Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Warning: Mengandung Gender Bender, Semi-Au, Time Travel, Miss Typoo, dll
!Author Notes!
Halo para pembaca sekalian, senang bisa bertemu dengan anda semua setelah cukup lama… dua minggu lebih mungkin? Saya sedikit sibuk dengan kuliah dan pekerjaan rumah jadi… begitu lah.
Kali ini saya tidak memiliki hal yang siknifikan yang ingin saya katakan jadi langsung saja, karakter yang akan mendapat ending adalah: Gaara, Itachi, Sasuke, Kakashi, dan Kurama.
Oh, saya juga membuka poll di profile saya, jadi kalau tertarik mengisi silakan di isi, walau saya tak yakin berapa orang yang membaca Author notes….
Sekian dan terimakasih, selamat menikmati chapter baru To The Past!
Naruto Uzumaki, seorang pemuda berubah gadis yang merupakan jinchuriki dari sang rubah berekor sembilan sedang dalam keadaan yang sedikit menyulitkan untuknya.
Gurunya yang merangkap sebagai ayah angkatnya kini sedang duduk di sampingnya dengan kedua manik hitamnya terus menatap sang gadis Uzumaki.
Mereka berdua kini tengah berada di sebuah penginapan di desa kecil tidak terlalu jauh dari desa Konoha, dengan segel pengunci agar tidak ada yang bisa menguping pembicaraan mereka, Jiraiya langsung mengintrogasi sang gadis Uzumaki yang ada di depannya.
"Ini terjadi beberapa waktu yang lalu" Sang gadis Uzumaki akhirnya membuka mulutnya untuk memecahkan keheningan di antara dirinya dan gurunya, ia memainkan ujung pakaiannya dan berbicara secara perlahan; merangkai kata-katanya dengan sangat hati-hati dan mencoba sebisanya untuk tidak terlihat seperti ia berbohong "Sang rubah berekor sembilan berbicara denganku"
"Ia mengatakan bahwa ia memutuskan untuk membantuku… setelah sekian lama diam saja" Naruto menunduk dan menatap perutnya sebelum membelainya, ia bisa merasakan chakra milik Kurama pelan-pelan mengalir ke dalam tubuhnya untuk menenangkan dirinya dan ia tersenyum kecil merasakannya.
"Lalu kau memutuskan untuk melepaskannya begitu saja? Lalu ia tidak memberontak sama sekali?" Jiraiya menatap serius murid barunya, ia tahu betul sikap sang rubah berekor sembilan; tidak mungkin sang rubah yang terkenal dengan kekejamannya mau begitu saja membantu wadahnya secara tiba-tiba, Mito dan Kushina tidak pernah mendapatkan bantuan dari sang rubah jadi apa yang membuat Naruto special?
"Tentu saja tidak, lagi pula bagai mana caranya aku bisa membuka segel yang menguncinya? Kau sudah membaca laporan milikku bukan? Aku tidak bisa membaca kanji dan tulisanku seperti cakar ayam" Naruto tertawa pelan dan menggeleng melihat reaksi guru barunya, ia menghela nafas pendek sebelum melanjutkan ceritanya "Aku kebingungan bukan main bercampur takut namun sang rubah… dengan sangat sabar menunggu jawabanku"
Naruto menggaruk belakang kepalanya dan membuang mukanya, mencoba mengalihkan perhatiannya dari pandangan tajam gurunya sebelum terdiam sebentar, seperti sedang berfikir namun Jiraiya punya perasaan bahwa murid barunya sedang berbicara dengan sang rubah berekor sembilan.
"Bagai mana kalau kau tanya saja langsung dengan Ku—Kyuubi" Merasa ia tidak akan bisa berbohong kepada ayah angkat merangkap gurunya, Naruto menghela nafas pendek dan mengepalkan tangannya dan menyodorkannya kepada Jiraiya, mengajak sang pemuda bersurai putih untuk fist bump dengannya.
Jiraiya terdiam sebelum ia menatap tangan yang tersodorkan di depannya sebentar, ia menaikkan sebelah alisnya sebelum akhirnya memutuskan untuk mengikuti kemauan sang gadis Uzumaki, ia tahu bahwa sang gadis tidak munkin mencoba membuatnya celaka; walau ada perasaan sedikit… takut? Grogi? Entahlah, ia tidak tahu harus merasa apa mendengar bahwa ia akan bertemu secara langsung dengan sang rubah berekor sembilan.
Di saat tangannya yang menyentuh tangan Naruto, ia langsung merasakan sekelilingnya berubah menjadi kegelapan dan lalu terang kembali seperti seseorang baru saja menyalakan lampu; sejauh mata memandang hanya ada kekosongan dan ia merasakan bahwa Naruto sudah tidak berada lagi di depannya.
Ia mendongak dan duduk di depannya dalam posisi layaknya seekor kucing, sang rubah berekor sembilan menatap kosong dirinya dengan Naruto duduk di atas tangan sang rubah; membelai moncong sang rubah tanpa ada rasa takut sama sekali.
"Ayo beri salam Kyuubi, ini guru baruku yang akan mengajariku banyak hal, namanya Jiraiya" Naruto tersenyum dan menepuk moncong sang rubah berekor sembilan sebelum mengalihkan perhatiannya ke arah guru barunya "Dan perkenalkan Ero-sannin, ini teman merangkap partnerku, Kyuubi no Kitsune"
Hening.
"Guruku bertanya kenapa kau mau membantuku dan tidak memberontak ataupun mencoba kabur; walau segelmu terbuka dengan sangat lebar" Naruto memutuskan untuk memecahkan keheningan di antara mereka, lagi pula jelas sekali Jiraiya otaknya sedang sedikit konslet melihat betapa cuek dan beraninya ia memperlakukan sang rubah dan sang rubah sendiri terlihat tidak keberatan sama sekali.
Kurama mendengus dan membetulkan posisi duduknya sehingga Naruto terpaksa untuk duduk di atas kepala sang rubah berekor sembilan "Aku bosan di segel terus"
Jawaban yang sangat pendek, padat, dan tidak jelas dari sang rubah membangunkan Jiraiya dari pikirannya dan melancarkan kembali otaknya "Yang benar saja! Jangan bercanda"
"Bercanda? Kau pikir aku tipe yang bisa bercanda? Jangan samakan aku dengan mahluk rendah berupa monyet tak berbulu seperti dirimu dan kalau aku bilang aku BOSAN berarti aku memang BOSAN di segel terus" Kurama mengerang dengan kencar dan memperlihatkan deretan giginya yang tajam dan siap mencabik-cabik siapapun yang membuat dirinya kesal "Lagi pula aku sudah bersama bocah ini semenjak ia berumur dua jam"
Jiraiya masih menatap tajam sang rubah, membuat Kurama mendengus sebelum pelan-pelan seringaian terlukis di mulutnya dan matanya sedikit membesar, membuat ekspresi licik terlukis di wajahnya.
"Aku yang kalian panggil monster saja tidak tega melihat kehidupan bocah ini semenjak ia masih kecil, aku memang kejam namun aku memiliki standar. Tidak seperti kalian yang sangat menjijikkan, saling melukai dan membunuh satu sama lain, seburuk-buruknya hubunganku dengan rasku; kami tidak pernah ada keinginan saling bunuh maupun melukai satu sama lain" Seringaian yang terlukis di mulut sang rubah melebar, ia merasa bahwa ia adalah pemenang dari argument kali ini melihat ekspresi kesal bercampur sakit hati Jiraiya.
