CRUSH IN RUSH
(by: Santhy Agatha)
.
.
Kim Jongin & Do Kyungsoo
.
.
Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kris Wu, Jongdae Chen, Kim Suho, etc
.
.
Let's start
.
BAB 8
"TEGANYA kau memanfaatkan gadis sepolos itu sebagai tameng?" Chanyeol mengernyitkan keningnya. "Dan tameng seperti apa maksudmu?"
Jongin mengangkat alisnya, menatap Chanyeol setengah mencemooh. "Benarkah yang kudengar ini? Seorang Park Chanyeol yang selalu menyakiti hati perempuan tanpa pandang bulu tiba-tiba mencemaskan kepolosan seorang perempuan?"
Chanyeol membalas tatapan mata Jongin dengan serius. "Aku sungguh-sungguh dengan perkataanku Jongin... Kau tahu semua perempuan yang pernah menjadi korbanku, mereka memang pantas mendapatkannya, tetapi Kyungsoo... dia benar-benar perempuan polos yang tidak tahu apa-apa, apapun yang kau rencanakan terhadapnya, kau akan bersikap kejam kepadanya."
Jongin membeku, ia lalu mengangkat bahunya. "Kyungsoo adalah satu-satunya orang yang paling tepat untuk ini."
Chanyeol berdiri, menatap Jongin dengan tatapan tajam, "Terserah Jongin, aku sudah memperingatkanmu. Rasa berdosa itu akan semakin dalam kalau kau memanfaatkan perempuan polos yang tidak tahu apa-apa." Chanyeol lalu melangkah dan meninggalkan Jongin, masuk ke kamarnya, setelah beberapa langkah sampai di depan kamarnya, lelaki itu seolah teringat sesuatu dan menolehkan kepalanya sedikit. "Oh ya, aku lupa mengatakan kepadamu, tadi pagi aku berbelanja dengan Kyungsoo, dan kami bertemu teman Kyungsoo."
"Teman Kyungsoo?" Jongin mengernyitkan keningnya, langsung tertarik.
"Yah, dia bilang dia teman Kyungsoo, salah satu rekan kerjanya di cafe tempat mereka bekerja sebelumnya." Chanyeol menatap Jongin penuh arti. "Tapi aku tahu lelaki itu tidak menganggap Kyungsoo sebagai teman. Dan kalau kau mau menjalankan rencanamu, apapun itu kau harus mempertimbangkan keberadaan orang-orang yang menyukai Kyungsoo lebih dari yang seharusnya."
Chanyeol sepertinya menebak kalau Jongin akan menjadikan Kyungsoo sebagai kekasih pura-puranya. Jongin memang akan melakukan hal yang hampir mirip seperti itu, tetapi tentu saja dengan cara yang jauh berbeda. Ia akan membuat ayah kandungnya pulang ke negaranya dengan bahu terkulai kalah dan sangat sangat kesal.
"Aku akan mempertimbangkannya." Jawab Jongin datar. "Terimakasih, Hyung."
"Dan satu lagi, Kyungsoo tidak punya ponsel. Kasihan sekali di jaman sekarang tidak punya alat komunikasi yang begitu penting. Kau mungkin bisa membelikannya satu."
"Akan kulakukan." Jongin mengangguk, menyadari bahwa hal itu luput dari perhatiannya. Nanti ia akan memastikan kalau Kyungsoo mempunyai ponsel, hal itu memberikan manfaat baginya juga untuk berkomunikasi dengan Kyungsoo kapanpun ia jauh.
.
.
Ketika Kyungsoo keluar dari kamarnya setelah berganti pakaian, Jongin berdiri di sana dan menatap Kyungsoo dari ujung kepala sampai ke ujung kakinya. Tatapannya setengah mencemooh setengah kasihan.
"Kau hanya punya baju ini?"
