CRUSH IN RUSH

(by: Santhy Agatha)

.

.

Kim Jongin & Do Kyungsoo

.

.

Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kris Wu, Jongdae Chen, Kim Suho, etc

.

.

Let's start

.

BAB 4

.

KYUNGSOO melirik ke arah Jongin dengan takut-takut, mendadak merasa tidak nyaman berada di dalam mobil itu, apalagi ekspresi Jongin tampak sangat marah, sedikit menakutkan. Lelaki itu mencengkeram kemudi kuat-kuat dan kemudian sedikit mengebut, untunglah mereka ada di jalan tol yang lengang, sehingga mereka sedikit aman. Tetapi walaupun begitu, jantung Kyungsoo serasa berpacu ketika Jongin semakin dalam menginjak gas mobilnya, membuatnya berpegangan pada sabuk pengamannya dan berdoa dalam hati karena ketakutan.

Kalau gaya Jongin menyetir seperti ini, ia tidak akan mau pergi semobil berdua dengan laki-laki itu lagi. Kyungsoo berjanji dalam hati, melirik ekspresi lelaki itu yang sangat gusar. Kenapa Jongin tampak begitu marah? Telepon siapa itu tadi?

.

.

Mereka sampai di apartement Jongin dan lelaki itu masih membisu, membuat suasana tidak enak. Lelaki itu lalu membuka pintu apartemennya dan mempersilahkan Kyungsoo masuk

"Silahkan, anggap seperti rumah sendiri." Jongin bergumam memecah keheningan, ia lalu masuk di belakang Kyungsoo dan membanting tubuhnya di sofa, menyalakan televisi.

Lama kemudian suasana tetap hening sehingga Jongin menoleh ke belakang dan mengangkat alisnya ketika melihat Kyungsoo masih berdiri di sana dengan gugup di dekat pintu sambil meremas-remas jemarinya.

"Kenapa kau masih berdiri di situ?" Jongin tampak terkejut menatap Kyungsoo.

Pipi Kyungsoo merah padam, ia tampak malu "Eh... aku... aku tidak tahu harus kemana..."

Jongin menghela napas panjang menghadapi kepolosan Kyungsoo. Perempuan ini luar biasa polosnya hingga Jongin merasa menjadi serigala yang sedang berusaha menerkam gadis kecil bertudung merah yang tidak tahu apa-apa. Dengan sedikit gusar Jongin berdiri, merasa agak menyesal karena suasana hatinya yang buruk membuat Kyungsoo terkena imbasnya. Ya, telepon pengacaranya tadi benar-benar merusak moodnya. Jongin langsung menutup telepon setelah mengucapkan penolakan yang kasar, tidak memberi kesempatan pengacara ayahnya untuk berbicara.

Dasar lelaki tua yang kurang ajar. Meskipun tahu itu salah, Jongin terus menerus mengutuki ayahnya. Seenaknya saja dia berusaha kembali mengatur kehidupan Jongin setelah dulu dia meninggalkan Jongin dan ibunya, apakah dia pikir Jongin adalah manusia yang tertarik dengan gelar dan harta? Tidak! Lelaki tua itu seharusnya tahu betapa puasnya Jongin karena menolak permintaannya, Jongin bahkan akan sangat senang kalau lelaki itu memohon dan menyembah-nyembahnya dan ia akan tetap menolak permintaan lelaki tua itu dengan puas.

Setelah menghela napas panjang, Jongin menatap Kyungsoo yang tampak kebingungan dengan ekspresinya yang berubah-ubah. Kasihan juga gadis ini. Harinya sudah buruk dan Jongin yakin demamnya masih belum begitu reda, sekarang harus menghadapi emosinya pula.

"Sini, kutunjukkan kamarmu. Sebenarnya ini kamar yang sama yang kau tempati ketika sakit tadi." Walaupun begitu Jongin tidak bisa menahan suaranya yang terdengar ketus. "Lain kali jangan bersikap canggung di sini, kita hanya berdua dan sikap canggungmu membuat suasana tidak enak. Lakukan apa yang kau suka, anggap saja rumah sendiri, kalau kau ingin menonton televisi silahkan, kalau kau ingin membuat makanan silahkan, lakukan apa saja yang kau suka, nanti kita akan membahas beberapa aturan, apa yang boleh dan tidak boleh di rumah ini, tapi sekarang kau boleh beristirahat dulu. Aku juga lelah, mau tidur siang." Sambil terus berbicara, Jongin mendahului Kyungsoo yang terbirit-birit mengikutinya melangkah ke kamar kedua di apartemen yang cukup luas itu.