"Kyuubi, sudahlah, aku tidak apa-apa" Naruto menggeleng dengan pelan dan menepuk kepala sang rubah untuk menenangkan sahabat yang sudah ia anggap sebagai keluarganya tersebut. Walau dalam hati ada perasaan senang bukan main melihat betapa sayangnya partnernya kepada dirinya dan ia tidak bisa menahan senyum kecil yang pelan-pelan terlukis di wajahnya "Tidak semua orang jahat kok, ada juga yang menyayangiku"
"Huh, Naïve seperti biasa" Kurama memutar bola matanya namun Jiraiya bisa melihat bahwa sang rubah menjadi lebih tenang dan kini kembali seperti bermalas-malasan, seringaian yang terlukis di wajahnya sudah menghilang dan ia melirik Jiraiya "Aku akan mengawasimu, jangan coba macam-macam dengan segel milik Kit"
"Tenang saja, aku tidak akan membiarkannya mencoba menyentuh segel kita, mana mungkin aku menguncimu kembali" Naruto tertawa pelan dan memeluk moncong sang rubah sebelum melompat turun untuk berjalan mendekati gurunya "Kau tidak perlu khawatir Ero-sannin, aku baik-baik saja—bahkan jauh lebih baik dari sebelum aku melepaskan Kyuubi"
Jiraiya diam saja, ia hanya memandang Naruto dan sang rubah secara bergantian, pikirannya penuh dengan pertanyaan yang ia yakin tidak akan di jawab oleh sang rubah sedangkan Naruto kemungkinan besar tidak ingin menjawabnya melihat betapa dekat dirinya dengan sang rubah yang di pertanyakan.
Selain itu ia juga berfikir apakah sang Hokage ketiga juga sudah mengetahui kenyataan bahwa sang pemuda berubah gadis Uzumaki yang ada di depannya kini sudah bersahabat dengan sang rubah? Makannya gurunya yang satu itu memintanya untuk mengajari sang gadis dan mencoba mencari tahu sendiri? Apakah itu juga alasan mengapa sang Sandaime menatap dirinya seperti ia sudah tahu segalanya di saat ia menceritakan sang gadis?
"Tentu saja kakek tahu, bahkan kakek adalah orang pertama yang aku ceritakan mengenai hal ini" Seperti bisa membaca pikiran Jiraiya—atau memang bisa, karena Jiraiya merasakan bahwa ia sedang ada di dalam alam bawah sadar milik sang gadis, Naruto menjawab pertanyaannya dengan senyum kecil terlukis di bibirnya "Karena kakek adalah orang yang paling aku percayai di seluruh desa"
Jiraiya bisa mendengar sang rubah berbisik kata 'naïve' sehingga membuat sang gadis cemberut dan melirik tidak suka sang rubah.
Jiraiya melirik sang rubah sebelum kembali lagi menatap murid barunya, kalau di lihat dari interaksi sang gadis dengan sang rubah; jelas sekali bahwa mereka berdua sangat—SANGAT dekat, saking dekatnya sang rubah tidak keberatan untuk di duduki kepalanya, atau bahkan ia sendiri yang menyuruh Naruto untuk duduk di atas kepalanya tadi untuk memperlihatkan tahta kepada dirinya bahwa ia sedang berada di daerah kekuasaannya dan Naruto. Itu bahkan sudah memperlihatkan betapa tingginya derajat sang gadis di mata sang rubah, sesuatu yang membuat dirinya kehabisan kata-kata.
Sang rubah berekor sembilan yang terkenal dengan kekejaman dan kekuatannya mengulurkan tangannya kepada seorang bocah kecil yang merupakan wadahnya, tidak itu saja, ia begitu dekat dengan sang gadis; begitu juga sebaliknya.
Jiraiya hampir berfikir bahwa ini semua adalah mimpi namun bukti sudah ada di depan mata.
Ia menghela nafas pendek dan menggeleng pelan sebelum mencubit pipi sang gadis Uzumaki yang ada di depannya dengan gemas "Kau ini ada-ada saja ya"
"Safiiiit! (sakit)" Naruto memberontak dan melepaskan dirinya dari cubitan guru barunya, ia mengelus-elus pipinya yang memerah dan menatap tidak suka sang Sannin "Kenapa kau mencubitku…"
"Tapi tetap tidak menjawab pertanyaan mengapa kau bisa tahu banyak mengenai diriku" Jiraiya melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menaikkan sebelah alisnya dengan bingung.
"Ayah yang cerita" Naruto masih mengelus pipinya dan berbicara dengan nada biasa, seperti apa yang ia katakan sebelumnya adalah hal biasa.
Jiraiya terdiam dan membulatkan matanya, ia menatap tidak percaya gadis yang ada di depannya dengan mulut setengah terbuka.
"Di saat aku membuka segel milik Kyuubi, ayahku muncul" Sebuah senyuman pelan-pelan mengembang di wajah sang gadis sebelum senyumannya menjadi cengiran "Iya, aku sudah tahu siapa ayahku"
"Minato muncul karena mengira Kit mencoba melepaskan aku tanpa tahu konsekuensinya, namun melihat tidak ada masalah; ia membiarkan dan mengajarkan Kit untuk membuka segelnya; bahkan tanpa kunci" Kurama mendengus sebelum menutup matanya seperti untuk pergi tidur.
Jiraiya menemukan kenyataan bahwa muridnya yang ada di depannya ini sangat penuh kejutan.
'Huft, semua berjalan dengan lancar' Naruto menghela nafas lega dan tiduran di tengah ruangan tempat ia menginap dengan gurunya dan menatap kosong langit-langit kamarnya sebelum ia merenggangkan tubuhnya 'Untungnya ia tidak bisa membaca bahasa tubuh dirimu dan tidak bisa tahu apakah kau berbohong atau tidak. Aku memang sudah belajar banyak untuk akting namun aku masih tidak bisa—dan tidak mau berbohong dengan Ero-sannin'
'Naïve' Naruto memutar bola matanya dengan bosan mendengar apa yang sang rubah katakan, sudah lebih dari empat kali sang rubah mengatai dirinya naïve dan Naruto mulai merasa muak mendengarnya, apa salahnya ia sedikit berbaik sangka terhadap seseorang? Ia memang memiliki trust issue semenjak kembali ke masa lalu namun bukan berarti ia bisa menjadi sangat paranoid kepada semua temannya.
"Jadinya semua berjalan baik-baik saja ya, untunglah" Naruto melirik ke arah Ashura yang duduk di sampingnya, sang anak termuda dari Hagoromo tersebut menghela nafas lega sebelum merenggangkan tubuhnya "Sekarang kita harus apa?"
Indra yang tiba-tiba saja muncul kini sudah duduk dan bersender di dinding tidak jauh dari tempat Naruto berbaring, ia menghela nafas pendek sebelum memutuskan untuk memperhatikan Naruto dan memangkukan kepalanya di tangannya; manik onyxnya menatap sang gadis Uzumaki tanpa berkedip "Apa langkah selanjutnya yang ingin kau ambil?"
Naruto terdiam, ia menatap Ashura lalu Indra secara bergantian; ia hampir lupa dengan keberadaan kedua pengawalnya sebelum ia bangun dari posisinya dan menatap pintu masuk yang ada di depannya "Menunggu tamu yang akan datang—"
TOK TOK TOK
"—Sekarang" Naruto merenggangkan tubuhnya dan berjalan untuk membuka pintu yang baru saja di ketuk, ia melirik kedua 'pengawalnya' yang terlihat tidak beranjak dari tempat mereka sebelumnya dan menghela nafas pelan dan membuka pintu yang ada di depannya.
Orang yang menyapanya di balik pintu masuk kamarnya adalah laki-laki berkulit biru dengan pedang berukuran jumbo terikat di punggungnya.
BLAM
Naruto langsung membanting pintu yang baru saja ia buka, namun di saat ia membalik tubuhnya, sang 'tamu' sudah bersandar di dinding di belakangnya dengan seringaian terlukis di bibirnya.
