirsa "Lupakan saja rubah pemalas yang tadi! Kita mulai saja acaranya sekarang!"
"Halo para pemirsa sekalian! Selamat datang di acara kali ini! Di mana saya dan (seharusnya) rekan saya menjelaskan hal-hal atau fakta unik mengenai sesuatu! Dan untuk episode kali ini saya akan menjelaskan mengenai 'pengawal' milik saya! Ashura dan Indra!" Naruto melompat ke belakang dan mempersembahkan kedua kakak beradik Ootsuki yang sedang duduk di depan meja makannya, keduanya menatap bingung Naruto.
"Hm? Kau bicara dengan siapa Naruto?" Ashura yang sedang bermain-main dengan tumpukan senjata milik Naruto memandang bingung sang pemilik senjata tersebut yang tiba-tiba berpose layaknya seorang pembawa acara yang sedang mempersembahkan sesuatu, sang kakak yang duduk di sebrangnya juga menaikkan sebelah alisnya dan menatap bingung Naruto, buku yang sedang ia baca sedikit terlupakan berkat kelakuan antik sang pemilik buku tersebut.
"Shush! Diam!" Naruto berbisik pelan sebelum ia mengeluarkan sebuah kertas dari kantung celananya dan mulai membacanya "Ahem, mereka berdua adalah anak dari mendiam Sage of the six path, Hagoromo Ootsuki dan pendiri dari klan Uchiha, Uzumaki, dan Senju!"
"Di mulai dengan sang kakak yang merupakan pendiri dari klan Uchiha! Indra Ootsuki" Naruto mengeluarkan sebuah papan dengan lambang Uchiha tertempel di papan tersebut "Klan Uchiha terkenal dengan keunikan pada mata mereka yang di beri nama sharingan! Ciri-ciri utama mereka adalah rambut hitam dan manik onyx yang bisa berubah menjadi merah dengan magatama"
"Sayangnya, klan Uchiha kini hanya tinggal 2 orang, yaitu Itachi Uchiha dan Sasuke Uchiha!" Wajah Naruto tiba-tiba berubah menjadi masam di saat ia melanjutkan omongannya "Dan satu orang lagi yang lebih baik tidak di sebutkan namanya"
Indra hanya diam saja, ia menatap lekat-lekat Naruto, dari ekspresi yang sang gadis Uzumaki kenakan sudah terlihat bahwa Naruto tidak menyukai orang yang tadi ia sebutkan dan kalau di lihat dari nada bicaranya, orang tersebut bukanlah orang yang baik dan Indra tidak keberatan sama sekali Naruto tidak menyukai orang tersebut, walau orang tersebut berasal dari klannya, karena baginya; klannya yang sekarang sudah tidak 'murni' lagi dan sudah berantakan.
"Ahem! Seperti yang para pemirsa lihat, ciri-ciri tersebut berasal dari sang pendiri sendiri! Lengkap dengan aura dingin yang mereka keluarkan!" Naruto mendengar Ashura tertawa di tahan mendengar apa yang ia katakan sehingga membuatnya tersenyum juga sedangkan Indra hanya memutar bola matanya dengan bosan.
"Indra Ootsuki terkenal dengan kekuatannya dan kepintarannya, di umurnya yang masih sangat belia; ia berhasil menghafal dan mengerti dua puluh buku setiap malam... egh... aku saja baca satu buku membutuhkan waktu satu hari penuh..." Naruto memijat keningnya yang terasa sakit setelah membaca biodata pendek mengenai Indra, jujur, ia memang bukan anak yang jenius dan rajin membaca, otaknya tidak se-encer Sasuke dan itu juga ia lebih menyukai buku yang memiliki banyak gambar jadi ia lebih cepat mengerti, maka dari itu Naruto tidak bisa sama sekali melihat dari mana bagusnya letak novel buatan ayah angkatnya, bahkan hingga sekarang di saat ia sudah berubah menjadi perempuan dan lebih mahir membaca.
"Aku setuju! Aku saja baca dua buku sudah sakit kepala dan mengantuk" Ashura cemberut, ia jadi ingat masa lalunya di mana setiap malam ia di haruskan belajar bersama Indra, membaca selembar hingga mengerti saja membutuhkan waktu yang sangat lama untuknya, kepalanya jadi sakit sekali dan terlebih lagi membosankan, membuatnya mengantuk.
"Buku yang di tulis ayah sangat mudah di mengerti dan membaca buku adalah hobi yang bermanfaat" Indra menghela nafas pendek, Naruto memang keturunan Ashura, mereka sangat mirip namun Indra tidak mengerti mengapa keduanya tidak suka membaca buku, padalhal ilmu yang mereka bisa dapat sangat banyak hanya dengan membaca.
"Aku lebih suka melakukan hal yang membuat tubuhku bergerak, akukan tidak bisa diam" Naruto menggeleng dengan pelan sebelum ia mengeluarkan sebuah papan yang kali ini dengan lambang klan Senju dan Uzumaki tertempel di papan tersebut "Selanjutnya adalah sang adik yang merupakan pendiri dari klan Senju dengan sampingan klan Uzumaki!"
