CRUSH IN RUSH
(by: Santhy Agatha)
.
.
Kim Jongin & Do Kyungsoo
.
.
Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Kris Wu, Jongdae Chen, Kim Suho, etc
.
.
Let's start
.
.
BAB 14
KYUNGSOO tidak ada di mana-mana!
Jongin langsung menghambur ke luar, memeriksa penjuru ruangan, tetapi Kyungsoo tidak ada. Chanyeol mengikutinya dan kemudian bergumam, menarik kesimpulannya.
"Kurasa Kyungsoo pergi dari rumah ini setelah lewat tengah malam."
Mata Jongin menggelap. "Tapi dia kabur kemana? Dia tidak punya rumah, tidak punya tempat tinggal, tidak punya uang. Dan tidak ada satupun orang yang dikenalnya. Bahkan dia meninggalkan ponselnya!"
Jongin melirik frustrasi kepada ponsel yang diletakkan Kyungsoo dengan rapi di atas meja ruang tengah, bagaikan sebuah pesan bahwa Kyungsoo tidak membutuhkan apapun pemberian Jongin.
"Kita bisa bertanya kepada mantan rekan kerjanya di cafe, mungkin saja Kyungsoo ke sana meminta pertolongan."
Sebelum Jongin sempat menjawab, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Ia melirik nama yang ada di sana dan mengernyitkan dahinya, itu Luhan yang meneleponnya.
"Ya?" Jongin menjawab telpon itu dengan gusar.
"Sekedar mengingatkanmu, sayang." Luhan menjawab dengan suara lembutnya di seberang sana. "Aku akan siap kau jemput satu jam lagi, hari ini kita akan ke sebuah restoran yang direkomendasikan oleh pramutama hotelku, kau pasti akan menyukainya..."
Luhan terus berkata-kata tetapi Jongin sudah tidak mendengarkan lagi. Diakuinya bersama Luhan memang menyenangkan, tetapi Jongin menghabiskan waktunya bersama Luhan bukan karena menyukainya, sama sekali tidak tumbuh perasaan di hatinya menghabiskan waktu begitu lama bersama Luhan. Ia mendekati Luhan hanya untuk satu alasan khusus. Satu alasan yang kemudian malahan menjadi bumerang untuk dirinya sendiri.
"Aku tidak bisa keluar bersamamu sekarang, Luhan."
"Kau sudah berjanji Jongin, satu minggu bersamaku, ingat?" Suara Luhan agak meninggi, tetapi perempuan itu masih bisa menyembunyikan kegusarannya.
Jongin menghela napas panjang, "Memang. Tetapi sekarang aku sampai di satu titik dan menyadari bahwa aku tidak butuh waktu selama itu untuk tahu bahwa aku sama sekali tidak tertarik kepadamu. Dan tidak akan pernah tertarik!"
Sebelum Luhan sempat bertanya lagi Jongin menutup teleponnya dan kemudian mengalihkan pandangannya kepada Chanyeol yang berdiri di sana sambil bersedekap. "Ayo kita ke cafe tempat Kyungsoo dulu bekerja." Gumamnya tergesa.
.
.
Ternyata sia-sia. Entah Chen berkata jujur, atau ia melindungi Kyungsoo, lelaki itu mengatakan bahwa ia sama sekali tidak tahu dimana Kyungsoo berada. Sejak pertemuan di supermarket itu, Chen sama sekali belum pernah bertemu lagi dengan Kyungsoo.
Jongin sudah bertanya dengan begitu serius, tetapi Chen tetap menggeleng-gelengkan kepalanya, lelaki itu masih begitu terkejut karena didatangi oleh dua lelaki yang sangat tampan dan berpakaian elegan. Yang satu tentu Chen sudah pernah melihatnya ketika bertemu di supermarket beberapa waktu lalu. Lelaki yang sangat tampan hingga hampir bisa disebut cantik, sedangkan yang satunya lagi, itu adalah pelanggan tetap cafenya waktu itu yang sering datang ketika tengah malam hingga menjelang pagi. Yang secara kebetulan tidak pernah datang lagi setelah Kyungsoo berhenti bekerja. Jadi ini semua bukanlah kebetulan?
