CHRUS IN RUSH

(by: Santhy Agatha)

.

.

Kim Jongin & Do Kyungsoo

.

.

Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kris Wu, Jongdae Chen, Kim Suho, etc

.

.

Let's start

.

BAB 3

.

MENJADI pelayan?

Kyungsoo mengerutkan keningnya dan seketika itu juga wajahnya pucat pasi. Menjadi pelayan ini apakah menjadi pelayan seks dari Jongin? Kyungsoo sering melihat kisah-kisah sinetron dan film dimana tokoh wanita yang miskin pura-puranya ditolong oleh lelaki kaya, tetapi kemudian dia disekap dan dijadikan budak seks... Ya Ampun! Kyungsoo harus menyusun rencana melarikan diri dari rumah ini!

Jongin yang melihat perubahan ekspresi Kyungsoo langsung merasa geli. Ia sudah pasti bisa menebak pikiran apa yang lalu lalang di benak Kyungsoo. Ekspresi wajah Kyungsoo yang polos mengungkapkan semuanya karena perempuan itu benar-benar seperti buku yang mudah dibaca. Jongin memutuskan akan menggoda perempuan ini.

"Jadi sebagai pelayanku kau harus berlatih untuk memuaskanku." Jongin tersenyum lebar sampai barisan gigi putihnya yang rapi terlihat, setengah mati menahan geli melihat ekspresi shock dan pucat pasi di wajah Kyungsoo.

"Apa?" Kyungsoo setengah berteriak, panik. Pandangannya mengukur jarak dari kasur ini ke pintu kamar. Bisakah ia melarikan diri dengan cepat tanpa ditangkap oleh Jongin?

Tetapi kemudian Jongin terbahak, membuat Kyungsoo menatap lelaki itu dengan waspada. Kenapa lelaki itu tertawa? Apanya yang lucu? Mata Jongin tampak tajam meskipun masih berlumur rasa geli.

"Sebaiknya kau buang semua pikiran bodoh yang ada di otakmu itu. Aku sama sekali tidak tertarik padamu secara seksual." Matanya menelusuri tubuh Kyungsoo dengan mencemooh. "Kau terlalu kurus, dan bukan termasuk tipeku, jadi kau bisa tenang."

Meskipun merasa tersinggung atas penghinaan terang-terangan dari Jongin itu, Kyungsoo merasa sedikit tenang, setidaknya lelaki itu tidak tertarik padanya, jadi tidak mungkin lelaki itu memperkosanya. Kalau begitu, apakah istilah 'pelayan' yang dipakai oleh Jongin adalah 'pelayan' yang sesungguhnya?

"Aku ingin mempekerjakanmu sebagai pelayan." Jongin mengangkat alisnya. "Pelayan sungguhan yang bersih-bersih rumah dan memasak."

"Apakah kau tidak punya pelayan sebelumnya?" Kyungsoo mengedarkan pandangannya ke kamar tempat ia ditempatkan.

Ini hanya satu kamar, tetapi luasnya mungkin lima kali dari kamar kontrakan Kyungsoo saat ini, belum lagi bagian-bagian lain seperti ruang tamu, dapur dan kamar mandi. Tidak mungkin bukan Jongin membersihkan semuanya sendiri?

"Sudah kupecat." Jongin bergumam enteng, tidak menjelaskan bahwa sebenarnya ia memperoleh jasa kebersihan kamar gratis sebagai pelayanan VIP dari pihak apartemen. Baru saja ia menelepon pihak apartemen dan mengatakan ia tidak membutuhkan pelayanan gratis itu lagi.

"Kau pecat?" Kyungsoo menghela napas. "Kau tidak memecatnya karena aku bukan?"

Tatapan Jongin tampak dingin dan mencemooh. "Jangan besar kepala, mana mungkin aku memecatnya karenamu?"

Pipi Kyungsoo langsung merah padam. Betapa malunya ia, lagipula seharusnya ia sadar kalau Jongin tidak mungkin melakukan itu. Kyungsoo hanya berada di waktu yang tepat di saat Jongin kehilangan pelayannya. Sekarang Kyungsoo kehilangan pekerjaannya, jadi betapa baiknya Jongin karena menawarkan pekerjaan ini padanya.

