Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Warning: Mengandung Gender Bender, Semi-Au, Time Travel, Miss Typoo, dll
!Author Notes!
Halo para pembaca! Saya kembali namun tidak dalam jangka waktu lama karena saya akan sibuk Ujian minggu depan... mohon doanya! Sejujurnya saya sudah menulis hingga chapter 24 namun chapter tersebut belum di koreksi jadi... maafkan saya namun anda harus sabar menunggu untuk chapter selanutnya.
Mungkin yang meng-follow saya menyadari bahwa saya membuat cerita baru namun pada kenyataannya itu hanyalah translate dari cerita ini dengan perubahan di sana-sini, bila tertarik silakan membaca namun di mohonkan me-review dengan bahasa inggris.
Sekian pemberitahuan dari saya walau saya tidak yakin ada yang membaca Author notes seperti biasa.
Seperti biasa yang akan mendapatkan ending adalah: Sasuke, Gaara, Kakashi, itachi dan Kurama.
Selamat menikmati chapter terbaru To The Past dan selamat tahun baru! (telat)
Naruto memiringkan kepalanya di saat ia melihat Guy sedang menatap dirinya lekat-lekat, tangan sang Jounin ia letakkan di bawah dagunya dengan sebelah alisnya terangkat, seperti ia sedang berfikir dengan sangat keras.
Jiraiya yang sedang mengelus-elus pipinya yang beberapa saat yang lalu di tendang oleh Guy menatap tidak suka sang guru berspandeks, ia di kira sang penculik yang melukai Sasuke dan yang akan menculik Naruto! Oh ayolah, ia sangat terkenal, masak sang lelaki di depannya ini salah mengiranya dengan Uchiha Itachi? Perbedaan di antara mereka terlalu besar!
"Uh… Guy… sensei?" Naruto memecahkan keheningan canggung (menurutnya) di antara mereka bertiga—berenam bila ingin menghitung kedua pengawalnya yang sedang berada di belakangnya; sedang mengobrol mengenai sang guru yang Naruto panggil dan Sasuke yang tidak sadarkan diri.
"O-Oh! Aku ingat! Kau adalah murid dari rival selamanya milikku! Namamu…Sakura Haruno!" Guy memberikan pose jempolnya kepada Naruto, membuat sang gadis hampir terjungkal ke belakang. Sudah salah orang, ia sampai berteriak dengan suara lantang pula.
"Namaku Naruto Uzumaki…" bulir keringat mengalir di kening Naruto, sang gadis hanya bisa menggeleng pelan sambil memberikan Sasuke kepada Guy untuk di bawa ke rumah sakit dan di obati sebelum merenggangkan tubuhnya dan menoleh ke arah Jiraiya "Ero-sannin, sekarang bagai mana?"
"Ah! Kalian berdua pergilah sekarang! Aku yang akan membawa Sasuke ke rumah sakit! Fokuslah kepada tugas kalian menemukan Tsunade!" Guy sekali lagi memberikan pose jempolnya dan kali ini tersenyum dengan lebar dan memperlihatkan giginya, Naruto berani bersumpah bahwa ia melihat gigi Guy seperti bersinar.
"Uhn, tenang saja, kami pasti akan menemukan nenek Tsunade!" Naruto mengangguk sebelum menarik Jiraiya yang sedang cemberut menatap Guy, masih tidak terima dirinya di tendang padahal ia tidak salah apa-apa, ia bahkan yang menyelamatkan Sasuke dan Naruto!
"Ooh! Aku suka gaya dan semangatmu! Murid rivalku memang luar biasa!" Guy menggunakan sebelah tangannya untuk menahan tubuh Guy dan satu tangannya lagi merogoh sakunya dan mengeluarkan sebuah spandex berwarna hijau seperti yang ia kenakan dan menyodorkannya kepada Naruto "Terimalah ini! dengan menggunakan pakaian ini maka kekuatanmu akan bertambah beratus-ratus kali!"
Naruto hanya bisa menatap Guy dengan pandangan kosong sebelum tertawa pelan dan sebuah senyum kecil terlukis di bibirnya, ia menerima hadiah pemberian Guy sebelum mengangguk "Yah... terimakasih banyak atas hadiahnya"
Guy hanya menatap lekat-lekat Naruto dengan senyum ala iklan pasta gigi masih terlukis di wajahnya sebelum berjalan—ralat, berlari meninggalkan Naruto dan Jiraiya untuk membawa Sasuke pergi ke rumah sakit di Konoha 'Hoo, pantas saja tekad Lee goyah, anak murid rivalku memang luar biasa!'
'Kit! Kalau kau berani-berani mengenakan pakaian memalukan itu…' Kurama tidak menyelesaikan omongannya, seperti memberikan ancaman kepada wadahnya bahwa konsekuensinya akan sangat besar bila sang gadis berani-berani mengenakan pakaian memalukan yang di pegangnya.
"Kenapa kau menerimanya? Pakaian memalukan macam apa itu! Buang!" Sebelum Naruto bisa membalas omongan Kurama, Indra sudah keburu bicara, bulir keringat mengalir di kepala Naruto di saat ia melihat Indra menatap benci pakaian yang sedang ia pegang—oh, bahkan ia mengaktifkan sharingan, seperti ingin membakar pakaian yang ia pegang menggunakan Amaterasu.
"Uhh… aku setuju dengan kakak" Ashura yang kini berada di samping Naruto setuju dengan kakaknya, ia menatap jijik pakaian berwarna hijau di tangan Naruto "Wanita tidak boleh mengenakan pakaian seperti itu"
Naruto rasanya sangat ingin memarahi Ashura yang mengatakan bahwa ia adalah wanita, namun mengingat bahwa apa yang di katakan oleh Ashura adalah kenyataan; ia hanya bisa menghela nafas pendek dan cemberut sebelum menyimpan pakaian yang ia terima dari Guy ke dalam storage scroll dan berlari untuk menyusul Jiraiya yang sudah berjalan duluan.
Selama perjalanan ke sebuah kota yang Jiraiya katakan sebagai kota terbesar untuk judi, Naruto diam saja sebelum ia mengeluarkan dompet berbentuk kataknya dan mulai menghitung uang yang ia miliki.
"Hm? Kenapa kau memiliki begitu banyak uang?" Jiraiya menatap dompet yang di pegang oleh Naruto, ia ada perasaan senang melihat hadiah darinya di gunakan walau sang gadis tidak tahu bahwa dompet tersebut adalah hadiah darinya.
"Aku sedang menabung untuk membeli peralatan baru" Naruto tersenyum melihat uang tabungannya sudah cukup banyak sebelum mengeluarkan beberapa lembar ryo untuk ia gunakan nanti "Sedikit lagi dan aku bisa membelinya namun aku ingin sedikit menikmati festival ini"
Jiraiya melirik dompet yang Naruto simpan ke dalam kantungnya sebelum mendorong sang gadis masuk ke dalam area festival di mana banyak penjual makanan dan minuman sedang menjajarkan dagangan mereka "Pergilah dan temui aku dua jam lagi"
Naruto yang sudah selesai mengikuti festival duduk di atas sebuah gedung yang cukup besar yang ia tahu tempat gurunya berada, ia sedang menunggu gurunya dan tidak ingin masuk ke dalam gedung tersebut karena banyak alasan dengan alasan utama adalah Indra yang melarangnya dan ia tidak terlalu suka dengan pelanggan gedung tersebut, terutama yang sedang mabuk walau pada kenyataannya Naruto tahu bahwa gurunya dalam keadaan setengah mabuk di saat keluar dari gedung tersebut.
Setelah beberapa menit menunggu akhirnya Jiraiya keluar dari gedung tersebut dan benar prediksinya, sang petapa katak tersebut dalam keadaan setengah mabuk. Memutuskan untuk tidak menghiraukan sifat kurang baik gurunya, Naruto melompat ke depan gurunya dan bertolak pinggang sambil menatap setengah kesal setengah bosan Jiraiya dengan Ashura dan Indra yang berkomentar seberapa tidak miripnya sang petapa dengan ayahnya dan betapa tidak pantasnya Jiraiya menyandang nama 'petapa' dengan sifat buruknya itu.
"Selesai?" Nada suara Naruto naik dua oktav sehingga membuat Jiraiya sedikit terbangun dari mabuknya, sang gadis sangat mengingatkan dirinya dengan Kushina, sang ibu, di saat ia menasehati dirinya mengenai kemesumannya.
Jiraiya hanya bisa tersenyum canggung dan membawa sang gadis ke sebuah toko balon untuk membeli balon air dan balon biasa lalu ke luar kota; ke sebuah padang rumput untuk memulai latihannya dengan sang gadis Uzumaki.
"Oke, aku akan mengajarkan dirimu mengenai rasengan" Jiraiya menyodorkan tangannya kepada Naruto , ia memusatkan chakranya ke tangannya dan pelan-pelan sebuah bola yang terbuat dari angin berwarna biru terbentuk.
