Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Warning: Mengandung Gender Bender, Semi-Au, Time Travel, Miss Typoo, dll
!Author Notes!
Pertama-tama, saya ingin minta maaf terlebih dahulu mengenai chapter ini yang lebih pendek dari biasanya.
Alasannya adalah saya yang sebentar lagi mau ujian tengah semester dan akan jadi sibuk sekitar 2 atau 3 minggu dan saya mulai terkena writer block, saya membutuhkan ide.
Namun sebagai gantinya saya akan tetap memberikan omake di chapter ini.
Seperti biasa, karakter yang memiliki ending adalah: Sasuke, Itachi, Kurama, Gaara, dan Kakashi.
Sekian dan terimakasih atas pengertiannya! Selamat menikmati chapter terbaru To The Past
Jinchuriki.
Mereka adalah orang-orang yang terpilih untuk menjadi wadah monster berekor, namun tidak itu saja, mereka juga orang-orang yang memiliki keunikan tersendiri sehingga membuat siapapun itu yang menyegel sang monster berfikir bahwa mereka layak menjadi Jinchuriki.
Seperti contohnya yang paling mudah adalah Naruto Uzumaki yang memiliki chakra yang unik dan juga keturunan Uzumaki yang terkenal dengan kekuatan dan chakra mereka yang besar, membuat dirinya menjadi wadah yang sempurna untuk menampung sang rubah berekor sembilan.
Begitu juga para wadah lainnya yang sudah bekerja sama sekarang tengah bekerja melakukan tugas mereka masing-masing, dengan pengecualian Naruto yang baru saja selesai bertarung dengan Hyuuga Neiji dan di nyatakan sebagai pemenangnya, para Jinchuriki yang lainnya sibuk dengan rencana membuat kambing hitam mereka.
Killer Bee dan Fuu yang sudah selesai membongkar markas rahasia ROOT yang ada di luar desa Konoha kini sedang menunggu aba-aba dari Naruto untuk membuat kekacauan di pintu masuk utama desa Konoha.
Han dan Roshi yang kemarin mengacak-acak markas rahasia ROOT dan organisasi-organisasi lainnya yang bekerja sama dengan ROOT yang ada di dekat Kumogakure dan sekarang sedang mencoba mencari markas rahasia milik Orochimaru.
Rencana mereka untuk membuat kambing hitam sebenarnya cukup simpel namun membutuhkan banyak informasi dan skill karena mereka harus mencari tahu markas rahasia ROOT dan juga membuat banyak kekacauan.
Rencana mereka adalah menghancurkan dan membuat markas rahasia ROOT yang ada di luar Konoha seperti terekspos sehingga menciptakan pemikiran bahwa ninja dari desa lain mendapatkan informasi mengenai Konoha dari ROOT dan mencoba menyerang atau mencoba membuat kekacauan di Konoha, sehingga pada akhirnya nanti yang akan di salahkan adalah organisasi ROOT—dan tentu saja pemimpinnya, Shimura Danzo.
Rencana dan ide yang cukup cemerlang buatan para Jinchuriki yang sudah bekerja sama.
"Aku akui bahwa bocah Nara itu sangat pintar di umurnya yang masih belia" Gyuki yang mengendalikan tubuh Bee menatap Shikamaru Nara yang baru saja selesai mengundurkan diri dari pertarungan yang akhirnya di menangkan oleh kakak dari Gaara, Temari.
"He? Kenapa bisa-ssu?" Fuu memiringkan kepalanya dan menatap bingung Bee, ia sudah mulai terbiasa menonton menggunakan topeng ANBU yang ia kenakan sekarang, walau ia mulai bosan karena pertarungan Naruto sudah selesai.
"Ia mengundurkan diri karena bisa merasakan kejanggalan di pertarungan itu" Gyuki mendengus, ia memang pernah mendengar berita mengenai sebuah klan yang terkenal dengan kepintarannya, ia tidak menyangka bahwa klan tersebut memang sangat pintar; bahkan di saat mereka masih anak-anak "Kita harus berhati-hati agar tidak sampai berhadap-hadapan dengan anggota klan tersebut nanti di saat kita membuat kekacauan karena aku yakin, mereka bisa saja membongkar identitas kita"
Fuu hanya mengangguk dan kini kembali memperhatikan arena ujian tahap ke tiga, ia menghela nafas di saat ia melihat Naruto belum beranjak dari posisinya dan belum kelihatan ada keinginan untuk memberikan mereka aba-aba, ia sudah bosan dan sangat ingin bergerak—atau setidaknya terbang.
'Hei! Kokuo dan Son sudah kembali' Fuu mengangguk mendengar informasi dari Choumei, sang kumbang berekor tujuh sedari tadi juga sama bosannya dengan dirinya jadi ia memutuskan untuk tidur, namun kedatangan dua adiknya membangunkan dirinya.
