Disclaimer: Anime serta Manga Naruto adalah milik Masashi Kishimoto
Warning: Mengandung Gender Bender, Semi-Au, Time Travel, Miss Typoo, dll
!Author Notes!
Halo para pembaca sekalian, sudah cukup lama ya tidak bertemu… sangat lama… hahaha.
Saya tidak ingin bercerita panjang-panjang, namun sepertinya dugaan saya benar: banyak yang tidak membaca Author notes ya… sayang sekali, karena banyak yang masih tidak mengerti konsep cerita ini—terutama mengenai pairing.
Ya sudah lah, tidak apa-apa. Lagi pula saya jadi ada balasan terhadap review yang masih tidak mengerti.
Seperti biasa, pairing yang AKAN mendapatkan Ending adalah: Sasuke, Kakashi, Itachi, Kurama, dan Gaara.
Selamat menikmati chapter terbaru To The Past
Itachi Uchiha, sang kakak dari Uchiha Sasuke tengah duduk di atas sebuah pohon tinggi yang memperlihatkan pemandangan perbatasan masuk ke dalam Konohagakure sebelum mengalihkan perhatiannya ke arah partnernya yang sedang membunuh dua orang ninja dari Otogakure yang tidak sengaja berpapasan dengan mereka.
"Kisame" sang laki-laki berkulit biru yang ia panggil berhenti sejenak sebelum mengayunkan pedangnya untuk mengakhiri hidup musuhnya lalu menoleh ke arah dirinya "Apakah kau pernah mendengar cerita—atau apapun itu mengenai parallel Universe?"
Sang lelaki berkulit biru menaikkan sebelah alisnya lalu meletakkan pedangnya di pundaknya, ini bukan kali pertamanya sang Uchiha menanyakan hal yang cukup random kepada dirinya; terutama sekarang karena ia memiliki ingatan mengenai masa depan "Aku pernah dengar"
"Namun bukannya seharusnya kau lebih tahu bukan? Aku pernah dengar kabar dan cerita mengenai Shisui Uchiha" Kisame menyadari tubuh Itachi bergerak sedikit dan ia bisa dengan mudah melihat reaksi dari sang Uchiha di depannya; menandakan bahwa orang yang namanya baru ia sebut adalah orang terdekat sang Uchiha "Ia terkenal dengan penggunaan teleportasinya bukan?"
"Aah" Itachi tahu, Shisui pernah bercerita mengenai kekuatan yang ia terima dari sharingan miliknya. Teleportasi yang ia gunakan membuat dirinya 'menyobek' ruang waktu dan masuk ke sebuah dimensi dengan sangat cepat untuk sampai ke tempat tujuannya "Namun teleportasi yang di miliki Shisui tidak menjelaskan secara detail mengenai dimensi lain tersebut karena ia hanya sekedar lewat. Tidak ada manusia yang bisa tahan melawan arus waktu, maka dari Shisui hanya bisa sekedar lewat, itu pula ia harus bergerak cepat sebelum tubuhnya hancur"
"Ya, maka dari itu teleportasi adalah hal yang sulit dan berbahaya untuk di lakukan" Kisame mengangguk, ia mengambil tubuh tak bernyawa dua ninja yang ada di depannya sebelum memasukkannya ke dalam sebuah scroll untuk di berikan kepada Zetsu.
Keheningan menemani keduanya sebentar karena masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri sebelum Kisame teringat dengan sesuatu dan menoleh ke arah Itachi "Aku jadi ingat sesuatu"
Itachi melirik ke arah partnernya dan menaikkan sebelah alisnya, meminta temannya menceritakan apapun itu yang baru saja ia ingat.
"Apakah kau pernah membaca—atau mendengar sesuatu mengenai sang Hokage kedua dan keempat?" Kisame menyimpan scroll yang berisi dua buah mayat ke dalam Samehada sebelum membalik tubuhnya untuk berhadap-hadapan dengan partnernya "Terutama sang Hokage kedua"
"… Tobirama Senju dan Minato Namikaze, dulu di saat aku masih kecil; aku memang tinggal dalam kepemimpinan sang Yondaime. Ada apa dengan mereka berdua?" Itachi sedikit kebingungan mendengar nama kedua pemimpin Konoha di sebut, sudah lama sekali ia tidak mendengar atau menyebut nama sang Hokage keempat dan mengingat sang Yondaime membuat dirinya memikirkan putra—putri sang pemimpin berkarismatik tersebut, Naruto.
"Dulu di saat aku masih menjabat sebagai ninja dari Kirigakure, aku pernah mendengar rumor mengenai sang Hokage kedua" Kisame menyeringai, mengingat-ingat masa lalunya—memang hanya sedikit ingatan manisnya mengenai desa kelahirannya namun ia cukup menikmatinya "Sebenarnya rumor tersebut lebih mengarah kepada Mizukage kedua, Gengetsu Hozuki"
"Apakah kau setuju bahwa Hokage kedua lebih cocok menjadi Mizukage?" Kisame tertawa pelan, ia memang sering mendengar lelucon mengenai sang Hokage kedua, adik dari sang Shodaime yang lebih mahir menggunakan jutsu air dari pada ninja-ninja dari Kirigakure sendiri "Gengetsu merasa seperti itu dan ia jadi sedikit iri, jadi ia melakukan banyak research dan mencoba mencari tahu banyak mengenai sang Hokage kedua"
"Hmm…" Itachi setuju dengan apa yang Kisame baru saja katakan, entah mengapa ia merasa bahwa sang Hokage kedua memang lebih cocok menjadi Mizukage, warna biru lebih cocok untuk sang Hokage albino ketimbang warna merah "Lalu… apa hubungannya dengan dunia parallel?"
"Di salah satu informasi yang ia dapat adalah mengenai Jutsu ciptaan sang Hokage: Hiraishin" Kisame membersihkan Samehada dari bekas darah dan menonton Itachi turun dari tempat ia duduk untuk berdiri di depannya "Tentu saja dalam pembuatan Jutsu tersebut, pasti ada percobaan bukan? Yang gagal maupun yang berhasil…"
"Salah satu percobaan yang gagal, yang informasinya berhasil Gengetsu dapatkan adalah… sang Hokage kedua tidak sengaja terjebak di dalam dunia parallel dan di saat ia kembali lagi; ia membawa seseorang dengannya"
Hening.
"Maksudmu… sang Hokage kedua berhasil membawa… seseorang dari dunia pararel?" Itachi memang otaknya sangat encer, namun informasi yang ia dapatkan terdengar terlalu absurb dan sebuah ketidak mungkinan.
"Itu yang aku dengar, tidak ada yang percaya namun mereka hanya berpura-pura percaya demi melindungi harga diri milik Gengetsu, ia adalah Kage yang di cintai oleh warganya" Kisame mengangkat bahunya dan mulai berjalan untuk melanjutkan perjalanan mereka 'mencari informasi' mengenai sang wadah dari sang Biiju berekor empat.