"Rasengan… jurus ciptaan ayah" Naruto menatap lekat-lekat bola biru yang terbentuk di tangan Jiraiya sebelum menatap wajah gurunya "Kau ingin mengajarkan aku… ini?"
"Oh, kau sudah tahu?" Jiraiya sedikit kaget melihat pengetahuan Naruto bahwa jutsu yang sedang ia perlihatkan adalah buatan ayahnya namun mengingat bahwa sang gadis pernah bertemu secara langsung dengan muridnya dulu, ia mengambil kesimpulan bahwa Minato sudah bercerita kepada Naruto "Kalau begitu aku tidak perlu menjelaskannya dengan sangat detail"
"Hmm… memang tidak perlu karena Kyuubi sudah menjelaskannya" Naruto menggeleng dengan pelan dan mundur ke belakang untuk memberi jarak di antara dirinya dan Jiraiya, ia melirik Ashura yang sedang mencoba mengikuti Jiraiya dan—langsung berhasil, membuat Naruto menyadari bahwa Ashura diam-diam genius; begitu juga dengan sang kakak yang sedikit terkejut melihat kepintaran adiknya "Boleh aku coba membuatnya sekarang?"
"Hmm, tentu saja" Jiraiya merogoh kantung belanjaan yang berisi balon air dan melempar sebuah balon air berwarna merah kepada Naruto, sebenarnya ia sedikit sakit hati melihat sang rubah berekor sembilan sudah terlebih dahulu mengajari Naruto; ia adalah guru dari ayahnya jadi mengapa malah sang rubah yang mendapat kesempatan mengajarkan Naurto? Oke ia akui bahwa ia sedikit iri dengan hubungan sang rubah dengan Naruto yang sangat dekat.
Naruto menatap lekat-lekat bola air yang ada di tangannya sebelum ia berusaha sebisanya untuk menghentikan senyum nostalgia yang ingin terlukis di wajahnya sebelum ia menyodorkan bola tersebut kepada Jiraiya agar ia bisa melihat dirinya memecahkan bola tersebut dengan baik.
'Kit, aku sarankan kau cepat-cepat menyelesaikan latihanmu yang ini—kalau bisa sekarang juga; buat alasan bahwa aku sudah mengajarkanmu semuanya tentang rasengan sebagai hadiah membebaskan aku' Kurama menyuarakan pendapatnya, ia memang ingin sekali Naruto mempelajari banyak jutsu agar jumlah chakranya di tambah chakra milik Naruto tidak di buang dengan sia-sia hanya dengan menggunakan kagebunshin ataupun rasengan, serius; wadahnya yang satu ini tahu sangat sedikit fariasi Jutsu selain kagebunshin dan rasengan.
Naruto dengan sangat mudah memecahkan bola yang ada di tangannya, ia tersenyum puas melihat ekspresi kaget luar biasa dari Jiraiya "Aku sudah di ajari rasengan oleh Kyuubi"
Jiraiya mendecak, benarkan perasaannya; hubungan sang gadis dengan sang rubah sangat dekat hingga sang rubah bahkan mau mengajarkan banyak hal kepadanya, walau sampai sekarang ia masih tidak mengerti alasan sebenarnya mengapa sang rubah mau membantu Naruto.
"Ck, dari mana sang rubah tahu" Jiraiya mendecak kesal dan menatap lekat-lekat perut Naruto—di mana segel sang rubah berekor sembilan berada.
'Kau kira dengan siapa Minato memperlihatkan jutsu baru buatannya itu pertama kali?' Kurama memutar bola matanya dengan bosan, bukan sebuah kebohongan; ia memang sudah melihat latihan Minato untuk membuat jutsu tersebut, terutama mengingat bahwa ia di segel di dalam istrinya.
Naruto mengatakan apa yang Kurama katakan, membuat Jiraiya mendecak lagi dan memutar bola matanya dengan bosan; ia merasa bahwa tugasnya sebagai seorang guru dan ayah angkat telah di curi oleh sang rubah berekor sembilan dan Kurama menyadarinya, membuat sang rubah berekor sembilan tersenyum angkuh dan wadahnya hanya bisa memberikan tatapan minta maaf kepada guru barunya.
"Oke, kalau begitu…" Jiraiya menggeleng pelan dan menghela nafas pendek sebelum otaknya mencoba mencari ide mengenai apa yang ingin ia ajarkan kepada muridnya sekarang melihat sang gadis sudah bisa menggunakan rasengan "Hmm…"
Jiraiya mulai berfikir, ia ingin Naruto melakukan sesuatu dengan chakra yang ia terima dari Kyuubi namun mengingat bahwa tubuh sang gadis belum cukup kuat untuk menahan chakra sang rubah, ia mencoba mencari jalan lain.
"…Apakah kau pernah mencoba… bertukar tempat dengan sang rubah?" Jiraiya mendapatkan ide yang cukup cemerlang dan kemungkinan ia bisa mengajari sang gadis "Kau tahu… seperti membiarkan sang rubah menggunakan tubuhmu"
Naruto diam sebentar dan memiringkan kepalanya. Bertukar tempat? Ia jadi ingat bahwa di mimpinya ia pernah melihat dirinya seperti bertukar tempat dengan sang rubah; dalam artian sang rubah yang mengendalikan tubuhnya untuk… melempar Kakashi ke seorang laki-laki berambut hitam yang ia tidak ketahui siapa "Uh… belum?"
"Sekarang ceritakan kepadaku, setelah kau membebaskan sang rubah, apa saja yang bisa ia lakukan? Biasanya sang rubah akan mengambil alih tubuh wadahnya dan memaksa keluar namun sekarang ia tidak ada keinginan seperti itu… apa saja yang ia lakukan?" Jiraiya melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menatap lekat-lekat gadis yang ada di depannya.
"Hmm… Kyuubi bisa memberikanku chakra tentu saja, selain itu sekarang tingkat regenerasi tubuhku sangat cepat seperti bila aku terluka kecil biasanya langsung sembuh dalam waktu beberapa detik, staminaku juga meningkat sangat besar" Naruto memejamkan matanya dan mengingat-ingat apa saja yang bisa Kurama lakukan kepada dirinya "Ia juga bisa memblokir jalan chakraku atau mendorongnya keluar, aku juga jadi bisa merasakan keberadaan dan chakra seseorang dalam jarak yang cukup jauh, selain itu aku jadi kebal terhadap, kemungkinan semua, penyakit dan racun karena Kyuubi akan menghancurkannya di saat racun atau bakteri tersebut masuk ke dalam tubuhku"
"…Apakah kau menyadari betapa besarnya pengaruh sang rubah terhadap tubuhmu? Terutama sekarang di kala ia sudah bebas" Jiraiya mengeluarkan sebuah scroll dari dalam kantungnya sebelum melemparnya ke sang gadis Uzumaki yang Naruto tangkap dengan mudah "Sang rubah bahkan bisa menghentikan detak jantungmu kalau ia mau kau tahu"
"Ha? Tidak mungkin" lipatan terbentuk di kening Naruto, ia memicingkan matanya dan menatap kurang suka Jiraiya yang (ia rasa) baru saja menyinggung perasaan sahabatnya "Kyuubi tidak munkin—"
"Apa yang di katakan oleh gurumu adalah kebenaran Naruto" Indra menepuk punggung Naruto dan menggeleng pelan "Kau sendiri yang baru bilang bukan? Sang rubah bisa memanipulasi tubuhmu—dari mengatur jumlah sel darah putih dan sel darah merah hingga organ tubuhmu untuk mempercepat regenerasi tubuhmu, ia bahkan bisa memblokir dan mengambil chakramu… semaunya"
"Mungkin kau belum tahu ini… tidak, mungkin kalian semua—para Jinchuriki, belum mengetahui ini namun memiliki Biiju yang di segel di dalam tubuhmu dan membuka segelnya sama saja dengan memberi mereka akses terhadap seluruh fungsi tubuhmu" Ashura menggeleng dengan pelan, mungkin ia memang tidak sepintar kakaknya namun ia bisa mengambil kesimpulan dari apa yang baru saja sang kakaknya jelaskan kepada sang rubah; selain itu ia juga ingin memberitahu Naruto mengenai konsekuensinya sebagai Jinchuriki.
Naruto terdiam sebelum ia memiringkan kepalanya dan menatap bingung Jiraiya walau apa yang ia katakan adalah jawaban untuk Ashura dan Indra juga.
"Lalu? Kalau memang itu benar memangnya mengapa?" Naruto menaikkan sebelah alisnya, seperti apa yang baru saja Jiraiya katakan adalah hal yang sangat normal dan biasa "Bukannya itu bagus ya? Kyuubi bisa menyelamatkan nyawaku di saat yang genting"
Hening
Jiraiya kehabisan kata-kata melihat betapa dekatnya Naruto dengan sang rubah.
Ashura dan Indra hanya tersenyum dan tertawa pelan, seperti mereka sudah tahu bahwa Naruto akan memberikan jawaban seperti itu dan mereka senang entah mengapa.