"Bagus, rencana kita berjalan lancar, sekarang yang harus kita lakukan adalah—ah…" Gyuki tidak menyelesaikan omongannya, matanya melihat sesosok yang ia kenal; Sasuke Uchiha, orang yang dulu di tugaskan untuk menangkapnya dari Bee dan gagal, namun bukan kedatangan sang Uchiha lah yang menghentikannya berbicara melainkan suara Naruto yang ada di kepalanya "Saatnya berkerja"
"Hore! Akhirnya-ssu!" Fuu melompat-lompat kegirangan dan kini berlari mengikuti Gyuki untuk menjalankan tugasnya, ia sudah siap mengeluarkan sayapnya—
"Tidak boleh mengeluarkan sayap atau terbang, kau harus terlihat seperti ninja bayaran"
Fuu cemberut mendengarnya.
Naruto menarik tangan Sakura untuk berlindung di saat ia melihat Kabuto menggunakan Genjutsu untuk membuat semua penonton yang ada di era pertarungan tertidur dan ninja suruhannya mulai menyerang para guru dan ninja yang sedang berjaga.
"Naruto, Sasuke-kun pergi mengejar musuhnya!" Sakura menengok ke belakang dan tidak sengaja melihat Sasuke yang mengejar Gaara yang di bawa oleh kedua kakaknya untuk di obati karena sempat terkena chidori milik Sasuke, namun ia juga melihat Kakashi yang kini sudah berdiri membelakanginya untuk melindungi dirinya dan Naruto "Kakashi-sensei!"
"Sakura dan Naruto, aku punya misi untuk kalian" Naruto berhenti menarik Sakura dan saling berbagi pandangan dengan rekan satu kelompoknya sebelum mengangguk dengan apa yang gurunya katakan "Bangunkan Shikamaru dan kejar Sasuke!"
Kakashi memanggil salah satu Ninkennya, Pakkun, untuk menemani Naruto dan Sakura mencari Sasuke sebelum ia kembali lagi membatu Gai, Sakura hanya bisa menatap bingung Pakkun sedangkan Naruto pergi membangunkan Shikamaru yang ia tahu sebenarnya tidak terpengaruh oleh Genjutsu dan hanya sedang pura-pura tidur.
"Shika, kau ada dua pilihan, bangun sekarang atau akan aku tumpahkan cat warna merah muda ke seluruh tubuhmu di tambah gliter" Naruto berbisik dengan nada suara mengancam dan rendah tepat di kuping Shikamaru, membuat sang lelaki yang jenius namun pemalas langsung membuka matanya dan menjauh dari Naruto, ia tahu bahwa Naruto tidak akan segan-segan melakukan hal seperti itu kepada dirinya, ia tahu betul sifat sang pemuda berubah gadis Uzumaki di sampingnya itu.
"Sial! Naruto, jangan berani-berani kau mencoba hal seperti itu!" Shikamaru mendesis dengan keras dan menatap tajam Naruto yang hanya memberikan senyum usilnya dan tertawa pelan, temannya yang satu ini memang pantas di panggil sebagai number one prankster in Konoha.
"Aku mendengar apa yang gurumu katakan dan aku menolak, aku tidak perduli dengan apa yang terjadi dengan Sasuke dan misinya terdengar sangat menyusahkan" Shikamaru membuang mukanya dan menyenderkan tubuhnya ke dinding di belakangnya, ia memang sudah tahu dan ada perasaan bahwa hal seperti ini akan terjadi, namun bukan berarti ia ada keinginan untuk mencoba berpartisipasi atau mungkin setidaknya menyelesaikan masalah tersebut, ia terlalu malas.
"Hei, kalau kau mau ikut maka aku akan membiarkan kau menyentuh tapak kakiku" Tiba-tiba saja Pakkun berbicara, ia duduk di samping Shikamaru dan mengangkat tangannya, memperlihatkan tapak kakinya yang berwarna pink.
Naruto berusaha menahan tawa, Sakura menaikkan sebelah alisnya dengan bingung dan Shikamaru menatap kosong sang Ninken.
"Ini bukan tapak biasa! Ini tapak kaki yang sangat lembut dan lucu berbentuk seperti buah aprikot! Aku akan membiarkan kau menyentuhnya kalau kau ikut" Pakkun menggunakan ekspresi serius dan masih menatap Shikamaru tanpa berkedip.
Naruto menutup mulutnya untuk menahan tawa walau ia akui memang dulu ia sangat menyukai tapak kaki Pakunn dan Pakkun tidak berbohong, tapak kakinya memang lembut bisa membuat orang gemas dan ketagihan untuk menyentuhnya. Naruto menaikkan sebelah alisnya di saat ia melihat Kurama yang sedang menatap lekat-lekat tangannya sendiri sebelum akhirnya ia mengerti mengapa sahabatnya bertingkah aneh seperti itu.
'Kau tak perlu tapak kaki seperti itu, aku jauh lebih suka bulumu dari pada tapak kaki Pakkun! Tenang saja' Naruto terkekeh pelan dan menepuk kaki Kurama, membuat sang rubah berekor sembilan membuang mukanya karena ketahuan membandingkan tangannya dengan tangan Pakkun, untuk ia bukan manusia karena kalau ia manusia pasti langsung ketahuan bahwa wajahnya sedikit memerah karena malu.
'Berisik! Aku tidak iri atau apapun itu dengan mahluk lemah seperti anjing kecil itu!' Harga dirinya yang setinggi langit tidak akan mau menerima kenyataan bahwa ia tertangkap basah iri—tidak! Ia tidak iri dengan Pakkun! Titik!