"Kenapa kau tiba-tiba tertarik dengan hal seperti itu?" Kisame melirik partnernya yang berjalan di sampingnya dan mencoba mengikuti kecepatan berjalannya, pasti ada alasan mengapa partnernya yang satu ini tiba-tiba saja tertarik dengan sesuatu.
Seekor burung gagak tiba-tiba saja muncul dan bertengger di pundak Kisame, membuat sang pemuda berkulit biru menaikkan sebelah alisnya dan menatap bingung sang burung gagak, namun setelah di perhatikan lebih baik; sebelah mata sang burung gagak adalah sharingan.
"Itu milik Shisui" Nada suara Itachi sedikit tertahan, membuat Kisame menyadari bahwa sepekulasinya benar; partnernya memang dekat dengan sang teleporter.
"Yang sebelah lagi?" Kisame melihat sebelah mata sang gagak masih mata biasa.
"…Di curi" Itachi membuang mukanya, ia masih tidak menyukai kenyataan bahwa sebelah mata temannya di curi dan pencurinya bahkan menjadikan dirinya kambing hitam terhadap kematian sahabatnya, ia masih sakit hati hingga sekarang.
Kisame diam sebentar, ia memperhatikan reaksi Itachi sebelum menggeleng dengan pelan "Aku tidak tahu apa yang ingin kau lakukan dengan sharingan milik temanmu… namun kalau kau ingin mengetahui informasi lebih lanjut mengenai rumor yang tadi aku ceritakan… kau tahu kita harus ke mana"
Itachi mengangguk, ia sebenarnya memiliki alasan mengapa tiba-tiba bertanya mengenai hal yang cukup aneh seperti itu kepada partnernya, karena ia punya sebuah rencana—ide yang ingin ia kembangkan.
Ia hanya butuh cukup banyak informasi dan melakukan penelitian.
Naruto memiringkan kepalanya dan menatap bingung sang calon Hokage kelima yang berada di depannya "Ha?"
"Sudah aku bilang, kau terlalu memanjakan sang rubah" Tsunade meletakkan sebelah tangannya di pinggangnya sebelum menatap lekat-lekat sang gadis Uzumaki, ia tidak terlalu memperdulikan tubuhnya yang mulai kelelahan dengan luka menghiasinya di mana-mana, akibat dari pertarungannya dengan Orochimaru bersama dengan Jiraiya.
Jiraiya hanya menggeleng dengan pelan melihat muridnya sedang adu argument dengan rekan satu kelompoknya dulu, terlebih isi argument tersebut (menurutnya) sangat tidak penting, terlebih melihat sifat dan cara sang gadis memperlakukan subjek utama argument tersebut.
"Aku tidak memanjakannya! Ia memang pantas mendapatkan semuanya!" Naruto cemberut dan melipat kedua tangannya di depan dadanya, ia memang sangat keras kepala dan ia tidak terima di bilang terlalu memanjakan partnernya.
"Pantas mendapatkan semuanya? Yang benar saja bocah! Sang rubah bisa membunuhmu kalau ia mau" Tsunade mendecak kesal, ia merutuki sifat sang gadis yang sangat keras kepada dan terlalu menyayangi sang rubah berekor sembilan, demi kami-sama! Sang gadis terlalu mempercayai sang rubah!
"Kyuubi tidak akan pernah melakukan hal seperti itu tanpa alasan yang jelas!" Naruto menggeleng dengan keras dan mendesis, ia tidak suka bila ada orang yang mempertanyakan loyalitas sang rubah berekor sembilan terhadap dirinya, siapapun itu dan apapun itu alasannya, ia tidak suka.
"Tenang Naruto, jangan emosi begitu; ia tidak punya niat jahat kok" Ashura menepuk-nepuk kepala Naruto, mencoba menenangkan sang gadis yang emosinya sedang meluap-luap sebelum ia mengalihkan perhatiannya ke kakaknya yang sedang menepuk punggung sang gadis untuk meminta bantuan.
"Kenapa kau keras kepala sekali" Tsunade menggeretakkan giginya, ia mulai naik pitam dan kehabisan kesabaran melihat sifat sang gadis bersurai kuning di depannya.
"Aku tidak keras kepala" Naruto menghentakkan kakinya, kini ia mengerang kencang dan menggeretakkan giginya, emosi yang ia tahan meluap keluar dan bahkan membuat Jiraiya dan Tsunade kaget bukan main "Berhenti menanyakan loyalitas Kyuubi terhadap diriku! Jangan mengada-ngada dan mengambil kesimpulan tanpa mengetahui apa-apa! Tidak ada di dunia ini yang lebih mengerti diriku selain Kyuubi! Kami adalah partner sehidup-semati! Tidak akan aku biarkan siapapun—SIAPAPUN memisahkan diriku dari Kyuubi dalam bentuk apapun!"
Naruto mengerang dengan kencang, erangan yang ia buat terdengar sangat tidak mirip manusia—erangan yang ia keluarkan lebih mirip erangan binatang buas yang sedang mengancam lawannya, manik biru cerah berkilat berbahaya dan tangannya mengepal seperti menahan diri untuk melakukan sesuatu.
'…Kit, cukup; kendalikan emosimu' Kurama yang merasakan bahwa atmosphere di antara Naruto dan yang lainnya mulai memburuk mencoba menenangkan wadahnya, ia memang senang melihat betapa Naruto menyayangi dirinya dan mati-matian menjaga kepercayaan di antara mereka, namun suasana di luar sana cukup berbahaya dan ia harus menenangkan wadahnya.
"Naruto, tenang lah, jangan biarkan emosimu mengalahkan pikiran rasionalmu" Indra kini sudah berada di depan Naruto, ia meletakkan kedua tangannya di punggung sang gadis dan menatap lekat-lekat manik biru cerah yang ada di depannya "Jangan terbawa emosi"
Naruto menggigit bawah bibirnya, ia membalik tubuhnya dan mulai berjalan meninggalkan Jiraiya, Tsunade, dan Shizune untuk duluan pergi ke penginapan; apa yang di katakan oleh Kurama, Indra, dan Ashura ada benarnya; untuk menghindari konflik berlebih akhirnya ia memutuskan untuk menyendiri terlebih dahulu.
"Hei, tunggu—' Sebelum Tsunade bisa menghentikan sang gadis bersurai kuning karena merasa pembicaraan mereka belum selesai, ia sudah di hentikan oleh Jiraiya yang menarik tangannya untuk menghentikan dirinya dan menutup mulutnya. Tsunade menatap tajam Jiraiya yang di balah oleh gelengan pelan oleh sang pertapa katak.
