CRUSH IN RUSH
(by: Santhy Agatha)
.
.
Kim Jongin & Do Kyungsoo
.
.
Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kris Wu, Jongdae Chen, Kim Suho, etc
.
.
Let's start
.
BAB 9
KYUNGSOO benar-benar terkejut dan tak menyangka kalau Baekhyun bukanlah perempuan tulen. Oh ya ampun tiba-tiba saja Kyungsoo merasa malu, bagaimana bisa Baekhyun yang bukan perempuan tulen tampak begitu cantik? Apalagi kalau dibandingkan dengan dirinya...
Jongin sendiri mengamati reaksi Kyungsoo dan tersenyum geli. "Jangan merasa rendah diri, Baekhyun memang selalu berusaha lebih cantik dari perempuan manapun di dunia ini, tapi dia sahabat yang baik dan dia akan membantumu."
"Membantuku?"
"Ya. Akan kujelaskan nanti, yang jelas, beberapa hari ini kau akan sering bertemu dengannya."
Kyungsoo menatap Jongin, tetapi lelaki itu tampaknya sudah menghentikan pembahasan mereka tentang Baekhyun. Pada akhirnya Kyungsoo hanya terdiam, menyimpan pertanyaan dalam benaknya. Nanti. Gumamnya dalam hati, nanti pasti Jongin akan menjelaskan kepadanya. Dan sekarang seperti yang diminta Jongin, Kyungsoo akan menuruti rencana Jongin, ia bertekad menjadi pelayan yang baik untuk Jongin.
.
.
Tanpa disadari oleh Kyungsoo, Jongin beberapa kali melirik penampilan perempuan itu, lalu tidak bisa menahan kepuasan dalam hatinya atas penampilan Kyungsoo. Perempuan itu cantik tentu saja, hanya tidak terpoles. Kecantikannya lugu dan polos, lebih seperti anak kecil yang membuat siapapun ingin melindunginya.
Jongin mengerutkan keningnya, Kenapa ia berpikiran seperti itu? Ingin melindungi Kyungsoo? Lelaki itu langsung berusaha membuang pikirannya dan mencoba fokus. Ia harus tetap pada rencananya semula, ia akan menggunakan Kyungsoo sebagai tameng sekaligus sebagai alat pembalasan dendam kepada ayah kandungnya.
Dengan tenang Jongin membelokkan mobilnya menuju salah satu pusat perbelanjaan terbaru di pusat kota, yang katanya terbesar di Asia. Setelah membantu Kyungsoo turun, Jongin menyerahkan mobilnya kepada petugas valey parkir. Mereka lalu berjalan bersisian memasuki pintu utama pusat perbelanjaan itu.
Jongin melirik Kyungsoo dan sekali lagi tidak bisa menahan senyumnya melihat perempuan polos itu hampir saja ternganga melihat keindahan tempat yang mereka kunjungi. Semuanya memang begitu besar, dari pilar dan tembok-tembok yang sangat tinggi sampai tanaman palem raksasa di dalam pot elegan yang ada di sudut-sudut tertentu.
"Kita ke salon yang itu dulu." Dengan lembut Jongin menghela Kyungsoo dan membawanya ke sebuah salon terkenal.
Jongin jarang ke salon, tetapi ia tahu mana salon yang baik mana yang tidak. Mantan-mantan kekasihnya dulu kebanyakan selalu membicarakan salon-salon langganan mereka, ada yang bilang salon A bagus tapi sayang finishing touchnya jelek, ada yang bilang salon B pelayanannya tidak memuaskan dan sebagainya. Pada akhirnya, Jongin bisa menarik kesimpulan salon mana yang bisa dipercaya untuk mengubah model rambut Kyungsoo.
Oh, sebenarnya tidak ada yang salah dengan model rambut Kyungsoo. Perempuan itu cukup beruntung memiliki rambut yang hitam, sehat, halus dan panjang. Tetapi tidak ada model khusus untuk rambutnya. Hanya panjang dan lurus, dipotong rata. Jongin yakin stylist di salon ini bisa sedikit membuat gaya rambut Kyungsoo lebih modern.