"Sudahlah Shika, jangan malas-malasan seperti itu dulu! Ini urusan penting" Naruto yang sudah berhasil berhenti tertawa akhirnya angkat bicara, ia tahu bahwa Shikamaru tidak akan mau menerima tawaran Pakkun "Kalau kau tidak mau ikut… akan aku pastikan kau bangun jam lima pagi setiap hari selama satu minggu penuh!"
Shikamaru langsung menatap jijik Naruto, bagai mana tidak, ia tahu bahwa Naruto tidak main-main dan ia bisa saja melakukan hal itu kepadanya bila ia mau, sekali lagi di ingatkan bahwa ia adalah salah satu teman yang dekat dengan dang gadis Uzumaki dulu "Ck, menyusahkan!"
Shikamaru tidak ada pilihan lain selain mengikuti kemauan Naruto dan akhirnya ia bersama, Sakura, Naruto, dan Pakkun pergi bersama untuk mengejar Sasuke yang sedang mengejar Gaara.
Kabuto kewalahan, bagai mana tidak? Ia mendapatkan informasi bahwa ninja Sound yang akan menjadi backup dan bertugas menjadi ambush semua telah di kalahkan oleh ninja dari luar yang juga ingin menyerang Konoha secara tiba-tiba! Ada apa ini? setahunya tidak ada informasi mengenai desa lain yang ingin menyerang Konoha hari ini juga!
Namun tidak hanya itu saja, backup dari ninja Suna juga tidak bisa membantu karena tiba-tiba saja mereka secara tidak sengaja bertemu dengan ninja dari Kumogakure yang entah sedang apa di Kusagakure dan tidak bisa datang tepat waktu untuk membantu.
Ia mendecak kesal sebelum kini mengalihkan perhatiannya ke arah tempat Orochimaru yang sedang bertarung dengan sang Hokage ke tiga, ia harus menjaga tempat ini hingga Orochimaru berhasil mengalahkan dan membunuh Hokage ketiga, setidaknya jangan sampai rencana yang itu gagal!
Kabuto menggigit bagian bawah bibirnya, tujuan utama mereka sebenarnya dalah menculik Sasuke Uchiha namun sang last Uchiha sedang sibuk mengejar Gaara dan ia di ikuti oleh sang Jinchuriki dari sang rubah berekor sembilan dan rekan satu kelompoknya bersamaan dengan Jounin lainnya yang mengikuti mereka dari belakang.
Yang ia takutkan bukanlah para Jounin dan ia tidak perduli dengan rekan satu kelompok Sasuke yang berambut pink, yang ia takutkan adalah sang wadah dari rubah berekor sembilan! Bagai mana tidak? Di saat ujian tahap pertama, sang gadis yang seharusnya adalah laki-laki selalu memberikan dirinya pandangan dingin dan mencoba menjauhkan teman-temannya dari dirinya, di ujian tahap kedua ia selalu seperti menargetkan dirinya dan lagi-lagi menjauhkan dirinya untuk menganalisah kemampuan dirinya dan teman-temannya, dan tadi selama ujian tahap terakhir ini, ia berani bersumpah bahwa Naruto terus-menerus memperhatikan dirinya; mengawasi segala gerak-geriknya.
Kabuto tadinya tidak ingin percaya, namun bukti ada di depan mata; semua informasi mengenai sang Jinchuriki yang ia miliki dengan kenyataan berbanding terbalik, dari hal sempele seperti gender hingga kepintaran! Di tulis di datanya; sang bocah Uzumaki sangat lemah terhadap Genjutsu, kenyataannya sang bocah seperti tidak merasakan sama sekali Genjutsunya! Layaknya Genjutsu miliknya hanyalah angin lalu!
Ia tidak bodoh, ia bisa merasakan chakra milik sang rubah berekor sembilan suka keluar sendiri dari tubuh Naruto selama ia bersama dengan kelompoknya, kedua rekannya tak menyadarinya membuat dirinya merasa bahwa chakra tersebut memang sengaja keluar untuk mengintimidasi dirinya!
Kabuto mendesis ke arah tempat Naruto dan rekannya tadi pergi mengejar Sasuke, gara-gara bocah Uzumaki tersebut, banyak rencananya yang hancur berantakan!
Namun sepertinya penderitaan dan sakit kepala Kabuto tidak berhenti hanay di situ saja, ia menyadari seorang ANBU yang mengenakan topeng rubah kini berlari ke arah tempat di mana Orochimaru sedang bertarung dengan Sandaime, walaupun ia tahu bahwa tempat tersebut sudah di berikan barrier namun tetap saja ia cemas, ia tahu kekuatan dari sang ANBU.
"Ck menyusahkan!" Ia melompat keluar dari tempat persembunyiannya untuk melawan sang ANBU dan mencegatnya, ia hanya bisa berharap backup bisa datang secepatnya.
Namun di saat ia sedang menahan sang ANBU yang sedang menyerangnya dengan berbagai macam jutsu Mokuton, ia dan sang ANBU tiba-tiba saja berhenti sejenak dan menatap tidak percaya ke arah barrier yang seharusnya tidak ada yang bisa memasukinya atau membobolnya terbuka sebentar, bahkan empat orang yang membuat pilar tersebut juga kaget dan hampir kehilangan konsentrasi.
