Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Warning: Mengandung Gender Bender, Semi-Au, Time Travel, Miss Typoo, dll
!Author Notes!
Halo para pembaca sekalian, maaf sudah membuat anda menunggu lama namun saya sedang sibuk sehingga tidak bisa Up-date terlalu sering, Ujian hari terakhir memang besok namun beberapa hari kemudian saya sudah harus magang jadi up-date berikutnya akan memakan waktu yang cukup lama.
Namun kembali lagi ke cerita, karakter yang akan mendapatkan ending adalah: Kakashi, Gaara, Sasuke, Kurama, dan Itachi.
Perlu di ingatkan lagi, ketentuan pairing adalah SEMUA mendapatkan ending.
Entah ada yang baca atau tidak, setidaknya saya punya jawaban terhadap review anda walau saya hampir bosan memberikan jawaban tersebut.
Selamat menikmati chapter terbaru To The Past.
"Jadi… apakah kau akan menerima tawaran menjadi Hokage… ero-sannin?" Naruto menyenderkan tubuhnya di dinding yang ada di belakangnya sebelum merenggangkan tubuhnya dan menguap, ia dan gurunya kini sedang menetap di sebuah penginapan tidak jauh dari restoran tempat mereka berdua bertemu dengan Tsunade semalam "Mengingat Tsunade-baachan menolak tawarannya…"
"Tidak, belum" Jiraiya menggeleng dengan pelan, ia melipat kedua tangannya di depan dadanya dan bersender di sebelah jendela sambil menatap pemandangan kota tempat ia dan Naruto tinggal sementara "Setidaknya aku mau membujuknya sedikit dulu… dan juga mengajaknya kembali ke Konoha untuk mengobati Sandaime"
Naruto terdiam sebelum mengangguk, ia menutup matanya dan mulai bermeditasi sebelum suara Kurama membangunkan dirinya dan menarik dirinya ke alam bawah sadarnya.
"Aku ingin kau membujuknya untuk tetap menjadi Hokage" Kurama memangkukan kepalanya ke sebelah tangannya dan menatap serius wadahnya yang kini berada di depannya.
"Hm? Ada apa? Apakah kau meragukan kebisaan Ero-sannin untuk menjadi Hokage?" Naruto memiringkan kepalanya dan menatap bingung Kurama, ia tidak ada masalah dengan gurunya menjadi Hokage karena ia tahu; Jiraiya bisa serius dan bisa di andalkan bila ia mau.
"Tidak, hanya saja lebih baik meminimalisirkan perubahan yang ada" Kurama memang ingin meminimalisirkan perubahan yang ada agar pengetahuan mereka tentang masa depan masih bisa di gunakan, terutama di saat perubahan sudah mulai terjadi dan sekarang mereka harus mengubah rencana untuk beradaptasi dengan perubahan yang ada "Senjata terkuat kita adalah ingatan kita tentang masa depan, maka dari itu jangan membuat diri kita kehilangan kekuatan tersebut"
Apa yang di katakan oleh Kurama adalah kebenaran, ia sendiri sedikit kebingungan dengan perubahan yang ada dan terkadang perubahan walau terdengar baik memiliki konsekuensi yang cukup buruk untuknya dan teman-temannya.
"Ero-sannin, mungkin kau harus pergi sekarang untuk membujuk nenek Tsunade" Naruto kini sudah kembali lagi ke dunia nyata dan ia sedang menatap Jiraiya yang kelihatannya ingin sekali mendatangi Tsunade namun seperti ragu-ragu "Bukannya aku tidak ingin kau menjadi Hokage namun…"
"Setidaknya kita mencoba bukan? Selain itu kelihatannya nenek Tsunade tidak ingin kembali ke Konoha… aku khawatir dengan kakek…" Naruto menundukkan kepalanya, apa yang ia katakan bukan kebohongan karena ia memang sangat ingin kakeknya kembali lagi dan ia sangat mengkhawatirkan kondisi sang Hokage ketiga.
"Hmm… mungkin kau memang benar" Jiraiya menghela nafas dan mulai mempersiapkan barang-barang untuk mendatangi Tsunade, ia tahu kemungkinan besar sang putri Senju sedang berada "Kau kembalilah berlatih"
Naruto mengangguk dan memperhatikan Jiraiya berjalan keluar ruangan hingga akhirnya sang pertapa katak sudah menghilang di balik pintu keluar baru lah Naruto merosot hingga ia kini ada di posisi berbaring dan menatap langit-langit kamar tempat ia berada.
"Ini hanya opiniku namun… aku pikir kau harus mulai berfikir mengenai dirimu sendiri Naruto" Ashura yang duduk di sebelahnya melirik sang gadis Uzumaki sebelum menggeleng dengan pelan "Terkadang menjadi sedikit egois itu bukan hal buruk"
Naruto menatap bingung Ashura, mengapa ia tiba-tiba berkata seperti itu? Terdengar sangat random sekali.
"Yang Ashura maksud adalah: sudah saatnya kau memikirkan masa depanmu, bukan hanya masa depan desa tempat kau tinggal atau teman-temanmu saja" Indra yang dengan mudah mendeteksi kebingungan dalam Naruto mulai menjelaskan mengapa sang adik tiba-tiba saja berkata seperti itu "Kau terus-terusan mengkhawatirkan orang lain tanpa memikirkan kebahagiaanmu sendiri"
Naruto membuka mulutnya untuk berkata sesuatu sebelum kembali menutupnya; ia tidak punya balasan untuk tuduhan Indra karena apa yang di katakan oleh sang Uchiha adalah kebenaran; ia menggigit bawah bibirnya, sedikit frustasi menyadari kebenaran tersebut.
'Kit, apapun itu yang sedang kau pikirkan—dan aku yakin yang menyebabkannya adalah kedua anak dari Hagoromo, lupakan saja terlebih dahulu; fokus ke latihanmu' Sejujurnya Kurama setuju dengan apapun itu yang sedang Naruto pikirkan (memikirkan apa yang Ashura dan Indra katakan) namun mereka berdua tidak membutuhkan gangguan seperti itu sekarang, mereka berdua harus fokus dengan latihan mereka.
Memutuskan untuk tidak menghiraukan apa yang Indra dan Ashura katakan sementara waktu, Naruto bangun dari posisinya dan mulai bersiapsiap untuk pergi keluar, ia tidak mungkin berlatih di kamarnya karena takut ada ninja sensor yang bisa mendeteksi chakra milik Kurama.
Indra dan Ashura tidak langsung mengikutinya, mereka berdua hanya menatap Naruto lekat-lekat hingga sang gadis Uzumaki sudah berada di depan pintu keluar kamarnya barulah mereka berdua beranjak dari tempat mereka duduk.
"Hidupmu adalah milikmu bukan milik orang lain Naruto…" Ashura menghela nafas pendek, ia sengaja berbicara di saat Naruto tidak ada di jarak dengar, ia mengatakan hal tersebut untuk kakaknya.
"Sudah aku bilang, menjadi terlalu baik bukanlah sifat yang bagus" Indra memberikan Ashura tatapan 'sudah-aku-peringatkan-kau' yang di balas Ashura dengan helaan nafas pasrah, sepertinya sang adik akhirnya menyadari kesalahannya.
"Iya iya, aku yang salah…"
"Sekarang kau tidak akan mengeluh atau menghentikan aku bila aku ingin mengubahnya sedikit bukan?"
"…Baiklah… ini untuk kebaikannya pula"
Naruto menutup matanya dan mengatur nafasnya, pelan-pelan ia mencoba membiarkan Kurama merasuki tubuhnya, ia mencoba sebisanya untuk mengatur jalur masuknya chakra milik Kurama ke dalam tubuhnya walau ia akui tidak semudah yang ia pikirkan; terutama di saatnya tubuhnya kini kembali menjadi umur tigabelas tahun dan melemah.