Jongin membuka pintu kamar itu dan melirik ke arah Kyungsoo, "Masuklah dan istirahatlah dulu, nanti sore kita bicara."

Setelah itu, tanpa melirik sedikitpun pada Kyungsoo, Jongin berlalu.

"Te...terimakasih..." Kyungsoo berseru gugup, entah Jongin mendengarnya atau tidak karena lelaki itu sudah melenggang kembali ke ruang tengah.

.

.

Kyungsoo memasuki kamar itu, kamar yang sama tempatnya di rawat ketika demam. Ia terperangah ketika melihat luasnya kamar itu. Semuanya lengkap, dari ranjang busa yang besar di tengah, lemari berwarna krem yang elegan dan meja rias yang dilengkapi dengan kaca minimalis yang begitu bening. Ada sebuah televisi besar di dinding, televisi layar datar yang hanya pernah Kyungsoo lihat di televisi, dan juga AC... Tentu saja kamar ini ada ACnya, Kyungsoo tersenyum merasa malu karena sadar ia benar-benar kampungan.

Di kamar kontrakannya tidak ada AC, bahkan kipas anginpun tidak ada karena Kyungsoo tidak mampu membelinya. Pernah ia membawa tabungannya yang berhasil disisihkan dari uang makannya, sejumlah tujuh puluh lima ribu rupiah ke sebuah supermarket yang di dalamnya juga menjual barang-barang elektronik. Pada akhirnya Kyungsoo keluar dengan tangan kosong, menggenggam uang tabungannya itu di tangannya. Ketika sudah melihat-lihat berbagai merek kipas angin, ia mendapati bahwa yang termurah, dengan ukuran paling kecil dan merk menengah adalah seharga sembilan puluh ribu rupiah. Ada beberapa dengan merk tidak terkenal masih mematok harga tujuh puluh ribuan. Tetapi bukan hanya harga yang membuat Kyungsoo batal membeli, benaknya tiba-tiba memutuskan bahwa ia bisa bertahan tanpa memakai kipas angin, bahwa uang itu sebaiknya disimpan untuk keperluan lain yang lebih penting, seperti membeli sabun mandi atau shampo dan berbagai keperluan rumahan lainnya. Alhasil Kyungsoo harus melalui lagi malam-malam di panasnya Seoul dengan udara lembab dan lengket, dengan nyamuk yang tak kalah galaknya. Tetapi setidaknya hatinya tenang karena ia masih memegang uang simpanannya sebagai pegangan di kala perlu.

Dan sekarang, melihat AC itu kyungsoo tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya, ia mengucapkan selamat tinggal kepada malam-malamnya yang panas dan penuh keringat. Dengan ingin tahu, Kyungsoo menyalakan AC itu, memejet tombol ON. Kyungsoo tahu cara menyalakan AC karena ia sering menyalakan dan mengatur suhu AC di cafe tempatnya bekerja dulu. Dan kemudian, ketika AC itu menyala, udara sejuk langsung menghembusnya. Membuat senyumnya makin lebar.

Setelah yakin pintu kamarnya tertutup dan Jongin tidak bisa melihatnya, Kyungsoo duduk di ranjang itu, menepuk-nepuknya dan sekali lagi tersenyum senang, ranjangnya empuk. Tidak seperti ranjang lembek dan keras entah dengan usia berapa lama di kamar kontrakannya yang penuh dengan serangga tak terlihat, kadang terasa menggigit kulitnya dan menimbulkan ruam-ruam di kulitnya. Ranjang yang ini pasti tak ada serangganya, pikir Kyungsoo sambil menepuk-nepuknya lagi, dan ranjang ini empuknya luar biasa.

