Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Warning: Mengandung Gender Bender, Semi-Au, Time Travel, Miss Typoo, dll
!Author Notes!
Halo pembaca sekalian, akhirnya saya selesai ujian dan memiliki waktu untuk menulis chapter terbaru, walau saya akui bahwa saya masih sakit kepala karena ujian tersebut… lelah batin rasanya.
Oke dari pada saya curhat tidak jelas lebih baik saya membicarakan hal yang menyangkut cerita ini.
Saya sebenarnya sedikit kurang percaya diri dengan omake di chapter sebelumnya karena… yah, itu hanyalah ide random yang terbesit sebelum ujian namun saya senang banyak yang menyukainya walau banyak yang salah menginterpretasikannya… hahahah.
Seperti biasa, karakter yang akan mendapat ending adalah: Kurama, Sasuke, Kakashi, Itachi, dan Gaara.
Oh, dan juga di chapter ini akan ada banyak scene pertarungan dan Author tidak terlalu mahir dalam menulisnya, jadi saya minta maaf bisa pada saat pertarungan, banyak yang terkesan di skip.
Seorang laki-laki berambut merah pendek duduk di atas sebuah balkon bangunan, hujan yang membasahi seluruh tubuhnya tidak ia hiraukan, matanya yang berwarna ungu terus menatap kosong pemandangan desa yang ia pimpin.
"Nagato…" Seorang perempuan berambut biru dengan hiasan bunga mawar dari kertas yang menghiasi rambutnya berjalan mendekatinya, ia menatap temannya yang ia panggil Nagato sebentar sebelum ikut memandang pemandangan yang sama dengan temannya yang ia panggil Nagato "Ada apa?"
Nagato, sang laki-laki berambut merah pendek, terdiam sebentar sebelum menjawab pertanyaan temannya, suaranya sedikit berat dan nadanya sedikit lebih tinggi dari biasa, menandakan bahwa ia sedang menghawatirkan sesuatu "Aku merasa… aneh"
"Aneh?" Sang wanita berambut biru menatap bingung temannya, terkadang ia tidak mengerti temannya yang satu ini, beberapa bulan yang lalu ia terlihat penuh kebencian dan sekarang… ia berubah mendadak, lihat saja kakinya yang seharusnya penuh luka mendadak sembuh dan sahabatnya seperti kembali seperti semula… kembali seperti di saat sahabatnya, Yahiko, masih hidup, namun ia tidak akan mempertanyakannya; karena menurutnya, bukan hal buruk bila Nagato kini kembali seperti semula.
"Hmm… entah lah… mataku terasa… sedikit sakit dan aku jadi tidak bisa berhenti melihat ke arah sini" Nagato berbicara layaknya ia bahkan tidak mengerti apa yang baru saja ia katakan, membuat temannya semakin bingung "Apa menurutmu Konan? Mengapa aku begini…"
"Kau tidak bisa berhenti melihat ke arah situ?" wanita yang ia panggil Konan memandang dirinya sebentar sebelum melipat kedua tangannya di depan dadanya "Dari arah yang kau lihat, di sana ada perumahan rakyat menengah ke atas, desa kecil, hotel, bar, dan… batas desa Amegakure"
'…Dan desa Konohagakure' Pikir Nagato, ternyata memang benar perasaan aneh yang ia miliki berasal dari desa tempat tinggal sepupunya, ia jadi khawatir dengan keadaan sang gadis Uzumaki namun pada waktu yang bersamaan ia merasa bahwa perasaan aneh yang menghantui dirinya tidak ada hubungannya dengan saudaranya.
Ternyata memang benar apa yang di pikirkan oleh Nagato, arah matanya menatap sekarang memang benar ke Konohagakure namun bukan ke arah sang protagonist cerita, pandangan matanya menuju ke arah sebuah tempat yang di tutupi oleh barrier berwarna ungu gelap, tempat pertarungan antara Hokage.
Namun Nagato tidak mengetahui hal tersebut, jadi ia hanya bisa diam saja dan menikmati rintikan hujan di Amegakure bersama dengan Konan yang sepertinya juga sedang menikmati hujan sama seperti dirinya sambil memikirkan serta mendoakan keselamatan saudaranya.
Berbeda dengan Nagato, seorang laki-laki berambut panjang hitam tengah berada di markas Akatsuki bersama dengan partnernya, mereka berdua baru saja selesai latihan bersama dan sekarang tengah berjalan keluar markas bersama dengan partnernya.
"Kalian berdua mau ke mana? Boleh Tobi ikut?" Seorang laki-laki berambut hitam dan menggunakan topeng spiral berjalan mendekati mereka berdua, ia menunduk sedikit dan membuat pose memohon "Boleh yaa?"
"Maaf Tobi, tapi tidak bisa, aku mau pinjam Itachi sebentar untuk menyusup ke Kirigakure" Kisame menyeringai, memperlihatkan deretan gigi runcingnya yang mirip dengan ikan hiu, sebelum seringaiannya semakin melebar melihat lelaki yang memanggil dirinya Tobi pundung "Kecuali kalau kau punya sharingan atau bisa menggunakan genjutsu tingkat tinggi, maka kau boleh ikut"
"Eeeh! Tapi Tobi tak punya semua itu! Tapi Tobi mau ikuuut!"
"Yah kalau tak bisa, ya sayang sekali, kau jaga markas saja atau ganggulah Deidara, aku dengar ia mau buat 'mainan' baru" Kisame melambaikan tangannya seperti mengusir sang lelaki bertopeng sebelum berjalan keluar markas menyusul Itachi yang sudah keluar duluan "Kalau aku beruntung, aku bisa bawakan salah satu pedang dari Seven Sword of the Bloody Mist sebagai oleh-oleh"
"Ooh! Untuk Tobi? Horee! Kalau begitu Tobi pergi bermain dengan Deidara-senpai dulu!" Tobi melompat kegirangan sebelum ia berlari ke arah ruangan milik Deidara, berberapa menit kemudian bisa terdengar dengan jelas suara jeritan sang lelaki berambut kuning menyuruh Tobi keluar dari kamarnya.
Seringaian di wajah Kisame menghilang di saat ia sudah keluar dari markas dan kini sudah ada di samping Itachi, mereka berjalan bersama dalam keheningan hingga Kisame merasa mereka sudah cukup jauh dari markas barulah ia berbicara "Ada alasan mengapa kita berburu pedang sekarang, Itachi?"
"…Untuk dirimu" Jawab Itachi dengan singkat, padat, dan tidak jelas; sehingga membuat partnernya menatap bingung dirinya walau ia tidak terlalu perduli.
"Aku sudah punya Samehada" Kisame menaikkan sebelah alisnya dengan bingung, apakah partnernya ini salah minum obat dan mendadak jadi random begini?
"Bertambah satu lagi juga tidak ada salahnya" Itachi menghela nafas pendek dan terus saja berjalan, tidak memperdulikan Kisame yang menatap dirinya layaknya ia tumbuh satu kepala lagi dan harus di bawa ke dokter jiwa secepatnya.
Berbeda lagi dengan Itachi dan Nagato, Naruto sedang tidak sadarkan diri dan kini mengambil alih tubuhnya adalah sang rubah berekor sembilan yang mengubah seluruh tubuh sang gadis Uzumaki menjadi tubuh miliknya.
"Diam dulu rakun bodoh!" Kurama mengerang dengan keras, ia mendorong rakun yang ukurannya sama besarnya dengannya, kukunya ia kaitkan ke tubuh sang rakun yang di balut pasir.
"Kau yang diam rubah keparat! Akan aku hajar kau sampai mati!" Sang rakun menggunakan kekuatannya mengendalikan pasir untuk mencoba mengubur sang rubah hidup-hidup, membuat sang rubah melompat menjauh dari dirinya dan melepaskan kaitan kukunya.
"Sialan kaaauuu!" Kurama mengerang dengan lebih keras dan sudah siap menerkam sang rakun, ia tidak bisa menyerang secara langsung sang rakun karena takut melukai wadahnya yang sedang tertidur
'Kit! Sadarlah!' Sang rubah mencoba memanggil wadahnya yang tidak sadarkan diri namun wadahnya tidak menandakan tanda-tanda bahwa ia akan bangun sebentar lagi sehingga membuat Kurama semakin emosi.