"Kejam sekali kau membanting pintu tepat di depan wajahku, rubah kecil" Sang pemuda berkulit biru tertawa pelan melihat Naruto mendumal kesal dan membuang mukanya.
"Kenapa kau yang datang! Dan ke mana Itachi? Seharusnya yang datang itu Itachi" Naruto mengerang dengan keras sebelum pasrah dan duduk di tempat ia berbaring sebelumnya; entah mengapa ia ingin Jiraiya cepat-cepat kembali karena sang guru pergi untuk mencari 'informasi' yang Naruto tahu pasti mengintip pemandian air panas milik wanita,
"Sedang bersiap-siap, kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya bukan?" Sang pemuda berkulit biru, Kisame, melebarkan seringaiannya dan membuat Naruto menjauh darinya dengan ekspresi campuran antara takut dan tidak nyaman.
Keheningan menemani mereka berdua (berempat sebenarnya) sebelum Kisame membuka mulutnya untuk bertanya.
"Jadi… apakah kedua 'pengawalmu' ada di sini?" Kisame memeriksa sekelilingnya dan ia tidak menemukan siapapun selain dirinya dan sang gadis Uzumaki, ia juga tidak mendeteksi keberadaan seseorang sama sekali yang berarti apa yang di katakan oleh Bee adalah kebenaran: mereka berdua hanya bisa di lihat oleh Naruto.
Sebagai bukti, Kisame melihat Naruto melirik ke sampingnya dan lalu ke dinding yang berada tidak jauh dari dirinya, seperti menandakan bahwa di situlah mereka berdua tengah berada dan di nilai dari ekspresi yang sang gadis tengah kenakan: ia sedang berbicara dengan salah satu dari 'pengawalnya' yang sedang berada di sampingnya.
"Aku tidak bisa menjawab" Naruto membuang mukanya, ia memang tidak ada keinginan untuk bercerita kepada Kisame, selain karena sang pemuda setengah hiu yang ada di depannya bukan pemegang ingatan dari masa depan; ia juga belum seratus persen percaya dengan Kisame.
Kisame tidak keberatan dengan jawaban sang gadis, karena ia tahu bahwa Naruto belum memiliki kepercayaan kepada dirinya, ia memutuskan untuk menunggu Itachi karena ia yakin bahwa ia tidak akan mendapatkan jawaban apapun dari sang Jinchurki.
Beberapa menit berlalu dengan keheningan yang terasa canggung (untuk Naruto) menemani mereka sebelum seekor burung gagak masuk melalui jendela yang terbuka dan pelan-pelan berubah menjadi seorang laki-laki bersurai hitam.
"Maaf aku sedikit terlambat" Itachi berkata dengan pelan sebelum menatap Kisame lalu Naruto secara bergantian, ia melihat bahwa Naruto masih tidak merasa nyaman berada dekat dengan Kisame dan ia tidak bisa menyalahkan sang gadis Uzumaki, Kisame memang memiliki paras yang membuat orang yang baru mengenalnya atau musuhnya tidak ingin mengasosiasikan diri mereka kepada sang lelaki setengah hiu.
"Halo, Itachi…" Naruto menghela nafas panjang, merasa lega akhirnya sang pemuda bersurai hitam akhirnya datang juga, ia tidak yakin ia bisa duduk bersabar hanya berdua saja dengan partner milik Itachi tersebut walau pada kenyataannya dua pengawalnya masih berada bersamanya; Indra bahkan sudah berganti tempat dengan duduk di sampingnya seperti Ashura.
Itachi diam sebentar, matanya berubah menjadi sharingan untuk menatap secara langsung mata sang gadis Uzumaki—ia tengah berbicara dengan sang rubah berekor sembilan tanpa melibatkan sang wadah, membuat Naruto menaikkan sebelah alisnya dan menatap bingung Itachi, ia bahkan melirik Indra untuk meminta penjelasan namun sang kakak tertua Ootsutsuki tersebut hanya diam saja dan seperti tidak ingin memberikan jawab.
Setelah beberapa menit, Itachi mematikan sharingannya sebelum menghela nafas pendek, ia berbagi pandangan dengan Kisame sebentar sebelum mengalihkan perhatiannya kembali kepada sang gadis yang ada di depannya "Seperti yang kau ketahui, aku datang ke sini untuk menangkap dirimu"
Naruto mengangguk.
"Namun aku di sini juga untuk mempertanyakan mengenai… pengawalmu" Itachi memeriksa sekotar ruangan dan tidak menemukan siapapun, apa yang di katakan oleh Bee memang benar dan bukan candaan, keduanya kasat mata oleh semua orang kecuali Naruto.
"Keduanya ada di ruangan ini" Kisame melipat kedua tangannya di depan dadanya, ia menyenderkan tubuhnya di dinding yang ada di belakangnya.
"…Bisakah kau meminta keduanya untuk… keluar sebentar?" Itachi berkata dengan hati-hati, karena mau bagai manapun, keduanya adalah anak dari sage of the six path, terutama dengan sang pendiri klan Uchiha.
Naruto diam sebentar, Itachi bisa melihat pergerakan mata Naruto yang melirik ke sampingnya sebelum mengangguk.
"Kalian berdua bisa keluar sebentar? Berjaga bila Teme sudah datang" Naruto berbisik dengan pelan namun masih bisa di dengar oleh Kisame dan Itachi, membuat keduanya menyadari bahwa Naruto tidak menggunakan telepati untuk berbicara dengan kedua pengawalnya.
"Hmm…. Baiklah" Ashura bangun dari posisinya dengan sedikit ragu-ragu, ia seperti tidak ingin meninggalkan reinkarnasi dari dirinya namun ia mau tidak mau harus memenuhi permintaan sang gadis.
Indra diam saja dan mengikuti kemauan Naruto, namun matanya terus-terusan menatap sang gadis Uzumaki tanpa berkedip hingga ia keluar dari ruangan dengan adiknya.
"Sudah" Naruto mengangguk dan menatap Itachi sebentar sebelum mengalihkan perhatiannya ke arah sang pemuda berkulit biru yang ada di sampingnya, ia membuka mulutnya untuk mengatakan sesuatu namun sebelum ia bisa berbicara; partner dari sang Uchiha sudah terlebih dahulu berjalan keluar ruangan dengan sendirinya, seperti sudah mengetahui apa yang ia inginkan.
"Bee mengatakan bahwa keduanya adalah anak dari sang sage of the six path, apakah itu benar?" Setelah Kisame keluar ruangan, Itachi langsung duduk di depan Naruto dan mengintrogasi sang gadis Uzumaki, membuat yang di introgasi menaikkan sebelah alisnya dan sedikit kebingungan.
"Aah" Naruto mengangguk, ia yakin seratus persen bahwa kedua pengawalnya adalah anak dari mendiam Hagoromo Ootsutsuki, selain karena keduanya sering sekali mengatakan bahwa mereka memang benar darah daging dari sang petapa, mimpinya juga menjadi bukti bahwa yang menjadi 'pengawal'nya sekarang adalah Ashura dan Indra "Walau aku sendiri tidak mengerti mengapa mereka tiba-tiba saja muncul…"
Itachi menutup matanya dan menghela nafas pendek, sepertinya kehawatirannya memang bukan hanya prasangka: sang gadis belum mengetahui seratus persen tujuan dari munculnya kedua anak sang petapa. Ia menggeleng pelan sebelum membuka matanya dan menatap serius Naruto "Sudah berapa kali kau meminta bantuan mereka berdua?"
"Uh… empat kali?" Naruto memiringkan kepalanya dan mencoba mengingat-ingat kapan saja ia meminta bantuan kedua kakak beradik Ootsutsuki tersebut, ia melipat kedua tangannya di depan dadanya dan mencoba mengingat-ingat kapan saja ia menerima bantuan dari pengawalnya, ingatannya sedikit buram semenjak ia siuman "Di saat Gaara hampir menghancurkan tangan dan kaki Lee, di saat membuat si ular pedofil menjadi kambing hitam, di saat Gaara ingin menyelinap ke ruangan Lee untuk membunuhnya, dan… uuh… aku tak terlalu ingat namun Indra bilang aku menyuruh dirinya mengecek keadaan Sandaime…?"
