CHRUS IN RUSH

(by: Santhy Agatha)

.

.

Kim Jongin & Do Kyungsoo

.

.

Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kris Wu, Jongdae Chen, Kim Suho, etc

.

.

Let's start

.

BAB 2

.

JONGIN menahan keinginannya untuk mendatangi cafe itu lagi. Perempuan pelayan cafe itu, di luar dugaannya sungguh sangat menarik perhatiannya. Membuatnya ingin melihatnya setiap hari.

Jongin sendiri tidak tahu apa yang sebenarnya ia rasakan kepada perempuan pelayan itu. Ia berhati dingin, jiwanya yang kejam adalah pembawaannya, sehingga ia cenderung tidak peduli kepada orang lain. Tetapi perempuan pelayan itu begitu mungil, begitu tak berdaya dan harus menjalani pekerjaan yang begitu berat. Jongin bertanya-tanya apakah perempuan itu punya keluarga atau orang lain yang bisa mengurusnya.

Diluar kebiasaannya juga, Jongin memberikan uang kepada perempuan pelayan itu. Ia mengangkat bahunya dan sedikit merasa lega, mungkin perempuan itu bisa menggunakan uang itu untuk memenuhi kebutuhannya. Uang sebesar itu hanyalah recehan bagi Jongin, tetapi ia tahu uang itu sangat berarti bagi perempuan itu.

Tiba-tiba Jongin tersadar... kenapa ia terus menerus memikirkan perempuan itu?

Dengan marah Jongin meremas kertas pekerjaannya yang dari tadi tidak bisa diselesaikannya, ia menatap nanar ke arah bawah, ke arah pemandangan malam kota dari jendelanya. Tiba-tiba pikirannya melayang ke ayah kandungnya di luar sana. Ia menahan napas gusar. Rencana balas dendamnya sepertinya sangat menarik untuk dilakukan, ia hanya tinggal mengatur beberapa rencana, lalu semua akan terlaksana dengan baik.

Jongin melirik jam tangannya, tiba-tiba bertanya-tanya dalam hatinya, sudah dua malam ia tidak mengunjungi cafe tempat gadis pelayan itu bekerja. Ini sudah hampir jam lima pagi, bukankah biasanya shift perempuan itu selesai jam lima pagi? Jongin tahu karena ia selalu berada di cafe antara jam dua sampai jam lima pagi, dan ketika sudah menjelang jam lima pagi, selalu terjadi pergantian shift pelayan.

Sedetik ia berpikir, kemudian dengan gerakan cepat, Jongin meraih jaketnya dan melangkah keluar dari apartemen mewahnya itu.

.

.

Kyungsoo merasakan kepalanya pening, ia menghela napas panjang. Gawat sepertinya virus salah satu pengunjung yang dari tadi bersin-bersin di dekatnya telah menularinya. Daya tahan tubuh Kyungsoo sedang lemah sehingga ia mudah tertular. Sekarang selain pening di kepalanya, di bagian matanya terasa berdenyut-denyut dan seluruh permukaan kepalanya terasa nyeri. Kyungsoo menuggu dengan lunglai di pinggir jalan. Udara pagi hari yang dingin terasa menerpa kulitnya, menyiksanya karena terasa menusuk sampai ke tulang.

Kyungsoo merapatkan jaketnya yang terbuat dari bahan wol, jaket itu sudah menipis karena terlalu sering dipakai dan dicuci sehingga tidak membantunya mengatasi hawa dingin. Ia masih berdiri di tepi jalan yang masih lengang itu, hanya ada beberapa kendaraan pribadi yang lalu lalang, dan taksi yang beberapa diantaranya memberi isyarat pada Kyungsoo, membuat Kyungsoo harus menggelengkan kepalanya. Ia tidak mampu pulang naik taxi, ongkosnya tidak akan cukup. Di pagi hari setelah shiftnya dari cafe, ia akan berjalan ke jalan besar sejauh dua ratus meter dan menunggu angkutan umum yang lewat untuk mengantarkannya ke dekat tempat tinggalnya. Oh ya ampun, dan ia harus berdiri di tengah hawa dingin ini selama beberapa lama, angkutan yang melewati sekitar jalan ini biasanya baru datang jam enam pagi, membawa barang-barang milik pedagang pasar pagi. Kyungsoo juga harus siap berdesak-desakan dengan para pedagang dan barang bawaannya nanti, sementara ia sudah merasa ingin pingsan.

