CRUSH IN RUSH

(by: Santhy Agatha)

.

.

Kim Jongin & Do Kyungsoo

.

.

Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kris Wu, Jongdae Chen, Kim Suho, etc

.

.

Let's start

.

.

BAB 11

MATA Jongin tampak menggelap mendengar kata-kata arogan Kris, bibirnya menipis menahan marah. "Berani-beraninya kau menghina calon isteri pilihanku." Gumamnya gusar, "Keluar dari rumah ini sekarang."

Kris tampak kaget diusir dengan tidak sopan seperti itu. Ia terbiasa dihormati, orang-orang terbiasa membungkuk hormat kepadanya. Dan sekarang ia diusir oleh anak kandungnya sendiri? Sungguh penghinaan yang menyinggung harga diri Kris, tetapi ia menahankannya.

Kris membutuhkan Jongin. Hanya anak itulah satu-satunya laki-laki keluarga Wu yang masih hidup. Selama berapa dekade ini, keluarganya telah dikutuk selalu melahirkan anak perempuan yang tentu saja tidak bisa diandalkan untuk meneruskan nama gelarnya. Lalu penyakit jantungnya yang menyebabkannya tidak bisa mempunyai keturunan menyerangnya. Membuatnya tergantung hanya kepada Jongin.

Kris akan rela menahankannya. Tidak apa-apa, asalkan gelar dan nama keluarga selamat di masa depan. Ia kemudian beranjak dari duduknya dan bergumam geram.

"Aku akan pergi sekarang. Tetapi aku akan kembali lagi, dengan membawa calon istrimu, Jongin. Calon istrimu yang sangat berkelas dan cocok untukmu." Setelah mengucapkan kata-kata angkuh itu, Kris melangkah pergi meninggalkan apartemen itu.

Lama kemudian Jongin masih termenung, dengan marah menatap ke arah pintu, tempat Kris menghilang, matanya menyala nyaris menakutkan.

"Lelaki tua bangka tak tahu diri." Desisnya, "Seenaknya dia membuangku dan sekarang dia ingin memilikiku? Dia tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa!"

Sinar kebencian memancar di mata Jongin, membuat Kyungsoo beringsut menjauh, gerakan Kyungsoo itu tampaknya menyadarkan Jongin, lelaki itu langsung melepaskan pegangannya di pinggang Kyungsoo, dan menatapnya dalam.

"Aktingmu tadi bagus sekali meski awalnya sedikit kaku." Gumam Jongin ringan, "Kau mungkin harus sedikit berusaha membiasakan diri dengan sentuhanku."

Dan kemudian, tanpa disangka-sangka, Jongin menarik pinggang Kyungsoo lagi, dan menciumnya. Membuat Kyungsoo ternganga kaget ketika bibirnya dilumat oleh Jongin tanpa ampun. Ia hendak memekik, tetapi kemudian, sentuhan bibir Jongin berubah lembut, menyesap bibirnya seolah begitu menikmatinya, dan juga jemarinya bergerak lembut, menelusuri lengan Kyungsoo, naik dan turun.

"Wow."

Itu suara Chanyeol yang baru keluar dari kamar. Membuat Jongin dan Kyungsoo terperanjat. Secepat kilat, saat itu juga, Jongin langsung mendorong Kyungsoo hingga hampir terjungkal di sofa. Chanyeol sendiri tampak menikmati sekali wajah-wajah gugup di depannya. Lelaki itu tampaknya sudah bangun lama, tetapi memilih tidak keluar selama ayah kandung Jongin bertamu tadi. Sekarang Chanyeol dengan sengaja melemparkan tatapan mata penuh arti dan berganti-ganti ke arah Jongin dan Kyungsoo.

"Jadi yang barusan kulihat tadi apakah..." Suaranya penuh spekulasi, dan Jongin langsung menyahut ketus.

"Itu tadi latihan supaya Kyungsoo lebih terbiasa dengan sentuhanku." Mata Jongin menatap Kyungsoo tajam. "Benar bukan, Kyung?"

Ditatap setajam itu, dengan tatapan yang sangat mengancam, Kyungsoo tidak bisa melakukan hal lain selain menganggukkan kepalanya. Meskipun sekarang bibirnya terasa panas membara. Jongin telah merenggut ciuman pertamanya!

"Kau boleh pergi Kyung, siapkan makanan, aku ingin makan." Jongin mengalihkan pandangan seolah tak peduli.

Dan Kyungsoo yang ingin segera melarikan diri dari suasana canggung yang menyesakkan itu langsung bangkit dan setengah berlari menuju dapur.