Lelaki itu mengamati blouse Kyungsoo yang dulunya pasti pernah berwarna putih meskipun sekarang hanya menyisakan warna krem kusam yang tidak jelas. Dan perempuan itu mengenakan rok panjang hitam sebetisnya. Blouse putih dan rok hitam! Demi Tuhan... apakah perempuan ini tidak punya selera berpakaian yang lebih baik? Pakaiannya mengingatkan Jongin pada anak training di toko-toko. Padahal Jongin akan membawa Kyungsoo ke butik kelas atas. Ia sendiri sebenarnya tidak peduli, tetapi ia tahu orang-orang di sana akan mencemooh Kyungsoo, memandang Kyungsoo seperti pertunjukan sirkus mahluk aneh yang salah tempat, dan ia tidak mau Kyungsoo mengalami itu, dipermalukan seperti itu sementara Kyungsoo berjalan di sisinya. Tidak boleh ada orang yang mempermalukan perempuan yang sedang bersama Jongin.
Pipi Kyungsoo sendiri tampak merah padam. Malu. Ia tahu bahwa pakaiannya yang sederhana itu pasti tidak akan cocok dengan selera Jongin, pasti akan membuat lelaki itu malu. Tetapi mau bagaimana lagi, pakaian yang dikenakannya ini adalah pakaian terbaiknya.
"Aku... aku hanya punya pakaian ini." Jawab Kyungsoo menahan malu, sepertinya ia lebih baik mengurung diri di kamarnya saja daripada nanti mempermalukan Jongin. Dengan sangat ia berdoa dalam hati supaya Jongin membatalkan acara keluar mereka.
Tetapi rupanya Jongin punya pikiran lain, lelaki itu menghela napas, tampak kesal, lalu meraih kunci mobilnya di gantungan dan melangkah mendahului Kyungsoo ke pintu.
"Ayo." Gumamnya, membuka pintu dan melangkah pergi, membuat Kyungsoo terbirit-birit mengikutinya.
.
.
Mereka berkendara melalui kawasan elite di pusat kota, dan Jongin tiba-tiba berhenti di sebuah tempat yang dari papan nama di sana, merupakan sebuah butik, butik itu berupa rumah bercat putih dengan gaya Belanda, dikelilingi pepohonan yang rimbun dan suasana yang asri.
"Ayo turun, pemilik butik ini temanku, jadi kita bisa mencari pakaian yang lebih tepat untukmu sebelum kita pergi ke mall dan butik-butik di sana." Jongin membuka pintu dan melangkah memutari mobil, lalu membukakan mobil untuk Kyungsoo dengan sopan.
Mereka lalu berjalan setengah bersisian, dengan Jongin di depan dan Kyungsoo di belakangnya. Mereka memasuki butik elegan bergaya lama itu melalui sebuah pintu putar kuno yang berlapiskan krom dan kaca. Suasana di dalam butik itu sangat elegan, dengan lampu berwarna kuning terang yang menciptakan keindahan tersendiri terhadap pakaian berbagai warna yang digantung di berbagai sudut. Kyungsoo tidak pernah masuk ke tempat seperti ini tentu saja, matanya melahap seluruh sisi dengan penuh ingin tahu, menahan keinginan untuk bergumam "oooh", "waaaah", atau "wooow".
Seseorang keluar dari bagian belakang butik dan bergumam. "Mohon maaf, tidakkah anda melihat tanda di depan pintu? Kami baru buka pukul lima sore..."
Seseorang itu adalah perempuan yang sangat cantik, dengan kaos ketat berwarna biru gemerlap yang menunjukkan keseksiannya tubuhnya yang berkulit seputih susu, berkilauan bagaikan porselen.
"Jongin?" Perempuan itu memekik kesenangan, "Jongin!" lalu perempuan itu menghambur, memeluk Jongin dengan erat, "Kemana saja kau sayangku? Lama sekali kau tidak kemari."
Jongin membalas pelukan perempuan itu dengan canggung. "Aku sangat sibuk dengan pekerjaan akhir-akhir ini." Lelaki itu memundurkan langkah dan dengan halus melepaskan diri dari pelukan perempuan itu. "Bagaimana kabarmu, Baekhyun?"
