CRUSH IN RUSH
(by: Santhy Agatha)
.
.
Kim Jongin & Do Kyungsoo
.
.
Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kris Wu, Jongdae Chen, Kim Suho, etc
.
.
Let's start
.
BAB 6
CHANYEOL berdiri disana dengan senyum lebarnya dan tatapan mata tidak berdosanya, sama sekali tidak menyadari kalau Chen hampir saja melotot melihat penampilannya. Tentu saja, Kyungsoo yang dikenal oleh Chen pastilah tidak mungkin dekat dengan pria-pria berpenampilan elegan semacam ini. Kyungsoo yang dikenal Chen sangat sederhana lugu dan pemalu, sangat bertolak belakang dengan lelaki tampan itu, yang dengan santainya melingkarkan lengannya di pundak Kyungsoo.
Apakah lelaki ini majikan Kyungsoo yang diceritakan sebagai pemilik apartemen tempat Kyungsoo bekerja? Tetapi seorang majikan mana mungkin merangkulkan lengannya dengan akrab seperti itu? Atau jangan-jangan lelaki ini kekasih baru Kyungsoo? Kalau begitu beruntung sekali Kyungsoo bisa mendapatkan kekasih lelaki yang jelas-jelas berasal dari kalangan atas itu. Tapi kalau begitu kenapa Kyungsoo masih bekerja sebagai pembantu? Kalau memang kekasihnya kaya bukankah Kyungsoo tidak perlu bekerja lagi?
Tiba-tiba pikiran buruk melintas di benak Chen, berpikiran jangan-jangan Kyungsoo berbohong padanya. Kyungsoo pasti tinggal di apartemen itu bukan sebagai pembantu, mungkin dia bekerja sebagai simpanan!
Tiba-tiba Chen merasa sedih dan tak yakin, merasa pedih kalau memang benar Kyungsoo sampai jatuh di jurang kehinaan seperti itu. Yah bagaimanapun juga Chen tahu hidup Kyungsoo begitu pas-pasan sampai kadang Chen merasa kasihan, dan godaan harta pastilah terasa begitu menarik.
.
.
Sementara itu Chanyeol mengamati ekspresi Chen yang berubah-ubah sambil menahan tawa. Ekspresi lelaki itu seperti buku yang terbuka, pertama-tama terlihat tercengang, lalu curiga, lalu marah dan terakhir sepertinya sedih. Chanyeol berani bertaruh bahwa di benak lelaki ini pasti sudah dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang aneh-aneh tentang dirinya dan Kyungsoo.
"Temanmu, Kyung?" Dengan sopan Chanyeol mengulurkan tangannya ke arah Chen, matanya masih tetap menatap Kyungsoo, menunggu jawaban.
Apakah lelaki ini teman biasa Kyungsoo, ataukah kekasihnya? Kalau lelaki ini kekasih Kyungsoo, mau tak mau Chanyeol harus berusaha menjelaskan keadaan sebenarnya kepada lelaki ini dan mengusir seluruh pikiran buruk di benak lelaki ini. Chanyeol terbiasa melakukannya, banyak sekali pria yang cemburu kepadanya. Yah mau bagaimana lagi, keadaannya memang seperti ini, bukan salahnya kalau ia bertampang mempesona bukan?
"Ya ini teman saya." Kyungsoo bergumam cepat, tiba-tiba merasa canggung, apalagi melihat keterkejutan yang begitu nyata di mata Chen karena Chanyeol bersikap akrab kepada Kyungsoo. Kyungsoo tidak tahu kenapa Chanyeol begitu mudah bersikap akrab, mungkin memang sudah wataknya begitu meskipun mereka baru bertemu tadi pagi.
Chanyeol langsung menyela Kyungsoo. "Sudah kubilang jangan menyebut 'saya' dan 'anda'." Gumamnya dalam tawa, lalu mengalihkan kembali tatapannya ke arah Chen yang masih ragu menerima uluran tanganny. "Aku Chanyeol."
Chen menyambut uluran tangan Chanyeol dengan sopan, mencoba tersenyum meskipun tatapan curiga masih tampak di sana. "Saya Chen, teman Kyungsoo di cafe tempat Kyungsoo dulu bekerja, cafe di seberang situ."
Chanyeol tahu cafe itu, ia memang belum pernah kesana, tetapi setiap ia mengunjungi Jongin ia melewatinya, dan Jongin sering bilang kalau dia terbiasa menghabiskan paginya di sana.