Chanyeol menatap Chen yang kebingungan lalu mengernyit. "Sudahlah Jongin, sepertinya dia benar-benar tidak tahu di mana Kyungsoo, kita harus berpikir ulang. Siapa kira-kira yang akan didatangi Kyungsoo di saat dia butuh bantuan. Dan siapa kira-kira yang menginginkan Kyungsoo menghilang."
.
.
Luhan langsung menemui Kris yang kebetulan kamar hotelnya ada di sebelahnya. Ia mengetuk pintu kamar itu dengan marah dan kesal. Kris yang baru bersantai sehabis mandi, membuka pintu dan menatap terkejut ke arah Luhan, yang berdiri di depan pintu kamarnya dengan wajah gusar.
"Hai Luhan, kenapa kau masih ada di sini? Bukankah kau ada acara dengan Jongin?" Kris tersenyum senang. "Aku lihat kau telah berhasil menjeratnya, kalian pasti melewatkan banyak waktu bersama untuk bersenang-senang. Dan aku yakin apa yang kau katakan akan terwujud, Jongin akan mengepak kopernya dan mengikuti kita pulang ke London dalam seminggu ke depan, dan kita akan merencanakan pernikahan mewah dan besar-besaran."
Wajah Luhan merah padam, teringat kembali di benaknya kata-kata Jongin ketika menolaknya tadi. Kurang ajar. Lelaki itu berkata akan memenuhi tantangannya selama satu minggu, membuat Luhan merasa ia punya banyak kesempatan dan waktu, tetapi kemudian Jongin mencampakkannya begitu saja. Tidak pernah ada laki-laki yang mencampakkan Luhan sebelumnya, tidak akan pernah!
"Perempuan jalang itu, perempuan murahan yang tinggal bersama Jongin, dia benar-benar pengganggu." Luhan mendengus menahan marah, "Pagi ini Jongin menolakku, pasti ada hubungannya dengan perempuan itu. Aku tidak akan pernah bisa mendapatkan Jongin kalau perempuan itu masih ada, Papa."
Ada senyum misterius muncul di wajah Kris, dan lama kelamaan senyumannya berubah menjadi seringai. "Tenang saja Luhan, mulai hari ini perempuan itu sudah dibereskan."
Suaranya begitu misterius, membuat Luhan menatap Kris penuh tanda tanya. "Apa maksud papa?"
Kris membuka pintunya lebar dan mempersilahkan Luhan masuk, kemudian menutup pintu kamarnya dan menatap Luhan yang sudah duduk di sofa dengan senyuman bangga.
"Well, aku sudah bergerak lebih dulu untuk menyingkirkan perempuan itu, aku sudah menduga sejak lama perempuan rendahan itu hanya akan menjadi pengganggu rencana kita. Jadi kemarin aku menyuap salah satu petugas teknisi listrik di apartemen, dia berhasil menyusup masuk ke apartemen itu di malam hari dan menculik perempuan murahan itu. Dan sesuai instruksiku, perempuan itu mungkin sudah diselundupkan ke luar negeri sebagai pelacur. Cocok dengan profesinya sekarang ini."
"Oh ya?" Mata Luhan melebar indah, kemudian ia tersenyum lebar, "Kalau begitu sudah tidak ada lagi yang menghalangi kita?"
Kris menuangkan anggur ke gelasnya. Semuanya berjalan lancar. Jongin akan dengan segera melupakan perempuan rendahan itu dan berpaling kepada Luhan. Luhan ada di pihaknya, dan dengan begitu ia bisa dengan mudah menguasai Jongin, anaknya itu memang sulit dikendalikan dan membencinya. Tetapi dengan adanya Luhan, Kris yakin, Jongin akan menurut padanya, seperti seharusnya seorang anak menurut kepada ayahnya.
.
.
Kyungsoo membuka matanya dengan terkejut, mengetahui bahwa ia berada di ruang sempit yang gelap. Ia langsung panik mengetahui getaran-getaran yang ada di bawahnya. Astaga! Ia ada di dalam bagasi mobil!