Ia membuka matanya perlahan dan bisa melihat di pantulan sungai di depannya bahwa sebelah matanya kini berubah menjadi warna merah beberapa saat dan lalu keduanya berubah menjadi merah sepenuhnya, mata milik Kurama.
Sebuah senyuman puas terlukis di wajah sang gadis dan memperlihatkan gigi taring yang pelan-pelan muncul dengan sendirinya.
"Hampir, kau tinggal mempertahankannya lebih lama" Naruto senang bukan main, ia baru saja di puji oleh sang rubah dan sudah cukup lama semenjak terakhir kali Kurama memujinya; ia jadi tidak sabar memperlihatkannya kepada Jiraiya dan mendapat pujian pula dari sang pertapa katak.
Namun perasaan senang Naruto sedikit terhenti di saat ia mendengar suara perutnya protes minta di isi, membuat dirinya mengingat bahwa ia belum sarapan dan sekarang sudah waktunya makan siang; ia terlalu serius berlatih untuk menyadari bahwa matahari kini sudah duduk di singgahsananya dan ia bisa merasakan tubuhnya menjadi lebih kaku karena terlalu lama duduk.
Naruto (Kurama) menutup matanya dan bisa merasakan pelan-pelan ia kembali di tarik keluar dari tubuh Naruto dan kembali lagi ke alam bawah sadar sang gadis sehingga di saat Naruto membuka matanya, kini manik biru cerah lah yang terlihat.
Naruto bangun dari posisinya dan merenggangkan tubuhnya, ia melirik Ashura yang sedang berbaring di dekatnya dan Indra yang berteduh di bawah pohon "Ayo makan siang, kalian ingin coba makan apa? Mumpung kita ada di luar Konoha"
Ashura membuka sebelah matanya untuk melirik Naruto sebelum beranjak dari posisinya yang sedang tiduran menjadi duduk, ia menguap dan merenggangkan tubuhnya sebelum menjawab pertanyaan Naruto "Daging sapi mungkin?"
"Tempat Barbecue ada di Konoha, yakin tidak mau mencicipi makanan yang ada di sini?" Naruto bertolak pinggang dan menaikkan sebelah alisnya, sejujurnya ia tidak keberatan untuk makan daging karena ia memang suka daging, terutama daging sapi namun ia merasa akan sia-sia ia memakan makanan yang bisa ia temukan di Konoha di saat ia sedang ada di luar.
Naruto membalik tubuhnya untuk menatap Indra "Ada ide kita makan apa hari ini?"
Indra yang sedang merapihkan pakaiannya dan menepuk celananya dari debu imajinasi menengok ke arah Naruto di saat ia menyadari bahwa Naruto bertanya kepada dirinya "…Seafood?"
"Ide bagus, sudah lama aku tidak makan makanan laut" Naruto tersenyum dan mengangguk lalu berjalan meninggalkan hutan tempat ia latihan untuk kembali ke kota dan ke restoran yang menyajikan seafood sebagai menu utama.
Di perjalanannya untuk mencari toko yang menjual makanan pilihannya, ia tidak sengaja bertemu dengan Shizune, murid dari Tsunade yang kelihatannya sedang sendirian bersama babi peliharaannya, kemungkinan besar sedang mencari tempat untuk makan siang juga.
"Uhm… Shizune-san? Murid nenek Tsunade?" Naruto menyapa sang gadis bersurai hitam, tadinya Shizune sedikit kaget melihat dirinya sebelum menyadari bahwa Jiraiya tidak bersama dengan sang gadis.
"Oh, kau… Naruto, murid Jiraiya ya? Halo, ke mana Jiraiya? Ia tidak bersama denganmu?" Shizune mengintip ke belakang sang gadis Uzumaki untuk mencari sesosok laki-laki berambut putih yang merupakan guru Naruto namun tidak menemukannya.
"Tidak, katanya ia ingin menemui nenek Tsunade dan membujuknya sekali lagi untuk menjadi Hokage atau setidaknya ke Konoha untuk mengobati kakek" Naruto menggeleng pelan lalu melirik ke belakang Shizune, sepertinya guru sang gadis bersurai hitam tersebut juga tidak bersama dengannya "Nenek Tsunde juga tidak ada bersamamu?"
Entah mengapa di saat ia melihat ekspresi sedikit ragu-ragu dan wajah sang gadis memucat, Naruto tahu bahwa ada sesuatu yang terjadi semalam di saat ia dan Jiraiya pergi meninggalkan mereka berdua untuk kembali ke tempat penginapan mereka menetap sementara.
Kurama bahkan membuka sebelah matanya dan mengerang kencang, ia punya perasaan tidak enak dan seperti tahu penyebab dari sang murid dari putri Senju tersebut memucat.
Perasaan tidak enak dari sang rubah dan Naruto tidak salah, memang benar bahwa ada sesuatu yang terjadi dengan sang medic nin termahir tersebut semalam, karena sang putri Senju tersebut sekarang sedang berada di sebuah kedai; minum alcohol di siang bolong di temani oleh sang pertapa katak.
"Kau tahu… bila kau menerima tawarannya maka sama saja dengan kau menyia-nyiakan pengorbanan guru…" Jiraiya melirik tajam sang putri Senju yang duduk di sebelahnya, ia bisa melihat Tsunade menundukkan kepalanya untuk menyembunyikan wajahnya.
"…Kau tidak perlu menasihatiku" Tsunade mendesis pelan, ia tidak menyukai nada yang di gunakan oleh Jiraiya di saat menasihatinya, karena sang pertapa katak tidak pernah terdengar semarah itu dulu kepada dirinya.
"…Aku tidak menasihatimu" Jiraiya menggeleng sebelum meminum sake yang ada di depannya.
"Kau tidak pantas menasihatiku" Tsunade membuang mukanya dan mendecak kesal, ia tahu bahwa apa yang Jiraiya katakan adalah kenyataan namun entah kenapa di dalam lubuk hatinya yang paling terdalam menolak mentah-mentah; tawaran dari Orochimaru terdengar lebih baik dari pada ia harus hidup selamanya membawa beban yang selalu menghantuinya dulu "Di saat kau mengajarkan bocah tersebut jutsu yang sangat berbahaya dan bisa saja membunuhnya"
"Kalau mau jujur—dan kau berhak mengetahuinya, aku bukan yang mengajarinya" Jiraiya memutar bola matanya dan memakan kacang yang di suguhkan oleh sang penjaga toko, ia tidak memperdulikan tatapan bingung Tsunade di saat ia mendengar apa yang ia katakan.
"Kau seharusnya tahu dengan sekali lihat bukan, siapa orang tua dari bocah tersebut dan siapa sebenarnya bocah tersebut" Jiraiya memasang segel di meja makannya dengan Tsunade agar tidak ada yang bisa menguping karena apa yang ia akan katakan selanjutnya adalah sebuah rahasia besar.
Tsunade terdiam, otaknya sedang bekerja untuk mencerna apa yang baru saja Jiraiya katakan sebelum matanya membulat dan menatap tidak percaya Jiraiya "Tidak… tidak mungkin… kau tidak bilang bahwa bocah tersebut—"
"Hampir benar, namun kau salah kalau mengira kalau ia berhasil menguasai chakra sang rubah. Yang benar adalah: ia berhasil menguasai sang rubah" Jiraiya menatap tajam gelas minumannya di saat ia mengingat pertemuannya dengan sang rubah berekor sembilan "Untuk menggambarkan seberapa dekatnya sang rubah dengan Naruto… sang rubah memanggilnya dengan panggilan… kit (anak rubah)"
Hening.