"Bagaimana? Kau mau mengambil pekerjaan sebagai pelayanku? Aku tinggal sendirian di sini tanpa keluarga, dan tanpa pengurus rumah yang membersihkan apartemen dan memasak aku sedikit kerepotan."

Kyungsoo menatap Jongin, masih ragu. "Jam berapa aku harus datang dan bekerja?"

"Datang dan bekerja? Tidak, kau tinggal di sini, itu akan lebih mudah bagiku."

"Tinggal di sini?" Kyungsoo setengah berteriak. "Tidak! Aku tidak bisa!"

"Kenapa?" Jongin bersedekap dan mengangkat alisnya, "Bukankah sudah biasa seorang pelayan tinggal di rumah majikannya? Jadi dia bisa melaksanakan tugasnya dari pagi sampai malam, memastikan seluruh rumah bersih dan seluruh kebutuhan majikannya terpenuhi. Dan tentu saja aku akan membayarmu dengan harga yang pantas."

Kyungsoo mengerutkan keningnya. Tetapi kebanyakan yang mempekerjakan pelayan yang menginap itu bukanlah seorang bujangan yang tinggal sendirian seperti yang dikatakan oleh Jongin tadi. Bagaimana mungkin Kyungsoo tinggal berdua dengan seorang laki-laki dalam satu rumah tanpa ada orang lain?

"Jangan berpikir yang tidak-tidak." Sekali lagi Jongin bisa membaca apa yang berkecamuk di dalam benak Kyungsoo, "Setiap orang yang melihat aku dan kau tidak akan melihat kita sebagai pasangan, mereka pasti bisa melihat bahwa aku adalah majikan dan kau pelayannya, jadi kau tak perlu cemas akan pandangan orang-orang." Dengan sinis lelaki itu memandang Kyungsoo. "Segera setelah kau bisa jalan, akan kuantar kau ke rumahmu dan mengemasi barang-barangmu."

Kyungsoo tercenung tidak bisa berkata apa-apa tertohok oleh kalimat penghinaan lelaki itu. Dan ketika lelaki itu beranjak pergi dan meninggalkan kamar itu, Kyungsoo berpikir keras tentang hidupnya. Ia terjepit, sekarang ia pengangguran dan tidak punya apa-apa. Tawaran kerja dari Jongin amat sangat dibutuhkannya saat ini dan sangatlah bodoh kalau ia tidak mengambil kesempatan itu. Benaknya berkelana, kalau ia tinggal di sini sebagai pelayan, yang pasti ia bisa menumpang tempat tinggal gratis. Dan Jongin bilang tentang pekerjaan memasak, mungkin saja Kyungsoo bisa menumpang makan. Kyungsoo menghela napas panjang, mungkin semua ini sudah diatur, mungkin ini adalah anugrah baginya, setidaknya Kyungsoo jadi bisa menabung untuk perbaikan hidupnya kelak.

Kyungsoo menguatkan dirinya. Kalau memang Jongin menginginkannya menjadi pelayan, maka Kyungsoo akan berusaha menjadi pelayan yang terbaik, ia akan berusaha sekuat tenaga untuk melakukan pekerjaannya sebaik-baiknya.

.

.

"Jadi kau mengontrak kamar yang sedemikian jauhnya dari cafe tempatmu bekerja?"

Ketika kondisi Kyungsoo sudah baikan, keesokan paginya Jongin menjalankan mobilnya keluar dari tempat parkir apartemen. Ia hendak mengantarkan Kyungsoo dengan mobil hitam besarnya itu ke kamar kontrakannya untuk mengemasi barang-barangnya.

Semula Kyungsoo menolak Jongin mengantarnya dan mengatakan akan menaiki kendaraan umum saja, tetapi Jongin mematahkan pendapatnya dan mengatakan akan lebih praktis kalau dia mengantar Kyungsoo. Dan di sinilah Kyungsoo, duduk dengan gugup di kursi empuk mobil yang terbuat dari kulit asli, merasa takut mengotorinya.

"Kenapa kau tidak memakai sabuk pengamanmu?" Jongin melirik, membelokkan mobilnya menuju ke jalanan.