Tangannya diikat di belakang punggungnya, membuatnya pegal, tetapi kakinya tidak. Kyungsoo berguling, megap-megap mencari napas, bagasi itu sempit dan gelap, dan Kyungsoo merasa sesak napas. Ia memukul-mukul bagasi itu sekuat tenaga, menendang-nendangnya sekencang mungkin, tetapi percuma, mobil itu tetap melaju kencang, tak peduli dengan semua usahanya. Sampai akhirnya Kyungsoo terdiam, dengan napas makin terengah dan lemas kelelahan. Oh Tuhan! Ia langsung teringat tatapan kebencian Kris, ayah kandung Jongin kepadanya. Apakah ini direncanakan oleh Kris untuk menjauhkan dirinya dari Jongin?
Jongin... tiba-tiba air mata Kyungsoo mengalir. Ia megap-megap lagi berusaha mencari napas, tiba-tiba kepalanya terasa pening. Lalu semuanya gelap, dan sebelum kesadarannya hilang, Kyungsoo sempat berpikir bahwa mungkin ia tidak punya kesempatan untuk bertemu Jongin lagi.
.
.
"Petugas apartemen mengatakan melihat sesuatu yang mencurigakan tadi dini hari, dia melihat salah seorang teknisi membawa kotak yang sangat besar. Dia sempat curiga, tetapi karena teknisi itu adalah petugas apartemen ini yang sudah bekerja cukup lama, dia menghapus kecurigaannya."
"Apakah kau curiga kotak itu berisi Kyungsoo?" Chanyeol duduk di depan Jongin, sementara petugas polisi ada di belakang mereka.
Ya. Mereka sekarang ada di kantor polisi, melaporkan hilangnya Kyungsoo.
Jongin mengangguk, "Tidak ada lagi yang mencurigakan setelah lewat tengah malam selain kejadian itu. Kyungsoo pasti dibawa keluar di dalam kotak besar itu."
Untunglah kesaksian petugas apartemen sangat membantu. Teknisi itu memiliki mobil yang tercatat, dan sekarang polisi sedang berusaha melacaknya.
"Sepertinya itu penculikan amatiran. Karena kalau benar pelakunya teknisi itu, dia bertindak gegabah dan bodoh, dan tidak berusaha menutup-nutupi jejaknya."
Chanyeol mengerutkan keningnya, ingatannya melayang di masa itu, ketika adiknya diculik. Suasananya hampir sama, para polisi bergerak, mencoba mencari titik terang. Tanpa sadar Chanyeol mengernyit, apakah perempuan-perempuan baik yang ada di sisinya haruslah selalu mengalami penculikan?
Kali ini Chanyeol tidak mengetahui bagaimana kondisi Kyungsoo. Ia hanya bisa berharap bahwa Kyungsoo baik-baik saja. Diliriknya Jongin, lelaki itu tampak tenang dan memasang wajah datar, tetapi Chanyeol tahu, Jongin gelisah dan ketakutan setengah mati. Ada perasaan yang tanpa sadar ditumbuhkan Jongin kepada Kyungsoo. Itu sudah pasti, dulu mungkin Jongin tidak menyadarinya, tetapi sepertinya lelaki itu sudah menyadarinya. Chanyeol tersenyum sedih, dan jangan sampai Jongin terlambat. Bagaimanapun juga mereka harus menemukan Kyungsoo.
Seorang petugas polisi menghampiri mereka, mengatakan sesuatu kepada Jongin dan langsung berdiri. Chanyeol menatap Jongin dengan bingung.
"Ada apa?"
"Polisi bisa melacak mobil itu, sekarang sedang mengarah ke pelabuhan. Sepertinya si penculik ingin menghilangkan jejak dengan menaiki kapal."
Jongin mengambil jaketnya dan mengenakannya. "Ayo, kata petugas kita bisa ikut salah satu mobil polisi, asal saat penyergapan nanti kita tidak keluar dan membahayakan misi, kita boleh ikut."
.
.