"Kau gila Jiraiya…" Tsunade menggretakkan giginya, ia mematahkan sumpit yang ia pegang karena menggenggamnya dengan sangat kuat, bahkan urat-urat di tangannya bisa terlihat.
"Yang mengajarkannya rasengan juga sang rubah" Jiraiya menghela nafas dan memangkukan wajahnya ke sebelah tangannya sambil bermain-main dengan gelas sakenya "Ada alasan pula mengapa aku mengajaknya pergi bersamaku mencari dirimu"
"Guru menyuruhku melatihnya dan mencari dirimu untuk di jadikan Hokage kelima… dalam surat wasiatnya"
Tsunade membulatkan matanya dan menatap tidak percaya (lagi) Jiraiya, mulutnya setengah terbuka dan kini ia sudah menjatuhkan sumpitnya yang sudah patah.
"Ya… guru meninggalkan surat wasiat" Jiraiya mengerutkan keningnya seperti ia tidak suka dengan apa yang baru saja ia katakan "Kau tahu artinya bukan? Guru seperti sudah tahu bahwa nyawanya terancam dan akan mati… aku berfikir bahwa ini adalah sebuah keajaiban ia bisa hidup"
Tsunade menggigit bawah bibirnya, sekarang kepalanya terasa sangat sakit padahal ia baru minum tiga teguk sake, ia merasa seperti jantungnya di tusuk berkali-kali dengan jarum panas mendengar bahwa gurunya yang sudah ia anggap ayah sendiri berfikir bahwa ia akan benar-benar mati dan penyebabnya adalah rekan satu kelompoknya dulu dan merupakan muridnya sendiri.
Tsunade membuang mukanya, kini ada perasaan bersalah yang luar biasa besar karena berfikir untuk menerima tawaran Orochimaru sebelum akhirnya tekadnya kini sudah bulat, ia mengambil botol sake yang ada di depannya dan meminumnya sampai habis lalu beranjak dari tempat duduknya.
"Beri aku waktu tiga hari" Tsunade berjalan meninggalkan Jiraiya sendirian di kedai sedangkan Jiraiya tidak mengikuti sang putri Senju, ia memainkan gelas sakenya dan ia tahu bahwa Tsunade tidak akan melakukan hal bodoh dan ia tahu; bahwa Tsunade sudah merubah pikirannya.
Dua hari sudah berlalu semenjak Tsunade membuat janji kepada Jiraiya, ia kini sedang menonton sang gadis Uzumaki yang sedang latihan di hutan sendirian.
Tadinya ia masih tidak mempercayai apa yang Jiraiya katakan mengenai sang gadis namun kini bukti sudah ada di depan mata; sang gadis berkali-kali terlihat berubah wujud—tidak sepenuhnya, seperti matanya berubah menjadi merah atau tanda lahirnya semakin mirip kumis, sang gadis juga sering berbicara secara langsung dengan sang rubah atau sebaliknya, sang rubah berbicara dengan menggunakan tubuh sang gadis.
Ia dengar dari Jiraiya bahwa ia sedang melatih Naruto untuk bisa mempererat hubungan dan koneksinya dengan sang rubah berekor sembilan dan kelihatan sekali bahwa hubungan keduanya sangat SANGAT dekat seperti apa yang Jiraiya katakan.
Tsunade jadi mengingat adiknya dan mendiam kekasihnya dulu, dimana mereka tidak pernah putus asa dan selalu mengerahkan segala yang ia punya untuk mencapai impiannya, sang gadis tidak pernah putus asa walau berkali-kali ia gagal dan senyum tidak pernah hilang dari wajahnya.
Tangannya bergerak dengan sendirinya ke dadanya—ke kalung yang ia kenakan dan menggenggamnya dengan kuat, ingatan mengenai kakeknya kini ikut memenuhi pikirannya, ia bisa melihat bahwa senyum yang Naruto kenakan sangat mirip dengan senyum kakeknya—sang Hokage pertama.
Naruto kini tengah membasuh wajahnya di sungai sebelum memutuskan untuk masuk ke dalam sungai entah mengapa dan kembali lagi beberapa menit kemudian dengan sebuah batu berwarna hijau yang mengkilap sehingga membuat senyuman hangat terlukis di Tsunade; apa yang Naruto lakukan sangat mirip dengan adiknya yang selalu tidak berfikir dua kali kalau ingin melakukan sesuatu, persis anak-anak.
Tsunade tidak tahu bahwa Naruto sudah mengetahui keberadaannya dan ia tahu bahwa ia sedang di perhatikan maka dari itu ia memperlihatkan kepada Tsunade seberapa dekatnya ia dengan sang rubah berekor sembilan dan tidak menghiraukan kedua pengawalnya, takut kalau ia akan di curigai.
Naruto menatap lekat-lekat batu yang ia baru dapatkan, warna batu tersebut mengingatkannya dengan warna kalung yang Ashura kenakan sehingga ia melirik sang pemuda Senju (Uzumaki? Keduanya keturunannya sih) yang duduk di sampingnya sebelum memutuskan untuk mencoba membuat kalung yang mirip dengan Ashura, membuat Ashura kelihatan sangat senang.
Tsunade menghela nafas pendek, tekadnya sudah bulat dan ia sudah mendapatkan jawaban untuk tawaran Orochimaru, ia bangun dari posisinya dan dalam hitungan waktu kurang dari satu detik sudah menghilang dari tempat ia duduk sebelumnya.
Naruto yang menyadarinya melirik tempat Tsunade duduk sebelumnya, ia memang merasa kasihan terhadap sang putri Senju namun pada akhirnya; ia hanya bisa memberikan moral support dari jauh saja, selain itu setidaknya ia tahu bahwa ia telah melakukan cukup banyak perubahan sekarang dan ia yakin hasil akhir dari pencarian kali ini tidak akan menjadi sekacau dulu.
Naruto melirik Ashura dan Indra, ada keinginan untuk meminta bantuan keduanya untuk mengawasi gerak-gerik Tsunade namun ia mengingat apa yang Itachi katakan; ia tidak boleh terlalu sering menggunakan bantuan kedua pengawalnya—atau hanya menggunakan bantuan keduanya bila benar-benar penting atau memang sudah kepepet.
Jadi sekarang Naruto hanya membuat sebuah kagebunshin yang ia suruh mengikuti Tsunade dan berjaga-jaga bila sang manusia setengah ular mencoba macam-macam dengan sang putri Senju, karena Naruto tidak mau ambil resiko bila Orochimaru melakukan sesuatu yang mengejutkan, ia sudah merubah masa kini cukup banyak; ia jadi tidak bisa memprediksi gerak-gerik sang manusia setengah ular.
"Baiklah, latihan kali ini kita sudahi dulu bagai mana? Aku ingin pergi ke toko senjata yang kemarin kita lewati" Naruto merenggangkan tubuhnya dan menghela nafas puas di saat mendengar suara 'KREK' di pinggangnya "Aku ingin belikan oleh-oleh untuk Teme dan teman-temanku yang lain, pedang yang sedang diskon tadi terlihat bagus untuk Teme"
"Aku bisa membantumu memilihkannya" Indra menawarkan diri dan kini sudah berdiri di samping Naruto, membuat sang gadis Uzumaki mengangguk dan mengatakan terimakasih kepada sang pendiri klan Uchiha sebelum berjalan ke arah kota.
Di saat Naruto sedang berjalan-jalan di kota, Nagato yang sedang mengendalikan tubuh Yahiko sedang melakukan pertemuan dengan Tobi dan Zetsu dengan Konan berdiri di sampingnya sambil melirik Tobi dan Zetsu secara bergantian.