Naruto menggaruk kepalanya yang tidak gatal, kalimat yang terakhir ia ucapkan membuat dirinya bingung sendiri, karena ia tidak ada ingatan menyuruh Indra mengecek keadaan Sandaime dan yang ia tahu: mereka berdua tiba-tiba saja menghilang tanpa sebab, mengira keduanya pergi untuk menonton dari jauh.
Itachi menatap lekat-lekat Naruto sebelum melirik ke perut sang gadis Uzumaki "Kau harus menjauhkan diri sedikit dari mereka berdua, jangan terlalu tergantung"
Naruto mengangguk, ia memang akan mencoba meminimaliskan penggunaan bantuan dari kedua 'pengawal'nya, selain karena keduanya masih terlihat sangat mencurigakan, keduanya juga seperti menyimpan sebuah rahasia dan punya agenda tersendiri.
Sasuke menatap kosong batu berukuran besar yang telah berubah menjadi serpihan kecil berkat chidori miliknya, nafasnya sedikit tidak teratur dan seperti tertahan karena ia mulai kelelahan, ia menggeleng pelan dan mengelap keringat yang membasahi keningnya dengan lengan pakaiannya.
"Karena… hah… kita… sama"
Suara rekan satu kelompoknya tiba-tiba saja terdengar di pikirannya, ingatan di saat ia melihat Naruto mencoba mendekati Gaara masih melekat dengan begitu kuat di pikirannya; terlebih lagi apa yang di katakan oleh sang gadis Uzumaki dengan lawannya.
"Sst… aku tahu… aku mengerti…"
Sasuke menggigit bawah bibirnya dan mengepalkan tangannya hingga darah tidak dapat mengalir sehingga membuat tangannya memutih, ia memejamkan matanya dan mencoba menghapus ide yang mulai terbentuk di kepalanya.
Ia tidak bisa berhenti memikirkan keadaan sang gadis berambut kuning yang merupakan sahabatnya, terlebih lagi di saat ia sedang latihan sendirian tanpa ada apapun yang bisa mengalihkan perhatiannya; mengalihkan perhatiannya dari pikiran luar biasa menyakitkan yang mulai terbentuk di kepalanya.
"Kemarilah, akan aku berikan kekuatan kepadamu untuk mengetahui kebenaran"
Di tambah lagi suara seperti desissan ular yang menemani dirinya membuatnya menjadi gila dan ingin sekali membenturkan kepalanya ke dinding terdekat hingga pecah.
Merasa kesal dan lelah, ia memutuskan untuk menemui Kakashi, ia butuh pengalih perhatian dan secepatnya sebelum ia menjadi gila betulan.
Namun betapa kagetnya ia menemukan bahwa gurunya sedang ada di rumah sakit dengan tiga orang Jounin dan seorang ANBU berada di dalam ruangan tempat gurunya sedang di rawat. Namun tidak itu saja, dua orang Jounin yang ada di dalam kelihatan terluka dengan cukup parah dan sang ANBU memiliki perban di punggungnya.
"Ada apa ini?" Sasuke menatap bingung para penghuni ruangan tersebut satu per satu, mereka seperti tiba-tiba berhenti berbicara dengan satu sama lain dan menatap kosong dirinya, membuat Sasuke menaikkan sebelah alis dan semakin bingung.
Hingga seorang laki-laki dengan kaca mata hitam dan rambut jabrik tiba-tiba saja masuk ke dalam ruangan dan berkata dengan cukup keras.
"Hei! Apakah benar Uchiha Itachi kembali ke Konoha dan mencoba menangkap Uzumaki Naruto?"
Hening.
Sasuke merasa seluruh darahnya tersedot habis, wajahnya menjadi pucat pasi dan ia membeku di tempat, nama kakaknya terus-menerus bergema di kepalanya bersamaan dengan nama rekan satu kelompoknya, matanya membulat dan mulutnya setengah terbuka.
Suara decihan milik Asuma Sarutobi yang mencoba memarahi orang yang baru masuk membangunkan dirinya dan tubuhnya secara otomatis bergerak dengan sendirinya.
Ia berlari sekuat dan secepat yang ia bisa, adrenalin serta jantungnya yang berdetak dengan cepat memberikan tambahan kekuatan dan kecepatan untuknya, pandangan matanya sedikit buram namun ia terus berlari keluar rumah sakit tanpa menghiraukan teriakan orang yang mencoba memanggilnya atau menghentikannya.
Ia tidak memperdulikan sekitarnya, yang ia tahu adalah ia harus segera mengejar kakaknya dan melindungi rekan satu kelompoknya.
Ia melompat dan menghindari dua orang ninja yang mencoba menghentikannya di pintu keluar desa Konoha dan terus berlari keluar hingga sampai ke kota terdekat karena ia tahu bahwa Naruto dan Jiraiya belum pergi terlalu lama.
Ia mendatangi semua tempat penginapan yang ia temukan dan menanyakan keberadaan seorang gadis berambut kuning yang sedang pergi bersama dengan seorang laki-laki tua berambut putih, tadinya ia menemukan tempat penginapan yang memiliki seorang pelanggan dengan deskripsi yang sama namun nyatanya ia salah orang.
Hingga ia sampai ke tempat penginapan yang terakhir dan pemandangan di dalam penginapan tersebut membuat matanya menjadi sangat panas dan ia bisa merasakan dirinya kini mengaktifkan sharingan.
Naruto sedang berdiri di depan seorang laki-laki tinggi berkulit biru yang menodong sang gadis Uzumaki dengan pedang yang di balut oleh perban dan di samping laki-laki tersebut; berdiri kakaknya yang sedang menggenggam tangan Naruto, seperti ingin menarik sang gadis Uzumaki.
"MENJAUH DARI NARUTO!" Sasuke langsung mengeluarkan fuma-shuriken miliknya dan berlari untuk menerkam kakaknya dan laki-laki berambut biru yang ada di sampingnya, ia tidak mendengar apa yang di katakan oleh sang lelaki berambut biru yang sedang menodong Naruto.
"Heh, sang adik yang tidak tahu terimakasih sudah datang" Kisame menyeringai sebelum melompat untuk menghindari serangan Sasuke sedangkan Itachi menggunakan genjutsu untuk berubah menjadi seekor burung gagak yang bertengger di punggung Kisame.
Naruto tersentak kaget dan mundur ke belakang di saat ia melihat Sasuke melempar fuma-shuriken miliknya dan kini sudah berdiri di depan dirinya dengan posisi melindungi dan memblokir pandangan Kisame dan Itachi dari dirinya "Te-teme!"
Sasuke mendesis dengan keras dan menatap penuh benci Kisame sebelum mengalihkan perhatiannya ke arah burung gagak yang kini sudah berubah kembali menjadi kakaknya "Aku punya banyak pertanyaan untukmu, namun melihat keadaan sekarang… aku tidak akan bertanya baik-baik"
Itachi hanya diam saja, ia menatap lekat-lekat adiknya dan menggeleng dengan pelan "Tidak ada kata baik-baik, bukankah kau mau balas dendam?"
Kisame membuang muka karena ingin menyembunyikan seringaiannya, ia melihat ekspresi Naruto di belakang Sasuke yang terlihat kaget dan kesal dengan apa yang baru saja Itachi katakan. Mungkin tidak semua orang tahu namun Itachi memang tidak handal mengekspresikan dirinya sendiri, terlebih lagi di depan adiknya.