"Klan Senju terkenal dengan adanya kekuatan yang sangat jarang bisa di temui yaitu Mokuton, mereka juga terkenal dengan memiliki elemen utama air dan tanah! Ciri-ciri mereka..." Naruto terdiam sebentar sebelum menengok ke arah Ashura dan menaikkan sebelah alisnya "Uhm... Ashura, klanmu tidak punya ciri-ciri yang menonjol seperti Indra, kecuali klan Uzumaki dengan rambut merahnya..."
"Shodaime punya rambut hitam kecoklatan, Nidaime punya rambut putih seperti salju, dan nenek Tsunade punya rambut pirang..." Naruto mengingat-ingat para anggota Senju yang ia kenal dan ingat sebelum ia menatap Ashura kembali "Mereka tidak memiliki kemiripan dengan dirimu juga... yah kecuali aku namun itu karena aku reinkarnasi dari dirimu..."
"Oh, itu karena klanku tidak seketat klan kakak, pernikahan antar klan di perbolehkan, menikahi warga biasa juga boleh; maka dari itu jumlah klanku bisa lebih banyak dari kakak" Ashura melempar-lempar senjata yang ia pegang dengan handal sambil tersenyum kecil "Sama seperti dirimu Naru, ada kalanya genetik yang lebih kuat datang dari luar, jadinya keturunan yang selanjutnya memiliki kemiripan dari luar; seperti dirimu yang menurunkan warna mata dan rambut ayahmu namun kau masuk ke dalam klan Uzumaki"
"Berbeda dengan klan milik Ashura, klan milikku selalu menurunkan sharingan maka dari itu kami memperketat peraturan dan menjaga kemurnian dari keturunan kami" Indra ikut bicara sambil membaca buku yang ia pinjam dari Naruto.
"Hmm... oke, kembali lagi ke topik awal, Ashura Ootsuki memang tidak memiliki otak se-encer Indra ataupun bisa membaca banyak buku, namun kebaikan hatinya dan dedikasinya terhadap semua orang secara merata membuat dirinya menjadi pemimpin yang sangat bagus dan di cintai oleh pengikutnya" Naruto tersenyum membaca biodata milik Ashura dan melirik sang anak adik dari Indra yang wajahnya sedikit memerah dan tersenyum lebar, ia merasa senang karena di puji.
"Yak! Jadi itulah Ashura dan Indra! Terimakasih sudah mengikuti acara ini! Sampai jumpa di episode selanjutnya!" Naruto melambai ke arah pemirsa berberapa saat sebelum ia menurunkan tangannya dan menghela nafas pendek.
"Kau ini sebenarnya bicara dengan siapa dan kenapa tiba-tiba bersikap aneh seperti itu" Indra yang akhirnya tak tahan akhirnya bertanya juga, Naruto bersikap aneh mendadak seusai misi dan sampai di rumah, mereka berdua tidak ikut karena di panggil oleh ayah mereka jadi Indra dan Ashura tidak tahu apa yang terjadi di misi tersebut maupun apa sebenarnya isi misi tersebut.
"Hm? Aah hanya berpura-pura menjadi pembawa acara saja, misi yang kelompokku lakukan tadi pagi adalah menggantikan pemeran pembawa acara yang sedang sakit" Naruto merapihkan papan yang tadi ia gunakan untuk menunjukkan logo klan, ia tersenyum kecil memandang logo klan Uzumaki dan mengusapnya sebentar sebelum menyimpan kedua papan tersebut di ujung kamarnya yang kecil "Namun yang menggantikannya adalah Sakura dan Sasuke, aku tidak boleh muncul dan hanya membantu pekerjaan di belakang panggung saja karena... yah begitulah"
Indra dan Ashura menatap iba Naruto yang kelihatan sedih di saat ia bercerita, jelas sekali bahwa Naruto ingin ikut bersenang-senang, namun sayangnya statusnya sebagai Jinchuriki dan dirinya yang tidak terlalu di sukai oleh warga sekitar membuat dirinya harus bersembunyi, sebelum mereka berdua saling berbagi pandang dan mengangguk.
PROK PROK PROK PROK
Tiba-tiba Naruto mendengar suara tepuk tangan yang sangat keras dan dari banyak orang, bersamaan dengan Indra dan Ashura, bahkan ia bisa mendengar tepuk tangan dari Kurama juga sebelum tiba-tiba ia menangkap bunga mawar yang di lempar oleh entah siapa.
"Pertunjukkan yang bagus" Ashura tersenyum lebar dan bersiul sebelum tertawa pelan, entah dari mana namun tiba-tiba saja ia mengeluarkan rangkaian bunga angrek dan memberikannya kepada Naruto.
"Kerja bagus" Indra tersenyum kecil dan menepuk kepala Naruto sebelum mengeluarkan entah dari mana setangkai bunga anyelir.