"Aku baik-baik saja." Baekhyun bergumam ceria sambil mengedipkan sebelah matanya. "Dan aku sangat merindukanmu, Jongin. Dulu kau sering kemari sambil membawa kekasih-kekasih cantikmu itu, jadi karena kau lama tidak kemari, aku pikir mungkin kau sedang tidak berpacaran?" Mata perempuan itu melirik ke arah Kyungsoo yang berdiri gugup di belakang Jongin dan langsung mengangkat alisnya. "Atau kau berpacaran tapi sepertinya sudah merubah seleramu?"
Matanya mengamati Kyungsoo dari ujung kaki ke ujung kepala, membuat Kyungsoo malu setengah mati. Perempuan itu sangat modis dan sangat bergaya, dan sekarang mengamati Kyungsoo dengan secercah rasa kasihan di matanya.
"Di mana kau menemukan gembel kecil ini?" Gumamnya mendekati Kyungsoo, dan kemudian menyentuh pundak Kyungsoo tanpa permisi, lalu membalikkan tubuh Kyungsoo yang sepertinya dianggapnya bagai boneka. Ia mengamati tubuh Kyungsoo dan kemudian menoleh ke arah Jongin lagi. "Kekasih terbarumu?" gumamnya tak percaya.
Jongin terkekeh. "Jangan terlalu mendekatinya Baekhyun, Kyungsoo akan ketakutan kepadamu. Tidak. Dia bukan kekasihku. Tetapi segera, dia akan berperan sebagai kekasihku, dan aku ingin bantuanmu untuk melatihnya."
"Apa?" Baekhyun dan Kyungsoo berseru bersamaan, yang satu bersemangat dan penuh ingin tahu, sementara yang lain kaget luar biasa.
"Ya. Aku ingin kau mengajari Kyungsoo semuanya, seluruh caranya. Aku ingin dia berperan sebagai kekasih yang jalang, mata duitan, pokoknya jenis perempuan yang paling menyebalkan di muka bumi ini." Jongin menatap Baekhyun dan tersenyum manis, "Aku tahu dari pengalamanmu di butik ini, kau banyak pengalaman dengan jenis-jenis perempuan seperti itu."
Baekhyun tertawa, tawa merdu yang enak di dengar, ia menepuk pundak Kyungsoo lembut. "Hai aku Byun Baekhyun, dan sepertinya sahabatku yang tiba-tiba datang setelah sekian lama menghilang ini tanpa tahu malu langsung meminta bantuanku." Sapanya lembut, membuat Kyungsoo tersenyum malu-malu.
Sepertinya memang Baekhyun sering mengucapkan kata-kata cemoohan, tetapi kemudian Kyungsoo menyadari bahwa perempuan itu hanya menggunakan sebagai candaan, tidak ada maksud sama sekali dari Baekhyun untuk merendahkan lawan bicaranya. Mungkin memang gaya bicaranya seperti itu. Tetapi Kyungsoo sendiri masih bingung dengan maksud perkataan Jongin tadi. Apa maksudnya lelaki itu akan menjadikannya kekasihnya, atau berperan sebagai kekasih Jongin tetapi—kalau Kyungsoo tidak salah dengar—harus bisa membawakan peran sebagai perempuan jahat?
"Aku bisa saja melakukannya, Jongin, meskipun tampaknya misi ini begitu berat." Baekhyun menatap Kyungsoo penuh arti, "Tetapi kau harus menjelaskan semuanya kepadaku dari A sampai Z jadi aku tahu apa maksud semua rencanamu ini." Baekhyun lalu memanggil pelayannya yang segera datang dari pintu belakang. "Buatkan minuman untuk kedua tamuku, kita akan bercakap-cakap sebentar."
"Aku akan menjelaskannya kepadamu Baekhyun." Jongin menganggukkan kepalanya setuju, lalu menatap Kyungsoo. "Kyungsoo, kau bisa menunggu di sini? Aku akan bicara dengan Baekhyun sebentar di dalam."
Meskipun merasa sangat ingin tahu hingga mendorongnya memaksa ikut, Kyungsoo tidak berani. Yang biasa ia lakukan hanyalah menganggukkan kepalanya, meskipun benaknya masih didera oleh semua pertanyaan.
