CRUSH IN RUSH
(by: Santhy Agatha)
.
.
Kim Jongin & Do Kyungsoo
.
.
Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kris Wu, Jongdae Chen, Kim Suho, etc
.
.
Let's start
.
BAB 5
.
TAMPAN sekali.
Kyungsoo hampir saja tidak bisa menutupi rasa kagumnya akan ketampanan lelaki yang baru masuk itu. Luar biasa. Bahkan ia sebagai perempuan merasa dirinya kalah cantik dibanding lelaki itu. Meskipun wajahnya cantik tetapi tidak ada sikap yang mengarah ke arah feminim sama sekali dari penampilan lelaki yang dipanggil Jongin dengan nama Chanyeol itu. Chanyeol tampak maskulin dan sinar matanya tampak sedikit bandel, seperti anak lelaki kecil yang nakal.
Detik ketika Chanyeol masuk itulah ia menyadari kehadiran Kyungsoo di sana, duduk di sofa ruang tengah, lelaki itu langsung melemparkan pandangan berganti-gani penuh arti ke arah Kyungsoo dan Jongin.
"Ah, maaf, aku tidak tahu kau sedang ada tamu." Chanyeol tersenyum ramah, senyum yang mempesona kepada Kyungsoo. "Jongin biasanya tidak pernah menerima tamu di apartemennya, kecuali tamu yang memaksa seperti aku." Lelaki itu terkekeh sendiri, lalu melangkah mendekat. "Kau pasti perempuan istimewa."
"Jangan ganggu dia, Hyung. Dia pelayanku."
Chanyeol langsung tertegun. Wajahnya tampak tak percaya, ia melemparkan tatapan mencela ke arah Jongin. "Kau memang tidak pandai bercanda. Mana mungkin kau memakai pelayan di rumahmu? Kau dengan kehidupanmu yang introvert itu?"
Chanyeol melemparkan pandangan menyelidik kepada Jongin, menunggu lelaki itu tersenyum dan mengatakan bahwa dirinya sedang bercanda, tetapi ekspresi wajah Jongin sama sekali tidak berubah, membuat Chanyeol akhirnya mengambil kesimpulan.
"Oh astaga, kau tidak sedang bercanda ya?" Jemarinya menunjuk ke arah Kyungsoo, "Gadis ini pelayanmu?"
"Tentu saja." dengan santai Jongin melangkah melalui Chanyeol dan duduk kembali di sofa tempatnya duduk. "Duduklah dan ceritakan pelan-pelan, apa yang terjadi padamu sampai kau harus mengemis tempat tinggal kepadaku? bukankah kau punya apartemen sendiri di tengah kota? Kenapa kau tidak kesana?"
Chanyeol ikut duduk, di dekat Kyungsoo yang terpaku, masih terpesona.
"Mereka akan bisa melacakku kalau aku ke sana, kau tahu, ibu angkatku dan perempuan yang dijodohkan denganku itu sangat gigih mengejarku." Tanpa dipersilahkan, Chanyeol menuang teh di meja dan menyesapnya. "Hmm enak sekali, kau yang buat yah?" Lelaki itu menoleh tiba-tiba ke arah Kyungsoo, membuat Kyungsoo gelagapan.
"Eh... iyaa... saya yang buat."
Sementara itu Jongin menatap ke arah Kyungsoo dan mengernyit. Perempuan itu terpesona tentu saja. Semua perempuan pasti akan terpesona kalau melihat Chanyeol dan ketampanannya yang luar biasa. Tetapi penampilan bisa menipu, di balik sikap ramah dan baik hatinya kepada perempuan, Chanyeol menyimpan racun yang menakutkan. Lelaki itu adalah penghancur perempuan, dalam arti yang sebenarnya. Entah sudah berapa perempuan yang dipermainkannya, diberi harapan, kasih sayang dan perhatian dengan begitu indahnya, lalu dilemparkan dan dibuang dengan kejam. Ya. Chanyeol cukup menakutkan kalau berhubungan dengan perempuan, entah kenapa Jongin berpikir kalau Chanyeol membenci perempuan, tentu saja ibu angkatnya dan adik kesayangannya yang baru dijumpainya setelah sekian lama itu tidak termasuk kategori yang dibencinya.