Sasuke mendesis dengan keras dan sudah siap mengeluarkan chidori untuk menyerang Itachi.
"Te-teme! Ita—kakakmu tidak mencoba melukaiku! Hanya… uhh… menculikku!" Kisame harus benar-benar menahan tawa yang mencoba keluar dari mulutnya, kini ia tahu bahwa sang gadis Uzumaki yang ada di depannya tidak bisa akting sama sekali—atau membuat alasan yang masuk akal.
Sasuke melirik Naruto sebentar untuk memastikan bahwa temannya yang satu itu tidak kehilangan akalnya atau terbentur kepalanya hingga mengatakan hal luar biasa tidak jelas seperti itu, atau mungkin kakaknya menggunakan genjutsu kepadanya? Di lihat dari ekspresi sang gadis Uzumaki sepertinya tidak.
"Sebuah kesalahan kau datang ke sini Sasuke" Itachi menatap lekat-lekat adiknya sebelum mengaktifkan sharingan miliknya.
Naruto membulatkan matanya dan mencoba memberi kode kepada Itachi untuk menghentikan apapun yang ia akan lakukan selanjutnya, namun sepertinya Itachi tidak melihatnya.
Merasa kasihan dengan sang gadis Uzumaki, Kisame menggunakan pedangnya untuk memblokir Itachi dari Sasuke "Kau tidak keberatan kalau aku yang mengatasi adikmu bukan? Aku tidak mau melihat dirimu menjadi sentimental dan menghancurkan rencana kita; ketua bisa marah besar nanti"
"Dan kau, bocah kecil" Kisame mengalihkan perhatiannya ke arah Sasuke dan menyeringai dengan sangat lebar; memperlihatkan deretan giginya yang runcing "Musuhmu aku bukan kakakmu"
Sasuke menatap tajam Kisame sebelum mengerang dengan sangat keras "Aku tidak punya urusan dengan dirimu"
Kisame tertawa sebentar sebelum matanya kini melirik ke arah belakang Sasuke "Aku mau kau mengulang apa yang baru saja kau katakan"
"Wa!" Suara teriakan tertahan Naruto bisa terdengar dari belakang Sasuke.
Sasuke membulatkan matanya dan menoleh ke belakang untuk menemukan Naruto di tahan oleh bunshin milik Kisame dengan pedang berukuran jumbo miliknya tertempel di leher sang gadis yang sedang mencoba memberontak dari penahannya.
"Dobe!" Sasuke mengeluarkan kunai miliknya dan mencoba menerkam bunshin milik Kisame yang menahan Naruto, namun ia harus melompat untuk menghindari ayunan pedang milik pemuda setengah ikan hiu di belakangnya.
Sasuke mendesis dengan keras dan membuat beberapa hand seal dan menyerang Kisame "Katon: Goukakyu no Jutsu"
"Katon: Gokakyu no Jutsu" Sasuke mendengar kakaknya berbicara dan kini serangannya tengah di tangkis oleh kakaknya dengan jutsu yang sama.
Namun karena perbedaan kekuatan, bola api milik Itachi lebih kuat dan berhasil mengalahkan Sasuke, membuat sang adik harus melompat untuk menghindari serangan kakaknya dan memblokir serangan partner Itachi yang menerkam dirinya.
Dua lawan satu, Sasuke tahu bahwa kemungkinan ia menang sangat sedikit namun ia tidak perduli sama sekali.
Ia bisa merasakan curse mark dari Orochimaru mulai menyala dan setengah wajahnya kini sudah di hiasi dengan tato berwarna hitam yang pelan-pelan mulai menyebar ke seluruh wajahnya, membuat Kisame menaikkan sebelah alisnya namun ia tetap menyeringai sebelum melompat menjauh dari hadapan Sasuke.
"Te-teme! Hentikan!" Sasuke sudah tidak bisa mendengar teriakan sahabatnya, matanya tetap menatap dengan tajam kakaknya dan ia mulai membuat hand seal.
Chakra mulai terbentuk di tangannya yang pelan-pelan menjadi kilatan petir, dan di saat tangannya sudah di selubungi oleh kilatan petir, Sasuke berlari ke arah Itachi untuk menyerangnya.
"Ah ah, sudah aku bilang, musuhmu adalah aku" Kisame melompat tepat ke depan Sasuke dan menggunakan pedangnya untuk memblokir serangan chidori milik Sasuke.
Belum sampai tangan Sasuke untuk menghancurkan pedang yang ada di depannya, kilatan petir yang tadinya menyelimuti tangannya seperti terserap ke dalam pedang yang ada di depannya dan tangannya kini hanya menonjok pedang yang ada di depannya.
Samehada, pedang yang di tonjok oleh Sasuke mengeluarkan sisik-sisiknya yang tajam untuk menyobek kulit tangan sang Uchiha, membuat Sasuke mengerang dengan kencang dan menarik tangannya dengan cepat.
Sebelum ia bisa melompat menjauh, Sasuke merasakan dirinya di cekik dan kini seluruh tubuhnya membentur dinding yang ada di sampingnya dengan Itachi mengangkat dirinya hingga kakinya tidak menyentuh tanah sambil mencekik dirinya.
"AGH!" Sasuke tersedak dan mencoba melepaskan diri dari cekikan Itachi, ia bisa merasakan tato dari cursed mark milik Orochimaru pelan-pelan menghilang dan matanya kembali menjadi normal.
Itachi mencekiknya semakin kuat hingga Sasuke tidak bisa bernafas dan semakin memberontak, hingga cursed mark dari Orochimaru menghilang sepenuhnya lah Itachi melepaskan cekikkannya dan kini hanya menahan tubuh Sasuke agar tetap tidak menyentuh tanah.
Sasuke bisa merasakan kesadarannya pelan-pelan menghilang dan pendangannya memburam, ia tidak tahu apakah ini adalah efek dari kepalanya terbentur dengan keras atau karena matanya yang salah lihat; tapi Itachi—kakaknya memberikan pandangan sedih bercampur bersalah.
"Maafkan aku Sasuke" adalah hal terakhir yang ia dengar dari kakaknya sebelum kesadarannya menghilang sepenuhnya.
Naruto diam saja menonton rekan satu kelompoknya yang kini sudah tidak sadarkan diri, ia tidak bisa melakukan apapun; mereka semua punya rencana yang tidak bisa mereka kacaukan dan Itachi harus tetap memainkan perannya sementara, sebagai seorang antagonis—tidak, sebagai missing ninja dan kakak yang telah membunuh seluruh anggota klan, menyisakan sang adik.
Naruto menggigit bawah bibirnya dan hanya bisa buang muka, tidak tega melihat Itachi yang sedang menahan Sasuke sebelum mengalihkan perhatiannya ke arah bunshin yang sedang menahannya.
Naruto menatap Kisame yang hanya menatap kosong Itachi dan membuka mulutnya untuk berbicara "…Terimakasih"
Namun sebelum sang manusia setengah hiu yang bisa menahannya membalas ucapan terimakasihnya, ia keburu melompat untuk menghindari seekor katak yang muncul entah dari mana dan ingin menggencetnya.
"Ah ah ah, baru aku tinggal sebentar dan sudah terjadi kekacauan" Naruto menoleh ke arah asal suara dan menemukan gurunya berdiri di depan lorong tempat mereka sedang bertarung, ia sudah siap berpose dan menyeringai "Jiraiya, sang petapa katak datang untuk menyelamatkan kalian semua"
"Hm… orang aneh macam apa lagi yang datang" Naruto mendengar Kisame mendumal pelan dan mengeluarkan pedangnya kembali, sudah siap untuk melawan sang petapa katak.