"Pelayan akan membawakanmu minuman dan kue, kau boleh melihat-lihat pakaian di sini dan mencobanya, kalau ada yang menarik untukmu bilang saja, aku yakin Jongin dengan senang hati akan membelikannya untukmu." Baekhyun mengedipkan sebelah matanya, lalu dengan genit menggandeng lengan Jongin, dan dua anak manusia itu kemudian masuk ke ruang dalam yang sepertinya bagian kantor dari butik tersebut.
.
.
Kyungsoo menghabiskan beberapa menit dengan hanya berdiri terpaku dan kebingungan harus berbuat apa. Matanya mengamati seluruh ruangan dan mengagumi interiornya yang indah. Mereka seperti berada di rumah-rumah bangsawan eropa dari jaman dahulu kala. Sepertinya memang Baekhyun sengaja membuat nuansa butiknya kuno tetapi elegan. Kursi-kursinya berukir dengan warna cokelat gelap, berpadu dengan tirai merah yang bersemburat emas, tampak sangat kontras dengan tembok yang dicat putih bersih dan atap plafon dengan ukiran indah yang semuanya berwarna putih bersih. Sementara itu di bawah kakinya, karpet mahal yang sangat tebal berwarna cokelat tua tampak sangat berpadu dengan keseluruhan ruangan.
Setelah lama berdiri, Kyungsoo sadar, sepertinya Jongin akan lama di dalam sana. Seorang pelayan muncul dari dalam, membawa nampan, ada teko sepertinya berisi teh dan juga cangkir-cangkir indah bergambar bunga dengan gaya victorian. Lalu ada sepiring kue cokelat yang tampak lezat dengan krim di atasnya. Pelayan itu meletakkan nampan di meja, dan Kyungsoo menyadari ada tatapan kaget di matanya ketika melihat penampilan Kyungsoo yang sangat sederhana, tetapi pelayan itu berhasil menutupinya dengan cepat, dengan sopan dia mempersilahkan Kyungsoo untuk menikmati hidangannya selama menunggu.
Dengan hati-hati Kyungsoo duduk di kursi di samping meja kecil yang telah disediakan, ia menuang teh yang harum itu, dan kemudian menyesapnya pelan-pelan. Enak. Ada rasa pedas yang khas, aroma daun mint yang membuat rasa teh itu istimewa. Kyungsoo lalu mengicipi kue yang sangat menggugah selera itu, dan kemudian mengunyahnya dengan nikmat. Kue itu enak sekali!
Mata Kyungsoo melirik dengan penuh rasa bersalah ke beberapa kue yang masih tersisa di piring, pasti akan sangat memalukan kalau Kyungsoo menghabiskan kue itu. Tetapi kue itu enak sekali. Mata Kyungsoo memandang ke sekeliling, berusaha mengalahkan dorongan untuk menghabiskan kue yang enak itu, demi kesopanan. Akhirnya Kyungsoo berdiri dan dengan hati-hati mendekat ke arah rak gaun-gaun itu.
Jemarinya menyentuh bahan sebuah gaun dari sutera halus yang begitu indah, warna gaun itu hijau yang teduh, dengan bros berwarna perak sebagai aksen di dadanya. Iseng-iseng karena ingin tahu, Kyungsoo melihat price tag yang menempel di gaun itu, dan kemudian membelalakkan matanya kaget. Sepuluh juta won untuk sebuah gaun? Dengan ketakutan, Kyungsoo melangkah mundur dari rak gaun berisi gaun-gaun indah yang digantung. Astaga, harga gaun itu mungkin cukup untuk Kyungsoo hidup beberapa bulan.
Dengan gugup, Kyungsoo duduk lagi di kursinya, ia tidak berani memegang gaun-gaun itu setelah mengetahui harganya. Kalau sampai sentuhan tangannya membuat gaun itu rusak, bisa gawat, karena Kyungsoo tidak mampu menggantinya. Dengan cemas dan penuh rasa ingin tahu, Kyungsoo menatap ke arah pintu kantor tempat Jongin dan Baekhyun menghilang tadi.
.
.