"Saya teman majikan Kyungsoo, kebetulan saya bosan, jadi saya menguntit Kyungsoo berbelanja di supermarket." Lelaki itu tersenyum sopan kepada Kyungsoo. "Aku akan naik duluan, mungkin kau ingin bercakap-cakap dengan temanmu itu?"
Chanyeol rupanya berbaik hati, lelaki itu melangkah menjauh, berpura-pura sangat tertarik pada botol-botol bumbu yang tertata rapi di rak. Kyungsoo mengalihkan pandangan ke arah Chen dan tersenyum meminta maaf.
"Aku harus naik dan memasak." Gumamnya lembut, "Mungkin kita bisa bertemu nanti di sini ya... Kalau tidak aku akan ke cafe."
"Aku akan menunggu." Chen menunjukkan belanjaannya. "Dan aku juga harus cepat-cepat kembali. Kabari aku ya kalau kau sudah punya ponsel atau sudah bisa dihubungi."
"Pasti." Kyungsoo tersenyum, menganggukkan kepalanya, lalu melambai ketika Chen menggumamkan ucapan perpisahan dan pergi.
Tiba-tiba saja Chanyeol sudah berdiri di sampingnya lagi, mengamati sosok Chen yang menjauh. "Pacar?" tanyanya lagi, kali ini ada nada menggoda dalam suaranya.
"Bukan, kami bersahabat di tempat kerja yang dulu." Pipi Kyungsoo merah padam.
Tentu saja Chen adalah sahabatnya, Kyungsoo selalu memandang Chen sebagai orang yang baik, tidak pernah sedikitpun terlintas di benak Kyungsoo untuk berpikiran lebih apalagi menyangkut asmara terhadap lelaki itu. Chanyeol melangkah menjajari langkah Kyungsoo menuju kasir, dan kemudian bergumam lembut.
"Hati-hati Kyung, aku laki-laki, dan aku bisa membaca jika ada seorang laki-laki yang memendam cinta. Kalau kau memang tak bisa memberi lebih, jangan pernah memberi harapan kepada mereka."
Setelah berkata begitu, dengan santai Chanyeol melenggang mendahului Kyungsoo melewati kasir dan menunggu di depan supermarket, membuat Kyungsoo mengernyitkan keningnya.
Apa maksud Chanyeol berkata seperti itu? Dan siapa yang dimaksud Chanyeol dengan lelaki yang memendam cinta?
.
.
Apartemen masih tetap sepi ketika mereka pulang, dan kamar Jongin masih tertutup rapat. Ketika melangkah masuk, Chanyeol dan Kyungsoo saling melempar pandang, lalu mengangkat bahu. Yah bagaimanapun juga gaya hidup Jongin yang terbalik dan seperti vampir itu harus dimaklumi. Apalagi dia bosnya, pemilik apartemen ini, Kyungsoolah yang harus menyesuaikan diri dengan gaya hidup Jongin. Hanya saja ia tidak mengira akan ada lelaki lain yang tinggal di sini, dengan gaya hidup yang berbeda pula. Kyungsoo menatap Chanyeol.
"Anda ingin makan siang apa?"
Chanyeol mengangkat bahunya lalu melangkah ke arah kamarnya. "Apa saja, aku pemakan segalanya. Aku akan berlatih dulu ya, panggil aku kalau makanan sudah siap."
Berlatih? Kyungsoo tiba-tiba teringat akan kotak biola dari bahan kulit keras yang dibawa Chanyeol kemarin. Lelaki itu pasti pemain biola. Setelah Chanyeol masuk ke kamarnya, Kyungsoo bergegas ke dapur dan membongkar belanjaannya. Uang belanja yang diberikan oleh Jongin banyak sekali, dan dengan uang itu Kyungsoo bahkan bisa membeli bahan makanan untuk satu minggu. Ia memenuhi kulkas dengan berbagai macam sayur mayur, buah dan berbagai bumbu. Untuk persediaan daging, ikan dan telur, Kyungsoo meletakkannya di tempat khusus di atas.
Setelah selesai mengatur semuanya, Kyungsoo menatap kulkas yang penuh itu sambil tersenyum puas. Ini benar-benar seperti di sinetron-sinetron yang pernah dilihatnya, kulkas yang penuh bahan makanan, tak perlu mencemaskan akan makan apa esok hari.