"Itachi gagal menangkan wadah Kyuubi, namun aku sudah memberikan tugas kepada mereka berdua untuk mencari informasi mengenai wadah Yonbi" Pain (Nagato yang mengendalikan tubuh Yahiko) melipat kedua tangannya di depan dadanya, ia harus bersikap senormal mungkin dan tidak membiarkan ada orang yang menyadari bahwa ada perasaan senang terhadap apa yang baru saja ia katakan.
"..ini hanya perasaanku atau kau bersikap terlalu baik kepada Itachi dan Kisame? Membiarkan mereka pergi tanpa hukuman" Zetsu berbicara secara bergantian, sang manusia setengah tumbuhan (?) Menaikkan sebelah alisnya—walau yang memiliki alis hanya yang sisi putih dan menatap setengah bingung setengah curiga ke arah 'ketua'nya.
"Aku tidak melembek dan tidak bersikap terlalu baik kepada Itachi maupun Kisame" Pain menggeleng sebelum memberikan tatapan tidak suka kepada Zetsu, membuat sang manusia setengah tumbuhan yang di tatap mundur sedikit ke belakang untuk memberikan jarak lebih di antara mereka "Namun akan buang-buang waktu kalau aku menghukum mereka, apakah kau sudah lupa bahwa Jinchuriki dari Iwagakure di temukan dalam keadaan terluka akhir-akhir ini?"
"Hmm… kau ada benarnya, berita tersebut memang cukup meresahkan" Tobi mengangguk, nada bicaranya berbeda seratus persen dengan yang biasa ia gunakan bila ia sedang di luar bersama yang lainnya "Sampai sekarang belum di ketahui mengapa mereka terluka"
"Selain itu aku ingin meminimalisirkan kemungkinan penghianatan dari dalam—seperti Orochimaru" Pain melirik Konan yang mengangguk dan mengeluarkan sebuah dokumen dari balik jubahnya dan memberikannya kepadanya "Kau sudah dengar bukan? Penyerangan yang terjadi di Konoha beberapa waktu yang lalu di karenakan bocornya informasi dari ROOT"
"Aah aku dengar itu" Zetsu yang bekerja sebagai informan memang mendapatkan berita seperti itu, ia mendengar bahwa markas ROOT berhasil di temukan dan banyak informasi yang di curi dan ia tahu—beberapa informasi yang tersebar ada yang berisi tentang kelompok mereka—Akatsuki atau identitas anggotanya; ia bahkan sempat harus mencuri informasi tersebut dan 'menghilangkan' orang-orang yang sudah mengetahuinya.
"Bersamaan dengan terlukanya kedua Jinchuriki dari Iwagakure, bukankah sangat mencurigakan? Keduanya di temukan dalam keadaan terluka setelah bocornya informasi tersebut" Pain melempar dokumen yang ia tadi terima dari Konan ke Tobi yang di tangkap dengan sangat mudah oleh sang pria bertopeng "Kemungkinan besar, ROOT memiliki informasi mengenai keberadaan keduanya dan berniat untuk menangkap mereka juga"
Pain menatap Tobi membuka dokumen yang ia berikan dan mulai membacanya, ia bisa mendengar sang pemuda bertopeng mendecih kesal karena isi dokumen tersebut adalah bukti terhadap apa yang baru saja ia katakan.
"Kita harus mempercepat—"
"Tidak" Pain memotong omongan sang pria setengah tanaman di depannya dan menggeleng "Kalau kita mempercepat maka kita akan menarik perhatian publik terhadap kita"
"Yang kita harus lakukan sekarang adalah mencegah adanya kebocoran informasi mengenai kita dan menghancurkan orang yang bekerja sebagai double agent yang membocorkan rahasia kita, mau itu kepada Orochimaru ataupun ROOT" Pain mengalihkan pandangannya ke arah sang lelaki bertopeng yang baru selesai membaca dokumen yang ia berikan dan membakarnya "Bagai mana menurutmu?"
"Hmm… aku setuju" Tobi mengangguk, ia mengeluarkan sebuah gulungan dan mulai membuat hand seal, setelah ia menempelkan tangannya ke atas gulungan tersebut; muncullah sebuah segel dengan lambang klan Uchiha di tengah-tengahnya "Aku ingin sang double agent di tangkap hidup-hidup agar bisa di introgasi"
Pain mengangguk, ia menerima gulungan yang di berikan oleh sang pemuda bertopeng, ia menunggu hingga keduanya menghilang di kegelapan markas sebelum ia membalik tubuhnya untuk berhadap-hadapan dengan Konan "Beritahukan kepada anggota Akatsuki yang lainnya untuk berkumpul besok"
Konan mengangguk, ia berjalan mengikuti Paint hingga keluar ruangan tempat mereka melakukan pertemuan sebelumnya hingga ke beranda tempat ia dan Nagato menghabiskan waktu biasanya; menikmati rintikkan hujan dan pemandangan desa Amegakure.
Duduk di ujung beranda seperti biasa, Nagato melirik ke arahnya sebelum mengendalikan tubuh Yahiko untuk bersender di dinding tidak terlalu jauh dari dirinya.
Konan diam saja sebentar, ia berjalan hingga ia berdiri di samping Nagato dan menatap kosong pemandangan di depannya sebelum melirik ke arah (tubuh) Yahiko lalu ke arah Nagato "Ini mungkin hanya perasaanku… namun mengapa aku mendeteksi perasaan senang di dalam dirimu di saat kau berbicara mengenai wadah dari Kyuubi?"
Nagato tersenyum kecil, sahabatnya semenjak kecil tersebut memang sangat handal mendeteksi mood dan bahasa tubuhnya, sekecil apapun itu.
"Kau tahu nama lengkap sang wadah?" Tanya Nagato tanpa membalik tubuhnya atau menatap secara langsung sang gadis berambut biru.
"…Naruto…Uzumaki" Konan menjawab dengan hati-hati, seperti ia tidak terlalu yakin dengan apa yang baru saja ia katakan dan takut kalau ia salah menjawab—entah mengapa, walau ia tahu bahwa ia tidak akan di apa-apakan bila ia menjawab salah.
"Hmm… tidak hanya nama belakang kita sama namun ia juga murid baru Jiraiya" Nagato bersenandung kecil dan menatap hangat ke arah perbatasan Amegakure—ke arah Konohagakure, tempat di mana saudaranya berada.
"Oh…" Konan merasa sedikit kaget mendengar nama gurunya di sebutkan oleh Nagato dengan halus, tidak seperti dulu dan itu membuat dirinya sangat penasaran.
"Nagato…" Konan melirik sang pemuda bersurai merah dan membuka mulutnya untuk bertanya namun entah mengapa ia tidak memiliki nyali, takut apa yang akan ia katakan akan menyinggung sahabatnya tersebut.
"Apa… yang membuatmu berubah?" Merasa nyalinya sudah terkumpul, Konan menanyakan hal yang membuatnya penasaran semenjak sang pemuda bersurai merah bisa berjalan kembali, ia memang senang melihat sahabatnya kembali menjadi seperti dulu, seperti di saat Yahiko masih hidup dan di saat Akatsuki masih merupakan kelompok yang bertugas untuk menjaga ketentraman Amegakure namun ia ingin tahu; ia ingin mengetahui apa yang membuat sahabatnya kembali seperti semula.
Nagato tidak langsung menjawab namun Konan bisa mendengar bahwa sang pemuda bersurai merah tertawa pelan sehingga membuat dirinya sedikit memerah, kapan terakhir kali Nagato tertawa? Mendengar tawa kecil sang pemuda bersurai merah membuat dirinya nostalgia dan hampir menangis bahagia.