Seingatnya sedari tadi Naruto baik-baik saja, ia tengah mencoba menenangkan Gaara yang sedang mengamuk namun beberapa menit kemudian di saat Naruto hampir berhasil menenangkan Gaara, tiba-tiba saja ingatan miliknya mengenai kematian sang Hokage ketiga kembali sehingga membuat Naruto berhenti mendadak dan berteriak kesakitan.
Karena panik dan takut, Gaara berakhir berubah menjadi Shukaku dan untuk memperkeruh suasana, Naruto tiba-tiba saja pingsan dan kehabisan chakra, membuat Kurama harus mengambil alih tubuh Naruto dan terpaksa ia harus berubah juga.
'Ada apa ini! Chakra milik Naruto mendadak menghilang, mana munkin ada yang—" Kurama membulatkan matanya di saat ia mengingat sebuah hal di waktu yang bersamaan di saat ia sedang menghindari serangan pasir Shukaku 'Jangan bilang—oh demi Sage of the Six Path! Kit!"
"Sharingan… ini tidak munkin!" Orochimaru mendesis dengan keras, matanya menatap tidak percaya sepasang mata yang di miliki oleh penyusup yang berhasil masuk ke dalam barrier yang anak buahnya buat "Pemilik sharingan terakhir adalah Sasuke Uchiha dan… Itachi!"
"Hm? Apa maksudmu pemilik sharingan terakhir?" Shodaime melirik ke arah Orochimaru sebelum menoleh ke arah mantan muridnya "Ada yang aneh dengan memiliki sharingan? Artinya ia seorang Uchiha bukan? Apa yang aneh?"
Sandaime tertegun, ia tidak tahu mau berkata apa, ia sedang memproses informasi bahwa orang yang ada di depannya dan membelakanginya adalah seorang Uchiha yang memiliki sharingan, sebelum ia membuka mulutnya untuk menjawab pertanyaan salah satu gurunya "Klan Uchiha sudah habis guru… kecuali dua orang; Sasuke Uchiha yang masih berumur duabelas tahun dan… kakaknya yang sudah keluar desa"
"Lalu siapa orang yang ada di depan kita ini, itu sharingan asli" Nidaime menatap tajam laki-laki yang ada di depannya, entah mengapa sang penyusup mengingatkan dirinya dengan Madara dan ia tidak menyukainya sama sekali karena sesuatu yang berhubungan dengan Madara Uchiha akan selalu berakhir dengan kehancuran.
Tidak ada jawaban dari orang yang di pertanyakan, matanya yang berwarna merah hanya bergerak untuk menatap Nidaime dan Shodaime secara bergantian sebelum ia menoleh ke arah Sandaime yang ada di belakangnya "Di antara mereka berdua, siapa yang paling kuat imannya?"
Hening
"Apa?" Sandaime malah hanya bisa menatap aneh orang yang ada di depannya.
"Diantara mereka berdua, yang mana yang imannya paling kuat" Sang penyusup bertanya sekali lagi, ia menunggu jawaban dari Sandaime sebelum ia berbicara lagi "Cepat jawab sebelum aku habis kesabaran dan membakar semua tempat ini… dan akan berakhir dengan aku akan di marahi olehnya"
"Uhh… Shodaime-sama?" Jawab Sandaime dengan sedikit ragu-ragu sebelum ia mengeluarkan senjatanya untuk kembali bertarung dan kalau-kalau orang yang ada di depannya akan melakukan hal yang baru saja ia katakan.
"Hm… kalau begitu memang benar kau adalah milik Shura dulu" Gumam sang penyusup dengan pelan yang hanya bisa di dengar oleh dirinya dan Sandaime sebelum ia mengalihkan perhatiannya ke arah Nidaime.
"Keturunannya juga cukup" Mata sang penyusup yang tadinya merupakan sharingan pelan-pelan berubah menjadi mangekyou sharingan, membuat Orochimaru yang melihat mangekyou miliknya tersentak kaget dan sudah bersiap untuk melindungi dirinya dengan berbagai macam jutsu.
"Bukan, kau bukan Itachi, mangekyou milik Itachi tidak seperti i—gah!" Orochimaru harus melompat menjauh untuk menghindari serangan kunai dari sampingnya yang di berikan oleh Nidaime.
"To-Tobirama?" Shodaime ikut melompat menjauh untuk menghindari serangan adiknya dan menatap tidak percaya Nidaime yang kini sudah membuat hand seal untuk menyerangnya kembali.
"Suiton: Suiryuudan no Justu" Sebuah naga yang terbuat dari air tiba-tiba saja muncul dan menyerang Shodaime dan Orochiramu, sedangkan Nidaime melompat untuk berdiri di samping sang penyusup dan Sandaime.
"Apa yang… sial!" Orochimaru mendesis dan melompat untuk menghindari serangan naga yang terbuat dari air sedangkan Shodaime membuat sebuah dinding yang terbuat dari pepohonan untuk melindungi dirinya, namun di saat ia melompat untuk menghindari serangan Nidaime, ia sempat melihat mata sang Nidaime yang tadinya berwarna crimson kini berubah menjadi mangekyou sharingan seperti yang di miliki oleh sang penyusup "Ia mengambil alih!"
Sang penyusup menggeleng dengan pelan sebelum ia menggunakan pedang berukuran jumbo miliknya untuk menebas angin, namun tebasan pedangnya sampai hingga ke dinding yang di buat oleh Shodaime, membelah dinding yang terbuat dari pohon tersebut menjadi dua.
"Aku tak punya banyak waktu, selesaikan pertarungan ini secepatnya" Sang penyusup melirik Sandaime sebelum ia berjalan ke samping dan tidak lagi menutupi Sandaime "Dan jangan sampai kau mati, aku sudah berjanji akan memastikan bahwa kau hidup"
Sandaime membulatkan matanya mendengar apa yang sang penyusup katakan, hanya ada satu orang yang tahu bahwa ia akan mati dan otaknya yang encer kini menemukan alasan mengapa lelaki Uchiha yang ada di depannya mau membantunya.
"Jadi intinya kau melakukan barter ya? Chakramu untuk keselamatan Rock Lee?"
"Maaf kek, aku belum bisa menceritakannya secara detail…"
Ingatannya mengenai pembicaraan dengan muridnya beberapa hari yang lalu kembali lagi, bersamaan dengan kejadian di mana Naruto hampir pingsan dan chakranya hilang secara tiba-tiba tanpa sebab.
"Naruto apakah ia—"
"Tidak ada waktu untuk menghawatirkan dirinya, ia punya Kyuubi" Sang penyusup mendesis sebentar sebelum ia melompat untuk menyerang Shodaime yang di ikuti oleh Nidaime, meninggalkan Sandaime sendirian untuk melawan Orochimaru.
"Kau… apa yang kau sembunyikan dariku" Orochimaru mendesis dengan keras, ia mengeluarkan pedang yang tadinya terbengkalai karena sibuk menghindari serangan sang penyusup yang sedang melawan Shodaime bersama dengan Nidaime "Tidak ada informasi keberadaan Uchiha lain selain Itachi dan Sasuke"
"Huh, jangan tanya aku; aku saja baru tahu beberapa detik yang lalu" Sandaime mulai membuat hand seal dan maju untuk menyerang Orochimaru yang ada di depannya "Kagebunshin No Jutsu"
Lain hal di dalam barrier, di luar, para ANBU yang sedang menonton dari jauh sedang kewalahan karena tidak bisa melihat isi barrier tersebut secara mendadak tanpa tahu alasannya—kecuali para penahan barrier, Kabuto, dan seorang ANBU bertopeng rubah.
"Ada apa ini! mendadak kita tidak bisa melihat isi barrier!" Salah seorang ANBU yang mengenakan topeng burung hantu mendesis dengan keras "Kita tak bisa melihat isi barrier… apa yang harus kita sampaikan ke Danzo-sama!"
Rekannya tidak ada yang bisa menjawab sebelum mereka semua memutuskan untuk mengecek sisi lain dari barrier untuk menemukan satu titik di mana mereka bisa menyaksikan pertarungan antara para Hokage.
Sedangkan pertarungan antara Kabuto melawan ANBU bertopeng rubah terhenti sebentar karena keduanya sedang mencoba mencari tahu siapa sang penyusup misterius yang bisa masuk ke dalam arena pertarungan para Hokage dan juga mengapa mereka mendadak tidak bisa melihat arena pertarungan setelah sang penyusup masuk.
