CRUSH IN RUSH

(by: Santhy Agatha)

.

.

Kim Jongin & Do Kyungsoo

.

.

Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kris Wu, Jongdae Chen, Kim Suho, etc

.

.

Let's start

.

BAB 7

"SUDAH berapa lama kau di situ?"

Suara Chanyeol bahkan sedingin tatapannya. Tiba-tiba saja Kyungsoo merasa takut. Kenapa Chanyeol yang berdiri di depannya ini sangat berbeda dengan Chanyeol yang ramah, yang tadi pagi berbelanja kepadanya?

"Eh... saya memanggil karena makanan sudah siap." Kyungsoo bergumam gugup bingung menghadapi tatapan mata Chanyeol yang dingin dan penuh kemarahan.

Sebenarnya lelaki itu sedang marah kepada siapa? Kenapa dia memainkan musik seperti itu? Musik yang bergolak yang membuat siapapun yang mendengarkannya pasti tahu bahwa sang pemain biola sedang marah. Tetapi kemudian Chanyeol tampaknya bisa menguasai diri. Kemarahan tampak surut dari matanya, dan dalam sekejap ada senyum di sana. Ekspresi lelaki itu kembali penuh canda dan ramah seperti yang selalu ditampilkannya di depan Kyungsoo sebelumnya,

"Aku perhatikan, kau tetap saja menggunakan 'saya' dan 'anda' kepadaku. Ini sudah ketiga kalinya aku mengingatkanmu." Bibir lelaki itu menipis, "Awas kalau sampai ke empat kalinya, coba ulang kata-katamu dengan menggunakan 'aku dan kau'." Chanyeol mengangkat alisnya dan tampak keras kepala.

Kyungsoo menatap lelaki itu dan menyadari bahwa ia seharusnya memberikan apa yang Chanyeol mau karena sepertinya lelaki itu tidak akan menyerah sebelum mendapatkan keinginannya,

"Aku kemari hendak memberitahumu kalau makanan sudah siap." Gumam Kyungsoo akhirnya dengan canggung, menggunakan 'aku' dan 'kau' seperti yang Chanyeol mau, dan kemudian ia ternyata menciptakan senyum mempesona yang melebar di bibir Chanyeol.

Oh astaga, lelaki ini memang tampan, dan ketampanannya naik berkali-kali lipat kalau dia tersenyum seperti itu. Kalau saja Kyungsoo tidak merasa canggung dan malu, ia pasti sudah memegang ambang pintu dan menarik napas panjang, karena udara seakan tertarik dari paru-parunya, terpesona oleh ketampanan Chanyeol.

"Bagus." Chanyeol tersenyum, lalu melangkah ke pintu dan melewati Kyungsoo. "Ayo kita makan aku lapar!"

.

.

Ketika Kyungsoo mengikuti Chanyeol hendak melangkah ke dapur, pintu kamar Jongin terbuka dan lelaki itu muncul. Acak-acakan karena bangun tidur dan tampak cemberut, matanya menatap marah ke arah Chanyeol.

"Kalau kau memang ingin tinggal di apartemen ini Hyung, seharusnya kau menghormati jam tidurku, aku tidak suka berisik, dan alunan biolamu itu sampai menembus alam mimpiku, memaksaku bangun." Gumamnya tajam.

Chanyeol tampaknya sama sekali tidak terpengaruh dengan kemarahan Jongin, ia malahan tertawa. "Maafkan aku, aku lupa kalau kau sangat sensitif terhadap bunyi-bunyian, dan kau punya mood yang sangat jelek ketika bangun tidur. Aku janji tidak akan memainkan biola di saat kau tidur lagi."

Jongin terdiam, menatap Chanyeol dengan tajam, lalu mengangkat bahunya. "Oke aku pegang kata-katamu." Gumamnya tak kalah tajam, lalu mundur dan setengah membanting pintu kamarnya itu, membuat Chanyeol menatap dengan geli.