Naruto berkedip-kedip sebentar sebelum sebuah senyum lebar terlukis di wajahnya, ia menerima kedua bunga dari Ashura dan Indra, ia juga bisa merasakan Kurama menepuk kepalanya, membuat dirinya semakin senang; perasaan sedih karena tidak bisa ikut bermain di panggung bersama rekan satu kelompoknya seperti sirna dan terlupakan, di gantikan dengan perasaan bahagia dan hangat berkat apa yang Kurama, Ashura, dan Indra lakukan.
"Hehehe... Terimakasih banyak—tebayo!"
Keesokan harinya, di saat seorang laki-laki yang mengenakan topeng anjing secara diam-diam masuk ke dalam apartemen Naruto untuk memberikan sekranjang buah-buahan di saat Naruto sedang pergi keluar, bau bunga yang harum langsung menyerang indra penciumannya.
Sang laki-laki bertopeng anjing menaikkan sebelah alisnya di saat ia memeriksa sekelilingnya dan tidak menemukan bunga yang bisa membuat bau kamar Naruto begitu harum kecuali serangkaian bunga anggrek dan setangkai bunga anyelir yang di masukkan di dalam segelas air di meja makan.
Alisnya naik sebelah karena seingatnya kemarin sang pemilik rumah seharian ada di rumahnya sepulang ia melakukan misi, dari mana kedua bunga tersebut muncul? Atau dari siapa bunga tersebut? Karena seingatnya bunga anyelir belum musim dan tak di jual di manapun sekarang dan bunga anggrek hanya bisa di dapatkan dari luar Konoha.
Sang lelaki bertopeng anjing hanya menggeleng pelan, mengapa ia terlalu mengurusi hal sempele seperti itu, Naruto memang suka berkebun, jadi wajar saja ia bisa mendapatkan bunga tersebut.
Ia meninggalkan sekranjang buah-buahan yang ia bawa di dekat jendela dan lalu menutup dan mengunci kembali jendela tempat ia masuk sebelumnya, meninggalkan bunga yang kelihatannya masih sangat segar dan mengunci kembali ruangan berbau harum tersebut.
!Review Reply!
Azarya senju: Indra memang sifatnya seperti itu kalau yang saya tangkap ya, namanya juga klan Uchiha, hahahahah, dan kalau soal Pair itu... bisa saya negosiasikan dulu dengan editor saya!
sas'ke: Kyuubi sudah di katakan akan mendapat chapter tersendiri kok, tenang saja.
uzumaki megami: Namanya juga Ashura, tidak kalah tidak peka dengan Naruto, hahaha. Namanya juga anak remaja yang di ubah jadi perempuan tanpa keinginannya, ada lah perasaan iri sedikit, hahahha.
Guest: Ah, kalau soal itu agak sulit, soalnya saya tidak mau membuat Naruto terlalu Out of Character, dan masa depannya? Saya tidak pernah menceritakan masa depan sih. Ashura dan Indra ya... kurang tahu tuh, mereka berdua memang random. Saya tidak memiliki akun lain untuk menulis kecuali fanfiction.
ajidarkangel: Jenis? Saya kucing kampung yang punya banyak imajinasi liar, hahahahah.
Rikatokato: Silakan baca Author notes di atas~! Dan tenang saja semua akan selalu good ending karena saya tidak mahir membuat bad ending.
Samuel903: Aduh sampai di bilang kasus, hahahah hanya sedikit kejadian (sebenarnya) tidak di inginkan kok dan saya tidak handal membuat humor karena belum tentu selera humor saya yang kadang sulit di mengerti bisa di anggap lucu oleh pembaca dan saya hanya menerima pelukan, hahahah. Yang sabar Shukaku memang begitu sifatnya dari awal. Hahahah, Naruto belum sepenuhnya menerima kenyataan ya sedangkan Ashura dan Indra kelihatannya sibuk sendiri, hahahah.
Dewi15: Naruto akan permanen menjadi perempuan.
uchiha4me: Omakenya sudah sama dua Ootsuki tuh kebetulan, walau bukan Humor melainkan Fluf~
Alfiona571: Silakan baca Author notes di atas~!
nina: Pasti akan saya lanjutkan walau memakan waktu yang cukup lama untuk menyelesaikan chapter baru~!
Vilan616: Munkin ya munkin tidak, hahahahah.
Fahzi Luchifer: Silakan baca Author Notes di atas~!
Monkey D Jasmine: Sudah di Up-date dan silakan menunggu Danzo di jadikan kambing hitam~! Rencana sedang di jalankan kok~!
Crazy Lucky Rin: Namanya juga hasil reinkarnasi, hahaha. Biarkanlah mereka berdua dengan ketidak pekaan dan otak mereka yang kurang encer.
uzunami angel: Maafkan Author yang mulai sibuk! Saya akan berusaha up-date cerita di saat sedang senggang.
Sekian dan terimakasih, Maafkanlah author yang sedang sedikit sibuk ini dan walau terlambat 2 hari, SELAMAT ULANG TAHUN NARUTO UZUMAKI!
Seperti yang di tulis di atas, Omake kali ini bertema fluff untuk sedikit merayakan ulang tahun Naruto! Saya harap para pembaca menyukainya!
Review Please