"Sudahlah, aku tahu niatmu baik terhadap Naruto namun kau tidak bisa memaksanya seperti itu" Jiraiya melepaskan genggaman tangannya terhadap sang putri Senju sebelum melipat kedua tangannya di depan dadanya "Kau memang seorang medic nin terbaik di dunia, namun Naruto adalah seorang Jinchuriki; kerja tubuh dan otaknya berbeda dengan orang biasa… sama halnya dengan mentalnya"
"Kau seharusnya mengerti Jiraiya! Bocah itu bisa saja mati di tangan sang rubah!" Tsunade mendesis pelan, ia tidak suka dengan nada yang rekan sekelompoknya dulu gunakan, niatnya baik dan ia tahu bahwa ini semua demi kebaikan Naruto sendiri.
Apakah yang menjadi permasalahan utama dari argument dari Tsunade dan Naruto? Sebenarnya cukup simpel: sang putri Senju ingin membatasi interaksi dan hubungan sang gadis dengan sang rubah berekor sembilan setelah mendengar dan melihat bahwa sang rubah bisa dengan leluasa mengendalikan tubuh sang gadis.
Yang Tsunade takutkan adalah Naruto yang akan menjadi kecanduan menggunakan chakra sang rubah dan betapa mudahnya sang rubah memanipulasi kerja tubuh sang gadis: dari mengatur jalan chakra hingga detak jantung sang gadis.
"Sudah, lepaskan saja Tsunade. Ia bisa sangat keras kepala namun ini kali pertamanya aku melihat ia semarah itu, lebih baik jangan di ungkit-ungkit lagi" Jiraiya menghela nafas pendek, keduanya memang sama-sama keras kepala namun ia memang terkejut melihat betapa marahnya Naruto tadi, ia sudah menjadi guru sang gadis dalam jangka waktu yang cukup lama dan ia sudah mengenal dengan cukup baik sifat sang gadis, namun ini kali pertamanya ia melihat Naruto semarah itu.
Naruto yang sudah pergi terlebih dahulu tidak bisa mendengar percakapan antara Jiraiya dan Tsunade, namun ia sedang sibuk di ceramahi oleh kedua kakak beradik Ootsutsuki yang menjadi pengawalnya setiba ia di penginapannya.
"Aku mengerti bahwa kau tidak senang bila ada orang yang mempertanyakan loyalitasmu terhadap Kurama dan sebaliknya, namun kau harus tetap menjaga emosimu" Ashura yang duduk di sampingnya membelai dengan halus kepala Naruto, sebuah senyum penuh pengertian terlukis di wajahnya "Tidak semua orang bisa mengerti hubungan kalian"
Naruto diam saja, ia sedang tidak ingin adu argumen dengan siapapun dan moodnya sedang tidak bagus sekarang, namun setidaknya Ashura menasehatinya dengan lembut.
"Cara termudah untuk mengatasi orang seperti itu adalah membuktikan kepadanya bahwa ia salah" Indra yang duduk di depannya melipat kedua tangannya di depan dadanya, ia mengerti dengan betul perasaan yang sedang Naruto rasakan sekarang dan ia berniat membantu sang gadis "Biarkan saja mereka berkata apapun mengenai dirimu karena semakin terbukti bahwa mereka salah maka semakin hancurlah harga diri dan kredibilitas mereka"
Harus Naruto akui bahwa ide yang Indra katakan terdengar cukup kejam dan blak-blakan, namun ada kebenarannya juga.
'Membuktikan ya…' Naruto berfikir sejenak, ia membetulkan posisi duduknya menjadi menyender ke dinding dan memeluk kedua kakinya yang terlipat lalu membenamkan wajahnya ke pahanya.
Kurama diam saja, ia tahu bahwa Naruto baru saja di nasihati oleh kedua pengawalnya, ia hanya menatap lekat-lekat wadahnya sebelum menghela nafas pendek dan membenarkan posisi duduknya agar menjadi lebih nyaman.
Sampai sekarang ia masih belum mengerti, mengapa Naruto sangat menyayangi dirinya.
Namun bukan berarti ia tidak menyukainya atau sedang menggerutu.
Selama perjalanan kembali ke Konoha, Naruto menjauhkan diri dari Tsunade dan lebih senang bersembunyi di balik tubuh besar gurunya, ia bahkan tidak mau bertatap mata dengan sang putri Senju dan berkali-kali terlihat menghindari interaksi apapun dengan sang calon Hokage kelima.
Bahkan di saat mereka beristirahat di sebuah tempat pemandian air panas, sang gadis tidak bisa di temukan di manapun dan menghilang tanpa jejak sebelum kembali lagi setelah sudah waktunya untuk melanjutkan perjalanan ke Konoha.
Tentu saja sang putri Senju tidak menyukainya namun apa yang bisa ia perbuat? Jiraiya terus menerus menghentikan dirinya bila ia mencoba berbicara atau mengejar sang gadis, sang pertapa katak hanya memberikan pandangan tajam kepada dirinya dan menggeleng dengan pelan.
Sesampainya di Konoha, Naruto langsung memisahkan diri dari Tsunade, Jiraiya dan Shizune. Ia hanya melambai dan berkata 'aku duluan' sebelum pergi ke apartemen tempat tinggalnya.
Naruto langsung mengeluarkan seluruh barang bawaannya dan membereskan kamarnya, kedua pengawalnya membantu sang gadis memisahkan barang-barang bawaannya dari yang akan ia simpan dan dengan oleh-oleh yang akan sang gadis berikan kepada teman-temannya.
"Aku tahu bahwa kau masih merasa kesal, namun setidaknya jangan menyimpan dendam" Indra berkata sambil mengeluarkan senjata milik Naruto dari dalam tas dan mulai membersihkannya "Aku mengatakannya berdasarkan pengalaman"
"Aku tidak menyimpan dendam" Naruto cemberut, ia tahu bahwa kelakuannya itu sangat kekanak-kanakkan, namun ia tidak bisa tidak merasa kesal.
Indra menggeleng pelan melihat kelakuan sang gadis Uzumaki, walau ia sempat di buat bingung: mengapa Naruto jadi lebih emosional akhir-akhir ini?
Gelap.
Sepanjang mata memandang hanya ada kegelapan.
Setelah berberapa saat, pemandangan di depannya mulai berubah; dari kegelapan sepanjang mata memandang menjadi sebuah ruangan yang ia sangat kenal.
Sasuke Uchiha menahan nafasnya, ia tahu bahwa ini adalah mimpi yang biasa ia dapatkan; mimpi buruk yang selalu menghantui dirinya setiap malam.
Mimpi yang memperlihatkan masa lalunya; di saat kakaknya yang sangat ia sayangi dulu membunuh kedua orang tuanya di depan matanya lalu membuat dirinya berhalusinasi di mana ia terus-menerus menonton kakaknya membunuh kedua orang tuanya berkali-kali seperti sebuah film yang di putar berulang kali.
Sasuke menahan rasa ingin menangis dan sudah pasrah bahwa perasaan benci terhadap kakaknya akan kembali lagi, dalam hati ia meminta maaf kepada Naruto yang sudah ia janjikan bahwa ia tidak akan menuduh atau membenci kakaknya tanpa alasan yang jelas.