'Genjutsukah? Aku tak percaya ini! sudah bisa masuk, ia juga membuat orang lain tidak bisa melihat apa yang terjadi di dalam barrier… siapa dia!' Kabuto mulai khawatir, orang yang berhasil masuk bukan sembarang orang dan memiliki kekuatan yang bahkan ia tidak ketahui seberapa besar; ia sangat menghawatirkan keadaan Orochimaru walau ia tahu bahwa pertarungan masih berbanding sebelah: Orochimaru di bantu oleh Shodaime dan Nidaime sedangkan Sandaime hanya bersama sang penyusup.
"Sandaime-sama!" sang ANBU bertopeng rubah langsung berlari mencoba mendekati barrier yang ada di belakang Kabuto namun Kabuto langsung melempar kunai ke arah sang ANBU, membuat sang ANBU mendesis dengan keras dan menggunakan kekuatan mokuton miliknya untuk menahan Kabuto.
"Sudah aku bilang, kau boleh masuk kalau aku sudah mati" Kabuto melompat menjauh dan menggunakan chakranya untuk memanggil beberapa ular yang sudah siap menerkam sang ANBU.
Tanpa ada yang menyadari, seorang laki-laki berambut coklat pendek yang kasat mata sedang duduk di atas barrier yang sedang di lindungi oleh Kabuto, ia menonton segala pertarungan yang ada, termasuk yang ada di dalam barrier sebelum menghela nafas "Konflik selalu ada kapanpun… mengapa sih mereka tidak bisa rukun…"
Sang lelaki berambut coklat, Ashura, menggeleng dengan pelan sebelum melompat turun dari barrier dan mendarat dengan mulus di belakang Kabuto, kunai yang mengarah ke arahnya tembus dan terbakar di saat menyentuh barrier yang ada di sampingnya "Bisa tidak sih pertarungan ini selesai secepatnya? Aku mau kembali ke sisi Naruto…"
Ashura menoleh ke arah luar stadium tempat ujian yang Naruto ikuti dan menemukan sebuah kepulan asap yang berasal dari pintu masuk desa "Kehancuran di mana-mana…"
Ashura menggeleng dengan pelan sebelum berjalan memasuki barrier untuk menemui kakaknya yang sedang mengendalikan Nidaime Hokage agar bertarung dengan Shodaime "Kak, jangan terus-terusan menggunakan mangekyou, nanti chakra dari Naruto cepat habis"
"Tidak ada pilihan lain, aku tak mau musuhku mengetahui cara aku bertarung atau apapun mengenai diriku, sudah cukup ia tahu memiliki sharingan" Indra menggeleng dan melipat kedua tangannya di depan dadanya, matanya yang masih menggunakan mangekyou sharingan melirik ke arah pertarungan antara Sandaime dengan Orochimaru "Dan aku tak mau ia bisa merasakan chakra milik Naruto yang aku gunakan"
"Hmm…" Ashura setuju dengan apa yang Indra katakan sebelum ia mengalihkan perhatiannya ke arah Shodaime "Itu reinkarnasiku sebelum Naruto ya?"
Indra mengangguk, kini Nidaime yang sedang ia kendali sedang bertarung menggunakan taijutsu dengan Shodaime "Makannya aku pilih adiknya"
Ashura berjalan mendekati Shodaime dan mulai memeriksa sang Hokage pertama, segala tendangan dan serangan yang Shodaime lakukan semuanya tembus melewati Ashura—karena pada dasarnya ia sedang melawan Nidaime dan tidak bisa melihat Ashura "Ia lebih mirip aku dari pada Naruto… yah karena Naruto kini telah menjadi perempuan tapi ia lebih memiliki banyak kesamaan dengan diriku di banding Naruto"
Indra hanya diam saja dan memperhatikan adiknya yang kelihatannya senang bertemu dengan reinkarnasi dari dirinya selain Naruto sebelum mereka berdua menyadari sesuatu yang membuat bulu kuduk keduanya naik.
"Kakek keras kepala! Baru saja aku bilang jangan sampai kau mati!" Indra membalik tubuhnya dan mendesis dengan sangat keras melihat Sandaime sedang menahan Orochimaru dengan pedang yang di gunakan oleh sang lelaki mirip ular tersebut tertusuk di perutnya. Sebelum Indra pelan-pelan mengalihkan perhatiannya ke sesosok yang ada di belakang sang Sandaime.
Shinigami.
Sang dewa pencabut nyawa yang tadinya sedang mengangkat pedangnya terhenti dan kini menoleh ke arah Ashura dan Indra, membuat kedua kakak beradik Otsutsuki tersebut sedikit tersentak kaget dan sudah siap dengan posisi bertarung.
"Kalian berdua… apakah ini permintaan sang gadis untuk menyelamatkan manusia ini?" Ashura dan Indra membulatkan mata mereka sebelum saling berbagi pandangan, mereka berdua tidak sedang berhalusinasi dan sang shinigami memang sedang berbicara dengan mereka "Kalian sudah tahu harga yang harus di bayar bukan?"
"…Ya" Indra mengangguk dan menatap dengan serius sang dewa kematian dan kini Ashura sudah ada di sampingnya, mengangguk untuk menjawab pertanyaan sang dewa kematian.
"Namun untuk soal pembayarannya, kami yang akan melakukannya, bukan Naruto…" Ashura melipat kedua tangannya di depan dadanya sebelum ia sedikit terlonjak kaget di saat ia melihat ada sebuah benang merah yang muncul dari dadanya dan dada kakaknya "Apa ini?"
"Baiklah kalau itu memang jawaban kalian" Sang dewa kematian mengalihkan pandangannya kembali ke arah Orochimaru untuk melanjutkan tugasnya "Sebagai bayaran sementara, aku akan ambil seluruh chakra yang kau miliki sekarang dan jiwa manusia yang sedang kau kendalikan"
"Wa-apa?" Shodaime yang tadinya sedang bertarung dengan Nidaime terdiam di saat ia melihat tubuh adiknya pelan-pelan rusak dan menggantikan dirinya, tubuh seorang ninja Otogakure terbaring tidak bernyawa di tempat tubuh adiknya seharusnya berada.
Tidak itu saja, tiba-tiba saja sang penyusup yang mengendalikan adiknya menghilang tanpa jejak, hanya meninggalkan jubah yang tadinya sedang ia gunakan di tempat ia berdiri sebelumnya.
Ia juga menyadari bahwa barrier yang tadinya sedang mengurung mereka pelan-pelan terbuka dan menghilang dan dari kejauhan, ia bisa melihat beberapa orang ANBU berlari ke arahnya (kemungkinan besar untuk menyegel dirinya dan ia tidak keberatan), seorang ANBU bertopeng rubah sudah ada di samping Sandaime, dan seorang laki-laki berambut putih dan berkaca mata sedang membantu Orochimaru yang kedua tangannya tidak bisa di gerakkan lagi untuk kabur.
Sebelum dirinya di tahan oleh para ANBU yang mengepungnya, matanya sempat menangkap sesosok—tidak, dua orang laki-laki yang mengenakan pakaian cukup unik dengan logo sebuah klan yang ia kenal.
"Oot…sutsuki?"
Gelap.
Panas.
Sesak.
Itulah perasaan yang sedang Naruto rasakan di saat ia terbangun, ingatannya mengenai apa yang terjadi sebelum ia pingsan sedikit kabur sehingga membuat dirinya membuka matanya secara perlahan.
Pemandangan yang menyambutnya adalah kegelapan sebelum ia merasa seperti ia sedang tenggelam di sebuah lautan yang berwarna hitam, ia tidak bisa bergerak dan ia hanya bisa membiarkan tubuhnya tenggelam secara perlahan-lahan.
"Dobe?" Suara yang ia kenal membuat dirinya secara perlahan menoleh ke arah suara tersebut berasal dan menemukan bayangan sahabat sekaligus rekan satu kelompoknya, Sasuke "Apa yang kau lakukan di sana Dobe? Masih banyak hal yang harus kau lakukan dan kau di sini… tiduran, yang benar saja"
Rasanya ia ingin sekali menjawab dan memarahi temannya namun setiap ia membuka mulutnya, ia selalu tersedak, ia hampir lupa kalau ia sedang tenggelam.
"Naruto?" Kali ini suara baru muncul dan Naruto menoleh ke arah tersebut dan kali ini bayangan sang kakak dari sahabatnya muncul "Bukankah kau berjanji untuk membimbing Sasuke dan kau akan menyelamatkan dunia? Ayo bangun…"
"Naruto? Kau bukannya membuat janji untuk membantuku? Ayo bangun…" Kali ini suara Gaara dan Naruto hanya bisa diam saja.