"Aku… mendapat mimpi" Nagao tersenyum kecil, ia memangkukan kepalanya di sebelah tangannya sebelum menggerakkan tubuh Yahiko agar berdiri di samping dirinya, sama-sama menikmati rintikkan hujan yang membasahi dirinya dan Konan "Aku bertemu dengan Yahiko…"
Kali ini Konan benar-benar meneteskan air mata, ia merasa kini ia sedang bersama teman-temannya—bertiga, tidak hanya berdua saja dengan Nagato dan ia merasa sangat… bahagia.
"Dan aku pikir… sudah saatnya kita mengubah jalur pikir kita bukan?" Nagato kali ini menoleh ke arah Konan lau memberikan sang gadis bersurai biru senyuman lebarnya dan mengendalikan tubuh Yahiko untuk memberikan Konan senyuman yang sama "Kembali di saat kita masih bertiga… seperti keinginan Yahiko"
Konan terdiam, tapi air mata yang menetes dari matanya kini sudah semakin deras; ia sudah benar-benar menangis bahagia sebelum ia memeluk kedua sahabatnya.
Nagato tersenyum dan balas memeluk sang gadis bersurai biru dengan senyuman hangat masih terlukis di wajahnya.
Entah bagai mana caranya dan Nagato bersumpah ia tidak mengedalikannya, Yahiko memeluk mereka berdua sambil mengacak-acak surai biru dan merah miliknya dan Konan.
"Ada apa ini… kenapa kau malah menolak dan mengkhianatiku… Tsunade" Orochimaru menatap tajam Tsunade yang baru saja menghilangkan chakra yang mengumpul di tangannya, ia baru saja di beri tahu oleh Kabuto bahwa apa yang di lakukan oleh Tsunade bukanlah mengobatinya melainkan membunuhnya.
"Hmph, aku memang ingin bertemu dengan adik dan kekasihku kembali… namun aku tidak akan memaafkan kau terhadap apa yang telah kau lakukan terhadap guru" Tsunade mendesis dengan keras, ia bahkan meninju tanah untuk menyalurkan kemarahannya yang ia tahan, membuat retakan di tanah dan gempa bumi kecil di sekitar dirinya, Kabuto, dan Orochimaru "Dan kalau aku mengobatimu maka kau akan pergi menghancurkan Konoha; desa yang di cintai kekasih dan adikku"
"Cih" Kabuto mendecih pelan sebelum melirik Orochimaru, tidak ada orang lain yang bisa menyembuhkan tangan Orochimaru selain Tsunade jadi mau tidak mau mereka harus menculik Tsunade dan memaksanya mengobati Orochimaru.
Tsunade merasa beruntung tidak membawa Shizune karena ia yakin ia malah akan membahayakan nyawa muridnya sekarang bila ia ikut membantunya melawan Orochimaru dan Kabuto—atau mungkin hanya Kabuto mengingat tangan Orochimaru sedang tidak bisa di gunakan.
Kabuto mengalirkan chakranya ke tangannya dan mulai menyerang Tsunade yang melompat untuk menghindari serangannya, ia akan mencoba melumpuhkan Tsunade sementara untuk membawa sang putri Senju ke markas rahasia Orochimaru.
Tsunade tentu saja menyadarinya, ia tidak memblokir serangan Kabuto dan memilih untuk menghindarinya, ia mengeluarkan beberapa buah seal tag dan mengaktifkannya tepat di depan Kabuto untuk membuat ledakan kecil untuk mengalihkan perhatian sang asisten dari Orochimaru.
Tsunade sedikit kaget melihat Kabuto bisa melawannya dengan cukup baik dan pengetahuannya terhadap tubuh manusia hampir mengalahkan dirinya, ia sempat terkena beberapa serangan Kabuto hingga tangan kanannya tidak bisa ia gerakan dan kaki kirinya melemah.
Ia berhasil mengganggu jalur chakra Kabuto dan menggunakan Ranshinsho ke Kabuto, ia akui bahwa asisten Orochimaru tersebut memiliki pengetahuan yang besar terhadap tubuh manusia sehingga ia bisa dengan mudah kembali mengendalikan tubuhnya.
Tsunade berhasil menahan Kabuto dengan cukup baik namun lama-kelamaan tubuhnya menjadi lemah, ia terpaksa memblokir serangan Kabuto dan kini hampir semua anggota tubuhnya tidak bisa di gerakkan sama sekali.
Sang putri Senju hanya bisa menerima nasibnya yang akan di buat pingsan dan di culik, ingatannya mengenai kedua orang terkasihnya kembali muncul di dalam pikirannya, ia bahkan meminta maaf kepada Jiraiya karena tidak bisa memenuhi janjinya untuk memberikan jawaban hari ini dan kepada Shizune karena meninggalkannya tiba-tiba saja begini.
KRAK
"Oh, halo Kabuto-san; lama tidak jumpa" Sebuah suara membuat Tsunade membuka matanya dan melihat sesosok gadis berambut kuning yang berdiri di depannya, suara yang tadi ia dengar adalah suara sang gadis menggenggam dengan sangat kuat tangan Kabuto hingga retak, membuat sang pria bersurai perak mengerang keras dan menarik kembali tangannya sebelum melompat menjauh dari sang gadis.
"…Naruto…" Kabuto mendesis dengan kerang, nada suaranya seperti penuh dengan dendam di saat ia menyebut nama sang gadis Uzumaki.
"Apakah kau kangen denganku?" Naruto memberikan Kabuto seringaian khas rubahnya sebelum berpose peace, ia bisa merasakan Kurama ikut-ikutan menyeringai namun seringaian milik sang rubah beratus-ratus kali lebih menakutkan dan bila yang mengenakannya adalah manusia maka ia akan terlihat seperti psikopat yang haus akan darah, membuat Naruto tertawa dalam hati.
"Kau atasi anak buahnya, biar aku yang melawan Orochimaru" Jiraiya tiba-tiba muncul di samping Naruto, sama seperti muridnya; ia menyeringai sambil menatap rekan satu kelompoknya dulu.
"Cih… aku tidak membutuhkan bantuanmu" Tsunade mendecih, setelah di obati sedikit oleh Shizune (yang ternyata ikut dengan Naruto dan Jiraiya) dan ia mengobati dirinya sendiri, sang putri Senju kini sudah bisa menggerakkan seluruh tubuhnya kembali dan kini sudah bersiap-siap untuk melawan Kabuto.
"Bagai mana kalau nenek melawan Orochimaru saja?" Naruto membalik tubuhnya dan apa yang ia katakan selanjutnya terdengar seperti bisikan, sengaja agar yang bisa mendengarnya hanyalah Tsunade "Kyuubi sedang bad mood dan ingin bertarung"
Tsunade membulatkan matanya sebelum mendecak kesal, ia bisa melihat bahwa manik sang gadis memiliki bercak merah, membuktikan bahwa apa yang ia katakan adalah kebenaran, walaupun ia masih ingin menghajar sang pria bersurai perak, namun ia mau tidak mau harus memenuhi keinginan sang gadis Uzumaki, bukan karena ia takut dengan sang rubah melainkan karena Orochimaru memang dalang di balik semua kekacauan ini.
"Terimakasih" Sang gadis tersenyum lebar ke arah Tsunade sebelum mengalihkan perhatiannya ke arah Kabuto "Aku memang sangat ingin menghajarmu… semenjak pertama kali kita bertemu"
Orochimaru menatap tajam Naruto, manik kuningnya menatap lekat-lekat manik biru cerah sang gadis Uzumaki, ia bersumpah ia melihat bercak-bercak merah di manik sang gadis dan sepertinya apa yang Kabuto katakan adalah kebenaran; sang gadis sangat berbeda, semua informasi yang ia miliki mengenai sang wadah dari Kyuubi no Kitsune sudah tidak berguna lagi, semuanya salah.