Sedangkan Kurama yang menonton dan mendengar pembicaraan Naruto dan Jiraiya hanya diam saja namun matanya bisa terlihat lebih berkaca-kaca menatap sang gadis bersurai kuning yang merupakan wadahnya, ia sangat terharu terhadap kepercayaan yang Naruto berikan kepada dirinya. Tidak pernah ada orang yang memberinya kepercayaan sebesar Naruto selain ayahnya, Hagoromo Ootsutsuki.
"Oke, senang kau menerimanya dengan baik" Jiraiya menggeleng dengan pelan sebelum ia menunjuk gulungan yang ada di tangan Naruto "Sekarang aku ingin kau membaca gulungan itu, aku ingin kau belajar mengenai senjutsu dan pengendalian pikiran"
Naruto memiringkan kepalanya dan menatap bingung Jiraiya "Pengendalian pikiran?"
"Kau tahu klan Yamanaka bukan?" sebuah anggukan menjadi jawaban dari anak muridnya "Ya, aku ingin kau belajar mengenai bagai mana caranya kau mengendalikan pikiranmu dan bertukar pikiran dengan sang rubah"
"Di saat kau sudah berhasil hal yang selanjutnya kau harus pelajari adalah membiarkan sang rubah mengambil alih sebelah tubuhmu, seperti hanya sebelah tangan atau sebelah kakimu"
"Ha? Untuk apa?"
"Anggap ini latihan pengendalian pikiran dan pengendalian koneksimu dengan sang rubah"
"…O…ke?"
"Setelah kau bisa melakukan semua hal itu, ada kemunkinan besar kau bisa kembali lagi menjadi laki-laki"
Hening.
"HA?"
"Eh?"
"Bagai mana cara…"
"Bercanda"
Pencarian terhadap Tsunade di mulai, Jiraiya dan Naruto melanjutkan perjalanan dari satu kota ke kota lain yang memiliki tempat judi yang cukup terkenal dengan Naruto mencoba melatih koneksinya dengan Kurama.
Menyambungkan pikirannya dengan Kurama adalah hal yang mudah dan sudah ia lakukan setiap hari jadi tahap pertama di lewatkan dengan sangat mudah, begitu pula dengan tahap kedua yaitu membiarkan Kurama mengendalikan seluruh tubuhnya.
Jiraiya mengatakan bahwa di saat Kurama mengambil alih tubuhnya, fisiknya akan sedikit berubah di mana mata sang gadis berubah menjadi warna merah dengan pupil mata mirip kucing dan tanda lahir yang ada di pipinya terlihat lebih 'tebal' dari biasanya dan membuat tanda lahirnya semakin mirip kumis serta ia jadi punya sepasang gigi taring.
Ashura bilang ia terlihat lebih liar sedangkan Indra berkata bahwa ia jadi terlihat sangat sombong dan angkuh—yang tentu saja kebenaran, Kurama masih memiliki harga diri setinggi langit.
Di tahap ketigalah Naruto mulai merasa kesulitan, ia tidak bisa membuat Kurama mengendalikan hanya sebelah tangannya ataupun salah satu bagian tubuhnya; ia akan selalu tidak sengaja membuat Kurama mengambil alih seluruh tubuhnya.
Karena latihannya membutuhkan dirinya mengakses chakra milik Kurama, Naruto jadi lebih sering menghabiskan waktu di luar kota yang ia dan Jiraiya datangi agar tidak ada yang bisa mendeteksi chakra milik sang rubah berekor sembilan atau menarik perhatian ninja dari desa lain.
Setelah beberapa hari latihan, Naruto menerima pemberitahuan bahwa teman-teman Jinchurikinya ingin mengadakan pertemuan jadi di sinilah ia sekarang; berada di tempat yang hanya bisa di akses oleh Jinchurki yang sudah mendapatkan bantuan dari Biiju mereka.
"Ke mana wadah Shukaku? Ia dan Shukaku belum datang…" Han melirik tempat yang kosong di samping Yugito, tempat yang seharusnya di isi oleh sang rakun dan wadahnya "Bukankah kau seharusnya sudah membujuknya?"
"Wadahnya terluka cukup parah sehingga membutuhkan waktu untuknya kembali pulih dan kami tidak membujuknya, aku memberikannya ingatan masa depan" Kurama mengerang dengan pelan mengingat di saat ia sedang melawan adiknya, untung ia berhasil mentransfer ingatannya ke sang rakun agar ia mau berubah pikiran dan membantu wadahnya, terutama di saat Naruto sedang tidak sadarkan diri waktu itu.
"Sayang sekali, padalhal kita semua hampir lengkap" Yugito melipat kakinya dan menghela nafas pendek, ia cukup kecewa karena tidak bisa bertemu dengan semua Jinchuriki yang ada selain bee, karena ia sedikit penasaran dengan sesamanya, bahkan Matatabi menguap dan terlihat kecewa juga.
"Dengan pengecualian Isobu, kemungkinan besar wadahnya sedang dalam pengaruh sang Uchiha… atau sudah mati" Son melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menggeleng pelan, membuat Roshi yang duduk di atas kepalanya harus menyeimbangkan diri "Tanpa wadah, ia tidak akan bisa masuk ke tempat ini"
"Apa sulitnya? Kita tinggal mencarikan wadah baru yo!" Bee menyeringai, ia menyukai idenya untuk mendapatkan wadah baru untuk sang kura-kura bermata satu namun ia malah di berikan pandangan aneh dari rekan Jinchurikinya.
"Oke, kita bicarakan masalah itu nanti. Sekarang yang harus kita diskusikan adalah langkah selanjutnya dalam rencana kita" Han menggeleng dengan pelan, ia mengalihkan perhatiannya ke arah sang Jinchuriki dari rubah berekor sembilan "Ada informasi baru dari sepupumu?"
"Nagato? Tidak, aku memang bertemu dengan Itachi beberapa hari yang lalu namun ia bilang tidak ada perubahan sama sekali di dalam markas Akatsuki" Naruto melipat kedua tangannya di depan dadanya sebelum menyenderkan tubuhnya di telinga milik Kurama dan melirik Roshi "Ia dan partnernya akan tetap di kirim untuk menangkap dirimu tapi, kek"
"Aah, aku jadi bersemangat dan tidak sabar menunggu kedatangan mereka; aku butuh hiburan" Roshi menyeringai, ia dan Son memang mulai merasa bosan tidak melakukan apa-apa akhir-akhir ini, terutama di kala belum lama ini mereka baru saja mengacak-acak markas ROOT.
"Sedikit tips untukmu?" Naruto menyeringai dan tertawa pelan melihat antusiasme sang Jinchuriki dari Son "Jangan dekat-dekat dengan partner milik Itachi, terutama pedang yang ia bawa"
"Aku setuju yo!" Bee ikut menyeringai, mengetahui maksud dari yang baru saja Naruto katakan karena ia sendiri pernah memegang pedang tersebut dan ia menyukainya.
"Ooh! Pedang apa itu ssu? Terdengar keren sekali!" Fuu terlihat sangat tertarik dengan pedang yang di bicarakan oleh Bee dan Naruto, ia bahkan bisa merasakan Choumei yang juga tertarik; mereka berdua memang sama-sama serba ingin tahu.
"Pedang… Samehada ya? Kalau memang itu yang kalian maksud maka kau memang harus berhati-hati" Utakata meniup pipa gelembung sabunnya untuk membuat beberapa gelembung, Saiken yang melihatnya terlihat senang dan kini sedang memecahkan gelembung buatan Utakata.
Naruto tertawa pelan melihat reaksi tidak nyaman Roshi sebelum ia membetulkan posturnya dan kini duduk dengan tegap (ia sedikit menyalahkan Indra yang suka memarahinya bila ia duduk sedikit membungkuk) dan ekspresinya kini kembali serius "Adakah informasi baru?"
Han diam sebentar dan menutup matanya sebelum berbicara dengan cukup hati-hati "Kami mendapatkan informasi… bahwa sang manusia setengah ular… mencoba mendapatkan informasi mengenai pemegang sharingan yang baru-baru ini ia temui"
Naruto terdiam, ia bisa merasakan bahwa Kurama mengerang pelan dan mengerutkan keningnya, ia tidak suka dengan informasi yang baru saja ia dengar karena ia tahu bahwa orang yang sedang di cari oleh Orochimaru adalah salah satu pengawalnya.
"Dari ekspresi yang kau dan Kurama kenakan… aku anggap kau sudah tahu siapa yang ia cari" Roshi memangkukan kepalanya di sebelah tangannya dan menatap serius Naruto "Haruskah kita melakukan sesuatu? Bisa berakibat buruk bila ia menemukannya"
"Tidak, ia tidak akan bisa menemukannya atau mengetahui siapa Indra" Naruto menggeleng pelan, tentu saja Orochimaru tidak akan pernah bisa menemukan identitas sang Uchiha karena ia sudah lama sekali mati dan kasat mata di depan semua orang kecuali dirinya atau di saat ia memberikan cukup chakra kepada sang Uchiha untuk membuat dirinya memiliki tubuh asli dalam tenggang waktu yang bisa ia atur "Selain itu ia tidak tahu apa-apa mengenai Indra, yang ia tahu hanyalah ia memiliki sharingan dan bisa mengaktifkan mangekyou sharingan"
"Bagai mana dengan Danzo? Sang pemimpin ROOT di desamu itu bekerja sama dengan ular bukan?" Yugito menaikkan sebelah alisnya, ia mendapatkan informasi dari Bee di saat sang Jinchuriki dari Gyuki tersebut mengajaknya ikut dalam perkumpulan mereka sekarang bahwa tugas pertama mereka adalah menjadikan sang pemimpin ROOT tersebut sebagai kambing hitam.