Namun di saat ia memikirkan rekan satu kelompoknya yang bersurai kuning tersebut, ada perasaan hangat dan entah mengapa ia jadi memiliki keberanian untuk mengangkat kepalanya dan melihat secara langsung pemandangan di depannya, melihat kakaknya membunuh orang tuanya lagi.
Namun ada sesuatu yang aneh—sesuatu yang berbeda dari biasanya.
Di saat ia mengangkat kepalanya untuk melihat kakaknya, ia melihat sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.
Kakaknya menangis.
Itachi menangis dan kini sedang menatap dirinya dengan pandangan penuh penyesalan dan bersalah.
Ia bahkan bisa melihat kakaknya berkata sesuatu namun tidak ada suara yang keluar.
Sasuke membulat matanya, ia bisa membaca pergerakan bibir kakaknya.
'Maafkan aku… Sasuke'
Sasuke membuka matanya dan langsung mencoba bangun dari posisinya yang tadinya sedang tiduran. Peluh dan keringat membasahi seluruh tubuhnya dan nafasnya tidak beraturan seperti ia baru saja melakukan sesuatu yang menguras segala tenaganya.
"Ah, bangun juga akhirnya" Seorang wanita bersurai pirang pucat melipat kedua tangannya, ia berdiri tepat di sebelah tempat tidurnya bersama dengan seorang wanita bersurai hitam pendek.
Sasuke yang sudah berhasil menenangkan dirinya sedikit memeriksa sekitarnya dan menemukan bahwa ia sedang berada di rumah sakit "Siapa…"
"Sasuke-kun!" Rekan satu kelompoknya yang bersurai pink menerjangnya dan memeluk dengan erat dirinya, membuat Sasuke sedikit terlonjak kaget dan membeku di tempat.
Sasuke diam saja, ia membiarkan Sakura memeluknya sebentar sebelum ia mengingat sesuatu dan langsung mendorong menjauh sang gadis bersurai pink "Di mana Naruto?"
"Ah, senang melihat dirimu sudah siuman Teme" Sang gadis bersurai kuning yang ia cari memperlihatkan diri dari balik tubuh sang wanita bersurai perang pucat di sebelahnya, sebuah senyuman kecil terlukis di wajahnya "Kau membuat kami khawatir saja"
Sasuke terdiam, ia menatap lekat-lekat sang gadis bersurai kuning hingga ia harus menunduk dan memegangi kepalanya yang terasa sakit karena bergerak secara mendadak, sepertinya luka di belakang kepalanya masih belum sembuh seratus persen.
"Sa-Sasuke-kun!" Sakura yang berada di sampingnya meletakkan sebelah tangannya ke punggung sang pemuda bersurai hitam, seperti mencoba memberikan support.
"Hei, jangan bergerak tiba-tiba seperti itu, kau belum sembuh" Sang wanita bersurai pirang pucat bertolak pinggang dan memarahi Sasuke "Tubuhmu belum seratus persen pulih"
Sasuke hanya bisa mendesis pelan sambil menahan rasa sakit yang menyerangnya.
"Hei hei, jangan paksakan diri" Naruto berjalan mendekat ke arahnya dan kini sudah berdiri di sebelah sang gadis bersurai pink, ia meletakkan tangannya di kening milik Sasuke "Kau sempat demam semalam"
Kyuubi
Di miliki oleh Konohagakure
Tiba-tiba saja Sasuke jadi mengingat kalimat yang tertulis di buku yang ia baca beberapa waktu yang lalu tepat di saat ia merasakan tangan sang gadis bersurai kuning menyentuh keningnya.
"Hei, benarkan Uchiha Itachi kembali ke Konoha untuk menangkap Uzumaki Naruto?"
Sasuke menutup matanya, kali ini ingatan mengenai seorang jounin yang (secara tidak sengaja) memberi tahu dirinya keberadaan kakaknya muncul di benaknya.
Sasuke mendesis pelan dan menjauhkan dirinya dari sentuhan sang gadis bersurai kuning, ia mencoba memijat kepalanya yang berdengung dan mencoba mengurangi rasa sakit yang sedang ia rasakan.
"Kembalilah tidur" sang wanita bersurai pirang pucat mendorong dirinya hingga ia kembali tiduran.
"Naruto" Seorang laki-laki bersurai putih panjang tiba-tiba saja muncul dari belakang sang wanita bersurai pirang pucat, Sasuke mengenalinya sebagai 'guru' baru milik Naruto, ia meletakkan sebelah tangannya di pundak Naruto dan menarik sang gadis ke dekatnya "Ada yang mau aku bicarakan"
Naruto menatap bingung Jiraiya dan menaikkan sebelah alisnya sebelum mengangguk "Oke…"
"Istirahatlah Teme, jangan memaksakan diri, nanti kalau kau mati aku tak punya saingan lagi" Naruto terkekeh pelan dan memberikan Sasuke cengiran khasnya sebelum melambai dan pergi ke luar ruangan miliknya bersama sang pertapa katak.
Sasuke tidak membalas ucapan Naruto, ia hanya menatap sang gadis, manik hitam kelamnya mengikuti segala pergerakan sang gadis hingga Naruto hilang dari jarak pandangnya.
Ia menutup matanya secara perlahan, tidak menghiraukan teman satu kelompoknya yang sedang berbicara sesuatu dan wanita bersurai pirang pucat yang mengobatinya, ia sedang tidak bisa berfikir terlalu banyak dan ia memang membutuhkan istirahat lebih agar cepat pulih karena ada suatu hal yang ingin ia lakukan setelah ia keluar dari rumah sakit.
Sebelum ia sepenuhnya pergi ke dunia mimpi, sebuah suara bergema di kepalanya.
"Maafkan aku Sasuke…"
Naruto menatap lekat-lekat pantulan wajahnya di kaca, ia menghela nafas pendek sebelum melepaskan ikat kepalanya dan meletakkannya di meja rias miliknya, ia menggeleng dengan pelan sebelum membalik badan dan bersiap untuk mandi.
"Kau kelihatan sedang kebingungan… ada apa Naru?" Ashura yang sedari tadi ada di sampingnya dan sedang memperhatikan dirinya menatap khawatir dirinya.
Sedari tadi ia perhatikan, sang gadis Uzumaki terlihat aneh dan jadi sering menghela nafas panjang, senyum lebar yang biasa menghiasi wajahnya juga tidak terlihat sehingga membuat sang adik dari Indra khawatir.
"Hm? Tidak ada apa-apa, hanya sedang tidak mood saja" Jawab Naruto setengah cuek, ia mengambil pakaian tidur dari laci pakaiannya sebelum menyadari bahwa Indra yang sedang duduk di kursi tidak jauh darinya juga sedang memperhatikan dirinya dan juga terlihat khawatir "Sungguh, aku tidak apa-apa; hanya sedang tidak mood"
Naruto menggeleng dengan pelan melihat kelakuan pengawalnya sebelum masuk ke kamar mandi dan mengunci pintunya, meninggalkan kedua kakak beradik Ootsutsuki sendirian di kamarnya.