Ketika mereka masuk, salah satu pegawai salon berseragam hitam langsung menyambut mereka dengan ramah, Jongin mengatakan apa maksudnya kepada pegawai itu dan kemudian Kyungsoo dihela masuk ke bagian dalam, sementara Jongin sendiri duduk di ruang tunggu, menunggu hasilnya dengan penasaran.
.
.
"Rambut anda sangat indah, halus dan hitam, sayang potongannya rata, jadi kesannya tipis dan membosankan."
Seorang stylist laki-laki yang agak gemulai menyentuh helaian rambut Kyungsoo dari belakang. Lelaki itu sekarang duduk di kursi tinggi di belakang Kyungsoo yang duduk di kursinya sendiri dan menghadap kaca yang sangat besar. Dengan posisi kaca itu, Kyungsoo bisa menatap mata sang stylist.
"Di salon mana anda dulu memotongnya?"
Tampaknya karena baju Kyungsoo yang mahal dan indah, dan karena Kyungsoo datang bersama seorang lelaki tampan yang sangat elegan, stylist itu mengira Kyungsoo mungkin salah satu pelanggan salon lain yang sekelas dengan salon ini.
Tetapi tentu saja bukan, dengan polos Kyungsoo menjawab, "Saya memotongnya sendiri."
Stlylist itu benar-benar tampak terkejut dengan jawaban Kyungsoo, jemarinya yang sedang memegang rambut Kyungsoo membeku di sana.
"Memotongnya sendiri?" gumamnya memekik ngeri, menatap Kyungsoo dengan tak percaya.
"Ya" Kyungsoo menganggukkan kepalanya mantap.
Memangnya apa yang salah dengan memotong rambutnya sendiri? Rambut Kyungsoo panjang, tentu saja memudahkannya untuk memotong sendiri, ia tinggal menarik rambutnya ke depan, lalu gunting di tangannya pun beraksi, yang penting rambutnya tampak rata dan rapi dari belakang bukan?
"Tidak!" Tiba-tiba saja sang stylist berseru membuat Kyungsoo kaget. "Jangan pernah memotong rambutmu sendiri, cantik. Itu mengerikan untuk dibayangkan." Stylist lelaki itu begidik, "Itu hanya bisa dilakukan oleh orang yang benar-benar ahli, bahkan aku sendiri masih tidak percaya diri melakukannya. Jadi kau harus berjanji tidak akan melakukannya, Oke?"
Kyungsoo menatap mata gemulai stylist itu dari cermin, setengah mengernyit, bingung kenapa masalah seperti itu tampaknya begitu penting bagi si stylist. Tetapi kemudian, Kyungsoo menganggukkan kepalanya untuk memuaskan si stylist.
"Oke" Jawabnya, dan si stylist tampak puas dengan jawabannya.
Senyumnya melebar, jemarinya bergerak lagi dengan ahli di rambut Kyungsoo, sebelum mengayunkan guntingnya, lelaki itu mengedipkan sebelah matanya kepada Kyungsoo,
"Aku akan membuat rambutmu sedemikian cantiknya, penuh tekstur dan tampak penuh. Pacar gantengmu yang di depan itu pasti nanti akan sangat terkejut melihat penampilan barumu."
Yang dimaksud pacar gantengnya pastilah Jongin. Tetapi Jongin bukan pacarnya. Kyungsoo terdiam, menatap kaca, ke arah si stylist yang mulai menggarap rambutnya. Yah sudahlah. Yang penting ia melakukan apa yang diinginkan Jongin. Matanya terus bergerak. Mengawasi gunting itu yang memotong rambutnya helai demi helai.
.
.
Ketika Stylist itu selesai, model rambutnya masih belum kelihatan. Seorang petugas lain membawanya dan mencuci rambutnya dengan shampo yang sangat harum. Setelah itu ia dibawa kembali kepada sang stylist. Lelaki itu sudah siap dengan hair dryer dan sisir di tangannya. Jemarinya yang lentik dan ahli langsung memilah-milah rambut Kyungsoo yang basah, dan kemudian mengoleskan sesuatu yang basah dan lengket di sana.
