CRUSH IN RUSH

(by: Santhy Agatha)

.

.

Kim Jongin & Do Kyungsoo

.

.

Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kris Wu, Jongdae Chen, Kim Suho, etc

.

.

Let's start

.

BAB 10

HARI masih pagi ketika Kyungsoo bangun dan menyiapkan sarapan, kamar Chanyeol dan Jongin masih tertutup rapat. Kalau Jongin, Kyungsoo sudah maklum karena lelaki itu selalu menggunakan waktu paginya untuk tidur karena semalaman hampir tidak tidur. Tetapi rupanya Chanyeol juga bangun kesiangan pagi ini. Kyungsoo mengernyitkan keningnya karena tidak biasanya Chanyeol kesiangan.

Setiap hari lelaki itu selalu bangun pagi, sudah mandi dan rapi dengan aroma segar yang menyenangkan lalu duduk di meja dapur, makan sarapannya bersama Kyungsoo. Sudah hampir dua minggu berlalu sejak Chanyeol datang untuk tinggal di apartemen ini. Dan dalam dua minggu itu, banyak sekali kejadian, dan perubahan, terutama bagi Kyungsoo.

Selama dua minggu kemarin, Jongin selalu bangun pagi sarapan bersama Kyungsoo dan Chanyeol, kemudian dia mengantar Kyungsoo ke tempat Baekhyun, di sana Kyungsoo menghabiskan waktunya seharian. Semula Kyungsoo agak canggung ketika berduaan dengan Baekhyun, apalagi Kyungsoo mengetahui bahwa Baekhyun dulunya laki-laki sebelum berubah menjadi perempuan. Tetapi Baekhyun memang memiliki sifat yang sangat ramah dan baik.

Setiap hari ketika Kyungsoo datang, Baekhyun akan membuat seteko teh mint yang harum dan sepiring kue cokelat yang baru keluar dari panggangan, kemudian mengajak Kyungsoo mengobrol dan mencairkan suasana. Dari mengobrol itulah Baekhyun megajarkan banyak hal kepada Kyungsoo, semua pengetahuannya tentang dunia fashion ditularkannya, tak lupa dia mengajari cara berjalan, table manner di acara makan malam resmi, cara berbicara, dan bahkan cara memadu padankan pakaian supaya tampil cantik.

Baekhyun selalu menekankan bahwa ia harus berperan sebagai wanita penggoda nanti ketika ayah kandung Jongin sudah muncul. Pipi Kyungsoo selalu merona merah ketika Baekhyun mengatakan bahwa Kyungsoo harus melemparkan tatapan sensual penuh ajakan kepada Jongin setiap saat, juga senyuman nakal, bibir yang merekah penuh godaan.

Baekhyun memang sudah mengajari Kyungsoo semua caranya, dan Kyungsoo menyerapnya, juga belajar sendiri di cermin, memonyong-monyongkan bibirnya, atau bahkan mencoba mengedip-ngedip genit kepada bayangannya sendiri di depan cermin, yang membuatnya tertawa sendiri di kamar.

Bagaimanapun juga, Kyungsoo masih tidak mampu membayangkan bagaimana caranya ia melakukan itu semua pada Jongin. Pipinya selalu merona dan wajahnya terasa panas kalau membayangkan akan mengedip genit kepada Jongin, atau menyapukan jemarinya sambil menatap sensual penuh ajakan kepada Jongin. Ah, Ya ampun, bagaimana mungkin ia melakukannya?

Kyungsoo menyiapkan sarapan itu dengan pipi memerah. Kemudian pikirannya berkelana lagi, Baekhyun sudah menyerahkan Kyungsoo kepada Jongin kemarin, dan mengatakan bahwa Kyungsoo sudah siap. Yah mungkin secara teori Kyungsoo sudah siap, tetapi prakteknya nanti? Entahlah. Yang pasti Kyungsoo akan berusaha sebaik mungkin, ia tidak ingin mengecewakan Jongin yang sudah berharap banyak kepadanya.