Sambil bersyukur, Kyungsoo mulai mengambil bahan-bahan masakannya, ia akan menyiapkan makan siang untuk Chanyeol sekaligus menyiapkan makan malam untuk Jongin. Untuk makan siang, ia akan membuat yang ringan saja, karena toh mereka akan makan tanpa Jongin. Kalau makan malam, Kyungsoo akan membuat menu yang sedikit berat karena mereka semua akan makan malam.
Kyungsoo memasak nasi, kemudian memutuskan untuk membuat ayam goreng saus inggris. Bumbunya sangat mudah dan tinggal menyiram ayam yang sudah digoreng renyah dengan saus inggris. Tiba-tiba Kyungsoo merasa sangat bahagia, ia sangat suka memasak. Di panti asuhan dulu, Kyungsoo selalu kebagian tugas mengurusi dapur, memasak makanan untuk anak-anak panti. Mereka semua bilang masakan Kyungsoo enak, dan memasak untuk anak-anak panti bukanlah suatu beban untuk Kyungsoo, ia bahagia melakukannya. Bahkan dulu ia sempat membuat kliping dari berbagai resep masakan yang diambil di tabloid-tabloid langganan ibu panti. Ia akan menggunting setiap resep dengan hati-hati, dan menempelkannya di buku besar yang ia miliki. Buku itu hampir penuh, seluruh isinya adalah resep makanan. Kyungsoo suka membalik-balik kliping buku resep itu, membacanya dengan harapan ia akan bisa mempraktekkannya suatu saat nanti. Tetapi ternyata takdir berkata lain, Kyungsoo harus meninggalkan panti karena hal yang tidak menyenangkan itu, dan ia terpaksa meninggalkan kliping buku resepnya karena terlalu berat untuk dibawanya. Ah... kenangan buruk itu. Dengan cepat Kyungsoo mencoba menghapuskannya. Itu semua masa lalu. Pada akhirnya Tuhan telah begitu baik kepadanya, membuatnya sampai di titik ini.
Kyungsoo menata ayam goreng yang tampak renyah keemasan itu di piring saji, ia lalu mengambil saus yang sudah dibuatnya dengan rempah-rempah dan tentu saja bahan utamanya saus inggris yang harum dan khas, lalu menuang saus itu ke atas ayam. Ayam itu akan menyerap saus itu sampai ke dalam, hingga rasanya khas.
Kyungsoo menatap puas ke arah masakannya, lalu ia menengok nasi nya yang sudah matang. Kyungsoo lalu teringat kalau Chanyeol minta dipanggil kalau masakan sudah siap. Dengan tenang, Kyungsoo melangkah keluar kamar, hendak mengetuk kamar Chanyeol dan memanggilnya.
.
.
"Bawakan aku oleh-oleh yang banyak."
Chanyeol memasang wajah cemberut sambil memandang ke arah layar. Adiknya yang sedang video chat bersamanya kini ada di belahan bumi yang lain, sedang menghabiskan masa bulan madunya bersama suaminya di sana. Wajah Irene, adiknya di sana sedang tertawa. Yah setelah menikah dengan Bogum sahabatnya, Irene makin tampak ceria dan bahagia, Chanyeol sangat beryukur akan hal itu. Kebahagian adiknya membuatnya tenang, dan juga, adiknya telah dijaga oleh sahabatnya yang terbaik.
"Pasti Oppa, kami baru akan pulang minggu depan." Irene menatap ke background gambar Chanyeol yang sedang bercakap-cakap denganny. "Itu bukan kamarmu, kau ada dimana Oppa? Benarkah apa yang dikatakan eomma kalau kau sedang pelatihan musik dan harus dikarantina?"
Chanyeol terkekeh, ibu yang mereka bicarakan ini adalah ibu angkat mereka, meskipun begitu Chanyeol dan Irene sangat menghormati ibu angkat yang ini, lebih daripada ibu kandung mereka yang telah membuang mereka, dan bersikap jahat kepada mereka yang menyebabkan sang ibu kandung dipenjara sampai sekarang.
"Aku melarikan diri dari eomma." Chanyeol tertawa. "Kau tahu sendiri kan, sejak kau menikah, dia mengejar-ngejarku untuk menyusulmu, dia bahkan sudah menyiapkan calon isteri untukku, anak dari nyonya Kang sahabat eomma."
"Dia cantik." Irene tertawa di layar. "Kenapa kau tidak mencobanya Oppa?"
"Karena aku tahu pasti kalau hatinya tidak cantik." Mata Chanyeol tampak dingin. Yah bukankah semua perempuan mau kepadanya karena wajahnya yang tampan dan kekayaannya?