"Myobokuzan: Iwayado" Jiraiya membuat hand seal sebelum menghantamkan tangannya ke tanah, membuat lorong tempat mereka berdiri berubah menjadi perut katak; Sasuke yang di tahan oleh Itachi pelan-pelan tertelan ke dalam dinding sedangkan pedang milik Kisame juga hampir tenggelam sempurna; membuat sang pemilik pedang menariknya dengan sekuat tenaga dan menghancurkan daging yang menahan pedang tersebut.
"Kisame, sudah waktunya kita pergi" Itachi melepaskan genggamannya dari leher Sasuke sebelum membalik badannya dan menatap kosong sang petapa katak.
"Heh, jangan pikir kau menang; kami akan kembali" Kisame menyeringai dan memangkukan pedangnya di pundaknya sebelum berjalan mengikuti Itachi yang menggunakan Amaterasu untuk membakar bagian dinding dan kabur bersama.
Naruto berjalan ke dekat tempat yang di bakar oleh Itachi sebelum membalik badannya dan menatap Jiraiya yang sedang menyegel api yang menyelubungi lubang yang Itachi buat.
"Kasihan sekali ya, harus berpura-pura menjadi penjahat" Ashura mengeleng dengan pelan dan menatap kasihan tempat Itachi dan partnernya sedang kabur, ia dan kakaknya sedari tadi diam saja dan menonton dari jauh "Dunia ini tidak adil ya"
Naruto mengangguk, tidak terlalu mempermasalahkan Jiraiya melihatnya karena ia tahu bahwa Jiraiya akan berfikir bahwa ia sedang berbicara dengan Kurama.
"Kenapa kau diam saja tadi? Kau bisa meminta bantuan Kyuubi" Jiraiya mematikan jutsunya dan membuat lorong tempat mereka berada kembali semula sebelum menggendong Sasuke yang sedang tidak sadarkan diri.
"Tidak bisa, chakraku seperti di sedot habis oleh lelaki berkulit biru tadi—atau lebih tepatnya pedang miliknya" Naruto menggeleng dengan pelan sebelum menghela nafas pendek "Aku tidak boleh terlalu sering menggunakan chakra miliik Kyuubi juga, kata ayah tubuhku belum kuat menahan chakra milik Kyuubi; seperti beberapa hari yang lalu, aku sampai pingsan dan tidak sadarkan diri selama dua hari karena menggunakan chakra milik Kyuubi untuk menghentikan Gaara"
Jiraiya mengangguk, menerima jawaban dari Naruto sebelum memeriksa sekitarnya untuk melihat kerusakan yang telah ia buat sebelum menghela nafas pendek "Belum menemukan Tsunade namun kita sudah di serang begini"
Naruto menggeleng dengan pelan sebelum ia merasakan seseorang yang sedang berlari ke arah mereka dan tahu siapa orang tersebut, ia hanya melompat menjauh dari Jiraiya dan menarik Sasuke agar ia yang menggendong sang pemuda bersurai hitam, membuat sang petapa katak menaikkan sebelah alisnya dengan senyum mesum terlukis di wajahnya.
Naruto hanya memutar bola matanya dengan bosan menjauh dari gurunya, tahu bahwa sang guru akan terkena batunya.
Sebuah teriakan seorang laki-laki menggema di lorong tersebut dan detik berikutnya Jiraiya sudah menerima tendangan tepat di wajahnya hingga ia terpental.
"Karma" Gumam Naruto dengan seringaian usil terlukis di wajahnya.
To Be Continue
Omake
Lets find out, Naruto's Ideal Boyfriend! (Indra and Ashura Style!)
Konohamaru melipat kedua tangannya dan menatap bosan Udon yang sedang mencatat entah-apa-itu sebelum mengalihkan perhatiannya ke arah Moegi yang sedang merangkai bunga, ia sedang sangat bosan dan tidak tahu ingin melakukan apa dan itu membuat dirinya menjadi kesal bukan main.
"AAAH! AKU BOSAN!" Konohamaru berteriak dengan keras untuk mengeluarkan emosinya, ia rasanya ingin sekali membenturkan kepalanya ke dinding terdekat saking bosannya ia, akhir-akhir ini tidak ada kejadian yang menarik; terlebih lagi dengan keadaan kakeknya yang sedang koma; semua jadi sibuk sendiri.
"Berteriak tidak akan menghilangkan rasa bosanmu Konohamaru" Udon berkata dari tempatnya sedang menulis, ia menatap aneh sahabatnya namun ia sudah biasa melihat sifat antik temannya yang satu itu.
"Hmm aku juga mulai merasa bosan" Moegi menghela nafas, memang benar akhir-akhir ini segala hal terasa sangat membosankan, sekolah tengah di liburkan sementara dan walau ia senang ia mendapatkan hari libur; namun apa gunanya hari libur bila tidak ada hal menarik yang bisa ia lakukan? Ia lebih memilih bersekolah karena ia bisa bermain dengan teman-teman sekelasnya.
"Hmm…" Sebagai otak di dalam kelompok kecil mereka, Udon mencoba memutar otak untuk menemukan hal menarik yang bisa ia dan teman-temannya lakukan dan setelah beberapa menit berfikir; sebuah ide cemerlang muncul di kepalanya "Bagai mana kalau kita melanjutkan pencarian informasi mengenai lelaki yang cocok untuk kak Naruto?"
Konohamaru dan Moegi tersenyum lebar sebelum berlari mendekati temannya yang berkacamata, keduanya terlihat kembali senang dan penuh semangat "Ayo!"
Udon membuka buku yang ia simpan di kantung tasnya sebelum membuka halaman yang berisi informasi yang telah mereka dapatkan di campur dengan bantuan salah satu anggota kelompok milik Naruto beberapa waktu yang lalu "Kita sudah mendapatkan kandidat yang cukup baik… namun semuanya sudah mati"
"Kalau begitu ayo kita ikuti kak Naruto lagi! Kita cari tahu laki-laki seperti apa yang cocok dan masih hidup untuknya!" Moegi mengambil buku yang di pegang oleh Udon dan menulis beberapa idenya di dalam buku tersebut di halaman lain.
"Yosh! Kita berangkat sekarang!" Konohamaru melompat dengan antusias dan berlari ke arah tempat di mana ia tahu Naruto sedang berada.
Beberapa menit kemudian, Konohamaru dan teman-temannya sampai di dekat sungai Naka dan menemukan sang gadis berambut kuning yang mereka cari sedang menonton seorang ANBU bertopeng rubah latihan.
"Yosh! Kali ini kita akan lebih hati-hati agar kak Naruto tidak menyadari keberadaan kita" Naruto meletakkan satu jarinya di depan mulutnya dan berbisik dengan pelan kepada kedua temannya yang di balas oleh anggukan oleh Moegi dan Udon.
Tanpa mereka bertiga ketahui, Naruto sudah menyadari keberadaan mereka dan hanya bisa menghela nafas pendek dan menggeleng dengan pelan; ia ingin mendatangi dan menyuruh mereka untuk tidak membuntutinya, terutama bila keinginan mereka adalah mendapatkan informasi tidak penting (baginya).
"Ah jangan Naruto, aku ingin lihat bagai mana mereka bisa mendapatkan informasi seperti itu. Kedengarannya menarik sekali" Ashura menyeringai dan menepuk pundak Naruto sebelum berjalan ke arah tempat persembunyian Konohamaru dan teman-temannya.
Indra hanya menaikkan sebelah alisnya dan menatap bingung adiknya yang mendadak tertarik dengan hal yang menurutnya aneh, namun di saat ia mengingat apa yang sebenarnya Konohamaru dan teman-temannya lakukan; ia jadi sedikit tertarik juga "Bagaimana kalau kau buat mereka salah paham? Seperti memberikan informasi palsu?"
Naruto menaikkan sebelah alisnya dan menatap bingung sebelum menjadi semakin bingung di saat ia mendengar Kurama setuju dengan apa yang baru saja Indra katakan, memberikan informasi palsu? Seperti apa?