Cara berpakaian Kyungsoo pun sudah berubah, tiba-tiba saja lemari pakaiannya sudah penuh dengan pakaian-pakaian mahal dari butik ternama. Ada rak sepatu khusus yang dibelikan oleh Jongin untuk menampung koleksi sepatunya yang tiada duanya, belum lagi susunan aksesoris, tas dan semua perhiasan yang diberikan Jongin kepadanya.

Lelaki itu benar-benar boros dan membuang-buang uang. Kyungsoo berpikir akan dikemanakan semua barang itu kalau semua sandiwara ini sudah selesai. Tentu saja semua barang ini hanya pinjaman dan bukan untuk Kyungsoo bukan?

Karena itulah Kyungsoo sangat berhat-hati memakai semua barang itu, berusaha supaya nanti ketika barang itu dikembalikan, kondisinya masih bagus dan sempurna. Kyungsoo benar-benar berhati-hati apalagi mengingat betapa mahalnya harga barang-barang itu.

Pagi ini Kyungsoo mengenakan gaun satu potong yang ringan dan elegan, bahannya sifon dengan warna ungu lavender yang lembut dan menjuntai sampai ke tengah betisnya. Tampak sangat indah dipakai olehnya, membuat tubuhnya yang mungil tampak berisi. Baekhyun bilang Kyungsoo terlalu kurus dan harus menambah berat badannya, dan sepertinya selama dua minggu ini, Kyungsoo berhasil menambah berat badannya beberapa kilo sehingga bagian-bagian yang seharusnya terisi penuh, mulai terisi dengan indahnya.

Kadangkala Kyungsoo masih sering terpaku menatap dirinya di cermin dan tidak mengenali dirinya sendiri. Lalu ia tersenyum dan kemudian mengucap syukur kepada Tuhan atas kesempatan yang diberikan kepadanya. Bahkan sekarang Kyungsoo memiliki ponsel. Jongin membelikan Kyungsoo ponsel canggih dengan fitur-fitur yang Kyungsoo sendiri tidak tahu cara memakainya, sementara nomor di ponsel itu hanya menyimpan nomor telepon Jongin saja, meskipun kemudian Kyungsoo mengingat tentang Chen yang dulu sempat menanyakan nomor ponselnya. Kyungsoo sangat ingin mengunjungi Chen di cafe, meskipun ia harus memikirkan caranya menemui Chen tanpa harus berurusan dengan Suho sajangnim yang setiap hari ada di cafe itu.

Bagaimanapun juga, Chen adalah satu-satunya orang yang bersikap baik kepadanya di sana, sahabatnya. Dan Kyungsoo tidak mungkin melupakan kebaikannya. Tetapi karena setiap pagi Kyungsoo harus ke tempat Baekhyun dan baru pulang menjelang malam, tidak ada kesempatan baginya untuk mengunjungi Chen. Mungkin besok ia bisa kesana... gumamnya dalam hati, sambil menaburkan bumbu ke masakannya.

Ketika Kyungsoo menuang bacon panas yang beraroma harum dan menata kentang goreng di piring. Bel pintu apartemen berbunyi, membuat Kyungsoo mengernyitkan keningnya. Mereka hampir tidak pernah menerima tamu di apartemen ini. Hanya Chanyeol satu-satunya tamu yang pernah datang kemari sejak Kyungsoo tinggal di sini, dan kemudian menetap di sini.

Kalau begitu siapa?

Dengan langkah ragu, Kyungsoo mengintip melalui kaca cembung untuk mengintip di pintu apartemen. Ia mengernyit, tidak mengenali lelaki bule tua berbadan besar itu yang sedang berdiri dengan ekspresi tidak sabar di depan pintu. Otaknya berputar cepat, dan kemudian langsung menyadari bahwa mungkin saja saatnya sudah tiba. Mungkin saja lelaki itu adalah ayah kandung Jongin yang datang untuk mengunjunginya!

Kyungsoo meragu, takut untuk membuka pintu. Bel pintu berbunyi lagi, tetapi Kyungsoo tetap menahan diri untuk menahan pintu. Mungkin saja lelaki itu ayah kandung Jongin, tetapi mungkin saja tidak bukan? Kyungsoo harus berhati-hati membuka pintu untuk orang asing.