Kyungsoo menunduk dan melihat sabuk kulit yang terjuntai di bagian atas, ia menariknya kemudian kebingungan. Bagaimana memasang sabuk pengaman ini? Pipinya memerah, merasa sangat malu dan bingung. Jongin pasti menertawakannya dalam hati mungkin mencemooh betapa udiknya Kyungsoo. Tetapi di luar dugaan, Jongin meminggirkan mobilnya.

"Kau belum pernah memakai sabuk pengaman sebelumnya ya." Gumamnya lembut, penuh pengertian, lalu mencondongkan tubuhnya dan membantu memasangkan sabuk pengaman Kyungsoo.

Kyungsoo terdiam dengan pipi merona, menatap rambut tebal Jongin yang tertunduk di dekatnya. Aroma parfum Jongin menyentuh indera penciumannya dengan lembut, begitu maskulin, dan tiba-tiba saja membuat Kyungsoo bergetar. Mungkin Jongin selalu mengejek dan mencemoohnya, tetapi Kyungsoo tahu... lelaki ini adalah penyelamatnya.

.

.

"Jauh sekali."

Entah sudah berapa kali Jongin mengomel sepanjang jalan. Kamar kontrakan Kyungsoo memang benar-benar berada di pinggiran kota, sangat jauh. Jongin membayangkan bagaimana Kyungsoo harus menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk mencapai tempat kerjanya. Hidup perempuan ini benar-benar keras, Jongin membatin tiba-tiba perasaan iba memenuhi nuraninya ketika melirik ke arah tubuh mungil yang sekarang sedang meremas-remas jemarinya sendiri dengan gugup.

"Maafkan aku..." Kyungsoo bergumam lemah, merasa bersalah karena berkali-kali Jongin mengeluh bahwa tempat tinggalnya begitu jauhnya. Lelaki ini pasti sangat jengkel karena harus menempuh kemacetan dan perjalanan panjang hanya untuk mengantarkan Kyungsoo pulang. "Aku memilih tempat di pinggiran kota karena harga sewanya murah. Di sini ada banyak pabrik, yang berarti ada banyak buruh yang membutuhkan tempat tinggal sehingga selalu tersedia kamar murah."

Jongin mengernyitkan keningnya, "Bukankah sama saja kalau ongkos transportnya mahal?"

"Ongkos transportnya tidak mahal, kebetulan ada bus sekali jalan. Aku hanya tinggal berjalan kaki ke ujung sana. "

Kyungsoo menundukkan kepalanya ketika Jongin melemparkan tatapan iba kepadanya, ia tidak mau dikasihani, memang keadaannya pasti terlihat menyedihkan bagi lelaki kaya seperti Jongin. Tetapi inilah hidupnya, inilah yang dijalani Kyungsoo, dan Kyungsoo hidup dengan berjuang untuk masa depannya yang lebih baik. Jongin masih mengernyitkan keningnya, ia sedikit mengerem ketika Kyungsoo bergumam.

"Itu berhenti di situ." Kyungsoo menunjuk ke area parkir di bawah pohon besar, di sekitarnya banyak ruko-ruko dengan berbagai macam usaha. Ada penjual makanan di sana, pangkas rambut laki-laki, apotek dan beberapa yang digunakan seperti kantor.

"Dimana kamar kontrakanmu?"

Kyungsoo menunjuk ke sebuah gang kecil di sebelah kompleks ruko itu, "Harus masuk ke sana, mobil tidak bisa masuk... kau tunggu di sini yah."

"Aku ikut." Jongin membuka pintu mobilnya.

"Jangan!"

Suara Kyungsoo yang setengah berteriak itu membuat gerakan Jongin terhenti, ia menoleh dan menatap Kyungsoo dalam. "Kenapa Jangan?" tanyanya singkat.

Pipi Kyungsoo memerah. " Di sana kotor dan mungkin tidak menyenangkan untuk orang sepertimu."

Lelaki ini akan mengotori sepatu kulit mahalnya yang berkilau, gumam Kyungsoo dalam hati. Belum lagi pakaian lelaki ini yang tampak mahal serta penampilannya yang setengah orang asing pasti akan membuat orang-orang di sekitar tempat tinggal Kyungsoo terpukau. Yang pasti sosok seperti Jongin bukanlah sosok yang cocok untuk berada di sekitar tempat tinggal Kyungsoo karena dia akan tampak berbeda dan terlalu mencolok.