"Hah, monyet tak berbulu yang menjijikkan tersebut tidak akan bisa berbuat apa-apa! Posisinya di Konoha sekarang sedang sangat buruk berkat kita, apapun yang ia katakan hanya masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri; kita sudah cukup menghancurkan kredibilitasnya hingga para tetuah Konoha menurunkan kepercayaan mereka terhadap dirinya" Kurama menyeringai, ia mengingat di saat Naruto menceritakan informasi dari Indra mengenai keadaan politik di Konoha sebelum mereka berangkat dan ia sangat puas mendengarnya; rencana mereka berjalan sesuai dengan yang di inginkan "Mungkin ular menjijikkan tersebut memang akan bertanya dengannya dan ia jadi akan tertarik namun… apa yang bisa ia lakukan? Saksi mata utama terhadap keberadaan Indra sedang dalam keadaan koma"
"Hahahaha, luar biasa; buah dari usaha kita manis juga" Son tertawa, senang mendengar usahanya dan partnernya dalam menemukan dan mengekspos markas ROOT bersama dengan Han dan Kokuo berhasil. Menemukan dan mencoba sebisanya untuk tidak menarik perhatian banyak orang terhadap Han dan dirinya tidak semudah yang di kira loh.
"Namun bukan berarti ia akan berhenti mencari bukan?" Utakata berhenti meniup pipanya dan melirik Naruto "Jadi bukan berarti kita bisa membiarkannya begitu saja"
Apa yang Utakata katakan adalah kebenaran, Naruto tidak ingin mengetes seberapa niatnya sang pemimpin ROOT tersebut untuk menemukan Indra—atau lebih tepatnya sharingan milik Indra mengingat betapa kuatnya sharingan milik anak dari Hagoromo tersebut, terutama di saat ia mengetahui siapa dalang di balik keberadaan sang Uchiha.
"Mungkin untuk sementara kita akan membiarkannya" Gyuki memang tidak menyukai orang-orang seperti Danzo yang suka mencuri kekuatan orang lain, sesungguhnya ia ingin sekali menghancurkan sang pemimpin ROOT tersebut secepatnya namun ia juga harus berfikir mengenai keamanan wadahnya dan para Jinchuriki lainnya "Bukan berarti kita akan mengabaikannya, kita harus menjaga kerahasiaan identitas kita jadi kita tidak boleh gegabah"
Semuanya setuju dengan Gyuki, memang mereka harus merahasiakan keberadaan mereka dan kenyataan bahwa mereka sudah mulai bekerja sama, terutama kepada seorang Uchiha yang merupakan dalang dari terjadinya perang dunia shinobi ke empat.
"Baiklah, untuk sementara kita hanya bisa membiarkannya namun tetap awas dan mencari informasi mengenai hal tersebut oke? Untuk kakek; selamat berjuang dan jangan kebablasan oke? Dan Han, setelah Roshi; kau yang akan di incar" Naruto mengangguk sebelum melirik Han, melihat Han mengangguk, ia tersenyum kecil dan mulai merenggangkan tubuhnya "Dan aku harus kembali melanjutkan latihanku dalam berbagi tubuhku dengan Kurama"
Hening.
"Hm hm~ anak rubah, apa kau tahu bahwa apa yang baru saja kau katakan terdengar ambigu?" Matatabi tertawa pelan dan memberikan pandangan usil kepada sang kakak dan wadahnya.
Tawa Roshi dan Son mulai terdengar semakin kencang hingga menggelegar di seluruh ruangan, membuat Han menjauhkan dirinya dari sang kakek berambut merah, begitu juga dengan Kokuo yang mulai menjauh dari Son.
"Yo! Untuk sementara aku akan mengabaikan betapa ambigunya kalimat yang terakhir namun aku punya tips untukmu" Bee tidak akan menyangkal, apa yang Naruto katakan memang terdengar ambigu, terlebih lagi mengingat bahwa Naruto sekarang adalah perempuan dan kalau mau di lihat secara logika, 'mental' Kurama adalah laki-laki namun ia akan mengenyampingkan masalah tersebut sementara "Gurumu yang menyuruhmu bukan? Aku tahu apa yang ingin ia lakukan dan sedikit tips untukmu: bayangkan bila Kurama memiliki wujud manusia"
Naruto terdiam dan mulai berfikir mengenai apa yang baru saja ia katakan dan pelan-pelan wajahnya memerah di saat ia menyadari memang benar apa yang ia katakan terdengar ambigu, bahkan ia bisa merasakan Kurama yang menyeringai sehingga membuat wajahnya semakin memerah.
Kurama ada perasaan senang akhirnya sang gadis bisa mengerti di mana letak kesalahannya, ia harus berterimakasih kepada kedua kakak beradik Ootsutsuki dan Jiraiya yang mengajari Naruto agar setidaknya menjadi lebih peka dan menerima kenyataan bahwa ia akan selamanya menjadi perempuan.
"Uggh! Oke oke, aku sudah harus pergi, dadah!" Naruto buru-buru meninggalkan tempat pertemuan Jinchuriki bersama Kurama untuk menghindari Jinchuriki lainnya mulai menggoda dan mengganggunya karena ia melihat Fuu ingin berkomentar dan Yugitu memberikan pandangan usil kepada dirinya.
Naruto menghela nafas pendek sebelum berjalan ke sungai yang ada di dekatnya di saat ia sudah kembali ke dunia nyata, ia membasuh wajahnya dan menenangkan dirinya sebelum melanjutkan latihannya.
Ia berusaha mencoba menyambungkan pikirannya dengan Kurama lalu membiarkan chakra Kurama mengalir ke sebelah tangannya namun yang selalu terjadi adalah Kurama mengendalikan seluruh tubuhnya.
'Aah susah sekali' Naruto mulai sedikit frustasi, ia (lagi-lagi) bertukar tempat dengan Kurama dan kini sedang berada di alam bawah sadarnya dengan sang rubah yang mengendalikan tubuhnya.
"Kau yang terus mendorongku ke luar alam bawah sadarmu" Kurama memutar bola matanya dengan bosan, ia akui; latihan ini memang cukup sulit dan ia masih belum bisa mengetahui apa yang Jiraiya ingin ajarkan kepada Naruto dengan membuat dirinya bisa mengendalikan hanya salah satu anggota tubuh Naruto.
Naruto menghela nafas dan tiduran sebelum menutup matanya, mencoba beristirahat sebentar dan membiarkan Kurama mengendalikan tubuhnya.
Kurama diam saja dan membiarkan wadahnya istirahat, ia berjalan ke pohon terdekat dan duduk di bawah pohon tersebut untuk berteduh dan menyenderkan tubuhnya, ia menatap kosong pemandangan sungai di depannya dan menikmati angin yang menerpa dirinya; sesekali berada di luar tidak buruk juga.
Ia menutup matanya—bukan untuk tidur, hanya untuk bermeditasi dan ia juga tahu bahwa Jiraiya sedang berjalan ke arahnya, kemungkinan untuk mengajak Naruto kembali ke kota untuk makan malam karena matahari sudah turun dari singgahsananya namun bulan tidak terlihat di manapun.
Kurama membuka sebelah matanya untuk melihat Jiraiya yang sudah berada di sampingnya dan kini sedang menatap sedikit bingung dirinya sebelum ia menyadari bahwa yang ada di depannya bukanlah Naruto melainkan sang rubah berekor sembilan.
"Berhasil?" Jiraiya menatap sang rubah yang mengendalikan tubuh muridnya bangun dari posisinya dan merenggangkan tubuhnya "Tidak sepertinya"
"Kit terus-terusan mendorongku keluar dari alam bawah sadarnya" Kurama mengerang pelan di saat ia mendengar suara 'krak' di saat ia merenggangkan tubuhnya—tubuh Naruto sebelum menguap "Ia masih belum bisa mengendalikan pikirannya dengan baik—atau lebih mudahnya di bilang adalah ia belum mahir berimajinasi"
"Hmm" Jiraiya mengangguk sebelum berjalan terlebih dahulu ke kota yang di ikuti oleh sang Kyuubi "Suruh Naruto kembali, aku menemukan Tsunade"
"Ia tertidur, biarkan saja dulu; akan aku bangunkan ia nanti" Kurama mengantungkan tangannya di kantung jaket yang ia kenakan dan berjalan dengan cuek di belakang Jiraiya.