"Itu rencana yang sangat licik Jongin, dan murni kejam." Baekhyun tidak bisa menahan diri mengucapkan kata-kata itu setelah Jongin selesai bercerita, perempuan itu lalu menatap ke arah butik tempat Kyungsoo masih menunggu di sana, "Dan kalaupun aku mau membantumu, dari semua perempuan di dunia ini, kau bisa memilih perempuan yang berpengalaman, dengan sedikit polesan, dia akan lebih mudah dimasukkan dalam rencanamu, dan kenapa kau malahan memilih perempuan lugu, polos dan tidak tahu apa-apa itu?"
Jongin menyandarkan tubuhnya ke kursi dan tersenyum tenang. "Perempuan yang berpengalaman akan berbahaya karena kadang kala mereka memberontak, menginginkan lebih, atau bahkan menggigit balik." Mata Jongin ikut melirik ke arah butik. "Kyungsoo tidak akan mengkhianatiku."
Baekhyun menatap Jongin. Mereka memang bersahabat sejak lama, sejak masa kuliah, Jongin dulu pernah membantu Baekhyun melalui masa-masa sulitnya. Baekhyun pernah jatuh dan hancur, menerima semua cemoohan orang, dan ia kehilangan banyak orang yang semula dikiranya sebagai sahabat baiknya. Hanya Jongin yang tetap disisinya dan mendukungnya, bagi Jongin tidak peduli Baekhyun akan jatuh dan mempermalukan diri seperti apa, mereka berdua tetap bersahabat. Dan kalau Jongin meminta pertolongan kepadanya, bagaimana ia bisa menolaknya?
"Aku akan melakukannya untukmu Jongin, meskipun sepertinya sulit, aku akan mengubah perempuan polos yang ada di depan itu menjadi seperti yang kau inginkan. Mulai besok bawalah dia kesini setiap pagi, kau bisa menjemputnya di sore hari, dan aku akan melatihnya dengan intensif, gaya berjalan, gaya berpakaian bahkan gaya berbicaranya."
Jongin tersenyum puas, "Aku tahu aku akan selalu bisa mengandalkanmu, Baekhyun."
.
.
Jongin dan Baekhyun keluar dari ruangan itu beberapa saat kemudian, dan Kyungsoo langsung berdiri. Baekhyun tersenyum manis kepada Kyungsoo, lalu melemparkan tatapan bertanya kepada Jongin.
"Kalian akan kemana hari ini?"
Jongin mengangkat bahu. "Kami akan ke mall, membeli beberapa gaun dan perlengkapan. Dan tentu saja kami akan berbelanja di butikmu ini Baekhyun." mata Jongin menatap penampilan Kyungsoo, "Dia tidak boleh berjalan-jalan denganku dengan penampilan seperti itu."
"Tentu saja tidak boleh." Baekhyun berseru ceria, lalu menghampiri Kyungsoo dan merangkulnya. "Mari, akan kupilihkan pakaian yang pantas untukmu, kau pasti akan menyukainya."
.
.
Seperti kerbau yang dicocok hidungnya, Kyungsoo menurut saja ketika Baekhyun menyerahkan pakaian untuknya dan menyuruhnya berganti baju. Di dalam ruang ganti, Kyungsoo mengintip kembali price tag baju yang ada di tangannya, dan mengerutkan keningnya. Harganya cukup tinggi untuk sebuah gaun terusan berwarna pink gelap.
Jemari Kyungsoo bergetar ketika mencobanya, tetapi ia berusaha melakukannya. Setelah mengenakan gaun itu, Kyungsoo bercermin dan mengagumi betapa pas gaun itu di tubuhnya, Baekhyun sepertinya punya insting bagus mengenai gaun. Kyungsoo juga mengagumi betapa ringannya bahan gaun itu, menempel di tubuhnya. Tampak pas dan tampak cantik. Ketukan di pintu ruang ganti membuat Kyungsoo sedikit terperanjat.
"Apakah kau sudah selesai di sana?" suara Baekhyun terdengar dari depan pintu.
"Sudah..." Kyungsoo buru-buru membuka pintu ruang ganti itu dan berhadapan dengan Baekhyun.
