CRUSH IN RUSH

(by: Santhy Agatha)

.

.

Kim Jongin & Do Kyungsoo

.

.

Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kris Wu, Jongdae Chen, Kim Suho, etc

.

.

Let's start

.

.

BAB 12

KRIS masih ternganga akan kata-kata vulgar Kyungsoo, sementara Luhan melemparkan pandangan jijik kepada Kyungsoo. Kyungsoo sendiri tidak peduli, dua orang di depannya itu sudah menganggapnya sebagai kelas rendahan hanya karena ia bukan bangsawan dan tidak jelas asal usulnya, jadi biar sama mereka berpikiran semakin buruk kepadanya.

"Kau membuatku tak sabar untuk masuk kamar." Jongin berbisik mesra, tangannya semakin memeluk pinggang Kyungsoo dengan posesif, sengaja memberikan isyarat di sana agar tamu mereka malu.

Tetapi rupanya Luhan bukanlah perempuan yang mudah menyerah. Tentu saja, ia tidak akan diangkat menjadi CEO perusahaan multinasional yang sekarang kalau ia menyerah dengan begitu mudahnya.

"Aku ingin kau memberiku kesempatan." Gumamnya tegar, membuat Jongin mengerutkan keningnya sambil menatap Luhan.

"Kesempatan untuk apa?"

Luhan tersenyum manis, "Kesempatan untuk mengenalku. Rasanya tidak adil bagiku kalau aku datang jauh-jauh kemari hanya untuk diusir dengan kasar, tanpa kau memberi kita kesempatan untuk saling mengenal."

Luhan lalu melemparkan tantangan kepada Jongin, tahu bahwa ego seorang lelaki akan tertantang jika dipancing seperti itu. "Aku ingin kau mencoba mengenalku dengan intens selama seminggu penuh... dan kalau setelah itu tidak ada ketertarikan yang tumbuh darimu untukku, aku akan pergi dengan kepala tegak, puas karena sudah mencoba."

Jongin terdiam, menatap perempuan di depannya. Oh ya, Jongin tahu persis Luhan bukan perempuan biasa, dia bukanlah perempuan bangsawan Inggris yang lemah dan lembek, bisa diusir dengan mudahnya. Satu-satunya jalan adalah dengan cara menerima tantangan Luhan. Setelah itu perempuan itu pasti akan pergi dengan terhormat dan tidak mengganggu mereka lagi. Itu juga merupakan salah satu cara untuk membuat ayahnya kalah karena tidak punya senjata lagi untuk mencoba menguasainya.

"Oke. Satu minggu." Jongin tersenyum, "Dan setelah itu, kau bisa mengemasi barang-barangmu, Xi Luhan."

Luhan mengulurkan tangannya dan Jongin menjabatnya, lalu perempuan itu terkekeh. "Jangan yakin dulu Jongin, jangan-jangan kau yang akan berkemas nanti dan mengikutiku pulang ke London." Mata Luhan beralih ke Kyungsoo, "Kau dengar sendiri Kyungsoo? Kekasihmu setuju untuk menjadi milikku selama seminggu penuh." Gumamnya dalam bahasa inggris yang sekali lagi dilambat-lambatkan seolah mengejek kemampuan bahasa inggris Kyungsoo.

.

.

Sepeninggal kedua orang itu, Jongin menutup pintu dan kemudian tersenyum kepada Kyungsoo.

"Kalimat yang sangat hebat, aku tidak menyangka kau bisa menggunakan kosakata mencemari dengan begitu baiknya." Mata Jongin tampak menggoda. "Membuatku bertanya-tanya darimana kau belajar tentang hal itu."

Pipi Kyungsoo merah padam. Mengingat ulang kata-katanya dan menyadari bahwa kata-katanya begitu vulgar. "Aku mempelajarinya di sinetron yang aku tonton." Jawab Kyungsoo seadanya, dan langsung membuat Jongin mengerutkan keningnya.