Ia harus membangunkan Jongin!

Jantungnya berdebar, menyadari betapa buruknya mood Jongin kalau dibangunkan paksa di pagi hari. Tetapi bagaimana lagi? Kyungsoo tidak bisa duduk diam dan membiarkan bel itu terus berbunyi dan menunggu sampai tamu itu menyerah lalu pergi bukan?

Siapa tahu itu tamu penting...?

Dengan ragu, Kyungsoo mengetuk pintu kamar Jongin. Pelan... sekali, dua kali, dan kemudian sedikit lebih keras. Tetapi tetap saja tidak ada jawaban. Kyungsoo akhirnya memberanikan diri memegang handel pintu yang ternyata tidak dikunci itu. Dari celah pintu yang terbuka sedikit, Kyungsoo bisa melihat Jongin tengah tertidur pulas, terbaring terngkurap di atas ranjang berukuran besar. Selimut polos berwarna gelap tampak menggumpal di kakinya, sementara seperti biasanya, lelaki itu tidur hanya mengenakan celana panjang piyama dan bertelanjang dada. Kyungsoo melangkah masuk, berdiri ragu di depan pintu kamar, kemudian memanggil Jongin.

"Jongin?" Suaranya agak keras, berharap bisa membangunkan lelaki itu dari jarak jauh, tetapi rupanya usahanya sia-sia karena Jongin tampak pulas bahkan tidak bergerak dari posisinya.

Ragu, Kyungsoo melangkah mendekat lagi, menelan ludahnya ketika sudah berdiri di sisi ranjang, menatap punggung telanjang Jongin yang berotot dan indah.

"Jongin?"

Kyungsoo setengah membungkuk di dekat lelaki itu. Tetapi panggilannya hanya mampu menghasilkan sedikit kerutan di alis Jongin. Sambil menghela napas, Kyungsoo meletakkan jemarinya di pundak telanjang Jongin, merasakan dirinya merona ketika kulit hangat itu menempel di telapak tangannya.

"Jongin?" Kyungsoo mengguncang pundak Jongin.

Seketika itu juga, jemari kuat Jongin menarik Kyungsoo yang mungil, membuat Kyungsoo memekik ketika lelaki itu membanting tubuh Kyungsoo ke atas ranjang dan kemudian setengah menindih tubuhnya. Kyungsoo berusaha meronta, tetapi pegangan Jongin kepada dirinya sangatlah kuat. Mata lelaki itu setengah terpejam, sepertinya masih setengah tidur, dan senyumnya begitu sensual, senyum yang tidak pernah ditunjukkannya kepada Kyungsoo sebelumnya.

"Kau ingin menggodaku di pagi hari sayang?"

Jongin berbisik serak, lalu mengecup leher Kyungsoo seringan bulu, membuat sekujur tubuh Kyungsoo merinding. Ia langsung memekik dan mendorong tubuh Jongin sekuat tenaga, membuat lelaki itu tersentak dan kemudian membuka matanya, kali ini benar-benar sadar.

Jongin tampak mengerjap bingung, ia kemudian menunduk, menatap Kyungsoo yang terbaring di bawah tubuhnya dan mengerutkan keningnya. "Apa yang kau lakukan di bawah situ?"

Pipi Kyungsoo merah padam, ia malu setengah mati. Di sini, berbaring di atas ranjang, di bawah tindihan tubuh Jongin yang telanjang dada. Astaga. Tidak pernah dipikirkannya sebelumnya akan terjadi begini ketika menyentuh pundak Jongin. Tahu begitu Kyungsoo akan mengambil tongkat atau apa untuk menggoyang-goyangkan tubuh Jongin dari jarak jauh. Well ya, kalau nanti ia harus membangunkan Jongin lagi, ia akan menggunakan cara itu.

"Aku... aku berusaha membangunkanmu.. ada tamu... aku menyentuh pundakmu dan kau membantingku ke ranjang."