Baekhyun berdiri di sana dan tampak puas dengan penampilan Kyungsoo, ia membawa sepatu berhak datar berwarna peach gelap yang sangat indah dan meletakkannya di lantai,
"Ini, pakailah ini, gaun itu seharusnya memang dipakai dengan sepatu ini."
Kyungsoo menurutinya dan sekali lagi merasa takjub dengan betapa pasnya sepatu itu di kakinya. Baekhyun menepuk pundak Kyungsoo dan mengedipkan sebelah matanya.
"Bagus. Kau sudah siap untuk berjalan-jalan dengan Jongin."
.
.
Reaksi Jongin melihat penampilan baru Kyungsoo tidak terbaca, lelaki itu hanya mengangkat alisnya, dan kemudian mengamati Kyungsoo dari ujung kepala sampai ujung kaki, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Bagus Baekhyun. Aku ingin kau menyiapkan lagi beberapa gaun, sebanyak mungkin dari koleksimu yang cocok dengan tubuh Kyungsoo, juga sepatunya, dan aksesorisnya. Aku tahu butikmu ini lebih banyak menjual gaun-gaun formal, karena itu aku akan ke mall dan membeli gaun-gaun untuk keperluan lainnya."
"Hati-hati ya." Baekhyun melepas kepergian mereka dalam senyum ramah, "Dan Jongin, jangan lupa membawa Kyungsoo ke salon." Serunya setelah Jongin dan Kyungsoo dekat dengan mobil mereka.
Jongin hanya memnganggukkan kepalanya dan melambai kepada Baekhyun, dengan sopan ia membukakan pintu untuk Kyungsoo dan kemudian memutari mobilnya, duduk di balik kemudi dan menjalankan mobilnya keluar dari butik itu.
Sepanjang jalan mereka terdiam, meskipun Kyungsoo berkali-kali mencuri pandang ke arah Jongin, penuh pertanyaan. Kapan Jongin akan menjelaskan semuanya kepadanya? Jongin sendiri tampaknya menyadari apa yang ada di benak Kyungsoo, ia melirik sedikit dan tersenyum.
"Kau pasti bertanya-tanya ya. Nanti setelah di rumah aku akan menjelaskan semuanya. Sekarang kau ikuti saja aku. Yang pasti kau bisa tenang, aku tidak akan menyakitimu."
Mau tak mau Kyungsoo menganggukkan kepalanya dan kemudian berusaha mengalihkan pembicaraan, kalau tidak ia akan tersiksa akan rasa penasaran yang menderanya ketika harus menunggu Jongin menjelaskan segalanya ketika mereka pulang nanti.
"Butik yang sangat indah, dan Baekhyun... pemiliknya sangat cantik."
Jongin tersenyum simpul. "Tentu saja, Baekhyun sangat cantik, dia sangat menjaga kecantikannya itu setelah dia mendapatkannya hampir lima tahun yang lalu."
Mendapatkan kecantikan? Apa maksud Jongin?
Jongin sendiri terkekeh. "Semoga kau tidak menganggapku mantan pacarnya atau apa, kami bersahabat akrab sejak kuliah arsitek. Tetapi kemudian dia drop out karena mengejar hasrat sebenarnya di bidang desain pakaian, dan terbukti dia tidak sia-sia karena sekarang dia menjadi salah seorang perancang yang sukses dengan butik kelas satu yang sangat diminati." Mata Jongin tampak geli ketika melempar kebenaran itu kepada Kyungsoo. "Jangan tertipu dengan kecantikan dan sikap feminimnya, Kyung. Lima tahun yang lalu, Baekhyun adalah seorang lelaki, sampai kemudian dia memutuskan untuk mengikuti hasratnya untuk menjadi seorang perempuan."
Apa? Kyungsoo ternganga, kaget sekaligus bingung. Astaga, jadi Baekhyun bukanlah perempuan tulen?
Btw aku baru download aplikasi sama bikin akun wattpad lho hihi
Bagi yang punya ataupun sering baca ff di wattpad bisa rekomend-in ff kaisoo GS yang bagus gak? Ketik aja nama author/judul ff-nya :)
Jangan lupa review ya... Fast update tergantung yang reviews ^^