Dari tempat yang terbuka, seseorang masuk ke dalam arena pertarungan Orochimaru dengan Sandaime, tidak ada yang bisa melihat wajah maupun wujud orang tersebut, satu-satunya ciri yang mereka bisa lihat dari orang tersebut adalah bayangan berwarna hitam yang menyelimutinya.
"Oh yang benar saja!" Desis Kabuto dengan keras
Sedangkan di dalam arena pertarungan Sandaime melawan Orochimaru yang sudah seperti hutan kecil berkat jutsu Mokuton milik sang Shodaime, sang Sandaime Hokage sudah hampir menggunakan jutsu penyegelnya untuk menyegel kedua gurunya dulu bersamaan dengan Orochimaru.
Namun tiba-tiba saja sebuah pedang berukuran jumbo melayang dan membuat Orochimaru harus menghindar agar tidak terkena tusukan pedang tersebut.
"Apa—!" Orochimaru mendesis dan melompat menjauh dari serangan tersebut "Siapa yang berhasil bisa masuk ke sini! Apa yang ke empat orang itu lakukan!"
"Hm? Ada yang bisa masuk?" Sang Nidaime menaikkan sebelah alisnya dan menengok ke arah tempat senjata itu di lempar dan menemukan seseorang yang menggunakan jubah hitam yang menutupi seluruh tubuhnya dan wajahnya tengah berdiri.
Orang tersebut melompat dan kini berdiri di depan Sandaime yang chakranya sudah mau habis dan kelelahan, menutupi sang Hokage ketiga dari pandangan musuhnya dan mengeluarkan pedang baru entah dari mana yang tidak kalah besar dari yang tadi ia lempar.
"Siapa kau…" Sandaime berbisik dengan pelan, tenaganya sudah mau habis dan ia harus menyimpan tenaga untuk menyegel kedua gurunya dan satu muridnya, ia tidak yakin ia bisa melawan orang baru ini bila ternyata ia adalah musuh.
Orang tersebut hanya menggeleng pelan tanpa menatap langsung dirinya.
Pandangan mata orang itu terus menerus mengarah ke Orochimaru, matanya yang tadinya tidak kelihatan karena juga tertutupi oleh jubahnya tiba-tiba saja bisa terlihat dan seperti menyala.
"Ti-tidak munkin!" Orochimaru menatap tidak percaya orang tersebut.
"…Uchiha…" Shodaime yang sedari tadi diam saja berbisik dengan pelan, ia tahu betul mata tersebut karena itu adalah mata yang sama dengan yang di miliki oleh sahabatnya dulu.
Sasuke terbangun dari keadaannya yang tadi sedang tidak sadarkan diri, pemandangan yang menyambutnya adalah Sakura yang sedang tidak sadarkan diri di tahan oleh pasir di pohon tepat di depannya, ia langsung membulatkan matanya.
"Sakura!" Ia mencoba berdiri walau sedikit kesulitan dan berjalan ke arah Sakura untuk mengecek keadaannya "Hanya tidak sadarkan diri dan sedikit terluka"
Seingatnya hal terakhir yang ia tahu adalah ia sedang mengejar musuhnya, Sabaku no Gaara, tadinya ia sempat di hadang oleh sang kakak laki-lakinya, namun Shino menawarkan untuk melawannya karena ia merasa bahwa pertarungannya yang sebelumnya terganggu karena kakak dari Gaara memilih untuk mengundurkan diri yang tentu saja Sasuke menerimanya karena lawannya adalah Gaara, bukan kakaknya.
Setelah ia berhasil mengejar Gaara yang di bawa oleh kakak perempuannya dan berhasil mengalahkan kakaknya dengan sangat mudah, ia di kejutkan oleh Gaara yang berubah menjadi setengah monster dan ia hampir di bunuh oleh sang pengguna pasir.
Setelah itu ia pingsan dan ingatannya terhenti, apa yang terjadi?
Sasuke menghela nafas pendek sebelum ia merasakan bahwa ada gempa bumi kecil yang membuat dirinya hampir kehilangan keseimbangan, ia juga akhirnya merasakan bahwa gempanya tidak berhenti di situ saja dan malah seperti penyabab gempa ini adalah seorang raksaksa yang sedang berjalan atau mungkin bergerak.
Ia melompat dari satu pohon ke pohon lain hingga ia menemukan sebuah pohon yang paling tinggi dan terletak tidak jauh dari tempat Sakura pingsan, pemandangan yang ada di depannya membuat dirinya menahan nafas dan memucat.
Seekor rubah raksaksa berekor sembilan sedang bertarung dengan seekor rakun raksaksa berwarna coklat dengan tato di seluruh tubuhnya, kedua monster tersebut sibuk saling mendorong dan menahan satu sama lain, mengerang dan mencoba melukai satu sama lain.
Hingga Sasuke menyadari sesuatu: Di mana Naruto? Seingatnya Naruto tadi datang bersama dengan Sakura!
To Be Continue
Omake
Naruto's Misadventures, To The Future? (?)
Matahari sudah menghilang dari singgahsananya, kini sang bulan menempatinya; memberikan penerangan kepada para penghuni bumi yang masih terbangun.