'Cara paling termudah adalah mengubah rutinitasmu untuk hari ini, kali ini ayo kita pergi ke tempat yang hampir tidak pernah kau datangi' Kurama memberikan idenya, membuat wadahnya menjadi memiliki perasaan tidak enak; mengapa partnernya yang satu ini memberikan ide aneh seperti itu? Kenapa pula ia jadi tertarik juga?
Naruto memutuskan untuk mengikuti permintaan sang rubah, toh tidak ada salahnya bukan? Bisa di bilang ini bentuk balas dendam untuk Konohamaru dan teman-temannya.
Naruto melirik tempat sang ANBU bertopeng rubah sedang berlatih sebentar sebelum berjalan meninggalkan sungai Naka, berlagak seperti ia tidak tahu bahwa ia sedang di ikuti dan membiarkan kakinya membawanya ke toko bunga milik Ino.
Sesampainya di toko bunga, ia di sapa oleh seorang laki-laki yang mirip dengan Ino—ayah Ino; Inoichi yang sedang menjaga toko sementara karena istrinya sedang pergi berbelanja dan Ino sedang bersama dengan anggota kelompoknya.
"Ooh! Toko bunga! Apakah kak Naruto akan membelikan bunga untuk seseorang!" Moegi melompat-lompat dengan antusias, merasa sangat senang dan penasaran dengan seseorang yang akan menerima bunga dari Naruto.
"Wah, mereka salah kaprah…" Ashura tertawa pelan melihat ketiga bocah yang sedang mengikuti Naruto, ia kini sudah berdiri di samping Konohamaru namun seperti biasa; tidak ada yang bisa melihat dirinya dan kakaknya kecuali Naruto "Tapi aku jadi ingin tahu juga, laki-laki seperti apa yang cocok untuk Naruto"
Sang kakak berjalan mendekati Udon dan membaca buku yang sedang di isi, Indra menaikkan sebelah alisnya dan melirik Naruto "Menurut buku yang mereka tulis, kandidatnya adalah Nidaime, Yondaime, dan Shisui Uchiha"
"Nidaime? Yondaime?" Ashura membalik tubuhnya untuk melihat kaca yang ada di belakangnya yang memperlihatkan pemadangan pahatan wajah Hokage sebelum menatap bingung Udon "Maksudnya pemimpin desa ini? adik dari reinkarnasiku sebelum Naruto dan ayah Naruto?"
"Entah apa yang mereka pikirkan, mereka berdua sudah mati" Indra melipat tangannya di depan dadanya dan menghela nafas pendek sebelum melirik Naruto yang sedang mengobrol dengan sang penjaga toko, sepertinya sang gadis Uzumaki memutuskan untuk membeli bibit bunga "Apakah pria di dunia ini tidak ada lagi yang cocok dengan Naruto? Yang masih hidup tentu saja"
Ashura memiringkan kepalanya dan melipat kedua tangannya di depan dadanya, ia berfikir dengan cukup keras; mencoba mengingat-ingat orang yang sudah mereka pernah temui "Menurut opiniku… untuk sekarang kita belum menemukannya…"
Indra menggeleng dengan pelan sebelum melirik Udon yang kembali menulis di bukunya dan ia membacakan dengan keras agar adiknya bisa mendengar "Menurut hasil pengamatan mereka, Naruto menyukai orang yang lebih suka mendengarkan dari pada berbicara"
Ashura melirik Naruto yang sedang berbicara dengan sang penjaga toko dan memang benar saja, Naruto sedang berbicara panjang lebar mengenai seorang gadis bernama Ino dengan sang penjaga toko mendengarkan dengan sebuah senyum kecil terlukis di wajahnya "Hoo… anak ini kemampuan analisahnya boleh juga"
Setelah beberapa menit menunggu Naruto selesai bercerita dan membeli bibit yang ia inginkan, Ashura dan Indra berjalan mengikuti Naruto keluar dari toko dan kali ini berjalan pulang karena merasa lelah dan tidak ingin anak-anak yang mengikuti dirinya salah menangkap apa yang sedang ia lakukan.
Sesampainya di rumah, Naruto langsung meletakkan bibit yang baru ia beli di meja makan dan menjatuhkan tubuhnya ke futon yang baru saja selesai ia jemur, membenamkan wajahnya ke bantal dan menghela nafas panjang.
"Ne ne, Naruto; aku ingin kau menjawab jujur" Naruto memutar kepalanya ke samping agar bisa melihat Ashura yang kini duduk di sampingnya "Orang seperti apa yang ingin kau jadikan kekasih?"
"Orang, kami tidak menanyakan gender, mau itu perempuan atau laki-laki kami tidak mempermasalahkannya" Sebelum Naruto bisa protes dengan apa yang baru saja Ashura tanyakan, ia keburu di potong omongannya oleh Indra yang kini sedang menyenderkan tubuhnya ke dinding di dekat futon milik Naruto.
Naruto menaikkan sebelah alisnya sebelum memutar tubuhnya agar ia bisa tiduran dengan benar dan menatap atapnya.
"Entah lah, aku masih memiliki sedikit trust issue bila mengenai hal seperti itu" Naruto menutup matanya dan ingatan mengenai Sakura yang membunuhnya di masa lalu (masa depan) kembali muncul dan ia langsung membuka matanya dan menggeleng dengan cepat "Tapi… mungkin akan merasa menyenangkan bila… orang tersebut menerima aku apa adanya, aku tak perduli ia buruk rupa atau tampan, selama ia menyayangiku… aku akan dengan senang hati menerimanya…"
Ashura dan Indra berbagi pandangan, mereka tahu bahwa Naruto yang memiliki masa kecil kurang bahagia sangat menginginkan kasih sayang dan perhatian sehingga membuat mereka berdua yang memiliki masa lalu cukup bahagia merasa kasihan.
"Yah, walau teman-temanku yang perempuan selalu bercerita mengenai pangeran berkuda putih yang akan menyelamatkan mereka dan memberikan cinta sejati" Naruto tertawa dengan apa yang baru saja ia katakan, menganggapnya lucu "Tapi aku lebih memilih monster dengan hati emas dari pada pangeran arogan berkuda putih"
Kurama yang mendengar apa yang baru saja Naruto katakan membuka sebelah matanya dan melirik wadahnya, bahkan sebelah telinganya terangkat sebelum ia menutup matanya kembali namun tidak untuk tidur siang.
"Kalau begitu kau mau tidak dengan kakakku? Jadi kau akan menjadi adik iparku!" Ashura berkata dengan seenaknya dan dengan sangat santai seperti ia sedang menanyakan cuaca.
Hening.
Naruto tercengang dengan apa yang baru saja Ashura katakan, namun sebelum ia mengatakan sesuatu sebagai jawaban; Ashura keburu kembali berbicara "Bukannya cocok? Menurut apa yang anak-anak tadi tulis; kau menyukai orang yang bisa berpikir dengan tenang, bisa membaca situasi dan bertindak dengan baik dan pintar. Ah tapi yang kurang dari kakak adalah kakak kurang 'ceria' atau bersahabat"
"Oh, atau kau mau denganku? Aku mungkin tidak sepintar kakak namun aku ceria, bersahabat, suka mendengarkan orang yang sedang bercerita dan aku suka perempuan yang sangat jujur memiliki pemikiran tersendiri seperti dirimu" Ashura tersenyum lebar dan tertawa pelan, ia hanya bercanda tentu saja bahkan sang kakak mengetahuinya namun hanya menggeleng dengan pelan; tidak menganggap apa yang baru saja adiknya katakan lucu.
Ashura menunggu jawaban dari Naruto seperti biasa, entah itu ocehan atau omelan.
Namun sepertinya hari ini sedikit berbeda.