"Kit, kau janji bahwa kita akan selalu bersama hingga waktumu sudah habis!" Suara Kurama membuat Naruto membuka matanya seutuhnya dan mencoba bergerak.
"Kau punya mimpikan Naruto? Kau akan jadi Hokage namun kau tidak akan bisa meraih mimpimu kalau kau diam saja" Suara gurunya membuat Naruto menjadi semakin berusaha untuk bergerak, ia ingin berenang keluar dari lautan kegelapan ini.
"Naruto-kun! Ka-kau pasti bisa!"
"Jangan putus asa baka yarou, kono yarou!"
Naruto tersedak namun ia tidak putus asa, ia terus berusaha menggerakkan tubuhnya untuk berenang hingga ia sampai ke permukaan.
"WAAAAH!" Naruto tiba-tiba saja berteriak, peluh dan keringat membasahi seluruh tubuhnya dan ia tidak bisa berhenti gemetaran, ia meletakkan sebelah tangannya di depan dadanya; jantungnya berdetak dengan cepat dan keras.
Ia mencoba menenangkan jantungnya sebelum ia menghela nafas panjang dan memeriksa sekelilingnya untuk menemukan—
"KIT! DASAR BOCAH GILA!" Kurama yang sudah ada di sampingnya dan terlihat marah bukan main.
"Ah… Kurama…" Naruto hanya bisa menatap bingung sang rubah berekor sembilan sebelum menyadari bahwa ia sedang ada di dalam dunia bawah sadarnya.
"JANGAN BERPURA-PURA BODOH! KAU MEMBERIKAN SEMUA CHAKRAMU KEPADA SALAH SATU ANAK HAGOROMO UNTUK MENYELAMATKAN SANDAIME BUKAN!" Kurama mengerang dengan sangat kencang sehingga membuat Naruto harus menutup kupingnya yang berdengung dengan sangat keras bila ia tidak mau tuli mendadak.
"Aku…Aku harus menyelamatkan kakek!" Naruto membalik tubuhnya dan menatap tajam sang rubah, semua perasaan sakit yang ia rasakan sebelumnya terlupakan begitu saja.
"KAU TIDAK BOLEH BERMAIN DENGAN TAKDIR KIT!" Kurama menghentak-hentakkan kesembilan ekornya, membuat suara yang sangat keras dan gempa bumi kecil di dalam alam bawah sadar milik Naruto.
"Tapi… tapi… Ashura dan Indra bilang mereka bisa membantu" Naruto menggeleng dengan cepat sebelum bangun dari posisinya dan menatap secara langsung mata sang rubah berekor sembilan yang ada di depannya "Aku tak mungkin diam saja menyaksikan kakek mati begitu saja!"
"KIT…" Kurama mengerang dengan keras, merah bertemu biru, ia bisa melihat dari mata wadahnya bahwa ia tidak akan bisa menang debat kali ini, Naruto terlalu keras kepala dan lagi pula ia punya masalah lain yang harus di tangani "Kita akan bahas mengenai hal ini nanti, kita ada masalah lebih penting sekarang"
Naruto menaikkan sebelah alisnya sebentar sebelum ingatannya mengenai apa yang terjadi sebelum ia pingsan kembali "Oh…Gaara!"
Sasuke hanya bisa membeku dari tempat ia berdiri sekarang, di depannya; pertarungan antara sang rubah berekor sembilan yang berukuran jumbo dengan sang rakun yang ukurannya sama besarnya sang rubah masih berlangsung.
Gempa kecil yang terjadi setiap sang rubah atau rakun bergerak tidak sama sekali mengganggu dirinya, ia tetap membeku tanpa bisa bergerak sama sekali.
Apakah ini rasanya menjadi seekor tikus kecil yang sedang berhadapan dengan ular raksasa yang sudah siap memangsa dirinya? Sasuke tidak tahu tapi yang pastinya ia bahkan tidak bisa membuka mulutnya untuk berkata apa-apa.
Hingga sang rubah tiba-tiba saja menerkam sang rakun dan membenturkan kepalanya dengan kepala sang rakun, barulah gempa bumi yang terjadi sebelumnya terhenti, kedua monster yang ada di depannya membeku dan terdiam.
Selama kedua monster yang ada di depannya terdiam, Sasuke menyadari sesuatu yang cukup penting.
Hal yang pertama adalah rubah yang ada di depannya memiliki sembilan buah ekor dan kupingnya lebih panjang dari rubah biasanya dengan pupil mata merah darah.
Hal kedua adalah setengah tubuh bagian atas sang rubah berbentuk seperti manusia, tidak seperti kaki belakangnya yang jelas sekali merupakan kaki yang biasa di miliki oleh hewan berkaki empat seperti macan, kucing, atau rubah biasa.
Hal ketiga yang ia sadari adalah sang rakun mirip dengan musuhnya yang hampir membunuhnya tadi, Gaara, bahkan tato yang menyelubungi seluruh tubuh sang rakun mirip dengan setengah tubuh Gaara yang mulai berubah.
Dan hal terakhir yang ia sadari adalah… ia seperti mengetahui kedua monster yang ada di depannya sekarang, ia pernah melihat mereka berdua namun di mana dan kapan?
Hingga tiba-tiba saja kedua monster yang ada di depannya seperti terbakar—chakra, dan ledakan terjadi, membuat Sasuke harus melindungi wajahnya dengan kedua tangannya dan menguatkan kakinya agar tidak terjatuh dari tempat ia berdiri karena terpaan angin dan debu yang sangat kuat menyerang dirinya.
Di saat angin dan asap yang memblokir pengelihatannya hilang, ia baru bisa melihat bahwa kedua monster yang tadinya sedang bertarung telah menghilang dan kini ia bisa bergerak lagi, matanya menangkap warna orange dan kuning sehingga ia membulatkan matanya dan berlari ke arah tempat ia melihat sesosok tersebut.
Ia melompat dari satu pohon ke pohon lain, pikirannya penuh dengan pertanyaan yang ia tak yakin bisa menemukan jawabannya dan kalau ia menemukannya… ia tidak akan menyukainya.
Ke mana kedua monster tersebut? Dari mana kedua monster tersebut muncul? Apa yang kedua monster tersebut lakukan di situ? Ke mana hilangnya Naruto dan musuhnya, Gaara di saat kedua monster tersebut muncul? Dan kenapa ia baru bisa melihat Naruto sekarang?
Hingga ia berhenti di pohon yang membuat dirinya bisa melihat Naruto yang sedang berjuang menyeret tubuhnya mendekati sang pemuda bersurai merah, Gaara.
"Me-mengapa… mengapa kau begitu keras kepala!" Sang pemuda bersurai merah mencoba berjalan ke belakang, menjauh dari sang gadis Uzumaki namun tubuhnya yang penuh luka dan kelelahan tak mau bergerak sama sekali.
"Karena.. hah… kita… sama…" Naruto masih terus berusaha menyeret tubuhnya yang juga kelelahan bukan main ke dekat Gaara hingga tangannya bisa meraih sang pemuda bersurai merah yang ada di depannya "Aku… mengerti…"
Naruto berusaha sekuat tenaga untuk mengangkat tubuhnya hingga ia ada dalam posisi duduk dan mencoba meraih Gaara.
"Ja-jangan sentuh—" Garaa terdiam, ia tidak bisa melanjutkan omongannya di saat ia merasakan bahwa dirinya kini sedang di peluk oleh sang gadis berambut kuning yang ada di depannya.
"Sst… aku tahu… aku mengerti…" Naruto memangkukan kepalanya ke pundak Gaara dan menutup matanya, ingatannya mengenai Gaara temannya dulu memenuhi pikirannya, ia masih ingat sekali waktu Gaara memberikan dirinya pelukan yang sama sebelum perang di mulai.
Gaara sudah siap merasakan Shukaku yang ada di dalam tubuhnya protes dan mencoba membuat dirinya membunuh Naruto namun perasaan yang ia dapat dari sang rakun adalah… kekosongan, tidak ada perasaan ingin membunuh, haus darah, atau semacamnya.
'Diam bocah…' Untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia mendengar suara sang rakun tanpa teriakan atau penuh hawa nafsu ingin membunuh, Gaara terdiam seribu bahasa dan hanya bisa membeku di pelukan sang gadis Uzumaki di depannya.