Dengan langkah tertatih, Kyungsoo berjalan menuju ke tempat duduk di halte tak jauh dari situ, ia sudah tidak kuat berdiri lebih lama lagi. Demamnya makin terasa, membuatnya hampir limbung, dan Kyungsoo merasa cemas. Ia tidak boleh sakit. Ia tidak boleh izin dari pekerjaan karena itu bisa menjadi alasan Suho sajangnim untuk memecatnya.

Mata Kyungsoo mulai berkunang-kunang membuatnya berpegangan pada salah satu tiang halte itu, menyandarkan tubuhnya di sana. Sampai kemudian sebuah tangan yang terasa kuat menyentuh pundaknya, membuat Kyungsoo hampir terloncat karena kaget.

"Kau tampak tidak sehat."

Itu lelaki penyendiri di cafe itu. Tiba-tiba Kyungsoo teringat, ia merogoh-rogoh sakunya dan mengeluarkan selembar uang seratus ribu won berwarna merah yang sudah lecek tidak karuan. Entah berapa ratus kali Kyungsoo tergoda untuk menggunakan uang itu. Kadang ia menaruhnya di pangkuannya dan menatapnya beberap lama, berpikir apa yang akan ia lakukan dengan uang sebanyak itu.

Kyungsoo ingin mencicipi tenderloin steak menu andalan cafe tempatnya bekerja, tetapi kemudian ia mengurungkan niatnya. Harga steak itu sendiri lima puluh ribu won, ia akan menghabiskan setengah uang itu hanya untuk makanan. Lalu Kyungsoo akan memikirkan cara lain, ia membayangkan membeli gaun yang sangat indah di toko baju yang sering dilewatinya kemarin. Tetapi lagi-lagi Kyungsoo membatalkan niatnya, ia masih belum butuh gaun, meskipun dekil dan jelek, gaun-gaunnya masih pantas dipakai. Lagipula Kyungsoo bekerja mengenakan seragam yang disediakan untuk cafe dan ia juga tidak punya teman yang akan mengajaknya keluar-keluar, jadi Kyungsoo tidak membutuhkan gaun yang bagus.

Pada akhirnya, Kyungsoo akan membatalkan semua niatnya untuk menggunakan uang itu dan akan melipat uang itu, lalu meletakkannya dengan hati-hati di saku bajunya. Ia harus mengembalikan uang ini. Kyungsoo tidak mengenal lelaki itu, yang memberinya uang ini. Siapa tahu apa maksud di baliknya? Jangan-jangan nanti lelaki itu kembali dan menagih uang ini atau meminta tubuhnya seperti di film-film itu? Kyungsoo begidik ngeri, jangan sampai ia berakhir dengan menjual tubuhnya. Semiskin apapun Kyungsoo, ia akan menjaga tubuhnya tetap suci, untuk pangeran impiannya nanti yang ia tidak tahu siapa dan sekarang entah berada di mana.

Kyungsoo melewatkan dua malam ini dengan menunggu lelaki penyendiri itu datang dan menghabiskan waktunya di cafe seperti biasanya, tetapi dua malam berlalu dan lelaki itu tidak datang. Untunglah sekarang ia bisa bertemu lelaki itu di sini, jadi ia bisa mengembalikan uangnya.

"Apa?" Lelaki itu menatapnya galak dan menatap uang lecek di telapak tangan Kyungsoo.

"Kau tidak datang ke cafe jadi aku tidak bisa mengembalikannya..." Kyungsoo menahan peningnya, mendongakkan kepalanya menatap lelaki yang berdiri di depannya itu. "Ini uangmu."

"Bukankah sudah kubilang untuk tidak mengembalikannya?"

"Aku tidak mau menerimanya." Kyungsoo menatap lelaki itu dengan tatapan keras kepala, mencoba membantah, tetapi tiba-tiba rasa pening yang amat sangat menerpanya, membuatnya mengerang kesakitan.