"Sudah kubilang Kyung, jangan terlalu suka melihat sinetron, itu akan menenggelamkanmu dari dunia nyata." Lelaki itu lalu terkekeh. "Lagipula apa gunanya aku memasang TV kabel di kamarmu kalau kau hanya memakainya untuk menonton sinetron?"

Jongin berhasil membuat Kyungsoo merasa malu, tetapi perempuan itu memilih tidak menanggapinya. Ia malahan teringat akan tantangan Luhan yang diterima oleh Jongin tadi dan seketika merasa cemas.

"Apakah menurutmu bijaksana memberi kesempatan kepada Luhan selama seminggu? Siapa yang tahu apa yang akan dilakukannya?"

"Dia memintanya dengan begitu baik, dengan tantangan yang membuatku mau tak mau harus menerimanya, Kyungsoo. Kalau tidak aku akan tampak seperti pengecut." Jawab Jongin cepat. "Jangan khawatir, aku tidak akan dikalahkan olehnya."

Tetapi walaupun Jongin bicara begitu, tetap saja Kyungsoo merasa luar biasa cemas. Ada perasan takut dibenaknya, takut kalau perempuan itu akan mengambil Jongin... Ah, Kyungsoo menggelengkan kepalanya berusaha mengusir pikiran itu dari benaknya. Ia tidak boleh berpikiran seperti itu, mungkin ia hanya terlalu terbawa peran yang dimainkannya...

.

.

"Seharusnya kau tidak menerima tantangannya." Chanyeol bersandar santai di sofa, ia tentu saja mendengar semua adegan itu dari kamarnya dan mengintip sekilas penampilan Luhan. "Perempuan itu penggilas perempuan, dia terbiasa membuat laki-laki berlutut di bawah kakinya, dan dia sangat licik. Dia akan menggunakan segala cara Jongin, dan alih-alih mengusirnya, kau malahan memberi kesempatan kepadanya untuk menguasaimu."

Jongin menyesap kopinya dan mengernyit karena rasa pahit yang kental di sana. Jenis kopi kesukaannya, tanpa gula, tanpa campuran apapun.

"Apakah kau tidak percaya pada kemampuanku, Hyung?" gumamnya setengah terhina.

Chanyeol tertawa, "Tentu saja aku percaya, kau telah menaklukkan berpuluh-puluh perempuan, tetapi mereka semua tipe yang sama Jongin, kau harus ingat itu, semua perempuan yang kau pacari, mereka semua tergila-gila kepadamu, bersedia melakukan apa saja supaya bisa mencium kakimu." Chanyeol menatap Jongin dengan serius. "Perempuan yang ini berbeda, dia memang tergila-gila padamu, tetapi dia akan melakukan apa saja, supaya kau mencium kakinya. Hati-hati Jongin."

.

.

Kyungsoo menatap Jongin yang sudah berpakaian rapi di ruang tengah, ia tidak mengeluarkan pertanyaan, tetapi matanya sudah cukup mewakilinya, hingga Jongin tersenyum masam dan berkata.

"Aku akan pergi makan siang dengan Luhan. Kau ingat kan kesepakatan kemarin?"

Kyungsoo menganggukkan kepalanya, tidak berkata apa-apa.

"Aku harus pergi dengannya." Jongin bergumam lagi, mencoba menjelaskan. "Dia menantangku, Kyung, dan aku harus menunjukkan siapa yang akan kalah di antara kami."

Sekali lagi Kyungsoo menganggukkan kepalanya. Toh ia harus bilang apa? Hak Jongin untuk pergi dengan perempuan manapun, ia kan hanya berakting menjadi kekasih Jongin kalau ada Kris dan Luhan. Selain itu ia kembali ke pangkat aslinya, menjadi pelayan Jongin.

"Kenapa kau hanya menganggukkan kepalamu?" Jongin tampak gusar. "Kenapa kau tidak mengatakan sesuatu?"

Kyungsoo mengerutkan kening, bingung dengan sikap Jongin, kenapa lelaki itu mendadak merasa terganggu dengan sikapnya? Salah apakah dirinya?