Puas menikmati empuknya ranjang itu, Kyungsoo meraih tas-nya dan mulai berbenah. Di bukanya lemari empat tingkat berwarna krem itu dan mulai memindahkan pakaiannya ke dalam lemari. Ketika selesai, ia tersenyum masam dan merasa malu, keseluruhan pakaiannya bahkan tidak bisa memenuhi satu tingkat yang paling atas di lemari itu, lemari itu jadi tampak kosong dan menyedihkan. Tetapi tidak apa-apa, Kyungsoo tidak malu ia hanya punya sedikit pakaian, setidaknya ia masih bisa berganti pakaian setiap hari dan bersih serta wangi. Biarpun pakaiannya sedikit, Kyungsoo tidak pernah memakai pakaian yang sama selama beberapa hari. Setiap ia memakai baju, ketika mandi, ia selalu mencuci pakaiannya sehingga ketika keesokan harinya pakaiannya sudah kering dan wangi lagi. Untuk menyeterika ia bisa meminjam seterika ibu kontrakannya, dan membayar biaya listriknya dengan sekalian menyeterika cucian ibu kontrakannya yang setumpuk banyaknya, karena ibu kontrakan selain memiliki suami yang berbadan besar, juga memiliki empat anak yang masih kecil-kecil. Bisa dibayangkan Kyungsoo membutuhkan waktu seharian penuh di hari liburnya untuk menyeterika semuanya.

Kyungsoo lalu mengatur kosmetiknya dimeja rias yang besar dan lagi-lagi meja itu tampak kosong dan menyedihkan karena Kyungsoo hanya punya satu bedak tabur, satu lipstick, deodoran dan satu splash cologne murahan yang dibelinya di minimarket, serta satu sisir kecil. Kyungsoo menambahkan sambil tersenyum, kosongnya meja rias itu tidak mengganggunya, malahan membuatnya terkikik geli, menertawakan dirinya sendiri. Ya ampun. Kamar ini begitu bagusnya, terlalu bagus dan sempurna untuk dirinya!

Setelah puas memandang suasana kamarnya yang sejuk, Kyungsoo melongok ke arah kamar mandi. Ada kamar mandi pribadi di dalam kamar ini! Lagi-lagi Kyungsoo membayangkan ketika tinggal di kamar kontrakan dimana ia harus berbagi kamar mandi dengan ibu kontrakan dan keluarganya, serta empat orang penyewa kamar kontrakan lainnya.

Kyungsoo melihat sabun, shampoo yang telah tersedia dalam wadah khusus di dinding, ia menambahkan sikat giginya dan tersenyum bahagia. Sambil bersenandung, Kyungsoo membanting tubuhnya di ranjang matanya tersenyum menatap langit-langit kamar itu. Bahkan langit-langit kamarnyapun indah, hatinya dipenuhi rasa syukur. Alangkah baik hatinya Jongin memberikan tempat tinggal untuknya, tempat seindah ini yang sama sekali tidak dibayangkannya. Kyungsoo berjanji ia akan menjadi pelayan yang terbaik untuk Jongin.

.

.

Ketika terbangun, mata Kyungsoo langsung terarah ke arah jam besar di dinding, ia sedikit terperanjat dan langsung duduk. Rupanya ia ketiduran akibat suasana kamar yang begitu nyaman. Dan sekarang sudah jam lima sore. Astaga... betapa malunya Kyungsoo, ia telah berjanji dalam hati akan menjadi pelayan yang baik, tapi yang dilakukannya malahan tidur begitu lama.

Setengah melompat, Kyungsoo masuk ke kamar mandi, dan mandi. Merasa takjub bahwa air di kamar mandi itu bisa disetel panas ataupun dingin. Setelah selesai, Kyungsoo memakai pakaiannya dan membuka pintu kamar dengan hati-hati.

Suasana tampak lengang, ruangan apartemen remang-remang, dan hanya terdengar suara TV yang sayup-sayup. Kyungsoo melangkah ke ruang tengah dan mendapati Jongin sedang tidur tengkurap di sofa. Lelaki itu telanjang dada, hanya mengenakan celana panjang santai dan tampak sangat lelap. Pipi Kyungsoo memerah ketika mengamati punggung telanjang Jongin yang berotot, ia melangkah dengan sangat hati-hati melewati Jongin dan kemudian melangkah menyeberangi ruang tengah menuju dapur.

Kyungsoo akan memasak makan malam dan membuat teh hangat, setidaknya ketika Jongin bangun, makanan sudah tersedia. Di dapur, Kyungsoo melihat sebuah kulkas besar berwarna hitam, dengan hati-hati Kyungsoo membuka kulkas itu dan sedikit merenung melihat isinya. Jongin rupanya tidak suka memasak. Yah dia kan lelaki bujangan yang tinggal sendirian, buat apa repot-repot memasak kalau bisa membeli atau pesan antar makanan? Kyungsoo melihat bahan makanan yang seadanya di sana. Ada sosis di freezer, dan di kotak sayuran di bagian bawah ada wortel dan brokoli. Kyungsoo memutuskan membuat sup sederhana.