"Hmm… sepertinya ia mulai mencurigai kita kak" Ashura mendecak kesal, ia melipat kedua tangannya di depan dadanya dan menyenderkan tubuhnya ke dinding di belakangnya "Sepertinya ia salah paham"
"Aku tidak terkejut bila ia mencurigai kita, karena memang gerak-gerik kita terlihat cukup mencurigakan akhir-akhir ini" Indra menggeleng dengan pelan, ia melirik pintu ke kamar mandi tempat Naruto sedang berada sebelum menatap kembali adiknya "Terlebih lagi bahwa ia adalah reinkarnasi dari dirimu, jadi tentu saja ia bisa dengan cepat menyadari ada keanehan di sekitarnya, intuisinya sama kuatnya dengan dirimu"
"Hmm… sebenarnya yang menjadi masalah utama adalah Kyuubi" Ashura mengeluarkan sebuah gulungan dari kantung pakaiannya dan mulai melempar-lempar gulungan tersebut "Ia adalah influensi terbesar di dalam hidup Naruto sekarang"
Indra menggerutu pelan, apa yang di katakana oleh adiknya adalah kebenaran, Naruto sangat mudah terpengaruh dengan omongan sang rubah berekor sembilan, terlebih lagi setelah ia mati dan kini hidup di dunia ini.
Sang rubah berekor sembilan kini telah menjadi pilar emosi sang gadis, sesuatu yang sangat berharga dan tidak mungkin bisa di pisahkan dari hidup Naruto, sesuatu yang terkadang suka salah mengerti maksud dan hal yang ia dan Ashura lakukan.
"Kak, ini hanya perasaanku saja namun… apakah menurutmu Naruto—maupun Kyuubi tidak tahu bahwa… tunggu dulu" Ashura berkedip beberapa kali sebelum memiringkan kepalanya "Tidak, Naruto tahu bahwa ia adalah reinkarnasi dari diriku maupun soal Kaguya"
Indra menaikkan sebelah alisnya dan menatap bingung Ashura sebelum matanya kini mengarah ke gulungan yang sedang adiknya mainkan "Untuk sekarang, kita harus tahu cara menghilangkan segel itu terlebih dahulu"
"Mudah untuk di katakan, namun cukup sulit untuk di kerjakan kak… mengingat Kyuubi pasti akan menghentikan kita" Ashura mengangkat bahunya sebelum melempar gulungan yang tadi ia pegang ke kakaknya yang di tangkap dengan sangat mudah oleh Indra "Ia akan memblokir usaha kita"
Indra menatap lekat-lekat gulungan pemberian adiknya sebelum membuka gulungan tersebut dan mulai membacanya "Aku ada ide"
Sedangkan Naruto yang baru saja selesai mandi dan kini sedang mengenakan piyamanya sedang berbicara dengan partnernya.
'Apakah menurutmu adalah sebuah kesalahan bila aku… yah… bertindak sedikit egois? Seperti sedikit mementingkan keinginanku?' Naruto mengancingi piyamanya sebelum mulai menyisir rambutnya yang panjang sambil menatap pantulan wajahnya di kaca.
'Tidak ada salahnya memikirkan kebahagiaanmu terlebih dahulu, apa yang di katakan oleh Ashura adalah kebenaran, hidupmu adalah milikmu, bukan milik orang lain" Kurama memangkukan kepalanya ke sebelah tangannya, matanya melihat ke manapun kecuali ke wadahnya.
'Hmm…" Naruto mengangguk sebelum meletakkan sisir yang tadi ia gunakan kembali ke tempatnya dan keluar dari kamar mandi.
"Ashura, Ind…ra?" Naruto menaikkan sebelah alisnya di saat ia melihat bahwa kedua pengawalnya sudah ra'ib dari tempat mereka sebelumnya "Kemana mereka berdua…"
Naruto mencoba mencari keberadaan kedua pengawalnya di apartmentnya, dari ruang tengah, ruang makan, hingga di dalam lemari pakaiannya, namun tidak menemukan keduanya sama sekali.
"Kemana mereka berdua… padahal aku ingin berbicara sebentar…" Naruto menghela nafas pendek sebelum memutuskan untuk pergi tidur lebih awal, ia bisa berbicara dengan pengawalnya besok.
Naruto mulai menyiapkan futon untuknya dan menguap lebar sebelum membaringkan tubuhnya dan bersiap ke duia mimpi, tanpa menyadari bahwa di keningnya muncul sebuah lambang klan Uchiha yang di lingkari oleh sebuah segel dan sepasang manik merah darah memperhatikan dirinya dari sudut ruangan.
To Be Continue
Omake
Naruto Learning To Be A Good Wife (Teacher: Sakura and Ino)
"Hmm… hari ini beli yang mana ya…" Naruto bergumam pelan, ia menatap satu-persatu bunga yang berjejer di depannya, manik biru cerahnya bergerak secara perlahan dari satu bunga ke bunga yang lainnya "Bunga anggrek? Bunga matahari? Atau bunga teratai?"
Seorang gadis bersurai pirang pucat memperhatikan dirinya dari belakang meja kasir, ia memangkukan kepalanya di sebelah tangannya, sang gadis terlihat bosan sebelum ia membuka mulutnya untuk berbicara "Kenapa kau tiba-tiba saja menjadi menyukai bunga?"
Naruto membalik tubuhnya untuk melihat teman sekelasnya dulu dan menaikkan sebelah alisnya "Aku memang sudah suka bunga semenjak aku kecil"
"Benarkah?" Sang gadis kini membetulkan posisinya menjadi duduk dengan lebih sopan, ia mengambil setangkai bunga yang ada di depan mejanya dan mulai bermain-main dengan bunga tersebut"Aku baru melihat kau jadi sering ke sini semenjak… yah, kau menjadi perempuan"
Naruto mengernyit, kurang menyukai kebenaran yang baru saja Ino katakan sebelum menghela nafas dan menggeleng pelan "Itu karena aku menjadi perempuan di saat aku baru lulus dan menjadi ninja"
"Lalu?" Sang gadis kurang mengerti dengan apa yang temannya baru saja katakan.
"Maksudku adalah, aku baru memiliki penghasilan di saat aku menjadi ninja" Naruto membalik tubuhnya dan kini kembali melihat-lihat bunga yang berjejer di salah satu rak yang ada di toko bunga tersebut "Aku yatim piatu, jadi aku tidak mendapatkan uang jajan atau semacamnya, jadi mana mungkin aku punya uang untuk membeli bunga"
Sang gadis bersurai pirang pucat langsung membeku di tempat mendengar apa yang baru saja temannya katakan, ada perasaan bersalah karena baru saja menuduh temannya yang bersurai kuning tersebut sebelum ia meletakkan bunga yang tadi ia pegang kembali ke meja dan menghampiri Naruto"Aku sarankan kau membeli bunga anggrek sekarang karena sedang musim"
Naruto meraih salah satu bunga anggrek yang ada di depannya sebelum melirik sang gadis yang kini berdiri di sebelahnya "Apakah kau punya yang warna kuning atau orange, Ino?"