Ekspresi Jongin tidak terbaca, ia mengerutkan kening lalu secepat kilat melepaskan Kyungsoo dari tindihannya, berguling ke samping dan kemudian meluncur berdiri di tepi ranjang.

"Lain kali hati-hati kalau membangunkanku." Gumamnya dingin. "Dan kenapa kau membangunkanku? Tamu apa yang kau maksud?"

Kyungsoo sendiri langsung bangkit dari ranjang ketika Jongin melepaskan tindihannya, wajahnya merah padam dan terasa panas hingga ia harus meletakkan tangannya di lehernya untuk meredakan panasnya.

"Tamu... seorang lelaki tua asing. Aku pikir... aku pikir akhirnya ayah kandungmu mengunjungimu."

Ekspresi Jongin langsung berubah keras, sedikit menakutkan. "Kau yakin?"

"Aku tidak tahu.." Kyungsoo menggelengkan kepalanya, "Tetapi dia tamu pertama di apartemen ini, dia pria asing, berambut kelabu, sangat tinggi... apakah kau tidak ingin mengintipnya dulu?"

"Tidak." Bibir Jongin menipis. "Itu sudah pasti ayahku, aku tidak sedang menunggu tamu manapun. Aku akan mandi dulu sebelum menemuinya." Lelaki itu menatap Kyungsoo dengan serius, "Ingat peranmu mulai sekarang, Kyungsoo. Kau adalah simpananku, perempuan penggoda, perempuan jalang yang tak jelas asal usulnya dan penggila harta, sementara itu aku tergila-gila kepadamu." Lelaki itu terkekeh. "Aku tak sabar untuk melihat reaksi tua bangka itu. Persilahkan dia masuk dan menungguku."

Kemudian Jongin membalikkan badan dan masuk ke kamar mandi.

.

.

Bel pintu sudah tidak berbunyi ketika Kyungsoo keluar sehingga ia mengira tamu itu sudah pergi. Tiba-tiba ia menyesal jangan-jangan ia terlalu lama membangunkan Jongin tadi sehingga membuat lelaki itu pulang.

Tetapi ketika Kyungsoo mengintip, ia masih melihat lelaki bule itu berdiri di pintu dan menunggu, dengan hati-hati Kyungsoo membuka pintu, membiarkan rantai gerendelnya masih menempel di sana untuk berjaga-jaga.

"Mencari siapa?" Tanyanya hati-hati.

Lelaki tua itu langsung menegakkan tubuhnya ketika Kyungsoo membuka pintu dan mengintip dari baliknya, matanya menelusuri Kyungsoo, sepertinya tidak menyangka kalau Kyungsoo yang membukakan pintu untuknya. Lelaki itu melemparkan tatapan mata penuh spekulasi sebelum kemudian bergumam.

"Aku mencari Jongin. Anakku." Suaranya berat dan dalam, penuh wibawa dengan bahasa Korea yang terpatah-patah.

Jadi benar. Orang ini adalah ayah kandung Jongin. Kyungsoo teringat bahwa ia harus menjalankan perannya dengan baik, karena itulah ia tersenyum dengan gaya ceria yang sedikit menggoda, mengangkat alisnya dibuat-buat.

"Setahuku ayah Jongin sudah meninggal." Kyungsoo dengan berani menelusuri sosok lelaki di depannya, sengaja membuat lelaki itu jengkel, meskipun dalam hatinya ia gemetar setengah mati.

Dan usahanya berhasil, lelaki tua itu tampaknya termakan oleh usaha Kyungsoo untuk bersikap sebagai perempuan menyebalkan. Wajahnya memerah meskipun lelaki itu masih berusaha bersikap sopan.

"Aku ayah kandung Jongin, sekarang buka pintu ini dan biarkan aku bertemu anakku." Gumamnya tegas, menatap Kyungsoo dengan mata menyala-nyala, membuat Kyungsoo hampir saja mundur selangkah ketakutan.