Karena tidak ada kaldu, Kyungsoo merebus sebagian sosis dengan potongan besar hingga airnya berminyak, lalu memasukkan bawang yang sudah ditumisnya dengan mentega ke sana—untunglah Jongin mempunyai beberapa siung bawang putih yang sudah setengah mengering di kulkasnya— Aroma harum langsung tercium ke seluruh penjuru dapur. Kyungsoo lalu memasukkan wortel yang sudah di potong-potongnya, sementara brokolinya akan dimasukkan belakangan setelah air mendidih. Setelah itu, Kyungsoo membumbui supnya dan mencicipinya. Rasanya lumayan, meskipun dengan bumbu dan bahan yang lebih lengkap, sup ini akan terasa lebih enak.

Tidak ada nasi, tetapi ada kentang di kulkas. Kyungsoo memutuskan membuat kentang tumbuk. Beberapa kentang yang sudah dikupas, di kukus sampai empuk, lalu dihancurkan dengan dicampur sedikit garam, krim kental dan susu tawar kental. Selain itu Kyungsoo membuat scramble eggs sebagai lauknya. Dan jadilah masakannya itu. Ketika Air mendidih dan Kyungsoo menyeduh teh, tiba-tiba sosok Jongin sudah berdiri bersandar di ambang pintu dapur.

"Baunya enak."

Kyungsoo memekik, hampir menjatuhkan teko teh-nya. Untunglah ia sigap menahannya, kalau tidak Kyungsoo mungkin harus masuk rumah sakit karena tersiram air panas yang baru mendidih. Dengan gugup Kyungsoo menatap Jongin dan tersenyum.

"Aku memasak dengan bahan seadanya di kulkas, kuharap kau tidak marah karena aku lancang."

Jongin mengangkat bahunya, masih bertelanjang dada dan hanya mengenakan celana santainya yang sedikit melorot di pinggang. Ia tampaknya tidak terganggu dengan pipi Kyungsoo yang memerah karena penampilannya, lelaki itu duduk di kursi tinggi di meja dapur, dan bertopang dagu.

"Sini ambilkan aku makanan, aku lapar."

Kyungsoo langsung mengambil mangkuk dan menyendokkan sup yang masih panas di sana, ia juga mengambil kentang tumbuk di piring bersebelahan dengan scramble eggs yang ia buat. Dengan was-was Kyungsoo mengamati Jongin makan, takut kalau lelaki itu memuntahkan makanannya karena tidak menyukai rasanya. Tetapi yang ditakutkan Kyungsoo tidak terjadi, lelaki itu makan dengan lahap dan cepat, dan ketika di tengah makan, Jongin mengangkat kepalanya dan mengernyit.

"Kenapa kau tidak ikut makan?" Tanyanya.

Kyungsoo meremas-remas kedua tangannya, kebiasaannya jika merasa gugup dan bingung. "Aku... eh... bukankah pelayan tidak makan bersama majikan? Biasanya seperti di sinetron-sinetron, pelayan makan di dapur setelah majikannya makan."

Jongin terkekeh, tawa yang mencairkan wajah dinginnya yang tampan. "Memangnya kau hidup di jaman feodal apa? Lain kali kurangilah nonton sinetron yang penuh intrik palsu itu Kyungsoo, ayo makanlah!"

Karena perintah Jongin terdengar begitu tegas, Kyungsoo akhirnya menyerah dan memutuskan makan bersama Jongin. Ia lalu mengambil makanannya, tak henti-hentinya berucap syukur atas makanan yang tersedia begitu mudah untuknya tanpa perlu mencemaskan hari esok lagi. Dan kemudian melahap makanannya dengan senang, ternyata ia lapar.

Jongin hanya tersenyum menatap Kyungsoo, mereka lalu menyelesaikan makannya dan Jongin melompat berdiri, melirik ke arah teko teh yang sudah disiapkan Kyungsoo. Teh melati yang harum mengepul dengan aroma yang menggoda selera. Jongin sebenarnya lebih memilih kopi. Tetapi sepertinya Kyungsoo harus diajari untuk menggunakan mesin kopi, menggiling bijinya dan menciptakan takaran kopi hitam sesuai seleranya, perempuan itu pasti hanya bisa membuat kopi instan.

"Bawa teh-nya ke ruang tengah, ayo kita bicara sambil minum teh." Gumamnya sambil berlalu.