Ino, sang gadis bersurai pirang pucat mendecak kesal mendadak, ia meletakkan sebelah tangannya di pinggang dan menatap tidak suka Naruto "Oh ayolah, apakah pakaianmu sudah lebih dari cukup yang berwarna orange? Aku saja sudah bosan melihatnya!"
Merasa sedikit tersinggung, Naruto mulai menjauh sedikit dari temannya, Ino bukan orang pertama yang menyinggung dirinya mengenai pakaiannya "Aku suka warna orange…"
"Duh, dan aku suka warna kuning namun aku tidak mengenakan pakaian berwarna kuning ke mana-mana!" Ino memutar matanya dengan bosan sebelum matanya menangkap warna pink yang baru saja memasuki tokonya "Benarkan Sakura?"
Sakura yang baru saja sampai ke toko bunga milik Ino dengan niat untuk mencari sang gadis bersurai pirang pucat menatap bingung temannya yang bertanya kepada dirinya secara tiba-tiba "Ha?"
"Kau setuju bukan, kalau Naruto lebih baik berhenti mengenakan pakaian berwarna orange?" Ino menarik lengan pakaian sang gadis bersurai kuning.
Sakura berjalan mendekat ke arah dua temannya sebelum menaikkan sebelah alisnya, manik hijaunya bergerak dari pakaian sang Uzumaki ke surai kuning yang di ikat dua lalu ke manik biru cerah Naruto "Aku pikir warna biru cocok untukmu"
"Benarkah? Kalau menurutku Naruto lebih bagus menggunakan warna merah" Ino melipat kedua tangannya "Warna 'panas' lebih cocok untuk Naruto"
"Ugh… aku laki—"
"Aku tidak menyuruhmu menggunakan dress atau semacamnya, menurutku pakaianmu sudah bagus" Ino menarik jaket yang di kenakan oleh Naruto "Hanya warnanya saja yang kurang"
Naruto terdiam, setidaknya kali ini mereka hanya mempertanyakan warna pakaiannya, setidaknya tidak ada hubungannya dengan perubahan kelaminnya.
'Huh, tidak seru' Naruto memutar bola matanya dengan bosan melihat reaksi partnernya.
"Ah, aku ada ide" Ino menarik lengan pakaian Naruto dan menyeretnya keluar toko yang di ikuti oleh Sakura "Mumpung sekarang jamnya aku istirahat; aku bisa membantu memilihkan pakaian untukmu"
"He-hei! Bagai mana dengan—"
"Akan aku bungkus dan kirimkan bunga yang ingin kau beli nanti" Ino memotong omongan Naruto dan terus menarik Naruto, tidak mempedulikan sang gadis yang memberontak.
Pada akhirnya, Ino membawa Naruto kembali ke apartment tempat tinggalnya dan sekarang Naruto sedang membuatkan kedua tamu yang tak di undang tersebut segelas teh sedangkan kedua temannya sedang memeriksa lemari pakaiannya.
"Oh ayolah, warna pakaianku tidak penting dan tidak layak untuk di permasalahkan" Naruto memutar bola matanya dengan bosan, tidak ada yang salah dengan pakaiannya oke.
"Tentu saja penting!" Ino mendecak kesal, ia kembali mencari-cari pakaian di dalam lemari milik Naruto, mencoba memilihkan pakaian untuk sang gadis bersurai kuning "Warna yang kau kenakan bukanlah warna yang cocok di gunakan di saat kau menjadi ninja!"
"Seharusnya kau tahu bukan? Mengapa pakaian para ninja di dominasi dengan warna hijau, hitam, krem, dan coklat? Itu karena warna tersebut sangat mudah berbaur dengan sekitar, dalam arti lain untuk menjadi kamuflase!" Ino tahu bahwa sang pemuda berubah gadis yang merupakan temannya ini sangat sering bolos, jadi ia tidak terkejut bila ia tidak mengetahuinya "Begitu pula warna biru dan merah, memangnya kau pernah melihat warna orange alami di luar sana yang bisa membuat dirimu berbaur dengan alam?"
"Yah, kecuali kalau kau bersembunyi di pohon jeruk, mungkin bisa" Sakura setuju dengan apa yang Ino katakan, walaupun ada sebuah pertanyaan yang muncul di kepalanya.
Bagai mana bisa Naruto bersembunyi dan melakukan keisengan 'tingkat atas' miliknya dengan pakaian seperti itu? Sakura tidak tahu jawabannya.
"Oke, sekarang ganti pakaianmu dengan ini" Ino mengambil kaus turtleneck tanpa lengan berwarna hitam dan celana pendek berwarna biru gelap.
"Kalau kau mau menggunakan jaket, pakai yang ini" Sakura mengambil jaket lengan pendek berwarna biru dengan logo Uzumaki di belakangnya.
"Aku akan mengikat rambutmu menjadi ikat satu, di mana kau menyimpan karet untuk ikat rambut" Ino memberikan pakaian pilihannya kepada Naruto sebelum berjalan ke meja rias milik Naruto dan mengambil sisir lalu mencari karet untuk mengikat surai kuning sang gadis.
Naruto pasrah, ia berjalan ke arah kamar mandi dan mulai mengganti pakaiannya, ia beruntung kedua 'pengawalnya' sedang kembali ke alam baka untuk bertemu ayah mereka, ia tidak mau keduanya ikut-ikutan memberi semangat kedua temannya dan mendandani dirinya.
Naruto keluar dari kamar mandi setelah mengenakan pakaian pilihan temannya, ia menarik kerah bajunya dan mendesis, ada perasaan tidak enak melihat tidak ada setitikpun warna orange di pakaiannya sedangkan Kurama memutar bola matanya dengan bosan melihat reaksi wadahnya.
"Tuhkan! Benar kataku, kau cocok dengan warna biru" Sakura menyeringai dan melirik temannya yang bersurai pirang pucat.
"Huh, warna merah akan jauh lebih bagus lagi" Ino mendecak kesal sebelum menarik Naruto agar duduk di kursi di depan meja riasnya sebelum membebaskan surai kuning sang gadis Uzumaki yang di ikat dua, ia merasa tidak mau kalah dengan temannya yang bersurai pink di sebelahnya.
Naruto memijat keningnya, bagus; sekarang kedua temannya berkelahi dan saling tidak mau kalah mendandani dirinya, apakah perebutan Sasuke tidak cukup dan sekarang mereka berdua mencari target lain? Apakah ini bentuk kecemburuan keduanya terhadap dirinya? Naruto tidak tahu dan tidak mau tahu.