Gaara harus menahan dirinya untuk tidak menangis di saat ia kini mengerti apa yang baru saja sang gadis katakan dan coba lakukan kepadanya di saat ia bertarung dengannya, tangannya yang tadinya tergeletak di tanah pelan-pelan ia gerakkan untuk memeluk kembali sang gadis.
"…Haha…aku senang… akhirnya…kau…me…nger..ti…" Namun sebelum Gaara bisa membalas pelukan sang gadis, Naruto sudah keburu hilang kesadaran dan tubuhnya jatuh ke samping.
Ia mencoba meraih dan membantu Naruto namun tiba-tiba saja musuhnya sebelumnya, Sasuke Uchiha, muncul di depannya dan menggendong sang gadis berambut kuning duluan dan dirinya di bantu berdiri oleh Kankuro dan Temari.
Sasuke hanya melirik tidak suka dirinya sebelum pergi meninggalkan dirinya dengan Kankuro dan Temari, entah mengapa ada perasaan tidak rela dari dalam dirinya melihat Sasuke menggendong Naruto dan pergi entah ke mana.
Namun untuk sementara ia harus diam saja dan membiarkan dirinya di bantu oleh Kankuro dan Temari dan di bawa untuk di obati, ada hal yang harus ia lakukan sekarang terlebih dahulu.
"Temari… Kankuro… aku… minta maaf" Ya, meminta maaf dengan kedua saudaranya…
Itachi diam saja sedari tadi dan Kisame jadi khawatir, semenjak mereka mendengar kabar bahwa Konoha di serang dan Hokage ketiga koma; partnernya diam terus dan bahkan hampir menabrak pohon satu kali bila Kisame tidak menghentikan sang lelaki bersurai hitam tersebut.
"Mau berbagi apa yang membuat dirimu hampir menabrak pohon begitu?" Ia akhirnya tidak tahan dan menarik Itachi untuk beristirahat dan bersembunyi di sebuah gua setelah mereka berhasil mendapatkan Shibuki dari penggunanya dan sekarang sedang dalam perjalanan ke Konoha atas perintah ketua mereka "Jangan bilang tidak apa-apa, kau betulan hampir menabrak pohon tadi"
Itachi diam saja sebentar, ia memandang kabut yang menutupi pemandangan di luar gua sebentar sebelum menghela nafas pendek "Ini seharusnya… tidak terjadi…"
"Apa?" Kisame menaikkan sebelah alisnya, temannya yang satu ini kadang suka berbicara sangat singkat namun tidak padat dan tidak jelas.
"Sandaime Hokage… seharusnya tewas dalam penyerangan tersebut" Itachi bergumam dengan pelan namun Kisame bisa mendengarnya dengan sangat jelas jadi Itachi tidak perlu mengulang lagi apa yang baru saja ia katakan.
"Oh? Bukannya itu berita baik? Kau ada dendam apa sehingga kau malah tidak senang mendengar sang Hokage ketiga mati?" Kisame melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menggeleng dengan pelan, ia masih sering di buat bingung oleh partnernya yang satu ini, terutama sekarang di saat sang pemuda Uchiha telah berubah.
"…Kita tidak boleh bermain dengan takdir Kisame…" Itachi menggeleng dengan pelan, ia berjalan keluar gua yang di ikuti oleh partnernya "Terutama bila menyangkut mengenai kematian"
Kisame diam saja sebelum ia mengangkat bahunya tanda ia tidak terlalu perduli dan terus berjalan mengikuti partnernya "Bukan aku yang melakukannya dan kalau memang itu terjadi… aku tahu siapa pelakunya"
'Naruto… apa yang telah kau lakukan…' Pikir Itachi, ia hanya bisa memijat kepalanya yang sedikit sakit, seingatnya ia sudah mengunci ingatan Naruto mengenai kematian sang Sandaime namun mengapa ia masih bisa menyelamatkan sang Hokage ketiga?
"Jangan di ambil pusing sekarang, nanti kau bisa bertanya secara langsung kepada sang rubah kecil setelah kita sampai ke Konoha nanti" Kisame menyeringai, ia sudah tidak sabar sampai ke Konoha dan berbuat sedikit kekacauan di sana nanti, Itachi tidak bisa menghentikan dirinya karena mereka memang harus melakukannya agar mereka tidak di curigai oleh Madara nanti.
To Be Continue
Naruto Learning To Be A Good Wife (Teacher: Ashura and Indra)
"Duduk yang benar, rapatkan kakimu dan tegakkan tubuhmu"
"...Ini penting ya?" Naruto memutar kedua bola matanya dengan bosan, bagai mana tidak, ia sekarang tengah berada di apartemen miliknya sendirian bersama kedua kakak beradik Ootsutsuki dengan sang kakak yang sedang mengajari dirinya tatakrama.
Tentu saja Naruto yang memiliki sifat tidak bisa diam dan lebih memilih untuk menggerakkan tubuhnya tidak menyukai pelajaran yang Indra berikan, ia merasa sangat bosan dan ingin sekali pergi keluar untuk latihan atau mungkin hanya jalan-jalan saja, menikmati pemandangan Konohagakure di sore hari bersama dengan Kurama.
"ADUH!" Tiba-tiba saja Ia di ikat di tempat duduknya dan punggungnya di letakkan penggaris oleh Indra sehingga ia di paksa untuk duduk dalam posisi tegap, membuat Naruto menjadi tidak nyaman dan rasanya ingin sekali meronta dan melepaskan diri, namun sebuah tatapan tajam dari Indra membuat nyalinya sedikit menghilang dan ia hanya bisa cemberut, pasrah dengan keadaannya sekarang "Kenapa aku harus mengikuti latihan seperti ini... inikan untuk perempuan!"
Indra langsung membekap mulut adiknya yang ingin menjawab pertanyaan Naruto, adiknya yang satu ini tidak bisa membaca suasana, jadi ia yang menjawab pertanyaan sang pemuda berubah gadis yang ada di depannya "Anggap ini latihan untuk jutsumu"
Naruto menaikkan sebelah alisnya dan menatap bingung Indra, bukannya ia paling tidak suka ya bila Naruto menggunakan Oiroke no jutsu miliknya? Ia selalu memberikan dirinya tatapan maut dan memarahinya bila ia mencoba untuk menggunakannya namun sekarang ia malah bilang kalau sekarang ia tengah latihan untuk jutsu tersebut? Sejak kapan Indra menjadi mahluk hipokrit?
"Sejak kapan kau menjadi memperbolehkan aku menggunakan Jutsu tersebut? Kau yang selalu memarahi dan menatap tajam diriku di kala aku ingin menggunakan Jutsu tersebut? Siapa kau dan apa yang kau lakukan kepada Indra!" Naruto menatap penuh curiga lelaki di depannya, apakah yang ada di depannya ini bukan Indra? Ia tidak memperdulikan Kurama yang sedari tadi tertawa di tahan sambil menutup mulutnya dengan sebelah tangannya, menganggap penderitaan yang sedang ia rasakan sekarang adalah sebuah lelucon yang layak di tertawakan.
"Aku bukan memperbolehkan dirimu menggunakan Jutsu terkutukmu yang satu itu" Indra mendecak kesal, yang benar saja; ia di kira sudah gila dan hipokrit oleh orang yang IQnya jauh di bawah dirinya dan sangat mirip adiknya "Yang aku maksud adalah membuat Jutsu tersebut lebih baik dan sopan"
"Apakah kau kira hanya dengan memperlihatkan dirimu dalam keadaan tidak senonoh seperti itu, kau bisa menarik perhatian semua laki-laki?" Indra melipat kedua tangannya di depan dadanya dan mendengus melihat Naruto menatap tidak suka dirinya karena ia menyebut Jutsu yang ia bangga-banggakan sebagai Jutsu terkutuk "Tidak semua laki-laki itu mesum dan tidak semua laki-laki menyukai perempuan yang sifatnya tidak tahu malu seperti itu"
Indra tiba-tiba saja mengacak-acak rambut adiknya yang duduk di sebelahnya "Ambil saja contoh dari Ashura"
"Aduh kak, jangan mengacak-acak rambutku!" Ashura menjauhkan dirinya dari kakaknya, ia tidak suka kalau sang kakak sudah mulai memperlakukannya seperti anak kecil seperti itu.
"Eh, tapi Ashura terpengaruh dengan cukup baik!" Naruto cemberut, ia sudah pernah melihat reaksi Ashura dan menurutnya jutsu miliknya Jutsunya cukup ampuh.