.

.

Chanyeol mengambil tempat duduk di sebelah Jongin, melirik lelaki itu yang berpura-pura memusatkan pandangannya kepada televisi.

"Kenapa kau menciumnya?" tanya Chanyeol langsung dengan lugas, membuat Jongin membelalakkan matanya marah kepada sahabatnya itu.

"Kenapa kau bertanya lagi? Aku kan sudah bilang untuk latihan."

"Menurutku latihan terbiasa menyentuh tidak perlu dengan ciuman semacam itu, apalagi ciuman yang amat sangat bergairah, kau seperti sudah akan melumatnya habis-habiskan kalau aku tidak keluar tadi."

"Diam!" Jongin menggeram, tidak mau lagi mendengar analisa dari Chanyeol. Sementara itu benaknyapun berkecamuk oleh berbagai pertanyaan. Kenapa ia mencium Kyungsoo? Benarkah hanya karena latihan? Kenapa ia begitu impulsif menarik Kyungsoo ke dalam pelukannya dan menciumnya habis-habisan?

.

.

Perempuan cantik itu menuju ke tempat penjemputan dan menunggu, sambil menunggu ia mengeluarkan ponselnya dan menatapnya dalam senyuman. Ada foto Jongin di sana. Calon suaminya yang sangat tampan.

Yah, mereka memang sepadan. Xi Luhan adalah puteri ke empat dari bangsawan yang menjadi sahabat Kris Wu. Dan ketika lelaki itu melamarnya kepada ayahnya, untuk menjadi calon isteri anak lelakinya yang berada di negara yang jauh, semula Luhan menolak dan ragu. Yah, ia adalah perempuan berpendidikan tinggi, meskipun berdarah bangsawan, Luhan tidak berpandangan kuno seperti ayahnya. Ia menjadi CEO perempuan yang sangat disegani di perusahaan tempatnya bekerja, dan otaknya sangat encer dengan jenjang pendidikan yang sangat tinggi.

Perjodohan adalah pilihan terakhirnya, tetapi kemudian, ketika ia melihat foto Jongin, yang ditunjukkan kepadanya, Luhan langsung jatuh hati seketika itu juga. Dan ketika seorang Luhan jatuh hati, maka ia harus memiliki. Tidak pernah ada orang yang bisa menolak pesona Luhan sebelumnya. Dan Luhan yakin, Jongin akan takluk dalam pesonanya.

Luhan datang sesuai dengan permintaan Kris, anak hilangnya itu memang sangat keras kepala dan menolak perjodohan ini, dan itu pasti lebih disebabkan karena dia tidak mengetahui bahwa calon istrinya secantik dan sesempurna dirinya. Tubuhnya tinggi semampai dengan lekukan yang sangat indah dan berisi, rambutnya panjang dan pirang keemasan, membingkai wajahnya yang keseluruhannya cantik dan sempurna. Orang-orang di bandara ini bahkan selalu menoleh dua kali ketika melihatnya.

Luhan tersenyum penuh percaya diri. Jongin pasti akan terpesona dengannya. Lelaki itu akan bertekuk lutut di kakinya. Mereka memang sudah seharusnya bersama, darah bangsawan di tubuh mereka memang sudah seharunya menyatu.

"Luhan."

Suara dalam dan berat itu membuat Luhan mengangkat kepalanya. Kris calon ayah mertuanya sudah berdiri di sana.

"Hai papa." Luhan bahkan sudah memanggil Kris dengan sebutan 'papa' sesuai permintaan lelaki itu sendiri, yang begitu yakin bahwa Luhan akan menjadi anak menantunya.

"Aku senang kau datang tepat waktu, mari ke mobil, aku sudah menyewakan kamar suite di hotel terbaik di kota ini." Kris menghelanya dengan sopan dan dengan langkah anggun. Luhan mengikuti langkah lelaki itu.

Mereka masuk ke dalam mobil hitam besar yang telah menunggu di luar, di dalam mobil, Luhan menatap wajah Kris yang tampak gusar.

"Kenapa papa? Apa yang mengganggumu?"

Kris mendengus, "Jongin. Dia mempunyai kekasih, seorang perempuan yang seperti lintah pengisap harta, perempuan murahan dan anak lelakiku yang bodoh itu tergila-gila karena nafsunya." Mata Kris menggelap, tetapi kemudian ia menatap ke arah Luhan dan tersenyum puas. "Tetapi sekarang kau sudah di sini Luhan, begitu Jongin melihatmu, dia akan menyadari betapa bodohnya dirinya. Kau akan menyelamatkannya."