"Kau ingin aku mengatakan apa?" tanya Kyungsoo akhirnya, menatap Jongin dengan mata besarnya yang polos.

Seketika itu juga Jongin tertegun, ekspresinya tampak marah. "Ah sudah, lupakanlah." Dengan langkah-langkah marah, ia meraih kunci mobilnya dan melangkah pergi.

.

.

Di jalan Jongin masih saja berpikir keras, menahan bingungnya. Bahkan ia sendiri tidak bisa memahami sikapnya tadi. Kenapa ia merasa perlu menjelaskan segala sesuatunya kepada Kyungsoo, sebelum ia pergi berkencan dengan perempuan lain?

Kyungsoo bukan kekasihnya kan? Ia tidak wajib menjelaskan segalanya kepada perempuan itu. Jongin mendesah, tetapi ia tetap saja menjelaskannya, entah kenapa. Dan kemudian, ketika reaksi Kyungsoo tidak seperti yang diharapkannya, Jongin marah.

Ya. Ia marah, amat sangat marah ketika Kyungsoo hanya menganggukkan kepalanya tanpa ekspresi ketika Jongin bilang bahwa ia akan pergi berkencan dengan perempuan lain.

Seharusnya perempuan itu... Jongin langsung tertegun dengan pikirannya sendiri. Astaga... apakah ia ingin Kyungsoo bersikap berbeda terhadapnya? Apakah ia ingin Kyungsoo merajuk, cemburu atau bahkan membujuknya supaya tidak pergi?

Entahlah, Jongin bahkan tidak bisa menelaah perasaannya sendiri. Yang ia tahu, sikap apatis Kyungsoo membuatnya amat sangat kecewa.

.

.

Luhan sudah menunggu di lobby hotel untuk acara makan siang mereka. Perempuan itu meminta waktunya di siang sampai malam hari, menghabiskan waktu bersama-sama untuk saling mengenal,dan Jongin setuju.

Dan rupanya Luhan memang ingin mempesonanya dengan kekuatan penuh. Perempuan itu berdandan lengkap dengan gaun warna sampanye yang elegan dan indah, dan juga rambut yang diikat tingi di atas kepalanya, membuatnya tampak segar dan luar biasa cantik.

Luhan menghampiri Jongin dan tersenyum mesra, "Terimakasih untuk tidak terlambat menjemputku, Jongin." Gumamnya lembut, "Kita akan makan siang di mana?"

"Di tempatku biasanya makan siang." Jongin sengaja memilihkan sebuah restoran biasa, bukan restoran kelas atas untuk Luhan, sambil berusaha melihat reaksi perempuan itu.

Bangsawan wanita seperti Luhan pasti terbiasa makan di restoran kelas atas, dan akan jijik ketika diajak makan ke tempat biasa. Tetapi rupanya dugaan Jongin salah, Luhan sama sekali tidak protes ketika Jongin mengajaknya masuk ke restoran yang sederhana itu, perempuan itu malah memesan makanan dengan bersemangat, dan ketika makanan datang, dia melahapnya sampai habis.

Jongin tidak bisa mengalihkan pandangan dari Luhan ketika makan, menyadari bahwa perempuan itu adalah perempuan tangguh yang tidak akan menyerah dengan perlakukan sengaja Jongin. Luhan mengelap mulutnya dengan tissue dengan gaya yang elegan, lalu tersenyum manis menatap Jongin.

"Enak sekali Jongin, tak heran kau sering makan siang di sini, kalau aku tinggal di Korea aku juga pasti akan sering kemari untuk makan siang." Gumamnya puas.

Dan Jonginpun tertegun, mengetahui bahwa rencanaya untuk mempermalukan dan membuat Luhan tak nyaman gagal total.

.

.