"Daaan… oke selesai" Ino tersenyum puas setelah mengikat surai kuning Naruto, bangga dengan hasilnya sebelum menepuk pundak sang gadis Uzumaki "Bagai mana? Lebih bagus sekarang bukan?"
"Menurutku Naruto lebih bagus bila di ikat dua" Sakura menggeleng dengan pelan sebelum tangannya mencoba mengambil sisir yang Ino pegang.
"Oh tidak! Warna pakaian sudah memenuhi keinginanmu, biarkan rambut Naruto seperti ini" Ino mengelak dari raihan tangan sang gadis bersurai pink, menjauhkan sisir yang ia pegang dari jangkauan sang gadis bersurai pink.
"Ck, kalau begitu ayo kita buktikan dengan percobaan"
Naruto punya perasaan tidak enak dan ia merasa nyawanya sedang terancam, ia harus kabur dari kedua temannya secepat mungkin!
"Mana yang lebih di puji, pakaian dengan warna pilihanku atau gaya rambut pilihanmu!" Sakura menahan pundak Naruto, tahu bahwa temannya akan kabur.
Sial.
"Hei hei! Jangan libatkan aku—" Apa yang mau di katakan oleh Naruto hanya masuk kuping kanan dan keluar kuping kiri temannya.
Jadi di sinilah ia sekarang, berjalan-jalan mengelilingi Konoha dengan pakaian dan gaya rambut barunya.
Naruto harus menahan malu, ia berdoa untuk tidak di pertemukan oleh semua teman-temannya.
"Oh, Naruto?" Naruto langsung membeku seketika mendengar namanya di panggil dan ia menoleh secara perlahan sebelum menghela nafas lega karena yang memanggilnya adalah Ayame.
"Ooh! Kau terlihat berbeda hari ini, ada kencan kah?" Ayame berjalan mendekat ke arah Naruto, ia meletakkan barang bawaannya untuk menyisir rambut Naruto dengan jarinya.
"Te-tentu saja tidak!" Naruto menggeleng dengan cepat.
"Heheh, pakaianmu cocok sekali denganmu, tapi aku lebih suka rambutmu bila di ikat dua! Terlihat menggemaskan" Ayame tertawa pelan sebelum mencubit dengan pelan pipi Naruto.
Naruto memerah sedikit, oh jangan salah; Ayame sudah seperti kakaknya bahkan semenjak dulu di saat ia masih kecil.
"Hati-hati di jalan ya? Kau terlihat sangat menggemaskan soalnya, banyak yang ingin menculikmu nanti" Ayame tertawa melihat reaksi sang gadis Uzumaki sebelum mengambil kembali barang-barangnya dan berjalan meninggalkan sang gadis Uzumaki.
Naruto menampar kedua pipinya sendiri sebelum menggeleng dengan keras 'Ugghhh! Kenapa aku jadi malu! Tidak! Tidak boleh! Aku masih laki-laki!'
Naruto membalik tubuhnya dan mulai berjalan lagi—inginnya, bila ia tidak sengaja menabrak gurunya yang ternyata sedari tadi ada di belakangnya.
"Wah! Sensei! Kalau jalan lihat-lihat dong!" Naruto mengusap wajahnya yang membentur perut gurunya sebelum menatap tajam sang pemuda bersurai perak di depannya "Mentang-mentang kau tinggi…"
"Maa, aku minta maaf sudah menabrak dirimu tapi… kau mau kemana berpenampilan seperti itu?" Kakashi tertawa pelan melihat reaksi muridnya sebelum tiba-tiba saja menjadi serius mendadak di saat ia berbicara, Naruto bahkan bisa mendeteksi sedikit… apa ya? Kecurigaan? Amarah? Atau kekhawatiran?
"Sakura dan Ino" Naruto membuang mukanya dan melipat kedua tangannya di depan dadanya "Keduanya menjadikan aku kelinci percobaan"
Naruto menyadari bahwa Kakashi yang tadinya terlihat tegang kini kembali tenang, membuat dirinya menaikkan sebelah alisnya, ada apa dengan gurunya yang satu ini?
"Oh…" adalah jawaban singkat gurunya, namun tangannya dengan sendirinya bergerak untuk menyentuh surai milik sang gadis yang di ikat satu.
"Warna merah sepertinya lebih cocok untukmu" Kakashi menatap nostalgia surai kuning seperti milik Minato, sang ayah, sebelum matanya yang tidak di tutupi bergerak ke pakaian yang di kenakan oleh Naruto 'merah seperti rambut ibumu'
Hening.
Menyadari apa yang baru saja ia katakan, Kakashi langsung menarik kembali tangannya dan kini dengan sedikit ragu-ragu memeriksa wajah muridnya.
Merah.
"Maa, aku ada urusan, aku pergi dulu" Dan Kakashi langsung kabur secepat mungkin, hampir menyamai kecepatan Minato, menyadari kesalahan yang telah ia perbuat.
'….Siapapun yang di atas sana, tolong cabut nyawaku sekarang juga!' Naruto menutup wajahnya dengan kedua tangannya, mencoba menyembunyikan wajahnya yang mulai menghangat.
'Ooh, lihat, siapa yang sudah mulai menerima—'
'Tidak! Tidak! Tidak!' Naruto berteriak dalam hati, ia masih tidak mau menerima kenyataan.
"Dobe?" Seperti ingin memperkeruh suasana (hati Naruto), rekan satu kelompoknya yang berasal dari klan Uchiha melihat dirinya dan kini menghampiri dirinya "Apa yang kau lakukan… dengan penampilan seperti itu?"
Tidak mendapat jawaban, Sasuke menatap bingung temannya sebelum ia berjalan mendekat ke Naruto dan menunduk untuk melihat wajah temannya yang sedang di tutupi.
"A-aku tidak apa-apa!" Naruto mendorong sang pemuda Uchiha menjauh, namun karena mendorong temannya; ia harus menggerakkan sebelah tangannya yang ia gunakan untuk menyembunyikan wajahnya, membuat temannya bisa melihat wajahnya.
Sasuke membulatkan matanya melihat wajah temannya yang memerah dan manik biru cerah sang gadis yang sedikit membesar karena malu, membuat wajahnya pelan-pelan ikut memerah juga.
Dan Naruto langsung kabur secepat mungkin, meninggalkan temannya yang masih membeku, tertegun setelah melihat wajah dan penampilan Naruto.
Di malam harinya, di apartment milik Naruto; akhirnya kedua kakak beradik Ootsutsuki telah kembali.
"Naru! Kami kemba…li" Ashura terdiam dan mulutnya setengah terbuka di saat ia melihat pemandangan yang menyapanya di saat ia sampai ke apartment milik Naruto.
Indra yang tadinya menatap bingung adiknya juga membeku di tempat melihat apa yang adiknya lihat.
Di depan keduanya, Naruto berdiri dalam keadaan berpose di depan kaca mengenakan kimono dengan motif bunga matahari.