"Tentu saja papa. Lihat saja nanti, aku tidak sabar untuk bertemu Jongin dan juga kekasihnya yang murahan itu." Tawa merdu terdengar dari bibirnya, tawa yang penuh percaya diri.

Ya. Luhan yakin, begitu bertemu dengannya, Jongin pasti akan bertekuk lutut di kakinya. Semua lelaki selalu bereaksi sama terhadap pesona Luhan.

.

.

"Selamat pagi." Keesokan harinya, tidak seperti biasanya, Jongin sudah bangun dan rapi. Lelaki itu berdiri di ambang pintu dapur, menatap Kyungsoo dengan canggung, "Buatkan sarapan untukku juga ya."

"Ya, sebentar lagi siap." Kyungsoo menjawab tak kalah canggung.

Ciuman Jongin kemarin, membuat Kyungsoo salah tingkah sepanjang hari. Ia berusaha menghindari Jongin sejauh mungkin, menjauhkan kontak mata dan bersembunyi dari lelaki itu. Kyungsoo bingung dan ketakutan dengan perasaannya sendiri. Ia tidak pernah berciuman dengan lelaki manapun sebelumnya, dan ciuman Jongin kemarin menumbuhkan perasaan yang tidak diketahuinya. Perasaan aneh yang membuatnya susah tidur semalaman, menatap langit-langit kamar dengan bingung, tak tahu harus berbuat apa.

"Aku ingin minta maaf." Tiba-tiba Jongin bergumam, membuat Kyungsoo terlonjak karena kaget, ia menyangka Jongin sudah pergi sejak tadi.

"Maaf tentang apa?" Kyungsoo bergumam santai, berusaha fokus pada masakannya dan seolah-olah tidak diberatkan oleh sesuatupun mengenai Jongin.

"Tentang ciuman kemarin." Mata Jongin menatap tajam, bergumam tanpa basa basi yang langsung membuat pipi Kyungsoo merah padam. "Aku sendiri tidak tahu kenapa aku melakukannya, mungkin aku terbawa perasaan setelah bertemu ayah kandungku, aku marah dan kemudian melampiaskannya kepadamu. Itu tidak adil untukmu, maafkan aku."

Kyungsoo tercenung, bingung harus menjawab apa. "Tidak apa-apa." Gumamnya lemah, kemudian.

Jongin tampaknya masih belum selesai, ia berdiri di sana menatap Kyungsoo dengan tatapan tajam. "Dan jangan menghindariku, Kyung. Aku tahu kemarin seharian kau menghindariku seperti wabah. Sandiwara kita ini belum selesai, aku tahu ayah kandungku tidak akan menyerah begitu saja, jadi untuk mempersiapkannya kau harus membiasakan diri ada di dekatku."

Kyungsoo hanya bisa menganggukkan kepalanya, mencoba menghindari kontak mata dengan Jongin. Lelaki itu tampaknya kesal dengan sikap Kyungsoo tetapi memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa. Setelah mendesah, Jongin menghentakkan kakinya pergi, membuat Kyungsoo langsung menghela napas panjang dan merasa lega luar biasa.

.

.

Kali ini Kyungsoo harus menghadapi Chanyeol yang usil. Lelaki berwajah tampan itu menatap Kyungsoo dengan tatapan menyelidik, seolah-olah berusaha menelanjangi hati Kyungsoo.

"Jadi bagaimana?" Chanyeol bertanya sambil melahap roti bakarnya, ia akhirnya mengeluarkan suara setelah lama mengamati Kyungsoo yang berpura-pura tidak menyadari bahwa dia sedang diamati dengan begitu intens.

"Bagaimana apa?"

"Ciuman itu." Chanyeol tersenyum lambat-lambat, "Aku yakin itu adalah ciuman pertamamu."

Pipi Kyungsoo langsung merah padam. "Kau tidak bisa yakin." Jawabnya setengah ketus, meletakkan secangkir kopi panas di depan Chanyeol.

"Aku yakin." Kali ini Chanyeol terkekeh, "Aku sangat ahli mengenai perempuan, Kyung. Dan dengan melihatmu sekali saja aku tahu bahwa kau tidak berpengalaman, ciuman kemarin pasti sangat mengejutkanmu."

Memang. Begitu mengejutkan hingga Kyungsoo merasakan jantungnya hampir lepas. Kyungsoo menghela napas panjang, menatap Chanyeol memohon. "Bisakah kita tidak membahas itu, please?"