Jongin mengamati Kyungsoo kemudian bergumam keras kepala. "Aku akan mengantarmu. Setidaknya aku bisa membantumu membawakan barang-barangmu, jadi kau tidak perlu bolak-balik."

Lelaki itu memang tidak bisa dibantah, Kyungsoo mendesah dan kemudian menganggukkan kepalanya. Terserah kalau Jongin ingin memaksa masuk, tanggung sendiri akibatnya nanti.

.

.

Jalanan becek sehabis hujan semalam, dan semakin membuat gang sempit tempat masuk ke kamar kontrakan Kyungsoo terasa kumuh. Anak-anak kecil dengan pakaian kumal seadanya tampak bermain-main di tanah, tampak ceria dan seolah tidak terpengaruh oleh keadaan mereka. Kyungsoo berjalan hati-hati melewati rumah-rumah kecil dengan ibu-ibu yang sibuk menjemur kerupuk dalam tampah besar dan beberapa yang lain sedang mencuci pakaian.

Tentu saja kehadiran Jongin yang berjalan di belakang Kyungsoo tampak begitu mencolok, semua mata memandang ke arah Jongin. Beberapa bahkan tak bisa melepaskan pandangannya dari lelaki itu, Kyungsoo tiba-tiba merasa geli melihat seorang ibu yang ternganga dan seakan lupa mengatupkan bibirnya ketika melihat Jongin. Mungkin ibu itu mengira Jongin adalah artis sinetron yang menyasar ke tempat ini. Anak-anak kecil juga tampak tertarik dengan penampilan Jongin, mereka berbisik sambil cekikikan satu sama lain, sambil menyerukan kata 'bule' 'bule' dan menatap Jongin penuh ingin tahu, membuat ekspresi Jongin tampak masam.

Akhirnya mereka tiba di kamar kontrakan Kyungsoo setelah berjalan menembus perkampungan itu. Jongin mengernyit melihat penampilan kamar kontrakan Kyungsoo yang reyot. Ketika Kyungsoo membuka pintu kamar kontrakannya, kerutan di dahi Jongin semakin dalam. Bagian dalamnya bahkan lebih reyot lagi.

Kamar itu bersih, tampak sekali Kyungsoo sangat rapi. Spreinya licin tanpa cacat, semua pakaiannya terlipat rapi di sebuah keranjang kecil di sudut. Dan kamar itu sangat sempit, dengan langit-langit yang rendah, membuat Jongin harus setengah menundukkan kepalanya di sini. Di sebuah sudut di meja kecil samping ranjang, ada sebuah pot bunga kecil yang berwarna ungu yang cantik. Sebuah usaha menyedihkan untuk membuat tampilan kamar ini lebih baik, dan ternyata kurang berhasil karena memang suasana kamar ini sudah tidak dapat diselamatkan.

"Silahkan duduk." Kyungsoo bergumam gugup dan canggung, menyadari bahwa Jongin sedang mengamati kamarnya yang sangat sederhana itu.

Ya ampun, lelaki itu pasti sekarang sedang merasa sangat kasihan kepadanya. Tetapi sekali lagi, Kyungsoo tidak suka dikasihani, meskipun sederhana, Kyungsoo sangat bersyukur dengan tempat tinggalnya ini, setidaknya dia punya tempat untuk pulang setiap malam, tidak kebasahan ketika hujan, dan bisa berlindung untuk beristirahat di malam hari.

Jongin memandang sebuah kursi kayu yang tampak lapuk, lalu mengangkat bahu dan menariknya. Ia duduk dan mengamati Kyungsoo mengambil tas kain besar dari bawah tempat tidur dan mulai mengisinya dengan pakaiannya. Setelah selesai, Kyungsoo mengemas barang-barang lainnya, beberapa buah buku, beberapa kosmetik standar sederhana, dan juga beberapa peralatan makannya, dua buah cangkir dan piring dari bahan melamin berwarna biru.

"Tinggalkan itu." Jongin yang sejak tadi hanya duduk diam dan mengamati kegiatan Kyungsoo tiba-tiba bergumam.

Kyungsoo mendongakkan kepalanya, kegiatannya memasukkan peralatan makan itu berhenti karena perkataan Jongin. "Apa?"