Sepanjang jalan begitu menegangkan bagi Jongin. Ia dan Chanyeol duduk di jok belakang mobil polisi itu. Informasi yang didapat dari radio polisi, mobil yang menculik Kyungsoo ditengarai masih ada di jalan tol, belum keluar menuju arah pelabuhan. Sepanjang jalan mereka melewati truk-truk besar pengangkut barang. Dan benak Jongin bergetar ngeri. Kalau mereka tidak bisa menyelamatkan Kyungsoo dengan cepat, akankah perempuan itu diselundupkan seperti ini? Di dalam truk yang penuh barang kemudian di bawa menyeberang pulau seperti ternak?
Jongin makin geram kepada Kris, ia merasa malu, berasal dari benih lelaki sombong dan licik itu. Penculikan ini, meskipun mereka belum bisa membuktikannya, sudah pasti didalangi oleh ayah kandungnya yang jahat itu. Ia sudah curiga. Ia sebenarnya sudah cemas ayahnya yang licik akan berbuat jahat untuk menyingkirkan Kyungsoo. Dan semalam ia lengah, lengah karena kemarahannya sendiri. Jongin menghela napas dengan sedih. Kalau sampai Kyungsoo tidak dapat diselamatkan, Jongin tidak akan bisa memaafkan dirinya sendiri.
Lalu tiba-tiba sirene polisi dibunyikan, lima mobil polisi mengerubuti sebuah sedan warna hitam yang langsung mengebut kencang, tidak mau berhenti. Mobil itu tancap gas, setengah zig zag, benar-benar nekat dan tetap tidak mau berhenti meskipun lima mobil polisi mengejarnya. Kejar-kejaran berlangsung menegangkan. Yang ditakutkan Jongin adalah sedan hitam itu, yang mungkin ada Kyungsoo di dalamnya, terlalu mengebut dan kehilangan kendali, membuat Kyungsoo celaka. Jongin mengikuti pengejaran itu sambil berdoa dalam hati, berdoa semoga Kyungsoo selamat.
Setelah pengejaran selama beberapa kilometer, sebuah mobil polisi berhasil menjajari sedan hitam itu dan memepetnya ke bahu jalan tol. Mobil yang lain mendahului dan menghadang tepat di depan. Membuat sedan itu terpaksa berhenti, dengan suara berdecit keras dan ban yang berasap. Beberapa petugas polisi langsung keluar, menodongkan senjatanya dan memerintahkan supir sedan hitam itu turun. Sopir mobil itupun turun dengan tangan di atas kepala, kemudian dipaksa berlutut.
Setelah kondisi dipastikan aman, Jongin dan Chanyeol boleh keluar dari mobil. Hati Jongin mencelos ketika polisi itu memeriksa tempat duduk dan memastikan tidak ada penumpang lain di sana. Jadi di mana Kyungsoo? Lalu seorang polisi mencongkel bagasi dengan linggis, dan di sanalah, di dalam bagasi itu, terbaring Kyungsoo yang sudah pingsan kehabisan udara.
.
.
"Shit!"
Kris mengumpat ketika membaca berita di televisi berita tentang sebuah penculikan yang berhasil di gagalkan oleh polisi. Dan berdasarkan pengakuan si penculik amatir, dia dibayar oleh orang asing yang menyuruhnya menculik dan menjual perempuan itu ke sindikat perdagangan manusia untuk dijadikan pelacur.
Dengan marah Kris mengemas pakaiannya, dan kemudian menelepon untuk mendapatkan tiket penerbangan dengan jadwal yang paling cepat. Sayangnya semua penerbangan penuh dan harus menunggu enam jam lagi paling cepat.
Luhan juga sama paniknya setelah melihat berita itu, ia bolak-balik ke kamar Kris, ketakutan dan bingung. Kris menyuruh perempuan itu untuk diam, tetapi Luhan tetap mengomel-ngomel, menyalahkan Kris.
"Seharusnya papa memilih penculik yang lebih ahli, bukannya teknisi bodoh gila uang yang baru pertama kali menculik, pantas saja dia tertangkap dengan begitu mudahnya." Sambil mondar mandir di dalam kamar Kris, membuatnya gila, Luhan terus menerus mengomel. "Kalau begini jadinya bisa gawat, nama kita bisa tercoreng..."