Duduk di atas atap apartemennya, sang gadis Uzumaki yang bernama Naruto menatap kosong bulan yang hampir sempurna, manik birunya tak berkedip menatap bulan yang ada di langit; ia sedang tenggelam dalam pikirannya sendiri, membiarkan tubuhnya yang hanya di balut kaus hitam dan celana pendek orange gelap bermandikan sinar rembulan.
Bagi sang gadis, bulan yang kini sedang ia tatap memiliki makna lain dari apa yang orang-orang lain pikirkan, bila orang lain tidak terlalu perduli dengan keadaan bulan, atau mungkin seorang nelayan yang tengah menunggunya bulan penuh, atau apapun itu yang pasti hampir semuanya merupakan hal yang positif; bagi sang Uzumaki, bulan purnama memiliki arti yang tidak menyenangkan di matanya.
Mengapa? Karena setiap bulan purnama; sahabat merangkap keluarganya akan merasa risih dan tidak bisa tidur, tentu saja yang ia maksud adalah sang Kyuubi no Kitsune atau yang biasa ia panggil sebagai Kurama. Ia tidak tahan melihat sahabatnya tidak bisa diam dan terlihat gelisah, ia jadi ikut gelisah dan tidak bisa diam juga sehingga menyebabkan ia tidak bisa tidur dan bergadang.
Semua karena Kaguya.
Naruto menghela nafas pendek sebelum ia melompat turun dari atap apartemennya dan masuk ke kamarnya melalui jendela yang terbuka,setelah itu ia menutup jendelanya untuk memblokir dinginnya angin malam. Ia langsung menjatuhkan tubuhnya ke futon yang sudah ia gelar sebelumnya dan tertidur dengan pulas, ia harus menyimpan tenaga sebanyak-banyaknya agar ia bisa tahan untuk tidak tidur dan menemani sahabatnya nanti di malam bulan purnama.
Namun tiba-tiba saja matanya terbuka dan ia merasa… aneh…
Naruto menguap dan mencoba bangun dari posisinya yang tadi sedang tiduran, ia mengusap matanya, namun ia terdiam di saat ia merasakan dadanya lebih berat dari biasanya, terlebih lagi ia merasa rambutnya tidak selebat dan sepanjang seharusnya.
"Hm?" Naruto duduk di tempat tidurnya dan mulai meraba-raba dadanya sendiri dan menemukan ada sesuatu di balik pakaiannya, ia merasa déjà vu, di mana atau mungkin kapan ia pernah merasakan benda yang sama seperti yang sedang ia pegang sekarang? Kenapa ada perasaan yang tidak enak di dalam lubuk hatinya yang menyebabkan dirinya tidak ingin mengetahui benda apa yang sedang ia pegang sekarang?
Pelan-pelan wajah sang Uzumaki memucat, ia juga menyadari bahwa ia tidur di tempat tidur dan bukan futon, manik birunya bergerak dengan perlahan untuk memeriksa tempat tidur yang sedang ia duduki dan wajahnya menjadi semakin memucat di saat ia menyadari bahwa tempat tidur yang ia sedang duduki berukurang King size.
Ia harus menahan teriakan di saat ia menyadari bahwa di sampingnya ada seorang laki-laki yang sedang tertidur dengan pulas tanpa mengenakan kaus sama sekali alias telanjang dada, barulah Naruto merasa ia ingin pingsan seketika di saat ia menyadari bahwa ia hanya mengenakan kaus putih biasa yang kebesaran, memperlihatkan kaki jenjang nan seksi miliknya kepada dunia—tunggu dulu, sejak kapan kakinya jadi lebih panjang dari seharusnya? Bukannya ia kembali menjadi bocah berumur 13 tahun? Sejak kapan kaki anak umur 13 tahun bisa se indah ini?
'Demi apapun—TOLONG AKU! DI MANA AKU? SIAPA LELAKI INI? KURAMA?' Tak ada balasan dari sang rubah berekor sembilan membuat dirinya semakin panik dan tanpa di sadari olehnya yang masih terlalu panik, pria yang tidur di sebelahnya kini terbangun.
"Mmh… Naru?" Naruto membeku mendengar suara laki-laki di sampingnya, mengapa ia merasa begitu familiar dengan suara tersebut? Demi apapun, Naruto tidak mempercayai telinganya, ia harus ke dokter secepatnya! Kenapa? Masih mau tanya kenapa?
KARENA SUARA TERSEBUT BEGITU MIRIP DENGAN SUARA SASUKE!
Naruto membatu, layaknya robot yang karatan, ia menengok ke sampingnya secara perlahan, takut dengan pemandangan yang akan ia lihat, ia bahkan sampai ingin menutup matanya agar tidak melihat pemandangan yang ia yakin akan membuat dirinya terkena serangan jantung.
Namun kebodohan bercampur keinginan tahunya mengalahkan keinginan untuk menutup matanya dan ia langsung di sambut dengan wajah seorang laki-laki tampan berambut hitam sedikit panjang, manik hitam segelap langit malam milik sang laki-laki bertemu dengan manik biru mudanya dan sang pemilik manik biru merasa mulutnya hampir berbusa dan kesadarannya mulai menipis.