Wajah Ashura pelan-pelan memerah dan ia langsung memukul tangan kakaknya dan mendesis dengan pelan, ia masih punya harga diri oke!
"Ya, tapi itu karena KAU yang menggunakan jutsunya" Indra hanya memutar kedua bola matanya melihat reaksi sang adik dan Naruto yang menatap bingung dirinya "Yang aku maksud adalah, Ashura bereaksi seperti itu bukan karena ia terpengaruh ataupun tergoda, ia bereaksi seperti itu karena ia malu melihat kau—yang jelas-jelas adalah reinkarnasi darinya—dalam keadaan seperti itu! Kalau saja orang lain yang menggunakannya maka tidak akan ada gunanya"
"…Kau tahu dari mana kak?" Ashura menaikkan sebelah alisnya, wajahnya kini tidak lagi semerah tomat, dari mana kakaknya bisa tahu? Ia tidak pernah cerita kepada siapapun namun memang benar, ia bereaksi seperti itu karena Naruto yang menggunakan jutsu tersebut, sebenarnya dulu ia sudah di latih untuk tidak terpengaruh dengan hawa nafsu, terlebih lagi nafsu birahi.
"Kau itu seperti buku berukuran raksasa yang terbuka sangat lebar; mudah sekali membaca pikiranmu, apalagi aku selalu bersama denganmu" Indra tidak seperti adiknya, otaknya lebih encer dan ia PEKA, catat baik-baik dan sekali lagi ia katakan, ia PEKA.
Tidak seperti dua manusia di depannya sekarang yang memberikan ekspresi takjub dan berkata 'oooh' bersamaan, membuat dirinya ingin sekali mempertemukan tangannya ke jidatnya, ia merasa seperti seorang ibu yang memiliki 2 orang anak umur 5 tahun.
"Jadi kembali lagi ke masalah awal, kau harus memperbaiki sikap tidak baikmu yang satu itu" Indra menarik Naruto untuk kembali duduk tegap, membuat sang gadis Uzumaki yang di tarik olehnya cemberut "Jangan memberikan tatapan seperti itu kepada diriku"
"Aku setuju denganmu mengenai membuat jutsu tersebut menjadi 'sopan' namun aku tidak mengerti mengapa Naruto harus di ajari tatakrama layaknya ia adalah putri bangsawan" Ashura menggeleng dengan pelan, ia sedikit kasihan dengan Naruto yang terlihat tidak menyukai latihan yang di berikan oleh Indra "Naruto adalah ninja, bukan putri bangsawan"
"Tuh! Benar kata Ashura! Aku seorang ninja dan bukan putri bangsawan! Aku tidak perlu di ajari pelajaran seperti ini"
"kata 'Naruto' dan 'anggun' itu tidak akan pernah bisa bersatu"
"…Oke! Aku kesal mendengarnya!"
"Hm? Tidak apa-apa kok, di banding wanita yang anggun, aku lebih suka wanita yang penuh semangat, murah senyum, dan bisa di ajak bercanda dan main bersama" Ashura tersenyum lebar, ia dulu memang punya istri namun ingatan mengenai masa-masa dewasanya di kunci oleh sang dewa kematian jadi secara tidak langsung ia mendeskripsikan istrinya.
Ashura tidak menyadari bahwa apa yang baru saja ia katakan membuat Naruto sedikit memerah dan jadi salah tingkah sebelum Naruto berpura-pura batuk dan pura-pura tidak mendengar apa yang Ashura katakan.
"Ayo kita coba terapkan pelajaran yang baru saja aku ajarkan" Indra yang mendeteksi mood Naruto menggeleng dengan pelan dan mencoba mengganti pembicaraan, ia bangun dari tempat duduknya dan berjalan keluar dari apartemen yang di ikuti dengan senang hati oleh Naruto dan Ashura.
Naruto hanya berjalan-jalan tanpa arah saja di temani oleh Ashura dan indra hingga ia tidak sengaja melihat Kakashi yang kelihatannya baru saja selesai berbelanja, Naruto tadinya ingin berlari dan menyapa gurunya namun di hentikan oleh indra.
"Jangan menyapa dia seperti itu, lakukan seperti yang aku ajarkan!" Naruto cemberut dan hanya bisa melakukan apa yang Indra inginkan.
Ia berjalan dengan perlahan ke dekat sang pemuda bersurai silver lalu menepuk bahu Kakashi "Kakashi-sensei"
Kakashi tersentak kaget dan membalik tubuhnya, ia sedikit kaget mendengar suara Naruto yang.. lebih lembut dari biasanya "Naruto?"
"Selamat siang sensei" Naruto tersenyum kecil dan menunduk sedikit untuk memberi salam kepada gurunya, membuat Kakasi terdiam seribu bahasa dan hanya bisa menatap tidak percaya muridnya "Kebetulan sekali kita bisa bertemu"
"Aah… iya…" Kakashi mencoba menenangkan dirinya dan bersikap senormal mungkin di depan Naruto, entah mengapa ia jadi gugup melihat Naruto yang mendadak jadi aneh "Kau baik-baik saja?"
"Yak seperti itu, jawab dengan nada yang sama dan tersenyumlah, jangan terlalu lebar" Indra mengangguk dan terlihat senang melihat Naruto mengikuti apa yang ia suruh.
"Baik-baik saja sensei, bagai mana dengan sensei?" Naruto mengikuti apa yang Indra suruh, ia entah mengapa menganggap lucu reaksi Kakashi.
"Aku sehat-sehat saja" Kakashi tersenyum di paksakan, ia harus menahan perasaan malu karena ini pertama kalinya ia melihat Naruto berlaku seperti… yah… perempuan di depannya dan ia tidak tahu harus berbuat apa "Kenapa kau sendirian? Kau tak main dengan teman-temanmu?"
"Oh! Oh! Jawab ini Naru: Tidak, lagi pula kalau aku main bersama mereka, aku tidak bisa tidak sengaja bertemu denganmu; aku kangen sensei dan aku lebih suka menghabiskan waktu dengan sensei" Ashura mencoba memberikan masukan, sedangkan Indra diam saja dan melirik adiknya.
"Jawab sambil tersenyum sedikit lebih lebar dan dengan tulus, tutup matamu juga" Indra ikut menambahkan.
Naruto mengikuti apa yang di suruh oleh Indra dan Ashura.
Hasilnya? Kakashi membeku di tempat dan buku yang tadi ada di tangannya hampir saja jatuh.
"Eh AH, aku harus pergi sekarang sayangnya dan ah! Ini, camilan untukmu, dadah!" Dan Kakashi langsung shunshin.
"Eh… dadah sensei" Naruto hanya bisa melambai ke arah tempat Kakashi tadinya berdiri dengan tatapan bingung dan sebelah tangannya memegang sekantung penuh camilan.
"Lihat, lebih baik bukan? Kau tidak kena marah dan malah dapat camilan" Indra terlihat bangga terhadap hasil kerja kerasnya mengajari Naruto "Ia malu karena tak tahu cara menghadapimu yang bersifat seperti perempuan mendadak namun aku yakin hasilnya akan mirip bila di coba ke orang lain"
Naruto mengangguk walau ia hanya mengerti setengah dari apa yang Indra katakan, namun setidaknya ia senang karena mendapat camilan gratis.
Ia melanjutkan perjalanannya dan memberikan beberapa camilan kepada Ashura dan Indra juga untuk di nikmati selagi mereka berjalan-jalan.
"Oh! Lihat! Reinkarnasi darimu kak!" Ashura berhenti mendadak dan menunjuk ke arah seorang pemuda bersurai hitam yang Naruto kenal.
"Oke, lakukan hal yang sama Naruto" Indra mendorong Naruto agar mendatangi teman satu kelompoknya "Dan panggil ia dengan namanya, jangan panggil ia Teme"
"Te-Sasuke" Naruto menepuk pundak Sasuke dan sedikit bingung mengapa wajah saingannya sedikit memerah di saat ia menoleh ke arah dirinya "Selamat siang"
"Do-dobe? Apa yang kau lakukan di sini?" Sasuke sedikit panik dan malu karena ini pertama kalinya Naruto memanggilnya dengan nama aslinya dan bukan 'teme' dengan nada suara yang… lembut, membuatnya jadi sedikit salah tingkah.
Naruto ingin membalasnya dengan sarkasme dan candaan namun lagi-lagi di hentikan oleh Indra.