Sekarang Kyungsoo terpesona dengan Chanyeol, dan Chanyeol secara alami langsung menebarkan pesonanya pada Kyungsoo. Jongin harus menghentikannya segera, sebelum semua berlanjut. Kyungsoo adalah pelayan yang bekerja untuknya, ia harus menjaganya.
"Kau bisa masuk, Kyungsoo." gumam Jongin tiba-tiba.
Kyungsoo merasa lega atas perintah Jongin itu, ia merasa canggung duduk di sofa di tengah percakapan kedua laki-laki yang sepertinya bersahabat itu, dengan cepat ia berdiri dan mengucap salam. "Saya permisi dulu." dengan tak kalah sopan ia mengangguk ke arah Chanyeol kemudian melangkah tergesa meninggalkan ruang tengah itu, masuk ke kamarnya.
.
.
Chanyeol terus mengamati sampai Kyungsoo menghilang dari pandangan, kemudian melemparkan tatapan penuh ingin tahu ke arah Jongin. "Kau? Membawa seorang pelayan untuk tinggal di rumahmu?" Ia masih mengungkapkan pertanyaan yang sama. "Rasanya itu tidak mungkin terjadi Jongin, itu bukan Kim Jongin yang kukenal."
Ya. Jongin yang dikenal Chanyeol adalah seorang penyendiri. Lelaki itu selalu menghabiskan waktunya sendirian dan kebanyakan menutup hatinya dari hubungan apapun. Bahkan Chanyeol sempat ragu meminta pertolongan Jongin agar mau menampungnya sementara, mengingat sikap Jongin yang cenderung introvert itu.
"Aku menolongnya, karena dia butuh pertolongan, sama sekali tidak ada alasan lain." Mata Jongin menyipit. "Dan jika kau memang akan tinggal di sini, kau tidak boleh mengganggunya."
Chanyeol terkekeh mendengar nada ancaman di balik suara Jongin itu. "Oke. Sepakat, aku tidak akan mengganggunya, tetapi aku tidak bisa mencegah kalau dia yang menggangguku." Tawanya malahan makin keras ketika menerima tatapan membunuh yang langsung dilemparkan Jongin kepadanya. "Aku bercanda Jongin, gadis itu aman. Jadi kesimpulannya, kau mengizinkan aku tinggal di sini sementara?"
.
.
Keesokan paginya, Kyungsoo bangun pagi-pagi sekali, ia ingin menyiapkan makanan untuk Jongin, lelaki itu bilang ia bekerja larut malam dan kemudian sarapan dulu di pagi hari sebelum tidur. Ruang tengah tampak terang benderang, dan Jongin sedang duduk, berkutat dengan wajah serius menggambar sesuatu seperti denah atau entahlah, di sebuah meja khusus di sudut ruangan, Kyungsoo mengamati dalam diam dan kemudian menebak-nebak... meja itu adalah meja khusus arsitek.
Jadi, Jongin seorang arsitek?
Rupanya Jongin menyadari keberadaan Kyungsoo, ia menolehkan kepalanya dan mengerutkan keningnya. "Kenapa kau bangun pagi-pagi sekali?" Dilemparkannya pandangannya ke jam dinding, masih jam lima pagi.
Kyungsoo berdiri dengan gugup, "Aku... aku ingin membuat sarapan, kau bilang kau sarapan setiap pagi, baru setelah itu tidur."
"Oh itu." Jongin tidak tega mengatakan kalau ia hanya sarapan roti tawar setiap pagi dan sebenarnya ia bisa menyiapkannya sendiri tanpa Kyungsoo repot-repot. Tetapi ia mempekerjakan Kyungsoo sebagai pelayannya, dan Jongin sendiri harus membiasakan diri untuk dilayani. "Oke... Terimakasih. Ada roti tawar di atas kulkas dan jeruk segar kalau kau ingin membuat jus jeruk. Nanti panggil aku kalau sarapannya sudah siap." Gumamnya kemudian.