Sementara itu Kyungsoo masih terdiam di sana agak bingung. Dua lelaki ini memang bersahabat, tetapi sepertinya mereka bersikap seperti anjing dan kucing. Kyungsoo mengangkat bahu, lalu melangkah ke dapur. Yah... ia kan perempuan, yang pasti ia tidak akan bisa memahani bagaimana persahabatan laki-laki.

.

.

Malamnya, Jongin ikut bergabung bersama mereka untuk makan malam, lelaki itu sudah segar sehabis mandi, dan berpakaian rapi. Syukurlah. Kyungsoo semula ketakutan kalau Jongin akan datang ke ruang makan dengan celana dan bertelanjang dada seperti kemarin.

"Sepertinya mood-mu sudah baik." Chanyeol mengambil sepiring nasi dan memakannya dengan sup daging dan wortel buatan Kyungsoo, caranya makan seolah begitu menikmati, tampaknya ia suka dengan apa yang dimakannya karena tiba-tiba Chanyeol mengangkat matanya dan menatap Kyungsoo—yang dipaksa untuk makan bersama—dengan tatapan puas dan menggoda.

"Enak Kyungsoo, masakan rumahan memang paling enak, bahkan kokiku di rumah tidak bisa membuat makanan seenak ini. Rasanya sederhana tetapi murni, kurasa kokiku tidak bisa membuatnya karena dia terbiasa membuat rumit segala resep demi menunjukkan tekniknya." Sambil menyuap sendok ke mulutnya Chanyeol mengedipkan matanya. "Mungkin aku akan mensabotasemu dari rumah Jongin dan menjadikanmu tukang masak pribadiku."

Pipi Kyungsoo memerah mendengar pujian Chanyeol yang dilemparkan secara langsung itu, ia menatap Chanyeol dengan malu-malu. "Terimakasih." Gumamnya pelan, tiba-tiba merasa berdebar. Mimpi apa ia sehingga bisa makan bersama dengan dua lelaki yang sama-sama tampan ini?"

Jongin menyuap supnya, tetapi matanya menatap ke arah Chanyeol dan kemudian berganti ke arah pipi Kyungsoo yang merah padam. Chanyeol telah menyebarkan rayuannya tentu saja, Lelaki itu memang perayu alami dan Kyungsoo yang polos sepertinya telah tersihir oleh rayuan Chanyeol.

"Jangan termakan rayuan Chanyeol hyung, Kyung." Jongin bergumam lugas, memberi Chanyeol tatapan penuh peringatan. "Aku sarankan kau hati-hati kepadanya, Chanyeol memang perayu ulung yang tidak pandang bulu dan kau harus waspada."

Pipi Kyungsoo makin merah padam mendengarkan saran Jongin itu. Tetapi rupanya Chanyeol malahan tertawa mendengarkan peringatan tentang dirinya yang diucapkan tetap di depan mukanya.

"Aku tidak akan mengganggu Kyungsoo tentu saja." Gumam Chanyeol, mengedipkan sebelah mukanya kepada Kyungsoo. "Kyungsoo dan aku bersahabat, iya kan Soo?"

"Ya." Mau tak mau Kyungsoo menganggukkan kepalanya, meskipun ia tidak tahu bagaimana deskirpsi sahabat menurut Chanyeol, mereka kan baru bertemu tadi pagi?

Jongin mencibir, menyuapkan sup itu ke mulutnya, dan ia kemudian menyadari kata-kata Chanyeol. Sup buatan Kyungsoo memang enak, rasanya ringan tapi penuh aroma. Tidak sia-sia Jongin menjadikan Kyungsoo pelayannya, gumam Jongin dalam hati.

.

.

Ketika Kyungsoo sedang mencuci piring di dapur dan Chanyeol masuk ke kamarnya untuk berlatih biola lagi—mumpung Jongin sedang terbangun, katanya—Jongin berjalan ke arah ruang tengah dan duduk di sana, pekerjaannya hampir beres dan sepertinya akan tiba saat-saat dimana Jongin bisa sedikit bersantai.