"Mau diapakan?" Kyungsoo bergumam bingung, takut karena tidak tahu apa yang dilakukan stylist itu ke rambutnya.
Sementara lelaki gemulai itu tersenyum dan menatap Kyungsoo penuh arti. "Aku akan memberikan kilau para rambutmu, jadi ucapkan selamat tinggal pada warna hitam gelap yang membosankan."
.
.
Beberapa saat kemudian, rambutnya selesai. Setelah menunggu beberapa lama, lalu rambutnya dicuci lagi, dikeringkan lagi dan di blow. Kyungsoo menatap takjub kepada rambutnya setengah terpana. Itu dirinya yang sama yang di depan cermin, tetapi amat mengejutkan bahwa perubahan potongan dan warna rambut bisa merubah penampilan seseorang.
Kyungsoo yang ada di sana sangat cantik, rambutnya masih tetap panjang tentu saja, tetapi potongannya bertingkat, membuat volume rambutnya tampak penuh dan segar. Begitu juga warnanya yang sekarang tampak berkilauan sehat.
Astaga... ternyata pekerjaan stylist itu tidak main-main. Kyungsoo merasa seperti artis-artis sinetron yang penampilannya seperti baru keluar dari salon. Tiba-tiba saja ia merasa ingin terkikik sendirian ketika menyadari bahwa ia juga baru keluar dari salon.
"Nah ayo sayang, kau begitu cantik, tunjukkan kecantikanmu kepada kekasih gantengmu di depan itu, dia pasti terpesona setengah mati."
Lelaki gemulai itu menghela Kyungsoo ke depan, tempat Jongin sedang mengerutkan keningnya sambil menatap ponsel yang dibawanya. Lelaki itu menyadari kehadiran Kyungsoo dari batuk sengaja sang stylist sebelum meninggalkan Kyungsoo berdiri sendirian di sana, dan kemudian mendongakkan kepalanya, dan terpana. Beberapa detik Jongin memandang penampilan baru Kyungsoo dalam keheningan, sampai kemudian ia mengerjap dan memasang wajah datar.
"Bagus sekali." Gumamnya tanpa ekspresi, membuat Kyungsoo bingung apakah lelaki itu menyukai penampilan barunya atau tidak.
Jongin lalu beranjak berdiri, dan memberi isyarat pada Kyungsoo supaya mengikutinya, mereka keluar dari salon itu dan melangkah ke arah lain. Kyungsoo berusaha menjajari langkah Jongin dan bertanya.
"Kita akan kemana lagi?"
"Membeli beberapa sepatu, koleksi di butik Baekhyun belum cukup banyak karena memang dia tidak spesifik menjual sepatu. Ayo."
Mereka melangkah beberapa jauh dan kemudian masuk ke sebuah toko sepatu yang begitu elegan, penuh dengan kaca-kaca yang berkilau seakan tembus pandang, memantulkan suasana indah ruangan yang berwarna sampanye berpadu dengan karpet merah tebal yang indah.
"Ada yang bisa saya bantu tuan dan nona?" Pramuniaga langsung menyambut mereka dengan sopan di depan.
Jongin mengedikkan bahunya ke arah Kyungsoo. "Dia butuh sepatu, yang banyak dan terbaru, keluarkan semua koleksi terbaru kalian."
Dan kemudian banyak sekali waktu yang dihabiskan untuk mencoba sepatu-sepatu yang seakan tidak ada habisnya. Jongin akan duduk di sana, meminta Kyungsoo berjalan di depannya, dan ketika tidak merasa cocok, lelaki itu akan berkata tidak, sedangkan ketika merasa cocok, ia akan memberi isyarat kepada pramuniaga yang langsung membawa kotak sepatu itu ke kasir.
Pada akhirnya, Kyungsoo kelelahan mencoba berbagai macam sepatu itu. Oh memang benar, bisa masuk ke toko semewah ini dan memilih sepatu mungkin tidak akan pernah terwujud dalam kehidupan Kyungsoo yang biasa, dan ia bersyukur bisa mengalami pengalaman ini. Tetapi kalau begitu banyak sepatu yang harus dicobanya seperti ini, lama-lama Kyungsoo merasa lelah dan bosan.