Kyungsoo merenung sendirian di ruang tamu. Alunan biola terdengar dari kamar Chanyeol, kali ini bukanlah alunan penuh kemarahan, melainkan sebuah lagu romantis nan syahdu. Yah, mungkin Chanyeol sedang melankolis, batin Kyungsoo dalam hati sambil mengaduk-aduk teh di tangannya. Lalu ia membayangkan Jongin. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sembilan malam, dan Jongin belum pulang. Mungkinkah dia sedang bersenang-senang dengan perempuan itu? Mungkinkah Jongin pada akhirnya menyadari pesona Luhan selain kecantikannya yang luar biasa dan memutuskan bahwa ayahnya benar? Bahwa Jongin harusnya menikahi perempuan sesempurna Luhan?

Kyungsoo merasakan dadanya berdenyut sakit. Sekali lagi ia menghela napas, berusaha menenangkan pikirannya. Gawat. Sepertinya Kyungsoo benarbenar terbawa oleh perannya.

.

.

Pukul sebelas malam, Jongin membuka pintu apartemen dengan hati-hati. Luhan memintanya mengantarkannya ke sebuah club malam yang terkenal di Seoul. Dan Jongin tidak menolaknya, ia butuh sedikit minum malam ini.

Tetapi kemudian Jongin sadar bahwa ini sudah terlalu larut, pada akhirnya ia bisa memaksa Luhan mengikutinya meninggalkan club dan mengantarkannya kembali ke hotel. Yah, diakuinya, perempuan itu memang tidak sedangkal yang ia duga. Luhan ternyata adalah wanita karier dengan posisi tinggi di perusahaannya, meraih nilai sempurna di dua jenjang pendidikannya dan merupakan salah satu figur wanita sukses modern yang tidak terikat oleh tradisi. Percakapan mereka sangat cocok, mereka bisa membahas apa saja, seolah-olah kotak pengetahuan mereka tak pernah habis. Luhan memang teman yang menyenangkan untuk menghabiskan hari.

Jongin mengerjapkan mata, berusaha menyesuaikan diri dengan ruangan apartemen yang gelap. Matanya menelusuri seluruh penjuru ruangan yang sepi. Semuanya pasti sudah tidur. Jongin melangkah melewati ruang tengah, hendak masuk ke kamarnya, tetapi kemudian di tertegun mendapati sesosok tubuh di atas sofa, berbaring meringkuk dengan posisi seperti janin yang baru lahir.

Jongin mendekat, dan menyadari bahwa Kyungsoo ada di sana, tertidur meringkuk di atas sofa. Segelas teh yang masih setengah nampak di meja. Membuat Jongin menyadari bahwa Kyungsoo ketiduran di sini. Apakah perempuan itu menunggunya? Apakah ketidak pedulian yang ditampilkannya tadi sebenarnya palsu? Apakah Kyungsoo mencemaskannya yang pergi seharian bersama Luhan? Perasaan itu tiba-tiba saja membuat dada Jongin terasa hangat, ia lalu membungkukkan tubuhnya, melingkarkan tangannya di punggung dan belakang lutut Kyungsoo, lalu mengangkat tubuh mungil Kyungsoo ke dalam gendongannya.

Kyungsoo menggeliat, sedikit terganggu dari tidur pulasnya, membuat Jongin tersenyum sedikit. "Bangun tukang tidur." Bisiknya lembut.

Tetapi kemudian yang dilakukan Kyungsoo adalah menenggelamkan kepalanya dengan nyaman di dadanya. Membuat jantung Jongin tiba-tiba bergetar, dipenuhi oleh perasaan hangat. Dengan langkah hati-hati ia menuju kamar Kyungsoo, dan membuka pintunya, kemudian ia melangkah menuju ranjang, dan membaringkan tubuh Kyungsoo dengan lembut di atas tempat tidur. Kyungsoo langsung bergelung dengan nyaman ke arah Jongin.

Jongin sendiri duduk di pinggir ranjang, mengamati wajah damai Kyungsoo yang tertidur pulas, jemarinya bergerak lembut, membelai dahi Kyungsoo yang tertutup rambutnya. Dan kemudian didorong oleh perasaan yang tidak dimengertinya, Jongin menundukkan kepalanya dan mengecup bibir Kyungsoo dengan lembut. Setelah itu. Jongin melangkah keluar, menutup pintu kamar Kyungsoo pelan-pelan.

...