"Ia masih harus banyak belajar" Jiraiya tersenyum hangat namun tidak berhenti berjalan, senyumannya di tujukan untuk anak muridnya bukan sang rubah dan sang rubah tidak keberatan sama sekali.
"Jadi kau bilang… kau tidak melihat wujudnya sama sekali?" Danzo menatap tajam ANBU bertopeng rubah yang ada di depannya, sang ANBU hanya diam saja dan berdiri dengan tegap di depannya walau pundaknya sedikit turun menandakan bahwa ia tidak menyukai berada di tempat tersebut—atau mungkin orang yang ada di depannya?
"Tidak Danzo-sama, di saat saya bertarung dengan Yakushi Kabuto; yang saya lihat adalah seseorang yang mengenakan jubah besar berwarna hitam yang menutupi seluruh tubuhnya dari ujung kepala ke ujung kaki, bahkan wajahnya tertutup oleh jubahnya" Sang ANBU memberi hormat sambil dalam hati sedikit tidak rela "Di saat saya berhasil masuk ke dalam barrier, orang tersebut sudah tidak ada dan hanya meninggalkan jubahnya"
"Ke mana jubah tersebut sekarang?" Danzo mengerang dengan pelan, ia kesal bukan main; bagai mana tidak? Ia menemukan seorang Uchiha yang memiliki sharingan dan sudah bisa mengaktifkan mangekyou sharingan dan kekuatan sharingannya sangat kuat sampai-sampai ia bisa mengendalikan gurunya yang di bangkitkan menggunakan edo-tensei, kekuatan sharingannya mirip dengan yang ia miliki sekarang, milik Shisui Uchiha, kalau tidak lebih kuat namun identitas Uchiha tersebut tidak di ketahui sama sekali.
"Jubah tersebut sudah di bawa untuk di analisah dan di temukan bahwa pemilik sebenarnya adalah ninja Otogakure yang terbunuh. Pembunuh ninja tersebut adalah Asuma Sarutobi yang mengatakan bahwa ia meninggalkan mayatnya untuk pergi menyelamatkan muridnya" Sang ANBU menundukkan kepalanya, sebenarnya ia tidak mau memberikan informasi tersebut namun itu adalah tugasnya, lagi pula apa yang bisa Danzo lakukan dengan informasi sempele seperti itu? Namun ia sedikit penasaran; mengapa Danzo sangat tertarik dengan sang penyusup tersebut?
"Kau tidak melihatnya pergi ke mana di saat barriernya sudah hilang?" gelengan menjadi jawaban dari pertanyaan Danzo, membuat sang lelaki yang sebelah wajahnya di perbah mendecak kesal sebelum membiarkan sang ANBU pergi.
Ia sedang bad mood tingkat tinggi, tidak hanya dirinya gagal menyatakan diri sebagai Hokage kelima menggantikan temannya, Hiruzen, ia juga mulai tidak di percayai oleh para tetuah Konoha dan pemimpin klan yang ada di Konoha berkat kabar bahwa penyerangan yang terjadi adalah akibat dari bocornya informasi dari ROOT.
Seperti ada seseorang yang ingin menjatuhkan dirinya namun ia tidak tahu siapa dan sekarang yang di tawarkan menjadi Hokage adalah dua murid Hiruzen, Jiraiya dan Tsunade dengan sang petapa katak mencoba membujuk Tsunade terlebih dahulu, bila sang putri Senju menolak maka ia akan menerima tawaran menjadi Hokage kelima.
Sekarang ia sedang dalam masa penahanan di mana ia tidak di perbolehkan berkerja sementara dan semua gerak-geriknya di awasi, membuat dirinya kesal bukan main.
Untuk sementara waktu, ia akan membiarkannya saja namun bukan berarti ia akan diam saja; ia akan menunggu waktu yang tepat untuk mendapatkan informasi mengenai sang Uchiha, sambil juga menunggu Hiruzen bangun dari komanya dan menanyainya mengenai sang 'penyusup' tersebut.
Sedangkan tidak jauh dari Konoha, Itachi dan Kisame tengah berada di hutan; keduanya kelihatan sibuk sendiri; Itachi yang sedang menulis informasi yang ia dapatkan untuk Nagato dan Kisame yang sedang membersihkan Samehada.
"Ne Itachi-san" Kisame mendongak untuk melihat itachi yang sedang duduk di atas dahan pohon yang ia senderi, seringaian khas ikan hiu terlukis di wajah sang manusia setengah ikan hiu "Mengapa kau sangat menghawatirkan 'penjaga' dari sang anak rubah?"
"Mereka berdua meminta chakra sebagai bayaran atas bantuan mereka" Itachi tetap menulis laporannya kepada sang ketua, pandangan matanya tetap tertuju di pekerjaannya dan ia menjawab pertanyaan Kisame dengan nada monoton.
Kisame terdiam sebentar, otaknya memang tidak seencer sang Uchiha sehingga ia membutuhkan waktu untuk mengerti apa yang di maksud oleh Itachi.
Melihat temannya masih sedikit kebingungan, Itachi menghela nafas dan berhenti menulis sebentar untuk memandang langit "Bisa di bilang, kalau Naruto terus-menerus meminta bantuan mereka dan terus membayarnya dengan chakra miliknya maka hasilnya akan sama dengan dirimu dan Samehada"
Kisame membulatkan matanya sebelum langsung tenang kembali, ia sedikit terkejut melihat Itachi mengetahui rahasianya namun ia mengingat bahwa Itachi membawa ingatan dari masa depan jadi ia tenang kembali "Oh…"
"Jadi... kalau Naruto terus-terusan menggunakan bantuan mereka berdua…" Kisame tidak melanjutkan omongannya sebelum sebuah seringaiannya kembali terlukis di wajahnya, mengerti mengapa Itachi begitu menghawatirkan sang Jinchuriki dari rubah berekor sembilan "Aah… bahaya juga"
Itachi mengangguk, ada alasan mengapa ia begitu paranoid dengan keduanya, terutama di saat keduanya jelas-jelas memiliki agenda tersendiri yang Naruto sendiri belum tahu apa.
Naruto berkata awalnya keduanya bersikap normal, di saat itu keduanya mengatakan bahwa tugas mereka hanyalah melindungi Naruto, mau itu secara fisik maupun mental sebagai hadiah dari sang sage of the six path atas segala kebaikan yang Naruto lakukan dan bentuk pengampunan yang harus keduanya bayar atas kehancuran yang terjadi berkat konflik di antara mereka dulu.
Namun pelan-pelan keduanya mulai berubah, terutama di saat keduanya sudah berada di samping Naruto dalam jangka waktu yang cukup lama dan Naruto mulai menggunakan bantuan dari keduanya; mereka berdua yang awalnya mengatakan ingin membuat dunia menjadi lebih baik berubah menjadi tidak perduli bila akan ada perang lagi selama Naruto baik-baik saja, keduanya sering berbagi pandang dan kadang salah satu dari mereka menghilang entah ke mana dan Naruto merasa seperti kehilangan suatu barang atau merasa ada sesuatu yang aneh.
Itachi mengerutkan keningnya, dari informasi yang Naruto; ia merasa bahwa keduanya seperti menjadi… terlalu possessive dan menempel dengan Naruto dan ia tidak tahu apakah itu hal yang baik atau buruk, mungkinkah keduanya? Hal baiknya adalah Itachi tahu bahwa Naruto akan baik-baik saja namun kabar buruknya adalah kemungkinan besar ada alasan mengapa keduanya ingin Naruto baik-baik saja.
Hadiah? Apa yang sang petapa pikirkan ya, memberikan hadiah yang cukup ambigu kepada sang gadis Uzumaki? Itachi tidak habis pikir.
"Ini hanya teori yang aku buat… keduanya seperti menginginkan Naruto sebagai 'wadah' mereka" Kisame menyuarakan pikirannya dan ia jadi sedikit kaget melihat Itachi tersedak ludahnya sendiri, seperti sangat kaget mendengar apa yang baru saja ia lakukan sehingga membuat sang manusia setengah hiu menatap khawatir dirinya "Ini hanya teoriku jadi jangan di masukkan ke dalam hati atau di anggap serius"
Teori, ya, teori yang ada kemungkinan kebenarannya dan Itachi tidak suka itu.
"…aku harap teorimu salah" Itachi bergumam dengan pelan sebelum kembali menulis laporannya untuk Nagato dan mencoba melupakan teori buatan partnernya.
"Hmm…" Kisame hanya mengangguk dan kembali lagi sibuk membersihkan pedang kesayangannya.
Naruto mengusap kedua matanya dan menguap, ia baru saja di bangunkan oleh sang rubah walau ia baru saja tertidur selama lima belas menit dalam perjalanan ke sebuah restoran dengan Jiraiya, gurunya mengatakan bahwa ia menemukan Tsunade dan mereka berdua akan menemuinya sekarang.
Naruto mengingat-ingat bahwa ia menemukan Tsunade lebih cepat dari di masa lalunya (masa depan) jadi ada kemungkinan Orochimaru belum bertemu dengan sang putri Senju dan Naruto tidak tahu mau merasa senang atau takut karena lagi-lagi masa depan (masa kini) berubah cukup banyak.