Lelaki yang ada di sampingnya sangat persis dengan Sasuke, hanya saja sang lelaki lebih mirip Sasuke yang sudah lebih tua dari umurnya seharusnya… atau memang ia sudah tua? Karena Naruto sendiri menyadari tubuhnya yang sudah lebih terbentuk dari seharusnya.
"Ah, selamat pagi Naru…" Sang laki-laki berambut hitam yang terlalu mirip dengan Sasuke sehingga membuat Naruto memucat mendekatkan wajahnya dan mencium kening Naruto.
Gelap.
Sepertinya Naruto hilang kesadaran dan kini hanya kegelapan yang menemaninya.
Namun matanya tiba-tiba langsung terbuka dengan sangat cepat dan ia langsung bangun dari posisinya sedang tiduran.
Ia dengan panik memeriksa sekelilingnya, ia sedang ada di tempat tidur dan kalau dari sekelilingnya, sepertinya ia sedang ada di rumah sakit, tunggu dulu, sejak kapan ia ada di rumah sakit? Dan kenapa dadanya masih terasa berat? Rambutnya juga kini menjadi panjang kembali walau tidak sepanjang seharusnya.
'…DI MANA AKU SEKARANG? KENAPA TADI ADA LELAKI MIRIP TEME TIDUR DI SAMPINGKU DAN IA MENCI—ARGH, KURAMAAAAAA?' Naruto ingin sekali bangun sepenuhnya dari tempat tidurnya dan kabur dari ruangan rumah sakit aneh ini, karena entah kenapa ia ada perasaan tidak enak bila ia diam saja.
Namun tubuhnya tak bisa bergerak sama sekali, suaranya juga seperti tidak mau keluar sama sekali sehingga membuat dirinya jadi semakin panik 'A-APA…'
Tiba-tiba saja pintu masuk ruangan di buka dan Naruto membeku di tempat, ia tidak berani menengok ke samping dan melihat siapa itu yang masuk.
"AH, kau sudah bangun!" Suara laki-laki dan lagi-lagi Naruto mengenal suara tersebut namun kali ini ia spontan langsung menengok ke arah laki-laki tersebut.
'A-A-A-A…AAAAAAAAAAAAA' Karena tak ada suara yang bisa keluar dari mulutnya, Naru hanya bisa bicara dalam hati dan ia bahkan kehabisan kata-kata walau bicara dalam hati, bagai mana tidak? Lelaki di sebelahnya adalah lelaki yang ia kenal 'ITACHI?!'
"Kau membuatku sangat khawatir kau tahu… aku tahu bahwa kau memiliki kekuatan berlebih namun jangan memaksakan diri juga" lelaki yang mirip Itachi dan suaranya juga mirip—TIDAK! Tidak mugnkin laki-laki yang ada di sampingnya adalah Itachi! Karena Itachi adalah missing nin dan ini rumah sakit Konoha!
Itachi-wannabe (Bodo! Naruto akan memanggilnya begitu) duduk di kursi yang ada di samping tempat tidurnya, ia tersenyum hangat dan membelai kepala Naruto, membuat Naruto membeku seketika, oke, ia hampir tidak pernah melihat Itachi tersenyum dan lihat sekarang… sang kakak dari sahabatnya ini memberikan senyumannya secara cuma-cuma!
Oh! Naruto tahu! Itachi pasti menghawatirkannya dan menganggapnya adik! Ya! Pasti! Karena ia adalah sahabat adiknya!
Namun kebahagiaan Naruto karena merasa sedang di puji atau di manjakan harus di akhiri karena Itachi kini memindahkan tangannya ke perutnya yang entah mengapa lebih besar dari seharusnya.
"Kau tidak mau secara tidak sengaja melukai buah hati kitakan?"
Gelap
Naruto hilang kesadaran lagi.
OH AYOLAH! BAGAIMANA TIDAK? ITACHI MENDADAK BILANG KALAU IA SEDANG HAMIL ANAKNYA!
Naruto membuka matanya kembali, kini ia sedang duduk di teras sebuah rumah yang menghadap pahatan wajah para Hokage, ia sedang ada di posisi duduk dan bersender ke pintu geser yang ada di belakangnya.
'Kami-sama… atau siapapun yang ada di atas sana… apa salahku…' Pikir Naruto yang sudah pasrah, seperti sebelumnya, ia tidak bisa menggerakkan tubuhnya dan tidak ada suara yang keluar dari mulutnya, membuat Naruto menerima kenyataan bahwa pasti ada saja yang akan membuatnya pingsan lagi.
Dan yang akan membuatnya pingsan kali ini adalah dua orang bocah laki-laki kembar yang berlari ke arahnya dan memeluknya dengan sangat erat, kedua bocah laki-laki tersebut memiliki rambut berwarna orange gelap, yang membedakan mereka hanyalah poni rambutnya, karena yang satu memiliki poni mirip dengannya dan di kesampingkan sementara yang satu lagi memiliki poni berbentuk seperti huruf 'M' yang ia biarkan begitu saja.
Kedua bocah laki-laki tersebut mendongak ke atas dan memperlihatkan wajah mereka yang sebelumnya tertutup oleh rambut dan poni mereka.
Manik merah darah dengan pupil mata yang tidak normal, tiga buah tanda lahir yang berbentuk seperti kumis kucing di pipi, sepasang taring kecil yang terlihat karena mereka memberikan senyum lebar kepada dirinya.