"Biarkan dia masuk sayang." Tiba-tiba saja Jongin sudah berdiri di belakangnya, memegang pundaknya dengan lembut dan begitu dekat di sana, sampai Kyungsoo bisa mencium aroma sabun yang bercampur dengan after shave dan parfum beraroma maskulinnya.

Lalu jemari Jongin terlurur melewati Kyungsoo dan membuka gerendel itu. Sebelah lengan lelaki itu merangkul Kyungsoo dengan posesif dan kemudian mereka berdiri berhadapan dengan lelaki itu, ayah kandung Jongin.

"Kau tidak mempersilahkan aku masuk?" Gumam lelaki tua itu datar.

Jongin menegang, Kyungsoo bisa merasakannya meskipun lelaki itu tampak berusaha bersikap datar, tetapi sepertinya semua kemarahan dan kebencian terpupuk di sana, membuat seluruh tubuhnya menegang.

"Masuklah." Lelaki itu menghela Kyungsoo masih dalam rangkulan lengannya, kemudian mengajaknya duduk di sofa. "Pengacaramu sudah memberitahukan kedatanganmu, aku tidak menyangka kau sebodoh itu membuang-buang waktumu dengan datang kemari."

Panggilan ber- 'aku' dan ber- 'kamu' yang dipakai Jongin kepada ayahnya sepertinya dilakukan dengan sengaja, untuk menunjukkan bahwa jelas-jelas Jongin tidak menganggap lelaki itu sebagai ayahnya. Sebuah penghinaan frontal yang disengaja dan rupanya efektif karena ekspresi ayah kandung Jongin memucat dan tampak tidak senang.

Lelaki itu duduk di sofa di depan Jongin dan mengamati sekeliling ruangan, ia mencoba berbasa-basi. "Tempat yang bagus." Gumamnya bersikap tak mendengar kata-kata Jongin tadi yang menyebutnya bodoh. Kali ini dengan memakai bahasa inggris, untunglah Kyungsoo cukup mengerti bahasa inggris dari pelajaran SMUnya dan kursus singkat intensifnya bersama Baekhyun yang serba bisa.

Jongin mengangkat alisnya, jemarinya menelusuri pinggang Kyungsoo sambil lalu, sebuah gerakan ringan tapi mesra, menunjukkan kepemilikan, membuat Kyungsoo harus berusaha keras supaya tidak salah tingkah.

"Tentu saja, dan aku membelinya dari hasil kerja kerasku sendiri."

Lelaki itu tersenyum dan menatap Jongin dalam-dalam. "Kau bisa menadapatkan beberapa kastil indah, lengkap dengan tanah pegunungan yang luas, kekayaan yang berlimpah sehingga kau bisa membeli puluhan apartemen seperti ini, sebanyak yang kau mau Jongin, kalau saja kau mau mendengarkan perkataan pengacaraku."

"Aku tidak butuh hartamu." Tatapan Jongin berubah dingin, ia lalu melemparkan senyuman sensual kepada Kyungsoo. "Benar kan, sayang?"

Saatnya berakting. Kyungsoo memutar bola matanya dengan genit. "Kalau ada kesempatan kau bisa lebih kaya dari sekarang, tentu saja tidak boleh kau tolak Jongin, itu akan menguntungkanku juga." Gumamnya dengan nada genit yang meskipun sedikit kaku pada awalnya tapi tampak meyakinkan.

Jongin terkekeh dan kemudian menarik Kyungsoo semakin rapat kepadanya, "Oh ya, aku belum memperkenalkanmu. Ini... Kris Wu." Jongin dengan kurang ajarnya menyebut nama ayahnya langsung, "Dia seorang bangsawan. Aku lupa gelarmu."

"Wu Yifan, Earl of Moray." Sahut Kris dengan dingin.

Seperti dugaan Jongin, masalah gelar dan darah bangsawan sangatlah sensitif bagi lelaki tua itu. Dan Jongin akan menggunakannya sebagai senjata.