"Kau kenapa?" Lelaki itu menyentuh dahinya dan mengernyit. "Astaga, kau panas sekali!"

Itu adalah kata-kata terakhir yang didengar Kyungsoo sebelum ia limbung dan kehilangan kesadarannya.

.

.

"Dia terjangkit flu dan kelelahan. "

Dokter pribadi Jongin menemui Jongin setelah memeriksa perempuan pelayan itu, yang sekarang masih terbaring pingsan di atas ranjangnya, di dalam apartemen mewahnya. Jongin terpaksa membawa perempuan itu ke apartemennya karena dia tidak tahu harus membawanya ke mana.

"Oke, terimakasih dokter." Jongin menjawab sopan dan mengantar dokter itu ke pintu.

Sampai di pintu, dokter itu menghentikan langkahnya sebelum pergi. "Di mana kau menemukan perempuan itu, Jongin?"

Dokter itu sudah mengenal Jongin cukup lama karena ia dulu menjadi dokter keluarga sejak orang tua Jongin masih hidup, karena itu ia menganggap Jongin hampir seperti anaknya sendiri.

"Memangnya kenapa dok?"

Dokter itu menghela napas panjang. "Tubuhnya lemah, jadi daya tahan tubuhnya lemah hingga mudah terjangkit penyakit... dan juga sepertinya dia kurang gizi."

Hati Jongin terenyuh mendengarnya. Pantas saja perempuan itu begitu kurus, ternyata dia kurang makan.

"Dia temanku, sayangnya nasibnya memang tidak beruntung, jangan kuatir dok, aku akan merawatnya." gumam Jongin sambil tersenyum.

Ketika Kyungsoo membuka matanya, ia terperanjat menyadari bahwa dirinya berada dalam kamar yang tidak dikenalnya. Kamar itu indah dan semua barang di dalamnya mahal. Kyungsoo mengernyitkan dahinya bingung, di mana ia? Ingatan terakhirnya adalah bertatapan mata dengan lelaki penyendiri langganan Cafe tempat ia bekerja itu. Setelah itu ia tidak ingat apa-apa lagi.

Kyungsoo menatap sekeliling lagi dengan waspada dan menghembuskan napas lega ketika yakin bahwa ia sendirian di dalam kamar ini. Kamar siapa ini? Apakah lelaki penyendiri itu yang membawanya ke mari?

Kyungsoo melirik tubuhnya dan mendesah lega sekali lagi karena menemukan dirinya berpakaian lengkap di balik selimut tebal yang menutupi tubuhnya. Yah, ia benar-benar demam ternyata, Kyungsoo mendesah kecewa atas ketidakmampuan tubuhnya menahan virus yang menyerangnya. Kepalanya pening dan sekujur tubuhnya terasa nyeri, ia memijit kepalanya, berusaha meredakan rasa seperti berdentam-dentam di sana.

Tiba-tiba saja pintu terbuka, dan refleks, Kyungsoo beringsut menjauh di atas ranjang ketika melihat lelaki penyendiri itu memasuki kamar, dengan nampan berisi air dan teko kaca besar di tangannya.

"Kau sudah bangun rupanya." Jongin meletakkan nampan itu di meja di sebelah ranjang. "Aku terpaksa membawamu ke sini, maafkan, kau pingsan di jalan begitu saja."

Lelaki ini menolongnya. Tiba-tiba saja Kyungsoo merasa malu telah berprasangka buruk kepadanya. "Terimakasih." suaranya serak dan pelan, sepertinya tenggorokannya juga terserang virus karena sekarang terasa panas dan menyakitkan, terutama ketika ia menelan ludahnya.

Jongin menganggukkan kepalanya, lalu mengulurkan tangannya. "Kita belum sempat berkenalan, aku Jongin."

Kyungsoo meragu sejenak. Kenapa lelaki kaya macam Jongin merasa penting untuk berkenalan dengannya? Tetapi ia kemudian membalas uluran tangan Jongin. "Aku Kyungsoo."