Dengan segera, Kyungsoo mengambil nampan dan meletakkan teko teh beserta beberapa cangkir di sana, lalu mengikuti Jongin ke ruang tengah. Jongin sudah duduk di sofa, matanya mengarah ke televisi besar yang sedang menayangkan pertandingan basket, ia lalu menatap Kyungsoo yang meletakkan nampan itu di meja, dan berdiri ragu-ragu di sana.

"Duduklah, kau tidak akan duduk di lantai seperti pelayan-pelayan di jaman feodal bukan?" Gumam Jongin ketika lama Kyungsoo tidak juga duduk, dalam hati ia menggeleng-gelengkan kepala. Pantas saja gadis ini ditindas oleh atasannya yang jahat itu, ia benar-benar lemah dan polos.

Kyungsoo duduk di ujung sofa dengan ragu, menatap Jongin yang bersila dengan santai sambil sesekali mengarahkan pandangannya ke televisi.

"Kau mungkin perlu berbelanja, di lantai basement apartement ini ada supermarket yang menjual sayuran dan bahan makanan, kau bisa memenuhi kulkas dengan berbelanja di sana. Belilah apapun yang kau perlukan untuk memasak, aku akan memberimu uang belanja."

Kyungsoo menganggukkan kepalanya, menyimpan rasa kagumnya pada apartemen ini yang bahkan mempunyai fasilitas supermarket di lantai bawahnya. Orang kaya memang selalu dimudahkan dalam segala hal... batinnya.

"Dan kita akan tinggal bersama di sini, aku sebenarnya tidak punya aturan ketat, hanya ada beberapa yang harus dihormati. Pertama, aku tidak begitu suka suara bising, jadi kalau kau mau menyalakan televisi atau apa, atur suaranya supaya tidak berisik. Kedua, aku tidak suka susu putih, kecuali di campur dengan kopi, jadi jangan memberikanku itu. Ketiga aku biasanya bekerja di malam hari, mulai jam sembilan malam, dan karena itu aku membutuhkan tidur yang lama di pagi harinya, biasanya aku bekerja jam sembilan malam sampai jam lima pagi lalu aku akan sarapan dan tidur jam sembilan pagi sampai sore dan aku tidak suka diganggu."

Sampai di situ Kyungsoo mengernyit, berusaha memahami gaya hidup Jongin tetapi tetap saja tidak paham. Lelaki ini seperti vampir, bekerja di malam hari dan tidur ketika ada matahari.

"Kau mendengarkan?" Jongin menegurnya, membuat Kyungsoo tergeragap.

Ketika sudah mendapatkan perhatian Kyungsoo, Jongin melanjutkan, "Sampai di mana tadi? Hmm Oh ya... keempat..."

Tiba-tiba terdengar suara bel di pintu, membuat Jongin mengernyit karena merasa terganggu.

"Siapa yang bertamu tanpa pemberitahuan itu?" gerutunya, melangkah ke arah pintu dan mengintip. Ketika tahu siapa yang berdiri di depan pintunya, Jongin mendesah kesal, tetapi tetap membuka pintunya itu. "Apa yang kau lakukan di sini, Hyung?"

Seorang lelaki yang amat sangat tampan melangkah dengan senyum lebar, memasuki ruangan. Kyungsoo terpesona, karena lelaki itu... sungguh terlalu tampan sampai bisa dikatakan cantik. Ada sesuatu di tangannya, lelaki itu memegang wadah biola dari bahan kulit kaku berwarna cokelat gelap. Lelaki itu pemain biola?

Dan kemudian, Chanyeol masuk menatap Jongin masih dengan senyumannya, tidak mempedulikan tatapan kesal Jongin.

"Aku butuh bantuanmu teman. Ada seorang perempuan yang dijodohkan ibuku untukku dan dia terus memaksa meskipun aku menolaknya mentah-mentah. Ibuku mengatakan karena adikku Irene sudah menikah dengan si brengsek Bogum yang beruntung itu, aku tidak boleh terlalu lama menunda pernikahan. Parahnya... perempuan yang dijodohkan oleh ibuku itu mengejar-ngejarku sampai nyaris menakutkan." Chanyeol mengangkat bahunya, "Jadi aku melarikan diri dari rumah, mengatakan harus menjalani pelatihan intensif yang tidak bisa diganggu, dan sepertinya aku harus merepotkanmu, aku tahu kau punya apartemen tiga kamar dengan dua kamar yang masih kosong, jadi izinkanlah aku menumpang sementara di sini."


BAB 4 IS UP!

Oh ya aku baru sadar kalo judulnya typo haha makasih ya yang udah diingetin :)