"Diam Luhan!" Kris membentak pada akhirnya, merasa frustrasi karena disalahkan.
Luhan terkejut dibentak sedemikian keras oleh calon ayah mertuanya. Matanya melebar dan kemudian wajahnya merah padam penuh kemarahan.
"Aku tidak mau berurusan lagi denganmu!" teriak Luhan marah, "Aku tidak ada hubungannya dengan penculikan itu jadi kau tidak bisa melibatkanku, silahkan saja polisi menangkapmu, tapi aku tidak mau nama baikku tercemar! Mulai hari ini tidak ada urusan di antara kita. Aku akan pulang ke London besok, aku telah membuang-buang waktuku dengan mencoba mengejar anak harammu yang berdarah separuh pelacur!"
Setelah meneriakkan kemarahannya, Luhan membalikkan badan dan pergi, tidak peduli Kris memanggil-manggil namanya. Kris layak cemas. Ayah Luhan adalah rekan bisnis sekaligus teman bangsawannya yang paling penting, kalau sampai masalah ini sampai ke telinga ayah Luhan, Kris akan kehilangan banyak sekali keuntungan bisnisnya. Kris tidak akan bisa melibatkan Luhan dalam hal ini. Sebagai gantinya, Kris berharap Luhan bijaksana dan tidak mengadu kepada ayahnya.
Sekarang ia hanya harus pergi dari negara ini secepatnya. Penerbangan ke London paling cepat enam jam lagi. Ia sudah selesai berkemas dan menenteng tas-nya untuk check out. Sayangnya, Ketika ia membuka pintu, beberapa polisi berpakaian preman sudah berdiri di sana, siap menangkapnya, membuat wajahnya pucat pasi.
.
.
Di kantor polisi, Kris bertatapan dengan Jongin yang sedang membuat laporan di kepolisian. Mata mereka bertatapan. Dan terpatri jelas kebencian dan rasa muak Jongin kepada ayah kandungnya. Ketika Kris berada di dekatnya, Jongin berbisik puas.
"Aku akan menikahi Kyungsoo segera. Dia akan menjadi istriku, dan kau tidak akan diundang ke pernikahan. Pergilah ke neraka bersama gelar, harta dan darah bangsawanmu itu."
Kata-kata itu membuat wajah Kris pucat pasi, tetapi lelaki itu tidak bisa berkata apa-apa. Jongin sudah mengalahkannya, ia sudah kalah sepenuhnya. Anaknya itu tidak akan pernah mau kembali kepadanya dan melanjutkan warisan gelarnya. Dan mungkin Kris tidak akan pernah bisa datang ke negara ini lagi. Jongin dan Chanyeol sama-sama menatap kepergian Kris ke ruang pemeriksaan.
"Begitu pengacaranya datang, dia akan dibebaskan dengan jaminan. Paling buruk dia akan dideportasi, tidak akan menerima hukuman setimpal." Gumam Chanyeol pahit. "Dia bangsawan dan orang kaya yang punya banyak koneksi."
Jongin mengangkat bahunya, "Memang." Gumamnya. "Tetapi setidaknya aku bisa memastikan dia tidak akan pernah kembali lagi ke negara ini."
"Apakah sama sekali tidak ada rasa tersentuh di hatimu melihatnya?" Chanyeol bertanya ingin tahu, "Bagaimanapun juga dia adalah ayah kandungmu?"
"Dia bukan ayah kandungku. Bagiku ayahku adalah Choi Minho yang merawat dan menyayangiku sampai aku dewasa." Jongin menggelengkan kepalanya, "Mungkin benihnya memang menghasilkanku, tetapi selebihnya aku tidak mau punya ayah seperti dia." Lelaki itu menandatangani laporannya dan menyerahkan kepada petugas polisi. "Ayo, aku harus ke rumah sakit, aku takut Kyungsoo sadar dan aku tidak ada di sana."
give me ur feedback :)