"Kyungsoo." Jongin mengulang nama Kyungsoo lambat-lambat lalu tersenyum. "Kau harus minum obatmu, dokter memeriksamu tadi." Lelaki itu mengedikkan bahunya ke arah obat-obat yang diletakkan di meja yang sama dengan nampan berisi gelas air.

Kyungsoo menoleh ke arah obat itu lalu menatap Jongin kembali. "Terimakasih, maafkan aku sudah merepotkanmu."

"Sama sekali tidak repot kok." Jongin menjawab tenang, masih tetap berdiri dan menatap Kyungsoo dengan tatapan mata penuh arti. "Minumlah obatmu dan beristirahatlah."

Mata Kyungsoo melirik ke arah jam dinding. Jam enam. "Apakah itu jam enam pagi, atau jam enam sore?"

Jongin mengikuti arah pandangan Kyungsoo ke jam dinding itu. "Jam enam sore. Dokter menyuntikmu dengan obat dan itu membuatmu tertidur pulas, bagus untuk penyembuhanmu katanya karena kau butuh tidur dan beristirahat untuk pemulihanmu." Jongin memandang sekeliling kamar. "Memang susah membedakan pagi dan malam di kamar ini, kamar ini memang sedikit gelap karena aku menutup jendela dan gordennya, aku pikir kau bisa beristirahat lebih nyaman kalau suasana kamar temaram."

"Oh Astaga." Kyungsoo malahan terlompat dari posisi tidurnya, hampir tidak mendengar kalimat terakhir Jongin, ia mulai panik, melemparkan selimutnya dan berusaha berdiri. "Aku harus masuk kerja, bosku akan memarahiku kalau aku terlambat."

Kyungsoo berusaha berdiri, tetapi kakinya terasa lemah seperti agar-agar dan rasa pening yang amat sangat menyerangnya dengan begitu kuat, membuatnya kembali limbung. Jongin yang berdiri di dekatnya langsung menopangnya.

"Kau ini bodoh atau apa? Kau demam tinggi dan flu berat, bagaimana mungkin kau bisa bekerja dengan kondisi seperti ini? Shift malam pula!" Dengan marah tetapi tetap berusaha lembut, Jongin setengah mendorong Kyungsoo hingga tubuh perempuan itu kembali terbaring di ranjang.

Kyungsoo mengerutkan keningnya, masih merasa panik meskipun di dera pusing yang amat sangat. "Bosku akan memecatku kalau..."

"Shhh.." Jongin menghentikan kalimat Kyungsoo. "Minum obat dan tidurlah, biarkan aku yang mengurus bos-mu. Oke?"

Kyungsoo menahan air matanya karena merasa begitu tidak berdaya. "Oke." Lalu ia membiarkan Jongin membantuya meminum obatnya dan membaringkan tubuhnya di atas ranjang yang nyaman itu, lelaki itu menyelimutinya sebelum melangkah pergi.

Kyungsoo masih merasa panik atas pikiran akan kehilangan pekerjaannya. Suho sajangnim pasti akan marah sekali kalau ia tidak muncul untuk bekerja malam ini. Tetapi kemudian pengaruh obat membelit otaknya, membuatnya mengantuk dan kembali terseret ke alam mimpi.

.

.

Jongin setengah mengutuk dirinya sendiri karena mau-maunya melibatkan dirinya dalam urusan merepotkan menyangkut Kyungsoo. Kenapa ia jadi mengurusi Kyungsoo? Kenapa pula perempuan itu pingsan tepat di depannya?

Jongin mendengus marah, sekalian saja kalau begitu! Perempuan itu telah mengetuk nuraninya, membuat Jongin merasa asing kepada dirinya sendiri. Ia tidak boleh terus-terusan didikte oleh nuraninya, ia harus melakukan sesuatu.

Yang pertama dilakukannya adalah menemui lelaki yang bernama Suho, manager restoran itu. Jongin setengah mengenalnya karena ia langganan cafe ini, dan lelaki pendek pemarah itu selalu memperlakukannya dengan sikap menjilat yang memuakkan.

"Kenapa anda ingin menemui saya, tuan Jongin?" Suho tentu saja tahu kalau Jongin adalah lelaki kaya salah satu penghuni apartemen mewah di area dekat mereka. Pelanggan kaya adalah raja, mereka harus diperlakukan dengan baik.