"Selamat datang!" Seorang pelayan menyapanya dan Jiraiya sebelum dirinya mempersihlakannya masuk dan mengantarnya ke meja yang kosong.
"Aku bersama teman yang sudah duluan masuk" Jiraiya menolak sang pelanggan yang ingin mengantarkan dirinya dan mulai berjalan ke arah tempat duduk yang di isi oleh dua orang perempuan, satu bersurai hitam pendek dan satu lagi memiliki surai pirang dengan Naruto mengekor di belakangnya.
"Benar ternyata kau akan ada di sini" Jiraiya menyeringai dan menyenderkan tubuhnya di kursi sebelah sang wanita bersurai pirang, seringaiannya melebar di saat ia melihat sang wanita bersurai pirang terlihat kaget melihatnya.
"Jiraiya!" Sang wanita bersurai pirang menatap tidak percaya Jiraiya yang kini duduk di sampingnya "Apa yang kau lakukan di sini!"
"Mencarimu tentu saja" Jiraiya tertawa sebelum mengambil buku menu yang ada di depannya dan membacanya sebelum melirik ke arah Naruto yang masih berdiri di sampingnya "Duduklah Naruto, pesan apa yang kau inginkan"
Naruto mengangguk dengan patuh dan berjalan untuk duduk di samping sang gadis bersurai hitam, ia menundukkan kepalanya dan ia tahu bahwa ia sedang di perhatikan oleh sang wanita berambut pirang.
"Kau menculik anak ini dari mana? Aku tahu kau mesum tapi aku baru tahu bahwa kau juga seorang pedofil" Naruto harus menahan tawa mendengar sang wanita bersurai pirang, Tsunade, menuduh Jiraiya.
"Enak saja, ini murid baruku" Jiraiya mendecak kesal sebelum memesan makanan yang ia inginkan kepada pelayan yang ia panggil "Namanya Naruto Uzumaki"
"Halo, salam kenal dattebayo" Naruto harus menahan senyum di saat ia melihat Tsunade akhirnya mengenali dirinya, begitu juga muridnya, Shizune, dan lalu memberikan tatapan jelaskan-ini-kepada-diriku kepada Jiraiya namun ia sudah buka mulut untuk menjelaskan "Dulu aku laki-laki namun sebuah kejadian yang tidak bisa aku ceritakan karena harus di rahasiakan kata kakek, kini aku menjadi perempuan"
Hening.
"Ia berkata jujur" Jiraiya mengambil segelas sake yang ada di depannya sebelum meminumnya "Namun aku datang ke sini bukan untuk mengenalkan dirimu dengan murid baruku"
Tsunade terdiam sebentar, ia mengalihkan perhatiannya ke arah minumannya sebelum menghela nafas pendek "…aku tahu… kau ingin membicarakan soal guru bukan…"
Jiraiya terdiam, ia hanya menatap lekat-lekat minuman miliknya sedangkan muridnya yang baru saja selesai memesan makanan menundukkan kepalanya lagi.
"Berarti kau sudah dengar? Guru koma" Jiraiya meminum bir yang ada di depannya namun ia terhenti di tengah-tengah di saat ia melihat Tsunade menatap tidak percaya dirinya "Kenapa?"
"Koma? Bukannya guru meninggal?" Tsunade menatap tidak percaya Jiraiya, matanya membulat dan tangannya menggenggam erat gagang gelas miliknya dan hampir menghancurkan gelas tersebut "Yang aku dengar, guru di nyatakan meninggal terbunuh oleh Orochimaru!"
"Kau salah informasi, guru tidak meninggal, hanya koma" Jiraiya memangkukan kepalanya di tangannya dan mengambil satu buah yakitori pesanannya yang baru saja datang dan memakannya "Aku ke sini datang memintamu datang ke Konoha untuk mengobati guru sekaligus menawarkanmu posisi menjadi Hokage kelima"
Tsunade terdiam, ia menghela nafas lega mendengar bahwa informasi yang ia dapatkan adalah sebuah kesalahan, ia sampai menangis di saat mendengar kabar mengenai guru yang sudah ia anggap ayah sendiri di nyatakan meninggal, namun ia menggeleng mendengar kalimat terakhir yang Jiraiya ucapkan "Aku menolak tawaranmu, hanya orang bodoh yang menerima titel Hokage"
"Wow…" Naruto meletakkan tangannya di depan mulutnya dengan ekspresi kaget dan tidak percaya menghiasi wajahnya "Kau baru saja mengatai gurumu bodoh"
Tsunade hanya melirik sang gadis berambut kuning yang katanya adalah murid Jiraiya, ia bisa mendeteksi sarkasme di nada bicara sang gadis dan ia mendecak kesal "Diam lah bocah"
"Oh! Oh! Dan aku dengar nama panjangmu Tsunade Senju" Naruto memiringkan kepalanya dan memasang ekspresi polos "Senju bukannya nama belakang Shodaime dan Nidaime bukan? Berarti kau baru saja mengatai mereka berdua bodoh juga"
Jiraiya menaikkan sebelah alisnya melihat sifat Naruto sebelum menyadari bahwa mata Naruto memiliki bercak-bercak warna merah dan ia bisa melihat sepasang gigi taring di dalam mulut sang gadis Uzumaki, ia hanya bisa menggeleng di saat ia menyadari bahwa yang ada di depannya adalah campuran dari sang Kyuubi dan Naruto.
"Kau tidak sopan sekali bocah" Tsunade mendesis, ia tidak suka sikap sang gadis bersurai kuning yang ada di depannya, bahkan Shizune sudah menyuruhnya untuk menenangkan diri dan mengingatkan bahwa gadis tersebut masih kecil.
"hmm… akukan hanya mengatakan kebenaran" Naruto mengangkat bahunya dan mulai memakan makanan yang sudah ia pesan dengan sesekali memberikan beberapa juga untuk Ashura dan Indra cicipi, ia memang sengaja memesan lebih banyak untuk keduanya yang sedang melayang di sampingnya.
Jiraiya menghela nafas pasrah, ia tahu sang gadis Uzumaki tidak berniat buruk namun pada waktu yang bersamaan ia merasakan pengaruh buruk dari sang rubah terhadap sang gadis bersurai emas di depannya.
"Tapi benar tidak kau punya hubungan dengan Shodaime dan Nidaime?" Naruto kembali menatap Tsunade namun kali ini Jiraiya tidak mendeteksi keberadaan sang rubah, matanya sudah kembali menjadi warna biru dan tidak ada gigi taring lagi.
Naruto sebenarnya cukup penasaran, di mimpinya ia pernah bertemu dengan kedua mendiam Hokage dan mulai penasaran mengenai keduanya, terutama dengan sang Nidaime dengan alasan sang Nidaime terlihat dekat dengan ayahnya.
"Kau tak tahu? Tsunade keturunan murni—cucu dari Shodaime" Jiraiya tersenyum usil melihat Tsunade tidak suka mendengar identitasnya di bongkar tanpa persetujuannya.
"Benarkah? Aku ingin tanya; kenapa Nidaime terlihat… begitu berbeda dengan Shodaime? Mereka kakak beradik bukan? Kok tak ada miripnya?" Jiraiya tertawa mendengar pertanyaan polos Naruto karena sejujurnya, banyak orang yang mempertanyakan hal tersebut juga dan ini bukan kali pertamanya Tsunade di beri pertanyaan tersebut.
"Tobi-jiji albino, makannya terlihat berbeda sendiri" Tsunade memutar bola matanya dengan bosan sebelum melanjutkan memakan makanan yang ada di depannya "Jangan mencoba mengganti topik pembicaraan dan Jiraiya, kau harus mengajarkan tatakrama kepada bocah ini"
"aku akan mengajarinya tapi kalau dari 'dalam' masih mengganggu ya sama saja bohong" Jiraiya memutar bola matanya dengan bosan dan tidak menghiraukan tatapan bingung Shizune dan tatapan curiga Tsunade.
"Mana ada, kalau kau yang ajarkan malah akan memperburuk sikapku" Naruto mendumal pelan, mengingat sifat mesum dari sang guru tentu saja apa yang ia katakan adalah kebenaran, lagi pula ia sudah punya guru dalam soal itu dan ia dengan adiknya sedang ada di sampingnya sekarang "Cukup ajarkan aku jutsu saja, seperti rasengan"
"Hah, kenapa kau mengajarkan jutsu yang tidak akan pernah bisa ia kuasai" Tsunade mendecak kesal sebelum kembali meminum sake yang ada di depannya.
Naruto tertawa pelan, membuat Tsunade berhenti minum dan menatap dirinya dengan pandangan setengah bingung setengah curiga sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Jiraiya untuk mendapatkan jawaban namun Jiraiya malah menyeringai.
"Sayang sekali Tsunade, ia sudah menguasai jutsu tersebut" Jiraiya tertawa dengan cukup keras melihat ekspresi Tsunade, ada perasaan bangga melihat muridnya yang sekarang sama geniusnya dengan muridnya dulu, melihat kemiripan sang gadis dengan ayahnya entah mengapa membuat dirinya sangat bangga dan senang.