Ponselnya berdering lagi, dan Jongin tidak bisa menahankan kemarahannya ketika melihat nomor di sana. Pengacara ayah kandungnya lagi! Kenapa mereka tidak pernah menyerah mengganggunya? Karena tahu bahwa pengacara ayah kandungnya sangat gigih, Jongin akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon itu.

"Kenapa kau tidak berhenti menggangguku?" Ia langsung menyapa dengan kasar, membuat pengacara tua di seberang itu tertegun.

"Aku tidak mengganggumu Jongin, aku hanya ingin menginformasikan kepadamu."

"Menginformasikan apa?" Rasa ingin tahu yang aneh menggelitik benak Jongin,

"Tentang ayahmu." Pengacara ayah kandungnya berdehem. "Sebelumnya aku meminta maaf, selama ini aku berbohong kepadamu..." Suara si pengacara tampak tersendat, "Aku selalu bilang bahwa ayahmu sakit dan sekarat serta menginginkanmu datang, sebenarnya itu hanya taktikku supaya aku bisa membujukmu datang kemari menengok ayahmu. Tetapi ternyata alasan itu tidak bisa meluluhkan hatimu, kau tetap keras dalam pendirianmu." Suara si pengacara tampak menuduh, "Kenyataannya ayahmu sebenarnya sehat, meskipun jantungnya lemah karena usia, ia tidak dalam keadaan sekarat. Dan karena seluruh usahanya untuk membuatmu datang ke London tidak berhasil, beliau memutuskan untuk mengunjungimu ke Korea."

Dasar tua bangka sialan. Jongin mengutuk, langsung mengeluarkan kata-kata kasar dalam benaknya, mengutuk ayah kandungnya dan pengacara liciknya yang sama-sama pembohong besar. Untung Jongin sama sekali tidak termakan oleh kebohongan itu dulu.

"Jadi si tua itu datang ke Korea?" Jongin bergumam sinis. "Apakah dia pikir aku mau menemuinya?"

"Ayah kandungmu sangat keras kepala, dia memutuskan akan datang mengunjungimu dan akan berangkat lusa segera setelah semua surat-suratnya beres. Aku sudah mencegahnya mengingat penyakit jantungnya dan usianya, tetapi dia tidak mendengarkan aku." Pengacara ayahnya menghela napas panjang. "Aku harap kau mau memberikan kesempatan untuk ayahmu, Jongin. Beliau sudah tua dan meskipun tidak sekarat, tetap saja penyakit jantungnya mengkhawatirkan."

"Aku tidak peduli." Jongin meradang lalu menutup ponselnya, memutus pembicaraan dengan kasar.

Punya hak apa pengacara tua itu menyuruhnya mempedulikan kesehatan ayah kandungnya? Kenapa pula ia harus peduli kepada seorang lelaki yang membuangnya begitu saja? Sudah terlambat untuk menginginkannya sekarang. Jongin tidak akan membiarkan ayah kandungnya yang arogan itu mendapatkan apa yang diinginkannya dengan mudah!

.

.

"Aku ingin kau besok siang ikut denganku."

Jongin muncul di ambang pintu dapur, menatap tajam ke arah Kyungsoo yang sedang mengelap meja dapur sampai licin. Kyungsoo ingin semuanya bersih sebelum ia tidur nanti.

"Ikut kemana?" tatapan Kyungsoo tampak bingung, bukankah Jongin biasanya tidur kalau siang?

Jongin tampaknya menyadari pertanyaan di benak Kyungsoo.

"Aku tidak bekerja malam ini, jadi besok siang aku akan bangun. Kau ikut denganku aku akan membawamu." Lelaki itu setengah membalikkan tubuhnya tak peduli.

"Ikut kemana?" Kyungsoo mengulang pertanyaannya, buru-buru sebelum Jongin meninggalkan ruangan itu, kalau sampai tidak mendapatkan jawaban, mungkin Kyungsoo akan tertidur malam ini dengan mata nyalang penasaran.

"Ke butik dan mall." Jongin yang sudah membalikkan tubuhnya menatap Kyungsoo setengah menoleh. "Kita akan berbelanja pakaian untukmu." Dan kemudian Jongin pergi meninggalkan Kyungsoo yang kebingungan.