"Ini menyangkut Kyungsoo."

Kyungsoo? Suho mengernyitkan keningnya. Perempuan pelayan tak becus itu sepertinya terlambat datang lagi malam ini, dasar perempuan tak becus. Suho sebenarnya sudah lama ingin menyingkirkan Kyungsoo, ia selalu menganggap Kyungsoo lemah dan tak kompeten, dan sekarang Kyungsoo menunjukkan betapa pemalasnya dirinya karena terlambat datang lagi.

Kyungsoo pasti ketiduran lagi! Awas saja! Suho sudah memikirkan hukuman berat untuk Kyungsoo, mencuci seluruh piring dan peralatan masak kotor rupanya belum cukup berat bagi Kyungsoo, mungkin ia akan menyuruh Kyungsoo mengepel seluruh lantai cafe dengan tangan dan menggosok seluruh kamar mandi di area cafe. Mata Suho bersinar jahat, membayangkan kepuasan yang diperolehnya dengan menyiksa Kyungsoo.

Jongin menatap sinar jahat di mata Suho dan tiba-tiba merasa marah. Lelaki ini adalah penindas perempuan pelayan cafe itu. Sungguh Kyungsoo pasti tidak akan bisa melawan si jahat ini. Mungkin Jonginlah yang harus membantu Kyungsoo untuk membalas.

"Kyungsoo tidak akan datang lagi." Jongin bergumam dingin, "Dia sekarang bekerja untukku." Tanpa kata lagi, Jongin membalikkan badan dan meninggalkan Suho yang terperangah bingung dengan apa yang dikatakan oleh Jongin.

Kyungsoo terbangun beberapa lama kemudian, dan mengerjapkan matanya. Obat itu seperti obat bius, membuatnya tidurnya amat pulas, tetapi juga membuat tubuhnya agak terasa enak. Ternyata Jongin sudah ada di dalam kamar itu, lelaki itu menatap Kyungsoo dengan tatapan tak terbaca. Apakah lelaki itu benar-benar pergi untuk menemui bosnya?

"Bagaimana bosku?" Kyungsoo bergumam pelan, ia berusaha duduk. "Maafkan aku merepotkanmu, terimakasih sudah merawatku, aku akan pergi sekarang, mungkin bosku masih mau menerima permintaan maafku karena terlambat datang. Sekali lagi terimakasih, aku akan pergi..."

"Kau tidak akan pergi kemana-mana, Kyungsoo."

Suara Jongin tenang dan pelan, tetapi mampu membuat Kyungsoo menghentikan kata-katanya dan menatap Jongin sambil mengernyitkan dahinya.

"Apa maksudmu?" Kyungsoo bertanya, bingung.

Jongin menatap Kyungsoo dalam-dalam. "Kau sudah dipecat dari pekerjaanmu di restoran itu. Bosmu memang jahat dan kau harusnya bersyukur bisa terlepas darinya."

Kyungsoo langsung panik kembali. Ia dipecat? Dipecat? Oh ya Ampun, bagaimana ia bertahan hidup tanpa pekerjaan itu? Bagaimana ia makan nanti? bagaimana ia membayar sewa tempat tinggalnya?

Jongin mengawasi reaksi panik dan cemas Kyungsoo, lalu bergumam. "Tetapi kau tidak perlu cemas memikirkan hidupmu, ada pekerjaan baru untukmu."

"Pekerjaan baru?" Ada secercah harapan di sana, Kyungsoo menatap Jongin penuh harap, mungkin lelaki ini menemukan koneksi baru tempat ia bisa masuk sebagai pelayan? Kyungsoo akan sangat berterimakasih kalau lelaki ini benar-benar melakukannya.

"Ya pekerjaan baru, di sini, sebagai pelayanku." Jongin melemparkan kata-kata itu dengan tenang, seolah menawarkan permen kepada anak kecil, yakin akan disambar secepat kilat.

Hening. Kyungsoo ternganga kaget mendengar perkataan lelaki itu sampai tidak bisa berkata-kata...


BAB 2 IS UP! THANKS FOR REVIEW