Ketika memasang kaitan sepatunya yang entah untuk keberapa kalinya, Kyungsoo mendesah dan mulai merasa ingin melarikan diri dari tempat itu segera. Jongin melihatnya, dan menemukan keengganan di mata Kyungsoo ketika ia meminta perempuan itu mencoba sepatu. Sungguh, Kyungsoo benar-benar berbeda dengan perempuan lain yang pernah bersamanya. Perempuan-perempuan lain pasti akan merasa berada di surga, diajak berbelanja sepatu ataupun pakaian sekian lamanya, yah bagaimanapun Kyungsoo perempuan yang berbeda.
Dengan lembut dan penuh senyum Jongin lalu mendekat berjongkok ke arah Kyungsoo yang duduk di kursi khusus untuk mencoba sepatu, kemudian jemarinya meraih kaitan sepatu Kyungsoo dan memakaikannya. "Lelah ya?"
Sikap Jongin dan jemarinya yang sedang memegang pergelangan kaki Kyungsoo nampak begitu lembut dan penuh perhatian, membuat pipi Kyungsoo memerah karenanya. Kyungsoo pada akhirnya hanya mampu menganggukkkan kepalanya, tidak mampu berkata-kata atas sikap lembut Jongin.
Jongin tersenyum dan menghela napas panjang. "Kalau begitu, setelah ini kita pulang saja, aku rasa masih banyak waktu untuk berbelanja yang lain."
.
.
Ketika mereka pulang, hari sudah beranjak malam. Kyungsoo melihat Chanyeol sedang duduk di sofa ruang tengah dan menonton televisi sambil menyantap sesuatu yang seperti mie instan. Tiba-tiba saja Kyungsoo merasa bersalah karena tadi tidak sempat memasakkan makan malam.
"Kalian sudah pulang rupanya." Chanyeol mengalihkan pandangannya dari mie yang sedang dimakannya, dan menoleh. Matanya melebar ketika melihat Kyungsoo, lalu lelaki tampan itu tersenyum penuh arti. "Kau tampak cantik sekali dengan potongan rambut baru dan gaun manismu itu, Kyung." Serunya memuji, membuat pipi Kyungsoo merona.
Jongin menoleh, menatap pipi Kyungsoo yang memerah, kemudian ia melemparkan tatapan penuh peringatan kepada Chanyeol. "Jangan ganggu dia Hyung, dia milikku."
Mungkin maksud Jongin adalah Kyungsoo pelayan miliknya. Tetapi entah bagaimana kalimat yang diucapkan secara lugas itu membuat jantung Kyungsoo berdebar. Sementara itu Chanyeol mengamati reaksi Jongin dengan geli, lalu bergumam setengah mengejek.
"Mulai posesif, Kim Jongin?"
Kata-katanya itu membuat wajah Jongin merah padam, lelaki itu menghela Kyungsoo lembut, berusaha tidak mempedulikan Chanyeol.
"Ganti dengan pakaian rumahan dan kita akan bicara." Jongin selalu mengucapkan perintahnya dengan begitu tegasnya, membuat Kyungsoo langsung terbirit-birit ke kamar untuk menurutinya.
Sepeninggal Kyungsoo, Chanyeol menatap Jongin dengan pandangan menyelidik. "Kau membawa Kyungsoo ke Baekhyun ya?" Chanyeol tampak tidak suka, membuat Jongin merasa aneh.
Chanyeol selalu bersikap sebagai pembenci perempuan, tetapi ternyata dia juga membenci mahluk yang bertingkah laku sebagai perempuan, entah karena Chanyeol paranoid atau memang dia berpandangan konservatif.
"Aku tidak suka nada suaramu, Hyung. Bagaimanapun juga Baekhyun sahabatku."
Chanyeol tersenyum. "Oke.. oke. Kenapa kau ini bung? Dari awal kau masuk rumah ini, sikapmu seperti akan menyerangku."