"Ibu!" Seru keduanya bersamaan dengan senyum ala rubah terlukis di bibir mereka.
Gelap.
Naruto mulai terbiasa dengan entah-apa-ini yang sedang ia alami, walau pada kenyataannya ia sudah pusing dan pasrah
Ngomong-ngomong dua anak kembar tadi… siapa? Dan kenapa mereka memanggil Naruto ibu? Naruto tidak tahu namun entah mata kedua anak tersebut…
Naruto tidak bisa berfikir terlalu lama karena ia terbangun lagi dan pemandangan yang menyapanya membuat dirinya membeku seketika dan matanya membelak, karena ia kini berhadapan dengan kaca dan pantulan dirinya yang terlihat di kaca tersebut membuat dirinya terdiam seribu bahasa.
Seorang gadis cantik jelita bermanik biru cerah menatapnya dengan pandangan kaget, surai kuningnya di ikat satu dengan jepitan bunga khas Sunagakure, tubuhnya yang berlekuk di balut gaun seputih salju.
Naruto tahu pakaian yang sedang ia kenakan.
Ia pernah melihatnya di sebuah toko di Sunagakure.
Toko pakaian pengantin.
Tiba-tiba saja muncul laki-laki berambut merah di sampingnya, ia menepuk punggungnya membuat Naruto merasa seperti matanya tertarik ke atas dan berubah menjadi putih sepenuhnya.
Ia akan pingsan dalam hitungan, satu…
"Naru, apakah kau sudah siap?"
Dua…
"Kau cantik sekali… Naruto…"
Tiga…
"Calon istriku"
Gelap.
Naruto tidak habis pikir… APA YANG SEBENARNYA TERJADI DENGAN DIRINYA? MENGAPA IA SELALU BANGUN DALAM KEADAAN TIDAK JELAS SEPERTI ITU?
Kalau bisa, Naruto sudah menjambak rambutnya karena frustasi.
Apakah Kami-sama sedang mempermainkan dirinya?
Yang benar saja! Apa yang selanjutnya? Ia akan pacaran dengan siapa lagi?
'Oh tidak…' Naruto merasa jantungnya semakin melemah, bagai mana tidak? Setiap ia bangun pasti ada saja yang membuat dirinya terkena serangan jantung!
Kali ini Naruto ingin berteriak frustasi.
Alasannya?
Kali ini ia terbangun dalam keadaan duduk di kursi taman di depan batu memorial milik Konoha, dengan seorang laki-laki berambut silver yang mengenakan masker sedang menatap penuh kasih sayang dirinya, ia bertekuk lutut di depannya sambil memegang dengan erat sebelah tangannya.
Sebuah cincin terpasang di jari manisnya dan laki-laki di depannya YANG JELAS-JELAS ADALAH GURUNYA SENDIRI, menurunkan maskernya untuk mencium tangannya, dan ia mendongak untuk memberikan dirinya senyuman tulus dan memperlihatkan wajahnya kepada Naruto—
Gelap.
'KAMPREEEEEEETTT!' Naruto sudah tidak perduli dengan apa yang baru saja ia lihat sebelumnya, namun yang paling penting adalah: KENAPA IA HARUS PINGSAN ATAU APALAH ITU TEPAT DI SAAT IA AKHIRNYA AKAN MELIHAT WAJAH GURUNYA?!
Naruto sudah siap bangun lagi dan menerima pemandangan yang membuatnya hilang keinginan untuk hidup namun kali ini kegelapan yang menemaninya terasa lebih lama dari yang sebelumnya sehingga membuat dirinya memiliki sedikit waktu untuk berfikir.
Naruto tidak menyadari bahwa wajahnya sudah menyamai kepiting rebus, ia tidak bisa berfikir dengan jernih dan ia yakin kalau ia tidak akan bisa menatap teman-temannya dengan pandangan yang sama.
Apakah ia sedang… mimpi basah? Tapi versi perempuan?
…
Oke pikiran gila, Naruto langsung membuangnya jauh-jauh.
Berberapa saat kemudian Naruto sudah bisa membuka matanya dan ia di sambut oleh pemandangan yang begitu indah.
Ia bersandar di sebuah pohon yang besar dan teduh, di kelilingi oleh hamparang rumput dan di temani oleh angin siang yang menerpanya dengan lembut, langit yang berwarna biru cerah, suara sungai yang mengalir di sampingnya, dan burung-burung yang menyanyikan lagu alam.
Tempat Naruto berada sekarang sangat indah dan tentram.
Namun ada satu hal yang membuat Naruto tidak bisa tenang sama sekali walau tempat ia berada begitu indah dan tentram.
Apa yang membuat Naruto tidak bisa tenang?
Jawabannya adalah dua orang laki-laki yang Naruto kenal sebagai 'pengawal' miliknya—bukan, ia tidak terlalu menghawatirkan kedua laki-laki yang menyenderkan kepalanya ke pangkuannya, menjadikan dirinya sebagai bantalan dan tertidur pulas.
Yang membuatnya tidak tenang adalah sebuah benda mirip tali yang terbuat dari sutra berwarna merah yang melingkari kelingkingnya dan kelingking kedua pengawalnya, seperti menghubungkan mereka.