Chanyeol mengangkat alisnya. "Terserah padamu Kyung, tetapi perlu kau ingat, aku akan selalu ada kalau kau ingin bertanya..." Senyumnya mengembang, "Atau kalau kau ingin praktek, aku akan siap sedia. Aku yakin ciumanku akan lebih nikmat daripada yang bisa diberikan oleh Jongin."

Kyungsoo melempar lap yang sedang dipegangnya ke arah Chanyeol dengan marah, kesal karena Chanyeol keterlaluan menggodanya, lelaki itu bukannya tersinggung dilempar lap, malahan tertawa. Lama-lama Kyungsoo ikut tersenyum juga dengan malu. Yah bagaimanapun juga, sikap Chanyeol yang penuh canda ini sedikit menghibur Kyungsoo.

"Jangan marah padaku." Chanyeol bergumam lembut kemudian. "Aku hanya menggodamu kok, tentu saja gadis lugu dan polos sepertimu tidak akan pernah masuk kriteriaku." Chanyeol mengedipkan sebelah matanya. "Sebagai orang yang berpengalaman, aku hanya bisa memintamu untuk berhati-hati, Kyung. Hati-hatilah dengan hatimu. Kadangkala perasaan itu sudah ada bahkan sebelum kau menyadarinya."

Sambil mengucapkan kalimat misterius itu, Chanyeol berjalan pergi, membawa cangkir kopi di sebelah tangannya dan melangkah keluar dari dapur.

.

.

Ketika bel berbunyi lagi, Jongin, Kyungsoo dan Chanyeol sedang duduk di sofa dan menonton televisi dalam keheningan, mereka kemudian saling melempar pandang, dan tanpa mengintip-pun, mereka tahu siapa yang datang.

"Kau masuk ke kamar, Chanyeol. Dan Kyungsoo... gantilah bajumu dengan gaun yang sedikit seksi."

Kyungsoo dan Chanyeol sama-sama melangkah ke arah kamar masing-masing, dengan Chanyeol yang terkekeh menggoda Kyungsoo yang merah padam karena disuruh memakai baju seksi oleh Jongin.

Kyungsoo masuk ke kamar, dan berdiri di depan lemari pakaiannya, bingung akan memilih gaun yang mana. Baekhyun selalu bilang jika ingin tampil seksi, pakailah warna hitam. Mata Kyungsoo menelusuri gaun-gaun yang tergantung di lemari pakaiannya, lalu tangannya menyentuh gaun sutera warna hitam itu, dengan korset yang ketat di dadanya, kemudian bagian bawahnya mengembang sempurna sampai di bawah lutut. Gaun ini tampak cukup seksi sekaligus pantas dikenakan di rumah pada malam hari, putusnya.

Kyungsoo memilih memakai gaun itu, ia menatap ke arah cermin, mengagumi betapa gaun itu begitu pas di tubuhnya dan begitu cocok dengan rambut hitamnya yang berkilauan. Setelah menghela napas berkali-kali, Kyungsoo melangkah ke arah ruang tengah itu.

Dan kemudian tertegun bingung mendapati selain Kris, ada tamu lain di sana, tamu lain yang sangat cantik bagaikan bidadari, duduk di sofa dengan tatapan penuh godaan kepada Jongin.

.

.

"Dan itu pasti Kyungsoo."

Perempuan cantik itulah yang pertama kali menyadari kehadiran Kyungsoo, ia tersenyum ramah dan tampaknya sama sekali tidak merasa terintimidasi dengan penampilan Kyungsoo. Tentu saja, dengan kecantikan seperti dewi begitu, Kyungsoo pasti tidak akan dianggapnya sebagai sesuatu yang penting.

"Kemarilah Kyungsoo." Jongin tersenyum, senyum pura-pura penuh cinta yang meyakinkan. "Biar kukenalkan pada teman Kris." Jongin mengamit tangan Kyungsoo dan kemudian menariknya mendekat dengan posesif.

"Kenalkan Kyungsoo, ini Xi Luhan yang jauh-jauh datang kemari untuk Kris." Jongin menatap Kris dengan puas. "Kau sungguh tega membawa wanita secantik ini kemari hanya untuk pulang dengan sia-sia."

Kata-kata Jongin itu benar-benar membuat Luhan terkejut. Ia datang kemari dengan keyakinan penuh, bahwa Jongin akan langsung bertekuk lutut di kakinya ketika melihat penampilannya. Bahwa lelaki itu akan langsung tergila-gila kepadanya. Tetapi rupanya pengaruh pelacur berbadan mungil di sebelahnya itu sangat besar. Luhan merengut marah ke arah Kyungsoo. Apa yang bisa diberikan oleh pelacur itu yang tak bisa diberikannya?