"Yah begitulah namanya, Kyungsoo, aku sendiri susah mengingatnya, lagipula nama gelar itu tidak ada artinya di negara ini." Jongin sengaja melemparkan pandangan mencemooh, "Dan perkenalkan, ini adalah Do Kyungsoo... Kyungsoo saja tanpa embel-embel nama lain sepertinya karena gadis ini sebatang kara sebelum aku memungutnya dari panti asuhan." Jongin tertawa sendiri, "Kyungsoo ini adalah calon isteriku."

Wajah Kris langsung pucat pasi, memandang Kyungsoo dan Jongin berganti-ganti. Sikap dan kata-kata Kyungsoo tadi, apalagi menyangkut kekayaan, sudah bisa membuat Kris mengetahui tipe perempuan seperti apa yang sekarang sedang menempel di tubuh anaknya seperti lintah penghisap darah.

Dan dari panti asuhan berarti tidak diketahui asal usulnya! Kris tidak bisa menerima itu. Bagaimanapun juga, Jongin menyimpan darah Wu di tubuhnya, darah bangsawan yang murni dari miliknya yang diturunkan oleh nenek moyangnya yang terhormat. Dan sekarang Jongin akan menikahi perempuan yang tidak jelas asal usulnya? Akan seperti apa keturunan mereka nanti? Perempuan itu akan menodai kemurnian darah Wu mereka, darah terhormat yang sekarang hanya ada di tubuh Jongin. Ia harus menyelamatkan darah bangsawan itu. Jongin harus menikah dengan perempuan bangsawan yang terhormat, supaya keturunan Wu berikutnya berasal dari darah murni. Bukan dari perempuan yang tidak jelas seperti ini.

"Aku datang kemari untuk membicarakan warisan gelarmu." Kris memulai, pura-pura tidak mendengar perkenalan Jongin tentang Kyungsoo tadi. "Kau adalah anakku satu-satunya, satu-satunya Wu murni yang tersisa."

"Dan apakah pengacaramu tidak mengatakan kepadamu bahwa aku menolaknya? Aku tidak butuh hartamu, gelarmu atau bahkan warisan darahmu. Kalau saja aku bisa membuangnya, akan aku buang dari tubuhku semua jejak yang menghubungkanku padamu," Mata Jongin menggelap. "Kedatanganmu sia-sia Pak Tua... Aku menikmati hidup di sini, bersama kekasihku yang menggairahkan dan tawaranmu sama sekali tidak menggodaku."

"Kau tidak boleh menikahinya." Tiba-tiba Kris terpancing emosi, menatap Kyungsoo dengan penuh kebencian, membuat Kyungsoo sedikit beringsut dari duduknya. Untunglah jemari Jongin di pinggangnya menguatkannya, lelaki itu memeluknya makin erat seolah akan menjaganya.

"Kenapa tidak boleh? Kami saling mencintai dan saling memuaskan, aku sudah tinggal bersamanya selama beberapa bulan dan percintaan kami sangat memuaskan, benar kan sayang?"

Nada suara Jongin penuh siratan makna, membuat pipi Kyungsoo merona, tetapi ia menganggukkan kepalanya, mengimbangi kata-kata Jongin dengan kedipan genit menggoda. "Benar sayang. Dan aku tidak sabar menunggu kita menikah dan kemudian mendapatkan cincin dengan berlian raksasa yang kau janjikan itu." Ide untuk mengatakan hal-hal semacam itu sebenarnya berasal dari Baekhyun, Baekhyunlah yang mengarahkannya untuk selalu menyinggung uang dan perhiasan.

Jongin terkekeh, "Kau akan mendapatkannya nanti sayang."

Kris rupanya sudah tidak tahan lagi, lelaki itu langsung berseru. "Kau tidak boleh menikahinya, Jongin. Darah keluarga Wu akan tercemar kalau kau menikahi perempuan dengan asal usul tidak jelas, aku sudah memilihkan calon isteri untukmu, perempuan bangsawan, berpendidikan tinggi, modern dan sempurna untukku, dia sedang dalam perjalanan menyusulku kemari untuk menemuimu. Segera setelah kau melihatnya, kau akan sadar bahwa kau sudah membuat pilihan buruk!"

jangan lupa feedbacknya :)