Irene menatap ekspresi Chanyeol dan tiba-tiba merasa sedih menyadari bahwa kakaknya ini belum lepas dari kebencian dan prasangkanya terhadap perempuan. Ibu kandung mereka memang jahat, egois dan tega membuang mereka demi keuntungan pribadinya, tetapi seharunya Chanyeol bisa menyadari bahwa tidak semua perempuan sejahat ibu mereka. Irene tidak sabar menunggu saatnya ada perempuan yang bisa membuat kakaknya tersadar.
Tiba-tiba layar di depan Chanyeol tampak bergoyang, Chanyeol mengerutkan keningnya ketika ada wajah Bogum, suami Irene sekaligus sahabatnya yang muncul di sana.
"Minggir Park Bogum, aku sedang bicara dengan adikku." Gumamnya dengan ketus.
Bogum mengangkat alisnya. "Kau sudah berbicara terlalu lama dengannya. Ini bulan madu kami jadi maaf aku menginterupsi." Mata Bogum bersinar jahil dan penuh tawa. "Bye Chanyeol Hyung." Lalu tiba-tiba saja layar gelap dan Irene sudah log out.
Chanyeol menatap layar komputer dengan kesal, tetapi kemudian merasa geli. Bogum memang sangat posesif kepada Irene dan Chanyeol memang sengaja mengganggu bulan madu mereka dengan sengaja mengajak Irene mengobrol lama-lama.
Lama kemudian, Chanyeol masih menatap layar komputer yang kosong itu. Ia lalu mengehela napas panjang dan berdiri, meraih biolanya. Irene memintanya mencoba memberi kesempatan kepada perempuan. Tetapi Chanyeol tumbuh dengan kebenciannya yang luar biasa kepada perempuan. Ia sangat benci kepada ibu kandungnya, semua perempuan sama saja, semuanya penipu, jahat, licik dan hanya mengincar harta. Perempuan itu iblis, yang menggunakan kekuatan pesonanya untuk menjatuhkan lelaki ke dalam jeratnya sebelum kemudian melemparnya ke penderitaan. Well, bukan semuanya mungkin, adiknya Irene dan ibu angkatnya masuk ke dalam pengecualian.
Chanyeol tidak akan pernah jatuh ke dalam pesona perempuan manapun. Ia akan lebih dulu menyakiti dan menghancurkan perempuan sebelum mahluk itu menghancurkannya. Diraihnya biolanya, dan setelah memejamkan mata dan menghela napas, ia memainkannya. Nada yang keluar adalah nada yang menyanyat sekaligus mengancam, ungkapan kebencian Chanyeol kepada mahluk bernama perempuan di muka bumi ini.
Chanyeol benci sekali, sangat benci!
.
.
Kyungsoo mendengarkan musik itu ketika melangkah ke ruang tengah. Berarti benar dugaannya, Chanyeol sedang berlatih memainkan biola. Langkah Kyungsoo mendekat ke arah kamar Chanyeol, tiba-tiba merasa merinding mendengarkan lagu yang dimainkan di sana.
Ini bukanlah jenis musik romantis yang dimainkan orang di restoran ketika seorang lelaki memutuskan melamar kekasihnya, ini juga bukan musik yang menyayat hati dan penuh kesedihan. Ini lebih seperti... kemarahan...
Kyungsoo mengerutkan keningnya dan melangkah ke arah kamar Chanyeol yang setengah terbuka, musik itu terdengar makin jelas di sana. Dari pintu yang terbuka, Kyungsoo melihat Chanyeol yang sangat serius memainkan biolanya, matanya terpejam dan mulutnya merapat. Dan seperti nada musik yang dimainkannya, ekspresi Chanyeol benar-benar penuh kemarahan, seolah-olah ada bara kemurkaan yang siap meledak di sana.
Kyungsoo jadi ragu untuk mengetuk pintu dan memberitahukan keberadaannya. Ia hanya berdiri mematung di situ, mengamati ekspresi Chanyeol dan musiknya yang semakin bergolak akan kemarahan. Sampai kemudian mata Chanyeol yang indah membuka dan kemudian langsung menatap Kyungsoo dengan tajam.
END?
syepiii sekali ff kaisoo, like this ff :')
oh ya ff ini gak ada yang dipotong kok fix persis aslinya... kalo merasa kepotong pas bagian mana ya?