"AAAAAAH" Naruto langsung bangun dari posisinya yang tiduran, ia memegangi kepalanya dan memejamkan matanya, nafasnya tidak beraturan dan tubuhnya di penuhi oleh peluh dan keringat.
Hening.
Naruto mencoba mengatur nafasnya yang tidak beraturan dan mengelap keringat yang membasahi wajahnya dengan selimutnya, setelah mengeringkan sedikit tubuhnya dengan pakaiannya, Naruto memeriksa sekelilingnya.
Ia masih ada di kamarnya, tidur sendirian di futon, masih mengenakan pakaian yang sama, perutnya masih dalam ukuran normal, dan dadanya terasa ringan.
"…Mimpi…" Naruto bergumam pelan, ia mengusap kedua matanya dan lalu mencubit pipinya sendiri.
Sakit.
Ini dunia nyata.
Hening.
"AAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHH!" Naruto langsung menarik selimutnya dan bersembunyi di dalam futonnya, wajahnya sudah menyamai kepiting rebus dan ia merasa tubuhnya panas sekali.
"MEREKA TEMAN-TEMANKU! APA-APAAN TADI ITU! AKU JUGA MASIH BERJIWA LAKI-LAKI! AAAAAH!"
Dan pada hari itu, Naruto tidak mau keluar dari apartemennya sama sekali dengan alasan sedang tidak enak badan.
Bahkan Ashura dan Indra tidak di perbolehkannya masuk ke dalam kamarnya, membuat kedua pengawalnya tersebut kebingungan.
Jangankan Ashura dan Indra, Kurama saja tidak bisa bicara sama sekali dengan Naruto karena di blokir oleh sang gadis Uzumaki.
Begitu juga teman-temannya.
Keesokan harinya, Naruto menjaga jarak dari semua teman-temannya, ia berusaha keras tidak pernah bertemu mata dengan siapapun terutama laki-laki dan ia akan selalu menjaga jarak aman-minimal 1 meter dari teman laki-lakinya.
Termasuk gurunya.
membuat mereka semua kebingungan bukan main, terutama rekan satu kelompoknya; Sasuke.
!Review Reply!
uzumaki megami: Mereka berdua memang seperti itu kok, hahahah, semoga saja ya. Musuh baru ya… entah lah, saya belum merencanakan soal itu.
yuunhi: Terimakasih atas pujiannya! Saya senang anda menyukainya.
Azarya Senju: Hahaha bukan hibernasi sih, hanya saja sibuk dengan kuliah dan ini bukan malah mau sudahan… saya mau UTS… hahahah sedih. Sengaja tidak ada humor karena untuk menyambut ulang tahun Naruto; saya mau buat sedikit adegan fluff.
yoru no hikari-sama: aaah bagai mana ya, itu spoiler… hahah maaf saya tidak bisa jawab.
boku wa megitsune: Tergantung kebutuhan, mari kita beri waktu karena belajar Fuinjutsu itu tidak semudah yang di kira, terlebih lagi Naruto kurang pintar membaca sedangkan Fuinjutsu itu penuh bacaan dan tulisan, hahaha.
Vilan606: Aah, saya butuh waktu cukup lama untuk bisa mengerti isi Review anda…bahasanya agak sulit di mengerti…. Hahah tidak apa-apa sih, tapi saya belum bisa menyebut siapa sebenarnya dia walau sudah di beri hint karena di ceritanya saya belum di kasih tahui namanya juga.
kaila wu: Saya suka menyelipkan romance sedikit-sedikit kok, mungkin agak sulit di temukan, hahahha.
kyunauzunami: Namanya juga hantu, hahaha. Terimakasih banyak.
Samuel903: Pertanyaan yang bagus, sejujurnya saya sendiri juga kurang tahu… saya suka menulis saja hahahah *di lempar ke kubangan lumpur*. Namanya juga hantu jadi emang tidak jelas, eksistensi mereka saja juga sudah gak jelas, hahahaha. Iya, ini masih Naruto belum Shipunden dan belum Pain ARC. Kalau yang itu munkin rahasia alam ya, hahaha.
Jasmine DaisynoYuki: Terimakasih, kalau ada waktu saya akan mencoba mengembangkannya jadi lebih bagus.
devil: …..Hachimon?
Uchiha4me: Oh! Terimakasih banyak sudah memberi tahu… Author ternyata salah penulisan, chapter depan akan saya perbaiki.
Crazzy Lucky Rin: Sedikit kekurangan dari menjadi Immortal dan punya partner temperamental sih, hahhaa. Gak pilih memilih kok, semua akan dapat chapter tersendiri, semua dapat Naru! (?). saya masih kuliah sih belum lulus… hahhaha iya, penuh perjuangan.
Red Kalyca: Terimakasih banyak! Anda greget sekali membaca dari chapter 1 hingga 18 dalam waktu satu hari full, hahaha. Terimakasih banyak atas pujiannya dan saya senang anda menyukai cerita ini.
Yak Omakenya sudah penuh hint! semoga kalia semua menyukainya. sekarang waktunya saya kembali mengerjakan tugas UTS! sampai jumpa... uh... 2 atau 3 minggu lagi!
Review Please