Jongin tertegun dan kemudian menghela napas panjang ketika menyadari kebenaran kata-kata Chanyeol. Entah kenapa ia seperti ingin menyerang Chanyeol, apalagi setelah Chanyeol memuji Kyungsoo dengan terang-terangan, rasanya Jongin tidak rela. Ia mengacak rambutnya dengan frustrasi, apakah benar kata Chanyeol tadi? Bahwa ia memendam rasa posesif dan bahkan cemburu kepada Kyungsoo?
"Maafkan aku." Gumam Jongin kemudian, "Kurasa aku hanya sedikit lelah." Jongin menyusul duduk di sofa, dan kemudian menuang jus jeruk dari teko dingin yang ada di meja, meneguknya dengan haus.
"Tapi kuarasa itu sepadan." Gumam Chanyeol dalam senyuman. "Dia berubah cantik sekali, seperti puteri dalam kisah dongeng cinderella."
Lagi. Jongin merasakan sengatan rasa itu lagi, perasaan tidak suka ketika Chanyeol memuji Kyungsoo dengan terang-terangan. Ada apa dengannya ini? Jongin tidak sempat menelaah perasaannya karena Kyungsoo sudah keluar dari kamar, berjalan canggung setengah takut ke arah mereka, itu menjadi catatan bagi Jongin karena nanti, kalau mereka harus berhadapan dengan ayah kandungnya yang licik itu, Kyungsoo harus bersikap percaya diri dan pemberani di depannya.
"Duduklah." Jongin menggeser duduknya, lalu menatap Chanyeol dengan galak. "Aku ingin bicara empat mata dengan Kyungsoo, akankah kau tetap di sini?"
Pengusiran terang-terangan Jongin itu ternyata sama sekali tidak menyinggung Chanyeol, lelaki itu malah tertawa, membawa mangkok mienya tanpa kata dan melangkah pergi dari ruang tengah itu. Lalu hening. Jongin tampak sedang berusaha menyusun kata-kata sementara Kyungsoo menunggu.
Lalu Jongin berdehem, "Aku punya ayah kandung di London. Ayah kandung yang jahat. Dulu dia mengusir ibuku dalam kondisi hamil dan tak bertanggung jawab, ibuku pulang ke Korea, menanggung malu dan cemoohan karena mengandung anak haram, mengandung aku." Jongin langsung membuka penjelasannya dengan kalimat pahit itu, membuat Kyungsoo terkesiap dan merasa iba.
Rasa ibanya itu mungkin terpancar jelas di matanya karena Jongin menatapnya garang.
"Jangan mengasihani aku, sedikitpun aku tidak pernah menyesal karena ayah kandungku membuangku jauh-jauh." Lelaki itu menghela napas marah, "Dan itulah yang kuinginkan sampai saat ini, jauh-jauh dari lelaki munafik dan jahat itu. Sayangnya dia tak tahu malu dan punya pemikiran lain, ayah kandungku mulai datang dan merecokiku, menggunakan kebohongan bahwa dia sekarat dan sakit keras dan mengira dengan begitu bisa meluluhkan hatiku dan membuatku mau menemuinya. Tentu saja cara itu tidak berhasil kepadaku. Dia tidak pernah ada dalam kehidupanku, lalu kenapa aku harus mencemaskan kesehatannya?"
Kyungsoo menghela napas mendengar perkataan retoris itu, ia bingung harus berkata apa. "Mungkin... mungkin ayahmu menyesal dan ingin berbaikan denganmu? Bagaimanapun juga kau adalah anaknya."
"Lelaki jahat itu tidak akan pernah menyesal." Jongin membantah dengan sinis, "Dia hanya menginginkan pewaris seluruh kekayaannya, baginya kekayaannya hanya boleh diwariskan kepada orang yang mempunyai darah ningrat yang dimilikinya." Jongin tersenyum sinis. "Aku sudah menolaknya, bagiku harta darinya adalah sampah, tetapi ayah kandungku tidak tahu malu, dia bahkan merencanakan pernikahan untukku dengan gadis berdarah bangsawan, demi menjaga kemurnian darah keturunannya. Tentu saja aku menolaknya mentah-mentah." Jongin tampak semakin marah, "Dan kemudian dia mengatakan akan datang ke Korea, untuk membujuk dan memaksa aku melakukan apa yang dia mau."