Berbelanja pakaian? Apakah maksud Jongin seragam pelayan seperti yang ia lihat di buku-buku komik? Tapi apakah perlu memakai seragam? Kyungsoo tak henti-hentinya bertanya-tanya, bahkan sampai ia berbaring tidur di malam harinya.

.

.

Rupanya Jongin serius dengan maksudnya, jam satu siang lelaki itu keluar dari kamarnya dan sudah berpakaian rapi, ia menatap tajam ke arah Kyungsoo yang sedang membersihkan karpet dengan penyedot debu. Sementara itu Chanyeol sedang menonton TV di ruang tengah, lelaki itu menoleh dan mengangkat alisnya melihat penampilan Jongin yang rapi.

"Mau pergi kencan?" godanya cepat.

Jongin menggelengkan kepalanya. "Bukan." Matanya mengarah kepada Kyungsoo. "Kenapa kau belum berganti pakaian?"

Karena Kyungsoo mengira Jongin sudah lupa dengan ajakannya kemarin, atau lelaki itu sedang bercanda... tetapi ternyata lelaki itu serius.

"Sa... saya sedang membersihkan karpet..." jawab Kyungsoo akhirnya.

"Tinggalkan itu, ganti bajumu, kita berangkat sekarang dan cepatlah!" Gumamnya tegas tak terbantahkan, hingga Kyungsoo terbirit-birit meletakkan pembersih debu di tangannya dan melangkah setengah berlari ke kamarnya untuk berganti pakaian.

Sementara itu, Chanyeol yang masih duduk di sofa mengamati seluruh penampilan Jongin yang memilih berdiri, suaranya terdengar serius ketika berbicara, tidak penuh canda seperti yang ditampilkannya di depan Kyungsoo.

"Apa yang sedang kau rencanakan, Jongin?" tanyanya datar dan menyelidik.

Jongin menatap ke arah kamar Kyungsoo yang tertutup rapat dan kemudian menatap Chanyeol tajam. "Itu bukan urusanmu."

Chanyeol mengangkat bahunya. "Memang." Gumamnya, "Apakah ini berhubungan dengan ayah kandungmu?"

Chanyeol tentu saja tahu kisah tentang ayah kandung Jongin. Mereka memang bersahabat dekat karena memiliki kisah yang sama. Kiasah yang sama-sama tragis, mereka sama-sama dibuang oleh salah satu orang tua kandung mereka. Bedanya sekarang ibu kandung Chanyeol yang jahat dan mata duitan telah mendekam di penjara, menerima ganjaran atas perbuatannya. Sedangkan ayah Jongin masih hidup dan seperti kata pengacara ayahnya tadi, masih lumayan sehat dan gigih mengejar apa yang dia mau, menjadi batu sandungan dan ganjalan bagi langkah Jongin.

"Ya." Jongin mengangguk, percuma membohongi Chanyeol, sahabatnya ini punya insting yang kuat. "Lelaki tua itu mau datang kemari."

"Kemari?" Chanyeol mengangkat alisnya. "Dia tidak mudah menyerah ya."

"Dia tidak akan mendapatkan apa yang dia mau, aku tidak akan pernah mengakuinya sebagai ayah di depannya dan membuatnya puas. Bagiku ayahku bukan dia."

"Hati-hati Jongin." Chanyeol bergumam. "Sepertinya ayah kandungmu itu sama keras kepalanya denganmu, kalian sepertinya sama-sama berpegang kuat kepada pendirian kalian masing-masing." Chanyeol lalu melemparkan pandangannya ke arah kamar Kyungsoo. "Dan akan kau gunakan sebagai apa Kyungsoo nanti?"

Jongin tersenyum, senyum yang dalam dan penuh rencana.

"Kyungsoo adalah tamengku. Tameng terbaik yang pernah ada. Alat pembalasan dendam yang paling hebat." Suara Jongin terdengar mantap, bergaung di ruang tengah apartemen itu.