Setelah melihat Jongin membalikkan badan dan sibuk kembali dengan pekerjaannya, Kyungsoo melangkah ke dapur, ia melihat roti tawar itu, mengisinya dengan keju dan saus kacang yang sudah tersedia dan memanggangnya.
Jeruk besar berwarna orange cerah itu menarik perhatiannya, Kyungsoo mengambil beberapa buah dan memasukkannya ke juicer. Setelah itu ia mengatur makanan yang sudah siap di meja dapur. Biasanya untuk sarapan, Kyungsoo selalu meminum susu satu gelas, tetapi ia ingat kemarin Jongin bilang ia tidak suka susu, dan sepertinya lelaki itu tidak punya susu di dapurnya.
Setelah makanan siap, Kyungsoo memanggil Jongin dengan canggung dari ambang pintu dapur, dan diberikan jawaban singkat oleh Jongin. Tak lama lelaki itu muncul di dapur, masih dengan pakaiannya yang sama, celana panjang dan tidak berkemeja. Kyungsoo sepertinya harus membiasakan diri dengan penampilan Jongin yang indah ini.
"Terimakasih Kyungsoo." Jongin menyesap jus jeruknya, lalu mengunyah roti bakarnya dengan tenang. Lelaki itu menyelesaikan makannya dengan cepat, lalu menyesap jus jeruknya lagi, setelah itu menguap, "Aku akan tidur. Kau bisa siapkan satu sarapan lagi, Chanyeol hyung untuk sementara akan tinggal di sini. Dan oh ya, uang belanjamu ada di meja."
Kyungsoo tertegun sambil menatap punggung Jongin yang berlalu. Jadi Chanyeol, lelaki yang luar biasa tampan itu juga tinggal di apartemen ini? Kyungsoo sepertinya harus menguatkan hatinya untuk tinggal bersama dua lelaki yang sangat mempesona itu.
.
.
Pintu kamar Jongin masih tertutup rapat ketika giliran Chanyeol yang bangun dari tidurnya. Lelaki itu ternyata tidak pernah tampil berantakan dan tidak pedulian seperti Jongin. Chanyeol keluar kamar sudah mandi dengan aroma harum dan pakaian rapi. Ia melongok ke dapur, ke tempat Kyungsoo sedang mencuci gelas dan piring kopi sisa Jongin.
"Wah aromanya enak." Lelaki itu tersenyum dan duduk di meja dapur, kemudian mencomot satu roti bakar dan memakannya. "Mungkin keputusan Jongin menerima seorang pelayan di rumahnya sungguh tepat, dan aku juga ikut mendapatkan keuntungan." Lelaki itu mengedipkan sebelah matanya menggoda, mau tak mau membuat Kyungsoo tersenyum.
"Semoga anda suka." Gumamnya canggung. "Saya.. eh saya pamit dulu." Setengah tergesa Kyungsoo berjalan hendak keluar pintu dapur.
"Mau kemana?" Suara Chanyeol mencegahnya, lelaki itu mengerutkan keningnya.
"Saya hendak berbelanja bahan makanan di supermarket di basement."
"Aku ikut." Dengan tak terduga Chanyeol berdiri, meneguk gelas jus jeruknya dan tersenyum ke arah Kyungsoo. "Aku bosan di sini, biarkan aku menemanimu berbelanja."
.
.
Berbelanja bersama Chanyeol berarti harus kuat menerima tatapan orang-orang ke arah mereka. Yah, ketampanan Chanyeol terlalu mencolok, hingga membuat semua orang yang berjenis kelamin perempuan hampir pasti menoleh dua kali ke arah mereka. Beberapa orang malahan memandang terang-terangan sambil mengangkat alis ke arah Kyungsoo, seolah-olah mengatakan betapa tidak pantasnya Kyungsoo bersanding di sebelah Chanyeol, dan betapa beruntungnya Kyungsoo karena bisa mendapatkan kesempatan itu.