"Kuchiyose no Jutsu" Jiraiya menggigit jempolnya hingga berdarah dan membuat hand seal sebelum menempelkan tangannya ke tanah dan memanggil Gamabunta yang sudah siap membawa sebuah pedang berukuran jumbo.
"Kuchiyose no Jutsu" Di ikuti oleh Tsunade yang memanggil seekor siput berwarna putih dengan garis biru berukuran sama dengan Gamabunta.
"Kuchiyose no jutsu" Kabuto menggunakan darah milik Orochimaru untuk memanggil seekor ular berukuran jumbo berwarna ungu.
Masing-masing Sannin berdiri di atas kepala hewan panggilannya, bersiap-siap untuk saling menyerang dengan niatan membunuh dan tidak ada yang ingin kalah, bahkan hewan panggilan mereka saling menatap tidak suka satu sama lain—tidak, hanya Gamabunta yang menatap tidak suka sang ular, Manda, yang di balas dengan tatapan benci dari sang ular.
"Yosh, ini bisa jadi pelajaran yang bagus" Naruto menggigit jempolnya dan mulai membuat hand seal sebelum menempelkan tangannya ke tanah dan muncullah seekor katak berwarna orange terang yang mirip dengan Gamabunta, Gamakichi; partnernya "Hey! Ayahmu sedang bertarung bersama Jiraiya! Ini kesempatan yang bagus untuk belajar"
Gamakichi menoleh ke arah ayahnya sebelum menyeringai dan mengangguk, ia melompat ke atas kepala Naruto dan Naruto menaikkan tudung jaketnya untuk menyembunyikan Gamakichi karena ia juga akan bertarung dengan Kabuto melihat sang pemuda bersurai perak melompat turun dari samping Orochimaru untuk melawannya dan Shizune.
"Ah, aku tidak apa-apa sendirian, tenang saja" Naruto tersenyum ke arah Shizune yang sudah siap bertarung, membuat sang gadis bersurai hitam menatap bingung dirinya sebelum mengingat siapa sebenarnya sang gadis di depannya dan Naruto mengedipkan sebelah matanya "Aku sudah ada bantuan~!"
Naruto melirik Ashura dan Indra, memberikan tanda kepada mereka berdua bahwa ia tidak butuh bantuan dan mereka berdua bisa menonton dari jauh pertarungannya dengan Kabuto, namun sepertinya Ashura lebih tertarik menonton pertarungan ketiga Sannin sedangkan Indra memilih untuk memperhatikannya.
Naruto tidak keberatan, ia mengeluarkan kunai dari kantung senjatanya dan melompat menyerang Kabuto, mencoba menebas wajah sang pemuda bersurai perak secara vertical yang dengan sangat mudah Kabuto hindari.
Naruto memblokir serangan Kabuto dengan menahan lengannya dan menjauhkan dirinya dari telapak tangan Kabuto yang di selubungi oleh chakra dan mencoba menendang pinggang Kabuto, membuat sang pemuda bersurai pirang mundur untuk menghindar lalu maju lagi, siap memukul leher sang gadis Uzumaki.
Naruto menunduk lalu melompat ke belakang sebelum menyeringai melihat sang pemuda bersurai perak belum menyadari jebakan yang ia buat.
Selama beberapa menit keduanya saling bertarung menggunakan taijutsu, walau kebanyakan Kabuto yang menyerang sedangkan Naruto memblokir semua serangannya atau menghindar.
Hingga Naruto menyadari bahwa tubuhnya jadi terasa sedikit berat dan ia ingin muntah, ia melompat menjauh dari Kabuto dan memegang lehernya, ia jadi sedikit sesak nafas dan tenggorokkannya terasa kering.
Sepertinya Kabuto berhasil meracuninya, Naruto melirik kantung senjata milik Kabuto dan melihat sebuah botol yang isinya sudah kosong sebelum mengalihkan perhatiannya ke arah kunai yang Kabuto pegang.
"Racun itu akan membunuhmu pelan-pelan dan membuatmu tidak bisa bergerak, dosisnya banyak dan kau akan membutuhkan waktu yang lama untuk menghancurkan racunnya… monster rubah" Kabuto menyeringai melihat racunnya mulai berkerja dengan baik, ia sengaja menggunakan banyak karena ia tahu gadis yang ada di depannya adalah wadah dari Kyuubi no Kitsune.
Naruto hanya menatap kosong Kabuto, mulutnya bergerak-gerak seperti ia sedang mengunyah sesuatu sebelum ia meludah, ludah yang keluar berwarna ungu "Yah kalau menghancurkannya lama, tinggal di buang saja; apa susahnya sih"
Naruto menyeringai melihat Kabuto membulatkan matanya dan menatap tidak percaya dirinya, ia baru saja mengumpulkan semua racun yang ada di dalam system dam organ tubuhnya ke dalam perutnya sebelum membawanya naik ke luar melalui mulutnya, sesuatu hal yang mustahil—kecuali kau memiliki seekor Biiju yang bisa dengan mudah mengendalikan seluruh organ tubuhmu, seperti Naruto.
"Oh, dan kau baru saja jatuh ke jebakanku"
Tiba-tiba saja dari dalam tanah, dua buah kagebunshin milik Naruto muncul dan menahan kaki Kabuto, sebuah lagi tiba-tiba saja muncul dari atas dan menahan tubuh Kabuto dengan mengaitkan kedua tangannya di pundak sang pemuda bersurai perak.
"Bocah sialan! Lepas!" Kabuto mencoba memberontak dan melepaskan diri dari kagebunshin yang menahannya namun ia di buat sedikit terkejut dengan kekuatan sang gadis yang berhasil membuatnya tidak bisa berkutik sama sekali.
Kabuto membulatkan matanya di saat ia menoleh ke arah sang gadis pemilik kagebunshin dan melihat sebuah bola chakra berwarna biru terbentuk pelan-pelan di tangan sang gadis, ia tahu jutsu tersebut dan ia tidak percaya sang gadis sudah bisa menggunakannya.
Ia sedang ada di dalam masalah yang besar.
Terlebih lagi ia bisa melihat bercak-bercak merah di manik biru cerah sang gadis dan sepasang taring mengintip di balik seringaian ala rubah sang gadis.
To Be Continue
Omake
Ashura and Indra's daily life
Menjadi pengawal yang kasat mata dan memiliki sedikit kekuatan untuk berinteraksi dengan dunia bukanlah hal yang cukup mudah maupun menyenangkan sebenarnya, terutama di saat kau menyadari bahwa kau terikat dengan seseorang dan harus terus menerus memenuhi permintaan orang tersebut.
Namun hal tersebut tidak berlaku kepada kedua kakak beradik Ootsutsuki yang menjadi 'pengawal' Naruto Uzumaki.
Mereka bisa berinteraksi dengan dunia sesuka mereka berkat sang gadis yang suka melibatkan keduanya dalam kesehariannya, seperti membaca buku atau makan, sang gadis juga tidak suka meminta yang macam-macam walau keduanya lebih senang bila sang gadis meminta sesuatu dari mereka, apapun itu.
Bisa di bilang mereka sangatlah beruntung menjadi 'pengawal' dari sang gadis Uzumaki.