"Jawab dengan baik"Indra menggeleng dengan pelan sebelum memberikan pandangan kepada Ashura untuk membantunya, ia memang bisa mengajari cara bersikap tapi kalau soal omongan, Ashura yang pandai merangkai kata-kata dan bicara.
"Hmm… bilang: Aku sedang jalan-jalan dan tidak sengaja melihatmu, apakah kau sendirian? Mau jalan sama-sama?" Ashura berfikir sebentar sebelum memberikan jawabannya.
Naruto mengatakan apa yang Ashura dan Indra suruh lagi.
"Uhh... Yah karena kau terlihat tidak ada kerjaan yasudah, kau juga yang minta" Sasuke menjawab dengan normal namun dalam hati ia berdoa Naruto kembali lagi seperti semula karena entah mengapa wajahnya jadi sering memanas dan ia jadi salah tingkah "Sini plastiknya aku yang bawa"
"Oh! Bilang: Terimakasih banyak, kau baik sekali"
"Berikan senyuman dan… sedikit besarkan matamu"
Naruto melakukan apa yang di suruh.
Menghasilkan Sasuke yang wajahnya sudah semerah udang dan kepiting rebus, membeku di tempat, dan tidak sengaja menjatuhkan plastik yang tadi di bawa Naruto.
"Eh! Kau menjatuhkan plastikku" Naruto kini kembali berbicara dengan nada normal dan ia cemberut sebelum mengambil plastik yang jatuh "Duuh, kalau mau membawakan yang betul dong jangan di jatuh—"
Sasuke sudah ra'ib dari tempatnya berdiri tadi.
"Loh?" Naruto hanya bisa memiringkan kepalanya dan menatap bingung tempat di mana Sasuke berdiri sebelumnya.
Ashura hanya tertawa pelan dan Indra mengangkat bahunya di saat Naruto memberikan mereka tatapan penuh tanya.
"Naruto?" Naruto menoleh di saat ia merasa di panggil oleh seseorang dan ia mengenal suara terbut.
"Gaara?" Naruto tersenyum melihat pemuda bersurai merah yang kini sudah ada di sampingnya "Halo, apakah kau datang ke sini untuk rekreasi? Atau ada misi?"
"Aah… sedikit misi…" Jawab Gaara sebelum ia mengangguk dan lalu ia bingung sendiri mau berbicara apa, ia masih kurang pandai bersosialisasi dan entah mengapa setiap ia berada di dekat sang gadis Uzumaki, ia akan selalu merasa… aneh.
"Ah dan… ini untuk mu" Naruto tiba-tiba saja di sodorkan dengan kaktus yang berbunga khas sunagakure oleh Gaara "Aku lihat… aku suka menanam tanaman termasuk bunga jadi… aku membawakanmu ini untuk… oleh-oleh"
Naruto menerima hadiah pemberian Gaara, namun sebelum Ashura dan Indra bisa memberikan intruksi kepada Naruto, ia sudah keburu berbicara.
"Terimakasih banyak Gaara! Aku suka sekali oleh-olehnya!" Naruto tersenyum dengan lebar dan menutup matanya, ia juga memeluk hadiah dari Gaara, dengan sedikit hati-hati agar ia tidak tertusuk duri-duri kaktusnya.
Tiba-tiba saja Gaara sudah di selimuti oleh pasir dan di saat pasir tersebut di terpa angin, ia sudah hilang dari tempatnya berdiri, sepertinya ia shunshin menggunakan pasirnya, namun sebelum ia pergi Ashura dan Indra melihat bahwa wajah sang Jinchuriki dari Ichibi sudah sewarna dengan rambutnya.
"Dapat hadiah lagi" Naruto tersenyum lebar, ia tidak mengerti mengapa namun ia senang bisa mendapat banyak hadiah dan barang gratis, uangnya memang sedang sedikit tipis karena tidak ada yang memberikan dirinya uang tambahan karena Sandaime sedang koma dan belum ada Hokage yang menggantikan, jadi sementara saluran uang tambahan Naruto sedang terpotong.
Naruto moodnya jadi bagus dan kini sesi belajar yang menurutnya aneh bin ajaib yang di ajarkan oleh Indra sedikit terlupakan, ia melanjutkan jalan-jalannya bersama Indra dan Ashura sebentar sebelum memutuskan untuk pulang untuk bersiap-siap.
Di sore hari, Naruto berangkat dari apartemennya untuk menemui Itachi di luar desa untuk mendapatkan informasi dari Nagato.
"Itachi-san!" Naruto mendarat di depan sang pemuda berambut hitam di temani oleh dua penjaganya yang selalu setia menemaninya "Apa kabarmu?"
"Hn, Naruto-san" Itachi mengangguk sebagai tanda salam kepada sang gadis Uzumaki sebelum ia menyadari ada sedikit keanehan dari gadis yang ada di depannya "Apa itu yang kau bawa?"
"Ingat Naruto, berikan dengan benar" Naruto hanya bisa menghela nafas dalam hati, apa yang ia lakukan selanjutnya adalah suruhan dari indra dan Ashura, oke?
"Ah, ini untukmu Itachi…kun" Naruto mengeluarkan benda yang tadinya ia bawa dari bungkusnya untuk memperlihatkan sebuah syal yang jelas sekali buatan tangan dan merupakan buatan amatiran.
Syal tersebut merupakan buatan tangannya, ia hanya tertarik untuk mencoba membuat syal karena mendengar cerita Kurama mengenai ibunya yang suka membuat syal dan baju untuk ayahnya, merasa sedikit tertarik dan juga pada saat itu ia sangat bosan dan tidak ada kerjaan, ia mencoba membuatnya.
Hasilnya memang jauh sekali dengan ibunya buat (menurut Kurama) dan Naruto yang sedikit kesal dan sedih akhirnya memutuskan untuk tidak memperbaikinya, namun mendadak tadi sebelum berangkat, Indra menyuruh dirinya memberikan syal tersebut sebagai bentuk penerapan dalam 'memberikan hadiah' yang ia ajarkan tadi pagi.
Naruto dengan perlahan mendekat ke arah Itachi dan berjinjit untuk memasangkan syal kepada Itachi yang hanya diam saja memperhatikan segala gerak-gerik sang gadis yang ada di depannya.
"Markasmu ada di tempat yang cukup dingin dan kau sedang sakit katanya, jadi pakai saja ini untuk menghangatkan dirimu sedikit" Apa yang baru saja Naruto katakan seperti biasa adalah apa yang di suruh Indra katakan dan merupakan kalimat rangkaian dari Ashura.
Hening.
Naruto hanya bisa menatap Itachi sebentar sebelum ia mulai merasakan bahwa keheningan yang menyelimuti mereka berdua membuat dirinya merasa canggung, aduh, apakah ia salah gerak? Apakah Itachi malah akan menganggapnya orang aneh? Itachi terlihat seperti orang yang kurang suka berdekatan dengan seseorang yang tidak ia kenal atau bukan keluarga sehingga membuat Naruto menjadi semakin canggung.
"…Terimakasih" oh lihat itu, Itachi memberikan dirinya sebuah senyuman kecil sebelum memberikan Naruto sebuah gulungan berupa informasi dari Nagato sebelum ia pelan-pelan menghilang dan menggantikan dirinya adalah seekor burung gagak yang terbang meninggalkan Naruto sendirian.
"Oh… wow, kedua kalinya aku di beri senyuman gratis… hahaha" Naruto tertawa pelan sebelum ia menyimpan gulungan dari Itachi dan bersiap untuk kembali ke desanya "Tapi kenapa buru-buru sekali ya… aku jadi tidak sempat bercerita mengenai Teme"
Sesampainya di apartemennya, Naruto langsung menyimpan barang-barangnya sebelum ia menyadari suatu hal sebuah ide terbesit di dalam kepalanya.
Ia membalik badannya untuk berhadap-hadapan dengan kedua penjanganya, membuat Ashura dan Indra yang tadinya sedang mengobrol terdiam dan menatap bingung Naruto.
"Hm? Ada yang bisa kami bantu?" Tanya Ashura.
Naruto berjalan kedekat kedua penjaganya lalu tiba-tiba saja melompat dan memeluk leher keduanya karena ia masih terlalu pendek untuk bisa memeluk mereka berdua bersamaan jadinya ia melompat, Ashura dan Indra harus menunduk agar Naruto tidak sengaja mencekik mereka berdua.