"Dalam waktu 3 hari" Naruto tertawa melihat ekspresi Tsunade juga, ia tidak berbohong, dulu di saat ia pertama kali mempelajari rasengan; memang ia hanya membutuhkan waktu tiga hari untuk menguasai teknik tersebut.
"Senang melihat reinkarnasiku pintar sepertimu" Naruto harus menahan diri untuk tidak membetulkan apa yang baru saja Ashura katakan, karena ia jauh dari kata 'pintar' dulu, ia akui; predikat dead last masih menempel di dirinya dulu namun untuk sekarang ia menikmati pujian Ashura.
"...Kau bercanda bukan?" Tsunade tercengang, bocah macam apa yang di pungut oleh Jiraiya di depannya ini?
To Be Continue
Omake
A Peek To The Future! (Itachi's route)
Terkadang Naruto tidak habis pikir; kenapa bisa pemuda yang ada di depannya ini bisa menjadi kakak dari sahabatnya? Satu-satunya yang mirip dari mereka berdua hanyalah warna rambut dan mata—itu pun juga karena mereka adalah keturunan Uchiha murni.
Dari cara bicara, sifat, pemikiran, hingga bahasa tubuh; semuanya sangat berbeda, membuat sang gadis Uzumaki di buat bingung bukan main.
Sebenarnya mereka berdua itu kakak beradik atau bukan sih?
Dan karena ia adalah Naruto Uzumaki, ia dengan sangat blak-blakan mempertanyakannya kepada sang pemuda bersurai hitam panjang yang kebetulan sedang bersama dengannya—tidak sengaja bertemu di jalan ketika ternyata keduanya memiliki tujuan yang sama: sungai Naka.
"Jadi? Apakah benar kalian berdua kakak beradik? Aku mempertanyakannya sekarang karena melihat perbedaan yang sangat besar di antara kalian berdua" Naruto bertanya dengan ekspresi serius bercampur ingin tahu yang sangat besar; membuat dirinya mirip seekor anak berumur lima tahun yang serba ingin tahu sedang bertanya dengan ibunya.
Itachi diam sebentar, sedang memproses pertanyaan sang gadis Uzumaki; karena walau otaknya encer, ia belum siap di berikan pertanyaan se-luarbiasa aneh dari Naruto hingga akhirnya ia tertawa pelan dan membuat yang bertanya kebingungan bukan main.
"He? Apa yang lucu?" Naruto memiringkan kepalanya dan menaikkan sebelah alisnya, ia tahu bahwa sang pemuda Uchiha di depannya ini semakin lama jadi semakin sering tersenyum ataupun tertawa namun melihatnya tertawa tanpa sebab (menurutnya) begitu membuat begitu banyak pertanyaan muncul di kepalanya.
Itachi tetap tertawa sebentar sebelum ia bisa mengendalikan diri dan menggeleng pelan, ia memberikan Naruto sebuah senyuman kecil "Kami kakak beradik namun bukan berarti kami harus memiliki banyak kesamaan"
"Hee… aku melihat kau dengan Sasuke itu seperti Indra dan Ashura; kalian kakak beradik namun sudah seperti air dan api" Naruto mengangkat bahunya sebelum melipat kedua tangannya di depan dadanya dengan ekspresi kebingungan terlukis di wajahnya "Atau memang kakak beradik selalu seperti itu? Occhan dan A juga sifatnya sangat berbeda—tapi Occhan adik angkat sedangkan Kiba dengan kakaknya… mirip sih…"
Itachi tersenyum lembut melihat gadis yang berjalan di sebelahnya yang sedang berfikir keras mengenai hal yang sangat random menurutnya walau ia tidak keberatan sama sekali, karena ini bukan kali pertamanya dirinya di pertanyakan kemiripannya dengan Sasuke dan malah banyak orang mengira dirinya adalah adik dari Shisui dari pada kakak Sasuke.
Selain itu ia juga senang melihat sang Jinchuriki dari Kurama di sebelahnya ini masih menyimpan kepolosan dan sifatnya yang terlalu jujur dan sangat blak-blakkan walau sudah pernah ikut perang dua kali dan mati satu kali.
Tangannya bergerak dengan sendiri ke atas kepala Naruto dan mulai membelainya, seidkit mengacak-acak surai bak emas milik sang gadis dan matanya menatap lekat-lekat manik biru muda Naruto yang kini balas menatap dirinya.
"Uhh… Itachi-san?" Melihat sang Uchiha menatapnya tanpa berbicara dan mengacak-acak rambutnya dengan lembut, Naruto jadi kebingungan sendiri; ada apa dengan Itachi? Kenapa ia jadi sering melakukan hal ini (mengacak-ngacak rambutnya dan menatapnya tanpa berbicara sama sekali) akhir-akhir ini bila bertemu dengan dirinya?
"Hmm" dan seperti biasa pula, saat di tanya; Itachi hanya membalas dengan 'hmm' atauh 'hn' bila ia tanya dan menarik kembali tangannya sebelum kembali melakukan apapun itu yang sedang ia lakukan sebelumnya—berjalan di sampingnya untuk sekarang, tanpa menjawab dengan benar dan berlagak layaknya tidak terjadi apa-apa.
Naruto berfikir bahwa sang Uchiha terlalu banyak mengambil misi dan berkerja—atau munkin kepalanya terbentur dengan keras sehingga ia menjadi aneh seperti itu.
"Apa yang mau kau lakukan di sungai Naka, Naru?" Nah dan hal selanjutnya yang membuat sang gadis bingung adalah: Itachi kini memanggilnya Naru—bukan Naruto dan tanpa embel-embel 'san' seperti dulu secara tiba-tiba.
"Aah, aku dulu senang latihan sendiri di situ dan sampai sekarang juga; tempat tersebut tetap menjadi tempat yang paling aku sukai untuk beristirahat atau bersantai di kala aku senggang… selain di atas pahatan ayahku tentu saja"
"Oh…" Itachi mengangguk, ia setuju dengan apa yang Naruto katakan karena tempat tersebut juga merupakan tempat yang ia sukai untuk latihan atau di kala ia ingin menyendiri "Aku juga ke sana untuk hal yang sama… dulu tempat tersebut adalah tempat latihanku bersama Shisui"
Mendengar nama temannya membuat Naruto menoleh ke arahnya dan menatap dirinya lekat-lekat sebentar dengan mata sedikit membulat dan pipi sedikit memerah namun sang gadis buru-buru memalingkan wajahnya.
"…Ada apa?" Tentu saja Itachi menyadarinya dan ia penasaran.
"Ha…ahahhaha" Naruto tertawa canggung dan menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, namun melihat ITachi sangat menginginkan jawaban membuat dirinya memainkan ujung pakaiannya. Kebiasaan yang ia dapat dari Hinata di kala ia sedang canggung atau malu "Shisui Uchiha... aku jadi teringat kalau Sakura pernah bilang kalau ia… lelaki idamanku—atau lebih tepatnya lelaki yang menurutnya cocok denganku"
Oh.
Itachi jadi teringat bahwa memang sang gadis berambut permen karet yang merupakan rekan satu kelompok sang gadis Uzumaki di depannya mengatakan hal tersebut.
Itachi terdiam sebentar, membiarkan keheningan menemani mereka berdua hingga mereka sampai ke sungai Naka.
"Banyak orang bilang aku mirip Shisui" Itachi tiba-tiba berkata, membuat Naruto menaikkan sebelah alisnya dan menatap bingung sang pemuda Uchiha dan membuat Itachi melanjutkan omongannya "Banyak orang bilang aku lebih mirip Shisui dari pada Sasuke"
"He?" Naruto memiringkan kepalanya dan menatap semakin bingung sang pemuda Uchiha di sebelahnya.
"Secara logika karena Shisui tidak lagi ada…" Itachi memutar tubuhnya hingga ia berhadap-hadapan dengan Naruto sebelum meletakkan tangannya di pipi Naruto dan membelainya dengan lembut, senyuman lembut menghiasi bibirnya dan manik hitamnya menatap manik biru sang gadis "Bukankah aku kandidat yang bagus?"
Itachi menarik kembali tangannya dan berjalan meninggalkan sang gadis Uzumaki sendirian; membeku di tempat dengan wajah semerah makanan kesukaan adiknya dan mata sebuat teman sang gadis yang selalu menggunakan spandex berwarna hijau.
"EEEEEHHH?" Itachi mendengar teriakan sang gadis di saat ia sudah berada di dalam hutan dekat sungai Naka dan ia tertawa pelan melihat betapa menggemaskannya sang anak dari mendiam Hokage keempat.
A Peek To The Future! (Kakashi's route)
Seorang gadis cantik bersurai kuning duduk di atas pahatan Hokage ke empat, sebuah senyuman kecil terlukis di wajahnya melihat pemandangan desa yang ada di depan pahatan tersebut sebelum ia menutup matanya dan merebahkan tubuhnya di atas pahatan tersebut.