Keseharian mereka malah selalu menarik berkat sang gadis yang terkenal sebagai magnet dari masalah, setiap hari pasti ada saja masalah yang sering sekali berakhir dengan gelak tawa seseorang dan sang gadis yang sering sekali terkena sakit kepala mendadak.
Hari ini tidak ada berbedanya, sang gadis manis terjangkit sebuah masalah yang membuat dirinya terkena sakit kepala berlebihan (lagi) setelah tadi pagi ia memiliki masalah dengan kedua 'pengawal' miliknya yang serba ingin tahu.
Singkatnya, tadi pagi Ashura ingin mendandani Naruto dengan pakaian khas perempuan milik klan Ootsutsuki sedangkan Indra ingin Naruto mengenakan kimono yang biasa di kenakan oleh putri bangsawan yang ia lihat beberapa hari yang lalu dan terjadilah argument cukup panas dari keduanya dengan Naruto yang sakit kepala dan mengingatkan keduanya bahwa ia masih memiliki harga diri sebagai laki-laki—yang tentu saja tidak di hiraukan oleh keduanya.
Dan sekarang, masalah yang terjadi berawal dari sebuah buket rangkaian bunga yang ia dapatkan dari salah satu temannya dulu di akademi, Inuzuka Kiba.
"Ha?" Naruto menatap bingung sang pemuda yang sikapnya se-liar anjing di depannya, ia menerima dengan ragu-ragu buket bunga yang di berikan kepada dirinya, ia ada perasaan bahwa sang pemuda bersurai hitam memiliki niat terpendam—seperti ingin mengerjai dirinya, karena kalimat bunga dan Kiba tidak nyambung.
"Aku tidak meletakkan apapun di dalam buket bunga tersebut! Serius!" Sang pemuda bertato merah di wajahnya mendecak kesal dan melipat kedua tangannya di depan dadanya "Aku hanya di tantang!"
Naruto menaikkan sebelah alisnya sebelum mengangguk, ia memang ingat bahwa dulu dirinya dan teman-teman laki-lakinya suka bermain bersama, dari main kartu hingga main truth or dare, terkadang tantangan yang di berikan memang memalukan.
"Hee… tantangan ya, tapi itu buket berisi bunga mawar yang artinya cinta, bunga amarilis yang berarti keindahan yang luar biasa, dan bunga peony yang artinya malu-malu… semuanya bunga yang menunjukkan perasaan cinta…" Ashura yang pernah di ajari bahasa bunga memeriksa isi buket bunga yang Naruto terima dan ia menaikkan sebelah alisnya sebelum melirik sang pemuda bersurai hitam "apakah itu memang benar tantangan? Bunga ini jarang di temukan dan kebetulan sekali ia bisa mengambil semua bunga dengan tema yang sama…"
Naruto terdiam dan menatap lekat-lekat buket bunga yang ada di depannya sebelum menatap Kiba yang masih berdiri di depannya, seperti menunggu sesuatu—atau menunggu dirinya.
Ia mengenal sang pemuda Inuzuka dengan cukup dekat, ia tahu bahwa pengetahuan Kiba mengenai bahasa bunga sama besarnya dengan kecebong yang ada di sungai dekat apartemennya, jadi kemungkinan besar memang sebuah kebetulan sang pemuda bersurai hitam memilih bunga-bunga tersebut—atau mungkin orang lain yang memilihkannya, namun itu tidak menjelaskan mengapa ia belum beranjak dari depannya sekarang.
"...Kau Cuma di suruh memberikan aku bunga bukan?" Sang gadis Uzumaki memicingkan matanya dan menatap penuh curiga Kiba, ia ada perasaan bahwa tantangan yang di berikan kepada Kiba bukan hanya memberikan bunga kepada dirinya.
Sepertinya perasaannya memang benar, karena sang pemuda Inuzuka di depannya kini terlihat cukup canggung, ia menggaruk pipinya dan mengalihkan perhatiannya ke manapun kecuali dirinya.
"Aku… di suruh membawamu pergi… kencan" Kalimat terakhir yang ia katakan membuat sang pemuda Inuzuka tersedak ludahnya sendiri.
Hening.
Ashura menyeringai sedangkan Indra mempertemukan tangannya ke wajahnya sambil menghela nafas pendek dengan ekspresi 'ini hidupku sekarang' terlukis di wajahnya.
Naruto menghela nafas pasrah, ia membuka mulutnya untuk memberi jawabannya namun sepertinya tuhan berkata lain, terutama bila tuhan (author di cerita ini) memiliki niat kejam kepada dirinya.
Tiba-tiba saja Naruto sudah di tarik menjauh dari Kiba dan di depannya, seorang pemuda bersurai hitam dengan model rambut jabrik ke belakang berdiri di depannya dan mendesis dengan keras ke arah sang pemuda Inuzuka.
"Menjauh dari Naruto!" laki-laki yang baru saja muncul secara tiba-tiba memberikan tatapan tajam ke arah Kiba, manik hitam gelapnya seperti hampir berubah menjadi warna merah.
"Te-teme!" Naruto melompat kaget dan memeluk dengan erat buket bunga yang baru saja ia terima, ia berniat menyimpan bunganya dan menjadikannya pengharum ruangan oke, berkebun adalah salah satu hobinya dan ia memang suka wangi bunga, ia biasa menggunakan bunga yang ia tanam sendiri menjadi pengharum ruangan "Ada apa ini!"
"Hey hey! Aku sedang berbicara dengan Naruto" Kiba mengerang pelan, ia memang kurang menyukai sang pemuda Uchiha yang ada di depannya, setengah karena ia sedikit iri dengan kepopuleran sang pemuda Uchiha namun ia tidak akan mengatakannya keras-keras oke, enak saja ia menerimanya begitu saja.
"Ia adalah rekan satu kelompokku! Menjauh darinya!" Kiba menaikkan sebelah alisnya dan menatap bingung sang pemuda Uchiha di saat ia mendengar alasan Sasuke mengapa ia tidak boleh berbicara dengan temannya.
"Hey! Naruto adalah temanku dulu di akademi!" Kiba meletakkan kedua tangannya di pinggang dan mengerang lebih keras, bahkan Akamaru yang ada di atas kepalanya ikut mengerang.
Indra dan Ashura menonton argument dari kedua teman Naruto, Ashura sedang menahan tawa sedangkan Indra hanya bisa menggeleng dengan pelan.
Sepertinya ada sebuah kesalah pahaman di sini, Sasuke tidak mendengar bagian 'memenuhi tantangan' yang sang pemuda Inuzuka katakan sebelumnya dan mengira bahwa sang pemuda Inuzuka sedang menyatakan perasaannya dn sedang mengajak rekan satu kelompoknya kencan.
Keadaan semakin mengkeruh di saat sang gadis Uzumaki mencoba melerai keduanya dan tidak sengaja menyebut bahwa Kiba hanya sedang mengajaknya pergi kencan dan lupa mengatakan bahwa itu hanyalah sebuah tantangan yang menghasilkan Sasuke yang langsung menyerang sang pemuda Inuzuka.
"He-hei! Kenapa kalian jadi berantem! Hentikan!" Naruto berteriak di saat ia melihat Sasuke sudah melompat untuk menyerang Kiba dan Kiba yang sudah ambil kuda-kuda untuk balas melawan Sasuke "Kiba! Jangan melawan balik!"
"Yah… begini lagi" Ashura tertawa pelan melihat usaha reinkarnasinya untuk melerai keduanya gagal total.
"Ini masih belum ada apa-apanya" Indra melirik ke arah seorang laki-laki bersurai merah yang sedang berjalan ke arah sang gadis Uzumaki, sepertinya ia sedang kebetulan lewat dan ingin menyapa sang gadis yang merupakan temannya.