"Peralatan makan itu, kau tidak memerlukannya." Jongin melirik ke arah piring dan gelas melamin milik Kyungsoo.

Demi Tuhan, buat apa Kyungsoo membawanya? di apartemenya penuh dengan peralatan makan kualitas terbaik, piring dan gelas kristal serta sendok garpu dari perak murni memenuhi lemari dapurnya, beberapa bahkan belum pernah dipakai sejak di beli. Sejenak ekspresi Kyungsoo tampak terhina dan ingin membantah. Tetapi lalu perempuan itu menarik napas panjang dan menurut. Diletakkannya peralatan makan itu, lalu berdiri dan menutup resleting tasnya.

"Baiklah, semua sudah siap."

Jongin melirik tas kain Kyungsoo dan menatap takjub. "Hanya itu barangmu?"

Jongin pernah punya kekasih yang memiliki banyak sekali pakaian dengan berbagai warna, parahnya mantan kekasihnya itu bahkan menyesuaikan warna pakaiannya dengan tas dan sepatunya, jadi koleksi tas dan sepatunya sama banyaknya dengan pakaiannya hingga membutuhkan beberapa lemari dan rak khusus. Melihat Kyungsoo yang bisa mengemas pakaiannya hanya dalam satu tas kain berukuran sedang membuat Jongin merasa miris.

"Hanya ini." Kyungsoo melangkah keluar dari kamar itu, dan Jongin mengikutinya. Kyungsoo lalu mengunci pintu kamarnya.

"Tunggu ya, aku akan mengembalikan kunci kamar pada ibu pemilik kontrakan." Kyungsoo menunjuk sebuah rumah yang hampir menempel dengan kamar kontrakannya, ibu kontrakannya pasti akan terkejut karena Kyungsoo keluar tiba-tiba. Tetapi Kyungsoo akan menjelaskan kalau ia mendapatkan pekerjaan baru di luar kota.

"Aku perlu ikut?" Jongin menggumam.

Kyungsoo langsung menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Bisa gawat kalau Jongin ikut, yang ada ibu kontrakannya akan berpikir macam-macam. Mungkin dia akan berpikir kalau Kyungsoo menjual dirinya, mana mungkin ibu kontrakannya akan percaya jika Kyungsoo menjelaskan bahwa Jongin adalah majikannya? Majikan mana yang mau mengantar calon pelayannya sampai ke tempat tinggalnya yang jauh dan kumuh semacam ini.

"Aku akan ke sana sendiri. Tunggu di sini saja ya." Kyungsoo langsung membalikkan badan dan berlari-lari kecil menuju rumah ibu kontrakannya, takut kalau Jongin mengikutinya.

.

.

Dalam perjalanan pulang, ponsel Jongin berbunyi, ia mengernyitkan keningnya ketika melihat itu adalah nomor dari pengacara ayahnya.

"Ada apa?" Jongin langsung menjawab dalam bahasa ayahnya, dengan nada gusar seperti biasa.

Pengacara ayahnya seperti biasanya sudah kebal dengan nada suara Jongin yang tidak menyenangkan itu. "Ayahmu. Beliau ingin bicara langsung denganmu, Saat ini dia menunggu di sebelahku."

"Kenapa dia tidak menghubungiku saja langsung?"

Pengacara ayahnya menarik napas panjang. "Kau tahu kenapa Jongin? Kalau dia menghubungimu langsung, kau tidak akan mengangkatnya."

Jongin mendengus. "Memang. Dan katakan padanya aku tidak tertarik."

"Jongin." Suara pengacara ayahnya terdengar sabar. "Kau harus mendengarkan. Ini menyangkut masalah warisan gelar ayahmu. Beliau sudah mengatur pernikahanmu dengan seorang perempuan dari keluarga bangsawan yang sederajat denganmu."

Kyungsoo hanya bisa mengerti sepatah-patah dari percakapan Jongin dalam bahasa inggris itu. Tetapi ia bisa melihat setelah lawan bicaranya berkata-kata, wajah Jongin tampak sangat geram dan marah. Begitu marahnya sampai nyaris menakutkan.


CHAP 3 IS UP! FEEDBACK PLS?