Kris bahkan mengatakan bahwa asal usul perempuan itu tidak jelas. Luhan begidik ketika berpikir bahwa mungkin saja Kyungsoo anak pembunuh atau mungkin malah pelacur—yang menunjukkan kenapa Kyungsoo bertingkah seperti pelacur sekarang—dan Jongin akan mencemari darah bangsawannya kalau sampai memberikan benihnya pada perempuan ini.

Dengan cepat Luhan memasang wajah penuh godaan, menutupi keterkejutannya, ia memandang Kyungsoo dengan mencemooh, menelusuri gaunnya dari ujung kepala sampai ke ujung kakinya.

"Hmmmm... gaun yang sangat... elegan." Dengan lembut ia berucap dalam bahasa inggris, yang dilambat-lambatkan seperti ketika berbicara dengan anak kecil. Matanya menatap Kyungsoo penuh ejekan, membuat seketika itu juga Kyungsoo merasa ingin bersembunyi karena malu.

Tetapi pegangan Jongin di pinggangnya, sekali lagi menyelamatkan dan menopangnya, lelaki itu menunduk dengan sayang, dan menghadiahi Kyungsoo kecupan lembut di pelipisnya.

"Tentu saja gaun yang sangat elegan dan seksi... membuatku tak sabar menanti kami bisa berduaan sendirian di sini." Matanya menatap penuh sindiran ke arah Kris. "Ada hal lain yang ingin kau katakan padaku, Kris? Kalau tidak mungkin kau bisa segera berkemas dan pulang, serta bawalah seluruh harapanmu itu karena aku tidak akan pernah mau menyandang namamu."

Wajah Kris pucat pasi mendengar kata-kata langsung Jongin itu. Bahkan Luhan yang semula duduk tenang di sebelahnyapun tampak kaget.

"Aku kemari membawa calon istrimu, Jongin. Luhan adalah perempuan yang sederajat denganmu, istri yang paling cocok. Darah bangsawannya akan melengkapi keningratanmu dan mencegahmu tercemar oleh darah yang tidak diketahui asal-usulnya." Matanya sengaja melirik menghina ke arah Kyungsoo.

Dan tiba-tiba saja Kyungsoo merasa dadanya panas. Sejak tadi lelaki tua di depannya ini menatapnya dengan mencemooh, juga perempuan yang secantik dewi itu. Dan semua itu karena apa? Semua itu hanya karena Kyungsoo anak yatim piatu yang tidak jelas asal usulnya. Apakah kalau ia yatim piatu maka sudah pasti ia berdarah kotor? Kelas rendahan?

Harga diri Kyungsoo menyeruak, memberikan dorongan semangat untuk memberi pelajaran kepada manusia-manusia sombong di depannya itu. "Siapa yang mencemari siapa Jongin?"

Kyungsoo tersenyum genit kepada Jongin, membuat lelaki itu agak kaget karena tidak menyangka Kyungsoo bisa berakting sebagus itu, untunglah ia bisa menutupinya dengan tatapan mata bergairah kepada Kyungsoo.

"Aku rasa ayahmu tidak perlu mencemaskan itu, toh kau sudah mencemariku sejak lama."

Bravo. Jongin bersorak dalam hati, kalau tidak ada Kris dan Luhan di depannya, Jongin pasti sudah bertepuk tangan memuji dan sangat puas akan kata-kata Kyungsoo itu. Kata-kata Kyungsoo yang seolah bagaikan cambuk yang dilecutkan, tepat di muka ayahnya.

.

.

nih yang kemarin minta cewek yang dijodohin sama jongin jangan mbaknya, ini udah dikabulkan ya... lagian saya juga gak ada niat buat masukin mbaknya wkwkwk

buat yang nanya kemana ibunya kai, apakah ibunya juga bangsawan? coba dibaca lagi di chapter awal, itu udh dijelasih kok. hubungan mereka kan mainstream, tau kan abis dinikmatin langsung ditinggal gitu aja wkwk. ayahnya bangsawan sedangkan ibunya rakyat biasa.

buat yang nanya akun wp ku apa, akun wp ku masih kosong belum diisi apa2. aku buka wp cuma buat baca2 aja, nanti aku kasih tau kalo udh diisi ya hehe

buat yang lagi serius asik2nya baca, sampai disini dulu ya tbcnya xD jgn lupa kasih feedback xD