"Ah! Gaara!" Naruto yang menyadari keberadaan rekan Jinchurikinya mengalihkan perhatiannya dari pertarungan antara Kiba dan Sasuke ke arah Gaara yang kini sudah ada di sampingnya.
"Halo Naruto…" Sang pemuda bersurai merah tersenyum kecil dan mengangguk sebagai sapaan untuk sang gadis yang merupakan teman pertamanya sebelum mengalihkan perhatiannya ke arah pertarungan yang sedang terjadi "Kebetulan aku ada urusan di Konoha dan… ada apa ini?"
Naruto menghela nafas pasrah "Entahlah, tadinya Kiba hanya mengajakku pergi kencan karena sebuah tantangan dan Teme entah mengapa malah mengajak Kiba berantem…"
Gaara memiringkan kepalanya, otaknya memang encer namun ia tidak tahu apa itu arti dari 'kencan', ia pernah mendengar orang-orang mengatakan kalimat tersebut namun ia masih tidak mengerti maksudnya.
'Itu artinya ia mau mengajak bocak kyuubi itu untuk mating!' Shukaku yang sok tau—atau mungkin sengaja, berkata dengan lantang di kepala Gaara.
Gaara mengerti apa itu arti dari mating.
Namun ia melupakan kalimat 'sebagai tantangan' yang Naruto katakan dan ia juga lupa bahwa seharusnya ia tidak mendengar omongan sang monster berekor yang ada di dalam tubuhnya—terutama bila sudah menyangkut hal-hal yang eksplisit… dalam bentuk apapun.
"Haah, mereka kurang kerjaan—GAARA APA YANG KAU LAKUKAN!" Naruto menjerit di saat ia melihat kini Gaara sedang menyerang Sasuke dan Kiba dengan menggunakan pasirnya secara tiba-tiba dan tanpa aba-aba.
"Yak, satu orang lagi yang salah paham" Ashura menutup mulutnya dengan sebelah tangannya untuk menahan tawa, tipikal kesehariannya dengan sang gadis Uzumaki memang tidak pernah gagal membuat dirinya tertawa.
Indra menyenderkan tubuhnya ke tiang lampu yang ada di belakangnya dan memutuskan untuk menonton kehancuran yang terjadi depannya sebelum melirik ke arah tempat yang ia tahu ada dua orang sedang menonton juga.
"Kurenai-san… kau harus tanggung jawab…" Hatake Kakashi menggeleng pelan dan melirik rekannya sebagai guru yang sedang tertawa pelan, ia tahu bahwa yang memilihkan bunga yang di berikan oleh Kiba kepada Naruto adalah Kurenai, begitu juga yang memberikan tantangan kepada sang pemuda Inuzuka.
Indra menggeleng pelan, terkadang ada saja orang dewasa yang suka bersikap kekanak-kanakan, jadi ia hanya diam saja dan menonton reinkarnasi dari adiknya mencoba menghentikan ketiga teman-temannya dan adiknya yang sedang menonton juga sepertinya.
Tipikal kesehariannya dan Ashura.
!Review Reply!
choikim1310: You are the real MVP, terimakasih banyak! Namun Naruto akan punya beberapa ending yang berbeda, silakan baca notes di chapter ke 8 untuk mengetahui lebih lanjut dan untuk menemukan siapa saja silakan baca Author notes!
celindazifan: Yenang saja, semuanya akan mendapatkan ending tersendiri kok, jadi Kakashi akan tetap mendapatkan ending, tidak ada pilih memilih di sini. Silakan baca Author Notes di chapter 8 untuk keterangan lebih lanjut.
Madara's Queen: Iya, mereka hantu special makannya bisa makan. Tidak ada pilih memilih kok… silakan baca Author notes di chapter 8 untuk keterangan lebih lanjut.
sisca slytherin: Terimakasih banyak atas pujiannya.
AsakiYuuna: Haha, saya memang suka menulis pairing yang jarang di temukan dan silakan, itu memang nickname asli milik saya di dunia nyata.
makotoarisato1: Saya memang tidak fokus di Omakenya dan saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu.
Vilan616: Terimakasih banyak atas pengertiannya. Mereka berdua memang sudah dewasa makannya mereka punya cara tersendiri untuk mendekati Naruto.
ruko: Pertanyaan yang bagus, saya sendiri beberapa kali berfikir untuk ingin membuat namun mengingat saya selalu berfokus kepada satu fandom sekalipun berpindah-pindah fandom… saya pikir kemungkinannya sangat tipis… saya tidak ingin mengumbar janji jadi sayangnya jawaban saya adalah tidak…
dheeev: Mungkin karena anda lebih menyukai cerita humor atau cerita tanpa konflik, namun sayangnya cerita utama adalah cerita yang memiliki konflik dan Omake hanyalah sebagai tambahan kecil yang saya buat.
boku wa megitsune: Entahlah.
kaila wu: Namanya juga itu ending milik Kakashi, mau Sasuke datang-pun tidak akan ada perubahan, silakan baca Omake chapter 21 kalau mau lihat milik Sasuke.
Guest: Silakan baca Author notes di chapter 8, dan kalau itu yang bukan anda cari maka anda bisa membaca Omkae di chapter 21.
ASCTERIOS: EYD memang kelemahan utama saya, bersamaan dengan kalimat baku… terimakasih banyak atas penyemangatnya!
Shieru Azaela: Mereka berdua memang sudah dewasa, makannya cara yang mereka ambil lebih 'profesional' dan terselubung namun diam-diam ampuh. Omake hanya selingan dan mungkin juga karena di cerita utama romancenya belum kelihatan.
tiara2112: nanti jadi Istri betulan kok.
Jasmine DaisynoYuki: Untuk keterangan pair ada di Author notes di chapter 8.
ndadila: Namanya juga ending miliknya Kakashi, ya tentu aja calon istri yang lalu jadi istri betulan.
hyuuga kimicho: Karena pada dasarnya karakter Naruto memang seperti itu (butuh lebih dari 10 tahun untuk Naruto menyadari Hinata menyukainya dan itu pula butuh Hinata menyatakannya dengan blak-blakan padalhal sudah jelas-jelas begitu…) dan juga karena ia di dekati oleh laki-laki. Bayangkan kalau anda ada di posisi Naruto, di mana gender anda di balik dan lalu anda di dekati oleh seseorang yang dulunya gendernya sama dengan anda. Menurut pengalaman pribadi saya… saya tidak sadar hingga di beri tahu teman saya dan saya adalah tipe orang yang peka… bagai mana dengan Naruto yang memang sudah cannon tidak peka…
Crazzy Lucky Rin: Jiraiya memang sedang trolling di situ. Hahaha, namun pair tersebut entah bagai mana ada… saya kadang suka lucu juga melihatnya, tapi anaknya Lee lumayan imut.
Ayuni Yuukinojo: Kesalahan penulis, sudah saya betulkan, terimakasih sudah memberi tahu!
Natalia: Keputusan ada di tangan anda, mau atau tidaknya anda membaca cerita ini, saya tidak akan ikut campur ataupun coba mengganggu gugat. Namun anda bisa membaca Author Notes chapter 8 dan pair itu muncul di omake chapter 21.
Azarya Senju: Mungkin anda lupa dengan ketentuan pairing di cerita ini, anda bisa membaca ulang Author notes chapter 8 kembali. Terimakasih atas penyemangatnya!
Guest (2): Terimakasih banyak atas pujiannya!
Dinda455: Senang mendengar anda menyukainya, semoga anda menyukai chapter kali ini juga.
Sekian dan terimakasih, munkin saya akan sibuk kembali jadi kemunkinan up-date kilat sangat tipis
Review Please