"U…uh… aku bisa jelaskan…" Naruto menahan dirinya untuk tidak kabur karena ia masih mengenakan kimono dan ia tidak tahu mau kabur ke mana, ia merasakan bahwa wajahnya menghangat dan ia ada keinginan untuk mengubur dirinya hidup-hidup detik itu juga karena saking malunya.
"A-aku hanya mencobanya oke? Kakek memberikan kepadaku dan mengatakan bahwa ini punya ibu dan aku… uh… aku…" Naruto mulai panik sendiri, ia tidak tahu mau berkata apa namun ia tahu satu hal: ia dalam masalah besar.
Ashura adalah yang pertama tersadar dari kekagetannya dan ia tersenyum dengan lebar "Cocok! Sudah aku bilang, kau lebih cocok mengenakan kimono sederhana seperti itu!"
"…Lebih bagus lagi bila kimononya lebih terlihat mewah seperti yang para bangsawan kenakan" Indra menggeleng dengan pelan, ia berjalan mendekat ke arah Naruto dan menarik lengan kimono yang sang gadis kenakan.
"Tidak ah, terlalu mencolok! Naruto lebih bagus tampil sederhana" Ashura cemberut ia juga mendekat ke arah Naruto sebelum menyisir surai kuning sang gadis yang di gerai menggunakan jarinya "Akan lebih bagus lagi bila rambutnya di ikat dua!"
"Terlalu kekanak-kanakan, di ikat satu dengan rapih lebih bagus"
"Tentu saja tidak! Naruto lebih lucu bila di ikat dua!"
Dan argument antara keduanya di mulai kembali, meninggalkan sang gadis bersurai kuning yang dari tadi mencoba menghentikan argument mereka dan terus-menerus mencoba mengingatkan bahwa ia (dulu) adalah laki-laki.
Masuk kuping kanan, keluar kuping kiri, seperti biasa.
Keesokan harinya, Naruto sudah kembali mengenakan pakaian berwarna orange, walau kali ini dengan sentuhan warna biru di sana dan sini, rambutnya juga menjadi lebih rapi dari biasanya walau masih di ikat dua.
Entah mengapa Naruto mendeteksi ada perasaan kecewa dari rekan sekelompoknya yang berasal dari klan Uchiha dan gurunya.
"Yah… baby step" Sakura mengangkat kedua bahunya dan menghela nafas pasrah.
Pelajaran yang di berikan: Menjaga penampilan adalah salah satu hal yang penitng! Terutama untuk para wanita (by Ino and Sakura)
Status: SUCCESS
(Sang gadis mengerti! Hanya belum siap menerapkan dalam hidupnya!)
!Review Reply!
AsakiYuuna: Bisa di bilang seperti itu, namun akhirnya nanti masing-masing punya ending tersendiri. Terimakasih atas pujian dan kalimat penyemangatnya.
Meli Channie: Senang anda menyukai cerita tambahannya namun saya lebih berfokus kepada cerita utamanya, mohon maaf ada kalanya cerita tambahannya bukan humor, karena ada kalanya omake saya gunakan untuk memperlihatkan hubungan Naruto dengan teman-temannya.
ASCTERIOS: Oh… ya ampun…anda benar-benar bikin saya malu dan senang bukan main! Terimakasih banyak sudah menyadarinya dan terimakasih banyak atas dukungannya! Sayangnya saya tidak menonton Naruto the movie yang manapun, jadi kemungkinannya saya tidak bisa membuat chapter dengan tema yang di ambil dari movie… sekali lagi terimakasih banyak!
BlackCrowa1001: Uh… er… saya… tidak tahu mau bicara apa namun… sepertinya… tidak…
ed,edogawa: Senang mendengar anda menyukainya dan terimakasih atas pujiannya.
Vilan616: Sudah bukan magnet masalah lagi, tapi personifikasi dari masalah… ahahha
Guest (1): Terimakasih banyak atas dukungan dan penyemangatnya!
Boku wa megitsune: Hahaha, mungkin ya mungkin tidak. Kalau soal Sakura awalnya saya juga kurang suka tapi saya punya OTP dengan Sakura, bisa di bilang semakin dewasa saya semakin… besar toleransi saya dengan Sakura? Entah lah, saya sendiri bingung dengan apa yang baru saja katakan… hahahahhaha.
Ai Masaharu: Ah, maafkan saya, itu memang dulu cerita ini sudah ada, semenjak 2 tahun yang lalu namun sekarang ceritanya sudah di rombak habis, senang mendengar anda menyukainya; yang ini maupun yang lama. Terimakasih banyak.
Crazzy Lucky Rin: Namanya juga tanuki tukang bikin masalah, bukan jadi bego kok, hanya sedikit termanipulasi… hahahah. Jiraiyakan sedang ada misi, namanya juga spy master, tentu saja sibuk.
Rini: Terimakasih banyak atas pujiannya.
Jasmine DaisynoYuki: …Petuah?
Hyuuga kimico: tidak di bully kok, hanya kesalah pahaman… hahahha.
Fujoashi desu XD: hahah, sayangnya saya tidak menerima ide dari luar karena semua jalan cerita sudah di tentukan dari awal. Terimakasih banyak atas penyemangatnya!
Ppkarismac: Hahaha, namanya juga Naruto, masalah sempele bisa jadi besar.
Monkey D Jasmine: Maaf, saya tidak menerima usulan dari luar. Namun saya senang anda menyukai ceritanya, terimakasih banyak.
Fuchan: pacar idaman Naruto bisa di temukan di omake kok—menurut teman-temannya, Kalau dari Narutonya sendiri… hahahahhaha.
Sasunaru: Silakan mengecek Author Notes di chapter 8 dan Author notes di chapter ini, sebelumnya, dan sebelumnya lagi.
Sharuto: Hahaha… saya tidak bisa janji karena akhir-akhir ini saya sedang sibuk.
Shabilla: Hahah, saya belum memberi tahukan namanya namun sudah ada hint yang cukup besar mengenai dirinya di chapter saat ujian chunin tahap ke tiga.
Ichihazaman: Maaf, saya tidak menerima saran untuk cerita dalam bentuk apapun kecuali dari Editor saya.
Guest (2): Hmmm… anda mereview beberapa kali jadinya saya satukan di sini saja, Pairing bisa di temukan di Author Notes chapter 8 dan anda bisa mengecek Author notes chapter ini dan sebelumnya, dan sebelumnya lagi untuk mengetahui keterangan lebih lanjut.
Fiona746: Ah, maafkan saya, akhir-akhir ini saya sedang sibuk.
Terimakasih banyak sudah mau bersabar menunggu chapter baru namun dengan sedih hati harus saya beritahukan bahwa saya sedang sibuk akhir-akhir ini dan chapter selanjutnya mungkin akan memakan waktu yang cukup lama.
Terimakasih sudah mau bersabar dan sampai jumpa di chapter selanjutnya.
Review Please