Ia membiarkan surai kuningnya tersebar di tanah dan menikmati sinar matahari yang menyinari dirinya, memberikan dirinya kehangatan dan membawa dirinya ke alam mimpi.
"Apakah lebih baik kau tidur di rumahmu saja… Naru?"
Naruto membuka matanya dan melirik ke arah suara yang memanggilnya untuk menemukan pemuda bersurai silver yang berdiri di sampingnya.
"Aah.. Sensei, aku bisa tidur di mana saja yang aku mau" Naruto tertawa pelan, ia tersenyum usil sebelum mengalihkan perhatiannya ke arah langit yang cerah di depannya "Lagi pula cuacanya sedang sangat bagus"
Ia bisa mendengar gurunya dulu tertawa pelan sebelum ia bisa merasakan Kakashi mendekat ke arahnya "Sudah aku bilang, jangan panggil aku Sensei lagi, aku bukan gurumu sekarang"
Naruto terdiam sebentar sebelum bangun dari posisinya untuk duduk, ia memberikan senyuman usil kepada Kakashi "Oh iya, Ho-ka-ge-sama"
Kakashi mengerutkan keningnya, ia tidak terlalu suka dengan panggilan baru dari Naruto jadi di saat sang gadis Uzumaki bangun dari posisinya dan kini berhadap-hadapan dengannya, ia mencubit pipi sang gadis "Mendengar aku di panggil terlalu formal seperti itu olehmu rasanya tidak enak…."
Naruto hanya tertawa pelan sebelum melepaskan diri dari cubitan Kakashi "Lalu kau mau aku panggil apa?"
Kakashi diam sebentar, entah mengapa otaknya yang biasanya encer seperti tertahan sesuatu sehingga ia tidak bisa menjawab pertanyaan sang gadis Uzumaki, namun dalam lubuk hati paling terdalam, ia bukan tidak tahu mau menjawab apa, ia hanya tidak bisa mengatakannya.
'Aku ingin kau memanggilku dengan namaku…' adalah apa yang ingin ia katakan, namun mulutnya seperti terjanggal sesuatu dan ia hanya bisa menatap kosong sang gadis Uzumaki, membuat yang di tatap menatap bingung dirinya.
Setelah berberapa menit, Naruto mulai merasa bosan dan berfikir bahwa Kakashi sedang mengerjai dirinya dengan membuat dirinya penasaran dengan tidak menjawab pertanyaannya. Ia cemberut sebelum membalik tubuhnya dan berjalan meninggalkan Kakashi "Hmph! Kalau tak mau beri tahu yasudah, aku akan memanggilmu…"
"Kaka-baka!" Naruto membalik tubuhnya dan memberikan Kakashi senyuman usilnya "Aku akan memanggilmu itu mulai sekarang!"
Kakashi mengedipkan matanya berkali-kali sambil menatap sang gadis Uzumaki, sebelum senyuman kecil terlukis di wajahnya yang setengah tertutup masker 'Hampir… setidaknya ia tidak memanggilku guru lagi"
"Maa… kalau begitu aku akan memanggilmu Naru-chan" Kakashi tertawa melihat Naruto yang wajahnya sedikit memerah, ia tahu bahwa Naruto tidak pernah mendapatkan panggilan kecil, seperti nickname dan dari respon yang ia terima, sepertinya ia memilih nama yang tepat.
"Ugh! Kau membuatku memilih antara memanggilmu dengan nama panggilan buatanku yang sangat bagus dengan dirimu yang memanggilku dengan panggilan… memalukan itu!" Naruto menggembungkan pipinya dan cemberut kembali, memperlihatkan seberapa dewasa dirinya.
"Aah, apakah kau marah denganku?" Kakashi berjalan mendekati sang gadis dan menepuk kepala Naruto lalu mengacak-acak surai emas seperti milik gurunya dulu sebelum tersenyum usil "Kau masih kekanak-kanakan sekali"
Tidak terima dirinya di katai kekanak-kanakan; Naruto mendorong jauh tangan Kakashi dan menatap tajam sang pemuda Hatake "Aku tidak kekanak-kanakan!"
Naruto semakin kesal melihat sang Hokage keenam tertawa dan ia tahu bahwa mantan gurunya yang satu ini sedang mengerjai dirinya, ia yang seharusnya mengerjai orang! Bukan sebaliknya! Ia memiliki nama untuk di jaga, predikat number one prankster akan selalu ia jaga!
Namun entah mengapa ia tidak bisa mengerjai mantan gurunya yang satu ini—Yamato-taichou saja bisa ia kerjai, namun mengapa Kakashi tidak?
"Maa, jangan ngambek seperti itu" Kakashi menggeleng melihat Naruto membuang mukanya dan mulai berjalan meninggalkan dirinya, wajah sang gadis juga sedikit emmerah karena menahan marah "Sebagai permintaan maaf: bagai mana kalau aku menraktirmu di kedai Ichiraku?"
Dalam hitungan kurang dari satu detik, sang gadis Uzumaki sudah ada di depannya dengan mata berbinar-binar lalu menarik tangannya.
"Sekarang! Aku belum makan siang!" Naruto tersenyum dengan lebar dan menarik lengan Kakashi, mengaitkan tangannya dengan tangan sang Hokage keenam agar ia tidak bisa kabur dan memenuhi janjinya.
Kakashi hanya menggeleng dan mengikuti kemauan sang gadis Uzumaki, muridnya—tidak, Naruto bukan lagi muridnya; sekarang ia sudah menjadi seorang ninja yang mandiri.
Mari di ralat.
Calon istrinya yang satu ini memang tidak pernah berubah.
!Review Reply!
ASCTERIOS: Terimakasih banyak atas pujiannya! saya akan mempertahankan dan mengembangkan gaya penulisan saya!
AsakiYuuna: Makin rajin? benarkah? bukannya sebaliknya ya? apa lagi akhir-akhir ini melihat saya semakin sibuk... hiks, namun terimakasih atas pujiannya!
4A-GE: Bisa di bilang seperti itu sampai ending (silakan baca Author notes chapter 8), namun nanti akan di bagi dengan tiap kandidat punya ending masing-masing (bisa di lihat di author notes siapa kandidatnya)
choikim1310: Masih belum di ketahui, namun sepertinya mereka memang punya agenda tersendiri.
Celo327: Masih belum di ketahui, mari kita lihat saja. Kesalahan apa
boku wa megitsune: Namanya juga laki-laki yang ada di dalam tubuh perempuan dan bukan polos melainkan enggak peka, bisa di bilang Naruto psikologisnya masih laki-laki. entah lah, Itachi dan Sasuke punya pikiran masing-masing.
dheeev: Dua-duanya, Naruto psikologisnya masih laki-laki jadi belum bisa menyadari perasaan laki-laki lain, perlu di ingatkan di butuhkan kurang lebih 10 tahun untuk Naruto menyadari Hinata menyukai dirinya? Baru nyadar di saat Hinata blak-blakan mengatakannya? Intinya adalah: kalau mau Naruto nyadar maka katakan secara blak-blakan, jangan ngasih kode, sampai tahun kuda terbang juga dia tidak akan nyadar.
Guest: Perlu di ingatkan Naruto membutuhkan kurang lebih 10 tahun untuk menyadari bahwa Hinata menyukainya dan baru mengetahuinya di saat Hinata blak-blakan bilang dia suka dengan Naruto. Maksud saya adalah: kalau menyatakan perasaan kepada Naruto tidak bisa ngasih kode-kode, harus blak-blakan.
xxAries-Mintxx: Mereka berdua memang menyenangkan untuk di tulis. Benarkah? menurut saya itu memang sifat asli Naruto, di butuhkan kurang lebih 10 tahun untuk Naruto menyadari Hinata menyukainya, itupun di saat Hinata blak-blakan bilang baru Naruto ngerti. Bagai mana dengan Sasuke dan yang lainnya? Yang memperlihatkan perasaannya dengan kode macam algoritma matematika? Mereka harus blak-blakan baru Naruto ngerti.
Vilan616: Maafkan Author yang sudah sedikit mengecewakan anda, saya sedikit sibuk jadi tidak bisa meng-update di tahun baru... dan soalnya panjang cerita... kita lihat saja dulu.
Natalia: Hahaha, sayangnya ada yang menyukainya dan sejujurnya saya tidak keberatan dengan umurnya jadi saya mohon anda bisa mengerti.
Faie: ...ha?
RayNaruKushi: He? Di ulang-ulang? Di mana ya? saya sudah cek ulang tapi masih tidak menemukannya?
HyuugaKimicho: Belum di ketahui, karena masih berfokus di dalam kehidupan Naruto di luar desa, nanti akan ada waktunya untuk di jelaskan.
vairo: Melihat tulisan ada TBC jadi sepertinya iya.
Jasmine DaisymoYuki: Hahahah silakan menunggu!
Terimakasih banyak atas pujian dan respon positif dari para pembaca sekalian! sampai jumpa di chapter selanjutnya!
Review Please