Chanyeol sendiri tampaknya tidak peduli, lelaki itu sepertinya sudah biasa menerima tatapan kekaguman dari orang-orang, ia menoleh dan tersenyum ke arah Kyungsoo dengan ceria. "Jadi, kita akan masak apa hari ini?"
Kyungsoo mengangkat bahunya. "Saya masih bingung. Saya lupa menanyakan apa yang disukai dan tidak disukai oleh Jongin."
"Hmmm," Chanyeol mengerutkan keningnya. "Kau jangan menggunakan 'saya' dan 'anda' kepadaku, pakailah 'aku' dan 'kau, oke?" Tatapannya menggoda, membuat Kyungsoo mau tak mau menganggukkan kepalanya. "Dan mengenai Jongin sepertinya kau tidak perlu cemas, dia menyukai semua jenis makanan, setahuku yang tidak disukainya hanya susu putih." Chanyeol melirik ke arah rak buah-buahan. "Aku akan mengambil buah pir itu, kau tunggu di sini saja ya," Lelaki itu lalu melangkah sedikit menjauh dari Kyungsoo.
Sementara itu, Kyungsoo langsung berpikir untuk membuat masakan laut, ia akan membeli udang dan cumi lalu membuat masakan bersaus dan lezat. Semoga saja Jongin menyukainya.
"Kyungsoo?" Suara lelaki yang familiar memanggilnya, membuat Kyungsoo menolehkan kepalanya, dan melihat sosok yang dikenalnya berdiri di sana, sedang berbelanja.
"Chen?"
Chen adalah mantan rekan kerjanya di café tempatnya bekerja, lelaki itu satu-satunya rekan kerja yang bersikap baik kepada Kyungsoo.
"Kenapa kau ada di sini?"
Lelaki itu menunjukkan keranjang belanjaannya yang berisi gula dan sirup. "Berbelanja untuk café, stok belanjaan belum datang dan ada beberapa barang yang habis, jadi aku disuruh berbelanja kemari, ini supermarket yang paling dekat dengan café. Kau sendiri, apa yang kau lakukan di sini? Bos bilang kau sudah tidak bekerja lagi di café, aku berusaha mencari tahu tentangmu tapi aku kehilangan jejak, apalagi kau tidak punya ponsel untuk dihubungi."
Kyungsoo menatap Chen dengan tatapan menyesal. "Maafkan aku Chen semua terjadi begitu cepat, tetapi aku baik-baik saja, sekarang aku bekerja sebagai pelayan di sebuah apartemen. Yah, kau tahu mirip pembantu rumah tangga." Senyumnya melebar. "Setidaknya aku dapat tempat tinggal dan makanan gratis."
"Aku senang mendengarnya." Chen menatap Kyungsoo dengan tatapan mata lembut. "Kalau aku ingin bertemu denganmu lagi bagaimana caranya ya?"
Kyungsoo juga tampak bingung, "Aku juga tidak tahu caranya, aku tidak punya ponsel."
"Hmm... Kau bekerja di salah satu apartemen ini?"
"Ya."
"Apartemen nomor berapa? Dengan tahu nomornya setidaknya aku tahu kau ada di mana."
Kyungsoo hendak membuka mulutnya ketika sosok lelaki tampan itu tiba-tiba sudah berdiri di sampingnya, merangkul Kyungsoo dengan akrab.
"Jongin akan sangat marah kalau kau sembarangan memberikan nomor apartemennya ke orang lain." Chanyeol bergumam tiba-tiba, melemparkan senyum manis ke arah Kyungsoo.
Sementara itu Chen berdiri menatap mereka berdua. Kyungsoo dan sosok Chanyeol yang penampilannya sangat luar biasa, lelaki itu terperangah, sekaligus bingung...