"Beliau akan datang ke Korea?" Kyungsoo terkejut, tak menyangka ayah kandung Jongin ini akan bertindak sejauh itu.
"Ya. Karena dia lelaki arogan pemaksa yang tidak akan menyerah sebelum mendapatkan kemauannya." Mata Jongin menatap Kyungsoo dalam-dalam. "Dan karena itulah aku membutuhkanmu, Kyungsoo."
Jadi ia akan berperan sebagai apa? Kyungsoo jadi teringat akan betapa banyaknya pakaian, sepatu dan berbagai macam hal lainnya yang diberikan Jongin kepadanya. Dari kata-kata laki-laki itu di salon, semua untuk memberikan Kyungsoo peran sebagai perempuan jahat. Apakah semua ini untuk ayah kandungnya?
"Aku ingin kau berperan sebagai kekasihku, terang-terangan di hadapan ayahku. Tetapi kau harus bersikap bukan sebagai kekasih yang baik-baik. Aku sudah menyelidiki ayah kandungku, aku tahu seperti apa wataknya, dia sangat menjunjung darah ningratnya. Mengetahui aku tergila-gila kepada perempuan yang tidak jelas asal-usulnya, yang baginya tidak sederajat dan jelas-jelas perempuan yang hanya mengincar hartaku akan membuatnya gila." Jongin terkekeh. "Pada akhirnya dia akan pulang dengan kekalahan yang menyakitkan."
Kyungsoo menatap Jongin dan tiba-tiba merasa sedih. Ia tidak punya ayah. Dan dulu ketika di panti asuhan, betapa dulu ia sangat menginginkan memiliki keluarga, memiliki ayah yang menyayanginya. Dan sekarang di depannya, ada seorang lelaki yang masih memiliki ayah kandung, tetapi memikirkannya dengan penuh dendam. Tetapi Kyungsoo tidak bisa menyalahkan Jongin, lelaki itu mengetahui masa lalunya dengan pedih dan menumbuhkan kebencian di dadanya sejak lama, lagi pula sepertinya ayah kandung Jongin memang kejam karena membuang ibu Jongin yang sedang mengandung darah dagingnya sendiri. Dan kemudian tiba-tiba ketika dia membutuhkan Jongin, dengan arogannya lelaki itu ingin mendekati Jongin kembali. Setelah memikirkan segalanya, Kyungsoo bisa memaklumi apa yang ada di benak Jongin.
Lelaki itu mengamati ekspresi Kyungsoo dan kemudian tersenyum. "Aku ingin kau berlatih dengan Baekhyun, selama beberapa hari ini, dia akan mengajarimu bagaimana menjadi perempuan penggoda. Meskipun bukan perempuan tulen, Baekhyun punya banyak pengalaman dengan perempuan-perempuan semacam itu, jadi dia bisa mengajarimu." Jongin terkekeh, kemudian menatap Kyungsoo dengan tatapan serius. "Aku akan memberikan gaji tambahan untuk tugasmu ini Kyungsoo, jadi kau tidak perlu cemas, yang aku minta adalah kau melakukan pekerjaanmu ini dengan sebaik-baiknya."
Kyungsoo terpekur kebingungan. Sebenarnya ia tidak membutuhkan gaji tambahan lagi. Apa yang diberikan Jongin kepadanya saat ini sudah lebih dari cukup. Makanan setiap hari, tempat bernaung yang luar biasa indahnya. Kyungsoo tidak ingin meminta apa-apa lagi, yang ia inginkan adalah membantu Jongin sekuatnya. Lelaki itu adalah penolongnya dan Kyungsoo akan melakukan apa saja untuk membalas budi.
Terimakasih buat yang review kemarin
Chapter ini adakah yang terpesona sama sifat manis Kim Jongin pada Kyungsoo? Atau justru salpok sama karakter Baekhyun? :D