"Aku belum sempat berterimakasih kepada kalian berdua jadi… terimakasih banyak atas segala bantuan kalian!" Naruto melepaskan pelukannya dan mundur sedikit untuk memberikan beberapa jarak di antara dirinya dan penjaganya sebelum memberikan senyuman terlebar yang ia miliki dengan mata tertutup.
Hening.
Naruto yang merasa tidak ada jawaban dari kedua penjaganya membuka matanya dan mendapati Ashura yang sedang memegangi dadanya dan menyenderkan tubuhnya di dinding di sebelahnya sedangkan Indra diam saja namun kedua tangannya mengepal dengan sangat kencang sehingga tangannya jadi memutih karena darahnya berhenti mengalir ke tangannya.
"Oh Kami-sama, reinkarnasiku imut dan polos sekali! Jangan ada yang menodai dia kami-sama" Gumam Ashura sambil sebelah tangannya kini menutupi wajahnya yang kelihatan seperti sedang kesakitan bukan main tanpa sebab.
"Kenapa adikku bukan dia saja, aku ingin tukar Ashura dengan Naruto…" Gumam Indra dengan wajah datar, membuat Naruto sedikit takut dengannya.
Ada apa ini?
'Ah! Hampir lupa!' Naruto langsung memasuki alam bawah sadarnya untuk menemui sang rubah berekor sembilan yang tadinya sedang tidur kini terbangun karena menyadari keberadaan wadahnya.
"Apa maumu Kit?" Kurama membuka sebelah matanya untuk melihat wadahnya, ia sedang malas hari ini jadinya ia lebih memilih untuk diam dan tidur seharian.
Tiba-tiba saja Naruto melompat dan memeluk leher Kurama "Terimakasih banyak sahabat terbaikku yang paling aku sayangi atas segala kebaikkan dan bantuan yang telah kau berikan!"
Kurama langsung bangun dari posisinya yang tadinya sedang tiduran dan mencoba melepaskan diri dari pelukan Naruto.
"A-A-APA APAAN KAU KIT! JANGAN TIBA-TIBA BERBICARA HAL SENTIMENTAL SEPERTI ITU! DASAR MAHLUK LEMAH! LEPASKAN AKU!" Kurama tidak mau mempercayai hal ini tapi ia yakin kalau ia adalah manusia, pasti wajahnya sudah sewarna dengan bulu Son dan ia jadi salah tingkah karena Naruto.
Tiba-tiba saja Naruto di keluarkan dari alam bawah sadarnya dan Kurama memutuskan komunikasinya dengan Naruto sementara.
"Eh? Kok?" Naruto hanya bisa kebingungan sendiri dan ia juga menyadari bahwa Indra dan Ashura sudah ra'ib dari tempatnya.
Kenapa hari ini teman-temannya kabur semua darinya? Apakah ini ada hubungannya dengan pelajaran yang Indra berikan di pagi hari? Namun kalau benar berarti secara tidak langsung Indra terkena senjata makan tuan dong?
Keesokan harinya, Ashura dan Indra jadi lebih pendiam dari biasanya, Kurama masih tidak mau bicara dengannya, Sasuke tidak pernah bicara dengannya secara langsung dan tak mau bertemu mata dengannya, Kakashi menjaga jarak darinya dan pura-pura sibuk membaca buku bila ia mencoba mendekat, dan Gaara kepergok memborong bunga matahari di toko milik Ino.
Sedangkan Kisame sedang bingung melihat Itachi lebih senang dari biasanya dan menemukan sebuah syal di kamar sang pemuda bersurai hitam, ia bahkan berani bersumpah mendengar ketuanya menggumamkan 'Tidak adil!' dan 'Aku juga mau!' berkali-kali.
Pelajaran yang di berikan: Jadilah wanita yang memiliki sopan santun dan anggun sehingga suamimu kelak bisa bangga dan semakin mencintaimu (by. Indra + Ashura)
Status: SEMI-SUCCESS
(Sang gadis bisa mempraktekan tapi belum seratus persen mengerti)
!Review Reply!
Icatisa: Terimakasih banyak atas doanya! Amin! Pasangannya bisa di temukan di setiap Author Notes, termasuk di Author notes di atas dan mereka semua akan emmiliki ending tersendiri, jadi tidak ada pertanyaan 'siapa yang jadi pasangan Naruto' yang ada hanyalah 'siapa saja yang mendapat ending dengan Naruto' dan jawabannya ada di Author Notes.
Rika Jaya: Hahaha siapa yaaaa, hahahahhaha
Azarya senju: Terimakasih atas doanya, seperti yang saya bilang di Author Notes sebelumnya, saya memang tidak pandai membuat humor namun banyak yang minta Omake jadinya saya buat saja, bagi saya Omake hanya sampingan dan tidak terlalu penting jadinya… yah… begitu lah.
Byakuren Hikaru83: Tebakan anda salah, Itachi sibuk dengan tugasnya bersama Kisame~
Vilan616: Hahaha terimakasih banyak dan saya senang mendengar anda menyukai Omakenya, itu ide mendadak muncul saja dan saya tidak keberatan membaca review yang panjang, saya suka membaca. Hanya saja bahasa yang anda gunakan sedikit membingungkan sehingga saya harus berfikir agak lama untuk mengerti maksud anda, hahaha.
Fujoshi Desu xD: Hahaha, terimakasih banyak dan semangat UTSnya serta semoga nilainya bagus~!
Jasmine DaisynoYuki: Chapter ini sudah menjawab pertanyaan anda, hahaha.
Samuel903: Otak Naruto lagi konslet gara-gara mimpinya makannya berfikir yang aneh-aneh wahahahha. Iya singkat karena saya mau ujian waktu itu. Jawabannya sudah ada di chapter ini. hahahahhaha kalau dari ciri-cirinya munkinkah? Hahahah.
Crazzy Lucky Rin: Wahahhahahahaha, mana mungkin saya membiarkan Naruto bisa liat begitu aja, saya aja butuh 14 tahun baru bisa lihat mukanya Kakashi, wakakakkaka.
Sheirlyn: Iya, ini di buat ulang dan di rombak habis. Terimakasih atas pujiannya~!
nina: Hahaha, iya polyandre, tapi gak bakal kok, iya harem tapi nanti semua punya ending sendiri jadi tidak akan kawin… hmmm *ngitung* tujuh? Whahahahaha.
uzumaki megami: Semua dapat ending tersendiri, makannya Naruto pindah-pindah mimpi, bukan hanya karena Sasuke yang pertama berarti Sasuke saja yang dapat ending, bisa di bilang itu penggambaran di masa depan nanti Naruto akan punya banyak ending kayak Otome Game.
Megaca Oona: List pair yang akan mendapat ending ada di Author Notes, mungkin anda bisa membaca Author notes dari chapter 8 untuk mengerti maksudnya.
Avanrio11: Banyak yang mau juga kali, hahahahha.
Madara's Queen: senang anda menyukai Omakenya dan tebakan anda salah, Itachi lagi sibuk sendiri, hahahha.
Red Kalyca: Senang saya mendengar anda menyukai Omakenya dan terimakasih atas doanya!
Boku wa megitsune: bisa di bilang spoiler untuk ending dan… permintaan tidak bisa saya penuhi… saya juga tidak pernah bilang saya akan mengabulkan keinginan siapapun… saya bukan ibu peri, hahahahahah.
kokuo chan: Eh? 4 bulan? Saya tidak hiatus selama itu kok… dan terimakasih atas dukungannya. Entahlah…
devil: Naruto tak punya guru untuk mengajarinya dan menurut saya tidak ada gunanya Naruto punya hachimon, Naruto lebih ke ninja berbasiskan ninjutsu dan senjutsu dengan chakranya yang begitu banyak jadi sepertinya tidak. Dan mungkin kalau anda membaca Author notes bisa di temukan bahwa chapter waktu itu pendek karena saya mau ujian. Terimakasih atas pujiannya.
Hendra12: Terimakasih banyak atas pujiannya dan saya akan terus mencoba berkembang menjadi lebih baik dan bagus.
ijin nyimak: ….ha? lalu kenapa anda bisa menemukan fic ini… dan untuk jawaban soal main dota saya hanya main support (miskin yang sepatu aja bisa menit 10 baru terbeli) dan hanya main bareng teman kuliah di pub (party).
Saya ingin minta maaf bila chapter ini sedikit membingungkan karena chapter ini adalah chapter yang menjelaskan cukup banyak hal dan juga memberi cukup banyak hint untuk kedepannya.
Review Please