Naruto bangun dari posisinya yang sedang tiduran menjadi duduk, senyuman manis terlukis di wajahnya dan matanya sedikit membesar sebelum ia membuka mulutnya untuk berbicara dan nada yang di gunakan oleh Naruto membuat kedua kakak beradik Ootsutsuki yang duduk di sampingnya membeku seketika "Benarkah? Boleh aku jadi kekasih kalian berdua? Tapi kalian harus berbagi"
Naruto melihat wajah Ashura dan indra pelan-pelan berubah dari warna putih menjadi merah seperti kepiting rebus, warna merah terus menyebar dari wajah mereka, ke leher, menghilang ke dalam pakaian yang mereka kenakan hingga seluruh tubuh mereka yang bisa terlihat berubah menjadi merah padam.
POF
Dan keduanya menghilang begitu saja menjadi kepulan asap sebelum Naruto bisa mengatakan bahwa ia bercanda.
Kurama menggeleng dengan pelan melihat kelakuan wadahnya dan sifatnya yang kelewat tidak peka.
di sore harinya, Naruto memutuskan untuk jalan-jalan karena kedua kakak beradik Otsutsuki yang menjadi pengawalnya belum kembali sama sekali.
Di perjalanannya, Naruto bertemu dengan Sasuke dan Sakura, Naruto memutuskan untuk jalan-jalan bersama rekan satu kelompoknya.
"Ne, Teme" Naruto merenggangkan tubuhnya sebelum melirik temannya yang berambut hitam "Apa kau pernah menyukai seseorang?"
Sasuke langsung tersedak ludahnya sendiri, membuat temannya yang berambut kuning menatap bingung dirinya dan temannya yang berambut pink hanya membuang mukanya untuk menahan tawa.
"Pe-pertanyaan random macam apa itu Dobe!" Sasuke batuk-batuk sendiri dan wajahnya pelan-pelan menghangat, ia bahkan tidak bisa menatap secara langsung Naruto.
"Huh… pertanyaan random?" Naruto mengangkat bahunya seperti mendandakan bahwa ia sendiri tidak tahu mengapa ia bertanya hal random seperti itu; kemungkinan besar karena apa yang ia bicarakan dengan Ashura dan indra sebelumnya.
Sasuke hanya bisa mendesis dengan pelan melihat sifat temannya yang terlalu…apa ya, tidak peka? Keras kepala? Terlalu polos? Ah bukan, yang benar adalah: tidak bisa baca situasi!
"Bukan urusanmu!" Sasuke malah marah-marah sendiri, ia mempercepat langkahnya dan berjalan meninggalkan kedua rekan satu kelompoknya dalam keadaan wajah mirip sayuran kesukaannya, membuat Naruto mengingat Indra yang wajahnya mirip dengan Sasuke sebelum menghilang tanpa sebab (menurutnya).
"Apakah aku salah bicara?" Naruto menatap bingung rekan satu kelompoknya yang berambut pink.
"Entahlah" Sakura hanya mengangkat bahunya, berpura-pura tidak tahu jawaban dari pertanyaan Naruto, ia tahu bahwa Naruto harus mulai belajar membaca situasi; lagi pula ini juga setengah salah Sasuke yang kabur dan masih denial. Jadi Sakura berjalan meninggalkan Naruto sendirian untuk bergosip dengan Ino mengenai sifat Sasuke yang baru saja ia ketahui.
Naruto hanya bisa mengangkat sebelah alisnya dengan bingung sebelum memutuskan untuk melanjutkan jalan-jalannya hingga matahari menghilang sepenuhnya; Naruto kembali ke apartemennya untuk mengambil dompet karena ia memutuskan untuk makan di luar.
Ashura dan Indra masih belum kembali sama sekali.
Sampai sekarang ia masih tidak mengerti mengapa Sasuke, Indra, dan Ashura wajahnya berubah menjadi seperti kepiting rebus seperti itu.
Apa salahnya?
Kurama hanya memutar bola matanya dengan bosan.
!Review Reply!
kaiLa wu: Hahah, Sasuke terkadang bisa saja jadi manis.
Choikim1310: Iya, judulnya: A Peek To The Future, bisa di bilang Omakenya adalah sneak peak apa yang akan terjadi nanti.
ASCTERIOUS: Terimakasih banyak sudah meluangkan waktu anda untuk mereview dan terimakasih banyak atas pujiannya.
AsakiYuuna: Hahaha, semoga saja ya, ia masih menjomblo sekarang. Terimakasih banyak atas dukungannya.
Jasmine DaisynoYuki: hahah iya, entah lah sepertinya Jiraiya sedang sedikit paranoid.
Guest: Iya, terkadang Naruto memang bisa jadi keras kepala sekali, untungnya Kurama sangat sayang dan sabar dengannya.
dheev: hahahah bisa di bilang seperti itu, karena secara tidak langsung ia memang sangat agresif… hahaha.
Rika Jaya: Aah, tidak kok, saya tidak marah tenang saja~ saya orangnya selow kok, hanya saja pertanyaan anda sedikit aneh saja: karena secara tidak langsung anda seperti baru saja membaca novel Harry Potter yang pertama dan lalu belum keluar yang kedua, anda sudah bertanya kepada JK Rowling siapa itu Voldemort; tentu saja tidak mungkin di jawab. Karena itu namanya spoiler. Sudah itu saja, tenang saja, saya tidak marah kok~!
Crazy Lucky Rin: Hahahaha iya mungkin ya, bahaya sekali. Pendek karena saya terkena sedikit writer block… hahaha. Perjuangan Gaara baru saja di mulai~! Mari kita sama-sama menyemangatinya~!
Vilan616: bukan someone POV, lebih tepatnya third person POV, dari pandangan Narator.
Aria1412: Gaara sudah bisa modus, belajar dari kakaknya mungkin, hahahah.
Hendra12: Kecepatan ya? Soalnya saya berhenti mencoba terlalu sama dengan manga/animenya tapi terimakasih atas pujiannya!
yuunhi88: Judul dari Omakenya adalah: A Peek To The Future dalam artian bahwa itu akan terjadi di masa depan, bisa di bilang sneak peak tentang apa yang akan terjadi kelak. Mirip dengan Omake sebelumnya di chapter 19.
hyuuga kimicho: Terimakasih banyak atas pujiannya dan Naruto memang seperti itu, tidak peka makannya kebingungan, hahaha.
samuel903: Namanya bukan Omake kalau di taruh di awal dong, hahaha. Ceritanya tidak nyambung dan Naruto bukan tipe yang suka harem menurutku. Bersabarlah~ keduanya memang punya agenda tersendiri~!
devil: Terimakasih banyak. Saya akan berjuang.
yu: Terimakasih banyak atas pujiannya. Sayangnya dosen tak perduli dengan sebosan apapun saya menunggu dia menandatangani asistensi saya… jadi saya hanya bisa menangis (kenapa jadi curhat?) yah intinya saya masih agak sibuk dengan dosen jadi permintaan anda sedikit sulit di kabulkan.
Fujoshi desu XD: Aah ada alasan mengapa saya tidak pernah menjelaskannya secara langsung karena ini hanya sneak peak dan yang anda inginkan itu bisa di bilang spoiler besar. Maka dari itu walau hanya Omake; saya berusaha untuk tidak memperlihatkan spoiler terlalu banyak atau terbuka. Tapi kalau sosok mungkin anda bisa menunggu sebentar karena saya akan menggambar Naruto versi dewasa nanti… kalau anda menyukai style gambar saya… bisa di cek dulu di blog saya, linknya ada di bio saya.
naura: terimakasih banyak atas pujiannya.
Chapter ini membutuhkan cukup banyak waktu karena saya berkali-kali membetulkannya karena Editor protes berkali-kali… hahaha, kebiasaan saya yang suka OOT namun saya harap para pembaca menyukainya.
Review Please
